4 Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
4 HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

4 Hasil dan Pembahasan

3 Metodologi Penelitian

4 Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

3 Metodologi Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Panjang Gelombang Maksimum (λ maks) Larutan Direct Red Teknis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

RESIN POLISTIREN DIVINILBENZEN TERMODIFIKASI α-nitroso-β-naftol UNTUK RETENSI ION LOGAM Cu 2+ SKRIPSI. Putrika Swasti Warapsari

Gambar 4. Pengaruh kondisi ph medium terhadap ionisasi polimer dan pembentukan kompleks poliion (3).

DAFTAR PUSTAKA. 1. Cotton, F.Albert., Wilkinson,G., (1989), Kimia Anorganik Dasar, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta,

Hasil dan Pembahasan

3. Metodologi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

4 Hasil dan Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

BABrV HASIL DAN PEMBAHASAN

MODIFIKASI RESIN Ca-ALGINAT DENGAN ABU JERAMI PADI SEBAGAI MATERIAL PENGISI KOLOM PADA TAHAPAN PRAKONSENTRASI ANALISA ION Mn (II) SECARA OFF- LINE

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

ION EXCHANGE DASAR TEORI

4. Hasil dan Pembahasan

2 Tinjauan Pustaka. Gambar 2.1 Siklus nitrogen di lingkungan hidrosfer

PENYEHATAN MAKANAN MINUMAN A

Bab IV Hasil dan Pembahasan

SINTESIS RESIN PENGKHELAT POLYSTYRENE DIVINYLBENZENE-DIMETILGLIOKSIMA DAN KEMAMPUAN ADSORPSI TERHADAP ION LOGAM Ni(II)

4 Hasil dan Pembahasan

STUDI SPEKTROSKOPI UV-VIS DAN INFRAMERAH SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA Cu-EDTA

BAB III BAHAN, ALAT DAN CARA KERJA

4 Hasil dan Pembahasan

Resin sebagai media penukar ion mempunyai beberapa sifat dan keunggulan tertentu. Sifat-sifat resin yang baik adalah sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Laboratorium

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai penggunaan aluminium sebagai sacrificial electrode

III. METODOLOGI PENELITIAN di Laboratorium Kimia Analitik dan Kimia Anorganik Jurusan Kimia

Metodologi Penelitian

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH ph DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI ION LOGAM Cu 2+ MENGGUNAKAN KITIN TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID ABSTRAK ABSTRACT

HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya.

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon

Bab III Metodologi Penelitian

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERBANDINGAN PEREDUKSI NATRIUM TIOSULFAT (Na 2 S 2 O 3 ) DAN TIMAH (II) KLORIDA (SnCl 2 ) PADA ANALISIS KADAR TOTAL BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni-Juli 2013 di Unit Pelaksanaan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekperimental.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam

BAB III METODE PENELITIAN

4. Hasil dan Pembahasan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

4. Hasil dan Pembahasan

BAB III METODE PENELITIAN. Ide Penelitian. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan Penelitian. Pelaksanaan Penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel bertempat di daerah Cihideung Lembang Kab

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

Ion Exchange Chromatography Type of Chromatography. Annisa Fillaeli

BAHAN DAN METODE Alat dan Bahan Metode Penelitian Pembuatan zeolit dari abu terbang batu bara (Musyoka et a l 2009).

kimia ASAM-BASA III Tujuan Pembelajaran

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

3 Metodologi Penelitian

4. Hasil dan Pembahasan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Enzim α-amilase dari Bacillus Subtilis ITBCCB148 diperoleh dengan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis. Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari

DAFTAR ISI HALAMAN PERNYATAAN ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR...

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pembuatan larutan induk standar fenobarbital dan diazepam

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

HASIL DAN PEMBAHASAN. standar, dilanjutkan pengukuran kadar Pb dalam contoh sebelum dan setelah koagulasi (SNI ).

