BAB II JARINGAN MICROWAVE

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Radio dan Medan Elektromagnetik

Perencanaan Transmisi. Pengajar Muhammad Febrianto

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER

ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM

Kata Kunci : Radio Link, Pathloss, Received Signal Level (RSL)

ATMOSPHERIC EFFECTS ON PROPAGATION

Sistem Transmisi Telekomunikasi. Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro

Materi II TEORI DASAR ANTENNA

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

III. METODE PENELITIAN

PERANCANGAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB I PENDAHULUAN. ke lokasi B data bisa dikirim dan diterima melalui media wireless, atau dari suatu

BAB III PERFORMANSI AKSES BWA

BAB IV ANALISA HASIL PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM. Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima

Jurnal ECOTIPE, Volume 1, No.2, Oktober 2014 ISSN

TEKNIK DIVERSITAS. Sistem Transmisi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget

Analisa Perencanaan Power Link Budget untuk Radio Microwave Point to Point Frekuensi 7 GHz (Studi Kasus : Semarang)

FADING REF : FREEMAN FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO 1

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN

PENGARUH SPACE DIVERSITY TERHADAP PENINGKATAN AVAILABILITY PADA JARINGAN MICROWAVE LINTAS LAUT DAN LINTAS PEGUNUNGAN

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Sistem Transmisi KONSEP PERENCANAAN LINK RADIO DIGITAL

SIMULASI LINK BUDGET PADA KOMUNIKASI SELULAR DI DAERAH URBAN DENGAN METODE WALFISCH IKEGAMI

BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT

BAB IV. Pada bab ini akan dibahas mengenai perhitungan parameter-parameter pada. dari buku-buku referensi dan dengan menggunakan aplikasi Java melalui

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN (lanjutan)

BAB IV ANALISIS KEGAGALAN KOMUNIKASI POINT TO POINT PADA PERANGKAT NEC PASOLINK V4

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV ANALISA PERFORMANSI BWA

PERANCANGAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB III LANDASAR TEORI

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

Dasar Sistem Transmisi

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FREKUENSI TINGGI DAN GELOMBANG MIKRO

BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

BAB III RADIO MICROWAVE

PERANCANGAN (lanjutan)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digunakan adalah dengan melakukan pengukuran interference test yaitu

BAB II PROPAGASI GELOMBANG RADIO DALAM PERENCANAAN JARINGAN SISTEM SELULAR

BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN ANALISA. radio IP menggunakan perangkat Huawei radio transmisi microwave seri 950 A.

SINGUDA ENSIKOM VOL. 7 NO. 2/Mei 2014

ANALISIS UNJUK KERJA RADIO IP DALAM PENANGANAN JARINGAN AKSES MENGGUNAKAN PERANGKAT HARDWARE ALCATEL-LUCENT 9500 MICROWAVE PACKET RADIO (MPR)

BAB II PROPAGASI SINYAL. kondisi dari komunikasi seluler yaitu path loss, shadowing dan multipath fading.

Istilah istilah umum Radio Wireless (db, dbm, dbi,...) db (Decibel)

Kata Kunci : Link Budget, Path Calculation, RSL (Receive Signal Level), Fade Margin. Abstract

BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL

PROPOSAL TUGAS AKHIR. PERENCANAAN SITE NODAL TRANSMISI PADA SISTEM SELULER STUDI KASUS: PT INDOSAT Tbk

BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT

BAB IV EVALUASI KINERJA SISTEM KOMUNIKASI SATELIT

BAB II DASAR TEORI 2.1 Posisi Teknologi WiMAX

BAB III PRINSIP DASAR MODEL PROPAGASI

ANALISIS PERHITUNGAN FRESNEL ZONE WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT

LAPORAN PENELITIAN PRODUK TERAPAN OPTIMALISASI KINERJA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENCAPAIAN JAKARTA SEBAGAI KOTA RAMAH LINGKUNGAN PENGUSUL

TUGAS MAKALAH KOMUNIKASI SATELIT. Teknologi Very Small Aperture Terminal (VSAT)

