BAB V METER GAS ROTARY PISTON DAN TURBIN

dokumen-dokumen yang mirip
METER GAS ROTARY PISTON DAN TURBIN

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR ta /PDy{ llkvp h /2o1o TENTANG SYARAT TEKNIS METER GAS ROTA RY PISTON DAN TURBIN

DIREKTORAT JENDERAT PERDAGANGAN DALAM NEGERI

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NoMoR eglpwlrepll lzoto TENTANG SYARAT TEKNIS METER GAS DIAFRAGMA

BAB I PENDAHULUAN Maksud Dan Tujuan 1. Maksud Untuk mewujudkan keseragaman dalam pelaksanaan kegiatan tera dan tera ulang meter air.

KEPUTUSAN DTREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR fi/my/kr'e/t/2010 TENTANG SYARAT TEKNIS POMPA UKUR BAHAN BAKAR GAS

BEJANA UKUR. Tergolong alat ukur metrologi legal yang wajib ditera dan ditera ulang (Permendag No. 8 Tahun 2010);

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan

Verifikasi Standar Massa. Diklat Penera Tingkat Ahli 2011

lft\n KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NoMOR 26 lpd\t /KEp lt /zo1o TENTANG SYARAT TEKNIS TANGKI UKUR WAGON

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR tg /PDN n<ep/5/2010 TENTANG SYARAT TEKNIS MANOMETER

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Antiremed Kelas 11 Fisika

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN TERA/TERA ULANG JENIS TERA

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 2 TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor : 4g/pD$/kap /t/zo1o

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR

BAB II LANDASAN TEORI. tidak terdefinisi. Standar tersebut dapat berupa barang yang nyata, dengan syarat

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR 28IPDNftEP/t/2010 TENTANG SYARAT TEKNIS TIMBANGAN BAN BERJALAN

,/r4f. filt\\s. KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR zl lwwftnp/r/2o10 TENTANG SYARAT TEKNIS METER TAKSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 1 TAHUN 2016

MODUL SOSIALISASI DAN DISEMINASI STANDAR PEDOMAN DAN MANUAL SPESIFIKASI METER AIR

a,\s :"'2, arnn 'rf F KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR 57 M{ /xep/1/201o TENTANG SYARAT TEKNIS METER ARUS VOLUMETRIK

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI NOMOR l5lw$ lkep/3/2010 TENTANG SYARA TEKNIS METER PROVER

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47/M-DAG/PER/12/2010 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II LANDASAN TEORI

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Modul Praktikum Penentuan Karakterisasi Rangkaian Pompa BAB II LANDASAN TEORI

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 639/MPP/Kep/10/2004 TENTANG KETENTUAN DAN SYARAT TEKNIS TANGKI UKUR MOBIL

BAB II LANDASAN TEORI

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II. LANDASAN TEORI

TARIF RETRIBUSI TERA, TERA ULANG ALAT ALAT UTTP, KALIBRASI ALAT UKUR SERTA PENGUJIAN BARANG DALAM KEADAAN TERBUNGKUS

PENGUKURAN KECEPATAN UDARA DI DALAM TEROWONGAN

BAB II LANDASAN TEORI. dapat dilakukan berdasarkan persamaan kontinuitas yang mana prinsif dasarnya

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

BAB II LANDASAN TEORI

TARIF RETRIBUSI TERA ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP)

Gambar 1.6. Diagram Blok Sistem Pengaturan Digital

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN2006 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2006 GUBERNUR JAWA TIMUR,

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 635/MPP/Kep/10/2004 TENTANG TANDA TERA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan

II. TINJAUAN PUSTAKA

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 522/MPP/Kep/8/2003

PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA

2012, No.661.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SPESIFIKASI TEKNIK KOMPOR GAS BAHAN BAKAR LPG SATU TUNGKU DENGAN SISTEM PEMANTIK MEKANIK KHUSUS UNTUK USAHA MIKRO

2015, No Indonesia Nomor 3193); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 19

