BAB III ANALISIS ANAK-ANAK INDIGO

dokumen-dokumen yang mirip
Pedologi. Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

Memahami dan membantu anak-anak yang mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. Deskripsi Kondisi Anak

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gambaran konsep diri..., Indri Apsari, FPsi UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan sumber kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga sejak di

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada anak-anak, diantaranya adalah ganguan konsentrasi (Attention

BAB I PENDAHULUAN. masalah, tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian.

ADD/ADHD & PEMBELAJARANNYA. Tim Dosen Hidayat dan Musjafak

LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN. : Stimulasi Brain Gym pada Anak ADHD (Studi Kasus pada Anak ADHD)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pedologi. Attention-Deficit Hyperactivity Disorder Kesulitan Belajar. Yenny, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga pada masa ini sering kali disebut dengan masa keemasan the Golden

Penyuluhan Perkembangan Anak Usia Dini dan Anak Hyperactive Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Chr Argo Widiharto, Suhendri, Venty.

BAB I PENDAHULUAN. masa depan dengan segala potensi yang ada. Oleh karena itu hendaknya dikelola baik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tidak semua anak berbakat punya perilaku layaknya anak-anak normal. Ada juga diantara mereka memiliki

ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY. Ade Rahmawati S. M.Psi

ANAK ADHD PERSISTILAHAN DISORDER. DIOTAK KECIL. OTAK KECIL. 1. ADHD= ATTENSION DEFISIT AND HYPERACTIVITY 2. ADD= ATTENSION DEFISIT DISORDER.

PENGERTIAN. Dita Rachmayani., S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id 5/9/2017

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual anak.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan manusia merupakan perubahan. yang bersifat progresif dan berlangsung secara

BAB 1 PENDAHULUAN. dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan adalah usaha sadar dan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. I.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anngi Euis Siti Sa'adah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan pendidikan adalah milik semua orang, tidak. terkecuali Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Keterbatasan yang dialami

Pedologi. Review Seluruh Materi. Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi.

BAB III METODE PENELITIAN

TAHAP-TAHAP KEHIDUPAN / PERKEMBANGAN KELUARGA

Angket 1 No Pernyataan SS S TS STS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manapun dengan berbagai budaya dan sistem sosial. Keluarga merupakan warisan umat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah


BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Attention Deficit Hyperactivity Disorder. disebabkan karena cedera otak ringan atau disebut Minimal Brain Damage

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi adalah salah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam

Oleh: Dra. Rahayu Ginintasasi, M. Si

UPAYA PENGENALAN VOCABULARY BAHASA INGGRIS ANAK USIA DINI KELOMPOK B MELALUI BERNYANYI DI RA ULUMUL QUR AN MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENGARUH TERAPI MUROTTAL TERHADAP TINGKAT HIPERAKTIF IMPULSIF PADA ANAK ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDER (ADHD)

BAB I PENDAHULUAN. tujuan. Hal senada dikemukakan oleh David C.McClelland. McClelland. Sebenarnya inti teori motivasi yang dikemukakan oleh David

BAB I. sosialnya sehingga mereka dapat hidup dalam lingkungan sekitarnya. Melalui

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan

GENERASI INDIGO. Lilis Madyawati. Dosen FKIP UMM

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai berusia 18 (delapan belas) tahun. 1. sering ditunjukkan ialah inatensi, hiperaktif, dan impulsif. 2 Analisis meta-regresi

INDIVIDU. Chapter 13

BAB III METODE PENELITIAN. memberikan intervensi pada sasaran penelitian. Eksperimen yang dilakukan

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan otak diusia balita akan berdampak pada usia dewasanya nanti,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Purwanti Febriani, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

4 Temperamen Manusia

BAB I PENDAHULUAN. tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan inklusi, yaitu Peraturan Gubernur No. 116 tahun 2007 saja, masih belum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada awal abad 21 ini, dunia pendidikan di indonesia menghadapi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak normal (siswa reguler), akan

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS 1 PSIKIATRI DEPARTEMEN/SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA FK UNAIR - RSU dr.soetomo SURABAYA 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

KEBAHAGIAAN SAUDARA KANDUNG ANAK AUTIS. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,

LETTER OF CONSENT. Dengan ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. yang tak kunjung mampu dipecahkan sehingga mengganggu aktivitas.

TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER)

BAB I PENDAHULUAN. secara fisik maupun psikologis. Sementara anak cenderung di dominasi oleh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

LAMPIRAN A PENYESUAIAN RAGAM GERAK TERAPI GERAKAN TARI. Berjalan lembeyan. Berjalan lembeyan. kanan

A. KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN PENGAJARAN REMEDIAL

SEMINAR TENTANG ABK DISAMPAIKAN DALAM RANGKA KAB. BANDUNG BARAT (10 MEI 2008) OLEH: NIA SUTISNA, DRS. M.Si

IMPLEMENTASI AKTIVITAS BERMAIN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PERMAINAN BOLA TANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks pada anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Gangguan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Suryo Dharmono Bag. Psikiatri FKUI/RSCM

BAB I PENDAHULUAN. orang merupakan perpaduan di antara tipe-tipe tersebut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK. Pelayanan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas intelektual berbasis keluarga

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu penggunaan komputer telah menjadi suatu hal yang diperlukan baik di

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya manusia dan masyarakat berkualitas yang memiliki kecerdasan

KESEHATAN MENTAL. SURYANTO, M.Kes.

BAB I PENDAHULUAN. Proses pendidikan berlangsung dalam suatu kegiatan sosial antara peserta

BAB I PENDAHULUAN. masih tanggung jawab orang tua. Kewajiban orang tua terhadap anak yaitu membesarkan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,

Transkripsi:

BAB III ANALISIS ANAK-ANAK INDIGO Dalam bukunya The Color Code, Hartman mengelompokkan berbagai aspek kepribadian dan perilaku ke dalam empat kategori warna yaitu merah, biru, putih dan kuning. Hartman menggunakan kode warna untuk kepribadian, karena warna sudah menjadi metafora yang dikenal untuk emosi dan perilaku. Warna merah dikaitkan dengan emosi marah karena pada saat marah, muka akan terlihat merah padam. Sedangkan ketika sedih akan terasa "biru". Dengan menggunakan warna sebagai penuntun, orang akan mampu membaca perilaku mereka sendiri dan orang lain. Namun kecil kemungkinannya bahwa manusia memiliki hanya satu warna penuh, 100% merah, biru, putih atau kuning saja. Pada manusia yang terbanyak dijumpai adalah memiliki satu warna namun tercampur dengan jeja-jejak warna lain. Menurut Hartman setiap warna mewakili satu motif kuat tertentu. Warna merah untuk kekuasaan, Biru untuk keintiman, Putih untuk kedamaian dan Kuning untuk kesenangan. Nancy Ann Tappe adalah penulis buku Understanding Your Life Through Color yang ditulis pada tahun 1982. Nancy menggolongkan jenis tertentu perilaku manusia ke dalam kelompok-kelompok warna dan secara intuitif menciptakan sebuah sistem yang akurat dan membuka pikiran. Buku yang ditulis oleh Nancy sebenarnya bersifat metafisik melalui "penglihatannnya", Nancy melihat adanya warna-warna baru diluar warna merah, biru, putih dan kuning, yaitu warna "biru-gelap" atau Indigo yang menjadi warna kehidupan baru pada diri seorang anak. Warna Indigo cocok disandang oleh seorang anak yang memikiki perilaku unik. Warna Indigo (biru-gelap) adalah juga merupakan warna yang tidak lazim. Klasifikasi empat warna yang dikaitkan dengan kepribadian dan perilaku manusia yang dikemukan oleh Hartman tidak satupun yang sesuai untuk anakanak Indigo. Para Indigo memiliki kepribadian dan perilaku yang berbeda dan unik. Model Hartman lebih cocok bila dihubungkan dengan model Hipocrates

pada abad pertengahan yang menggolong-golongkan kepribadian menjadi tipe Sanguinis, Melankolis, Plegmatis dan Koleris serta memberi mereka dengan identitas warna yang sesuai yaitu merah, biru, putih dan kuning. Sedangkan Nancy secara intuitif melihat adanya warna baru pada diri anak Indigo yaitu warna "biru-gelap". Deskripsi Hartman tentang kepribadian dan perilaku manusia berdasarkan warna kehidupan memang tidak berhubungan dengan deskripsi warna Indigo yang disandang oleh anak-anal Indigo. Dari buku yang disusun oleh Lee Carroll dan Jan Taber secara umum dapat dilihat keunikan dari kepribadian dan perilaku anak-anak Indigo. Karena warna kehidupan mereka berbeda dengan anak-anak lainnya, maka sangat bijaksana bilamana mereka memperoleh perhatian dan perlakuan khusus. Oleh karena anak-anak Indigo juga terbagi atas beberapa tipe (Humanis, Konseptual, Seniman dan Interdimensional), perlakuan terhadap masing-masing anak Indigo juga tidak dapat dipukul rata oleh karena masing-masing anak memiliki warna kehidupan yang berbeda pula. Anak-anak Indigo seringkali mengalami perlakuan salah karena dianggap sebagai anak hiperaktif atau bahkan tergolong anak ADD (Attention Deficit Disorder). Pola kepribadian dan perilaku anak Indigo memang unik, sehingga tidak banyak orang dapat memahami keunikan perilaku anak Indigo. Sebagian orang menganggap anak-anak Indigo yang hiperaktif termasuk anak ADHD (Attention Deficit Hiperactive Disorder). Alabiso dan Hansen dalam bukunya berjudul The Hyperactive Child in The Classroom menjelaskan pengertian hiperaktivitas pada anak-anak. Seorang anak tergolong hiperaktif bila memiliki kegiatan bermain dengan aktivitas yang sangat berlebihan (overactivity). Hiperaktivitas terutama terjadi pada anak-anak prasekolah di Sekolah Dasar. Anak laki-iaki lebih banyak dari anak perempuan. Gejala hiperaktif biasanya belum terlihat jelas pada anakanak prasekolah dan baru tampak setelah anak masuk Sekolah Dasar.

Menurut pedoman diagnostik Asosiasi Psikiatri Amerika, sebuah diagnosis ADD atau ADHD membutuhkan sembilan gejala kurang perhatian pada ADD dan juga sembilan gejala hiperaktivitas pada ADHD. Gejala-gejala ini muncul pada usia sebelum 7 tahun dan sudah bertahan minimal 6 bulan. Pada ADD (kurang perhatian), gejalanya adalah: 1. Kurang memperhatikan detail. 2. Mengalami kesulitan dalam memperhatikan. 3. Tidak mendengarkan ketika diajak bicara. 4. Gagal menyelesaikan/melakukan tugas. 5. Mengalami kesulitan untuk menjadi teratur. 6. Mengindari tugas yang membutuhkan usaha mental. 7. Sering mengalami kehilangan barang. 8. Mudah beralih perhatiannya. 9. Sering lupa dalam kegiatan sehari-hari. Sedangkan gejala spesifik anak hiperaktif (ADHD) adalah : 1. Sering gelisah dan menggeliat 2. Sering meninggalkan tempat duduk. 3. Sering berjalan kemana-mana. 4. Mengalami kesulitan bila duduk diam. 5. Terus menerus sibuk. 6. Berbicara berlebihan. 7. Menjawab sebelum waktunya. 8. Mengalami kesulitan menunggu giliran. 9. Sering menggangu orang lain. Dari kesembilan gejala baik pada ADD maupun ADHD, ternyata anakanak Indigo tidak selalu memperlihatkan gejala yang sesuai dengan anak ADD ataupun ADHD. Pada pemeriksaan test IQ anak Indigo memperlihatkan adanya faktor superior pada salah satu segi. Keadaan ini tidak terlihat pada anak ADD atau ADHD. Hiperaktivitas anak Indigo lebih banyak karena mereka merasa frustasi dengan sistem yang berorientasi pada ritual dan tidak bersifat kreatif. Mereka lebih banyak bersikap antisosial terhadap lingkungannya yang tidak sesuai. Mereka akan menjadi gelisah bilamana harus dipaksa berbaris

