PROFIL PENDERITA Endometriosis RS DR. SAIFUL ANWAR MALANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. 5 15% wanita usia reproduktif pada populasi umum. rumah sakit pemerintah adalah sebagai berikut : di RSUD dr.

KARAKTERISTIK WANITA USIA SUBUR DENGAN MIOMA UTERI DI RS. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA

Tumor jinak pelvik. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. selama hari, 3-6 hari adalah waktu keluarnya darah menstruasi. perdarahan bercak atau spotting (Baziad, 2008).

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Salah satu masalah kesehatan yang sering di jumpai pada wanita usia subur

BAB 1 PENDAHULUAN. Haid adalah perdarahan dari kemaluan yang terjadi pada seorang wanita yang

Gambaran Karakteristik Penderita Endometriosis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

BAB I PENDAHULUAN. Infertilitas adalah kondisi yang dialami oleh pasangan suami istri. yang telah menikah minimal 1 tahun, melakukan hubungan sanggama

Fertilitas & Praktik Obgyn Sehari-hari

Istilah-istilah. gangguan MENSTRUASI. Skenario. Menstruasi Normal. Menilai Banyaknya Darah 1/16/11

Fertilitas & Praktik Obgyn Sehari-hari

II. ANAMNESIS Anamnesis tanggal : 10 November 2015 Keluhan utama : Nyeri perut kanan bawah saat menstruasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. endometrium diluar lokasi normalnya dikavum uteri. kelainan ini

Profil Penderita Endometriosis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada Tahun

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Mioma uteri sering disebut juga leiomioma atau fibroid uterus, yang merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Menstruasi adalah pendarahan periodik dan siklik dari uterus, disertai

Meet The Expert Fertilitas & Praktik Obgyn Sehari-hari

Pend h a uluan Etiologi PUD B l e dik um t e h a i u t pas iti Beberapa pilihan terapi

SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh perempuan usia produktif. Sebanyak 25% penderita mioma uteri dilaporkan

: Asuhan Kebidanan IV (PATOLOGI GSR) ENDOMETRIOSIS DISUSUN OLEH: KELOMPOK 3

BAB I PENDAHULUAN. Repository.Unimus.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. sampai 6 gram. Ovarium terletak dalam kavum peritonei. Kedua ovarium melekat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Penyakit Radang Panggul. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

PENANGANNYA : Antibiotika cervicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10 % dan irigasi

PROFIL PENDERITA KANKER GINEKOLOGI DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2015 SAMPAI JULI Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT 2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar,

ABSTRAK GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO INFERTILITAS WANITA DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2010 JANUARI 2011

BAB I PENDAHULUAN. diagnosa secara individual (Ralph. C Benson, 2009). Adapun Komplikasi

BAB I PENDAHULUAN. leiomyoma uteri, fibromioma uteri, atau uterin fibroid. 1 Angka kejadian

Pengertian. Endometriosis

Fertilitas & Praktik Obgyn Sehari-hari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang aman (plastik yang dililiti oleh tembaga) dan dimasukkan ke dalam rahim oleh

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terutama pada remaja putri yang nantinya akan menjadi seorang wanita yang

PERANAN LAPAROSKOPI PADA PENDERITA INFERTILITAS WANITA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Folikel antral adalah folikel kecil - kecil berukuran 2-8 mm yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit repoduksi yang banyak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Universitas Sumatera Utara

Karakteristik Pasien Adenomiosis dengan Gambaran Ultrasonografi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. biologis atau fisiologis yang disengaja. Menopause dialami oleh wanita-wanita

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengetahuan perawat tentang penilaian nyeri dan intervensi sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSU PKU MUHAMMADIYAH KOTA YOGYAKARTA TAHUN

Meet The Expert Fertilitas & Praktik Obgyn Sehari-hari

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak. menuju masa dewasa. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Moewardi pada Juli 2013

Karakteristik Pasien Endometriosis di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Selama Periode 1 Januari Desember 2005

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja (pubertas) merupakan masa transisi antara masa anak dan dewasa

BAB I PENDAHULUAN dan 2000, kelompok umur tahun jumlahnya meningkat dari 21 juta

PENATALAKSANAAN SARKOMA UTERI YANG BERULANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gamba. r 1. Beberapa Penyebab Infertilitas pada pasangan suami-istri. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan endometriosis dengan

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA MIOMA UTERI DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN

Ovarian Cysts: A Review

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Daftar Pustaka : 21 ( ) Kata kunci: Dismenore, Intensitas dismenore, Senam dismenore

BAB I. Pendahuluan. yang berasal dari implantasi endometriosis dan pertumbuhan jaringan. endometrium yang mencapai rongga peritoneal.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan/Penyajian Data Dasar Secara Lengkap

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks adalah kanker pembunuh perempuan nomor satu. maka pengobatan yang diberikan adalah kemoterapi (Baradero,2007).

