Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI PERBANDINGAN GPS CORS METODE RTK NTRIP DENGAN TOTAL STATION

On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station)

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015

Jurnal Geodesi Undip April 2015

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

Jurnal Geodesi Undip Juli 2014

Studi Perbandingan GPS CORS Metode RTK NTRIP dan Total Station dalam Pengukuran Volume Cut and Fill

Jurnal Geodesi Undip OKTOBER 2017

Analisis Perbandingan Ketelitian Hasil Pengukuran GCP... (Safi i, et al.)

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. bentuk spasial yang diwujudkan dalam simbol-simbol berupa titik, garis, area, dan

Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah

ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN POSISI GPS CORS RTK-NTRIP DENGAN METODE RAPID STATIK

PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK

AKURASI PENGUKURAN GPS METODE RTK-NTRIP MENGGUNAKAN INA-CORS BIG Studi Kasus di Sumatera Utara

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-Titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

BAB I PENDAHULUAN I-1

Analisa Perbandingan Volume Cut and Fill menggunakan Total Station dan GPS CORS (Continouosly Operating Reference Station) Metode RTK NTRIP

ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP

Jurnal Geodesi Undip Oktober2015

Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar

Atika Sari, Khomsin Jurusan Teknik Geomatika, FTSP, ITS-Sukolilo, Surabaya,

Pengaruh Penambahan Jumlah Titik Ikat Terhadap Peningkatan Ketelitian Posisi Titik pada Survei GPS

Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech ASH111661

Kata Kunci : GPS, CORS, NTRIP, RTK, Provider

Jurnal Geodesi Undip April 2016

PEMANFAATAN JRSP METODE ONLINE POST PROCESSING SPIDERWEB UNTUK PENGUKURAN BIDANG TANAH

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013

STUDI TENTANG CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION GPS (Studi Kasus CORS GPS ITS) Oleh: Prasetyo Hutomo GEOMATIC ENGINEERING ITS

MODUL 3 GEODESI SATELIT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENGUKURAN KERANGKA KONTROL HORISONTAL ORDE-4 MENGGUNAKAN GPS GEODETIK METODE RAPID STATIC DENGAN TOTAL STATION

UJI AKURASI PENENTUAN POSISI METODE GPS-RTK MENGGUNAKAN PERANGKAT CHC X91+

BAB I PENDAHULUAN I.1.

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Jun, 2013) ISSN:

ANALISA PENENTUAN POSISI HORISONTAL DI LAUT DENGAN MAPSOUNDER DAN AQUAMAP

PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS

Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: ( Print) A-202

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

PPK RTK. Mode Survey PPK (Post Processing Kinematic) selalu lebih akurat dari RTK (Realtime Kinematic)

BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL. 3.1 Data yang Digunakan

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (MULTI)

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

EVALUASI KETINGGIAN BANGUNAN DALAM RANGKA UPAYA MENJAGA ZONA KKOP BANDARA JUANDA. (Studi Kasus : Masjid Ar-Ridlo Sedati Sidoarjo)

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

Bab III Pelaksanaan Penelitian

Penggunaan Egm 2008 Pada Pengukuran Gps Levelling Di Lokasi Deli Serdang- Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara

GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Mulkal Razali, M.Sc

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015

BAB III METODE PENGUKURAN

BAB IV PENGOLAHAN DATA

URUTAN PENGGUNAAN E-GNSS SECARA UMUM

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS

Jurnal Geodesi Undip April 2013

METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

ANALISA PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KOORDINAT DAN ELEVASI DENGAN ALAT TOTAL STATION DAN GPS GEODETIC DI FOLDER SANGATTA KAB. KUTAI TIMUR ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan

Pengaruh Koneksitas Jaring Terhadap Ketelitian Posisi Pada Survei GPS

STUDI KEANDALAN ALAT ETS GOWIN TKS 202 DALAM PENGUKURAN SITUASI. Mikho Henri Darmawan,Ir.Chatarina N.MT, Danar Guruh P.ST,MT

BAB I PENDAHULUAN I-1

STUDI KOMPARASI PEMAKAIAN GPS METODE REAL TIME KINEMATIC (RTK) DENGAN TOTAL STATION (TS) UNTUK PENENTUAN POSISI HORISONTAL.

