BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
UNIVERSITAS INDONESIA PERANGKAT LUNAK PENCOCOKAN CITRA DENTAL X- RAY DENGAN ZERNIKE MOMENT UNTUK IDENTIFIKASI KORBAN BENCANA SKRIPSI MUHAMMAD HARIS

BAB IV UJI COBA DAN ANALISIS

STMIK AMIKOM PURWOKERTO PENGOLAHAN CITRA DIGITAL. Transformasi Citra ABDUL AZIS, M.KOM

PERBANDINGAN PENGGUNAAN PARAMETER DISCRETE COSINE TRANSFORM DAN PARAMETER MOMEN ZERNIKE DALAM MENGINDEKS CITRA. Intisari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. dilakukan oleh para peneliti, berbagai metode baik ekstraksi fitur maupun metode

Pengolahan Citra di Ranah Frekuensi

BAB III METODA. Gambar 3.1 Intensitas total yang diterima sensor radar (dimodifikasi dari GlobeSAR, 2002)

Identifikasi Tanda Tangan Menggunakan Transformasi Gabor Wavelet dan Jarak Minskowski

F U N G S I A R U M H A N D I N I P R I M A N D A R I

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 8 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

Perbandingan Penggunaan Mean Lokal, Median Lokal dan Invarians Statistik Koefisien DCT dalam Perancangan Image Hashing

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016

KARAKTERISTIK MOMEN ZERNIKE PADA CITRA YANG TERCAMPUR SINYAL DERAU. Saptadi Nugroho, Darmawan Utomo. Intisari

Fourier Descriptor Based Image Alignment (FDBIA) (1)

STMIK AMIKOM PURWOKERTO PENGOLAHAN CITRA ABDUL AZIS, M.KOM

Pencocokan Citra Digital

BAB III METODE YANG DIUSULKAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 7 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

Fast Fourier Transform

BAB 2 LANDASAN TEORI. variabel untuk mengestimasi nilainya di masa yang akan datang. Peramalan Merupakan

PENINGKATAN MUTU CITRA (IMAGE ENHANCEMENT) PADA DOMAIN FREKUENSI. by Emy 2

Menurut jenisnya, fungsi dapat dibedakan menjadi (1) Fungsi aljabar (2) Fungsi transenden

Simulasi Teknik Image Enhancement Menggunakan Matlab Yustina Retno Wahyu Utami 3)

BAB III USULAN PENJEJAKAN WAJAH DAN PENGHITUNGAN PENGUNJUNG DENGAN JARAK EUCLIDIAN DAN TEORI PENGUKURAN FUZZY

Fungsi Gamma. Pengantar Matematika Teknik Kimia. Muthia Elma

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III ANALISIS SPEKTRAL PADA RUNTUN WAKTU MODEL ARIMA. Analisis spektral adalah metode yang menggambarkan kecendrungan osilasi

MATEMATIKA TEKNIK II BILANGAN KOMPLEKS

III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pengertian. Transformasi geometric transformation. koordinat dari objek Transformasi dasar: Translasi Rotasi Penskalaan

2.Landasan Teori. 2.1 Konsep Pemetaan Gambar dan Pengambilan Data.

pola-pola yang terdapat pada suatu daerah bagian citra. Tekstur juga dapat membedakan permukaan dari beberapa kelas.

BAB I PENDAHULUAN. Sistem penglihatan manusia memiliki akurasi yang besar dalam mengenali

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2016/2017

PERANCANGAN APLIKASI PENGURANGAN NOISE PADA CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE FILTER GAUSSIAN

PERBANDINGAN TEKNIK PENYEMBUNYIAN DATA DALAM DOMAIN SPASIAL DAN DOMAIN FREKUENSI PADA IMAGE WATERMARKING

IDENTIFIKASI SIDIK JARI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR MINUTIA

10/11/2014 IMAGE SMOOTHING. CIG4E3 / Pengolahan Citra Digital BAB 7 Image Enhancement (Image Smoothing & Image Sharpening)

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Transformasi Fourier dan Filtering

BAB II LANDASAN TEORI

BILANGAN KOMPLEKS. 1. Bilangan-Bilangan Real. 2. Bilangan-Bilangan Imajiner. 3. Bilangan-Bilangan Kompleks

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

Koordinat Kartesius, Koordinat Tabung & Koordinat Bola. Tim Kalkulus II

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

BAB I 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Verifikasi Sidik Jari Menggunakan Pencocokan Citra Berbasis Fasa Dengan Fungsi Band-Limited Phase Only Correlation (BLPOC)

a b c d e nol di belakang pada representasi desimalnya adalah... a b c d e. 40.

METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL FRAKSIONAL UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH STURM-LIOUVILLE FRAKSIONAL

PERBANDINGAN KUALITAS WATERMARKING DALAM CHANNEL GREEN DENGAN CHANNEL BLUE UNTUK CITRA RGB PADA DOMAIN FREKUENSI ABSTRAK

SOAL-SOAL UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV PENGOLAHAN DATA

Menurut Ming-Hsuan, Kriegman dan Ahuja (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah sistem pengenalan wajah dapat digolongkan sebagai berikut:

BAB 3 METODE PERANCANGAN

Matematika EBTANAS Tahun 1986

IRISAN DUA LINGKARAN. Tujuan Pembelajaran. ). Segmen garis dari P ke Q disebut sebagai tali busur. Tali busur ini memotong tegak lurus garis C 1

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 GAMBARAN SINGKAT MENGENAI SISTEM PENGENALAN IRIS

Konvolusi. Esther Wibowo Erick Kurniawan

ABSTRAK. Kata kunci : Watermarking, SVD, DCT, LPSNR. Universitas Kristen Maranatha

Contoh: tanpa & dengan texture mapping

Di dalam perancangan filter-filter digital respons impuls tak terbatas diperlukan transformasi ke filter analog Diperlukan adanya pengetahuan filter

Pendahuluan. Dua operasi matematis penting dalam pengolahan citra :

BAB II LANDASAN TEORI

Gambar 2.1 Perkembangan Alat Restitusi (Dipokusumo, 2004)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

IMPLEMENTASI TEMU KEMBALI CITRA BERBASIS ISI DENGAN FITUR TITIK-TITIK SIGNIFIKAN

Penyusun Tugas Akhir Alvian Adi Pratama [ ] Dosen Pembimbing Diana Purwitasari, S.Kom, M.Sc. Dr. Eng. Nanik Suciati, S.Kom., M.Kom.

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1. Integral Lipat Dua Atas Daerah Persegipanjang

1 Mengapa Perlu Belajar Geometri Daftar Pustaka... 1

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

2.1 Soal Matematika Dasar UM UGM c. 1 d d. 3a + b. e. 3a + b. e. b + a b a

Teknik Watermarking Citra Digital Dalam Domain DCT (Discrete Cosine Transform) Dengan Algoritma Double Embedding

RESTORASI CITRA. Budi s

SISTEM BILANGAN RIIL DAN FUNGSI

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Teknik Watermarking dalam Domain Wavelet untuk Proteksi Kepemilikan pada Data Citra Medis

BINERISASI CITRA DOKUMEN DENGAN FILTERISASI HOMOMORPHIC

BAB 4 ANALISA SISTEM

Dr. Ir. Bib Paruhum Silalahi, M.Kom

BAB II LANDASAN TEORI

Aplikasi Persamaan Bessel Orde Nol Pada Persamaan Panas Dua dimensi

1. Akar-akar persamaan 2x² + px - q² = 0 adalah p dan q, p - q = 6. Nilai pq =... A. 6 B. -2 C. -4 Kunci : E Penyelesaian : D. -6 E.

