Definisi Redenominasi

dokumen-dokumen yang mirip
JAKARTA, 23 JANUARI 2013 MATERI DAN TAYANGAN INI ADALAH ILUSTRASI DAN HANYA DIGUNAKAN UNTUK TUJUAN KONSULTASI PUBLIK TENTANG PERUBAHAN HARGA RUPIAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. uang Vietnam. Vietnam mencetak pecahan Dong sebagai pecahan mata

BUTIR-BUTIR KONFERENSI PERS PEJABAT GUBERNUR BANK INDONESIA MENGENAI REDENOMINASI RUPIAH 3 AGUSTUS 2010

BAB I PENDAHULUAN. fiskal maupun moneter. Pada skala mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya,

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

Laporan Perekonomian Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. efektif dan efisien. Alat tersebut dinamakan dengan uang.

1. Tinjauan Umum

BAB I PENDAHULUAN. fungsi sebagai penyimpan nilai, unit hitung, dan media pertukaran.

PROSPEK PELAKSANAAN REDENOMINASI DI INDONESIA (Prospects of Redenomination Implementation in Indonesia)

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi. Dimana pertumbuhan ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Ekonomi dunia telah mengalami perubahan radikal dalam dua

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

BAB I PENDAHULUAN. proses pertukaran barang dan jasa serta untuk pembayaran utang. Pada umumnya setiap

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang telah berlangsung cukup lama di Indonesia

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

BOKS 3 Survei Optimalisasi Penggunaan Alat Pembayaran Non Tunai Di Sulawesi Tenggara

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang

BAB I PENDAHULUAN. kali lelang SBI tidak lagi diinterpretasikan oleh stakeholders sebagai sinyal

INFLATION TARGETING FRAMEWORK SEBAGAI KERANGKA KERJA DALAM PENERAPAN KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. saat ini untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa yang akan datang. Atau bisa juga

BAB I PENDAHULUAN. melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara berkembang yang menggunakan sistem perekonomian terbuka.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan

I. PENDAHULUAN. membangun infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum. pasar yang tidak sempurna, serta eksternalitas dari kegiatan ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan yang terencana. Perencanaan wilayah adalah mengetahui dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan perkembangan ekonomi, baik perkembangan ekonomi domestik

I. PENDAHULUAN. Uang merupakan alat pembayaran yang secara umum dapat diterima oleh

BAB I PENDAHULUAN. Semenjak krisis ekonomi menghantam Indonesia pada pertengahan

BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam memobilisasi dana dari masyarakat yang ingin

BAB I PENDAHULUAN. inflasi yang rendah dan stabil. Sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2004 Pasal 7,

I. PENDAHULUAN. Hampir semua transaksi perdagangan internasional pada saat ini menggunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah)

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/7/PBI/2017 TENTANG PEMBAWAAN UANG KERTAS ASING KE DALAM DAN KE LUAR DAERAH PABEAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG Permintaan uang mempunyai peranan yang sangat penting bagi

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan sektor properti dan real estat yang ditandai dengan kenaikan

PBI No.17/3/PBI/2015 Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Ringkasan eksekutif: Penyesuaian berlanjut

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

BAB I PENDAHULUAN. tantangan yang cukup berat. Kondisi perekonomian global yang kurang

I. PENDAHULUAN. rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan.

SURVEI PERSEPSI PASAR

I. PENDAHULUAN. Pemilik modal (investor) yang akan menginvestasikan dananya di

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mekanisme transmisi kebijakan moneter didefenisikan sebagai jalur yang

SURVEI PERSEPSI PASAR

PEREKONOMIAN INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

MEMINIMALISIR DEPRESIASI NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA

BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website :

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan penawaran (supply) dan permintaan (demand) dana jangka

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. intermediasi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan suatu perekonomian.

BAB I PENDAHULUAN. dimana kebutuhan ekonomi antar negara juga semakin saling terkait, telah

BAB I PENDAHULUAN. terhadap lesunya perekonomian global, khususnya negara-negara dunia yang dilanda

BAB I PENDAHULUAN. didunia, termasuk Indonesia. Apabila inflasi ditekan dapat mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada

Boks 2. SURVEI KEBUTUHAN UANG KOTA JAMBI

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

I. PENDAHULUAN. Nilai tukar mata uang adalah catatan harga pasar dari mata uang asing (foreign

I. PENDAHULUAN. kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk mencapai tujuannya yaitu

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/ 8 / PBI/ 2013 TENTANG TRANSAKSI LINDUNG NILAI KEPADA BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. kondisi anggaran pendapatan belanja negara (APBN) selalu mengalami budget

BAB I PENDAHULUAN. Inflasi adalah fenomena yang selalu ada di setiap negara dan merupakan

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan

-2- Mekanisme yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini adalah bahwa Pembawaan UKA dengan jumlah yang nilainya paling sedikit setara dengan Rp1.0

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mewujudkan pembangunannya, suatu negara membutuhkan biaya yang

SKRIPSI. Kausalitas Jumlah Uang Beredar Terhadap Inflasi. di Indonesia Tahun

Prospek Ekonomi Regional ASEAN ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) Ringkasan

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan

Transkripsi:

Topik Pembahasan 2 1. Latar Belakang 2. Implikasi dari Denominasi Rupiah Dewasa Ini 3. Redenominasi 4. Motivasi Redenominasi Rupiah 5. Tantangan Redenominasi Rupiah 6. Simpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Latar Belakang 3 Dengan semakin berkembangnya perekonomian, jumlah digit mata uang Rupiah yg digunakan dlm transaksi dan pencatatan data statistik akan semakin bertambah. Saat ini, digit mata uang Rupiah merupakan yang terbesar kedua di dunia. Kebutuhan mata uang berdenominasi lebih besar akan meningkat sejalan dengan kegiatan ekonomi yang semakin tumbuh dan berkembang. Kondisi tersebut akan mengakibatkan inefisiensi dalam perekonomian, ketidaknyamanan dalam menggunakan uang Rupiah, serta kendala teknis dalam transaksi pembayaran non-tunai dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Hal-hal tersebut menjadi dasar pertimbangan perlunya dilakukan redenominasi Rupiah.

Definisi Redenominasi Redenominasi mata uang Rupiah adalah proses menyederhanakan penyebutan / penulisan denominasi (pecahan) Rupiah dengan cara menghilangkan sejumlah angka nol tanpa mengurangi daya beli atau nilai mata uang tersebut. Redenominasi berbeda dengan sanering Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang karena harga-harga barang tidak mengalami perubahan, sehingga daya beli efektif masyarakat menurun. Sanering pernah dilakukan Indonesia tahun 1959, nilai uang kertas diturunkan dari Rp 1.000,- menjadi Rp100,- dan dari Rp500,- menjadi Rp 50,- sehingga harga-harga barang mengalami kenaikan yang tajam. Kebijakan sanering saat itu ditujukan untuk mengurangi jumlah uang beredar akibat melonjaknya harga-harga barang dan jasa. 4

Implikasi Denominasi Rp Saat ini 5 Inefisiensi perekonomian, terutama sebagai akibat: 1. Waktu dan biaya transaksi cukup besar. 2. Kebutuhan pengembangan infrastruktur untuk sistem pembayaran non-tunai dimasa mendatang dengan biaya yang cukup signifikan. 3. Meningkatnya biaya pengadaan uang baru dgn pecahan yg lebih besar untuk mengakomodasi kebutuhan pembayaran tunai yang semakin meningkat. Aspek psikologis, terutama sebagai akibat: 1. Nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing termasuk yang terendah diantara negara ASEAN. 2. Nilai riil uang rupiah sangat rendah diukur dari transaksi untuk membiayai keperluan masyarakat sehari-hari. Banyaknya digit angka menimbulkan kendala teknis, terutama pada 1. alat transaksi yang digunakan sehari-hari seperti: argo taxi dan pompa bensin, mesin kasir. 2. beban penyimpanan, pengolahan dan pelaporan data. Kendala penyajian data secara angka penuh a.l. data PDB mencapai 16 digit. 3. penyesuaian sistem aplikasi dari waktu kewaktu. Terdapat transaksi dengan jumlah digit melebihi maksimal 14 digit yg tersedia dalam aplikasi sehingga harus dilakukan pemecahan transaksi.

Motivasi Pelaksanaan Redenominasi Rupiah Untuk mengatasi tantangan dan kendala teknis, meningkatkan efisiensi perekonomian, serta memupuk kebanggan nasional akan mata uang rupiah maka diperlukan kebijakan redenominasi mata uang Rupiah. Efisiensi perekonomian terjadi pada banyak aspek, a.l: sistem pembayaran lebih efisien, harga-harga yang tercantum lebih sederhana, proses pencatatan, penyimpanan, pengelolaan, dan pelaporan data dalam laporan keuangan/ statistik lebih pendek, cepat, dan dapat disajikan dalam angka penuh, dan dalam aspek Teknologi Informasi, redenominasi akan mengurangi penyesuaian software dan hardware yang diperlukan terkait keterbatasan software dan hardware tersebut dalam mengakomodir digit angka yang semakin besar. Berkurangnya hambatan / kendala teknis berupa risiko kemungkinan kesalahan manusia dalam proses pembukuan transaksi atau kegiatan statistik lainnya. Persepsi/kepercayaan masyarakat lebih tinggi terhadap uang Rupiah: harga berubah pada kisaran yang lebih sempit mendukung upaya mengarahkan ekspektasi inflasi ke level yang lebih rendah, mengurangi risiko currency substitution. Hal ini mendukung nilai Rupiah yang lebih stabil, Mendukung kesetaraan ekonomi dg kawasan dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. 6

Prasyarat dan Tantangan Pelaksanaan Redenominasi Rupiah 7 Kunci keberhasilan program redenominasi: 1. Stabilitas makroekonomi. 2. Dukungan yang penuh dari seluruh lapisan masyarakat termasuk pemerintah, parlemen, otoritas terkait, dan pelaku bisnis. 3. Tersedianya landasan hukum yang cukup kuat yang mengatur redenominasi. 4. Sosialisasi kepada publik dan edukasi yang intensif agar : tidak terjadi kenaikan harga-harga secara berlebihan akibat tindakan pelaku ekonomi yang memanfaatkan struktur pasar oligopolistik untuk sejumlah barang kebutuhan pokok masyarakat. program redenominasi tidak dianggap sebagai program sanering, seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada 1965. 5. Pemilihan waktu pelaksanaan yang tepat Redenominasi dilakukan apabila seluruh prasyarat yang diperlukan bagi keberhasilan program redenominasi telah terpenuhi.

Mekanisme Pelaksanaan Redenominasi 8 Pada prinsipnya akan dilakukan penggantian mata uang Rupiah lama dengan Rupiah baru. Seluruh aset dan kewajiban dalam Rupiah lama (termasuk tabungan di bank), harga-harga jual beli, sewa, dan kontrak (termasuk upah dan gaji) akan di redenominasikan dengan menghilangkan angka nol misalnya sebanyak 3 buah. Pada masa transisi harga-harga akan dinyatakan dalam 2 pecahan mata uang Rupiah lama dan Rupiah batu dan setiap orang dapat menentukan akan membayar dalam uang Rupiah lama atau Rupiah baru.

Ilustrasi Penyederhanaan Nominal Rupiah 9 Rupiah Lama Rupiah Baru Jika disederhanakan penulisan/penyebutan 1 angka 0 2 angka 0 3 angka 0 4 angka 0 Rp 100.000,- Rp 10.000,- Rp 1.000,- Rp 100,- Rp 10,- Rp 50.000,- Rp 5.000,- Rp 500,- Rp 50,- Rp 5,- Rp 20.000,- Rp 2.000,- Rp 200,- Rp 20,- Rp 2,- Rp 10.000,- Rp 1.000,- Rp 100,- Rp 10,- Rp 1,- Rp 5.000,- Rp 500,- Rp 50,- Rp 5,- 50 Sen Rp 2.000,- Rp 200,- Rp 20,- Rp 2,- 20 Sen Rp 1.000,-(Koin maupun Rp 100,- Rp 10,- Rp 1,- 10 Sen Kertas) Rp 500,- (Koin maupun Rp 50,- Rp 5,- 50 Sen 5 Sen Kertas) Rp 200,- (Koin maupun Rp 20,- Rp 2,- 20 Sen 2 Sen Kertas) Rp 100,- (Koin maupun Kertas) Rp 10,- Rp 1,- 10 Sen 1 Sen Nilai Rupiah akan setara dengan Won Korea Yen Jepang Yuan China dan Dolar Hong Kong Euro dan Dolar AS

Ilustrasi Kesetaraan Harga 10 Komoditas/Jasa Harga dalam Rupiah Lama Harga dalam Rupiah Baru (jika penyederhanaan 3 angka nol) Bahan Bakar Premium per liter Rp 4.500 Rp 4 dan 50 Sen Beras per Kg Rp 6.000 Rp 6 Tarif Transjakarta Rp 3.500 Rp 3 dan 50 Sen Nilai Tukar Rupiah terhadap Rp 9.000 Rp 9 USD Harga Saham X per lembar Rp 370 37 Sen Gaji /Upah Rp 8.500.000 Rp 8.500

Tahapan kebijakan redenominasi 11 Secara garis besar, pengalaman beberapa negara yang telah melaksanakan redenominasi menempuh beberapa tahapan yang dibagi dalam 4 (empat) tahapan besar, yaitu: Tahap penyiapan a.l. penyusunan blue print langkah-langkah pelaksanaan, dasar hukum yg kuat (dapat berupa UU) atau produk hukum lainnya untuk pelaksanaan program redenominasi, evaluasi atas sistem pembayaran, sistem akuntansi dan TI. Penyusunan strategi komunikasi & sosialisasi kepada Pemerintah & stakeholders serta edukasi kepada masyarakat luas. Rencana pencetakan uang & strategi distribusinya. dll. Tahap pemantapan a.l. meliputi: pelaksanaan komunikasi & koordinasi dg Pemerintah, sosialisasi kepada stakeholders & edukasi kepada masyarakat luas. Penyesuaian infrastruktur sistem pembayaran, akuntansi & TI. Dll Tahap implementasi dan transisi: penerbitan uang baru bersama-sama dg tetap berlakunya uang lama (dual circulation); penerapan dual price tagging serta penarikan uang lama secara bertahap sesuai kebutuhan perekonomian. penerapan dual book entry/pelaporan apabila diperlukan dll. Tahap phasing out a.l.: penarikan uang lama dan pernyataan tidak berlakunya uang lama serta penggunaan uang baru sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Agar tahapan ini berjalan lancar, kegiatan ini merupakan satu kesatuan dg kegiatan Pemerintah yang dikoordinasikan dg erat serta mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Kesimpulan 12 1. Kita membutuhkan Redenominasi. Dengan proyeksi perekonomian Indonesia yang tumbuh pesat, banyaknya jumlah digit denominasi Rupiah dalam jangka panjang akan menyebabkan kegiatan ekonomi yg kurang efisien, ketidaknyamanan secara psikologis bagi masyarakat dalam melakukan transaksi tunai, dan menimbulkan kendala teknis. Kebijakan redenominasi merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi perekonomian, meningkatkan kebanggaan nasional akan mata uang rupiah, dan mengatasi berbagai kendala teknis. 2. Saat ini waktu yang tepat. Dari sisi makroekonomi, perkiraan kondisi makroekonomi yg terjaga hingga tahun 2014, khususnya path inflasi yang menurun dan pertumbuhan yang meningkat, memberikan ruang yang kondusif dan timing yang tepat untuk pelaksanaan redenominasi mata uang Rupiah. 3. Risiko-risiko harus di mitigasi. Terutama risiko ketidakpastian ekonomi global maupun kondisi sosial politik di dalam negeri dan utamanya dukungan penuh dari masyarakat

Rekomendasi 13 1. Redenominasi menjadi Komitmen Nasional. Koordinasi yg baik dg Pemerintah diperlukan untuk menyusun program stabilisasi makroekonomi yang terpadu shg stabilitas perekonomian dapat terjaga s.d. 2014 sehingga kondusif bagi pelaksanaan redenominasi Rupiah. Selain itu, dukungan politis dari DPR juga perlu digalang utk menciptakan kondisi sosial politik yg kondusif selain dukungan dari masyarakat luas. Persiapan yang matang serta penanganan mitigasi risiko yang komprehensif juga perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan program redenominasi. 2. Masih perlu dilakukan kajian lanjutan yang lebih mendalam dengan dukungan data dan informasi yang lebih komprehensif, termasuk melalui survei terhadap masyarakat luas, perbankan dan sektor keuangan, serta lembaga terkait lainnya. 3. Komunikasi dan Sosialisasi intensif kepada seluruh lapisan masyarakat.