Wan Rita Mardhiya, S. Ked

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

BAB 1 PENDAHULUAN. 5 15% wanita usia reproduktif pada populasi umum. rumah sakit pemerintah adalah sebagai berikut : di RSUD dr.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab kematian pada wanita setelah kanker payudara. Hal ini

BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN STADIUM EWING S SARCOMA. pada jaringan lunak yang mendukung, mengelilingi, dan melindungi organ tubuh.

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB 1 PENDAHULUAN. tumor dengan bentuk dan susunan serabut-serabut yang bervariasi, dan oleh Mallory

drg. Muhammad Hamka Maha Putra

ARVEOLAR SOFT PART SARCOMA

BAB I PENDAHULUAN. ganas hidung dan sinus paranasal (18 %), laring (16%), dan tumor ganas. rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam persentase rendah.

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak

Tinjauan Pustaka. Tanda dan Gejala

NEUROBLASTOMA,NEFROBLASTOMA, RETINOBLASTOMA. Nurlaili Muzayyanah Departemen IKA FK UII

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kepala dan leher adalah penyebab kematian akibat kanker tersering

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dari setengahnya terdapat di negara berkembang, sebagian besar dari

Tumor Urogenitalia A. Tumor ginjal 1.Hamartoma ginjal 2. Adenokarsinoma ginjal / grawitz / hipernefroma / karsinoma sel ginjal Staging : Grading :

Kanker Prostat - Gambaran gejala, pengujian, dan pengobatan

BAB I PENDAHULUAN. dikalangan wanita sedunia, meliputi 16% dari semua jenis kanker yang diderita

BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA. Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai

I. PENDAHULUAN. sikap yang biasa saja oleh penderita, oleh karena tidak memberikan keluhan

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Karsinoma laring adalah keganasan pada laring yang berasal dari sel epitel laring.

BAB 2 TUMOR. semua jaringan tubuh manusia pada berbagai keadaan sel untuk berkembang biak.

BAB 1 PENDAHULUAN. Karsinoma servik merupakan penyakit kedua terbanyak pada perempuan

BAB 1 PENDAHULUAN. Papilloma sinonasal diperkenalkan oleh Ward sejak tahun 1854, hanya mewakili

I. PENDAHULUAN. saat ini menjadi permasalahan dunia, tidak hanya di negara berkembang

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:

BAB I PENDAHULUAN. dibanding kasus). Kematian akibat kanker payudara menduduki peringkat

(PR), serta human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) kanker payudara tersebut. (Shenkier, 2004) Keberhasilan dalam penatalaksanaan kanker

Pada saat menjalani pengobatan, keadaan penderita dinilai untuk melihat respon kanker terhadap pengobatan.

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. jutaan wanita di seluruh dunia terkena kanker payudara tiap tahunnya. Walaupun

BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan tugas sebagai seorang dokter, satu hal yang rutin dilakukan adalah menegakkan

BAB I PENDAHULUAN. dunia, dimana saat ini merupakan peringkat kedua penyakit kanker setelah kanker

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang

NEOPLASMA TULANG. Neoplasma : Berasal dari Tulang : Jinak : Osteoma, Osteoid osteoma, osteoblastoma

BAB I PENDAHULUAN. penyakit kanker. Paru, prostat, kolorektal, lambung, dan hati merupakan 5 organ

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel

Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang

BAB I PENDAHULUAN diantaranya meninggal akibat penyakit tersebut (Lester, 2004 ;

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma Nasofarings (KNF) merupakan subtipe yang berbeda dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kepala leher dan paling sering ditemukan di Indonesia dan sampai saat ini belum

BAB 1 PENDAHULUAN. mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis,

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Epstein-Barr Virus (EBV) menginfeksi lebih dari. 90% populasi dunia. Di negara berkembang, infeksi

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Kanker Payudara Thursday, 14 August :15

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Prof.dr.Abd. Rachman S, SpTHT-KL(K)

Biopsi payudara (breast biopsy)

OSTEOSARCOMA PADA RAHANG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tumor IntraAbdomen. Kelompok IV

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker ovarium merupakan keganasan yang paling. mematikan di bidang ginekologi. Setiap tahunnya 200.

