KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL
|
|
|
- Leony Budiono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 6/1/21 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHI, SE., MM DEFINISI Kebijakan dengan mengatu jumlah uang beeda. Instumen kebijakan monete: Open Maket Opeation Melalui suat behaga milik pemeintah(sbi, SBPU) epuchase ageement Discount Rate Tingkat bungayang ditetapkanpemeintahatasbank-bank umum. Reseve Requiement Ratio Mengukuefekmultiplie daicadanganwajibyang dihauskan Moal Pesuation 1
2 6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR UANG -MODAL M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 2
3 6/1/21 M S M S 1 LM 2 f 2 2 f 2 LM f 1 M D 1( ) 1 f 1 3 M D ( 1 ) M S M S 1 LM LM 1 2 f 2 2 f 2 4 f 4 4 f f 1 f 3 M D 1( ) M D ( 1 ) f1 f 3 1 3
4 6/1/21 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 M S 2 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 )
5 6/1/21 M S 2 M S LM 2 6 f 6 6 f 6 LM 2 f 2 2 f 2 5 f 5 5 f 5 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) M S 2 M S M S 1 LM 2 6 f 6 6 LM f 6 LM 1 2 f 2 2 f f 5 f f 5 f f 1 f 3 M D ( ) M D 1( 1 ) f 1 f 3 1 5
6 6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANAN EKONOMI LM E IS 6
7 6/1/21 LM LM 1 1 E E 1 1 IS LM 2 LM 2 E 2 E 2 IS 7
8 6/1/21 LM 2 LM 2 E 2 E LM 1 1 E IS Efektivitas Kebijakan Fiskal 8
9 6/1/21 IS IS 1 9
10 6/1/21 IS 2 Efektivitas Kebijakan Monete 1
11 6/1/21 LM LM 2 11
12 6/1/21 LM 3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER 12
13 6/1/21 Inteval Keynesian (Keynesian Range) Inteval LM Antaa (Intemedia te Range) Inteval Klasik (Clasical Range) LM IS 1 IS
14 6/1/21 LM IS 3 IS IS 5 IS 6 LM 5 14
15 6/1/21 IS 5 IS 6 LM IS 3 IS 4 IS 1 IS IS 3 LM 1 c IS 2 b IS 1 a
16 6/1/21 IS 3 LM e IS 2 IS 1 a d IS 3 LM 1 d LM e IS 1 a IS 2 b c
17 6/1/21 LM IS LM LM 1 IS 1 17
18 6/1/21 LM 2 LM IS 2 LM 2 LM LM 1 IS
19 6/1/21 LM IS LM LM 1 1 IS 1 19
20 6/1/21 LM 2 LM 2 IS 2 LM 2 LM LM IS 2 1 2
21 6/1/21 IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM 21
22 6/1/21 Efektivitas Kebijakan Monete Tehadap Output dan Tingkat Haga (Bunga) KURVA IS DATAR ELASTISITAS SEMPURNA KURVA IS INELASTIS SEMPURNA KURVA IS NEGATIF KURVA LM ELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KENES) Tidak tedefinisikan Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetap. Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetep. KURVA LM INELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KLASIK) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. Tidak tedefinisikan 1. Monete Ekspansif, * tuun, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. KURVA LM POSITIF (INTERVAL ANTARA) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. 1. Monete Ekspansif, * tetap, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tetap, tingkat bunga naik. 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. 22
23 6/1/21 Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemeintah untuk mengelola atau mengaahkan peekonomian ke kondisi yang diinginkan dengan caa mengubah-ubah peneimaan dan pengeluaan pemeintah. Klasifikasi Pajak a. Pajak Obyektif : pajak yang dikenakan bedasakan aktivitas ekonomi paa wajib pajak. b. Pajak Subyektif : pajak yang dipungut dengan melihat kemampuan wajib pajak. c. Pajak Langsung : beban pajak yang tidak dapat digese kepada wajib pajak lain d. Pajak tidak Langsung : beban pajak yang dapat digese kepada wajib pajak lain 23
24 6/1/21 Taif Pajak 1. Pajak Nominal : pajak yang pengenaannya bedasakan sejumlah nilai nominal tetentu. 2. Pajak Posentase : pajak yang pengenaannnya bedasakan pesentase tetentu dai dasa pengenaan pajak. a. Pajak Poposional : taif pesentasenya tetap. b. Pajak Pogesif : taif makin tinggi bila dasa pengenaan pajak makan tinggi. c. Pajak Regesif : taif makin endah bila dasa pengenaan pajak makin tinggi. Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Nominal: d = T C = C + b d C = C + b( T) C = C + b bt C = 1 +,8 d dan T = 25 C = 1 +,8( 25) C = 1 +,8 2 C = 8 +,8 24
25 6/1/21 C, C = 1 +,8 d 1 C, C = 8 +,8 8 25
26 6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,8 1 8 Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Poposional Pajak = t d = t = (1-t) C = C + b d C = C + b{(1 t)} C = C + b bt C = C + (b bt) C = 1 +,8 d dan T = 25% C = 1 +,8(1,25) C = 1 +,8(,75) C = 8 +,6 26
27 6/1/21 C, C = 1 +,8 d C, C = 8 +,6 27
28 6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,6 Pengauh Pajak Tehadap Keseimbangan Ekonomi C = 1 +,8 d = C + I + G I = 15 = 1 +, G = 25,8 = 5 T = 1 = 5/,2 = 25 = C + I + G = 1 +,8( 1) = 1 +, ,8 = 42 = 42/,2 = 21 28
29 6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah = C = 1 +,8 G= 25 I= Pendapatan Nasional Konsusmsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah = C = 2 +,8 G= 25 I= Pendapatan Nasional 29
30 6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah = C = 2 +,8 C = 2 +,8 G= 25 I= Pendapatan Nasional Politik Anggaan a. Anggaan beimbang. b. Anggaan tidak beimbang G = Pendapatan Pemeintah (1- b) b. T = - Pajak (1- b) Anggaan Defisit Pengeluaan pemeintah lebih besa dai peneimaan pemeintah digunakan untuk menstimuli petumbuhan ekonomi, kaena peekonomian dalam keadaan esesi. 3
31 6/1/21 G T = + (1- b) (1- b) W = G - T G b T = + (1- b) (1- b) G - b T = (1- b) G + W - b T = (1- b) = T + W (1- b) Politik Anggaan Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 25 T = 15 T = 15 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 Anggaan Defisit : Jika pemeintah menempuh anggaan defisit, (ΔG = 25 dan ΔT = 15). G 1 = = 5 d1 = = 4 31
32 6/1/21 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 C 1 = -22+,8 = C + I + G = 22, = 43 +,8 = 43 /,2 = 215 Δ = = 65 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 + (1/(1-,8)) = = 65 Anggaan Suplus (Kebijakan fiskal kontaktif): Peneimaan lebih besa dai pengeluaan, bila ΔC < ΔT, dimana ΔG danδt Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 32
33 6/1/21 Jikapemeintahmenempuhanggaandefisit, (ΔG = 15 danδt = 25). G 1 = = 4 d1 = = 5 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 5) C 1 = 1 +,8 4 C 1 = -3+,8 = C + I + G = -3, = 25 +,8 = 25 /,2 = 125 Δ = = -25 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 25 -(1/(1-,8)) = 25-5 = -25 Anggaan Beimbang : Pengeluaan = peneimaan (G = T atau G = T) C kaena G = (1 - b) b. T kaena T = - (1 - b) C b. T = (1 - b) (1 - b) T b. T = (1 - b) (1 - b) (1 - b) =. T (1 - b) = T = G 33
34 6/1/21 Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Bila pemeintah melakukan kebijakan anggaan beimbang dimanaδg = 15 danδt = 15. G 1 = = 4 d1 = = 4 C 1 = 1 +,8 d1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 = -22+,8 = C + I + G = -22, = 33 +,8 = 33 /,2 = 165 Δ = = 15 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 (/(1-,8)) = 15 - = 15 34
35 6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal 1 IS Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif 1 G = (1- b) IS 1 IS 1 35
36 6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal ekspansif 1 IS 1 IS IS 2 2 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif Fiskal ekspansif G = (1- b) 1 G = (1- b) G = (1- b) IS 1 IS IS
37 6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM 1 Ekspansi Fiskal * * 2 IS IS 1 37
38 6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 2 * * 2 IS 38
39 6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 1 Ekspansi Fiskal * * 2 * 1 IS IS 1 Efektivitas Kebijakan Fiskal Tehadap Output dan Tingkat haga (bunga) Kuva IS Elastis Sempuna Kuva IS Negatif Kuva IS Inelastis Sempuna Kuva LM Elastis Sempuna (Inteval Keynes Tidak tedefinisikan Kebijakan Fiskal efektif sempuna Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kebijakan Fiskal efektiff sempuna : Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kuva LM Positif (Inteval Antaa) Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Kuva LM Inelastis Sempuna (Inteval Klasik) Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Tidak tedefinisikan 39
40 6/1/21 APBN Indonesia APBN sebagai lokomotif petumbuhan ekonomi Tilogi Pembangunan (petumbuhan, pemeataan dan stabilisasi) Fungsi Fiskal : alokasi baang publik, distibusi pendapatan dan stabilisasi peekonomian. Fungsi APBN dilihat dai sisi peneimaan dan pengeluaan (dana mencakup 18 sekto) : 1. Saana, pasaana ekonomi : pembangunan jalan aya, pelabuhan, kapasitas listi, enegi dan lain-lain. 2. Peningkatan sumbedaya ma nusia : pendidikan, kesehatan dan peanan wanita. 3. Peningkatan kesejahteaan akyat ; pembangunan peumahan, pengembangan kehidupan beagama 4. Peningkatan kapasitas pemeintahan : anggaan pengembangan apaatu pemeintahan. Stuktu Dasa APBN Peneimaan A. Peneimaan Dalam Negei: 1. PeneimaanMigas 2. PeneimaanPajak 3. Peneimaan Bukan Pajak B. Peneimaan Pembangunan : 1. BantuanPogam 2. BantuanPoyek Pengeluaan C. Pengeluan Rutin: 1. Belanja Pegawai 2. Belanja Baang 3. Subsidi Daeah Otonom 4. Bunga dan Cicilan Hutang 5. Lain-lain D. Pengeluaan Pembangunan 1. Pengeluaan Pembangunan 2. Pembiayaan Rupiah A+B=C+D Tabungan pemeintah = Peneimaan dalam negei Pengeluaan utin 4
41 6/1/21 41
42 6/1/21 42
Fiskal vs Moneter Kebijakan Mana Yang Lebih Effektif?
Fiskal vs Monete Kebijakan Mana Yang Lebih Effektif? Oleh : Pemeintah bau saja mengumumkan encana peubahan defisit PN 2009 dai 1,0% tehadap PD menjadi 2,5% tehadap PD. Pada kesempatan yang sama Pemeintah
Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang. Minggu 12
Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang Minggu 12 Pendahuluan Keseimbangan umum terjadi apabila pasar barang dan pasar uang berada dalam keseimbangan secara bersama-sama. Dari keseimbangan tersebut
Keseimbangan Umum IS-LM
Keseimbangan umum terjadi apabila pasar barang dan pasar uang berada dalam keseimbangan secara bersama-sama. Dari keseimbangan tersebut diperoleh keseimbangan pendapatan nasional dan keseimbangan tingkat
KEBIJAKAN FISKAL 30/04/2016. Kebijakan fiskal
KEBIJAKAN FISKAL KEBIJAKAN FISKAL Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk mengelola atau mengarahkan perekonomian ke kondisi yang diinginkan dengan cara mengubah-ubah
KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.
KORELASI Tedapat tiga macam bentuk hubungan anta vaiabel, yaitu hubungan simetis, hubungan sebab akibat (kausal) dan hubungan Inteaktif (saling mempengauhi). Untuk mencai hubungan antaa dua vaiabel atau
ekonomi K-13 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL K e l a s A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran
K-13 ekonomi K e l a s XI KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Menjelaskan jenis dan instrumen
Kebijakan Fiskal dan Keseimbangan Pendapatan Nasional. Pengantar Ilmu Ekonomi
Kebijakan Fiskal dan Keseimbangan Pendapatan Nasional. Pengantar Ilmu Ekonomi Saturday, June 25, 2016 Pokok bahasan pertemuan ke-11 Pengertian kebijakan fiskal. Jenis Pajak. Efek Pajak otonom tehadap keseimbangan
BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan
BAB II METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Bentuk penelitian yang dipegunakan dalam penelitian ini adalah bentuk penelitian koelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan umus
08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit
EKONOMI KHUSUS 01. Dalam rangka menjaga kestabilan arus uang dan arus barang dalam perekonomian, bank sentral dapat melakukan penjualan dan pembelian surat-surat berharga di bursa efek. Kebijaksanaan bank
BAB 3 SEJARAH SINGKAT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) 3.1 Sejarah Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia
BAB 3 SEJARAH SINGKAT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) 3.1 Sejaah Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia Adapun sejaah Badan Pusat Statistik di Indonesia tejadi empat masa pemeintahan di Indonesia, antaa
KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER. Oleh : Muhlisin
KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER Oleh : Muhlisin TEORI MAKROEKONOMI MELIPUTI JUGA ANALISIS DALAM BERBAGAI ASPEK BERIKUT : 1. Masalah ekonomi yang dihadapi, terutama pengangguran dan inflasi, dan
Kebijakan Pemerintah KEBIJAKAN PEMERINTAH. Kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah 4/29/2017. Tujuan
KEBIJAKAN PEMERINTAH Kebijakan pemerintah yg berkaitan dengan APBN untuk mempengaruhi jalannya perekonomian guna mencapai sasaran atau tujuan tertentu Misal: 1. menaikkan/menurunkan budget 2. menaikkan
MODEL PEREKONOMIAN TERTUTUP 3 SEKTOR
C:/Indra/Materi Ekonomi Makro/Semester 3/UNTIRTA MODEL KENESIAN I : ANALISIS SILANG KENESIAN (The Keynesian Cross Analysis, KCA) MODEL PEREKONOMIAN TERTUTUP 3 SEKTOR Arti Analisis Silang Keynesian. Adl.
Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia
Andri Helmi M, SE., MM Sistem Ekonomi Indonesia Pemerintah bertugas menjaga stabilitas ekonomi, politik, dan sosial budaya kesejahteraan seluruh masyarakat. Siapa itu pemerintah? Bagaimana stabilitas di
BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,
METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena
35 III. METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskiptif. Kaena penelitian ini mengkaji tentang Pengauh Kontol Dii dan Lingkungan Keluaga Tehadap
BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan disegala bidang harus terus dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Untuk melaksanakan pembangunan, pemerintah tidak bisa
ANALISIS KORELASI. Konsep. Konsep (lanjutan) Arah hubungan. Agus Susworo Dwi Marhaendro
ANALISIS KORELASI Agus Suswoo Dwi Mahaendo Konsep Metode analisis tehadap data, tidak hanya yang tedii dai satu kaakteistik saja. Banyak pesoalan atau fenomena yang meliputi lebih dai sebuah vaiabel: beat
BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Utang luar negeri yang selama ini menjadi beban utang yang menumpuk yang dalam waktu relatif singkat selama 2 tahun terakhir sejak terjadinya krisis adalah
Perekonomian Indonesia
Modul ke: 11Fakultas Ekonomi & Bisnis Perekonomian Indonesia Kebijakan Fiskal dan Moneter Janfry Sihite Program Studi Manajemen Tujuan Sesuai rapem Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan
BAB I PENDAHULUAN. Cita-cita bangsa Indonesia dalam konstitusi negara adalah untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cita-cita bangsa Indonesia dalam konstitusi negara adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Cita-cita mulia tersebut dapat diwujudkan melalui pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN. mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis ekonomi tahun 1997 di Indonesia telah mengakibatkan perekonomian mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah Indonesia terbelit
I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan negara adalah pemerataan pembangunan ekonomi. Dalam
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tujuan negara adalah pemerataan pembangunan ekonomi. Dalam mencapai tujuannya, pemerintah negara Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang
I. PENDAHULUAN. membangun infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum. pasar yang tidak sempurna, serta eksternalitas dari kegiatan ekonomi.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan yang dilakukan oleh setiap pemerintahan terutama ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan, membuka kesempatan kerja,
SISTEM EKONOMI DAN KEBIJAKAN
SISTEM EKONOMI DAN KEBIJAKAN Pengertian Sistem Sistem menunjuk kepada suatu kumpulan tujuan, gagasan, kegiatan yang dipersatukan oleh beberapa bentuk saling hubungan dan adanya ketergantungan yang teratur
MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT
MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT Permintaan agregat adalah permintaan keseluruhan total atau permintaan seluruh lapisan masyarakat. Permintaan agregat terbentuk : 1. Dibentuk oleh pasar
I. PENDAHULUAN. Adanya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah serta Undang-
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adanya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah serta Undang- Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA
S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 009 ANALISIS KORELASI 1. Koefisien Koelasi Peason Koefisien Koelasi Moment
Malang Study Club. Latihan Ekonomi SMA XII IPS
1. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan cara berikut ini: (1) Membuka lokasi baru/cabang. (2) Meningkatkan kualitas SDM. (3) Menambah mesin-mesin baru. (4) Penataan posisi peralatan dan petugas
BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH?
BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH? KONSEP DASAR Path analysis meupakan salah satu alat analisis yang dikembangkan oleh Sewall Wight (Dillon and Goldstein, 1984 1 ). Wight mengembangkan metode
ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM AZHAR, SYARIFAH LIES FUAIDAH DAN M. NASIR ABDUSSAMAD Juusan Sosial Ekonomi Petanian, Fakultas Petanian Univesitas Syiah Kuala -
BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan perekonomian dunia dewasa ini ditandai dengan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara. Indonesia mengikuti perkembangan tersebut melalui serangkaian
BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel
BAB II TINJAUAN TEORI Bab ini membahas mengenai studi empiris dari penelitian sebelumnya dan landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel dalam kebijakan moneter dan
BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan fiskal pemerintah. Pada dasarnya, kebijakan fiskal mempunyai keterkaitan yang erat dengan
KEBIJAKAN FISKAL. Sayifullah, SE., M.Akt
KEBIJAKAN FISKAL Sayifullah, SE., M.Akt Materi Presentasi Asal mula kebijakan fiskal Macam kebijakan fiskal Tujuan kebijakan fiskal Konflik antara stabilitas harga dan kesempatan kerja Kaitan antara kebijakan
HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK
HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK KASUS (k) SAMPEL BERHUBUNGAN Oleh : Aief Sudajat, S. Ant, M.Si PRODI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 006 KASUS (k) SAMPEL BERHUBUNGAN Pada bagian
Perekonomian Indonesia
MODUL PERKULIAHAN Perekonomian Indonesia Kebijakan Fiskal dan APBN Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Akuntansi 10 84041 Abstraksi Modul ini membahas salah
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dalam
17 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dalam bentuk peningkatan pendapatan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, siklus ekonomi merupakan
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar. Sementara di sisi lain, usaha pengerahan dana untuk membiayai pembangunan tersebut
Model IS-LM. Lanjutan... Pasar Barang & Kurva IS 5/1/2017. PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)
Model IS-LM PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan IS-LM) Model IS-LM adalah interpretasi terkemuka dari teori Keynes. Tujuan dari model ini adalah untuk menunjukkan apa yang menentukan pendapatan nasional
I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia. Manusia melakukan kegiatan konsumsi berarti mereka juga melakukan pengeluaran. Pengeluaran untuk
SURVEI PERSEPSI PASAR
1 SURVEI PERSEPSI PASAR Triwulan III 2010 Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 diperkirakan sebesar 6,1%. Inflasi berada pada kisaran 6,1-6,5% Perkembangan ekonomi global dan domestik yang semakin membaik, kinerja
I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang sangat penting dalam perekonomian setiap negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Krisis ekonomi yang terjadi
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang fokus terhadap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang fokus terhadap pembangunan nasional. Salah satu strategi pembangunan nasional indonesia yaitu melakukan pemerataan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode meupakan caa keja yang digunakan untuk memahami, mengeti, segala sesuatu yang behubungan dengan penelitian aga tujuan yang dihaapkan dapat tecapai. Sesuai
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pinjaman luar negeri merupakan sesuatu yang wajar untuk negaranegara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan pinjaman luar negeri merupakan sesuatu yang wajar untuk negaranegara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Keterbukaan Indonesia terhadap modal asing baik
Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.
Modul ke: Fakultas FIKOM Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si. Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran. www.mercubuana.ac.id Materi Pembelajaran Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Kebijakan Moneter
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. Lab. Politik dan Tata Pemerintahan, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DR. TJAHJANULIN DOMAI, MS Lab. Politik dan Tata Pemerintahan, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya 1. Pendahuluan - Pengantar - Tujuan - Definisi 2. Ketentuan Pengelolaan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB PENDAHULUAN Lata Belakang Pada zaman moden sepeti saat sekaang ini, enegi listik meupakan kebutuhan pime bagi manusia, baik masyaakat yang tinggal di pekotaan maupun masyaakat yang tinggal di pedesaan
BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek
9 BAB III METODE PEELITIA A. Identifikasi Vaiabel Penelitian Pada bagian ini akan diuaikan segala hal yang bekaitan dengan identifikasi vaiabel penelitian, definisi opeasional vaiabel penelitian, subjek
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabungan memiliki peranan penting dalam membentuk dan mendorong pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Tabungan merupakan indikator penting
PENGELUARAN PEMERINTAH PENGGUNAAN PENGELUARAN PEMERINTAH MENJALANKAN RODA PEMERINTAHAN MEMBIAYAI KEGIATAN PEREKONOMIAN PERAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN 1. PERAN ALOKATIF: mengalokasikan SDE agar pemanfaatannya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Kebijakan fiskal Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan
Teori Politik Keuangan Publik dan Kebijakan Anggaran. Manajemen Keuangan Publik Pert. 5
Teori Politik Keuangan Publik dan Kebijakan Anggaran Pelaku Kebijakan Keuangan Negara 2 Politik Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses
I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. Pada satu sisi Indonesia terlalu cepat melakukan
PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL
KEBIJAKAN FISKAL K E L O M P O K 6 : B E R T H A Y U L I A R T I M N O V A N T I N A Y A S A P U T R I N U R U L A L I D A P A N J I A D H Y A T M A T E T A K A R I N A PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL Menurut
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) MATA KULIAH EKONOMI UMUM (EKO 160) Pengajar : TIM DOSEN
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) MATA KULIAH EKONOMI UMUM (EKO 160) Pengajar : TIM DOSEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 GARIS-GARIS BESAR
ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU
Posiding SNaPP2011 Sains, Teknologi, dan Kesehatan ISSN:2089-3582 ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU 1 Lian Apianna, 2 Sudawanto, dan 3 Vea Maya Santi Juusan Matematika,
PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT
PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT L Suparto LM,. M.Si Dalam teori makroekonomi klasik, jumlah output bergantung pada kemampuan perekonomian menawarkan barang dan jasa, yang sebalikya bergantung pada suplai
PE^fDAPATAN DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TAHUN Zulkarnaini
Jurml Ekonomi Volume 18, Nomor 2 Juni 2010 PE^fDAPATAN DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TAHUN 2003-2008 Zulkarnaini Jimisan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Bam
III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan verifikatif.
III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskiptif dan veifikatif. Menuut Sugiyono (005: 13), penelitian deskiptif adalah jenis penelitian yang menggambakan
FUNGSI PEMERINTAH Peran pemerintah dibutuhkan karena perekonomian tidak dapat secara efisien menghasilkan barang/jasa yang mengoptimalkan kepuasan masyarakat. Kegagalan pasar merupakan muara dari tidak
1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH
48 Lampian ANGKET PERSEPSI SISWA TERHADAP PERANAN ORANG TUA DAN MINAT BELAJAR DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 8 MEDAN Nama : Kelas : A. Petunjuk Pengisian. Bacalah
BAB I PENDAHULUAN. Monetaris berpendapat bahwa inflasi merupakan fenomena moneter. Artinya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan moneter dan kebijakan fiskal memiliki peran utama dalam mempertahankan stabilitas makroekonomi di negara berkembang. Namun, dua kebijakan tersebut menjadi
= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1)
Inflasi adalah kecendrungan meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus. Kenaikkan harga satu atau dua barang tidak bisa disebut sebagai inflasi, kecuali jika kenaikkan harga barang itu
PENGUKURAN INFLASI. Dalam menghitung Inflasi secara umum digunakan rumus: P P
INFLASI Minggu 15 Pendahuluan Inflasi adalah kecendrungan meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus. Kenaikkan harga satu atau dua barang tidak bisa disebut sebagai inflasi, kecuali
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab II : Kajian Pustaka 3 BAB II KAJIAN PUSTAKA Mateial bedasakan sifat popetinya dibagi menjadi bebeapa jenis, yaitu:. Isotopik : mateial yang sifat popetinya sama ke segala aah, misalnya baja.. Othotopik
I. PENDAHULUAN. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan untuk merubah keadaan kearah yang lebih baik, dengan sasaran akhir terciptanya kesejahreraan
faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu negara sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, ketersediaan sumber daya, teknologi,
EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM. Oleh : Nur Baladina, SP. MP.
EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM Oleh : Nur Baladina, SP. MP. Konsep Dasar Analisis IS-LM Model IS-LM memadukan ide-ide aliran pemikiran Klasik dengan Keynes, sering disebut sebagai sintesis Klasik-Keynesian,
ANALISIS PENERBITAN OBLIGASI TANPA JATUH TEMPO OLEH PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
ANALISIS PENERBITAN OBLIGASI TANPA JATUH TEMPO OLEH PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Hinsa Siahaan 1 Abstak Pendanaan untuk kegiatan utin dan kegiatan pembangunan di manca negaa, banyak dilakukan dengan mengeluakan
PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH TABUNGAN SIMPEDA PADA PT BANK SUMUT KANTOR CABANG MEDAN ISKANDAR MUDA PERIODE 2011 s/d 2013
PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH TABUNGAN SIMPEDA PADA PT BANK SUMUT KANTOR CABANG MEDAN ISKANDAR MUDA PERIODE 011 s/d 013 TUGAS AKHIR Ditulis untuk Memenuhi Syaat Menyelesaikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung
27 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendapatan Nasional Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung besarnya pendapatan nasional atau produksi nasional setiap tahunnya, yang
Daftar Isi. Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1
Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1 1.1 Latar Belakang... 1 1.1.1 Isu-isu Pokok Pembangunan Ekonomi Daerah... 2 1.1.2 Tujuan... 5 1.1.3 Keluaran... 5
TEORI EKONOMI 2 JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN
TEORI EKONOMI 2 JURUSAN JENJANG PENEKANAN : MANAJEMEN & AKUNTANSI : STRATA SATU : ANALISIS DAN PEMECAHAN KASUS-KASUS RIIL DI INDONESIA JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN : 3 SKS : PTA : WAJIB MEMBERIKAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 1. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (sehingga dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat
BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1
BAB 11 GRAVITASI Hukum gavitasi univesal yang diumuskan oleh Newton, diawali dengan bebeapa pemahaman dan pengamatan empiis yang telah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Mula-mula Copenicus membeikan
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN JUDUL MATAKULIAH : TEORI EKONOMI MAKRO NOMOR KODE / SKS : EKP 2426 / 3 SKS DESKRIPSI MATA KULIAH : Mata kuliah ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap perkembangan
I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yag pesat merupakan feneomena penting yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yag pesat merupakan feneomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad
VII. SIMPULAN DAN SARAN
VII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1. Simpulan Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum dalam perekonomian Indonesia terdapat ketidakseimbangan internal berupa gap yang negatif (defisit) di sektor swasta dan
BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM )
BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM ) Setelah mempelajari mengenai pendapatan nasional dan memahami sekilas perbedaan pandangan antara ekonom Klasik dan Keynesian, yang masing
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan sesuai tujuan penelitian, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Jumlah Kendaraan Bermotor
*ANALISIS KORELASI* { }
*ANALISIS KORELASI* Kegunaan analisis koelasi atau uji Peason Poduct Moment adalah untuk mencai hubungan vaiable bebas (X) dengan vaiable teikat (Y) dan data bebentuk inteval dan atio. Rumus yang dikemukakan
BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG
BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG Setelah data dai kedua vaiabel yaitu vaiabel X dan vaiabel Y tekumpul seta adanya teoi yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini meupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis egesi. Analisis ini digunakan untuk mengetahui adakah pengauh antaa vaiabel bebas
APBN Ekspansif, Utang Melonjak
Kolom Nizwar Syafaat - detiknews APBN Ekspansif, Utang Melonjak https://news.detik.com/kolom/d-3930720/apbn-ekspansif-utang-melonjak?_ga=2.149572982.1761565573.1521743067-77054248.1521743067 Kamis 22 Maret
BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan sumber penerimaan yang sangat penting artinya bagi perekonomian suatu Negara. Demikian juga dengan Indonesia sebagai negara yang sedang membangun,
PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO. PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NO~OR b TAHUN 2010 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA \ I I
.~;,1 PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NO~OR b TAHUN 2010 TENTANG PAJAK AIR TANAH ' DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA \ I I BUPATI SIDOARJO, Menimbang: a. bahwa Pajak Ai
Contoh Soal APBN Dan APBD Beserta Jawabannya
Contoh Soal APBN Dan APBD Beserta Jawabannya Contoh Soal APBN Dan APBD Beserta Jawabannya 1. APBN merupakan instrumen untuk mengendalikan perekonomian saat terjadinya infali atau deflasi. Hal ini menggambarkan
Jenis-Jenis Inflasi. Berdasarkan Tingkat Keparahan;
INFLASI Pengertian Inflasi Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dan kenaikan harga itu berlangsung dalam jangka panjang. Inflasi secara umum terjadi