UJI KETELITIAN HASIL REKTIFIKASI CITRA QUICKBIRD DENGAN PERANGKAT LUNAK GLOBAL MAPPER akurasi yang tinggi serta memiliki saluran

II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf b...

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Analisis Perbedaan Perhitungan Arah Kiblat pada Bidang Spheroid dan Ellipsoid dengan Menggunakan Data Koordinat GPS

BAB III GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER

Studi Perbandingan Total Station dan Terrestrial Laser Scanner dalam Penentuan Volume Obyek Beraturan dan Tidak Beraturan

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS UNTUK SURVEI TERUMBU KARANG. Winardi Puslit Oseanografi - LIPI

Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS

Jurnal Geodesi Undip Juli 2014

Jurnal Geodesi Undip Januari 2017

sensing, GIS (Geographic Information System) dan olahraga rekreasi

Studi Kinerja Perangkat Lunak Starpoint untuk Pengolahan Baseline GPS Irwan Gumilar, Brian Bramanto, dan Teguh P. Sidiq

BLUNDER PENGOLAHAN DATA GPS

Kuswondo ( )

Pengamatan Pasang Surut Air Laut Sesaat Menggunakan GPS Metode Kinematik

STUDI KINERJA PERANGKAT LUNAK LEICA GEO OFFICE 8.1 UNTUK PENGOLAHAN DATA GPS BASELINE PANJANG TUGAS AKHIR. Oleh: SIDIQ PURNAMA AGUNG

PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP

Transkripsi:

Analisis Pengaruh Panjang Baseline Terhadap Ketelitian Pengukuran Situasi Dengan Menggunakan GNSS Metode RTK-NTRIP (Studi Kasus: Semarang, Kab. Kendal dan Boyolali) Ega Gumilar Hafiz, Moehammad Awaluddin, Bambang Darmo Yuwono *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof Soedarto, SH, Telp. (024) 76480785, 76480788 Tembalang Semarang Abstract Developments and requirement about mapping survei in Indonesia are getting faster and the lack of availability of basic point technique used as a point of the belt as well as the least amount of human resources who understand the job of mapping surveis, is one of the factors restricting to produce a map of the situation quickly (real time) and can also provide data quality and a good position. Then it needs a system of measurement that can give results that can satisfy the needs of mapping in Indonesia. Associated with these problems, in this final task has been carried research measurements using GPS CORS (Continuosly Operating Reference Stations) system. By analyzing the influence of the length of the baseline against the accuracy of the measurement situation using GNSS RTK-NTRIP method and using Total Station measurement data as definitive data. The purpose of this measurement is to know the horizontal, vertikal accuracy and scale for plotting the map. The results of analysis and statistical tests will be found horizontal accuration ( ) and vertical accuration ( h)it is : the measurement with the long baseline 1 km has a value of = ±0,092 m and h = ±0,047 m, with long baseline 15,6 km has a value of = ±0,181 m and h = ±0,179 m, and with long baseline 57,6 km has a value of σhz = ±0,765 m and h = ±0,258 m. Refers to the accuration scale map, for long baseline 1 km include of 1: 500 scale map, while the long baseline 15,6 km include of 1: 1.000 scale map, and long baseline 57,6 km include of 1: 1.000 scale map. Keywords: Topographic Mapping, Measurements of GPS, GNSS, RTK (Real Time Kinematic), NTRIP (RTCM Transport Networked via Internet Protocol) *) Penulis Penanggung Jawab Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 315

