V. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
ISTITUT PERTANIAN BOGOR DIREKTORAT ADMINISTRASI PENDIDIKAN

SKRIPSI JULAEHA H

VI. KARAKTERISTIK RESPONDEN KONSUMEN RESTORAN KHASPAPI

KUESIONER ANALISIS SIKAP KONSUMEN TERHADAP KOPI INSTAN KOPIKO BROWN COFFEE DI KOTA DEPOK

BAB IV HASIL PENELITIAN

VII. ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja Terhadap Atribut Susu Sehat (Importance Performance Analysis)

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan rancangan cross

Kuesioner Penelitian

VI. ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK MINUMAN SARI BUAH MINUTE MAID PULPY ORANGE DI KOTA BOGOR

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Lampiran 1. Jumlah Penduduk Kota Bogor Menurut Kelompok Jenis Kelamin Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial, ia tidak terlepas dari pengaruh

Kuisioner Penelitian Nomor Kuisioner :.. Tanggal Kuisioner :..

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Konsumen

II. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan bisnis yang pesat pada abad 26 ini menimbulkan persaingan yang

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN SARI ROTI (STUDY KASUS MAHASISWA DAN MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA)

LAMPIRAN 1 (DAFTAR SEKOLAH SISWA-SISWI SEBAGAI RESPONDEN)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

METODE PENELITIAN. Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Contoh dan Teknik Penarikan Contoh

BAB I PENDAHULUAN. manusia dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak.

REKOMENDASI ALTERNATIF KEBIJAKAN PEMASARAN. pemasaran, adapun strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Makanan jajanan sekolah merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

7. LAMPIRAN. Lampiran 1. Perhitungan 1.1. Uji Beda Berdasarkan Jenis kelamin Pemahaman. Persepsi. Perilaku. Produk teh lain.

IV. METODE PENELITIAN

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA ANALISIS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN (STUDI KASUS PADA PENGGUNAAN ALAT-ALAT TULIS DI LINGKUNGAN KAMPUS IPB)

VI PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN

tahun 2007 menjadi 6,9% pada tahun Adapun sekitar 6,3 juta wanita Indonesia

BAB V KARAKTERISTIK RESPONDEN

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. perilaku yang berbeda. Informasi yang disajikan memberi peluang bagi produsen

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB VIII ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN DAN KINERJA

BAB I PENDAHULUAN. penjualan dan dituntut untuk melakukan kegiatan pemasaran dengan baik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik

VI. KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN DAN PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN MOCI KASWARI LAMPION. mengetahui, mengenal serta mengkonsumsi moci Kaswari Lampion.

BAB IV HASIL PENELITIAN

ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN SUSU UHT MEREK REAL GOOD DI KOTA BOGOR. Oleh : YUSTIKA MUHARASTRI A

BAB III METODE PENELITIAN. Objek penelitian adalah peran bauran pemasaran terhadap perilaku

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Siswa SMA Negeri 5 Bogor Tabel 1. Karakteristik Siswa SMA Negeri 5 Bogor Jenis kelamin - Tempat tinggal -

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. tengah keluarga, Kecap manis ABC Mantap meluncurkan desain kemasan

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk

III KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Konsumen

I PENDAHULUAN. Latar Belakang tahun

BAB I PENDAHULUAN. membuat perusahaan harus bersaing untuk mendapatkan laba maksimal bagi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di dalam era globalisasi saat ini perkembangan teknologi dan industri

KUESIONER PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Persentase Pengeluaran Rata-Rata per kapita Tahun 1999 dan Jenis komoditas

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen, yaitu

VII PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PAKET WISATA KUSUMA AGROWISATA

7. LAMPIRAN Lampiran 1. Foto Pelaksanaan Survey 1.1. Foto Survey di SMP Yohanes XXIII Semarang

I. PENDAHULUAN. Perkembangan jaman yang semakin modern menyebabkan banyaknya. pembangunan toko ritel yang berkonsep swalayan. Beberapa tahun terakhir,

IV. METODE PENELITIAN

BAB V KARAKTERISTIK KONSUMEN DALAM PROSES PEMBELIAN KOPIKO BROWN COFFEE

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

I. PENDAHULUAN. [28 Februari 2011] 1 Makanan dan Minuman

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Konsumen

VII. PROSES KEPUTUSAN KONSUMEN BERKUNJUNG KE OBJEK WISATA AGRO GUNUNG MAS

BAB IV GAMBARAN UMUM HONEY MADOE

BAB I PENDAHULUAN. penambahan bahan-bahan lain. Bahkan fast food (makanan cepat saji) semakin

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

VI. HASIL ANALISIS. 6.1 Analisis Deskriptif Karakteristik Konsumen Kacang Garing Merek Garudafood

BAB I PENDAHULUAN. dengan harga yang murah, menarik dan bervariasi. Menurut FAO (Food

I. PENDAHULUAN. additive dalam produknya. Zat tambahan makanan adalah suatu senyawa. memperbaiki karakter pangan agar mutunya meningkat.

BAB I PENDAHULUAN. pemasaran. Untuk tetap mendapatkan simpati dari konsumen, produsen

RINGKASAN EKSEKUTIF SITI MAESAROH, 2003 UJANG SUMARWAN IDQAN FAHMI.

I. PENDAHULUAN. Uraian Jumlah penduduk (juta jiwa) Konsumsi beras (juta ton) (Sumber: BPS, 2012)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik responden merupakan ciri yang menggambarkan identitas

LAMPIRAN. Lampiran 1. Hasil Pengujian SPSS Uji Beda Variabel Kelas dan Jenis Kelamin Uji Kruskall-Wallis Variabel.

LEMBAR PERSETUJUAM SEBAGAI RESPONDEN (INFORM CONSENT)

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi persaingan bisnis menjadi semakin meningkat, baik di pasar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Minum teh sudah merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia semenjak

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

SKRIPSI PENGARUH FAKTOR-FAKTOR PENCARIAN INFORMASI, PENILAIAN PELANGGAN DAN MEMORI IKLAN TERHADAP KEPUTUSAN ADOPSI PRODUK BARU

BAB I PENDAHULUAN. yang lain (Kotler dan Amstrong, 2008:5). Dalam definisi manajerial, banyak

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan kebutuhan hidup yang semakin kompleks pula. Hal ini menuntut

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Bentuk dunia bisnis dalam persaingan yaitu bisnis yang bergerak dalam

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VII IMPLIKASI KEBIJAKAN STRATEGI PEMASARAN. tingkat kinerja atribut-atribut Dancow Batita maka dapat dihasilkan implikasi

Transkripsi:

