HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH NAA DAN IBA TERHADAP PEMBENTUKAN AKAR DAN TUNAS STEK JERUK PAMELO (Citrus grandis (L.) Osbeck)

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo)

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Lada (Piper nigrum Linn.) merupakan tanaman rempah-rempah yang memiliki

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan. Tanaman ini mempunyai kualitas kayu yang sangat bagus, sangat

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas

I. PENDAHULUAN. karbohidrat sehingga dapat dijadikan alternatif makanan pokok. Selain

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu merupakan salah satu sumber pangan penting di Indonesia dan di dunia,

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi,

I. PENDAHULUAN. keunggulan dalam penggunaan kayunya. Jati termasuk tanaman yang dapat tumbuh

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST)

HASIL DAN PEMBAHASAN

~. ~ ~ ~, ~~~~ ~~ ~~ ~ ~,~-.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Repositori FMIPA UNISMA

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm.

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Kombinasi BAP dan IBA terhadap Waktu Munculnya Tunas Akasia (Acacia mangium Willd.)

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN)

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

PENGARUH PEMBERIAN NAA DAN KINETIN TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus costaricensis) MELALUI TEKNIK KULTUR JARINGAN SECARA IN VITRO

Peningkatan Mutu Bibit Torbangun (Plectranthus amboinicus Spreng.) dengan Pemilihan Asal stek dan Pemberian Auksin

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Rootone-F Terhadap Pertumbuhan Stek Duabanga mollucana. Blume.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%)

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pembentukan buah tanpa biji per tandan. 1. Persentase keberhasilan pembentukan buah tanpa biji

PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN JERUK KEPROK (CITRUS NOBILIS LOUR) VAR. PULAU TENGAH: Rensi Novianti dan Muswita

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 5. Pertumbuhan Paspalum notatum Fluegge Setelah Ditanam

Jurnal Agroekoteknologi. E-ISSN No Vol.4. No.1, Desember (582) :

PENGARUH JENIS AUKSIN DAN BOBOT SUCKER TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SAGU DI PERSEMAIAN RAKIT

1. Benuang Bini (Octomeles Sumatrana Miq) Oleh: Agus Astho Pramono dan Nurmawati Siregar

PENGARUH PEMBERIAN NAA DAN KINETIN TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus costaricensis) MELALUI TEKNIK KULTUR JARINGAN SECARA IN VITRO

PENGARUH KONSENTRASI INDOLE BUTYRIC ACID (IBA) DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK PUCUK JAMBU AIR (Syzygium semarangense Burm. F.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) tergolong dalam famili Graminae yaitu

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Tipe perkecambahan epigeal

SKRIPSI. Persyaratan Sarjana-1. Disusun Oleh: VINA A FAKULTA

Respons Pertumbuhan Setek Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia Swingle) pada Berbagai Bahan Tanam dan Konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015).

HASIL DAN PEMBAHASAN. jumlah bunga, saat berbunga, jumlah ruas, panjang ruas rata-rata, jumlah

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

PENGARUH BERBAGAI MACAM PANJANG STEK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGUR (Vitis vinivera L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1.

EFEKTIFITAS LAMA PENIRISAN STEK DI MEDIA TANAH BERPASIR TERHADAP PERTUMBUHANKAMBOJA (Adenium obesum)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

Gambar 3. Tanaman tanpa GA 3 (a), Tanaman dengan perlakuan 200 ppm GA 3 (b)

PENGARUH PANJANG DAN LINGKAR STEK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN BUAH NAGA

PELAKSANAAN PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas buah tropis

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman buah naga adalah sebagai berikut ; Divisi: Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo:

5. PEMBAHASAN 5.1. Pengaruh waktu pemberian GA3 terhadap pertumbuhan tanaman leek

PENGARUH UMUR BATANG BAWAH DAN TINGKAT PENAUNGAN PADA PENYAMBUNGAN BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Fosfor Terhadap Pertumbuhan Pseudbulb. tanaman anggrek Dendrobium antennatum selama 10 minggu setelah

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jati. daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian pendahuluan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada April sampai dengan Juni 2012 di Perum Polda 2

