PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR

dokumen-dokumen yang mirip
LINGKUNGAN BISNIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM SEBAGAI USAHA SAMPINGAN

TEKNIK BUDIDAYA JAMUR TIRAM

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT dengan kekuasaan dan kehendak-nya telah menumbuhkan. berbagai macam tumbuh-tumbuhan di muka bumi ini yang di dalamnya

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan yang

Kuliah ke 6 : BUDIDAYA JAMUR

PENDAHULUAN. USAHAI b IKK JAMUR TIRAM

BUDI DAYA JAMUR TIRAM PUTIH

KARYA ILMIAH E-BISNIS BISNIS JAMUR TIRAM

III. BAHAN DAN METODE. Jamur yang terletak di Jalan Garuda Sakti KM. 2 Jalan Perumahan UNRI. Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Menanan Jamur Merang di Dalam Kumbung

BAB I PENDAHULUAN. bebas, dikatakan tumbuhan sederhana karena tidak berklorofil dan tidak

TEKNIK BUDIDAYA JAMUR TIRAM

V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri

STRATEGI PEMASARAN JAMUR TIRAM OLEH : LUTFI WIBAWA, M. Pd

BAB I PENDAHULUAN. adalah jamur konsumsi (edible mushroom). Jamur konsumsi saat ini menjadi salah

Peluang Bisnis Budidaya Jamur Tiram

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan RAL (rancangan acak lengkap) satu faktor

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni

PROSPEK CERAH BISNIS JAMUR MERANG

TUGAS TERSTRUKTUR SEMINAR (BUDIDAYA JAMUR) Oleh : AGUSMAN ( )

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. daerah satu dengan yang lainnya. Menurut konsep geografi yang pernah diuraikan

TINJAUAN PUSTAKA. Tim Redaksi Trubus Jamur Konsumsi. Majalah Trubus 271. Hal. 7-9.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Jamur 2.2 Jamur Tiram Putih

KARYA ILMIAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Jamur tiram putih banyak dijumpai di alam, terutama dimusim hujan

BAB I PENDAHULUAN. satu sektor penting dalam mendukung perekonomian, sehingga bidang pertanian

I. PENDAHULUAN. menempati posisi penting dalam memberikan kontribusi bagi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Kubung ketua kelompok wanita tani Sido Makmur

BAB III METODE PENELITIAN. perlakuan. Pemberian perlakuan komposisi media tanam jamur tiram putih (P.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015.

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merang merupakan salah satu jenis jamur pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan permintaan pasar

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Jamur ini bersifat heterotrof dan saprofit, yaitu jamur tiram

III. BAHAN DAN METODE. UIN Suska Riau yang terletak di Jl. HR. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru,

BAB 2 PRODUK 2.1 Spesifikasi Produk Tabel 2.1 Kandungan Gizi JamurTiram No Komposisi Dalam %

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMANFAATAN AIR KELAPA SEBAGAI MEDIA TANAM BIAKAN MURNI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya jamur merang (Volvariella volvacea), jamur kayu seperti jamur

BAB I PENDAHULUAN. penting karena tanpa manajemen perusahaan tidak akan terkelola dengan baik dan benar.

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi dan Waktu penelitian 1. Alat dan Bahan a. Bahan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. gizi dalam jamur hampir mengimbangi nutrisi pada daging sapi dan daging ayam.

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Cahyana (1999),kandungan gizi jamur tiram putih yaitu protein

OLEH : ISNAWAN BP3K NGLEGOK


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA JAMUR. : Sutia Afrinanda : Kelompok : VI

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BUDIDAYA JAMUR KAYU JENIS JAMUR YANG ADA DI PASARAN 13/12/2013 PENDAHULUAN

I. METODE PENELITIAN. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. H.R. Soebrantas KM 15

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Jamur Tiram Putih

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMUR TIRAM (Pleorotus ostreatus) AKIBAT KONSENTRASI PEMBERIAN MOLASE (GULA MERAH)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Limbah merupakan hasil sisa produksi dari pabrik maupun rumah tangga yang sudah tidak dimanfaatkan.

TUGAS AKHIR SB091358

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG USAHA JAMUR TIRAM

PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) PADA MEDIA CAMPURAN SERBUK GERGAJI KAYU SENGON, AMPAS TEBU DAN ARANG SEKAM

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah

Usaha Kuliner Lingkungan Bisnis Keripik Jamur Tiram

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR.... I. Pemilihan Lokasi Hal I 1 Revisi... Tanggal...

