Pertemuan 5. Anggaran Tenaga Kerja

dokumen-dokumen yang mirip
Anggaran Tenaga Kerja Langsung

ANGGARAN TENAGA KERJA LANGSUNG

1. PENGERTIAN. pabrik.

Pertemuan 8 Anggaran Tenaga Kerja. Sumber : Kartika, dan sumber relevan lainnya

BAHAN AJAR Jurusan : Administrasi Bisnis Konsentrasi : Mata Kuliah : Pengantar Bisnis

Penganggaran Perusahaan

BAB II LANDASAN TEORI

Akuntansi Biaya. Labor: Controlling and Accounting for Cost. Wahyu Anggraini, SE., M.Si. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen S1

langsung dan biaya overhead pabrik.

BAB III PEMBAHASAN. ekonomi, dan pihak lainnya yang telah dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan

BAB III PEMBAHASAN. telah mengembangkan konsep biaya menurut kebutuhan mereka masing-masing. akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

Manfaat Harga Pokok Standar untuk:

MATERI 7 TENAGA KERJA LANGSUNG

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya. 1. Pengertian Akuntansi Biaya

Pertemuan 7. Nova Yanti Maleha,S.E.MM 10/7/2016 Nova Yanti Maleha/MSDM/IGM 1

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Anggaran

BAB II LANDASAN TEORI

BAB KOMPENSASI UNTUK MANAJEMEN. kelangsungan hidupnya. Karena itu manusia harus bekerja sehingga ia mampu memenuhi

PENGENDALIAN & AKUNTANSI BIAYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dari definisi biaya tersebut mengandung empat unsur penting biaya yaitu: 1. Pengorbanan sumber-sumber ekonomi.

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Akuntansi Biaya. Tenaga Kerja : Pengendalian dan Akuntansi Biaya (Labor : Controlling and Accounting for Costs) Rista Bintara, SE., M.Ak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Didalam dunia usaha terutama suatu perusahaan akan dihadapkan pada

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan dunia saat ini, kehidupan manusia di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BIAYA STANDAR DAN PENGUKURAN KINERJA. Biaya merupakan bagian terpenting dalam menjalankan kegiatan. dengan jumlah biaya yang dikorbankannya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. selalu mengupayakan agar perusahaan tetap dapat menghasilkan pendapatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI

SISTEM HARGA POKOK STANDAR

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Sandang Indah, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin. meningkatnya aktifitas yang dijalankan oleh perusahaan.

PERTEMUAN KE-7 BIAYA STANDAR : SUATU ALAT PENGENDALIAN MANAJERIAL

PERTEMUAN KE-4 ANGGARAN BERDASARKAN FUNGSI DAN AKTIFITAS STANDAR UNIT

BIAYA TENAGA KERJA A. Pengawasan Biaya Tenaga Kerja 1. Perencanaan dan analisa biaya tenaga kerja a. Product engineering (pengembangan produk).

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BIAYA PRODUKSI PADA CV. FILADELFIA PLASINDO SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman sekarang ini banyak perusahaan yang berusaha untuk memenangkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 1. Konsep Biaya dan Sistem Informasi Akuntansi Biaya Hubungan Akuntansi Biaya dengan Akuntansi Keuangan

BAB II LANDASAN TEORI. adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERENCANAAN DAN PENGAWASAN BIAYA OPERASIONAL PADAPT PERKEBUNAN NUSANTARA IV MEDAN

Bab 2 Tinjauan Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II ANALISIS PROFITABILITAS PELANGGAN DAN PELAPORAN SEGMEN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Manajemen berasal dari kata To Manage yang berarti mengatur,

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Pengertian Akuntansi Biaya Carter & Usry (2006;11)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2,

BUDGET PRODUKSI Rencana perusahaan di bidang produksi Kegunaan budget unit produksi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Manajemen. Pengertian akuntansi manajemen menurut Horngren (2000) adalah proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ACTIVITY BASED COSTING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS ANALISIS DAN ESTIMASI BIAYA

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dengan baik dan maksimal apabila tidak ada pelaksanaannya yakni sumber

PERTEMUAN KE-6 BIAYA STANDAR : SUATU ALAT PENGENDALIAN MANAJERIAL

BAB II LANDASAN TEORI. dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGANGGARAN PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

cost classification) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku biaya

Pert 13 BIAYA TENAGA KERJA. Team Teaching Universitas Islam Malang 2016

BAB II LANDASAN TEORITIS. Menurut George H, Bodnar dan William S. Hopwood (2006:14)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Carter dan Usry (2009:58) menjelaskan bahwa biaya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. penerimaan dengan pengeluaran, tetapi dengan semakin

Standard Costing. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BIAYA OVERHEAD PABRIK

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam akuntansi di Indonesia terdapat istilah-istilah biaya, beban, dan harga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1 STANDARD COSTING

Tujuan administrasi kompensasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Minggu-6. Penganggaran Perusahaan. Anggaran Upah Tenaga Kerja Langsung (direct labour budget) By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Transkripsi:

Pertemuan 5 Anggaran Tenaga Kerja Objektif: 1. Mahasiswa dapat mengerti,mengetahui beberapa metode estimasi standart/jumlah jam kerja langsung. 2. Mahasiswa dapat mengerti, mengetahui beberapa metode pendekatan untuk menentukan jam kerja langsung. 3. Mahasiswa mengetahui cara yang dapat dipergunakan untuk perencanaan tarif upah. 4. Mahasiswa mampu menjelaskan kaitan anggaran biaya tenaga kerja langsung dan pengendalian biaya tenaga kerja langsung. P1.1. Teori Anggaran merupakan proses pembuatan rencana kerja dalam jangka waktu satu tahun, yang ddinyatakan dalam satuan moneter dan satuan kuantitatif orang lain. Penyusunan anggaran ini sering disebut sebagai perencanaan. Tenaga kerja (karyawan) menurut manajemen sumber daya manusia adalah asset perusahaan yang harus dilindungi dan disejahterakan hidupnya karena mereka telah mengabdikan dirinya kepada perusahaan. Tenaga kerja yang bekerja dipabrik dikelompokkan menjadi dua yakni: Tenaga kerja langsung dan Tenaga kerja tidak langsung. a. Tenaga kerja langsung adalah setiap jenis pekerjaan yang secara langsung berhubungan dengan produksi barang atau jasa. Biasanya di pabrik operasi manufaktur setiap karyawan yang melaksanakan tugas-tugas bahwa bertalian dengan perakitan atau ciptaan yang nyata dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam penyusunan anggaran tenaga kerja langsung: 1. Rencana produksi

2. Bagian/departemen yang digunakan untuk melakukan proses produksi 3. Standar penyelesaian produk, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk 4. System upah yang digunakan (menurut waktu per jam, hasil per unit, atau dengan insentif interval) Sifat-sifat tenaga kerja langsung yaitu: 1. Besar kacilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi. 2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya variabel. 3. Umumnya dikatakan bahwa tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga kerja yang kegiatannya langsung dapat dihubungkan dengan produk akhir (terutama dalam penentuan harga pokok). b. Tenaga kerja tidak langsung disebut juga sebagai tenaga kerja penunjang karena sumbangan nya kepada proses produksi itu tidak termasuk benar-benar menghasilkan produk-produk hanya terkurung konsistensi operasi serta kontribusinya pada prosa-prosa produksi tidak termasuk benar-benar menghasilkan produk serta biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik. Sifat-sifat tenaga kerja tidak langsung yaitu: 1. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini tidak berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi. 2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya yang semi fixed atau semi variable. Artinya biaya-biaya yang mengalami perubahan tetapi tidak secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatan produksi. 3. Tempat bekerja dari tenaga kerja jenis ini tidak harus selalu di dalam pabrik, tetapi dapat diluar pabrik.

Anggaran tenaga kerja seperti halnya anggaran bahan mentah yaitu hanya merencanakan unsur tenaga kerja langsung dan harus disusun sebelumnya seperti halnya anggaran produksi. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain: 1. Kebutuhan tenaga kerja 2. Pencarian atau penarikan tenaga kerja 3. Latihan bagi tenaga kerja baru 4. Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi para tenaga kerja 5. Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja 6. Pengawasan tenaga kerja Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang baik dan terampil, yang cocok untuk bidang pekerjaannya. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik pada salah satu bidnag khusus, seperti tenaga teknis dan manajerial harus diperoleh khusus pula. Untuk mereka perusahaan tidak segan-segan menyediakan perangsang berupa gaji yang besar dan fasilitas yang lengkap ada juga yang melalui kadernisasi seperti dengan penawaran beasiswa yang terikat. Karena itu biaya tenaga kerja sebetulnya tidak hanya timbul pada saat tenaga kerja itu digunakan, akan tetapi sudah ada sebelum tenaga itu siap. Seleksi tenaga kerja baru dilakukan dengan berbagai cara seperti ujian tertulis atau lisan, psychotest. Semuanya ini bukan bertujuan untuk mencari orang-orang yang berpengalaman, melainkan mencari orang-orang yang cocok dan mempunyai potensi untuk berkembang. Tenaga kerja yang berpengalaman selain mahal juga ada kemungkinan bahwa pengalaman yang dimiliki justru tidak sesuai dengan kebuuhan yang ada. Kesalahan para pemimpin dalam hal tenaga kerja akan mengakibatkan pengaruh terhadap harga barang yang dihasilkan, sehingga berpengaruh terhadap posisi perusahaan dalam persaingan.

Hubungan manajemen dengan Anggaran Tenaga Kerja Dengan membuat anggaran seorang manajer dapat membuat perencanaan dan dapat melakukan pengendalian kegiatan dengan demikian anggaran berhubungan erat dengan manajemen, karena di dalam proses manajemen berkaitan dengan unsure-unsur lain seperti perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penataan (staffing), menciptakan kerjasama dan koordinasi antar bagian (leading), pengendalian (controlling). Langkah-langkah dalam Menyusun Anggaran Tenaga Kerja Proses penyusunan anggaran membutuhkan koordinasi semua level manajer yang terorganisir dalam komite anggaran yang memiliki tugas antara lain: Menyusun pedoman penyusunan anggaran Menerima dan menganalisis setiap anggaran yang diajukan oleh setiap seksi, bagian atau divisi. Member rekomendasi penyempurnaan Menyetujui anggaran. Sebelum menyusun anggaran tenaga kerja perlu ditentukan terlebih dahulu dasar satuan utama yang digunakan untuk menghitungnya. Manning table, merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja yang menjelaskan: Jenis atau kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Jumlah masing-masing jenis tenaga kerja tersebut pada berbagai tingkat kegiatan. Bagian-bagian yang membutuhkannya. Sering kali ditemui dalam praktik yakni satuan hitung atas dasar jam buruh langsung (Direct Labor Hour/DHL) dan biaya buruh langsung (Direct Labor Cost). Dalam persiapan penyusunan anggaran ini terlebih dahulu membuat manning table. Manning table disusun sebagai hasil perkiraan langsung masing-masing kepala bagian perkiraan ini dapat dilakukan dengan berdasarkan judgment saja, tetapi dapat pula dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman pada waktu-waktu yang lalu, dengan berpedoman pada tingkat kegiatan perusahaan. Setelah itu lalu dihitung jam buruh langsung untuk masing-masing jenis barang yang dihasilkan atau masingmasing bagian tempat mereka bekerja. Jam buruh langsung ini dapat dihitung dengan berbagai

cara, diantaranya dengan analisa gerak dan waktu. Analisis gerak yaitu pengamatan terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan dalam rangka proses produksi satu jenis barang tertentu. Sedangkan analisa waktu yaitu perhitungan terhadap waktu yang dibutuhkan untuk setiap gerakan yang dilakukan dalam rangka proses produksi. Sebagai hasil dilakukannya analisa gerak dan waktu ini akan diperoleh waktu standart yang diperlukan untuk menyelesaikan satu unit barang tertentu, yang dinyatakan dengan DLH /Direct Labor Hour. Setelah dihitung jam buruh langsung untuk masing-masing jenis barang, kemudian dibuat perkiraan tentang tingkat upah rata-rata (average wage rate) untuk tahun anggaran yang bersangkutan. Cara yang termudah untuk mencari tingkat rata-rata per orang per jam buruh langsung adalah dengan membagi jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja langsung dengan jumlah jam tenaga kerja langsung yang diperlukan. Perhitungan Standar Tenaga Kerja Secara stuktural, anggaran tenaga kerja harus sesuai dengan stuktur rencana tahunan. Oleh karena itu anggaran ini harus menunjukan biaya dan jam kerja langsung menurut tanggung jawab, menurut waktu dan produk. Biaya kerja langsung sehari-hari terlepas dari pengawasan langsung. Banyak perusahaan mengembangkan standar-standar kerja yang realistis untuk banyak aktivitas laporan ini dibandingkan dengan hasil sebenarnya dan dilaporkan setiap hari. Laporan ini pada dasarnya menunjukkan: 1. Jam yang dikerjakan sebenarnya 2. Jam standar untuk produksi sebenarnya 3. Selisih waktu Laporan pelaksanaan kerja langsung dapat berupa: Laporan-laporan tersendiri Dimasukkan dalam laporan departemen

Perhitungan Standar Kerja Langsung Pada dasarnya budget tenaga kerja berhubungan erat dengan rencana laba tahunan, karena merupakan biaya yang paling besar jika dibanding dengan biaya lainnya. Anggaran tenaga kerja harus dikembangkan menurut jam kerja dan biaya langsung dan juga harus dikembangkan menurut tanggung jawab dan menurut periode antara hal ini penting untuk penaksiran biaya produksi tiap produk. Beberapa sistem upah Upah dibedakan menjadi dua macam, yaitu upah menurut waktu dan upah menurut kesatuan hasil. Upah menurut waktu yaitu upah yang diberikan kepada pekerja menurut waktu kapasitas kerjanya, pembayaran upah tersebut dilakukan secara harian, mingguan maupun bulanan. Sedangkan upah menurut kesatuan hasil yaitu upah yang diberikan kepada para pekerja menurut prestasi yang dihasilkan oleh para pekerja tersebut, antara lain: Sistem upah harian Sistem upah perpotong Sistem upah bonus Sistem Upah Harian Berdasarkan sistem upah harian tiap karyawan diberi jumlah untuk satu hari kerja. Satu jumlah jam kerja tertentu biasanya terdiri hari standard dan oleh karena sistem upah harian sama dengan sistem upah per jam. Cara menentukan Jam Kerja Tenaga Langsung (JKTL): 1. Menghitung rata-rata jam kerja yang digunakan dalam pelaksanaan, pekerjaan berdasarkan data tahun lalu. 2. Mencoba jalan operasi di bawah keadaan normal yang diharapkan. 3. Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu. 4. Mengadakan taksiran yang wajar. 5. Memperhitungkan kelonggaran waktu untuk istirahat, penundaan kerja yang tidak dapat dihindari dan factor kelelahan. Jam buruh langsung ini dapat dihitung dengan berbagai cara, diantaranya dengan analisa gerak dan waktu yang sudah dijelaskan di atas.

Contoh: Dalam sebuah perusahaan, tenaga kerja langsung pada pabrik digolongkan menjadi 3 tingkatan yakni golongan I, II dan III. Upah par jam buruh langsung masing-masing golongan adalah : Golongan I = Rp 150,00/orang/DLH II = Rp 200,00/orang/DLH III = Rp 250,00/orang/DLH Jumlah masing-masing golongan adalah: Golongan I = 50 orang II = 20 orang III = 5 orang + Jumlah = 75 orang Setelah dihitung jam buruh langsung untuk masing-masing jenis barang, kemudian dibuat perkiraan tentang tingkat upah rata-rata (average wage rate) untuk tahun anggaran yang bersangkutan. Cara yang termudah untuk mencari tingkat rata-rata per orang per jam buruh langsung adalah dengan membagi jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja langsung dengan jumlah jam tenaga kerja langsung yang diperlukan. Tingkat upah rata-rata tenaga kerja langsung perusahaan tersebut (per orang per DLH) dapat dihitung sebagai berikut: Tingkat upah Jumlah Jumlah Jumlah Golongan per jam (Rp) (orang) (DLH) (Rp) I 150,00 50 100 750.000,00 II 200,00 20 400.000,00 III 250,00 5 125.000,00 75 100 1.275.000,00 Gambar 2.5.1.1 perhitungan tenaga kerja langsung per jam

Tingkat upah rata-rata = total upah / (total pekerja*dlh) = 1.275.000 / (75*100) = Rp170,00/DLH. Catatan: Perlu diperhatikan bahwa tingkat upah rata-rata dapat berubah apabila terjadi perubahan ratio dalam penggunaan tenaga kerja, seperti: Ratio kuantitas masing-masing golongan tenaga kerja. Ratio tingkat upah masing-masing golongan tenaga kerja. Misalnya : Data historis (tahun 2003) menunjukkan: Golongan Jumlah Tingkat upah Jumlah Jam Jumlah (orang) per jam (Rp) I 300 200,00 100 6.000.000,00 II 200 300,00 100 6.000.000,00 500 100 12.000.000,00 Gambar 2.5.1.2 perhitungan upah rata-rata Tingkat upah rata-rata = total upah / (banyaknya pekerja*dlh) = 12.000.000/ (500*100) = 12.000.000/50.000 = Rp240,00 Pada tahun 2004, akan diadakan kenaikan pangkat 50 orang golongan I ke golongan II. Sehingga pada tahun 2004 terjadi perubahan ratio kuantitas masing-masing golongan yakni: 2003 2004 Golongan I 300 250 Golongan II 200 250 500 500 Gambar 2.5.2.3 perhitungan upah rata-rata

Akibatnya tahun 2004 akan terjadi perubahan tingkat upah, menjadi Rp250,00 per orang per DLH. Perhitungannya sebagai berikut: Golongan Jumlah Tingkat upah Jumlah Jam Jumlah (orang) per jam (Rp) I 250 200,00 100 5.000.000,00 II 250 300,00 100 7.500.000,00 500 100 12.500.000,00 Gambar 2.5.2.4 perhitungan upah rata-rata Tingkat upah rata-rata = total upah / (banyaknya pekerja*dlh) = 12.000.000/ (500*100) = 12.000.000/50.000 = Rp240,00 Sistem Upah Perpotong (Per Unit) Berdasarkan jumlah upah dari pada jumlah barang produksi yang diproduksi karena menurut teori karyawan harus dibayar menurut hasil kerja nyata. Upah yang besarnya berdasarkan unit yang diselesaikan dikalikan dengan tariff upahnya. Contoh: PT La Tour d Eviand mempunyai 3 bagian produksi, yakni bagian I, II dan III. Ada dua macam barang yang di produsir, yakni X dan Y. Barang X diprodusir melalui ketiga bagian, sedangkan barang Y hanya melalui bagian I dan II saja. Rencana jam buruh per unit barang adalah: Gambar 2.5.2.1 Rencana Jam Buruh per Unit

Rencana tingkat upah rata-rata adalah: Gambar 2.5.2.1 Rencana Jam Buruh Rata-Rata Sedangkan rencana tingkat produksi tahun 2003 adalah sebagai berikut: Gambar 2.5.2.3 rencana tingkat produksi PT La Tour d Eviand menyusun 2 sub anggaran tenaga kerja, yakni : Anggaran yang khusus merencanakan biaya tenaga kerja langsung. Anggaran yang merencanakan jam buruh langsung (DLH) saja. Anggaran biaya tenaga kerja langsung: a. Jumlah barang yang diproduksi, yang dilihat dari anggaran produksi. b. Jam buruh langsung (DLH) yang diperlukan untuk mengerjakan 1 unit barang. c. Tingkat upah rata-rata per jam buruh langsung. d. Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan. e. Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).

Sehingga anggaran biaya tenaga kerja bagi PT La Tour d Eviand untuk tahun 2003 adalah: Gambar 2.5.2.4 anggaran biaya tenaga kerja bagi PT La Tour d Eviand

Sistem Upah Bonus Dalam sistem upah bonus setiap karyawan dibayar secara harian didalam memproduksi sejumlah minimum tertentu, dan untuk jumlah diatas minimum karyawan menerima tambahan kompensasi. Biaya kerja langsung hanya menyangkut pekalian satuan dengan yang lainnya. Suatu pendekatan yang kurang cermat terhadap suatu penentuan rasio historis antara upah yang dibayarkan dengan jam kerja langsung yang dikerjakan di departemen produksi. Rasio historis ini kemudian disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang telah berubah atau memang diharapakan berubah. Perlu dipahami, bahwa upah rata-rata yang didasarkan pada pada historis hanya berguna untuk perencanaan waktu yang akan datang apabila terdapat konsistensi-konsistensi dalam aktivitas dan jam-jam yang dikerjakan ditetapkan dengan tarif yang berbeda. Fungsi Pengawasan dan Perencanaan dari Anggaran Tenaga Kerja Pengawasan biaya tenaga kerja dapat dibantu dengan adanya pendekatan yang baik terhadap para buruh, sehingga mereka dapat bekerja secara stabil sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penyusunan secara baik dari Anggaran Tenaga Kerja dapat mendatangkan beberapa manfaat bagi perusahaan, seperti: 1. Penggunaan tenaga kerja secara lebih efisien karena rencana yang matang. 2. Pengeluaran/biaya tenaga kerja dapat direncanakan dan diatur secara lebih efisien. 3. Harga pokok barang dapat dihitung secara tepat. 4. Dipakai sebagai alat pengawasan biaya tenaga kerja. Fungsi atau keuntungan lain dari perencanaan anggaran: Hasil analisis internal data historis perusahaan yang menjelaskan kekuatan dan kelemahan kemudian dijadikan bahan baku untuk membuat program kerja di masa mendatang. Analisis eksternal yang menjelaskan peluang bisnis dan kendala yang dihadapinya, kemudian dijadikan bahan baku untuk membuat program kerja di masa mendatang. Sebagai alat pedoman kerja dan pengendalian kegiatan operasional dan keuangan. Sebagai sarana koordinasi anatar seksi, divisi detain suatu perusahaan.

Beberapa kelemahan dari perencanaan anggaran: Prediksi kegiatan bisnis di masa mendatang belum tentu tepat atau belum tentu mendekati kenyataan. Perubahan kondisi politik, social, ekonomi, bisnis di masa datang sulit diprediksi sehingga bering tidka terjangkau dalam pemikiran pembuatan anggaran. Sering terjadi konflik kepentingan dalam penyusunan anggaran maupun dalam pelaksanaan. 2.1 Contoh Kasus Pabrik Rokok Kencana Surakarta (Perencanaan tenaga kerja langsung) Bagian produksi / pengelohan, merupakan tempat bekerjanya tenaga kerja langsung yang terdiri atas: 1. Tukang linting dengan tangan 854 orang 2. Tukang potong / gunting dengan tangan 671 orang 3. Tuang linting dan gunting dengan mesin 10 orang 4. Tukang longsong bungkus rokok 151 orang 5. Tukang mengepak rokok 442 orang Jumlah 2.128 orang Pada pabrik rokok kencana, tenaga kerja dipilih sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan diutamakan yang sudah berpengalaman. Lebih dari 90% para tenaga kerja berasal dari luar kota Surakarta, seperti Kalioso, Sawahan dan Wonogiri. Bagi buruh haraian diperhitumngkan jam kerja sebanyak 7 jam per hari atau 40 jam per minggu. Pengupahan Sistem pegupahan pada pabrik rokok Kencana disesuaikan dengan perjanjian anatara SBRI/FBSI dengan PUSPI dan OPS Rokok Kretek ( antara wakil dari pihak buruh dengan Persatuan Pengusaha Rokok Kretek) yakni seagai berikut: 60% sebagai upah harian 20% sebagai upah makan 20% upah hadir.

Bagi tukang linting dan gunting yang mengguanakan mesin dipakai sistem upah harian, yakni rata-rata Rp. 500,00 / hari. Bagi tukang.lainnya dalah cara borongan, yakni sebagai berikut: 1. Tukang linting dengan tangan: Upah sebesar Rp. 115,00 per 1.000 batang rokok, dengan maksimum 3.000 batang. Bila mencapai lebih dari 3.000 batang ditambah uapah lembur sebesar 50% untuk setiap 1.000 batang dari tarif upah tersebut. 2. Tukang gunting dengan tangan: Cara pengupahan dan besarnya sama dengan tukang linring 3. Tukang longsong: Upah sebesar Rp. 60,00 setiap 1.000 longsong dengan maksimum 3.000 longsong. Bila mencapai lebah dari 3.000 ditambah upah lembur sebesar 50% untuk tiap 1.000 longsong dengan tarif upah tersebut. 4. Tukang pak: Upahnya sebesar Rp. 74,00 untuk setiap bal, dengan maksimum 3 bal. bila mencapai lebih dari 3 bal, ditambahn upah lembur 50% dari tarif upah tersebut. Jenis Tenaga Kerja Tukang Linting Upah Borongan Upah Lembur Jumlah Minimum Maksimum Upah (Rp) Keterangan Persentase 1.000 bt. 3.000 bt. 115,00 lebih dari 3.000 50 per 1.000 Tukang Gunting 1.000 bt. 3.000 bt. 115,00 lebih dari 3.000 per 1.000 50 Tukang Longsong 1.000 lgs. 3.000 lgs. 60,00 lebih dari 3.000 per 1.000 50 Tukang Pak 1 bal 3 bal 74,00 lebih dari 3 per 1 bal 50

Selain upah tersebut masih diberi insentif lain yang diberi secra insidentil, berapa upah sangon rokok sebesar (per hari, berdasar daftar hadir): - Untuk tukang linting Rp. 25,00 - Untuk tukang gunting Rp. 20,00 - Untuk tuiang longsong Rp. 20,00 - Untuk tukang pak Rp. 25,00 Disamping itu setiap tahun masih pula menerima tunjangan hari raya. Pada tahun 1983 dibuat pula Anggaran Biaya Tenaga Kerja yang dibuat, tentu saja berdasarkan pada anggaran produksi yang telah dibuat sebelumnya yakni: Pabrik Rokok Kencana Anggaran produksi 2000 Penjualan (bal) Persediaan Akhir (bal) Jumlah (bal) Persediaan awal (bal) Produksi isi 12 batang kuartal I 4,457 317 4,774 353 4,425 kuartal II 5,686 281 5,967 371 5,650 kuartal III 6,237 245 6,482 281 6,201 kuartal Iv 5,542 209 5,751 245 5,506 jumlah 21,922 209 22,974 353 21,782 isi 10 batang kuartal I 68,335 4,859 73,194 5,409 67,785 kuartal II 87,192 4,310 91,502 4,859 86,643 kuartal III 95,629 3,759 99,288 4,310 95,078

kuartal IV jumlah isi 3 batang kuartal I kuartal II kuartal III kuartal IV jumlah 84,947 3,210 88,184 3,759 84,425 336,103 3,210 352,168 5,409 333,931 1,485 106 1,591 117 1,474 1,896 94 1,990 106 1,884 2,079 82 2,116 94 2,067 1,847 70 1,917 82 1,835 7,307 70 7,614 117 7,260 Dalam pembuatan Anggaran tenaga Kerja, perlu diestimasi standar waktu dan tingkat upah per jam untuk masing-masing kegiatan/bagian dengan sebaik-baiknya. Karena Anggaran Tenaga kerja bukanlah hanya merupakan ikhtisar, akan tetapi hsilya adalah untuk dijadikan rencana operasioanal dan alat pengawasan terhadap efisiensi kerja dari pada Tenaga Kerja. Dalam penentuan standar tenaga kerja, digunakan cara perkiraan langsung, karena ukuran unit untuk pengupahan kepada tenaga kerja langsung diperusahaan rokok KENCANA bermacammacam bentuknya, yaitu menurut banyaknya batang rokok yang dihsilkan, upah harian, menurut banyaknya langsung dan bal. oleh karena itu perhitungan standar tenaga kerja akan dilakukan satu per satu yakni: Standar Tenaga Kerja Tukang Linting dengan Tangan. Karena unit pengepakan untuk tukang linting dengan tangan adalah batangan, maka perlu jumlah produksi yang ukurannya bal dijadikan batangan.

jenis Rokok Jumlah Produksi untuk 1 tahun Bal Batang Jumlah Rokok @ 12 21778 x 10 x20 x12 batang 21,778.00 Rokok @ 10 52,267,200.00 333931 x 10 x 20 x 10 667,862,000.00 batang 333,931.00 Rokok @ 3 batang 7261 x10 x 20 x 3 7,261.00 4,356,000.00 Jumlah 724,485,200.00 Berdasarkan anggapan bahwa dalam satu tahun ada 52 minggu maka dalam satu tahun terdapat 2.080 jam kerja (52 x 40 jam). Jumlah tukang linting dengan tanagan adalah 854 orang. Hasil lintingan per jam = 724.485.200 2.080 jam x 1 batang = 384.300 batang (dibulatkan) Hasil lintingan rokok per jam dan per orang = 348.300bt 854orang x 1 batang = 408 batang (dibulatkan) Dari perhitungan di atas dapat ditentukan standar waktunya menurut masing-masing jenis rokok, sebgai berikut (untuk 1 bal): - Isi 12 batang = 2.400bt 408bt x 1 jam = 5,88 jam / bal. - Isi 10 batang = 2.000bt 408bt x 1 jam = 4,90 jam / bal - Isi 3 batang = 600bt 408bt x 1 jam = 1,47 jam / bal

Setiap 1.000 batang rokok upahnya adalah Rp. 115,00 sehingga dapat ditentukan tingkat per 408 jam (1 DLH) yaitu: x Rp. 115,00 = Rp. 46,92 per DLH 1000 Perhitungan Standar Tenaga Kerja Tukang Gunting Perhitungan dengan Tangan. Jumlah tukang gunting adalah 671 orang. Hasil rokok yang digunting per jam dan per orang adalah: 348.300bt 671orang x 1 batang = 519 batang ( dibulatkan) Standar waktu yang ditentukan sebgai berikut: Rokok @ 12 batang = 2.400bt 519bt x 1 jam = 4,62 jam per bal Rokok @ 10 batang = 2.000bt 519bt x 1 jam = 3,85 jam per bal Rokok @ 3 batang = 600bt 519bt x 1 jam = 1,15 jam per bal Besarnya upah tukang gunting = Rp. 115,00 per 1.000 batang rokok, maka dapat ditentukan 520 tingkat upah per jam (1 DLH) yaitu: x Rp. 115,00 = Rp. 59,80 / DLH. 1000 Perhitungan Standar Tenaga Kerja Tukang Linting dan Gunting Dengan mengguanakan mesin yang jumlah produksinya 10% dari jumlah produksi rokok @ 10 batang. Jumlah produksi 1 tahun = 10% x 33.931 bal = 33.939 bal Jumlah tenaga kerja 10 orang. Hasil rokok yang dilinting dan digunitng dengan mengguanakn mesin @ 10 batang/filter per jam nya yaitu: 33.393bal 2.080 jam x bal = 16 bal

Hasil per jam dan per orang = 16bal 10orang x 1 bal = 1,60 bal Standar waktu utnuk mengahsilkan 11 bal rokok filter @ 10 batang adalah 1 1,60 x 1 jam = 0,625 jam per bal Upah per hari = Rp. 500,00 jam kerja 1 hari = 7 jam, maka besarnya upah per jam (1 DLH) tukang linting dan gunting dengan mengguanakan mesin adalah sebesar: 500 x Rp. 1,00 = Rp. 71, 43 per DLH. 7 Perhitungan Standar Tenaga Kerja Tukang Longsong. Karena ukuran untuk pengupahan adalah banyak longsong, maka jumlah produksi dalam bal perlu dijadikan bentuk longsong, yaitu sebagai berikut: Jenis Rokok Bal Longsong Rokok @ 12 21778 x 10 x 10 = 4.355.600 batang 21,778 10 batang 333931 x 10 x 20 = 333,931 66.786.200 3 batang 7261 x 10 x 20 = 1.452.200 7,261 Jumlah 72.594.000 Jumlah tukang longsong = 151 orang Hasil longsongan bungkus rokok per jam 72.594.000 2.080 jam x l longsong = 34.900 longsong Hasil longsongan per jam per orang 34.900 151orang x 1 longsong = 213 longsong

Standar waktu untuk mengahsilkan 1 bal longsong adalah sebgai berikut: - Isi 12 batang = 200 x 1 jam = 0,87 jam per bal 231 200 - Isi 10 batang = x 1 jam = 0,87 jam per bal 231 200 - Isi 3 batang = x 1 jam = 0,87 jam per bal 231 Besarnya upah tukang longsong = Rp. 60,00 per 1.000 longsong, maka dapat ditentukan tingkat upah per jam yaitu: 231 x Rp. 60,00 = Rp. 13,86 1.000 Perhitungan Standar Tenaga Terja Tukang Pak: Jenis Rokok Jumlah Produksi Rokok @ 12 batang Rokok @ 10 batang Rokok @ 3 batang Jumlah 21.778 bal 333.931 bal 7.261 bal 362.970 bal Jumlah tukang pak = 442 Hasil pengepakan per jam = 362.970bal 2.080 jam x 1 bal = 175 bal (dibulatkan) 175 Hasil pengepakan per jam dan per orang = x 1 bal = 0,40 442 Standar waktu pengepakan 1 bal adalah: 1 0,40 x 1 jam = 2,5 jam per bal Besarnya upah tukang pak sebsar Rp. 74,00 per bal, maka dapat ditentukan tingkat upah per jamnya yaitu: 0,40 1 x Rp. 74,00 = Rp. 29,60. Setelah diperhitungkan standar tenaga kerja, yaitu standar jam (standar DLH) dan tingkat upah per jam (wage rate hour/standard cost) masing-masing bagian atau kegiatan, maka dapatlah disusun Anggaran Tenaga Kerja untuk tahun 2000 secara sempurna.

P1.2. Contoh Kasus PT.ABC memproduksi 2 jenis kendaraan yaitu mobil dan motor. Rencana poduksi untuk tahun 2010: Q1 = 11.375 / unit Q2 = 12.875 / unit Q3 = 14.250 / unit Q4 = 15.625 / unit Sedangkan untuk tahun 2010, manajemen perusahaan menginginkan produk diproses melalui 2 departemen. Dept 1 = 2 DLH / unit, Dept 2 = 1,5 DLH / unit, tingkat upah kerja untuk masingmasing departemen adalah Dept 1 = 3000/jam, Dept 2 = 2700/jam. Dari data di atas hitunglah buatlah anggaran jam tenaga kerja dan upah tenaga kerja langsung. Jawab :

Langkah pengerjaan untuk mendapatkan jumlah biaya yang di cari, adalah sebagai berikut : 1. Langkah pertama buat tabel Anggaran Tenaga Kerja PT.ABC tahun 2010. 2. Buatlah form dalam tabel berisi skala, Departemen, Unit Produksi, Jam Kerja, Total Jam Kerja, Upah Langsung,dan Total Upah. 3. Masukkan unit produksi untuk masing-masing departemen pada tiap quartal (Q). (lihat pada soal) 4. Masukkan jam kerja untuk masing-masing departemen tiap quartal(q). (lihat pada soal) 5. Untuk Total Jam Kerja didapat dari perkalian ( Unit Produksi x Jam Kerja ) 6. Masukkan upah langsung untuk masing-masing departemen (lihat pada soal). 7. Total Upah didapat dari perhitungan ( Total Jam Kerja x Upah Langsung ) 8. Dari keseluruhan Total Upah untuk masing-masing departemen dan tiap quartal (Q) akan didapat Total Biaya Tenaga Kerja P1.3. Contoh Kasus Dalam sebuah perusahaan, tenaga kerja langsung pada pabrik digolongkan menjadi 3 tingkatan yakni golongan I, II dan III. Upah per jam buruh langsung masing-masing golongan adalah : Golongan I = Rp 150,00/orang/DLH II = Rp 200,00/orang/DLH III = Rp 250,00/orang/DLH Jumlah masing-masing golongan adalah: Golongan I = 50 orang II = 20 orang III = 5 orang + Jumlah = 75 orang Hitunglah Tingkat upah rata-rata dari perusahaan tersebut!

Jawab: Tingkat Upah rata-rata = total upah / (banyaknya pekerja*dlh) = 1.275.000 / (75*100) = 170 DLH Langkah pengerjaan untuk mendapatkan jumlah biaya yang di cari, adalah sebagai berikut : 1. Buatlah form dalam tabel berisi Golongan, Tingkat upah per jam, Jumlah(orang), Jumlah DLH, Jumlah (Rp). 2. Masukkan tingkat upah per jam untuk masing-masing golongan. (lihat pada soal) 3. Masukkan banyaknya pekerja untuk masing-masing golongan. (lihat pada soal) 4. Masukkan jumlah DLH. (lihat pada soal) 5. Jumlah (Rp) diperoleh dari ( Tingkat upah per jam x Jumlah orang x jumlah DLH ) 6. Tingkat upah rata-rata diperoleh dari total jumlah Rp dibagi (total jumlah orang x jumlah DLH)

P 1.3. Latihan 1. PT.FIFA memproduksi 2 jenis produk yaitu bola sepak dan bola futsal. Rencana poduksi untuk tahun 2010: Q1 = 10.000 / unit Q2 = 15.000 / unit Q3 = 20.000 / unit Q4 = 25.000 / unit Sedangkan untuk tahun 2010, manajemen perusahaan menginginkan produk diproses melalui 2 departemen. Dept 1 = 3 DLH / unit, Dept 2 = 2 DLH / unit, tingkat upah kerja untuk masing-masing departemen adalah Dept 1 = 10000/jam, Dept 2 = 12000/jam. Dari data di atas hitunglah berapa total biaya tenaga kerjanya? Jawaban : total biaya tenaga kerja = Rp1,008,000,000 2. Dalam sebuah perusahaan mainan, tenaga kerja langsung pada pabrik digolongkan menjadi 3 tingkatan yakni golongan A, B dan C. Upah par jam buruh langsung masing-masing golongan adalah : Golongan I = Rp 250,00/orang/DLH II = Rp 300,00/orang/DLH III = Rp 350,00/orang/DLH Jumlah masing-masing golongan adalah: Golongan I = 50 orang II = 30 orang III = 10 orang + Jumlah = 90 orang Hitunglah Tingkat upah rata-rata dari perusahaan tersebut! Jawaban : Tingkat upah rata-rata = 2.050.000/9000 = Rp227.8/DLH

DAFTAR PUSTAKA http://ekonomi-online.blogspot.com/2010/07/anggaran-tenaga-kerja.html, tanggal 3 November 2011