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma larings merupakan keganasan yang cukup sering dan bahkan

LAPORAN PENDAHULUAN SOFT TISSUE TUMOR DI SUSUN OLEH ASEF MUHAMMAD RIZKI AL-AZHAR

BAB 2 RADIOTERAPI KARSINOMA TIROID. termasuk untuk penyakit kanker kepala dan leher seperti karsinoma tiroid.

5.2 Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Lokasi

BAB II LANDASAN TEORI. penyakit dimana sel-sel abnormal membelah tanpa kontrol dan. (adenokarsinoma) (Kumar, 2007 ; American Cancer Society, 2011 ;

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dunia. Pada tahun 2012 sekitar 8,2 juta kematian diakibatkan oleh kanker. Kanker

V E R T I G O. Yayan A. Israr, S. Ked. Author : Faculty of Medicine University of Riau Arifin Achmad General Hospital of Pekanbaru

Gambaran Radiologi Tumor Kolon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina.

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel

BAB I PENDAHULUAN. sel tubuh normal mengadakan mutasi menjadi sel kanker yang kemudian. Penyakit kanker saat ini sudah merupakan masalah kesehatan di

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. menginduksi pertumbuhan dan pembelahan sel. tubuh tidak membutuhkan sel untuk membelah.

Pendahuluan. Etiologi dan Epedimiologi

BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai stadium lanjut dan mempunyai prognosis yang jelek. 1,2

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyebab kematian utama yang memberikan kontribusi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. metode deteksi dini yang akurat. Sehingga hanya 20-30% penderita kanker

PENATALAKSANAAN SARKOMA UTERI YANG BERULANG

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB 1 PENDAHULUAN. pada usia 6-12 tahun. Dimana anak ketika dalam keadaan sakit akan. masalah maupun kejadian yang bersifat menekan.

BAB 6 PEMBAHASAN. tahun, usia termuda 18 tahun dan tertua 68 tahun. Hasil ini sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan menggunakan metode

BAB I PENDAHULUAN. berbeda memiliki jenis histopatologi berbeda dan karsinoma sel skuamosa paling

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

BAB I PENDAHULUAN. Tumor secara umum merupakan sekumpulan penyakit. yang membuat sel di dalam tubuh membelah terlalu banyak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Definisi. Mesothelioma adalah keganasan yang berasal dari sel mesotel yang terletak di rongga pleura.

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma sel skuamosa di laring (KSSL) menempati. urutan kedua dariseluruhkarsinomadi saluran

KARSINOMA NASOFARING

KARSINOMA DEPT. ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROK-KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN-USU RS. H. ADAM MALIK 2009

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

Transkripsi:

Author : Wan Rita Mardhiya, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 Files of DrsMed FK UR http://www.yayanakhyar.co.nr 0

PENDAHULUAN Rabdomiosarkoma adalah suatu penyakit keganasan pada jaringan lunak yang menyerang otot serat lintang. Merupakan 10-15% dari sarkoma jaringan lunak dan 5-8% dari semua kasus keganasan pada anak. Periode Januari 1988 sampai dengan Desember 1992 di bagian anak RSUD dr. Soetomo/FK Unair Surabaya, ditemukan 2 kasus rabdomiosarkoma dari 28 kasus tumor abdomen. Sedangkan di bagian hemato-onkologi FK USU Medan sejak Januari 1987 sampai dengan Desember 1993 didapatkan 4 kasus rabdomiosarkoma dari 11 kasus sarkoma tulang dan jaringan lunak. 1 Kanker ini dapat menyerang otot dimana saja, biasanya pada anak di daerah kepala, leher, kandung kemih, prostat (kelenjar kelamin pria), dan vagina. Gejala yang ditimbulkan tergantung letaknya. Pada rongga mata, dapat menyebabkan mata menonjol keluar dan benjolan di mata. Di telinga menyebabkan nyeri atau keluarnya darah dari lubang telinga. Di tenggorokan menyebabkan sumbatan jalan napas, radang sinus (ronggarongga di sekitar hidung), keluar darah dari hidung (mimisan) atau sulit menelan. Di saluran kemih menyebabkan gangguan berkemih. Apabila menyerang otot anggota gerak, akan menimbulkan pembengkakan. 2 Rabdomiosarkoma dapat terjadi pada semua usia dengan insiden terbanyak pada usia 1-5 tahun dan 15-19 tahun. Lokasi pada umumnya pada kepala dan leher (30-65%), anggota gerak (24%), sistem urogenital (18%), badan (8%), retroperitoneal (7%) dan tempat lain (2-3%). 1 1

