II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Fiskal vs Moneter Kebijakan Mana Yang Lebih Effektif?

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

III. METODE PENELITIAN

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan

Contoh Proposal Skripsi Makalahmudah.blogspot.com

The Production Process and Cost (I)

III. METODE PENELITIAN

Hubungan Layanan Informasi Dengan Kreativitas Belajar Siswa

HUBUNGAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN DASAR SURVEY

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Analisis Pengaruh Marketing Mix Terhadap Kepuasan Konsumen Sepeda Motor

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri

BAB 2 LANDASAN TEORI

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian,

BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek

II. TINJAUAN PUSTAKA

KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK

BAB II Tinjauan Teoritis

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.

BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH?

Analisis Numerik Ragam pada Pelat Utuh dan Retak: Studi Interaksi Dinamis Struktur dengan Udara ABSTRAK

Gambar 4.3. Gambar 44

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER

ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU

ANALISA PENGARUH SISTEM MANAJEMEN TQC TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN PRODUK (STUDI KASUS PADA PT. SINAR KAYU ABADI SURABAYA)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Asosiatif dengan

BAB. III METODE PENELITIAN. A.Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

HUKUM COULOMB Muatan Listrik Gaya Coulomb untuk 2 Muatan Gaya Coulomb untuk > 2 Muatan Medan Listrik untuk Muatan Titik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh

HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang

1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH

BAB 3 SEJARAH SINGKAT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) 3.1 Sejarah Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA

TINJAUAN PUSTAKA A. Perambatan Bunyi di Luar Ruangan

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan asosiatif simetris, yaitu hubungan yang bersifat sebab-akibat yang

Ini merupakan tekanan suara p(p) pada sembarang titik P dalam wilayah V seperti yang. (periode kedua integran itu).

Pengaturan Footprint Antena Ground Penetrating Radar Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut dalam

EVALUASI DANA PENSIUN DENGAN METODE BENEFIT PRORATE CONSTANT PERCENT. Abstrak

BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan verifikatif.

PERKIRAAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK PENINGKATAN JARINGAN DAERAH RAWA BERDASARKAN PERKIRAAN BIAYA DAN LUAS AREAL LAYANAN IRIGASI

PENGARUH KINERJA KEPALA DESA TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI KERJA PERANGKAT DESA. (Studi pada Desa Sumbergede Kec. Sekampung Kab.

III. METODE PENELITIAN. ilmiah, apabila penelitian tersebut menggunakan metode atau alat yang tepat. dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh

BAB III METODE PENELITIAN

VDC Variabel. P in I = 12 R AC

Bahan Ajar Listrik Statis Iqro Nuriman, S.Si, M.Pd SMA Negeri 1 Maja LISTRIK STATIS

Torsi Rotor Motor Induksi 3. Perbaikan Faktor Daya

BAB 2 DASAR TEORI. on maka S 1. akan off. Hal yang sama terjadi pada S 2. dan S 2. Gambar 2.1 Topologi inverter full-bridge

III. METODE PENELITIAN. menggunakan kuesioner sebagai teknik pokok. Penelitian yang bersifat

IV. METODE PENELITIAN. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

Seminar Nasional Pendidikan Biologi FKIP UNS 2010

ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN AYAM POTONG DI UD. SUPPLIER DAGING AYAM KOTA TANGERANG

Dan koefisien korelasi parsial antara Y, X 2 apabila X 1 dianggap tetap, dinyatakan sebagai r y 2.1 rumusnya sebagai berikut:

ANALISIS TAHAN HIDUP DATA TERSENSOR TIPE II MENGGUNAKAN MODEL DISTRIBUSI WEIBULL PADA PENDERITA HEPATITIS C

B. Konsep dan Variabel Penelitian BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan penulis adalah

PENGARUH MODEL PRODUK TERHADAP TINGKAT VOLUME PENJUALAN Studi Kasus Pada Telepon Selular Merek Nokia Pada PT. Bimasakti

Komponen Struktur Tekan

Gerak Melingkar. B a b 4. A. Kecepatan Linear dan Kecepatan Anguler B. Percepatan Sentripetal C. Gerak Melingkar Beraturan

III. TEORI DASAR. Metoda gayaberat menggunakan hukum dasar, yaitu Hukum Newton tentang

BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengertian Umum

Gerak Melingkar. Gravitasi. hogasaragih.wordpress.com

BAB IV ANALISIS DATA. analisis paired sample T-test yaitu Ada atau tidaknya Pengaruh Terapi Rational

r, sistem (gas) telah melakukan usaha dw, yang menurut ilmu mekanika adalah : r r

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari aplikasi Fisika Kuantum dalam fisika atom

Liston Hasiholan 1) dan Sudradjat 2)

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 89 TAHUN 2013 TENTANG PANDUAN RANCANG KOTA KORIDOR CILEDUG

BAB III METODE PENELITIAN

III. TEORI DASAR. aliran listrik di dalam bumi dan cara mendeteksinya di permukaan bumi.

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini adalah Madrasah Hifzhil. Yayasan Islamic Centre Medan yang terletak di Jl.

I Wayan Teresna 1, Djoko Suhantono 1. Bali,Phone : , Fax: Abstrak

Hand Out Fisika 6 (lihat di Kuat Medan Listrik atau Intensitas Listrik (Electric Intensity).

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING

TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1

INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.. Konsep Dasa Infastuktu Salah satu ko mpo nen pe laya nan publik yang dilakuka n oleh pe meintah adalah penyediaan infastuktu. Penyelenggaaan pelayanan umum dalam bentuk infastuktu mempunyai pengauh tehadap kesejahteaan masyaakat di suatu wilayah. Dengan infastuktu yang baik, petumbuhan ekonomi wilayah akan lebih mudah tumbuh da n be ke mba ng. Selain itu, kualitas infastuktu yang ba ik akan dapat pula meningkatkan kualitas hidup masyaakat melalui peningkatan kualitas lingkungan. Lebih lanjut, kebeadaan infastuktu akan mendoong tejadinya peningkatan poduktifitas bagi fakto-fakto poduksi dan sebaliknya apabila mengabaikannya akan menuunkan poduktivitas. Sejauh ini, pengetian infastuktu sudah sangat luas. Meskipun demikian, suatu pengetian infastuktu yang sangat luas diakui pada saat ini adalah infastuktu yang beka itan de ngan jalan-jalan aya (oads), saluan pembuangan (sewe) dan sejenisnya pada sebuah kota atau wilayah tetentu. Kaena mengikuti pengetian wilayah tetent u, ko mpo nen-komponen sepeti ini seing dikelompokkan dan disebut civil infastuctue, municipal infastuctue atau hanya disebut public woks, meskipun komponen-komponen itu dibangun dan diop easika n seba gai peusahaan swasta atau peusahaan BUMN (Ja fa, 2007). The Ameican Heitage Dictionay mendefinisikan infastuktu adalah the basic facilities, sevices and installations needed fo the functioning of a community o society, such as tanspotation and communications systems, wate and powe lines, and public institutions including schools, post offices, and

24 pisons. Sedangkan dalam lapoan Congessional Budget Office (CBO) USA tahun 983, infastuktu didefinisikan: infastuctue as facilities with the common chaacteistics of capital intensiveness and high public investment at all levels of govenment. They ae, moeove, diectly citical to activity in the nation s economy. Pada definisi CBO ini infastuktu itu tedii atas highways, public tansit systems, wastewate teatment woks, wate esouces, ai taffic contol, aipots, and municipal wate supply in this categoy (Moteff dan Pafomak, 2004). Pada dasanya, infastuktu memiliki ati yang bebeda-beda tegantung dai konteksnya namun demikian, umumnya infastuktu ini dipahami sebagai suatu poduk fisik, sepeti: jalan, jaingan dainase, jainga n ai minum dan instalasi listik yang tekait dengan konteks infastuktu sipil dan pekotaan. Akan tetapi, definisi infastuktu tidak hanya meliputi pengetian sepeti di atas, posedu opeasi seta kebijakan pembangunan juga meupakan salah satu jenis infastuktu. Pembahasan ini kemudian dikenal istilah Had Infastuctue dan Soft Infastuctue, yang pada akhinya kedua jenis infastuktu ini saling tekait dalam menciptakan layanan infastuktu secaa utuh. Bedasakan definisi tesebut infastuktu memiliki cakupan yang lebih luas (Soejo, 2007). Adanya ancaman teois yang begitu genca ke negaa Ameika Seikat semenjak peang dingin dua negaa adidaya Ameika Seikat-Uni Soviet usai, telah menggese definisi infastuktu dai kecukupan infastuktu (infastuctue adequacy), menjadi pelindungan infastuktu (infastuctue potection). Setelah penyeangan Septembe 200, negaa AS akhinya membentuk Office of Homeland Secuity da n Homeland Secuity Council yang betugas melindungi

25 infastuktu yang meliputi: () poduksi, tansmisi dan distibusi enegi seta fasilitas penting lainnya, (2) utilitas lainnya, (3) telekomunikasi, (4) fasilitas yang mempoduksi, menggunakan, menyimpan atau membuang bahan nukli, (5) sistem infomasi yang dimiliki publik dan swasta, (6) kegiatan penting nasional, (7) tanspotasi temasuk el, jaingan keeta, pelabuhan laut dan jalu laut, (8) pelabuhan udaa dan penebangan sipil, dan (9) petenakan, petanian, sistem iigasi dan makanan bagi konsumsi manusia (Moteff dan Pafomak, 2004). Salah satu pa nduan de finisi yang lebih lengkap adalah definisi dan klasifikasi. Menuut Ja fa (2007), dimana infastuktu yang selama ini digunakan sebagai indikato daya saing suatu negaa. Infastuktu dipilah menjadi tiga kategoi pokok, yaitu :. basic infastuctue, yang meliputi : (a) population and maket sie, (b) infastuctue maintenance and development, (c) oads, (d) distibution infastuctue, (e) ailoads, (f) ai tanspotation, (g) wate supply, (h) ubaniation, (i) enegy, (j) enegy poduction, (k) electicity cost fo industy, dan (l) self-suffiency di bida ng ba han baku non enegi. 2. technological infastuctue, yang mencakup: (a) investasi telekomunikasi, (b) jaingan telepon, (c) pelanggan telepon selule, (d) ongkos telepon intenasional, (e) koneksi ke intenet, (f) electonic commece, (g) keahlian IT, da n (h) kejasama teknologi. 3. scientific infastuctue, yang meliputi: (a) anggaan untuk iset dan pengembangan, (b) basic eseach, (c) development and application technological development, (d) science and eduction, (e) funding fo

26 technological development, (f) patents ganted fo esident, (g) secuing pattents aboad, dan (h) science and technology fo youth Menuut Masuki (2005) infastuktu pada dasanya meupakan aset pemeintah yang dibangun dalam angka membeikan pelayanan kepada masyaakat. Pinsipnya ada dua jenis infastuktu, yakni infastuktu pusat dan daeah. Infastuktu pusat adalah infastuktu yang dibangun pemeintah pusat untuk melayani kebutuhan masyaakat dalam skala nasional, sepeti jalan aya anta povinsi, pelabuhan laut dan udaa, jaingan listik, jaingan gas, telekomunikasi dan sebagainya. Sedang infastuktu daeah adalah infastuktu yang dibangun pemeintah daeah, sepeti penyediaan ai besih, jalan khas untuk kepentingan daeah paiwisata dan sebagainya. Ditinjau da i fungsinya, infastuktu dibedakan pula menjadi dua yakni infastuktu yang menghasilkan pendapatan dan yang tidak menghasilkan pendapatan. Jenis infastuku petama, umumnya dimanfaatkan sekelompok masyaakat tetentu, dimana dengan fasilitas yang disediakan masyaakat penggunanya dikenakan biaya, sepeti ai besih, listik, telepon, taman wisata dan sebagainya. Jenis infastuktu kedua, penyediaannya untuk dinikmati masyaakat umum, sepeti jalan aya, jembataan, saluan ai iigasi dan sebagainya, sehingga penggunanya tidak dikenai biaya. Penyediaan ai besih, listik, infastuktu dan sebagainya tidak sepenuhnya dapat diseahkan bedasakan mekanisme pasa saja. Ada sekelompok masyaakat yang tidak dapat menikmati pelayanan publik tetentu (ini bekaitan dengan aspek pemeataan), jika ditanga ni oleh sistem pasa/pivat. Gejala ini disebut kegagalan pasa (maket failue).

