BAB II RAPID PROTOTYPING
|
|
|
- Erlin Lie
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II RAPID PROTOTYPING.1 Klasifikasi Rapid Prototyping Rapid Prototyping (RP) atau Layered Manufacturing (LM) merupakan proses fabrikasi suatu produk dengan layer by layer. Prosesnya melibatkan penambahan raw material berturut-turut pada layer, sampai terbentuk produk yang sesuai. Ada empat klasifikasi utama pada RP atau LM, yaitu [1]: Photopolymer-based, penambahan material secara photopolimerisasi, seperti: Streolytography (SLA), Solid Ground Curing (SGC). Deposition-based, secara fisik material diendapkan, seperti: Extruded Deposition-based (ED), Inkjet Deposition-based (ID), Shape Deposition Manufacturing (SDM). Powder-based, metode pengikatan serbuk, seperti: Selective Laser Sintering (SLS), Selective Inkjet Binding (SIB). Lamination-based, metode lapisan, seperti: Laminated Object Manufacturing (LOM). Pada photopolymer-based, proses pembuatan produk menggunakan sinar untuk solidifikasi resin secara selekif. Material resin dalam bentuk cair akan berikatan dan membeku setelah terkena sinar laser (gambar II.1a). Proses pembuatan produk tipe powder-based melalui pengikatan (sintering) serbuk halus (gambar II.1b). Sinar laser-co memancar ke permukaan layer yang dipilih hingga serbuk berikatan membentuk lapisan satu demi satu sampai permukaan layer bagian atas. Penambahan material dengan pengisian dari filamen thermoplastik yang terlebih dahulu dipanaskan merupakan gambaran tipe prototyping deposition-based (gambar II.1d, 1e). Prosesnya merupakan representasi printer 3D yang mengendapkan filamen ke layer secara kontinyu hingga permukaan atas layer. Sedangkan pada laminated-based (gambar II.1c), material filamen berbentuk lembaran yang jika terkena sinar laser-co akan terendapkan dan mengisi bagian lapisan produk secara bertahap. 46
2 a. Streolytography (SLA) b. Selective Laser Sintering (SLS) c. Laminated Object Manufacturing (LOM) d. Inkjet Deposition-based (ID) e. Extruded Deposition-based (ED) f. Shape Deposition Manufacturing (SDM) Gambar II.1 : Macam-macam proses RP [14] 47
3 Beberapa mesin RP yang ada menunjukkan bahwa ketebalan layer minimum bervariasi tergantung keakuratan mesin. Tabel II.1 menunjukkan karakteristik dari beberapa proses rapid prototyping. Tabel II.1 : Karakteristik proses rapid prototyping [14] Proses Lithography (SLA) Laser Fusion (SLS) Laminated Object Manufacturing (LOM) Extrusion (FDM) Inj-Jet Printing Shape Deposition Manufacturing (SDM) Direct Metal Deposition Ukuran Pembuatan Sampai dengan 500x500x580 mm Akurasi Material Objek Heterogen ±0.05 mm + Photo-polymers Secara theori mm/mm mampu, tetapi hanya pada topik 380x330x460 mm ±0.1 mm Plastic (PC,nylon, Polyamide) and Steel Sampai dengan 810x560x500 mm Sampai dengan 600x500x600 mm Z Corporation 00x50x00 mm Extrude Hone 305x305x50 mm ±0.5 mm Paper, plastic sheet, beberapa jenis keramik ±0.13 mm mm/mm ABS, Elastomer, Wax ±0.5 mm Starch, Plaster, berbagai infiltrants ±0.13 mm Stainless Steels dengan Brone Material dan Berbagai polymer, ukuran tak-bebas keramik, dan riset Dalam pengembangan Tidak Tidak Dalam pengembangan Tidak logam 900x450x450 mm 500 mikron Semua logam Ya Ya. Proses Rapid Prototyping Proses rapid prototyping diawali dengan validasi model CAD tiga dimensi suatu produk, langkah ini dilakukan untuk memastikan bentuknya solid. Model yang sudah valid kemudian diorientasikan terhadap ruang pembuatan (parts orientation), dengan mempertimbangkan waktu pembuatan dan kualitas permukaan. Beberapa model dapat digabung menjadi satu bangunan asembly untuk efisiensi penggunaan mesin dan material. Berdasarkan pada persyaratan prosesnya, dukungan struktur dapat ditambahkan ke model jika diperlukan. Setelah validasi, kemudian model dipotong dengan bidang horisontal. Tiap bidang horisontal menghasilkan bidang potong sebagai penentu laser trajectory untuk mengontrol proses sintering atau solidifikasi. 48
4 Langkah utama untuk proses planning termasuk orientasi, generate struktur pendukung jika diperlukan, slicing dan pemilihan parameter proses. Produk dalam format STL Setup Model Validation & Repair Orientation Packing & Assembly Support structure generation Control Code Generation Slicing Hatchng Laser Control Trajectories Physical Fabrication Physical Produk Gambar II. : Diagram proses rapid prototyping [6]. Perencanaan proses dilakukan untuk memilih parameter proses dan pembuatan instruksi kontrol untuk fabrikasi produk. Umumnya desainer menyelesaikan perencanaan proses dengan mempelajari produk dan persyaratan kualitas, yang tentunya sangat memakan waktu. Oleh karena itu, rapid prototyping membutuhkan otomasi proses. Ini dapat dicapai dengan manghubungkan pemahaman desainer dan membuat keputusan dengan proses fisik untuk membuat produk dengan kualitas yang diinginkan. Otomasi perencanaan proses juga salah satu tujuan dasar RP [3]. Otomasi ini bertujuan untuk membuat bentuk tiga dimensi yang kompleks, untuk menggunakan mesin fabrikasi generic yang tidak membutuhkan fixture khusus atau tooling, untuk membuat perencanaan proses secara otomatis didasarkan pada model CAD, dan untuk meminimalkan kesalahan manusia. 49
5 Laser bekerja sesuai lintasan dari tiap layer. Disetiap layer sinar laser akan melakukan proses pengikatan (sintering) serbuk-serbuk halus yang sudah diratakan oleh roller. Serbuk yang tidak terkena sinar akan tetap dan tidak berikatan. Proses sintering ini dilakukan untuk setiap layer. Meja kerja bergerak turun setelah satu kontur tiap layer telah dilalui dan disinari laser. Proses akan berulang untuk kontur layer selanjutnya. Gambar II.3 : Proses Selective Laser Sintering (SLS)[16] RP memfasilitasi pemenuhan dari dua tujuan utama diatas. Bagaimanapun, hal ini membutuhkan jumlah yang signifikan dari intervensi manusia untuk memproduki produk yang optimal. Optimasi tergantung pada persyaratan fungsional, termasuk akurasi, waktu pembuatan, kekuatan, dan efisiensi. Persyaratan kualitas, bagaimanapun bervariasi dari arahan visual ke master pola untuk proses kedua. Karenanya, perlu kontrol kualitas dari seorang ahli untuk memproduksi produk dengan kualitas yang konsisten. 50
