2.4. Udara Kualitas udara khususnya diperkotaan merupakan komponen lingkungan yang sangat penting, karena akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat maupun kenyamanan kota. Limbah gas di DKI Jakarta yang merupakan penyebab penurunan kualitas udara digolongkan ke dalam sumber tidak bergerak (kegiatan industri, rumah tangga dan pembakaran sampah) dan sumber bergerak (kegiatan transportasi). Dalam kaitan tersebut maka premerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini BPLHD Provinsi DKI Jakarta telah melakukan pengambilan sampel kualitas udara ambien dengan parameter NO, NO 2, SO 2, TSP dan Pb untuk parameter manual aktif serta parameter SO 2, NO 2, CO, O 3, debu (PM-10), dan Meteorologi untuk metode kontinyu untuk mengetahui kondisi kualitas udara di wilayah DKI Jakarta, dimana hasil pengambilan sampel tersebut dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dengan waktu pemantauan direncanakan 24 kali dalam setahun dengan metode manual dan untuk metode otomatis dilakukan pengukuran secara kontinyu setiap 30 menit (48 data/hari) selama 1 tahun dengan lokasi pemantauan dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta dengan metode sesaat yang menggunakan peralatan manual dengan lokasi pemantauan adalah Kawasan JIEP, Tebet Barat, Kuningan, Istiqlal, KBN Cakung Cilincing, Ancol, Pegadungan dan Ciracas. Sedangkan untuk pemantauan dengan metode kontinyu yang menggunakan peralatan otomatis untuk tahun 2014 dilakukan pada 5 lokasi pantau yaitu DKI 1 (Bundaran Hotel Indonesia) yang mewakili peruntukkan roadside, DKI 2 (Kelapagading) yang mewakili peruntukkan komersil, DKI 3 (Jagakarsa) mewakili peruntukkan pemukiman, DKI 4 (Lubang Buaya) mewakili peruntukkan campuran dan DKI 5 (Jakarta Barat) sedangkan pengambilan sampel kualitas udara dilakukan sejak bulan Januari-Desember 2014 dengan frekuensi 24 kali setahun. Pengolahan dan evaluasi data dilakukan dengan membandingkan hasil pengambilan sampel dengan baku mutu udara ambien berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 551 Tahun 2001 tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Mutu Tingkat Kebisingan di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.
GAMBAR : II.11. LOKASI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA TAHUN 2014 TABEL : II.39. LOKASI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA DAN PERUNTUKANNYA TAHUN 2014 NO NAMA LOKASI WILAYAH PERUNTUKAN KETINGGIAN (M) 1. Masjid Al- Firdaus Pegadungan Permukiman 6.0 2. Masjid Istiqlal Gambir Perkantoran 6.0 3. Dufan-TIJA Ancol Rekreasi 3.0 4. KBN Cakung Cilincing Cilincing Campuran 3.0 5. PT JIEP Rawa Terate Industri 3.0 6 SDN Kramat Pela Kebayoran Baru Pemukiman 3.0 7. Panti Werdha Ciracas Ciracas Pemukiman 3.0 6. Masjid AlIttihaad Tebet Tebet Barat Pemukiman 3.0 7. Kantor BPLHD DKI Kuningan Perkantoran 12.0
GAMBAR : II.12. LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL KUALITAS UDARA (METODE SESAAT) PULOGADUNG KBN CAKUNG CILINCING ISTIQLAL KALIDERES TEBET ANCOL 2.4.1. Hasil Evaluasi Hasil pemantauan kualitas udara ambien sepanjang bulan Januari-Desember 2014 adalah : 1). Metode Manual Parameter Debu (TSP)
