Bab IV Rekomendasi IV.1. Analisis Lanjutan

dokumen-dokumen yang mirip
Bab III Pengukuran Kesiapan E-Learning

Tatyana Dumova Point Park University, USA. Kegunaan Kuis Online : Mengevaluasi Persepsi Mahasiswa

Usaha Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Pelatihan Internet dan E-Learning Sekolah

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Abad 20 ini banyak ditandai dengan kemunculan teknologi mutakhir yang

Pengembangan Web Pembelajaran Interaktif Bagi Guru SMK Menuju Sekolah Berstandar Internasional. Nuryadin Eko Raharjo, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rancang Bangun Aplikasi E-Learning Berbasis LMS ( Learning Management System

1 P edo m a n P J J S 2 A p t i k o m T e k n o l o g i P e m b e l a j a r a n

BAB I BAB 1 PENDAHULUAN

Sistem pembelajaran e- learning

Mengapresiasi e-learning Berbasis MOODLE Basori 1

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pengembangan Aplikasi E learning dengan Menggunakan PHP Framework Prado BAB 1 PENDAHULUAN

PANDUAN PENGGUNAAN elearning Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) untuk Mahasiswa

Materi Computer Mediated Learning Orientasi Belajar Mahasiswa 2008 MATERI COMPUTER MEDIATED LEARNING

Metode Belajar di MEDIU

BAB I PENDAHULUAN. telepon genggam hanya sebatas SMS dan telepon, namun beberapa tahun terakhir,

PETUNJUK PEMANFAATAN KELAS MAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

Pemanfaatan E-Learning sebagai Media Pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

LAPORAN EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN

Bab II Tinjauan Pustaka

Chapter 01. UNTAD Webinar

Referensi PJJ Konsorsium Aptikom Standar Teknologi Pembelajaran Versi Maret 2014 disusun oleh Konsorsium APTIKOM

LAMPIRAN. 1. Apakah Anda mempunyai komputer di rumah (PC) atau laptop?? Ya (menuju nomor 2) Tidak (menuju nomor 3)

MANUAL PROCEDURE PETUNJUK & MEKANISME PENGOPERASIAN ELEARNING

Panduan Penggunaan Clasroom. Khusus Dosen. Disusun Oleh INFOKOM IAI Al-QOLAM. E-Learning IAI Al-Qolam

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Irwandani, 2013

2017, No Badan SAR Nasional Nomor PK. 15 Tahun 2014 tentang Perubahan Ketiga atas Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional (Berita Negara R

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

IMPLEMENTASI E-LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA.

Transformasi Nilai Kepahlawanan dalam Membagun Nasionalisme

Manual Learning Management System (LMS) untuk Dosen Akses ke LMS Untuk mengakses LMS, klik KLIK Di sini untuk memulai mengakses LMS

LAMPIRAN. Pertanyaan pada bagian I merupakan pernyataan yang berhubungan dengan identitas

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

APLIKASI E-LEARNING DENGAN OPEN SOURCE WEBELS

BAB 1 PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi dalam bidang informasi dan komputerisasi dewasa ini

Ringkasan Chapter 12 Developing Business/ IT Solution

1BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Agar dalam pengembangannya terdapat kesamaan pandangan, maka ketentuan umum pengembangan bahan ajar non cetak adalah sebagai berikut:

TAMPILAN E-LEARNING (biothink.web.id) BESERTA FITURNYA

PANDUAN PELATIHAN E LEARNING DASAR

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mengakibatkan

PANDUAN PENGAJUAN PROPOSAL

Digital Library & Distance Learning Lab. Petunjuk Teknis Pengembangan Konten Pembelajaran

e-learning Universitas Padjadjaran a a glance Irwan Ary Dharmawan

IMPLEMENTASI E-LEARNING DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PENDIDIK DAN KEMANDIRIAN MAHASISWA.

MATRIKS KEGIATAN MPKT-B: COLLABORATIVE LEARNING (CL)

Pembelajaran Aktif dalam Kelas Satu Komputer:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pelatihan Pembuatan Media Perpustakaan Elektronik Berbasis Website bagi Guru-Guru SMKN 1 Purwosari Gunung Kidul

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

SURVEY AKHIR KETRAMPILAN TEKNOLOGI GURU

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, penggunaan

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan pelajaran yang baik kepada

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, fitur dan layanan teknologi komunikasi sudah demikian maju.

PANDUAN PEMBUATAN KONTEN E LEARNING LENGKAP

PETUNJUK CARA PENGGUNAAN E SEMKA, E-LEARNING SMKN 1 SATUI

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PROSEDUR OPERASIONAL BAKU. Pengelolaan e-learning

Sistem Informasi Bimbingan Mahasiswa

BAB III HASIL TEMUAN PENELITIAN PENGARUH KOMPETENSI KOMUNIKASI MENTOR, MOTIVASI MAHASISWA DAN MODEL PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP KEBERHASILAN PMW

Epidemiologi Lapangan Tingkat Dasar. Pedoman Fasilitator. Tentang pedoman ini

LAPORAN SISTEM INFORMASI VIRTUAL OFFICE KOMPUTASI NUMERIK

PANDUAN PENGAJUAN PROPOSAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi informasi terutama penggunaan internet saat ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

GOOGLE DRIVE UNTUK PENDIDIKAN

Info awal, ringkasan, pemandu, mind map, dll 1 per babak. Latihan, contoh soal, contoh tugas 2 per semester

BAB IV HASIL PENGEMBANGAN. Dalam bab ini disajikan tiga hal pokok, yaitu : (1) pengembangan

PANDUAN PENERAPAN E-LEARNING BERBASIS RUMAH BELAJAR (JEJAK BALI) PROVINSI BALI

ANALISIS, DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI

BELAJAR ONLINE Belajar Melalui Jaringan Internet dan Komputer

PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PELATIHAN PEDAGOGIK DASAR (PEKERTI) UNIVERSITAS JEMBER 2016

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin hari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Era teknologi pada saat ini telah berkembang pesat. Hal ini dapat

xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PANDUAN PENGAJUAN PROPOSAL. HIBAH e-learning

BAB I PENDAHULUAN. nasional dan muatan lokal. Dan dibuatlah Suplemen Kurikulum berbagai macam sumber ilmu, tidak hanya dari guru kelas saja.

LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Sistem Pendukung Keputusan. Lecture s Structure. Pengambilan Keputusan

Perubahan Format Equation Sebagai Format Gambar. Untuk Perangkat Lunak Bantu Wondershare Quiz Creator 1. Retno Subekti 2

LAMPIRAN A KUESIONER. Menetapkan Dan Mengatur Tingkatan Layanan (DS1)

BAB II LANDASAN TEORI

LEARNING MANAGEMENT SYSTEM

PERTEMUAN 11: KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI. DIKTAT KULIAH: TEORI ORGANISASI UMUM 1 Dosen: Ati Harmoni 1

BAB 1 PENDAHULUAN. kegiatan belajar-mengajar di Universitas Bina Nusantara. Pada web ini,

Perkembangan E-Learning di Dunia Pendidikan Yang ada di Indonesia

elfeta e-learning Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Tutorial Pemakaian Learning Management System BPPK untuk Peserta

Transkripsi:

48 Bab IV Rekomendasi Pada bab ini akan dipaparkan jalannya tahap 3 penelitian (Gambar III.1), yaitu mengenai pembentukan rekomendasi bagi UKM untuk langkah implementasi selanjutnya. Sebagai dasar pemberian rekomendasi, dilakukan analisis lebih lanjut terhadap hasil yang diperoleh, baik dari focus group maupun dari analisis data hasil survei. Selain bersumber dari hasil yang diperoleh, analisis lanjutan juga memperhatikan hasil investigasi terbatas mengenai sosialisasi dan penggunaan e- learning di UKM. IV.1. Analisis Lanjutan Seperti telah dibahas pada Bab III, hasil dari survei menunjukkan bahwa tingkat kesiapan dosen dan mahasiswa secara umum berada pada tingkat Tinggi. Walaupun demikian, apabila dibandingkan dengan hasil focus group pada Lampiran A, terdapat perbedaan. Berdasar hasil focus group, fakultas yang menggunakan LMS yang disediakan universitas hanyalah fakultas IT dan fakultas teknik. Sedangkan fakultas yang jelas-jelas menyatakan kesiapan untuk e-learning hanya berasal dari fakultas IT. Fakultas teknik belum secara bulat menyatakan kesediaannya menggunakan LMS universitas, bahkan sebagian lebih suka menaruh bahan kuliah di web pribadi dan mengkhawatirkan ketidakmampuan sistem dalam pengajaran yang menggunakan berbagai simbol elektronika. Secara umum, hal-hal tersebut menunjukkan tingkat kesiapan yang rendah. Agar dapat menjelaskan lebih jauh mengenai fenomena ini, dilakukan penelusuran kembali terhadap hasil focus group. Jika diteliti lebih jauh, sebenarnya hasil focus group, terutama pada Tabel III.2, menunjukkan persepsi para anggota focus group mengenai suatu hal. Oleh karena itu, maka analisis lanjutan difokuskan pada domain persepsi. Sesuai rancangan instrumen survei, pada domain persepsi terdapat dua pertanyaan terbuka, D1 dan D2. Item D1 menanyakan mengenai penghalang terbesar untuk

49 mendayagunakan e-learning. Sedangkan item D2 menanyakan mengenai hal yang sangat berpengaruh pada keberhasilan mendayagunakan e-learning. Tidak ada reward 2% Koneksi Internet terbatas Kemampuan komputer 6% Rekan tidak pakai Penghalang Penggunaan LMS 4% Kebijakan blm Fasilitas kurang 19% Fasilitas kurang jelas, blm Tidak menjawab diharuskan 5% MK ajar tidak efektif dg LMS 7% Tdk mau mengubah kebiasaan Tidak menjawab 14% Keterbatasan waktu Keluhan mhsw Blm ada sosialisasi/pelatihan LMS menyulitkan MK ajar tidak efektif dg LMS Kemampuan komputer LMS menyulitkan 8% Kebijakan belum jelas, blm diharuskan Koneksi Internet terbatas Tidak ada reward Blm ada sosialisasi/pelatihan 10% Keluhan mhsw 10% Keterbatasan waktu 13% Tdk mau mengubah kebiasaan Rekan tidak pakai Gambar IV.1. Dosen-Penghalang Penggunaan E-Learning Gambar IV.1 menampilkan hasil tanggapan responden dosen terhadap item D1, penghalang pendayagunaan e-learning. Di luar yang tidak memberikan tanggapan, beberapa faktor penghalang terbesar berturut-turut adalah kurangnya fasilitas yang disediakan (19 %), keterbatasan waktu (13 %), belum adanya sosialisasi/pelatihan (10 %), dan karena memperhatikan keluhan mahasiswa dalam menggunakan LMS (10 %). Di samping itu, masih terdapat faktor lain yaitu LMS yang ada dianggap menyulitkan, mata kuliah ajar dipandang tidak efektif jika menggunakan e-learning, kebijakan universitas yang belum jelas mengenai keharusan penggunaan e-learning, koneksi Internet yang terbatas, ketiadaan reward untuk pendayagunaan e-learning, tidak mau mengubah kebiasaan dari manual ke komputerisasi, dan karena rekan dosen lain tidak menggunakan e- learning. Terkait dengan penghalang berupa kemampuan komputer yang kurang memadai, persentasenya berkisar 6%. Hal ini sejalan dengan hasil survei yang

50 menyatakan bahwa kompetensi teknis dosen yang berada pada tingkat rendah hanya sebesar 3,6 % (Gambar III.2). Nilai tambah nyata penggunaan e learning 2% Skill teknologi 4% Kecepatan akses internet 5% Membudayakan e learning 6% Reward Pendorong Pendayagunaan E-Learning Sosialisasi/pelatihan 19% Sosialisasi/pelatihan Fasilitas LMS yang user friendly Kebijakan,aturan Tidak menjawab/tidak tahu Niat baik Niat baik 7% Fasilitas 19% Membudayakan e learning Kecepatan akses internet Skill teknologi Tidak menjawab /tidak tahu 1 Nilai tambah nyata penggunaan e learning Reward Kebijakan,aturan 12% LMS yang user friendly 14% Gambar IV.2. Dosen-Pendorong Penggunaan E-Learning Selanjutnya, mengenai hal-hal yang dipandang sebagai pendorong pendayagunaan e-learning oleh dosen, faktor-faktor terbesar yang didapat dari item D2 adalah sosialisasi dan pelatihan (19 %), tersedianya fasilitas (19 %), diimplementasikannya LMS yang user friendly (14 %), dan adanya kebijakan maupun aturan universitas yang jelas mengenai keharusan penggunaan e-learning (12%). Di luar itu, masih terdapat faktor-faktor lain dengan persentase responden masing-masing kurang dari 10 persen, yaitu niat baik untuk melaksanakan e- learning, e-learning harus membudaya di organisasi, akses Internet yang lebih cepat, keahlian teknologi, nilai tambah penggunaan e-learning yang nyata, dan imbalan atas dijalankannya e-learning oleh dosen.

51 Content LMS kurang bernilai 2% LMS tidak user friendly Waktu 2% 3% Pelatihan 3% Tidak tahu ada e learning 3% Tidak ada penghalang 4% Kebiasaan Butuh tatap muka Kemampuan komputer dosen Kesehatan mata/badan Virus 0% Penghalang Penggunaan E-Learning Fasilitas & dukungan dr kampus 27% Fasilitas & dukungan dr kampus Tidak menjawab Skill Biaya Kecepatan & stabilitas akses Malas Tidak ada penghalang Malas 5% Tidak tahu ada e learning Pelatihan Waktu Kecepatan & stabilitas akses 7% LMS tidak user friendly Content LMS kurang bernilai Kebiasaan Biaya 7% Skill 8% Tidak menjawab 26% Kemampuan komputer dosen Butuh tatap muka Kesehatan mata/badan Virus Gambar IV.3. Mahasiswa-Penghalang Penggunaan E-Learning Pada sisi mahasiswa, faktor-faktor yang dipandang sebagai penghalang terbesar penggunaan e-learning lebih bervariasi, seperti dapat dilihat pada Gambar IV.3. Persentase terbesar adalah pada kurangnya fasilitas dan dukungan dari kampus (27%). Hal-hal yang masuk pada faktor ini adalah jumlah titik-titik hotspot yang kurang memadai, kurangnya jam bebas pada laboratorium komputer yang tersedia, jumlah komputer di laboratorium yang kurang memadai, dan tidak adanya fasilitas kepemilikan komputer atau laptop beserta koneksinya yang disediakan oleh kampus. Di samping faktor tersebut, terdapat dua hal yang cukup menarik di sini. Sebagian responden menyatakan bahwa penghalang terbesar pendayagunaan e-learning adalah karena responden malas menggunakan. Sebagian responden lain menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada penghalang untuk mendayagunakan e- learning. Sementara, mengacu pada Gambar III.3 mengenai tingkat kesiapan mahasiswa pada tiap domain, kesiapan mahasiswa pada domain kompetensi adalah tinggi (82,7%), demikian pula pada domain kesediaan mahasiswa,

52 memperlihatkan kesediaan Tinggi sebesar 81,5 % dan Rendah sebesar 1 % saja. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagian responden sebenarnya menyadari bahwa kompetensi yang dimiliki cukup untuk mendayagunakan e-learning dan mereka bersedia untuk mengikuti pelatihan dan mendayagunakan e-learning, hanya saja terdapat faktor-faktor lain sehingga pada akhirnya responden menjadi malas memanfaatkan e-learning. LMS yang user friendly 2% Kecepatan & stabilitas akses 2% Content LMS yg uptodate & lengkap 3% Skill 7% Kemauan 8% Waktu 2% Biaya akses murah Teman memakai juga Pendorong Penggunaan E-Learning Kemampuan dosen Kondisi tubuh 0% Jika diwajibkan 0% Tidak menjawab Tidak menjawab 37% Dukungan kampus,fasilitas Nilai tambah dr e learning Pelatihan/ sosialisasi Kemauan Skill Content LMS yg uptodate & lengkap Kecepatan & stabilitas akses LMS yang user friendly Waktu Pelatihan/ sosialisasi 8% Biaya akses murah Teman memakai juga Kemampuan dosen Nilai tambah dr e learning 1 Dukungan kampus,fasilitas 17% Jika diwajibkan Kondisi tubuh Gambar IV.4. Mahasiswa-Pendorong Penggunaan E-Learning Dalam hal pendorong terbesar penggunaan e-learning, sebanyak 37 % responden mahasiswa tidak menyatakan pendapatnya. Sedangkan persentase jawaban lain yang relatif tinggi adalah dalam hal tersedianya dukungan dari kampus beserta fasilitasnya (17%), serta nilai tambah dari e-learning yang bisa didapat mahasiswa (11 %). Di luar hasil responden mengenai penghalang dan pendorong terbesar pendayagunaan e-learning, dilakukan investigasi terbatas mengenai sosialisasi dan pelatihan e-learning beserta penggunaannya. Investigasi dilakukan dengan

53 melakukan wawancara singkat pada pengelola LMS universitas dan melakukan observasi pada mahasiswa fakultas IT. Temuan yang didapat adalah bahwa sosialisasi mengenai keberadaan e-learning disampaikan melalui surat ke masing-masing fakultas, disertai dengan panduan penggunaan LMS. Mengenai apakah surat tersebut diteruskan hingga ke masingmasing dosen, tidak diketahui. Jika fakta ini dihubungkan dengan hasil focus group pada Tabel III.2, yaitu bahwa sebagian wakil fakultas menyatakan tidak mengetahui adanya LMS, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar fakultas tidak meneruskan informasi ini hingga ke tingkat dosen. Mengenai pelatihan yang telah dilakukan, hingga saat ini telah dilakukan 2 kali pelatihan bagi dosen untuk melatih kompetensi teknis penggunaan LMS. Interval antara pelatihan pertama dan kedua adalah 1 semester. Dari dua pelatihan tersebut, tingkat pendaftar yang diharapkan sangat jauh dari yang diharapkan, sehingga untuk sementara diputuskan untuk belum menyelenggarakan pelatihan lagi. Bagi mahasiswa, sosialisasi resmi dari kampus belum pernah dilaksanakan, demikian pula pelatihan. Alasan dari pengelola LMS adalah, jika dosen sendiri yang melakukan sosialisasi langsung pada mahasiswanya dan mendorong pendayagunaan LMS, maka mahasiswa diharapkan menurut. Terkait dengan hal ini, hasil observasi menunjang pernyataan tersebut. Perilaku yang ditunjukkan mahasiswa yang diobservasi menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan LMS sesuai instruksi yang mereka terima dari dosen. Berikutnya, dilakukan analisis faktor pada data hasil survei untuk masing-masing domain untuk melihat item-item yang dominan di dalam masing-masing domain, sehingga diharapkan rekomendasi dapat tersusun sesuai urutan prioritas. Untuk itu, pada tiap domain dilakukan ekstraksi untuk 1 faktor. Hasil yang sudah diurutkan sesuai nilai factor loading terdapat pada Tabel IV.1. Pada tabel tersebut, khusus untuk domain persepsi, karena nilai persentase kumulatif variannya masih di bawah 50 persen, maka ekstraksi dilakukan untuk menghasilkan 3 faktor. Nilai absolut dari matriks komponennya untuk tiap item kemudian dirata-rata. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran E-Analisis Data.

54 Dosen Mahasiswa Tabel IV.1. Analisis Faktor Dalam Tiap Domain Kompetensi Persepsi Kesediaan A8 0,884 B1 0,457 C3 0,942 A7 0,877 B6 0,450 C2 0,911 A9 0,875 B5 0,439 C1 0,896 A3 0,855 B8 0,427 C4 0,819 A6 0,821 B14 0,416 A10 0,808 B13 0,414 A4 0,802 B2 0,412 A11 0,748 B4 0,411 A15 0,748 B3 0,404 A5 0,723 B11 0,352 A2 0,722 B12 0,351 A12 0,714 B7 0,339 A14 0,659 B10 0,335 A13 0,553 B9 0,290 A1 0,522 B15 0,262 A2 0,835 B2 0,471 C1 0,922 A3 0,815 B1 0,455 C2 0,922 A4 0,815 B5 0,453 A5 0,778 B6 0,448 A6 0,699 B7 0,420 A1 0,655 B4 0,399 B8 0,399 B3 0,370 B9 0,234 Jika dikaitkan dengan Tabel III.6 dan Tabel III.7 mengenai item-item survei, maka dalam hal kompetensi dosen, urutan faktor yang paling berkontribusi dalam domain ini adalah : 1. Kompresi/dekompresi file. 2. Mengkonversi ke pdf. 3. Menentukan ukuran file yang sesuai untuk halaman web. 4. Menaruh file di halaman web. 5. Terbiasa menggunakan dokumen berformat pdf. 6. Membagi file dalam ukuran lebih kecil dan menyatukan kembali. 7. Melakukan instalasi aplikasi. 8. Membuat file presentasi multimedia. 9. Mengikuti instruksi di layar komputer. 10. Melakukan manipulasi gambar sederhana.

55 11. Membuat mind map menggunakan aplikasi tertentu. 12. Terbiasa menggunakan search engine. 13. Membuat kuis online. 14. Bertindak sebagai moderator online. 15. Menggambarkan isi GBPP/SAP dengan mind map. Sedangkan pada mahasiswa, dalam hal kompetensi, urutan kontribusi tiap item adalah sebagai berikut : 1. Kemampuan menjelajah Internet. 2. Mengirim email dengan attachment. 3. Berdiskusi melalui Internet. 4. Mengunduh file. 5. Mengikuti instruksi di layar komputer. 6. Kemampuan dasar komputer. Pada domain Persepsi, urutan kontribusi tiap faktor untuk dosen adalah sebagai berikut : 1. Aplikasi e-learning mudah digunakan. 2. Universitas menyediakan fasilitas yang memadai. 3. Universitas menyediakan pelatihan yang memadai. 4. Aplikasi e-learning mudah digunakan mahasiswa. 5. Dorongan dari rekan atau atasan untuk menggunakan e-learning. 6. Ada dana yang diberikan untuk mendayagunakan e-learning. 7. Aplikasi dapat memperkaya pembelajaran. 8. Universitas menyediakan infrastruktur yang memadai. 9. Mahasiswa antusias menggunakan e-learning. 10. Rekan dosen lain antusias akan e-learning. 11. Sistem e-learning yang digunakan adalah blended learning. 12. Universitas memiliki kebijakan jelas untuk e-learning. 13. Beban kerja dalam menerapkan e-learning. 14. Kemampuan komputer sudah memadai. 15. Adanya dukungan teknis dari universitas. Sedangkan pada mahasiswa sebagai berikut : 1. Universitas menyediakan pelatihan memadai.

56 2. Universitas menyediakan infrastruktur yang memadai. 3. Mencari informasi di Internet menyenangkan. 4. Diskusi mata kuliah dengan dosen atau mahasiswa lain melalui Internet menyenangkan. 5. Dosen dapat menggunakan aplikasi e-learning. 6. Penggunaan komputer sulit. 7. Akan kesulitan jika mata kuliah menggunakan aplikasi e-learning. 8. E-learning mendukung pembelajaran. 9. Terdapat dukungan teknis dalam menggunakan aplikasi e-learning. Untuk domain Kesediaan, urutan kontribusi masing-masing faktor untuk dosen adalah : 1. Melakukan perbaikan terus-menerus. 2. Memberi waktu untuk mendayagunakan e-learning. 3. Mengikuti pelatihan. 4. Mendorong mahasiswa menggunakan e-learning. Sedangkan untuk mahasiswa, dalam hal Kesediaan, memiliki kontribusi yang sama yaitu untuk mengikuti pelatihan dan mendayagunakan e-learning untuk pembelajaran. Atas terkumpulnya fakta-fakta seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sesuai dengan kondisi yang ada, perlu disusun rekomendasi bagi langkah selanjutnya. Untuk memudahkan penyusunan rekomendasi, seluruh fakta yang ada disajikan dalam temuan-temuan kunci atas kondisi kesiapan e-learning dosen dan mahasiswa sebagai berikut : 1. Secara umum, kompetensi teknis yang diperlukan mahasiswa dan dosen sudah siap untuk menggunakan LMS yang disediakan universitas. Dosen-dosen yang mayoritas berada pada kesiapan teknis sedang dan rendah berasal dari fakultas sastra, psikologi, dan kedokteran. Sedangkan jika dilihat dari sisi status kepegawaian dan tingkat pendidikan, dari seluruh status dan tingkat pendidikan yang ada mayoritas berada pada kompetensi tinggi. Pada mahasiswa, seluruh fakultas yang ada memiliki mahasiswa dengan mayoritas kompetensi tinggi.

57 2. Secara umum, mayoritas dosen dan mahasiswa yang diteliti memiliki kesediaan yang tinggi untuk mengikuti pelatihan dan mendayagunakan LMS yang disediakan universitas. 3. Secara keseluruhan, tingkat persepsi atas e-learning berada pada tingkat sedang. Hal ini diperkuat dengan berbagai faktor yang muncul (Gambar IV.1 dan Gambar IV.3) sebagai penghalang dijalankannya e-learning. 4. Terdapat perbedaan persepsi mengenai penggunaan e-learning. Sebagian menganggap bahwa e-learning dapat membantu memperkaya pengajaran, sebagian menganggap bahwa e-learning tidak dapat digunakan untuk mata kuliah tertentu terutama yang memerlukan banyak simbol dan mengajarkan mengenai seni. 5. Terdapat perbedaan persepsi pada saat dosen memandang kemampuan dan kemauan mahasiswa maupun sebaliknya. Sebagian dosen memandang mahasiswa kurang mampu dan mau menggunakan LMS. Sebaliknya, sebagian mahasiswa memandang dosennya kurang memiliki kemampuan untuk menggunakan LMS. 6. Informasi mengenai e-learning, baik keberadaannya, pelatihan, dan dukungan yang disediakan, tidak tersampaikan secara merata ke seluruh dosen dan mahasiswa. IV.2. Usulan Rekomendasi Menurut Rivard dan kawan-kawan dalam bukunya Information Technology and Organizational Transformation (2004), agar dapat menggunakan teknologi secara efektif, para manajer perlu memahami secara menyeluruh hal-hal yang ingin mereka capai dengan teknologi. Banyak organisasi menemukan bahwa isu-isu manusia seperti nilai-nilai, kultur, perilaku, dan politik, memainkan peranan yang besar dalam seberapa baik teknologi digunakan. Dengan demikian, manajer harus menyadari bahwa jika mereka ingin menggunakan teknologi secara efektif, isu-isu tadi harus dipandang sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk mengubah bisnis. Manajer juga harus memastikan bahwa insentif, perilaku, dan kultur yang ada konsisten dengan hal yang ingin dicapai melalui teknologi. Khusus dalam hal perangkat lunak pembelajaran, Rivard dkk. juga mengingatkan

58 bahwa manajer harus memastikan terdapatnya antarmuka yang efektif sehingga sistem yang ada dapat bekerja bersama dan para pengguna dapat mengakses data untuk keperluannya masing-masing. Berdasar pada teori di atas dan hasil analisis lanjutan, maka dibuat rekomendasi bagi langkah selanjutnya. Rekomendasi dibuat dalam 2 tingkatan, yaitu rekomendasi strategis dan rekomendasi operasional. IV.2.1. Rekomendasi Strategis Rekomendasi secara strategis yang disarankan adalah : 1. Perlu dipertimbangkan mengenai pembentukan komite untuk e-learning. Dari definisi e-learning yang digunakan, penerapan e-learning di UKM masih ada pada tahap awal, sehingga masih banyak hal yang harus dilakukan dan keputusan yang harus diambil terkait penyelenggaraan e-learning jika memang e-learning ingin diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Komite dapat bekerja sama dengan BPPJM (Badan Perencanaan Pengendalian Jaminan Mutu) dan TLC (Teaching and Learning Center) agar seluruh inisiatif e-learning yang telah dan akan ada dapat diukur terhadap sasaran yang diinginkan dalam peningkatan pengajaran dan pembelajaran. Di luar itu, komite dapat berperan dalam mengawal jalannya implementasi strategi e- learning sehingga pembentukan budaya e-learning dapat relatif lebih cepat diwujudkan. 2. Perlu dipertimbangkan dibentuknya kebijakan mengenai pendayagunaan e- learning di universitas. Dengan adanya kebijakan ini diharapkan dapat diturunkan aturan-aturan yang jelas mengenai pendayagunaan e-learning, termasuk di dalamnya aturan mengenai reward and punishment. Selain itu, dengan adanya kebijakan yang jelas mengenai e-learning, dapat dipastikan akan terdapat pemberian anggaran yang jelas bagi implementasi e-learning. 3. Perlu dilakukan tinjauan ulang terhadap arsitektur teknologi informasi universitas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara pasti dengan cara apakah arsitektur teknologi yang ada akan mendukung kebutuhan e-learning. Sejauh mana infrastruktur yang ada perlu dikembangkan, sejauh mana fasilitas

59 berkoneksi disediakan, dan dalam bentuk apakah integrasi LMS dan sistem utama akan dilakukan. 4. Perlu adanya perbaikan sistem komunikasi universitas. Baik universitas memutuskan untuk mengembangkan e-learning lebih lanjut maupun tidak, perbaikan dalam hal ini sangat diperlukan. Tidak tersampaikannya informasi terkait e-learning menunjukkan adanya rantai komunikasi yang terputus. Untuk itu dapat dipertimbangkan agar pada saat mengkomunikasikan hal yang harus diketahui seluruh dosen maupun mahasiswa, tidak hanya digunakan surat dan papan pengumuman, tetapi mendayagunakan juga channel komunikasi lain yang tersedia di universitas. 5. Perlu dipertimbangkan adanya mekanisme yang mendukung continuous improvement untuk e-learning. Dengan adanya komite, kebijakan, aturan, dan ukuran yang jelas dalam penyelenggaraan e-learning, diharapkan dapat dikumpulkan data-data yang diperlukan secara periodik untuk mengetahui kondisi yang ada dan menjadi dasar bagi pengambilan keputusan selanjutnya bagi perbaikan pelaksanaan e-learning. IV.2.2. Rekomendasi Operasional Selanjutnya, rekomendasi secara operasional yang disarankan adalah : 1. Dilakukan sosialisasi ulang secara menyeluruh pada dosen dan mahasiswa mengenai e-learning. Poin-poin utama yang perlu disampaikan adalah : 1. Informasi adanya LMS di universitas. 2. Kebijakan dan aturan pendayagunaan LMS. 3. Fasilitas dan dukungan yang disediakan universitas. Jika universitas mensyaratkan penggunaan LMS secara wajib bagi dosen luar biasa dan luar biasa khusus, berarti penyediaan fasilitas harus meliputi juga penyediaan tempat akses khusus bagi para dosen tersebut. 4. Nilai tambah pendayagunaan e-learning bagi pembelajaran, termasuk bagi mata kuliah dengan banyak simbol maupun mata kuliah seni. Secara singkat, cara pendayagunaan LMS yang disarankan bagi tiap fakultas terdapat pada Tabel IV.2.

60 5. Hasil assessment terakhir mengenai kondisi kesiapan dosen dan mahasiswa. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan dosen dan mahasiswa dalam hal kemampuan melaksanakan e-learning, juga untuk menghindari terjadinya ketidakpercayaan dosen pada mahasiswa maupun sebaliknya, dalam mendayagunakan e-learning. 6. Jadwal-jadwal pelatihan yang tersedia. Tabel IV.2. Rekomendasi Cara Pendayagunaan LMS Tiap Fakultas Fakultas Kedokteran, Teknik, Psikologi, Sastra, Ekonomi, Seni Rupa dan Disain, Teknologi Informasi Kedokteran, Psikologi Sastra Seni Rupa dan Disain Teknik, Teknologi Informasi Cara Pendayagunaan Penempatan materi kuliah berupa teks, gambar, suara, dan video. Diskusi menggunakan fasilitas chat. Pemberian tugas dan kuis. Pemberian referensi dan links yang mendukung pembelajaran Sebagai contoh, dapat diberikan gambar atau video mengenai faal tubuh Sebagai contoh, dapat diberikan gambar atau video mengenai hurufhuruf Cina atau Jepang Video singkat atau link atas video tertentu untuk dianalisis mahasiswa dari sisi kesusastraannya. Sebagai contoh, dapat diberikan berbagai gambar yang mendukung materi kuliah, video atau links mengenai berbagai teknik yang digunakan untuk menghasilkan karya seni. Sebagai contoh, dapat diberikan gambar atau video mengenai cara kerja suatu komponen. 2. Diadakan pelatihan-pelatihan penggunaan LMS bagi dosen dan mahasiswa dengan jadwal-jadwal yang dapat dipilih dan telah direncanakan dengan baik. Untuk menghindari perbedaan kemampuan yang terlalu besar antar peserta pelatihan, pelatihan dapat dibuat dalam beberapa tingkatan, misalnya tingkat dasar dan mahir, dan dilakukan per fakultas. 3. Dibuat user group untuk dosen dan mahasiswa sehingga antar pengguna dapat saling berbagi tips dan saling membantu dalam mendayagunakan e-learning.

61 Hal ini juga sekaligus digunakan untuk menurunkan dampak isu bahwa LMS universitas kurang user friendly yang membawa persepsi bahwa LMS universitas sulit digunakan. 4. Dibentuk tim pendukung teknis di tiap fakultas yang dapat dihubungi dengan mudah baik oleh dosen maupun mahasiswa. 5. Diadakan program penyediaan laptop dan koneksi Internet dengan skema pembiayaan menarik bagi dosen dan mahasiswa. Hal ini untuk mengurangi dampak isu kurangnya fasilitas dan biaya koneksi yang mahal. 6. Jika aturan mengenai reward and punishment dalam penggunaan e-learning telah jelas, keharusan penggunaan e-learning dapat dimasukkan sebagai target kinerja dosen. Waktu untuk mendayagunakan e-learning juga harus diperhitungkan dalam jam kerja dosen.