LEMBAR PENGESAHAN JURNAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Berkemih adalah pengeluaran urin dari tubuh, berkemih terjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Anita Widiastuti Poltekkes Semarang Prodi Keperawatan Magelang

BAB III METODE PENELITIAN. setelah dilaksanakan intervensi ( Arikunto, 2006) dengan menggunakan. Intervensi A 1. Bladder training

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III STANDAR OPERATIONAL PROSEDURE BLADDER TRAINING

*) Mahasiswa PSIK STIKES Ngudi Waluyo Ungaran **) Dosen PSIK STIKES Ngudi Waluyo Ungaran ABSTRAK

TUGAS MADIRI BLADDER TRAINING

BAB I PENDAHULUAN. keluar kandung kemih melalui kateter urin secara terus menerus. kemih yang disebut dengan bladder training.

BAB I PENDAHULUAN. Papyrus Ebers (1550 SM), dengan terapi menggunakan buah beri untuk

TUGAS MANDIRI 1 Bladder Training. Oleh : Adelita Dwi Aprilia Reguler 1 Kelompok 1

PERSETUJUAN PEMBIMBING JURNAL

PENGARUH KOMPRES HANGAT DI SUPRA PUBIK TERHADAP PEMULIHAN KANDUNG KEMIH PASCA PEMBEDAHAN DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD BATANG

Penyebab BPH ini masih belum diketahui, penelitian sampai tingkat biologi molekuler belum dapat mengungkapkan dengan jelas terjadinya BPH.

Lucky Angelia Shabrini*), Ismonah**), Syamsul Arif***)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN PENDOKUMENTASIAN PROSES KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD TOTO KABILA KABUPATEN BONE BOLANGO

PENGARUH TEHNIK RELAKSASI TERHADAP RESPON ADAPTASI NYERI PADA PASIEN APENDEKTOMI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Rumah Sakit ini

BAB I PENDAHULUAN. seorang ibu hamil. Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi dengan

PERSETUJUAN PEMBIMBING JURNAL

PENGARUH SENAM DISMENORE TERHADAP PENURUNAN DISMENORE PADA REMAJA PUTRI DI DESA SIDOHARJO KECAMATAN PATI

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN GANGGUAN KARDIOVASKULAR YANG DIRAWAT DIRUANGAN ALAMANDA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh Teknik Relaksasi...,Bayu Purnomo Aji,Fakultas Ilmu Kesehatan UMP,2017

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Aloei Saboe Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota

ARTIKEL EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG CEMPAKA RSUD UNGARAN

BLADDER TRAINING MODIFIKASI CARA KOZIER PADA PASIEN PASCABEDAH ORTOPEDI YANG TERPASANG KATETER URIN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian quasy experimental, control group pre test post test design. Jenis

BAB I PENDAHULUAN. membuka dinding perut dan dinding uterus (Sarwono, 2005). Sectio caesarea

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian rancangan Survei Analitik dimana mengetahui hubungan antara

PENGARUH BLADDER TRAINING

BAB III METODE PENELITIAN. Dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasi

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN RETENSIO URINE PADA IBU NIFAS DI RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI SAAT PERAWATAN LUKA DI RSUD MAJALENGKA TAHUN 2014

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif quasi

ABSTRAK HUBUNGAN PEMASANGAN KATETER DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan suatu bangsa seringkali dinilai dari umur harapan hidup penduduknya

PENGARUH STIMULASI DUA DIMENSI TERHADAP KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS ATAS PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RSUP SANGLAH DENPASAR

BAB III METODA PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Eksperimental dengan

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Proporsi penduduk usia lanjut dewasa yang bertambah memiliki

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. B yang berkedudukan di jalan Prof. Dr. H. Aloei Saboe Nomor 91 RT 1 RW 4

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KETERAMPILAN KELUARGA DALAM MELAKUKAN ROM PADA PASIEN STROKE

GAMBARAN SENSASI BERKEMIH PASIEN POST OPERASI TRANSURETHRAL RESECTION OF THE PROSTATE (TURP) YANG DIBERI TINDAKAN

BAB I PENDAHULUAN. alamiah. Memasuki masa tua berarti mengalami perubahan baik secara fisiologi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 2006). Kateterisasi urin ini dilakukan dengan cara memasukkan selang plastik