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang mencakup penyajian dalam tiga dimensi koordinat horizontal dan koordinat vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta. Prinsipnya dengan menentukan objek-objek penting berdasarkan unsur sudut dan jarak dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat mewakili atau menggambarkan daerah tersebut dan seisinya secara jelas mungkin dengan skala tertentu. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan biasanya dengan menggunakan alat theodolit dan meteran. Seiring dengan perkembangan teknologi peralatan yang digunakan menggunakan total station yang mana alat ini dapat menyimpan data dan mengukur jarak secara langsung, bahkan sekarang ini pemetaan situasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode survei GNSS. Salah satu teknologi pemetaan yang mulai dikembangkan di Indonesia yaitu GNSS CORS (Global Navigation sattelite system Continuosly Operating Reference Stations). Banyak dari instansi pemetintah maupun swasta yang mengembangkan teknologi ini untuk kebutuhan rekayasa dan penelitian yang berkaitan dengan posisi. CORS merupakan jaring kerangka geodetik aktif berupa stasiun permanen yang dilengkapi dengan receiver yang dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan satelit GNSS lainnya, yang beroperasi secara kontinu selama dua puluh empat jam (Yustia, 2008). Sehingga fungsi dari CORS ini nantinya dapat digunakan dalam pemetaan situasi dengan menggunakan metode RTK (Real Time Kinematic) Sistem RTK merupakan prosedur DGPS (Differential Global Positioning System) menggunakan data pengamatan fase, yang mana data atau koreksi fase dikirim secara seketika dari stasion referensi ke receiver pengguna. Dengan adanya radio modem atau sistem NTRIP (Networked Transport Of RTCM Via Internet Protocol) sehingga proses pengiriman data atau koreksi fase dapat dilakukan secara seketika, membuat informasi posisi yang dihasilkan oleh sistem ini dapat diperoleh secara seketika. Pada GPS RTK-NTRIP ini menggunakan master referensi sehingga kendala jarak antara rover dan stasiun referensi (base station) menjadi masalah utama. Jarak akan mempengaruhi ketelitian posisi yang dihasilkan. Semakin jauh jarak antara rover dan stasiun referensi (base station), maka kualitas posisi pun akan menurun. Faktor jarak yang jauh ini, menjadi kendala dalam pemecahan ambiguity resolution, begitu juga Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 316

dengan jangkauan radio komunikasi yang jauh sehingga memungkinkan terjadinya data loss dalam penyampaian informasi data dari stasiun referensi (base station) ke rover. Terkait dengan perkembangan dan kebutuhan survei pemetaan di Indonesia yang cepat maka dibutuhkannya suatu sistem pengukuran yang dapat memberikan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan pemetaan di Indonesia. Hasil yang bisa didapat secara cepat atau real time dan juga dapat memberikan kualitas data dan posisi yang baik. Dalam penelitian ini, selanjutnya dapat diketahui berapa besar ketelitian horizontal dan ketelitian vertikal yang dihasilkan dari pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP pada pengukuran situasi dengan jarak panjang baseline yang semakin jauh. 1.2 Perumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian tugas akhir ini adalah : 1. Seberapa besar tingkat ketelitian dari hasil pengukuran situasi dengan menggunakan metode pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP yang dibandingkan dengan pengukuran terestris menggunakan total station? 2. Seberapa besar ketelitian yang didapat dari pengaruh jarak panjang baseline yang semakin jauh dari base station reference untuk pengukuran situasi menggunakan metode pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP? 3. Berapa skala peta yang dapat dibuat berdasarkan ketelitian horizontal dan vertikal pada pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP? 1.3 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan penelitian dari Tugas Akhir ini adalah : 1. Membuat peta situasi dari hasil pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP. 2. Mengetahui tingkat ketelitian pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP untuk keperluan pengukuran situasi. 3. Membandingkan tingkat ketelitian dari pengukuran menggunakan pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP dengan pengukuran terestris menggunakan total station sehingga dapat diaplikasikan dalam pekerjaan pengukuran survei dan pemetaan dengan ketelitian yang tinggi dan cepat. 1.4 Batasan Masalah Dalam penulisan tugas akhir ini memiliki batasan-batasan sebagai berikut : 1. Pembuatan peta situasi dengan skala 1:500. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 317

2. Penelitian yang dilakukan adalah pemetaan situasi dengan menggunakan metode pengukuran GNSS RTK-NTRIP. 3. Daerah penelitian Tugas Akhir adalah Semarang, Kab. Kendal, dan Boyolali dengan jarak lokasi dari Base Station yaitu 1 km, 15,6 km, dan 57,6 km 4. Data pembanding diperoleh dari pengukuran total station II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. CORS ( Continuously Operating Reference Station ) CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinyu selama 24 jam perhari, 7 hari per minggu dengan mengumpulkan, merekam, mengirim data, dan memungkinkan para pengguna (users) memanfaatkan data dalam penentuan posisi, baik secara post-processing maupun secara real time (sumber: Gudelines for New and Existing CORS). 2.2. Sistem RTK Sistem RTK (Real-Time-Kinematic) adalah suatu akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-time secara differensial menggunakan data fase. Untuk merealisasikan tuntutan real time nya, stasiun referensi harus mengirimkan data fase dan pseudorange-nya ke pengguna secara real-time menggunakan sistem komunikasi data tertentu. Stasiun referensi dan pengguna harus dilengkapi dengan perangkat pemancar dan penerima data. Metoda Penentuan Posisi secara Real time Kinematik dibagi dalam dua bagian yaitu: 2.2.1 Single base RTK Pengamatan yang dilakukan pada metode single base RTK adalah pengamatan secara diferensial dengan menggunakan minimal dua receiver GNSS yang bekerja secara simultan dengan menggunakan data phase. Koreksi data dikirimkan secara satu arah dari base station kepada rover melalui transmisi radio. 2.2.2 Network RTK Metode Network Real Time Kinematic (NRTK) merupakan sebuah metode penentuan posisi secara relatif dari pengamatan GNSS. NRTK merupakan pengembangan dari metode single base RTK (Martin & Herring, 2009). Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 318

NTRIP adalah sebuah metode untuk mengirim koreksi data GPS/GLONASS (dalam format RTCM) melalui internet. RTCM sendiri adalah kependekan dari Radio Technical Commission for Maritime Services, yang merupakan komite khusus yang menentukan standard radio navigasi dan radio komunikasi maritim internasional. Data format RINEX disediakan untuk pengolahan data secara post-processing, sedangkan data NTRIP untuk pengamatan posisi secara real-time. III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Diagram Alir Penelitian Tahapan penelitian yang akan dilakukan dapat dilihat pada diagram alir berikut : Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 319

Tahap Persiapan Tahap Pengumpulan data Tahap Analisis Hasil dan Penyusunan Laporan Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 320

3.2. Lokasi Penelitian Pada lokasi studi penelitian ini, dibagi menjadi tiga daerah lokasi penelitian, yaitu : 1. Daerah Bukit Diponegoro, Semarang, dengan panjang baseline dari base station (CORS UNDIP) yaitu 1 km. 2. Desa Limbangan, Kabupaten Kendal, dengan panjang baseline dari base station (CORS UNDIP) yaitu 15,6 km. 3. Desa Mojosongo, Kota Boyolali, dengan panjang baseline dari base station (CORS UNDIP) yaitu 57,6 km. 3.3. Alat dan Bahan Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 1. Receiver Topcon HIPER II Dual Frekuensi, Receiver Astech PM-200 2. Controller Topcon FC-250, Handphone LG-E960, Tethering and portable hotspot. 3. Total Station Topcon 235, Tripod, Jalon, dan Prisma 4. Laptop dengan spesifikasi : Processor Intel Core 2 Duo CPU T5450 @ 1.67GHz, RAM 2.00 GB, 64-bit Operating System. 5. Perangkat Lunak Topcon Tools V.7, Topcon Link V.7, Autodesk Land Desktop 2009, dan Microsoft Office 2003. Gambar 3.2 Receiver Topcon Hiper II, Controller FC 250, Handphone LG-E960, Receiver PM-200, Total Station GTS 235 dan Statip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 321

