BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin disibel yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI. Slameto (2010:2), bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan

TINJAUAN PUSTAKA. seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia

individu dengan lingkungannya (Sugihartono, 2007: 74).

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nasution (2008: 93) mengemukakan bahwa gaya belajar atau learning style

PENGARUH GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PRODUKTIF

BY: METTY VERASARI MENGENAL TIPE BELAJAR ANAK (AUDITORY, VISUAL, & KINESTETIK)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. siswa. Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah

Available online at Jurnal KOPASTA. Jurnal KOPASTA, 2 (2), (2015) 13-17

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MODALITAS BELAJAR. Nama : Faridatul Fitria NIM : Prodi/SMT : PGMI A1/ V. : Ringkasan :

Cara setiap siswa untuk berkonsentrasi, memproses dan menyimpan informasi yang baru dan sulit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi

BAB II KAJIAN TEORITIK. a. Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita

Belajar yang Efektif dan Kreatif

STUDI GAYA BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2014 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA UM MATARAM PADA MATA KULIAH ELEKTRONIKA DASAR I TAHUN AKADEMIK 2015/2016

PENGARUH GAYA BELAJAR VISUAL DAN AKTIVITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IX DI SMP NEGERI 4 KOTA PROBOLINGGO

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dari beberapa definisi tersebut maka pembelajaran bahasa Indonesia dapat disimpulkan sebagai sebuah pembelajaran yang mempelajari

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Pembelajaran Langsung

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan latar belakang

PENGARUH MOTIVASI DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang

BAB II LANDASAN TEORI. Disiplin mempunyai makna yang luas dan berbeda beda, oleh karena itu. batasan lain apabila dibandingkan dengan ahli lainnya.

Universitas Negeri Malang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

PEDOMAN OBSERVASI GAYA BELAJAR. Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Instrumen dan Media Bimbingan Konseling

BAB II KAJIAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR,DAN HIPOTESIS. kewajiban belajar secara sadar dan menaati peraturan yang ada di lingkungan

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Gaya Belajar Visual terhadap Prestasi Belajar Pendidikan

Jurnal Akademis dan Gagasan matematika Edisi Ke Dua Tahun 2015 Halaman 45 hingga 53

BAB 1 PENDAHULUAN. diberikan. Setiap anak merupakan individu yang unik, dimana masing-masing dari. menceritakan hal tersebut dengan cara yang sama.

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. Pembahasan pada Bab II ini terdiri dari tinjauan pustaka, hasil penelitian yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diasumsikan mengacu pada kepribadian-kepribadian, kepercayaankepercayaan,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan kebutuhan manusia. Dengan belajar manusia dapat

Ghufron dan Risnawita (2010: 38-39) menjelaskan bahwa:

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Kemampuan Representasi Matematis. a) Pengertian Kemampuan Representasi Matematis

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya manusia dan masyarakat berkualitas yang memiliki kecerdasan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. penelitian, kegunaan penelitian dan diakhiri dengan ruang lingkup penelitian.

I. PENDAHULUAN. penelitian, kegunaan penelitian dan ruang lingkup penelitian adapun pembahasan secara lebih

BAB I PENDAHULUAN. belajar yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Melalui pendidikan,

I. PENDAHULUAN. suatu wadah yang disebut sebagai lenbaga pendidikan. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP dan MTs

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS. seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya

KARAKTERISTIK DAN PERILAKU AWAL SISWA. Langkah-langkah sistematis pembelajaran secara keseluruhan terdiri dari:

BAB II GAYA BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR

memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu sumber penghasil tenaga-tenaga terampil di berbagai jenis

BAB I PENDAHULUAN. setelah proses berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KAJIAN TEORETIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proaktif (urun rembuk) dalam memecahkan masalah-masalah yang diberikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Minat Siswa Melanjutkan Studi ke Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Yoga Sidik Permana, 2015