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: RITA SUNDARI

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN MOBILISASI DINI IBU POST SCDI DETASEMEN KESEHATAN RUMAH SAKIT TK IV KEDIRI

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BBLR DI RSUD. PROF. DR. HI. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO TAHUN Tri Rahyani Turede NIM

PERBEDAAN PERILAKU POST OPERASI PADA PASIEN FRAKTUR YANG MENDAPATKAN KONSELING DAN YANG TIDAK MENDAPATKAN KONSELING PRE OPERASI

Efektivitas Bladder Training Terhadap Retensi Urin Pada Pasien Post Operasi BPH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. intervensi diberikan pretest tentang pengetahuan stroke dan setelah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan penyakit penyebab kecacatan nomor satu di dunia,

EFEKTIFITAS TERAPI AROMA TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 1 KABUN TAHUN 2015

PENGARUH AMBULASI DINI TERHADAP WAKTU FLATUS PADA PASIEN POST OPERASI SECTIOCAESAREA DENGAN ANESTESI SPINALDI RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN

STUDI DESKRIPTIF PEMBERIAN OKSIGEN DENGAN HEAD BOX TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN PADA NEONATUS DI RUANG PERINATALOGI RSI KENDAL ABSTRAK

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pre-test and

PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP KEPATUHAN DALAM TINDAKAN KEPERAWATAN PADA ANAK USIA 4-12 TAHUN

GANGGUAN MIKSI DAN DEFEKASI PADA USIA LANJUT. Dr. Hj. Durrotul Djannah, Sp.S

JURNAL ARIF FIRMANTO J. ATISINA NIM :

BAB I PENDAHULUAN. urin (Brockop dan Marrie, 1999 dalam Jevuska, 2006). Kateterisasi urin ini

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan

PENGARUH TERAPI BERCERITA TERHADAP SKALA NYERI ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) SELAMA TINDAKAN PENGAMBILAN DARAH VENA DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu quasi-experimental design dengan rancangan two-group pre test-post

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN PEMASANGAN KATETER DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN DI RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RSUDZA BANDA ACEH TAHUN 2012

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Ruangan Bedah Atau G2 mampu menampung klien sampai 35 Klien yang

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu(quasi

GAMBARAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG DADALI RSUD CIDERES KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN Oleh : Arni Wianti

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah Quasi

BAB III METODE PENELITIAN. (pretest) sebelum diberikan intervensi dan evaluasi (postest) yang. memungkinkan menilai perubahan yang terjadi.

ABSTRAK. Kata Kunci : Tingkat pengetahuan, Dukungan keluarga Personal hygiene

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Jurnal Kesehatan Kartika 7

BAB III METODE PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA. Arikunto Prosedur Penelitian dan Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. penelitian quasi eksperimen yaitu dengan pendekatan one group pre test post

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dari 4 (empat) ruangan, yaitu: Apotik, Poliklinik dan Rawat Inap.

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif korelasional. Desain korelasional dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan pendekatan pre-test

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN PRE OPERASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI HERNIA DI RSUD KUDUS ABSTRAK

STRATEGI KOPING DAN INTENSITAS NYERI PASIEN POST OPERASI DI RUANG RINDU B2A RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP LAMANYA PERAWATAN PADA PASIEN PASCA OPERASI LAPARATOMI DI INSTALASI RAWAT INAP BRSU TABANAN

HUBUNGAN ORIENTASI PASIEN DENGAN KEPATUHAN PASIEN/KELUARGA DALAM MENJALANKAN ATURAN DI RUANG MPKP RUMAH SAKIT Prof. Dr. H, ALOEI SABOE KOTA GORONTALO

BAB V HASIL PENELITIAN

ABSTRAK. Kata Kunci: Tumbuh Kembang, ASI, MP-ASI Daftar Pustaka: 33 buah ( )

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN LANSIA DALAM PEMENUHAN AKTUVITAS SEHARI-HARI DI DESA TUALANGO KECAMATAN TILANGO KABUPATEN GORONTALO

