PENGEMBANGAN PENGHALUSAN JARING ELEMEN SEGITIGA REGANGAN KONSTAN SECARA ADAPTIF

dokumen-dokumen yang mirip
IMPLEMENTASI ELEMEN TETRAHEDRON LINEAR DAN KUADRATIK UNTUK ANALISIS TEGANGAN TIGA DIMENSI DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM MATLAB DAN GID

PENGEMBANGAN PROGRAM ANALISIS STRUKTUR BERBASIS INTERNET UNTUK PEMBELAJARAN DAN PENELITIAN METODE ELEMEN HINGGA

BAB 1 PENDAHULUAN. metode REP menggunakan patch sebagai media untuk. perhitungannya.

STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI BALOK BETON UNTUK MENENTUKAN KUAT LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER

Bagian Pertama: Pengantar Metode Numerik BAB I PENDAHULUAN KOMPETENSI LULUSAN KU-1 KU-2 KU-3 KP-1 KP-2 KP-3

STUDI ANALISIS PEMODELAN TULANGAN BAJA VANADIUM DAN TEMPCORE DENGAN SOFTWARE KOMPUTER

I.1 Latar Belakang I-1

PENGEMBANGAN WEBSITE UNTUK PEMBELAJARAN ANALISIS STRUKTUR RANGKA DENGAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG

STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI KUBUS DAN SILINDER UNTUK MENETUKAN KUAT TEKAN BETON DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

PROGRAM ANALISIS GRID PELAT LANTAI MENGGUNAKAN ELEMEN HINGGA DENGAN MATLAB VERSUS SAP2000

ANALISA P Collapse PADA GABLE FRAME DENGAN INERSIA YANG BERBEDA MENGGUNAKAN PLASTISITAS PENGEMBANGAN DARI FINITE ELEMENT METHOD

SIMULASI Kendalan (Reliability Simulation)*

Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga

KAJIAN BERBAGAI METODE INTEGRASI LANGSUNG UNTUK ANALISIS DINAMIS

A. ADHA. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia Corresponding author:

ANALISIS CANTILEVER BEAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOLUSI NUMERIK TUGAS KULIAH

Teknik Simulasi Untuk Memprediksi Keandalan Lendutan Balok Statis Tertentu

Bab V Implementasi Dan Pembahasan Metode Elemen Hingga Pada Struktur Shell

BAB I PENDAHULUAN. dengan ilmu rekayasa struktur dalam bidang teknik sipil. Perkembangan ini

BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA

3- Deformasi Struktur

METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh

III. METODE PENELITIAN

PERANCANCANGAN STRUKTUR BALOK TINGGI DENGAN METODE STRUT AND TIE

ANALISA STRUKTUR METODE MATRIKS (ASMM)

STUDI PERBANDINGAN DISTRIBUSI GAYA GESER PADA STRUKTUR DINDING GESER AKIBAT GAYA GEMPA DENGAN BERBAGAI METODE ANALISIS ABSTRAK

APLIKASI VISUAL UNTUK PROGRAM ELEMEN HINGGA DENGAN ELEMEN SEGITIGA DAN SEGIEMPAT SUBPARAMETRIK DAN ISOPARAMETRIK

GETARAN BEBAS PADA BALOK KANTILEVER. Kusdiman Joko Priyanto. Abstrak. Kata kunci : derajad kebebasan, matrik massa, waktu getar alamai

RELEVANSI METODE RITTER DAN METODE ELEMEN HINGGA DENGAN PROGRAM MATLAB PADA RANGKA BATANG

Perbandingan Model Pertemuan Element Frame dengan Shell

Besarnya defleksi ditunjukan oleh pergeseran jarak y. Besarnya defleksi y pada setiap nilai x sepanjang balok disebut persamaan kurva defleksi balok

Metode Kekakuan Langsung (Direct Stiffness Method)

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi untuk atap, jembatan, menara atau bangunan tinggi lainnya. Bentuk

Dosen Pembimbing: 1. Tavio, ST, MS, Ph.D 2. Bambang Piscesa, ST, MT

LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat dalam beberapa

STUDI ELEMEN DISCRETE-KIRCHHOFF MINDLIN TRIANGLE (DKMT) UNTUK ANALISIS STATIK PELAT LENTUR DAN PENGEMBANGAN UNTUK ANALISIS DINAMIK GETARAN BEBAS

BAB I PENDAHULUAN. balok, dan batang yang mengalami gabungan lenturan dan beban aksial; (b) struktur

PRINSIP DASAR MEKANIKA STRUKTUR

APLIKASI METODE ELEMEN HINGGA PADA RANGKA RUANG (SPACE TRUSS) DENGAN MEMBANDINGKAN CARA PERHITUNGAN MANUAL DENGAN PROGRAM SAP2000

III. METODELOGI. satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods,

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah

Pertemuan 13 ANALISIS P- DELTA

BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 HASIL PERHITUNGAN DENGAN SUDUT KEMIRINGAN KEARAH DEPAN

TUGAS AKHIR ANALISIS PLASTIS PADA PORTAL DENGAN METODE ELEMEN HINGGA. Disusun oleh: FIRDHA AULIA ARIYANI AZHARI. Dosen Pembimbing:

BAB IV METODE PENELITIAN

Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP [9]

ANALISA STRUKTUR PORTAL RUANG TIGA LANTAI DENGAN METODE KEKAKUAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS HERY SANUKRI MUNTE

ANALISIS SIMULASI ELEMEN HINGGA KEKUATAN CRANE HOOK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS SUMBER TERBUKA

MATA KULIAH ANALISIS NUMERIK

BAB-4. METODE PENELITIAN

Bab IV Simulasi dan Pembahasan

KEANDALAN BALOK STATIS TERTENTU DENGAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORKS

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR PERNYATAAN ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI BAB I.

Kuliah ke-2. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:

BAB III METODE KAJIAN

Bab 1. Pendahuluan Metode Numerik Secara Umum

Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP[3]

BAB I PENDAHULUAN. analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur

Bab 6 Defleksi Elastik Balok

(Mia Risti Fausi, Ir. Yerri Susatio, MT, Dr. Ridho Hantoro)

ANALISIS PRINSIP ENERGI PADA METODE ELEMEN HINGGA TINJAUAN PEMODELAN ELEMEN UNIAKSIAL KUADRATIK TERHADAP ELEMEN UNIAKSIAL KUBIK

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 tegangan bidang pada (a) pelat dengan lubang (b) pelat dengan irisan (Daryl L. Logan : 2007) Universitas Sumatera Utara

MODIFIKASI TEKNIK DISCRETE SHEAR GAP PADA ELEMEN BALOK TIMOSHENKO BERBASIS KRIGING

Bab 3. Metodologi. Sebelum membahas lebih lanjut penggunaan single tube dalam aplikasi

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]

Laporan Tugas Akhir Analisis Pondasi Jembatan dengan Permodelan Metoda Elemen Hingga dan Beda Hingga BAB III METODOLOGI

ANALISIS LINIER STRUKTUR CANGKANG PADA SILO SEMEN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Surabaya, 2

Analisis Pertemuan Balok-Kolom Struktur Rangka Beton Bertulang Menggunakan Metode Strut And Tie. Nama: Budi Piyung Riyadi NRP :

RESPON DINAMIS STRUKTUR BANGUNAN BETON BERTULANG BERTINGKAT BANYAK DENGAN VARIASI ORIENTASI SUMBU KOLOM


ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya

PENDAHULUAN METODE NUMERIK

STUDI KEAKURATAN DAN KEKONVERGENAN METODE ELEMEN HINGGA BERBASIS KRIGING DAN KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. pesat yaitu selain awet dan kuat, berat yang lebih ringan Specific Strength yang

Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran

Pertemuan I,II I. Struktur Statis Tertentu dan Struktur Statis Tak Tentu

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Teknika Atw 1

Komparasi Bentuk Daun Kemudi terhadap Gaya Belok dengan Pendekatan CFD

LENDUTAN (Deflection)

Prinsip Dasar Metode Energi

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

BAB 3 PE GEMBA GA METODE DA ALGORITMA PEMESI A MULTI AXIS

VERIFIKASI PENYEBAB RETAK PADA PEMANCANGAN TIANG PIPA MENGGUNAKAN HYDRAULIC JACK

Penggunaan Metode Numerik dan MATLAB dalam Fisika

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

TUGAS MAHASISWA TENTANG

Pendahuluan Metode Numerik Secara Umum

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Dinding ( wall ) adalah suatu struktur padat yang membatasi dan melindungi

ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA

BAB I PENDAHULUAN. alas pada kapal, body pada mobil, atau kendaraan semacamnya, merupakan contoh dari beberapa struktur pelat. Pelat-pelat tersebut

Pendahuluan Metode Numerik Secara Umum

ANALISIS KAPASITAS TEKAN PROFIL-C BAJA CANAI DINGIN MENGGUNAKAN SNI 7971:2013 DAN AISI 2002

Transkripsi:

PENGEMBANGAN PENGHALUSAN JARING ELEMEN SEGITIGA REGANGAN KONSTAN SECARA ADAPTIF Kevin Tjoanda 1, Wong Foek Tjong 2, Pamuda Pudjisuryadi 3 ABSTRAK : Penelitian ini menghasilkan program matlab yang mampu melakukan penghalusan secara adaptif pada diskretisasi awal yang kasar sampai mendapatkan diskretisasi optimal dimana nilai error pada hasil analisanya memenuhi syarat/target yang ditentukan. Elemen yang digunakan adalah elemen segitiga regangan konstan untuk menganalisa masalah tegangan dan regangan bidang. Pengujian program dilakukan dengan menggunakan berbagai benchmark problems yang disediakan oleh literature. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter strain energy error dapat digunakan untuk perhitungan adaptifitas dan pada diskretisasi optimalnya menghasilkan nilai yang sangat mendekat solusi referensinya. Sebagian besar proses sudah dapat dilakukan secara otomatis namun untuk masalah tertentu diperlukan penyesuaian pada kondisi batas dan pembebanannya agar mengikuti diskretisai baru. Masalah otomasi juga muncul pada struktur dengan sisi lengkung. Diskretisasi optimal pada akhir dari proses adaptifitas memang memberikan hasil yang mendekati eksak, namun karena menggunakan metode element subdivision dan alat bantu delaunay triangulation, maka terdapat ketidakefektifan yaitu banyak elemen yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang diperlukan. KATA KUNCI: segitiga regangan konstan, error energi regangan, penghalusan adaptif, element subdivision, meshing, diskretisasi, matlab, delaunay triangulation 1. PENDAHULUAN Perhitungan dengan metode elemen hingga membuka cakrawala bagi dunia konstruksi dimana strukturstruktur yang rumit dan tidak umum yang sebelumnya sangat sulit dianalisis dengan metode perhitungan konvensional, menjadi mungkin dianalisis dengan mudah dan cukup akurat. Struktur dengan kondisi batas dan geometri yang rumit dibagi menjadi elemen-elemen kecil yang lebih sederhana. Namun karena merupakan perhitungan numerik, hasil yang didapat dari metode elemen hingga memiliki error yang terakumulasi sehingga pada diskretisasi awalnya seringkali tidak memberikan hasil yang baik. Dengan melakukan refinement (penghalusan), didapatkan hasil yang lebih akurat. Penghalusan dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Menurut Cook (1995), hasil analisis metode elemen hingga sudah menyimpan informasi tentang keakuratan perhitungan dengan diskretisasi tersebut, sehingga seberapa besar error yang terjadi dapat diketahui dan dijadikan dasar untuk penghalusan berikutnya. Hal ini amat berguna untuk pengujian konvergensi ataupun analisis umum dimana seringkali diperlukan beberapa kali penghalusan dengan menambah jumlah titik nodal, jumlah elemen, ataupun cara lainnya. Dengan adanya program penghalusan adaptif secara otomatis, maka pengguna tidak perlu. Diskretisasi yang dihasilkan pun merupakan diskretisasi yang optimal dimana jaring yang rapat ada region yang membutuhkan banyak elemen, sedangkan pada region yang sudah cukup baik, tidak dilakukan penghalusan lagi (Zienkiewicz, 2000) 1 Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Surabaya, kevin_tjoanda@yahoo.com. 2 Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Surabaya, wftjong@peter.petra.ac.id. 3 Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Surabaya, pamuda@peter.petra.ac.id. 1

Untuk penelitian kali ini, dilakukan studi untuk pemrograman adaptif untuk masalah tegangan bidang dan regangan bidang dengan menggunakan jaring elemen segitiga regangan konstan. Elemen ini merupakan salah satu elemen paling awal yang digunakan untuk analisis metode elemen hingga, sehingga juga memudahkan dalam perhitungan adaptif dan juga pemrograman untuk otomasinya. Penelitian ini dapat dikembangkan berikutnya dengan menggunakan elemen yang lebih kompleks dan akurat untuk hasil yang lebih baik. Sedangkan untuk alat bantu pemrogramannya sendiri menggunakan program Matlab versi 8.2.0.701 tahun 2013, dimana pemrograman untuk perhitungan sudah disediakan oleh Wong (2012) dan penulis mengembangkan lebih lanjut untuk adaptifitasnya. 2. PROSEDUR PERHITUNGAN ERROR ESTIMATOR DAN PENGHALUSAN ADAPTIF Untuk mengukur tingkat error yang terdapat pada hasil perhitungan untuk dijadikan acuan pada diskretisasi berikutnya, digunakan parameter strain energy error yang dijelaskan oleh Cook (1995), didasarkan pada perbandingan tegangan diskontinyu dan tegangan kontinyu hasil penghalusan tegangan elemen tersebut. Misal, sebuah batang yang dijepit dan dibebani gaya tarik uniform searah sumbunya sepanjang bantang. Batang tersebut dimodelkan menjadi lima buah elemen linear yang tegangan di sepanjang elemen tersebut bernilai konstan. Diagram tegangan yang ada pada Gambar 1 menunjukkan tegangan normal per elemen yang diskontinyu (garis konstan tiap elemen), tegangan normal yang telah dihaluskan sehingga kontinyu (garis putus-putus), dan tegangan normal eksak hasil perhitungan konvensional (garis utuh). Gambar 1. Diagram Tegangan Diskontinyu, Kontinyu, dan Eksak untuk Batang Satu Dimensi Langkah 1. Setiap elemen CST memiliki 3 titik nodal di ujung-ujungnya. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari tegangan pada ketiga titik nodal tersebut dengan cara merata-rata tegangan pada semua elemen yang berbagi titik nodal sehingga didapatkan tegangan titik nodal rata-rata. σ i = tegangan elemen diskontinyu σ ave = tegangan rata-rata titik nodal n = jumlah elemen yang berbagi titik nodal terkait n σ ave = 1 σ n i=1 i (2.1) Tegangan rata-rata titik nodal yang didapat dari perhitungan di atas harus diinterpolasi menggunakan shape function untuk mendapatkan fungsi tegangan pada elemen dimaksud. n σ i * = i=1 N i (σ e ) i (2.2) 2

σ i * = tegangan kontinyu elemen N i = shape function untuk mengubah tegangan rata-rata titik nodal menjadi fungsi tegangan kontinyu pada elemen. Selisih dari tegangan diskontinyu hasil analisa metode elemen hingga dengan tegangan kontinyu pada suatu elemen disebut sebagai error tegangan yang nantinya akan digunakan untuk mendapatkan error energi regangan σ Ei = σ i - σ i * (2.3) σ Ei = besar error tegangan tiap elemen Dengan menggunakan error tegangan tiap elemen, didapatkan besaran error energi regangan untuk elemen tersebut. e 2 i = h σ Ei T ε i da e 2 i = h (σ i σ i) T ε i da (2.4) Karena σ i merupakan matriks tegangan kontinyu yang berupa fungsi, maka persamaan di atas diselesaikan dengan menggunakan integral numerik untuk segitiga Sedangkan untuk keseluruhan struktur, error energi regangan keseluruhan merupakan hasil penjumlahan dari seluruh error energi regangan per elemen m e 2 = i=1 h (σ i σ i) T ε i da = i=1 e 2 i (2.5) m = jumlah elemen keseluruhan e 2 i = error energi regangan per elemen U 2 = energi regangan keseluruhan e 2 = error energi regangan keseluruhan Langkah 2. Energi regangan keseluruhan hasil analisa MEH dan hasil dari error tegangan dinormalisasi dengan menggunakan Root Mean Square sehingga menghasilkan nilai error relatif keseluruhan. e 2 m ɳ = [ U 2 + e 2] (2.6) U 2 = m i=1 h σ T i ε i da (2.7) Nilai pembilang pada persamaan 2.32 yaitu U 2 + e 2 dianggap merupakan pendekatan pada energi regangan eksak. Akar dan kuadrat digunakan untuk mengaitkan nilai ɳ dengan tegangan, karena energi regangan pada dasarnya merupakan hasil pengkuadratan dari tegangan. Karena penghalusan yang diinginkan adalah penghalusan adaptif dengan metode element subdivision, maka diperlukan nilai error yang diijinkan dan yang terjadi per elemen untuk menentukan elemen mana yang perlu dihaluskan, sebagai berikut: e ijin = ɳ all [ U 2 + e 2 ] (2.8) ɳ all = nilai relatif error keseluruhan yang diinginkan oleh pengguna, biasanya diambil 0.05 e ijin = nilai error elemen yang diijinkan, berlaku untuk seluruh elemen m = jumlah elemen pada struktur Langkah 3. Dengan membandingkan nilai error per elemen yang terjadi dengan nilai error yang diijinkan untuk satu elemen, didapatkan: m 3

ξ i = e i e ijin (2.9) Karena ξ i merupakan perbandingan dari error yang terjadi terhadap error yang diijinkan, maka nilai terbaik dari ξ i = 1. Bila nilai ξ i > 1, maka elemen tersebut terlalu besar sehingga diperlukan penghalusan. Maka, dinyatakan bahwa diskretisasi sudah cukup baik ketika ξ i seluruh elemen 1 dan iterasi dapat dihentikan. 3. ALGORITMA PEMROGRAMAN Proses Masukan, meliputi tahap awal dimana pengguna memasukkan seluruh informasi yang diperlukan oleh program untuk melakukan perhitungan Metode Elemen Hingga maupun untuk proses adaptifitas. Proses Perhitungan, dimana dilakukan proses perhitungan standar metode elemen hingga dengan elemen CST untuk masalah regangan bidang atau tegangan bidang. Keluaran dari perhitungan adalah perpindahan titik nodal, reaksi perletakan, tegangan, regangan, dan energi regangan. Parameter-parameter ini berikutnya akan digunakan untuk penentuan kriteria error untuk proses adaptifitas. Hasil keluaran ini juga dapat digambarkan berupa grafik untuk memudahkan pemeriksaan. Perhitungan Error, dimana keluaran dari perhitungan sebelumnya diolah lebih lanjut untuk menentukan nilai error dari diskretisasi awal dan area mana saja yang perlu dihaluskan. Prosesnya adalah sebagai berikut: a. Menghitung tegangan rata-rata pada tiap titik nodal dan menginterpolasi tegangan rata-rata titik nodal tersebut menjadi fungsi tegangan kontinyu pada elemen dengan menggunakan shape function b. Menghitung selisih antara tegangan hasil analisis MEH dan tegangan kontinyu untuk mendapatkan error tegangan. Dengan menggunakan error tegangan, dihitung error energi regangan untuk tiap elemen yang diintegrasi dengan cara numerik c. Menjumlahkan error energi tegangan per elemen untuk mendapatkan error energy regangan keseluruhan (global), kemudian menghitung error energi regangan yang diijinkan untuk satu elemen dengan syarat error relatif yang diinput oleh pengguna. Biasanya sebesar 5% d. Membandingkan error energi regangan per elemen yang terjadi dengan error energi regangan yang diijinkan dengan cara normalisasi sehingga nilai idealnya adalah satu e. Menentukan elemen yang perlu dihaluskan dan elemen yang sudah memenuhi kriteria error dan menggambarkan grafik yang tiap elemennya ditandai dengan besar normal error dan warnanya f. Menggambarkan kondisi elemen untuk membedakan elemen yang perlu dihaluskan dan yang tidak Proses Penghalusan Adaptif. Setelah menemukan nilai error untuk setiap elemen, akan dibila masih ada elemen yang besar normal errornya lebih dari satu, maka akan dilakukan penghalusan. Kondisi ini akan ditandi dengan adanya angka satu pada gambar kondisi elemen. Algoritmanya adalah sebagai berikut: a. Mendeteksi elemen yang perlu dihaluskan dan menambah titik nodal pada masing-masing bagian tengah dari ketiga sisi elemen tersebut dengan cara merata-ratakan koordinat dari dua titik nodal, baik pada sumbu X maupun Y. b. Melakukan diskretisasi otomatis untuk seluruh elemen berdasarkan konfigurasi titik nodal yang baru dengan memanfaatkan fungsi delaunay triangulation yang disediakan matlab. Fungsi ini langsung menghasilkan elemen segitiga yang titik-titik sudutnya adalah titik-titik nodal terdekat, sehingga menghilangkan secara total diskretisasi sebelumnya c. Dilakukan penyesuaian secara manual untuk kondisi batas dan gaya nodal ekuivalen. Untuk geometri tertentu, perlu juga dilakukan penyesuaian terhadap konfigurasi elemennya. 4

