BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH.

Pengukuran Kinerja SCM

BAB II LANDASAN TEORI

Supply Chain Management. Tita Talitha,MT

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang

ABSTRAK. Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk melaksanakan. lagi untuk membiayai operasi yang berikutnya.

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

BAB IV PEMBAHASAN. kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan jangka

Pengukuran Kinerja Supply Chain

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari misalnya untuk membeli bahan

BAB II LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

Analisa Rasio Keuangan

III. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi Penelitian dan Pengumpulan Data. tempat dan waktu btertentu. Metode pengumpulan dengan melakukan

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS

Manajemen Keuangan. Memahami Kondisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan. Basharat Ahmad. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN

hendro 6/30/2010 PRESENTASI VIII :

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. dikemukakan adanya beberapa konsep, yaitu :

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

PROGRAM MAGISTER STUDI EKONOMI MANAJEMEN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Astra Agro

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk

ANALISIS RASIO KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sawir (2005:129), modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V PENUTUP. Ace Hardware Indonesia Tbk adalah sebagai berikut: 1. Rasio likuiditas PT Ace Hardware Indonesia Tbk bila dilihat dari current

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV RASIO KEUANGAN

ABSTRAK. Kata kunci : Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, Rasio Pasar.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS RASIO FINANSIAL PT. ANEKA TAMBANG,Tbk PERIODE

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM.

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi menjanjikan peluang dan harapan bagi kesejahteraan warga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Supply Chain Management

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kinerja keuangan PT.XYZ

ANALISIS RASIO KEUANGAN PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY TBK. BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN PERIODE

ENTERPRISE RESOURCE PLANNING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

MEET 05 FOR E LEARNING ANALISA RASIO

BAB II URAIAN TEORETIS. Berdasarkan penelitian dengan metode analisis regresi linier berganda

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang penganalisis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHAS AN. IV.1. Analisis Kebijakan Kredit PT Tirta Varia Intipratama. yaitu, penjualan secara tunai atau secara kredit.

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Modal Kerja. dan biaya-biaya lainnya, setiap perusahaan perlu menyediakan modal

Alat analisis laporan keuangan H A S B I A N A D A L I M U N T H E S E., M. A K

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang tersedia untuk membiayai kegiatan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang paling sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manajemen untuk menunjukkan efektivitas pencapaian tujuan dan untuk

BAB II KERANGKA TEORI. menjaga kelangsungan hidup usaha tersebut dimasa yang akan datang dan

Analisa Laporan keuangan

METADATA INFORMASI DASAR

II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membayar upah buruh dan gaji pegawai serta biaya-biaya lainnya.

ANALISA KEUANGAN Rasio Keuangan. Sumber : Syafarudin Alwi BamBang Riyanto

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertutup, lapangan, gudang terbuka, atau tempat-tempat penyimpanan lain, baik

III. METODOLOGI PENELITIAN

Introduction to. Chapter 16. Financial Management. MultiMedia by Stephen M. Peters South-Western College Publishing

TIME SERIES ANALYSIS DARI LAPORAN KEUANGAN PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. TRIWULAN REKRUTMEN FINANCIAL ASSISTANT COMMUNITY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Manajemen membantu perusahaan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang

WARMING UP : Buatlah Neraca dan Laba Rugi

ANALISA LAPORAN KEUANGAN ERDIKHA ELIT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu,

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management 2.1.1 Pengertian Supply Chain Menurut Schroeder (2007, p189) supply chain adalah sebuah proses bisnis dan informasi yang berulang yang menyediakan produk atau layanan dari pemasok melalui proses pembuatan dan pendistribusian kepada konsumen. Menurut Harrison (2008, p7) adalah sejaringan mitra yang secara kolektif mengubah komoditas dasar (dihulu) kedalam produk jadi (dihilir) yang bernilai bagi pelanggan akhir, dan yang mengelola kembali dimasing-masing tahap. 2.1.2 Pengertian Supply Chain Management Menurut Simchi-Levi dan Kaminsky (2004, p2) supply chain management adalah suatu pendekatan dalam mengintegrasikan berbagai organisasi yang menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang, yaitu supplier, manufacturer, warehouse dan stores sehingga barangbarang tersebut dapat diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang 7

8 tepat, lokasi yang tepat, waktu yang tepat dan biaya yang seminimal mungkin. Menurut Schroeder (2007, p189) supply chain management adalah perancangan, desain, dan kontrol arus material dan informasi sepanjang rantai pasokan dengan tujuan kepuasan konsumen sekarang dan di masa depan. Menurut Heizer dan Render (2000, p434) manajemen rantai pasokan (supply chain management) adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. 2.1.3 Tujuan Supply Chain Management Menurut Heizer dan Render (2000, p435) tujuan supply chain management adalah untuk membangun sebuah rantai yang terdiri dari para pemasok yang memusatkan perhatian untuk memaksimalkan nilai bagi pelanggan. Menurut Dilworth (2000, p374) tujuan supply chain management adalah merencanakan dan mengkoordinasi semua kegiatan yang terdapat dalam supply chain, sehingga akan tercapai pelayanan kepada customer yang maksimal dengan biaya yang relatif rendah.

9 2.1.4 Strategi Supply Chain Strategi supply chain menurut Heizer dan Render (2000, p438) : 1) Banyak pemasok (many supplier). Dengan strategi banyak pemasok (many supplier), pemasok menanggapi permintaan dan spesifikasi permintaan dan penawaran, (request for quotation), dengan pesanan yang pada umumnya akan jatuh ke pihak yang memberikan penawaran terendah. 2) Sedikit pemasok (few supplier). Strategi yang memiliki sedikit pemasok (few supplier) mengimplikasikan bahwa daripada mencari atribut jangka pendek, seperti biaya rendah, pembeli lebih ingin menjalin hubungan jangka panjang dengan beberapa pemasok yang setia. 3) Integrasi vertikal (vertical integration). Integrasi vertikal (vertical integration) berarti mengembangkan kemampuan untuk memproduksi barang atau jasa yang sebelumnya dibeli atau membeli perusahaan pemasok atau distributor. 4) Jaringan Keiretsu (Keiretsu networks). Keiretsu adalah sebuah istilah bahasa Jepang untuk menggambarkan para pemasok yang menjadi bagian dari sebuah perusahaan.

10 5) Perusahaan virtual (virtual company). Perusahaan virtual (virtual company) adalah perusahaan yang mengandalkan beragam hubungan pemasok untuk menyediakan jasa atas permintaan yang diinginkan. Juga dikenal sebagai korporasi berongga atau perusahaan jaringan. 2.2 Supply Chain Operations Reference (SCOR) 2.2.1 Pengertian Supply Chain Operations Reference (SCOR) Menurut Rolf G. Poluha ([Http 1]) Supply Chain Operations Reference (SCOR) adalah model proses referensi yang sudah dikembangkan dan didukung Supply Chain Council (SCC) sebagai standar de fakto alat diagnostik lintas industri bagi manajemen rantai pasokan. SCOR memungkinkan pemakai untuk mengerjakan, memajukan, dan memberitahukan kenyataan dalam manajemen rantai pasokan dan diantara semua pihak yang berkepentingan. 2.2.2 A Process Reference Model Contains Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), A Process Reference Model Contain : Uraian atau deskripsi standar dari proses manajemen. Satu kerangka hubungan antara proses standar.

11 Metrik standar untuk mengukur kinerja proses. Manajemen mempraktekkan yang menghasilkan kinerja terbaik dikelasnya. Menyesuaikan standar untuk mencirikan dan kemampuan. 2.2.3 Boundaries of Supply Chain Operations Reference (SCOR) 2.2.3.1 SCOR Spans Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), SCOR spans meliputi : Semua interaksi pelanggan, dari pesanan masuk sampai membayar melalui faktur. Semua produk (materi fisik dan jasa) transaksi, dari penyalur penyalurmu untuk pelanggan pelangganmu, meliputi alat-alat perlengkapan, barang persediaan, onderdil, kumpulkan produk, perangkat lunak, dsb. Semua interaksi pasar, dari pemahaman dari permintaan agregat ke pemenuhan dari masing-masing pesanan.

12 2.2.3.2 SCOR does not attempt to describe every business process or activity Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), SCOR tidak mencoba untuk mendeskripsikan tiap-tiap proses bisnis atau aktivitas, termasuk: Penjualan dan pemasaran (demand generation). Penelitian dan pengembangan teknologi. Pengembangan produk. Beberapa unsur dari post-delivery customer support. Hubungan terkait dapat dibuat untuk memproses tidak termasuk pada model scope, seperti pengembangan produk, dan beberapa dicatat di SCOR. 2.2.3.3 SCOR assumes but does not explicitly address Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), SCOR assumes but does not explicitly address : Pelatihan. Kualitas. Teknologi Informasi (IT). Administrasi (bukan SCM).

13 2.2.4 SCOR Contain Schematic Level 1 of Process Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), SCOR Contain Schematic Level 1 of Process. Lihat Gambar 2.1. Gambar 2.1 SCOR Contain Schematic Level 1 of Process Sumber : ([Http 2]) Supply Chain Council, (2008) 2.2.5 Level 1 Process Definitions Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), Level 1 Process Definitions yaitu : 1) Plan Proses yang keseimbangan permintaan agregat dan persediaan untuk mengembangkan satu pelaksanaan rencana dimana mencari sumber daya yang baik, produksi dan pengiriman kebutuhan.

14 2) Source Proses yang memperoleh barang dan jasa sesuai perencanaan atau permintaan aktual. 3) Make Proses yang mentransformasikan produk sampai titk akhir sesuai perencanaan atau permintaan aktual. 4) Deliver Proses yang menyediakan barang jadi dan jasa sesuai perencanaan atau permintaan aktual, secara detail meliputi manajemen permintaan, manajemen pengiriman, dan manajemen distribusi. 5) Return Proses berhubungan dengan pengembalian atau penerimaan kembali produk karena beberapa alasan. Proses ini memperluas ke post-delivery customer support. 2.2.6 Scope of Supply Chain Operations Reference (SCOR) Processes Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), Scope of SCOR Processes yaitu : 1) Plan (Permintaan / perencanaan persediaan dan manajemen). Keseimbangkan sumber daya dengan kebutuhan dan menetapkan atau mengomunikasikan rencana untuk

15 keseluruhan rantai pasokan, meliputi return dan proses pelaksanaan dari source, make, dan deliver. Manajemen dari ketentuan bisnis, kinerja rantai pasokan, pengumpulan data, persediaan, asset modal, transportasi, merencanakan konfigurasi, pengaturan kebutuhan dan izin, dan resiko rantai pasokan. Menyesuaikan rencana rantai posokan dengan rencana keuangan. 2) Source (Sourcing stocked, make-to-order, dan engineer-to-order product). Jadwal pengiriman; menerima, verifikasi, dan kirim produk; dan otorisasi pembayaran penyalur. Identifikasi dan memilih sumber pasokan ketika tidak dipersiapkan sebelumnya, seperti untuk engineer-to-order product. Mengatur ketentuan bisnis, kinerja akses pemasok, dan pemeliharaan data. Mengatur persediaan, asset modal, produk pemasukan, jaringan pemasok, impor / ekspor kebutuhan, kesepakatan pemasok, dan sediakan risiko rantai pasokan. 3) Make (Make-to-stock, make-to-order, dan engineer-to-order production execution).

16 Jadwal aktivitas produksi, keluarkan produk, hasilkan dan uji, paket, tingkat produk, dan mengeluarkan produk untuk dikirim. Penyelesaian rancang bangun untuk engineer-to-order product. Mengatur ketentuan, kinerja, data, in-process products (WIP), alat-alat perlengkapan dan fasilitas, transportasi, jaringan produksi, kepatuhan pengatur untuk produksi, dan resiko rantai pasokan. 4) Deliver (Order, warehouse, transportation, dan installation management for stocked, make-to-order, dan engineer-to-order product). Semua tahapan manajemen pemesanan dari memproses pemeriksaan pelanggan dan mencatat untuk merencanakan pengiriman dan pemilihan bawaan. Manajemen gudang dari penerimaan dan pemilihan produk untuk mengisi dan pengiriman produk. Menerima dan verifikasi produk di lokasi pelanggan dan menginstal, kalau perlu. Invoicing pelanggan. Mengatur ketentuan bisnis deliver, kinerja, keterangan, persediaan barang jadi, asset modal, transportasi, daur hidup produk, impor / mengekspor kebutuhan, dan resiko rantai pasokan.

17 5) Return (Return of raw materials dan receipt of returns of finished goods). Semua produk cacat kembali dari tahap source yaitu mengidentifikasi kondisi produk, produk disposisi, minta otorisasi produk yang kembali, jadwalkan pengiriman produk, dan kembalikan produk cacat dan deliver yaitu memberi otorisasi produk yang kembali, jadwalkan kuitansi kembali, menerima produk, dan kirim produk cacat. Semua pemeliharaan kembali, reparasi, dan periksa secara seksama tahapan produk dari tahap source yaitu mengidentifikasi kondisi produk, produk disposisi, minta otorisasi produk yang kembali, jadwalkan pengiriman produk, dan kembalikan produk MRO (Maintenance, Repair, Overhaul) dan deliver yaitu memberi otorisasi produk yang kembali, jadwalkan kuitansi kembali, menerima produk, dan kirim produk MRO (Maintenance, Repair, Overhaul). Semua kelebihan produk kembali dari tahap source yaitu mengidentifikasi kondisi produk, produk disposisi, minta otorisasi produk dikembalikan, jadwalkan pengiriman produk, dan kembalikan kelebihan produk dan deliver yaitu memberi otorisasi produk yang kembali, jadwalkan kuitansi kembali, menerima produk, dan kirim kelebihan produk.

18 Mengatur ketentuan bisnis pengembalian, kinerja, pengumpulan data, pengembalian persediaan, asset modal, transpotasi, konfigurasi jaringan, pengaturan kebutuhan dan izin, dan resiko rantai pasokan. 2.2.7 Performance Attributes and Level 1 Strategic Metrics Menurut Supply Chain Council ([Http 2]), Level 1 Metrics are primary, high level measures that may cross multiple SCOR processes. Level 1 Metrics do not necessarily relate to a SCOR Level 1 process (PLAN, SOURCE, MAKE, DELIVER, RETURN). Lihat gambar 2.1 Performance Attributes and Level 1Metric. Gambar 2.2 Performance Attributes and Level 1Metric. Sumber : ([Http 2]) Supply Chain Council, (2008)

19 1) Perfect Order Fulfillment Menurut Supply Chain Excellence (SCE) Limited ([Http 3]), Perfect Order Fulfillment adalah satu pengukuran terpisah mendefinisikan seperti persentase dari pemesanan 1) Pengiriman "tepat waktu dan terpenuhi" untuk meminta tanggal dan / atau untuk persetujuan tanggal. 2) Seperti menjumpai pelanggan 3 cara mencocokan (faktur, PO, dan kuitansi). 3) Tidak punya issu produk berkualitas. Perfect Order Fulfillment sering dipergunakan untuk mengukur kinerja pengiriman pemasok dan pencapaian jadwal pembuatan. Mengganti order pesanan pembelian atau order pembuatan untuk pesanan pelanggan berturut-turut. Menurut APQC( [Http 10]), Untuk penggunaan dari survei ini, perfect order performance referes untuk pengembilan dengan sempurna dan pemenuhan pesanan pelanggan dan termasuk pengambilan order dengan benar, mengalokasikan persediaan dengan seketika, mengirimkan produk tepat waktu, dan kirim faktur dengan akurat. Perkiraan nilai berada diantara 0 sampai 100.

20 Menurut Supply-Chain Council ([Http 11]), persentase dari pengiriman pesanan tepat waktu, secara penuh. Komponen termasuk semua barang dan kuantitas tepat waktu menggunakan ketentuan pelanggan dari tepat waktu dan kelengkapan dokumentasi. 2) Order Fulfillment Cycle Time Menurut Supply Chain Excellence (SCE) Limited ([Http 4]), Order Fulfillment Cycle Time adalah satu pengukuran berkepanjangan didefinisikan sebagai sejumlah waktu dari otorisasi pelanggan dari satu order penjualan ke kuitansi pelanggan dari produk. Segmen utama dari waktu meliputi order entry, dwell time for future dated orders, manufacturing, distribusi, dan transportasi. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), waktu rata-rata siklus sebenarnya secara terus-menerus mencapai untuk mememnuhi pemesanan pelanggan.

21 Menurut APQC ([Http 10]), Order fulfillment cycle time (dipergunakan yang dapat bertukar tempat dengan waktu siklus pesanan pelanggan) adalah rata-rata actual cycle time secara konsisten mencapai untuk penuhi pesanan pelanggan. Untuk masingmasing order perorangan, awal waktu siklus ini dari kuitansi order dan akhir dengan pelanggan menerima dari order. 3) Upside Supply Chain Flexibility Menurut Supply Chain Excellence (SCE) Limited ([Http 5]), Upside Supply Chain Flexibility adalah satu pengukuran terpisah didefinisikan sebagai sejumlah waktu ini mengambil supply chain untuk menjawab ke satu 20% peningkatan tidak direncanakan laku tanpa jasa atau biaya penalty. Tantangan dengan pengukuran adalah untuk membuat pengetahuan ini seilmiah mungkin. Dengan pengetahuan di pikiran, kemudian, kita harus pergi ke item master untuk data. Untuk masing-masing data biasanya "replenishment lead time" yang menjumlahkan MAKE dan DELIVER planned lead times. Dengan ini harus menambahkan waktu proses terpanjang terencana dari the components pada BOM (Bill of Materials).

22 Idenya, di sini, adalah waktu proses terencanamu adalah penyajian terbaik dari fleksibilitas tanpa hukuman biaya atau jasa. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), jumlah dari hari yang diharuskan mencapai pertambahan dapat dipertahankan sebanyak 20% yang diluar rencana di kuantitas-kuantitas yang dikirimkan. Menurut APQC ([Http 8]), Upside supply chain flexibility adalah penjumlahan waktu lalu hari di antara kejadian dari peristiwa tidak direncanakan dan perampungan dengan rencana didukung, plan, source, make, deliver dan return performance. Hari waktu terlewatkan tidak perlu penjumlahan dari hari memerlukan bagi seluruh aktivitas sebagai beberapa mungkin terjadi secara serempak. (Ketika menghitung metrik ini, pertimbangkan bahwa 20 persen adalah sejumlah menyediakan untuk penggunaan penolokan. Untuk beberapa industri dan beberapa organisasi 20 persen mungkin dalam beberapa hal yang tidak dapat diperoleh atau di pihak lain juga konservatif. Sebagai tambahan, metrik komponen (Upside Source Flexibility, Upside Make Flexibility, dll) dapat ditingkatkan pada

23 paralel dan sebagai hasil, hitungan ini memerlukan hasil yang paling sedikit sejumlah waktu untuk mencapai hasil diinginkan). 4) Upside Supply Chain Adaptability Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), pertambahan dapat dipertahankan dikuantitas-kuantitas yang bisa tercapai pada 30 hari (tanpa pemesanan kembali, biaya hukuman atau persediaan). Menurut APQC ([Http 8]), Upside supply chain adaptability adalah yang berkelanjutan maksimum persentase bertambah di kuantitas pengiriman yang telah dilakukan bisnisnya dapat mencapai pada 30 hari. (Ketika menghitung metrik ini, pertimbangkan bahwa 30 hari adalah satu angka berubah-ubah menyediakan untuk penggunaan penolokan. Untuk beberapa industri dan beberapa organisasi 30 hari mungkin dalam beberapa hal yang tidak dapat diperoleh atau di pihak lain juga konservatif. Metrik komponen (Daya Penyesuaian Sumber sebelah atas, Daya Penyesuaian Perbuatan sebelah atas, dsb.) dapat ditingkatkan pada paralel dan sebagai hasil, hitungan ini memerlukan hasil peningkatan paling sedikit di yang berkelanjutan kuantitas pada 30 hari).

24 5) Downside Supply Chain Adaptability Menurut APQC ([Http 9]), Downside supply chain adaptability adalah persentase maksimum reduksi di kuantitas mengorder yang telah dilakukan dalam bisnis dapat mendukung pada 30 hari utama kepada pengiriman dengan tidak ada hukuman barang inventaris atau biaya. (Ketika menghitung metrik ini, pertimbangkan bahwa 30 hari adalah satu angka berubah-ubah menyediakan untuk penggunaan penolokan. Untuk beberapa industri dan beberapa organisasi 30 hari mungkin dalam beberapa hal yang tidak dapat diperoleh atau di pihak lain juga konservatif. Hitungan dari downside menyediakan daya penyesuaian rangkai memerlukan hitungan berlandaskan pengurangan paling sedikit berkelanjutan ketika mempertimbangkan Source, Make, dan Deliver components). Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), penurunan dapat dipertahankan dikuantitas-kuantitas yang bisa tercapai pada 30 hari (tanpa pemesanan kembali, biaya hukuman atau persediaan).

25 6) Supply Chain Management Cost Menurut Supply Chain Excellence (SCE) Limited ([Http 6]), Total Supply Chain Management Cost adalah satu pengukuran terpisah didefinisikan sebagai tetap dan biaya operasi menghubungkan dengan Plan, Source, Make, dan Deliver proses supply chain. Ini "activity based lite" pandangan dari biaya supply chain mempertimbangkan manajemen order (Deliver), material acquisition (Source), inventory carrying (Indirect Plan), planning/finance (Plan), dan information technology costs (Indirect Enable). Menurut APQC( [Http 8]), supply chain management costs meliputi supply chain IT ditambah finance dan perencanaan ditambah inventory carrying di tambah material acquisition ditambah order management costs ditambah returns management costs. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), semua biaya langsung dan tak langsung yang berhubungan dengan pelaksanaan proses rantai pasokan perusahaan melalui rantai pasokan.

26 7) Cost of Goods Sold Menurut Reimers (2007, p226) harga pokok atau biaya biaya dari barang dagang yang dijual selama periode tersebut. Menurut APQC( [Http 9]), cost of goods sold (COGS) adalah jumlah pada ikhtisar rugi laba yang mewakili ongkos bahan baku dan pembuatan produk jadi. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), biaya yang berhubungan dengan pembelian bahan mentah dan menghasilkan barang jadi. Biaya ini termasuk biaya (pekerja, material) dan biaya tidak langsung. 8) Cash-to-Cash Cycle Time Menurut Supply Chain Excellence (SCE) Limited ([Http 7]), Cash-to-Cash Cycle Time adalah satu ukuran berkepanjangan yang didefinisikan dengan menambahkan jumlah hari dari persediaan ke jumlah hari dari receivables outstanding dan kemudian mengurangi jumlah hari dari payables outstanding. Hasilnya adalah angka hari

27 dari working capital organisasi telah terikat pada pengelola rantai pemasokan. Menurut APQC( [Http 9]), Cash-to-cash cycle time adalah waktu ini mengira satu investasi membuat ke aliran kembali ke dalam perusahaan setelah ini telah dibelanjakan untuk bahan baku. Untuk jasa, ini mewakili waktu titik darimana sekawanan upah untuk sumber daya yang dikonsumsi pada kinerja dari satu jasa ke waktu yang perusahaan yang mendapat pembayaran dari pelanggan untuk jasa itu. cash-to-cash cycle adalah jumlah hari dari persediaan ditambah jumlah hari sales outstanding di kurang pembayaran ratarata periode untuk bahan. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), waktu yang diperlukan untuk investasi uang dimaterial untuk mengalir kembali kedalam perusahaan sesudah barang jadi sudah dikirimkan ke pelanggan.

28 9) Return on Supply Chain Fixed Assets Menurut APQC( [Http 8]), Return on supply chain fixed assets ukuran pengembalian pendapatan organisasi berdasarkan modal yang diinvestasikan di supply chain fixed assets. Ini meliputi aktiva tetap yang dipergunakan di Plan, Source, Make, Deliver, dan Return. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), pengembalian terhadap organisasi menerima modal yang diinvestasikan di rantai pasokan aktiva tetap. Aktiva tetap ini termasuk digunakan untuk Plan, Source, Make, Deliver dan Return. Menurut Bized ([Http 12]), 10) Return on Working Capital Menurut APQC( [Http 8]), Return on working capital adalah satu pengukuran yang mengkaji nilai dari investasi sehubungan dengan perusahaan posisi working capital membandingkan

29 pendapatan yang menghasilkan dari supply chain. Komponen meliputi accounts receivable, accounts payable, inventory, supply chain revenue, cost of goods sold dan supply chain management costs. Menurut Supply Chain Council ([Http 11]), pengembalian dimodal kerja adalah ukuran yang menilai besarnya investasi relatif keperusahaan posisi modal kerja dibandingkan pendapatan yang dihasilkan dari rantai pasokan. Termasuk komponen piutang, hutang, persediaan, pendapatan rantai pasokan, harga pokok penjualan, dan biaya manajemen rantai pasokan. Menurut Bized ([Http 12]).

30 2.3 Analisis Laporan Keuangan Menurut Reimers (2007, p625) menggunakan rasio untuk menganalisis serta menginterpretasikan kinerja keuangan dan kondisi suatu perusahaan. 2.3.1 Liquidity ratios. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh tempo. 1. Rasio lancar (Current ratio) Mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh kewajiban lancarnya dengan menggunakan seluruh aktiva lancarnya. 2. Rasio cepat (Quick ratio) Mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka pendek.

31 3. Modal kerja (Working capital) Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan kewajiban jangka pendeknya. Walaupun secara teknis bukan rasio, working capital sering diukur sebagian laporan keuangan. 2.3.2 Efficiency ratios. Menurut Morningstar ([Http 16]), apapun jenis dari bisnis perusahaan, harus menanam uang dalam aset untuk melakukan pelaksanaannya. Rasio efisiensi mengukur bagaimana secara efektif perusahaan menggunakan aset ini, sebaik sebagai bagaimana baik mengelola pertanggung-jawabannya. 1. Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) Untuk mengukur berapa kali persediaan telah terjual dan digantikan dalam setahun.

32 2. Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) Menurut Spireframe Software LLC ([Http 14]), periode penagihan rata-rata mengukur jumlah rata-rata hari yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mengumpulkan pendapatan dari penjualan kreditnya. Rata-rata penjualan per hari adalah penjualan bersih yang dibagi oleh 365 hari pada satu tahun. Perusahaan biasanya akan memberitahukan kebijakan kreditnya di laporan keuangannya, oleh sebab itu periode penagihan rata-rata dengan mudah bisa diukur sebagai ke apakah menunjukkan informasi positif atau negatif. 3. Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) Menurut Spireframe Software LLC ([Http 15]), perputaran aktiva tetap sama dengan perputaran jumlah aktiva, yang kedua sama-sama mengukur keefektifan perusahaan dalam meningkatkan pendapatan penjualan bersih dari investasi kembali ke dalam perusahaan. Tetapi, rasio perputaran aktiva tetap menilai hanya aktiva tetap bersih.

33 4. Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) Rasio ini menunjukkan seberapa besar perbandingan antara modal asing (pinjaman) terhadap ekuitas yang digunakan dalam membiayai aktiva perusahaan. 2.3.3 Leverage ratios. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi likuidasi. 1. Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) Rasio ini menunjukkan seberapa besar perbandingan antara modal asing (pinjaman) terhadap ekuitas yang digunakan dalam membiayai aktiva perusahaan.

34 2. Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset) Menurut Business Dictionary ([Http 17]), pengukuran aset keuangan perusahaan melalui utang dan, oleh karena itu, ukuran risiko keuangannya. Yang lebih rendah rasio ini, secara umum yang lebih baik tidak jauh dari perusahaan. 2.3.4 Profitability ratios. Rasio ini mengukur operasional atau kinerja penghasilan dari perusahaan. Mengingat tujuan dari perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan, oleh sebab itu rasio jenis ini memeriksa bagaimana perusahaan mencapai tujuan. 1. Rasio laba kotor (Gross profit ratio) Untuk memastikan perusahaan menguntungkan. Ukuran ini mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang lebih rinci. Juga menjelaskan berapa banyak yang dapat dikeluarkan untuk beban umum dan administrasi, iklan dan pemasaran, riset dan pengembagan, dengan tetap mencapai profitabilitas akhir yang memuaskan.

35 2. Rasio laba operasi (Operating profit ratio) Menurut Universal Teacher Publications ([Http 18]), laba operasi artinya keuntungan berhasil didapat oleh perhatian dari kegiatan usahanya dan tidak dari sumber lain. Ketika memperhitungkan laba bersih mengenai semua pendapatan termasuk yang bukan bagian dari kegiatan usahanya seperti uang sewa dari pemondok, bunga pada investasi, dan lain-lain ditambahkan dan semua biaya bukan kegiatan usahanya dikurangi. Oleh sebab itu, ketika menghitung laba operasi semua ini diabaikan dan perhatian kembali untuk mengetahui tentang pendapatan perusahaan dari kegiatan usahanya. 3. Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) Menurut Investing for Beginners ([Http 19]), marjin laba mengatakan kepada anda berapa banyak keuntungan perusahaan didapat setiap $1 itu menghasilkan di pendapatan. Marjin laba berubah-ubah oleh industri, tetapi sama sekali kalau tidak setara, yang lebih tinggi majin laba perusahaan dibandingkan dengan saingannya, yang lebih baik. Beberapa buku keuangan, tempat, dan sumber penghasilan mengatakan kepada seorang penanam modal untuk mengambil sesudah-pajak laba bersih dibagi dengan penjualan. Sedangkan ini

36 standar dan secara umum disetujui, beberapa analis lebih suka menambahkan kembali bunga minoritas ke dalam persamaan, untuk memberi gagasan seberapa uang diperoleh oleh perusahaan terlebih dahulu yang bermanfaat ke luar ke minoritas owners. Salah satu dari kedua cara dapat diterima, walaupun anda harus konsisten di perhitungan anda. Semua perusahaan harus dibandingkan atas dasar sama. 4. Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) Untuk mengukur keberhasilan perusahaan dalam mempergunakan aktivanya untuk mendapatkan penghasilan bagi pemilik dan kreditor, mereka yang membiayai perusahaan. Karena bunga adalah sebagian dari apa yang didapatkan untuk membayar kreditor, sering tambahan kembali ke pembilang. Laba bersih adalah pengembalian kepada pemilik dan beban bunga adalah pengembalian kepada kreditor. Ratarata jumlah aktiva adalah rata-rata aktiva awal dan aktiva selama setahun.

37 2.4 Analisis Altman Z-Score Menurut Wikipedia ([Http 12]), Z-score rumusan untuk memperkirakan kebangkrutan telah dikembangkan pada 1968 oleh Edward I. Altman, seorang pakar ekonomi keuangan dan profesor di Leonard N. Stern School of Business di New York University. Z-score rumusan multivariate yang mengukur kesehatan keuangan perusahaan dan meramalkan kemungkinan kebangkrutan dalam dua tahun. Belajar mengukur keefektifan Z-score sudah memperlihatkan model untuk menjadi tepat dengan >70% keterpercayaan (Eidleman). Z-score menggabungkan empat atau lima rasio perusahaan biasa yang mempergunakan sistem pembobotan yang diperhitungkan oleh Altman untuk menentukan kemungkinan kebangkrutan. Sistem pembobotan semula berdasarkan data dari pengusaha pabrik yang dipegang di depan umum, tetapi sejak sudah diubah untuk manufaktur pribadi, non-manufaktur dan perusahaan servis. Menurut My Stock Market Power (Http 13]), Z1 = Working Capital / Total Assets Z1 adalah mengukur likuiditas untuk menentukan seberapa cair aset perusahaannya. Rasio ini membolehkan kita untuk mengerti, peristiwa di saat krisis, seberapa cepat perusahaan akan dapat untuk menunjang uang.

38 Z2 = EBIT / Total Assets Z2 mengukur keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Z3 = Net Sales / Total Assets Z3 mengukur seberapa cepat perusahaan memutar aset mereka kembali. Jumlah ini lebih tinggi, lebih baik. Z4 = Market Value of Equity / Total Liabilities Z4 mengukur fluktuasi ekuitas yang kemungkinan besar bisa memperingatkan masalah di depan. Lehman Brothers, Freddie Mac, dan Fannie Mae semua ini contoh luar biasa selama Credit Meltdown 2008. Z5 = Retained Earnings / Total Assets Z5 adalah keuntungan diukur melalui potensi laba perusahaan. Z - Score Weightings Sekarang, bagaimana memeriksa pembobotan yang telah digabungkan ke masing-masing bagian ini. Public Companies ZScore = 1.2 * Z1 + 3.3 * Z2 + Z3 + 0.6 * Z4 + 1.4 * Z5 Hasil bersih rumus ini mempunyai impikasi berikut:

39 Z-Score > 3 - Menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kedudukan keuangan yang kuat. Z-Score antara 2,7 & 3 - Menunjukkan secara tidak langsung bagian di mana penanam modal sebaiknya mulai mempergunakan kewaspadaan dengan saham ini. Z-Score antara 1,8 dan 2,7 - Menunjukkan potensi kebangkrutan dalam 2 tahun mendatang. Z-Score di bawah 1,8 menunjukkan kuat kemungkinan untuk bangkrut.