27 Salah satu bent uk intevensi pe meintah ada lah de ngan pe nyediaan baang-baang publik (public goods). Baang-baang publik memiliki dua kaakteistik yaitu non-excludability dan non-ivaly consumption. Kaakteistik non-excludability baang publik diatikan bahwa oang-oang yang membaya aga dapat mengkonsumsi baang itu tidak dapat dipisahkan dai oang-oang yang tidak memba ya tetapi dapat mengkonsumsinya juga. Sedangkan kaakteistik non ivaly consumption diatikan bahwa bila seseoang mengkonsumsi baang itu, oang lainpun mempunyai kesempatan mengkonsumsinya pula tanpa menguangi kepuasan oang lain. Pihak swasta tidak besedia menghasilkan baang publik (muni). Pemeintah yang haus menyediakannya aga kesejahteaan seluuh masyaakat dapat ditingkatkan. Intevensi pemeintah akan lebih menonjol dilakukan oleh pemeintah daeah yang beciikan pedesaan (ual). Ini disebabkan tuntutan masyaakat di pekotaan lebih mendesak daipada di pedesaan. Kenyataan yang tida k dapat dihindai adalah tejadinya pegesean baang/jasa pivat beubah menjadi baang/jasa publik (dan sebaliknya), misal pemadam kebakaan. Di pedesaan, pemadam kebakaan besifat baang/jasa pivat sehingga tidak dipelukan Dinas Pemadam Kebakaan, tetapi di pekotaan beubah menjadi baang/jasa publik. Konsekuensinya adalah bila semakin banyak baang/jasa pivat yang tidak dapat dihindai beubah sifat menjadi baang /jasa publik, maka beban pemeintah akan semakin tinggi. Petumbuhan beban pemeintah ini akan semakin belebihan bukan hanya kaena beubahnya baang pivat menjadi baang publik saja, tetapi teutama juga jika pemeintah tidak secaa selektif menentuka n batas-batas pekejaannya. Adakalanya baang/jasa yang sebenanya beciikan

28 baang/jasa pivat masih di poduksi atau subsidi oleh pemeintah. Kecendeungan munculnya beban tambahan pemeintah yang tidak dapat dihindai, maka efisiensi, efektivitas da n akuntabilitas penyelenggaaan pemeintahan dengan sendiinya semakin menjadi kebutuhan. Itulah sebabnya di banyak negaa dikembangkan paadigma einventing govenment. Dalam penyediaan public sevices oleh pemeintah, tidak tetutup kemungkinan tejadinya govenment failue. Dalam hal ini intevensi sekto pivat dapat dimungk inkan. Kajian teoi ekonomi pembangunan menuut Masuki (2005) dan Pof.Sjafial (2008 ) dikatakan bahwa untuk menciptakan dan meningkatkan kegiatan ekonomi dipelukan saana infastuktu yang memadai. Ilustasinya sedehana, seandainya semula tidak ada akses jalan lalu dibuat jalan maka dengan akses tesebut akan meningkatkan aktivitas peekonomian. Contoh lain di suatu komunitas bisnis, semula tidak ada listik maka dengan adanya listik kegiatan ekonomi di komunitas tesebut akan meningkat. Fungsi stategis infastuktu jelas tidak diagukan lagi tanpa pembangunan infastuktu yang mencukupi, kegiatan investasi pembangunan lainnya sepeti kegiatan poduksi, jelas tidak akan meningkat secaa signifikan. Diektu Jendal ADB untuk wilayah Asia Tenggaa mengatakan bahwa pembangunan infastuktu sangat penting untuk mendoong petumbuhan ekonomi yang dibutuhkan Indonesia dalam upaya menciptakan lapangan pekejaan dan melepaskan oang dai kemiskinan. Sebelum kisis ekonomi pada petengahan tahun 990-an, Indonesia mengalokasikan sekita 6% dai PDB untuk infastuktu. Saat ini, angka tesebut tuun menjadi sekita 2% dan ini sangat bedampak pada peekonomian Indonesia. Di Indonesia saat ini, sekita 50 juta

29 penduduk tidak mempunyai akses untuk mendapatkan ai besih, 90 juta penduduk tidak mendapatkan listik dan hampi 200 juta penduduk tidak memiliki akses langsung ke jaingan telepon dan saluan pembuangan limbah. Kaum miskin paling tepukul akibat kuangnya infastuktu, jalan-jalan yang buuk menyebabkan oang-oang tetap miskin kaena membuat meeka tidak mendapatkan peluang ekonomi. Hampi satu dai lima desa di Indo nesia tida k dapat diakses selama be be apa waktu dalam satu tahun (Asian Development Bank, 2006). Pada tahun 200 ini, dimana pemeintah sedang genca melakukan pembangunan fisik, pesentase angggaan pembiayaan infastuktu menuun, padahal infastuktu sangat dibutuhkan masyaakat. Atinya dai sisi bisnis pembiayaan, kecil kemungkinan mendeita keugian apalagi yang mempunyai poyek infastuktu adalah pemeintah, baik pemeintah pusat maupun pemeintah daeah. Anggapan tesebut bealasan bila melihat besanya kebutuhan dana yang dipioitaskan pemeintah untuk membangun infastuktu. Data dai Depatemen Keuangan menunjukkan potensi pembiayaan infastuktu masih besa. Dai total dana yang dibutuhkan sebesa Rp. 788.5 tiliun, sebesa Rp. 75.8 tiliun meupakan dana yang beasal dai Anggaan Pendapatan dan Belanja Negaa (APBN), inciannya sebanyak Rp. 90.3 tiliun besumbe dai lembaga dono dan sisanya yakni Rp. 522.5 tiliun dihaapkan datang dai patisipasi pihak swasta, temasuk di dalamnya pihak pebankan yang mencapai 60% dai total kebutuhan dana (Sumedi, 2005). Ketimpangan pelayanan infastuktu meupakan salah satu masalah utama di negaa bekembang dan sekaligus kepulauan sepeti Indonesia. Ketimpangan

30 tidak hanya tekait dengan aspek spasial atau anta wilayah, namun juga dengan pelayanan infastuktu antagolongan ekonomi atau sosial masyaakat dimana masih banyak masyaakat bependapatan endah yang mengalami kesulitan mengakses pelayanan infastuktu. Ketimpangan cendeung teus belangsung (pesistent) akibat dai poses pengambilan keputusan kebijakan pembangunan yang cendeung lebih menitikbeatkan pada petimbangan efisiensi di dalam mengalokasikan sumbedaya. Sisi investasi, petimbangan efisiensi mendoong pemeintah atau BUMN untuk mengalokasikan sumbedaya yang tebatas secaa optimal kaena pembangunan infastuktu melibatkan sunk cost yang sangat besa, konsekuensinya investasi infastuktu cendeung memusat pada wilayah yang pemintaannya lebih besa teutama di pulau Jawa. Dai sisi opeasi petimbangan efisiensi juga membatasi opeato untuk membeikan pelayanan kepada daeah yang demandnya masih sangat endah atau kepada golongan masyaakat bepenghasilan endah, kaena opeato akan meugi jika haus menyediakan pelayanan dengan load facto yang sangat enda h atau taif yang lebih endah dai biaya poduksi. Jika ini teus dilakukan tanpa adanya subsidi atau kompensasi beati peusahaan telah mengalokasikan sumbedayanya secaa tidak efisien. Infastuktu fisik, teutama jaingan jalan sebagai pembentuk stukt u uang nasional memiliki ketekaitan yang sangat kuat dengan petumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun sosial budaya kehidupan masyaakat. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyaakat meupakan tempat betumpu pekembangan ekonomi, sehingga petumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketesediaan jalan yang memadai.

3 Tambunan (2005) menegaskan bahwa manfaat ekonomi infastuktu jalan sangat tinggi apabila infastuktu tesebut dibangun tepat untuk melayani kebutuhan masyaakat dan dunia usaha yang bekembang. Tambunan (2005) juga menunjukkan bahwa manfaat vaiabel infastuktu (diuku dengan panjang jalan aspal atau paved oad) tehadap peningkatan beagam tanaman pangan di Pulau Jawa jauh lebih signifikan bepengauh tehadap poduksi tanaman pangan dibandingkan dengan pembangunan pengaian. Selanjutnya, dikemukakan walaupun hasil analisis ini telihat mengheankan, kalau ditelaah lebih mendalam alasannya dapat dipahami mengapa demikian. Dampak pembangunan jalan tehadap sekto petanian membeikan beagam keuntungan dibebagai tingkatan bagi petani dibanding dengan membangun iigasi. Alasan utamanya adalah vaiabel jalan bedampak lebih luas kaena membuka akses lebih besa bagi petani, melalui pembangunan jalan infomasi poduksi pedagangan dan kegiatan bisnis lainnya dai uban yang beguna bagi kegiatan petani lebih cepat diteima. Dampak itu lebih tinggi dibanding dengan dampak pembangunan iigasi, kaena hanya tebatas pada peningkatan poduksi tanaman pangan, walaupun demikian kedua jenis infastuktu tesebut (jalan dan iigasi) memiliki peannya masingmasing oleh sebab itu sebaiknya dibangun secaa besamaan. 2.2. Petumbuhan Ekonomi Istilah petumbuhan ekonomi seing dicampubaukan dengan pekembangan ekonomi dan pemakaiannya selalu beganti-ganti, sehingga kelihatan pengetian antaa keduanya dianggap sama. Akan tetapi bebeapa ahli ekonomi telah menaik pebedaan yang laim antaa istilah pekembangan ekonomi dan petumbuhan ekonomi. Pekembangan ekonomi mengacu kepada

32 masalah-masalah negaa tebelakang, sedangkan petumbuhan ekonomi mengacu kepada masalah-masalah negaa maju. Namun ada juga paka ekonomi lainnya yang beanggapan bahwa antaa petumbuhan ekonomi dengan pekembangan ekonomi meupakan sinonim (Jhingan, 993). Petumbuhan ekonomi adalah poses kenaikan output dalam jangka panjang, yang diuku melalui indikato pekembangan GNP (Goss National Poduct) iil dai tahun ke tahun. Petumbuhan ekonomi bisa besumbe dai peubahan atau ke naika n pada sisi aggegate demand (AD) dan sisi aggegate supply (AS). P Keteangan : P : ha ga AS Y E : pendapatan nasional : titik keseimbangan P E AS : aggegate supply P 0 E 0 AD : aggegate demand AD Y Y 0 Y AD 0 Y Gamba 3. Petumbuhan Eko nomi Dai sisi AD (aggegate demand), pegesean kuva ke ka nan menceminkan pemintaan dalam peekonomian meningkat yang dapat tejadi kaena pendapatan agegat (pe ndapatan nasional) yang tedii da i: ko nsumsi umah tangga (C), investasi domestik buto (dai sekto swasta dan pemeintah), konsumsi/pengeluaan pemeintah (G), dan ekspo netto (X). Masing-masing unsu pemintaan agegat dipengauhi oleh fakto-fakto yang bebeda.