d. Kembali melakukan proses perhitungan dari awal dengan menggunakan perhitungan standar metode elemen hingga sampai mengecek nilai error dan kondisi dari tiap elemen. 4. HASIL PERCOBAAN Pengujian dilakukan dengan sebuah balok kantilever yang dimensinya berubah dalam arah x dan y (taperred). Karakteristik materialnya antara lain E=1, υ=1/3, t=1. Hasil perpindahan vertikal pada titik A yang didapatkan dari penghalusan adaptif akan dibandingkan dengan hasil yang eksak, yakni 23,91. Dengan melihat geometri, kondisi batas serta pembebanan dari struktur, maka diharapkan hasil dari penghalusan adaptif adalah diskretisasi yang rapat pada daerah perletakan dan sisi bawah balok dimana terjadi konsentrasi tegangan. Gambar 2 Permasalahan Cook s Taperred Beam Diskretisasi awal merupakan diskretisasi yang kasar dengan jumlah titik nodal dan elemen yang sedikit, sehingga semuanya masih memiliki nilai error yang relatif besar. Setelah melakukan beberapa kali penghalusan, didapatkan diskretisasi optimal dimana ξ i 1, yang berarti nilai error yang terjadi lebih kecil dari nilai error yang diijinkan. Hasil analisa akan ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar untuk setiap diskretisasi. Pada gambar, elemen yang telah mencapai nilai tersebut ditandai dengan angka 0 (nol), sedangkan elemen yang masih perlu dihaluskan ditandai dengan angka 1 (satu). Dengan menetapkan nilai ɳ all = 5% dengan 3 sampling points untuk integral numerik segitiga, didapatkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1. Hasil Pengujian untuk Cook s Taperred Beam Jumlah Jumlah Norm e Disp A node elemen Disp A Awal 9 8 2.6889 12.30173 0.514501 Mesh 1 23 30 2.6333 18.47801 0.772815 Mesh 2 62 100 1.7398 21.99935 0.92009 Mesh 3 142 247 1.1563 22.93645 0.959283 Mesh 4 182 324 1.0122 23.16268 0.968745 Mesh 5 197 353 0.9709 23.24567 0.972215 e : error energi regangan keseluruhan yang terjadi untuk setiap diskretisasi Disp A : perpindahan titik nodal arah Y pada titik A dimana solusi referensinya adalah 23.91 Norm Disp A : normalisasi dari nilai perpindahan yang terjadi pada setiap diskretisasi 5

Perbandingan nilai error energi regangan dan normalisasi nilai perpindahan untuk setiap diskretisasi dapat dilihat pada Gambar 3. 3 Cook's Taperred Beam 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Initial Mesh 1 Mesh 2 Mesh 3 Mesh 4 Mesh 5 e Norm Disp A Gambar 3. Nilai Error Energi Regangan dan Normalisasi Nilai Perpindahan Berikut adalah gambar yang dihasilkan oleh program matlab untuk konfigurasi elemen, nilai ξ i,, serta kondisi elemen. Nilai ξ i hanya ditampilkan sampai penghalusan kedua karena setelahnya akan sulit terbaca. Sedangkan kondisi elemen hanya akan ditampilkan untuk diskretisasi awal dan penghalusan kelima dimana seluruh elemen telah memenuhi kriteria error yang ditetapkan. Gambar 4. Nilai Ξ i untuk Setiap Elemen pada Diskretisasi Awal dan Penghalusan Pertama 6

Gambar 5. Nilai ξ i untuk Setiap Elemen Penghalusan Kedua dan Konfigurasi Elemen Penghalusan Ketiga Gambar 6. Konfigurasi Elemen untuk Penghalusan Kelima dan Keenam 7

Gambar 7. Kondisi Elemen untuk Diskretisasi Awal dan Penghalusan Pertama 5. KESIMPULAN Penghalusan jaring elemen segitiga regangan konstan secara adaptif telah berhasil dikembangkan, dan berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Untuk pengujian konvergensi perbandingan hasil dari berbagai diskrestisasi, penghalusan adaptif yang telah diotomatisasi sangat berguna karena mempercepat waktu penghalusan lanjutannya. 2. Parameter strain energy error dan metode h-refinement element subdivision terbukti cukup akurat untuk penghalusan adaptif. 3. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk elemen yang lebih baik dan proses otomatisasi yang lebih menyeluruh 6. DAFTAR REFERENSI Cook, R.D. (1995). Finite Element Modelling for Stress Analysis, (4th edition). University of Wisconsin, John Wiley and Sons, Madison. Wong, F.T. (2012). Bahan Ajar Perkuliahan Metode Elemen. Universitas Kristen Petra, Surabaya Zienkiewicz, O.C., R.L. Taylor. (2000). The Finite Element Method Volume 1 : The Basis, (5th edition). Butterworth-Heinnemann. 8