GAMBARAN FAKTOR RESIKO PENYEBAB TERJADINYA MIOMA UTERI DI POLIKLINIK KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH TAHUN 2012

Gangguan Hormon Pada wanita

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA OVARIUM DI RUANG B3 GYNEKOLOGI RS Dr. KARIADI SEMARANG

ABORSI / ABORTUS KATA PENGANTAR. Fransisca S. K. S.Ked (Fak. Kedokteran Univ. Wijaya Kusuma Surabaya)

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL YANG DIRAWAT-INAP DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JULI JUNI 2005

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit pada sistem reproduksi yang menyebabkan kematian yaitu

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Masa ini merupakan masa peralihan manusia dari anak-anak menuju

SILABUS OBSTETRI & GYNEKOLOGI PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA RIA HUSADA TAHUN AKADEMIK ANGKATAN XV

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh gangguan hormonal, kelainan organik genetalia dan kontak

BAB 1 PENDAHULUAN. jinak yang tumbuh pada rahim. Dalam istilah kedokteranya disebut

BAB I PENDAHULUAN. tuba falopi kemudian berimplantasi di endometrium. (Prawiroharjho, ketidakpuasan bagi ibu dan bayinya (Saifuddin. 2000).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. atau adolescence. Menurut WHO (2007) masa remaja terjadi pada usia antara 10 24

BAB I PENDAHULUAN. Health Organization, 2014). Data proyek Global Cancer (GLOBOCAN) dari

2016 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA MADYA ( TAHUN ) TENTANG DYSMENORRHEA DI SMPN 29 KOTA BANDUNG

Hubungan Kerapatan Reseptor Hormon Estrogen pada Wanita Perimenopause terhadap Kejadian Tipe Hiperplasia Endometrium

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. B DENGAN POST OP HEMOROIDECTOMI DI RUANG MELATI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Gangguan Sistem Reproduksi Wanita. kesehatan reproduksi (Manuaba, 2008). Hal ini mencakup infeksi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

c. Trigliserid ^ 165 mg/dl

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. metode deteksi dini yang akurat. Sehingga hanya 20-30% penderita kanker

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar belakang. Poin ke 5 dalam Milenium Development Goals (MDG) adalah

Transkripsi:

PROFIL PENDERITA Endometriosis RS DR. SAIFUL ANWAR MALANG 2001 2003 Kusuma Andriana 1 ABSTRACT In carrying out autonomy this area needed to emphasize at the democratize principles, the role of society, generalization and justice also pay attention the potency and area variety. Therefore participation and society initiative in development needed to improve the role of society in executing development and identify potency and the local variety. This research is done in Tlogowaru of Kedung Kandang subdistrict Malang town. Target of this research is to describe of how society participation in identifying, planning, executing, treatment and taking place of program are suitable with basic necessary and also government participation of sub-district, LPMK and other organization. This research method is combining between RRA meth od and PRA expected can dig the information that required suitable with the target of research. Result of research indicates that the society participation in identifying the problems in society community needs to be improved as form of empowering of society potency. Development is real society necessary and non package program forced from power center. Involvement of figure governmental give and give high motivation in development that have continuation is done by society. 1. PENDAHULUAN Endometriosis adalah penyakit progresif yang mengenai 5 10 % perempuan usia reproduksi dan lebih dari 30 % perempuan yang mengalami infertilitas ditemukan endometriosis saat eksplorasi penyebabnya. Ada tiga dampak klinik endometriosis. Pertama, nyeri perut/pelvis, baik nyeri haid, nyeri sanggama maupun nyeri spontan. Kedua adanya benjolan, endometrioma yang mungkin memberikan dampak pendesakan kearah jaringan sehat ovarium, ataupun kearah jaringan sekitar, ureter, usus ataupun yang lain. Dampak klinik ketiga adalah infertilitas, merupakan dampak klinik yang paling sering dijumpai. Dari populasi wanita endometriosis didapatkan angka kejadian infertilitas sebesar 55 % di Australia dan 43 % di UK. (Samsulhadi, 2002) Endometriosis didefinisikan sebagai tumbuhnya jaringan endometrium yang berupa kelenjar atau stroma diluar kavum uteri atau myometrium. (D hoogke and T M, Hill J A 1996, Emam, 2003, Prabowo, 1989, Wellbery, 1999) Insiden sebenarnya dari endometriosis tidak diketahui secara pasti, diperkirakan prevalensi keseluruhan endometriosis (asimptomatis dan simptomatis) berkisar 5 10 %. 6 Umumnya terjadi pada usia reproduksi di usia 25 29 tahun tetapi dapat pula terjadi pada masa pubertas dan perempuan pasca menopause yang mendapat terapi sulih hormone (TSH). (D hoogke and T M, Hill J A 1996; Baziad, 1993; Endometriosis.org,2003; Wellbery, 1999) Penegakan diagnosa endometriosis tidaklah mudah karena gold standar-nya adalah laparaskopi, sebuah tindakan yang masih cukup mahal untuk kebanyakan orang Indonesia. Umumnya ditemukan secara tidak sengaja pada laparatomi. Terapi yang diberikan adalah meliputi terapi medikamentosa dan atau bedah, dengan keberhasilan yang belum maksimal karena patogenesa yang tidak jelas. (D hoogke and T M, Hill J A 1996; Baziad, 1993; Endometriosis.org,2003) 1 Kusuma Andriana. Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Malang Alamat Korespondensi : Jl. Rambutan No.2 Malang Tlp. 0341-565860, Hp. 081555666621. Email. kusuma@umm.ac.id 43

2. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh status rekam medik penderita rawat jalan di poliklinik ginekologi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel penelitian adalah seluruh status rekam medik penderita endometriosis dari bulan Januari tahun 2001 Desember 2003 yang telah terdiagnosa pasti dengan hasil patologi anatomi. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang sejak Desember 2003 Pebruari 2004. Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran profil penderita endometriosis yang berobat ke RSUD Dr. Saiful Anwar selama kurun waktu 3 tahun (2001 2003). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian deskriptif yang dilakukan sejak bulan Desember 2003 sampai dengan Pebruari 2004 diperoleh 81 penderita yang terdiagnosa secara klinis sebagai endometriosis tetapi hanya 34 penderita yang terdiagnosa secara patologi anatomi. Usia sampel 44,13 % berkisar pada usia 31 40 tahun dengan usia ratarata 34.4 tahun. Usia minimal 21 tahun, maksimal 52 tahun. 88.24 % sampel telah menikah dengan terbanyak adalah nulipara sebesar 35.29 % dan 82.35 % (28 sampel) tidak memakai kontrasepsi. Dari lama menikah sampel ditentukan status fertilnya, yang pada penelitian ini 12 sampel (35.29%). Pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga 76.47 %. Sebagian besar sampel (76.47 %) datang sendiri dengan gejala terbanyak adalah nyeri yang berhubungan dengan haid 70.59 %, benjolan diperut 23.53 % dan nyeri perut (tak berhubungan dengan siklus haid) sebesar 11.76 %. Nyeri yang berhubungan dengan haid dirasakan oleh 52.94 % sampel selama haid dan 29.38 % sebelum haid. Tabel 1. Jumlah dan Persentase Penderita Endometriosis Berdasarkan Keluhan Keluhan N (%) Nyeri berhubungan dgn haid 24 (70.59) Nyeri saat BAK 1 (2.94) Nyeri saat BAB 1 (2.94) Nyeri perut 4 (11.76) Nyeri punggang 1 (2.94) Benjolan di perut 8 (23.53) Benjolan di bekas episiotomi 1 (2.94) Benjolan di inguinal 1 (2.94) Perdarahan irreguler 7 (20.58) Tidak ada 1 (2.94) Tabel 2. Jumlah dan Persentase Penderita Endometriosis Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi (PA) Hasil PA N (%) Adenomyosis 7 (20.59) Endometriosis ovarium 23 (67.65) Endometriosis tuba 5 (14.71) Endometriosis eksterna 2 (5.88) 44 GAMMA, Volume II Nomor 1, September 2006: 43-47