Xpedia Matematika. DP SNMPTN Mat 05

2017 ACADEMY QU IDMATHCIREBON

BAB II LANDASAN TEORI

Antiremed Kelas 12 Matematika

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan tentang berbagai teori yang digunakan untuk melakukan penelitian ini. Teori yang berhubungan seperti penjelasan moment secara umum, Zernike polynomials, Zernike moments, modifikasi pada Zernike moments, butterworth filtering dan euclidian distance akan menjadi bahasan utama pada bab ini. 2.1 Moments Moment function banyak digunakan untuk analisis citra seperti pada pengenalan pola, klasifikasi objek, rekonstruksi citra, dan estimasi posisi. Kumpulan moment yang diperoleh dari hasil komputasi citra dapat merepresentasikan karakteristik global dan memberikan informasi geometrik pada sebuah citra. Sebuah citra dapat direpresentasikan dengan menggunakan fungsi distribusi f(x,y) dimana nilai dari fungsi tersebut merupakan nilai pixel pada lokasi (x,y). Asumsikan ζ merupakan luas wilayah tertentu pada f(x,y), maka moment functions φ pq dari order (p+q) dari f(x,y) adalah: φpq = Ψpq(x,y)f(x,y)dx dy; p,q = 0,1,2,3, (2. 1) Dimana Ψ pq (x,y) adalah fungsi kontinu pada (x,y) di wilayah ζ, yang disebut dengan weighting kernel atau basis set. Persamaan fungsi moment pada persamaan (2.1) di atas dapat pula didefinisikan dengan menggunakan koordinat polar (r,θ). Berikut fungsi moment yang dinyatakan menggunakan koordinat polar: φ pq = r p+q+1 Ψ pq (θ)f(r, θ)dr dθ; p,q = 0,1,2,3, (2. 2) 2.2 Zernike Polynomials Zernike polynomials adalah sebuah deret polynomial yang orthogonal (tegak lurus) terhadap unit disk yang merupakan suatu kumpulan titik P yang memiliki jarak < 1. Zernike polynomials ditemukan oleh Zernike pada tahun 1934, pada awalnya dibuat untuk membantu merepresentasikan hasil dari optical test yang 7

8 biasanya ditujukan untuk menggambarkan data wavefront dalam bentuk polynomial [MAT09]. Gambar 2. 1 Zernike Polynomial[WIK09] Zernike polynomial dapat dibedakan menjadi Zernike polynomial genap dan ganjil yang dirumuskan seperti dibawah ini: Dimana radial function R n m (ρ) dengan n m 0 yaitu: (2. 3) (2. 4) Zernike polynomials juga sering direpresentasikan dengan rumus yang berbeda pula yaitu dengan sebagai sudut azimuthal antara 0 2π dan ρ adalah radial distance antara 0 ρ 1. Polynomial genap dan ganjil direpresentasikan dengan rumus di bawah ini: m Z n ρ, = o m m U n ρ, = R n ρ)sin(m

9 m Z n ρ, = e m m U n ρ, = R n ρ)cos(m. (2. 5) Bentuk lain dari Zernike polynomials juga dapat direpresentasikan menggunakan Gamma function dan hypergeometric function. R n m ρ = Γ n+1 2F 1 ( 1 2 m+n, 1 2 m n ; n;ρ 2 ) Γ(1/2(2+n m))γ(1/2(2+n+m)) ρ n (2. 6) Dimana n m adalah ganjil dan m n, Γ z adalah gamma function, dan 2 F 1 (a,b;c;z) adalah hypergeometric function. 2.3 Zernike Moments Zernike moments pertama kali diperkenalkan oleh Teague [MUK98]. Bila dilihat dari sisi penghitungan, Zernike moments melibatkan penghitungan yang lebih komplex dibandingkan jenis moment yang lain seperti geometric maupun legendre moments. Namun, Zernike moments telah dibuktikan sebagai salah satu metode ekstraksi ciri yang baik karena kemampuan dalam merepresentasikan sebuah citra yang mengalami distorsi dan rotasi [BIN02]. Zernike moments termasuk pada region-based shape descriptor. Jenis moments ini dikenal sangat efisien pada penggunaannya untuk pengenalan pola sebab memiliki sifat ortoganalitas pada Zernike polynomials dalam hasil ekstraksi ciri yang dibentuk serta memiliki properti yang tidak bergantung pada rotasi citra. Berikut persamaan yang digunakan untuk mencari Zernike moments dari suatu citra. R = himpunan dari real number; Z = himpunan dari complex number; 2D Zernike moments A nm Z dari suatu citra f dapat didefinisikan sebagai berikut [MUK98]: A nm = n + 1 λ x 2 +y 2 1 R nm ρ e jmθ f x, y dxdy (2. 7)

