JPPPF - Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Volume 1 Nomor 1, Juni 2015 p-issn: e-issn: Halaman 111

dokumen-dokumen yang mirip
JPPPF - Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Volume 1 Nomor 1, Juni 2015 p-issn: e-issn: Halaman 111

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu cara

BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berkaitan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MERUMUSKAN DAN MENGUJI HIPOTESIS MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN METODE PRAKTIKUM

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. .id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENGEMBANGAN. Penelitian yang peneliti lakukan merupakan penelitian pengembangan dengan

tingkatan yakni C1, C2, C3 yang termasuk dalam Lower Order Thinking dan C4, C5, C6 termasuk dalam Higher Order Thinking Skills.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dwi Wahyuni, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Heri Sugianto, 2013

BAB I PENDAHULUAN. masalah dalam memahami fakta-fakta alam dan lingkungan serta

BAB I Pendahuluan. Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Wahana Pendidikan Fisika, Vol. 1, No. 1, Februari 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling penting

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sains dan teknologi adalah suatu keniscayaan. Fisika adalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arif Abdul Haqq, 2013

Profil Analisis Kebutuhan Pembelajaran Fisika Berbasis Lifeskill Bagi Siswa SMA Kota Semarang

BAB I PENDAHULUAN Etty Twelve Tenth, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut

PENGARUH MODEL PROJECT-BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK KELAS XI MIA SMA NEGERI 1 KEPANJEN

PENGEMBANGAN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS MATERI FLUIDA STATIS KELAS X SMA/MA

PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DISERTAI PETA KONSEP DI MAN 2 JEMBER (Pada Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus)

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

PENGGUNAAN SIKLUS BELAJAR HIPOTESIS DEDUKTIF PADA PEMBELAJARAN LARUTAN PENYANGGA UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR SISWA KELAS XI

PROFIL HAMBATAN BELAJAR EPISTIMOLOGIS SISWA PADA MATERI ASAS BERNOULLI KELAS XI SMA BERBASIS ANALISIS TES KEMAMPUAN RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31. Ayat (3) mengamanatkan agar pemerintah mengusahakan dan

PENGEMBANGAN ALAT PENILAIAN BERBASIS KETERAMPILAN GENERIK SAINS PADA PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara umum belief diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan diri terhadap

Penerapan Problem-Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X-1 Sma Islam I Surakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014

BAB I PENDAHULUAN. Metode konvensional (ceramah) kurang mengena untuk diterapkan pada

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Evi Khabibah Lestari, 2015

dapat dialami langsung oleh siswa, hal ini dapat mengatasi kebosanan siswa dan perhatiannya akan lebih baik sehingga prestasi siswa dapat meningkat.

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tirana Auliya Nugraha, 2013

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan berbagai kompetensi tersebut belum tercapai secara optimal.

DEVELOPING MATHEMATICAL LEARNING BASED ON DISCOVERY LEARNING MODEL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Asesmen merupakan bagian yang sangat penting dalam proses

Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Mendukung Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII

JKPM VOLUME 3 NOMOR 2 SEPTEMBER 2016 ISSN :

Unnes Physics Education Journal

PENGEMBANGAN LKS MULTIREPRESENTASI BERBASIS PEMECAHAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA. Abstract

PENGARUH PENERAPAN CHALLENGE BASED LEARNING TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 09 SALATIGA

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS. Dyah Pramesthi Isyana Ardyati

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

POTRET PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS EMPAT PILAR PENDIDIKAN DI SMA. Ahmad Fauzi, Supurwoko, Edy Wiyono 1) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tujuan pembelajaran matematika diantaranya adalah mengembangkan

BAB III METODE PENELITIAN

Mahardika Intan Rahmawati

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Irpan Maulana, 2015

Nurun Fatonah, Muslimin dan Haeruddin Abstrak Kata Kunci:

II. KERANGKA TEORETIS. 1. Pembelajaran berbasis masalah (Problem- Based Learning)

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kompleksitas Soal Kontekstual Matematika

