Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016
|
|
|
- Sukarno Atmadjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS KETELITIAN PENGAMATAN GPS MENGGUNAKAN SINGLE FREKUENSI DAN DUAL FREKUENSI UNTUK KERANGKA KONTROL HORIZONTAL Reisnu Iman Arjiansah, Bambang Darmo Yuwono, Fauzi Janu Amarrohman *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp.(024) , [email protected] ABSTRAK Kerangka kontrol Horizontal merupakan sebuah tugu/patok yang digunakan sebagai titik referensi atau acuan dalam bentuk koordinat ( X,Y )yang berguna pengukuran dan pemetaan di lapangan. Untuk memperoleh koordinat titik kontrol tersebut salah satunya dengan menggunakan metode Survei GPS yaitu dengan menangkap informasi yang dikirimkan oleh satelit diluar angkasa ke receiver pengamatan di Bumi. Receiver GPS mempunyai beberapa jenis salah satunya ditinjau dari sinyal yang ditangkap yaitu receiversingle &Dual. Kedua jenis receiver tersebut mempunyai perbedaan dalam menangkap gelombang pembawa L1 dan L2. Perbedaan tersebut tentunya mempengaruhi kualitas data dan hasil pengamatan. Terkait dengan masalah tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengukuran pada titik kontrol dengan menggunakan GPS Single dengan lama pengamatan + 8 Jam dan GPS Dual dengan lama pengamatan + 4 Jam. Pada proses pengolahan dilakukan dengan variasi baseline titik ikat yang masing-masing akan diikatkan pada stasiun CORS (Continuosly Operating Reference Stations) UDIP, CSEM, CMGL, dan BAKO yang diolah menggunakan softwaretopcon Tools dan GAMIT/GLOBK. Nilai perbedaan koordinat antara hasil pengukuran GPS Single dan Dual dengan variasi panjang baseline dengan jarak + 3 Km mempunyai rentang nilai 0,003 m 0,030 m; jarak baseline+ 9 Km pada rentang nilai 0,008 m 0,070 m; jarak baseline+55 Km pada rentang nilai 0,030 m 0,400 m dan jarak baseline+399 Km pada rentang nilai 0,100 m 0,700 m. Ketelitian hasil pengamatan GPS Single dan Dual pada jarak baseline titik ikat <10 Km seperti CORS UDIP dan CSEM mempunyai ketelitian yang relatif sama. Namun pada jarak baseline titik ikat > 50 Km masih belum cukup memenuhi ketelitian yang didapatkan. Kata Kunci : Baseline, CORS, Dual, GPS, Single, Statik ABSTRACT Horizontal Control is a point that used as reference in the form of coordinate that useful for measuring and mapping in the field. GPS Survey is one of the methods to obtain the coordinate control point. It can seize the information that sent by the space satellite to the observing receiver in the Earth. There are several types of GPS receiver, one of them is based on the signal that can be acquired, that is Single Frequency and Dual Frequency Receiver. How to acquire the L1 and L2 carrier wave is different from single and dual frequency receiver. The difference can affect the data quality and the result of observation. Based on that problem, so this study measured in the control point using Single Frequency GPS during ± 8 hours observation and Dual Frequency GPS during ± 4 hours observation. In GPS data processing, various bundle point baseline will be tied to CORS (Continously Operating Reference Stations) UDIP, CSEM, CGML, and BAKO which will be processed using Topcon Tools and GAMIT/GLOBK Software. The value of the difference between the measurement results of GPS coordinates Single and Dual Frequency with baseline length variations tied to the CORS UDIP point has a value range of m m ; CORS CSEM in the value range of m m ; CORS CMGL the value range m m and CORS BAKO the value range m m. Accuracy Single Frequency GPS observations and Dual Frequency at baseline distance fastening point < 10 Km such as CORS UDIP and CSEM has the same relative precision. But at a distance of baseline > 50 Km has different result.. Keyword : Baseline, CORS, Dual Frequency, GPS, Single Frequency, Static *) Penulis, Penanggung Jawab Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 254
2 I. Pendahuluan I.1 Latar Belakang Kerangka kontrol horizontal merupakan sebuah tugu/patok yang digunakan sebagai titik referensi atau acuan dalam pengukuran dan pemeetaan. Kerangka kontrol yang terdapat di lapangan berperan penting dalam suatu pekerjaan pemetaan karena titik kontrol tersebut memberikan data awal yang nantinya digunakan untuk pengukuran selanjutnya. Sebagai titik referensi dalam pengukuran di lapangan, Kerangka kontrol horizontal mempunyai beberapa tingkatan atau sering disebut orde. Tingkatan orde dilihat dari tingkat ketelitian data patok Titik kontrol. Tingkatan tersebut antara lain Orde 0, 1, 2, 3 dan 4 diurutkan dari ketelitian yang paling tinggi sampai rendah. Pemilihan orde titik kontrol tergantung pada kebutuhan akan pengukuran yang mana membutuhkan ketelitian tinggi atau tidak. Titik kontrol Orde 0 dan 1 dibuat oleh BIG dan untuk orde 2, 3, dan 4 dibuat oleh BPN. Titik kontrol di lapangan mempunyai data koordinat masing-masing dalam sistem koordinat tertentu. Koordinat dari kerangka kontrol tersebut sangat penting bagi pengukuran dan pemeetaan di lapangan. Sehingga untuk mendapatkan data koordinat pada suatu titik kontrol perlu dilakukan pengukuran dengan keteltian yang baik. Salah satu metode penentuan koordinat yang cukup teliti menggunakan metode survei GNSS dengan memanfaatkan teknologi satelit. Metode survei GNSS terbagi dari beberapa jenis salah satu metode survei GNSS adalah survei static. Metode static dalam survei GNSS yaitu survei GNSS dengan objek yang diam dan ditentukan lama pengamatannya. Metode static tepat untuk pengukuran titik kontrol yang memang harus mempunyai ketelitian yang tinggi. Pada prinsipnya receiver akan menangkap sinyal yang dikirimkan oleh satelit. Komponen sinyal yang dikirim antara lain : Penginformasi Jarak ( Code ), Penginformasi posisi satellite ( Navigation Message ) dan gelombang pembawa ( Carrier Wave ). Untuk menangkap sinyal tersebut perlu adanya alat yang sering disebut receiver GNSS. Receiver GNSS tipe geodetik terdapat 2 jenis yaitu Single dan Dual. Single yang dimaksud adalah receiver GNSS yang merekam sinyal gelombang pembawa L1 dan data ( Code& Navigation Massage ). Sedangkan untuk tipe Dual merekam sinyal gelombang pembawa L1, L2 dan data ( Code&Navigation Massage ). Perbedaan sinyal yang direkam oleh receiver tipe Single dan Dual dapat menyebabkan terjadinya perbedaan hasil nilai koordinat dan ketelitian yang diperoleh antara kedua tipe receiver tersebut. Secara teori dan konsep memang GPS Dual mempunyai ketelitian lebih baik dibandingkan dengan GPS Single. Namun perlu dilakukan kajian seberapa jauh perbedaan antara GPS Single dan Dual. Oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apasaja yang dapat mempengaruhi perbedaan hasil yang diperoleh tersebut. I.2 Perumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perbedaan koordinat horizontal GPS Single dan GPS Dual untuk penentuan posisi ditinjau dari panjang baseline. 