6 Gambar II.4 : Contoh produk prototyping[16].3 Parameter Proses Rapid Prototyping Membuat kode pengontrolan otomatis untuk persyaratan yang diinginkan adalah suatu aspek yang dimunculkan pada RP. Diane et al. [4] mengklasifikasikan parameter proses RP, yaitu: Parameter gangguan (nuisance), seperti: umur laser, keakuratan posisi beam, kelembaban dan temperatur yang tidak terkontrol pada analisa eksperimental tetapi memberikan beberapa pengaruh terhadap produk. Parameter konstan, seperti: diameter laser beam, fokus laser, dan sifatsifat material, dan Parameter control, parameter ini mempengaruhi keluaran proses dan pengaturan ketika dijalankan seperti: layer thickness, hatch space, orientasi produk, penyusutan material dan kompensasi lebar batang laser. Diane et al. [4] menyatakan bahwa layer thickness, hatch space, orientasi produk dan kedalaman penanganan adalah bagian yang vital pada parameter kontrol. Mereka melakukan eksperimental dengan hatch space, orientasi produk, 51
7 layer thickness serta kedalaman penanganan yang berlebih dan menetapkan pengaruhnya pada kualitas produk streolithography (SLA) adalah cukup signifikan. Zhou dan Hersovici [5] menjelaskan masalah keakuratan pada proses SLA, dan menemukan bahwa ketebalan layer, hatch space, gap, penanganan berlebih, dan posisi pada bidang pembuatan dari proses SLA adalah fokus pengontrolan keakuratan. Mereka menggunakan metode taguchi untuk mencari hubungan fungsional antara kombinasi yang berbeda dari faktor kontrol dan kualitas produk untuk bentuk permukaan yang standar. Bagaimanapun, ekstrapolasi hasil ini untuk permukaan produk rapid prototyping yang komplek adalah sangat sulit. Waktu pembuatan, keakuratan permukaan dan persyaratan efisiensi dari proses rapid protoyping sangat besar ditentukan oleh orientasi, layer thickness dan parameter hatch space. Orientasi produk RP mempengaruhi keakuratan dan waktu pembuatan. Orientasi produk dalam arah yang optimal akan memberikan sudut yang relatif kecil antara facet dan arah pembuatan, yang menghasilkan keakuratan permukaan yang tinggi. Waktu pembuatan produk adalah sebanding dengan ketinggian- dalam arah pembuatan. Orientasi produk dengan tinggi- minimum akan menghasilkan slice yang sedikit, dan karenanya, mengurangi waktu pembuatan. Ketebalan layer mempengaruhi keakuratan dan waktu pembuatan. Keakuratan permukaan akan diperbaiki ketika produk dibuat dengan dengan ketebalan sangat kecil, tetapi waktu pembuatan akan naik secara kebalikannya. Dengan kata lain, produk akan dibuat lebih cepat dengan ketebalan yang besar yang menghasilkan penurunan keakuratan, terutama sekali pada daerah kurvatur yang tinggi. Hatch space merupakan jarak antara vector pararel yang digunakan untuk solidifikasi permukaan layer. Hatch space yang besar mengurangi waktu pembuatan. Bagaimanapun, jika Hatch space terlalu besar, material produk dalam layer tidak dapat disinter. Oleh karenanya, penting untuk menetapkan hatch space supaya waktu pembuatan menjadi minimum dan layer penyinteran berjalan dengan baik. 5
8 Choi S.H. [6] menjelaskan bahwa pengaruh parameter control pada persyaratan adalah berubah-ubah dari satu proses ke proses lainnya. Sebagai langkah awal, digunakan untuk memulai dengan model matematik yang relatif simpel, yang hanya menyertakan parameter proses independent, dan sesudah itu ditingkatkan dengan karakteristik proses individual. Ada perbedaan pendekatan untuk menghitung persyaratan dengan memperhatikan terhadap parameter control seperti keakuratan permukaan. Keakuratan permukaan dapat dijelaskan sebagai deviasi geometri dari model CAD sebelumnya terhadap produk yang menyebabkan kerugian keakuratan. Kerugian keakuratan ini pertama tergantung pada proses awal karena pertukaran data pada sistim CAD. Kerugian kedua pada tahap proses perencanaan dimana pada bagain produk berkontur akan terbentuk effek tangga bertingkat (stair-step) yang tampak jelas akibat layer thickness yang besar. Dan kerugian ketiga pada saat proses, kerugian pada saat proses terutama pada mekanisme penggerakan (deliver) laser dan sudut dorongan (induced angle) dengan permukaan produk dan kerugian akibat proses solidifikasi. Gambar II.5 : Simulasi Virtual proses rapid prototyping [15]. 53
9 .4 Reviuw Slicing dan Pembuatan Lintasan Setiap teknologi rapid prototyping memiliki spesifikasi sendiri-sendiri [13]. Ada yang berbentuk formasi dinding terluar, metode pengisian, dan pemisahan produk dari material pelingkup yang menentukan pola lintasan mesin. Formasi dinding terluar merupakan pola yang saat ini banyak dipakai pada mesin prototyping, formasi ini menghasilkan produk yang cepat dari segi proses pembuatannya dan sedikit membutuhkan material. Prototype yang dihasilkan sangat lemah dari segi kekuatan sehingga tidak cocok untuk diberi pembebanan. Formasi dengan metode pengisian seluruhnya akan menghasilkan produk yang sesungguhnya, formasi ini prosesnya akan semakin lama bila dibandingkan dengan formasi dinding terluar. Bila tujuannya untuk membuat protoype yang kuat seperti produk yang diinginkan formasi ini sangat diperlukan. Pola lintasan mesin rapid prototyping dapat digerakkan secara robotik pada bidang-xy untuk Mesin FDM, pola laser untuk solidifikasi dan sintering material pada Mesin SLA dan SLS, atau pola pisau laser untuk Mesin LOM. Proses-proses ini membutuhkan strategi pembuatan lintasan mesin (machine path) yang berbeda. Beberapa pendekatan pembuatan proses slicing dan NC-path sudah diusulkan dan diimplementasikan ke karakteristik khusus dan kebutuhankebutuhan berbagai proses RP. Pendekatan-pendekatan proses slicing dikategorikan kedalam empat kelompok [9], yaitu: a. Uniform slicing b. Adaptive slicing Gambar II.6 : Metode slicing pada RP [7]. 54