Tabel 3. Kesesuaian diagnosa awal dengan diagnosa akhir dan hasil patologi anatomi Diagnosa awal N Dx. Akhir endometriosis Lokasi Endometriosis dari hasil PA (Durante op) Ya Tidak Uterus Ovarium Tuba Eksterna Adenomyosis + kista coklat 1 (2.94) 1 1 1 Kista coklat 1 (2.94) 1 1 Appendisitis akut 1 (2.94) 1 1 Kistoma ovarii 8 (23.53) 8 1 8 Kistoma ovarii terpluntir 1 (2.94) 1 1 Endometriosis 1 (2.94) 1 1 Endometriosis eksterna 1 (2.94) 1 1 Hernia femoralis 1 (2.94) 1 1 Hematocele 2 (5.88) 2 2 Menometrorragia 1 (2.94) 1 1 Myoma uteri 10 (29.37) 7 3 4 6 1 Observasi KE 3 (8.83) 3 3 TOA 2 (5.88) 2 2 TOC 1 (2.94) 1 1 Jumlah 34 (100.00) 30 4 7 23 5 2 Penelitian ini menggunakan hasil patologi anatomi sebagai dasar diagnosa dari endometriosis. Pemeriksaan penunjang yang dipakai adalah USG, karena dipakai sebagai alat bantu diagnosa awal. Diagnosa awal sebagai non endometriosis yang kemudian terbukti sebagai endometriosis pada hasil patologi anatomi terdapat sebanyak 30 sampel (88.26 %). Sebagian besar kasus endometriosis pada awalnya terdiagnosa sebagai myoma uteri 10 sampel (29.37 %) dan kistoma ovarii 8 sampel (23.53 %) dan hanya 4 sampel (11.76 %) yang terdiagnosa sejak awal sebagai endometriosis. DMPA (cara Kistner) digunakan sebagai terapi utama endometriosis di RSSA. Pada penelitian ini 28 sampel (82.36 %) mendapatkan DMPA tetapi hanya 50 % diantaranya yang menyelesaikan terapi secara paripurna. 2 diantara sampel yang tidak menyelesaikan terapi DMPA mengalami hipertensi dalam masa terapinya. Evaluasi hasil terapi pasca pemberian DMPA sebagian besar (91.18 %) tidak dilakukan. Hanya 2 sampel (5.88 %) yang meneruskan dengan work up infertil. Prevalensi sebenarnya dari endometriosis belum diketahui. Estimasi prevalensinya bervariasi dari empat persen pada endometriosis asimptomatis pada perempuan yang dilakukan ligasi tuba sampai 50 % penderita dengan dismenore hebat. Di Amerika Serikat, sejak tahun 1970 diperoleh insiden pada populasi 1.6 per 1000, berusia 15 49 tahun pada perempuan kulit putih. (Emam.2003; Ory, 1992; Schenken,1999) The Endometriosis Association Research Registry melakukan penelitian retrospektif terhadap 3020 kasus endometriosis dan menemukan 2 4 % pada usia reproduksi, 40.6 % di usia < 20 tahun, 42.9 % di usia 20 29 tahun dan 16.5 % pada usia 30 39 tahun. Schenken (1999) : Usia rata-rata penderita endometriosis adalah 25 35 tahun dan jarang pada pasca menopause. Umumnya pada sosial ekonomi tinggi yang banyak menunda kehamilan. Ali Baziad (1993) : terjadi pada usia reproduksi 25 40 tahun. Welberry (1999) : pada usia 25 29 tahun. Farquhar (2003) menyebutkan puncak usia endometriosis adalah usia 40 tahun. Memardeh (2003) menemukan 45

3 10 % pada usia reproduksi. (Ali Baziad, 1993; Schenken,1999) Prabowo (1999) menyatakan bahwa endometriosis ditemukan pada perempuan yang tidak menikah pada usia muda dan tidak punya banyak anak. Rupanya fungsi ovarium secara siklik dan terus menerus tanpa diselingi kehamilan memegang peranan untuk kejadian endometriosis. Kaitan antara endometriosis dan infertil tak dapat dilepaskan. Speroff (1999) mendapatkan 25 35 % pasien infertil menderita endometriosis, sebaliknya 38.5 % penderita endometriosis didapatkan infertil. Sementara dari penelitian Samsul Hadi (1999) terhadap 1080 kasus infertil, endometriosis ditemukan 50.49 %. Treolar (2002) yang dikutip dari Samsul Hadi (2003) mendapatkan dari populasi perempuan endometriosis didapatkan angka infertil 55 % di Australia dan 43 % di UK. Schenken (1999) : dari 25-50 % pasien infertil didapatkan endometriosis, dan 30 50 % pasien endometriosis didapatkan infertil. Welberry (1999) menemukan 20 % endometriosis pada investigasi infertil menggunakan laparaskopi. Welberry (1999) : Nyeri pelvis ditemukan 24 %, sementara Schenken (1999) menemukan sepertiga dari pasien dengan nyeri pelvis kronis ditemukan adanya endometriosis. Treolar (2002) yang dikutip dari Samsul Hadi (2003) mendapatkan pada penderita endometriosis nyeri haid 90 %, nyeri pelvis 74 % dan dispareuni 75 %. The Endometriosis Association Research Registry mendapatkan dismenorea 96.2 %, nyeri saat BAB 79 %, perdarahan ireguler 65.3 %, dispareuni 59.6 %. Farquhar (2003) dari 40 60 % pasien yang mengeluhkan dismenore didapatkan endometriosis. Diagnosa pasti endometriosis ditegakkan berdasarkan laparaskopi, laparatomi dan atau patologi anatomi. Hasil patologi anatomi harus menunjukkan adanya kelenjar endometrium dan stroma endometrium atau adanya makrofag yang berisi hemosiderin laden pada dinding kista. (Memardeh, 2003) Endometriosis ditemukan pada 1 2 % penderita yang menjalani sterilisasi, 10 % histerektomi dan 16 38 % pada laparaskopi. Schenken (1999) menyatakan bahwa endometriosis pelvis ditemukan satu persen pada semua operasi ginekologi, 6-43 % pada operasi untuk sterilisasi, 12 32 % pada laparaskopi untuk mencari penyebab nyeri pelvis, 21 48 % pada laparaskopi untuk mencari penyebab infertil, dan ditemukan 50 % pada remaja yang dilakukan laparaskopi untuk evaluasi nyeri pelvis kronis atau dismenore. (Memardeh, 2003) Emam (2003) membagi lokasi endometriosis di pelvis dan ekstra pelvis. Di uterus (adenomiosis), ditemukan 50 %, ekstra pelvis di ovarium 30 %, peritoneum 10 % dan selebihnya di tuba, vagina, vesika urinaria dan rektum, kolon dan ligamentum. Pada penelitian ini, berdasarkan hasil operasi dan patologi anatomi pada didapatkan endometriosis ovarium 67.64 %, tuba 14.71 % dan adenomyosis 20.59 %. (Tabel 2). Di poli FER RS Dr Saiful Anwar terapi medikamentosa yang dipakai adalah pemberian DMPA (Depo Medroxy Progesteron Asetat) 200 mg setiap 2 minggu selama 2 bulan dilanjutkan 100 mg setiap bulan selama 6 bulan. Pada penelitian ini, dari seluruh sampel hanya 82.36 % yang mendapatkan terapi ini, tetapi hanya 50 % yang menyelesaikan tahapan terapi. Wellbery (1999) menemukan dari 14 penelitian diperoleh tidak ada perbedaan bermakna antara progestin dan terapi medik lain. Hal ini penting karena progestin jauh lebih murah dibandingkan Danazol atau analog GnRH lainnya. Beberapa penelitian dicoba dirangkum oleh Prof Cynthia Farquhar (2003) diantaranya adalah sebagai berikut : - Empat RCT (Randomized Clinical Trial) membandingkan obat supresi ovulasi seperti kontrasepsi oral, Danazol, Gestrinone, analog gonadrelin atau MPA (Medroxy Progesteron Acetat) dan placebo. Diperoleh bahwa semua terapi medik lebih bermakna menurunkan nyeri dalam 6 bulan daripada placebo. - Penelitian yang membandingkan pemberian MPA dengan kontrasepsi oral disertai Danazol. o Satu RCT (Randomized Clinical Trial), diperoleh bahwa MPA lebih efektif mengurangi dismenorea tetapi tidak dispareuni ataupun nyeri yang tak berhubungan dengan haid. o Satu RCT, diperoleh MPA memberi efek lebih banyak bloating (OR 4.04, 95 % CI 1.68 9.70) dan spotting (OR 16.3, 95 % CI 6.8 39.2) dibandingkan kontrasepsi oral + Danazol 46 GAMMA, Volume II Nomor 1, September 2006: 43-47