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pembelajaran ialah

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoretis. 1. Hasil Belajar. a. Pengertian Hasil Belajar

Kelas 4 SDN 1 Selodoko. LAMPIRAN 1 Daftar Siswa SDN 1 Selodoko Kelas 3 SDN 1 Selodoko

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi pada fisik maupun non-fisik, merupakan

PENGARUH MODEL QUANTUM TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Hidayah Ansori, Rezqy Amalia

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan temuan yang diperoleh dari hasil penelitian, didapat kesimpulan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENGARUH KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA TEKNIK PENDINGIN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses

TINJAUAN PUSTAKA. Gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERBEDAAN TINGKAT PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KECENDERUNGAN GAYA BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

I. PENDAHULUAN. informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang diselenggarakan di negara tersebut. Oleh karena itu, pendidikan

I. PENDAHULUAN. pembelajaran di SMP Negeri 3 Jati Agung tahun ajaran untuk siswa

BAB I PENDAHULUAN. merasa, atau tindakan dapat dianggap sebagai pendidikan. Pendidikan biasanya

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KETERAMPILAN GERAK TARI BERDASAR POLA LANTAI DENGAN METODE DISCOVERY. Erlin Sofiyanti

BAB I PENDAHULUAN. menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Disamping itu

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. kerangka pikir yang merupakan perpaduan antara variabel satu dengan variabel

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

pesar baik dari segi materi maupun kegunaannya. Tugas guru adalah membosankan. Jika hal ini dapat diwujudkan maka diharapkan di masa yang

yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan

BAB V PENUTUP KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

IDENTIFIKASI GAYA BELAJAR (VISUAL, AUDITORIAL, KINESTETIK) MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS BUNG HATTA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatan sumber daya

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) Pasal 3 mengenai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. tidak pernah dikenalkan pada aturan maka akan berperilaku tidak disiplin

FORUM DIKLAT Vol 13 No. 03 MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK AGAR PEMBELAJARAN MENJADI DINAMIS DAN DEMOKRATIS. Oleh : M. Hasan Syukur, ST *)

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. IX. No. 1 Tahun 2011, Hlm PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI. Oleh Sukanti 1.

Transkripsi:

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kedisiplinan 2.1.1 Pengertian Disiplin Belajar Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin disibel yang berarti Pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi disipline yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Sekarang ini kata disiplin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak pengertian disiplin yang berbeda antara ahli yang satu dengan yang lain. Depdikbud (1992:3) memberikan arti disiplin adalah tingkat konsistensi dan konsekuensi seseorang terhadap suatu komitmen atau kesepakatan bersama yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai. Menurut Sofchah Sulistiyowati (2001:3) agar seorang siswa dapat belajar dengan baik maka ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai berikut: 1. Disiplin dalam menepati jadwal pelajaran. Bila seorang siswa mempunyai jadwal kegiatan belajar, ia harus menepati jadwal yang telah dibuatnya. Dalam hal ini jauh sebelumnya sudah diperintah membuat jadwal belajar sesuai jadwal pelajaran. 2. Disiplin dalam mengatasi godaan yang akan menunda waktu belajar. Bila seorang siswa sudah tiba waktunya untuk belajar kemudian diajak bermain oleh temannya, maka siswa tersebut harus dapat menolak ajakan temannya tadi secara halus agar tidak tersinggung. 3. Disiplin terhadap diri sendiri. Siswa dapat menumbuhkan semangat belajar baik di rumah maupun di sekolah. Ini senada dengan pendapat dari Bimo Walgito (1989:123) tentang

