4 Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Artonin E (36)

4 Hasil dan Pembahasan

san dengan tersebut (a) (b) (b) dalam metanol + NaOH

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon

4 Pembahasan Artokarpin (35)

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4 PEMBAHASAN. (-)-epikatekin (5, 7, 3, 4 -tetrahidroksiflavan-3-ol) (73). Penentuan struktur senyawa tersebut

4 Pembahasan. 4.1 Senyawa Asam p-hidroksi Benzoat (58)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar

Bab II Tinjauan Pustaka

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL. Tabel 1 Rendemen sintesis resasetofenon metode Cooper et al. (1955) Sintesis 1,3-Diketon

Senyawa 1 C7H8O2 Spektrum IR senyawa C7H8O2. Spektrum 13 C NMR senyawa C7H8O2

A PRENYLATED FLAVONE FROM THE HEARTWOOD OF Artocarpus scortechinii King (Moraceae)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

berdasarkan cpdna tersebut spesies Artocarpus dibedakan berdasarkan tingkat filogenetiknya. Tiga spesies penting di Indonesia (berdasarkan kelangkaan

Mesomeri Jurnal Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Tinjauan Famili Moraceae. 2.2 Tinjauan Genus Artocarpus

Noda tidak naik Minyak 35 - Noda tidak naik Minyak 39 - Noda tidak naik Minyak 43

Spektroskopi IR Dalam Penentuan Struktur Molekul Organik Posted by ferry

SIKLOARTOBILOSANTON DARI KULIT BATANG DAN FLAVONOID DALAM BEBERAPA BAGIAN TUMBUHAN Artocarpus dadah YANG TUMBUH DI LAMPUNG

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis. Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari

Isolasi Senyawa Artobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus

Isolasi Senyawa Artonin E dari Ekstrak Kulit Akar Artocarpus elasticus

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan struktur senyawa organik

ARTONIN M, TURUNAN FLAVON TERGERANILASI DARI Artocarpus rotunda

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. NaOH dalam metanol dengan waktu refluks 1 jam pada suhu 60 C, diperoleh

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TURUNAN SANTONTERPRENILASI GARCINIA CYLINDROCAPA (KOGBIRAT), ENDEMIK KEP. MALUKU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

DR. Harrizul Rivai, M.S. Lektor Kepala Kimia Analitik Fakultas Farmasi Universitas Andalas. 28/03/2013 Harrizul Rivai

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis C-3,7-dimetil-7-hidroksiheptilkaliks[4]resorsinarena

4 Hasil dan pembahasan

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK

BAB 3 METODE PENELITIAN

AKTIVITAS SITOTOKSIK SENYAWA TURUNAN FLAVONOID TERPRENILASI DARI BEBERAPA SPESIES TUMBUHAN ARTOCARPUS ASAL INDONESIA

BEBERAPA SENYAWA FLAVON TERPRENILASI DARI ARTOCARPUS FRETESSI HASSK ENDEMIK SULAWESI SELATAN

4. Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

LIMA SENYAWA CALKON DARI KULIT BATANG CRYPTOKARYA PHOEBEOPSIS (LAURACEAE) DAN SIFAT SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL P 388, SEL HCT 166 DAN SEL A549

DAFTAR ISI... JUDUL.. LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR PUBLIKASI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

Transformasi Gugus Fungsi Senyawa Baekeol Sebagai Model Pembelajaran Kimia di Sekolah Menengah Atas

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Bab II Tinjauan Pustaka

4. Hasil dan Pembahasan

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

Senyawa Sikloartobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bab IV Pembahasan. Gambar IV 1 alat pirolisator sederhana

I. KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI

PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SINTESIS (E)-3-(4-HIDROKSIFENIL)-1-(NAFTALEN-1-IL)PROP-2-EN-1-ON DARI ASETILNAFTALEN DAN 4-HIDROKSIBENZALDEHID. R. E. Putri 1, A.

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Tinjauan Umum Genus Artocarpus

Bab IV Hasil dan Pembahasan

TUGAS ANALISIS FARMASI ANALISIS OBAT DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Isolasi Senyawa α-amirin Dari Tumbuhan Beilschmiedia Roxburghiana (Medang) Dan Uji Bioaktivitasnya

I. PENDAHULUAN. rusak serta terbentuk senyawa baru yang mungkin bersifat racun bagi tubuh.

Bab IV Hasil dan Pembahasan

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

4. Hasil dan Pembahasan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

Jurnal Kimia Indonesia

2 Tinjauan Pustaka. 2.2 Kandungan Senyawa Kimia Tumbuhan Genus Artocarpus

KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS)

Jurnal MIPA 39 (2) (2016): Jurnal MIPA.