Hasil pemantauan untuk parameter debu (TSP) tersaji pada Tabel : II.40 dan Grafik : II.481 di bawah ini. Pada Tabel : II.40 disajikan kualitas udara ambien untuk parameter debu (TSP) yang merupakan nilai rata-rata bulanan. Dari tabel tersebut, terlihat bahwa kualitas udara ambien untuk parameter debu (TSP) hampir pada semua stasiun ada pengukuran yang nilainya masih di bawah baku mutu, kecuali di KBN Cakung dan Pulogadung yang diperuntukkan bagi industri pada beberapa pengukuran nilainya telah melebihi baku mutu. Rata-rata konsentrasi TSP di Jakarta berkisar antara 20 µg/m 3 hingga 361 µg/m 3. Tingginya konsentrasi TSP di KBN Cakung dan Pulogadung disebabkan oleh tingginya aktivitas industri di lokasi tersebut karena sumber utama pencemar TSP adalah hasil pembakaran oleh kegiatan industri. TABEL : II.40. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER DEBU (TSP) TAHUN 2014 LOKASI JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AUG SEPT OKT NOP DES RATA2 KUNINGAN 105 217,9 286,05 186 168 193 195 146 272 252 211 147 203 TEBET 59 166 179,9 129 62 162 143 113 195 132 167 102 137 JIEP 152,4 193,4 260,15 261 221 144 157 169 280 177 153 95 197 KBN CAKUNG - 305,89 352,91 361 94 285 206 235 214 431 323 158 281 KRAMAT PELA - 84,65 209,7 122 186 189 161 124 221 218 239 224 175 CIRACAS 100,5 207,7 273,75 132 168 176 201 127 212 186 171 91 178 ISTIQLAL - 131,9 156,45 56 171 84 20 137 184 125 188 109 125 ANCOL 52,25 64,7 143,3 258 112 182 71 101 163 112 122 97 125 KALIDERES - 87,45 208,75 41 72 93 - - 236 196 192 106 141 - : Aliran listrik terputus (data tidak valid) BM TSP = 230 µg/m 3 / 24 Jam GRAFIK : II.481. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER DEBU (TSP) TAHUN 2014
Parameter Nitrogen Dioksida (NO 2 ) Tingginya konsentrasi Gas NO x termasuk salah satunya gas NO 2, dapat di sebabkan oleh kegiatan transportasi oleh kendaraan bermotor serta kegiatan industri. Pada Tabel : II.41, ditunjukkan tingkat konsentrasi gas NO 2 di stasiun pemantauan dengan menggunakan metode manual. Jika dibandingkan dengan baku mutu udara ambien berdasarkan SK Gub. 551/2001, untuk parameter NO 2 yaitu 400 µg/m 3 untuk 1 jam pengukuran maka pada semua lokasi pemantauan konsentrasi NO 2 masih di bawah baku mutu. Pada lokasi pemantauan Kuningan memiliki konsentrasi paling tinggi daripada lokasi lain hal ini disebabkan karena pada lokasi tersebut, aktivitas transportasi relatif lebih tinggi di banding lokasi lainnya. Ratarata konsentrasi NO 2 di Jakarta untuk Tahun 2014 berkisar antara 26.04 51.13 µg/m 3. TABEL : II.41. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER NO 2 TAHUN 2014 LOKASI JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AUG SEPT OKT NOP DES RATA2 KUNINGAN 29,25 25,95 82,50 72,05 93,10 24,8 52,65 72,50 41,13 38,30 30,15 27,15 51,13 TEBET 22,45 49,30 88,30 13,10 27,50 93,75 39,20 50,60 20,27 25,55 21,60 27,1 41,06 JIEP 49,50 24,95 43,35 24,85 33,60 51,9 47,10 57,30 25,53 34,30 < 10 18,9 39,24 KBN CAKUNG - 75,90 33,75 13,35 * 14,4 27,25 52,50 46,63 40,25 30,80 19,8 37,20 KRAMAT PELA 29,00 51,50 46,90 27,45 33,80 51,10 46,70 58,20 26,40 45,30 17,85 15,3 39,47 CIRACAS 25,05 35,70 15,65 11,30 36,20 16,00 20,75 42,60 36,55 23,10 30,10 23,1 26,64 ISTIQLAL < 10 59,20 17,20 20,50 66,70 63,85 17,30 58,90 36,10 65,70 27,65-43,31 ANCOL 32,30 19,85 56,65 34,6 * 39,35 25,60 81,20 25,50 37,45 11,90-36,44 KALIDERES 15,25 27,05 42,60 20,2 43,00 34,50 24,00 < 10 14,45 24,70 14,65-26,04 - : Aliran listrik terputus (data tidak valid) BM NO 2 = 400 µg/m 3 / 1 Jam GRAFIK : II.482. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER NO 2 TAHUN 2014 Konsentrasi (µg/nm3) 450.00 400.00 350.00 300.00 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 0.00 KUNINGAN TEBET JIEP KBN CAKUNG KRAMAT PELA Lokasi CIRACAS ISTIQLAL ANCOL KALIDERES
Dari Grafik diatas terlihat bahwa konsentrasi NO 2 di semua lokasi nilainya masih memenuhi baku mutu. Parameter Sulfur Dioksida Tingginya konsentrasi SO 2 di udara memiliki dampak terhadap kesehatan, hal ini disebabkan karena sampai tingkat konsentrasi tertentu, SO 2 dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat membahayakan manusia, tumbuhan dan hewan. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa konsentrasi SO 2 masih berada dibawah baku Kualitas udara ambien untuk parameter SO 2 tersaji pada Tabel : II.42, dimana nilai rata-rata bulanan di semua lokasi pemantauan masih memenuhi baku mutu. Nilai rata-rata konsentrasi SO 2 dalam satu tahun berkisar antara <27 µg/m 3 sampai dengan 188.80 µg/m 3, dimana nilai tertinggi terdapat di kawasan JIEP, Dari semua pengukuran nilai SO 2 masih jauh di bawah baku mutu, dimana berdasarkan SK Gubernur Nomor 551 tahun 2001 baku mutu untuk Sulfur dioksida adalah 900 µg/m 3 / 1 jam pengukuran. TABEL : II.42. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER SO 2 TAHUN 2014 LOKASI JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL Aug SEPT OKT NOP DES RATA2 KUNINGAN < 27 96,70 44,60 46,60 29,50 72,30 184,00 51,60 40,60 < 27 39,85 70,15 67,31 TEBET < 27 113,45 88,10 < 27 < 27 62,40 100,85 < 27 < 27 < 27 < 27 89,85 91,20 JIEP < 27 120,25 39,85 < 27 < 27 34,50 188,80 < 27 53,75 64,10 < 27 92,25 83,54 KBN CAKUNG - 124,20 101,55 < 27 28,10 < 27 134,10 < 27 72,10 48,70 171,10 76,65 97,12 KRAMAT PELA < 27 114,10 103,45 < 27 < 27 < 27 149,80 33,30 < 27 < 27 35,20 50,75 87,17 CIRACAS < 27 120,05 119,65 < 27 < 27 < 27 130,30 < 27 < 27 50,70 78,70 57,60 99,88 ISTIQLAL < 27 108,45 62,75 < 27 < 27 41,20 140,20 58,10 29,00 43,10 119,65 75,50 75,31 ANCOL < 27 106,75 65,50 < 27 < 27 35,50 150,40 < 27 39,85 < 27 168,90 62,60 94,48 KALIDERES < 27 132,15 119,80 27,00 34,30 28,10 152,30 < 27 43,55 43,70 146,50 89,70 80,82 - Aliran listrik terputus (data tidak valid) tt : Tidak terdeteksi BM SO 2 = 900 µg/m 3 / 1 Jam Konsentrasi SO 2 dapat dipicu oleh aktivitas transportasi dan industri. SO 2 merupakan pencemar sekunder yang terbentuk akibat reaksi antara zat pencemar primer dan di bantu oleh unsur-unsur meteorologis. Unsur meteorologis yang memacu terbentuknya SO 2 di udara adalah radiasi matahari dan curah hujan. Grafik : II.483 di bawah ini menunjukkan rata-rata bulanan konsentrasi SO 2 pada semua titik pantau. Dari dibawah dapat dilihat bahwa pada semua titik pantau, konsentrasinya masih dibawah baku mutu.