BAB I PENDAHULUAN. Monako dengan rata-rata usia 90 tahun (Mubarak, 2012). atau World Health Organization (WHO) tahun 1999 meliputi: Usia

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kelainan kelenjar prostat dikenal dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)

Transkripsi:

LEMBAR PENGESAHAN JURNAL PENGARUH BLADDER TRAINING TERHADAP FUNGSI BERKEMIH PADA PASIEN YANG TERPASANG KATETER DI RUANG RAWAT INAP BEDAH KELAS 3 RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO Oleh Ni Wayan Oktaviani Nim: 841 410 158 Telah di Setujui Untuk di Publikasikan PEMBIMBING I PEMBIMBING II Rini Fahriani Zees, S.Kep, Ns, M.Kep dr. Edwina Monayo, M.Biomed Nip. 198110142005012002 Nip. 19830906200812004 JURUSAN SI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2014

ABSTRAK Ni Wayan Oktaviani. Pengaruh Bladder Training Terhadap Fungsi Berkemih Pada Pasien Yang Terpasang Kateter Di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Skripsi, Jurusan, Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I Rini Fahriani Zees, S.Kep Ns. M.Kep dan Pembimbing II dr. Edwina Monayo, M.Biomed. Pemasangan kateter yang lama dapat mengakibatkan otot-otot detrusor kandung kemih berkurang fungsinya untuk menahan urin dalam kandung kemih sehingga akan terjadi gangguan fungsi berkemih. Tindakan bladder training sangat efektif untuk mengembalikan funggsi otototot detrusor akibat penasangan kateter lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimental, dimana rancangan penelitian ini dilakukan pada 2 kelompok : kelompok 1 adalah kelompok kontrol yaitu kelompok yang tidak dilakukan tindakan, kelompok 2 adalah kelompok eksperimen yaitu kelompok yang dilakukan tindakan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar kuisioner yang dibagi pada kedua kelompok yang ditentukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah 20 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji mann whitney. Hasil penelitian didapatkan p value sebesar 0,001 < α (0,05), berarti dapat disimpulkan bahwaterdapat pengaruh blader training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter. Saran untuk tenaga perawat untuk melakukan tindakan bladder training pada pasien yang terpasang kateter lama. Kata kunci : Bladder training, kateter 1 1 Ni Wayan oktaviani. 841410158. Jurusan s1 Keperawatan. Fakultas ilmu-ilmu kesehatan dan keolahragaan. Rini Fahriani Zees, S.Kep, Ns, M.Kep.dr. Edwina Monayo, M.Biomed.