Self diciline (disiplin terhadap diri sendiri), yang harus ditanamkan oleh tiap-tiap individu, karena sekalipun memiliki mempunyai rencana belajar yang baik akan tetap tinggal rencana kalau tidak adanya disiplin diri. 4. Disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga secara teratur. Disiplin dalam menjaga kondisi fisik sangat penting, kalau tidak akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Dari uraian di atas jelaslah bahwa disiplin dalam belajar hendaknya dimiliki oleh setiap siswa, yang akhirnya nanti bisa menjadi kebiasaan, maka akan terbentuk etos belajar yang baik. Belajar bukan lagi sebagai beban melainkan sudah dianggap sebagai kebutuhan hidupnya. Disiplin diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 2.1.2 Unsur Pokok Disiplin Disiplin mempunyai empat unsur pokok yaitu: Peraturan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam peraturan, hukuman untuk pelanggaran peraturan, dan penghargaan untuk perilaku yang baik yang sejalan dengan peraturan yang berlaku (E.B. Hurlock, 1999:84). 1. Peraturan Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Tujuannya membekali anak dengan perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu misalnya peraturan sekolah dan peraturan di rumah. Fungsi peraturan adalah mempunyai nilai pendidikan sebab peraturan memperkenalkan kepada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok. Anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapatkan bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa

menyerahkan tugas yang dibuat sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasinya. 2. Hukuman Fungsi hukuman ada tiga macam, yaitu pertama menghalangi, maksudnya hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Kedua mendidik, sebelum anak mengerti peraturan mereka akan dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolehkan. Sedangkan fungsi ketiga memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. 3. Penghargaan Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung. Fungsi penghargaan ada tiga macam yaitu pertama mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, anak merasa hal itu baik. Kedua penghargaan berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Dan ketiga penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, tiada penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku ini. Berdasarkan uraian di atas betapa pentingnya penghargaan yaitu motivasi anak untuk lebih giat belajar. 4. Konsistensi Konsistensi adalah tingkat keseragaman atau stabilitas. Bila disiplin itu konstan akan ada kebutuhan perkembangan yang berubah. Konsistensi ini harus menjadi ciri semua aspek

disiplin. Harus ada konsistensi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam cara peraturan yang diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan. Dalam penelitian ini, kedisiplinan pada siswa mencakup disiplin belajar di sekolah, dan disiplin belajar di tempat praktik. Siswa yang disiplin dalam belajarnya baik di sekolah maupun di tempat praktik akan berperilaku sesuai dengan peraturan yang ada dan akan menunjukkan ketaatan dan keteraturan dalam kegiatan belajarnya. 1. Disiplin belajar di sekolah Setiap sekolah memiliki peraturan dan tata tertip yang harus dilaksanakan dan di patuhi oleh semua siswa. Peraturan yang dibuat sekolah merupakan kebijakan sekolah yang tertulis dan berlaku sebagai standar untuk tingkah laku siswa sehingga siswa mengetahui batasan-batasan dalam bertingkah laku. Dalam disiplin terkandung pula ketaatan dan mematuhi segala peraturan dan tangung jawab misalnya disiplin belajar. Dalam hal ini sikap patuh siswa ditunjukkan pada peraturan yang telah ditetapkan. Siswa yang disiplin belajar akan menunjukkan ketaatan dan keteraturan terhadap kegaiatan belajarnya serta taat terhadap peraturan yang ada di sekolah. Menurut Subari (1991:132) siswa yang disiplin dalam belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a) Mengarahkan energi untuk belajar secara kontinyu. b)melakukan belajar dengan kesungguhan dan tidak membiarkan waktu luang. c) Patuh terhadap rambu-rambu yang diberikan guru dalam belajar.

d) Patuh dan taat terhadap tata tertip belajar di sekolah. e) Menunjukkan sikap antusias dalam belajar. f) Mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas dengan gairah dan partisipatif. g) Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru dengan baik. h)tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh guru berkenaan dengan kegiatan belajar seperti mencontek, membolos, berkelahi, membuat gaduh di kelas dan mengerjakan tugas dengan baik. 2. Disiplin belajar di tempat praktik Setiap tempat usaha atau industri mempunyai aturan dan tata tertib tersendiri, dimana siswa dituntut untuk mengikuti dan mematuhi aturan dan tata tertib yang ada. Peraturan yang dibuat di tempat usaha atau industri merupakan kebijakan yang telah tulis atas kerjasama antara sekolah dengan tempat usaha atau industri sebagai standar untuk tingkah laku siswa sehingga siswa mengetahui batasan-batasan dalam bertingkah laku. Kedisiplinan belajar pada siswa ikut memberikan pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapainya. Siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi akan dapat belajar dengan baik, terarah dan teratur sehingga dimungkinkan akan mendapatkan hasil belajar yang baik pula. Hal ini selaras dengan pendapat Walgito (1989:127) yaitu Sekalipun mempunyai rencana belajar yang baik, akan tetapi tinggal rencana kalau tidak adanya kedisiplinan maka tidak akan berpengaruh terhadap prestasinya. Menurut Malayu S.P. Hasibuan, Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku (2006: 193).

Dengan demikian peranan kedisiplinan sangat besar bagi siswa karena dengan kedisiplinan belajar siswa akan mampu mengkondisikan dirinya untuk belajar sesuai dengan harapan masyarakat. Dengan kedisiplinan maka rasa malas, rasa enggan, akan dapat teratasi sehingga hal ini memungkinkan siswa untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan. 2.1.3 Indikator Kedisiplinan Siswa yang menyadari belajar merupakan suatu kebutuhan dan kewajiban dengan sendirinya akan belajar tanpa ada yang memaksa dan siswa tersebut memiliki kecenderungan disiplin yang tinggi dalam belajarnya. Dengan disiplin belajar, rasa malas, rasa enggan, dan rasa menentang akan dapat teratasi sehingga siswa akan belajar sesuai harapan-harapan yang terbentuk dari masyarakat. Menurut Arikunto (2009:137) dalam penelitian mengenai kedisiplinan membagi tiga macam indikator kedisiplinan, yaitu: 1) perilaku kedisiplinan di dalam kelas, 2) perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah, dan 3) perilaku kedisiplinan di rumah. Sedangkan menurut Syafrudin dalam jurnal Edukasi (2005:80) membagi indikator disiplin belajar menjadi empat macam, yaitu: 1) ketaatan terhadap waktu belajar, 2) ketaatan terhadap tugas-tugas pelajaran, 3) ketaatan terhadap penggunaan fasilitas belajar, dan 4) ketaatan menggunakan waktu datang dan pulang. Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini penulis membagi indikator disiplin menjadi empat macam, yaitu: 1. Ketaatan terhadap tata tertib sekolah 1. Kehadiran siswa.

2. Penggunaan pakaian seragam sekolah. 3. Lingkungan sekolah. 4. Etika, Estetika dan Sopan Santun. 5. Administrasi Sekolah. 6. Kegiatan Ekstrakulikuler dan Pengembangan diri. 7. Melaksanakan tugas piket sesuai jadwal. 2. Ketaatan terhadap kegiatan belajar di sekolah 1. Tidak melakukan keributan dikelas. 2. Mengikuti kegiatan pembelajaran yang diadakan sekolah. 3. Tidak mencontek saat ulangan. 3. Ketaaatan dalam mengerjakan tugas-tugas pelajaran 1. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. 2. Mengumpulkan tugas tepat waktu. 4. Ketaatan terhadap kegiatan belajar di tempat praktik 1. Mengikuti aktivitas yang ada di tempat praktik. 2. Bekerja sama dalam situasi kelompok. 2.2 Gaya Belajar 2.2.1 Pengertian Gaya Belajar Dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung maka akan tercipta suatu cara belajar yang menjadi suatu kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Cara belajar yang dimiliki siswa sering disebut dengan gaya belajar atau modalitas belajar siswa. Dunn dan Dunn dalam Sugihartono (2007: 53) menjelaskan bahwa gaya belajar merupakan kumpulan karakteristik pribadi yang membuat pembelajaran efektif untuk