TENTANG SYARAT TEKNIS METER KADAR AIR

TUGAS AKHIR PERENCANAAN POMPA SENTRIFUGAL PENGISI KETEL DI PT. INDAH KIAT SERANG

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PERANCANGAN HIDRAN DAN GROUNDING TANGKI DI STASIUN PENGUMPUL 3 DISTRIK 2 PT.PERTAMINA EP REGION JAWA FIELD CEPU. Aditya Ayuningtyas

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Uji Fungsi Dan Karakterisasi Pompa Roda Gigi

LAMPIRAN VII KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal : 3 November 2000

BAB III TEORI DASAR KONDENSOR

BAB I PENDAHULUAN. memindahkan fluida dari suatu tempat yang rendah ketempat yang. lebih tinggi atau dari tempat yang bertekanan yang rendah ketempat

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mesin kerja. Pompa berfungsi untuk merubah energi mekanis (kerja putar poros)

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN TERA/TERA ULANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dilakukan setelah di setujui sejak tanggal pengesahan

Jaringan kawat baja las untuk tulangan beton

PENGARUH VARIASI DIAMETER NOSEL TERHADAP TORSI DAN DAYA TURBIN AIR

PEDOMAN PEMERIKSAAN (KOMISIONING) INSTALASI TENAGA LISTRIK

JOBSHEET PRAKTIKUM 6 WORKHSOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 300.K/38/M.pe/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RANCANG BANGUN ALAT PRAKTIKUM TURBIN AIR DENGAN PENGUJIAN BENTUK SUDU TERHADAP TORSI DAN DAYA TURBIN YANG DIHASILKAN

G U B E R N U R SUMATERA BARAT

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR: 300.K/38/M.PE/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI,

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

BAB II LANDASAN TEORI

Transkripsi:

BAB V METER GA ROTARY PITON DAN TURBIN Indikator Keberhasilan : Peserta diharapkan mampu menjelaskan konstruksi dan prinsip kerja meter gas rotary piston dan turbin. Peserta diharapkan mampu menjelaskan converter meter gas. Peserta diharapkan mampu menjelaskan persyaratan teknis meter gas rotary piston dan turbin. Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda pengujian meter gas rotary piston dan turbin.. Pendahuluan Dengan meningkatnya pertumbuhan pabrik yang menggunakan bahan gas sebagai bahan bakar maupun bahan pokok produksi beberapa komoditi maka jumlah kebutuhan gas meningkat cukup tajam. Berkaitan dengan kebutuhan gas tersebut, bermunculan tempat-trempat serah terima gas. Pengiriman /transportasi gas tersebut menggunakan sarana pipa maupun transportasi darat / laut. Berkaitan dengan distribusi gas yang salah satunya menggunakan pipa penyalur maka pada titik penyerahan tersebut, proses pengukurannya digunakan meter gas industri yang salah satu diantaranya adalah meter gas tipe turbin Dengan banyaknya penggunaan meter gas turbin dalam serah terima tersebut di atas, maka kita perlu memikirkan adanya jaminan kebenaran pengukuran. elain itu diperlukan juga pendekatan pelayanan oleh Unit Metrologi berkaitan dengan pemberian jaminan kebenaran pengukuran tersebut. Konstruksi Meter Gas Meter Gas Rotary Piston : Meter Gas Tipe Turbin

Prinsip Kerja Perhatikan gambar diatas : Aliran fluida yang melewati flowmeter akan memutarkan turbin, dimana poros turbin tersebut akan memutarkan roda gigi, dan selanjutnya roda gigi tersebut akan memutarkan perangkat indicator.

Perbandingan roda gigi ini disesuaikan dengan jumlah fluida yang mengalir. Penyesuaian roda gigi inilah sering digunakan sebagai adjuster ( alat penyetel / alat justir ). Untuk penunjukan digital, pada bagian roda gigi transmisi terdapat peralatan yang mengubah putaran menjadi besaran listrik, baik berupa low frequency pulse transmitter ataupun high frequency pulse transmitter ( lihat gambar ). elain itu dapat juga berupa gabungan dengan cara berikut. Untuk meter produk terbaru yang khusus, magnetic sebagaimana gambar berikut : pada ujung-ujung turbinnya terdapat Metode Pengujian Metode pengujian kebenaran meter gas rotary piston dan turbin dapat dilakukan dengan cara yaitu : - Metode ungkup Uji / Bell Prover. - Metode Master Meter.

Bell Prover Gambar instalasi secara lengkap adalah sbb : Penggunaan Master Meter pada Instalasi Dit Met

edangkan untuk gas cair dikelompokkan sebagai alat ukur cairan hidrokarbon dengan instalasi sbb : Persyaratan Teknis Dalam penanganan meter gas digunakan acuan persyaratan teknis sebagaimana diatur dalam Keputusan Direktur Metrologi Nomor : Met.4005/722/1993 Tentang yaratsyarat teknis khusus Meter gas rotary piston dan turbin

I s t i l a h Peristilahan yang digunakan pada meter gas industri khususnya meter gas rotary piston dan turbin adalah sebagai berikut : 1. Meter Gas yang selanjutnya disebut meter adalah alat ukur untuk menentukan jumlah gas yang lewat. 2. Meter Rotary Piston adalah meter yang penunjukan volumenya ditentukan oleh jumlah putaran piston. 3. Meter Turbin adalah meter yang penunjukan volumenya ditentukan oleh jumlah putaran turbin. 4. Debit Maksimum (Q maks ) adalah debit terbesar yang boleh melewati Meter sesuai dengan kemampuan ukurnya. 5. Debit Minimum (Q min ) adalah debit terendah dari meter sesuai dengan kemampuan ukurnya. 6. Volume iklis (V) adalah volume yang sesuai dengan satu putaran/perubahan penuh ruang ukur. 7. Ruang Ukur adalah ruang badan ukur dimana volume gas diukur. 8. Badan Ukur adalah bagian dari meter yang pada saat pengukuran berlangsung, bagian dalamnya dilalui sekaligus menetukan baik secara langsung maupun tidak langsung volume gas yang sedang diukur. 9. Daerah Ukur adalah daerah yang dibatasi oleh debit minimum dan debit maksimum dan dinyatakan sebagai perbandingan antara kedua debit tersebut. 10. Badan Hitung adalah bagian dari meter yang pada saat pengukuran berlangsung digunakan untuk menunjukkan hasil pengukuran volume gas yang diukur. 11. Alat Penghitung adalah bagian dari badan hitung yang menunjukkan volume gas yang diukur. 12. kala adalah garis atau tanda lain yang tersusun secara teratur sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan nilai yang diukur. 13. Mata kala adalah daerah antara sumbu-sumbu dua garis atau tanda lain yang berurutan. 14. Volume pada kondisi meter adalah volume gas yang ditetapkan pada suhu dan tekanan gas tersebut terukur. 15. Volume pada kondisi dasar adalah volume gas yang ditetapkan pada suhu 15 o C dan tekanan 101,325 kpa.

16. Elemen Uji adalah bagian dari alat penghitung yang mempunyai mata skala terkecil atau yang memungkinkan pembacaan meter secara teliti. 17. Alat Konversi adalah alat untuk mengkonversikan volume pada kondisi meter ke volume pada kondisi dasar. 18. Tekanan Kerja adalah beda antara tekanan absolut gas yang terukur di bagian masuk gas pada meter dengan tekanan atmosfir. 19. Volume Uji adalah volume gas yang dianggap memadai setiap kali pengujian. 20. Kesalahan Penunjukan adalah perbandingan yang dinyatakan dalam persen antara volume yang ditunjukkan oleh alat penghitung dikurangi dengan volume sebenarnya yang melalui meter, dengan volume yang disebut belakangan. 21. Ketidaktetapan adalah beda kesalahan penunjukkan yang terbesar dari tiga kali pengujian pada kondisi yang sama. 22. Debit Transisi (Q t ) adalah debit yang terletak diantara Q min dan Q maks yang nilainya adalah: 0,20 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 10 dan 1 : 20 0,15 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 30 0,10 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 50 Meter Rotary Piston Harus mempunyai lubang pengukur tekanan di bagian masuk dan keluarnya gas pada meter dekat dengan sambungan (flens) untuk mengukur hilang tekanan, yang terukur di bagian masuk adalah merupakan tekanan meter. Meter Turbin : a. Harus mempunyai lubang pengukur tekanan yang memungkinkan pengukuran tekanan pada bagian masuk dekat kisi-kisi turbin sebagai tekanan meter b. Meter yang dilengkapi dengan pengaturan aliran gas di bagian masuk boleh dilengkapi lubang pengukur tekanan lain yang letaknya dekat di depan pengatur aliran untuk mengukur hilang tekanan karena pengatuur aliran ini.