BAB I PENDAHULUAN. jamur kuping, jamur tiram, jamur merang, jamur shiitake dan sebagainya.

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Komoditas Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Periode (Milyar Rp) No Komoditas

I. PENDAHULUAN. fotosintesis. Oleh karena itu, didalam pertumbuhannya jamur memerlukan zat-zat

MEMBUAT BISNIS KECIL DAN SEHAT

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Budidaya Jamur Tiram. serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastik yang disebut dengan baglog.

BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jamur tiram dan jamur merang termasuk dalam golongan jamur yang dapat dikonsumsi dan dapat hidup di

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA

JAMUR KAYU SUMBER PANGAN SEHAT DARI HUTAN. Sihati Suprapti dan Djarwanto

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ,

PENGEMBANGAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH DIKALANGAN MAHASISWA BUDDHIS STIAB SMARATUNGGA BOYOLALI

BAB III METODE PENELITIAN. perlakuan terhadap objek dan adanya kontrol sebagai pembanding. Penelitian

I. TINJAUAN PUSTAKA. dari sel-sel lepas dan sel-sel bergandengan berupa benang (hifa). Kumpulan dari

I. PENDAHULUAN. komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta

Pemberdayaan Kelompok Tani Usaha Budidaya Jamur Tiram Kelurahan Kambo Kecamatan Mungkajang Kota Palopo. Sapar 1 Muh. Halim Palatte 2 Imran Ukkas 3

BAB I PENDAHULUAN. semua lapisan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada

BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari melalui hortikultura. Hortikultura

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.2. Jamur Tiram

PENGEMBANGAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH SEBAGAI AGRIBISNIS PROSPEKTIF BAGI GAPOKTAN SEROJA I KANDANG LIMUN BENGKULU

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi

PENDAHULUAN. dikonsumsi. Jenis jamur tiram yang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur

I. PENDAHULUAN. Pakchoy (Brassica sinensis L.) merupakan tanaman sayuran berumur pendek (±

KAJIAN KOMPOSISI MEDIA UTAMA DAN PENAMBAHAN PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae). SKRIPSI

PROSPEK BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) STUDI KASUS : KECAMATAN CIAMPEA DAN CIAWI, KABUPATEN BOGOR IVAN WAHYU HIDAYAT E

Volume 11 Nomor 1 Maret 2014


UKDW I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jamur merang (Volvariella volvacea) merupakan salah satu spesies jamur

Transkripsi:

PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR Disampaikan Oleh: Prof. Dr. Ir. Bambang Hendro S., SU.

MATERI PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur A. Keuntungan Budidaya Jamur B. Prospek dan Peluang Budidaya Jamur II. C. Jenis Jamur yang Potensial dibudidayakan Teknologi Budidaya Jamur A. Persiapan, Alat dan Bahan B. Proses & Teknik Budidaya Jamur III. Strategi Pemasaran Jamur 2

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur A. Keuntungan Budidaya Jamur : 1. Budidaya jamur memanfaatkan limbah organik yang banyak melimpah, murah dan mudah didapat di sekitar kita sehingga menjadikan lingkungan bersih, indah dan sehat. 2. Budidaya jamur tidak memerlukan lahan yang luas. (100 m 2 bisa menampung ±7500 baglog, dengan esti masi pendapatan Rp. 200.000 per hari, 3. Produk Jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga. 4. Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing. 3

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur B. Prospek dan Peluang Budidaya Jamur : 1. Permintaan jamur yang standar di pasaran, karena jamur sebagai jenis sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, cita rasa yang lezat, bergizi tinggi dan bisa digunakan sebagai makanan alternatif untuk pengobatan. Mengandung 9 jenis dari 10 asam amino essensial: arginin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin, serta 72% lemaknya tidak jenuh, Mengandung vitamin: B1 (thiamin), B2 (riboflavin), niasin dan biotin. Mengandung elemen makro, antara lain K, P, Ca, Na, & Mg. Mengandung elemen mikro seperti Cu, Zn dan lain-lain, Jamur juga terbukti ampuh untuk menghambat HIV-AIDS, kolesterol, gula darah dan juga kanker ( Widodo, 2007 ). 4

