SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP Nomor 5)

dokumen-dokumen yang mirip
SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP Nomor 5)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SILABUS PERKULIAHAN PROGRAM S1 PGSD UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA IDENTITAS MATA KULIAH

BAB I PENDAHULUAN. menulis seseorang dapat menyampaikan hal yang ada dalam pikirannya.

Paket 9 STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

Nama Sekolah :... I. STANDAR KOMPETENSI I. PKn 1. Mengamalkan makna Sumpah Pemuda

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA NYARING ASPEK PENGUCAPAN DENGAN METODE STRESSING AND INTONATION DRILLING DI KELAS VIII F TAHUN PELAJARAN 20014/2015

STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM MATA KULIAH BAHASA MANDARIN I DI PRODI S1 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FIB UB

PENERAPAN GAMES TEACHING TECHNIC DALAM PENGAJARAN BERBICARA UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. belajar materi cerpen yakni dalam mengidentifikasi unsur-unsur cerpen

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

PENERAPAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DI SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Administrasi Perkantoran SMK Kristen Salatiga, peneliti berhasil

BAB I PENDAHULUAN. dirinya, budayanya serta budaya orang lain. Pembelajaran bahasa juga dapat

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama sekolah : SD NEGERI CIPETE 1. Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Mei 2014

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran yang dapat memperkaya

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA SAPAAN FORMAL BAHASA JERMAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROLE PLAY

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan serta meningkatkan kemampuan berbahasa. Tarigan (1994: 1) berpendapat bahwa.

PENINGKATAN KEMAMPUAN LISTENING COMPREHENSION MELALUI STRATEGI TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menyampaikan materi agar pembelajaran berlangsung menyenangkan. Pada saat

Permainan Kartu pada Pembelajaran Bahasa Jepang untuk Meningkatkan Keterampilan dalam Berbahasa Jepang

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN WORD CARD

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Nasional :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VB SDN 25 Kota

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS BAHASA DAN SENI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS MATA KULIAH: INTRODUCTION TO ENGLISH FOR CHILDREN

BAB II KAJIAN TEORETIS

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia : SDN. 12 Sungai Lareh Kota Padang

SAP DAN SILABUS. Nama Mata Kuliah : Listening for Elementary School (GD 322) Disusun Oleh:

PENTINGNYA MENCERMATI SELF-INSTRUCTION DAN SELF- ESTEEM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING: STUDI KASUS PENGAJARAN MENYIMAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAHAGIA BELAJAR BAHAGIA MINAT MEMBANGUN KARAKTER BELAJAR ANAK GENERASI PEMBELAJAR MANDIRI SEPANJANG HAYAT TUJUAN HIDUP MANUSIA

PENERAPAN METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DISERTAI AUTHENTIC ASSESSMENT

BAB I PENDAHULUAN. didik (siswa), materi, sumber belajar, media pembelajaran, metode dan lain

Peningkatan Penguasaan Vocabulary Teks Deskriptif melalui Pendekatan Scientific dengan Model Guide Inquiry pada Siswa SMPN 1 Besuki.

MENGUASAI SPEAKING SKILL BAHASA INGGRIS DENGAN KONSEP ENGLISH DAY BAGI GURU DAN KARYAWAN DI SMA ISLAM TERPADU FADHILAH PEKANBARU

BAB I PENDAHULUAN. sekelilingnya. Menurut Oemarjati dalam Milawati (2011: 1) tujuan pembelajaran

MATA PELAJARAN MULOK BAHASA JAWA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Speaking - Berbicara

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Bab ini menyajikan simpulan hasil penelitian tentang penerapan

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar pemikiran tersebut, pendidikan karakter. dengan metode serta pembelajaran yang aktif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih dari sekedar realisasi satu sasaran, atau bahkan beberapa sasaran. Sasaran itu

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia tersebut. Upaya peningkatan kualitas manusia harus

LAPORAN OBSERVASI KEENAM DAN KETUJUH SD NEGERI 117 PALEMBANG

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS MENGGUNAKAN METODE CONTROL TO FREE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS REPORT BAGI SISWA SMP

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

BY: METTY VERASARI MENGENAL TIPE BELAJAR ANAK (AUDITORY, VISUAL, & KINESTETIK)

BAB II KAJIAN TEORI. Dalam bab ini peneliti akan memberikan penjelasan tentang : tujuan. maupun tulisan. Departemen Pendidikan Nasional, yang sedang

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik KELAS. 1 Semester 1

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU ANGKA DAN GAMBAR PADA ANAK KELOMPOK B DI TK KANISIUS SIDOWAYAH KLATEN TAHUN AJARAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada Bab ini peneliti mengemukakan bagaimana hasil dari penelitian tindakan

METODE PENGENALAN BAHASA UNTUK ANAK USIA DINI*

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN HASIL ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bukan mata pelajaran eksak, namun

BAB IV HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS. yang berjudul Peningkatan Pemahaman Mata Pelajaran Aqidah Akhlak

LAMPIRAN A SKALA PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. salah satu faktor hakiki yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN HASIL ANALISIS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan penelitian

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS DENGAN MENGGUNAKAN TASK BASED LEARNING

Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Strategi Copy The Master Melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas IX-C SMPN 2 ToliToli

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen yaitu : keterampilan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

JUDUL Proses Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar Negeri (Studi Deskriptif di Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung)

Petunjuk untuk mempelajari materi mata kuliah PGTK2204 Tips untuk mempermudah Anda mempelajari bahasa Inggris

INDIKATOR PERKULIAHAN YANG AKTIF

Nama Sekolah :... : Peristiwa Kelas/Semester : I / 2 Alokasi Waktu : 3 minggu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V SIMPULAN SAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian di SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung tahun

OPTIMALISASI PPR UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN DAN PEMBINAAN KARAKTER 1

BAB I PENDAHULUAN. berkembang dan terus mengikuti perkembangan teknologi. Peserta didik saat

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan dalam pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS II (pertemuan I)

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

LEARNING ENGLISH THROUGH STORY, SONG AND PLAYING (Pengenalan Bahasa Inggris dalam Konteks Pendidikan Anak Usia Dini)

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS KOLABORATIF Sebuah Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis dalam Pembelajaran Bahasa Asing. ~Dante Darmawangsa ~

Transkripsi:

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP Nomor 5) Mata Kuliah : Bahasa Inggris Kode Mata Kuliah : GD 100 Pokok Bahasan : Teaching through Games and Stories Subpokok Bahasan : 1. Teaching Games 2. Teaching Stories Jumlah Pertemuan : 1 50 menit (1 pertemuan) A. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa mampu memahami pentingnya menciptakan suasana pembelajaran yang ringan, santai dan menarik dengan katalisator permainan dan nyanyian dengan penitikberatan rambu-rambu yang harus dipahami guru ketika memilih 2 hal ini. B. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat: 1. menjelaskan fungsi games, song dan stories sebagai pemecah kebosanan (breaking the ice) dalam pembelajaran; 2. merancang permainan dan nyanyian yang relevan dengan materi ajar; 3. menjelaskan dan menerapkan rambu-rambu yang harus dipatuhi guru ketika akan menerapkan permainan dan nyanyian untuk menyelingi pembelajaran; 4. menjelaskan proses kontekstualisasi dan konkretisasi kosakata melalui nyanyian dan permainan. 5. Memahami hakekat cerita dan prinsip memilih cerita yang sesuai dengan karakteristik anak; 6. Melatihkan 4 kemampuan berbahasa melalui cerita. C. Materi

STORIES Alasan Menggunakan Cerita Bahwa anak menyukai cerita bukanlah satu-satunya alasan mengapa guru perlu menggunakan teknik bercerita dalam mengajarkan bahasa Inggris di kelas. Berikut beberapa alasan lain yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahasa seperti Brewster, Rixon, Halliwel, Pedersen, Stockdale dll): a. Cerita, terutama yang bermuatan tradisional adalah teks yang otentik. Cerita tidak ditulis sengaja untuk penggunaan bahasa, melainkan memang ditulis secara asli untuk menggambarkan satu situasi secara alamiah. Jadi, dengan memberikan cerita, guru memberi kesempatan pada anak untuk benar-benar menggunakan bahasa yang sebenarnya. b. Ketika cerita dibacakan atau diperdengarkan, anak menyimak dengan tujuan, misal, mereka ingin mengetahui apa yang terjadi pada siapa. Dengan kata lain, siswa mendengarkan cerita karena mereka memang menginginkannya, bukan karena dipaksa. Perbedaan ini sangatlah signifikan, karena ingin menunjukkan motivasi. Dan motivasi sangatlah berharga dalam konteks pembelajaran. c. Cerita menjadi wadah yang baik untuk memfasilitasi 4 kemampuan berbahasa (menyimak, membaca, menulis dan berbicara) agar terlatih dengan baik. Ketika guru membacakan cerita tersebut untuk pertama kali, siswa terlibat dalam aktivitas menyimak. Ketika guru bertanya tentang isi cerita atau siswa meminta klarifikasi, maka siswa terlibat dalam aktivitas menyimak dan berbicara sekaligus. Kemudian, ketika guru meminta anak membacakan ulang isi cerita, aktivitas membaca memegang peranan penting disini. Kemudian, untuk aktivitas follow-upnya, siswa diminta menulis sebagian isi cerita atau dialog antar pelakunya, siswa terlibat dalam aktivitas menulis. Semua aktivitas ini memperlancar kemampuan berbahasa siswa, dan mereka akan melakukannya dengan sungguh-sunguh karena mereka terlibat dengan dan memperhatikan penuh isi cerita, bukan pada bentuk-bentuk gramatika atau pola-pola kalimatnya. Jarang sekali

ada bahan ajar yang bisa mengeksplorasi kemampuan berbahasa selengkap cerita. Cerita yang Digunakan Tidak semua cerita dapat dipakai untuk mengajarkan bahasa asing. Rixon (1991) menyatakan ketidaksetujuaannya saat para guru menyebutkan bahwa cerita Cinderella tidak cocok bagi pembelajaran anak-anak. Para guru menyatakan bahwa siswanya terlihat bosan dan pasif saat dibacakan cerita tersebut, namun saat diselidiki ternyata ditemukan bahwa cerita Cinderalla sudah sangat sering didengar oleh mereka dengan alur cerita yang berbeda-beda. Oleh karena itu sangatlah tepat apabila cerita yang akan dibacakan kepada siswa haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut. a. Cerita harus menarik bagi siswa dan guru. Jelas sekali cerita tersebut harus mampu menarik perhatian siswa, namun juga yang penting diperhatikan, guru pun menyenangi cerita tersebut agar ia dapat secara efektif menyampaikan cerita yang ia senangi. b. Cerita harus mudah dimengerti. Cerita tersebut harus tepat dengan usia dan tingkat bahasa yang dipelajari. Menceritakan mitos Yunani sebagai bahan pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa Indonesia hanya akan membuat bingung dan frustasi saja. Alasannya, karena cerita mitos Yunani banyak sekali hubungan dan cerita yang hanya dapat dipahami oleh orang dewasa, disamping banyak memuat kisah percintaan antara Dewa dan Dewi. Hal ini mengakibatkan cerita tersebut menjadi sulit dicerna oleh siswa. c. Cerita dapat diaplikasikan dalam berbagai aktivitas yang berguna, seperti game, drama, surat, dll. Hal ini penting karena tujuan menggunakan cerita dalam kelas adalah agar siswa dapat mempraktekan bahasa dalam komunikasi nyata. Menggunakan cerita untuk pengajaran bahasa asing akan tidak efektif jika aktivitas bahasa berakhir saat guru menyelesaikan cerita tersebut. d. Cerita tidak begitu panjang. Cerita yang sangat pendek, masih sedikit dapat digunakan dalam kelas. Tapi, cerita panjang dapat membuat masalah

karena anak-anak memiliki waktu perhatian yang terbatas. Masih mungkin apabila guru membaginya ke dalam beberapa bagian, seperi bagian awal, tengah dan akhir. e. Cerita harus tepat secara kultur. Guru dapat membuat adaptasu jika beberapa bagian cerita sulit dimengerti karena adanya perbedaan kultur antara pemelajar dengan cerita. Contohnya adalah cerita The Enourmous Turnip dapat diubah menjadi The Enourmous Carrot, karena pemelajar Indonesia lebih mengenal carrot ketimbang turnip. f. Cerita harus memiliki alur yang jelas dan menarik. Pada bagian awal, karakter tokoh harus diperkenalkan; pada bagian tengah, konflik atau cerita asli berkembang; dan pada bagian akhir, karakter yang baik biasanya mendapat reward (kemenangan), sedangkan karakter jahat mendapatkan punishment (hukuman). Alur cerita ini sangat menolong siswa untuk menebak, alur cerita selanjutnya, dan menjadi penting untuk memahami cerita tersebut. g. Cerita tersebut memiliki pengulangan yang alamiah untuk mendorong siswa berpartisipasi. Penting untuk diingat bahwa bagi banyak siswa satu ungkapan yang disampaikan akan mudah terlupakan. Jadi, segala sesuatu harus jelas dan diulang, agar siswa ingat. Contohnya dalam The Enormous Turnip, frase They all pulled and pulled, but they couldn t pull it up diulang beberapa kali saat karakter yang baru muncul. Pengulangan ini sangat berarti karena tokoh utama, petani tua, membutuhkan banyak orang untuk mencabut lobak. Sayangnya, orang-orang yang dibutuhkannya datang satu per satu sehingga kata pulling harus diulang sebelum akhirnya mereka berhasil mencabut lobak. Banyak cerita yang memuat pengulangan seperti I m the King of the Mountain, Goldilocks and The Three Bears, The Three Little Pigs, Greedy Cat dan The Little Red Hen. Cara Menyampaikan