33 Pengeluaan konsumsi tegantung pada pendapatan yang diteima oleh umahtangga dan kecendeungan bekonsumsinya atau MPC (maginal popensity to consume). Pengeluaan investasi ditent uka n oleh ke untungan yang dihaapkan (maginal efficiency of capital) dan biaya dana (tingkat bunga). Pengeluaan pemeintah ditentukan oleh poses politik yang kompleks dan dalam teoi mako dianggap eksogen. Peubahan dai unsu-unsu pemintaan agegat (pengeluaan ko nsumsi, pengeluaan investasi dan pengeluaan pemeintah) mempengauhi tingkat pemintaan agegat melalui poses beantai atau poses multiplie. Apabila unsu ini meningkat dengan satu-satuan monete maka tingkat pemintaan agegat akan meningkat dengan suatu kelipatan dai satu-satuan monete pelipat atau multiplie ini tegantung pada besanya MPC. Sebagai contoh sedehana beikut ini disampaikan suatu ilustasi dampak dai pengeluaan pemeintah (G) tehadap petumbuhan ekonomi. Dalam hal ini awalnya pendapatan nasional adalah Y 0, tingkat bunga sebesa 0, haga sebesa P 0, dan pengeluaan pemeintah sebesa G 0. Seta pada kuva pengeluaan agegat AE 0, keseimbangan pasa baang IS 0, keseimbangan pasa uang LM 0, pemintaan agegat AD 0 dan pe nawaan agegat AS 0 Kemudian penge luaan pe meintah G 0 naik menjadi G sebagai akibat misalkan kaena adanya kenaikan tehadap pengeluaan pembangunan infastuktu. Hal ini menyebabkan pegesean keseimbangan Keynessian begeak ke atas dai AE 0 ke AE. Kemudian dalam pasa baang jasa IS-LM kuve IS begese ke atas dai IS 0 ke IS.

34 C, I, G, NX Y I 0,G 3 AE =C 0 + I 0 + G + NX 0 AE 2 = C 0 + I + G + NX 0 I, G 0 E AE 0 = C 0 + I 0 + G 0 + NX 0 I 0,G 0 E 0 45 o Y Y 0 Y 2 Y LM 0 E 0 E 0 2 IS IS 0 Y P Y 0 Y 2 Y AS 0 P E P 0 E 0 5 AD AD 0 Y Y 0 Y 2 Gamba 4. Dampak Pengeluaan Pemeintah Tehadap Petumbuhan Ekonomi

35 Keteangan : P Y E C G I NX LM IS AS AD : ha ga : pendapatan nasional : titik keseimbangan : konsumsi umah tangga : pengeluaan pemeintah : investasi : tingkat bunga : net ekspo yaitu ekspo dikuangi impo : keseimbangan pasa uang : keseimbangan pasa baang : aggegate supply : aggegate demand Oleh ka ena kuva LM tidak beubah, akhinya tejadi excess demand pada Y sehingga mendoong tingkat bunga naik dai 0 ke akibatnya investasi (I) tuun, yang akhinya menyebabkan AE tuun dai AE ke AE 2, hal ini menyebabkan pendapatan bekuang dai Y ke Y 2. Keseimbangan di pasa baang tejadi pada pepotongan kuva IS dan LM 0 yaitu pada titik dan Y 2. Pasa agegat kuva AD begese ke atas dai AD 0 ke AD. Keseimbangan tejadi pada pepotongan kuva AD dan AS 0 yaitu pada titik P dan Y 2. Dengan demikian dampak dai kenaikan pengeluaan pemeintah akan mentansmisi ke naika n pe ndapa tan nasional atau petumbuhan eko nomi, yang diiingi dengan kenaikan tingkat bunga dan haga-haga umum. Dalam konteks kewilayahan, setiap wilayah juga menjadikan petumbuhan ekonomi sebagai taget ekonomi mako. Petumbuha n ekonomi wilayah menjadi fakto yang paling penting dalam kebehasilan peekonomian suatu wilayah untuk jangka panjang. Petumbuhan ekonomi sangat dibutuhkan dan dianggap sebagai

36 sumbe peningkatan standa hidup (standad of living) penduduk yang jumlahnya teus meningkat, dimana poses petumbuhan ekonomi wilayah secaa gais besanya dipengauhi oleh dua macam fakto, yakni fakto ekonomi dan non ekonomi. Petumbuhan ekonomi suatu wilayah sangat tegantung pada sumbe alamnya, sumbedaya manusia, kapital, usaha, teknologi dan sebagainya. Semua itu meupakan fakto-fakto ekonomi, tetapi petumbuhan ekonomi tidak mungkin bisa tejadi selama lembaga sosial dan budaya, kondisi politik dan keamanan seta nilai-nilai moal dalam suatu bangsa tidak menunjang. Dengan kata lain tanpa adanya dukungan fakto-fakto non ekonomi semacam itu secaa baik, maka petumbuhan ekonomi kemungkinan tidak tewujud. Menghitung laju petumbuhan ekonomi pada suatu wilayah bedasakan konsep pendapatan egional atau PDRB (Poduk Domestik Regional Buto) menuut Asyad (999) adalah sebagai beikut : g t PDRB t PDRB t- = x 00%... [] PDRB t- dimana, g t adalah petumbuhan ekonomi pada tahun t, PDRB t adalah besanya PDRB pada tahun ke t dan PDRB t- adalah besanya PDRB pada tahun ke t-. Teknik pehitungan laju petumbuhan ekonomi semacam ini paling banyak digunakan oleh setiap daeah ketika menghitung petumbuhan ekonomi wilayah. Model expot-base dikembangkan untuk menentukan peanan pemintaan dalam petumbuhan dan pembangunan. Ide dai model ini adalah bahwa sistem ekonomi yang besa, sepeti yang dimiliki negaa-negaa besa mampu mengandalkan kekuatan intenalnya untuk pembangunan, sedangkan sistem ekonomi yang lebih kecil sepeti wilayah atau kota, seingka li besifat spesialisasi (tidak dapat begantung sepenuhnya pada kapasitas sendii untuk mencapai

37 pembangunan) dikatakan bahwa petumbuhan ekonominya sangat begantung kepada fakto ekstenal dai sistem lokal (Capello, 2007). Asumsi pokok dai teoi ini adalah bahwa ekspo meupakan satu-satunya unsu otonom dalam pengeluaan sedangkan semua komponen pengeluaan lainnya dianggap sebagai fungsi dai pendapatan (Taigan, 2004). Selain itu, diasumsikan juga bahwa fungsi pengeluaan dan fungsi impo tidak mempunyai intesep tetapi betolak da i titik nol, hal ini beati pesamaan pendapatan wilayah untuk d aeah adalah : Y = (E M ) + X....[2] dimana : Y adalah pendapatan daeah, E adalah pengeluaan daeah, M adalah impo daeah, (E M ) adalah pengeluaan domestik daeah dan X adalah ekspo daeah.. E = e Y....[3] M = m Y....[4] Χ = Χ dimana : (eksogen)...[5] e = Maginal popensity to expenditue daeah m = Maginal pope nsity to impot daeah menjadi : Jika pesamaan [3], [4] dan [5] disubsitusikan ke dalam pesamaan [2] Y = e Y m Y + X....[6] selanjutnya pesamaan (6) diatas diubah susunannya menjadi sebagai beikut : Χ Υ =....[7] e + m

38 Hal ini beati, pendapatan wilayah adalah kelipatan dai ekspo jika kecendeungan untuk membelanjakan pendapatan (maginal popensity to expenditue) secaa lokal (e + m) lebih kecil daipada satu. Model petumbuhan antawilayah adalah peluasan dai teoi basis ekspo, yaitu dengan menambah fakto-fakto yang besifat eksogen, bebeda dengan model basis ekspo yang hanya membahas petumbuhan daeahnya sendii tanpa melihat dampaknya pada daeah yang ada disekitanya. Model petumbuhan anta wilayah ini memasukkan dampak dai daeah tetangga, itulah sebabnya model ini dinamakan model anta wilayah. Dalam mode l ini, pengeluaan pemeintah dan investasi temasuk vaiabel besifat eksogen sebagaimana vaiabel ekspo, dengan memanipulasi pesamaan pendapatan yang petama kali ditulis oleh Keynes, selanjutnya Richadson membangun pesamaan pendapatan di daeah menjadi (Taigan, 2004) : Y = C + I + G + X M....[8] dimana, Y adalah pendapatan egional daeah, C adalah konsumsi egional daeah, I adalah investasi egional daeah, G adalah pengeluaan pemeintah daeah, X adalah ekspo egional daeah dan M adalah impo daeah. Oleh kaena : C = C + c Y d... [9] dimana : I = I...[0] G = G...[] X = M = m Y...[2] s s= s= C = exogen egional consumption s s

39 c = egional maginal popensity to consume daeah d Y = disposible income daeah m s = maginal popensity to impot dai daeah s ke daeah selanjut nya : M Y d = m Y d s s... [3] = Y T...[4] T = t Y...[5] d dimana, t adalah tingkat pajak maginal. Pengeluaan otonom total daeah (A ) dipeoleh sebagai beikut : A = C + I + G... [6] Jika pesamaan [9] sampai dengan [5] diatas dimasukkan kedalam pesamaan [8], dan ditata kembali dalam pesaman pendapatan daeah (Richadson,972) maka akan dipeoleh keseimbangan pendapatan egional, yaitu : m A + sys ( t ) Y =...[7] ( c m )( t ) s dimana : Y adalah keseimbangan pendapatan egional daeah A adalah pengeluaan otonom daeah Y s adalah pendapatan egional daeah s c adalah maginal popensity to consume daeah m s adalah maginal popensity to impot dai daeah s ke daeah t adalah tingkat pajak maginal daeah