beberapa orang dan tidak efektif untuk orang lain. Gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, mengingat, berfikir, dan memecahkan soal (S. Nasution, 2003: 94). Siswa memiliki kebutuhan belajar sendiri, belajar dengan cara yang berbeda, serta memproses informasi dengan cara yang berbeda. Sebagian orang mungkin memiliki gaya belajar tertentu yang dominan digunakan dalam berbagai situasi, sehingga kurang menggunakan gaya yang berbeda untuk situasi yang berbeda. Dari beberapa definisi gaya belajar di atas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang dipakai seseorang dalam proses belajar yang meliputi bagaimana menangkap, mengatur, serta mengolah informasi yang diterima sehingga pembelajaran menjadi efektif. 2.2.2 Macam-macam gaya belajar Menurut DePorter dan Hernacki (A. Abdurrahman 2002: 112) terdapat tiga gaya belajar seseorang yaitu gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Walaupun masing-masing siswa belajar dengan menggunakan ketiga gaya belajar ini, kebanyakan siswa lebih cenderung pada salah satu diantara gaya belajar tersebut. 1. Gaya Belajar Visual Siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), mereka cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat. Siswa yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Orang-orang visual: rapi dan teratur, berbicara dengan cepat, perencana dan pengatur jangka panjang yang baik, teliti terhadap detail, mementingkan penampilan baik dalam hal

pakaian maupun presentasi, pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka, mengingat apa yang dilihat dari pada yang didengar, mengingat dengan asosiasi visual, biasanya tidak terganggu oleh keributan, mempunyai masalah untuk mengingat intruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya, pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca daripada dibacakan, membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek, sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan tetapi tidak pandai memilih kata-kata, kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan. DePorter dan Hernacki (A. Abdurrahman, 2002: 116-118). 2. Gaya Belajar Auditorial Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya). Mereka dapat mencerna dengan baik informasi yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang sulit diterima oleh siswa bergaya belajar auditori. Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset. Orang-orang auditorial: berbicara kepada diri sendiri saat bekerja, mudah terganggu oleh keributan, menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca, senang membaca dengan keras dan mendengarkan, dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, irama, dan warna suara, belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat, suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan segala sesuatu panjang lebar, mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain, lebih pandai mengeja

dengan keras daripada menuliskannya, lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik DePorter dan Hernacki (A. Abdurrahman, 2002:118). 3. Gaya Belajar Kinestetik Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Siswa seperti ini tidak tahan untuk duduk berlama-lama mendengarkan pelajaran dan merasa bisa belajar lebih baik jika prosesnya disertai kegiatan fisik. Orang-orang kinestetik: berbicara dengan perlahan, menanggapi perhatian fisik, menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka, berdiri dekat ketika berbicara dengan orang, selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, mempunyai perkembangan awal otototot yang besar, belajar melalui memanipulasi dan praktik, menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca, banyak menggunakan isyarat tubuh, tidak dapat duduk diam untuk waktu lama, tidak dapat mengingat geografi kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu, menggunakan kata-kata yang mengandung aksi, menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot, mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca, kemungkinan tulisannya jelek, ingin melakukan segala sesuatu, menyukai permainan yang menyibukkan. DePorter dan Hernacki (A. Abdurrahman, 2002: 118-120). 2.2.3 Indikator Gaya Belajar Mengacu pada teori dan ciri-ciri gaya belajar menurut DePorter dan Hernacki (A. Abdurrahman 2002: 116-120) seperti yang diuraikan di atas maka diketahui indikator-indikator dari masing-masing gaya belajar sebagai berikut: 1. Indikator gaya belajar visual a) Belajar dengan cara visual