Berkemih adalah pengeluaran urin dari tubuh, berkemih terjadi sewaktu sfingter uretra interna dan eksterna didasar kandung kemih berelaksasi. Derajat regang yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek ini bervariasi pada individu, beberapa individu dapat mentoleransi distensi lebih besar tanpa rasa tidak nyaman (Gibson, 2002). Individu dapat mengalami gangguan dalam berkemih karena adanya sumbatan atau ketidak mampuan sfingter uretra untuk berelaksasi, sehingga perlu dilakukan tindakan untuk dapat mengeluarkan urin dari kandung kemih, salah satu tindakannya adalah dengan pemasangan kateter. Kateteradalah selang yang terbuat dari bahan karet yang berguna untuk mengeluarkan urin dari kandung kemih pada saat pasien tidak dapat melakukan proses berkemih secara mandiri (Perry & Potter, 2005). Kateterdapat digunakan pada pasien yang tidak mampu melakukan urinari, atau menentukan perubahan jumlah urin sisa dalam kandung kemih setelah buang air kecil, untuk menghilangkan suatu obstruksi yang menyumbat aliran urin, dan merupakan salah satu cara untuk memantau pengeluaran urin setiap jam pada pasien yang sakit berat (Smeltzer & Bare, 2002). Pada saat kateterterpasang, kandung kemih tidak terisi dan berkontraksi, pada akhirnya kapasitas kandung kemih menurun atau hilang (atonia). Apabila atonia terjadi dan kateter dilepas, otot detrusor mungkin tidak dapat berkontraksi dan pasien tidak dapat mengeluarkan urinnya, sehingga terjadi komplikasi gangguan fungsi perkemihan (Smeltzer & Bare, 2002). Efek samping dari pemasangan kateter adalah terjadinya inkontinensia urin dan retensi urin (Potter & Perry, 2005). Defenisi Retensi urin adalah adanya hambatan saat urin keluar ketika kateter dilepas atau urin pasien tidak lancar dan inkontnensia urin adalah urin yang keluar terus menerus setelah kateter dilepas atau pasien tidak dapat menahan urin. Bladder training merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang terpasang kateter dengan tujuan melatih otot detrusor kandung kemih agar dapat kembali normal setelah kateternya dilepas (Potter & Perry, 2005). Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan pasien yang terpasang kateter tidak mengalami perubahan pola berkemih sesudah kateternya dilepas. Pengelolaan yang baik disini adalah dengan cara dilatih tehnik bladder training sebelum melepas kateter urinari. Tehnik bladder training berupa tehnik menahan kemudian dilepas pada kateter dengan interval waktu tertentu untuk melatih kembalinya kemampuan otot kandung kemih dalam mengontrol urin yang akan dikeluarkan (Smeltzer & Bare, 2002). Terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Oetami, S dengan judul Pengaruh Bladder Training Terhadap Fungsi Berkemih Pada Pasien Yang Dipasang Douer Catheter Di Rsud Ambarawa. Hasil penelitian didapatkan p value kurang dari 0,05, berarti dapat disimpulkan terdapat pengaruh blader training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD. Prof. Dr. H. Aloei Saboe di temukan bahwa tindakan bladder training di lakukan ruang rawat inap kelas III, pasien yang terpasang kateter selama bulan November sampai Desember 2013 didapatkan data sebanyak 30 pasien dengan status terpasang kateter. Di RSUD Prof.Dr.H. Aloei Saboe ruang rawat inap kelas III tidak semua pasien yang terpasang kateter dilakukan bladder training sebelum kateternya dilepas. Bladder training dilakukan dua hari sebelum kateter dilepas. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pada tanggal 10 Desember 2013, di kelas III. Wawancara pertama dilakukan kepada Tn. A post op BPH dan terpasang kateter selama 5 hari dan telah dilakukan bladder training hari pertama oleh perawat pelaksana, Tn. A mengatakan mampu untuk menahan urin di saat Tn. A ingin berkemih. Wawancara kedua dilakukan pada Tn. S post op laparatomi dan terpasang kateter selama 5 hari dan tidak dilakukan bladder training oleh perawat, Tn. S mengatakan susah untuk menahan urin disaat Tn. S ingin berkemih. Tujuan umum Mengetahui pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien dengan terpasang kateterdi ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. METODE PENELITIAN

Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo tepatnya diruang rawat inap kelas III. Karena dari hasil wawancara dengan perawat kelas III mengatakan bahwa kebanyakan bladder training dilakukan di ruang rawat inap kelas III. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2014. Desain penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan rancangan post test with control group. Pada desain penelitian ini perlakuan diberikan pada satu kelompok, dan dilakukan post-test. Kemudian hasil pengukuran ini akan dibandingkan dengan hasil pengukuran pada kelompok pembanding (kontrol) dimana kelompok kontrol itu adalah kelompok yang tidak menerima perlakuan (Riyanto, 2011). Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek yang akan diteliti (Arikunto,2006). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2009). Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode penelitian purposive sampling, yaitu suatu tehnik pengambilan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan kriteria yang di kehendaki peneliti, sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah di inginkan peneliti sebelumnya. Penentuan sampel penelitian ditentukan berdasarkan kriteria inklusi yaitu: 1. Pasien yang bersedia menjadi responden 2. Usia >15 tahun dan Pasien sadar 3. Pasien terpasang kateter minimal selama 5 hari. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: 1. Pasien yang memaksa pulang sebelum sembuh (Oetami,2011). Tehnik Analisa data Data univariat Analisa Univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi dan frekuensi dari variabel dependen dan variabel independen. Data disajikan dalam bentuk tabel dan diinterprestasikan (Riyanto, 2011) Data Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui pengaruh Bladder Training terhadap fungsi berkemih pasien yang terpasang Kateter. Analisis bivariat dilakukan dengan uji mann whitney danuji normalitas data dilakukan denganmenggunakan uji saphiro wilk dengannilai sig > α (0,05), nilai untuk fungsi berkemih pada kelompok yang dilakukan tindakan bladder training di dapatkan hasil 0,124 > 0,05 dan nilai fungsi berkemih pada kelompok yang tidak dilakukan tindakan di dapatkan hasil 0,152 > 0,05 dimana hasil dari kedua kelompok ini memiliki p-value > α. Sehinggadata berdistribusi normal dan rumus yang digunakan untuk analisis bivariat adalah saphiro wilk. Nilai keyakinan yang dipahami dalam uji statistik adalah 0,95 dan nilai kemaknaan α = 0,05 (Notoatmodjo, 2005). Dari hasil uji maann whitney menunjukan hasil sig.2-tailed adalah 0,001, yang dimana nilai sig. 0,001 < α (0,05). Sehingga hasilnya menyatakan ada pengaruh tindakan bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Hasil dan Pembahasan

Gambaran umum Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap kelas III yang terletak di gedung G2 RS Aloei Saboe yang berlangsung selama bulan Maret sampai Mei 2014. Penelitian ini dilakukan pada pasien post operasi, Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) berjumlah 10 responden, laparatomi berjumlah 7 responden, post operasi kista 1 responden dan stroke 2 responden, yang terpasang kateter 5 hari. Karakteristik Responden Selama proses penelitian berlangsung jumlah responden yang diperoleh adalah 20 orang responden yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi, dimana masing-masing kelompok berjumlah 10 responden. Analisis yang digunakan meliputi data umum responden yaitu umur responden, jenis kelamin, lama terpasang kateter dan fungsi berkemih responden. Tujuan peneliti untuk menggunakan analisis, umur, jenis kelamin, dan lama terpasang kateter, karena dalam pembahasan dijelaskan responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah responden yang berusia >15 tahun, jenis kelamin untuk membedakan responden, lama terpasang kateter 5 hari, dan kuisionernya mengarah pada fungsi berkemih responden yang terbagi dalam 2 kelompok tersebut. Tabel 4.1 Distribusi Responden kelompok kontrol Berdasarkan Umur pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Umur (tahun) Jumlah Persentase (%) 15 27 1 10% 28 40 4 40% >41 5 50% Tabel 4.1 Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan umur pada kelompok kontrol dimana hasilnya menunjukan responden dengan umur 15-27 tahun 10%, umur 28-40 tahun 40% dan >41 tahun 50%. Tabel 4.2 Distribusi Responden kelompok eksperimen Berdasarkan Umur pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Umur (tahun) Jumlah Persentase (%) 15 27 0 0% 28 40 2 20% >41 8 80% Tabel 4.2 Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan umur pada kelompok eksperimen dimana hasilnya menunjukan responden dengan umur 15-27 tahun 0%, umur 28-40 tahun 20% dan >41 tahun 80%. Tabel 4.3 Distribusi Responden kelompok kontrol Berdasarkan Jenis Kelamin pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Jenis kelamin Jumlah Persentase (%) Laki-laki 8 80% Perempuan 2 20%