2. Bagaimana ketelitian horizontal GPS Single dan GPS Dual untuk penentuan posisi. I.3 Batasan Masalah Untuk menjelaskan permasalahan yang akan dibahas dan agar tidak terlalu jauh dari kajian masalah, maka penelitian ini akan dibatasi pada halhal berikut: 1. Daerah penelitian Tugas Akhir adalah Titik Kontrol TTG 447, GD 16, dan TTG 449 di Kota Semarang, Jawa Tengah. 2. Pengumpulan data dilakukan pengukuran GPS Sokkia Stratus Single & GPS Topcon Hiper Gb Dual secara static. 3. Sebagai data pendukung diperlukan data CORS UDIP, CSEM, BAKO, CMGL Stasiun IGS lainnya, brdc dan Pricise Ephemeris. 4. Data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah data hasil pengukuran GPS dengan format RINEX. 5. Pengolahan data pengamatan GPS menggunakan Scientific Software GAMIT/GLOBK 10.6 dan Topcon Tools untuk menghasilkan koordinat titik pengamatan I.4 Maksud dan Tujuan Penelitian Adapun tujuan Peneltian yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah: 1. Mengetahui perbedaan koordinat horizontal GPS Single dan GPS Dual untuk penentuan posisi. 2. Mengetahui ketelitian horizontal GPS Single dan GPS Dual untuk penentuan posisi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengevaluasi perbedaan GPS Single dan GPS Dual untuk pengolahan dengan variasi baseline. I.5Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian Analisis Pengukuran GPS Single &Dual ini dilakukan di titik kontrol yang berada di Kota Semarang dengan titik TTG 447, GD 16, dan TTG 449. Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 255
3 II. Tinjauan Pustaka II.1. Titik Kontrol Titik kontrol adalah sebuah patok/tugu yang dibuat sebagai titik kontrol/acuan dalam melakukan pengukuran dan pemetaan di lapangan. Titik kontrol sangat diperlukan untuk pengukuran di lapangan karena sebagai titik awal koordinat yang diketahui dilapangan sehingga untuk pengukuran detail lainnya sesuai dengan sistem koordinat yang sama. Sebagai titik referensi dalam pengukuran di lapangan, titik kontrol mempunyai beberapa tingkatan atau sering disebut orde. Tingkatan orde dilihat dari tingkat ketelitian data patok Titik kontrol. Tingkatan tersebut antara lain Orde 0, 1, 2, 3, dan 4 diurutkan dari ketelitian yang paling tinggi sampai rendah ( SNI ). Penggunaan orde pada titik kontrol tergantung pada kebutuhan akan pengukuran yang mana membutuhkan ketelitian tinggi atau tidak. Untuk titik kontrol Orde 0 dibuat oleh BIG dan untuk orde 1, 2, 3 dibuat oleh BPN. II.2.Sinyal dan Data GPS Satelit GPS yang ada di luar angkasa memancarkan sinyal yang berisi data yang nantinya diterima oleh receiver yang ada dibumi. Pada prinsipnya satelit GPS memancarkan sinyal untuk memberitahu si pengamat sinyal tersebut tentang posisi satelit GPS yang bersangkutan serta jaraknya dari pengamat lengkap dengan informasi waktunya (Abidin, H. Z, 2007). Data pengamatan dasar GPS adalah waktu tempuh ( t) dari kode-kode P dan C/A serta fase (carrier-phase), penginformasi satelit (Navigation Massage) dan gelombang pembawa L1 dan L2. Seseorang dapat mengamati sebagian atau seluruh jenis pengamatan tersebut tergantung pada jenis dan tipe alat penerima sinyal GPS (GPS receiver) yang digunakan. Hasil pengamatan tersebut terkait dengan posisi pengamat (x,y,z) (Abidin, H. Z,2007). II.3.Prinsip Penentuan Posisi Metode penentuan posisi dengan GPS terbagi dua, yaitu metode absolut, dan metode diferensial. Masing-masing metode kemudian dapat dilakukan dengan cara real-time dan postprocessing. Apabila objek yang ditentukan posisinya diam maka metodenya disebut Static. Sebaliknya apabila obyek yang ditentukan posisinya bergerak maka metodenya disebut kinematik. Prinsip penentuan posisi dengan GPS yaitu menggunakan metode reseksi jarak, dimana pengukuran jarak dilakukan secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya. Pada pengukuran GPS, setiap epoknya memiliki empat parameter yang harus ditentukan yaitu 3 (tiga) parameter koordinat X, Y, Z atau L,B,h dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam osilator di satelit dengan jam di receiver GPS. Oleh karena diperlukan minimal pengukuran jarak ke empat satelit (Abidin, H. Z, 2007). II.4.Metode Penentuan Posisi dan Lama Waktu Pengamatan GPS Secara garis besar penentuan posisi GPS untuk Surveying dapat dibagi 2, yaitu absolute positioning dan difrensial positioning. Metode-metode ini yang menentukan ketelitian posisi yang diinginkan. Ketelitian GPS bervariasi mulai dari fraksi meter sampai dengan millimeter, tergantung pada metode apa yang digunakan. Sementara itu dalam pengukuran GPS ada beberapa faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah lama waktu pengamatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi lama waktu pengamatan adalah panjang baseline, dapat dilihat pada Tabel II.1 Tabel II.1 Metode dan Lama Waktu Pengamatan Terhadap Panjang Baseline(Abidin, H. Z, 2007) Panjang Baseline Metode Hanya L1 L1 dan L2 0 5 km Stop and Go 2 menit 2 menit 0 5 km Rapid Static 30 menit 15 menit 5 10 km Rapid Static 50 menit 25 menit km Static 90 menit 60 menit km Static 180 menit 120 menit II.5.Sistem CORS (Continuously Operating Reference Station) CORS (Continuously Operating Reference Stations) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara kontinyu 24 jam per hari, 7 hari per minggu dengan mengumpulkan, merekam, mengirim data, dan memungkinkan para pengguna memanfaatkan data untuk penentuan posisi, baik secara post-processing maupun real-time. CORS di Indonesia sendiri pertama kali dioperasikan oleh Badan Informasi Geodpasial pada tahun 1996 dan disebut IPGSN (Indonesia Permanen GNSS Station Network) pada bulan April 2012, jaringan CORS IPGSN telah memiliki 117 Stasiun yang tersebar diseluruh Indonesia. Selain IPGSN, jaringan CORS di Indonesia juga diembangkan oleh BPN pada bulan April 2012 dan telah memiliki 93 stasiun, 70 diantaranya berada di Pulau Jawa (Madena, 2013). Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 256