Mata/penglihatan mempunyai peranan yang penting dalam aktivitas belajar. Lebih mudah memahami pelajaran dengan melihat bahasa tubuh/ekspresi muka gurunya, membaca, menulis. b) Mengerti baik mengenai posisi, bentuk, angka, dan warna Siswa yang bergaya belajar visual lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat, sehingga mereka bisa mengerti dengan baik mengenai posisi/lokasi, bentuk, angka, dan warna. c) Rapi dan teratur Siswa visual mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun kondisi lingkungan di sekitarnya. d) Tidak terganggu dengan keributan Siswa dengan gaya belajar visual lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, jadi mereka sering mengabaikan apa yang mereka dengar. e) Sulit menerima intruksi verbal Mudah lupa dengan sesuatu yang disampaikan secara lisan dan sering kali harus minta bantuan orang untuk mengulanginya. 2. Indikator gaya belajar auditorial a) Belajar dengan cara mendengar Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga/alat pendengarannya. Mereka belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. b) Baik dalam aktivitas lisan

Siswa auditorial berbicara dengan irama yang terpola, biasanya pembicara yang fasih, suka berdiskusi dan menjelaskan segala sesuatu panjang lebar. c) Memiliki kepekaan terhadap musik Mereka mampu mengingat dengan baik apa yang didengar, sehingga dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, irama, dan warna suara. d) Mudah terganggu dengan keributan Siswa dengan tipe auditorial ini peka terhadap suara yang didengarnya, jadi mereka akan sangat terganggu jika ada suara lain disamping dalam aktivitas belajarnya. e) Lemah dalam aktivitas visual Informasi tertulis terkadang sulit diterima oleh siswa bergaya belajar auditori. 3. Indikator gaya belajar kinestetik a) Belajar dengan aktivitas fisik Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, melakukan, menanggapi perhatian fisik, mempunyai perkembang fisik yang lebih cepat. b) Peka terhadap ekspresi dan bahasa tubuh Siswa dengan gaya belajar kinestetik mudah menghafal dengan cara melihat gerakan tubuh/fisik sambil berjalan mempraktikkan, keinginan yang kuat dalam melakukan segala sesuatu. c) Berorientasi pada fisik dan banyak bergerak Siswa kinestetik biasanya menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca, banyak menggunakan isyarat tubuh, suka praktik, mengunakan kata-kata yang mengandung aksi. d) Suka coba-coba dan kurang rapi

Belajar melalui memanipulasi dan praktik, kemungkinan tulisannya jelek, tidak dapat duduk diam untuk waktu lama. e) Lemah dalam aktivitas verbal Cenderung berbicara dengan perlahan, sehingga perlu berdiri dekat ketika berbicara dengan orang lain, lebih menyukai permainan yang menyibukkan, lebih menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot, Tidak dapat mengingat geografi kecuali pernah berada di tempat itu. 2.3 Hasil Belajar 2.3.1 Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa yang telah berhasil menuntaskan konsepkonsep mata pelajaran sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Begitu juga hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang tetap sebagai hasil proses pembelajaran. Hasil belajar dapat diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Prinsip yang mendasari penilaian hasil belajar yaitu untuk memberi harapan bagi siswa dan guru untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kualitas dalam arti siswa

menjadi pembelajar yang efektif dan guru menjadi motivator yang baik. Dalam kaitan dengan itu, guru dan pembelajar dapat menjadikan informasi hasil penilaian sebagai dasar dalam menentukan langkah-langkah pemecahan masalah, sehingga mereka dapat memperbaiki dan meningkatkan belajarnya (Rasyid, 2008:67). Dalam proses belajar mengajar, guru selalu memperhatikan hasil belajar siswa sehingga guru dapat merencanakan pembelajaran yang tepat bagi siswa untuk belajar mengajar selanjutnya. Menurut Blom (Sudrajat 2008:4), perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor, beserta tingkatan aspeknya. sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Pendapat Hamalik (2009:31) tentang hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan. Penilaian hasil belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru baik dalam kelas maupun di luar kelas untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dan sekaligus menunjukkan daya serap siswa terhadap kurikulum yang digunakan. Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik 2009:30). Warsito (dalam Depdiknas, 2006:125) mengemukakan bahwa hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Disamping itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penilaian terhadap hasil belajar sangat penting, karena penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kreteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa

objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku, sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris (Sudjana,2009:3). Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perilaku dan pemahaman seseorang dari kegiatan pembelajaran yang dapat diamati dan merupakan bentuk dari pembelajaran yang berlangsung. Hasil belajar dapat dilihat dari perubahan-perubahan dalam pengetahuan, perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang tampak dalam perilaku yang nyata. 2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Menurut Hamalik (2009:30) hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap. Menurut Purwanto (2011:44) hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan, untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat. Menurut Dalyono (2007:55) faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis faktor internal dan eksternal. Faktor yang didorong dari dalam diri seseorang disebut faktor internal, dapat diklarifikasikan menjadi dua yaitu faktor biologis dan psikologis. Dan faktor belajar dari luar disebut eksternal. Faktor internal meliputi kesehatan, intelegensi dan

bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar. Sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Menurut Slameto (2010:54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya.tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, dan faktor ekstern yang ada diluar individu. 1. Faktor intern ini terbagi menjadi tiga faktor, yaitu: a. Faktor jasmaniah: faktor kesehatan dan cacat tubuh b. Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan). c. Faktor kelelahan. 2. Faktor ekstern faktor yang ada diluar individu. Faktor ekstern dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu: a. Faktor keluarga: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan. b. Faktor sekolah: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, metode belajar, dan tugas rumah. c. Serta faktor masyarakat: kegiatan dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti pelajaran di sekolah maupun di tempat praktik atau magang dalam wujud nilai yang diberikan oleh guru. 2.3.3 Praktik Kerja Industri Salah satu wujud implementasi tujuan pendidikan sistem ganda yang berkaitan dengan link and match adalah melalui program Praktik Kerja Industri (Prakerin). Menurut Depdikbud dalam wena (1996:15) Praktik kerja industri dikenal dengan sistem magang, yakni bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematis dan sinkron program keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu keahlian professional tertentu. Pakpahan dalam Wena (1996:16) Pendidikan Sistem Ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan, yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada bidang pekerjaan yang relevan, terarah untuk mencapai penguasaan kemampuan keahlian tertentu. yaitu: Metode pembelajaran praktik industri menurut Wena (1996:155) terdiri dari lima tahap 1. Tahap persiapan

Secara pokok kegiatan guru dalam tahap ini adalah merencanakan, menata dan memformulasikan kondisi-kondisi pembelajaran dan pelatihan, sehingga ada kaitan secara sistematis dengan metode yang akan diterapkan. 2. Tahap peragaan Guru memperagakan secara nyata pekerjaan yang harus dipelajari, menjelaskan cara kerja yang baik dalam hubungan dengan keseluruhan proses. 3. Tahap peniruan Siswa melakukan kegiatan kerja menirukan aktivitas kerja yang telah diperagakan oleh guru. 4. Tahap praktik Dalam tahap ini siswa mengulangi aktivitas kerja yang baru dipelajari sampai keterampilan kerja yang dipelajari betul-betul dikuasai sepenuhnya. 5. Tahap evaluasi Dengan dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan pelatihan praktik, maka siswa akan mengetahui kemampuannya secara jelas, sehingga siswa dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelatihannya. Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Praktik Kerja Industri dalam penelitian ini adalah penyelenggaraan pendidikan keahlian professional yang memadukan antara pendidikan sekolah dan penguasaan keterampilan yang sesuai dengan program keahlian melalui kegiatan bekerja secara langsung baik di dunia usaha atau di dunia industri yang diharapkan dapat meningkatkan professionalisme siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya. Tanpa melakukan kegiatan Praktik Kerja Industri suatu lembaga pendidikan kejuruan tidak akan bisa membekali lulusannya dengan kemampuan kerja yang optimal.