40 Dalam model petumbuhan anta wilayah ini, sumbe-sumbe peubahan pendapatan wilayah dapat beasal dai :. Peubahan pengeluaan otonom wilayah, sepeti investasi dan pengeluaan pemeintah. 2. Peubahan pendapatan suatu daeah atau bebeapa daeah lain yang beada dalam suatu sistem yang akan telihat dai peubahan ekspo. 3. Peubahan salah satu diantaa paamete-paamete model hasat konsumsi maginal, koefisien pedagangan anta wilayah atau tingkat pajak maginal. Bila pengetian petumbuhan ekonomi menggunakan konsep yang menyangkut poses petumbuhan seluuh masyaakat, maka setiap pengeluaan pe meintah yang ditujukan untuk pembangunan infastuktu selalu bedampak positif kepada petumbuhan ekonomi. Apalagi hal ini dilaksanakan untuk mendoong wilayah atau kabupaten/kota tekebelakang tetapi memiliki potensi sumbedaya alam besa, tetapi menghadapi masalah ketebatasan infastuktu. Mengacu kepada pesamaan model Pembangunan Ekonomi Inteegional sebagaimana telah disampaikan melalui pesamaan [6] dan pesamaan [7] maka dapat dituunkan kembali menjadi + m C + I + G msys ( t ) Y =...[8] ( c )( t ) s Pesamaan [8] menegaskan bahwa pengeluaan pemeintah (G) pada suatu daeah akan bepengauh langsung tehadap pendapatan daeah (Y) tesebut. Atinya, apabila pengeluaan pemeintah dalam hal ini pembangunan infastuktu di suatu daeah betambah besa, maka secaa teoi akan meningkatkan pendapatan daeahnya. Besanya dampak peubahan pendapatan daeah akibat

4 peubahan pengeluaan pemeintah ( Y / G ) tegantung pada angka pengganda (multiplie) wilayah. Sedangka n angka multiplie egional (wilayah) adalah. ( Y / G ) = k = ( c m )( t ) ------------------------------------[9] s dimana : k = multiplie egional c = maginal popensity to consume daeah m s = maginal popensity to impot dai daeah ke daeah s t = tingkat pajak maginal daeah Dalam konsep makoekonomi, pengeluaan pemeintah (govenment expenditue) untuk pembelian baang dan jasa meupakan injeksi tehadap peekonomian yang bedampak pada petumbuhan ekonomi. Pengeluaan pemeintah meupakan pengeluaan eksogen yang besanya ditentuka n oleh sejauhmana ketesediaan anggaan pemeintah yang dipeoleh dai pajak (fiscal policy). Suatu injeksi pegeluaan pemeintah dalam hal ini pembangunan infastuktu didaeah tidak hanya menaikk an pe ndapatan di daeah yang besangkutan, tetapi juga menyebakan kekuatan pendoong kepada daeah daeah sekitanya yang saling behubungan melalui kenaikan impo. Pengeluaan pe meintah biasanya ditujuka n pada upa ya pe nyediaan infastuktu beupa fasilitas umum, maupun beupa tansfe langsung yang ditujukan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Adisasmita (989) memandang bila oientasi pengeluaan pembangunan dai pemeintah daeah dikaitkan dengan pebaikan tingkat dispaitas anta kawasan, maka beati bahwa sasaan pembangunan selain mengutamakan petumbuhan ekonomi (economic gowth) haus pula mempehatikan fakto keadilan (equity). Konsep tesebut memelukan pengkaitan antaa petumbuhan

42 ekonomi dengan pemeataan dalam ati bahwa meskipun usaha memaksimalkan pendapatan pe kapita meupakan sasaan yang tepat, akan tetapi jika pebedaan pendapatan pe kapita anta golongan masyaakat da n anta kawasan sangat menyolok, maka usaha-usaha untuk mempekecil pebedaan pendapatan tesebutlah yang akan mempeoleh pioitas yang lebih tinggi. Pendekatan konfiguasi nomatif menawakan suatu konsep an injection of influential aea. Konsep tesebut didefinisikan sebagai potensi yang dimiliki oleh suatu kawasan untuk mendoong atau mempengauhi daeah yang sekawasan dengannya guna memacu laju petumbuhan ekonomi yang dapat disetai dengan pemeataan. Bentuk ketekaitan antadaeah dapat juga dipandang sebagai inteaksi yang tejadi dalam suatu kawasan yang mampu mendeteksi aah dan oientasi suatu pegeakan sumbedaya, baik yang besifat simetis maupun yang asimetis. 2.3. Model Input-Output Adanya integasi ekonomi yang menyeluuh dan bekesinambungan diantaa semua sekto poduksi meupakan salah satu kunci kebehasilan pembangunan ekonomi. Dalam ekonomi pasa, integasi ekonomi dapat dilihat jelas ketika tejadi inteaksi antaa pelaku ekonomi yang saling jual beli input poduksi. Misalkan podusen okok membutuhkan input tembakau sebagai bahan bakunya untuk itu haus membelinya dai petani tembakau. Adapun petani tembakau jika ingin meningkatkan outputnya sangat membutuhkan pupuk yang dibelinya dai pabik pupuk, sementaa itu pabik pupuk sangat membutuhka n mesin-mesin untuk mempoduksi pupuknya. Begitu seteusnya, sehingga sulit bagi kita untuk menemukan ujung pangkal dai ceita inteaksi ekonomi semacam

43 itu. Namun yang pasti, tidak mungkin suatu sekto ekonomi tesebut dapat beke mba ng teus hanya dengan menganda lka n kekuatannya sendii. Salah satu model yang dapat memapakan dengan jelas bagaimana inteaksi antapelaku ekonomi itu tejadi adalah mode l Input-Output yang petama kali dipekenalkan oleh Wassily Leontief pada tahun 930-an, yang kemudian mendapat hadiah Nobel pada tahun 973 (Mille dan Blai, 985). Melalui model I-O (Input-Output) tesebut dapat ditunjukkan sebeapa besa alian ketekaitan anta sekto dalam suatu peekonomian. Input poduksi dai sekto misalkan, meupakan output dai sekto 2, dan sebaliknya input dai sekto 2 meupakan output dai sekto, yang pada akhinya ketekaitan anta sekto akan menyebabkan keseimbangan antaa penawaan dan pemintaan dalam peekonomian tesebut. Dai hubungan ekonomi yang sedehana ini jelaslah kelihatan pengauh yang besifat timbal balik antaa dua sekto tesebut, hubungan inilah yang dikatakan hubungan I-O. Model expot-base mampu menguku sejauh mana pe uba han pod uk lokal tejadi dengan adanya vaiasi pada pemintaan intenal, sedangkan analisis Input-Output mampu mengestimasi dampak dai peningkatan pemintaan pada suatu sekto tetentu tehadap output masing-masing sekto dalam ekonomi lokal, dan tehadap total output. Secaa sedehana, model expot-base meupakan suatu mod el Input-Output dengan 2 sekto. Kemudian dengan menggunakan model Wassily Leontief mengenai ketekaitan sektoal, analisis Input-Output dapat digunakan dalam mempekiakan dampak yang muncul kaena adanya peningkatan pemintaan pada suatu sekto tetentu tehadap keseluuhan ekonomi lok al. Analisis Input-Output melibatkan suatu matiks dengan dimensi n x n.

44 Dalam matiks ini tecatat seluuh penjualan (bais) dan pembayaan (kolom) yang dilakukan selama satu tahun anta n sekto poduk lokal atau dengan kata lain, aus baang anta bebagai sekto. Matiks tesebut dilengkapi dengan kelompok kolom dan bais lainnya. Kolom tesebut mencatat penjualan masingmasing sekto untuk pemintaan akhi (konsumsi publik dan individu, investasi dan ekspo), sedangkan pada bais tecatat seluuh pembayaan bagi fakto poduksi, tenaga keja, kapital dan pembayaan dai lua wilayah (Capello, 2007). Dalam mode l I-O pengauh inteaksi ekonomi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis yaitu: () pengauh langsung, (2) pengauh tidak langsung, dan (3) pengauh total. Pengauh langsung atau diect effect meupaka n pengauh yang secaa langsung diasakan oleh suatu sekto yang outputnya digunakan sebagai input dai poduksi sekto yang besangkutan. Misalkan kenaikan poduksi pakaian akan menyebabkan betambahnya pemintaan input kain, kancing dan benang, yang meupakan input langsung digunakan dalam poduksi pakaian. Sementaa pengauh tidak langsung atau indiect effect menunjukkan pengauh tidak langs ung yang diasakan oleh suatu sekto yang output-nya tidak digunakan sebagai input dai sekto yang besangkutan. Misalkan kenaikan poduksi pakaian dapat menyebabkan pula kenaikan pemintaan jasa-jasa tanspotasi untuk mengangkut hasil poduksinya ke pasa, dimana jasa tanspotasi disini bukan meupakan input langsung untuk mempoduksi pakaian. Selanjutnya pengauh total atau total effect adalah pengauh secaa keseluuhan dalam peekonomian dimana sekto yang besangkutan beada. Misalkan dalam dua contoh di atas yang dimaksud pengauh total adalah penjumlahan dai pengauh langsung dengan tidak langsung dai poduksi pakaian dalam peekonomian.

45 Bedasakan ketiga pengauh di atas, dengan model I-O kita dapat menelusui kemana saja output dai suatu sekto itu didistibusikan dan input apa saja yang digunakan oleh sekto tesebut. Dengan memodifikasi model I-O West (995) kita dapat membentuk alu distibusi tebentuknya suatu model I-O secaa sedehana, sepeti yang disajikan dalam Gamba 5. Teknologi Pemintaan Akhi Lainnya Pemintaan Antaa Pemintaan Akhi Total Pemintaan Konsumen Rumahtangga Input Pime Lainnya Tenaga Keja Sumbe: West (995) Gamba 5. Model Sedehana Input-Output Output dai suatu sekto pod uks i ka taka nlah i, akan didistibusikan kepada dua konsumen. Petama, konsumen yang menggunakan output tesebut sebagai input untuk poses poduksi lanjutan, tentunya konsumen disini disebut podusen. Kedua, konsumen yang menggunakan output tesebut untuk dikonsumsi langsung, dimana dalam mode l I-O yang tegolong sebagai konsumen akhi ini adalah umahtangga, pemeintah, swasta (investasi) dan konsumen lua negei (ekspo). Bagi konsumen petama, output sekto i tesebut meupaka n input

46 antaa (intemediate input) dalam poses poduksinya sedangkan pada konsumen kedua, outputnya meupakan pemintaan akhi (final demand). Dalam kaitannya dengan input, dapat telihat jelas adanya pepindahan baang antasekto. Selain itu dapat juga distibusi input antaa tesebut dai sekto i ke sekto i itu sendii, yang disebut pepindahan intasekto. Namun demikian, input yang digunakan dalam suatu poses poduksi bukan hanya beupa input antaa, ada pula input-input lainnya yang digunakan sepeti fakto poduksi tenaga keja, modal, tanah dan lain-lain, dimana semuanya ini digolongkan sebagai input pime. Pada mod el I-O biasanya input pime ini diefleksikan melalui upah dan gaji, suplus usaha, pajak tak langsung dan subsidi. Selain input yang beasal dai dalam negei, ada juga inp ut yang beasal dai lua negei. Kaena itu mode l I-O juga memasukka n komoditi impo dalam distibusi inputnya. Misalkan nilai uang aus baang atau tansaksi dai sekto i ke sekto j kita notasikan ij kemudian total output dai sekto i dinotasikan X i sedangkan total pemintaan akhi dai sekto i adalah Y i, maka dapat dituliskan total output dai sekto i sebagai beikut : Xi = i + i2 + i3 +... + in + Y... [20] Oleh kaena dalam peekonomian tedapat n sekto poduksi, maka secaa keseluuhan dapat dituliskan total output semua sekto adalah : X = + 2 + 3 +... + n + Y X 2 = 2 + 22 + 23 +... + 2n + Y 2 X n = n + n2 + n3 +... + nn + Y n...[2] Dalam bentuk umum pesamaan [2] dapat ditulis sebagai beikut :