4 III. Metodologi Penelitian III.1. Alat Yang Digunakan 1) Receiver GNSS Topcon Hiper GbDual 2) Receiver GNSS Sokkia StratusSingle 3) Tripod, Tribach, Meteran 4) Dan Alat Pendukung Survei Lainnya III.2 Data Penelitian Data yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1) Data CORS UDIP, CSEM, CMGL, BAKO. 2) Datahasil pengukuran GPS StatikSingle 3) Datahasil pengukuran GPS StatikDual 4) Data Pendukung Stasiun IGS lainnya, brdc dan Pricise Ephemeris. III.3 Metodologi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode statik dengan menggukan GPS Single dengan lama pengamatan +4 jam dan GPS Dual dengan lama pengamatan +8 jam. Pengumpulan Bahan Penelitian dan Studi Literatur III.3 Pengolahan Data Pada penelitian ini dilakukan proses pengolahan data berikut : 1. Pengolahan Data GPSSingle Pengolahan data hasil pengamatan GPS Single diolah dengan menggunakan SoftwareTopcon Tools v.8 yang masing-masing akan diikat dengan Stasiun CORS UDIP, CSEM, CMGL, dan BAKO. 2. Pengolahan Data GPSDual Pengolahan data hasil pengamatan GPS Dual diolah dengan menggunakan SoftwareTopcon Tools v.8 dan GAMIT/GLOBK yang masing-masing akan diikat dengan Stasiun CORS UDIP, CSEM, CMGL, dan BAKO. IV. Hasil Dan Analisis IV.1 Hasil dan Analisis Simpangan Baku Pengolahan GPS Pada proses pengolahan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil simpangan baku pengolahan GPS Single dan Dual yang dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Pengukuran GPS Dual RAW data GPS Data Cors CSEM, BAKO, UDIP, Stasiun IGS lain, Precis Ephemeris Pengukuran GPS Single RAW data GPS Konversi data ke format RINEX RINEX titik pengamatan Konversi data ke format RINEX RINEX titik pengamatan Gambar IV.1.Grafik Simpangan Baku pada Titik Ikat CORS UDIP Pengolahan dengan GAMIT/GLOBK Pengolahan dengan Topcon Tools Pengolahan dengan Topcon Tools Model Variasi Base I, II, III, IV Model Variasi Base I, II, III, IV Model Variasi Base I, II, III, IV Perhitungan Selisih Koordinat Gambar IV.2. Grafik Simpangan Baku pada Titik Ikat CORS CSEM Analisis Perbedaan dan Uji Statistik Kesimpulan Gambar III.1. Diagram Alir Penelitian Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 257
5 Gambar IV.3. Grafik Simpangan Baku pada Titik Ikat CORS CMGL Gambar IV.3. Grafik Simpangan Baku pada Titik Ikat CORS BAKO Dapat dilihat pada grafik perbandingan antara Topcon ToolsSingle dan Dual terhadap GAMIT pada titik ikat menggunakan CORS UDIP pengolahan GAMIT cenderung mempunyai ketelitian yang lebih jelek. Sedangkan pada titik ikat CORS CSEM lebih bervasaiasi, pada pengolahan GAMIT dan Topcon tool Single relatif stabil namun pada pengolahan Topcon ToolsDual simpangan bakunya tidak stabil terutama pada titik sukn2 mempunyai ketelitian yang kurang bagus. Kemudian pada titik ikat yang lebih jauh yaitu CMGL dan CSEM ketelitian GAMIT lebih daik dari pengolahan lainnya. IV.2Analisis Perbedaan Koordinat Single dan Dual Menggunakan Topcon Tools Setelah diperoleh hasil koordinat masing-masing maka dilakukan perhitungan selisih koordinat dan mencari simpangan baku dari hasil tersebut yang dapat dilihat pada Tabel IV.1. Tabel IV.1. Hasil perhitungan simpangan baku selisih Koordinat Single dan Dual Menggunakan Topcon Tools CORS Jarak (Km) Simpangan Baku SF-DF N (m) E (m) Koordinat (m) UDIP CSEM CMGL BAKO Hasil pengolahan Topcon Toolsyang dikatkan pada CORS UDIP diperoleh hasil rata-rata dari perhitungan nilai pergeseran jarak atau lateral (dl) yaitu m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu m dan pada sumbu easting serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,025 m. Selain itu pada hasil perhitungan dari Single terhadap Dual dengan titik ikat CORS CSEM diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,080 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,042 m dan pada sumbu easting + 0,078 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,088 m. Kemudian pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS CMGL diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,445 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,442 m dan pada sumbu easting+ 0,058 serta simpangan baku koordinat horizontal m. Pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS BAKO diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,663 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,645 m dan pada sumbu easting+ 0,157 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,663 m. Dari hasil di tersebut dapat dilihat bahwa CORS UDIP sebagai titik ikat (base) mempunyai nilai pergeseran yang relatif rendah baik untuk pengukuran dengan menggunakan Single maupun Dual. kemudian untuk hasil simpangan baku antara Single dan Dual pada titik CORS UNDIP mempunyai nilai yang baik. Hal tersebut bisa terjadi karena jarak baseline CORS UNDIP ke titik pengamatan relatif pendek IV.3Analisis Perhitungan Selisih Koordinat Hasil dari Topcon Tools terhadap GAMIT/GLOBK. IV.3.1Analisis Perhitungan Selisih Koordinat GPS Single dengan menggunakan Topcon Tools terhadap GAMIT/GLOBK Setelah diperoleh hasil koordinat masing-masing maka dilakukan perhitungan selisih koordinat dan mencari simpangan baku dari hasil tersebut yang dapat dilihat pada Tabel IV.2. Tabel IV.2. Hasil perhitungan simpangan baku selisih Koordinat Single Topcon Toolsterhadap GAMIT/GLOBK CORS Jarak (Km) Simpangan Baku GMT-SF N (m) E (m) Koordinat (m) UDIP CSEM CMGL BAKO Dapat dilihat pada hasilyang dikatkan pada CORS UDIP yang dihitung terhadap GAMIT Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 258
6 diperoleh hasil rata-rata dari perhitungan nilai pergeseran jarak atau lateral (dl) yaitu 0,080 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,024 m dan pada sumbu easting+ 0,088 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,092 m. Selain itu pada hasil perhitungan dari Single terhadap GAMIT dengan titik ikat CORS CSEM diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,223 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,120 m dan pada sumbu easting+ 0,190 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,225 m. Kemudian pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS CMGL diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,423 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,380 m dan pada sumbu easting+ 0,186 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,423 m. Pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS BAKO diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,743 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,675 m dan pada sumbu easting+ 0,312 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,744 m. Pada titik ikat CORS UNDIP mempunyai nilai yang cukup bagus dibandingkan dengan titik ikat lainnya. IV.3.2Analisis Perhitungan Selisih Koordinat GPS Dual dengan menggunakan Topcon Tools terhadap GAMIT/GLOBK Setelah diperoleh hasil koordinat masing-masing maka dilakukan perhitungan selisih koordinat dan mencari simpangan baku dari hasil tersebut yang dapat dilihat pada Tabel IV.3. Tabel IV.3. Hasil perhitungan simpangan baku selisih Koordinat Dual Topcon Toolsterhadap GAMIT/GLOBK CORS Jarak (Km) Simpangan Baku GMT-DF N (m) E (m) Koordinat (m) UDIP CSEM CMGL BAKO Dapat dilihat padahasilyang dikatkan pada CORS UDIP yang dihitung terhadap GAMIT diperoleh hasil rata-rata