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA KIMIA DARI EKSTRAK n-heksan KULIT BATANG Garcinia rigida

PENENTUAN STRUKTUR MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV- VIS

Santon Dari Kulit Batang Tumbuhan Asam Kandis (Garcinia cowa)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

Artelastokromen suatu diprenilpiranoflavon dan β-resorsilaldehid dari kayu batang Artocarpus lanceifolius #

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Aseton merupakan keton yang paling sederhana, digunakan sebagai

4 Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

KIMIA. Sesi. Benzena A. STRUKTUR DAN SIFAT BENZENA. Benzena merupakan senyawa hidrokarbon dengan rumus molekul C 6 H 6

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

SINTESIS SENYAWA METOKSIFLAVON MELALUI SIKLISASI OKSIDATIF HIDROKSIMETOKSIKALKON

FLAVONOID. Dwi Arif Sulistiono. G1C F.MIPA. Universitas mataram

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

4. Hasil dan Pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol

Deskripsi EKSTRAK BAHAN AKTIF DARI TUMBUHAN MELINJO (GNETUM GNEMON), PROSES PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI ANTIKANKER KULIT

ISOLASI DAN KARAKTERISASI METABOLIT SEKUNDER DARI EKSTRAK ASETON DAUN Macaranga pruinosa BANGKA BELITUNG.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebanyak 400 gram sampel halus daun jamblang (Syzygium cumini)

Transkripsi:

4 Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini tiga metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dari kulit akar A. rotunda (Hout) Panzer. Ketiga senyawa tersebut diidentifikasi sebagai artoindonesianin L (35), artobilosanton (45), dan sikloartobilosanton (48). Senyawa yang berhasil diisolasi tersebut ketiganya merupakan senyawa flavon terprenilasi. Sikloartobilosanton dan artobilosanton merupakan senyawa yang terprenilasi pada posisi C-3 dan C-8 sedangkan artoindonesianin L merupakan senyawa yang terprenilasi pada C-6 dan memiliki gugus geranil (C 10 ) pada C-3. Geranil merupakan dua unit isopren yang bergabung. Senyawa-senyawa tersebut memiliki pola oksigenasi cincin B pada posisi 2, 4, dan 5. 22 23 6 A 20 19 5 8 H C H 3' B H H 17 18 6' 13 15 17 3 6 9 10 11 14 12 18 15 14 8 H H H Artoindonesianin L (35) Artobilosanton (45) (IC 50 = 0,6 μg/ml) (IC 50 = 1,75 μg/ml) 5 6' H 3 9 10 12 13 17 18 15 3' 14 6 5 8 H H Sikloartobilosanton (48) (IC 50 = 4,6 μg/ml) 6' H 12 3 9 10 13 Gambar 4.1 Senyawa yang diisolasi dari kulit akar A. rotunda dan sitotoksisitasnya terhadap sel murin leukemia P388 4.1 Sikloartobilosanton Sikloartobilosanton merupakan senyawa flavon yang terprenilasi pada posisi C-3 dan C-8. Isopren pada C-3 mengalami siklisasi dengan C-6 membentuk kerangka dihidrobenzosanton dan oksigen pada C-5 membentuk cincin furan. Berdasarkan siklisasi ini senyawa in termasuk pada cincin furanodihidrobenzosanton. Isopren pada C-8 mengalami siklisasi dengan oksigen pada C-7 membentuk cincin kromen.