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Rabdomiosarkoma adalah jenis sarkoma (tumor jaringan lunak) dan sarkoma ini berasal dari otot skeletal. Rabdomiosarkoma juga bisa menyerang jaringan otot, sepanjang intestinal atau dimana saja termasuk leher. Umumnya terjadi pada anak-anak usia 1-5 tahun dan bisa ditemukan pada usia 15-19 tahun walaupun insidennya sangat jarang. Rabdomiosarkoma relatif jarang terjadi. Dua bentuk yang sering terjadi adalah embrional rabdomiosarkoma dan alveolar rabdomiosarkoma. 3 2.2 Patofisiologi Meskipun rabdomiosarkoma berasal dari sel otot skeletal, tumor ini bisa menyerang bagian manapun dari tubuh kecuali tulang. Botrioid adalah bentuk dari embrional rabdomiosarkoma yang berasal dari mukosa daerah yang berongga, seperti kandung kencing, vagina, nasofaring dan telinga tengah. Lesi pada ekstremitas lebih lebih banyak merupakan alveolar rabdomiosarkoma. Metastasis ditemukan terutama di paru, sumsum tulang, tulang, kelenjar limfe, payudara dan otak. 3 Walaupun merupakan tumor yang paling sering dijumpai pada anak-anak, etiologi dari rabdomiosarkoma tidak diketahui. Rabdomiosarkoma diduga timbul dari mesemkim embrional yang sama dengan otot serat lintang. Atas dasar gambaran mikroskopik cahaya, rabdomiosarkoma termasuk kelompok tumor sel bulat kecil, yang meliputi sarkoma Ewing, neuroblastoma, tumor neuroektodermal primitif dan limfoma non hodgkin. Diagnosis pasti adalah histopatologi atau perlu ditambah pemeriksaan imunohistokimia dengan menggunakan antibodi terhdap otot skelet (desmin, aktin khas otot) dan mikroskop elektron untuk membedakan gambaran khas. 4 2.3 Klasifikasi Penentuan histiotipe spesifik perlu untuk terapi dan prognosis. Ada empat tipe subhistologi yang telah diketahui. Tipe embrional menyebabkan sekitar 60% dari semua kasus dan mempunyai prognosis sedang. Tipe botrioid, merupakan suatu varian bentuk embrional dimana sel tumor dan stroma yang membengkak menonjol ke dalam rongga badan seperti sekelompok buah anggur, menyebabkan 6% kasus dan paling sering tampak di vagina, uterus, kandung kemih, nasofaring dan telinga tengah. Tumor alveolar yang 2