Tabel 4.3 Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan jenis kelamin pada kelompok kontrol dimana hasilnya menunjukan responden laki-laki 80% dan perempuan 20%. Tabel 4.4 Distribusi Responden kelompok eksperimen Berdasarkan Jenis Kelamin pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Jenis kelamin Jumlah Persentase (%) Laki-laki 10 100% Perempuan 0 0% Tabel 4.4 Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan jenis kelamin pada kelompok eksperimen dimana hasilnya menunjukan responden laki-laki 100% dan perempuan 0%. Tabel 4.5 Distribusi Responden kelompok kontrol Berdasarkan Lama Terpasang Kateter pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Lama hari) Jumlah Persentase (%) 5-10 4 40% 11-16 6 60% >17 0 0% Tabel 4.5Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan lama terpasang kateter pada kelompok kontrol dimana hasilnya menunjukan responden dengan lama terpasang kateter 5-10 hari 40%, lama terpasang kateter 11-16 hari 60% dan >17 hari 0%. Tabel 4.6 Distribusi Responden Kelompok Eksperimen Berdasarkan Lama Terpasang Kateter pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Lama hari) Jumlah Persentase (%) 5-10 2 20% 11-16 6 60% >17 2 20% Tabel 4.6 Merupakan tabel distribusi responden berdasarkan lama terpasang kateter pada kelompok eksperimen dimana hasilnya menunjukan responden dengan lama terpasang kateter 5-10 hari 20%, lama terpasang kateter 11-16 hari 60% dan >17 hari 20%.

Analisis Univariat Analisis univariat yang di bahas adalah fungsi berkemih responden Tabel 4.7 Distribusi responden kelompok kontrol berdasarkan fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Fungsi berkemih Jumlah Persentase (%) Baik 3 30% Kurang baik 7 70% Sumber : data primer, 2014 Tabel 4.7 merupakan tabel distribusi responden berdasarkan fungsi berkemih pada kelompok kontrol dimana hasilnya menunjukan fungsi berkemih baik 30% dan fungsi berkemih kurang baik 70%. Tabel 4.8 Distribusi responden kelompok eksperimen berdasarkan fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Fungsi berkemih Jumlah Persentase (%) Baik 10 100% Kurang Baik 0 0% Sumber : data primer, 2014 Tabel 4.8 merupakan tabel distribusi responden berdasarkan fungsi berkemih pada kelompok Eksperimen dimana hasilnya menunjukan fungsi berkemih baik 100% dan fungsi berkemih kurang baik 0%. Analisis Bivariat Dalam menganilisis skor perubahan yang terjadi pada variabel dependent yaitu fungsi berkemih pasien yang dilakukan tindakan dan tidak dilakukan tindakan, maka peneliti menggunakan analisis Uji Mann Whitney.

MEDIAN Grafik 4.1 Pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo 15 10 5 0 Kontrol P = 0,001 Eksperimen P = Probability dengan uji mann whithey Gambar 4.1 Grafik uji mann whitney Berdasarkan grafik diatas menunjukan hasil mean kelompok kontrol 6.25 dan kelompok eksperimen 14.75, dimana nilai probability / p value adalah 0,001. Artinya ada perbedaan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dimana nilai p value 0,001 < 0,05 yang menyatakanterdapat pengaruh baldder training terhadap fungsi berkemih pasien yang terpasang kateter. Pembahasan Hasil Bivariat Besar perbedaan skor fungsi berkemih menunjukan ada perbedaan yang bermakna dimana hasil mean pada kelompok eksperimen 14.75 dan kelompok kontrol 6.25. Besar perbedaan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 8.5. hal ini menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna pada fungsi berkemih kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil sig.2-tailed uji mann whitney adalah 0,001. Dimana nilai sig. 0,001<0,05 yang menyatakan ada pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter di ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Hal ini sesuai dengan pendapat Smeltzer (2001) dimana hal tersebut dikarenakan lama pemasangan kateter akan menyebabkan otot-otot penyusun kandung kemih tidak berfungsi. Kateter yang dipasang intermiten akan menyebabkan kandung kemih tidak terisi penuh sehingga tonus otot berkurang. Bladder training adalah suatu tindakan untuk melatih tonus otot kandung kemih agar berfungsi normal, tidak terjadi atrofi dan penurunan tonus otot akibat pemasangan kateter. Teori ini didukung juga oleh (Japardi,2002) Hasil yang optimal dalam pelaksanaan bladder training dapat tercapai dengan memperhatikan keadaan kandung kemih, ditujukan untuk memelihara reflek otot-otot kandung kemih atau untuk merangsang agar timbul kontraksi supaya tidak terjadi kemunduran. Dengan demikian tujuan utama pengelolaan untuk menjaga atau meningkatkan fungsi kandung kemih. Sebaiknya dimulai dari meregangkan kandung kemih dalam waktu singkat (kurang dari 1 jam dan bertahap sampai bisa beradaptasi kurang lebih 4 jam, dan setelah beradaptasi dilakukan rutin