3.4. Pengumpulan Data Pengumpulan data berupa data pengukuran situasi dengan GNSS Metode RTK-NTRIP dan total station. Dimana lokasi pengukuran yang dilakukan dengan panjang baseline yang berbeda-beda dari base station (CORS UNDIP), rinciannya dapat dilihat pada tabel 3.1. Tabel 3.1 Panjang Baseline Lokasi Pengukuran Panjang Baseline Semarang 1 km Kab. Kendal 15,6 km Boyolali 57,6 km 3.2.1. Pengamatan GPS Pengamatan GPS yang dilakukan menggunakan dua metode, yaitu : a. Metode Statik Dilakukan untuk membuat titik kontrol yang digunakan dalam pengukuran situasi dengan menggunakan total station. Hasil penentuan posisi dengan metode ini dilakukan secara post-processing (Sesudah pengamatan). b. Metode RTK-NTRIP Dilakukan untuk pengukuran situasi, dimana titik koordinat yang didapat secara real time. Alat yang digunakan dalam pengukuran ini menggunakan receiver Topcon Hiper II yang dilengkapi dengan Controller FC-250 yang menggunakan software TopSURV 7. 3.2.2. Pengukuran Total Station Pengukuran situasi menggunakan total station dilakukan pada lokasi dan posisi titik yang sama dengan lokasi titik pengukuran GNSS metode RTK-NTRIP. Dimana pada pengukuran ini total station berdiri diatas titik kontrol yang sudah diukur dengan menggunakan GNSS metode Statik, yang mana titik ikatnya terhadap base station (CORS UNDIP). Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 322

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Hasil Pengukuran RTK-NTRIP Keterangan hasil titik-titik pengukuran RTK-NTRIP, dapat dilihat pada Tabel 4.1 Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Pengukuran RTK-NTRIP Titik Pengukuran Situasi RTK-NTRIP No. Lokasi Pengukuran Panjang Solution Type Baseline Fix Float 1 Semarang 1 km 124-2 Kab. Kendal 15,6 km 224-3 Boyolali 57,6 km 74 76 4.1.2. Hasil Pengukuran Situasi dengan Total Station Hasil pengukuran situasi dengan total station, didapatkan koordinat (Easting, Northing, dan Elevation). Dimana dalam hal ini, data koordinat pengukuran dengan menggunakan total station dianggap data yang paling benar atau sebagai data definitf. Hasil pengukuran situasi yang didapat pada panjang baseline 1 km sebanyak 124 titik, panjang baseline 15,6 km sebanyak 224 titik, dan panjang baseline 57,6 km sebanyak 150 titik. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 323

4.2. Pembahasan 4.2.1. Analisis Pergeseran Linear pada Panjang Baseline 1 km Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 1 km Nilai Pergeseran (m) 0.3 0.2 0.1 0-0.1-0.2-0.3 de dn dl 1 6 11 16 21 26 31 36 41 46 51 56 61 66 71 76 81 86 91 96 101 106 111 116 121 Titik Situasi Gambar 4.1 Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 1 km Dari Gambar 4.1 terlihat pergeseran Lateral (dl) paling besar terdapat pada titik 13 sebesar 0,221 meter sedangkan pergeseran Lateral (dl) yang paling kecil adalah titik 63 sebesar 0,007 meter. 4.2.2. Analisis Pergeseran Linear pada Panjang Baseline 15,6 km Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 15,6 km Nilai Pergeseran (m) 0.6 0.4 0.2 0-0.2-0.4-0.6 C1 C10 C19 C28 C37 C46 C55 C64 C73 C82 C91 C100 C109 C118 C127 C136 C145 C154 C163 C172 C181 C190 C199 C208 C217 Titik Situasi de dn dl Gambar 4.2 Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 15,6 km Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 324

Dari Gambar 4.2 terlihat pergeseran Lateral (dl) paling besar terdapat pada titik C185 sebesar 0,520 meter sedangkan pergeseran Lateral (dl) yang paling kecil adalah titik C134 sebesar 0,013 meter. 4.2.3. Analisis Pergeseran Linear pada Panjang Baseline 57,6 km Nilai Pergeseran (m) 2 1.5 1 0.5 0-0.5-1 -1.5 Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 57,6 km BY1 BY7 BY13 BY19 BY25 BY31 BY37 BY43 BY49 BY55 BY61 BY67 BY73 BY79 BY85 BY91 BY97 BY103 BY109 BY115 BY121 BY130 BY136 BY142 BY148 Titik Situasi de dn dl Gambar 4.3 Grafik Pergeseran Lateral (dl), Easting (de), Northing (dn) pada Panjang Baseline 57,6 km Dari Gambar 4.3 terlihat pergeseran Lateral (dl) paling besar terdapat pada titik BY149 sebesar 1,550 meter sedangkan pergeseran Lateral (dl) yang paling kecil adalah titik BY107 sebesar 0,093 meter. 4.2.4. Rekapitulasi Hasil Analisis Pergeseran Linear Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Analisis Pergeseran Linear Hasil Analisis Pergeseran Linear No. Lokasi Pengukuran Panjang Baseline Standar Deviasi Horizontal ( ) 1 Semarang 1 km ±0,092 2 Kab. Kendal 15,6 km ±0,181 3 Boyolali 57,6 km ±0,765 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 325

4.2.5. Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi pada Panjang Baseline 1 km Selisih Beda tinggi (m) 0.3 0.2 0.1 0-0.1-0.2 Selisih Beda Tinggi (dh) 1 8 15 22 29 36 43 50 57 64 71 78 85 92 99 106 113 120 Titik Situasi dh TS - dh GPS Gambar 4.4 Grafik Perbedaan Beda Tinggi antara dh TS dan dh GPS pada Panjang Baseline 1 km Dari Gambar 4.4 terlihat perbedaan beda tinggi (dh) yang paling besar terdapat pada titik 86 sebesar 0,224 meter sedangkan perbedaan beda tinggi (dh) yang paling kecil adalah titik 55 dan 58 sebesar 0,000 meter 4.2.6. Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi pada Panjang Baseline 15,6 km Selisih Beda Tinggi (m) 0.8 0.6 0.4 0.2 0-0.2-0.4-0.6 Selisih Beda Tinggi (dh) C1 C14 C27 C40 C53 C66 C79 C92 C105 C118 C131 C144 C157 C170 C183 C196 C209 C222 Titik Situasi dh TS - dh GPS Gambar 4.5 Grafik Perbedaan Beda Tinggi antara dh TS dan dh GPS pada Panjang Baseline 15,6 km Dari Gambar 4.5 terlihat perbedaan beda tinggi (dh) yang paling besar terdapat pada titik C154 sebesar 0,663 meter sedangkan perbedaan beda tinggi (dh) yang paling kecil adalah titik 75 sebesar -0,001 meter. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 326

4.2.7. Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi pada Panjang Baseline 57,6 km Selisih Beda Tinggi (m) 0-0.1-0.2-0.3-0.4-0.5-0.6 Selisih Beda Tinggi (dh) BY1 BY10 BY19 BY28 BY37 BY46 BY55 BY64 BY73 BY82 BY91 BY100 BY109 BY118 BY130 BY139 BY148 Titik Situasi dh TS - dh GPS Gambar 4.6 Grafik Perbedaan Beda Tinggi antara dh TS dan dh GPS pada Panjang Baseline 57,6 km Dari Gambar 4.6 terlihat perbedaan beda tinggi (dh) yang paling besar terdapat pada titik BY149 sebesar -0,511 meter sedangkan perbedaan beda tinggi (dh) yang paling kecil adalah titik BY127 sebesar -0,036 meter. 4.2.8. Rekapitulasi Hasil Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi 4.3. Uji Statistik 4.3.1. Uji Normalitas Data Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi Hasil Analisis Perbedaan Nilai Beda Tinggi No. Lokasi Panjang Standar Deviasi Pengukuran Baseline Beda Tinggi ( ) 1 Semarang 1 km ±0,047 2 Kab. Kendal 15,6 km ±0,179 3 Boyolali 57,6 km ±0,258 Setelah didapat simpangan baku atau standar deviasi, uji normalitas data dengan tabel Z (Observasi Distribusi Normal) dilakukan untuk mengetahui distribusi normal data dengan menggunakan rumus : =, h = h =, = h h Keterangan :, h = Nilai rata-rata pergeseran lateral, selisih beda tinggi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 327

, h = Besarnya pergeseran nilai jarak, selisih beda tinggi = Jumlah data = Nilai simpangan baku atau standar deviasi Setelah nilai didapat, nilai dengan tingkat kepercayaan 95% dilihat kemudian dibandingkan dengan. Jika +. Nilai diketahui ±1,960, sehingga didapat uji normalitas datanya. Pada uji normalitas data nilai pergeseran lateral dengan panjang baseline 1 km, 15,6 km, dan 57,6 km tidak didapat data yang tidak masuk syarat normalitas data dengan tingkat kepercayaan 95%. Pada uji normalitas data nilai beda tinggi dengan panjang baseline 1 km terdapat 3 (tiga) titik data yang tidak masuk syarat normalitas data dengan tingkat kepercayaan 95%. Pada uji normalitas data nilai beda tinggi dengan panjang baseline 15,6 km terdapat 21 (dua puluh satu) titik data yang tidak masuk syarat normalitas data dengan tingkat kepercayaan 95%, lebih lengkap dapat dilihat dilampiran. Pada uji normalitas data nilai beda tinggi dengan panjang baseline 57,6 km terdapat 3 (tiga) titik data yang tidak masuk syarat normalitas data dengan tingkat kepercayaan 95%. Tabel 4.4 Titik yang Tidak Masuk Syarat Normalitas Data Panjang Baseline 57,6 km No. No Titik Normalitas 1 BY124-7,315 Tidak Normal 2 BY125-5,512 Tidak Normal 3 BY126-3,920 Tidak Normal 4.3.2. Uji F (Distribusi Fisher) Pada uji statistik ini digunakan untuk mengetahui adanya persamaan atau perbedaan pada pengaruh panjang baseline dari hasil pengukuran yang didapat. rumus yang digunakan pada uji ini yaitu : Uji statistik yang digunakan untuk menentukan penolakan dari hipotesis nol = = = Dari ketiga uji ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil dari pengukuran yang didapat dari ketiga panjang baseline didapatkan hasil yang berbeda yang berarti panjang baseline berpengaruh terhadap hasil pengukuran ini. Dimana, urutan hasil yang paling baik dari pengukuran ini yaitu, panjang baseline 1 km > panjang baseline 15,6 km > panjang baseline 57,6 km. 4.3.3. Skala Peta Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 328

Uji statistik yang digunakan pada tahap ini adalah dengan membandingkan nilai ketelitian (standar deviasi) data setiap panjang baseline dengan ketelitian peta berdasarkan skala. Rumus yang digunakan untuk menentukan ketelitian peta yaitu : Tabel 4.5 Rumus Ketelitian pada Peraturan BIG, Nomor 14 Tahun 2013 Ketelitian Horizontal Ketelitian Vertikal 1 / 2000 x Skala Peta 1 / 3 x Interval Kontur Dari analisis ini, interval keyakinan (confidence intervals) yang digunakan adalah 95% dan skala peta yang masuk dalam pengukuran situasi dengan menggunakan GNSS metode RTK-NTRIP adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Skala Peta Hasil Pengukuran Situasi No. Panjang Baseline Skala Horizontal Skala Vertikal 1 Panjang Baseline 1 km 1 : 100 1 : 500 2 Panjang Baseline 15,6 km 1 : 500 1 : 1.000 3 Panjang Baseline 57,6 km 1 : 1.000 1 : 1.000 V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari analisis penelitian dan uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Akurasi Horizontal berdasarkan dari pengukuran situasi GNSS Metode RTK-NTRIP terhadap pengukuran total station didapat nilai standar deviasi sebagai berikut, pada panjang baseline 1 km nilai standar deviasinya adalah ( ) = ±0,092 m, pada panjang baseline 15,6 km nilai standar deviasinya adalah ( ) = ±0,181 m, dan pada panjang baseline 57,6 km nilai standar deviasinya adalah ( ) = ±0,765 m. 2. Akurasi Vertikal atau beda tinggi berdasarkan dari pengukuran situasi GNSS Metode RTK-NTRIP terhadap pengukuran total station didapat nilai standar deviasi sebagai berikut, pada panjang baseline 1 km nilai standar deviasinya adalah ( h) = ±0,047 m, pada panjang baseline 15,6 km nilai standar deviasinya adalah ( h) = ±0,179 m, dan pada panjang baseline 57,6 km nilai standar deviasinya adalah ( h) = ±0,258 m. 3. Dari hasil uji statistik dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil dari pengukuran yang didapat dari ketiga panjang baseline didapatkan hasil yang berbeda, yang berarti panjang baseline berpengaruh terhadap hasil pengukuran. Dimana, urutan hasil yang Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 329

paling baik dari pengukuran ini yaitu, panjang baseline 1 km > panjang baseline 15,6 km > panjang baseline 57,6 km. 4. Skala peta yang dapat dibuat dari hasil pengukuran GNSS Metode RTK-NTRIP berdasarkan dari akurasi horizontal dan vertikalnya, yaitu sebagai berikut, panjang baseline 1 km adalah skala 1 : 500, panjang baseline 15,6 km adalah skala 1 : 1.000, dan panjang baseline 57,6 km adalah skala 1 : 1.000 5.2. Saran Dari hasil dan analisis yang dilakukan pada penelitian ini, ada beberapa saran untuk tahap pengembangan selanjutnya, yaitu antara lain: 1. Lokasi pengukuran situasi dalam tugas akhir ini berada pada tempat terbuka, untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan pada tempat yang mempunyai obstruksi tinggi. 2. Perlu adanya kajian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi solusi pengukuran (fix and float) menggunakan RTK-NTRIP VI. DAFTAR PUSTAKA Abidin, H. Z., 2000. Geodesi Satelit. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Abidin, H. Z., 2000. Survei dengan GPS. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Abidin, H. Z., 2007. Penentuan posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Hidayat, Ahmad. 2012. Analisis Ketelitian Planimetrik Pengukuran Metode Kinematik GNSS pada Kawasan dengan Obstruksi Tinggi. Tugas Akhir. Semarang: Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Wibowo, W.A. 2011. Pemanfaatan Data Stasiun CORS GNSS Jarak Jauh Untuk Pemetaan Situasi. Tugas Akhir. Semarang: Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Yustia, W. S. 2008. Studi Pemanfaatan Sistem GPS CORS Dalam Rangka Pengukuran Bidang Tanah. Sripsi. DepartemenTeknik Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Bandung Aries, Rakhmat. Sunantyo, Aries. Subhianto, Fajar. P, Hidayat. 2009. Studi Pemetaan Titik Batas Bidang Tanah Menggunakan Aplikasi GPS CORS dengan Metode Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 330

RTK-NTRIP. Jurnal. Yogyakarta: Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Teknik UGM. (UNOOSA,2011) 10 Years of Achievement of the United Nations on Global Navigation Satellite System, New York 2011. (The Royal Academy of Engineering,2011) Global Navigation Space Systems: Reliance and Vulnera-bilities, London, 2011. (Tim Badan Pertanahan Nasional, 2011) On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station). Direktorat Pengukuran Dasar Deputi Survei, Pengukuran Dan Pemetaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Wolf, Paul R and Charles D. Ghillani. 2006. Adjustment Computation. Jhon Wiley & Son. New York Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, (ISSN : 2337-845X) 331