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur B. Prospek dan Peluang Budidaya Jamur : 2. Budidaya jamur menggunaan modal yang relatif kecil dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat, 3. Teknologi tepat guna yang murah & sederhana sehingga lapisan masyarakat pedesaan bisa melakukan budidaya jamur. 4. Budidaya jamur fleksibel sehingga dapat dilakukan siapa saja, dimana saja, kapan saja dan tidak mengenal musim, dapat dijalankan dalam skala rumah tangga /kecil, menengah bahkan dengan teknologi modern. 5. Budidaya jamur mempunyai waktu panen yang singkat 1,5 bulan sudah memetik hasil, tidak membutuhkan biaya pakan, obat-obatan, dan pupuk. 5

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur C. Jenis Jamur yang Potensial dibudidayakan : 1. Jamur Merang (Volvariella volvaceae) Banyak ditemukan ditumpukan jerami tau pada saat musim panen padi. a 6 Jamur merang memiliki cita rasa yang nikmat dan kandungan gizi yang cukup baik untuk kesehatan, sehingga menjadi alternatif bahan pangan.

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur 2. Jamur Tiram ( Pleurotus sp ) Jamur tiram banyak mengandung protein nabati 10-30%, dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai campuran sup, salad, pepes atau diolah menjadi keripik. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mudah dikembangkan, media tumbuh & bahan spora mudah didapat, dan harga jual cukup tinggi. 7

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur 3. Jamur Kuping (Auricularia polytricha) Jamur kuping memiliki bentuk tubuh yang melebar seperti bentuk daun telinga manusia Jenis-jenis jamur kuping yang banyak dibudidayakan adalah : Jamur kuping hitam, Jamur kuping merah, Jamur kuping agar Jamur kuping hitam bermanfaat untuk obat sakit jantung, menurunkan kolesterol, juga sebagai anti-pendarahan. 8

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur 4. Jamur Shitake (Lentinula edodes) Berasal dari negeri China, dikenal dengan sebutan Chinese Black Mushroom. Jamur shiitake biasa diolah menja di sup miso, acar, digoreng seba gai tempura, keripik & campuran chawanmushi. Memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Harga jamur shiitake segar di pasaran bisa mencapai Rp 30.000,00-Rp 70.000,00 / kg. 9

I. Potensi & Prospek Budidaya Jamur 5. Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum) Mengandung protein, polisakarida (ganodelan A, ganodelan B, & beberapa glukans), triterpenoid (asam ganodermi, ganodermadiol) yang strukturnya mirip hormon steroid, germanium, ergosterol, coumarin, mannitol, alkaloid, asam lemak tak jenuh, adenosin, & vitamin (B, C, D) serta mineral (Na, Ca, Zn, Fe &, P). Dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, mampu menjaga dan mengembalikan keseimbangan tubuh, dan aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping 10

II. Teknologi Budidaya Jamur A. Persiapan Alat & bahan Bangunan untuk budidaya Jamur terdiri dari: 1. Ruang persiapan 2. Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan pengayakan, pencampuran, pewadahan, dan sterilisasi. 2. Ruang Inokulasi Ruang Inokulasi adalah ruangan yang be rfungsi untuk menanam bibit pada medi a tanam, ruang ini harus mudah dibersihk an, tidak banyak ventilasi untuk menghin dari kontaminasi (mikroba lain). 11

II. Teknologi Budidaya Jamur 3. Ruang Inkubasi Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah diinokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 28 derajat C dengan kelembaban 60% 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rakrak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastik (baglog) yang sudah diinokulasi. 12

II. Teknologi Budidaya Jamur 4. Ruang Penanaman Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 22 derajat C dengan kelembaban 80 90%. 13

II. Teknologi Budidaya Jamur Alat dan bahan yang diperlukan: Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya: Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik dan centong. Bahan-bahan yang diperlukan dalam budidaya jamur adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO 3 ), gips (CaSO 4 ), tepung jagung (biji-bijan), glukosa. 14

II. Teknologi Budidaya Jamur B. Proses & Teknik Budidaya Jamur 1. Persiapan Bahan Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa. 2. Pengayakan Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir 15

II. Teknik Budidaya Jamur 3. Pencampuran Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup. 16

II. Teknik Budidaya Jamur 4. Pengomposan Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik. 5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog) Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau m enggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan. 17

II. Teknik Budidaya Jamur 6. Sterilisasi Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 100 derajat C s elama 12 jam. 18

II. Teknik Budidaya Jamur 7. Inokulasi (Pemberian Bibit) Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet & ditutup dengan kapas. Bibit Jamur yang baik yaitu: Varitas unggul Umur bibit optimal 45 60 hari Warna bibit merata Tidak terkontaminasi 19

II. Teknologi Budidaya Jamur 8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Inkubasi Jamur dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 60 hari. 20