Data Meter (1) Meter harus dilengkapi dengan tulisan sebagai berikut : a. Merek pabrik b. Model/tipe c. Nomor seri d. Debit Maksimum, dan/atau tanda pengenal meter dalam huruf capital G yang diikuti oleh bilangan tertentu. e. Debit minimum f. Tekanan kerja maksimum g. Nilai nominal dari volume siklis untuk Meter Rotary Piston. Daerah Ukur Nilai-nilai yang diizinkan untuk debit maksimum dan debit minimum yang sesuai dari Meter Rotary Piston dan Meter Turbin adalah sebagai berikut : Tanda Pengenal Debit Maksimum Daerah Ukur Meter Q maks 1:10 1:20 1:30 1:50 G m 3 /h Debit Minimum Q min m 3 /h 16 25 2,5 1,3 0,8 0,5 25 40 4 2 1,3 0,8 40 65 6 3 2 1,3 65 100 10 5 3 2 100 160 16 8 5 3 160 250 25 13 8 5 250 400 40 20 13 8 400 650 65 32 20 13 650 1000 100 50 32 20 1000 1600 160 80 50 32 Dan kelipatan desimal dari 5 baris terakhir dari tabeli atas.

Badan Hitung (1) Meter harus dilengkapi dengan alat penghitung yang menunjukkan volume gas yang diukur dalam meter kubik atau satuan lain yang dizinkan (I). Nilai mata skala tidak boleh melebihi volume yang lewat selama 1 jam pada debit minimum. Apabila volume yang lewat selama 1 jam pada debit minimum lebih kecil dari 1 m 3 maka nilai mata skala sebesar-besarnya 1 m 3. (2) Meter yang mempunyai dua alat penghitung, satu harus menunjukkan volume pada kondisi meter dan lainnya menunjukkan volume pada kondisi dasar. Alat Tambahan (1) Meter boleh dilengkapi dengan Alat justit (2) Meter boleh dilengkapi dengan sumbu pemindah yang berfungsi sebagai penggerak alat penghitung yang dapat dilepaskan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Tidak boleh menyebabkan perubahan terhadap penunjukan meter. b. Harus dibubuhi keterangan mengenai nilai konstantanya dalam bentuk 1 putaran =..m 3 (atau dm 3 ) c. Apabila tidak dipergunakan maka ujung luarnya yang bebas harus dilindungi dengan sebuah tutup yang dapat disegel. Batas Kesalahan Penunjukan (1) Kesalahan penunjukkan maksimum yang dizinkan untuk Debit Q Kesalahan maksimum yang diizinkan m3 Tera Tera ulang Q min Q < Q t ± 2% ± 4% Q t Q Q maks ± 1% ± 2% Batas Ketidaktetapan Batas ketidaktetapan yang diijinkan pada pengujian tera dan tera ulang adalah sebesar 0,5%.

Meter Gas Tipe Baru Pengujian Model (1) Pengujian kebenaran : a. Terhadap Meter Rotary Piston dan Meter Turbin dilakukan pengujian kebenaran penunjukkan meter sebagai berikut 1 Meter-meter dengan daerah ukur 1:10 hingga 1:30 pada Q min, 0,05Q maks dan 0,10Q maks (jika nilainya lebih besar dari Q min ), 0,25Q maks, 0,40Q maks, 0,70Q maks dan Q maks. 2 Meter-meter dengan daerah ukur 1:50 pada Q min, 0,15Q maks, 0,25Q maks, 0,40Q maks, 0,70Q maks dan Q maks. b. Masing-masing debit dilakukan paling sedikit tiga kali pengujian. c. Volume uji untuk tiap kali pengujian paling sedikit sebesar satu setengah kali debit permenit. (2) Pengujian ketahanan : Terhadap Meter Rotary Piston dan Meter Turbin dilakukan pengujian ketahanan sebagai berikut : a. Terlebih dahulu dilakukan pengujian kebenaran b. elanjutnya dilakukan pengujian ketahanan yaitu sebesar volume yang terukur selama 100 jam penggunaan meter tersebut pada debit maksimum, dan pengujian harus selesai dalam waktu dua bulan. c. etelah pengujian ketahanan, dilakukan pengujian kebenaran lagi dengan kondisi yang sama dengan huruf a. d. Beda kesalahan penunjukkan meter pada masing-masing debit pengujian sebelum dan setelah pengujian ketahanan tidak boleh lebih dari 0,5%. (3) Pengujian gangguan : Gangguan ringan : Pada pengujian ini dipasang alat pengganggu aliran dengan susunan pipa sebagaimana gambar berikut. Beda penunjukkan meter pada debit 0,25Q maks, 0,40Q maks dan Q maks tidak boleh lebih besar dari 0,33%.

PEMBERIAN TANDA TERA Tempat pembubuhan dan/atau pemasangan tanda tera harus sedemikian rupa sehingga dapat dicegah adanya usaha pembukaan, penukaran dan/atau perubahan bagian yang dapat mengakibatkan perubahan sifat-sifat metrologisnya tanpa merusak tanda tera. Pembubuhan Tanda Tera (1) Tera a. Tanda Daerah (D8), Tanda Pegawai Berhak (H) dan Tanda ah (L6) dibubuhkan pada lemping dari logam tahan karat berbentuk persegi panjang yang dipasang dan diikat dengan kawat segel serta dijamin dengan tanda jmainan (JP8). b. etiap bagian dari meter yang memungkinkan dapat dilakukan perubahan kebenaran pengukuran, harus disegel dengan Tanda Jaminan (JP8) atau Tanda Jaminan (J) yang sesuai ukurannya. (2) Tera ulang Pembubuhan dan/atau pemasangan tanda tera dilakukan sesuai Pasal 15 angka (1) huruf a dan b, dengan ketentuan Tanda Jaminan (JP8) pada Pasal 15 angka (1) huruf a diganti dengan Tanda ah (P6) tahun bersangkutan.

LANGKAH-LANGKAH PENGUJIAN arana yang diperlukan untuk melakukan pengujian meliputi : 1) Master meter (meter induk) gas yang mempunyai debit dan resolusi yang sesuai dengan meter gas yang akan diuji yang tersusun dalam instalasi pengujian khusus. 2) ertifikat Master meter (meter induk). 3) Thermometer yang mempunyai resolusi 0,1 C. 4) Manometer yang sesuai dengan tekanan kerja maksimum dengan resolusi 1 mmh 2 O. 5) Flow indicator / atau dengan bantuan top watch. 6) Counter pulse. 7) Cerapan/formulir pengujian Persiapan 1) Pasang meter gas yang akan diuji pada instalasi yang sesuai dengan debit maksimumnya ( untuk meter turbin, gunakan pipa pelurus pada bagian hulu dan hilir ). 2) Jika menggunakan counter pulse terpisah, pasangkan pada generator pulsa dari master meter yang digunakan. 3) Pasang selang untuk tekanan pada saluran masuk meter gas yang akan diuji. 4) Pasang thermometer pada meter induk dan meter gas yang akan diuji. 5) Catat data teknis meter induk dan meter gas yang akan diuji pada cerapan pengujian. 6) Catat suhu dan kelembaban ruangan instalasi pengujian. Pemilihan Debit / Kecepatan alir Debit Pengujian Meter Gas tipe baru (1) Meter-meter dengan daerah ukur 1:10 s/d 1:30 dilakukan pada :

Q min, 0,05Q maks dan 0,10Q maks (jika nilainya lebih besar dari Q min ), 0,25Q maks, 0,40Q maks, 0,70Q maks dan Q maks. (2) Meter-meter dengan daerah ukur 1:50 dilakukan pada Q min, 0,15Q maks, 0,25Q maks, 0,40Q maks, 0,70Q maks dan Q maks Debit Pengujian pada Tera dan Tera Ulang 1) Pengujian dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) debit pada : atu debit antara Qmin dan Qt.( hindari pada Qt ) atu debit pada 0,40 Qmaks. atu debit pada Qmaks. Untuk memudahkan pemilihan debit tersebut, perlu diperhatikan ratio dari masing2 meter gas yang akan diuji. Penentuan debit minimum dan debit transisi sesuai dengan tabel berikut dan ketentuan Debit Transisi (Q t ) yaitu debit yang terletak diantara Q min dan Q maks yang nilainya adalah: 0,20 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 10 dan 1 : 20 0,15 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 30 0,10 Q maks untuk meter dengan daerah ukur 1 : 50 Tanda Pengenal Meter G Debit Maksimum Qmaks (m³/h) Daerah ukur 0,40 Qmaks 1 : 10 1 : 20 1 : 30 1 : 50 (m³/h) Debit antara Q min dan Qt (m³/h) 16 25 2,5 ~ 5 1,3 ~ 5 0,8 ~ 3,75 0,5 ~ 2,5 25 40 4 ~ 8 2 ~ 8 1,3 ~ 6 0,8 ~ 4 16 10 40 65 6 ~ 13 3 ~ 13 2 ~ 9,75 1,3 ~ 6,5 26 65 100 10 ~ 20 5 ~ 20 3 ~ 15 2 ~ 10 40

100 160 16 ~ 32 8 ~ 32 5 ~ 24 3 ~ 16 64 160 250 25 ~ 50 13 ~ 50 8 ~ 37,5 5 ~ 25 100 250 400 40 ~ 80 20 ~ 80 13 ~ 60 8 ~ 40 160 400 650 65 ~ 32 ~ 20 ~ 13 ~ 65 260 130 130 97,5 650 1000 100 ~ 50 ~ 32 ~ 20 ~ 400 200 200 150 100 1000 1600 160 ~ 80 ~ 50 ~ 32 ~ 640 320 320 240 160 PERHITUNGAN-PERHITUNGAN 1) Kesalahan Akibat Beda Penunjukan ( 1 ) 1 W - M x 100 % M Dimana : W : Penunjukan volume meter gas yang diuji M : Penunjukan volume standar / master meter (meter induk). 2) Kesalahan Akibat Beda Tekanan ( 2 ) 2 P -P x 0,01% W M Ingat : tekanan dalam satuan mmh 2 O 3) Kesalahan Akibat Beda uhu ( 3 ) 3 t -t x 0,34 % m w 4) Kesalahan Master Meter ( 4 ) 4 = M 5) Prosentase Kesalahan Meter Gas Yang Diuji ( W )

W 1 2 3 M NOTAI Q maks Q min Q t : Debit maksimum : Debit minimum : Debit transisi Q : Debit ( Kecepatan alir ) P W : Tekanan pada meter gas yang diuji ( mmh2o ) t w : uhu meter yang diuji ( Celsius ) W a W b W : Penunjukan volume awal pada meter yang diuji : Penunjukan volume akhir pada meter yang diuji : Volume uji pada meter yang diuji P M : Tekanan pada master meter (meter induk) ( mmh2o ) t M : uhu pada master meter (meter induk) ( Celsius ) M a M b M M 1 2 3 W : Penunjukan volume awal pada master meter (meter induk) : Penunjukan volume akhir pada master meter (meter induk) : Volume uji pada master meter (meter induk) : Kesalahan master meter (meter induk) : Kesalahan akibat beda penunjukan : Kesalahan akibat beda tekanan : Kesalahan akibat beda suhu : Kesalahan meter gas yang diuji. PERYARATAN METROLOGI 1) Batas kesalahan penunjukan maksimum yang diijinkan (BKD) pada tera dan tera ulang pada meter turbin dan rotary piston adalah sebagai berikut : Debit Q (m³/h) Qmin Q Qt Qt Q Qmax Batas Kesalahan maksimum yang Diijinkan ( BKD ) T e r a ± 2 % ± 1 % Tera Ulang ± 4 % ± 2 %

2) Untuk meter yang mempunyai dua alat penghitung, nilai kesalahan penunjukan maksimum yang diijinkan berlaku bagi alat penghitung volume pada kondisi meter. 3) Batas Ketidaktetapan (beda kesalahan penunjukan yang terbesar dari 3 kali pengujian pada kondisi yang sama) yang diijinkan pada pengujian tera dan tera ulang adalah sebesar 0,5 %. Rangkuman : 1. Prinsip Kerja meter turbin adalah : aliran fluida yang melewati flowmeter akan memutarkan turbin, dimana poros turbin tersebut akan memutarkan roda gigi, dan selanjutnya roda gigi tersebut akan memutarkan perangkat indicator. Perbandingan roda gigi ini disesuaikan dengan jumlah fluida yang mengalir. 2. Pelaksanaan peneraan meter gas diatur dalam Keputusan Direktur Metrologi Nomor : Met.4005/722/1993 Tentang yarat-syarat teknis khusus Meter gas rotary piston dan turbin 3. arana yang diperlukan untuk melakukan pengujian meliputi : a. Master meter (meter induk) gas yang mempunyai debit dan resolusi yang sesuai dengan meter gas yang akan diuji yang tersusun dalam instalasi pengujian khusus. b. ertifikat Master meter (meter induk). c. Thermometer yang mempunyai resolusi 0,1 C. d. Manometer yang sesuai dengan tekanan kerja maksimum dengan resolusi 1 mmh 2 O. e. Flow indicator / atau dengan bantuan top watch. f. Counter pulse. g. Cerapan/formulir pengujian 4. Metode pengujian meter gas industri dilakukan dengan metode : - Metode ungkup Uji / Bell Prover. - Metode Master Meter.

5. Perhitungan kesalahan meter gas adalah : - Kesalahan Akibat Beda Penunjukan ( 1 ) 1 W - M x 100 % M - Kesalahan Akibat Beda Tekanan ( 2 ) 2 P -P x 0,01% W M Ingat : tekanan dalam satuan mmh 2 O - Kesalahan Akibat Beda uhu ( 3 ) 3 t -t x 0,34 % m w - Kesalahan Master Meter ( 4 ) 4 = M - Prosentase Kesalahan Meter Gas Yang Diuji ( W ) W 1 2 3 M Contoh oal : 1. Dalam suatu pengujian meter gas pada instalasi yang menggunakan pompa isap, diperoleh data tekanan saluran masuk pada meter yang diuji = - 100 mmh 2 O, dan pada master meter = - 120 mmh 2 O, tentukan besarnya kesalahan akibat beda tekanan. Jawab : - Kesalahan Akibat Beda Tekanan 2 P -P x 0,01% W M = ( - 100 + 120 ) x 0,01 % = + 0,2 % 2. Dalam suatu pengujian meter gas pada instalasi yang menggunakan pompa isap, diperoleh data penunjukan meter yang diuji = 100 m3, dan pada master meter = 100,1 m3. Tentukan besarnya kesalahan akibat beda penunjukan. Jawab : - Kesalahan Akibat Beda Penunjukan

W - M x 100 % 1 M 100-100,1 = -------------------- x 100 % = - 0,0999 % 100,1 3. Dalam suatu pengujian meter gas pada instalasi, diperoleh data temperatur saluran masuk pada meter yang diuji = 25,5 0 C, dan pada master meter = 25,8 0 C, tentukan besarnya kesalahan akibat beda suhunya. Jawab : Kesalahan Akibat Beda uhu ( 3 ) 3 t -t x 0,34 % m w = ( 25,8 25,5 ) x 0,34 % = + 0,102 % oal2 Latihan : 1. Dalam suatu pengujian meter gas pada instalasi yang menggunakan pompa isap, diperoleh data penunjukan meter yang diuji = 100 m3, dan pada master meter = 100,2 m3. temperatur saluran masuk pada meter yang diuji = 25,8 0 C, dan pada master meter = 25,5 0 C dan tekanan saluran masuk pada meter yang diuji = - 120 mmh 2 O, dan pada master meter = - 150 mmh 2 O. edangkan data teknisnya adalah Merek : Instromet Tipe G 100 No seri : 09000555 Diuji pada debit 100 m 3 /h Pertanyaan : a. Tentukan berapa kapasitas maksimum meter gas tersebut? b. Jika meter gas tersebut memiliki debit minimum 16 m 3 /h, berapa besarnya debit transisinya? c. berapa besarnya kesalahan meter gas, jika kesalahan pada master meternya adalah : + 0,15 % d. Apakah meter gas tersebut dapat disahkan?