Komunikasi Gelombang Ruang dan Gelombang Ruang Bebas

PROPAGASI. REFF : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

PENGARUH FADING PADA SISTEM KOMUNIKASI GELOMBANG MIKRO TETAP DAN BERGERAK

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Antenna NYOMAN SURYADIPTA, ST, CCNP

Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Telkom BANDUNG, 2012

BAB II DASAR TEORI. atau gedung. Dengan performa dan keamanan yang dapat diandalkan,

Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi, IT Telkom Jl. D. I. Panjaitan No. 128, Purwokerto, *

BAB IV RANCANGAN JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO DENGAN PATHLOSS 4.0

BAB III PERANCANGAN SFN

Perancangan Sistem Komunikasi Radio Microwave Antara Onshore Dan Offshore Design of Microwave Radio Communication System Between Onshore and Offshore

Antisipasi Pengaruh Pemudaran Gelombang (Fading) pada Transmisi Gelombang Mikro Digital dengan Space Diversity dan Frequency Diversity

2.2 FIXED WIRELESS ACCESS (FWA)

I. PENDAHULUAN TNI AU. LATAR BELAKANG Perkembangan Teknologi Komunikasi. Wireless : bandwidth lebih lebar. Kebutuhan Sarana Komunikasi VHF UHF SBM

BAB II PROPAGASI GELOMBANG RADIO. sistem komunikasi dengan kabel [2]. Gelombang radio adalah radiasi energi

Transmisi Signal Wireless. Pertemuan IV

BAB 2 DASAR TEORI. Sistem telekomunikasi yang cocok untuk mendukung sistem komunikasi

BAB 2 SISTEM KOMUNIKASI VSAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PERENCANAAN

MEDIA TRANSMISI. Sumber: Bab 4 Data & Computer Communications William Stallings. Program Studi Teknik Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknologi Telkom

PERHITUNGAN PATHLOSS TEKNOLOGI 4G

Planning cell site. Sebuah jaringan GSM akan digelar dikota Bandung Tengah yang merupakan pusat kota yang memiliki :

Radio Propagation. 2

BAB II KANAL WIRELESS DAN DIVERSITAS

PERANCANGAN JALUR GELOMBANG MIKRO 13 GHz TITIK KE TITIK AREA PRAWOTO UNDAAN KUDUS Al Anwar [1], Imam Santoso. [2] Ajub Ajulian Zahra [2]

ANALISA FADING PADA LINK KOMUNIKASI MICROWAVE POINT TO POINT UNTUK PERENCANAAN JARINGAN INFRASTUKTUR KOMUNIKASI NIRKABEL

BAB II KOMUNIKASI BERGERAK SELULAR GSM

BAB III PERANCANGAN SISTEM

Transkripsi:

BAB II JARINGAN MICROWAVE 2.1. Transmisi Radio Microwave Minilink berfungsi sebagai perangkat untuk menghubungkan BSC (Base Station Controller) ke BTS (Base Transceiver Station) ataupun menghubungkan BTS to BTS melalui interface udara. Minilink ini termasuk ke dalam system Transmisi Radio Microwave. Radio microwave sebagai sarana transmisi memiliki peran penting dalam telekomunikasi termasuk telepon nirkabel, tanpa sarana tersebut bagaimana mungkin pelanggan dapat melakukan hubungan dengan mitranya. Walaupun sinyal informasi sudah diterima BTS, apabila tidak ada sarana yang membawa atau mengirim sinyal tersebut menuju perangkat lain, panggilan atau kiriman SMS, data dan gambar akan gagal atau tidak pernah sampai. Dengan kata lain kegagalan percakapan atau pengiriman SMS, data maupun gambar dapat terjadi kalau radio microwave mengalami gangguan. Gambaran keterkaitan sarana tersebut dapat dilihat di sekitar kita khususnya di daerah perkotaan dimana setiap tower yang berdiri terdapat antena BTS dan radio microwave. Kedua perangkat tersebut saling mendukung, dimana perangkat BTS berhubungan dengan handphone untuk menerima sinyal informasi dan meneruskan serta memanggil kalau ada call atau SMS yang ditujukan kepada pelanggan yang bersangkutan, sedangkan Transmisi Microwave membawa atau mengirim sinyal tersebut.

Perangkat radio microwave yang digunakan BTS dalam 2 kategori yaitu outdoor unit (ODU) dan indoor unit (IDU) dan masing-masing perangkat berbeda fungsinya. Bagaimana alur sinyal informasi yang diterima radio microwave dengan frekuensi 7 Ghz, diawali dari percakapan atau SMS, data dan gambar pelanggan yang diterima BTS dalam bentuk 2 Mbps seterusnya dikirim ke perangkat Multiplexer (IDU) untuk dikumpulkan/digabungkan menjadi baseband. Selanjutnya dikirim ke perangkat Modem (IDU) untuk dirubah menjadi sinyal Intermediate Frequency (IF) sebesar 70 Mhz atau 140 Mhz tergantung dari peralatan yang digunakan. Langkah berikutnya dikirim ke perangkat Transmitter (ODU) dimana IF ditranslasi (digabung) menjadi sinyal Radio Freqeuency (RF) 7 Ghz. Pada saat translasi juga dilakukan penguatan daya dan seterusnya dipencarkan oleh antenna. Begitu juga sebaliknya, pada saat menerima sinyal informasi telepon selular dari radio microwave lawan, proses awalnya diterima antena masuk perangkat Transmitter (ODU) dalam bentuk sinyal Radio frequency (RF) 7 Ghz. Sinyal RF ini akan dirubah menjadi sinyal IF 70 Mhz atau 140 Mhz untuk dikirim ke perangkat Modem (IDU), dan sinyal IF dirubah (de modulasi) menjadi base band selanjutnya dikirim ke perangkat Multiplexer (IDU) untuk dipisahkan menjadi 2 Mbps dan dikirim ke link BTS. Beberapa radio microwave yang dioperasikan bisa jadi berbeda frekuensinya disesuaikan dengan kebutuhan maupun jarak, namun perlu diketahui frekuensi berbanding terbalik dengan jarak. Radio microwave

yang digunakan di luar kota dengan jarak 30 km menggunakan frekuensi 7Ghz, sedangkan untuk BTS yang dioperasikan di kota cenderung memakai frekuensi 18 Ghz dengan jarak 500 m s.d 2 km. Untuk jarak sedang 5 s.d 7 km menggunakan radio microwave 13 Ghz, dan frekeunsi 15 Ghz untuk jarak 3 s.d 5 km. Memanfaatkan frekuensi yang berbeda dimaksudkan untuk menghindari interferensi frekuensi. Untuk mendapatkan jarak optimal antara dua radio micrawave, harus didukung oleh besarnya diameter antena, ketinggian tower maupun penguatan power. Upaya yang dilakukan supaya kesinambungan pelayanan terjamin utamanya kualitas sinyal tetap bagus bagi microwave dengan jarak yang jauh, Pertama, pointing harus tepat sehingga tidak terjadi deviasi pancaran, Kedua, melakukan diversity yaitu space diversity dengan menambah antena penerima maupun frekuensi diversity. Dengan langkah tersebut dampak lingkungan seperti air, rawa yang dapat memantulkan pencaran dan pengaruh embun, hujan deras serta badai dapat diatasi. Langkah lain dalam menjaga kualitas, secara berkala mengukur level sinyal (Receive Signal Level) yang diterima oleh antena, saat ini yang direkomendasikan adalah 30 s.d 40 desibel (dbm) untuk antena yang berjarak jauh. Penurunan sinyal terjadi disebabkan pointing yang tidak sempurna, hujan yang sangat deras, performace perangkat turun boleh jadi karena faktor usia atau kurang pemeliharaan dan perangkat disambar petir. Apabila sistem grounding (pentanahan) tidak dibuat dengan baik untuk