Pengembangan Metode Prakonsentrasi dengan Teknik Injeksi Alir untuk Analisis Cu 2+ dan Pb 2+ dalam Air Aliran Sungai Citarum dan Waduk Saguling

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan

BAB 3 METODE PENELITIAN

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena itu kebutuhan air tidak pernah berhenti (Subarnas, 2007). Data

REAKSI REDOKS dan ELEKTROKIMIA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah cincau hijau. Lokasi penelitian

SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5

Hasil dan Pembahasan

PENGGUNAAN KITOSAN DARI TULANG RAWAN CUMI-CUMI (LOLIGO PEALLI) UNTUK MENURUNKAN KADAR ION LOGAM Cd DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )

PENENTUAN KADAR BESI DALAM SAMPEL AIR SUMUR SECARA SPEKTROFOTOMETRI

KAJIAN ph DAN WAKTU KONTAK OPTIMUM ADSORPSI Cd(II) DAN Zn(II) PADA HUMIN. Study of ph and EquilibriumTime on Cd(II) and Zn(II) Adsorption by Humin

JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 11 NOMOR 1 FEBRUARI 2015

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

Penentuan Kadar Besi selama Fase Pematangan Padi Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis PSDVB-PAR Senyawa 4-(2 Piridilazo) Resorsinol merupakan senyawa yang telah lazim digunakan sebagai indikator logam pada analisis kimia karena kemampuannya membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Kemampuan inilah yang akan dicoba dimanfaatkan untuk meretensi ion logam. Untuk keperluan tersebut, maka PAR perlu diikatkan secara kimiawi pada suatu resin pendukung agar diperoleh resin pengkhelat yang dapat digunakan sebagai material pengisi kolom untuk prakonsentrasi berbasis analisis injeksi alir (FIA). Pengikatan suatu senyawa pengkhelat pada resin pendukung dapat dilakukan melalui gugus perantara azo (-N=N-). Polystyrene divynilbenzene sendiri tidak memiliki gugus perantara ini, oleh sebab itu perlu dilakukan beberapa tahapan reaksi yang meliputi: 1. Proses Nitrasi 2. Proses Reduksi 3. Diazotisasi 4. Pengikatan ligan Tahapan di atas dapat diilustrasikan pada Gambar 4.1 berikut ini: HC CH 2 HC CH 2 HC CH 2 HC CH 2 + HNO 3 (p) +SnCl 2 +NaNO 2 +H 2 SO 4 (p) PSDVB NO 2 NH 2 N 2 Cl HC CH 2 OH N = N N N=N O H OH PAR N=N N OH PSDVB-PAR Gambar 4. 1: Tahapan reaksi sintesis PSDVB - PAR 16

Pada tahapan pertama dari proses sintesis ini dihasilkan suatu elektrofil yaitu ion nitronium (NO + 2 ) yang akan menjadi zat pensubtitusi. Ion nitronium ini akan tersubtitusi pada benzen menghasilkan suatu senyawa nitrobenzen. Selanjutnya senyawa nitrobenzen akan mengalami reduksi akibat penambahan SnCl 2 menghasilkan senyawa arilamina. Karena pada proses pengerjaanya dilakukan dalam keadaan asam maka amina yang dihasilkan adalah amina yang terprotonkan yang membentuk senyawa benzendiazonium klorida dimana kereaktifannya sangat tinggi karena dapat ditukargantikan oleh suatu nukleofil 10). Nukleofil yang menggantikan ion klorida pada penelitian kali ini adalah ligan 4-(2-Piridilazo) Resorsinol. Proses selanjutnya adalah merupakan suatu reaksi kopling dari senyawa benzendiazonium yang menghasilkan gugus azo (-N=N-). Gugus azo inilah yang akan berikatan dengan ligan 4-(2-Piridilazo) Resorsinol. Melalui proses pengikatan inilah resin pengkhelat PSDVB - PAR terbentuk. Resin pengkhelat yang diperoleh bewarna merah bata seperti terlihat pada Gambar 4.2. Gambar 4. 2: Resin pengkhelat Polistiren divinilbenzen 4(2- Piridilazo) resorsinol Pemantauan tiap tahapan sintesis resin dilakukan dengan menganalisis spektrum inframerah dari hasil hasil reaksi yang diperoleh. Spektrum IR ini direkam pada matriks KBr meliputi bilangan gelombang 3500 500 cm -1. Dari setiap spektrum tersebut didapatkan pita pita serapan yang 17

dapat menunjukkan keberadaan gugus fungsi tertentu yang terdapat dalam contoh yang dianalisis. Dari spektrum IR senyawa PSDVB - NO 2 yang didapatkan dari hasil nitrasi menyatakan adanya 2 pita serapan yaitu pada bilangan gelombang 1348 cm -1 dan 1527 cm -1 (lihat Lampiran A. 1). Kedua pita serapan tersebut merupakan pita serapan dari gugus NO 2. Akan tetapi, pita serapan tersebut hilang setelah penambahan SnCl 2 yang mereduksi gugus NO 2 menjadi NH 2. Pada spektrum senyawa PSDVB - NH 2 didapatkan pita serapan pada bilangan gelombang 1629 cm -1 yang merupakan karakteristik serapan dari gugus NH 2 (lihat Lampiran A.2). Hasil ini mengindikasikan bahwa PSDVB - NH 2 telah disintesis, sedangkan pada spektrum IR senyawa PSDVB - PAR (lihat Lampiran A.3), serapan pada bilangan gelombang 1610 cm -1 merupakan serapan yang disebabkan oleh vibrasi ulur gugus N=N-. Terdapat pula pita serapan yang lebar pada daerah bilangan gelombang 3446 cm -1 yang merupakan pita serapan gugus fenol (-OH) dari ligan PAR. Hasil yang diperoleh ini sesuai dengan penelitian penelitian sebelumnya 11,12,13). Data pita pita serapan yang diperoleh ini, menunjukkan bahwa tahapan reaksi yang dilakukan telah berhasil mengikatkan PAR pada resin pendukung PSDVB melalui suatu perantara azo. 4.2 Pengaruh ph terhadap retensi ion logam Pb 2+ Pengaruh ph pada retensi ion Pb 2+ dilakukan dengan metoda batch. Sejumlah berat tertentu resin pengkhelat dikontakkan dengan sejumlah volume larutan standar Pb pada berbagai ph. Jumlah Pb teretensi dihitung melalui hasil pengukuran Pb tersisa pada larutan menggunakan spektofotometer serapan atom (SSA). Gambar 4.3 menunjukkkan pengaruh ph terhadap retensi ion logam Pb 2+ pada resin pengkhelat PSDVB - PAR. Perhitungan lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C. 18

100 98 %retensi Pb 96 94 92 90 88 6,0 6,2 6,4 6,6 6,8 7,0 7,2 7,4 ph Gambar 4. 3: Pengaruh ph larutan terhadap retensi Pb Sistem batch; konsentrasi awal Pb 10 mgl-1; volume 10 ml; PSDVB - PAR 0,1 g Dari kurva tersebut ion logam Pb teretensi secara maksimum pada ph 6,12. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan kompleks antara ligan PAR dengan logam Pb 2+ telah tercapai secara maksimum. Untuk keperluan penelitian selanjutnya akan digunakan ph 6. Pada ph diatas 6 dapat dilihat bahwa jumlah ion logam Pb yang teretensi semakin berkurang yang diakibatkan resin telah jenuh oleh Pb. Menurunnya nilai retensi ini dapat juga diakibatkan dari adanya pembentukan senyawa hidroksida dari Pb yaitu Pb(OH) 2. Senyawa Pb(OH) 2 ini memiliki nilai kelarutan yang yang kecil (Ksp=3x10-6 ) sehingga ion logam Pb yang membentuk kompleks dengan ligan PAR berkurang. 4.3 Pengaruh waktu kontak terhadap retensi ion logam Pb 2+ Untuk penentuan waktu kontak minimum retensi ion logam Pb 2+ pada resin pengkhelat PSDVB - PAR masih digunakan metoda batch. Sama halnya dengan analisis pengaruh ph pada analisis waktu kontak sejumlah berat tertentu dari resin pengkhelat dikontakkan dengan sejumlah volume tertentu larutan standar Pb pada berbagai waktu. Nilai retensinya masih ditentukan dengan mengukur serapan logam Pb yang tidak teretensi pada larutan dan dihitung dengan kurva kalibrasi. (Perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran D). Gambar 4.4 menunjukkan karakteristik waktu kontak retensi logam Pb terhadap resin pengkhelat PSDVB - PAR. 19

100 98 96 % retensi Pb 94 92 90 88 86 84 0 20 40 60 80 100 Waktu Kontak (menit) Gambar 4. 4: Pengaruh waktu kontak terhadap retensi Pb Sistem batch; konsentrasi awal Pb 20 mgl-1; volume 10 ml; PSDVB - PAR 0,1 g Waktu kontak minimum retensi logam Pb pada resin pengkhelat PSDVB - PAR didapatkan pada menit ke-5. Untuk menit selanjutnya retensi logam Pb cenderung datar karena resin yang telah jenuh. Waktu kontak minimum yang didapatkan sangat cepat, hal ini dikarenakan karakteristik dari polimer pendukung yaitu polistiren divinilbenzen yang memiliki luas permukaan yang besar dan adanya pori pori. Singkatnya waktu kontak yang diperlukan untuk terjadinya retensi kuantitatif dari ion Pb merupakan salah satu karakteristik yang sangat berguna pada penggunaan resin ini sebagai material pengisi mini kolom untuk prakonsentrasi berbasis FIA. 4.4 Penentuan kapasitas retensi ion logam Pb 2+ Salah satu besaran penting yang harus dimiliki oleh suatu resin pengkhelat adalah kapasitas retensinya terhadap ion logam tertentu. Penentuan kapasitas retensi ion logam Pb 2+ terhadap resin pengkhelat PSDVB - PAR dilakukan pada ph optimum penyerapan dengan waktu kontak selama 1 jam. Teknik penentuan ini dilakukan dengan metoda batch. Proses ini dilakukan dengan cara mengkontakkan PSDVB - PAR sambil diaduk, yang selanjutnya ditentukan jumlah 20

ion logam Pb 2+ yang tidak teretensi. Dari hasil percobaan ini didapatkan hasil bahwa kapasitas retensi dari resin pengkhelat yang disintesis adalah sebesar 0,46 mg Pb 2+ /gram PSDVB - PAR, seperti terlihat pada Gambar 4.5 ( Perhitungan penentuan kapasitas retensi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran E ). Besaran kapasitas retensi ini akan sangat menentukan bagaimana metoda prakonsentrasi berbasis FIA harus dilakukan jika digunakan resin pengkhelat ini sebagai material pengisi mini kolom untuk prakonsentrasi. 0,6 mg Pb 2+ teretensi / g PSDVB - PAR 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 2 4 6 8 10 mgl -1 Pb Gambar 4. 5: Kapasitas Retensi Pb 2+ pada PSDVB - PAR Sistem batch; volume Pb 10 ml; XAD16-PAR 0,1 g 21

4.5 Kajian awal penggunaan resin sebagai material pengisi kolom pada FIA 4.5.1 Evaluasi Eluen Eluen sangat penting perannya dalam metoda analisis injeksi alir, karena eluen harus mampu mengelusi secara kuantitatif ion logam Pb 2+ yang teretensi pada resin PSDVB - PAR. Pengelusian ion logam ini dilakukan dengan menggunakan HNO 3. Ion hidrogen dari HNO 3 ini akan mengganggu senyawa khelat yang terbentuk antara ion logam Pb 2+ dengan ligan PAR. Pemilihan HNO 3 sebagai eluen didasarkan atas pertimbangan baiknya proses pengelusian dari beberapa penelitian sebelumnya pada pengkompleksan timbal. Efektifitas proses elusi ditentukan oleh konsentrasi dan volume asam. Diharapkan pemilihan konsentrasi asam ini tidak merusak kolom yang berisi resin PSDVB - PAR dan piranti pada rangkaian FIA - FAAS. Hasil pengujian pengaruh konsentrasi eluen dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan gambar 4.6. Sedangkan hasil pengujian volume eluen dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Gambar 4.7. Tabel 4. 1: Pengaruh konsentrasi HNO 3 Konsentrasi Asam (M) Tinggi Puncak (AU) 1 78,19 2 59,37 3 59,28 22

80 70 60 Tinggi Puncak (AU) 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Konsentrasi HNO 3 (M) Gambar 4. 6: Pengaruh konsentrasi HNO 3 Tinggi sinyal yang diperoleh menunjukkan bahwa pengelusian maksimum terjadi pada saat penggunaan HNO 3 1 M, sedangkan pada konsentrasi HNO 3 diatas 1 M tinggi sinyal yang didapat tidak menunjukkan kondisi optimum elusi. Selanjutnya pada penelitian digunakan HNO 3 1 M sebagai eluen. Pemilihan HNO 3 1 M ini tidak saja dikarenakan tinggi sinyalnya yang menunjukkan kondisi optimum elusi, akan tetapi juga untuk memudahkan proses regenerasi kolom mengingat dengan konsentrasi asam yang terlalu tinggi proses regenerasi kolom akan berlangsung lama dan dapat mengakibatkan menurunnya kinerja FIA, walaupun pada penelitian ini tidak dilakukan analisis kinerja FIA. Tabel 4. 2: Pengaruh volume HNO 3 volume HNO 3 (ml) Tinggi Puncak (AU) 0,6 51,74 1 59,97 1,4 64,22 2 65,24 2,4 63,7 23

66 64 62 Tinggi Puncak (AU) 60 58 56 54 52 50 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0 2,2 2,4 2,6 Volume HNO 3 (ml) Gambar 4. 7: Pengaruh volume HNO 3 Optimasi volume eluen dilakukan untuk mengetahui volume minimum yang diperlukan untuk pengelusian logam timbal yang teretensi pada PSDVB - PAR dalam mini kolom. Dari hasil analisis, didapatkan tinggi puncak yang cenderung landai pada rentang volume 1,4 ml dan 2 ml. Untuk selanjutnya volume eluen yang digunakan adalah 1,6 ml dengan mempertimbangkan selain tinggi puncak yang memadai juga jumlah eluen yang digunakan. 4.5.2 Kinerja Analitik Pada penelitian kali ini pengujian kinerja analitik yang dilakukan adalah pengujian kebolehulangan dan pembuatan kurva standar menggunakan mini kolom. Kebolehulangan metoda ditunjukkan dari nilai koefisien variansi (% KV) yang menghasilkan nilai sebesar 7,78% (perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran F).Profil kebolehulangan sinyal pengukuran dapat dilihat pada Gambar 4.8. 24

70 60 1 2 3 4 5 50 Tinggi Puncak (AU) 40 30 20 10 0-10 0 10 20 30 40 50 Pengukuran Gambar 4. 8: Kurva pengujian kebolehulangan Nilai koefisien variansi yang diperoleh ini sudah cukup baik untuk analisis pada kisaran konsentrasi μgl -1. Oleh karena itu, resin yang dimiliki sangat layak untuk digunakan sebagai material pengisi kolom untuk keperluan pengembangan metoda analisis berbasis injeksi alir (FIA). Pengukuran sampel dengan metode FIA dilakukan dengan kurva kalibrasi. Hasil kurva kalibrasi dapat dilihat pada Gambar 4.9. 100 90 80 Tinggi Puncak (AU) 70 60 50 40 30 20 10 2 4 6 8 10 Volume Pb (ml) Gambar 4. 9: Kurva standar (metode FIA) 25

Pada penelitian ini tahapan pengujian tidak sampai pada analisa sampel. Kurva standar tersebut dibuat untuk mengetahui kinerja resin pengkhelat jika digunakan sebagai material pengisi kolom pada analisis injeksi alir (FIA). Kurva kalibrasi yang dibuat dengan metoda berbasis volume (volume based standar method) memberikan keunggulan dibandingkan cara yang lazim digunakan. Pada cara ini hanya dibutuhkan satu larutan standar dengan konsentrasi tertentu, yang divariasikan hanya volume dari standar yang bersangkutan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada rentang volume 2 hingga 10 ml, kurva cukup linier dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9653. Rentang volume tersebut setara dengan rentang jumlah Pb antara 0,2 μg 1 μg. 26