dari perhitungan nilai pergeseran jarak atau lateral (dl) yaitu 0,075 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,029 m dan pada sumbu easting+ 0,088 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,093 m. Selain itu pada hasil perhitungan dari Single terhadap GAMIT dengan titik ikat CORS CSEM diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,162 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,102 m dan pada sumbu easting+ 0,127 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,166 m. Kemudian pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS CMGL diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,145 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,066 m dan pada sumbu easting+ 0,132 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,147 m. Pada hasil perhitungan dengan titik ikat CORS BAKO diperoleh hasil rata-rata nilai pergeseran jarak lateral (dl) yaitu 0,141 m dengan nilai simpangan baku pada sumbu northing yaitu + 0,037 m dan pada sumbu easting+ 0,150 serta simpangan baku koordinat horizontal + 0,155 m. IV.4. Analisis Kualitas Geometri Satelit dengan RTKLIB Data pengamatan yang telah diperoleh kemudian dicek terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas geometri satelit data.pengecekan dilakukan dengan menggunakan program RTKPLOTyang sudah tersedia di dalam SoftwareRTKLIB dapat dilihat pada Tabel IV.4dan Tabel IV.5. Tabel IV.4.Nilai DOP pada titik pengamatan GPSSingle Titik GDOP PDOP HDOP VDOP TTG TTG GD Rata-rata Tabel IV.5.Nilai DOP pada titik pengamatan GPSDual Titik Kode GDOP PDOP HDOP VDOP TTG 447 TTG 449 GD 16 Ibc1 Sukn1 GD16a Ibc2 Sukn2 GD16b Rata-rata Pada Tabel IV.4. Menunjukkan kualitas geometri satelit pada pengamatan GPS Single. Dimana nilai GDOP paling besar adalah pada titik TTG449 yaitu 3,3 sedangkan GDOP terkecil ada pada titik TTG447 yaitu 2,6. Kemudian pada nilai PDOP terbesar ada pada titik TTG449 yaitu sebesar 2,8. Sedangkan nilai PDOP terkecil ada pada titik TTG447 yaitu sebesar 2,2. Nilai HDOP yang paling besar ada pada titik TTG4491,4. Sedangkan nilai HDOP terkecil ada pada TTG447 yaitu sebesar 1,0. Nilai VDOP yang paling besar ada pada titik TTG449 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 259
7 yaitu sebesar 2,4. Sedangkan nilai VDOP terkecil ada pada titik TTG447 dan GD16 yaitu sebesar 2,0. Ratarata nilai GDOP adalah sebesar 2,9. Rata-rata nilai PDOP sebesar 2,4. Rata-rata nilai HDOP sebesar 1,2. Rata-rata nilai VDOP sebesar 2,1. Secara keseluruhan nilai DOP pada GPS Single menunjukkan nilai yang kecil artinya geometri satelit pada titik pengamatan cukup baik. Namun hasil DOP paling besar terjadi pada titik TTG449 dikarenakan lokasi pengamatan terjadai banyak gangguan benda-benda sekitar atau multipath. Pada Tabel IV.5. Menunjukkan kualitas geometri satelit pada pengamatan GPS Dual. Dimana nilai GDOP paling besar adalah pada titik sukn1 yaitu 3,5 sedangkan GDOP terkecil ada pada titik ibc1 yaitu 2,3. Kemudian pada nilai PDOP terbesar ada pada titik sukn1 yaitu sebesar 2,9. Sedangkan nilai PDOP terkecil ada pada titik ibc2 yaitu sebesar 2,0. Nilai HDOP yang paling besar ada pada titik sukn11,4. Sedangkan nilai HDOP terkecil ada pada Ibc2 dan GD16a yaitu sebesar 1,0. Nilai VDOP yang paling besar ada pada titik TTG449a yaitu sebesar 2,9. Sedangkan nilai VDOP terkecil ada pada titik Ibc2 dan GD16a yaitu sebesar 1,8. Rata-rata nilai GDOP adalah sebesar 2,8. Rata-rata nilai PDOP sebesar 2,4. Rata-rata nilai HDOP sebesar 1,2. Ratarata nilai VDOP sebesar 2,1. Secara kesluruhan nilai DOP pada GPS Dual menunjukkan nilai yang kecil artinya geometri satelit pada titik pengamatan cukup baik. Namun hasil DOP paling besar terjadi pada titik TTG449 dikarenakan lokasi pengamatan terjadai banyak gangguan benda-benda sekitar atau multipath. Dari hasil DOP antara pengamatan menggunakan GPS Single dan Dual jika dikaitkan dengan DOP Ratings pada Tabel IV.51hasil pengamatan tersebut masuk dalam ketegori Excellent dengan rentang nilai DOP 2,0-4,0 dan sudah dapat dikatakan baik IV.4. Uji Statistik IV.4.1 Uji Statistik F ( Distribusi Fisher ) Single dan Dual Pada Uji F (Distribusi Fisher ) ini digunakan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan atau tidak dari hasil pengamatan dengan menggunakan ReceiverSingle dengan Dual. Perhitungan ini dilakukan dengan membandingkan varian secara global dimasing-masing titik ikat pada receiversingle dan Dual. Nama Base Tabel IV.6. Simpangan Baku pengamatansingle dan Dual menggunakan Topcon Tools Jarak (Km) Simpangan Baku Horizontal (m) Single Dual Single ppm Dual UDIP CSEM CMGL BAKO Perhitungan uji F untuk mengetahui hasil dari hipotesa nol diterima atau ditolak dengan menggunakan Rumus berikut : Single : σx = 1.0 v = 6 Dual : σx = 1.0 v = 6 Tingkat Kepercayaan : 95 % Hipotesa 0 : F hitungan < F tabel diterima, tidak terjadi perbedaan yangsignifikan antara single frekuensi dan dual frekuensi. F /2,,v1,v2 = F 0.95,6,6 = 1/ F 0.025,6,6 Jadi = F Hitung < F Tabel < 9,605 Hipotesa 0 diterima Untuk hasil pada uji F lainnya antara Single dan Dual dapat dilihat pada Tabel IV.55 dibawah ini, Tabel IV.7. Hasil Uji F antara Single dan Dual ppm Nama Base Single Dual F Hitung n F Tabel Hipotesa 0 UDIP Diterima CSEM Diterima 5.82 CMGL Ditolak BAKO Ditolak Dilihat uji statistik data pengukuran menggunakan distribusi fisher dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol dengan selang kepercayaan 95% pada titik ikat CORS UDIP dan CSEM diterima, yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 260
8 Nama Base antara hasil Pengamatan Single dan Dual. Kemudia pada titik ikat CORS CMGL dan BAKO hipotesis nol ditolak, yang yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil Pengamatan Single dan Dual. IV.4.1 Uji Statistik F ( Distribusi Fisher ) Single dan Dual terhadap GAMIT/GLOBK Pada Uji F (Distribusi Fisher ) ini digunakan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan atau tidak dari selisih hasil pengamatan dengan menggunakan ReceiverSingle dengan Dual terhadap GAMIT/GLOBK. Perhitungan ini dilakukan dengan membandingkan varian secara global pada receiversingle dan Dual yang diperoleh dari hasil perhitungan selisih terhadap GAMIT. Tabel IV.8. Simpangan Baku pengamatanselisih Single Topcon tools dengan GAMIT dan Selisih Dual Topcon Tools dengan GAMIT Jarak (Km) Simpangan Baku Horizontal (m) Single Dual Single ppm Dual UDIP CSEM CMGL BAKO Perhitungan uji F untuk mengetahui hasil dari hipotesa nol diterima atau ditolak dengan menggunakan Rumus berikut : Single : σx = v = 6 Dual : σx = v = 6 Tingkat Kepercayaan : 95 % Hipotesa 0 F /2,,v1,v2 = F 0.95,6,6 Jadi F Hitung < F Tabel : F hitungan < F tabel diterima, tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara single frekuensi dan dual frekuensi = 1/ F 0.025,6,6 = < Hipotesa 0 diterima Untuk hasil pada uji F lainnya antara Single dandual terhadap GAMIT dapat dilihat pada Tabel IV.9 dibawah ini, Tabel IV.9. Hasil uji F antara Single dandual terhadap GAMIT ppm Nama Base F Hitung n F Tabel Hipotesa 0 Single Dual UDIP Diterima CSEM Diterima CMGL Ditolak BAKO Ditolak Dilihat uji statistik data pengukuran menggunakan distribusi fisher dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol dengan selang kepercayaan 95% pada titik ikat UDIP dan CSEM terhadap GAMIT diterima, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil Pengamatan Single dan Dual. Dapat dikatakan bahwa pegamatan Single selama 8 jam hampir mendekati Dual yang lama pengamatannya 4 jam terhadap GAMIT. Kemudian untuk titik ikat CORS BAKO dan CMGL hipotesa 0 ditolak yang berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara Single dan Dual yang dihitung terhadap GAMIT. V. Penutup V.