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon induk jeruk pamelo yang sehat yang telah memasuki fase dewasa. Bahan stek diambil dari bagian pucuk pada cabang tanaman. Pada penelitian ini perbanyakan stek menggunakan teknologi sedehana non mist propagation system. Stek ditanam dalam media tanam berupa arang sekam dan diletakkan dalam rumah sungkup yang terbuat dari plastik bening untuk menjaga kelembaban. Areal penyetekan terletak di bawah naungan paranet dengan persentase naungan sebesar 65%. Suhu rata-rata harian di dalam sungkup berkisar 26.4 31.9 o C dengan rata-rata kelembaban relatif harian berkisar 78 89%. Kondisi ini memungkinkan stek untuk membentuk perakaran. Pada minggu-minggu awal penyetekan, sebagian daun yang disisakan pada stek mengalami kelayuan dan kemudian gugur. Daun yang gugur kemudian digantikan oleh tunas baru yang muncul dari mata tunas pada ketiak daun, beberapa stek mulai tumbuh tunas pada 3 MST. Serangan penyakit yang terjadi selama penelitian adalah serangan cendawan. Serangan cendawan dikendalikan dengan penyemprotan fungisida dithane dengan konsentrasi 2 g/l. a b Gambar 2. (a) Area Pemeliharaan Stek, (b) Gejala Serangan Cendawan pada Stek

15 Hasil Analisis Ragam Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis auksin berpengaruh nyata pada peubah persentase stek berakar, namun tidak berpengaruh pada persentase stek berkalus, persentase stek bertunas, persentase stek berakarbertunas, jumlah akar, panjang akar, diameter akar, jumlah tunas, panjang tunas, diameter akar, dan jumlah daun baru (Tabel 1). Perlakuan konsentrasi berpengaruh nyata pada persentase stek berkalus, persentase stek berakar, persentase stek bertunas, persentase stek berakarbertunas, panjang akar, diameter akar, panjang tunas, dan diameter tunas, namun tidak berpengaruh pada peubah jumlah akar, jumlah tunas, dan jumlah daun yang terbentuk (Tabel 1). Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam terhadap Peubah yang Diamati pada 10 MST Peubah (J) Perlakuan Konsentrasi (K) Interaksi (J*K) Persentase Stek Berkalus tn * tn Persentase Stek Berakar * * tn Persentase Stek Bertunas tn * tn Persentase Stek Berakar-bertunas tn * tn Jumlah Akar tn tn tn Panjang Akar tn * tn Diameter Akar tn * tn Jumlah Tunas tn tn tn Panjang Tunas tn * tn Diameter Tunas tn * tn Jumlah Daun Baru tn tn tn Keterangan: * : berpengaruh nyata pada taraf 5% tn : tidak berbeda nyata

16 Pembentukan Kalus Kalus merupakan jaringan yang terbentuk sebelum tumbuhnya akar pada stek. Kalus terbentuk pada bagian dasar stek ketika ditempatkan dalam kondisi lingkungan yang mendukung. Kalus adalah massa yang tidak teratur dari sel-sel parenkim pada berbagai tahap lignifikasi. Pertumbuhan kalus adalah proliferasi dari sel-sel muda di dasar stek di wilayah kambium vaskular (Hartmann et al., 1990). Gambar 3. Pembentukan Kalus pada Pangkal Stek Jeruk Pamelo Persentase Stek Berkalus Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh pada peubah persentase stek berkalus pada 10 MST (Tabel 1). Jenis auksin NAA dan IBA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dalam mempengaruhi pembentukan kalus pada stek jeruk pamelo (Tabel 2). Tabel 2. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Berkalus pada 10 MST Perlakuan Persentase stek berkalus (%) NAA 20.00 IBA 32.00 Konsentrasi Auksin (ppm) 0 13.33 b 100 13.33 b 150 23.33 ab 200 43.33 a 250 36.67 ab Interaksi tn Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%.

17 Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berkalus pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 2 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berkalus yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 100 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 150 ppm dan 250 ppm. Rataan persentase stek berkalus tertinggi diperoleh pada konsentrasi 200 ppm sebesar 43.33%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Febriana (2009) yang menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berkalus pada stek apokad. Stek yang diberi auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berkalus yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Menurut Hartmann et al. (1990) pada stek sering terjadi akar pertama muncul melalui kalus, sehingga mengarah kepada asumsi bahwa pembentukan kalus sangat penting untuk pengakaran. Namun pada kebanyakan jenis tanaman, pembentukan kalus dan pembentukan akar tidak bergantung satu sama lain. Pembentukan Akar Terbentuknya akar pada stek merupakan penentu keberhasilan stek batang. Akar merupakan organ tanaman yang penting karena memiliki fungsi yang cukup banyak, diantaranya sebagai penyangga batang dan penyerap unsur hara, mineral, dan air dari dalam tanah (Ashari, 1995). Akar yang terbentuk pada stek merupakan akar adventif (Hartmann et al., 1990). Gambar 4. Akar Adventif yang Terbentuk pada Stek Jeruk Pamelo Persentase stek berakar Perlakuan jenis auksin berpengaruh terhadap peubah persentase stek berakar pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 3 menunjukkan pemberian jenis auksin

18 IBA menghasilkan persentase stek berakar yang lebih besar dibandingkan jenis auksin NAA. Menurut Hartmann et al. (1990) IBA merupakan jenis auksin terbaik yang umum digunakan, karena tidak bersifat toksik bagi tanaman pada selang konsentrasi yang luas dan efektif untuk memacu perakaran pada sebagian besar tanaman. Selanjutnya Salisbury dan Ross (1995) menyatakan bahwa IBA lebih baik dalam memacu perakaran dibandingkan dengan auksin lainnya, konsentrasi IBA dapat bertahan pada tingkat yang tepat khususnya pada tahap pembentukan akar selanjutnya. Tabel 3. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Berakar pada 10 MST Perlakuan Persentase stek berakar (%) NAA 14.67 b IBA 26.67 a Konsentrasi Auksin (ppm) 0 6.67 b 100 13.33 b 150 20.00 ab 200 36.67 a 250 26.67 ab Interaksi tn Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berakar pada umur 10 MST (Tabel 1). Tabel 3 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berakar yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 100 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 150 ppm dan 250 ppm. Konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berakar yang tertinggi sebesar 36.67%. Pemberian auksin dengan konsentrasi 100 ppm hingga 200 ppm menunjukkan adanya peningkatan persentase stek berakar, namun pada konsentrasi 250 ppm persentase stek berakar cenderung sedikit menurun. Ferguson dan Young (1985) dan Sabbah et al. (1991) menyatakan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh pada stek beberapa spesies jeruk lebih efisien

19 dalam memacu perakaran. Selanjutnya Hartmann et al. (1990) menyatakan bahwa pemberian auksin NAA dan IBA dalam jumlah tertentu pada berbagai spesies tanaman yang berbeda dapat memberikan respon yang bervariasi. Pemberian auksin pada konsentrasi yang tepat dapat memacu perakaran namun pada konsentrasi tinggi dapat bersifat toksik bagi tanaman. Stek jeruk pamelo yang berhasil membentuk akar dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Perakaran Stek Jeruk Pamelo pada Umur 10 MST Hasil penelitian de Andres et al. (2004) pada tanaman Colutea Istria dan penelitian Husen dan Pal (2007) pada tanaman Tectona grandis menunjukkan bahwa pemberian auksin eksogen memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase stek berakar. Stek yang diberi auksin menghasilkan persentase berakar yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Penelitian Raju and Prasad (2010) mengenai penggunaan jenis dan konsentrasi hormon auksin pada tanaman Celasturs paniculatus menunjukkan bahwa persentase stek berakar tergantung pada jenis dan konsentrasi hormon yang digunakan. Konsentrasi hormon adalah faktor yang signifikan dalam induksi perakaran. Auksin mempunyai peran penting dalam perkembangan akar adventif, meningkatkan persentase perakaran, meningkatkan kualitas akar dan keseragaman dalam perakaran dari stek (Husen dan Pal, 2007; Opuni-Frimpong et al., 2008). Pemberian auksin eksogen dapat menyebabkan adanya perubahan pada aktivitas enzim dan kandungan kofaktor yang memungkinkan terbentuknya keseimbangan hormonal serta inisiasi primordia akar dan perkembangan akar (Husen, 2008).

20 Jumlah akar, panjang akar, dan diameter akar Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh terhadap jumlah akar, panjang akar, dan diameter akar pada 10 MST (Tabel 1). Jenis auksin NAA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan IBA dalam memacu pertumbuhan akar pada stek jeruk pamelo (Tabel 4). Tabel 4. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Pertumbuhan Akar pada 10 MST Perlakuan Jumlah Akar Panjang Akar (cm) Diameter Akar (cm) NAA 0.47 0.60 0.02 IBA 0.95 1.04 0.04 Konsentrasi (ppm) 0 0.17 0.21 c 0.01 c 100 0.70 0.40 bc 0.02 bc 150 0.70 0.62 abc 0.03 abc 200 1.07 1.47 a 0.06 a 250 0.90 1.41 ab 0.04 ab Interaksi tn tn tn Keterangan: Angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. Perlakuan konsentrasi auksin tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah akar yang terbentuk pada 10 MST (Tabel 1). Namun dapat dilihat bahwa stek yang diberi auksin menghasilkan nilai rataan jumlah akar yang lebih besar dibandingkan kontrol (0 ppm), meskipun secara statistik tidak berbeda nyata (Tabel 4). Hasil penelitian Amri et al. (2010) pada stek Dalbergia melanoxylon menunjukkan bahwa stek yang diberi auksin menghasilkan akar yang lebih banyak dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap panjang akar dan diameter akar pada stek jeruk pamelo pada umur 10 MST (Tabel 1). Tabel 4 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan panjang akar dan diameter akar yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 100 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 150 ppm dan 250 ppm. Pemberian auksin eksogen menghasilkan pertumbuhan akar yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol.

21 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Husen dan Pal (2007) pada stek Tectona grandis dan penelitian Husen (2008) pada stek Dalbergia sissoo yang menunjukkan bahwa pemberian auksin eksogen memberikan pengaruh yang signifikan terhadap panjang akar stek. Stek yang diberi auksin menghasilkan akar yang lebih panjang dibandingkan kontrol. Pembentukan Tunas dan Daun Pembentukan tunas sangat penting sebagai tahap awal primordia daun. Daun merupakan organ tanaman yang memiliki jumlah klorofil terbesar yang berfungsi sebagai tempat terjadinya proses fotosintesis yang menghasilkan sumber energi bagi tanaman (Ashari, 1995). Gambar 6. Tunas dan Daun pada Stek Jeruk Pamelo Persentase stek bertunas Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh terhadap persentase stek bertunas pada 10 MST (Tabel 1). Jenis auksin NAA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan IBA dalam mempengaruhi pembentukan tunas pada stek jeruk pamelo (Tabel 5). Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek bertunas pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 5 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek bertunas yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 100 ppm, 150 ppm, dan 250 ppm. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Febriana (2009) pada stek

22 apokad yang menunjukkan bahwa konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase bertunas pada 10 MST. Pemberian auksin 200 ppm pada stek apokad menghasilkan persentase stek bertunas yang lebih besar dibandingkan perlakuan lainnya. Tabel 5. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Bertunas pada 10 MST Perlakuan Persentase stek bertunas (%) NAA 13.33 IBA 9.33 Konsentrasi Auksin (ppm) 0 6.67 b 100 10.00 b 150 10.00 b 200 26.67 a 250 3.33 b Interaksi tn Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. Tabel 5 menunjukkan rataan persentase stek bertunas yang tertinggi terdapat pada penggunaan konsentrasi 200 ppm sebesar 26.67%. Persentase stek bertunas secara umum mengalami peningkatan pada penggunaan auksin dengan konsentrasi 100 ppm hingga 200 ppm namun pada penggunaan konsentrasi 250 ppm persentase stek bertunas cenderung menurun. Rataan stek bertunas pada konsentrasi 250 ppm lebih rendah daripada konsentrasi 0 ppm (kontrol), meskipun secara statistik tidak berbeda nyata. Menurut Hartmann et al. (1990) aplikasi auksin buatan pada stek batang menggunakan konsentrasi tinggi dapat menghambat perkembangan tunas, bahkan terkadang tidak terjadi pembentukan tunas meskipun pembentukan akar telah cukup. Panjang dan diameter tunas Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh pada peubah panjang dan diameter tunas pada 10 MST (Tabel 1). Jenis auksin NAA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan IBA dalam mempengaruhi pertumbuhan tunas pada stek jeruk pamelo (Tabel 6).

23 Tabel 6. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Panjang dan Diameter Tunas pada 10 MST Perlakuan Panjang Tunas (cm) Diameter Tunas (cm) NAA 0.11 0.02 IBA 0.14 0.02 Konsentrasi (ppm) 0 0.03 b 0.01 b 100 0.12 ab 0.02 b 150 0.15 ab 0.02 b 200 0.32 a 0.05 a 250 0.01 b 0.01 b Interaksi tn tn Keterangan: Angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap panjang dan diameter tunas pada 10 MST (Tabel 1). Tunas yang mempunyai panjang dan diameter lebih besar diduga memiliki potensi lebih besar untuk berkembang menjadi cabang dan daun baru. Tabel 6 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan panjang tunas yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol) dan 250 ppm, namun tidak berbeda dengan konsentrasi 100 ppm dan 150 ppm. Pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan diameter tunas yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 100 ppm, 150 ppm, dan 250 ppm. Hasil penelitian Khan et al. (2006) pada tanaman Rosa damascene dan penelitian Husen dan Pal (2007) pada tanaman Tectona grandis menunjukkan bahwa pemberian auksin eksogen berpengaruh pada panjang tunas yang terbentuk pada stek. Jumlah tunas dan daun baru yang terbentuk Perlakuan jenis auksin dan konsentrasi auksin tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas pada 10 MST (Tabel 1). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Febriana (2009) pada stek apokad yang menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi auksin hingga 200 ppm tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas yang terbentuk pada stek.

24 Tabel 7. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Jumlah Daun yang Terbentuk pada 10 MST Perlakuan Jumlah Tunas Jumlah daun (helai) NAA 0.21 0.08 IBA 0.20 0.16 Konsentrasi Auksin (ppm) 0 0.17 0.00 100 0.17 0.16 150 0.10 0.10 200 0.53 0.33 250 0.07 0.00 Interaksi tn tn Perlakuan jenis auksin dan konsentrasi auksin juga tidak berpengaruh terhadap jumlah daun yang terbentuk pada 10 MST (Tabel 1). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Irwanto (2001) yang menunjukkan bahwa pemberian auksin eksogen tidak memberikan pengaruh pada jumlah daun yang terbentuk pada stek pucuk Shorea montigena. Banyaknya jumlah daun yang terbentuk tergantung pada banyaknya jumlah tunas yang terbentuk, dimana jumlah tunas yang banyak akan menghasilkan jumlah daun yang banyak. Tabel 7 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan rataan jumlah tunas dan jumlah daun yang lebih besar dibandingkan konsentrasi lainnya, meskipun secara statistik tidak berbeda nyata. Keberhasilan Stek Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang memiliki sifat yang sama dengan induknya (Widiarsih et al., 2008). Pembentukan akar dan tunas pada stek penting bagi stek untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman sempurna.

25 Persentase stek berakar-bertunas Perlakuan jenis auksin tidak berpengaruh terhadap persentase stek berakarbertunas pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 8 menunjukkan bahwa jenis auksin NAA memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan IBA dalam mempengaruhi persentase stek berakar-bertunas pada stek jeruk pamelo. Pemilihan jenis auksin selain harus mempertimbangkan tingkat keefektifan terhadap keberhasilan stek juga perlu mempertimbangkan faktor ekonomis karena harga auksin NAA dan IBA memiliki perbedaan yang besar. Tabel 8. Pengaruh dan Konsentrasi Auksin terhadap Persentase Stek Berakar-bertunas pada 10 MST Perlakuan Persentase stek berakar-bertunas (%) NAA 8.00 IBA 10.67 Konsentrasi (ppm) 0 3.33 b 100 6.67 b 150 6.67 b 200 26.67 a 250 3.33 b Interaksi tn Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. Perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap persentase stek berakar-bertunas pada 10 MST (Tabel 1). Tabel 8 menunjukkan pemberian auksin dengan konsentrasi 200 ppm menghasilkan persentase stek berakar-bertunas yang lebih besar dibandingkan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 100 ppm, 150 ppm, dan 250 ppm. Persentase stek berakar-bertunas yang tertinggi didapat pada pemberian konsentrasi auksin 200 ppm sebesar 26.67%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk pembentukan akar dan tunas pada stek jeruk pamelo, pemberian konsentrasi auksin 200 ppm dengan metode perendaman merupakan konsentrasi yang terbaik diantara konsentrasi yang dicobakan. Stek yang berhasil membentuk akar dan tunas memiliki peluang hidup yang lebih besar. Tunas pada stek dapat berkembang menjadi daun yang memiliki

26 fungsi penting bagi stek. Keberadaan akar dan daun pada stek memiliki peranan penting untuk stek bertahan hidup, terutama dalam hal penyediaan makanan. Persentase keberhasilan stek pada penelitian ini masih tergolong rendah. Persentase keberhasilan stek tertinggi hanya sebesar 26.67%. Rendahnya persentase keberhasilan ini berkaitan dengan rendahnya daya hidup stek. Jumlah stek yang dapat bertahan hidup hingga 10 MST hanya sebesar 50% dari total stek yang ditanam. Tingginya tingkat kematian stek diduga berkaitan dengan faktor bahan stek yang digunakan. Beberapa bahan stek yang digunakan kemungkinan membawa spora cendawan yang berasal dari tanaman induk jeruk pamelo sehingga pada saat penyetekan muncul serangan cendawan yang kemudian menyebabkan kematian jaringan pada beberapa stek. Kematian stek juga diduga akibat kegagalan stek dalam membentuk akar sehingga stek tidak dapat bertahan hidup. Pemilihan tanaman induk yang sehat dapat mengurangi terjadinya serangan penyakit pada saat penyetekan sehingga dapat meningkatkan persentase keberhasilan stek. Pemilihan umur bahan stek yang tepat juga dapat meningkatkan persentase keberhasilan stek. Bahan stek yang memiliki cadangan karbohidrat yang cukup akan lebih mudah dalam berakar dan bertunas karena cadangan karbohidrat tersebut diperlukan sebagai sumber energi dalam pembentukan akar dan tunas.