2. Diketahui meter gas memiliki data sbb : Merek : RMG Nomor seri : 1110025 Debit maksimum : 400 m 3 /h Ratio meter gas adalah 1 : 50 Tentukan : a. Tipe meter gas tersebut. b. Besarnya debit minimum dan debit transisinya. c. Jika meter tersebut akan ditera ulang, pada debit berapa meter tersebut harus dilakukan? d. ebutkan tata cara pembubuhan tanda tera pada tera ulang meter gas tersebut.

Pengujian Meter Gas Turbin dan Rotary Piston dengan Menggunakan Master Meter BALAI DIKLAT METROLOGI Model : IK- No. Order PEMILIK : ALAMAT : Meter Gas yang diuji Meter Induk (Master Meter) Tipe/ Model : Merek : No. seri : Tipe/ Model : Pmaks : No. seri : Qmaks : Qmaks : Qmin : Qmin : Qt : : No. Uraian Formula atuan Pengamatan 1 2 3 1. Meter yang diuji Kecepatan alir Q m 3 /h Tekanan lubang masuk P W mmh 2O uhu rata-rata t W C Pembacaan Akhir W2 m³ Pembacaan Awal W1 m³ Volume yang diukur W = W2 W1 m³ 2. Meter Induk Tekanan lubang masuk P M mmh 2O uhu rata-rata t M C Pembacaan Akhir M2 m³ Pembacaan Awal M1 m³ Volume yang diukur M = M2 M1 m³ 3. Perhitungan Beda penunjukan 1 = (W-M)/M x 100 % Beda tekanan 2 = (P W-P M) x 0,01 % Beda suhu 3 = (t M t W) x 0,34 % Kesalahan master meter M % Kesalahan penunjukan meter yang diuji W = 1+2+3+ M % Kesalahan penunjukan rata rata : % Ketidaktetapan % Totalisator akhir Cap pada lemping Penyegelan : : :...... PETUGA JABATAN NAMA DAN PARAF TANGGAL KETERANGAN ah / Batal * )

Pengujian Meter Gas Turbin dan Rotary Piston Menggunakan Bell Prover BALAI DIKLAT METROLOGI PUDIKLAT PERDAGANGAN Model : IK- No. Order PEMILIK : ALAMAT : Meter Gas yang diuji Bell Prover Tipe/ Model : Merek : No. seri : Tipe/ Model : Pmaks : No. seri : Qmaks : Qmaks : Qmin : Qmin : Qt : : No. Uraian Formula atuan Pengamatan 1 2 3 1. Meter yang diuji Kecepatan alir Q m 3 /h Tekanan lubang masuk P W mmh 2O uhu rata-rata t W C Pembacaan Akhir W2 m³ Pembacaan Awal W1 m³ Volume yang diukur W m³ 2. Bell Prover Tekanan lubang masuk P M mmh 2O uhu rata-rata t M C Pembacaan Akhir B2 m³ Pembacaan Awal B1 m³ Volume yang diukur B m³ 3. Perhitungan Beda penunjukan 1 = (W-B)/B x 100 % Beda tekanan 2 = (P W-P B) x 0,01 % Beda suhu 3 = (t B t W) x 0,34 % Kesalahan bell prover B % Kesalahan penunjukan meter yang diuji W = 1+2+3+ B % Kesalahan penunjukan rata rata : % Ketidaktetapan % Totalisator akhir Cap pada lemping Penyegelan : : :...... PETUGA JABATAN NAMA DAN PARAF TANGGAL KETERANGAN ah / Batal * )

Instalasi Uji Meter Gas.