47 n j= + Y = X ij i i untuk i =, 2,3,n... [22] Dimana Z ij adalah tansaksi dai sekto i ke sekto j, Y i adalah pemintaan akhi dai sekto i, d an X i adalah output dai sekto i. Misalkan dalam suatu peekonomian tedapat tiga sekto poduksi saja yaitu sekto, sekto 2 dan sekto 3, ini beati bedasakan pesamaan [22] di atas kita dapat membuat suatu keangka dasa tabel I-O sebagaimana yang disajikan dalam Tabel 6. Input Tabel 6. Keangka Dasa Tabel Input-Output Tiga Sekto Sekto Poduksi Output Sekto Poduksi 2 3 Pemintaan Akhi Total Output 2 3 Y X 2 2 22 23 Y2 X2 3 Input Pime V V V2 V3 Total Input X X X2 X3 Sumbe : Mille dan Blai (985) 3 32 33 Y3 X3 Bila dilihat secaa hoisontal (bais), setiap isi sel total output menunjukkan bagaimana output suatu sekto itu dialokasikan, sebagian untuk memenuhi pemintaan antaa (intemediate input) pada sekto poduksi dan sebagian lagi untuk memenuhi pemintaan akhi (final demand) yang tedii atas pemintaan untuk konsumsi umahtangga (C), pemeintah (G), investasi (I) dan ekspo (X). Misalkan untuk bais petama pada sekto poduksi, kita dapat membacanya secaa hoisontal bahwa besanya output sekto poduksi adalah X dimana dai total output tesebut sebagian dialokasikan untuk memenuhi input antaa pada sekto sebesa, sekto 2 sebesa 2 dan sekto 3 sebesa 3,

48 selain itu sebagian juga untuk memenuhi pemintaan akhi sebesa Y, demikian pula untuk bais-bais lainnya dibaca demikian. Secaa keseluuhan distibusi output tesebut dapat dituliskan dalam bentuk pesamaan aljaba sebagai beikut : + 2 + 3 + Y = X 2 + 22 + 23 + Y 2 = X 2 3 + 32 + 33 + Y 3 = X 3... [23] Secaa umum pesamaan-pesamaan di atas dapat dituliskan kembali menjadi : 3 j= + Y = X ij i i untuk i =, 2,3... [24] dimana, ij adalah banyaknya output sekto i yang dialoka sikan sebaga i input antaa pada sekto j, sedangkan Y i adalah jumlah pemintaan akhi tehadap sekto i. Sedangkan isi sel menuut gais vetikal (kolom) menggambakan distibusi pemakaian input antaa dan input pime pada suatu sekto poduksi. Sebagai contoh total input X jika dibaca secaa kolom menunjukkan bahwa jumlah input yang digunakan oleh sekto poduksi adalah sebanyak X yang tedii atas pemakaian input dai sekto sebesa, sekto 2 sebesa 2 dan sekto 3 sebesa 3 seta pemakaian input pime sebesa V. Semua distibusi input ini dapat juga dibuat dalam bentuk pesamaan aljaba sebagai beikut : + 2 + 3 + V = X 2 + 22 + 32 + V 2 = X 2 3 + 23 + 33 + V 3 = X 3... [25] atau secaa umum pesamaan-pesamaan di atas diubah menjadi :

49 3 i= + V = X ij j j untuk j =, 2,3... [26] dimana, ij adalah banyaknya input antaa yang beasal dai sekto i yang digunakan oleh sekto j, sedangkan V j menunjukkan jumlah input pime yang digunakan oleh sekto j. Dai pesamaan [26] kita dapat mengintoduksikan suatu koefisien input teknik aij dengan umus : ij a ij =... [27] X j Koe fisien a ij ini dapat ditejemahkan sebagai jumlah input sekto i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sekto j, untuk jumlah sekto sebanyak n selu uh koe fisien input a ij dapat dinyatakan dalam sebuah matiks A sebagai beikut : a a 2 A = a n a a a 2 22 n2 an a 2n a nn... [28] Matiks A seing disebut matiks koe fisien input atau matiks teknologi. Selanjutnya, kaena pesamaan [27] dapat diubah menjadi ij = a ij X j, seta dengan ke tentua n ba hwa X j = X i, maka pesamaan [28] dapat ditulis kembali da lam sistem pe samaan beikut ini. X = a X + a 2 X 2 + a 3 X 3 +... + a n X n + Y X 2 = a 2 X + a 22 X 2 + a 23 X 3 +... + a 2n X n + Y 2 X n = a n X + a n2 X 2 + a n3 X 3 +... + a nn X n + Y n... [29] Kemudian, jika sisi kanan dalam pesamaan [29] semuanya dipindahkan ke kii kecuali Y, maka dipeoleh sebuah sistem pesamaan : X - a X - a 2 X 2 - a 3 X 3 -... - a n X n = Y

50 X 2 - a 2 X - a 22 X 2 - a 23 X 3 -... - a 2n X n = Y 2 X n - a n X - a n2 X 2 - a n3 X 3 -... - a nn X n = Y n... [30] atau dapat disedehanakan menjadi : ( - a )X - a 2 X 2 - a 3 X 3 -... - a n X n = Y - a 2 X + ( - a 22 )X 2 - a 23 X 3 -... - a 2n X n = Y 2 - a n X - a n2 X 2 - a n3 X 3 -... + ( - a nn )X n = Y n... [3] Sistem pesamaan [3] dapat dituliskan dalam notasi matiks yang lebih sedehana lagi sebagai beikut : (I A) X = Y... [32] yang mana I adalah matiks identitas beukuan n x n dan A meupakan matiks koefisien input, sedangkan X dan Y masing-masing menunjukkan vekto kolom matiks output dan pemintaan akhi. Pesamaan matiks [32] dapat kita ubah bentuknya menjadi : X = (I A) - Y... [33] dimana, matiks (I A) - dikenal dengan nama matiks inves Leontief. Kekuatan peamalan model Input-Output adalah teletak pada inves matiks inves Leontif ini, dengan matiks tesebut kita dapat meamalkan peubahan setiap vaiabel eksogen dalam pemintaan akhi, sepeti pengeluaan pemeintah tehadap sistem peekonomian secaa simultan. Matiks inves Leontif (I A) - juga membeikan banyak infomasi tentang dampak ketekaitan antasekto poduksi diantaanya backwad linkage effect (dampak ketekaitan ke belakang) da n fowad linkage effect (dampak ketekaitan ke depan) yang sangat penting untuk melihat peanan suatu sekto poduksi dalam peekonomian daeah, seta untuk menetapkan sekto-sekto utama dalam peencanaan pembangunan daeah dimasa mendatang.

5 Tabe l Input-Output tunggal sebagaimana yang telah dijelaskan panjang leba di atas hanya mempelihatkan stuktu tansaksi dai bebeapa industi yang bebeda dalam satu wilayah. Tabel ini tidak dapat menunjukkan stuktu tansaksi antaa industi-industi dai satu wilayah de ngan wilayah lainnya, oleh kaena itu untuk menjelaska n stuktu tansaksi bebe apa industi pada dua wilayah dipelukan tabel yang mampu menunjukkan tansaksi ekonomi pe wilayah dan pe industi, yang mana hal ini tidak mampu diako mod i oleh tabe l I-O wilayah tunggal. Seandainya ketekaitan ekonomi antaa dua wilayah ingin disajikan dalam mod el I-O maka yang elevan digunaka n ada lah I-O anta wilayah, yang dike nal dengan nama Mode l Cheney-Moses dibangun dengan pesamaan dasa goss output sebagai beikut (Naaa, 997): X Q k = n n QR Ck R= l= a R kl X R l + Y R k... [34] Dimana X menunjukkan goss output, Y adalah final demand, a menunjukkan matiks koefisien input, subskip Q dan R masing-masing menunjukkan wilayah R da n Q, sedangkan sub skip k dan l menunjukkan komoditi k dan l. Memahami apa yang dimaksud dengan tabel I-O anta wilayah, ada ba iknya meliha t sebuah contoh pada suatu negaa yang tedii atas dua wilayah saja, yaitu wilayah A dan B seta jumlah industi sebanyak n maka bentuk dasa tabe l I-O anta wilayah dapat dilihat pada Tabel 7. Notasi-notasi matiks yang ditunjukkan pada Tabel 7, dipe oleh bebeapa infomasi penting mengenai ketekaitan anta industi dan anta wilayah. Petama, not asi AA Z ij atau BB Z ij meupakan suatu petunjuk adanya ketekaitan antaa

52 industi i de ngan industi j dalam satu wilayah A atau B. Ketekaitan ini diistilahkan sebagai anta ind usti dan anta wilayah, dalam hal ini sebenanya ada juga inta industi dan inta wilayah yang dinotasika n BB Z atau Z. AA ii ii Tabel 7. Keangka Dasa Tabel Input-Output Anta Wilayah Output Industi Pemintaan Akhi Wilayah A Wilayah B Total Output Wilayah A Wilayah B Input,... j,..., n,... j,.., n Wilayah A : : : : : :... AA Z ij... AB Z ij... AA F... i AB F i j : : : : : : : : : : : n : : : : : Wilayah B : : : : : : : : : : :... BA Z ij... BB Z ij... BA F... i BB F i j : : : : : : : : : : : n : : : : : Nilai Tambah... A B V j... V j Total Input X A j X B j Sumbe : Bio Neaca Poduksi dan Bio Neaca Konsumsi (999 a ) A X i B X i Kedua, notasi AB Z ij atau BA Z ij membei petunjuk adanya ketekaitan antaa industi i di wilaya h A de ngan ind usti j di wilayah B atau ketekaitan antaa industi i di wilayah B dengan industi j di wilayah A. Dapat dikatakan tejadi anta industi dan anta wilayah. Disini ada juga ketekaitan yang besifat inta industi dan inta wilayah atau dinotasikan sebagai BA Z atau Z. AB ii ii

53 Ketiga, notasi BB F atau F menunjukkan pemintaan akhi untuk AA i i komponen i yang beasal dai wilayah A sendii atau wilayah B sendii dengan kata lain komponen pemintaan akhi i tejadi pada kondisi dalam wilayah sendii. Keempat, notasi BA F atau F mempunyai makna bahwa pemintaan AB i i akhi untuk komponen i pada wilayah A yang beasal dai wilayah B, atau pemintaan akhi komponen i pada wilayah B yang beasal dai A. Dengan kata lain ada pemintaan akhi yang timbul kaena tejadinya hubungan anta wilayah. Tabel 8. Matiks Tansaksi anta wilayah Tiga Sekto Input Output A 2 3 2 3 B Pemintaan Akhi Total Output AA AA 2 AA 3 AB AB 2 AB 3 AA F AB F A X A 2 AA 2 AA 22 AA 23 AB 2 AB 22 AB 23 AA F 2 AB F 2 A X 2 3 AA 3 AA 32 AA 33 AB 3 AB 32 AB 33 AA F 3 AB F 3 A X 3 BA BA 2 BA 3 BB BB 2 BB 3 BB F BA F B X B 2 BA 2 BA 22 BA 23 BB 2 BB 22 BB 23 BB F 2 BA F 2 B X 2 3 BA 3 BA 32 BA 33 BB 3 BB 32 BB 33 BB F 3 BA F 3 B X 3 Input Pime A V A V 2 A V 3 B V B V 2 B V 3 Total Input A X A X 2 A X 3 B X B X 2 B X 3 Sumbe : Bio Neaca Poduksi dan Bio Neaca Konsumsi (999 b ) Jika diasumsikan hanya ada tiga industi saja pada masing-masing wilayah, maka bentuk tabel tansaksi yang dapat dibuat untuk model I-O anta wilayah tesebut adalah sepeti yang telihat pada Tabel 8, dengan infomasi yang dapat dibeikan sebagai beikut, untuk industi wilayah A jika dibaca secaa hoisontal menunjukkan dai total output industi yang dihasilkan oleh wilayah A sebesa A X yang didistibusika n untuk memenuhi pemint aan antaa industi

