PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL

PENGARUH ORIENTASI OBJEK PADA PROSES 3D PRINTING BAHAN POLYMER PLA DAN ABS TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KETELITIAN DIMENSI PRODUK

UNIVERSITAS DIPONEGORO

PENGEMBANGAN PROSES MULTI MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MMD-Is) UNTUK SERBUK Cu

Rancang Bangun Mesin Multi Material Deposition-Indirect Sintering (MMD-IS) Bagian Mekanisme Built Part

PROSES PEMBUATAN PRODUK BIMETAL Cu DAN Ni DENGAN PROSES MULTI MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MMD-IS)

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH POSISI ORIENTASI OBJEK PADA PROSES RAPID PROTOTYPING 3D PRINTING TERHADAP KEKUATAN TARIK MATERIAL POLYMER

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pengaturan Orientasi Posisi Objek pada Proses Rapid Prototyping Menggunakan 3D Printer Terhadap Waktu Proses dan Kwalitas Produk

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

AKURASI DIMENSI PRODUK PROSES MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MD-Is) VARIASI UKURAN PARTIKEL SERBUK PENYANGGA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGARUH ORIENTAS OBYEK HASIL FUSED DEPOSITION MODELING PADA WAKTU PROSES

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG

BAB II RAPID PROTOTYPING

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BUKU RANCANGAN PENGAJARAN MATA AJAR PROSES MANUFAKTUR DAN PEMILIHAN MATERIAL. oleh. Tim Dosen Mata Kuliah Proses Manufaktur dan Pemilihan Material

BAB I PROSES MANUFAKTUR

PROSES MANUFACTURING

TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)

3. Uraikan & jelaskan perbedaan yang mendasar antara teknik pressing & sintering konvensional dengan teknik pressing & sintering modern.

METALURGI SERBUK (POWDER METALLURGY) Metalurgi Serbuk : Teknologi pemrosesan logam dimana part-part diproduksi dari serbuk metal.

FM-UDINUS-PBM-08-04/R0 SILABUS MATAKULIAH. toleransi. Revisi : 4 Tanggal Berlaku : 04 September 2015

MICROCELLULAR INJECTION MOLDING SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PEMBUATAN PRODUK PLASTIK

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH KOMPOSISI CERAMIC SHELL PADA INVESTMENT CASTING TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN DAN POROSITAS PRODUK TOROIDAL PISTON

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

PROSES PEMBUBUTAN LOGAM. PARYANTO, M.Pd.

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan produk yang berkelanjutan. Hal ini agar industri selalu. eksis dan bahkan menjadi rujukan dari para konsumen.

Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

Interaksi Manusia dan Komputer

Metal Casting Processes. Teknik Pembentukan Material

Pengaruh Parameter Proses 3D Printing Terhadap Elastisitas Produk Yang Dihasilkan

PENGARUH PARAMETER PROSES EKTRUSI 3D PRINTER TERHADAP SIFAT MEKANIS CETAK KOMPONEN BERBAHAN FILAMENT PLA (Poly Lactide Acid)

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DISAIN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN DIES SASIS MOBIL MINI TRUK ESEMKA

Asyer Paulus Mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri ITS

BAB III PERCOBAAN III.1. DIAGRAM ALIR PERCOBAAN. 17 Ibnu Maulana Yusuf

BAB II DASAR-DASAR MANUFAKTUR PRODUK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MATERI PEMBELAJARAN. Prototyping Rapid Prototyping Dimensi Prototyping Terminologi Prototyping Prototyping Tools

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Teknik Manufaktur I (TMS205ME) Dosen: Dr. Hendri Yanda, MSc. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik - Universitas Andalas Sem Ganjil TA 2013/2014

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB VI PENUTUP. 6.1 Kesimpulan

OPTIMASI DESAIN CETAKAN DIE CASTING UNTUK MENGHILANGKAN CACAT CORAN PADA KHASUS PENGECORAN PISTON ALUMINIUM

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tinggi,menyebabkan pengembangan sifat dan karakteristik aluminium terus

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Proses Gerinda. Paryanto, M.Pd. Jur. PT. Mesin FT UNY

I. PENDAHULUAN. industri akan ikut berkembang seiring dengan tingginya tuntutan dalam sebuah industri

Perancangan Extruder Mesin Rapid Prototyping Berbasis Fused Deposition Modeling (FDM) Untuk Material Filament Polylactic Acid (PLA) Diameter 1,75 mm