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dari data penelitian survei GPS menggunakan Single dan Dual, dapat disimpulkan bahwa: 1. Nilai perbedaan koordinat antara hasil pengukuran GPS Single dan Dual dengan variasi panjang baseline titik ikat CORS UDIP mempunyai rentang nilai 0,003 m 0,030 m; CORS CSEM pada rentang nilai 0,008 m 0,070 m; CORS CMGL pada rentang nilai 0,030 m 0,400 m dan CORS BAKO pada rentang nilai 0,100 m 0,700 m. 2. Ketelitian hasil pengamatan GPS Single dengan lama waktu pengamatan + 8 jamdan Dual dengan lama waktu pengamatan + 4 jam pada jarak baseline titik ikat <10 Km seperti CORS UDIP dan CSEM mempunyai ketelitian yang relatif sama. Namun pada jarak baseline titik ikat > 50 Km masih belum cukup memenuhi ketelitian yang didapatkan. V.2. Saran Dari penelitian yang sudah dilakukan penulis ingin memberikan saran untuk penelitian selanjutnya yaitu : 1. Sebaiknya dilakukan pengukuran GPS dilakukan ditempat yang terbuka dan minim dari gangguan benda disekitar. Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 261
9 2. Sebaiknya perlu mencari alat GPS Single yang hasilnya dapat diolah dengan menggunakan GAMIT/GLOBK 3. Sebaiknya perlu dilakukan variasi waktu pengamatan yang lebih beragam pada saat melakukan pengamatan GPS. VI. Daftar Pustaka Abidin, H. Z Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. PT Pradnya Paramita: Jakarta. Badan Standar Nasional Standar Nasional Indonesia Jaring Kontrol Horizontal (SNI ). BIG: Bogor. Badan Standar Nasional Standar Nasional Indonesia Jaring Kontrol Vertikal (SNI ). BIG: Bogor. Madena Verifikasi Koordinat TDT Orde 3 dengan Pengukuran GNSS RTK Menggunakan Stasiun CORS Geodesi UNDIP. Skripsi Teknik Geodesi Program Sarjana Univeritas Diponegoro: Semarang. Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, (ISSN : X) 262
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Badan Pertanahan Nasional (BPN) merupakan suatu Lembaga Pemerintah yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional
Jurnal Geodesi Undip OKTOBER 2017
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN GPS PEMETAAN Armenda Bagas Ramadhony, Moehammad Awaluddin, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof.
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Verifikasi TDT Orde 2 BPN dengan Stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan Rizna Trinayana, Bambang Darmo Yuwono, L. M. Sabri *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof
Jurnal Geodesi Undip April 2016
ANALISIS PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RTKLIB Desvandri Gunawan, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto
METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS
METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS METODE ABSOLUT Metode Point Positioning Posisi ditentukan dalam sistem WGS 84 Pronsip penentuan posisi adalah reseksi dengan jarak ke beberapa satelit secara simultan
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013
Analisis Ketelitian Pengukuran Baseline Panjang GNSS Dengan Menggunakan Perangkat Lunak Gamit 10.4 dan Topcon Tools V.7 Maulana Eras Rahadi 1) Moehammad Awaluddin, ST., MT 2) L. M Sabri, ST., MT 3) 1)
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Verifikasi Koordinat Titik Dasar Teknik Orde 3 dengan Pengukuran GNSS Real Time Kinematic Menggunakan Stasiun CORS Geodesi UNDIP di Kota Semarang Arinda Yusi Madena, L. M Sabri, Bambang Darmo Yuwono *)
Pengaruh Penambahan Jumlah Titik Ikat Terhadap Peningkatan Ketelitian Posisi Titik pada Survei GPS
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No.2 Vol. 01 ISSN 2338-350x Oktober 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Pengaruh Penambahan Jumlah Titik Ikat Terhadap Peningkatan Ketelitian Posisi
Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS
Jurnal Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi No. 1 Vol. 1 ISSN 2338-350X Juni 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS RINA ROSTIKA
Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech ASH111661
A369 Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech I Gede Brawiswa Putra, Mokhamad Nur Cahyadi Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
MODUL 3 GEODESI SATELIT
MODUL 3 GEODESI SATELIT A. Deskripsi Singkat Geodesi Satelit merupakan cabang ilmu Geodesi yang dengan bantuan teknologi Satelite dapat menjawab persoalan-persoalan Geodesi seperti Penentuan Posisi, Jarak
ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL
ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Ketelitian data Global Positioning Systems (GPS) dapat
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Analisis Pengaruh Panjang Baseline Terhadap Ketelitian Pengukuran Situasi Dengan Menggunakan GNSS Metode RTK-NTRIP (Studi Kasus: Semarang, Kab. Kendal dan Boyolali) Ega Gumilar Hafiz, Moehammad Awaluddin,
PENENTUAN POSISI DENGAN GPS
PENENTUAN POSISI DENGAN GPS Disampaikan Dalam Acara Workshop Geospasial Untuk Guru Oleh Ir.Endang,M.Pd, Widyaiswara BIG BADAN INFORMASI GEOSPASIAL (BIG) Jln. Raya Jakarta Bogor Km. 46 Cibinong, Bogor 16911
Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-Titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN GNSS METODE RTK-NTRIP PADA STASIUN CORS UNDIP, STASIUN CORS BPN KABUPATEN SEMARANG, DAN STASIUN CORS BIG KOTA SEMARANG Rizki Widya Rasyid, Bambang Sudarsono,
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS (Sigit Irfantono*, L. M. Sabri, ST., MT.**, M. Awaluddin, ST., MT.***) *Mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. **Dosen Pembimbing I Teknik Geodesi Universitas
Jurnal Geodesi Undip Juli 2014