sampai kateter dilepas. Saat pemasangan kateter jangan dibiarkan kandung kemih menjadi kering (selalu kosong) yang menyebabkan gangguan dalam pola berkemih akibat kelemahan otot kandung kemih (National Rehabilitation Hospital). Pada pasien yang dikateterisasi dan tidak dilakukan bladder training, tidak memiliki pola berkemih yang optimal karena kemunduran akibat pengaruh kateterisasi belum dapat dikembalikan. Kurangnya latihan pada otot-otot destrusor di kandung kemih menyebabkan kemampuan kandung kemih untuk mengembang berkurang sehingga kapasitas dalam kandung kemihpun menjadi menurun. Gibson,2002 menjelaskan bahwa Kapasitas kandung kemih yang menurun menyebabkan kandung kemih cepat penuh, melalui reflek medula spinalis sinyal sensorik dari reseptor kandung kemih diteruskan ke segmen sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus kemudian secara reflek kembali lagi ke kandung kemih melalui syaraf parasimpatis menimbulkan keinginan untuk berkemih. Sehingga pasien yang kurang latihan akan berkemih lebih cepat tetapi tidak di sadari oleh pasien karena terjadi penurunan reflek pada otot-otot kandung kemih dan uretra. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soesilowati Oetami yang dilakukan di RSUD Ambarawa tahun 2011. Analisa data dilakukan dengan mencari nilai (p value) pada kedua kelompok yang diobservasi dengan menggunakan analisis mann whitney test. Pengolahan dilakukan dengan bantuan komputer menggunakan SPSS. Hasil penelitian didapatkan p value sebesar 0,002 < α (0,05), berarti dapat disimpulkan terdapat pengaruh blader training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putu Wulan Oktaryanti yang dilakukan Di IRNA C RSUP Sanglah Denpasar tahun 2013. Berdasarkan uji Mann Whitneydidapatkan nilai ρ (0,004) < α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak, yang berarti ada pengaruh pemberian bladder training sebelum pelepasan dower kateter terhadap terjadinya inkontinensia urin pada pasien di IRNA C Sanglah Denpasar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe dengan ditunjang hasil dari peneliti sebelumnya dengan responden yang berbeda dan tempat yang berbeda, telah membuktikan bahwa bladder training merupakan terapi non farmakologi yang efektif untuk melatih kembali kandung kemih pasien yang lama terpasang kateter. Bladder training merupakan tindakan mandiri perawat yang dilakukan pada pasien yang terpasang kateter lama tanpa menunggu instruksi dari dokter, karena tindakan bladder training merupakan tindakan untuk melatih kembali otototot detrusor yang telah berkurang fungsinya akibat pemasangan kateter yang lama kemungkinan terjadi malah-masalah yang mengancam jiwa pasien. Menurut asumsi peneliti gangguan fungsi berkemih dapat terjadi karena pemasangan kateter yang lama. Dimana pemasangan kateter yang lama akan mengakibatkan otot-otot detrusor kandung kemih akan berkurang fungsinya untuk dapat menahan dan menampung urin seperti saat sebelum sakit. Responden dengan kelompok kontrol memiliki 30% fungsi berkemih baik hal ini dikarenakan lama pemasangan kateter yang masih dalam taraf normal yaitu 5-6 hari dan 70% fungsi berkemih kurang dan mengatakan, susah untuk menahan urin saat ada keingnan berkemih, ada rasa sakit pada saat berkemih, tadak dapat menahan urin saat ada keinginan untuk berkemih. Berbeda halnya dengan responden kelompok eksperimen yang memiliki 100% fungsi berkemiih baik mengatakan tidak ada kesulitan jika ada rasa ingin berkemih. Keterbatasan Penelitian Penelitian tentang pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien yang terpasang kateter di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Masih banyak kekurangan, baik dalam pengolahan data atau tehnik pengumpulan data maupun masalah-masalah lainnya antara lain : 1. Jumlah sampel dalam penelitian ini sudah dengan jumlah minimal sampel yang dibutuhkan, namun kemungkinan penelitian ini akan menghasilkan data yang lebih baik jika sampel yang digunakan lebih besar. 2. Kurangnya responden yang terpasang kateter juga sangat berpengaruh dalam penelitian ini.