54 AA di wilayah A adalah sebesa di wilayah A sebesa AA 3 wilayah B sebesa AB 2, industi 2 di wilayah A sebesa AA, industi 3 2, industi di wilayah B sebesa AB, industi 2 di, dan industi 3 di wilayah B sebesa AB 3. Seta unt uk memenuhi pemintaan akhi pada wilayah A sebesa AA F dan pemintaan akhi pada wilayah B sebesa AB F. Sementaa jika dibaca secaa vetikal adalah untuk menghasilkan output industi pada wilayah A sebanyak A X dibutuhkan input antaa yang beasal dai industi yang dihasilkan oleh wilayah A itu sendii sebanyak AA, industi 2 dai wilayah A seba nyak AA, industi tiga dai wilayah A sebanyak 2 AA 3, industi dai wilayah B sebanyak BA, industi 2 dai wilayah B sebanyak BA dan 2 industi 3 dai wilayah B sebanyak BA 3, sedangkan input pime yang beasal dai wilayah A seba nyak A V. Sejauh ini tedapat dua tipe mode l I-O yang bedimensi anta uang, yaitu: () model Input-Output anta daeah atau anta wilayah, dan (2) model Input- Output banyak wilayah (multiegion). Model Input-Output anta wilayah (IOIR), yang juga dike nal dengan model ideal muninya Isad, dianggap sebagai model yang paling kompehensif dan sistematis kaena model ini meupakan pengembangan konsep I-O yang mengintegasikan unsu uang secaa simpel dan elegan. Meskipun demikian model IOIR mempunyai dua masalah yang seius. Petama, bekaitan dengan ketatnya asumsi yang menyatakan bahwa suatu komoditi yang dipoduksi di suatu daeah secaa teknis bebeda dengan komoditi sama yang dihasilkan oleh daeah lainnya. Misalnya, batako yang dipoduksi di Jawa bebeda dengan batako yang dipoduksi di Sulawesi, sehingga tidak ada

55 substitusi diantaa keduanya. Asumsi ini telalu kaku dan tidak ealistis sebab bagi konsumen batako tetap saja batako dimanapun baang itu dipoduksi. Kedua, bekaitan dengan peneapan model IOIR, untuk mempeoleh estimasi nilai koefisien input dipelukan data aus pedagangan menuut daeah asal dan daeah tujuan seta menuut sekto poduksi dan sekto konsumsi. Data sepeti ini biasanya tidak tesedia ba hka n di negaa ya ng statistiknya suda h maju sekalipun dan untuk mempeolehnya dipelukan suvei yang akan membutuhkan biaya, tenaga dan wakt u yang ba nyak. Hal-hal inilah yang menyebabka n sangat sedikit negaa yang suda h menyusun tabel IOIR (Muchdie, 999). 2.4. Ketekaitan Model Input-Output Leontief dengan Model Makoekonomi Pada tahun 932 Leontief memulai poyeknya membangun table Input- Output untuk Negaa Ameika Seikat yang meujuk kepada model economique tablo dai Fancois Quesnay seoang ahli ekonomi Pancis pada abad kedelapa n. Fancois Quesnay telah menggunakan model tesebut untuk menganalisis bagaimana peubahan yang meningkat pada pengeluaan belanja baang mewah dapat mempengauhi poduk besih dan distibusi pendapatan antaa kelas-ke las social. Dalam hal yang seupa Leontief menggunakan skema teoitis dan table tesebut untuk menunjukkan bagaimana haga dan kuantitas akan beeaksi tehadap peubahan paamete poduktivitas industi dan tabungan. Tabel tesebut pada dasanya digunakan untuk menggambakan hubungan teoitis mengenai pengetian saling ke tegantungan anta sekto (Kohli,2003). Model I-O pada dasanya meupakan penyedehanaan dai keseimbangan umum (geneal equilibium) yang dike muka n Leon Walas. O leh Leont ief pesamaan umit dai teoi keseimbangan umum tesebut disedehanakan sehingga

56 menjadi model yang memungkinkan untuk diteapkan secaa empiis (Yusuf dan Tajein, 2008). Petama kali Leontief mempekenalkan model I-O dengan menyusunnya dalam stuktu table yang bebentuk matiks yang beisikan dafta sekto ekonomi dengan uutan sama yang disusun secaa vetikal (ko lom) da n hoiontal (bais). Bais pada output suatu sekto menunjukkan bagaimana output suatu sekto dialokasikan. Sedangkan kolom pada input menunjukkkan pola penggunaan input suatu sekto dalam memposes suatu poduksi (Gafield, 986). Konsep dasa yang dikembangkan oleh Leontief adalah : () stuktu peekonomian tesusun dai bebagai secto (industi) yang satu sama lainnya beinteaksi melalui tansaksi jual beli, (2) output suatu sekto dijual kepada sekto-sekto lainnya dan untuk memenuhi pemintaan akhi, (3) input suatu sekto dibeli dai sekto-sekto lainnya, dan umahtangga (dalam bentuk jasa tenaga keja), pemeintah (misalnya pembayaan pajak tidak langsung), penyusutan, suplus usaha seta impo, (4) hubungan input dengan output besyaat linie, (5) dalam suatu kuun waktu analisis (biasanya satu tahun) total input sama dengan total output, (6) suatu sekto tedii dai satu atau bebeapa peusahaan da n output tesebut dipod uks ika n oleh satu teknologi (Richadson, 972; Isad et al, 998). Menuut Dondolov (20) model Input-Output meupaka n alat yang penting digunakan untuk melakukan suatu analisis dan poyeksi. Keangka dasa da i Input-Output meupakan basis dai model makoekonomi, yang dapat menunjukka n ba gaimana peuba han-peubahan dai pemintaan akhi atau GNP suatu sekto mempengauhi sebuah peekonomian. Namun demikian pelu diingat

57 bahwa penggunaan model standa Leontief untuk mengevaluasi GNP sangatlah kompleks dan umit kaena melibatkan banyak sekto. Leontief pada dasanya mengakui bahwa intevensi pemeintah melalui kebijakan fiskal dapat digunakan untuk melindungi peekonomian dai be ncana esesi (Scalett, 2008). Pengakuannya ini secaa eksplisit ditunjukkan pada model Input-Output yang dikembangkannya, dimana kebijakan fiscal menjadi salah satu fakto stimulus peekonomian besama dengan vaiable-vaiabel makoekonomi lainnya yang dituangkan dalam pemintaan akhi. Oleh kaena bepandangan sepeti ini akhinya ahli sejaah ekonomi menempatkan Leontief sebagai pengikut Keynes. Model I-O Leontief menyatakan bahwa bila tejadi kenaikan komponen pemintaan akhi maka secaa otomatis akan menggeakkan seluuh sekto ekonomi melalui poses pengganda ekonomi (multiplie). Satu upiah atau satu juta upiah yang dikeluakan oleh satu umahtangga akan bedampak menciptakan poduksi baang dan jasa yang tekait dengan pengeluaan umahtangga tesebut. Pada sisi lain, teoi makoekonomi Keynes menyatakan bahwa bila pemintaan efektif meningkat maka melalui poses multiplie ekonomi dipeoleh petambahan pendapatan bau dan otomatis peekonomian daeah akan meningkat tetapi tingkat haga tidak mengalami peubahan. Dalam paktek mungkin saja tingkat haga beubah, naik telebih dahulu kemudian kembali tuun sepeti semula. Peubahan ini ditunjukkan dalam bentuk kuva pemintaan dan penyediaan. Dondokov (20) secaa matematis dapat menunjukkan bagaimana ketekaitan model I-O Leontief dengan keseimbangan umum Keynes. Dimulai

58 dengan mempelihatkan pesamaan standa dai keseimbangan umum Keynes sebagai beikut : C + S + T = Y = C + I + G + NE...... [35] dimana C, S, T, I, G, NE adalah indekss skala dai konsumsi umahtangga, tabungan umahtangga, total pajak, total investasi, pengeluaan pemeintah dan ekspo besih. Pesamaan sebelah kii adalah penawaan total, sedangkan sebelah kanan adalah pemintaan total. Multiplie Keynes dapat dituliskan : ΔY = ΔG + c*δg + c 2 ΔG + c 3 ΔG + = ΔG*k... [36] dimana ΔY adalah petumbuhan pendapatan nasional (total pemintaan akhi), ΔG adalah peuba han pe ngeluaan p emein ah, t c = ΔC/ΔY adalah maginal popensity to consume, Δ C adalah petumbuhan konsumsi umahtangga, dan yang teakhi k = /(-c) menunjukkan multiplie Keynes. be ikut : Sekaang pehatikan pesamaan standa dai model Input-Output sebagai A + W = X = A + Y... [37] dimana A adalah total poduk intemediate, W adalah total value added (total pendapatan), Y adalah total pemintaan akhi, dan X adalah goss output. Pesamaan sebelah kii menunjukkan penawaan agegat, sedang sebelah kanan menunjukkan pemintaan agegat. Apabila pendapatan W total sama dengan jumlah pengeluaan: konsumsi umahtangga, tabungan umah tangga dan jumlah total pajak, maka kita dapat

59 mempetimbangkan pesamaan ekuilibium umum bedasakan pesamaan [35] dan [37] sebagai beikut : A + C + S + T = X = A + C + I + G... [38] Pada tahap beikutnya, menghitung koefisien Wj dengan pesamaan Wj = -Σaij, dimana aij = Aij/Xj. Dimana vekto matiks W = (Wj). Dengan demikian multiplie pendapatan dapat dituliskan sebagai Km = W*Mt. Multiplie K inilah yang menunjukkan jawaban atas petanyaan bagaimana petumbuhan pendapatan (GNP) pada keseimbangan umum Keynes mempunyai hubungan dengan petumbuhan dai paamete-paamete eksogen pada pemintaan akhi mode l Input-Output Leontief. Hubungan antaa Mode l I-O dengan Model Mako Ekonomi Keynes ini dibuktikan secaa matematis oleh Miyasawa dai Jepang dengan menggunakan Tabe l I-O 2x2 sekto. Pembuktiannya adalah multiplie I-O melalui Matiks Leontief akan bedampak sama dengan multiplie makoekonomi melalui Maginal Popensity to Consume (MPC) Keynes. Pengganda ekonomi Model Keynes dituunkan dai pesamaan sedehana pendapatan masyaakat (Y) akan dibelanjakan dalam bentuk konsumsi (C) atau ditabung (S). Kaena tabungan meupakan sumbe untuk investasi (I), maka di dalam keseimbangan tabungan akan sama dengan investasi. Pesamaan matematikanya menjadi Y = C + S...[35] pada keseimbangan S = I, sehingga pada titik itu Y = C + I... [36]

60 kemudian konsumsi itu sendii tegantung pada pendapatan, maka pesamaan konsumsi menjadi : C = cy... [37] dimana c adalah tambahan posi konsumsi tehadap peubahan pendapatan, atau dikenal dalam liteatu sebagai maginal popensity to consume. Melalui substitusi pesamaan di atas dipeoleh pesamaan beikut : Y = cy + I Y = /[ c]. I... [38] Pesamaan di atas menyatakan bahwa bila tedapat tambahan pengeluaan masyaakat melalui pengeluaan investasi, tecemin dalam pengeluaan I di atas, maka pendapatan (Y) akan meningkat sebesa pengganda ekonomi (/[ c]). Vaiabel I dalam pesamaan diatas meupakan bagian dai pemintaan agegat (AD) dalam mod el Keynes. Meskipun Leontief dikatakan bealian Keynes, namun pandangannya banyak juga yang mengkitik Keynes. Oleh kaena itu Leontief lebih tepat disebut sebagai alian Neo-Keynes. Salah satu agumentasi yang diungkapkan Leontief mengkitik Keynes adalah mengenai konsep keseimbangan umum. Leontief menyalahkan pemikian dai Keynes yang menganggap penawaan dan pemintaan agegat saling independent, sehingga pegesean yang satu tidak disetai dengan pegesean yang lain. Menuut Leontief kesalahan ini tejadi kaena kuangnya dasa pemahaman mikoekonomi didalam menjelaskan keseimbanga n umum. Selain itu Leontief juga memiliki keagua n teoitis tentang sifat keseimbangan umum Keynes dan setengah pengangguan. Dalam hal ini Leontief meagukan asumsi Keynes dai kuva penawaan tenaga keja yang

6 dinyatakan dalam bentuk upah uang, meupakan suatu asumsi yang otodoks yaitu hanya bedasakan anggapan bahwa tenaga keja adalah fungsi dai upah iil haga. Dia melanjutkan dengan petanyaan pefeensi likuiditas Keynesian sebagai mekanisme mencegah munculnya pekejaan penuh melalui ekspansi monete. Dia menunjukka n bahwa pefeensi likuiditas haus nol dalam ekuilibium jangka panjang, kaena dalam jangka panjang investo menyesuaikan pandangan meeka kebawah tingkat bunga nomal. Kebeadaan pengangguan paksa itu haus dibenakan dalam hal agumentasi yang dinamis menggabungkan asumsi ketidakseimbangan atau keseimbangan sementaa (Scalett,2008). 2.5. Studi-studi Empiis Pean infastuktu dalam peekonomian sangat penting dan sental, dimana infastuktu dipahami sebagai enable bebagai kegiatan ekonomi lainnya. Hal ini dipekuat Hischman (958) yang menyatakan bahwa pembangunan infastuktu meupakan bagian dai social ovehead capital yang mutlak dipelukan untuk menggeakkan sekto-sekto ekonomi lainnya. Namun bau pada akhi 980-an, beba ga i studi dilakuka n secaa intensif untuk mempelajai bagaimana peanan infastuktu dalam peekonomian. Bebagai studi mengenai pean infastukt u dalam peekonomian, secaa gais besa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategoi, yakni: () studi-studi untuk mengetahui peanan infastuktu dalam peekonomian, dan (2) menguku elastisitas ketesediaan pe layanan infastuktu tehadap pe eko nomian. Untuk studi-studi mengenai peanan infastuktu da lam peeko nomian diawali oleh Aschaue (989) dalam DPKPP (2003) yang mengemukakan bahwa

62 ketesediaan pe layanan infastuktu meupakan fakto pod uks i penting. Penelitian tesebut juga menemukan fakta bahwa menuunnya poduktivitas, dapat disebabkan oleh membuuknya ketesediaan pelayanan infastuktu. Sementaa itu, Bent dan Hansson (99) dalam DPKPP (2003) mengemukakan bahwa peningkatan pelayanan infastuktu dapat menguangi biaya poduksi. Sedangkan studi yang beupaya menguku elastisitas ketesediaan pelayanan infastuktu tehadap peekonomian dimulai oleh Wold Bank (994) dalam Soejo (2007) yang menunjukkan bahwa ketesediaan infastuktu dengan petumbuhan PDB memiliki hubungan yang eat. Elastisitas PDB tehadap infastuktu yang diuku sebagai peubahan pesentase petumbuhan PDB pe kapita akibat sebagai naiknya % ketesediaan infastuktu dibebagai negaa bevaiasi antaa 0.07 hingga 0.44. Selanjutnya studi-studi yang menguku elastisitas ketesediaan infastuktu tehadap peekonomian suatu negaa mulai bekembang, sepeti yang dilakukan oleh Zegeye (2002), dalam studinya ini dapat mempelihatkan besanya kontibusi pembangunan infastuktu tehadap kenaikan poduktivitas sekto manufaktu di negaa Ameika Seikat. Selain itu ada juga studi yang dilakukan oleh Wylie (996) yang mengamati tentang peanan infastuktu tehadap petumbuhan ekonomi Kanada selama peiode 946-99, menggunakan fungsi poduksi tanslog untuk mempeoleh temuan bahwa setiap tejadi kenaikan stok kapital infastuktu pe jam keja sebesa % akan meningkatkan output pe jam keja sebesa elastisitas poduksinya 0.52. Hasil akhi studinya menunjukkan bahwa petumbuhan ekonomi Kanada sangat tegantung sekali kepada pembangunan infastuktu.

63 Studi beikutnya yang dilakukan Haughwout (2000) membei gambaan bagaimana peanan infastuktu tehadap tingkat kesejahteaan. Menuutnya, pengauh investasi infastuktu tehadap tingkat kesejahteaan melalui dua jalu yakni: () by aising income via inceased pivate poductivity, dan (2) by inceasing benefits enjoyed by households via heightened economic sevices. Wilayah Indonesia, salah satu studi yang cukup menaik disajikan adalah studi yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyaakat Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia (LPEM FE-UI) tentang Roadmap Pembangunan Infastuktu Indonesia (Patomo, 2005). Studi ini meupakan studi liteatu yang dilanjutkan dengan pembuatan model ekonometik makoekonomi infastuktu egional. Hasilnya menunjukkan jika dilihat dai elastisitas apabila stok jalan ditambah 0%, maka pembangunan infastuktu jalan ini akan mendoong petumbuhan ekonomi sebesa 88%. Dengan kata lain, kenaikan stok jalan sebesa % akan menaikkan petumbuhan ekonomi sebesa 8.8%, bedasakan pembagian Kawasan Baat dan Timu, maka dengan tingkat kenaikan stok jalan sebesa 0% akan menghasilkan kepekaan sebesa 77 % untuk kawasan Indonesia bagian Baat (KBI) dan % pada Indonesia bagian Timu (KTI). Sementaa itu, tingkat elastisitas bedasakan pulau adalah Jawa-Bali sebesa 59% diikuti oleh Sumatea sebesa 4%, Sulawesi 4% dan teakhi adalah Papua, Maluku dan Nusa Tenggaa sebesa 2.7%. Hasil pehitungan elastisitas ini sekali lagi menunjukkan bahwa bagaimanapun juga pembangunan infastuktu jalan di Pulau Jawa dan Bali mengakibatkan laju petumbuhan ekonomi yang paling besa. Mencemati hasil simulasi yang dilakukan, studi ini menunjukka n apabila petumbuhan ekonomi diasumsikan hanya sebagian yaitu sebesa 48%

64 diakibatkan oleh pembangunan infastuktu. Maka pada tingkat petumbuhan 3.93%, pekiaan kebutuhan kenaikan stok jalan untuk kawasan baat sebesa 0% yang atinya adalah 22.797 km. Sedangkan untuk kawasan Indonesia Timu kebutuhan tambahan stok jalan hanya sebesa 2% atau sepanjang 3.029 km. Studi ini juga mempekiakan bahwa jumlah dana yang dibutuhkan untuk kawasan Baat adalah Rp. 3.9 tiliun dan Rp. 4.2 tiliun untuk kawasan Timu. Secaa keseluuhan untuk pembangunan infastuktu jalan, studi ini mempekiakan pada tingkat petumbuhan ekonomi 3.93%, jumlah dana yang dibutuhkan Rp. 36.2 tiliun untuk mencapai tingkat petumbuhan sebesa 5.4% dibutuhkan dana sebanyak Rp. 40.4 tiliun. Dengan hasil studi ini sebenanya kita dapat mempekiakan apakah pemeintah kini bena-bena mampu memenuhi kebutuhan akan infastuktu jalan di tengah ketebatasan dana yang dimiliki. Kaena itu, pembangunan infastuktu jalan membutuhkan modal besa. Daeah-daeah tepencil yang dinilai tidak memiliki potensi ekonomi dan sosial budaya yang memadai cendeung ditelantakan. Pembangunan infastuktu jalan di daeahdaeah sepeti ini mungkin lebih seing dianggap sebagai beban dan bukan dipandang sebagai bentuk investasi bangsa. Dalam kondisi sepeti ini, pembangunan infastuktu jalan di kawasan-kawasan tepencil menuntut kemauan politik yang kuat dan konsisten dai pemeintah. Selain itu, pemahaman atau definisi tentang daeah tetinggal juga pelu diluuskan, yaitu daeah yang memiliki potensi sumbe daya alam maupun sumbe daya manusia, tetapi miskin saana dan pasaana. Jauh sebelum model I-O dipekenalkan oleh Leontief, seoang ekonom Peancis yaitu Fancois Quesnay pada tahun 758, telah menyampaikan ide dasa

65 tentang ketekaitan anta sekto da n mempublika sika n sebuah Tableau Economique dalam bentuk diagam-diagam yang mempelihatkan bagaimana pengeluaan masyaakat dapat dilacak melalui peekonomian dengan caa sistematis (Mille dan Blai, 985). Bedasakan konsep pemikian Tableau Economique tesebut, kemudian Leontif menyampaikan ide tentang penyusunan Tabe l I-O yang dibuatnya petama kali untuk negaa Ameika Seikat pada tahun 930-an, dan semenjak itu pemakaian tabel I-O dalam bidang ekonomi semakin banyak digunakan oleh ahli-ahli ekonomi, khususnya untuk menjelaskan ketekaitan anta sekto dalam suatu peekonomian. Cheney-Watanabe (958), Hischman (958) dan Rasmussen (956), adalah ahli-ahli ekonomi yang lebih dahulu menyampaikan ide-ide dasa tentang pengukuan ketekaitan antasekto melalui mode l I-O. Meeka behasil meumuska n ukuan-ukuan ketekaitan anta sekto sepeti backwad linkage dan fowad linkage atio. O Callaghan, Andeosso dan Guoqiang (997) melakukan pengamatan tentang ketekaitan anta sekto dan sekto-sekto utama dalam peekonomian China selama peiode 987-997, dengan memakai sekaligus metode tadisional yang dike mba ngka n oleh Cheney-Watanabe dan Rasmussen, seta metode ekstaksi dai Cella dan Dietenbache. Hasil pengamatan meeka menunjukkan bahwa selama peiode 987-997 setiap sekto memiliki kecendeungan angka asio backwad linkage da n fowad linkage yang teus meningkat sepanjang tahun. Ini beati tedapat suatu hubungan yang pos itif antapetumbuhan aktivitas poduksi dan peningkatan di dalam ketekaitan anta sekto selama peiode tesebut. Selain itu, meeka juga mempelihatkan bahwa sekto-sekto yang

