Bab IV Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab III Metodologi Penelitian

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

4 Pembahasan Degumming

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4001 Transesterifikasi minyak jarak menjadi metil risinoleat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari Februari 2014.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1.

BAB III METODA PENELITIAN. yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,

4019 Sintesis metil asetamidostearat dari metil oleat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

BABffl METODOLOGIPENELITIAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

BAB 3 BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : - Labu leher tiga Pyrex - Termometer C

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat

PENGARUH PENAMBAHAN KARBON AKTIF TERHADAP REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK KEMIRI SUNAN (Aleurites trisperma) YANG SUDAH DIPERLAKUKAN DENGAN KITOSAN

Molekul, Vol. 2. No. 1. Mei, 2007 : REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK KACANG TANAH (Arahis hypogea. L) DAN METANOL DENGAN KATALIS KOH

DAFTAR ISI. HALAMAN PENGESAHAN...ii. KATA PENGANTAR...vi. DAFTAR ISI...viii. DAFTAR GAMBAR...xii. DAFTAR TABEL...xiv. DAFTAR LAMPIRAN...

METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT 1. Bahan a. Bahan Baku b. Bahan kimia 2. Alat B. METODE PENELITIAN 1. Pembuatan Biodiesel

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian dimulai sejak Februari sampai dengan Juli 2010.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2 O 3

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN A. Pembuatan pelumas..., Yasir Sulaeman Kuwier, FT UI, 2010.

METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Prosedur Penelitian 1. Epoksidasi Minyak Jarak Pagar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Agustus 2011 di laboratorium Riset Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

4. Hasil dan Pembahasan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas

Sintesis Metil Ester dari Minyak Goreng Bekas dengan Pembeda Jumlah Tahapan Transesterifikasi

LAMPIRAN. Lampiran 1. Sertifikat analisis kalium diklofenak

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK. Disusun Oleh :

LAMPIRAN 1 DATA PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA. Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK. Waktu 150 menit. Kementerian Pendidikan Nasional

Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, S.Si

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

SINTESIS METIL ESTER DARI LIPID Bacillus stearothermophilus DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI MENGGUNAKAN BF 3. Dessy Dian Carolina NRP

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK : Identifikasi Gugus Fungsional Senyawa Organik

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB III RANCANGAN PENELITIAN

Sintesis Organik Multitahap: Sintesis Pain-Killer Benzokain

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak

5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Journal of Scientific and Applied Chemistry

4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat

PERCOBAAN 2 KONDENSASI SENYAWA KARBONIL DAN REAKSI CANNIZARO

1.3 Tujuan Percobaan Tujuan pada percobaan ini adalah mengetahui proses pembuatan amil asetat dari reaksi antara alkohol primer dan asam karboksilat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan Desain dan Sintesis Amina Sekunder

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

Potensi Produk Transesterifikasi Minyak Dedak Padi (Rice Bran Oil) sebagai Bahan Baku Pembuatan Base Oil Epoksi Metil Ester

5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan

Bab II Studi Pustaka

4. Hasil dan Pembahasan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar

Bab III Pelaksanaan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

BAB III. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak sawit mentah

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. DASAR TEORI Struktur benzil alkohol

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4022 Sintesis etil (S)-(+)-3-hidroksibutirat

4005 Sintesis metil 9-(5-oksotetrahidrofuran-2-il)nonanoat

ESTERIFIKASI ASAM LEMAK BEBAS DALAM MINYAK JELANTAH MENGGUNAKAN KATALIS H-ZSM-5 MESOPORI DENGAN VARIASI WAKTU AGING

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan Oktober 2011 di

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu

III. METODE PENELITIAN

SINTESIS BIODIESEL TERASETILASI DENGAN BAHAN BAKU MINYAK JELANTAH UNTUK MENURUNKAN TITIK AWAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia

Reaksi Dehidrasi: Pembuatan Sikloheksena. Oleh : Kelompok 3

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5012 Sintesis asetilsalisilat (aspirin) dari asam salisilat dan asetat anhidrida

4. Hasil dan Pembahasan

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai metode penelitian yang telah

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

PEMBUATAN ETIL ASETAT MELALUI REAKSI ESTERIFIKASI

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan

4016 Sintesis (±)-2,2'-dihidroksi-1,1'-binaftil (1,1'-bi-2-naftol)

Hasil dari penelitian ini berupa hasil dari pembuatan gliserol hasil samping

Transkripsi:

19 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Biodiesel Minyak jelantah semula bewarna coklat pekat, berbau amis dan bercampur dengan partikel sisa penggorengan. Sebanyak empat liter minyak jelantah mula-mula didiamkan selama 24 jam kemudian disaring menggunakan kertas saring dan diperoleh minyak jelantah yang bebas dari partikel padatan, tetapi masih berbau amis dan bewarna coklat. Proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan bahan baku minyak jelantah dalam penelitian ini tidak dilakukan pemurnian minyak jelantah lebih dahulu dengan tujuan untuk memperkecil biaya produksi, Penyaringan dengan menggunakan kertas saring whatman 41 dengan tujuan untuk memisahkan partikel-partikel padatan yang ada pada minyak jelantah, setelah disaring minyak jelantah siap untuk ditransesterifikasi.. Proses transesterifikasi dilakukan dengan mengambil sebanyak 200 ml minyak jelantah ditempatkan di dalam labu leher tiga yang telah dilengkapi magnet pengaduk, termometer, dan kondensor. Minyak dipanaskan hingga suhu 60 º, lalu ditambahkan 80 ml metanol dan 3 gr KH yang telah dilarutkan lebih dahulu sebelumnya dalam metanol. ampuran ini dipanaskan di atas penangas air dan diaduk selama satu jam pada suhu 60 º. Kondensotr ferfungi untuk mendinginkan uap yang keluar selama proses tranesterifikasi dan akhirnya diembunkan, sehingga tidak ada uap yang keluar dari tabung leher tiga. Uap yang terbentuk ini merupakan uap alkohol, karena alkohol memiliki titik didih yang paling rendah diantara campuran yang ada dalam labu leher tiga. Dengan digunakan kondensor ini menyebabkan alkohol yang digunakan tidak ada yang hilang selama proses tranesterifikasio dan mencegah timbulnya ledakan. Setelah reaksi berjalan selama satu jam reaksi dihentikan dan hasil reaksi dimasukkan ke dalam corong pisah dan campuran ini akan memisah setelah didiamkan selama 24 jam. Hasil reaksi transesterifikasi seperti yang terlihat pada Gambar 4.1 di bawah:

20 A B Gambar 4-1 Fase biodiesel (A) dan fasa gliserol (B) Pemisahan dilakukan untuk memisahkan antara lapisan atas dan lapisan bawah. Terbentuknya dua lapisan disebabkan perbedaan kopolaran antara biodiesel dan gliserol. Biodiesel bersifat non polar sedang gliserol polar, biodiesel terletak pada lapisan atas karena memiliki berat jenis yang lebih kecil dari gliserol. Setelah terpisah biodiesel dicuci dengan air hingga warna air pencuci jernih. Warna air pencuci pertama yang digunakan keruh, setelah warna larutan pencuci jernih kemudian dikeringkan dengan menggunakan al 2 dan dilakukan karakterisasi. Biodiesel yang dihasilkan seperti nampak pada Gambar 4.2 berikut ini: Gambar 4-2 Biodiesel

21 4.2 Modifikasi Biodiesel Modifikasi biodiesel dilakukan dengan membuat percabangan asetil pada rantai karbon metil ester yang memiliki ikatan rangkap, menggunakan bahan baku biodiesel minyak jelantah. Pembuatannya dilakukan dengan mengambil sebanyak 50 ml biodiesel ditambah 20 ml asam asetat glasial dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang telah dilengkapi dengan pengaduk, dan dilakukan pengadukan selama 20 menit pada suhu 25 º kemudian ditambah 15 ml H 2 2 dan diaduk selama satu jam pada suhu 5 º. Selanjutnya dimasukkan dalam corong pisah dan dibiarkan selama dua jam, membentuk dua lapisan, lapisan atas bewarna coklat merupakan epoksida lapisan bawah jernih. lapisan atas diambil dan dicuci dengan aquades hingga warna larutan pencuci jernih dan larutan bersifat netral, untuk mengetahui larutan hasil pencuci bersifat netral atau belum digunakan indikator kertas lakmus biru. Bila warna kertas lakmus biru tetap bewarna biru setelah diberi larutan yang telah digunakan untuk mencuci maka pencucian dihentikan, setelah itu dikeringkan dengan menggunakan al 2 (sebagai larutan A). Penambahan H 2 2 berfungsi sebagai oksidator, hasil reaksinya berupa epoksida. Reaksi pembentukan epoksida dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini 7 Asam leat -H 7 + H 2 2 2 H 3 H 7 7 3 epoksi metil setearat Gambar 4-3 Reaksi pembentukan epoksida Reaksi pembentukan epoksida merupakan reaksi kesetimbangan, agar semua oleat yang ada teroksidasi semua maka hidrogen peroksida yang digunakan berlebih. Disamping epoksida yang terbentuk, metil asetil hidroksi palmitat juga dihasilkan yang merupakan reaksi asetilasi tahap satu.

22 Dengan menggunakan labu leher tiga yang lain direaksikan 60 ml etil asetet dengan 4 ml Hl 4 dan 4 ml anhidrida asetat pada suhu 5 º, setengah jam kemudian ditambah 16 ml anhidrida asetat dan dibiarkan kembali selama satu jam, maka terbentuk hasil reaksi berupa larutan berwarna kuning muda (sebagai larutan B). Reaksi asetilasi dilakukan dengan mereaksikan larutan A dan larutan B pada suhu 25 º selama 10 menit sambil diaduk kemudian dicuci dan dikeringkan mengunakan al 2. Hasil reaksi ini merupakan biodiesel terasetilasi. Mekanisme pembentukan biodiesel terasetilasi melalui dua tahap yakni: tahap epoksidasi dan tahap asetilasi. Pada tahap epoksidasi ikatan rangkap pada asam lemak teroksidasi oleh hidrogen peroksida membentuk epoksida. Sedang pada tahap asetilasi terjaadi protonasi epoksida oleh Hl 4 mengakibatkan pembukaan cincin dan terbentuk karbon bermuatan positip, atom karbon bermuatan positip ini akan diserang oleh nukleofil, sebagai nukleofilnya asam asetat glasial. Reaksi berikutnya terjadi melalui protonasi gugus karbonil yang ada pada asam asetat anhidrat dengan menggunakan hidrogen peroksida sehingga terbentuk atom karbon bermuatan positip. Atom karbon bermuatan positip ini akan diserang oleh nukleofil yang dimiliki biodiesel khususnya pada gugus H. Secara lengkap reaksi asetilasi ini dapat dilihat pada Gambar 4. 4 berikut ini:

23 Reaksi Asetilasi ke 1 7 7 H 3 +H H + 7 7 H 3 Epoksi metil setearat H H + + H - 3 H H 7 3 7 7 7 3 Asam asetat glasial H 3 9-Hidroksi 10-Asetil metil stearat Reaksi Asetilasi ke 2 + H H + H 7 7 H 3 H 3 + + H + H H 3 7 7 H 3 H 3 9,10-diasetil metil stearat Gambar 4-4 Mekanisme reaksi pembentukan cabang diasetil pada rantai karbon.

24 Setelah terbentuk biodiesel terasetilasi kemudian dilakukan karakterisasi dengan menggunakan KLT, FTIR, dan G-MS. Bila dibandingkan penampakan warna biodiesel dengan biodiesel yang telah dimodifikasi. Separti yang tampak pada Gambar 4.5 dibawah ini: A B Gambar 4-5 Biodiesel (A) dan biodiesel termodifikasi (B) 4.3 Uji Karakterisasi 4.3.1 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Pemisahan campuran menggunakan kromatografi prinsipnya memisahkan komponen-komponen penyusun campuran berdasarkan perbedaan migrasi atau distribusi dari komponen punyusun campuran dalam dua fase yang berbeda; yaitu fase diam dan fase gerak. Senyawa yang memiliki afinitas besar terhadap fase gerak akan tertahan lama pada fase gerak, dan sebaliknya yang memiliki afinitas kecil akan tertahan lama di fase diam. Pada mulanya sebelum dilakukan pengujian menggunakan KLT dicari eluen yang tepat untuk minyak jelantah. Eluen dikatakan tepat bila menghasilkan nilai Rf 0,5. Setelah dilakukan kombinasi eluen antara heksana dan eter didapat perbandingan volume heksan dan eter sebesar 8:2. Seperti terlihat pada Gambar 4.6 berikut ini:

25 Gambar 4-6 Hasil KLT minyak jelantah Setelah didapat perbandingan volume eluen selanjutya eluen ini digunakan untuk melakukan KLT biodiesel dan biodiesel terasetilasi. Hasil uji ini terlihat pada Gambar 4. 7 berikut: 1 2 3 Gambar 4-7 Hasil KLT (1) minyak jelantah, (2) biodiesel, dan (3)biodiesel terasetilasi. Dari hasil ini terlihat adanya perbedaan Rf antara komponen utama minyak jelantah, biodiesel, dan biodiesel terasetilasi. Pada minyak jelantah adanya dua noda pada Rf 0,5 dan 0,35 pada biodiesel juga ada dua noda tetepi Rf nya berbeda yaitu 0,4 dan 0,75 sedang pada biodiesel terasetilasi ada empat noda masingmasing memiliki RF 0,02; 0,25; 0,5; dan 0,72. Dari data ini terlihat ada perbedaan senyawa utama penyusun minyak jelantah, biodiesel dan biodiesel terasetilasi karena tiap noda yang dihasilkan memiliki nilai Rf yang berbeda.

26 4.3.2 Uji FTIR (Fourier Trnsform Infra Red) Uji FTIR dilakukan bertujuan untuk mengetahui gusus fungsi yang ada dalam senyawa. Uji ini hanya dilakukan pada biodiesel dan biodiesel terasetilasi. Dari hasil uji FTIR untuk biodiesel didapat sepektrum seperti yang tampak pada Gambar 4.8 di bawah ini: 90 %T 75 3466.08 879.54 848.68 588.29 60 1058.92 1016.49 723.31 45 1359.82 1116.78 30 15 1462.04 1438.90 1246.02 1197.79 1170.79 0 2924.09 2854.65 1743.65 4500 4000 3500 Biodesel minyak jelantah 3000 2500 2000 1750 1500 1250 1000 750 50 1 Gambar 4.8 Spektrum biodiesel dari minyak jelantah Untuk mempermudah menganalisis hasil sepektrum biodiesel, perlu diperhatikan sinyal-sinyal penting. Sinyal yang perlu diperhatikan tercantum dalam Table 4. 1 berikut ini:

27 Tabel 4-1 Bilangan gelombang puncak penting dalam spektrum FTIR. Bilangan Gelombang(cm -1 ) Gugus Fungsi Dugaan Jenis vibrasi 3010,00 800-1000 = =H Alkena Alkena ulur Tekuk 2924,09 2854,65 H Alkana ulur *1743,65 = Karboksilat ulur 1462,04 1438,90 -H Alkana tekuk 1359,82 -H Alkana tekuk 1242,02 - ester ulur Dari sinyal yang muncul dapat diduga kemungkinan reaksi antara minyak jelantah dengan metanol menghasilkan senyawa ester, ini diperkuat adanya sinyal yang kuat pada bilangan gelombang 1242,02; 1743,65 cm -1 dan rantai karbonnya memiliki ikatan rangkap yang ditunjukan pada bilangan gelombang 3010,00 cm -1. dan untuk lebih menyakinkan kembali dapat dilihat pada bilangn gelombang antara 800-1000 yang merupakan fibrasi tekuk dari alkena tengah. Hasil FTIR untuk biodiesel terasetilasi seperti tampak pada Gambar 4.9 berikut: 90 %T 650.01 603.72 588.29 75 3508.52 879.54 852.54 60 45 1369.46 1116.78 1020.34 723.31 30 1462.04 1438.90 1242.16 1197.79 1170.79 15 0 2924.09 2854.65 1741.72 4500 4000 Biodesel asetilasi 3500 3000 2500 2000 1750 1500 1250 1000 750 500 1/cm Gambar 4-9 Spektrum biodiesel termodifiksi dari minyak jelantah

28 Dari hasil uji ini nampak sepektrum yang dihasilkan relatif sama dengan sepektrum pada biodiesel, kemiripan sinyal yang dihasilkan disebabkan karena gugus fungsi yang dimiliki antara biodiesel dan biodiesel terasetilasi sama, kecuali di rantai karbonnya. Biodiesel yang terbentuk dari asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sedang pada biodiesel terasetilasi tidak. Perbedaan ini terlihat pada spektrum yang muncul di bilangan gelombang 3010,00 cm -1, sedang pada biodiesel terasetilasi tidak. Perbedaan ini menjadi sangat berarti karena memang pada modifikasi ini bertujuan untuk menghilangkan ikatan rangkap yang ada pada biodiesel, menjadi ikatan tunggal dengan reaksi asetilasi. Tetapi pada bilangan gelombang 800-1000 yang merupakan fibrasi tekuk dari alkena baik pada biodiesel dan biodiesel terasetilsi masih muncal tetapi dengan intensitas yang berbeda, dimana pada biodiel terasetilasi lehih pendek puncaknya, hal ini menunjukan bahwa masih ada ikatan rangkap dua yang berada di tengah pada biodiesel terasetilasi, tetapi jumlahnya sedikit karena sebagian sudah mengalami asetilasi. Sampai tahap ini ada kemungkinan senyawa yang menjadi target terbentuk. Fakta ini juga didukung oleh adanya spektrum massa yang dihasilkan oleh G-MS dengan adanya ion molekul m/z 414 yang merupakan masa molekul target dan memiliki nilai Rf 25,583. 4.4 Uji G-MS Pada uji ini bertujuan untuk mengetahui massa molekul relatif, persen, dan pola pemotongan yang terjadi pada senyawa penyusun campuran. Hasil uji ini dapat dilihat pada Lampiran D. Dari hasil GS menyatakan bahwa campuran yang dihasilkan mengandung 12 jenis senyawa yang ditunjukan dengan adanya 12 puncak dengan waktu retensi yang berbeda-beda, tetapi ada puncak yang sangat berdekatan seperti pada puncak nomor empat dan lima. Enam, tujuh, dan delapan serta pada puncak nomor 10, 11 dan 12. Bila diekspan menghasilkan empat kelompok puncak yaitu: 1 pada Rf 19; 2. pada Rf antara 21-22; 3. pada Rf 23-24; dan 4. pada Rf 25-26. Hal ini sama dengan hasil dari KLT yang didapat empat noda. Pada data GS dihasilkan 12 puncak karena GS merupakan instrumen yang lebih baik untuk memisahkan

29 senyawa debandingkan dengan KLT sehingga senyawa yang memiliki berbedaan kepolaran yang kecil dapat dipisahkan sedang dengan KLT tidak dapat dipisahkan. Bila dilihat dari data MS (pada lampiran D) terlihat penyusun campuran ada senyawa yang memiliki perbandingan M/Z 414, merupakan puncak ke 12 dengan nilai Rf 25,583 sejumlah 12,52%. Massa molekul relatif ini sesuai dengan massa senyawa terget (9,10-diasetil metil stearat). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sintesis diasetil stearat dalam campuran biodiesel minyak jelantah telah berhasil dilakukan, walaupun dari hasil fragmentasinya tidak terlihat jelas. 4.4.1 Uji Aditif Penurun Titik Awan Pada uji aditif penurun titik awan, biodiesel yang terasetilasi dicampurkan dengan biodiesel dari minyak sawit dengan perbandingan persen volume biodiesel terasetilasi berturut-turut: 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 10%, dan 20%. Sebelum dilakukan untuk uji aditif, biodiesel terasetilasi hasil sintesis ini ditentukan titik awannya, setelah itu dilakukan uji aditif. Hasil Uji yang dilakukan didapat hasil seperti tertera pada Tabel 4.2 berikut ini: No % Volume Biodiesel terasetilasi Tabel 4-2 Uji penurunan titik awan % Volume Biodiesel Pengukuran Suhu ( º ) t 1 t 2 t 3 t rata-rata 1 0 100 16,3 16,0 16,2 16,2 2 1 99 15,0 14,8 15,0 14,9 3 2 98 14,0 14,2 14,6 14,3 4 3 97 14,3 14,0 14,2 14,2 5 4 96 14,0 14,0 14,0 14,0 6 5 95 14,0 13,0 13,4 13,5 7 10 90 12,2 12,0 12,4 12,2 8 20 80 12,0 12,5 12,0 12,2 9 100 0 11,5 10,7 10,5 10,9

30 Biodiesel terasetilasi memiliki titik awan rata-rata 10,9 º. pada uji aditif persen volum yang efektif antara 5% sampai 10% (titik awan 13,5 º s/d 12,2 º ), bila diberikan dalam jumlah yang lebih besar lagi titik awan relatif tidak menurun lagi, ini terlihat pada penambahan 20% biodiesel terasetilasi titik awan tetap 12,2 º. Jadi dalam uji ini biodiesel yang telah diberi aditif mengalami penurunan titik awan dari 16,2 º menjadi 12,2 º atau terjadi penurunan titik awan 4 º.