Algoritma Evolusi Topik Lanjut Pada GA

dokumen-dokumen yang mirip
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA)

Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika

Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing

Lingkup Metode Optimasi

Algoritma Evolusi Evolution Strategies (ES)

Modul Matakuliah Algoritma Evolusi oleh

Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika

Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)

SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION. Taufan Mahardhika 1

BAB 2 LANDASAN TEORI

DASAR-DASAR Algoritma Evolusi

Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN BATASAN FUNGSI KENGGOTAAN FUZZY TSUKAMOTO PADA KASUS PERAMALAN PERMINTAAN BARANG

Algoritma Evolusi Genetic Programming (GP) Dan Evolutionary Programming (EP)

Penentuan Portofolio Saham Optimal Menggunakan Algoritma Genetika

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MEMAKSIMALKAN LABA PRODUKSI JILBAB

Penyelesaian Penjadwalan Flexible Job Shop Problem Menggunakan Real Coded Genetic Algorithm

PENYELESAIAN VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS (VRPTW) MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA HYBRID

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PERMASALAHAN OPTIMASI DISTRIBUSI BARANG DUA TAHAP

OPTIMASI PERSEDIAAN BAJU MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA

OPTIMASI PART TYPE SELECTION AND MACHINE LOADING PROBLEMS PADA FMS MENGGUNAKAN METODE PARTICLE SWARM OPTIMIZATION

Denny Hermawanto

Improved Particle Swarm Optimization untuk Menyelesaikan Permasalahan Part Type Selection dan Machine Loading pada Flexible Manufacturing System (FMS)

Optimasi Penjadwalan Mata Pelajaran Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus : SMPN 1 Gondang Mojokerto)

Genetic Algorithme. Perbedaan GA

Penentuan Komposisi Pakan Ternak untuk Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Ayam Petelur dengan Biaya Minimum Menggunakan Particle Swarm Optimization (PSO)

PERANCANGAN ALGORITMA BELAJAR JARINGAN SYARAF TIRUAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO)

Penyelesaian Penjadwalan Flexible Job Shop Problem dengan menggunakan Real Coded Genetic Algorithm

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

OPTIMISASI PARTICLE SWARM PADA PEMASANGAN JARINGAN PIPA AIR PDAM"

TINJAUAN PUSTAKA. terbentuklah suatu sistem tenaga listrik. Setiap GI sesungguhnya merupakan pusat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION

Penerapan Algoritma Genetika dalam Job Shop Scheduling Problem

BAB I PENDAHULUAN. lebih efektif dan efisien karena akan melewati rute yang minimal jaraknya,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN

Penerapan Algoritma Genetika untuk Penjadwalan Asisten Praktikum

OPTIMASI FUNGSI MULTI-OBYEKTIF BERKENDALA MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA ADAPTIF DENGAN PENGKODEAN REAL

OPTIMASI MULTI TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (M-TSP) UNTUK DISTRIBUSI PRODUK PADA HOME INDUSTRI TEKSTIL DENGAN ALGORITMA GENETIKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Implementasi automatic clustering menggunakan particle swarm optimization dan genetic algorithm pada data kemahasiswaan

Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag.

Optimisasi Injeksi Daya Aktif dan Reaktif Dalam Penempatan Distributed Generator (DG) Menggunakan Fuzzy - Particle Swarm Optimization (FPSO)

Penerapan Algoritma Genetika untuk Optimasi Vehicle Routing Problem with Time Window (VRPTW) Studi Kasus Air Minum Kemasan

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T

Penjadwalan Dinas Pegawai Menggunakan Algoritma Genetika Pada PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 7 Stasiun Besar Kediri

Optimasi distribusi barang dengan algoritma genetika

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dilingkungan Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika

Generator Jadwal Perkuliahan Menggunakan Algoritma Genetika

Algoritma Evolusi Optimasi Masalah Kombinatorial

MODEL PENYELESAIAN JOB SHOP SCHEDULING PROBLEM MENGGUNAKAN METODE LOCAL SEARCH ALGORITHM DENGAN CROSS OVER

Oleh : SUPRIYONO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMBOBOTAN PENILAIAN UJIAN PILIHAN GANDA MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Perumusan Masalah METODE PENELITIAN Studi Pustaka Pembentukan Data

Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit

Optimasi Pemilihan Pekerja Bangunan Proyek Pada PT. Citra Anggun Pratama Menggunakan Algoritma Genetika

Bab II Konsep Algoritma Genetik

OPTIMASI JADWAL MENGAJAR ASISTEN LABORATORIUM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Nilai Fungsi Maksimum Djunaedi Kosasih 1) Rinaldo 2)

BAB III PENERAPAN ALGORITMA MEMETIKA DAN GRASP DALAM MENYELESAIKAN PFSP

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP)

Rekonfigurasi jaring distribusi untuk meningkatkan indeks keandalan dengan mengurangi rugi daya nyata pada sistem distribusi Surabaya.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

KONSEP ALGORITMA GENETIK BINER UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN JADWAL KEGIATAN PERKULIAHAN

Penerapan Adaptive Genetic Algorithm dengan Fuzzy Logic Controller pada Capacitated Vehicle Routing Problem

Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC)

OPTIMASI PENJADWALAN PERAWAT MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

Prediksi Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia menggunakan Metode Genetic-Based Backpropagation

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu graph merupakan suatu pasangan { E(G), V(G) } dimana :

BAB III PERANCANGAN. Gambar 3.1 di bawah ini mengilustrasikan jalur pada TSP kurva terbuka jika jumlah node ada 10:

PENJADWALAN KAPAL PENYEBERANGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

Optimasi Multiple Travelling Salesman Problem Pada Pendistribusian Air Minum Menggunakan Algoritme Genetika (Studi Kasus: UD.

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS PENGATURAN INDIVIDU CROSSOVER DAN MUTASI ALGORITMA GENETIKA STUDI KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

BAB 2 LANDASAN TEORI

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks

OPTIMASI VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS PADA DISTRIBUSI KATERING MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP)

TEKNIK PENJADWALAN KULIAH MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA. Oleh Dian Sari Reski 1, Asrul Sani 2, Norma Muhtar 3 ABSTRACT

Implementasi Genetic Algorithm Dan Artificial Neural Network Untuk Deteksi Dini Jenis Attention Deficit Hyperactivity Disorder

OPTIMASI GENETIC ALGORITHM DENGAN SIMULATED ANNEALING UNTUK MULTIPLE DEPOT CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM

A. ADHA. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia Corresponding author:

MENEMUKAN AKAR PERSAMAAN POLINOMIAL MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: X

Analisis Hibridisasi Pencarian Lokal Dengan Populasi Dalam Travelling Salesman Problem (TSP)

Transkripsi:

Algoritma Evolusi Topik Lanjut Pada GA Imam Cholissodin imam.cholissodin@gmail.com

Pokok Bahasan 1. Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) 2. Parallel Genetic Algorithms (PGAs) 3. Nilai Parameter Adaptif 4. Tugas

Pengantar Meskipun GAs dianggap powerful untuk menyelesaikan berbagai permasalahan rumit, implementasi GAs sederhana seringkali tidak cukup efektif untuk menyelesaikan pada permasalahan kompleks dengan area pencarian yang sangat luas. Representasi chromosome dan operator genetika yang tepat, kombinasi (hybrid) dengan metode lain, dan strategi yang efisien untuk menghindari konvergensi dini diperlukan untuk memperkuat kemampuan GAs (Lozano & Herrera 2003; Rothlauf 2006). Contoh hibridasi (metode optimasi yang dioptimasi dengan metode optimasi yang lain) : o GA-SA (simulated annealing ) SA-GA o o GA dan hill-climbing o GA-PSO (particle swarm optimization ) PSO-GA o o GA-ACO (ant colony optimization ), etc

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) GAs murni memberikan hasil kurang optimum pada ruang pencarian yang kompleks. Penggabungan (hybridisation) dengan teknik lain dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi pencarian solusi optimum. Hibridisasi GAs dengan teknik pencarian lokal (local search / LS) menghasilkan memetic algorithms (MAs). Teknik LS sederhana yang bisa dipakai misalnya algoritma hill-climbing yang sukses digunakan pada optimasi fungsi tanpa kendala. Kekuatan utama MAs : o Keseimbangan antara kemampuan eksplorasi GAs dalam pencarian pada area global, dan o Kemampuan eksplotasi LS dalam area local (Lozano et al. 2004). Dalam implementasinya, LS diterapkan pada setiap individu baru dengan menggerakkannya menuju optimum lokal sebelum dimasukkan ke dalam populasi.

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) Dengan mengacu struktur GAs murni pada PPT Pert. Ke-3 Slide Ke-9, maka struktur MAs bisa disusun dengan menambahkan perbaikan lokal sebagai berikut: procedure AlgoritmaGenetika begin t = 0 end inisialisasi P(t) while (bukan kondisi berhenti) do reproduksi C(t) dari P(t) evaluasi P(t) dan C(t) perbaiki C(t) seleksi P(t+1) dari P(t) dan C(t) t = t + 1 end while Lakukan dengan teknik pencarian local search (LS), atau lainnya Mekanisme perbaikan offspring tersebut diilustrasikan pada Gambar 5.1. Anak yang baru terbentuk (protochild) akan didorong menuju optimum lokal. Gambar 5.1. MAs dan optimasi lokal (Gen & Cheng 2000)

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) Karena GAs bisa dihibridisasi dengan algoritma meta-heuristik yang lain (tidak selalu LS) maka dalam pembahasan selanjutnya disebut hybrid GAs (HGAs). Hibridisasi real-coded GAs (RCGA) dengan beberapa metode, misal variable neighbourhoods search (VNS) dapat diterapkan untuk penyelesaian permasalahan : o Optimasi rute (yang memperhatikan kondisi jalur satu arah dua arah, bobot kemacetan, menggunakan matrik jarak asimetris dll), o Penjadwalan kuliah (yang melibatkan optimasi pembagian resouce mengajar, kelas parallel, dan atribut komplek lainnya) o Part type selection dan machine loading pada flexible manufacturing system (FMS), etc Penyelesaian permasalahan tersebut diketahui sangat sulit sehingga GAs dihibridisasi dengan algoritma lainnya misal dengan particle swarm optimization dan simulated annealing.

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) Variable Neighbourhoods Search (VNS) : o Neighborhood structures : N k (k=1,,k max ), k max adalah banyaknya neighborhoods o N k (x) diperoleh dgn mengganti secara random sebanyak k-exchange dgn neighborhoods operator dalam representasi solusi (x). procedure VariableNeighbourhoodsSearch Input: curr : current/initial solution k max : number of neighbourhoods Output: best : the best solution begin inisialisasi solusi curr_s 0 best = curr_s 0 k = 1 while k k max do curr_s = ModifSolutionNk(best, k), //k-exchange neighborhood, insert, etc bestlocal = LocalSearch(curr_s), //mencari solusi local optimum dengan LS //menggunakan neighborhood operator yang berbeda if(fitness(bestlocal) > fitness(best)) then best = bestlocal k = 1 else k = k + 1 end if end while end

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) Local Search (LS) : procedure LocalSearch Input: curr : current/initial solution Output: best : the best solution begin best = curr while (bukan kondisi berhenti) do // set perulangan dengan batasan tertentu curr = ModifSolution(curr) //dengan neighborhood operator tertentu if(fitness(curr) > fitness(best)) then best = curr end if end while end

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) Simulated Annealing (Younis R. Elhaddad, 2012) : procedure SimulatedAnnealing begin inisialisasi solusi x p hitung fitness(x p ) set t, sebagai initial temperatur set β, sebagai cooling factor, dimana 0 < β < 1 while (bukan kondisi berhenti) do pilih solusi yang bertetanggaan (neighboring solution) x n hitung fitness(x n ) Hitung Δf = fitness(x p ) - fitness(x n ) if(δf < 0) x p = x 1 n f else t 1 e if((1/(1+exp(-(-δf/t)))) > rand[0,1]) x p = x n end else t=β.t end if end if end while probability of accepting worse solution

Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) PSO (Chen, Hui, Ling, at all, 2011) : Algoritma particle swarm optimization (PSO) merupakan algoritma optimasi yang pertama kali dikenalkan oleh Kennedy dan Eberhart pada tahun 1995. Time variant yang digunakan adalah time varying acceleration coefficients (TVAC) dan time varying inertia weight (TVIW) Dimana, - TVIW (w min = 0.4 dan w max = 0.9) - Nilai range c 1 dan c 2 (TVAC) yang digunakan adalah (c 1i =2.5, c 1f =0.5) dan c 2i =0.5, c 2f =2.5) karena terbukti optimal. c 1 dan c 2 (cognitive dan social components). - w (bobot inersia), d (banyaknya dimensi data, atau banyaknya fitur data), t max (iterasi max.) - (posisi partikel ke-i, dimensi ke-j, pada iterasi ke-t) - (kecepatan partikel ke-i, dimensi kej, pada iterasi ke-t) - (posisi terbaik partikel ke-i, dimensi ke-j, pada iterasi ke-t) Personal Best - (posisi terbaik global (dimana nilai g selalu tetap g=0), dimensi ke-j, pada iterasi ke-t) Global Best Rumus mencari nilai w, c 1 dan c 2 adalah w w t t t t Pbest x c r Gbest x t1 t v i, j w. vi, j c1. r1 i, j i, j 2. 2 g, j i, j sig min c c c 1 2 Rumus update velocity: x t max t w w 1 f Update posisi: t1 i, j max c x 1i t i, j v t1 i, j Rumus Sigmoid dan update posisi (untuk binary code): min t 1 v, j 1,2 d i j t,... v 1 e i, j, t t max t1 t1 1, if rand[0,1] sig vi, j xi, j, j 1,2,... d 0, otherwise t 1i max t c 2 f c2i c2i t max c

Parallel Genetic Algorithms (PGAs) Pada ruang pencarian yang luas dan kompleks, GAs sering terjebak dalam daerah optimum lokal. Hal ini terjadi karena kurangnya keragaman individu dalam populasi. Hal ini bisa diatasi dengan meletakkan individu-individu dalam beberapa sub-populasi. Pada tiap sub-populasi diterapkan operator genetika (crossover, mutasi, dan seleksi) yang berbeda. Operator migrasi digunakan untuk memindahkan satu atau beberapa individu dari satu sub-populasi ke dalam sub-populasi lain. Pendekatan ini menghasilkan metode yang disebut algoritma genetika terdistribusi (distributed genetic algorithms, DGAs). DGAs terbukti efektif menjaga keragaman populasi dan meningkatkan kualitas hasil pencarian (Mahmudy 2009).

Parallel Genetic Algorithms (PGAs) Individu-individu yang ada juga bisa diletakkan pada beberapa subpopulasi yang diproses pada beberapa komputer secara paralel. Hal ini untuk mengurangi waktu komputasi pada masalah yang sangat kompleks. Karena itu DGAs sering juga disebut parallel genetic algorithms (PGAs). Mekanisme migrasi sederhana dideskripsikan pada Gambar 5.2 yang menunjukkan ada empat sub-populasi. Pada setiap g generasi, satu individu terbaik dipindahkan ke sub-populasi yang lain. n individu 1 individu n individu n individu n individu Gambar 5.2. Mekanisme migrasi

Nilai Parameter Adaptif Kinerja GAs ditentukan oleh kemampuannya dalam menjelajahi (explore) dan mengeksploitasi (exploit) ruang pencarian (search space). Eksplorasi merujuk pada kemampuan untuk menginvestigasi area baru pada ruang pencarian. Eksploitasi merujuk pada kemampuan untuk meningkatkan kualitas solusi pada area tetangga (neighbourhoods) dari solusi yang didapatkan melalui eksplorasi (Lozano & Herrera 2003). Dari sini bisa disimpulkan bahwa keseimbangan kemampuan eksplorasi dan eksploitasi sangat penting untuk mendapatkan solusi yang baik (optimum atau mendekati optimum).

Nilai Parameter Adaptif Keseimbangan kemampuan eksplorasi dan eksploitasi bisa didapatkan melalui penentuan crossover rate dan mutation rate yang tepat (Lozano & Herrera 2003). Jika crossover rate terlalu rendah maka GAs akan sangat tergantung pada proses mutasi. Walaupun mutation rate yang tinggi memungkinkan GAs mempunyai level eksplorasi dan diversitas populasi yang tinggi, crossover rate yang rendah membuatnya tidak bisa secara efektif belajar dari generasi sebelumnya. Hal ini menyebabkan ruang pencarian tidak bisa diekploitasi secara efektif (Mahmudy 2013). Sebaliknya jika crossover rate tinggi dan mutation rate rendah maka GAs akan mengalami penurunan untuk menjaga diversitas pupolasi. Crossover rate yang tinggi menghasilkan offspring yang kemiripannya tinggi dengan induknya. Hal ini menyebabkan GAs mengalami konvergensi dini hanya dalam beberapa generasi dan kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi area lain dalam ruang pencarian (Mahmudy 2013).

Nilai Parameter Adaptif Penentuan kombinasi terbaik crossover rate dan mutation rate merupakan pekerjaan sulit dan memerlukan beberapa percobaan pendahuluan (Mahmudy, Marian & Luong 2013d). Untuk permasalahan yang berbeda dibutuhkan nilai yang berbeda pula. Karena itu beberapa penelitian menerapkan mekanisme perubahan crossover rate dan mutation rate secara adaptif sepanjang generasi (Im & Lee 2008; Liqun et al. 2010; Mahmudy & Rahman 2011). Serangkaian percobaan menunjukkan bahwa penggunaan tingkat reproduksi adaptif mempercepat pergerakan GA ke daerah feasible yang sekaligus mempercepat pencapaian solusi (Mahmudy & Rahman 2011).

Nilai Parameter Adaptif Mahmudy and Rahman (2011) menerapkan pengaturan mutation rate secara adaptif sepanjang generasi. Pada setiap generasi dihitung rata-rata nilai fitness seluruh individu dalam populasi (favg). Jika ada peningkatan rata-rata nilai fitness yang signifikan dibanding generasi sebelumnya (favg>>favgold) maka nilai mutation rate diturunkan. Hal ini memungkinkan GAs untuk lebih fokus mengeksploitasi ruang pencarian lokal. Jika terjadi hal yang sebaliknya (tidak ada peningkatan signifikan) maka nilai mutation rate dinaikkan. Hal ini memungkinkan GA untuk lebih memperluas pencarian (eksplorasi) dengan melompati daerah optimum lokal.

Nilai Parameter Adaptif Pseudo-code dari mekanisme ini disajikan pada Gambar berikut: PROCEDURE UpdateMutationRate Input: favg : rata-rata nilai fitness pada generasi sekarang (t) favgold : threshold: mutrate : Output: mutrate : if favg-favgold>threshold then mutrate mutrate * 0.95 else mutrate mutrate * 1.1; end if if mutrate>mutratemax then mutrate mutratemax else if mutrate<mutratemin then mutrate mutratemin end if END PROCEDURE rata-rata nilai fitness pada generasi sebelumnya (t-1) nilai perbedaan yang menyatakan ada peningkatan signifikan nilai mutation yang belum berubah nilai mutation yang telah berubah Pada pseudo-code di atas ditambahkan satu mekanisme untuk menjaga nilai mutation rate dalam range [mutratemin, mutratemax].

Tugas Kelompok 1. Apa tujuan dari penerapan algoritma genetika terdistribusi? 2. Jelaskan mekanisme kerja dari algoritma genetika terdistribusi! 3. Apa tujuan dari pengembangan Hybrid Genetic Algorithms (HGAs)? 4. Apa tujuan dari penerapan nilai parameter adaptif? 5. Buatlah prosedure untuk HGAs antara GA dengan VNS! 6. Buatlah prosedure untuk HGAs antara GA dengan SA! 7. Buatlah prosedure untuk PSO! 8. Hitung V 1,2 dan X 1,2 pada iterasi ke-1!

Terimakasih Imam Cholissodin imam.cholissodin@gmail.com