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adelia Alfama Zamista, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ejen Jenal Mustaqin, 2013

Perbandingan Peningkatan Keterampilan Generik Sains Antara Model Inquiry Based Learning dengan Model Problem Based Learning

I. PENDAHULUAN. baik, namun langkah menuju perbaikan itu tidaklah mudah, banyak hal yang harus

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Afifudin, 2013

PENDAHULUAN. Leli Nurlathifah, 2015

BAB II LANDASAN TEORI. Koneksi berasal dari kata dalam bahasa inggris Connection, yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Intan Setiawati, 2013

MANAJEMEN PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN MENERAPKAN MODEL KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGASI BERBASIS PBL (PROJECT BASED LEARNING) DI MA

HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan

DESAIN ATURAN SINUS DAN ATURAN COSINUS BERBASIS PMRI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. pengetahuan dan suatu proses. Batang tubuh adalah produk dari pemecahan

Tersedia online di EDUSAINS Website: EDUSAINS, 7 (2), 2015,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Niken Noviasti Rachman, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hedya Nurwijayaningsih, 2015

1) Prodi Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia. FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika Siswa SMK

Kholifatul Maghfiroh, Asim, Sumarjono Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu

PENGEMBANGAN ASESMEN PEMBELAJARAN SESUAI TUNTUTAN KURIKULUM 2013 PADA MATERI FOTOSINTESIS DI SMP

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Kata kunci: bahan ajar berbasis masalah, PCK, kemampuan pemecahan masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang jika

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MENGGUNAKAN STRATEGI WRITING TO LEARN PADA SISWA SMP 4

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Denok Norhamidah, 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. belajarnya dan dapat membangun pengetahuannya sendiri (student centered. digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran masih kurang.

Magister Pendidikan Sains, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, 57126, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. ataupun kelangsungan peradaban di seluruh dunia. Di Indonesia, tujuan bangsa

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Transkripsi:

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 111 Naskah masuk: 28 Mei 2015, Naskah diterbitkan: 30 Juni 2015 DOI: http://dx.doi.org/10.21009/jpppf.01116 Analisis Didaktik Pembelajaran yang Dapat Meningkatkan Korelasi antara Pemahaman Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMA pada Materi Fluida Dinamis Fathiah 1,a), Ida Kaniawati 2, Setiya Utari 2 1 Sekolah Pascasarjana Program Magister UPI, Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154 2 FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154 Email: a) fathi.qudsy@gmail.com Abstrak Kajian ini dilatarbelakangi dari hasil diskusi dengan guru, data awal berupa tes kemampuan kognitif dan pengamatan di kelas tentang masalah yang sering dihadapi dalam pembelajaran fisika terkait fluida dinamis. Masalah yang muncul antara lain: siswa telah memahami konsep, namun kurang mampu menggunakan pemahaman konsepnya tersebut dalam memecahkan masalah di kehidupan nyata tentang fenomena terkait. Siswa cenderung menguasai soal hitungan tapi kurang mampu memecahkan masalah terkait fenomena fluida dinamis yang riil. Hal ini disebabkan pembelajaran fisika materi fluida dinamis yang berlangsung di sekolah masih bersifat informatif dan abstrak, cenderung lebih ditekankan pada perumusan persamaan matematis, serta kurang melibatkan siswa dalam berinteraksi langsung dengan fenomena nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain pembelajaran materi fluida dinamis yang dapat meningkatkan korelasi antara pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan hasil analisis hypothetical learning trajectory (HLT) terhadap kemampuan kognitif siswa. Penelitian deskriptif dilakukan pada 30 siswa di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Tangerang. Hasil penelitian memberikan informasi untuk kajian penelitian selanjutnya dalam upaya pengembangan desain didaktik yang dihipotesiskan dapat meningkatkan korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi fluida dinamis. Kata-kata kunci: Hypothetical Learning Trajectory, desain didaktik, pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah, fluida dinamis