menyebabkan kira-kira 15% kasus, ditandai dengan translokasi kromosom t(2;13). Sel tumor cenderung tumbuh dalam inti (core) yang sering mempunyai ruang mirip celah yang menyerupai alveoli. Tumor alveolar paling sering terjadi pada tubuh dan anggota gerak dan mempunyai prognosis yang paling buruk. Tipe pleomorfik (bentuk dewasa) jarang pada anak-anak (1% kasus). Kira-kira 20% penderita diperkirakan mempunyai sarkoma tidak berdiferensiasi. 4 Gambar 1. Translokasi kromosom t(2;13) 5 Tipe pleomorfik (sangat jarang) terjadi pada pasien-pasien di atas 45 tahun yang lainnya tiga dalam 90% kasus terjadi sebelum usia 20 tahun. Varian pleomorfik mempunyai sel-sel tumor atipik yang besar, beberapa memperlihatkan sitoplasma yang banyak dengan corakan berlurik yang khas bagi diferensiasi otot rangka. 6 Varian-varian lain pada dasarnya adalah tumor-tumor kecil sel biru primitif, berdiferensiasi buruk yang mempunyai diferensiasi otot rangka fokal (rabdomioblas dengan sitoplasma eosinofilik dan corakan lurik). 6 Diferensiasi rabdomioblastik mungkin hanya tampak dengan mikroskopis elektron atau teknik imunohistokimia (kompleks ribosom-miosin atau imunoperoksidase positif untuk desmis/mioglobin). Varians alveolar ditandai dengan translokasi 2;13 kromosomal). 6 Embrional rabdomiosarkoma merupakan jenis yang paling sering ditemukan pada anak, kira-kira 60% dari semua kasus rabdomiosarkoma. Tumor bisa muncul dimana saja, tetapi paling sering pada genitourinarius, kepala atau leher. Pada pemeriksaan 3

histologi jenis ini mempunyai variabilitas histologi yang tinggi, dimana menggambarkan beberapa tingkatan dari morfogenesis otot skeletal. Merupakan neoplasma dengan diferensiasi tinggi yang terdiri dari rabdomioblas dengan sitoplasma eosinofilik. Desmin dan aktin yang terdapat pada otot digunakan untuk mendiagnosis rabdomiosarkoma. 7 Gambar 2. Imunohistokimia pada alveolar dan embrional rabdomiosarkoma 8 Berdasarkan pemeriksaan histologik maka dapat ditentukan derajat keganasannya (grading) : 10 G1 : well differentiated (baik) G2 : moderately differentiated (sedang) G3 : poorly differentiated (buruk) 2.4 Manifestasi Klinis Gambaran yang paling umum terdapat adalah masa yang mungkin nyeri atau mungkin tidak nyeri. Gejala disebabkan oleh penggeseran atau obstruksi struktur normal. Tumor yang berasal dari nasofaring dapat disertai kongesti hidung, bernafas dengan mulut, epistaksis dan kesulitan menelan dan mengunyah. Perluasan luas ke dalam kranium dapat 4

menyebabkan paralisis saraf kranial, buta dan tanda peningkatan tekanan intrakranial dengan sakit kepala dan muntah. Bila tumor timbul di muka atau di leher dapat timbul pembengkakan yang progresif dengan gejala neurologis setelah perluasan regional. Tumor primer di orbita biasanya didiagnosis pada awal perjalanan karena disertai proptosis, edem periorbital, ptosis, perubahan ketajaman penglihatan dan nyeri lokal. Bila tumor ini timbul di telinga tengah, gejala awal paling sering adalah nyeri, kehilangan pendengaran, otore kronis atau massa di telinga, perluasan tumor menimbulkan paralisis saraf kranial dan tanda dari massa intrakranial pada sisi yang terkena. Croupy cough yang tidak mau reda dan stridor progresif dapat menyertai rabdomiosarkoma laring. 4 Gambar 3. Rabdomiosarkoma pada laring 9 Rabdomiosarkoma pada tubuh atau anggota gerak pertama-tama sering diketahui setelah trauma dan mungkin mula-mula dianggap sebagai hematom. Bila pembengkakan itu tidak mereda atau malah bertambah, keganasan harus dicurigai Keterlibatan saluran urogenital dapat menyebabkan hematuria, obstruksi saluran kencing bawah, infeksi saluran kencing berulang, inkontinensia atau suatu massa yang terdeteksi pada pemeriksaan perut atau rektum. 4 Rabdomiosarkoma pada vagina dapat muncul sebagai tumor seperti buah anggur yang keluar lewat lubang vagina (sarkoma boitriodes) dan dapat menyebabkan gejala saluran kencing dan usus besar. Perdarahan vagina atau obstruksi uretra atau rektum dapat terjadi. 4 5

Intergroup Rhabdomyosarcoma Study (IRS) membuat klasifikasi laboratoris dan pembedahan untuk rabdomiosarkoma yaitu : 1 Kelompok I : Penyakit hanya lokal, limfonodi regional tidak ikut terlibat, dapat direseksi komplit a. Terbatas pada otot atau organ asli b. Infiltrasi keluar otot atau organ asli Kelompok II : a. Tumor dapat direseksi secara luas dengan sisa mikroskopis (limfonodi negatif) b. Penyakit regional, dapat direseksi komplit (limfonodi positif atau negatif) c. Penyakit reginal dengan melibatkan limfonodi dapat direseksi secara luas tetapi dengan sisa mikroskopis Kelompok III : reseksi tidak komplit atau hanya dengan biopsi dengan penyakit sisa cukup besar Kelompok IV : telah ada metastasis saat ditegakkan diagnosis Staging TNM (tumor, nodul dan metastasis) 3,10 Tumor : T0 : tidak teraba tumor T1 : tumor <5 cm T2 : tumor >5cm T3 : tumor telah melakukan invasi ke tulang, pembuluh darah dan saraf Nodul : No : tidak ditemukan keterlibatan kelenjar regional N1 : ditemukan keterlibatan kelenjar regional Metastasis : Mo : tidak terdapat metastasis jauh M1 : terdapat metastasis jauh Rhabdomyosarcoma Staging System 3 Stage 1 : lokasi pada orbita, kepala dan atau leher (bukan parameningeal) meluas ke traktus urinarius (bukan kandung kemih atau prostat) Stage 2 : lokasi lain, No atau Nx Satge 3 : lokasi lain, N1 jika tumor <5 cm atau No atau Nx jika tumor >5 cm Stage 4 : lokasi apapun dan terdapat metastasis jauh 6

2.5 Diagnosis Tumor ini jarang memberikan keluhan bila ukurannya kecil. Cullen (1769) mengemukakan bahwa jenis tumor ini adalah tumor lunak tanpa rasa sakit. Penderita mengeluh bila tumor telah membesar dan memberikan tanda-tanda penekanan jaringan sekitar tumor seperti neuralgia, paralisis, iskemia, sedangkan penekanan pada sistem digestif akan mengakibatkan gejala obstruksi. 10 Pemeriksaan fisik yang cermat sangat penting untuk menentukan ekstensi tumor secara klinis dan ada tidaknya penyebaran atau metastasis jauh. Pembesaran tumor ke jaringan sekitarnya akan membentuk suatu kapsul yang semu yang dikenal sebagai pseudokapsul. 10 Untuk menentukan grading, maka diperlukan biopsi dari jaringan tumor. Tumor >3 cm dilakukan biopsi insisi dan pada tumor <3 cm dapat dilakukan biopsy eksisional. 10 Prosedur diagnostik ditentukan terutama oleh area yang terlibat. Dengan gejala dan tanda di daerah kepala dan leher, radiografi harus dilakukan untuk mencari bukti massa tumor dan untuk petunjuk erosi tulang. Computerize Tomography (CT) harus dikerjakan untuk mengenali perluasan intrakranial dan dapt juga memperlihatkan keterlibatan tulang pada dasar tengkorak yang sulit divisualisasikan secara radiografis. Untuk tumor di perut dan pelvis, pemeriksaan USG dan CT dengan media kontras oral dan intravena dapat membantu menentukan batas massa tumor. Sistouretrogram bermanfaat untuk tumor di kandung kemih. Scan radionuklida dan survei metastasis tulang menyeluruh sebaiknya dikerjakan sebelum pembedahan definitif. Radiografi dada dan CT harus dilakukan, dan sumsum tulang (aspirasi serta biopsi jarum) harus diperiksa. Elemen paling penting pada tindakan diagnostik adalah pemeriksaan jaringan tumor. 2.6 Terapi 10 2.6.1 Tumor Primer a. Tumor yang resektabel Dilakukan pembedahan radikal pada tumor yang resektabel dengan syarat : tumor dapat diangkat semua dan batas sayatan bebas sel tumor ganas. Terdapat 2 macam prosedur pembedahan yaitu : Eksisi luas lokal : untuk G1 dan tumor masih terlokalisir Eksisi luas radikal : untuk G3 dan tumor sudah menyebar regional/kgb 7

Jika diperlukan dapat diberikan terapi kombinasi yaitu : pembedahan + radioterapi/kemoterapi. Untuk mencegah mikrometastasis : pembedahan + radiasi + kemoterapi b. Tumor yang in-operabel : radiasi + kemoterapi 2.6.2 Tumor yang rekuren (kambuh) Pembedahan yang tidak adekuat dan manipulasi tumor pada saat pembedahan merupakan penyebab timbulnya rekuren lokal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : - Evaluasi kembali derajat keganasan dengan melakukan biopsy insisional - Nilai kembali ekstensi tumor dalam mempertimbangkan re-eksisi tumor untuk tujuan kuratif 2.7 Prognosis Diantara penderita dengan tumor yang dapat direseksi, 80-90% mendapatkan ketahanan hidup bebas penyakit yang lama. Kira-kira 60% penderita dengan tumor reginal yang direseksi tidak total juga mendapatkan ketahanan hidup bebas penyakit jangka panjang. Penderita dengan penyakit menyebar mempunyai prognosis buruk. Hanya kirakira 505 mencapai remisi dan kurang dari 50% dari jumlah ini mengalami kesembuhan. Anak yang lebih tua mempunyai prognosis lebih buruk daripada yang lebih muda. 4 Prognosis tergantung dari : 10 - Ukuran tumor - Lokasi tumor - Kedalaman tumor - Derajat keganasan - Sel nekrosis Untuk mencapai angka ketahanan hidup (survival rate) yang tinggi diperlukan : 10 - Kerjasama yang erat dengan disiplin lain - Diagnosis klinis yang tepat - Strategi pengobatan yang tepat, dimana masalah ini tergantung dari : evaluasi patologi anatomi pasca bedah, evaluasi derajat keganasan, perlu/tidaknya terapi adjuvan (kemoterapi atau radioterapi). 8

DAFTAR PUSTAKA 1. Lubis B. Rabdomiosarkoma Retroperitoneal. http://www.usu.com (diakses 24 Mei 2008). 2. Anonym. Mewaspadai Kanker Pada Anak. http://khuntien.come/home. (diakses 24 Mei 2008). 3. Timothy PC. Rhabdomyosarcoma. http://www.emedicine.com. (diakses 24 Mei 2008). 4. Crist WM. Sarkoma Jaringan Lunak. Dalam: Nelson WE(eds). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-15. Jakarta: EGC, 2004.1786-1789. 5. Couturier J. Soft tissue tumors: Rhabdomyosarcoma. Atlas Genet Cytogenet Oncol Haematol. March 1998. 6. Robbins, Cotran, Kumar. Dasar Patologi Penyakit. Jakarta: EGC, 1999.761-762. 7. Ferguson MO. Pathology: Rhabdomyosarcoma. http://www.emedicine.com. (diakses 24 Mei 2008). 8. Ling Cen et al. Phosphorylation profiles of protein kinases in alveolar and embryonal rhabdomyosarcoma. http://www.uscap.org. (diakses 24 Mei 2008). 9. Soheila Nikakhlagh. Rhabdomyosarcoma of the larynx. http://www.pjms.com. (diakses 24 Mei 2008). 10. Reksoprodjo S et al. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara, 1995. 402-405. 9 Files of DrsMed FK UR http://www.yayanakhyar.co.nr