Data spektum UV (MeH) menunjukan adanya serapan pita 1 pada 390 nm dan pita 2 pada 270 nm (Gambar 4.2). Adanya pita 1 dan 2 ini pada panjang gelombang tersebut merupakan ciri khas untuk senyawa golongan flavon. Pita 1 merupakan serapan yang terjadi karena adanya kromofor sinamoil pada cincin B kearah karbonil dan pita 2 terbentuk oleh adanya kromofor benzoil yang terbentuk oleh resonansi cincin A ke karbonil. Terjadinya geseran merah (pergeseran kearah panjang gelombang yang lebih besar) pada pita 1 sebesar 43 nm sehingga menjadi 433 nm karena penambahan reagen geser NaH, menandakan adanya gugus fenolik bebas. Penambahan reagen geser AlCl 3 juga mengakibatkan terjadinya pergeseran merah sehingga pita 1 menjadi 432 nm, tetapi penambahan reagen geser HCl tidak mengakibatkan pergeseran biru (pergeseran kearah panjang gelombang lebih kecil). Hal ini disebabkan terbentuknya kelat yang kuat pada oksigen di C-4 dan C-5, tetapi tidak terdapat orto dihidroksi yang kelatnya akan lepas pada saat penambahan HCl. MeH NaH AlCl 3 HCl Gambar 4.2 Spektrum UV-Vis Sikloartobilosanton Pengukuran spektum IR memperkuat kesimpulan dari spektrum UV (Gambar 4.3). Pada spektrum ini terlihat dengan jelas terdapat serapan gugus H pada 3427 cm -1, karbonil terkonjugasi pada 1653 cm -1, ikatan karbon-karbon aromatik pada 1550 cm -1 dan 1475 cm -1, dan adanya gugus C-H alifatik pada 2972 cm -1. Serapan pada spekroskopi inframerah muncul akibat adanya vibrasi ulur dan tekuk dari suatu gugus. Data UV-Vis dan IR ini belum bisa memberikan identifikasi yang jelas akan struktur senyawa, untuk keperluan tersebut dilakukan pengukuran NMR pada semua senyawa yang berhasil diisolasi. 28

C-H H C= C=C Gambar 4.3 Spektrum IR sikloartobilosanton Dari spektrum 1 H-NMR yang diperoleh terlihat adanya dua sinyal singlet pada geseran kimia 6,36 dan 6,10 ppm. Sinyal pada daerah aromatik ini menandakan adanya dua proton pada daerah aromatik. Pada daerah aromatik terlihat juga adanya sinyal dablet pada geseran kimia 6,89 dan 5,64 ppm dengan konstanta kopling 9,8 Hz. Geseran kimia dengan konstanta kopling sekitar sepuluh merupakan sinyal yang dimiliki oleh suatu sistem vinilik dengan konfigurasi cis. Pada daerah alifatik terlihat adanya sistem ABX pada geseran kimia 3,39 (dd, J = 15,3 dan 7,3 Hz); 3,17 (dd; J = 15,5 dan 7,3 Hz); dan 2,32 ppm (t; J = 15,3 Hz). Daerah alifatik juga menunjukan adanya sinyal dari empat metil pada geseran kimia 1,62; 1,43; 1,41; dan 1,29 dengan masing-masing integrasinya tiga dan multiplisitas singlet. Data lain yang juga penting adalah adanya sinyal singlet pada geseran kimia 13,3 ppm yang merupakan sinyal khas untuk H terkelasi. Adanya dua sinyal proton alifatik menunjukan lima subtitusi pada cincin A dan B. Subtitusi ini masuk akal mengingat pola trioksigenasi yang lazim pada genus Artocarpus dan adanya empat sinyal metil yang menunjukan adanya subtituen isopren. Dengan adanya subtituen isopren ini juga disimpulkan terdapat cincin kromen pada C-14 dan 15 yang juga merupakan sistem vinilik dengan konfigurasi cis. Sistem ABX menunjukan terbentuknya kerangka dihidrobenzosanton pada C-9 dan 10. Fakta-fakta ini merupakan ciri-ciri dari senyawa sikloartobilosanton sehingga dapat disimpulkan senyawa tersebut juga merupakan 29