KAJIAN PENGUKURAN DAN PEMETAAN BIDANG TANAH METODE DGPS POST PROCESSING DENGAN MENGGUNAKAN RECEIVER TRIMBLE GEOXT 3000 SERIES Arintia Eka Ningsih, M. Awaluddin, Bambang Darmo Yuwono *) Program Studi Teknik
On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station)
On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station) Direktorat Pengukuran Dasar Deputi Survei, Pengukuran Dan Pemetaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2011 MODUL
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
ANALISIS GEOMETRI JARING PADA PENGUKURAN GPS UNTUK PENGADAAN TITIK KONTROL ORDE-2 Fuad Hari Aditya, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH MENGGUNAKAN GNSS RTK-RADIO DAN RTK-NTRIP PADA STASIUN CORS UNDIP Mualif Marbawi, Bambang Darmo Yuwono, Bambang Sudarsono *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik
Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No.2 Vol. 01 ISSN 2338-350x Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-titik
Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap
Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap BAMBANG RUDIANTO, RINALDY, M ROBBY AFANDI Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
STUDI PERBANDINGAN GPS CORS METODE RTK NTRIP DENGAN TOTAL STATION
SIDANG TUGAS AKHIR STUDI PERBANDINGAN GPS CORS METODE RTK NTRIP DENGAN TOTAL STATION Yoga Prahara Putra [email protected] JURUSAN TEKNIK GEOMATIKA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK TOPCON TOOLS v.8.2 Amri Perdana Ginting, Bambang Darmo Yuwono, Moehammad Awaluddin *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Unversitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tertib administrasi bidang tanah di Indonesia diatur dalam suatu Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Peraturan Pemerintah tersebut memuat
STUDI TENTANG CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION GPS (Studi Kasus CORS GPS ITS) Oleh: Prasetyo Hutomo GEOMATIC ENGINEERING ITS
STUDI TENTANG CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION GPS (Studi Kasus CORS GPS ITS) Oleh: Prasetyo Hutomo 3505.100.023 GEOMATIC ENGINEERING ITS CORS (Continuously Operating Reference System) CORS (Continuously
BAB III GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)
BAB III GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) III. 1 GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Global Positioning System atau GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit [Abidin, 2007]. Nama
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jembatan adalah suatu struktur konstruksi yang memungkinkan rute transportasi melintasi sungai, danau, jalan raya, jalan kereta api dan lainlain.jembatan merupakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Data Koordinat Definitif Titik Dasar Teknik Orde 3 BPN Titik Dasar Teknik adalah titik yang mempunyai koordinat yang diperoleh dari suatu pengukuran dan perhitungan dalam
ANALISA PENENTUAN POSISI HORISONTAL DI LAUT DENGAN MAPSOUNDER DAN AQUAMAP
ANALISA PENENTUAN POSISI HORISONTAL DI LAUT DENGAN MAPSOUNDER DAN AQUAMAP Khomsin 1, G Masthry Candhra Separsa 1 Departemen Teknik Geomatika, FTSLK-ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, 60111, Indonesia
AKURASI PENGUKURAN GPS METODE RTK-NTRIP MENGGUNAKAN INA-CORS BIG Studi Kasus di Sumatera Utara
Akurasi Pengukuran Gps Metode RTK-NTRIP...(Safi i dan Aditya) AKURASI PENGUKURAN GPS METODE RTK-NTRIP MENGGUNAKAN INA-CORS BIG Studi Kasus di Sumatera Utara (Accuracy of GPS Measurement Using RTK-NTRIP
ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP
ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Metode Real Time Point Precise Positioning (RT-PPP) merupakan teknologi
PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK
PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Salah satu kegiatan eksplorasi seismic di darat adalah kegiatan topografi seismik. Kegiatan ini bertujuan
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. bentuk spasial yang diwujudkan dalam simbol-simbol berupa titik, garis, area, dan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gambar situasi adalah gambaran wilayah atau lokasi suatu kegiatan dalam bentuk spasial yang diwujudkan dalam simbol-simbol berupa titik, garis, area, dan atribut (Basuki,
Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS MUHAMMAD FARIZI GURANDHI, BAMBANG
GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Mulkal Razali, M.Sc
GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Mulkal Razali, M.Sc www.pelagis.net 1 Materi Apa itu GPS? Prinsip dasar Penentuan Posisi dengan GPS Penggunaan GPS Sistem GPS Metoda Penentuan Posisi dengan GPS Sumber Kesalahan
Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN POSISI GPS CORS RTK-NTRIP DENGAN METODE RAPID STATIK
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN POSISI GPS CORS RTK-NTRIP DENGAN METODE RAPID STATIK King Adhen El Fadhila 1) dan Khomsin 2) Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penetuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan
Jurnal Geodesi Undip Oktober2015
VERIFIKASI KOORDINAT TITIK PATOK BATAS WILAYAH DENGAN NTRIP-CORS (Studi Kasus : Batas Kota Semarang Dengan Kabupaten Kendal) Muhammad Ilman Fanani, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016
ANALISIS KETELITIAN SPASIAL MENGGUNAKAN SATELIT BEIDOU UNTUK PENGUKURAN BIDANG DENGAN METODE RTK Fathan Aulia, Bambang Darmo Yuwono, Moehammad Awaluddin *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik,
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: ( Print) A-202
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-202 Studi Perbandingan Ketelitian Nilai Melalui Matahari dan Global Positioning System (GPS) Terhadap Titik BM Referensi (Studi
BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Global Positioning System (GPS) Konsep Penentuan Posisi Dengan GPS
BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Global Positioning System (GPS) 2.1.1 Konsep Penentuan Posisi Dengan GPS GPS (Global Positioning System) merupakan sistem satelit navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit.
Pengaruh Koneksitas Jaring Terhadap Ketelitian Posisi Pada Survei GPS
Jurnal Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 1 Vol. 1 ISSN 2338-350X Juni 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Pengaruh Koneksitas Jaring Terhadap Ketelitian Posisi Pada Survei GPS
Studi Perbandingan GPS CORS Metode RTK NTRIP dan Total Station dalam Pengukuran Volume Cut and Fill
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Jun, 2013) ISSN: 2301-9271 1 Studi Perbandingan GPS CORS Metode RTK NTRIP dan Total Station dalam Pengukuran Volume Cut and Fill Firman Amanullah dan Khomsin Jurusan
Analisis Perbandingan Ketelitian Hasil Pengukuran GCP... (Safi i, et al.)