10 a. Metode slicing model file STL dengan ketebalan layer seragam (uniform). b. Metode slicing model file STL dengan ketebalan layer adaptive. c. Metode slicing model CAD dengan ketebalan layer adaptive. d. Metode slicing dengan perhitungan kontur yang tepat. Metode slicing ketebalan layer seragam, semua layer memiliki ketebalan yang sama, sedangkan metode slicing ketebalan layer adaptive, ketebalan layer akan bervariasi menurut kompleksitas geometri. Ada empat konfigurasi yang mungkin ketika melakukan slicing terhadap model telah dikembangkan oleh Kulkarni dan Dutta [11] untuk prosedur slicing yang lebih akurat pada daerah convex dan concave curvature. Pendekatan bertujuan menentukan ketebalan layer yang dihitung berdasarkan kurva geometri, sehingga pendekatan ini kurang cocok dilakukan untuk bentuk STL karena perhitungan didasarkan pada radius kurvatur. Proses pembuatan lintasan pahat (tool path) dapat mempengaruhi kualitas permukaan, kekuatan, kekakuan, dan waktu pembuatan produk dalam proses rapid prototyping. Perencanaan lintasan termasuk perencaan lintasan bagian dalam dan lintasan bagian luar [11]. Lintasan bagian dalam merupakan proses pengisian material pada bagian dalam layer. Sedangkan untuk bagian luar hanya dilakukan oleh mesin LOM, karena lintasan luar dilakukan untuk memotong lembaran raw material. Kock B [7] menjelaskan mengenai analisa geometri proses RP dengan formasi dinding terluar menggunakan offset object model STL secara tidak seragam. Metodenya menghasilkan boundary layer yang smooth menggunakan biarch fitting. Untuk membuat kontur yang lebih efisien dan kompleks, Choi dan Kwok [1] mengembangkan algoritma secara hirarki pada kontur dengan slicing yang toleran. Hasilnya dapat digunakan untuk model komplek dan besar. Sedangkan Asiabanpur [13] mengembangkan proses pembuatan lintasan mesin untuk proses rapid prototyping baru berbasis serbuk, Selective Inhibition Sintering (SIS). Hasilnya berupa algoritma slicing dan hatching hanya untuk proses tersebut. Karena proses SIS berbeda dengan RP berbasis laser, algoritma yang dikembangkan belum bisa digunakan untuk laser trajectory. 55
11 .5 Model Facet 3D Sistim Rapid Prototyping menerima input sebuah objek produk 3D berupa sebuah file dengan format STL, sehingga model CAD perlu disimpan dalam bentuk file STL. Hasil dari proses exporting adalah sebuah pendekatan diskritisasi dari objek tersebut. Pendekatan diskritisasi akan merepresentasikan secara tepat sebuah model produk ke dalam kumpulan segitiga-segitiga. Proses exporting ini merupakan fitur standar yang dimiliki oleh sistem CAD. File STL merupakan kependekan dari stereolithography. File yang berekstensi STL terdiri dari dua jenis format. Format yang pertama adalah binary. Pada format binary, model surface yang tersusun atas segitiga-segitiga disimpan dalam bentuk biner yang tidak terbaca dalam text editor. Format lainnya adalah ASCII (American Standard Code for Information Interchange). Format ini adalah yang paling umum digunakan karena lebih mudah dibaca dan dimengerti, serta dapat dibuka di text editor. Format ASCII dapat dilihat pada gambar berikut. STL ASCII Format solid<solidname> List of Facets endsolid<solidname> Format untuk tiap Facet facet normal N i N j N k outer loop vertex V 1X V 1Y V 1Z vertex V X V Y V Z vertex V 3X V 3Y V 3Z endloop endfacet Gambar II.7 : STL ASCII Format 56
12 File STL ini menyimpan informasi objek produk dalam bentuk model facet 3D. Model facet sendiri adalah suatu model atau bentuk permukaan luar bidang yang tersusun dari satu atau lebih segitiga. Asal mula segitiga-segitiga ini adalah titik-titik (vertex) yang menyusun model, dan dihubungkan dengan garisgaris yang akan menjadi sisi (edge) segitiga, sehingga terbentuklah segitigasegitiga yang saling berhubungan dan membentuk sebuah permukaan bidang yang lebih dikenal sebagai model facet. Ada dua fungsi utama dari pembentukan segitiga ini. Yang pertama adalah sebagai penghubung antar vertex untuk membuat sebuah permukaan, dalam hal ini yang menjadi permukaan adalah bidang segitiga (face). Fungsi yang kedua adalah untuk menentukan vektor normal bidang pada wilayah tertentu. Vektor normal tersebut merupakan vektor normal segitiga, yang didapat melalui cross product antara vektor pembentuk sisi segitiga. Arah dari vektor normal bergantung pada arah putaran vektor dari ketiga vertex yang digunakan. Arah vektor normal terhadap putaran vektor pembentuk segitiga dapat ditentukan mengikuti kaidah tangan kanan. Jika putaran searah dengan jarum jam (clockwise), maka vektor normal akan menuju bidang. Sebaliknya, jika putaran berlawanan arah jarum jam (counter clockwise), maka vektor normal keluar dari bidang. Gambar II.8 : Contoh isi file STL 57
13 File yang berformat.stl merepresentasikan sebuah model facet dengan menyimpan informasi sesuai dengan standar tertentu. Informasi yang disimpan dalam file tersebut adalah segitiga-segitiga yang memiliki beberapa properti, berupa posisi ketiga buah vertex dalam bidang 3D, dan vektor normal dari segitiga yang bersangkutan. Pada gambar II.8, dapat dilihat bahwa file berformat.stl menyimpan objek produk 3D dalam bentuk segitiga yang tersusun tiga buah vertex yang berada pada lokasi tertentu dalam sistem koordinat 3D. Berikut adalah penjelasan mengenai isi dari file stl di atas : 1. Kata solid menandakan dimulainya penggambaran atau penyimpanan model facet hingga ditutup dengan kata endsolid.. Kata facet normal menandakan bahwa akan dibangun sebuah permukaan yang berbentuk segitiga dengan nilai vektor normal berada pada kata setelah kata facet normal, hingga bertemu dengan kata endfacet yang berarti sebuah permukaan segitiga telah terbentuk, beserta informasi urutan dan letak vertex, serta vektor normal dari segitiga tersebut. 3. Kata outerloop menandakan dimulainya loop dari koordinat vertex-vertex yang membangun segitiga hingga bertemu dengan kata endloop. 4. Kata vertex merupakan vertex penyusun sebuah segitiga yang sebelumnya telah didefinisikan dengan outerloop. Informasi yang berada setelah kata vertex adalah posisi vertex pada sistem koordinat 3D. Dalam sistem RP yang sedang dikembangkan, informasi yang diberikan oleh file STL disimpan dalam dua buah vektor,yaitu vektor segitiga dan vektor vertex. Setiap objek segitiga menyimpan informasi berupa nilai vektor normal segitiga tersebut, dan index-index vertex penyusunnya. Dan setiap objek vertex menyimpan posisi vertex tersebut, serta vektor normal vertex tersebut (jika ada). Penggunaan buah vektor yang menyimpan objek segitiga dan vertex, dilakukan untuk menghindari redundansi, mengingat sebuah vertex dapat dimiliki lebih dari 58