melindungi perangkat, kemungkinan besar antena radio microwave menjadi sasaran sambaran petir. Seiring pengembangan teknologi telekomunikasi, terjadi terobosan dalam teknologi radio microwave sehingga mampu meningkatkan kapasitas menjadi 4 Synchronous Transfer Mode (STM -1), dimana STM - 1 sama dengan 64 E1 berarti 4 STM-1 tersedia sebanyak 7680 kanal yang dapat digunakan dalam waktu bersamaan. Kapasitas HOP mini link dapat dilihat dari jumlahnsystem/port/e1 di masing-masing block DDF. Pada umumnya mini link berkapasitas 4 E1, 8 E1, 16 E1, dan 32 E1. 2.2. Propagasi Gelombang Mikro Microwave adalah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi super tinggi (Super High Frequency, SHF), yaitu diatas 3 GHz (3x10 9 Hz). Microwave link adalah suatu link point to point yang berpropagasi menggunakan gelombang elektromagnetic pada frekuensi gelombang micro melalui ruang bebas. 2.2.1. Panjang lintasan Jarak antara antena pemancar dan antena penerima atau panjang lintasan dapat ditentukan beberapa cara, yaitu : Pengukuran pada peta topografi

Panjang lintasan didapatkan dengan cara mengukur jarak antara kedua titik antena pada peta dan hasilnya dikalikan dengan skala yang tertera. Perhitungan dari data koordinat lokasi Apabila diketahui koordinat kedua lokasi (lokasi A dan B) yang meliputi derajat dan bujurnya maka panjang lintasan dapat ditentukan dengan sebelumnya koordinat-koordinat diubah terlebih dahulu menjadi bentuk desimal dengan persamaan (2.1) : d = 2 ( lata latb) ( longa longb) 360 40091,116 + 360 1 2 2 40091,116... (2.1) dimana : d = Panjang lintasan (km) Lat A = Koordinat latitude lokasi A ( o ) Lat B = Koordinat latitude lokasi B ( o ) Long A = Koordinat longitude lokasi A ( o ) Long B = Koordinat longitude lokasi B ( o )

2.2.2. Faktor k Lintasan gelombang radio di ruang bebas akan membentuk garis lengkung, dalam penggambaran lintasan gelombang radio sebagai lurus maka jari-jari bumi perlu disesuaikan yang disebut jari-jari bumi efektif (R eff ). Perbandingan antara jari-jari bumi efektif dan jari-jari bumi nyata (Ro) didefinisikan sebagai suatu besaran yang disebut faktor k dengan persamaan (2.2) : Reff k =.. (2.2) Ro Untuk daerah Indonesia R eff didapat sebesar 8495 km, maka dengan Ro sebesar 6370 km didapatkan besarnya faktor k adalah 4/3. 2.2.3. Efek kelengkungan Bumi Pada perhitungan tinggi lengkungan bumi (earth bulge) perlu ditambahkan adanya factor k sebagai faktor koreksi. Lengkung bumi terkoreksi (h corrected ) besarnya dipengaruhi oleh jarak penghalang ke dua antenna (d 1 dan d 2 ) dan faktor k, dinyatakan dalam persamaan (2.3) sebagai : h corrected = 0,078.d1.d2 k (m).. (2.3)

dimana : d 1 = Jarak pemancar ke penghalang (km) d 2 = Jarak penghalang ke penerima (km) k = Faktor koreksi jari-jari bumi efektif h corrected = Menyatakan perbedaan tinggi permukaan bumi pada kurva permukaan bumi datar dan kurva permukaan bumi melengkung, pada titik obstacle / halangan. 2.2.4. Fresnel Zone Fresnel Zone didefinisikan sebagai tempat kedudukan titiktitik sinyal tak langsung (berbentuk ellips) dalam lintasan / link gelombang radio dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect signal) yangmempunyai beda panjang lintasan dengan sinyal langsung sebesar kelipatan ½ λ atau kelipatannya. Fresnel zone terbagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Fresnel zone 1 : jika pajang lintasan sinyal langsung dan sinyal tak langsung (batas zona) adalah ½ λ. 2. Fresnel zone 2 : jika beda panjang lintasan sinyal langsung dan tak langsung (pada batas zona) adalah 2 kali ½ λ. Secara matematis didekati dengan persamaan (2.4) : F n = 17.3 n.d1.d2.. (2.4) f.d

dimana : F n = Jarak lintasan tertentu terhadap lintasan L.O.S (meter) n = Fresnel zone ke n d 1 = Jarak ujung lintasan ( Tx atau Rx ) ke titik refleksi (km). d 2 = Jarak ujung lintasan yang lain (Rx atau Tx) ke titik refleksi (km) f = Frekuensi (GHz) D = d 1 + d 2 (km) F re s n e l Z o n e s 3 rd * 2 n d * 1 s t* * F re s n e l Z o n e s Gambar 2.1. Pembagian Fresnel Zones Pada harga clearance height (C) sebesar 0,6 kali jari-jari Fresnel, maka path loss tidak mengalami perubahan semua jenis pantulan permukaan bumi. Angka ini sering dipakai dalam

perancangan radio LOS. secara praktis tinggi daerah bebas hambatan (C) dengan persamaan (2.5) : Clearance = 0,6F 1 x h corrected (m).. (2.5) 2.3. Propagasi Line Of Sight (LOS) Hubungan line of sight biasa digunakan unutk broadband connectivity comunication, dengan frekuensi pembawa umumnya diatas 1 Ghz. Informasi yang dibawa bisa jadi adalah satu atau campuran dari informasi, contoh : Kanal telepone Informasi data Telegraph dan telex Facsimile Sesuai dengan namanya, propagasi Line of Sight (LOS) mempunyai keterbatasan pada jarak pandang penglihatan. Jadi ketinggian antena dan kelengkungan permukaan bumi merupakan faktor pembatas. Jarak jangkauannya sangat terbatas, kira-kira 30 50 mil per link, tergantung topologi dari permukaan buminya. Band frekuensi yang digunakan pada jenis propagasi ini sangat lebar, yaitu meliputi band VHF (30-300 MHz), UHF (0,3 3 GHz), SHF (3 30 GHz) dan EHF (30 300 GHz), yang sering dikenal dengan band gelombang mikro (microwave).

2.4. Penentuan Line Of Sight (LOS) Untuk penentuan LOS maka dari gambar 2.2. dapat kita analisa sistem untuk mendapatkan tinggi antena penerima dengan menentukan antena pemancar terlebih dahulu dengan menerapkan rumus segitiga maka kita dapatkan tinggi antenna penerima. Gambar 2.2. Penentuan LOS dimana : HTx = Tinggi antena total pemancar (m) HRx = Tinggi antena total penerima (m) C = Clearance (m) Ho = Tinggi Total Penghalang (m) k = Efek kelengkungan bumi (daerah iklim sedang k =¾ ) d1 = Jarak penghalang ke pemancar (m) HoT = HTx (Ho + C) (m)

HoR = (Ho + C) (m) HRx d 2 = Jarak penghalang ke penerima (m) α = Sudut Bantu 2.5. Free Space Loss Free Space Loss didefinisikan sebagai rugi-rugi propagasi di ruang bebas antara 2 antena isotropik, dimana pengaruh permukaan tanah & atmosfer diabaikan. Besarnya rugi-rugi bebas ini diberikan dalam persamaan (2.6) di bawah ini : Lfs = 92,45 + 20 log(d) + 20log(f) [db].. (2.6) dimana : d = Jarak antara pemancar dan penerima (km) f = Frekuensi (GHz) Jika sistem pemancar dan penerima : Lossy (LTx dan LRx) dan rugi-rugi atmosfer adalah Latm dengan persamaan (2.7) : P Rx = RSL = Pt + G total L fs L atm L Tx - L Rx.. (2.7) 2.5.1. Redaman Hujan Penyerapan terhadap lintasan gelombang radio oleh air hujan, mengakibatkan berkurangnya daya di penerima. Besarnya redaman akibat hujan per kilometer (A 0,01 ) dinyatakan dengan persamaan (2.8) sebagai berikut :

A 0,01 = a. R b.. (2.8) dimana : A 0,01 = Redaman hujan (db/km) R = Banyaknya curah hujan untuk daerah P (mm/jam) a, b = Koefisien regresi untuk estimasi redaman hujan spesifik a (f) = log{log (a2/a1)[log(f/f1)/log(f2/f1)]+log a}.. (2.9) b (f) = {(b2 b1).[log(f/f1)/log (f2/f1)]+b1}.. (2.10) Untuk daerah yang tidak diketahui data intensitas hujan lokalnya R dapat diperkirakan dengan melihat peta daerah iklim hujan, dari peta akan diperoleh gelombang daerah. Dengan melihat tabel intensitas curah hujan akan diketahui rain rate dalam mm/jam. Karena lintasan efektif perlu dihitung maka, karena hujan belum tentu terjadi di sepanjang lintasan, setelah diperoleh redaman spesifik dan panjang lintasan efektif, maka redaman efektif dapat dihitung dengan persamaan (2.11) sebagai berikut : A = A 0,01.L ef.. (2.11) L ef = L (1+ 0.045L).. (2.12) dimana :

A = Redaman hujan efektif (db) L ef = Panjang lintasan efektif (km) A 0,01 = Redaman hujan spesifik (db/km) 2.5.2. Redaman Atmosfer Pada prinsipnya gas-gas di atmosfer akan menyerap sebagian energi gelombang radio, dimana pengaruhnya tergantung pada frekuesi gelombang, tekanan udara dan temperatur. Pengaruh penyerapan gelombang radio oleh gas-gas seperti CO, NO, N 2 O, SO 2, O 3 dan gas lainnya dapat diabaikan, karena relatif kecil jika dibandingkan dengan penyerapan energi oleh O 2 dan H 2 O. Untuk sistem transmisi yang beroperasi pada frekuensi kerja dibawah 10 GHz redaman gas atmosfer sangat kecil dan biasanya diabaikan, sedangkan untuk system transmisi yang beroperasi pada frekuensi di atas 10 GHz redaman atmosfer sangat berpengaruh terutama pada system transmisi yang beroperasi pada frekuensi 20 GHz. Bila semua redaman sudah diketahui, lalu bisa dihitung loss total dengan persamaan (2.13) : Lfs = 92.45 + 20 Log D km + 20 Log F GHz + a + b + c + d + e... (2.13) Dimana : a = atenuasi karena uap air ( db )

b = atenuasi karena kabut tipis dan tebal ( db ), biasanya diabaikan, karena untuk frequensi 35 Ghz = 0,1 db / KM, dan pada frequensi 75 Ghz = 0,6 db / KM c = atenuasi karena oxigen d = rugi rugi karena penyerapan gas gas yang lain di atmosfer ( biasanya di abaikan ) e = atenuasi karena hujan akan di bahas lebih rinci 2.5.3. Penguatan Antena Gain atau penguatan antena ditentukan oleh frekuensi kerja yang digunakan dan diameter antenanya. Penguatan antena berguna untuk menguatkan sinyal yang diterima pada antena penerima, sehingga dapat mengurangi redaman propagasi. Antena yang banyak digunakan pada sistem transmisi gelombang radio adalah antena dengan reflector parabola, besarnya penguatan antena parabola dapat dinyatakan dengan persamaan (2.14) sebagai berikut : G = 20.4 + 20 log D + 20 log f + 20 log η.. (2.14) dimana : G = Penguatan antenna parabola (db) f = Frekuensi (GHz)

D = Diameter (m) η = efisiensi antena (0 < η <1) 2.5.4. Perhitungan Lintasan (Path Calculation) Tujuan dari path calculation adalah untuk menentukan Receive Signal Level (RSL), menentukan besarnya Fading Margin (FM) untuk memenuhi time avaibility requirement dan memenuhi BER (Bit Error Rate) requirement. Parameter-parameter yang dihitung meliputi daya pancar, besarnya redaman dan besarnya penguatan. Model link secara sederhana dapat diperlihatkan dengan daya pancar (Tx), antena sebagai fungsi dari gain (Gt dan Gr), line losses (Lt dan Lr), free space loss dan RSL. berikut : Untuk menghitung RSL dipergunakan persamaan (2.15) sebagai RSL = P T L TOT + G TOT [dbm].. (2.15) dimana : P T = Daya pancar (dbm) L TOT = Redaman saluran total dipemancar, penerima dan lintasan (db) G TOT = Gain antenna pemancar dan penerima (db)

2.6. Fading Didefinisikan sebagai variasi sinyal terima setiap saat sebagai fungsi dari phasa, polarisasi dan atau level sinyal terima. Fading terjadi akibat proses propagasi dari gelombang radio, meliputi pembiasan, pantulan, defraksi, hamburan, redaman dan ducting. Pengaruh fading terhadap sinyal terima dapat memperkuat ataupun memperlemah, tergantung besar phasa dari sinyal resultante antara sinyal langsung dan tak langsung. Karena penyebab terjadinya fading adalah variasi kondisi di atmosfer kondisi permukaan tanah, maka fading tidak dapat dipastikan secara akurat, tetapi hanya diprediksi secara statistik. Ada dua macam fading yaitu : Large Scale Fading Fading dengan ukuran besar yang terjadi disebabkan karena keberadaan obyek-obyek pemantul serta penghalang pada kanal propagasi seperti, gedung, gunung, bukit, hujan serta pengaruh kontur bumi, menghasilkan perubahan sinyal dalam hal energi, fasa, serta jeda waktu yang bersifat acak. Small Scale Fading Fading dengan ukuran kecil yang disebabkan oleh keberadaan obyek-obyek pemantul serta penghalang pada kanal propagasi seperti pohon.

2.7. Parameter Keandalan Propagasi Sinyal Untuk meramalkan propagasi system transmisi radio terlebih sulit dibandingkan dengan meramalkan kerugian propagasi pada komunikasi yang menggunakan media transmisi kabel dan optik. Karena kondisi atmosfer dan permukaan bumi berbeda satu lokasi ke lokasi yang lain dan dapat berubah sewaktu-waktu. Untuk itu perlu diperhatikan masalah kondisi lintasan propagasi, yang dapat menyebabkan putusnya suatu hubungan komunikasi. Salah satu ukuran system komunikasi radio dinyatakan dalam parameter availability. Besarnya Availability system ditentukan oleh availability dari perangkat keras dan availability propagasi. Availability propagasi ditentukan oleh kemampuan system untuk mengantisipasi pengaruh multipath fading yang dinyatakan oleh parameter fading margin (FM). 2.8. Fading Margin Untuk mengatasi pengaruh multipath fading pada penjalaran gelombang radio maka penerima harus menyediakan cadangan daya yang disebut fading margin. Besarnya fading margin yang dimiliki oleh system adalah selisih antara daya terima dan daya terima minimum. Daya terima (level threshold) merupakan batas ambang daya yang diterima. Fading margin yang dimiliki system dapat ditulis dengan persamaan (2.16) :

FM(dB) = RSL dbm - level threshold dbm.. (2.16) 2.9. Availability Availability adalah kemampuan sistem dalam memberikan pelayanan sesuai standard link yang diinginkan, persatuan waktu ( dalam % ), tanpa mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. berikut : Availability propagasi Lintasan/Path dinyatakan dengan persamaan AV prop = 1 Unavailability... (2.17) AV hop = ( AV prop ) 4 x 100%...(2.18) 2.10. Unavailability Unavailability atau OUTAGE TIME yang artinya kegagalan sistem dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standard link yang diinginkan. Dapat dinyatakan dengan persamaan (2.18) berikut : UnAv path = 6.10 5. a. b. f. L 3.10 FM / 10.. (2.19) Dimana : A = Kekasaran lintasan ( 4 = Halus, 1 = Normal, 0,25 = Sangat kasar)

b = Faktor perubahan cuaca ( 1 = Buruk, 0,5 = Daerah tropis, 0,25 = Untuk daerah kepulauan, 0,125 = untuk area kering dan pegunungan ) L = Panjang lintasan (Km). f = Frekuensi ( GHz) FM = Fading margin 2.11. LINK BUDGET Link Budget adalah anggaran daya atau perhitungan level daya yang dilakukan untuk memastikan bahwa level daya penerimaan lebih besar atau sama dengan level daya threshold.