II. Teknologi Budidaya Jamur 9. Panen Jamur Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya & mempermudah pemasaran. Lebih baik tidak menggunakan kuku tangan, tetapi menggunakan pisau yang telah disterilkan. Tinggalkan / sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen. Media tidak boleh terangkat. 21

III. Strategi Pemasaran Jamur 1. Seimbangkan antara jumlah pedagang dengan ketersediaan produk. Untuk langkah awalnya kita dapat menentukan target pasar dan jumlah pedagang. Hitung dan seimbangkan jumlah pedagang yang bersedia kita suplai dengan ketersediaan produk. Misalnya, kita berhasil menawarkan kepada minimal 5 orang pedagang, masing-masing pedagang menyanggupi untuk mengambil 2kg 5kg, maka kita harus mampu mengatur jumlah panen jamur dalam kumbung yaitu 10kg 25kg jamur per hari. Inilah jumlah wajib yang harus kita sediakan untuk bisa menyuplai produk ke pedagang-peda gang tersebut, sekaligus untuk membangun kredibilitas.

III. Strategi Pemasaran Jamur 2. Buatlah Jadwal Pengisian Baglog dalam Kumbung Berapapun jumlah baglog jamur dalam kumbung yang dikelola, harus dilakukan penjadwalan yang jelas. Misalnya kita memiliki 10.000 baglog dalam kumbung, itu artinya: Pada masa produksi optimal, jamur bisa menghasilkan hingga 100 kg per harinya. Jika kita tidak memiliki pasar sebesar itu, maka jumlah 10.000 baglog itu harus dijadwal dengan baik, misalnya diisi per 2000 log dengan jarak pengisian kumbung 2 minggu, maka panen akan stabil di angka 30 kg per hari. Ini akan lebih memudahkan kita dalam mendistribusikan hasil panen sesuai dengan target pasar yang telah kita tentukan.

III. Strategi Pemasaran Jamur 3. Selalu menjaga kualitas hasil panen Untuk bisa memaksimalkan hasil penjualan, harus mampu menjaga kualitas produk agar tetap bagus dan segar, sehingga konsumen pun akan setia mengkonsumsi produk kita. Untuk itu sebaiknya jamur di panen sekitar 3 4 jam sebelum dipasarkan dan kemudian dikemas menggunakan plastik kedap udara agar jamur bisa bertahan lebih dari 24 jam.

III. Strategi Pemasaran Jamur 4. Berikan label pada kemasan. Dikenalnya jamur oleh masyarakat, otomatis membuat angka permintaan pr oduk semakin meningkat. Dengan begitu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa akan semakin banyak pula persaingan antar pedagang jamur segar. Untuk itulah diperlukan label pada kemasan produk jamur kita sebagai identitas usaha. Hal ini sangat penting untuk membangun brand, kepercayaan dan kredibilitas. Sekaligus mudah untuk men erima kritik serta saran sebagai evaluasi produk selanjutnya.

III. Strategi Pemasaran Jamur 5. Periksa terus terhadap hama penyakit Secara umum apabila jamur telah berproduksi, tidak ada hama berupa jamur liar. Akan tetapi, dikarenakan jamur mengandung protein, maka apabila baglog telah berumur > 60 hari, biasanya terdapat hama ulat. Ulat ini sebenarnya bukan berasal dari baglog atau dari jamurnya, tetapi berasal dari lingkungan. Untuk kasus pada jamur seperti ini, apabila pada jamur telah terdapat ulat, hentikan sementara proses pemanenan, petik seluruh jamur hingga menyisakan jamur yang kecil-kecil saja. Lalu kompres (beri obat) hama ulat. Biarkan kumbung dan jangan diberi proses raising (penyiraman) selama 2 hari. Setelah itu lakukan perawatan seperti biasanya.

III. Strategi Pemasaran Jamur 6. Buat kerja sama dengan petani jamur lain Untuk langkah awalnya kita dapat menentukan target. Segala sesuatu bisa saja terjadi, termasuk pada budidaya jamur ada kalanya cuaca dan kelembaban yang tidak seimbang menyebabkan panen tidak bisa optimal. Dan untuk menyiasati pasokan kepada para pedagang agar tetap stabil, kita bisa melakukan kerjasama dengan petani lain. Jagalah hubungan baik dengan mereka, sehingga pada saat kita kekurangan jumlah jamur untuk di pasok, kita bisa mengambil dari petani lain.

TERIMAKASIH Perhatian dan Kerjasamanya 28