Kesimpulan Ada pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pada pasien dengan terpasang kateterdi ruang rawat inap kelas III RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Saran Bagi rumah sakit agar dapat menerapkan tindakan bladder training sebagai tindakan mandiri perawat yang mutlak harus dilakukan pada pasien yang terpasang kateter lama agar tidak terjadi gangguan pada fungsi berkemih pasien setelah dilakukan pelepasan kateter.

DAFTAR RUJUKAN Acenkflik, 2011. Sistem perkemihan.blogspot.com. diaksespada tanggal 28 januari 2014 Arifin, J, 2011. Evaluasi. Bandung: Pt remaja rosda karya offset. Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi. 5. Jakarta: Rineka Cipta. Aryo,. 2002. Perkembangan Fisik dan Psikis Pada Lanjut Usia. Edisi 1. Jakarta. EGC Brooker, C, 2001. Kamus Saku Keperawatan. Edisi 31. Jakarta: EGC Ermiati, dkk, 2008. Efektivitas Bladder Training Terhadap Fungsi Eliminasi Buang Air Kecil (BAK) Pada Ibu Postpartum Spontan. Universitas Indonesia: Jakarta Gibson, J. 2002. Fisiologi dan anatomi moderen untuk perawat. edisi 2. Jakarta : EGC. Hidayat, A. & Uliyah, M, 2005. Buku Saku praktikum Kbutuhan Dasar Manusia. Edisi pertama. Jakarta: EGC Hutauruk,I.,2009. Bladder Training.html diakses pada tanggal 15 desember 2013 Japardi, I. (2002). Manifestasi neurologis gangguan miksi. diakses pada tanggal 3 juni 2014, http://www.bedah iskandar japardi21.htm Notoatmojo,S. 2005. Metodologi penelitian kesehatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta Nurjananah,. 2012. Modul pelatihan SPSS. Basic pertemuan 1. Oetami, Soesilowati. 2011. Pengaruh bladder training terhadap fungsi berkemih pasien yang dipasang douer catheter di rsud ambarawa. http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-soesilowat- 6105 diakses pada tanggal 3 juni 2014 Oktaryanti,Putu.W.2013.Pengaruh Pemberian Bladder Training Sebelum Pelepasan Dower Kateter Terhadap Terjadinya Inkontinensia Urine Pada Pasien Di IRNA C RSUP Sanglah Denpasar.http://www.sanglahhospitalbali.com/v1/penelitian.php?ID=109 diakses tanggal 10 mei 2014 Perry, A. G,dkk. 2005. Buku SAku Keterampilan dan Prosedur Dasar. Edisi 5. Jakarta: EGC Potter, P. A. & Perry, A. G., 2006. Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses dan praktik. Edisi 4, Jakarta : EGC. Rikiardi, 2007.wordpress.com, di akses tanggal 15 desember 2013 Riyanto, A. 2011. Aplikasi Metodologi Kesehatan. Yogyakarta: nuha Medika. Santosa,P & Ashari, 2005. Analisis Statistik dengan Microsoft Exel & SPSS. Edisi 1, Yogyakarta: ANDI. Setiadi, 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Edisi pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013. Konsep dan praktik penulisan riset keperawatan. Yogyakarta: Graha ilmu Smeltzer, S. C. & Bare, B. G, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, edisi 8, Jakarta : EGC. Sugiono,. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. cetakan ke 7. Banndung: Alfabet,. 2012. Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabet Sjamsudhidajat., 2005. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3. Jakarta. EGC Sujarweni, Wiranta.V. 2014. Spss untuk Penelitian. Cetakan pertama. Yogyakarta. Pustaka baru press. Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC Tarwoto & Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan. Edisi. 3. Jakarta: