BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Benny Darmali
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian besar anak berkembang dengan kondisi fisik atau mental yang normal. Akan tetapi, sebagian kecil anak mengalami hambatan dalam perkembangannya atau memiliki kebutuhan khusus. Disadari atau tidak, dalam kenyataannya ada sekelompok anak-anak yang berbeda dari anak pada umumnya, yang nampaknya kurang mendapat perhatian dan tempat dalam ruang pendidikan. Mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki keterbatasan baik dalam hal fisik, cara berkomunikasi, maupun dalam segi intelektualitas. Anak-anak berkebutuhan khusus berada pada kategori yang berbeda-beda yaitu: 1. Autisme 2. Gangguan pemusatan perhatian & hiperaktif (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) 3. Gifted 4. Lamban belajar 5. Tuna grahita Penelitian Harnowo (2012) menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah anak penderita autis dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2008 rasio anak autis 1 dari 100 anak, maka di tahun 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 dari 88 orang anak saat ini mengalami autisme. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melakukan perkiraan bahwa terjadi peningkatan 23% dibandingkan data tahun 2008, yaitu 1 dari 100 anak yang menderita 1
2 2 autisme. Sedangkan pada tahun 2002, diperkirakan 1 dari 150 anak menderita autism dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 1 dari 110 anak (detikhealth.com). Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV Text Revison (American Psychiatric Assosiation, 2007: 70), autisme adalah suatu ketidakmampuan perkembangan kompleks yang meliputi gangguan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, emosi dan persepsi sensoris. Gejala autisme biasanya sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun, yaitu antara lain dengan tidak adanya kontak mata dan tidak dapat menunjukan respons terhadap lingkungan. Anak-anak berkebutuhan khusus mungkin akan belajar dengan kecepatan yang berbeda dan cara yang berbeda dengan anak normal, hal tersebut dapat terjadi karena anak-anak dengan berkebutuhan khusus memang memiliki ciri khas seperti itu. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Saharso (2004) didapatkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus selayaknya mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya. Telah diketahui bahwa potensi dasar pada anak sangat beraneka ragam, sehingga pembinaan yang mereka butuhkan harus disesuaikan kebutuhannya. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang terdapat pada pasal 8 ayat 2 bahwa: Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus. serta dipertegas pada pasal 24 bahwa: setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak diantaranya, pada ayat 1, yang mendapatkan perlakuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Dengan demikian, aplikasinya ialah bahwa perlakuan pendidikan perlu disesuaikan dengan potensi setiap peserta didik.
3 3 Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Oleh karena itu pemerintah berkewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Selama ini anak-anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan yang sesuai dengan kelainannya. Secara tidak disadari akan membangun tembok eksklusifisme bagi anak-anak berkebutuhan khusus, hal ini ternyata telah menghambat proses saling mengenal antara anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Menurut Greenspan & Wieder (2006: 564), penanganan pendidikan dan lingkungan yang diterapkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus harus bersifat terpadu, artinya dibutuhkan kerjasama antara orangtua, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, diharapkan pihak yang terlibat secara langsung dalam penanganan ABK dapat memahami dan memberikan perlakuan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Greenspan & Wieder (2006: 548), menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sangat penting, karena di lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar berinteraksi dan berelasi dengan anak-anak lain dalam situasi kelompok. Meskipun undang-undang telah secara tegas mengatur pemerataan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara untuk mengakses pendidikan, kasus pembedaan dalam bidang pendidikan masih kerap terjadi khususnya terhadap anak berkebutuhan khusus. Salah satu program pendidikan yang dilakukan untuk mengatasi isu pembedaan dalam bidang pendidikan adalah pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah salah satu model pendidikan yang disarankan untuk berbagai tipe anak berkebutuhan khusus. Menurut Greenspan & Wieder (2006: 555), pendidikan inklusi adalah menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak tanpa kebutuhan khusus.
4 4 Dalam pendidikan inklusi diharapkan perbedaan karakteristik siswa menjadi pembelajaran tersendiri dan bernilai manfaat bagi setiap peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Elisa & Wrastari (2013) ditemukan bahwa di daerah Sumatra Utara terdapat kasus diskriminasi sebanyak 15 kasus yang dialami anak-anak dalam dunia pendidikan. Contoh salah satu kasus adalah seorang anak yang ditolak untuk mendaftar di sekolah yang anak tersebut inginkan karena anak tersebut memiliki keterbatasan fisik. Berdasarkan fenomena yang ditemukan di lapangan dapat dilihat bahwa terjadi kesenjangan antara apa yang selama ini diasumsikan oleh peneliti bahwa pendidikan inklusi adalah sebuah sekolah yang dapat menerima anak berkebutuhan khusus untuk menuntun ilmu dengan kenyataannya bahwa pendidikan inklusi menolak untuk menerima anak berkebutuhan khusus sekolah di tempat tersebut karena keterbatasan fisik yang dimiliki anak. Pendidikan inklusi mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya, tanpa memandang derajat, kondisi ekonomi ataupun kelainannya. Penting bagi guru untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif, yang terpusat pada anak. Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan di sekolah. Anak dengan gangguan autis hidup di dalam dunianya sendiri, tidak mampu memahami orang lain. Anak normal dapat berinteraksi dengan bermain bersama teman sebayanya, namun anak dengan gangguan autis kurang bisa atau bahkan tidak bisa melakukan hal demikian. Pada komunikasi, tampak jelas perbedaan antara anak dengan gangguan autis
5 5 dengan anak normal. Anak dengan gangguan autis mempunyai dunianya dalam berkomunikasi yang terkadang tidak dimengerti oleh anak normal. Uraian di atas berdasarkan diagnosis kriteria atau gejala-gejala anak autis menurut DSM IV TR. Kriteria diagnosis gejala autisme menurut DSM IV TR pada bagian gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik menyatakan bahwa anak dengan gangguan autis tidak dapat berempati dan kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa meskipun anak dengan gangguan autis tahu akan sesuatu, namun ia tidak dapat menghubungkan antara apa yang ia ketahui dengan keinginannya atupun sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya ketika hujan, anak autis tahu hujan, akan tetapi ia tidak tahu kalau hujan seharusnya di rumah, atau jika ingin keluar rumah sekalipun ia harus menggunakan payung atau jas hujan. Salah satu masalah pada anak dengan gangguan autis adalah mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berbicara, sehingga sulit melakukan komunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Menurut Stanley & Serena (2006: 548), anak berada di lingkungan sekolah untuk belajar bersosialisasi dengan anak-anak lainnya. Maka apabila anak autis kesulitan dalam berbahasa dan berbicara akan mengakibatkan mereka sulit untuk bersosialisasi dan menghambat proses belajar mereka di lingkungan sekolah. Penelitian Ramdhani dan Thiomina (n.d.) peneliti menemukan emosi positif dan emosi negatif pada anak-anak dengan gangguan autis. Dalam penelitian tersebut peneliti menemukan data di lapangan yaitu bagaimana anak-anak dengan gangguan autis berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, baik anak normal ataupun dengan anak-anak autis lainnya. Berinteraksi dalam hal ini menurut peneliti, bahwa salah satu subjek
6 6 mencoba berinteraksi dengan secara tiba-tiba memegang pipi, memegang tangan, mencium, menarik benda yang dipegang anak dan dilakukan dengan tertawa atau tersenyum kepada teman yang sudah dikenalnya. Berdasarkan fenomena di atas dapat kita lihat kembali bahwa anak-anak dengan gangguan autis kesulitan untuk membangun relasi atau bersosialisasi dengan orang lain, kesulitan untuk berbicara dan anak hidup di dalam dunianya sendiri, hal itu memang ciri khas yang dimiliki oleh anak-anak autis. Akan tetapi pada kenyataan di lapangan bahwa ada beberapa anak-anak dengan gangguan autis dapat berinteraksi atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, baik anak normal maupun dengan anak-anak autis lainnya. Berdasarkan data tersebut peneliti menemukan kesenjangan antara teori yang sudah ada dengan data yang ada di lapangan. Berdasarkan data awal dari wawancara dengan guru sekolah kasus V yang ditemukan di lapangan bahwa anak dengan gangguan autis ada yang bisa untuk bersekolah di sekolah inklusi dan bergabung bersama dengan anak-anak normal lainnya. Seperti pada kasus V, ia bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya meskipun dengan keterbatasan komunikasi yang dimilikinya, tetapi ketika V mendapatkan intruksi maka V bisa melakukannya. Hal tersebut dapat dilihat bahwa tidak semua anak autis memiliki kesempatan yang sama seperti kasus V. Selama ini ketika kita melihat karakteristik tentang anak autis kita akan berfikir bahwa anak-anak dengan gangguan autis tidak bisa untuk bersosialisasi dengan orang lain karena melihat dari ciri khas yang dimilikinya, tetapi pada kenyataannya ada juga anak dengan gangguan autis bisa bersekolah dan berinteraksi dengan teman-temannya yang normal. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan. Manusia tumbuh dan berkembang di dalam
7 7 lingkungan. Sunarto & Hartono (2008 : 127), menyatakan bahwa sebagai makhluk sosial selalu berhubungan dengan sesama manusia. Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa sebagai makhluk sosial kita selalu berhubungan dengan orang lain. Penyesuaian diri menurut Schneiders (dalam Gunarsa & Gunarsa 2008 : 93) menyatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri sendiri, yang dapat diterima oleh lingkungannya. Penyesuaian diri menurut Hurlock (dalam Gunarsa & Gunarsa 2008 : 94), menyatakan bahwa bilamana seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain secara umum ataupun terhadap kelompoknya dan memperlihatkan sikap serta tingkahlaku yang menyenangkan, berarti ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Berdasarkan pernyataan diatas dapat kita lihat kembali bahwa anak-anak dengan gangguan autis mengalami kesulitan untuk membangun relasi dan bekerjasama dengan orang lain, dari ketidakmampuan anak-anak dengan gangguan autis tersebut dapat menyebabkan mereka kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada, tetapi data yang didapat peneliti di lapangan menemukan bahwa ada anak-anak dengan gangguan autis dapat berinteraksi atau bersosialisasi dengan teman-temannya yang sebaya, baik yang normal ataupun dengan anak-anak autis lainnya seperti pada kasus V. Di dalam penelitian ini peneliti meneliti anak autis dengan kasus V, akan tetapi karena adanya keterbatasan pada anak autis tersebut, mereka tidak dapat dilibatkan ke dalam penelitian ini karena keterbatsan komunikasi yang dimiliki oleh anak. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan orangtua sebagai informan, guru di sekolah dan melihat nilai-nilai di sekolah untuk melihat kemampuan akademik yang telah dicapai anak. Peneliti memilih lingkungan sekolah inklusi karena kondisi atau lingkungan
8 8 berinteraksi anak lebih luas, hal ini maksudnya anak bersosialisasi dengan teman-temannya yang normal maupun teman-temannya sesama autis atau berkebutuhan khusus. Lingkungan sekolah dipilih karena lingkungan sekolah adalah tempat yang sempurna untuk berlatih berinteraksi dengan teman sebaya dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki anak autis tersebut. Peneliti melibatkan orangtua dalam penelitian ini karena orangtua adalah satuan kelompok sosial terkecil dan interaksi sosial yang pertama diperoleh individu adalah dalam keluarga. Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh dalam beyond the expectation: penyesuaian diri anak dengan gangguan autis di lingkungan sekolah inklusi. 1.2 Fokus Penelitian Fokus pada penelitian ini adalah gambaran proses penyesuaian diri anak dengan gangguan autis di lingkungan sekolah inklusi. Gambaran penyesuaian diri yang dimaksud adalah seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain secara umum ataupun terhadap kelompoknya dan memperlihatkan sikap serta tingkahlaku yang menyenangkan, maka ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya menurut Hurlock (dalam Gunarsa & Gunarsa 2008 : 94). Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kualitatif yaitu studi kasus. Peneliti menggunakan studi kasus karena dengan pendekatan ini peneliti dapat memperoleh gambaran yang menyeluruh serta mendalam tentang gambaran penyesuaian diri anak autis di lingkungan sekolah inklusi. Adapun permasalahan yang akan muncul pada penelitian ini adalah: Bagaimana beyond the expectation: penyesuaian diri anak dengan gangguan autis di lingkungan sekolah inklusi?
9 9 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan mendalam tentang beyond the expectation: penyesuaian diri anak autis di lingkungan sekolah inklusi. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan disiplin ilmu psikologi perkembangan dan psikologi klinis, khususnya teori tentang perkembangan sosial anak autis. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat membantu pengembangan disiplin ilmu psikologi pendidikan, khususnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi Manfaat praktis 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi orangtua sebagai informasi mengenai gambaran dan pengetahuan tentang penyesuaian diri anak di lingkungan sekolah inklusi sehingga keluarga dapat mendukung. 2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas sebagai informasi mengenai penyesuaian diri anak autis di lingkungan sekolah inklusi, sehingga dapat lebih berempati terhadap para orangtua atau keluarga yang memiliki anak dengan gangguan autis.
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual anak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang tua untuk dirawat dan dididik sebaik-baiknya agar kelak menjadi anak yang berguna. Anak juga dikatakan
BABI PENDAHULUAN. Anak adalah permata bagi sebuah keluarga. Anak adalah sebuah karunia
BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah permata bagi sebuah keluarga. Anak adalah sebuah karunia dan perhiasan dunia bagi para orangtua. Banyak pasangan muda yang baru
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya. Setiap orang yang telah terikat dalam sebuah institusi perkawinan pasti ingin dianugerahi seorang anak.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penjelasan dari individu dengan gejala atau gangguan autisme telah ada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penjelasan dari individu dengan gejala atau gangguan autisme telah ada sejak sekitar abad 18, namun titik kritis dalam sejarah keilmuan gangguan autisme adalah pada
POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS. Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan. Mencapai derajat Sarjana S-1
POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-1 Fakultas Psikologi Disusun Oleh : YULI TRI ASTUTI F 100 030
BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak. Autis pertama kali ditemukan oleh Kanner pada tahun
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Istilah autis sudah cukup populer di kalangan masyarakat, karena banyak media massa dan elektronik yang mencoba untuk mengupasnya secara mendalam. Autisme
BAB I. sosialnya sehingga mereka dapat hidup dalam lingkungan sekitarnya. Melalui
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan anak supaya lebih progresif baik dalam perkembangan akademik maupun emosi sosialnya sehingga mereka dapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak normal (siswa reguler), akan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi hak setiap anak. Pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan tidak hanya
Pedologi. Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi
Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI Pedologi Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id ADHD (Attention Deficit Hyperactive
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa
Fenomena-fenomena Anak-anak anak tuna grahita merupakan individu yang utuh dan unik yang pada umumnya juga memiliki potensi atau kekuatan dalam mengim
TANGGUNG JAWAB MORAL ORANG TUA ANAK ABK DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA Oleh: Rahayu Ginintasasi JURUSAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2009 Fenomena-fenomena
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dan Kebudayaan No. 002/U/1986, pemerintah telah merintis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah dalam upaya pemerataan layanan pendidikan untuk menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang berkualitas bagi semua anak di Indonesia mempunyai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Istilah autisme sudah cukup familiar di kalangan masyarakat saat ini, karena media baik media elektronik maupun media massa memberikan informasi secara lebih
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3-4 bulan. Bila ibu merangsang
BAB I PENDAHULUAN. akan merasa sedih apabila anak yang dimiliki lahir dengan kondisi fisik yang tidak. sempurna atau mengalami hambatan perkembangan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelahiran anak merupakan dambaan setiap keluarga yang tidak ternilai harganya. Anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan, yang harus dijaga, dirawat, dan diberi bekal
BAB I PENDAHULUAN. Autis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Autis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasif anak yang mengakibatkan gangguan keterlambatan pada bidang kognitif,
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan mereka dapat menggenggam dunia. mental. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta sama,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu alat merubah suatu pola pikir ataupun tingkah laku manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya fenomena anak autis yang menempuh pendidikan di lembaga pendidikan umum selayaknya anak normal atau bahkan banyak dari
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu sejak lahir yang meliputi pertumbuhan dan perkembangan. Perubahan yang cukup mencolok terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perkembangan yang mengakibatkan ketidakmampuan mengatur perilaku, khususnya untuk mengantisipasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang berbeda-beda, diantaranya faktor genetik, biologis, psikis dan sosial. Pada setiap pertumbuhan dan
BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan sumber kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga sejak di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan sumber kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga sejak di dalam kandungan. Pertumbuhan serta perkembangan anak yang normal menjadi impian setiap
KEBAHAGIAAN SAUDARA KANDUNG ANAK AUTIS. Skripsi
i KEBAHAGIAAN SAUDARA KANDUNG ANAK AUTIS Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan oleh: RONA MARISCA TANJUNG F 100 060 062 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian yang akan dilaksanakan haruslah berdasarkan kajian-kajian dan metode penelitian yang telah didesain sebelum penelitian dilaksanakan. Penelitian didasari oleh masalah
BAB I PENDAHULUAN. tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus. Dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia, tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus. Dalam Undang-Undang
Hayyan Ahmad Ulul Albab
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS (STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA) Hayyan Ahmad Ulul Albab I Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. tersebut dapat berkembang secara baik atau tidak. Karena setiap manusia memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Setiap orang tua menginginkan anaknya lahir secara sehat sesuai dengan pertumbuhannya. Akan tetapi pola asuh orang tua yang menjadikan pertumbuhan anak tersebut dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu penggunaan komputer telah menjadi suatu hal yang diperlukan baik di
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi komputer saat ini telah berkembang dengan pesat, oleh karena itu penggunaan komputer telah menjadi suatu hal yang diperlukan baik di perusahaan,
BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi diantara umat manusia itu sendiri (UNESCO. Guidelines for
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konflik yang terjadi pada peradaban umat manusia sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk dapat menerima perbedaan yang terjadi diantara umat manusia
BAB I PENDAHULUAN. adanya diskriminasi termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan atau anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia agar mampu menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara memiliki kewajiban
BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan, sehingga menjadi orang yang terdidik. dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Di negara kita ini pendidikan menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan yang matang suatu bangsa akan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
BAB I PENDAHULUAN. (verbal communication) dan komunikasi nonverbal (non verbal communication).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dan kompleks bagi kehidupan manusia. Manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia
BAB I PENDAHULUAN. adalah salah satu unsur sosial yang paling awal mendapat dampak dari setiap
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencapaian tujuan pendidikan nasional tidak terlepas dari peran serta orang tua atau keluarga. Keluarga sebagai bagian dari struktur sosial setiap masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara. Oleh karena itu, pemerintah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban memenuhi dan melindungi hak asasi tersebut dengan memberikan kesempatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Judul
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Judul Untuk mendapatkan gambaran tentang pengertian Pusat Pendidikan dan Terapi Anak Autis di Sukoharjo dengan Pendekatan Behaviour Architecture, perlu diketahui tentang:
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan ini, tidak semua orang berada pada kondisi fisik yang sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan ada
BAB I PENDAHULUAN. manusia, tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia, tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus. Dalam UUD 1945 dijelaskan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang menyangkut masalah komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Istilah autis hingga kini masih
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap anak yang dilahirkan di dunia ini tidak selalu tumbuh dan berkembang secara normal. Ada diantara anak-anak tersebut yang mengalami hambatan, kelambatan,
BAB I PENDAHULUAN. melihat sisi positif sosok manusia. Pendiri psikologi positif, Seligman dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupan ini, tentunya seseorang pasti pernah mengalami beberapa masalah. Sesuatu dirasakan atau dinilai sebagai suatu masalah ketika kenyataan
TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER)
TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan manusia merupakan perubahan. yang bersifat progresif dan berlangsung secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan manusia merupakan perubahan yang bersifat progresif dan berlangsung secara berkelanjutan. Keberhasilan dalam mencapai satu tahap perkembangan akan
BAB I PENDAHULUAN. perilaku, komunikasi dan interaksi sosial (Mardiyono, 2010). Autisme adalah
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menggambarkan tentang latar belakang masalah, perumusan penelitian, tujuan umum dan tujuan khusus penelitian serta manfaat yang diperoleh dari penelitian ini. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan luar biasa bukan merupakan pendidikan yang secara keseluruhan berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Jika kadang-kadang diperlukan pelayanan yang
MENGATASI PERMASALAHAN PERILAKU ANAK PENYANDANG AUTISME DENGAN METODE APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS (ABA) DI TK PERMATA BUNDA SURAKARTA
i MENGATASI PERMASALAHAN PERILAKU ANAK PENYANDANG AUTISME DENGAN METODE APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS (ABA) DI TK PERMATA BUNDA SURAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Guna Memperoleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses belajar seumur hidup yang didapatkan baik secara formal maupun nonformal.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses belajar seumur hidup yang didapatkan baik secara formal maupun nonformal. Pendidikan berlaku untuk semua anak, tanpa memandang jenis
Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH
Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH Pendahuluan Tidak ada anak manusia yang diciptakan sama satu dengan lainnya Tidak ada satupun manusia tidak memiliki
BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya sekolah-sekolah regular dimana siswa-siswanya adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya sekolah-sekolah regular dimana siswa-siswanya adalah anak-anak normal yang tidak mengalami kebutuhan khusus dalam pendidikannya. Hal ini sudah berjalan
BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan pendidikan adalah milik semua orang, tidak. terkecuali Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Keterbatasan yang dialami
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan pendidikan adalah milik semua orang, tidak terkecuali Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Keterbatasan yang dialami menjadikan Anak Berkebutuhan Khusus
SISTEM INFORMASI MONITORING PERKEMBANGAN TERAPI AUTISME PADA SEKOLAH INKLUSI
SISTEM INFORMASI MONITORING PERKEMBANGAN TERAPI AUTISME PADA SEKOLAH INKLUSI Tan Amelia 1, M.J. Dewiyani Sunarto 2, Tony Soebijono 3 1 Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Jl. Raya Kedung Baruk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari 237.641.326 jiwa total penduduk Indonesia, 10% diantaranya yaitu sebesar + 22.960.000 berusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia merupakan suatu hal yang wajib ditempuh oleh semua warga negara.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia merupakan suatu hal yang wajib ditempuh oleh semua warga negara. Pendidikan di Indonesia telah memasuki tahap pembaruan dimana pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan inklusi, yaitu Peraturan Gubernur No. 116 tahun 2007 saja, masih belum
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kesempatan untuk mendapatkan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah umum, masih rendah bahkan boleh dikatakan memprihatinkan. Salah satu indikatornya
BAB I PENDAHULUAN. manusia berinteraksi dengan lingkungannya (Tirtarahardja &Sula, 2000: 105).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi
BAB I PENDAHULUAN. Baik ABK atau ALB adalah mereka yang membutuhkan penanganan khusus. Macam macam ABK dapat digolongkan menjadi beberapa jenis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Anak merupakan salah satu anugerah tidak ternilai yang Allah SWT berikan pada setiap orang tua. Melalui anak, dapat menetukan keberlangsungan suatu keturunan dan juga
BAB I PENDAHULUAN. masalah, tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian.
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian. A. Latar Belakang Masalah Fenomena indigo, atau yang lebih dikenal
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hak asasi hidup setiap manusia. Oleh karena itu,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hak asasi hidup setiap manusia. Oleh karena itu, setiap manusia memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu sesuai
BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain itu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dewasa awal adalah individu yang berada pada rentang usia antara 20 hingga 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, seperti yang tercantum dalam Undang Undang
BAB I PENDAHULUAN. lembaga-lembaga kemasyarakatan. Kelompok-kelompok ini biasanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat mempunyai kelompok-kelompok sosial maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan. Kelompok-kelompok ini biasanya mengadakan hubungan kerjasama yaitu melalui
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki buah hati tentunya merupakan dambaan bagi setiap orang yang telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah terbesar nan
BAB I PENDAHULUAN. Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan fasilitas tumbuh kembang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan fasilitas tumbuh kembang khusus agar memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan
OLEH KADEK FIRA PARWATI NIM
SKRIPSI PENGALAMAN ORANGTUA DALAM MERAWAT ANAK ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) DI SEKOLAH MADANIA CENTER TAHUN 2014 OLEH KADEK FIRA PARWATI NIM. 1002105017 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah membawa dampak yang luar biasa pada mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dan juga pada
menyebabkan perkembangan otaknya terhambat, sehingga anak mengalami kurang dapat mengendalikan emosinya.
2 tersebut dapat disimpulkan bahwa autisme yang terjadi pada anak dapat menyebabkan perkembangan otaknya terhambat, sehingga anak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain
warga negara yang memiliki kekhususan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikannya. Salah satu usaha yang tepat dalam upaya pemenuhan kebutuhan khusus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dengan adanya perkembangan di segala bidang, salah satu komponen kehidupan yang harus dipenuhi manusia adalah pendidikan. Pendidikan dalam hal ini adalah konsep
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia pasti melewati tahap-tahap perkembangan yaitu masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa. Namun ada suatu masa dimana individu
BAB I PENDAHULUAN. Anak autis merupakan salah satu anak luar biasa atau anak berkebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak autis merupakan salah satu anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan perkembangan tertentu. Dewasa ini, anak autis telah menjadi perhatian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perancangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perancangan Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering digambarkan sebagai anak yang hidup dalam dunianya sendiri. Banyak dijumpai anak autis menunjukkan perilaku
BAB 1 PENDAHULUAN. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh ketidakmampuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia memiliki kewajiban pada warga negaranya untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada warga negara lainnya tanpa terkecuali termasuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ADHD merupakan istilah berbahasa Inggris kependekan dari Attention Deficit Hiperactivity Disorder (Attention = perhatian, Deficit = kekurangan, Hiperactivity
Sistem Pakar untuk Mendiagnosis Autisme
Sistem Pakar untuk Mendiagnosis Autisme Muhammad Aldrin 1, Zainudin Zukhri 2, Andhik Budi Cahyono 3 Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam gangguan perkembangan yang diderita oleh anak-anak antara
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Anak merupakan anugerah terindah yang dimiliki oleh orang tua. Namun anugerah tersebut kadang-kadang memiliki kekurangan atau banyak dari mereka yang mengalami gangguan
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume Nomor September 2014 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) Halaman : 149-159 Meningkatkan Ketahanan Duduk Anak Hiperaktif Melalui Media Mozaik Di Kelas II SLB Hikmah Miftahul Jannnah Padang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam kehidupan bernegara, ada yang namanya hak dan kewajiban warga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan bernegara, ada yang namanya hak dan kewajiban warga Negara dengan negaranya begitu juga sebaliknya. Hak dan kewajiban ini diatur dalam undang-undang
PENDAHULUAN. rasanya bila kita terus menerus membicarakan anak-anak normal, sementara
18 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah anugerah dari Tuhan, karena itu sebagai orang tua harus mau menerima anak apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan, dan bersegala upaya mengantarkannya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan anak merupakan sebuah proses yang indah di mata
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan anak merupakan sebuah proses yang indah di mata orang tua. Karena anak merupakan buah cinta yang senantiasa ditunggu oleh pasangan yang telah menikah.
BAB I. self atau diri sendiri. Penyandang Autisme pada dasarnya seseorang yang. melakukan auto-imagination, auto-activity, auto-interested, dan lain
BAB I PENDAHULUAN ` A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap. Orang tua senantiasa menginginkan anaknya berkembang sempurna. Karena seorang
BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang penelitian, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan cakupan batasan penelitian. 1.1
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas suatu bangsa. Setiap warga negara Indonesia, tanpa membedakan asal-usul, status sosial ekonomi,
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Bahasa digunakan manusia sebagai sarana komunikasi di dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia di masyarakat. Bahasa digunakan manusia sebagai sarana komunikasi di dalam segala bidang kehidupan. Bahasa
BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan sumber kebahagiaan dan penerus dari suatu keluarga. Setiap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Anak merupakan sumber kebahagiaan dan penerus dari suatu keluarga. Setiap orang tua mempunyai keinginan untuk selalu mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia diciptakan dengan berbagai keberagaman dimana terdapat persamaan dan perbedaan serta kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri setiap inividu. Setiap
BAB I PENDAHULUAN. inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan inklusif merupakan paradigma baru pendidikan kita dan merupakan strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah
BAB I PENDAHULUAN. memaksa manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi juga merupakan hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Manusia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang