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan PT. Kraft Foods Inc. merupakan salah satu perusahaan global yang bergerak dalam bidang produksi makanan dan minuman yang berpusat di Northfield Illinoi, Amerika Serikat. PT Kraft Foods Inc. didirikan oleh James L. Kraft pada tahun 1903. Adapun semboyan perusahaan adalah Buat hari ini nikmat. PT. Kraft Foods Inc memiliki lebih dari 50 merek dengan pendapatan minimal $100 juta, dan terdapat sembilan merek yang merupakan penyumbang pendapatan terbesar yaitu : Kraft keju Oscar mayer daging 3. Philadelphia keju 4. Maxwell kopi rumah 5. Nabisco kue dengan merek Oreo 6. Kopi yakub 7. Milka cokelat 8. LU biskuit PT. Kraft Foods Inc. tumbuh dan berkembang dengan cara fokus dan bertahan memalui stategi perusahann seperti membangun high-performing organisasi, mengeksploitasi kemampuan penjual atau anak perusahaan yang berada diberbagai negara di dunia. Kegiatan operasi perusahaan lebih dari 70 negara seluruh dunia, dengan penjualan lebih dari 150 negara, serta terdiri dari 180 pabrik dan terdapat 11 riset pusat pengembangan. Nabisco merupakan salah satu perusahaan yang telah diakuisisi oleh PT Kraft Foods inc. Nabisco merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang makanan biskuit. PT. Nabisco berdiri pada tahun 1898 di Amerika Serikat. Nama Nabisco pertama muncul di produk biskuit wafer gula pada tahun 190 Kraft Inc berhasil mengakuisisi PT. Nabisco pada bulan Desember 2000. Pada saat ini, Nabisco Inc merupakaan salah satu perusahaan terkenal dengan berbagai merk produk biskuit berkualitas seperti Oreo dan Ritz. Kraft Inc merupakan salah satu perusahaan global yang memiliki cabang diberbagai negara diseluruh dunia seperti Australia, Indonesia, Italia, Jerman,

Meksiko, Timur Tengah, Hongkong, Malysia, dan lain sebagainya. Dengan pasar utama Australia, Kanada, Denmark, Jerman, Italia, Meksiko, Indonesia, Philipina, Spanyol, Selandia Baru, Venezuela, dan lain sebagainya. PT. Kraft Foods Indonesia merupakan cabang perusahaan dari Kraft Inc. PT. Kraft Foods Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri Consumer Product atau FMCG dan jenis perusahaannya adalah Perseroan Terbatas (PT) yang berdasar pada perusahaan asing. PT. Kraft Foods Indonesia berlokasi di Graha Inti Fauzi Lt. 10 Jl. Buncit Raya No.22 Jakarta Selatan 12510. PT. Kraft Foods Indonesia memiliki semboyan Buat Hari ini Nikmat dan memiliki strategi perusahaan yang sama dengan Kraft Inc. yaitu membangun high- performing perusahaan. Pada awalnya PT. Kraft Foods Indonesia hanya memproduksi produk keju dengan merek keju Kraft, tetapi setelah perusahaan Kraft Inc mengakuisisi perusahaan Nabisco yang merupakan produsen produk makanan yang terkenal seperti Oreo, Ritz, dan Toblerone maka PT. Kraft Foods Indonesia pun selain memproduksi keju Kraft juga memproduksi produk Oreo, Ritz, dan Toblerone. Pada mulanya Oreo diperkenalkan oleh perusahaan Nabisco pada bulan Februari tahun 1912 dengan sasaran utama pasar di Inggris. Pada awalnya, biskuit Oreo berbentuk seperti gunung yang terdiri dari dua rasa, yaitu lemon dan krim. Desain yang baru diperkenalkan pada tahun 1916. Biskuit ini terdiri dari dua lapisan yang berwarna cokelat kehitaman dengan bagian tengahnya terdapat krim. Sejak diluncurkan di Indonesia pada tahun 1996, biskuit ini mendapat sambutan yang luar biasa, khususnya pada kaum anak-anak yang merupakan segmen utama dari produk ini. Pada tahun 2000 perusahaan Nabisco diakuisisi oleh Kraft Inc. sehingga produk Oreo menjadi diproduksi oleh PT. Kraft Foods. 5.2 Keadaan Umum Asrama TPB IPB Asrama mahasiswa TPB IPB terletak di dalam Kampus IPB Dramaga. Asrama terbagi menjadi dua lokasi, yaitu Asrama Mahasiswa Putra (ASTRA) dan Putri (ASTRI), yang dikelola oleh Badan Pengelola Pembinaan Akademik, Multibudaya dan Asrama (BPPA) TPB-IPB yang dipimpin oleh seorang Kepala Asrama.

Asrama Mahasiswa Putra TPB-IPB terdiri atas tiga buah gedung utama yang diberi nama Gedung C1, Gedung C2, dan Gedung C3, dengan disertai sebuah kantor tempat tinggal Manager Unit (MU). Setiap gedung asrama terdiri dari 112 kamar. Asrama Mahasiswa Putri TPB-IPB terdiri atas empat buah gedung utama yang bernama Gedung A1,Gedung A2, Gedung A3, dan RUSUNAWA (Rumah Susun Mahasiswa), ditambah sebuah gedung yang terdiri dari kantor (BPPA), tempat tinggal MU, dan wartel. Gedung A1 memiliki 135 kamar, Gedung A2 dan A3 masing-masing memiliki 131 kamar, dan RUSUNAWA memiliki 150 kamar. Setiap gedung asrama merupakan gedung yang memiliki dua lantai kecuali RUSUNAWA yang merupakan bangunan baru terdiri dari empat lantai. Setiap asrama dipimpin oleh seorang MU, enam orang Senior Residence (SR), beberapa petugas administrasi, petugas keamanan, dan petugas kebersihan. Setiap lantai memiliki dua lorong (lorong kiri dan kanan), dan memiliki kurang lebih 56 kamar tidur, 32 kamar mandi, dan 16 WC. Di kiri dan kanan gedung pintu masuk setiap gedung disedikan rak sepatu dan sandal mahasiswa dan pengunjung. Tiap kamar berukuran 3,7 X 3,9 m 2 dan dihuni oleh empat orang mahasiswa yang berbeda daerah asalnya dan berbeda program studinya. Fasilitas yang terdapat di setiap kamar terdiri dari dua set tempat tidur bertingkat, satu lemari pakaian, dan dua meja belajar. Setiap gedung juga memiliki fasilitas penunjang antara lain dua buah saluran telepon, dua buah televisi, mushola, ruang diskusi, kamar mandi, serta saluran telepon umum (wartel) yang dikelola oleh pihak asrama dan kantin. 5.3 Karakteristik Umum Responden Responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 92 orang yang merupakan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor. Karakterisrik responden yang dianalisis meliputi jenis kelamin, umur, dan uang saku perbulan. Dari 92 responden yang diwawancarai sebagian besar merupakan perempuan yaitu sebesar 56 responden atau sebesar 61 persen dari total responden. Sedangkan laki-laki sebesar 36 responden atau sebesar 39 persen dari total responden (Tabel 12). Responden perempuan lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki hal ini dikarenakan jumlah mahasiswa