66 mendominasi peekonomian China sepanjang peiode 987-997 adalah sekto konstuksi, industi dan petambangan kaena dai hasil analisis I-O menunjukkan ketiga sekto tesebut mempunyai asio backwad linkage dan fowad linkage yang paling tinggi diantaa semua sekto. Idenbug dan Wilting (2000), dengan menggunakan Dynamic Input- Output Model mencoba menjelaskan dampak dai inovasi teknologi tehadap poduksi sektoal di negaa Belanda yang menggunakan natual esouces dan emissions tehadap lingk ungan. Pemilihan analisis input-output secaa nyata dianggap dapat menjelaskan hubungan stuktu ekonomi, penggunaan enegi dan sumbedaya lingk ungan. Selain itu, analisis input-output juga dapat digunakan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang behubungan dengan pencaian teknologi-teknologi bau. Studi ini mencoba menganalisis secaa tentative dampak peubahan-peubahan teknologi tehadap pemintaan enegi pada peekonomian Belanda selama peiode 980-997. Indonesia sendii, Kaneko (985) dalam Kuncoo, et al. (997) mempekenalkan konsep () deajat ketegantungan kegiatan tiap sekto tehadap setiap unsu pemintaan akhi, (2) pengganda eaksi (epecussion multiplie) pada kegiatan ekonomi yang diakibatkan oleh setiap unsu pemintaan akhi, dan (3) asio give and take sebagai koefisien ketekaitan ke depan dan ketekaitan ke belakang. Sebagaimana diumuskan Hischman dengan mengolah tabel I-O tahun 97, 975, 980, dan 983, menyimpulkan bahwa: Petama, selama peiode 97-980 deajat ketegantungan kegiatan ekonomi pada konsumen cendeung menuun pada sekto pime dan tesie namun meningkat pada sekto industi. Kedua, deajat ketegantungan ekspo pada industi logam mengalami penuunan

67 pada tahun 980 dan 983, teutama kaena kebijakan subtitusi impo dan kebijakan pemanfaatan poduk dalam negei yang telah dianut sejak awal dekade 980. Ketiga, dalam tahun 970-an pengganda eaksi yang diakibatkan oleh pembentukan modal tetap telah menuun. Keempat, oientasi pembangunan industi Indonesia selama peiode 97-980 lebih becii kepada industi subtitusi impo. Kelima, besanya kebocoon impo menyebabkan poduksi baang-baang modal tetap sangat kuang besifat padat kaya. Studi lainnya tentang ketekaitan antasekto di Indonesia juga penah dilakukan oleh Poot, Kuyvenhoven dan Jansen (99) bedasakan data inputouput Indonesia tahun 97, 975 dan 980. Meeka menunjukkan ketekaitan antaindusti pada peekonomian Indonesia yang dilihat melalui koe fisien backwad linkage dan fowad linkage, dai hasil pengamatannya menunjukkan sekto-sekto industi yang mempunyai backwad linkage tinggi teutama adalah sekto industi makanan, sedangkan sekto yang memiliki fowad linkage paling tinggi adalah industi kimia, pealatan ketas, pupuk dan pestisida. Bedasakan analisis I-O, meeka juga memapakan bahwa pembangunan industi di Indonesia memiliki ketegantungan yang sangat besa tehadap komponen impo, teutama sekali bagi sekto-sekto industi non makanan, sepeti: industi baja, ketas, kendaaan bemoto, elektonik, pekapalan dan pesawat tebang, dimana semua industi ini umumnya memiliki asio ketegantungan impo di atas 50% dan yang paling tinggi adalah industi baja dengan asionya sebesa 0.73. Setiawan (2006) dengan menggunakan pendekatan Input-Output Multiegional Jawa Timu, Bali dan Nusa Tenggaa Baat meneliti peanan sekto unggulan tehadap petumbuhan ekonomi daeah baik anta wilayah sendii

68 maupun anta wilayah. Hasil studinya menunjukkan bahwa sekto unggulan yang tepilih di masing- masing povinsi (yang memiliki bobo t tebesa di masingmasing povinsi) adalah sekto industi makanan, minuman, tembakau dan sekto pedagangan di Povinsi Jawa Timu sedangkan sekto hotel dan estoan seta sekto petenakan dan hasilnya, tepilih sebagai sekto unggulan di Povinsi Bali, sekto industi makanan, minuman, tembakau dan sekto hotel dan estoan tepilih di Povinsi Nusa Tenggaa Baat. Seandainya dibandingkan dampak dalam wilayah kedua sekto unggulan di Jawa Timu antaa sekto industi makanan, minuman dan tembakau dengan sekto pedagangan, maka sekto pedagangan memiliki dampak yang lebih besa dan kuat baik itu pada petumbuhan output, petumbuhan nilai tambah buto dan penciptaan lapangan keja di Povinsi Jawa Timu. Dampak anta wilayah dai petumbuhan sekto industi maka nan, minuman, dan tembakau di Povinsi Jawa Timu ini, telihat lebih kuat tejadi di povinsi Nusa Tenggaa Baat dibandingkan dengan Povinsi Bali, baik itu pada petumbuhan output, petumbuhan nilai tambah buto dan penciptaan lapangan keja. Sebaliknya sekto pedagangan di Povinsi Jawa Timu mempunyai dampak anta wilayah lebih kuat tejadi di Povinsi Bali dibandingkan dengan Povinsi Nusa Tenggaa Baat baik pada petumbuhan output, petumbuhan nilai tambah buto dan penciptaan lapangan keja. Di Povinsi Bali seandainya dibandingkan dampak anta wilayah kedua sekto unggulan antaa sekto hotel dan estoan dengan sekto petenakan dan hasilnya, maka sekto hotel dan estoan memiliki dampak yang lebih besa dan kuat pada petumbuhan output dan petumbuhan

69 nilai tambah buto, sedangkan sekto petenakan dan hasilnya membeikan dampak yang lebih besa pada penciptaan lapangan keja. Muchdie (999) dengan mengaplikasikan model Input-Output anta daeah membahas stuktu uang peekonomian Indonesia yang diinci menuut lima kelompok pulau besa, yaitu Sumatea, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggaa dan Sulawesi seta Papua. Pembahasan stuktu uang difokuskan kepada pengganda total baik sektoal maupun spasial, dampak besih baik sektoal maupun spasial dan dampak lubean seta dampak balik spasial. Analisis pengganda spasial menunjukkan bahwa secaa umum pengganda yang tejadi di pulau sendii lebih besa dibandingkan dengan yang tejadi di pulau lain. Sedangkan analisis distibusi sektoal dan spasial pada dampak besih juga menunjukkan hal yang seupa, selanjutnya analisis dampak lubean dan dampak balik dapat menjelaskan kedua hasil analisis di atas. Sumatea dan Jawa memiliki dampak lubean yang elatif kecil, hal ini beati bahwa dampak yang tejadi di pulau sendii jauh lebih besa dibandingkan dengan dampak lubean yang tejadi di pulau lain. Ini menunjukkan bahwa Sumatea dan Jawa elatif lebih mandii. Nilai dampak balik yang cukup besa untuk Jawa dan Sumatea menggambakan bahwa hasil pembangunan yang mengali dai Jawa setelah bebeapa saat akan kembali lagi ke Jawa. Hasil analisis ini mempunyai implikasi bahwa untuk meelokasikan kegiatan pembangunan dipelukan intevensi pemeintah mengingat bahwa tumpahan anta sekto dan tumpahan anta pulau tidak akan memadai. Bekaitan dengan dampak balik dan dampak tumpa han hasilhasil analisis menjustifikasikan pemikian bahwa kegiatan pembangunan sebaiknya difokuskan di Kawasan Timu Indonesia. Kebijakan elokasi ini bukan

70 hanya akan menguntungkan Kawasan Timu Indonesia, tetapi bagian lain dai negaa ini juga aka n tetap menikmati hasil-hasil pembangunan kaena adanya ketekaitan spasial dan dampak tumpahan. Adanya konsentasi kegiatan pembangunan di Jawa dan Sumatea akan mempebuuk masalah pemeataan dalam peekonomian Indonesia. Wilayah Jawa dan Sumatea secaa tadisional telah mendominasi peekonomian Indonesia, endahnya dampak tumpahan dai kedua pulau tesebut beati bahwa dampak besih di Jawa dan Sumatea tida k mengali secaa memadai ke wilayah lain di Indonesia. Sebaliknya, dampak umpan balik dai pembangunan di Kawasan Timu Indonesia akan mengali ke Jawa dan Sumatea. Dalam bebeapa studi ada juga yang meneapkan model I-O untuk melihat peanan infastuktu dalam suatu peekonomian. Sebagai misal yang dilakukan oleh Benvenuti dan Maangoni (998) yang menggunakan multiplie I-O untuk menguku dampak investasi dibidang konstuksi tehadap nilai tambah pada dua puluh wilayah negaa Italia, hasil studinya menunjukkan bahwa: () efek intenal lebih besa telihat di wilayah Utaa dibandingka n wilayah Selatan, sedangkan efek spill-ove lebih tampak besa di wilayah Selatan dai pada Utaa, (2) akibat ada pebedaan popensity to consume mengakibatkan efek total lebih besa telihat di wilayah Selatan dai pada Utaa. Di wilayah Selatan, p enduduknya lebih miskin sehingga sebagian besa pendapatan habis untuk konsumsi. Selain kedua temuan tesebut, hasil studinya yang sangat penting adalah mengenai peanan infastuktu dalam menciptakan nilai tambah. Disini dipeoleh temuan bahwa sekita 50% nilai tambah negaa Italia diciptakan oleh sekto infastuktu, dimana

7 sebagian besa nilai tambah tesebut dihasilkan oleh wilayah Selatan. Kondisi ini menunjukkan peanan sekto infastuktu paling penting bagi wilayah Selatan. Studi lainnya adalah mengenai kebutuhan enegi da n infastuktu di India yang dilakuka n oleh Roy da n Mukhopa dhay (995), studi ini be tuj uan untuk mengestimasi multiplie infastuktu dan multiplie enegi, yang sangat bemanfaat untuk mengevaluasi altenatif pembangunan ekonomi secaa logis dan kuantitatif. Analisis multiplie sektoal menunjukkan bahwa kebutuhan enegi India akan meningkat paling tinggi akibat peningkatan satu unit pada penggunaan enegi di sekto petambangan, diikuti petanian, pealatan dan jasa lainnya. Untuk multiplie infastuktu kebutuhan infastuktu meningkat lebih besa pada peiode 989-990, dibandingkan peiode 983-984 bagi sekto petambangan. Lebih lanjut, multiplie infastuktu listik meupakan yang tetinggi bagi sekto poduksi enegi pada peiode 989-990 diikuti oleh infastuktu tanspotasi, pelengkapan dan lain-lain. Dai studi ini kemudian dibuat fomulasi kebijakan yakni maksimisasi output dan minimisasi penggunaan enegi dan infastuktu yang secaa tidak langsung dapat menguangi beban dana investasi.