14 satu segitiga. Dengan digunakannya dua buah vektor yang berbeda untuk menyimpan objek segitiga dan vertex, maka beberapa segitiga bisa memiliki vertex yang sama. Berikut adalah tabel yang menggambarkan struktur data dalam penyimpanan objek vertex dan segitiga, Tabel II. : Tabel struktur index segitiga Tabel II.3 : Tabel struktur index vertex.6 Metode Penentuan CC-Point Gandjar K. [8] menjelaskan mengenai algoritma cepat dalam penentuan cc-point. Hal yang pertama yang harus dilakukan pada pembuatan laser trajectory adalah mendapat nilai cc-point. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa untuk mendapatkan cc-point dilakukan dengan mengiriskan bidang = c dengan model facet dari prismatic atau berkontur produk. Irisan ini akan menghasilkan titik-titik perpotongan antara bidang- dengan model. Karena modelnya berbasis facet segitiga, maka perpotongan terjadi antara bidang- dengan sisi-sisi segitiga. 59
15 Bidang-bidang yang digunakan untuk mencari perpotongan ini tentunya bukan satu bidang saja melainkan bidang-bidang = c i untuk i = 1,,,k, dimana nilai c i berkisar dari koordinat paling rendah sampai koordinat paling tinggi, atau min c i max. Untuk mendapatkan nilai-nilai c i cukup diberikan berapa interval nilai antara c i dan c i+1 yang diinginkan. Jadi, masukan (input) pada proses menentukan cc-point ini adalah interval antar bidang potong. Ada dua algoritma yang bisa digunakan untuk mendapatkan cc-point. 1. Metode brute searching, metode ini dilakukan dengan mengecek setiap segitiga yang ada apakah berpotongan dengan bidang- atau tidak. Jika berpotongan, indeks segitiga tersebut disimpan dalam sebuah struktur data Vektor. Pengecekan ini dilakukan untuk setiap bidang- yang akan diiriskan dengan model facet.. Metode adjacent serching, metode ini diawali dengan mencari secara acak sebuah segitiga yang berpotongan dengan bidang- (sebut saja segitiga u), begitu didapatkan satu segitiga tersebut, maka algoritma berjalan sebagai berikut: 1. ambil satu sisi segitiga, missal sisi s yang berpotongan dengan bidang-, kemudian tentukan titik perpotongannya. Simpan titik ini pada sebuah struktur data vector.. cari segitiga yang memiliki sisi s sebagai salah satu dari tiga sisi-sisinya selain segitiga yang sudah disebutkan pada no.1 di atas. 3. lakukan kembali langkah no.1 di atas. Algoritma akan berhenti jika menemui salah satu dari kondisi-kondisi berikut: 1. Segitiga terakhir yang ditemukan memiliki indeks yang sama dengan segitiga yang pertama kali ditemukan secara acak, yaitu segitiga u. Kondisi ini dapat terjadi manakala titik-titik perpotongan membentuk kurva tertutup. 60
16 . Sisi s hanya dimiliki oleh satu segitiga saja, artinya tidak ada segitiga lain yang bertetangga dengan segitiga tersebut. Ini dapat terjadi pada titik-titik perpotongan yang membentuk kurva terbuka dan sisi s adalah sisi tepi dari model facet. 3. Tidak ada lagi yang berpotongan dengan bidang-. Sama halnya dengan metode brute searching, metode ini dilakukan untuk setiap kali pengirisan bidang- dengan model facet. Perhatikan gambar berikut sebagaimana ilustrasinya. Pencarian berjalan ke kanan Pencarian berjalan ke kiri Gambar II.9 : Arah pencarian perpotongan antara bidang potong dengan model facet [8] Ada satu kelebihan utama metode adjacent searching dibandingkan metode brute searching dalam hal keterurutan. Jika menggunakan brute, setelah pencarian titik-titik potong selesai dilakukan, sulit untuk melakukan tracking (perjalanan) dari titik satu ke titik lainnya. Sebab, pencarian segitiga dimulai dari indeks terkecil hingga indeks terakhir dimana belum bias dipastikan terurut. Namun, berbeda jika metode adjacent searching yang digunakan. Sejak awal pencarian hingga akhir, metode ini justru mempertahankan keurutan ini. Manfaat dalam implementasi riil proses rapid prototyping, laser trajectory akan bekerja jauh lebih efisien jika titik-titik yang akan dipotong berada dalam posisi terurut berdasarkan kedekatanya. Oleh karena itu, dalam tesis ini akan digunakan metode adjacent searching dalam menentukan cc-point. 61
17 6.7 Metode Untuk Menentukan Perpotongan Sisi Segitiga Dengan Bidang-Z Gandjar K. [8] menjelaskan mengenai algoritma untuk menentukan perpotongan sisi segitiga dengan bidang. Algoritma ini ini maksudnya menetukan formulasi untuk mencari titik potong bidang = c dengan sisi dari sebuah segitiga. Sisi segitiga dibentuk oleh dua buah titik p 1 (x 1,y 1, 1 ) dan p (x,y, ). Langkah pertama adalah mengecek apakah c berada di dalam rentang 1 dan. Jika iya, maka berarti sisi segitiga tersebut berpotongan dengan bidang = c. Langkah selanjutnya adalah mencari titik dimana perpotongan terjadi. Secara matematis, persamaan garis dalam ruang R3 dirumuskan sebagai berikut. Gambar II.10 Garis pada ruang R3[8] Berdasarkan gambar di atas, persamaan garis-l yang dibentuk oleh titik adalah [8], + = y x t c b a y x (II.1) Karena + = c b a p p 1, maka = y x y x c b a (II.) Dengan demikian persamaan (II.1) dapat disubstitusi menjadi
18 63 + = y x t y x y x y x (II.3) Karena = c, maka nilai t dapat dihitung, yaitu 1 t = Maka dari persamaan (II.3) dapat diperoleh titik (x,y,) sebagai titik perpotongan antara sisi segitiga yang dibentuk oleh titik p 1 (x 1,y 1, 1 ) dan p (x,y, ) dengan bidang = c. Metode ini hanya menunjukkan bahwa jika bidang potong terletak di sisisisi segitiga, sehingga ada kemungkinan jika bidang potong bertemu di titik vertex segitiga, dipastikan algoritma tidak akan berjalan. Sehingga metode ini perlu ditambahkan untuk kondisi kemungkinan jatuhnya titik potong pada titik vertex.
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pengembangan produk oleh perusahaan manufaktur merupakan sebuah keharusan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Beberapa perusahaan manufaktur melakukan pengembangan produk,
PENGEMBANGAN LASER TRAJECTORY PROSES RAPID PROTOTYPING UNTUK PRODUK BERKONTUR DAN PRISMATIK
PENGEMBANGAN LASER TRAJECTORY PROSES RAPID PROTOTYPING UNTUK PRODUK BERKONTUR DAN PRISMATIK TESIS Oleh AHMAD KHOLIL 06 06 00 2843 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN PROGRAM PASCASARJANA BIDANG ILMU TEKNIK UNIVERSITAS
Pengembangan laser..., Ahmad Kholil, FT UI, 2008
i. Membuat lintasan untuk setiap layer. Lintasan dibuat dengan terlebih dahulu menentukan titik x sesuai dengan hatch space yang telah ditentukan sebelumnya. j. Mengurutkan titik potong berdasarkan arah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam perkembangan dunia industri, adanya model produk menjadi sangat penting dalam menentukan apakah produk yang akan diproduksi sudah memenuhi kriteria atau belum.