Ada dua cara menyampaikan cerita yaitu dengan menceritakannya (telling) dan dengan membacanya (reading). Wright (1993) menyebutkan beberapa keuntungan membacakan dan menyampaikan cerita kepada anak. Keuntungan membacakan cerita kepada anak: - Membantu guru mengutarakan bahasa secara percaya diri. - Dapat memperlihatkan gambar. - Dapat mengajak siswa untuk membaca buku cerita yang telah dibaca guru. - Dapat mengajak siswa bahwa buku merupakan sumber kesenangan. Keuntungan menyampaikan cerita kepada anak: - Dapat membantu anak memahami cerita dengan pengulangan dan kata kunci, mimik dan akting, gambar di papan tulis. - Mampu melihat respon semua anak saat bercerita sehingga adaptasi perlu dibuat. - Membiarkan siswa memiliki pengalaman akan keajaiban mendengarkan cerita yang disampaikan orang lain. Saat membaca Cerita Saat membacakan cerita kepada anak-anak, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan: 1. Guru harus membaca secara perlahan dibandingkan jika ia membaca sendiri. 2. Guru harus sering-sering menanyakan kepada siswanya apakah mereka mengerti jalan ceritanya dan untuk mempertahankan situasi agar tetap kondusif. Juga, sesekali berhenti untuk memberikan kesempatan siswa menebak jalan cerita berikutnya. 3. Guru harus memperlihatkan gambar yang ada dalam buku dan menghubungkannya dengan cerita. Siswa dapat menebak dari gambar arti kata yang diutarakan. Saat Bercerita

Menceritakan cerita (telling a story) bukanlah membacakan cerita tanpa melihat buku, artinya guru tidak menghapal cerita dan menyampaikan secara sederhana kepada siswa, melainkan guru harus mengetahui cerita tersebut secara baik sehingga saat ia menceritakannya kepada siswa, cerita tersebut terlihat hidup, nyata dan seakan dapat dilihat dan dibayangkan oleh siswa. Jika hal ini terjadi, maka si pendengar seakan-akan terlibat masuk ke dalam cerita tersebut. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan story telling. 1. Guru harus banyak melakukan gerak tubuh (gesture), intonasi, demonstrasi, aksi dan berbagai ekspresi untuk menyebutkan arti apa yang sedang ia katakan. 2. Guru bebas menambah kata atau mengubah frase dan kalimat bila dianggap akan mengakibatkan munculnya kesan menarik bagi siswa. Guru pun bebas menanyakan pertanyaan untuk menjaga perhatian siswa dan mencegah dari salah paham. 3. Guru dapat menggunakan alat bantu visual seperti wayang, boneka atau gambar untuk memperkenalkan para tokoh, terlebih bila dijumpai banyak tokoh. 4. Lebih baik guru tidak memegang buku atau mempersiapkan catatan saat ia melakukan story-telling. GAMES Games atau permainan adalah salah satu cara untuk mempermudah siswa menangkap dan menggunakan ekspresi-ekspresi bahasa Inggris. Selain itu, game merupakan teknik untuk menarik perhatian anak, selain sebagai cara untuk menghilangkan kejenuhan. Singkatnya, game digunakan sebagai teknik belajar sambil bermain. Ada banyak game dalam pembelajaran bahasa Inggris, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Apakah untuk menambah kosakata, membangun kalimat, dll. Berikut adalah beberapa contoh permainan yang dapat dipakai dalam pembelajaran untuk anak-anak.

Tebak Kata Skill: deskripsi verbal, mengingat kosakata Anggota kelompok: 2-20 orang Waktu: 5-15 menit Media: Kosakata atau kartu gambar Simpan satu kotak di dalam kelas. Kotak tersebut berisikan kartu kata yang baru diperkenalkan pada anak selama seminggu. Tiap satu kata baru diperkenalkan, simpan kartunya dalam kotak. Di akhir minggu, bahas makna dan konteks katakata ini dengan seisi kelas. Caranya: Anak memilih satu kartu dari kotak yang dipegang guru, beri waktu selama lima menit untuk menjelaskan kata tersebut pada teman-temannya seisi kelas. Guru memberi petunjuk apakah kata tersebut masuk pada kategori objek/benda, tindakan (kata kerja), ekspresi, emosi dan lain sebagainya. Ketika kelas berhasil menebak satu kata, siswa lain mengambil kartu baru dan melakukan hal serupa dengan siswa pertama. Jika siswa berhasil menjelaskan dengan baik, ia dapat satu poin. Jika siswa tidak tahu makna kosakata yang tertera dalam kartu kata yang ia ambil, ia bisa melewatnya dan mengambil yang lain. Tiga kali melewat kartu, poinnya dikurangi satu. Aktivitas ini melibatkan individu, juga kerja tim. Untuk latihan tambahannya, tiap satu kosakata berhasil ditebak, anak yang mendeskripsikan harus menggunakannya dalam kalimat yang ia buat sendiri. Atau siswa lain yang meakukannya, dengan tambahan satu poin untuk yang menggunakan kata itu dalam kalimat dengan tepat dan sesuai. D. Buku Sumber Brown, H Douglas (2001). Teaching by Principles. An Interactive Approach to Language Pedagogy-2nd ed. Wesley Longman, Inc.:A Pearson Education Company Pappas, CC, B. Kiefer, dan L.S. Levstik. 1995. An Integrated Language Perspective in the Elementary school. NewYork: Longman Rubin, Dorothy. 1995. Teaching Elementary Language Art an Integrated Approach. Boston: Allyn and Bacon

Sinaga, Matias. 1997. Teaching English to Children dalam The Development of TEFL in Indonesia. Malang:IKIP Malang Suryanto, Kasihani K.E. 1997. Teaching English to Young Learners in Indonesia dalam The Development of TEFL in Malang:IKIP Malang Indonesia. E. Media Beberapa media yang digunakan dalam proses pembelajaran ini antara lain: over head projector (OHP), slide, dan modul cetak. F. Metode Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah: ekspositori, diskusi, probing, demonstrasi, dan penugasan. G. Evaluasi 1. Proses a. Dilihat dari aktivitas dan partisipasi mahasiswa di kelas selama pembelajaran berlangsung. b. Penampilan pada saat mahasiswa melakukan diskusi. 2. Hasil, melalui Tes Unit setelah menyelesaikan satu pokok bahasan ini. H. Tugas Mahasiswa ditugaskan mengerjakan tugas berupa pekerjaan rumah secara individual maupun berkelompok. I. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal Dosen memberikan beberapa pengkondisian untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya belajar, memotivasi dan meningkatkan minat mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris.

Kegiatan Inti 1. Mahasiswa diberi simulasi pendek tentang bagaimana mengajarkan materi dan menekankan 4 keterampilan berbahasa lewat proses cerita, permainan dan nyanyian; 2. Mahasiswa berdiskusi dengan dosen terkait dengan simulasi yang dilakukan untuk mematangkan fungsi nyanyian, cerita dan permainan dalam pembelajaran bahasa; 3. Mahasiswa mendiskusikan prinsip-prinsip pemilihan sebuah cerita yang sesuai dengan karakteristik pemelajar; 4. Mahasiswa mendiskusikan rambu-rambu dalam mengajarkan materi yang diselingi nyanyian atau permainan; 5. Mahasiswa berdiskusi tentang kemungkinan upaya guru menyajikan bahan ajar dengan menggabungkan empat keterampilan berbahasa melalui cerita, permainan dan nyanyian; 6. Disajikan kepada mahasiswa beberapa konflik kognitif mengenai kendala yang mungkin muncul dalam mengajarkan cerita atau permainan dna nyanyian; 7. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan observasi dan investigasi terhadap permasalahan yang ada dalam setiap konteks, sehingga diharapkan kreativitasnya muncul. 8. Dosen sebagai fasilitator, mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dengan bersikap proaktif, dan memicu tumbuhnya kreativitas mahasiswa ketika melakukan pemecahan masalah. 9. Representasi dari mahasiswa dibahas bersama dalam suasana diskusi kelas, dan setiap mahasiswa berhak untuk berargumentasi, mendebat setuju atau tidak setuju terhadap pendapat mahasiswa lainnya. 10. Dosen mengorganisasikan diskusi kelas dengan baik. Kegiatan Akhir

1. Mahasiswa diberi kesempatan untuk merumuskan inti perkuliahan pada saat itu, serta memberikan penilaian terhadap kinerja dosen serta temantemannya dalam bentuk jurnal. 2. Dosen membuat intisari perkuliahan berdasarkan kontribusi/pendapat mahasiswa. 3. Dosen memberikan tugas untuk mengkreasikan bahan ajar dengan cerita, nyanyian atau permainan.