Pengaruh Perubahan Kecepatan dan Daya terhadap Lebar Celah Laser pada Mesin Laser Cutting Kapasitas 60 Watt dengan Material Akrilik

PROSES GURDI (DRILLING) Paryanto, M.Pd. Jur. PT. Mesin FT UNY

Pengaruh Kecepatan Potong Pada Pemotongan Polymethyl Methacrylate Menggunakan Mesin Laser Cutting

MEKANISME PERPINDAHAN BATANG PADA VARIASI PARAMETER DESAIN FEEDER CELAH BERPUTAR

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL 7 PROSES PENGECORAN LOGAM

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan bahan dasar piston bekas. Proses pengecoran dengan penambahan Ti-B 0,05%

: MES 313 (2 SKS TEORI + 1 SKS PRAKTIK)

KAJIAN IMPLEMENTASI QUICK CHANGEOVER DI P.T. X

SINTESIS KERAMIK Al 2 TiO 5 DENSITAS TINGGI DENGAN ADITIF MgO

PROSES PEMBUATAN PRODUK BERBAHAN PLASTIK DENGAN JENIS MATERIAL HDPE UNTUK TUTUP GALON AIR MINERAL DI PT. DYNAPLAST

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan mesin frais (milling) baik untuk keperluan produksi. maupun untuk kaperluan pendidikan, sangat dibutuhkan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. peraturan pemerintah No. 70 tahun 2009 tentang konservasi energi.

BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT

Pengaruh Temperatur Media Pendingin dan Circle Time terhadap Defect Crack Line pada Produk SP 04 Haemonetics

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR

BAB III PROSES PERANCANGAN

Mata Kuliah: Proses Manufaktur II (Pengecoran, Pembentukan) 3 sks

BAB 5 DASAR POMPA. pompa

PENGARUH PARAMETER WAKTU TAHAN TERHADAP CACAT WARPAGE DARI PRODUK INJECTION MOLDING

PROSES MOLDING PEMBUATAN KEYMASCOD SEPEDA MOTOR MAULANA MUNAZAT

PENGARUH VARIABEL KOMPAKSI TERHADAP MODULUS ELASTISITAS KOMPOSIT Al/SiC p DENGAN PERMUKAAN PARTIKEL SiC TERLAPISI ZnO

MATERIAL PLASTIK DAN PROSESNYA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Pengaruh titanium..., Caing, FMIPA UI., 2009.

BAB I PENDAHULUAN. Plastik merupakan bahan baku yang berkembang saat ini. Penggunaan material plastik sebagai bahan dasar pembuatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV ANALISIS & HASIL PERCOBAAN

PENGARUH WAKTU PENAHANAN PROSES SINTERING TERHADAP NILAI KEKERASAN PRODUK EKSTRUSI PANAS DARI BAHAN BAKU GERAM ALUMINIUM HASIL PROSES PERMESINAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

11.1 Pemrosesan Material Plastik

BAB 3 Metodologi Penelitian

I. RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

Transkripsi:

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL Susilo Adi Widyanto 1) Abstrak Tingginya persaingan antar produk-produk industri menuntut dikembangkannya sistem produksi yang tepat waktu, efisien dan mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Ketersediaan suatu produk baru di pasar ternyata merupakan faktor penentu eksistensi produk tersebut. Dengan mempercepat waktu perealisasian konsep desain menjadi bentuk prototype sebelum masuk dalam sistem produksi masal merupakan salah satu terobosan untuk memperkuat daya saing produk industri. Pengaplikasian teknologi rapid prototyping merupakan alasan untuk mereduksi cycle time dalam produksi. Berbagai pengembangan proses RP telah dilakukan dengan munculnya berbagai jenis mesin RP komersial. Namun dari mesin-mesin tersebut, masalah variasi bahan produk yang digunakan masih sangat terbatas, dimana produk yang dibuat hanya terbatas pada jenis material tunggal. Paper ini melaporkan suatu penelitian pengembangan proses RP yang ditujukan untuk pembuatan produk-produk multi material. Dengan menggunakan mekanisme hopper nozzle sebagai perangkat pendeposisi serbuk produk dan slot feeder counter rolling cylinder untuk supporting powder, berbagai karakteristik produk multi material dapat dibuat. Pada pengembangan selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan produk-produk smart material dan micropart. Kata kunci : Rapid prototyping, multi-material, hopper nozzle PENDAHULUAN Semakin tingginya tingkat persaingan yang terjadi antar pabrikan menuntut dikembangkannya sistem produksi yang efisien, tepat waktu dan mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Perealisasian suatu konsep desain menjadi bentuk produk massal dituntut melalui proses produksi yang secepat mungkin. Kondisi-kondisi yang demikian mengarahkan berbagai pengembangan proses produksi baik dari sisi desain, planning maupun pelaksanaan proses di floor produksi. Penerapan teknologi rapid prototyping dalam proses produksi telah terbukti mampu secara cepat membantu memberikan umpan balik pada konsep desain dan mengeliminasi inkonsistensi suatu konsep desain sebelum masuk proses pabrikasi. Pada akhirnya secara signifikan akan mereduksi cycle time dalam produksi, meningkatkan kualitas produk dan mereduksi biaya perawatan mesin (Tseng dan Tanaka, 2000). Secara umum teknologi layer manufacturing dalam prosesnya tidak membutuhkan peralatan bantu maupun perkakas potong. Untuk membuat suatu produk tiga dimensi dapat dilakukan secara langsung dari data komputer grafis dan dikerjakan lapisan demi lapisan (Beaman et al., 1997). 1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin FT-UNDIP Dengan proses layer manufacturing, produk yang dibuat tidak dibatasi oleh tingkat kompleksitas geometri, dimana kondisi itu tidak dapat dikerjakan dengan proses-proses konvensional (machining, casting, forming). Dalam teknologi mold misalnya, dengan teknologi pemotongan, saluran pendingin hanya memungkinkan untuk dibuat lurus (proses drilling), namun dengan menggunakan proses SLS saluran pendingin dapat dibuat dengan mengikuti bentuk produk/konfromal (Badrinarayan dan Barlow, 1994), dan (Sachs dkk, 1995). Dari sisi kemampuan proses, pengembangan teknologi rapid prototyping terus dilakukan, diantaranya diarahkan untuk pembuatan produk-produk multi material, micropart, smart material dan aplikasiaplikasi pada bidang kesehatan. Paper ini membahas pengembangan teknologi rapid prototyping untuk pembuatan produk-produk multi material. Pada kenyataannya, tuntutan produk multi material mutlak diperlukan, misalnya untuk struktur perkakas potong, dies dan mold, maupun komponen-komponen untuk dudukan elemen gerak. PENGEMBANGAN PROSES-PROSES RAPID PROTOTYPING Secara komersial beberapa jenis mesin rapid prototyping telah dipasarkan, diantaranya adalah mesin Selective laser Sintering (SLS), Stereolithography, Laminated Object Manufacturing (LOM) dan three Dimensional Printing (3D Printing). Cara kerja untuk tiap proses adalah sebagai berikut: ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 6

a. Selective Laser Sintering Proses selective laser sintering dapat digunakan untuk membuat part dengan berbagai material, diantaranya: polymer, pasir, logam, keramik, polystyrene dan lilin. Sesuai dengan namanya, pada proses ini laser digunakan sebagai pembangkit energi pensinter serbuk produk yang biasanya berupa laser CO2. Mekanisme ikatan antar partikel dibentuk oleh pemanasan oleh sinar laser dengan gerakan dikontrol sesuai dengan geometri image 2D hasil proses slicing dari obyek 3D yang akan dibuat. Lapisan yang telah memadat akibat proses sintering secara lokal selanjutnya diturunkan dan ditutup dengan material serbuk produk oleh mekanisme roll dan dilanjutkan dengan proses sintering kembali. Proses tersebut berulang hingga membentuk produk 3D yang dimaksud (Harrison, nd). Mekanisme proses selective laser sintering dapat dinyatakan dalam gambar 1 berikut: c. Laminated object manufacturing Laminated object manufacturing dikembangkan oleh Michael Feygin pada tahun 1985. Proses ini menggunakan lembaran material seperti kertas, plastik atau komposit yang ditumpuk. Laser kemudian melakukan proses pemotongan untuk membentuk geometri obyek lapis ke lapis. Prosedur proses seperti diperlihatkan pada gambar 3 berikut: Gambar 3. Proses Laminated Object Manufacturing (LOM) Gambar 1. Proses selective laser sintering b. Stereolithography Stereolithography diciptakan oleh Charles Hull pada tahun 1984, namun peralatannya baru dibuat sejak tahun 1987 dan mulai dikomersialkan. Stereolithography menggunakan sinar ultraviolet untuk memadatkan permukaan tertentu (sesuai dengan data image 3D) suatu material photopolymer. Proses pemadatan tersebut berlangsung layer demi layer hingga membentuk produk 3D. d. Three dimensional Printing Three dimensional printing merupakan salah satu proses layer manufacturing yang dikembangkan oleh MIT dan dikomersialisasi oleh zcorp. Untuk membangun part, mesin mendeposisikan serbuk untuk membentuk layer dan suatu cartridge bergerak sesuai data image 2D hasil proses slicing untuk menaburkan lem. Kondisi tersebut berlangsung berulang sehingga membentuk obyek 3D. Beberapa material yang biasa digunakan secara komersial adalah: starch, plaster dan pasir. Mekanisme proses three dimensional printing dinyatakan dalam gambar 4 berikut: Gambar 2. Proses stereolithography Gambar 4. Three dimensional printing ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 7

Konsep Proses Multi Material Deposition Indirect Sintering Penelitian ini ditujukan untuk menentukan prosedur proses rapid prototyping dalam pembuatan produk multi material beserta dengan rancang bangun mesin yang dibutuhkan. Beberapa uji komponen mesin dilakukan dan pada akhirnya uji produksi dilaksanakan untuk mengetahui batasan-batasan prosesnya. Untuk perelaisasiannya, metode yang paling memungkinkan adalah dengan proses metalurgi serbuk, dimana dengan proses ini pemosisian serbuk produk harus dapat divariasikan dalam formasi blok maupun dalam arah vertikal. Dengan proses deposisi serbuk, gradien komposisi material dapat dibuat, hal ini akan sangat bermaanfaat dalam pembentukan karakteristik material produk. Untuk membuat produk, rancangan geometri dibuat dengan menggunakan perangkat lunak desain drawing. Data images 3D yang dibuat selanjutnya digunakan sebagai data untuk operasi slicing (pengirisan) sehingga dihasilkan beberapa data image 2D. Dengan menggunakan perangkat lunak generating tool path, data image 2D hasil proses slicing tersebut diubah menjadi bentuk lintasan proses deposisi spesifik untuk tiap jenis material. Penguatan posisi serbuk produk dilakukan dengan pendeposisian supporting powder, selain itu proses ini berguna untuk meningkatkan kemampuan proses terutama untuk pembuatan produk-produk bergeometri komplek. Setelah proses deposisi lengkap (proses deposisi dilaksanakan untuk tiap data image 2D), proses sintering dilakukan dengan memanasi serbuk terdeposisi dengan setting temperatur dan waktu proses yang disesuaikan dengan jenis material produk. Secara skematis prosedur proses multi material deposition Indirect sintering diperlihatkan pada gambar berikut: pengujian mampu alir serbuk diperoleh hubungan seperti pada gambar 6 berikut: Gambar 6. a).konstruksi screw feeder hopper nozzle, b). Screw feeder Gambar 5. Prosedur proses multi material deposition Inidirect sintering HASIL DAN PEMBAHASAN Proses deposisi serbuk produk Proses deposisi serbuk produk menggunakan konstruksi screw feeder hopper nozzle. Dengan konstruksi ini kapasitas aliran serbuk dapat diatur dengan mengatur putaran screw feeder. Dari hasil Gambar 7. Hubungan mampu alir serbuk dengan putaran screw feeder untuk a). serbuk silika, b).serbuk aluminium (ukuran partikel 297μm, diameter nosel 1mm, diameter screw feeder 0.6mm) Dengan menggunakan plotter 2 axis, karateristik fisik deposisi serbuk dapat ditentukan sehingga sifat mekanik maupun sifat fisik produk dapat diatur. ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 8

Gambar 8. Variasi feeding speed: a) 0.5 mm/s, b) 2mm/s, c) 4mm/s, c) 6 mm/s, d) 8 mm/s (diameter nosel 0.8 mm, diameter screw feeder 0.5 mm, ukuran partikel 75μm, deposition gap 1mm) Proses deposisi supporting powder Deposisi supporting powder menggunakan mekanisme slot feeder-counter rolling cylinder. Prosedur deposisi dinyatakan dalam urutan kerja sebagai berikut: slot feeder mundur pada posisi start point powder gate dibuka sehingga supporting powder mengalir pada bidang deposisi counter rolling turun dan berputar mekanisme slot feeder-counter rolling cylinder maju untuk memasukkan supporting powder ke dalam build part. Mekanisme kembali ke posisi referensi untuk proses deposisi hopper powder roll Gambar 9. Bentuk-bentuk deposisi dengan pemvariasian feeding speed: a)0.5mm/s, b) 1mm/s, c) 2mm/s (diameter nosel 0.8 mm, diameter screw feeder 0.5mm, ukuran butir 75μm, deposition gap 1mm) Densitas serbuk terdeposisi dapat diatur dengan pengontrolan scanning gap, putaran screw feeder dan feeding speed. Contoh pengaturan densitas serbuk dinyatakan seperti gambar 10 dan 11. roll Powder flow celenoid gate Powder which is flown by hopper Build part surface Gambar 12. Konstruksi slot feeder-counter rolling cylinder Gambar 13. Deposisi serbuk produk diantara supporting powder Gambar 10. Penggunaan nilai scanning gap yang kecil menghasilkan deposisi serbuk yang lebih padat dibandingkan dengan penggunaan scanning gap yang lebih besar Proses indirect sintering Setelah proses deposisi serbuk diselesaikan, proses pemadatan dilakukan dengan pemanasan, proses ini dikenal dengan proses sintering. Temperatur sintering ditentukan bergantung pada jenis material produk, yaitu dibawah temperatur leleh material tersebut. Dengan memvariasikan temperatur dan waktu penahanan, sifat mekanik dan sifat fisik produk dapat diatur. Gambar 11. Densitas serbuk terdeposisi dapat diatur dengan memvariasikan feeding speed: a) 0.5 mm/s, b) 1mm/s, c) 1.5 mm/s (diameter nosel 0.8 mm, diameter screw feeder 0.5 mm, ukuran partikel 75μm, deposition gap of 1mm) ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 9

Gambar 16. Produk terasembling (konstruksi pompa impeler) Gambar 14. Hasil-hasil optimasi proses indirect sintering (Komposisi Al-PE adalah 1:1, holding time 3 jam, temperatur sintering 160 0 C) Gambar 17. Contoh produk multi material dibuat dengan mesin MMDIs Contoh Produk Beberapa contoh produk dibuat dengan proses MMD-Is pada temperatur sintering 135 0 C dan waktu penahanan 2.5 jam. Produk single material terbuat dari bahan campuran silika-pe, sedangkan produk multi material terbuat dari bahan campuran silika-pe dan besi cor-pe dengan ukuran butir 150μm, sedangkan supporting powder menggunakan serbuk silika ukuran 297μm. KESIMPULAN Dengan menggunakan konstruksi hopper nozzle, produk-produk multi material dengan karakteristik khusus bisa dibuat. Peningkatan akurasi dimensi produk dapat dimulai dengan proses analisis kemampu aliran serbuk dalam ukuran yang lebih halus. Dalam riset ini, serbuk produk yang digunakan masih dalam ukuran 150 μm. Gambar 15. Pembuatan produk housing impeller, bahan silika-pe DAFTAR PUSTAKA 1. Beaman,J.,1997, "Historical Perspective, Chapter 3 in JTEC/WTEC Panel Report on Rapid Prototyping in Europe and Japan", WETC Hyper- Librarian. 2. Badrinarayan, B. and Barlow, J.W., 1994, "Manufacture in injection molds using SLS", in Proc 6 th Solid Freeform Fabrication Symposium, Austin. 3. Feygin; Michael., 1988, U.S. Patent, 4752352 4. Harrison, P, nd, Rapid Prototyping user guide, De Montfort University 5. Hull; Charles W., 1986, U.S. Patent, 4575330 6. Sachs, E., Wylonis, E., Allen, S., Coma, M., and Guo, H., 1995, "Production of Injection molding ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 10

tooling with confromal cooling channel using the three dimensional printing process, Polymer Engineering and Science," 7. Tseng, A.A., 2000, " Apparatus and methods for freeform fabrication of three dimensional object", US Patent No. 6030199, February 29. ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 11