Gambar 2.1 Sumbu-sumbu pada mesin NC [9]
2 PMSI MULTI IS D SISTM CM 2.1 Pemesinan C Multi xis Proses pemesinan dengan teknologi NC (numerical control) telah dikenal luas pemakaiannya pada saat ini. lectronics Industries ssociation (I) mendefinisikan
BAB III ALGORITMA PEMBUATAN LASER TRAJECTORY
BAB III ALGORITMA PEMBUATAN LASER TRAJECTORY 3. Algoritma Generate Laser Trajector Algoritma perencanaan untuk membuat laser trajector model prismatik dan berkontur ini dilakukan dengan tahapan algoritma
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan produk berkelanjutan merupakan suatu hal yang menjadi sangat penting dalam perkembangan dunia industri. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan target pasar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rapid prototyping adalah metode pembuatan objek tiga dimensi dari data digital secara cepat (Heynick dan Stotz, 2006). Rapid prototyping juga dikenal sebagai additive
PENGARUH ORIENTASI OBJEK PADA PROSES 3D PRINTING BAHAN POLYMER PLA DAN ABS TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KETELITIAN DIMENSI PRODUK
PENGARUH ORIENTASI OBJEK PADA PROSES 3D PRINTING BAHAN POLYMER PLA DAN ABS TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KETELITIAN DIMENSI PRODUK Sobron Lubis, Sofyan Djamil, Yolanda Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik
BAB 3 PE GEMBA GA METODE DA ALGORITMA PEMESI A MULTI AXIS
BAB 3 PE GEMBA GA METODE DA ALGORITMA PEMESI A MULTI AXIS File STL hanya memuat informasi mengenai arah vektor normal dan koordinat vertex pada setiap segitiga / faset. Untuk mengolah data ini menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rapid Prototyping adalah salah satu langkah penting untuk finalisasi sebuah desain produk. Prototyping mempermudah dalam pembentukan konsep suatu desain. Sebuah
PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL Susilo Adi Widyanto 1) Abstrak Tingginya persaingan antar produk-produk industri menuntut dikembangkannya sistem produksi
Gambar 4.1 Macam-macam Komponen dengan Bentuk Kompleks
BAB 4 HASIL DA A ALISA Banyak komponen mesin yang memiliki bentuk yang cukup kompleks. Setiap komponen tersebut bisa jadi memiliki CBV, permukaan yang berkontur dan fitur-fitur lainnya. Untuk bagian implementasi
PENGARUH ORIENTAS OBYEK HASIL FUSED DEPOSITION MODELING PADA WAKTU PROSES
Jurnal Teknik Mesin, Vol. 16, No. 2, Oktober 2016, 41-46 ISSN 1410-9867 DOI: 10.9744/jtm.16.2.41-46 PENGARUH ORIENTAS OBYEK HASIL FUSED DEPOSITION MODELING PADA WAKTU PROSES Wesley Budiman 1), Juliana
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL Susilo Adi Widyanto 1) Abstrak Tingginya persaingan antar produk-produk industri menuntut dikembangkannya sistem produksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rapid prototyping saat ini sudah banyak digunakan oleh perusahaan dalam upaya penyempurnaan kualitas produk yang akan dihasilkan. Hal ini dikarenakan dengan penggunaan
UNIVERSITAS INDONESIA SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Dede Sumantri
UNIVERSITAS INDONESIA PENINGKATAN KINERJA MESIN RAPID PROTOTYPING BERBASIS FUSED DEPOSITION MODELLING SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Dede Sumantri 0706266954
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rapid prototyping merupakan proses pembuatan model fisik tiga dimensi dari model tiga dimensi digital menggunakan mesin otomatis secara cepat (Heynick dan Stotz, 2006).
Gambar 1 : Arah pencarian perpotongan antara bidang potong dengan model faset
Pengembangan algoritma cepat penentuan titik-kontak pahat (cutter contact point) pada sistem-cam berbasis model faset 3D untuk pemesinan awal (roughing) dan akhir (finishing) Gandjar Kiswanto, A Mujahid
Pengaruh orientasi pahat terhadap lebar permukaan kontak pemesinan pada pemesinan milling multi-axis permukaan berkontur
Pengaruh orientasi pahat terhadap lebar permukaan kontak pemesinan pada pemesinan milling multi-axis permukaan berkontur Gandjar Kiswanto Laboratorium Teknologi Manufaktur Departemen Teknik Mesin Universitas
Interaksi Manusia dan Komputer
Pertemuan 07 Interaksi Manusia dan Komputer Bg.5 Prototype Oleh : ANISYA, S.Kom., M. Kom Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informatika ITP 2013 SUB TOPIK Rapid Prototyping Dimensi Prototyping (Representasi,
indentifikasi kemungkinan interferensi antara pahat dan benda-kerja (Gouging) pada
Simulasi Pergerakan segitiga Bucket untuk indentifikasi kemungkinan interferensi antara pahat dan benda-kerja (Gouging) pada sistem-cam berbasis model-faset 3D Dr. Ir. Gandjar Kiswanto, M.Eng 1 Topik 1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dunia industri dewasa ini, kecepatan inovasi produk baik dari segi teknologi maupun estetika dan fungsionalitasnya memegang peranan penting untuk memenangkan persaingan
Pengaturan Orientasi Posisi Objek pada Proses Rapid Prototyping Menggunakan 3D Printer Terhadap Waktu Proses dan Kwalitas Produk
Jurnal Teknik Mesin, Vol. 15, No. 1, April 2014, 27-34 ISSN 1410-9867 DOI: 10.9744/jtm.15.1.27-34 Pengaturan Orientasi Posisi Objek pada Proses Rapid Prototyping Menggunakan 3D Printer Terhadap Waktu Proses
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: Pemindaian Geometrik Model 3D Menggunakan 3 Input
Pemindaian Geometrik Model 3D Menggunakan 3 Input Mark Budiman Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti E-mail: [email protected] Abstrak 3D Laser Scanner merupakan alat
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses Pemesinan Milling dengan Menggunakan Mesin Milling 3-axis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan proses serta teknik pemotongan logam (metal cutting) terus mendorong industri manufaktur semakin maju. Ini terlihat
MATERI PEMBELAJARAN. Prototyping Rapid Prototyping Dimensi Prototyping Terminologi Prototyping Prototyping Tools
PROTOTYPE Pert 5 MATERI PEMBELAJARAN Prototyping Rapid Prototyping Dimensi Prototyping Terminologi Prototyping Prototyping Tools PROTOTYPE? proses membangun model dari suatu sistem. bentuk awal (contoh)
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RAPID PROTOTYPING UNTUK PEMBUATAN PRODUK-PRODUK MULTI MATERIAL Susilo Adi Widyanto Program Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang Jl. Prof Sudarto, SH., Semarang [email protected]
Pengembangan Sistem-CAM (Computer-Aided Manufacturing) berbasis Model Faset 3D untuk Pemesinan Multi-Axis dengan Simulasi Pergerakan Pahat
Pengembangan Sistem-CAM (Computer-Aided Manufacturing) berbasis Model Faset 3D untuk Pemesinan Multi-Axis dengan Simulasi Pergerakan Pahat Dr. Ir. G. Kiswanto, M.Eng Dr. Ir. E. A. Gani, M.Eng A. Mujahid
UNIVERSITAS INDONESIA PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK MESIN RAPID PROTOTYPING DENGAN METODE FDM (FUSED DEPOSITIONING MODELLING) SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK MESIN RAPID PROTOTYPING DENGAN METODE FDM (FUSED DEPOSITIONING MODELLING) SKRIPSI Andry Sulaiman 0606072925 FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DEPOK
NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR
NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR PENGARUH ARAH CETAKAN MELINTANG DAN MEMBUJUR SERTA TEBAL LAYER 0,2 MM DAN 0,3 MM TERHADAP PENYIMPANGAN PRODUK PRINTER 3 DIMENSI DARI BAHAN ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene)
3.1. Gambar 3.1 Bucketing [5 ] 22 Pengembangan metode..., Agung Premono, FT UI, 2009
ANALISIS INTERFERENSI INTERFERENSI PAHAT MODEL FASET 3D BAB III PAHAT FILLETED-ENDMILL DENGAN Pada bagian teori dasar telah dijelaskan kemungkinan interferensi yang terjadi pada model faset 3 D, yaitu
Bab 1. Pendahuluan. menggunakan bantuan aplikasi CAD (Computer-Aided Design) untuk. menggunakan komputer ini disebut sebagai mesin Computer based
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan teknologi, komputer digunakan untuk berbagai keperluan, baik sebagai sarana untuk membantu pekerjaan maupun sarana hiburan. Penggunaannya
BAB III ALGORITMA PENAMBAHAN FEATURE DAN METODA PENCAHAYAAN
BAB III ALGORITMA PENAMBAHAN FEATURE DAN METODA PENCAHAYAAN Pada pemodelan produk berbasis feature, produk didefinisikan sebagai benda kerja yang memiliki satu atau lebih feature yang terasosiasi pada
Pengaruh Parameter Proses 3D Printing Terhadap Elastisitas Produk Yang Dihasilkan
Pengaruh Parameter Proses 3D Printing Terhadap Elastisitas Produk Yang Dihasilkan Hasdiansah 1, Herianto 2, 1,2, Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
BAB 2 PENGGAMBARAN 3 DIMENSI (3D)
BAB 2 PENGGAMBARAN 3 DIMENSI (3D) 2.1 Pengaturan Dasar 3D Sebelum melakukan penggambaran 3D dengan AutoCAD, Anda perlu melakukan beberapa pengaturan yang berkaitan dengan proses penggambaran. Pengaturan-pengaturan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan zaman, untuk mengoptimalkan nilai efisiensi terhadap suatu produk maka dimulailah suatu pengembangan terhadap material, dan para ahli mulai
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Dasar Rotating Disk
BAB II DASAR TEORI.1 Konsep Dasar Rotating Disk Rotating disk adalah istilah lain dari piringan bertingkat yang mempunyai kemampuan untuk berputar. Namun dalam aplikasinya, penggunaan elemen ini dapat
BAB 3 RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PERCOBAAN
BAB 3 RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PERCOBAAN 3.1 Instalasi Alat Percobaan Alat yang digunakan untuk melakukan percobaan adalah mesin CNC 5 axis buatan Deckel Maho, Jerman dengan seri DMU 50 evolution. Dalam
BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat
BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI 3.1 Permasalahan CBIR ( Content Based Image Retrieval) akhir-akhir ini merupakan salah satu bidang riset yang sedang berkembang pesat (Carneiro, 2005, p1). CBIR ini menawarkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Simulasi Distribusi Suhu Kolektor Surya 1. Domain 3 Dimensi Kolektor Surya Bentuk geometri 3 dimensi kolektor surya diperoleh dari proses pembentukan ruang kolektor menggunakan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN ii HALAMAN PERNYATAAN iii HALAMAN PERSEMBAHAN v KATA PENGANTAR vi UCAPAN TERIMA KASIH vii DAFTAR ISI ix DAFTAR GAMBAR xi DAFTAR TABEL xiv DAFTAR LAMPIRAN xvi
Simulasi Komputer untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan pada Proses Pembubutan Silindris
Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin, SNTTM-VI, 2007 Jurusan Teknik Mesin, Universitas Syiah Kuala Simulasi Komputer untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan pada Proses Pembubutan Silindris Muhammad
Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan master cetakan sudu pompa air sentrifugal dapat dilihat pada gambar 3.1. f Mulai ")
BAB III METOOOLOGI PENELITIAN Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan master cetakan sudu pompa air sentrifugal dapat dilihat pada gambar 3.1. f Mulai ") Identifikasi Masalah Dan Tujuan Penelitian Perumusan
Fourier Descriptor Based Image Alignment (FDBIA) (1)
Fourier Descriptor Based Image Alignment (FDBIA) (1) Metode contour tracing digunakan untuk mengidentifikasikan boundary yang kemudian dideskripsikan secara berurutan pada FD. Pada aplikasi AOI variasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Industri manufaktur sudah semakin maju seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan penemuan proses dan teknik pemotongan logam (metal cutting). Ini terlihat
BAB IV METODE PENELITIAN
17 BAB IV METODE PENELITIAN A. Studi Literatur Penelitian ini mengambil sumber dari jurnal jurnal dan segala referensi yang mendukung guna kebutuhan penelitian. Sumber yang diambil adalah sumber yang berkaitan
Disusun Oleh : BAIYIN SHOLIKHI DIPLOMA III TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA JUNI 2012
Disusun Oleh : BAIYIN SHOLIKHI 2108 030 044 DIPLOMA III TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA JUNI 2012 Latar Belakang Kebutuhan penggunaan suatu mesin perkakas
Sistem Menggambar Dengan CAD SUMBER: TRAINING CAD-CAM MIDC MODELING & MANUFACTURING
Sistem Menggambar Dengan CAD SUMBER: TRAINING CAD-CAM MIDC 2004 -MODELING & MANUFACTURING Sistem Satuan Pengaturan Gambar Pada program aplikasi CAD biasanya menggunakan sistem satuan standar tertentu,
BAB IV PROSES SIMULASI
BAB IV PROSES SIMULASI 4.1. Pendahuluan Di dalam bab ini akan dibahas mengenai proses simulasi. Dimulai dengan langkah secara umum untuk tiap tahap, data geometri turbin serta kondisi operasi. Data yang
Simulasi Komputer Untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan Pada Proses Cylindrical Turning Berdasarkan Parameter Undeformed Chip Thickness
Simulasi Komputer Untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan Pada Proses Cylindrical Turning Berdasarkan Parameter Undeformed Chip Thickness Oegik Soegihardjo Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan
PENGARUH PARAMETER PROSES EKTRUSI 3D PRINTER TERHADAP SIFAT MEKANIS CETAK KOMPONEN BERBAHAN FILAMENT PLA (Poly Lactide Acid)
PENGARUH PARAMETER PROSES EKTRUSI 3D PRINTER TERHADAP SIFAT MEKANIS CETAK KOMPONEN BERBAHAN FILAMENT PLA (Poly Lactide Acid) Agris Setiawan 1) 1) Program Studi DIII Aeronautika, STTKD Yogyakarta 1) [email protected]
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Pemesinan Untuk membuat suatu alat atau produk dengan bahan dasar logam haruslah di lakukan dengan memotong bahan dasarnya. Proses pemotongan ini dapat dilakukan dengan
PROTOTYPE. Lecture 13 FaridWajdi 2014
PROTOTYPE Lecture 13 FaridWajdi 2014 Definition A model of the real product. Prototype development begins with the release of completed parts, subassemblies,and assemblies to configuration management,
diantaranya mempelajari tentang struktur dan bentuk tulang khususnya anatomi tulang manusia. Salah satu metode pembelajarannya yaitu mengamati dan
BAB III METODOLOGIPERANCANGAN 3.1 Materi Perancangan Osteologi merupakan ilmu anatomi dalam bidang kedokteran yang diantaranya mempelajari tentang struktur dan bentuk tulang khususnya anatomi tulang manusia.