o Satu RCT (telah dilakukan pembedahan secara laparaskopi sebelumnya) diperoleh MPA memberi efek amenore 20 %, breakthrough bleeding 15 %, bloating 63 %, penambahan BB 53 %. Sementara pemberian kontrasepsi oral + Danazol berefek amenore 0 %, breakthrough bleeding 0 %, bloating 28 %, penambahan BB 30 %. - Satu RCT yang membandingkan penggunaan MPA dan analog gonadrelin selama 6 bulan yang kemudian dievaluasi setelah satu tahun. Diperoleh tidak ada perbedaan bermakna antara keduanya. Evaluasi standar endometriosis yang mungkin berguna, mudah, murah dan aman adalah keluhan klinik yang diarasakan penderita ditambah faktor waktu.(samsulhadi, 2003) 4. KESIMPULAN DAN SARAN Keluhan terbanyak yang dijumpai adalah nyeri yang berhubungan dengan haid sebesar 70.59 % (52.94 % nyeri selama haid, 29.38 % sebelum haid) 88.26 % kasus terdiagnosa bukan sebagai endometriosis, dan ditemukan durante laparatomi dan atau pemeriksaan patologi anatomi. Berdasarkan hasil patologi anatomi lokasi terbanyak adalah ovarium (67.65 %) Terapi yang diberikan 82,36 % adalah DMPA. 91.8 % sampel tidak dilakukan evaluasi pasca terapi. DAFTAR PUSTAKA Baziad, A. 1993. Endokrinologi Ginekologi, ed. Ke - 1, KSERI, Media Aesculapius, Jakarta. D hoogke, T M, Hill J A. 1996. Endometriosis dalam Novak s Gynecology, ke - 12 ed, William & Wilkins, Baltimore, 887 994 Emam, M A. 2003. Endometriosis overview, Obstetry and Gynecology, Mansoura Faculty of Medicine Mansoura Integrated Fertility Center (MIFC) EGYPT, Egypt, http://obgyn_net- Endometriosis Overview Prof_M_Emam_,MD files \obgyn.net css Farquhar, C. 2003. Endometriosis. Clin Evid. 10:1-3 (2003) dalam http://www.clinevid diakses pada tanggal 22 Desember 2003 http://www.endometriosis.org/html ;Endometriosis overview ; Februari 2003 diakses pada tanggal 21 Agustus 2003. Memardeh, S M.; Muze, K N. Jr.; Fox, M.D. 2003. Endometrosis. Dalam Current obstetry and gynecology diagnosa and therapy. 9th ed. Boston: Mc Graw Hill, 707-75 Ory, S J. 1992. Endometriosis dalam Clinical Manual of Gynecology, ed ke 2, McGraw Hill Inc, Singapore, 444 56 Prabowo, R P. 1989. Endometriosis dalam Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, ed. Ke - 4, Jakarta, 259 70 Samsulhadi. 2003. Evaluasi standar pengobatan endometriosis dalam makalah Simposium Endometriosis, KOGI XII, Yogyakarta, 4 9 Juli 2003 Sperrof L, Robert, G H, Nathan, K G. 1999. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility, ed. Ke - 4, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, 1057 1074. Samsulhadi. 2002. Endometriosis dari Biomolekuler sampai Masalah Klinik dalam Majalah Obstetri dan Ginekologi vol. 10 no. 1, SMF Obstetri dan Ginekologi Fak.Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Juli 2002. Samsulhadi. 2002 Patofisiologi Endometriosis, dalam makalah symposium Endometriosis,PIT XIII, Malang, Juli 2002 Wellbery, C, 1999. Diagnosis and Treatment of Endometriosis, http://www.aafp. org/afp/ 991015ap/1753.html diakes pada tanggal 21 Agustus 2003. 47