sikloartobilosanton. Tabel 4.1 merupakan perbandingan data 1 H-NMR senyawa hasil penelitian 1 dan data literatur 2 (Sultanbawa, 1989). Tabel 4.1 Perbandingan data 1 H-NMR sikloartobilosanton Posisi Sikloartobilosanton 1 (Aseton-d 6, 500 MHz) Sikloartobilosanton 2 (Aseton-d 6, 200 MHz) 6 6,10 (1H; s) 6,14 (1H; s) 9a 2,32 (1H; t; 15,3) 2,36 (1H; t; 14) 9b 3,39 (1H; dd; 15,3; 7,3) 3,43 (1H; dd; 14; 7) 10 3,17 (1H; dd;15,3; 7,3) 3,21 (1H; dd; 14; 7) 12 1,62 (3H; s) 1,67 (3H; s) 13 1,29 (3H; s) 1,34 (3H; s) 14 6,89 (1H; d; 9,8) 6,92 (1H; d; 10) 15 5,64 (1H; d; 9,8) 5,64 (1H; d; 10) 17 1,41 (3H; s) 18 1,43 (3H; s) 1,47 (6H; s) 3 6,36 (1H; s) 6,43 (1H; s) H 13,35 (1H; s) 13,3 (1H; s) 4.2 Artoindonesianin L Senyawa artoindonesianin L memiliki pola trioksigenasi pada posisi 2, 4, dan 5. Senyawa ini memiliki subtituen isopren pada posisi C-6 dan geranil pada posisi C-3. Isopren pada posisi C-6 mengalami siklisasi membentuk cincin kromen dengan oksigen pada C-7. Berdasarkan adanya subtituen pada posisi C-3 yang tidak mengalami modifikasi senyawa ini termasuk pada golongan 3-prenilflavon. Spektrum UV (MeH) hanya menunjukan adanya serapan pada pita 275 nm, pita 1 terlihat dengan intensitas yang sangat kecil (Gambar 4.4). Intensitas pita 1 yang kecil disebabkan oleh adanya subtituen geranil pada C-3. Geranil memberikan halangan sterik yang besar. Halangan sterik ini menyebabkan benzen tidak bebas melakukan rotasi sehingga tumpang tindih elektron di orbital π menjadi sulit. Tumpang tindih yang tidak sempurna ini menyebabkan resonansi elekron menjadi kurang maksimal sehingga intensitas serapan berkurang. Walaupun serapan pada pita 2 kecil grafik UV-Vis masih memperlihatkan ciri 30

khas senyawa flavon. Penambahan reagen geser NaH dan AlCl 3 tidak menunjukan adanya pergeseran yang berarti, hal ini disebabkan intensitas pita 1 yang kecil dan adanya subtituen isoprenil pada C-6 yang menyebabkan tidak dapat terbentuknya kelat AlCl 3. Spektrum IR artoindonesianin L (Gambar 4.5) menunjukan adanya gugus H pada bilangan gelombang 3419 cm -1 dan 3367 cm -1, karbonil terkonjugasi pada bilangan gelombang 1678 cm -1, C-H alifatik pada 2974 cm -1 dan 2922 cm -1, dan adanya aromatik pada bilangan gelombang 1618 cm -1, 1531 cm -1, 1463 cm -1, dan 1456 cm -1. Karbonil terkonjugasi merupakan suatu ciri dari senyawa flavon sehingga data IR ini memperkuat pernyataan pada spektrum UV. MeH NaH AlCl 3 HCl Gambar 4.4 Spektrum UV artoindonesianin L 31

C-H C=C H C= Gambar 4.5 Spektrum IR artoindonesianin L Spektrum NMR artoindonesianin L menunjukan adanya lima metil. Pada suatu senyawa flavon yang memiliki lima metil {pada geseran kimia (δ ppm) 1,57 (3H; s); 1,53 (3H; s); 1,45 (3H; s); dan 1,42 (6H; s)} dapat diprediksikan sebagai adanya subtituen isopren (2 metil) dan geranil (3 metil). Adanya tiga sinyal siglet di daerah proton aromatik pada geseran kimia 6,83; 6,58; dan 6,27 ppm menunjukan adanya satu proton dan dua proton pada cincin aromatik. Merujuk pada senyawa yang sering ditemukan dalam genus Artocarpus maka dapat prediksi satu proton milik cincin A dan dua proton lagi milik cincin B. Pada senyawa ini tidak ditemukan adanya sistem ABX alifatik, hal ini mengindikasikan tidak terbentuknya siklisasi subtituen yang berada pada C-3. Sedangkan adanya signal pada geseran kimia 6,68 ppm dan 5,73 ppm dengan masing-masing multiplisitas dablet dan konstanta kapling 10,3 Hz menunjukan terbentuknya cincin kromen pada isopren yang tersubtitusi pada cincin A. Proton NMR tentu saja tidak dapat menunjukan dimana letak subtituen isopren pada cincin A. Untuk memastikan hal tersebut dilakukan pengukuran 13 C-NMR untuk melihat korelasi proton pada H terkelasi. Berdasarkan data korelasi tersebut diketahui posisi subtituen isopren terdapat pada C-6. Perbandingan data H-NMR dari artoindonesianin L yang diperoleh dari penelitian 1 dan berdasarkan literatur 2 (Suhartati, 2001) dapat dilihat pada Tabel 4.2. 32

Tabel 4.2 Perbandingan 1 H-NMR artoindonesianin L Posisi Artonindonesianin L 1 (Aseton-d 6, 500 MHz) Artoindonesianin L 2 (CD 3 D, 500 MHz) 8 6,83 (1H, s) 9a, 9b 3,15 (2H; d; 7,3) 3,12 (2H; d; 7,1) 10 5,14 (1H; m) 5,09 (1H; t; 7,0) 12 1,45 (3H, s) 1,40 (3H, s) 13a, 13b 1,88 2H; d; 12,9) 1,88 (2H, m) 14a, 14b 1,99 (2H; d; 12,9) 1,99 (2H; m) 15 5,04 (1H; m) 5,02 (1H; t; 7,3) 17 1,53 (3H; s) 1,54 (3H; s) 18 1,57 (3H; s) 1,58 (3H; s) 19 6,68 (1H; d; 10,3) 6,68 (1H;d; 10) 20 5,73 (1H; d; 10,3) 5,68 (1H;d; 10) 21, 23 1,42( 6H; s) 1,43 (6H; s) 3 6,27 (1H; s) 6,44 (1H; s) 6 6,58 (1H; s) 6,65 (1H; s) H 13,59 (1H; s) 13,50 (1H; s) 4.3 Artobilosanton Senyawa ini memiliki kesamaan struktur seperti pada sikloartobilosanton, hanya saja tidak terbentuk cincin furan. Senyawa ini termasuk golongan dihidrobenzosanton. Secara biogenesis senyawa ini memiliki tingkat evolusi yang lebih rendah daripada sikloartobilosanton sehingga dapat diprediksi senyawa sikloartobilosanton terbentuk dari artobilosanton. Sama seperti turunannnya (sikloartobilosanton) senyawa ini menunjukan ciri khas panjang gelombang maksimum senyawa flavon dengan spektrum UV (MeH) pada 279 nm dan 387 nm (Gambar 4.6). Terjadi pergeseran merah pada penambahan NaH (pita 1 menjadi 437 nm) dan AlCl 3 (pita 1 menjadi 454 nm) tetapi tidak terjadi pergeseran biru pada penambahan HCl. Seperti sebelumnya ini menunjukan adanya gugus fenol bebas dan adanya kelat 33

hidroksi pada C-5. Spektrum IR (Gambar 4.7) menujukan adanya gugus hidroksida pada bilangan gelombang 3412 cm -1, karbonil terkonjugasi pada bilangan gelombang 1653 cm -1, C-H alifatik 2970 cm -1, dan ikatan karbon-karbon aromatik 1595 cm -1, 1554 cm -1, 1483 cm -1, dan 1446 cm -1. MeH NaH AlCl 3 HCl Gambar 4.6 Spektrum UV-Vis artobilosanton C-H H C=C C= Gambar 4.7 Spektrum IR artobilosanton 34

Sama seperti sebelumnya artobilosanton memiliki kesamaan dalam hal spektrum 1 H-NMR, yaitu adanya sinyal kromen dengan multiplisitas dablet pada geseran kimia 6,92 ppm dan 5,66 ppm dengan konstanta kopling 10,3 yang menunjukan konfigurasi cis, sistem ABX pada geseran kimia 4,00 ppm (d; J = 6,7); 3,41 ppm (dd; J = 15,9 dan 1,8 Hz); dan 2,44 ppm (dd; J = 15,9 dan 6,7 Hz), dan dua sinyal proton aromatik (6,59 ppm dan 6,12 ppm). Perbedaannya terletak pada jumlah sinyal metil dan adanya dua sinyal vinilik pada 4,65 dan 4,30 ppm dengan masing-masing multiplisitas singlet. Sinyal vinilik tersebut merupakan dua sinyal yang terdapat pada C-12. Pada daerah aromatik muncul sinyal singlet pada geseran kimia 5,62 ppm. Sinyal ini diketahui merupakan sinyal H berdasarkan korelasi data 13 C- NMR dan 1 H-NMR. Data 13 C-NMR digunakan untuk mengetahui korelasi sinyal proton dengan karbon. Tidak lengkapnya sinyal karbon dapat muncul akibat adanya sinyal yang bertumpuk sehungga muncul satu sinyal atau sinyal dengan intensitas rendah dan tidak terlihat karena adanya pengotor. Namun, meskipun data 13 C-NMR tidak sempurna kesimpulan struktur yang sudah ada dapat dilihat dari spektrum 1 C-NMR. Perbandingan data NMR artobilosanton hasil penelitian 1 dan data literatur 2 (Sultanbawa, 1989) dapat dilihat pada Tabel 4.3. 35

Tabel 4.3 Perbandingan data 1 H-NMR artobilosanton Posisi Artobilosanton 1 (Aseton-d 6, 500 MHz) Artobilosanton 2 (Aseton-d 6, 200 MHz) 6 6,12 (1H; s) 6,10 (1H; s) 9a 2,44 (1H; dd; 15,9; 6,7) 2,37 (1H; dd; 8; 16) 9b 3,41 (1H; dd; 15,9; 1,8) 3,42 (1H; dd; 16; 2) 10 4,00 (1H; d; 6,7) 3,94 (1H; d; 8) 12 4,65 (1H; s) 4,60 (1H; m) 12b 4,30 (1H; s) 4,30 (1H; m) 13 1,78 (3H; s) 1,74 (3H; s) 14 6,92 (1H; d; 10,6) 6,92 (1H; d; 10) 15 5,66 (1H; d; 10,6) 5,64 (1H; d; 10) 17 1,42 (3H; s) 18 1,45 (3H; s) 1,40 (6H; s) 3 6,59 (1H; s) 6,57 (1H; s) H 13,37 (1H; s) 13,3 (1H; s) 4.4 Hubungan Biogenesis Senyawa yang Telah Berhasil Diisolasi Jika dilihat berdasarkan tingkat kerumitan struktur (Gambar 2.25), maka artoindonesianin L yang meskipun memiliki jumlah atom karbon lebih banyak merupakan senyawa yang paling rendah kerumitannya. Sikloartobilosanton merupakan turunan dari artobilosanton dengan kata lain senyawa ini yang paling tinggi tingkat kerumitannya. 36

PP H H H H H H H H 1 H H [] 2 H H PP H H 3 H + H H H H H H H 6 5 H Artobilosanton H 4 H H + H H H H H Sikloartobilosanton Gambar 4.8 Hubungan biogenesis senyawa yang berhasil diisolasi Berdasarkan Gambar 4.8 (Sultanbawa, 1989 dan Hakim et al, 2006) dapat terlihat bagaimana suatu kerangka kromen, dihidrobenzosanton, dan furan secara berurutan terbentuk. Reaksi pertama berkaitan dengan reaksi subtitusi elektrofilik suatu cincin aromatik, dimana pendorong elektron akan cenderung melakukan serangan pada posisi orto atau para. Reaksi selanjutnya merupakan oksidasi, pada tahap ini terjadi oksidasi oksigen pada C-7 dan pembentukan epoksida pada C-10 dan C-11. Senyawa hasil oksidasi kemudian mengalami penataan ulang sampai akhirnya menjadi artobilosanton. Artobilosanton kemudian mengalami fotoreaksi membentuk radikal dan akhirnya terjadi reaksi kopling oksidatif membentuk sikloartobilosanton. Pada artoindonesianin L reaksi pertama terjadi pada C-6 dan DMAPP pada posisi C-3 merupakan geranil piroposfat (GPP). Reaksi oksidasi pada tahap kedua hanya terjadi pada hidroksi di C-6 sehingga hanya akan terjadi reaksi pembentukan cincin kromen. Reaksi pada makhluk hidup pada dasarnya merupakan reaksi enzimatis sehingga memiliki sifat spesifik. Biogenesis sendiri merupakan prediksi dari reaksi yang terjadi melihat kecenderungan senyawa yang terkandung dalam suatu spesies atau genus. Untuk mendapatkan kebenaran biogenesis menjadi biosintesis perlu dilakukan isolasi enzim dan reaksi menggunakan senyawa bertanda. 37

4.5 Bioaktivitas Senyawa Bioaktivitas suatu senyawa berkaitan dengan tiga hal, yaitu ukuran, kepolaran, dan gugus fungsi. Terdapat dua senyawa yang memiliki sitotoksisitas yang sangat tinggi (Gambar 4.9) yaitu artoindonesianin L dan artobilosanton. Jika ditinjau kerangka senyawa tersebut dapat dilihat adanya orto dihidroksi bebas akan meningkatkan aktivitas. Adanya geranil bebas juga akan meningkatkan sitotoksisitas, sedangkan jika terjadi siklisasi membentuk kerangka furan sitotoksisitas akan menurun seperti pada sikloartobilosanton. H H H H H H H H Artoindonesianin L (35) Artobilosanton (45) (IC 50 = 0,6 μg/ml) (IC 50 = 1,75 μg/ml) H H H Sikloartobilosanton (48) (IC 50 = 4,6 μg/ml) Gambar 4.9 Sitotoksisitas senyawa yang diisolasi dari kulit akar A. rotunda terhadap sel murin leukemia P388 38