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER * Mushafa Amala 1, Susilo Adi Widyanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro 2 Dosen Jurusan
Bab 3 Algoritma Feature Pengurangan
Bab 3 Algoritma Feature Pengurangan Sebelum membahas pemodelan produk berbasis yang disusun berdasarkan algoritma pengurang terlebih dahulu akan dijelaskan hal-hal yang mendasari pembuatan algoritma tersebut,
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
17 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Studi Literatur Penelitian ini mengambil sumber dari jurnal-jurnal pendukung kebutuhan penelitian. Jurnal yang digunakan berkaitan dengan pengaruh gerusan lokal terhdadap
DTM FTUI. Dr. Ir. Gandjar Kiswanto, M.Eng. Laboratorium Teknologi Manufaktur Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Pengembangan metode penentu jarak antar lintasan pahat (step-over) yang akurat pada pembuatan lintasan pahat proses pemesinan milling berbasis model faset 3D Dr. Ir. Gandjar Kiswanto, M.Eng Gandjar Kiswanto
UNIVERSITAS DIPONEGORO
UNIVERSITAS DIPONEGORO PENGEMBANGAN MEKANISME DEPOSISI SERBUK PENYANGGA DAN PEMBUATAN CONTOH PRODUK DENGAN PROSES MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MD-IS) TUGAS AKHIR TOHIRIN L2E 607 054 FAKULTAS
FORMAT GAMBAR PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR ATA 2014/2015 LABORATURIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT UNIVERSITAS GUNADARMA
FORMAT GAMBAR PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR ATA 2014/2015 LABORATURIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT UNIVERSITAS GUNADARMA A. Perlengkapan Gambar 1. Drawing Pen ukuran 0,3 dan 0,5 mm 2. Maal 3 mm 3. Penggaris /
BAB 4 HASIL DAN ANALISA
BAB 4 HASIL DAN ANALISA 4. Analisa Hasil Pengukuran Profil Permukaan Penelitian dilakukan terhadap (sepuluh) sampel uji berdiameter mm, panjang mm dan daerah yang dibubut sepanjang 5 mm. Parameter pemesinan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Objek tiga dimensi merupakan salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Objek tiga dimensi dibentuk oleh sekumpulan
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION Bab ini akan menjelaskan tentang penanganan jaringan untuk komunikasi antara dua sumber yang berpasangan.
tiap-tiap garis potong, dan mempermudah proses pengeditan. Pembuatan layer dapat
BAB IV PEMBAHASAN Setelah melalui beberapa percobaan untuk mendapatkan metode yang efektif dalam merancang replika tulang patella dengan ketelitian bentuk yang mendekati tulang patella aslinya maka diantara
PELAPISAN PRODUK HASIL PRINTER 3 DIMENSI DENGAN DENGAN MENGGUNAKAN CAT DAN PELAPIS RESIN
Pelapisan Produk Hasil Printer 3 Dimensi... (Febriantoko dan Riyanto) PELAPISAN PRODUK HASIL PRINTER 3 DIMENSI DENGAN DENGAN MENGGUNAKAN CAT DAN PELAPIS RESIN Bambang Waluyo Febriantoko *, Rachman Rio
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Studi Literatur Penelitian ini mengambil sumber dari jurnal-jurnal pendukung kebutuhan penelitian. Jurnal yang digunakan berkaitan dengan pengaruh gerusan lokal terhadap perbedaan
BAB VI Mesin Shaping I
BAB VI Mesin Shaping I Tujuan Pembelajaran Umum : 1. Mahasiswa mengetahui tentang fungsi fungsi mesin shaping. 2.Mahasiswa mengetahui tentang alat alat potong di mesin shaping. 3. Mahasiswa mengetahui
BAB VI PENUTUP. 6.1 Kesimpulan
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa Mesin CNC router dengan 3 axis dapat dipakai untuk membuat sebuah benda berbentuk 3 dimensi. Hanya saja diperlukan proses
PEMROGRAMAN CNC. Program adalah sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dipakai untuk mengendalikan mesin.
PEMROGRAMAN CNC DEFINISI; Program adalah sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dipakai untuk mengendalikan mesin. Permograman adalah pemberian sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dimengerti oleh
SIMULASI UNTUK MEMPREDIKSI PENGARUH PARAMETER CHIP THICKNESS TERHADAP DAYA PEMOTONGAN PADA PROSES CYLINDRICAL TURNING
Simulasi untuk Memprediksi Pengaruh... Muhammad Yusuf, M. Sayuti SIMULASI UNTUK MEMPREDIKSI PENGARUH PARAMETER CHIP THICKNESS TERHADAP DAYA PEMOTONGAN PADA PROSES CYLINDRICAL TURNING Muhammad Yusuf 1)
4 PENDEKATAN RANCANGAN. Rancangan Fungsional
25 4 PENDEKATAN RANCANGAN Rancangan Fungsional Analisis pendugaan torsi dan desain penjatah pupuk tipe edge-cell (prototipe-3) diawali dengan merancang komponen-komponen utamanya, antara lain: 1) hopper,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Suhu Udara Hasil pengukuran suhu udara di dalam rumah tanaman pada beberapa titik dapat dilihat pada Gambar 6. Grafik suhu udara di dalam rumah tanaman menyerupai bentuk parabola
Pengaruh Perubahan Kecepatan dan Daya terhadap Lebar Celah Laser pada Mesin Laser Cutting Kapasitas 60 Watt dengan Material Akrilik
Pengaruh Perubahan Kecepatan dan Daya terhadap Lebar Celah Laser pada Mesin Laser Cutting Kapasitas 60 Watt dengan Material Akrilik Fathurahman 1, Gesang Nugroho 2, Heriyanto 3 1) Program Studi Teknik
PENGEMBANGAN PROSES MULTI MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MMD-Is) UNTUK SERBUK Cu
C.8. Pengembangan Proses Multi Material Deposition Indirect Sintering (MMD-Is). (Muhamad Nurhilal) PENGEMBANGAN PROSES MULTI MATERIAL DEPOSITION INDIRECT SINTERING (MMD-Is) UNTUK SERBUK Cu Mohammad Nurhilal
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1 Metode Perancangan Perancangan sistem didasarkan pada teknologi computer vision yang menjadi salah satu faktor penunjang dalam perkembangan dunia pengetahuan dan teknologi,
BAB II MESIN BUBUT. Gambar 2.1 Mesin bubut
BAB II MESIN BUBUT A. Prinsip Kerja Mesin Bubut Mesin bubut merupakan salah satu mesin konvensional yang umum dijumpai di industri pemesinan. Mesin bubut (gambar 2.1) mempunyai gerak utama benda kerja
Pembuatan Model Solid Tangan Palsu (Prosthetic Hand) Manusia Metode 3D Scanner dengan menggunakan Perangkat Lunak Autodesk 3D Max Design dan NetFabb
Pembuatan Model Solid Tangan Palsu (Prosthetic Hand) Manusia Metode 3D Scanner dengan menggunakan Perangkat Lunak Autodesk 3D Max Design dan NetFabb Zulkifli Amin 1,a * dan Topan Prima Jona 2,b 1,2 Jurusan
RANCANG BANGUN PRINTER 3D MENGGUNAKAN KONTROLLER ARDUINO MEGA Kampus UMK Gondangmanis PO.BOX 53.Kudus. *
RANCANG BANGUN PRINTER 3D MENGGUNAKAN KONTROLLER ARDUINO MEGA 2560 Moh. Dahlan 1 *, Budi Gunawan 1, F. Shoufika Hilyana 1 1 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus Kampus UMK Gondangmanis
Mesin Perkakas Konvensional
Proses manufaktur khusus digunakan untuk memotong benda kerja yang keras yang tidak mudah dipotong dengan metode tradisional atau konvensional. Dengan demikian, bahwa dalam melakukan memotong bahan ada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi yang sangat pesat mendorong terciptanya suatu produk baru dengan kualitas yang baik. Dalam dunia industri manufaktur, terdapat banyak kendala
3.1 Memodifikasi Objek
BAB 3 Modifier 3.1 Memodifikasi Objek Seperti telah disinggung sebelumnya, Max menyediakan banyak modifier untuk memodifikasi objek. Kita akan berlatih menggunakan beberapa modifier tersebut. Gambar 3.1
MODUL CNC MILLING DENGAN SWANSOFT CNC SIMULATOR
MODUL CNC MILLING DENGAN SWANSOFT CNC SIMULATOR OLEH Sarwanto,S.Pd.T 085643165633 1 P a g e MESIN CNC MILLING Mesin Frais CNC (Computer Numerical Control) adalah sebuah perangkat mesin perkakas jenis frais/milling
NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR
NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR PENGUJIAN KUAT TARIK TERHADAP PRODUK HASIL 3D PRINTING DENGAN VARIASI KETEBALAN LAYER 0,2 mm dan 0,3 mm YANG MENGGUNAKANAN BAHAN ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) Disusun
Analisis Model dan Simulasi. Hanna Lestari, M.Eng
Analisis Model dan Simulasi Hanna Lestari, M.Eng Simulasi dan Pemodelan Klasifikasi Model preskriptif deskriptif diskret kontinu probabilistik deterministik statik dinamik loop terbuka - tertutup Simulasi
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Prosesor : Intel Core i5-6198du (4 CPUs), ~2.
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Penelitian 3.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Hardware a. Prosesor : Intel Core i5-6198du CPU @2.30GHz (4 CPUs), ~2.40GHz b.
Model Data Spasial. by: Ahmad Syauqi Ahsan
Model Data Spasial by: Ahmad Syauqi Ahsan Peta Tematik Data dalam SIG disimpan dalam bentuk peta Tematik Peta Tematik: peta yang menampilkan informasi sesuai dengan tema. Satu peta berisi informasi dengan
PROSES FREIS ( (MILLING) Paryanto, M.Pd.
PROSES FREIS ( (MILLING) Paryanto, M.Pd. Jur.. PT. Mesin FT UNY Proses pemesinan freis (milling) adalah penyayatan benda kerja menggunakan alat dengan mata potong jamak yang berputar. proses potong Mesin
BAB I PENDAHULUAN. pembuatan prototype yang biasanya memakan waktu yang lama. dapat dibuat dalam waktu yang lebih singkat. Namun di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Printer 3D di indonesia mulai digemari di dalam dunia industri indonesia, karena dengan meggunakan printer 3D pembuatan prototype yang biasanya memakan waktu yang
Pengembangan metode simulasi pergerakan pahat menggunakan VTK pada sistem- CAM berbasis model faset 3D
Pengembangan metode simulasi pergerakan pahat menggunakan VTK pada sistem- CAM berbasis model faset 3D Gandjar Kiswanto, A. Mujahid Laboratorium Teknologi Manufaktur Departemen Teknik Mesin, Universitas
BAB 3 Metodologi Penelitian
BAB 3 Metodologi Penelitian Penelitian yang baik didukung metodologi yang baik selain latar belakang dan penjelasan mengenai pentingnya masalah yang diteliti. Penelitian dilakukan secara benar dan cermat
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Gambar 3.1 Baja AISI 4340
26 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Bahan 3.1.1 Benda Kerja Benda kerja yang digunakan untuk penelitian ini adalah baja AISI 4340 yang telah dilakukan proses pengerasan (hardening process). Pengerasan dilakukan
Pemodelan Distribusi Suhu pada Tanur Carbolite STF 15/180/301 dengan Metode Elemen Hingga
Pemodelan Distribusi Suhu pada Tanur Carbolite STF 15/180/301 dengan Metode Elemen Hingga Wafha Fardiah 1), Joko Sampurno 1), Irfana Diah Faryuni 1), Apriansyah 1) 1) Program Studi Fisika Fakultas Matematika
Bab II Teori Dasar Gambar 2.1 Jenis konstruksi dasar mesin freis yang biasa terdapat di industri manufaktur.
Bab II Teori Dasar Proses freis adalah proses penghasilan geram yang menggunakan pahat bermata potong jamak (multipoint cutter) yang berotasi. Pada proses freis terdapat kombinasi gerak potong (cutting
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Turbin blade [Gandjar et. al, 2008]
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses produksi pembuatan suatu produk manufaktur yang ada didunia hampir seluruhnya memerlukan proses pemesinan. Contoh produk yang memerlukan proses pemesinan adalah
PENGARUH POSISI ORIENTASI OBJEK PADA PROSES RAPID PROTOTYPING 3D PRINTING TERHADAP KEKUATAN TARIK MATERIAL POLYMER
SINERGI Vol.20, No.3, Oktober 2016: 229-238 DOAJ: http://doaj.org/toc/2460-1217 DOI: http://doi.org/10.22441/sinergi.2016.3.009 PENGARUH POSISI ORIENTASI OBJEK PADA PROSES RAPID PROTOTYPING 3D PRINTING
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2010 menginformasikan bahwa kasus patah tulang meningkat setiap tahun sejak 2007. Pada 2007 tercatat ada 22,815
PENGARUH TEKNIK PENYAYATAN PAHAT MILLING PADA CNC MILLING 3 AXIS TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA BERKONTUR
81 JTM Vol. 05, No. 2, Juni 2016 PENGARUH TEKNIK PENYAYATAN PAHAT MILLING PADA CNC MILLING 3 AXIS TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA BERKONTUR Irawan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