10 Dimana λ adalah konstanta normalisasi yang dihitung dari jumlah nilai pixel yang berada dalam satuan lingkaran yang didefinisikan oleh π yang berada pada domain kontinu. n = 0, 1, 2,, adalah order dari moment tersebut. M adalah pengulangan yang memiliki konstraint yaitu n - m adalah genap dan m n, j = 1, ρ = x 2 + y 2, θ = arctan(y/x), dimana (x,y) [-1,1] 2. R nm (ρ) adalah radial polynomials dimana R nm [0,1]. R nm ρ = B nmk ρ k n k=m n k is even (2. 8) Dimana koefisien B nmk = (-1) k n k! k! n + m 2 k! n m 2 k!. B nmk dapat diefisienkan pada komputasinya dengan menggunakan recurrence relation [MUK98]. B nnn = 1 B n(m 2)n = B nmn n + m n m + 2 B nm(k 2) = B nmk k + m (k m) k + n (n k + 2) (2. 9) Persamaan (2.7) untuk mencari Zernike moments (Z n,m ) di atas masih bisa disederhanakan dengan menerapkan symmetry method [MUK98]: Z = n + 1 π x 2 +y 2 1 f x, y V n,m (x, y) (2. 10) V* n,m merupakan konjugasi dari V n,m, dimana [MUK98]: V n,m x, y = V n,m ρ, θ = R n,m ρ e jmθ (2. 11) Persamaan (2.11) di atas terkait dengan formula Euler. Formula Euler merupakan konsep analisis matematika pada bilangan kompleks yang menyatakan keterhubungan antara fungsi trigonometri dan exponensial bilangan kompleks. Formula Euler menyatakan untuk semua bilangan real [MOS02]:

11 e ix = cos x + i sin (x) (2. 7) Sesuai dengan persamaan di atas, maka e jmθ dapat dihitung dengan e jmθ = cos mθ + ( j)sin(mθ) (2. 8) Dengan perumusan Zernike moments dengan menggunakan koordinat polar, maka Zernike polynomials yang harus dihitung pada masing-masing pixel akan menghasilkan komputasi yang besar dibandingkan pada penghitungan pada Legendre Moment dan Geometric Moment. Oleh karena itu, diperlukan sebuah algoritma untuk mengubah square image menjadi circular image, agar Zernike polynomials dapat dihitung hanya sekali untuk semua pixel yang dipetakan pada lingkaran yang sama. Gambar 2. 2 Square to Circle Transformation [MUK98] Sebuah pixel pada citra dapat dianggap sekumpulan concentric square dan dapat dipetakan menjadi concentric circle dengan melakukan square to circular image transform seperti Gambar 2.2 di atas. Jika sistem koordinat square image adalah (x,y) yang merupakan jarak titik tersebut dari titik pusat (0,0), sedangkan pada circle image dapat direpresentasikan dengan menggunakan ρ, ς dimana ρ adalah jari-jari lingkaran dan ς adalah index posisi dari pixel pada suatu lingkaran. Adapun algoritma untuk mengubah square image menjadi circular image sebagai berikut [MUK98]: ρ = max x, y if x = ρ, then ς = 2 ρ x x y + xy ρ,

12 if y = ρ, then ς = 2y xy ρ (2. 9) Transformasi diatas bersifat one to one dan invertible sehingga f ρ, ς = f(x, y). Jika N merupakan ukuran sebuah citra, maka rentang nilai pada circle image adalah: N x, y N ; 0 ρ N ; 1 ς 8ρ (2. 10) 2 2 2 Adapun cara untuk mendapatkan koordinat polar (r, θ) pada pixel ρ, ς adalah sebagai berikut: r = 2ρ N, θ = πς 4ρ (2. 11) Sebagai alat ekstraksi ciri, Zernike moments memiliki banyak keunggulan dibandingkan teknik moment yang lain seperti Legendre Moment dan Geometric Moment. Adapun beberapa properti yang dimiliki oleh Zernike moments sebagai berikut [YUL00][REV09]: Rotation Invariance Zernike moments dapat menjadi deskriptor yang baik walaupun citra tersebut mengalami rotasi. Sifat ini disebabkan Zernike moments memiliki rotation invariant. Gambar 2. 3 Citra Rotasi Robustness Zernike moments bersifat robust pada noise. Expression Efficiency

13 Pada Zernike moments, tidak ada informasi yang redundant sebab setiap informasi tersebut saling orthogonal. Effectiveness Sebuah citra dapat diekstraksi dengan lebih baik menggunakan Zernike moments dibandingkan dengan menggunakan jenis penghitungan moment yang lain. Multi-level representation Zernike moments pada order yang kecil dapat mengekstraksi ciri global sebuah citra dan pada order yang tinggi dapat merepresentasikan citra tersebut secara lebih detail. Ada banyak penelitian-penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kecepatan komputasi Zernike moment serta mengurangi komplexitas pada penghitungan moment di order-order yang tinggi, diantaranya Zernike moments via geometric moments method, Q-Recursive method, coefficient method, dan symmetry method. 2.4 Modifikasi Pada Zernike Moments Penelitian pada Zernike moments berkembang cukup cepat. Penelitian yang dilakukan dikonsentrasikan pada pengurangan waktu komputasi, komplexitas penghitungan, serta peningkatan tingkat pengenalan. Pada pengembangan perangkat lunak ini, peneliti menggunakan modifikasi Zernike moment yang dikembangkan oleh Mukundan [MUK98]. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan penghitungan rekursif Zernike Polynomials, dan normalisasi Zernike Moments. 2.4.1 Penghitungan Rekursif Zernike Polynomials Penelitian terhadap Zernike moments sangat menekankan pada kecepatan penghitungan pada order-order yang tinggi dan komplexitas komputasi. Para peneliti berusaha untuk mengurangi waktu komputasi pada penghitungan Zernike moments suatu citra namun tetap memiliki ketelitian penghitungan yang tinggi. Salah satu penelitian yang telah diusulkan adalah teknik rekursif yang diterapkan

14 pada penghitungan Zernike polynomial. Teknik rekursif ini terbukti dapat mempercepat penghitungan Zernike polynomial [MUK98]. Untuk menghitung Zernike polynomial R nm (r), sebagai berikut [MUK98]: R n,m r = k 2r 2 +k 3 R n 2,m r +k 4 R n 4,m r k 1 k 1 = n 1 n + 1 (n 2)/2 k 2 = 2n n 1 (n 2) k 3 = (n 1) 3 k 4 = n n 1 (n 3)/2 (2. 12) Teknik rekursif di atas merupakan skema rekursif yang hanya berada pada indeks n, namun bila ingin mendapatkan keseluruhan proses skema rekursif tersebut harus diulang sebanyak m kali. Ada skema rekursif yang berbeda untuk menghitung Zernike polynomial. Skema ini melakukan penghitungan pada koefisien B pqk (radial polynomial), yaitu [MUK98]: B ppp = 1, (p + q) B p(q 2)p = B pqp (p q + 2), B pq s 2 = B pqs q 2 s 2 p+s p s+2, (2. 13) Berikut flow chart yang dapat menggambarkan penghitungan komputasi Zernike polynomials. (p = order of moment, q = repetition, r = (n-2s), s = 0 (n- m )/2)

15 START q=p, C =r s s = p, B = C q = q-2 R pq r = R pq r + B IS q > EXIT IS s > q+1? C = C p + q p + q 2 B = B s + q (s q) s + p (p s + 2)r 2 s =s -2 Gambar 2. 4 Zernike Polynomial Flow Chart [MUK98] 2.4.2 Normalisasi Zernike Moments Zernike moments pada order tinggi tidak selalu dapat memberikan tingkat pengenalan yang tinggi, sebab pada suatu citra terutama citra dental x-ray banyak terdapat noise yang justru dapat menganggu tingkat pengenalan pada suatu citra

16 dental x-ray. Hal ini ditambah juga dengan magnitude pada Zernike moments invariant cukup memiliki perbedaan yang besar. Untuk mengurangi besarnya perbedaan pada Zernike moments Z pq, dilakukan normalisasi terhadap Zernike moments (Z pq ) tersebut [BIN02]. Z pq = Z pq m00 ; m00 = x y f x, y (2. 14) Normalisasi yang dilakukan adalah dengan membagi seluruh nilai Zernike moments pada suatu citra dengan total dari nilai masing-masing pixel atau geometric moment pada titik (0,0). Dengan penggunaan normalisasi Zernike moment ini diharapkan perangkat lunak yang sedang dikembangkan ini dapat order yang tinggi namun tidak mengurangi tingkat pengenalan akibat noise yang ada pada citra dental x-ray, namun sebaliknya yaitu meningkatkan akurasi dan pengenalan pada feature description. 2.5 Butterworth Filtering Butterworth filtering merupakan salah satu teknik filtering yang menggunakan frekuensi sebagai domain [GON02]. Untuk merubah spatial domain ke frequency domain digunakan fourier transform. Tujuan perubahan domain tersebut adalah untuk mempermudah penghitungan dan mengurangi komplexitas penghitungan. High-pass filtering adalah sebuah filter yang memunculkan frekuensi tinggi, namun menghilangkan frekuensi rendah dan sebaliknya low-pass filtering adalah memunculkan frekuensi rendah dan menghilangkan frekuensi tinggi [GON02]. Batas tinggi dan rendahnya sebuah frekuensi disebut dengan cutoff (D) seperti pada Gambar 2.5 di bawah ini.

17 Gambar 2. 5 Ideal Filtering Butterworth filtering lebih baik dibandingkan ideal filtering sebab menggunakan fungsi filtering yang lebih halus sehingga pemotongan frekuensi atau filtering yang terjadi memperhatikan presisi bilangan desimal. Bentuk fungsi filtering pada butterworth filtering yang lebih halus biasa terlihat pada Gambar 2.6 dan 2.7 di bawah ini. Berikut fungsi filtering yang digunakan, yaitu: Low-pass filtering: Gambar 2. 6 High-Pass Butterworth Filtering High-pass filtering: Gambar 2. 7 Low-Pass Butterworth Filtering

18 Adapun beberapa tahapan untuk melakukan proses butterworth filtering adalah sebagai berikut [GON02]: Low-pass filtering 1. Buat sebuah circular low-pass filter. 2. Baca citra yang akan dilakukan filtering dan hitung DFT citra tersebut. 3. Kalikan circular low-pass filter dengan DFT yang telah dihasilkan. 4. Cari inverse DFT dari hasil perkalian di atas. High-pass filtering High-pass filtering memiliki tahapan yang sama seperti low-pass filtering, namun filter yang dibuat adalah high-pass filtering. Proses filtering ini biasanya dilakukan untuk memperbaiki sebuah citra. Proses low-pass filtering akan memperhalus bentuk citra tersebut. Pada high-pass filtering, bentuk citra akan dipertajam edge untuk lebih memperlihatkan bentuk dari citra tersebut. Low-pass filter High-pass filter Gambar 2. 8 High-Pass dan Low-Pass Filtering

19 2.6 Euclidian Distance Jarak Euclidian adalah jarak terpendek antara dua buah titik. Jika terdapat dua buah titik, maka jarak terpendek tersebut didapatkan dengan cara menarik garis lurus yang menghubungkan kedua titik tersebut. Dalam ruang Euclidian berdimensi n, R n, jarak antara titik x dan y dapat dirumuskan sebagai berikut: D = x - y = n i=1 x i y i 2 (2. 15) Dimana n adalah jumlah titik dalam R n. Bila bilangan bekerja dalam ruang Euclidian berdimensi dua, maka jarak Euclidian antara titik p(x 1,y 1 ) dan q(x 2,y 2 ) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: D(p,q) = (x 1 x 2 ) 2 + (y 1 y 2 ) 2 (2. 16) Proses identifikasi pada perangkat lunak ini menggunakan euclidian distance sebagai alat untuk mencari kemiripan hasil ekstraksi pada suatu citra. Zernike moments yang dihasilkan pada proses penghitungan berupa bilangan kompleks sehingga data type yang diperlukan pada pengimplementasian kode nantinya diperlukan sebuah complex number data type. D = p,q D ( Z pq Z pq )2 (2. 17) Pemenang dari proses identifikasi ini adalah jarak yang paling minimum antara citra dental yang akan diidentifikasi dan dental yang ada pada basis data (dental records).