PERCOBAAN II ENCODER DAN DECODER KODE SIKLIK

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN TEKNIK PENGKODEAN ENCODER DAN DECODER KODE SIKLIK

LAPORAN TEKNIK PENGKODEAN METODE DETEKSI DAN KOREKSI PADA KODE SIKLIK

PERCOBAANV METODE DETEKSI DAN KOREKSI PADA KODE SIKLIK

Teknik Telekomunikasi - PJJ PENS Akatel Politeknik Negeri Elektro Surabaya Surabaya

LAPORAN TEKNIK PENGKODEAN ENCODER DAN DECODER KODE KONVOLUSI

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Linear Block Code

Implementasi Encoder dan decoder Hamming pada TMS320C6416T

Kode Sumber dan Kode Kanal

BAB II PENGKODEAN. yang digunakan untuk melakukan hubungan komunikasi. Pada sistem komunikasi analog, sinyal

Encoding dan Decoding Kode BCH (Bose Chaudhuri Hocquenghem) Untuk Transmisi Data

Deteksi dan Koreksi Error

SIMULASI KODE HAMMING, KODE BCH, DAN KODE REED-SOLOMON UNTUK OPTIMALISASI FORWARD ERROR CORRECTION

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: ( Print) A-192

DESAIN ENCODER-DECODER BERBASIS ANGKA SEMBILAN UNTUK TRANSMISI INFORMASI DIGITAL

BAB II DASAR TEORI. 7. Menuliskan kode karakter dimulai dari level paling atas sampai level paling bawah.

SISTEM PENGKODEAN. IR. SIHAR PARLINGGOMAN PANJAITAN, MT Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara

BAB 3 MEKANISME PENGKODEAAN CONCATENATED VITERBI/REED-SOLOMON DAN TURBO

REALISASI ERROR-CORRECTING BCH CODE MENGGUNAKAN PERANGKAT ENKODER BERBASIS ATMEGA8535 DAN DEKODER MENGGUNAKAN PROGRAM DELPHI

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Convolutional Coding

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

Error Correcting Code Menggunakan Kode Low Density Parity Check (LDPC) Kristy Purba ( ) ABSTRAK

Perbandingan rate kode konvolusi dan aplikasinya pada cdma

Desain dan Simulasi Encoder-Decoder Berbasis Angka Sembilan Untuk Transmisi Informasi Digital

Implementasi Encoder dan Decoder Hamming pada DSK TMS320C6416T

SIMULASI LOW DENSITY PARITY CHECK (LDPC) DENGAN STANDAR DVB-T2. Yusuf Kurniawan 1 Idham Hafizh 2. Abstrak

PERBANDINGAN KINERJA KODE HAMMING PADA CHANNEL AWGN

ANALISIS ALGORITMA KODE KONVOLUSI DAN KODE BCH

BAB III PEMBAHASAN. Teori Pengkodean (Coding Theory) adalah ilmu tentang sifat-sifat kode

VISUALISASI KINERJA PENGKODEAN MENGGUNAKAN ALGORITMA VITERBI

DECODER. Pokok Bahasan : 1. Pendahuluan 2. Dasar-dasar rangkaian Decoder. 3. Mendesain rangkaian Decoder

PEDOMAN PENGGUNAAN SIMULATOR PENYANDIAN DAN PENGAWASANDIAN SISTEM KOMUNIKASI BERBASIS PERANGKAT LUNAK VISUAL C#

Implementasi Encoder dan Decoder Hamming pada DSK TMS320C6416T

Perancangan Dan Simulasi Punctured Convolutional Encoder Dan Viterbi Decoder Dengan Code Rate 2/3 Menggunakan Raspberry Pi

UNIVERSITAS INDONESIA

ERROR DETECTION. Parity Check (Vertical Redudancy Check) Longitudinal Redudancy Check Cyclic Redudancy Check Checksum. Budhi Irawan, S.Si, M.

BAB I PENDAHULUAN. digital sebagai alat yang penting dalam teknologi saat ini menuntut adanya sistem

BAB I PENDAHULUAN. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan media telephone, handphone,

SIMULASI DETEKSI BIT ERROR MENGGUNAKAN METODE HAMMING CODE BERBASIS WEB

RANGKUMAN TEKNIK KOMUNIKASI DATA DIGITAL

Tugas Teori Persandian. Step-by-Step Decoding

Pengkodean Kanal Reed Solomon Berbasis FPGA Untuk Transmisi Citra Pada Satelit Nano

III. METODE PENELITIAN

PENYANDIAN SUMBER DAN PENYANDIAN KANAL. Risanuri Hidayat

PARITY GENERATOR & CHECKER

TUGAS AKHIR SIMULASI PENGKODEAN HAMMING UNTUK MENGHITUNG BIT ERROR RATE

Sifat Dan Karakteristik Kode Reed Solomon Beserta Aplikasinya Pada Steganography

DETEKSI DAN KOREKSI MULTI BIT ERROR DENGAN PARTITION HAMMING CODE

Block Coding KOMUNIKASI DATA OLEH : PUTU RUSDI ARIAWAN ( )

SIMULASI PENGIRIMAN DAN PENERIMAAN INFORMASI MENGGUNAKAN KODE BCH

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Kode Konvolusi pada Modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) Menggunakan WARP

Makalah Teori Persandian

Introduction to spread spectrum (SS) Alfin Hikmaturokhman,MT

BAB II KAJIAN TEORI. Himpunan merupakan suatu kumpulan obyek-obyek yang didefinisikan. himpunan bilangan prima kurang dari 12 yaitu A = {2,3,5,7,11}.

ENCODING DAN DECODING KODE HAMMING SEBAGAI KODE TAK SIKLIK DAN SEBAGAI KODE SIKLIK Lilik Hardianti, Loeky Haryanto, Nur Erawaty

BAB II KAJIAN TEORI. definisi mengenai grup, ring, dan lapangan serta teori-teori pengkodean yang

ANALISA KINERJA OFDM MENGGUNAKAN TEKNIK PENGKODEAN HAMMING

BAB VI ENCODER DAN DECODER

ABSTRAK. sebesar 0,7 db.

2. Teori Penunjang Latar Belakang LDPC LDPC pertama kali ditemukan oleh Galagher pada 1960 dan hampir tidak dianggap. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Modulation. Channel. Demodulation. Gambar 1.1. Diagram Kotak Sistem Komunikasi Digital [1].

BAB III PEMODELAN MIMO OFDM DENGAN AMC

ANALISIS UNJUK KERJA CODED OFDM MENGGUNAKAN KODE CONVOLUTIONAL PADA KANAL AWGN DAN RAYLEIGH FADING

Implementasi Encoder dan Decoder Cyclic Redundancy Check Pada TMS320C6416T

KOREKSI KESALAHAN. Jumlah bit informasi = 2 k -k-1, dimana k adalah jumlah bit ceknya. a. KODE HAMMING

TRANSKODING PULSE CODE MODULATION 64 KB/S DAN LOW DELAY CODE EXCITED LINEAR PREDICTION 16 KB/S

BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN SIMULASI

BAB 1 PENDAHULUAN. mempermudah aktivitas sehari-hari. Penggunaan komunikasi dan media komputer

B A B VI DETEKSI DAN KOREKSI ERROR

Implementasi Convolutional Code dan Viterbi Decode pada DSK TMS320C6416T

Fast Correlation Attack pada LILI-128

Bab II. Teori Encoding-Decoding Reed-Solomon Code

PERCOBAAN 10. PARITY GENERATOR DAN CHECKER

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 13 Kompresi Citra. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

C. ALAT DAN BAHAN 1. XOR_2 2. LOGICTOGGLE 3. LOGICPROBE (BIG)

Analisis Kinerja Convolutional Coding dengan Viterbi Decoding pada Kanal Rayleigh Tipe Frequency Non-Selective Fading

Implementasi Encoder dan Decoder BCH Menggunakan DSK TMS320C6416T

BAB I PENDAHULUAN. Kemungkinan terjadinya pengiriman ulang file gambar akibat error, yaitu karena : noise,

FLOW CONTROL & ERROR CONTROL. Fungsi SUBLAYER LLC pada datalink

PERANCANGAN APLIKASI PENGACAKAN CITRA MENGGUNAKAN M-SEQUENCE BERDASARKAN PARAMETER

Implementasi Encoder dan Decoder BCH Menggunakan DSK TMS320C6416T

William Stallings Komunikasi Data dan Komputer Edisi ke 7. Teknik Komunikasi Data Digital

IMPLEMENTASI ENCODER SANDI REED SOLOMON PADA CONTROLLER AREA NETWORK

RANCANG BANGUN RANGKAIAN CONVOLUTIONAL ENCODER DAN VITERBI DECODER MENGGUNAKAN DSK TMS320C6713 BERBASIS SIMULINK SKRIPSI

Chapter 6 Input/Output

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 15 Nomor ISSN Kinerja Kode Rapid Tornado Dengan Reed-Solomon Precode

Rangkaian Kombinasional

Rancang Bangun Penyandian Saluran HDB3 Berbasis FPGA

BAB IV HASIL SIMULASI DAN ANALISIS

Modul Praktikum Analisis Numerik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi dari penelitian ini diskemakan dalam bentuk flowchart seperti tampak

PERANCANGAN APLIKASI DETEKSI BIT CHECK IN ERROR PADA TRANSMISI DATA TEXT DENGAN SINGLE ERROR CORRECTION MENGGUNAKAN ALGORITMA HAMMING CODE

KOREKSI KESALAHAN PADA SISTEM DVB-T MENGGUNAKAN KODE REED-SOLOMON

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan

Transkripsi:

PERCOBAAN II ENCODER DAN DECODER KODE SIKLIK. Tujuan : Setelah melakukan praktikum, diharapkan mahasiswa dapat : Membangkitkan generator siklik dan bit informasi yang telah ditentukan menggunakan matlab. Menghasilkan codeword dari data informasi yang telah ditentukan menggunakan generator polinomial tertentu (pengkodean data). Melakukan proses decoding dari codeword yang diperoleh dari proses sebelumnya. Melakukan pengkodean tanpa dan dengan error correction. 2. Dasar Teori : Pengertian Kode Siklik Menurut definisinya, siklik berarti putaran. Jadi dikatakan kode siklik karena kode-kode vektornya merupakan versi putaran kode vektor lainnya, misal : codeword [x n, x, x,, x n- ], maka jika diputar [x, x,, x n-, x n ] juga merupakan codeword dari kode siklik. Telah dijelaskan pada bab yang lain bahwa kode blok disusun dengan menggunakan matrik vektor, sedangkan kode siklik di gambarkan sebagai deretan polinomial beserta koefisiennya. Koefisien polinomial inilah yang sangat membantu dalam pembuatan struktur kode siklik. Kode siklik dibagi menjadi 2 macam, yaitu kode siklik sistematik dan non sistematk. Dan mempunyai struktur (n,k) dengan derajat polinomial tertinggi (n-k). Kode Siklik Sistematik Dengan generator polinomial g(x) dari sebuah kode siklik, codeword dapat dibentuk secara matematis dengan rumusan : c (,,..., nk, d, d,..., dk )...()

Dari persamaan diatas, informasi polinomial d(x) dan check polinomial (x) dapat dinyatakan sebagai berikut : d ( x) d d x... d k x ( x) x... k x n k nk...(2)...(3) dimana, (x) adalah sisa pembagian polinomial berderajat n-k- atau kurang, yang diperoleh dari pembagian x nk d(x) dengan g(x). x n k d( x) : g( x) q( x) r( x)...(4) dengan, q(x) adalah hasil bagi r(x) adalah sisa pembagian Kode siklik non sistematik Pembentukan kode siklik non sistematik lebih mudah daripada pembentukan kode siklik sistematik. Dari generator polinomial yang telah didapatkan, dikalikan dengan data informasi untuk mendapatkan codeword non sistematik. Perbedaan yang mendasar antara kode siklik sistematik dan non sistematik adalah pada codeword yang dihasilkan oleh encodernya. Pada kode sistematik dapat dibedakan antara bit-bit informasi dengan bit-bit paritynya, sedangkan pada kode non sistematik tidak dapat dibedakan. Karena sifatnya tersebut, maka kode siklik yang banyak digunakan adalah kode siklik yang sistematik. Proses Encoding Kode Siklik. Secara blok diagram encoder dengan generator polinomial g(x)=+x+x 3 dapat digambarkan pada gambar. Sebuah kode siklik (7,4) mempunyai : Generator polinomial g(x) = +x+x 3 Urutan informasi yang akan dikirim d = () Informasi polinomial d(x) = +x Karena n-k = 3, maka didapatkan x 3.d(x) = x 3 +x 4