perempuan pada Tingkat Persiapan Bersama lebih banyak daripada mahasiswa laki-laki (Lampiran 1). Tabel 1 Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin No. Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%) Laki-laki Perempuan 36 56 39 61 Total 92 100 Tabel 13 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan usia. Berdasarkan hasil penelitian rentang usia mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) antara 17-20 tahun. Rentang usia tersebut dapat dimengerti karena mahasiswa Tingkat Persipan Bersama tergolong remaja. Sebagian besar responden berusia 19 tahun, yaitu sebanyak 48 orang responden atau sebesar 52 persen dari total responden. Hal ini dikarenakan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama merupakan mahasiswa tingkat pertama di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sedangkan kelompok usia paling sedikit adalah 17 tahun, yaitu sebanyak satu orang responden atau sebesar 1 persen dari seluruh total responden. Tabel 13. Sebaran responden berdasarkan usia No. Usia (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. 17 18 19 20 1 40 48 3 1 43 52 3 Total 92 100 Salah satu faktor internal yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah sumberdaya konsumen. Setiap orang konsumen membawa tiga sumberdaya ke dalam setiap situasi pengambilan keputusan, yaitu waktu, uang, dan perhatian (penerimaan informasi dan kemampuan pengolahan) (Umar, 2000). Dalam hal ini, mahasiswa sebagai konsumen juga memiliki ketiga sumberdaya tersebut dalam hal mengkonsumsi produk Oreo. Salah satu sumberdaya tersebut adalah uang yang dapat dinilai dari besarnya penerimaan yang diterima per bulan (uang saku). Dalam penelitian ini uang saku per bulan yang diterima oleh para responden berkisar antara Rp.

300.000 Rp. 500.000. sebagian besar responden memiliki uang saku sebesar Rp. 500.000 Rp. 000.000,-. Sedangkan responden yang memiliki uang saku diatas Rp. 000.000,- relatif lebih sedikit. Dari 92 responden, sebesar 67 responden atau sebesar 73 persen memiliki uang saku sebesar Rp. 500.000 Rp. 000.000 per bulan. Responden yang memiliki uang saku kurang dari Rp. 500.000,- adalah sebanyak 23 responden atau sebesar 25 persen, sedangkan responden yang memiliki uang saku diatas Rp. 000.000,- adalah sebanyak dua responden atau sebesar tiga persen (Tabel 14). Berdasarkan wawancara dengan responden, hampir seluruh responden menyatakan bahwa uang saku yang mereka terima adalah berasal dari orang tua. Tabel 14. Sebaran responden berdasarkan uang saku per bulan No. Uang saku per bulan (rupiah) Jumlah (orang) Persentase (%) 3. < 500.000 500.000-000.000 >000.000 23 67 2 25 73 2 Total 92 100 5.4 Perilaku Pembelian/Konsumsi Produk Oreo Kotler (2002) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi niat pembelian dan keputusan pembelian seseorang adalah situasi tidak terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat pembelian. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa sebanyak 82 orang responden atau sebesar 89 persen responden melakukan pembelian produk Oreo dengan cara tidak direncanakan terlebih dahulu (Tabel 15). Sebagian besar responden membeli produk oreo dilakukan dengan cara tanpa direncanakan terlebih dahulu. Pembelian tanpa direncanakan banyak dilakukan oleh responden ketika melihat produk Oreo di supermarket, minimarket, warung, dan lain sebagainya. Responden merasa tertarik terhadap produk Oreo ketika melihat kemasannya yang cukup menarik sehingga mendorong responden membeli secara tanpa direncanakan produk Oreo. Hal ini berarti bahwa kemasan produk Oreo sudah cukup baik serta mampu menarik perhatian kosumen khususnya konsumen yang menjadi target pasar seperti remaja. Sedangkan sebanyak 10 responden atau sebesar 11 persen melakukan pembelian produk Oreo dengan cara terencana. Berdasarkan hasil wawancara

dengan responden, mereka melakukan pembelian secara terencana produk Oreo karena sebelumnya responden sudah mempunyai niat dari rumah atau asrama untuk membeli produk Oreo. Tabel 15. Sebaran responden berdasarkan cara memutuskan pembelian produk Oreo. No. Cara memutuskan pembelian Jumlah (orang) Persentase (%) Terencana 10 11 Tidak direncanakan 82 89 Total 92 100 Seluruh responden dalam penelitian ini merupakan konsumen produk Oreo. Berdasarkan hasil kuesioner penelitian, dalam hal frekuensi mengkonsumsi produk Oreo per bulannya berkisar dari 1 20 kali per bulan. Pada Tabel 16 menunjukkan bahwa sebanyak 74 responden atau sebesar 80 persen mengkonsumsi produk Oreo kurang dari 5 kali dalam sebulan. Dan sebanyak 2 responden atau sebesar 2 persen mengkonsumsi produk oreo diatas 10 kali perbulannya. Responden yang frekuensi pembeliannya diatas lima kali perbulannya merupakan responden yang menyukai dan menggemari produk Oreo. Tabel 16. Sebaran responden berdasarkan frekuensi mengkonsumsi produk Oreo. No. Frekuensi pembelian per bulan Jumlah (orang) Persentase (%) 3. <5 5-10 >10 74 16 2 80 18 2 Total 92 100 Berkaitan dengan frekuensi mengkonsumsi produk Oreo, waktu yang banyak dipilih responden untuk mengkonsumsi produk Oreo pada umumnya adalah pada waktu malam dan siang hari. Mereka yang biasanya mengkonsumsi produk Oreo pada malam dan siang hari menyatakan bahwa mereka mengkonsumsi produk oreo sebagai makanan cemilan. Sebanyak 29 responden atau sebesar 31 persen mengkonsumsi produk Oreo pada malam hari dan sebanyak 25 responden atau sebesar 27 persen mengkonsumsi produk Oreo pada siang hari. Serta sebanyak 23 responden atau sebesar 25 persen mengkonsumsi produk Oreo pada sore hari dan sebanyak 10 responden mengkonsumsi pada pagi hari dan sisanya sebanyak 5 responden menjawab lainnya. Berdasarkan hasil

wawancara, responden yang menjawab lainnya merupakan responden yang mengkonsumsi produk Oreo dengan waktu tidak tentu (kapan saja). Tabel 17. Sebaran responden berdasarkan waktu mengkonsumsi produk Oreo. No. Waktu mengkonsumsi produk oreo Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. 5. Pagi Siang Sore Malam Lainnya 10 25 23 29 5 11 27 25 31 6 Total 92 100 Keterangan : responden dapat memilih lebih dari satu. Produk Oreo terdiri dari berbagi jenis yaitu Oreo Sandwich Chocolate Creme, Oreo Sandwich Strawberry Creme, Oreo Sandwich Doublestuff, Oreo wafer stick, Oreo Wafer, dan Oreo Sandwich Vanilla. Sebagian responden memberikan jawaban lebih dari satu dalam mengkonsumsi jenis produk Oreo, hal ini dikarenakan responden tidak hanya mengkonsumsi produk Oreo dalam satu jenis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis produk Oreo yang paling banyak dikonsumsi responden adalah Oreo Sandwich Chocolate Creme yaitu sebesar 34 persen dari total responden sedangkan yang paling sedikit adalah Oreo Strawberry Creme yaitu sebesar 9 persen dari total responden (Tabel 18). Tabel 18. Sebaran responden berdasarkan jenis-jenis produk Oreo yang pernah dikonsumsi No. Jenis produk oreo Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. 5. 6. Oreo Sandwich Chocolate Creme Oreo Sandwich Doublestuff Oreo Sandwich Strawberry Creme Oreo Wafer stick Oreo wafer Oreo Sandwich Vanilla 75 32 19 40 24 29 Total 219 100 Keterangan : Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban Dalam hal cara mendapatkan produk Oreo yang ingin dikonsumsi, responden memberikan jawaban lebih dari satu hal ini dikarenakan responden membeli produk Oreo tidak hanya pada satu tempat saja. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar responden umumnya membeli 34 15 9 18 11 13

produk oreo di Minimarket. Pada Tabel 19, sebanyak 74 responden menyatakan bahwa mereka membeli produk Oreo di minimarket. Hal ini dapat dimengerti karena terdapat beberapa minimarket disekitar lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor yang sering menjadi tempat berbelanja mahasiswa. Meskipun terdapat warung-warung kecil, umumnya mahasiswa lebih memilih berbelanja diminimarket-minimarket yang menyediakan barang-barang lebih lengkap. Sedangkan responden lainnya juga menyatakan membeli produk Oreo di supermarket dan warung-warung. Sedangkan sebagian kecil yaitu sebanyak 6 responden memilh lainnya yaitu mereka mendapatkan produk Oreo dari teman atau sudah tersedia dirumah orang tua mereka. Tabel 19. Sebaran resonden berdasarkan tempat pembelian produk Oreo No. Tempat pembelian Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. Supermarket Minimarket Warung Lainnya 47 74 49 6 27 42 28 3 Total 176 100 Keterangan : responden dapat memilih lebih dari satu. Kebutuhan konsumen untuk mengkonsumsi produk Oreo didasari alasan yang melatarbelakangi konsumen untuk melakukan pembelian produk Oreo tersebut. Tabel 20 menunjukkan bahwa alasan utama yang mendasari responden dalam mengkonsumsi produk Oreo adalah karena sifatnya sebagai makanan pengganti/cemilan. Sebanyak 65 responden atau sebesar 71 persen responden menyatakan mereka memilih produk Oreo karena dapat dijadikan penahan lapar sebelum jam makan tiba atau sebagai cemilan. Alasan lain yang juga banyak disebutkan responden, yaitu sebanyak 18 responden atau sebanyak 20 persen adalah produk Oreo memiliki kualitas tinggi. Alasan praktis dan harga yang cukup terjangkau juga menjadi faktor yang melatarbelakangi responden dalam mengkonsumsi produk Oreo yaitu sebesar 5 persen dan 4 persen dari total responden.

Tabel 20. Sebaran responden berdasarkan alasan dalam mengkonsumsi produk Oreo No. Alasan mengkonsumsi produk Oreo Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. 5. Kualitas Harga Praktis Sebagai makanan pengganti/cemilan Lainnya 18 4 5 65-20 4 71 5 - Total 92 100 Sebuah produk merupakan kumpulan dari berbagai atribut yang menyusun produk tersebut. Atribut suatu produk merupakan hal-hal yang dapat dilihat, diraba, atau dirasakan konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk. Dalam penelitian ini terdapat delapan atribut produk Oreo yang diilih yaitu rasa, harga, merek, kemasan, ukuran, kandungan gizi, promosi/iklan, dan ketersediaan. Responden diminta untuk meranking atribut-atribut tersebut dari atribut yang paling dipertimbangkan dalam mengkonsumsi produk Oreo hingga atribut yang paling tidak berpengaruh terhadap keputusan konsumsi mereka terhadap produk Oreo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa merupakan atribut terpenting yang dipilih responden dalam mengkonsumsi produk Oreo. Pada Tabel 21, 40 responden memilih atribut rasa sebagai atribut yang paling penting atau dipertimbangkan dalam mengkonsumsi produk Oreo. Atribut promosi, merek, kandungan gizi menjadi pertimbangan selanjutnya dalam mengkonsumsi produk Oreo. Sedangkan atribut harga, kemasan, ukuran, dan ketersediaan menjadi atribut yang tidak terlalu dipertimbangkan oleh responden. Atribut harga tidak terlalu dipertimbangkan karena sebagian besar responden (80 persen) frekuensi pembeliannya jarang (kurang dari 5 kali perbulan) serta berdasarkan wawancara responden mendapatkan produk Oreo karena sudah tersedia di rumah.

Tabel 2 Sebaran responden berdasarkan urutan prioritas atribut dalam mengkonsumsi produk Oreo No. Atribut Jumlah (orang) I II III IV V VI VII VIII Rasa Promosi Merek Kandungan gizi Harga Kemasan Ukuran Ketersediaan 40 17 10 8 6 5 3 2 Total 92 Konsumen dapat melakukan pencarian informasi melalui dua cara, yaitu melalui pencarian internal (pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan) maupun pencarian eksternal (memperoleh informasi dari lingkungan) (Engel at al, 1994). Tabel 22 menunjukkan beberapa sumber informasi dari mana responden mengetahui informasi mengenai keberadaan produk Oreo. Sumber informasi ini sebagian besar berasal dari eksternal, karena dianggap responden itu lebih terpengaruh ketika mereka melihat langsung produk tersebut dan dirangsang melalui informasi harga dan kualitas yang ditawarkan. Sumber informasi ini pula yang menyebabkan responden melakukan pembelian produk Oreo. Sebagian besar responden memberikan jawaban yang lebih dari satu dalam proses pencarian informasi. Tabel 2 Sebaran responden berdasarkan jenis sumber informasi dalam mengetahui keberadaan suatu produk Oreo No. Sumber Informasi Jumlah (orang) Persentase (%) 3. 4. 5. Iklan media elektronik Iklan media cetak Keluarga Teman Lainnya 92 30 18 33 1 54 16 10 19 1 Total 172 100 Keterangan : responden dapat memilih lebih dari satu jawaban Pengetahuan konsumen akan merek-merek suatu produk merupakan hal penting yang harus disadari oleh para produsen. Dalam hal ini promosi menjadi komponen penting dalam memasarkan produk yang diproduksi oleh sebuah perusahaan. Berdasarkan tabel diatas, media elektronik dalam hal ini adalah

televisi merupakan sumber informasi yang banyak dipilih responden dalam mengetahui informasi mengenai produk Oreo. Berdasarkan Tabel 22 terlihat bahwa sebesar 54 persen responden menyatakan bahwa mereka mengetahui keberadaan informasi produk Oreo adalah dari iklan media elektronik yaitu televisi. Untuk media lainnya seperti iklan media cetak, keluarga, dan teman juga dipilih responden namun tidak sebanyak media elektronik. Serta terdapat satu responden yang menjawab lainnya, berdasarkan wawancara hal lainnya yang dimaksud adalah informasi yang terdapat dalam toko dimana informasi tersebut baru diketahui responden ketika terdapat suatu produk Oreo di toko/tempat responden berbelanja. Tugas pemasaran tidak berhenti begitu penjualan terjadi karena pembeli akan mengevaluasi apakah hasil pembelian yang mereka lakukan memuaskan atau tidak. Keyakinan dan sikap yang terbentuk pada tahap ini akan langsung mempengaruhi niat pembelian masa datang, komunikasi lisan dan perilaku pembelian. Tabel 23 menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa puas atas pembelian yang telah mereka lakukan, yaitu sebanyak 88 responden atau sebesar 96 persen dari total responden. Dari hal ini terlihat bahwa produk Oreo dapat memenuhi keinginan konsumennya. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, kepuasan responden tersebut bisa disebabkan beberapa alasan yang menjadi pertimbangan dalam pembelian seperti rasanya yang enak dan kualitasnya. Dan sisanya yaitu sebanyak 4 responden atau sebesar 4 persen menyatakan tidak puas terhadap produk Oreo. Beberapa alasan ketidak puasan terhadap roduk Oreo adalah dapat meninggalkan noda hitam di gigi dan jika dikonsumsi secara sering dapat meningkatkan berat badan. Tabel 23. Sebaran responden berdasarkan tingkat kepuasan responden atas pembelian produk Oreo No. Tingkat kepuasan Jumlah (orang) Persentase (%) Ya Tidak 89 96 4 4 Total 92 100

5.5 Tingkat Pengetahuan Keamanan Pangan Pengetahuan keamanan pangan adalah pengetahuan tentang peranan keamanan pangan yang terkandung dalam makanan dan minuman yang meliputi bahan tambahan pangan, proses pengolahan pangan, sampai produk pangan dikonsumsi oleh konsumen. Item pernyataan tentang pengetahuan keamanan pangan terdiri dari 10 pernyataan positif dengan menggunakan Skala Likert sangat tahu (5) sampai sangat tidak tahu (1). Skor rata-rata tingkat pengetahuan keamanan pangan untuk setiap pernyataan disajikan pada Tabel 24. Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa skor rata-rata jawaban responden pada setiap item pernyataan baik laki-laki maupun perempuan berkisar pada angka 3 (antara tahu dan tidak tahu) dan 4 (tahu). Skor rata-rata tertinggi responden terlihat pada pernyataan Boraks, formalin, rhodamin B, dan kuning metanil merupakan zat kimia yang dilarang penggunaannya dalam pangan yaitu sebesar 4,2 Hal ini disebabkan sebagian besar responden sudah sering mendengar mengenai zat-zat berbahaya dalam makanan. Pengetahuan mengenai zat-zat berbahaya dalam pangan diperoleh responden dari buku, berita televisi, media cetak, dan internet. Sedangkan skor rata-rata terendah terdapat pada pernyataan Bahan Tambahan Pangan merupakan senyawa yang ditambahkan ke dalam pangan dengan tujuan tertentu yaitu sebesar 3,39. Rendahnya skor rata-rata pengetahuan keamanan pangan pada pernyataan tersebut disebabkan responden jarang mendengar definisi mengenai bahan tambahan pangan, responden lebih mengetahui mengenai jenis-jenis bahan tambahan pangan (pernyataan ke-3) yang terlihat dengan skor rata-rata responden untuk pernyataan ke-3 sebesar 3,97. Hal ini dikarenakan contoh-contoh bahan tambahan pangan lebih sering responden dengar baik dari media elektronik seperti televisi maupun dari media cetak serta dari buku-buku.

Tabel 24. Skor rata-rata tingkat pengetahuan keamanan pangan responden untuk setiap jenis pertanyaan pengetahuan keamanan pangan No. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pernyataan Keamanan Pangan Keamanan pangan merupakan kondisi dan upaya untuk mencegah pangan dari kemungkinan pencemaran biologi, kimiawi, dan fisik yang dapat merugikan kesehatan. Bahan Tambahan Pangan merupakan senyawa yang ditambahkan ke dalam pangan dengan tujuan tertentu. Pewarna, pengawet, pemutih, antioksidan, pemanis bukan gula, anti gumpal dan pengatur keasaman merupakan contoh bahan tambahan pangan. Penggunaan bahan tambahan pangan diperbolehkan asal dengan aturan tertentu. Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam makanan dapat membahayakan dan tidak membahayakan kesehatan. Boraks, formalin, rhodamin B, dan kuning metanil merupakan zat kimia yang dilarang penggunaannya dalam pangan. Pastereulisasi, pemanasan, pengeringan dan pengawetan dapat mempengaruhi keamanan pangan. Produk industri rumah tangga dan produk-produk instan serta praktis keamanan pangannya tidak terjamin. Kasus keracunan makanan disebabkan adanya sejumlah bahan berbahaya dalam makanan. Melamin merupakan salah satu zat kimia berbahaya karena mengandung formalin jika digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Laki-laki (n=37) 3,95 3,27 3,84 3,81 3,70 4,16 3,38 3,49 3,86 3,73 Peremp uan (n=56) 3,95 3,48 4,05 3,89 3,75 4,25 3,52 3,46 4,07 3,82 Total (n=93) 3,95 3,39 3,97 3,86 3,73 4,21 3,46 3,47 3,98 3,78 Keterangan : skor antara 1-5 Jawaban tahu dan tidak tahu terhadap pernyataan pengetahuan keamanan pangan memperlihatkan tinggi rendahnya pengetahuan responden terhadap

pengetahuan keamanan pangan. Tingkat pengetahuan keamanan pangan digolongkan menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah (Walpole, 1999). Secara keseluruhan skor terendah pengetahuan keamanan pangan adalah 28 dan skor tertinggi adalah 46. Sedangkan skor rata-rata secara keseluruhan adalah sebesar 37.83. Sebagian besar responden baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat pengetahuan keamanan pangan yang berada dalam kategori sedang yaitu sebanyak 61 responden atau sebesar 66,30 persen (Tabel 25). Tabel 25. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan keamanan pangan Tingkat pengetahuan Laki-laki Perempuan Total keamanan pangan N % N % N % Tinggi (42-48) 3 8,33 14 25,00 17 18,48 Sedang (35-41) 26 72,22 35 62,50 61 66,30 Rendah (28-34) 7 19,44 7 12,50 14 15,22 Total 36 100 56 100 92 100 Tingkat pengetahuan keamanan pangan yang sedang menunjukkan bahwa responden cukup mengetahui mengenai keamanan pangan. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang berada dalam kategori tingkat pengetahuan keamanan pangan yang tinggi berjumlah 17 responden (sebesar 18,48 persen) yang terdiri dari 14 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Tingkat pengetahuan keamanan pangan yang tinggi menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik terhadap keamanan pangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, responden yang memiliki tingkat pengetahuan pangan ketegori tinggi adalah responden yang sudah mendapat informasi mengenai keamanan pangan dari masa sekolah di SMA, responden yang suka membaca buku, majalah, maupun yang sering mencari informasi melalui internet. Sedangkan responden yang berada dalam kategori tingkat pengetahuan keamanan pangan yang rendah berjumlah 14 responden (sebesar 15,22 persen) yang terdiri dari 7 perempuan dan 7 laki-laki. Tingkat pengetahuan keamanan pangan yang rendah menunjukkan bahwa responden kurang memiliki banyak informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keamanan pangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang tingkat pengetahuan

pangannya rendah, responden yang tingkat pengetahuan pangannya rendah disebabkan responden jarang mendengar dan mendapatkan informasi mengenai keamanan pangan, mereka biasanya hanya mendapat informasi tentang keamanan pangan secara sekilas dari acara televisi. 5.6 Tingkat Pengetahuan terhadap Produk Oreo Tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo menunjukkan tinggi rendahnya pengetahuan responden terhadap produk Oreo. Variabel tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo dalam penelitian ini meliputi jenis produk Oreo yang beredar di Indonesia, perusahaan yang memproduksi produk Oreo, perbedaan antara produk Oreo lokal dan luar negeri serta peredaran produk Oreo setelah adanya isu melamin. Item pernyataan tentang pengetahuan terhadap produk Oreo terdiri dari 6 pernyataan positif. Skor rata-rata tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo untuk setiap pernyataan disajikan pada Tabel 26. Sebagian besar responden baik laki-laki maupun perempuan memilih jawaban 2 (tidak tahu) dan 3 (antara tahu dan tidak tahu ). Berdasarkan Tabel 26 skor rata-rata jawaban responden tertinggi terlihat pada pernyataan Produk Oreo dilarang peredarannya di pasaran yaitu sebesar 3,29. Hal ini menunjukkan responden memiliki pengetahuan yang ragu-ragu terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara responden yang menjawab antara tahu dan tidak tahu (ragu-ragu) pada pernyataan tersebut adalah responden yang masih merasa ragu karena mereka mengetahui bahwa produk Oreo merupakan salah satu produk diduga mengndung melamin sedangkan di televisi terdapat iklan yang menyatakan bahwa Oreo diperbolehkan peredarannya dipasaran. Sedangkan untuk responden yang menjawab tahu pada pernyataan tersebut, berdasarkan hasil wawancara responden tersebut mengetahui bahwa produk Oreo yang dilarang peredarannya merupakan produk Oreo buatan luar negeri (China). Skor rata-rata terendah terlihat pada pernyataan Produk Oreo impor diproduksi oleh PT. Nabisco yaitu sebesar 2,48. Hal ini menunjukkan bahwa responden ragu-ragu mengenai pernyataan tersebut. Rendahnya nilai pada pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap perusahaan yang memproduksi produk Oreo impor masih rendah. Berdasarkan

hasil wawancara responden pada umumnya tidak terlalu mengetahui mengenai keberadaan jenis produk Oreo yang beredar di Indonesia, mereka hanya mengetahui bahwa produk Oreo yang beredar di Indonesia merupakan produk yang diproduksi di dalam negeri oleh PT. Kraft Food Indonesia. Hal ini terlihat dari skor rata-rata responden yang lebih tinggi untuk pernyataan ke-2 ( Produk Oreo lokal diproduksi oleh PT.Kraft Food Indonesia) yaitu sebesar 3,17. Tabel 26. Skor rata-rata tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo untuk setiap jenis pernyataan No Laki-laki Perempuan Total Pernyataan. 3. 4. 5. 6. Produk Oreo yang beredar di Indonesia terdiri dari produk Oreo buatan dalam negeri (lokal) dan buatan luar negeri (impor). Produk Oreo lokal diproduksi oleh PT. Kraft Indonesia. Produk Oreo impor diproduksi oleh PT. Nabisco. Produk Oreo lokal berkode MD. Produk Oreo impor berkode ML. Produk Oreo dilarang peredarannya dipasaran. Keterangan : Skor antara 1-5 (n=37) 3,12 3,06 2,34 2,37 2,29 3,07 (n=56) 2,9 3,23 2,57 2,86 2,71 3,43 (n=93) 3,03 3,17 2,48 2,67 2,56 3,29 Tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo digolongkan menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah (Walpole, 1999). Secara keseluruhan skor terendah pengetahuan terhadap produk Oreo adalah 6 dan skor tertinggi adalah 28. Tabel 26 menunjukkan sebagian besar responden (baik laki-laki dan perempuan) memiliki tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo pada kategori sedang yaitu sebanyak 65 responden atau sebesar 70,65 persen. Tingkat pengetahuan sedang mencerminkan bahwa responden cukup memahami dan memiliki pandangan yang tidak negatif terhadap produk Oreo. Dari Tabel 27 juga dapat diketahui bahwa sebanyak 15 responden (sebesar 7,62 persen) yang terdiri dari 12 orang perempuan dan 3 orang laki-laki yang berada dalam kategori tingkat pengetahuan tinggi. Tingkat pengetahuan yang tinggi menunjukkan bahwa responden memiliki banyak informasi mengenai produk Oreo. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, responden yang tingkat pengetahuan terhadap produk Oreonya tinggi adalah responden yang

sering membaca surat kabar dan yang melakukan penelusuran melalui internet. Sedangkan sebanyak 12 responden (sebesar 13,04 persen) yang terdiri dari 7 orang perempuan dan 5 orang laki-laki yang berada dalam kategri rendah. Tingkat pengetahuan yang rendah menunjukkan bahwa responden memiliki sedikit informasi mengenai produk Oreo, berdasarkan keterangan dari responden, responden hanya mendengar pemberitaan mengenai isu melamin hanya selintas dan tidak terlalu mendalam. Tabel 27. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo Tingkat pengetahuan terhadap Laki-laki Perempuan Total produk Oreo N % N % n % Tinggi (20,8-28) 3 8,33 12 21,43 15 16,30 Sedang (13,4-20,7) 28 77,78 37 66,07 65 70,65 Rendah (6-13,3) 5 13,89 7 12,50 12 13,04 Total 36 100 56 100 93 100 5.7 Analisis Persepsi Terhadap Produk Oreo Setelah Adanya Isu Melamin Persepsi merupakan cara pandang seseorang melihat realitas di luar dirinya atau lingkungan yang telah ditentukan oleh stimulus. Dengan adanya stimulus maka konsumen akan memberikan perhatian sehingga dapat memiliki pemahaman (Mowen & Minor (2002) yang diacu dalam Sumarwan (2003). Dalam penelitian ini yang menjadi stimulus adalah adanya informasi baik dari media elektronik maupun media cetak mengenai pemberitaan produk Oreo yang diduga mengandung melamin. Besarnya skor pesepsi diukur dengan menggunakan Skala Likert dengan nilai antara 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 (sangat setuju). Skor rata-rata persepsi responden untuk setiap pernyataan persepsi disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28. Sebaran responden berdasarkan skor rata-rata persepsi untuk setiap pernyataan No. Pernyataan Laki-laki Perempuan Total (n=37) (n=56) (n=93) 3. Oreo merupakan salah satu jenis biskuit susu. Produk Oreo merupakan salah satu produk pangan yang diduga tidak mengandung melamin. Produk oreo aman untuk dikonsumsi 3,86 3,46 3 3,80 3,50 2,85 3,82 2,52 3,09 4. Konsumsi produk Oreo tidak 5. membahayakan kesehatan tubuh. Produk Oreo menjadi biskuit yang 3,03 2,95 3,01 berkualitas setelah adanya isu 3,19 3 2,89 melamin. Keterangan : skor antara 1-5 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa skor rata-rata jawaban responden tertinggi terdapat pada pernyataan Oreo merupakan salah satu jenis biskuit susu yaitu sebesar 3,8 Pernyataan tersebut adalah pernyataan positif, maka hal ini menunjukkan bahwa responden cukup setuju bahwa Oreo merupakan salah satu biskuit susu. Berdasarkan keterangan dari responden, responden yang memilih setuju didasarkan karena responden mengetahui produk Oreo sebagai biskuit susu dari rasa dan komposisi yang terdapat pada kemasan. Pada pernyataan ke-2 yaitu Produk Oreo merupakan salah satu produk pangan yang diduga tidak mengandung melamin skor rata-rata jawaban responden adalah sebesar 2,5 Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki pandangan tidak setuju. Berdasarkan keterangan dari responden, hal tersebut dikarenakan responden tidak memiliki banyak informasi mengenai pemberitaan produk yang bermelamin. Persepsi yang sama juga ditunjukkan pada pernyataan ke-4 dan 5. Pada pernyataan ke-4 yaitu Konsumsi produk Oreo tidak membahayakan kesehatan tubuh skor rata-rata responden adalah 3,09. Hal ini menunjukkan bahwa responden berpandangan antara setuju dan tidak setuju (ragu-ragu) terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan keterangan dari responden, hal ini dikarenakan sampai saat ini belum terdapat korban yang menderita akibat mengkonsumsi produk Oreo. Pada pernyataan ke-5 ( Produk Oreo menjadi produk yang

berkualitas setelah adanya isu melamin ), skor rata-rata jawaban responden adalah 2,89. Hal ini menunjukkan bahwa responden berpandangan ragu-ragu terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan keteranga dari responden, responden berpandangan ragu dikarenakan sampai saat ini responden belum menemukan bukti nyata bahwa produk Oreo tidak berkualitas. Skor rata-rata responden terendah terdapat pada pernyataan Produk oreo aman untuk dikonsumsi yaitu sebesar 3,09. Hal ini menunjukkan bahwa responden antara setuju dan tidak setuju bahwa produk Oreo aman untuk dikonsumsi. Berdasarkan keterangan dari responden, responden mengetahui mengenai pemberitaan produk yang bermelamin dimana salah satunya dalah Oreo, tetapi responden menjadi ragu karena hanya produk Oreo buatan luar negeri saja (China) yang positif mengandung melamin sedangkan Oreo buatan dalam negeri bebas melamin. Selain itu, untuk saat ini produk Oreo masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan produk Oreo bergizi baik serta adanya iklan yang menggambarkan bahwa produk Oreo tidak mengandung melamin sehingga mereka menganggap bahwa produk Oreo aman untuk dikonsumsi. Jawaban setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan persepsi memperlihatkan baik tidaknya persepsi responden terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Persepsi responden terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin digolongkan menjadi dua kategori yaitu persepsi baik dan persepsi buruk. Secara keseluruhan skor persepsi responden berkisar antara 11 sampai dengan 23 dengan rata-rata skor persepsi sebesar 15,33. Sebagian besar responden baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat persepsi yang berada dalam kategori buruk yaitu sebanyak 77 responden atau sebesar 83,69 persen. Tingkat persepsi yang buruk mencerminkan bahwa responden tidak cukup memahami dan memiliki pandangan yang negatif terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Berdasarkan keterangan dari responden hal ini disebabkan responden kurang mengetahui kebenran pemberitaan isu melamin, mereka hanya mengetahui dan mendengar sekilas bahwa salah satu produk yang diduga mengandung melamin adalah Oreo. Dari Tabel 29 juga dapat diketahui bahwa responden yang memiliki persepsi yang baik berjumlah 15 orang responden atau sebesar 16,30 persen.

Tingkat persepsi yang baik berarti bahwa responden telah memahami dan mengetahui dengan baik mengenai isu melamin dan memiliki pandangan yang positif terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Pandangan positif terhadap produk Oreo dapat terbentuk akibat adanya pengetahuan yang dalam mengenai produk Oreo yang terkena isu melamin. Berdasarkan keterangan dari responden, mereka memperoleh pengetahuan yang mendalam kerena sering membaca berita di surat kabar, penelusuran melalui internet, maupun informasi dari teman atau keluarga. Tabel 29. Sebaran responden berdasarkan tingkat persepsi Tingkat persepsi terhadap Laki-laki Perempuan Total produk Oreo setelah adanya isu melamin n % N % N % baik (18-23) 7 19,44 8 14,28 15 16,31 buruk (11-17) 29 80,56 48 85,72 77 83,69 Total 36 100 56 100 92 100 5.8 Analisis Sikap Terhadap Produk Oreo Setelah Adanya Isu Melamin Sikap adalah evaluasi, perasaan dan kecenderungan seseorang yang relatif konsisten terhadap suatu objek atau gagasan (Umar, 2000). Sikap akan menempatkan seseorang dalam satu pikiran untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, bergerak mendekati atau menjauhinya. Sikap merupakan inti dari rasa suka dan tidak suka bagi orang, kelompok, situasi, objek dan ide-ide tidak berwujud tertentu. Daftar pernyataan tentang sikap responden terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin terdiri atas 5 pernyataan yang dihitung dengan menggunakan skala Likert dengan rentang skala sangat setuju (5) sampai sangat tidak setuju (1). Tabel 30 menunjukkan skor rata-rata responden berdasarkan sikap terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden memberikan skor 2 (kurang setuju) hingga 4 (setuju).

Tabel 30. Sebaran responden berdasarkan skor rata-rata sikap terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin No. Pernyataan Laki-laki (n=36) Saya tetap mengkonsumsi 2,59 produk Oreo sama seperti sebelum terkena isu malamin Saya tidak akan beralih 2,42 mengkonsumsi produk biskuit lain. 3. Saya mempercayai produk Oreo 3,11 sebagai produk berkualitas. 4. Saya mempercayai produk Oreo 3,03 aman dikonsumsi dan bebas melamin. 5. Saya mempercayai bahwa 3,25 produk Oreo diperbolehkan peredarannya di pasaran Perempuan (n=56) 3,04 2,66 3,32 3,09 3,34 Total (n=93) 2,80 2,56 3,24 3,06 3,30 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa skor rata-rata jawaban responden laki-laki dan perempuan pada pernyataan ke-1 adalah 2,59 dan 3,04. Skor laki-laki yang lebih rendah menunjukkan bahwa responden laki-laki tidak setuju dengan pernyataan ke-1 hal ini berarti responden laki-laki bersikap untuk tidak mengkonsumsi produk Oreo sama seperti sebelum terkena isu melamin. Sedangkan responden perempuan dengan rata-rata skor 3,04 berarti responden perempuan bersikap ragu-ragu terhadap pernyataan ke- Perbedaan sikap anatar laki-laki dan perempuan dapat disebabkan adanya perbedaan tingkat pengetahuan terhadap isu melamin dimanan responden perempuan memiliki lebih banyak informasi dibandingkan responden laki-laki. Selain itu, skor rata-rata tertinggi terlihat pada pernyataan Saya mempercayai bahwa produk Oreo diperbolehkan peredarannya dipasaran yaitu sebesar 3,30. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki sikap antara setuju dan tidak setuju (ragu-ragu) terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan keterangan dari responden sikap-ragu-ragu disebabkan karena responden mengetahui mengenai isu melamin tetapi sampai saat ini produk Oreo masih banyak beredar dipasaran serta terdapat iklan di televisi yang menunjukkan bahwa Oreo berkualitas baik. Selain itu responden juga memberikan keterangan bahwa produk Oreo yang dilaranng peredarannya

adalah produk Oreo yang buatan China sedangkan yang buatan dalam negeri diperbolehkan peredarannya. Sikap yang sama juga ditunjukkan responden terhadap pernyataan ke-3 dan ke-4. Pada pernyataan ke-3 responden memberikan skor rata-rata sebesar 3,24. Hal ini menunjukkan bahwa responden bersikap antara setuju dan tidak setuju (ragu-ragu) terhadap pernyataan tersebut. Berdasarkan keterangan dari responden, sikap ragu-ragu tersebut dikarenakan responden tidak mempunyai informasi yang mendalam mengenai kebenaran isu melamin. Keterangan lainnya adalah responden mengetahui bahwa produk Oreo mengandung melamin tetapi masih banyak beredar dipasaran serta hanya produk Oreo berkode ML saja yang kualitasnya tidak baik sedangkan produk Oreo berkode MD berkualitas baik (bebas melamin). Pada pernyataan ke-4, skor rata-rata jawaban responden adalah 3,06. Hal ini menunjukkan bahwa responden berikap antara setuju dan tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Responden bersikap ragu-ragu dikarenakan responden tidak mengetahui kebenaran pemberitaan mengenai isu melamin secara mendalam,serta sampai saat ini produk Oreo masih beredar dipasaran. Selain itu, menurut responden tidak semua produk Oreo mengandung melamin hanya produk yang berkode ML saja yang mengandung melamin sedangkan yang berkode MD bebas mealmin. Skor rata-rata sikap terendah terdapat pada pernyataan Saya tidak akan beralih mengkonsumsi produk biskuit lain yaitu sebesar 2,56. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak setuju untuk tidak beralih mengkonsumsi produk biskuit lain. Rendahnya skor sikap pada pernyataan tersebut disebabkan karena responden bukan konsumen yang memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap produk Oreo. Sikap yang sama juga ditunjukkan responden terhadap pernyataan ke-1 yaitu dengan skor 2,80. Dimana responden bersikap tidak setuju bahwa responden tetap mengkonsumsi produk Oreo sama seperti sebelum terkena isu melamin. Berdasarkan keterangan dari responden, mereka tidak mengkonsumsi produk Oreo sama seperti sebelum terkena isu melamin dikarenakan terdapat perasaan takut untuk mengkonsumsi karena adanya kandungan melamin.

Jawaban setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan sikap memperlihatkan sikap responden terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Sikap responden terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin digolongkan kedalam dua kategori yaitu positif dan negatif. Secara keseluruhan skor sikap responden berkisar antara 10 sampai dengan 22 dengan rata-rata skor sikap sebesar 16. Tabel 3 Sebaran responden berdasarkan sikap terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin Tingkat sikap terhadap produk Laki-laki Perempuan Total Oreo setelah adanya isu melamin N % N % N % Positif (17-22) 9 25,00 24 42,86 33 35,87 Negatif (10-16) 27 75,00 32 57,14 59 64,13 Total 36 100 56 100 92 100 Dari Tabel 31 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden baik lakilaki maupun perempuan memiliki tingkat sikap yang berada dalam kategori negatif yaitu sebanyak 59 orang responden atau sebesar 64,13 persen. Sikap negatif menunjukkan bahwa responden cukup terpengaruh oleh pemberitaan isu melamin, selain itu, responden juga memiliki kecenderungan untuk tidak mengkonsumsi produk Oreo seperti sebelum terkena isu melamin. Berdasarkan keterangan responden mereka bersikap negatif karena terpengaruh oleh isu tersebut serta adanya keragu-raguan dalam mengkonsumsi produk Oreo hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan terhadap produk Oreo sehingga responden tidak mengetahui kebenaran isu tersebut. Sedangkan sebanyak 33 responden atau sebesar 35,87 persen memiliki sikap positif terhadap produk Oreo setelah adanya isu melamin. Sikap positif menunjukkan bahwa responden cukup memahami produk Oreo yang terkena isu melamin dan responden memiliki sikap yang baik (positif) terhadap produk Oreo dimana mereka tetap bersikap cenderung sama seperti sebelum adanya isu melamin. Sikap positif juga menunjukkan bahwa responden mengganggap produk Oreo sebagai produk yang berkualitas, bebas dari zat berbahaya, serta memiliki kecenderungan untuk tetap mengkonsumsi produk Oreo. Berdasarkan keterangan responden, responden bersikap positif terhadap produk Oreo karena responden memiliki pengetahuan tentang produk Oreo yang cukup mendalam sehingga

responden mengetahui kebenaran berita isu melamin dimana yang positif mengandung melamin adalah produk Oreo buatan luar negeri sedangkan buatan dalam negeri bebas melamin.