2.3.4 Indikator Hasil Belajar Praktik Kerja Industri Hasil belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu, namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif dan keduanya selalu mengandung ranah afektif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Di SMK didominasi ranah psikomotoril karena dalam struktur kurikulum memang lebih dominan kegiatan praktik. Berkaitan dengan psikomotor, ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1)

kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan. Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. Dapat disimpulkan indikator dari hasil belajar praktik kerja industri berupa nilai kompetensi dari aspek psikomotor siswa pada praktik kerja industri tahun pelajaran 2014 / 2015. 2.4 Penelitian Yang Relevan 1. Penelitian Ida Farida Achmad (2008) yang berjudul Pengaruh Kemandirian Belajar dan Disiplin Belajar terhadap Prestasi Belajar Siklus Akuntansi Siswa Kelas X SMK Negeri 7 Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008. Hasil penelitian adalah terdapat pengaruh positif dan signifikan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar siklus akuntansi siswa kelas X SMK Negeri 7 Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,674, koefisien determinasi (r2) sebesar 0,454. Dari uji t diperoleh t hitung sebesar 7,842 pada taraf signifikan 5%. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Afrizal (2009) dengan judul Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial, dan Kinestetik) Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Keuangan Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMKN 1 Depok Tahun Ajaran 2008/2009.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terhadap pengaruh yang positif dan signifikan gaya belajar visual terhadap prestasi belajar akuntansi keuangan dengan nilai thitung sebesar 2,645 (p=0,016<0,05), terdapat pengaruh yang positif dan signifikan gaya belajar auditorial terhadap prestasi belajar akuntansi keuangan dengan nilai thitung sebesar 2,757 (p=0,007<0,05), terdapat pengaruh yang positif tetapi tidak signifikan gaya belajar kinestetik terhadap prestasi belajar akuntansi keuangan dengan nilai thitung sebesar 1,824 (p=0,183>0,05). Sedangkan gaya belajar secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar akuntansi keuangan dengan nilai Fhitung sebesar 5,730 (p=0,001<0,05) dan nilai R² sebesar 0,155. Ini berarti bahwa prestasi belajar akuntansi keuangan dipengaruhi sebesar 15,5% oleh variabel gaya belajar visual, gaya belajar auditorial dan gaya belajar kinestetik. 2.5 Kerangka Berpikir Berdasarkan konsep teori di atas, maka kerangka berfikir penelitian tentang pengaruh kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi :

Kedisiplinan (X1) Gaya Belajar (X2) Hasil Belajar Praktik Kerja Industri (Y) Gambar 2.5 Kerangka Berfikir Penelitian Tentang pengaruh kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi Sumber: Data diolah 2015 Keterangan : : Pengaruh kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi secara parsial. : Pengaruh kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi secara simultan. 2.6 Hipotesis Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data terkumpul (Arikunto, 2006:64).Hipotesis menurut rumusnya dibedakan menjadi dua yaitu hipotesis alternatif dan hipotesis nol. Hipotesis

alternatif adalah hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab permasalahan berdasarkan teoriteori yang ada hubungannya dengan permasalahan penelitian.sedangkan hipotesis nol adalah pernyataan tidak adanya hubungan, pengaruh atau perbedaan antara parameter dengan statistik. Berdasarkan dasar konsep diatas maka peneliti mencoba mengajukan hipotesis penelitian ini sebagai berikut : 1. H0 : Tidak terdapat pengaruh antara kedisiplinan terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi. Ha : Terdapat pengaruh antara kedisiplinan terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi. 2. H0 : Tidak terdapat pengaruh antara gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi. Ha : Terdapat pengaruh antara gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi. 3. H0 : Tidak terdapat pengaruh antara kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi. Ha : Terdapat pengaruh antara kedisiplinan dan gaya belajar terhadap hasil belajar Prakerin siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 4 Kota Jambi.