Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. mengenai kematian akibat asma mengalami peningkatan dalam beberapa dekade

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari

BAB 1 PENDAHULUAN. udara ekspirasi yang bervariasi (GINA, 2016). Proses inflamasi kronis yang

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT

BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu inflamasi kronik dari saluran nafas yang menyebabkan. aktivitas respirasi terbatas dan serangan tiba- tiba

BAB I PENDAHULUAN. reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BALAKANG. sedang berkembang. Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma (Medlinux, (2008).

Dr. Masrul Basyar Sp.P (K)

BAB III METODE PENELITIAN

M.D. : Faculty of Medicine, University of Indonesia, Pulmonologist: Faculty of Medicine, Univ. of Indonesia, 2007.

HUBUNGAN ANTARA KONTROL ASMA dengan KUALITAS HIDUP ANGGOTA KLUB ASMA di BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).

Prevalens Nasional : 5,0% 5 Kabupaten/Kota dengan prevalens tertinggi: 1.Aceh Barat 13,6% 2.Buol 13,5% 3.Pahwanto 13,0% 4.Sumba Barat 11,5% 5.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN A.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS/ RS Dr M DJAMIL PADANG

BAB I PENDAHULUAN. masih cenderung tinggi, menurut world health organization (WHO) yang bekerja

BAB I PENDAHULUAN. mengi, sesak nafas, batuk-batuk, terutama malam menjelang dini hari. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006).

ABSTRAK PENILAIAN TINGKAT TERKONTROLNYA ASMA BERDASARKAN METODE ASTHMA CONTROL TEST TM PADA PENDERITA ASMA

BAB I PENDAHULUAN. paru-paru. Penyakit ini paling sering diderita oleh anak. Asma memiliki gejala berupa

BAB I PENDAHULUAN. Asma bronkial merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak

HUBUNGAN RIWAYAT ATOPIK ORANG TUA DAN KEJADIAN ASMA PADA ANAK USIA TAHUN DI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Serangan asma merupakan salah satu penyebab rawat inap pada anak dirawat di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 2007). World Health Organization (WHO) menyatakan lebih dari 100 juta

2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma

kekambuhan asma di Ruang Poli Paru RSUD Jombang.

BAB I PENDAHULUAN. asma di dunia membuat berbagai badan kesehatan internasional. baik, maka akan terjadi peningkatan kasus asma dimasa akan datang.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang menderita asma hingga saat ini. Prevalensi asma di Indonesia tahun 2003

Tingkat Kontrol Asma Mempengaruhi Kualitas Hidup Anggota Klub Asma di Balai Kesehatan Paru

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu penyakit jalan nafas obstruktif intermitten,

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis dan Rancangan Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif

BAB I PENDAHULUAN. dunia, diantaranya adalah COPD (Chonic Obstructive Pulmonary Disease)

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupan manusia, kesehatan merupakan hal yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan aliran udara yang menetap pada saluran napas dan bersifat progresif.

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari bahasa Yunani (yang berarti terengah-engah) dan pertama kali

BAB I PENDAHULUAN. American Thoracic Society (ATS) dan European Respiratory Society (ERS)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan. penelitian, manfaat penelitian sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN. negara maju tetapi juga di negara berkembang. Menurut data laporan dari Global

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. umumnya. Seseorang bisa kehilangan nyawanya hanya karena serangan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional).

PENATALAKSANAAN ASMA MASA KINI

BAB I PENDAHULUAN. termasuk kelompok gangguan saluran pernapasan kronik ini. Dalam beberapa

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi asma semakin meningkat dalam 30 tahun terakhir ini terutama di

BAB 1 PENDAHULUAN. yang ditandai dengan pembatasan aliran udara yang irreversibel (Celli & Macnee,

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) termasuk ke dalam penyakit

I. PENDAHULUAN. mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau

BAB I PENDAHULUAN. sering timbul dikalangan masyarakat. Data Report Word Healt Organitation

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di. dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem

HUBUNGAN ANTARA LAMA SENAM ASMA DENGAN FREKUENSI SERANGAN ASMA DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian. Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasanudin, No. 806 Salatiga, Jawa Tengah. Sesuai dengan SK

Faktor Risiko dan Faktor Pencetus yang Mempengaruhi Kejadian Asma pada Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang

Studi Perilaku Kontrol Asma pada Pasien yang tidak teratur di Rumah Sakit Persahabatan

ANALISIS RASIONALITAS PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID PADA PENYAKIT ASMA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD X TAHUN 2012 NASKAH PUBLIKASI

BAB V PEMBAHASAN. balita yang menderita ISPA adalah kelompok umur bulan yaitu

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Karakteristik Pasien PPOK Eksaserbasi Akut

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang banyak ditemui dan

PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA DALAM PENATALAKSANAAN TERKINI SERANGAN ASMA PADA ANAK

PENGARUH PEMBERIAN SENAM ASMA TERHADAP FREKWENSI KEKAMBUHAN ASMA BRONKIAL

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DAN KESESUAIANNYA PADA PASIEN GERIATRI RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL

STUDI KARAKTERISTIK PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) DI RSUD A.W SJAHRANIE SAMARINDA PERIODE JANUARI- DESEMBER 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. pada saluran napas yang melibatkan banyak komponen sel dan elemennya, yang sangat mengganggu, dapat menurunkan kulitas hidup, dan

BAB I PENDAHULUAN. Asma adalah penyakit kronis saluran napas yang patogenesis. dasarnya adalah oleh proses inflamasi dan merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Asma adalah penyakit saluran pernafasan obstruktif intermitten, reversible dimana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. baik di negara berkembang maupun di negara maju. Penyakit asma termasuk lima

HUBUNGAN RIWAYAT ATOPIK ORANG TUA DAN KEJADIAN ASMA PADA ANAK USIA TAHUN DI SEMARANG JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

ASMA DAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) DI SEKOLAH. I Made Kusuma Wijaya

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

BAB II LANDASAN TEORI. ke waktu karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta. pemahaman mengenai patologi, patofisiologi, imunologi, dan genetik

PENGARUH YOGA TERHADAP KONTROL ASMA

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan perekonomian ke

BAB I PENDAHULUAN. memburuk menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang sering berubahubah. yang merugikan kesehatan, kususnya pada penderita asma.

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3

Bab I. Pendahuluan. yang ditandai oleh progresivitas obstruksi jalan nafas yang tidak sepenuhnya

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS DI RUMAH SAKIT PARU DR.H.A.ROTINSULU, BANDUNG TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan mengalami peningkatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Suradi, Dian Utami W, Jatu Aviani

BAB 1 PENDAHULUAN. napas, batuk kronik, dahak, wheezing, atau kombinasi dari tanda tersebut.

ABSTRAK PROFIL PENDERITA HEMOPTISIS PADA PASIEN RAWAT INAP RSUP SANGLAH PERIODE JUNI 2013 JULI 2014

Ketua sie Ilmiah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Cab. DIY (2009-sekarang)

BAB I PENDAHULUAN. batuk, mengi dan sesak nafas (Somatri, 2009). Sampai saat ini asma masih

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIASMA. DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA PADA TAHUN 2014

Transkripsi:

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Jenis Pemberian Obat Terhadap Frekuensi Eksaserbasi pada Pasien Anak Usia 6-11 Tahun dengan Riwayat Asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Periode Tahun 2015 The relevancy between type of drug delivery treatment and frequency exacerbation of patient around 6-11 years old with history of asthma at RSUD Al-Ihsan West Java Province in 2015 1 Silvy Nurfitria Frima, 2 R. Anita Indriyanti, 3 Santun Bhekti Rahimah 1 Prodi Pendidikan dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung 2,3 Departement Pharmacology, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email: 1 silvyfrima@gmail.com, 2 kreeshna.angel@gmail.com, 3 santunbr94@gmail.com Abstract. Asthma is a non-transmitted disease which has the high number of prevalency and morbidity in Indonesian middle childhood. Treatment for asthma are divided into two catagories: controller and reliever, which is given as single and combination. Inadequate asthma treatment causing the incresement of exacerbation. Method reasearch is analytical descriptive and cross sectional approachment. Subject of reasearch is children around age 6-11 years old with sample selection by total sampling. Type of drug delivery and frequency of exacerbation are collected from medical patient record. Statistical analysis using chi square test. Result of this research are asthma patient characteristic is around age 6-11 years old at RSUD Al-Ihsan based on the most age is 10 years old, are 14 patients (31,1%),male gender are 25 patients (55,6%), frequency of exacerbation seldom are 34 patients (53,35%) and combination drug delivery treatment are 31 patients (68,9%). Statistical analysis between type of drug delivery treatment and frequency of exacerbation showed that there is not significally relevancy (p-value>0,05). Conclution of this research is not relevant between type of drug delivery treatment and frequency of exacerbation around age 6-11 years old. There are some other risk factor are neglected that causing asthma, such as genetical, history of atophy, and different environment that causing the differential factor. Keywords : Asthma, Children, Frequency of Exacerbation, Type of Drug Delivery Treatment Abstrak. Asma merupakan penyakit tidak menular dengan angka kejadian dan morbiditas cukup tinggi yang menyerang anak usia sekolah di Indonesia. Pengobatan asma diberikan dalam 2 kategori yaitu, controller dan reliever yang diberikan dalan jenis kombinasi maupun tunggal. Manajemen pengobatan asma yang tidak adekuat dapat meningkatkan eksaserbasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Jenis pemberian obat dan frekuensi eksaserbasi dilihat dari rekam medis pasien. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji bivariat chi square test. Hasil penelitian diperoleh bahwa karakteristik pasien asma anak usia 6-11 tahun di RSUD Al-Ihsan berdasarkan usia paling banyak 10 tahun sebanyak 14 orang (31,1%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 orang (55,6%), frekusensi eksaserbasi jarang sebanyak 34 orang (53,35%) dan pemberian jenis obat kombinasi sebanyak 31 orang (68,9%). Hasil uji bivariat antara jenis pemberian obat dengan frekuensi eksaserbasi menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna (p-value>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis pemberian obat terhadap frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun. Penelitian ini tidak melihat faktor resiko lain yang dapat mempengaruhi asma seperti genetik, riwayat atopi dan faktor lingkungan yang dapat menjadi faktor pembeda. Kata Kunci : Anak, Asma, Frekuensi Eksaserbasi, Jenis Pemberian Obat 461

462 Silvy Nurfitria Frima, et al. A. Pendahuluan Asma merupakan penyakit tidak menular dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar Indonesia (RISKESDAS) tahun 2013. Kecenderungan bahwa penderita penyakit ini meningkat jumlahnya setiap tahun, meskipun belakangan banyak dikembangkan obat-obatan asma. Prevalensi asma meningkat pada penderita anak-anak setiap tahun di seluruh dunia. Anak-anak penderita asma memiliki tingkat morbiditas yang cukup tinggi. Sehingga sebagian besar pasien asma anak pernah dirawat di rumah sakit, bahkan beberapa pasien perlu adanya perawatan khusus di bagian gawat darurat setiap tahunnya. Asma termasuk ke dalam salah satu penyakit yang paling dikeluhkan di rumah sakit anak dengan mengakibatkan ketidakhadiran sekolah sekitar 5-7 hari secara nasional/tahun/anak. Hal tersebut disebabkan oleh manajemen kontrol dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman rekomendasi Global Initiative for Asthma (GINA,2015). Global Initiative for Asthma (GINA) menjelaskan bahwa jika tidak adanya manajemen kontrol yang baik pada penderita pasien asma, maka asma akan berkembang menjadi asma eksaserbasi (flare-up) yang dapat mengancam nyawa. Eksaserbasi adalah keadaan akut atau asma episodik yang terjadi secara progresif, sehingga perlunya visitasi dokter untuk mendapatkan pengobatan. Asma eksaserbasi dapat ditandai dengan adanya peningkatan gejala pernapasan berupa napas pendek, batuk, mengi, rasa dada tertekan sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari dan sering terbangun pada malam hari. Asma eksaserbasi yang tidak terkontrol menyebabkan serangan akan bertambah sering dan memburuk sehingga dapat berakibat fatal. Eksaserbasi asma dapat dinilai berdasarkan derajat serangan, yaitu: ringan, sedang, dan berat. Mortalitas paling sering berhubungan dengan salah menilai beratnya serangan atau kurang tepat terapi yang diberikan saat serangan awal. Tanpa pelaksanaan pengelolaan asma yang optimal, perjalanan penyakit asma cenderung progresif. Karena itu dibutuhkan cara pengelolaan asma yang baik serta tindakan pencegahan serangan dan perburukan penyakit. Menurut Dahlan tahun 2010, terjadinya serangan asma merupakan pencerminan dari kegagalan terapi asma jangka panjang. Penelitian M.Supriyadi dkk tahun 2008, yang dilakukan di RS Persahabatan Jakarta menunjukkan kombinasi pemberian obat fluticasone dan salmeterol lebih baik mengontrol asma daripada diberikan budesonid sediaan tunggal. Penelitian M.Hericos dkk tahun 2011, menunjukkan obat yang paling sering digunakan untuk asma eksaserbasi akut yaitu salbutamol (100%), budesonid (91,3%), ipratropium bromida (86,9%), bromhexin HCl (80,4%), dexametason (54,3%), aminofilin (43,5%), pemberian oksigen dan ambroxol (32,6%). Hasil penelitian menunjukkan harus diberikan salbutamol inhalasi, dan kortikosteroid sistemik pada semua pasien serangan asma sedang sampai berat untuk mengontrol dan mencegah eksaserbasi. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana karakteristik pada pasien anak dengan riwayat asma berdasarkan usia, jenis kelamin, frekuensi eksaserbasi, jenis pemberian obat dan Hubungan jenis pemberian obat terhadap frekuensi eksaserbasi pada pasien anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di Rsud Al-Ihsan provinsi Jawa Barat periode tahun 2015?. Selanjutnya, tujuan dalam penelitian ini diuraikan dalam pokok-pokok sbb. 1. Mengetahui karakteristik pada pasien anak dengan riwayat asma berdasarkan usia, jenis kelamin, frekuensi eksaserbasi, dan jenis pemberian obat di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015. Volume 2, No.2, Tahun 2016

Hubungan Jenis Pemberian Obat Terhadap Frekuensi Eksaserbasi 463 2. Mengetahui hubungan jenis pemberian obat terhadap frekuensi eksaserbasi pada pasien anak dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015. B. Landasan Teori Asma merupakan suatu penyakit heterogen dikarakteristikan dengan peradangan kronis yang berhubungan dengan hiperreaktivitas dan penyempitan pada saluran pernapasan. Asma dapat menimbulkan berbagai gejala gangguan pernapasan berupa: mengi, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, terutama pada pagi dan malam hari dengan intensitas yang bervariasi. Gejala dipicu berbagai faktor, yaitu: alergen, infeksi saluran pernapasan, riwayat atopi, perubahan cuaca, dan asap rokok. (GINA, 2015) Tabel 1 Klasifikasi Derajat Asma pada Anak Menurut PNAA 2004 Parameter klinis, kebutuhan obat, dan faal paru Frekuensi serangan Lama serangan Diantara serangan Tidur dan aktivitas Obat pengendali (anti inflamasi) PEV/PEV1 Asma episodik jarang (Asma ringan) < 1x/bulan <1 minggu Tanpa gejala Tidak terganggu Tidak perlu >80% Dikutip:Nataprawira Heda Melinda D 16 Asma episodik sering (Asma sedang) >1x/bulan > 1 minggu Sering ada gejala Sering terganggu Steroid inhalasi dosis rendah 60-80% Asma persisten (Asma berat) Sering Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi Gejala siang dan malam Sangat terganggu Steroid inhalasi/oral <60% Tatalaksana medikamentosa asma dapat dibagi dalam 2 kelompok obat, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma yang sedang timbul, yaitu: 1. Bronkodilator : short acting β2 agonist, methylxantine 2. Antikolinergik 3. Terapi suportif : oksigen Jika serangan sudah diatasi obat ini tidak digunakan lagi. Kelompok obat pengendali digunakan untuk mengatasi inflamasi kronik saluran nafas. Obat pengendali dipakai untuk tatalaksana asma jangka panjang sebagai pencegah eksaserbasi asma, yaitu : 17 1. Kortikosteroid 2. Antileukotrien 3. Long acting β2 agonist Eksaserbasi adalah keadaan akut atau asma episode yang terjadi secara progresif, sehingga perlunya visitasi dokter untuk mendapatkan pengobatan. Asma eksaserbasi dapat ditandai dengan adanya perburukan gejala pernafasan berupa nafas pendek, batuk, mengi, rasa dada tertekan sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari dan sering terbangun pada malam hari.(gina, 2015) Serangan asma biasnya mencerminkan terdapat kegagalan tatalaksana asma jangka panjang atau adanya pajanan terhadap pencetus (Supriyanto et al, 2015). Eksaserbasi pada anak menunjukkan adanya penurunan toleransi berolahraga, keterbatasan beraktivitas, Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

464 Silvy Nurfitria Frima, et al. mengganggu nafsu makan, serta perburukan respon terhadap terapi obat yang diberikan. Terdapat beberapa faktor yang mencetuskan eksaserbasi seperti udara dingin, olahraga, pemaparan alergen, dan infeksi (Makmuri, 2015). Penyebab paling sering eksaserbasi pada anak biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas karena Rhinovirus. Penderita asma terkontrol dengan steroid inhaler, memiliki risiko yang lebih kecil untuk eksaserbasi. Namun, penderita tersebut masih dapat mengalami eksaserbasi, misalnya bila menderita infeksi virus saluran napas. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan di RSUD AL-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015, dengan subjek penelitian berupa rekam medis pada pasien asma anak pada usia 6-11 tahun dengan riwayat asma. Hasil yang didapatkan dari penelitian sebanyak 45 data rekam medis pasien anak yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2016. Tabel 2 Karakteristik pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 berdasarkan usia dan jenis kelamin. Usia (tahun) n % 6 0 0 7 6 13,3 8 12 26,7 9 9 20 10 14 31,1 11 4 8,9 Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total 25 20 45 55,6 44,4 100 Keterangan: untuk n adalah jumlah subjek dalam penelitian. 45 100.0 Tabel 2 menunjukkan usia paling rendah pasien asma anak dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode 2015 adalah usia 7 tahun sebanyak 6 orang (13,3%), sedangkan usia paling tinggi adalah 11 tahun sebanyak 4 orang (8.9%). Pada usia 8 tahun sebanyak 12 orang (26,7%), dan tidak ada pasien asma anak yang berusia 6 tahun. Sebagian besar pada penelitian ini berada pada usia 10 tahun sebanyak 14 orang (31,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wahani tahun 2011 yang melaporkan terdapat peningkatan insiden asma pada umur 10 tahun. Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 adalah laki-laki sebanyak 25 orang (55,6%), sedangkan pada pasien asma anak jenis kelamin perempuan sebanyak 20 orang (44,4%). Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Sundaru pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa peningkatan risiko anak laki-laki dikarenakan nilai IgE yang lebih tinggi, sehingga cenderung meningkatkan reaksi alergi (Supriyanto, 2008). Volume 2, No.2, Tahun 2016

Hubungan Jenis Pemberian Obat Terhadap Frekuensi Eksaserbasi 465 Tabel 3 Karakteristik pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 berdasarkan frekuensi eksaserbasi. Variabel N % Frekuensi Eksaserbasi Jarang 30 66,7 Sering 15 33,3 Total 45 100,0 Keterangan: untuk n adalah jumlah subjek dalam penelitian. Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 adalah frekuensi eksaserbasi jarang sebanyak 30 orang (66,7%), sedangkan frekuensi eksaserbasi sering sebanyak 15 orang (33,3%). Tabel 4 Karakteristik pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 berdasarkan jenis pemberian obat. Jenis Obat n % Tunggal 14 31,1 Kombinasi 31 68,9 Total 45 100,0 Keterangan: untuk n adalah jumlah subjek dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar jenis pemberian obat yang di berikan pada pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al- Ihsan Provinsi Jawa Barat adalah kombinasi sebanyak 31 orang (68,9%), kombinasi sebanyak 31 orang (68,9%), sedangkan pada pemberian obat jenis tunggal sebanyak 14 orang (31,1%). Tabel 5 Hasil chi square test hubungan jenis pemberian obat terhadap frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al- Ihsan Provinsi Jawa Barat periode tahun 2015 Jenis Frekuensi Eksaserbasi Nilai p Pemberian Jarang Sering Total Obat n (%) n (%) n (%) Tunggal 9 (30,0) 5 (33,3) 14 (31,1) 0,596 Kombinasi 21 (70,0) 10 (66,7) 31 (68,9) Keterangan: Untuk data p dihitung berdasarkan uji statistika Chi Square Test. Nilai kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05, sedangkan tidak bermakna jika p>0,05. untuk n adalah jumlah subjek dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberiaan obat kombinasi lebih banyak digunakan pada pasien asma dengan frekuensi eksaserbasi jarang sebanyak 21 orang (70%) dibandingkan pemberian obat tunggal sebanyak 9 orang (30%). Sesuai dengan teori menurut GINA tahun 2015, bahwa manajemen asma harus diberikan secara kombinasi antara reliever dan controller untuk mengontrol frekuensi eksaserbasi asma. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi square test pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

466 Silvy Nurfitria Frima, et al. bermakna antara jenis pemberian obat dengan frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat dengan nilai p=0,539 (nilai p>0,05). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna yang dipengaruhi oleh perbedaan berbagai faktor resiko dari setiap individu. Faktor risiko pertama adalah jenis kelamin, dikarenakan pada penelitian ini tidak ada homogenisasi jenis kelamin setiap sampel pasien asma. Pada anak laki-laki prevalensi asma meningkat 2 kali lipat dari anak perempuan karena perbedaan nilai IgE yang lebih meningkat pada laki-laki. Faktor risiko kedua dipengaruhi oleh riwayat atopi pada anak. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini tidak dilakukan skrinning adanya riwayat atopi, sehingga pada anak yang mempunyai riwayat atopi sebelumnya akan meningkatkan 2 kali lipat risiko eksaserbasi asma. Faktor resiko ketiga dan paling penting adalah lingkungan, dikarenakan terdapat perbedaan allergen yang ada di lingkungan hidup setiap individu, antara lain adalah rokok, debu, tungau, jamur. 26 Oleh karena itu adanya perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya dapat menyebabkan hasil uji statistik menggunakan chi square test yaitu menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis pemberian obat dengan frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun. D. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap kasus asma anak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Periode Tahun 2015 dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Karakteristik pasien asma anak usia 6-11 tahun di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Periode Tahun 2015 berdasarkan usia sebagian besar pada usia 10 tahun, jenis kelamin sebagian besar pada laki-laki, frekusensi eksaserbasi sebagian besar adalah eksaserbasi jarang, dan jenis obat yang diberikan sebagian besar adalah kombinasi. 2. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis pemberian obat terhadap frekuensi eksaserbasi pada pasien asma anak usia 6-11 tahun dengan riwayat asma di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. E. Saran 1. Untuk penelitian selanjutnya dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih memadai dan representatif. 2. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan metode cohort. 3. Menggunakan metode kuisioner yang ditujukan pada orang tua untuk mengetahui jumlah frekuensi eksaserbasi pada anak lebih akurat. 4. Diharapkan rumah sakit melengkapi data rekam medis pasien dan menyimpan data secara komputerisasi agar lebih memudahkan dalam proses pengambilan data. Daftar Pustaka Audrey M.I. Wahani. Karakteristik asma pada pasien anak yang rawat inap Di RS Prof.R.D Kandouw Malalayang, Manado. 2011; 13: 4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan RI. Volume 2, No.2, Tahun 2016

Hubungan Jenis Pemberian Obat Terhadap Frekuensi Eksaserbasi 467 Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Stanton BF. Growth, development, and behaviour. Dalam: Fletcher J, Shreiner J, editors. Nelson s Textbook of Pediatric. 18th ed. United States of America; 2004. hlm.503. Bratawidjaja KG, Rengganis I. Reaksi Hipersensitivitas. Imunologi Dasar. 10th ed. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2013. hlm. 369 Dahlan Z, Rejeki IS, Ruchili A, Rachman M, Jusuf H, et al. 2000. Cermin Dunia Kedokteran. Pengelolaan pasien dengan kedaruratan paru; 114;8-9. Global Initative for Asthma. 2015. Global Strategy for Asthma Management and Prevention (update 2015). 2015;135. [diakses 12 Desember 2015]. Available from: http://www.ginasthma.org/local/uploads/files/ginareport2015aug11.pdf Makmuri MS. Patofisiologi asma. Dalam: Rahajoe NN, Bambang S, Darmawan BS, editors. Buku ajar respirologi anak. 4th ed. Jakarta. Badan penerbit ikatan dokter anak Indonesia; 2015. hlm. 98-104. M. Hericos, Azizman Saad, Miftah Azrin. 201.1 Profil Penderita Asma Yang Berobat Ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Periode Januari - Desember 2011. 1 12. Rahajoe Noenoeng. Tatalaksana jangka panjang asma pada Anak. Dalam: Rahajoe NN, Bambang S, Darmawan BS, editors. Buku ajar respirologi anak. 4th ed. Jakarta. Badan penerbit ikatan dokter anak Indonesia; 2015. hlm.134-145. Supriyanto B, Makmuri MS. Serangan asma akut. Dalam: Rahajoe NN, Bambang S, Darmawan BS, editors. Buku ajar respirologi anak. 4th ed. Jakarta. Badan penerbit ikatan dokter anak Indonesia; 2015. hlm.120-131 Tabri NA, Supriyadi M, Yunus F, Wiyono WH. The Efficacy of Combination of Inhalation Salmeterol and Fluticasone Compare with Budesonide Inhalation to Control Moderate Persistent Asthma by The Use of Asthma Control Test as Evaluation Tool. 2008; 152-158. Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016