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 112 PENDAHULUAN Dunia kerja saat ini memerlukan orang-orang yang dapat memecahkan masalah. Karena perubahan ketrampilan yang dibutuhkan di dunia kerja tersebut, maka orientasi pendidikan pun bergeser dari membekali siswa dengan ketrampilan rutin menjadi membekali siswa untuk siap menghadapi dan mengatasi tantangan kognitif yang kompleks dan tak biasa. Untuk menghadapi dunia di masa mendatang, siswa tidak cukup hanya dibekali dengan pemahaman konsep, namun perlu dilatihkan juga ketrampilan berfikir menggunakan pengetahuannya itu untuk mememecahkan masalah riil yang lebih sering tidak bisa diprediksi. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan pemecahan masalah termasuk salah satu keterampilan yang harus dikuasai di abad 21 (PISA 2012). Dengan demikian sudah seharusnya pembelajaran fisika di kelas diharapkan tidak hanya mampu membentuk pemahaman konsep secara utuh dan lebih mendalam, namun juga membekali siswa kemampuan untuk mengaplikasikan konsep yang dimilikinya dalam memecahkan masalah nyata. Pada kenyataannya proses pembelajaran konsep fluida dinamis di sekolah masih bersifat informatif dan kurang memberikan pengalaman nyata pada siswa. Hasil studi pendahuluan peneliti menunjukkan permasalahan dalam proses pembelajaran, antara lain: 1) Pembelajaran fisika di sekolah cenderung bersifat informatif dan lebih ditekankan pada perumusan persamaan matematis sehingga kurang memfasilitasi siswa dalam mengkoneksikan konsep yang dipelajarinya di kelas dengan fenomena terkait; 2) Praktikum umumnya jarang dilakukan pada materi fluida dinamis. Jikapun dilakukan praktikum, maka biasanya menggunakan alat praktikum yang jarang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari; 3) Concept image fluida dinamis yang disampaikan dalam pembelajaran masih bersifat abstrak. Penyampaiannya lebih sering dilakukan menggunakan animasi, slide presentasi, maupun video. Hal ini mengakibatkan siswa kurang memiliki pengalaman belajar langsung dengan wujud nyata sifat fluida. Padahal fluida yang digunakan dalam pembelajaran dapat digunakan dari bahan yang aman, persediaannya mudah, sering dijumpai dalam kehidupan seharihari dan melimpah, seperti air. Upaya untuk merancang strategi pembelajaran agar siswa dapat mengatasi kesulitan belajarnya dan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dari suatu konsep sains dideskripsikan dalam Hypothetical Learning Trajectory (HLT). Komponen HLT terdiri dari: 1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; 2) sarana-sarana (tugas, konteks pembelajaran) yang akan membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran; dan 3) Hipotesis tentang proses pembelajaran (Baroody 2004). HLT merupakan bagian dari Hypothetical Learning Progression (HLP) yang mengambarkan secara spesifik bagaimana membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, yang mendukung siswa untuk bergerak dari tingkat HLP satu ke tingkat HLP yang lebih tinggi (Stevens 2010). Sebuah learning trajectory tidak akan pernah bisa diklaim sebagai satu-satunya cara terbaik untuk menggerakkan semua siswa ke arah pemahaman (Baroody 2004). Oleh karena itu, Learning Trajectory dianggap hipotesis meskipun telah divalidasi oleh ribuan siswa secara empiris. Guru dapat menggunakan HLT ini untuk merancang proses pembelajaran yang memperbaiki hasil belajar siswa. Dimulai dengan menemukan kesulitan belajar siswa melalui asesmen, kemudian menggunakan informasi dari asesmen untuk mengembangkan desain didaktik yang dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Desain didaktik ini dituangkan dalam RPP. Dengan demikian, RPP seharusnya dibangun atas dasar hal-hal yang dipandang sulit bagi siswa. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Mendeskripsikan kesulitan belajar siswa dalam mempelajari materi fluida dinamis; dan 2) Mengembangkan desain didaktik untuk materi fluida dinamis berdasarkan kesulitan belajar siswa tersebut. Penelitian dilakukan pada materi fluida dinamis yang dipelajari di kelas 11 semester 2. Kompetensi dasar yang harus dicapai siswa untuk pokok bahasan fluida dinamis berdasarkan Permen No. 59 tentang Kurikulum SMA adalah: 3.7) menerapkan pronsip fluida dinamis dalam teknologi; 4.7) memodifikasi ide/gagasan proyek sederhana yang menerapkan prinsip fluida dinamis.

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 113 GAMBAR 1. Model HLP dan proses perkembangan, perbaikan dan pengujian empiris (Stevens 2010). Berdasarkan panduan kurikulum, analisis konten dengan memperhatikan kedalaman dan keluasan konsep, serta kompetensi yang ingin dicapai, maka dirumuskan indikator capaian pembelajaran, yakni: 1. Mengidentifikasi ciri-ciri fluida ideal 2. Mendefinisikan besaran debit 3. Memformulasikan hubungan kecepatan aliran dengan luas penampang menurut Azas Kontinuitas 4. Memformulasikan hubungan kecepatan aliran dengan tekanan menurut Azas Bernoulli 5. Menerapkan azas kontinuitas dan azas Bernoulli dalam teknologi di kehidupan sehari-hari Dari indikator pencapaian tersebut, dapat dirancang luaran berupa desain didaktik yang dihipotesiskan dapat meningkatkan korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi fluida dinamis. METODE PENELITIAN Metode analisis deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 12 di suatu SMA yang telah mengalami pembelajaran tentang fluida dinamis. Penelitian awal dilakukan dengan mengujicoba delapan butir soal kepada 30 siswa kelas 12 IPA yang telah mengalami pembelajaran materi fluida dinamis pada saàt kelas 11 semester 2. Siswa diminta untuk mengerjakan soal uraian sehingga dapat lebih mudah diidentifikasi pola berfikirnya. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam mengenai data yang diperoleh dari instrumen essay. Hasil jawaban siswa dianalisis untuk mendapatkan gambaran profil kemampuan kognitif siswa pada materi fluida dinamis. Data dianalisis dengan menggunakan tafsiran persentatif (Suharsimi 2011) dan kemudian dikelompokkan dalam dua kategori: 1) Menguasai konsep (M); dan 2) Tidak menguasai konsep (TM). Selain itu, dianalisis juga desain didaktis yang dapat dikembangkan untuk membelajarkan konsep fluida dinamis.

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 114 HASIL DAN PEMBAHASAN 40 20 M TM 0 GAMBAR 2. Profil kemampuan kognitif siswa pada materi ciri-ciri fluida ideal. Dari data ditunjukkan bahwa hanya sebanyak 13% siswa yang menguasai konsep. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa siswa hafal ciri-ciri fluida ideal, namun ketika disajikan informasi faktual mengenai suatu ciri fluida, siswa tidak bisa menentukan ciri fluida manakah yang dimaksud. Hal ini dikarenakan siswa belum mendapatkan pengalaman nyata (real experience) tentang ciri-ciri fluida dinamis dalam pembelajaran sehingga concept image mengenai materi itu masih abstrak dalam pikiran siswa. C1 C2 C3 GAMBAR 3. Profil kemampuan kognitif siswa pada materi debit. Untuk konsep debit, terdapat tiga butir soal yang masing-masing mewakili kompetensi C1, C2, dan C3 dalam taksonomi Bloom revisi. Dari ketiga butir soal tersebut, didapatkan bahwa kemampuan kognitif debit pada siswa masih sangat rendah. Kesulitan belajar siswa terkait konsep ini antara lain: 1) siswa belum bisa mengidentifikasi besaran apa saja yang mempengaruhi debit; 2) Siswa bisa mengerjakan soal hitungan, tapi belum mampu menerapkan persamaan debit tersebut untuk memecahkan masalah nyata. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa siswa memang terbiasa mengerjakan soal hitungan terkait debit, tapi belum terbiasa dengan soal pemecahan masalah nyata yang diberikan. GAMBAR 4. Profil kemampuan kognitif siswa pada materi asas kontinuitas Dari data kemampuan kognitif asas kontinuitas, diketahui bahwa sebanyak 40% siswa menguasai konsep. Dari hasil wawancara diketahui bahwa siswa diberi contoh tentang hubungan luas penampang lubang selang air dengan kecepatan aliran air saat mencuci motor. Karena sebagian besar siswa pernah mengalami hal tersebut dalam kehidupan nyata, maka konsep ini cukup dikuasai oleh siswa.