mengantri. Perilaku yang demikian seringkali ditafsirkan salah sebagai gejala hiperaktif anak-anak Indigo, termasuk masalah kurangnya perhatian anak-anak Indigo terhadap lingkungannya sehingga dianggap memiliki sifat antisosial. 3. Pendidikan dan bimbingan anak-anak Indigo Baik bimbingan maupun pendidikan anak-anak Indigo membutuhkan perhatian khusus. Perlakuan yang diberikan kepada anak-anak Indigo harus secara individualistik karena mereka memiliki perilaku yang berbeda-beda dan sangat unik. Pendidikan yang harus diberikan kepada para Indigo sangat berbeda dengan strategi pendidikan yang harus diberikan kepada anak ADD atau ADHD. Pada anak-anak ADD atau ADHD perlu diberikan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kemampuan mengingat dan kemampuan taktik (Alabiso dan Hansen, 1977). Pada para Indigo beberapa aspek kemampuan ini sudah sangat berkembang namun dalam bentuk yang sangat unik. Drydin dan Vos dalam bukunya berjudul The Learning Revolution, menyarankan agara bimbingan dan kegiatan pendidikan diberikan dalam suasana yang menyenangkan dan gembira. Anak-anak Indigo membutuhkan suasana yang cocok bagi mereka. Mereka membutuhkan disiplin tapi bukan hukuman. Pikiran mereka bukanlah ibarat saluran atau sungai yang harus dipenuhi oleh berbagai aliran, namun pikiran mereka ibarat api yang harus terus dibakar atau dinyalakan. Potensi alamiah para Indigo merupakan anugrah Tuhan yang perlu terus dikembangkan. Dewey (1964) dalam bukunya Democracy and Education menjelaskan betapa besar peran pendidikan yang demokratis. Pendidikan merupakan perhatian dan tanggung jawab bersama, dengan demikian akan dapat dijadikan kontrol sosial. Berarti bahwa bimbingan dan pendidikan para Indigo juga merupakan tanggung jawab bersama dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya tanggung jawab keluarga. Bagi para Indigo bermasalah atau sangat berbakat seringkali memang dibutuhkan bimbingan dari sekolah khusus, diantaranya yang dikenal adalah Sekolah alternatif Montessory dan Sekolah Waldorf. Sekolah semacam ini

--rancang kurikulum yang cocok untuk setiap perkembangan anak Indigo dan tidak memaksa anak Indigo belajar sesuai kurikulum. Prinsip dasar pendidikan semacam ini memang cocok untuk para Indigo yang memiliki kepribadian dan perilaku yang unik. Sejak lama Plato sudah menekankan betapa pentingnya hubungan murid dengan guru dalam upaya memperoleh pengetahuan (Brumbaugh, 1963). Plato sudah meletakkan dasar-dasar pendidikan yang kuat. Salah satu pandangan Plato adalah mengenai upaya pencarian bagi kepentingan pengetahuan dan realisasi diri sendiri. Para Indigo memang sewajarnya diberikan kebebasan untuk mengembangkan pengetahuan yang ingin dikuasainya sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya. Para Indigo memiliki potensi yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mereka merupakan energi baru yang patut dikelola oleh para pendidik yang kompeten dan dapat memahami perilaku anak-anak Indigo.