GRAFIK : II.483. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER SO 2 TAHUN 2014 Konsentrasi (µg/nm3) 1000.00 900.00 800.00 700.00 600.00 500.00 400.00 300.00 200.00 100.00 0.00 KUNINGAN TEBET JIEP KBN CAKUNG KRAMAT PELA Lokasi CIRACAS ISTIQLAL ANCOL KALIDERES Parameter Timbal (Pb) Tingginya konsentrasi Pb di udara dapat membahayakan manusia karena Pb merupakan logam berat yang beracun yang dapat mengakibatkan kerusakan otak, ginjal, sumsum tulang, dan sistem tubuh yang lain pada anak-anak. Pada pemantauan tahun 2014, rata-rata konsentrasi Pb pada 9 lokasi titik pantau ditampilkan pada Tabel : II.43 dan Grafik : II.484 di bawah ini. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa disemua lokasi pemantauan, konsentrasi Pb masih memenuhi baku mutu, konsentrasinya berkisar dari 0.01-1.390 µg/m 3. TABEL : II.43. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER PB TAHUN 2014 LOKASI JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AUG SEPT OKT NOP DES RATA2 KUNINGAN 0,010 0,040 0,025 0,185 0,065 0,215 0,055 0,040 0,157 0,100 0,250 0,615 0,146 TEBET 0,170 0,055 0,030 0,135 0,020 0,180 0,055 0,030 0,220 0,090 0,285 1,390 0,222 JIEP tt 0,045 0,020 0,120 0,105 0,110 0,045 0,090 0,147 0,130 0,155 0,280 0,113 KBN CAKUNG - 0,135 0,065 0,075-0,120 0,050 0,060 0,183 0,300 0,195 0,320 0,150 KRAMAT PELA - 0,050 0,030 0,325 0,060 0,275 0,130 0,030 0,117 0,165 0,140 0,775 0,191 CIRACAS tt 0,070 0,030 0,125 0,055 0,100 0,070 0,010 0,230 0,085 0,065 0,455 0,118 ISTIQLAL - 0,020 0,050 0,195 0,070 0,080 0,010 0,040 0,583 0,025 0,170 0,200 0,131 ANCOL 0,030 0,020 0,070 0,175 0,020 0,205 0,030 0,070 0,505 0,040 0,270 0,340 0,148 KALIDERES - 0,025 0,040 0,030 0,020 0,070 - - 0,49 0,285 1,220 0,430 0,290 - : Aliran listrik terputus (data tidak valid) BM TSP = 2 µg/m 3 / 24 Jam
GRAFIK : II.484. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER Pb TAHUN 2014 Konsentrasi (µg/nm3) 2.500 2.000 1.500 1.000 0.500 0.000 KUNINGAN TEBET JIEP KBN CAKUNG KRAMAT PELA CIRACAS ISTIQLAL ANCOL KALIDERES Lokasi 2). Metode Kontinyu a). Rata-rata konsentrasi PM-10 Tahun 2014 GRAFIK : II.485. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER PM-10 TAHUN 2014 160.00 140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 DKI 1 DKI 2 DKI 3 DKI 4 DKI 5 BM Sumber utama pencemar PM-10 berasal dari kendaraan bermotor jenis sepeda motor. Dari hasil pemantauan dapat dilihat bahwa rata-rata konsentrasi PM-10 Tahun 2014, pada semua pengukuran konsentrasinya masih dibawah baku mutu, konsentrasi tertinggi terjadi di stasiun
pemantauan DKI 4 (Lubang Buaya) pada bulan September dan Oktober. Berdasarkan pengamatan tingginya konsentrasi PM-10 di lokasi tersebut disebabkan karena adanya lokasi kegiatan pemulung yang sering melakukan pembakaran barang-barang bekas yang berpotensi menghasilkan debu. b). Rata-rata konsentrasi SO 2 Tahun 2014 GRAFIK : II.486. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER SO2 TAHUN 2014 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 DKI 1 DKI 2 DKI 3 DKI 4 DKI 5 BM Dari hasil pemantauan seperti pada Grafik : II.486 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata konsentrasi SO 2 pada semua titik pantau masih memenuhi baku mutu baku mutu. rata-rata konsentrasi SO 2 tertinggi terjadi di DKI 2 yaitu di kawasan Kelapa gading dengan peruntukkan industri dimana sumber pencemar utamanya adalah transportasi dan industri. Untuk itu dapat diambil kesimpulan bahwa sumber pencemar parameter SO 2 adalah kegiatan Transportasi dan industri.
c). Rata-rata konsentrasi CO Tahun 2014 GRAFIK : II.487. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER CO TAHUN 2014 10.00 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 DKI 1 DKI 2 DKI 3 DKI 4 DKI 5 BM Seperti halnya konsentrasi SO 2, konsentrasi CO pada semua lokasi pemantauan sudah melebihi baku mutu dan konsentrasi tertinggi terjadi di lokasi pemantauan DKI 1 atau Bundaran HI dengan peruntukkan Roadside. Hal ini menunjukkan bahwa sumber utama pencemar CO adalah kendaraan bermotor. d). Rata-rata konsentrasi O 3 Tahun 2014 GRAFIK : II.488. KUALITAS UDARA AMBIEN DKI JAKARTA UNTUK PARAMETER O 3 TAHUN 2014
Ozon (O 3 ) merupakan pencemar sekunder yang berarti keberadaannya di udara merupakan hasil reaksi antara pencemar primer serta komponen lain di udara. Berdasarkan sebab tersebut maka konsentrasi O 3 pada semua stasiun pemantau telah melebihi baku mutu. 3). Kualitas Udara Ambien Di Kepulauan Seribu Pemantauan kualitas udara ambien di kepulauan seribu dilakukan sebanyak 2 kali pada tahun 2014 ini yaitu pada bulan Juni dan Agustus yang berlokasi di Pulau Pramuka. Hasil pemantauan kualitas udara ambien di Pulau Pramuka disajikan pada Grafik : di bawah ini. GRAFIK : II.489. KUALITAS UDARA AMBIEN PULAU PRAMUKA TAHUN 2014 2500 2000 1500 1000 500 0 (NO2) (SO2) H2S (NH3) (CO) (HC) (O3) PM 2.5 Juni Agustus PM 10 TSP Beberapa parameter kualitas udara ambien di Pulau Pramuka memiliki konsentrasi yang sangat rendah yaitu NO2, SO2, H2S, NH3, PM 2.5, PM 10 dan TSP. Hal ini dipengaruhi oleh letak geografis kepulauan dimana kecepatan angin yang relatif tinggi yang menyebabkan zat-zat pencemar udara di atmosfer mengalami pengenceran. Sedangkan untuk parameter lainnya seperti CO, HC dan O3 konsentrasinya telah melebihi baku mutu, tingginya intensitas matahari di kepulauan menyebabkan tingginya konsentrasi ketiga parameter tersebut. Hasil pengambilan sampel kualitas udara ambien sepanjang bulan Januari hingga Desember 2014 dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengambilan sampel kualitas udara ambien dengan metode sesaat di wilayah DKI Jakarta untuk parameter Sulfur Dioksida (SO 2 ), Nitrogen Dioksida (NO 2 ) dan TSP masih memenuhi baku mutu.
Pengambilan sampel kualitas udara ambien dengan metode sesaat untuk parameter Debu (TSP) di lokasi KBN Cakung konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Pengambilan sampel kualitas udara dengan metode kontinyu memberikan hasil bahwa untuk parameter PM-10, SO 2, dan CO konsentrasinya masih dibawah baku mutu. Sedangkan untuk parameter O 3 konsentrasinya pada semua lokasi pantau telah melebihi baku mutu. Sektor industri dan transportasi memberikan kontribusi yang besar dalam hal buruknya kualitas udara ambien di DKI Jakarta yang akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, seperti penyakit ISPA. Dalam kaitan tersebut diatas maka dalam mengurangi dampak pencemaran udara di DKI Jakarta, langkah yang ini telah dilakukan pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2012-2014 diantaranya: 1. Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Mulai tahun 2010 pelaksanaan HBKB di Provinsi DKI Jakarta, khusus untuk ruas Jl, Sudirman (Patung Pemuda) Jl. Thamrin (Patung Arjuna) dilaksanakan 4 kali dalam sebulan, sedang untuk masing-masing wilayah dilaksanakan sebanyak 2 kali yaitu Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat, Jl. Pemuda Jakarta Timur, Jl. Rasuna Said Jakarta Selatan, Kawasan Kota Tua Jakarta Barat dan Jl. Artha Gading Jakarta Utara. Perlu diiformasikan karena program HBKB dirasa berhasil dalam mengurangi pencemaran udara di wilayah DKI Jakarta, maka program tersebut telah menjadi contoh untuk kegiatan serupa di semua wilayah Indonesia, selain hal tersebut program HBKB di Jakarta juga telah diakui dunia, dimana pada bulan Desember 2011 perwakilan dari salah satu penggagas program HBKB di Provinsi DKI Jakarta diundang sebagai tamu kehormatan dalam pelaksanaan perdana di Kota Katmandu India. Adapun kegiatan rutin HBKB diantaranya Senam pagi, Liga Futsal, Panggung Hiburan, Sepeda Santai dan Siaran Langsung Program TV. 2. Uji Emisi dan Perawatan Kendaraan Bermotor Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2007 tentang Uji Emisi dan Perawatan Kedaraan Bermotor. Selain melakukan uji emisi dilapangan, pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan bengkel layanan uji emisi di seluruh Wilayah DKI Jakarta Melalui kegiatan tersebut diharapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat semakin meningkat untuk merawat kendaraan bermotornya dan mentaati Ambang Batas Uji Emisi sebagaimana diamanatkan Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Pergub 92/2007 tentang Uji Emisi Kendaraan Bermotor (Kewajiban Uji Emisi Kendaraan Bermotor setiap 6 bulan sekali), serta Pergub 31/2008 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor, sedangkan untuk lokasi Uji Emiisi Kendaraan Bermotor di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Tabel SP- 2G (T) Data SLHD Provinsi DKI Jakarta tahun 2014.
3. Kawasan Dilarang Merokok (KDM) Pelaksanaan penegakan hukum Kawasan Dilarang Merokok mulai digelar sejak tahun 2009 ini sebagai implementasi Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Pergub 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok (KDM). Sejak Diundangkan Pergub Nomor 88 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. 4. Penerapan Kawasan Parkir Berstiker Lulus Uji Emisi Dalam upaya meng-implementasikan Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yang salah satunya mengatur kewajiban bagi pengguna kendaraan bermotor untuk melakukan uji emisi setiap 6 bulan sekali, baik bagi kendaraan umum, dan kendaraan pribadi, termasuk kendaraan bermotor roda 2, maka langkah yang dilakukan dalam rangka mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat adalah pelaksanaan uji petik di 5 (lima) Kantor Walikota, Uji Emisi Teguran Simpatik di Jalan Raya di 5 (lima) wilayah kota, dan uji emisi di kawasankawasan komersial, seperti mal, kawasan industri, dan penerapan kawasan parkir wajib berstiker di 25 Kawasan, termasuk di kawasan Monas. Kegiatan uji emisi ini perlu didukung seluruh elemen masyarakat guna mempertahankan kualitas udara Jakarta yang semakin baik, dengan terus berupaya untuk menjadi lebih baik lagi. Mulai tahun 2009 pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberlakukan Zona Parkir Lulus Uji Emisi di 25 lokasi wilayah Ibukota Jakarta diantaranya adalah : Wilayah Jakarta Pusat (Hotel Sahid, Mal Senayan City, Balaikota DKI Jakarta, Walikota Jakarta Pusat, IRTI Monas), Wilayah Jakarta Selatan (BPLHD Provinsi DKI Jakarta Jalan Casablanca, BPLHD Gedung Nyi Ageng Serang, Walikota Jakarta Selatan, Pondok Indah Mal 1 dan Mal 2), Wilayah Jakarta Timur (PT. Dankos, PT. Martina Berto, Walikota Jakarta Timur, Universitas Kristen Indonesia, Tri Dharma Wasesa, PT.JIEP), Wilayah Jakarta Barat (RS. Dharmais, Mal Ciprutra, Walikota Jakarta Barat, Universitas Trisakti), Wilayah Jakarta Utara (Mal Kelapa Gading, Walikota Jakarta Utara, PT. Citra Marga Nusa Pala, PT. Inti Garda Perdana). Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat semakin meningkat untuk merawat kendaraan bermotornya dan mentaati Ambang Batas Uji Emisi sebagaimana diamanatkan Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Pergub 92/2007 tentang Uji Emisi Kendaraan Bermotor (Kewajiban Uji Emisi Kendaraan Bermotor setiap 6 bulan sekali), serta Pergub 31/2008 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.
5. Pemberlakuan Pajak Progresif Pemerintah DKI Jakarta akan segera memberlakukan pajak progresif kendaraan bermotor, pajak yang besarannya bervariasi dari 1,5 persen hingga 4 persen berlaku pagi kendaraan milik perorangan atau badan hukum dan kebijaksanaan ini berlaku efektif pada 1 Januari 2011. Dimana tujuan dari adalah salah satu instrumen guna mengendalikan jumlah kendaraan bermotor dan mengatasi kemacetan di wilayah DKI Jakarta. 6. Dengan terpilihnya Gubernur Baru di Provinsi DKI Jakarta, yang mempunyai slogan Jakarta Baru, pada tahun 2012 telah ditertibkannya para pedagang yang saat ini berjualan di sepanjang jalan pada tempat keramaian (pasar, terminal dll) mulai dibenahi dan ditata, dan dicarikan solusi untuk ditempatkan pada tempat-tempat yang telah disediakan, selain hal tersebut diatas pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan menertiban kendaraan bermotor yang parkir secara sembarangan di bahu jalan dengan cara digembok oleh Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, dan gembok mulai dibuka jika pemilik kendaraan melapor ke kepolisian dan Suku Dinas Perhubungan dengan dikenai denda Rp. 250.000,-, serta mewacanakan biaya parkir yang saat ini mulai diusulkan sebesar empat kali dari biaya parkir yang telah ada. Hal lain dilakukan setelah disahkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Perparkiran, maka pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2012 juga menerapkan zonasi perparkiran yang diharapkan dapat efektif merubah perilaku orang dari kebiasaan menggunakan mobil pribadi beralih ke transportasi masal, dimana untuk zonasi A (pusat perbelanjaan dan hotel) untuk kendaraan Sedan, Jiep, Minibus, Pickap dari tarif lama 1.000-2.000 (jam pertama) menjadi 3.000-5.000 (jam pertama) dan 2.000-4.000 (jam berikutnya), Bus dan Truk dari tarif lama 2.000-3.000 (jam pertama) menjadi 6.000-7.000 (jam pertama) dan 2.000 (jam berikutnya) menjadi 3.000 (jam berikutnya), sepeda motor dari tarif lama 500 (per jam) menjadi 1.000-2.000 (per jam), untuk zonasi B (perkantoran dan apartemen) untuk kendaraan Sedan, Jiep, Minibus, Pickap dari tarif lama 1.000-2.000 (jam pertama) menjadi 3.000-5.000 (jam pertama) dan 2.000-4.000 (jam berikutnya), Bus dan Truk dari tarif lama 2.000-3.000 (jam pertama) menjadi 6.000-7.000 (jam pertama) dan 2.000 (jam berikutnya) menjadi 3.000 (jam berikutnya), sepeda motor dari tarif lama 500 (per jam) menjadi 1.000-2.000 (per jam), untuk zonasi C (pasar, tempat rekreasi, rumah sakit) untuk kendaraan Sedan, Jiep, Minibus, Pickap dari tarif lama 1.000-2.000 (jam pertama) menjadi 2.000-3.000 (jam pertama) dan 2.000 (jam berikutnya), Bus dan Truk dari tarif lama 2.000 (per jam) menjadi 3.000 (per jam), sepeda motor dari tarif lama 500 (per jam) menjadi 1.000 (per jam). 7. Pada tahun 2013 pemerintah DKI Jakarta telah membangun jalan layang (Flyover) dan terowongan (Underpass) di 12 titik, dimana 12 titik tersebut adalah merupakan jalan yang sebidang dengan rel Kereta Api Listrik, dimana tujuannya untuk mendukung rencana program PT. Kereta Api Indonesia (KAI), guna meningkatkan kualitas pelayanan kereta api agar jarak tempuh
kereta menjadi 5 menit selain hal tersebut diatas Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga terus mengevaluasi operasional bus pengumpan (feeder) bus Trans-Jakarta, diantaranya melakukan penghapusan feeder koridor 3 yakni SCBD-Senayan dan menurunkan tarif feeder dari Rp. 6.500,- menjadi Rp. 3.500,- per orang. Dengan tarif itu diharapkan penumpang sudah bisa menikmati feeder yang langsung terhubung dengan bus Trans-Jakarta, selain hal tersebut pada tahun 2012 Pemerintah DKI Jakarta telah menyiapkan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) Bekasi - Pulo Gadung dan Tangerang Kalideres, selain dengan adanya APTB Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga menyiapkan Bus Pengumpan Dalam Kota sebanyak 3 Rute yaitu, Rute Pertama dari Kantor Walikotamadya Jakarta Barat menuju Koridor III (Kalideres-Pasar Baru), Rute Kedua Tanah Abang menuju Koridor I (Kota-Blok M), dan Rute Tiga Kompleks Bisnis SCBD menuju Koridor I (Blok M-Kota), dengan cara tersebut diharapkan para pegguna kendaraan bermotor maupun pribadi sebagian bisa beralih ke layanan kereta api, Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB), maupun Bus Pengumpan guna mengurangi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta. 8. Dengan adanya persetujuan pengesahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-1017 maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta salah satunya telah memasukkan rencana Pemerintah DKI Jakarta, untuk menindaklanjuti program RPJMD tersebut pada tahun 2013 pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mulai melakukan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) untuk Koridor Utara Selatan tahap I (Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia) yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2016, selain itu pada tahun yang sama juga menyelesaikan pembangunan Monorail yang saat ini tertunda dengan melakukan kerjasama dengan BUMN diantaranya adalah PT. INKS, PT. LEN, Jasa Marga, Telkom Indonesia, Adhi Karya, Pelindo, Angkasa Pura dan Bank Mandiri dimana proyek yang disepakati adalah Monorel Jakarta Link Transportations, Automated People Mover Systems dan Automated Container Transportation, dengan adanya pembangunan ini diharapkan dalam jangka panjang dapat mengurangi pemakaian kendaraan angkutan baik pribadi maupun barang, selain hal tersebut diupayakan akan ada perubahan yang cukup signifikan dalam penataan terminal, dimana terminal Lebak Bulus hanya dijadikan terminal dalam kota dan terminal antar kota antar provinsi akan dipindahkan ke Terminal kampung Rambutan, Kalideres dan Bantar Gebang selain untuk mengurangi kemacetan yang diakibatkan dengan adanya bus Antar kota antar Provinsi. 9. Pada tahun 2013 dimulai pembangunan Koridor XIII (Blok M-Cileduk) yang membentang sepanjang 14, 6 Km jalur tersebut akan dibangun mulai dari perempatan Cileduk (Terminal Cileduk), untuk mempercepat perjalanan akan dibangun jalan layang mulai depan Universitas Budi Luhur dan berakhir didepan Supermarket Carrefour Expres Kebayoran Lama, koridor tersebut akan terhubung dengan Koridor I (Blok M-Kota) dan Koridor VII (Lebak Bulus-Harmoni). Selain hal tersbut diatas Pemerintah DKI Jakarta mulai tanggal 15 Januari tahun 2013 Dinas
Perhubungan DKI Jakarta akan mengizinkan 40 bus Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) yang telah lulus Uji Integrasi busway masuk jalur Trans-Jakarta, dimana yang telah lulus uji integrasi adalah S-13 jurusan Ragunan-Grogol sebanyak 20 unit dan P-20 jurusan Lebak Bulus-Senhen sebanyak 20 unit, dimana persyaratan bus yang bisa masuk ke jalur Trans-Jakarta adalah busnya baru, pakai AC, tingginya sesuai dan ada pintu tengah untuk naik ke halte, dan apabila setelah dilakukan evaluasi ternyata banyak peminatnya pada bulan maret akan ditambah 60 unit Kopaja. Selain hal tersebut pada tahun 2013 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengoperasikan bus Kopaja AC S-602 jurusan Ragunan-Monas rute ini akan terintegrasi dengan tiga jalur bus Trans Jakarta, yakni koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas), koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) dan koridor I (Blok M-Kota) dan diharapkan pada tahun ini aka nada penambahan sampai sepuluh trayek diantaranya Kopaja AC S-66 jurusan Blok M-Manggarai dan masing masing trayek ditargetkan akan dilayani sebanyak 108 bus Kopaja AC. 10. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berusaha mengurangi kemacetan maka pada tahun 2014 sedang menyiapkan perangkat pendukung untuk memperlakukan sistem jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP), dimana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selain telah menyelesaikan Detain Enginering Desing (DED) juga akan segera mengeluarkan regulasi mengenai sistem jalan berbayar tersebut. Sistem berbayar ini akan digunakan untuk menggantikan sistem 3 in 1 dimana lokasi yang akan diterapkannya electronic road pricing (ERP) adalah seluruh ruas 3 in 1 ditambah dengan jalan HR Rasuna Said Jakarta Selatan. Selain hal tersebut PT. Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (PT. KCJ) pada tahun 2012 telah menambah 90 unit Kereta Rel Listrik (KRL) dan pada tahun 2013 akan ada penambahan lagi sebanyak 160 Unit KRL dan diharapkan pada tahun 2013 jumlah KRL akan mencapai 308 unit, serta pada tahun 2019 jumlah KRL akan mencapai 1.440 Armada yang diharapkan dapat mengangkut sebanyak 1,2 juta orang. 11. PT. Trans Matahari Utama melakukan peremajaan kendaraan Roda Tiga dari kendaraan yang menggunakan bahan bakar premium menjadi kendaraan berbahan bakar Gas yang saat ini mencapai 1.000 unit kendaraan yang setiap hari beroperasi di wilayah DKI Jakarta. Selain hal tersebut diatas akan dilakukan sistem rayonisasi wilayah dan menyiapkan jasa operator angkutan lingkungan roda tiga.