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 115 GAMBAR 5. Profil kemampuan kognitif siswa pada materi Azas Bernoulli Untuk indikator capaian terkait prinsip Bernoulli, diberikan soal level C2 dan C3 berdasarkan taksonomi Bloom revisi. Didapatkan temuan bahwa siswa dapat menjelaskan cara kerja suatu alat berdasarkan Azas Bernoulli (C2). Namun ketika diminta menerapkan Azas Bernoulli untuk memecahkan suatu permasalahan nyata, sebanyak 80% siswa gagal melakukannya. Dari hasil wawancara, didapatkan informasi bahwa pada saat pembelajaran, siswa diminta mempresentasikan cara kerja suatu alat berdasarkan Azas Bernoulli dalam pembelajaran. Karena memiliki pengalaman tersebut, mereka percaya diri dalam menjawab soal C2. Namun ketika diminta memecahkan masalah, lagi-lagi siswa mengatakan bahwa Azas Bernoulli bersifat abstrak dan sulit dipahami. Hal ini menunjukkan korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah. Berdasarkan tes kemampuan kognitif siswa, diketahui bahwa kemampuan kognitif siswa masih rendah hampir di semua sub materi fluida dinamis, yakni: ciri-ciri fluida ideal, debit, asas kontinuitas dan Azas bernoulli. Selain rendahnya kemampuan kognitif siswa, ditemukan pula bahwa korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari GAMBAR 5, bahwa meskipun pemahaman konsep Bernoulli tercapai, namun ketika siswa dihadapkan pada masalah yang solusinya menggunakan prinsip Bernoulli, siswa belum mampu menggunakan pemahamannya tersebut untuk memecahkan masalah. Kesulitan belajar siswa pada materi fluida dinamis berdasarkan hasil temuan kemudian diklasifikasi menjadi beberapa tipe, seperti ditunjukkan pada TABEL 1. Tipe Kesulitan Belajar 1. Kesulitan belajar terkait dengan concept image mengenai ciri-ciri fluida ideal yang masih abstrak 2. Kesulitan siswa terkait besaran apa saja yang mempengaruhi debit 3. Kesulitan belajar siswa terkait dengan kemampuan siswa dalam memformulasikan hubungan antar besaran-besaran yang mempengaruhi suatu fenomena 4. Kesulitan belajar siswa terkait rendahnya korelasi antara pemahaman konsep siswa dengan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah TABEL 1. Tipe kesulitan belajar siswa & indikatornya Indikator Siswa belum bisa menentukan ciri fluida yang disajikan oleh informasi faktual, karena tidak memiliki pengalaman belajar langsung dengan wujud nyata dari ciri fluida Siswa belum bisa mengidentifikasi besaran debit berdasarkan informasi yang disajikan pada soal Siswa belum memahami hakikat besaran yang berbanding lurus, berbanding terbalik serta belum mampu menentukan operasi aljabar yang tepat untuk mendefinisikan hubungan antar besaran. Siswa bisa mengerjakan soal hitungan tapi belum mampu menggunakan konsep tersebut untuk memecahkan masalah terkait fenomena nyata yang disajikan dalam soal Mengikuti pola hypothetical learning trajectory (HLT), setelah kesulitan belajar siswa diidentifikasi, dikembangkanlah analisis didaktik untuk mengatasi kesulitan belajar siswa tersebut. Secara umum, kesulitan belajar yang dihadapi siswa pada materi fluida dinamis disebabkan oleh kurangnya pengalaman nyata siswa dalam berinteraksi dengan fenomena fluida dinamis. Oleh karena itu strategi pembelajaran yang disarankan peneliti antara lain memuat unsur-unsur sebagai berikut.

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 116 1) Memberikan siswa pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan fenomena (learning by doing), seperti experiental learning atau project-based learning. 2) Menghadapkan siswa pada masalah nyata terkait fenomena fluida dinamis, seperti pada problem-based learning 3) Menuntut siswa untuk menggunakan seluruh kemampuannya dalam memecahkan masalah tersebut (decision-based learning atau problem solving) Melalui proses kajian literatur didapatkan temuan bahwa unsur-unsur tersebut di atas dapat dipenuhi oleh model pembelajaran Challenge-Based Learning (CBL). CBL adalah bentuk lain dari problem based learning, tapi berisi beberapa komponen dari perspektif experiental learning, project based learning dan decision-based learning (Apple, Inc 2010). Dalam CBL, siswa diberikan tantangan dan dituntut untuk memecahkan masalah yang terjadi di sekitarnya, melakukan refleksi atas kegiatan, dan mempublikasikan pemecahan masalah kepada orang lain (Johnson 2009). Berdasarkan nformasi kesulitan belajar siswa dan analisis pembelajaran yang mungkin dapat mengatasi kesulitan tersebut, dikembangkan desain didaktik sebagai berikut. TABEL 2. Analisis didaktik berdasarkan kesulitan belajar siswa pada materi fluida dinamis Kondisi Desain Didaktik Kesulitan belajar terkait dengan Tahap persiapan: Membagi siswa dalam kelompok, concept image mengenai ciri-ciri membagikan lembar kerja, menentukan ide pokok, fluida ideal yang masih abstrak memberikan tantangan. Tahap Inti: Memberi kesempatan siswa memecahkan tantangan dengan mengobservasi langsung sifat air, mengidentifikasi ciri-ciri fluida mengalir dari hasil observasi dan mendiskusikan ciri fluida ideal. Tahap Penutup: Mengases keberhasilan pemecahan tantangan, merefleksi hasil kegiatan dan bersama-sama menyimpulkan ciri fluida ideal Kesulitan siswa terkait besaran apa saja yang mempenga-ruhi debit. Rendahnya kemampuan siswa dalam memformulasikan hubungan antar besaran-besaran yang mempengaruhi suatu fenomena Rendahnya korelasi antara pemahaman konsep siswa dengan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah Tahap persiapan: Membagi siswa dalam kelompok, membagikan lembar kerja, menentukan ide pokok, memberikan tantangan. Tahap inti: Investigasi volume fluida yang mengalir tiap satuan waktu atau kecepatan aliran fluida pada tiap luas penampang Tahap Penutup: Mengases keberhasilan pemecahan tantangan, merefleksi hasil kegiatan dan bersama-sama menyimpulkan rumusan debit Siswa mengidentifikasi sendiri besaran-besaran yang terdapat dalam suatu fenomena Membimbing siswa dalam menganalisis hubungan antar besaran menggunakan pendekatan multiple representasi, dengan menggunakan format verbal, matematis, piktoral dan grafis. Siswa bisa menggunakan representasi yang mereka mengerti untuk menunjukkan hubungan antar besaran Tahap persiapan: Membagi siswa dalam kelompok, membagikan lembar kerja, menentukan ide pokok, memberikan tantangan. Tahap inti: siswa mendiskusikan solusi yang mungkin, mendesain rancangan solusinya, menginvestigasi efektifitas solusinya dan mempresentasikan solusi Penutup: Mengases keberhasilan pemecahan tantangan, dan bersama-sama merefleksi hasil kegiatan pembelajaran Desain didaktik diatas merupakan hipotesis peneliti dalam mengembangkan cara-cara penyampaian konsep fluida dinamis berdasarkan analisa kesulitan belajar siswa. Kemungkinan adanya hipotesis yang berbeda mengenai desain didaktik yang lebih efektif dalam membelajarkan konsep fluida dinamis selalu terbuka. Karena dalam HLT, ada banyak lintasan yang mungkin dapat

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 117 ditempuh untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, dan bisa saja semua lintasan tersebut bagus dalam mengatasi kesulitan belajar siswa (Baroody 2004). KESIMPULAN Artikel ini bertujuan mengidentifikasi kesulitan belajar siswa terkait konsep fluida dinamis; dan mengembangkan desain didaktik untuk materi fluida dinamis berdasarkan kesulitan belajar siswa. Ditemukan bahwa tipe kesulitan belajar siswa adalah: 1) Kesulitan belajar terkait concept image yang masih abstrak; 2) Kesulitan belajar mengidentifikasi besaran; 3) Kesulitan belajar terkait kemampuan memformulasikan hubungan; 4) Rendahnya korelasi antara pemahaman konsep siswa dengan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Dari kesulitan belajar siswa tersebut, dikembangkanlah desain didaktik yang dihipotesiskan dapat memperbaiki penguasaan konsep siswa. Desain didaktik yang disarankan memuat unsur sebagai berikut. 1) Memberikan siswa pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan fenomena (learning by doing), seperti experiental learning atau project-based learning. 2) Menghadapkan siswa pada masalah nyata terkait fenomena fluida dinamis, seperti pada problem-based learning 3) Menuntut siswa untuk menggunakan seluruh kemampuannya dalam memecahkan masalah tersebut (decision-based learning atau problem solving) Challenge based learning (CBL) merupakan pembelajaran berbasis tantangan yang memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam menyelesaikan permasalahan nyata. Model pembelajaran CBL melatihkan pemahaman konsep siswa dimana siswa menemukan konsep-konsep yang ingin dipelajari dan mengalami proses kognitif melalui kegiatan mencari solusi untuk menjawab tantangan (kegiatan inti) dan dikuatkan kembali dalam kegiatan refleksi. Dengan keunggulan-keunggulannya tersebut, CBL diharapkan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa terkait materi fluida dinamis. Akan tetapi seperti dikatakan sebelumnya, bahwa sebuah learning trajectory tidak akan pernah bisa diklaim sebagai satu-satunya cara terbaik untuk menggerakkan semua siswa ke arah penguasaan konsep. Artikel ini memberikan salah satu desain didaktik yang dihipotesikan dapat meningkatkan korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Pengajar dapat menggunakan cara-cara ini untuk diterapkan dalam kelasnya ataupun mengembangkan analisis didaktik sesuai dengan karakteristik siswa yang dihadapi. REFERENSI A. Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara (2011). A.J. Baroody, M.Cibulskis, M. Lai & X. Li. Comments on The Use of Learning Trajectories in Curriculum Development and Research, Mathematical Thinking and Learning. Vol. 6 No. 2 (2004), pp.227-260. Apple, Inc. Challenge Based Learning: A Classroom Guide. Apple, Inc (2010). L.F. Johnson, R.S. Smith, J. Troy, R.K. Varon. Challenge-Based Learning: An Approach for Our Time. Austin, Texas: The New Media Consortium (2009) OECD. PISA 2012 Results: Creative Problem Solving: Students Skills in Tackling Real Life Problems (Volume V). PISA, OECD Publishing (2014). S.Y. Stevens, C. Delgado, J.S. Krajcik. Developing a Hypothetical Multi Dimensional Learning Progression for The Nature of Matter. Journal of Research in Science Teaching Vol 47 No. 6 (2010), pp.687-715.

p-issn: 2461-0933 e-issn: 2461-1433 Halaman 118