g(x)=.x +.x+.x 2 +.x 3 gate r i 2 r i r i r o r r 2 r o r o r o 2 parity Informasi d(x) codeword output c (x) Gambar. Encoder kode siklik dengan g(x)=+x+x 3 Pembagian x 3 +x 4 dengan g(x) = +x+x 3, menghasilkan sisa polinomial : (x) = +x 2. Jadi code polinomial yang didapat adalah : c(x) = + x 2 +x 3 +x 4 sehingga codeword (data yang telah dikodekan) c = () atau dapat dinyatakan bahwa : c(x) = d(x). g(x) = (+x)(+x+x 3 ) = +x 2 +x 3 +x 4 Sehingga codeword (data yang telah dicodekan) c = () Proses Decoding Kode Siklik Secara umum decoder kode siklik dapat ditunjukkan dengan blok diagram seperti gambar 2.Secara prinsip prosedur koreksi kesalahan pada kode siklik (sesuai blok diagram diatas) adalah sebagai berikut : a. Step. Vektor yang diterima digeser ke register buffer dan register syndrome. b. Step 2. Setelah perhitungan syndrome dan semua bit digeser ke buffer, isi register syndrome dibaca oleh detektor. Bila output detektor = maka isi register

syndrome berkaitan dengan pola error yang dapat dikoreksi dengan error terletak di buffer paling kanan. Koneksi feedback input Register Syndrome Detektor pola error (rangkaian logic kombinatorial) highest order position S out S in S in S out Register buffer Vektor input yang diterima Gambar 2. Blok Diagram Dekoder Kode Siklik Vektor yang telah dikoreksi c. Step 3. Digit yang diterima pertama digeser keluar, secara bersamaan isi register syndrome juga digeser keluar, bila bit pertama error, output detektor akan yang akan digunakan untuk koreksi error pada bit pertama tersebut. Output detektor juga digeser ke register syndrome untuk memodifikasi syndrome. Isi syndrome berkaitan dengan isi buffer berikutnya. d. Step 4. Syndrome yang baru digunakan untuk mengecek apakah ada kesalahan pada bit kedua seperti halnya pada bit pertama, bila ada dilakukan koreksi. e. Step 5. Proses diatas berlangsung digit demi digit sampai semua vektor digeser keluar buffer. 3. Perangkat Yang Digunakan : a. PC yang berisi program aplikasi matlab b. Disket, flash disk, memory card

4. Langkah-langkah Percobaan: A. POLINOMIAL, MATRIKS GENERATOR, DAN MATRIKS PARITY KODE SIKLIK A.. Membangkitkan polinomial kode siklik (7,4) dengan MATLAB >> p=cyclpoly(7,4) p = Menunjukkan bahwa polinomial yang diperoleh adalah p (x) = x + x + x 2 + x 3. Dari langkah A, untuk Kode siklik (n,k) dibutuhkan generator dengan derajat polinomial tertinggi (n-k). Untuk kode siklik (7,4) berapa berderajat polinomial generator tertinggi yang diperoleh dari percobaan? apakah sudah sesuai dengan teori? A2. Membangkitkan matrik parity dan matrik generator kode siklik (7,4) denganmatlab. >> [h,g]=cyclgen(7, p) h = g = 2. Cobalah mengulangi langkah A2 dengan menggunakan polinomial p yang lain, misal : p=[ ], p2=[ ], p3=[ ]. Apa yang terjadi? apakah ada kaitannya antara p, h dan g pada commanprogram tersebut? Disebut apakah p, h dan g menurut teori? B. ENKODING DAN DEKODING KODE SIKLIK (Tanpa Error) B. Mengamati hasil pengkodean (encodinng) kode siklik >> p=cyclpoly(7,4);

p = >> [h,g]=cyclgen(7, p); g = >> pesan=[ ] pesan = >> codeword=encode(pesan,7,4,'cyclic') codeword = 3. Bagaimana pola dari hasil pengkodean? Adakah kaitannya dengan struktur kode siklik? 4. Cobalah mengulangi langkah B, dengan mengganti pesan menjadimsg = [ ]. Apakah pengkodean berhasil dengan baik? Beri penjelasan secara teoritis. B2. Mengamati hasil pengkodean kembali (decoding) kode siklik >>pesan_terima=decode(codeword,7,4,'cyclic') pesan_terima = 5. Cek hasil pesan yang dikirim dengan pesan yang diterima setelah mengalami proses coding dan decoding, apakah hasilnya sama? mengapa demikian? % Gunakan perintah pengecekan >> cek=[pesanpesan_terima] cek = >> cek=[pesan' pesan_terima']

cek = %Mengamati bit error dan rationya >> [number,ratio] = biterr(pesan',pesan_terima') number = ratio = %Mengeplot pesan tanda noise >> subplot(3,,) >>stem(pesan'b') >>title('pesan Yang Dikirim') >>subplot(3,,2) >>stem(codeword,'m') >>ylabel('codeword Tanpa Error') >>subplot(3,,3) >>stem(pesan_terima,'r') >>xlabel('pesan Yang Diterima') Pesan Yang Dikirim.5 Codeword Tanpa Error.5 2 2.5 3 3.5 4.5 2 3 4 5 6 7.5.5 2 2.5 3 3.5 4 Pesan Yang Diterima

C. ENKODING DAN DEKODING KODE SIKLIK (Ditambah Dengan Error) % Untuk mempermudah pengamatan, codeword tanpa errordiambil dari percobaan sebelumnya % Tambahkam error pada bit ke 5 pada codeword sebelumnya >> error=zeros(7,); >> error([5],)= error = %Penambahan noise pada codeword >> code_error=xor(error,codeword ) code_error = >>code_noise=fix(code_error) code_noise = >> cek=[codeword code_noise] cek =

6. Cek hasil code dan code terima setelah ditambah dengan error? pada bit keberapa codeword menjadi tidak sama? Beri penjelasan secara ilmiah. %Proses decoding dari codeword bernoise >> pesan_terima=decode(code_noise,7,4,'cyclic') pesan_terima = >> cek_pesan=[pesan' pesan_terima] cek_pesan = % Mengeplot pesan_terima dengan noise >>subplot(3,,) >>stem(pesan,'b') >>title('pesan Yang Dikirim') >>subplot(3,,2) >>stem(code_terima,'m') >>ylabel('codeword Dengan 3 Bit Error') >>subplot(3,,3) >>stem(pesan_terima_noise,'r') >>xlabel('pesan Yang Diterima')

Pesan Yang Dikirim.5 Codeword Dengan 3 Bit Error.5 2 2.5 3 3.5 4.5 2 3 4 5 6 7.5.5 2 2.5 3 3.5 4 Pesan Yang Diterima 7.Cek pesan sebelum dikodekan maupun setelah dikodekan, bagaimana menurut anda? apakah bit error yang ditambahkan berpengaruh terhadap informasi yang diterima? Beri penjelasan secara teoritis. 5. Listing Program %Percobaan p=cyclpoly(7,3); [h,g]=cyclgen(7, p) pesan =[ ] %pesan=[ ] %pesan=[ ]; %pesan=[ ]; codeword=encode(pesan,7,3,'cyclic'); pesan_terima=decode(codeword,7,3,'cyclic'); cek=[pesan pesan_terima(:length(pesan))]; [number,ratio] = biterr(pesan',pesan_terima'); n=length(codeword); error=zeros(n,); error([,7],)=

%error([3,5,7],)=; code_error=xor(error,codeword'); code_noise=fix(code_error); cek=[codeword' code_noise]; pesan_terima=decode(code_noise,7,3,'cyclic'); cek_pesan=[pesan' pesan_terima(:length(pesan))] subplot(3,,) stem(pesan,'b') title('pesan Yang Dikirim') subplot(3,,2) stem(code_noise,'m') ylabel('codeword Dengan Bit Error') subplot(3,,3) stem(pesan_terima,'r') xlabel('pesan Yang Diterima') 6. Hasil Simulasi