Analisis Perbandingan Ketelitian Hasil Pengukuran GCP... (Safi i, et al.) ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN HASIL PENGUKURAN GCP MENGGUNAKAN GPS METODE RTK-NTRIP DAN STATIK UNTUK KOREKSI CITRA SATELIT RESOLUSI
ANALISA PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KOORDINAT DAN ELEVASI DENGAN ALAT TOTAL STATION DAN GPS GEODETIC DI FOLDER SANGATTA KAB. KUTAI TIMUR ABSTRACT
ANALISA PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KOORDINAT DAN ELEVASI DENGAN ALAT TOTAL STATION DAN GPS GEODETIC DI FOLDER SANGATTA KAB. KUTAI TIMUR Denny Suheny Ari Sasmoko Adi, ST., MT Syahrul, ST., M,Eng Jurusan
BAB IV PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengolahan Data Data GPS yang digunakan pada Tugas Akhir ini adalah hasil pengukuran secara kontinyu selama 2 bulan, yang dimulai sejak bulan Oktober 2006 sampai November 2006
Jurnal Geodesi Undip Juli 2014
PENGAMATAN GPS UNTUK MONITORING DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.5 Ali Amirrudin Ahmad, Bambang Darmo Yuwono, M. Awaluddin *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik,
Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No.2 Vol. 01 ISSN 2338-350x Oktober 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Evaluasi Spesifikasi Teknik pada Survei GPS MUHAMMAD FARIZI GURANDHI, BAMBANG
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan metode terestris dan ekstra-terestris. Penentuan posisi dengan metode terestris dilakukan dengan
Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi No. 1 Vol. 1 ISSN 2338-350X Juni 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah JOKO SETIADY Jurusan Teknik Geodesi, Institut
ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENGUKURAN KERANGKA KONTROL HORISONTAL ORDE-4 MENGGUNAKAN GPS GEODETIK METODE RAPID STATIC DENGAN TOTAL STATION
ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENGUKURAN KERANGKA KONTROL HORISONTAL ORDE-4 MENGGUNAKAN GPS GEODETIK METODE RAPID STATIC DENGAN TOTAL STATION SIAM ARIFAL EFFENDI, MUHAMMAD TAUFIK, EKO YULI HANDOKO Program
Jurnal Geodesi Undip April 2015
Analisis pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang dengan GNSS metode RTK-NTRIP Dimas Bagus, M. Awaluddin, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
PRINSIP PENENTUAN POSISI DENGAN GPS
PRINSIP PENENTUAN POSISI DENGAN GPS Kelompok Kepakaran Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung Penentuan Posisi Dengan GPS Posisi yang diberikan adalah posisi 3-D, yaitu
BAB IV PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA IV.1 SOFTWARE BERNESE 5.0 Pengolahan data GPS High Rate dilakukan dengan menggunakan software ilmiah Bernese 5.0. Software Bernese dikembangkan oleh Astronomical Institute University
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014
SURVEI PENDAHULUAN DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN PENGAMATAN GPS Ramdhan Thoriq S, Moehammad Awaluddin, Bambang Darmo Yuwono *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Unversitas Diponegoro Jl.
Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015
A389 Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015 Joko Purnomo, Ira Mutiara Anjasmara, dan Sulistiyani Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Jurnal Geodesi Undip April 2016
PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.6 DAN TOPCON TOOLS V.8 PADA PENGUKURAN DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG TAHUN 2015 Yogi Wahyu Aji, Bambang Sudarsono, Fauzi Janu Amarrohman *) Program Studi
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sekarang ini teknologi GNSS berkembang dengan pesat baik dari segi metode pengamatan, efisiensi, ketelitian maupun jangkauannya. Berawal dari metode statik yang proses
UJI AKURASI PENENTUAN POSISI METODE GPS-RTK MENGGUNAKAN PERANGKAT CHC X91+
Uji Akurasi Penentuan Posisi Metode GPS-RTK... (Syetiawan, et al.) UJI AKURASI PENENTUAN POSISI METODE GPS-RTK MENGGUNAKAN PERANGKAT CHC X91+ (Accuracy Test Analysis of GPS-RTK Positioning using CHC X91+)
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)
Apa Mode Survei yang reliable? Kapan kondisi yang tepat? Realtime: RTK-Radio; RTK-NTRIP JIKA TERSEDIA JARINGAN DATA INTERNET Post Processing: Static- Relative; Kinematic; Stop and Go Realtime: RTK-Radio;
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN III.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di sekitar wilayah Semarang Jawa Tengah dimana hanya mencakup 11 titik dasar teknik orde 3 yang berada di Semarang. Letak
Atika Sari, Khomsin Jurusan Teknik Geomatika, FTSP, ITS-Sukolilo, Surabaya,
ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENENTUAN POSISI DENGAN GPS RTK-NTRIP DENGAN BASE GPS CORS BIG DARI BERBAGAI MACAM MOBILE PROVIDER DIDASARKAN PADA PERGESERAN LINEAR (Studi Kasus : Surabaya) Atika Sari,
PPK RTK. Mode Survey PPK (Post Processing Kinematic) selalu lebih akurat dari RTK (Realtime Kinematic)
Mode Survey PPK (Post Processing Kinematic) selalu lebih akurat dari RTK (Realtime Kinematic) Syarat Kondisi Keuntungan / Kekurangan PPK Tidak diperlukan Koneksi Data Base secara realtime Diperlukan 1
Jurnal Geodesi Undip Januari 2017
ANALISIS STRATEGI PENGOLAHAN BASELINE GPS BERDASARKAN JUMLAH TITIK IKAT DAN VARIASI WAKTU PENGAMATAN Muhammad Chairul Ikbal, Bambang Darmo Yuwono, Fauzi Janu Amarrohman *) Program Studi Teknik Geodesi
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (MULTI)
Apa Mode Survei yang reliable? Kapan kondisi yang tepat? Realtime: RTK-Radio; RTK-NTRIP JIKA TERSEDIA JARINGAN DATA INTERNET Post Processing: Static- Relative; Kinematic; Stop and Go Realtime: RTK-Radio;
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode dan Desain Penelitian 3.1.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dari data deformasi dengan survei GPS dan data seismik. Parameter
PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM
PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM UU no. 4 Tahun 2011 tentang INFORMASI GEOSPASIAL Istilah PETA --- Informasi Geospasial Data Geospasial :
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE LAPORAN PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID SYUHADA PERUMAHAN BEJI PERMAI, DEPOK PT. Mahakarya Geo Survey DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 DAFTAR GAMBAR... 2 DAFTAR TABEL... 2 1. PENDAHULUAN...
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kegiatan pendaftaran tanah merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan, dan teratur. Kegiatan tersebut meliputi
URUTAN PENGGUNAAN E-GNSS SECARA UMUM
URUTAN PENGGUNAAN E-GNSS SECARA UMUM PASANG UNIT PADA TITIK SURVEI DAN COLOKKAN POWER BANK SETTING KONEKSI BLUETOOTH dan KAMERA HP SETTING PILIHAN MODE SURVEI SINGLE MULAI SURVEI Pengaturan dasar KONEKSI
B A B IV HASIL DAN ANALISIS
B A B IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Output Sistem Setelah sistem ini dinyalakan, maka sistem ini akan terus menerus bekerja secara otomatis untuk mendapatkan hasil berupa karakteristik dari lapisan troposfer
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Prinsip Kerja GPS (Sumber :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi GPS GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat dengan bantuan penyelarasan
BAB III PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH
BAB III PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH Keberadaan sistem GPS CORS memberikan banyak manfaat dalam rangka pengukuran bidang tanah terkait dengan pengadaan titik-titik dasar
BAB III METODE PENGUKURAN
BAB III METODE PENGUKURAN 3.1 Deskripsi Tempat PLA Penulis melaksanakan PLA (Program Latihan Akademik) di PT. Zenit Perdana Karya, yang beralamat di Jl. Tubagus Ismail Dalam No.9 Bandung. Perusahaan ini
Evaluasi Penurunan Tanah Kawasan Lumpur Sidoarjo Berdasarkan Data Pengamatan GPS April, Mei, Juni, dan Oktober 2016
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-7 Evaluasi Penurunan Tanah Kawasan Lumpur Sidoarjo Berdasarkan Data Pengamatan GPS April, Mei, Juni, dan Oktober 2016 Kukuh Prakoso
Analisa Kecepatan Pergeseran di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS- CORS Tahun
Analisa Kecepatan Pergeseran di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS- CORS Tahun 2013-2015 Avrilina Luthfil Hadi 1), Ira Mutiara Anjasmara 2), dan Meiriska Yusfania 3) Jurusan Teknik Geomatika,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Pengecekan dengan TEQC Data pengamatan GPS terlebih dahulu dilakukan pengecekan untuk mengetahui kualitas data dari masing-masing titik pengamatan dengan menggunakan program
BAB 3 PEMBAHASAN. Tabel 3.1 Data yang Digunakan
BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 Data Pengamatan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil rekaman CORS (Continuously Operating Reference Station) diperoleh dari Kelompok Keahlian Geodesi Program
ANALISIS KETELITIAN AZIMUT PENGAMATAN MATAHARI DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) (Studi Kasus: Kampus ITS Sukolilo, Surabaya)
ANALISIS KETELITIAN AZIMUT PENGAMATAN MATAHARI DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM () Yuwono 1, Mohammad Luay Murtadlo 2 1,2 Teknik Geomatika, FTSLK-ITS Sukolilo, Surabaya 60111, Indonesia Email: [email protected]
Processed: Sabtu, Feb 23, :06:49 08/01/19, 13:10: /01/19, 13:30:55.000
52 Lampiran D.2 Contoh Hasil Pengolahan Baseline Baseline Summary B20 (ITB1 to BD20) Processed: Sabtu, Feb 23, 2008 01:06:49 Solution type: Solution acceptability: Ephemeris used: Met Data: L1 fixed Solution
BAB I PENDAHULUAN. Halaman Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Satelit GPS beredar mengelilingi bumi pada ketinggian sekitar 20.200 km. Satelit GPS tersebut berada di atas atmosfer bumi yang terdiri dari beberapa lapisan dan ditandai
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1) Apa Mode Survei yang reliable? Kapan kondisi yang tepat? Realtime: RTK-Radio; RTK-NTRIP Post Processing: Static- Relative; Kinematic; Stop and Go Realtime:
EVALUASI KETINGGIAN BANGUNAN DALAM RANGKA UPAYA MENJAGA ZONA KKOP BANDARA JUANDA. (Studi Kasus : Masjid Ar-Ridlo Sedati Sidoarjo)
EVALUASI KETINGGIAN BANGUNAN DALAM RANGKA UPAYA MENJAGA ZONA KKOP BANDARA JUANDA EVALUTION THE HEIGHT BUILDING FOR SAVING SAFETY ZONE FLIGHT OPERATION OF JUANDA AIRPORT (A case study: Ar-Ridlo Mosque Sedati
BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA
BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Pengamatan Data Salah satu cara dalam memahami gempa bumi Pangandaran 2006 adalah dengan mempelajari deformasi yang mengiringi terjadinya gempa bumi
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN PENGUKURAN GPS KINEMATIK
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN PENGUKURAN GPS KINEMATIK Lysa Dora Ayu Nugraini, Eko Yuli Handoko, ST, MT Program Studi Teknik Geomatika, FTSP ITS-Sukolilo, Surabaya
UJI KETELITIAN HASIL REKTIFIKASI CITRA QUICKBIRD DENGAN PERANGKAT LUNAK GLOBAL MAPPER akurasi yang tinggi serta memiliki saluran
UJI KETELITIAN HASIL REKTIFIKASI CITRA QUICKBIRD DENGAN PERANGKAT LUNAK GLOBAL MAPPER akurasi yang tinggi serta memiliki saluran Arfian Setiadi*, Ir. Bambang Sudarsono, pankromatik MS**, L.M Sabri, dan
PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP
PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP Oleh A. Suradji, GH Anto, Gunawan Jaya, Enda Latersia Br Pinem, dan Wulansih 1 INTISARI Untuk meningkatkan
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)
GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1) Apa Mode Survei yang reliable? Kapan kondisi yang tepat? Realtime: RTK-Radio; RTK-NTRIP Post Processing: Static- Relative; Kinematic; Stop and Go Realtime:
BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA
BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA 1.1 Deskripsi Kantor Pertanahan Kabupaten Subang 1.1.1 Lokasi Dalam program latihan akademik (PLA) penelitian dilaksanakan di Kantor Pertanahan Kabupaten subang, yang beralamat
Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (Sumatran GPS Array)
Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (n GPS Array) Bima Pramudya Khawiendratama 1), Ira Mutiara Anjasmara 2), dan Meiriska Yusfania 3) Jurusan Teknik Geomatika,
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang. tatanan tektonik yang kompleks. Pada bagian barat Indonesia terdapat subduksi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Indonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yakni lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki tatanan tektonik
Studi Kinerja Perangkat Lunak Starpoint untuk Pengolahan Baseline GPS Irwan Gumilar, Brian Bramanto, dan Teguh P. Sidiq
Studi Kinerja Perangkat Lunak Starpoint untuk Pengolahan Baseline GPS Irwan Gumilar, Brian Bramanto, dan Teguh P. Sidiq Kelompok Keahlian Geodesi, Institut Teknologi Bandung Labtek IX-C, Jalan Ganeca 10,
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Pemetaan situasi skala besar pada umumnya dilakukan secara teristris yang memerlukan kerangka peta biasanya berupa poligon. Persebaran titik-titik poligon diusahakan
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
SURVEI PENDAHULUAN DEFORMASI MUKA TANAH DENGAN PENGAMATAN GPS DI KABUPATEN DEMAK (Studi Kasus : pesisir pantai Kecamatan Sayung) Moh Kun Fariqul Haqqi, Bambang Darmo Yuwono, Moehammad Awaluddin *) Program
SURVEI HIDROGRAFI PENGUKURAN DETAIL SITUASI DAN GARIS PANTAI. Oleh: Andri Oktriansyah
SURVEI HIDROGRAFI PENGUKURAN DETAIL SITUASI DAN GARIS PANTAI Oleh: Andri Oktriansyah JURUSAN SURVEI DAN PEMETAAN UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI PALEMBANG 2017 Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai
