BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT. Aqua Golden Mississippi Tbk ( perusahaan ) didirikan berdasarkan akta notaries Tan Thong Kie, SH No.24 tanggal 23 Februari Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.Y.A.5/213/22 tanggal 19 Juni 1973 serta diumumkannya dalam Tambahan Berita Negara No.84 tanggal 19 Oktober Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta notaris Lindasari Bachroem, SH No.25 tanggal 12 Mei 1997 dalam rangka penyesuaian dengan Undang-Undang No.1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas dan Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.C HT TH.97 tanggal 3 Juni 1997 serta diumumkan dalam Tambahan Berita Negara No.84 tanggal 21 Oktober Pada tahun 1998, AQUA (yang berada di bawah naungan PT Tirta Investama) melakukan langkah strategis untuk bergabung dengan Group DANONE, yang merupakan salah satu kelompok perusahaan 44

2 45 air minum dalam kemasan terbesar di dunia. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk, market share, dan penerapan teknologi pengemasan air terkini. Di bawah bendera DANONE- AQUA, kini AQUA memiliki lebih dari titik distribusi yang dapat diakses oleh penggunanya di seluruh Indonesia PT Ades Waters Indonesia Tbk PT. Ades Alfindo Putrasetia (Selanjutnya disebut perusahaan ) didirikan dengan nama PT.Alfindo Putra Setia berdasarkan akta No.11 tanggal 6 maret 1985 yang dibuat dihadapan Miryam Magdalena Indrani Wiardi. S.H.. Notaris di Jakarta. Akta pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.C24221.HT Th.85 tanggal 13 Juli 1985, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.49 Tambahan No.1081 tanggal 20 Juni Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dinyatakan dengan akta No.40 tanggal 19 Mei 1999 yang dibuat dihadapan Fathiah Helmi S.H., Notaris di Jakarta, antara lain mengenai perubahan Anggaran Dasar Perusahaan untuk memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang pasar modal serta peningkatan modal dasar Perusahaan. Perubahan Anggaran Dasar terakhir telah diterima dan

3 46 dicatat oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.C96.HT Th.2000 tanggal 4 Januari Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Kegiatan Perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri dan distribusi air minum dalam kemasan. Perusahaan berkedudukan di Jakarta sedangkan pabriknya berlokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Sumatera Utara. Perusahaan memulai kegiatan komersial pada tahun Setelah joint venture antara the Coca-Cola Company dan Nestle S.A. mengambil alih mayoritas saham serta manajemen PT.Ades Alfindo Putra Setia pada tahun Perusahaan berubah namanya menjadi PT. Ades Waters Indonesia, Tbk. PT AdeS Waters Indonesia, Tbk memproduksi, mendistribusi dan menjual air minum dalam kemasan (AMDK) berkualitas dengan merek-merek seperti AdeS, AdeS Royal dan Nestlé Pure Life dalam beberapa kemasan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan pengalaman kedua partner tersebut (The Coca-Cola Company merupakan perusahaan minuman ringan nomor satu di dunia dan Nestlé Waters adalah perusahaan AMDK nomor satu di dunia) dapat dipastikan bahwa PT AdeS Waters Indonesia, Tbk mengutamakan penyediaan produk-produk berkualitas dan pelayanan terbaik kepada konsumen-konsumen Indonesia.

4 PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT. Multi Bintang Indonesia Siaga didirikan dengan akta notaris Singgih Susilo, S.H., tanggal 17 Desember 2004 No.69. Akta ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan No.C HT.01.TH.2004 tanggal 29 Desember 2004, didaftarkan dengan No.TDP pada Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat No tanggal 10 Januari 2005, pengumuman dalam Berita Negara masih dalam proses. Sesuai dengan Anggaran Dasar, anak perusahaan beroperasi sebagai distributor utama minuman, Anak perusahaan memulai operasi komersial pada tanggal 1 Januari Anak perusahaan adalah perusahaan yang berdomisili di Indonesia dengan kantor pusat yang berlokasi di Ratu Plaza Building Lantai 21 dan 23, Jl.Jendral Sudirman Kav.9, Jakarta Persentasi pemilikan Perseroan pada PT.Multi Bintang Indonesia Niaga adalah 99.9%. Tahun 1929, NV Nederlands Indische Bierbrouwerijen yang yang pertama didirikan Medan, dengan suatu tempat pembuatan bir di Surabaya. Heineken NV menjadi suatu pemegang saham utama di tahun 1936, lalu perusahaan itu berubah nama menjadi Heineken Nederlands Indische Bierbrouwerijen Maatschappij. Beberapa nama berubah kemudian, di tahun 1981, menjadi dikenal sebagai PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MBI) dan telah didaftarkan di Bursa Efek

5 48 Jakarta dan Surabaya pada bulan Desember Hari ini, MBI adalah pabrikan bir yang terkemuka di Indonesia. Pabrik ini menghasilkan dan menjual bidang produk trademarked, mencakup Bir Bintang, Heineken, Bir hitam Guinness, dan Pantai pasir Hijau. Di tahun 2004, diluncurkan kembali produksi baru, Bintang Nol. Perusahaan ini beroperasi sebagai tempat pembuatan bir di daerah Sampang Agung, Mojokerto dan Tangerang, dengan penjualan dan memasarkan kantor di semua kota besar yang utama, dari Medan di daerah Sumatra utara ke Jayapura di daerah Papua. Pada bulan Mei 2004, MBI di daerah Tangerang telah bersertifikat oleh SGS, suatu internasional badan sertifikasi mempunyai nama baik, pada ISO 9001, ISO dan HACCP. MBI adalah perusahaan Indonesia yang pertama menerapkan semua 3 sistem manajemen di dalam mengintegrasikan sistem. Per 1 Januari 2005, PT Multi Bintang Indonesia Tbk. telah mendirikan suatu anak perusahaan yang dinamakan PT Multi Bintang Indonesia Niaga. Sejak itu, MBI Niaga bertanggung jawab atas operasional untuk memasarkan produk-produknya PT Delta Djakarta Tbk Pabrik Anker Bir didirikan pada tahun 1932 dengan nama Archipel Brouwerij. Dalam perkembangannya, kepemilikannya dari pabrik ini telah mengalami beberapa kali perubahan sehingga

6 49 berbentuk PT Delta Djakarta pada tahun PT Delta Djakarta ( Perusahaan ) didirikan dalam rangka Undang-Undang penanaman Modal Asing No.1 tahun 1967 yang telah diubah dengan Undang-Undang No.11 tahun 1970 berdasarkan akta No.35 tanggal 15 Juni 1970 dari Abdul Latief, S.H. notaries di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat keputusannya No.J.A.5/75/9 tanggal 26 April Anggaran dasar perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaries No.49 tanggal 15 Juni 2004 dari P.Sutrisno A.Tampubolon, S.H., M.Kn., notaries publik di Jakarta, mengenai perubahan susunan dan anggota dewan komisaris dan dewan direksi Perusahaan. Perusahaan dan pabriknya berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur-Jawa Barat. Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan yaitu terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek Anker, Carlsberg, dan San Miguel dan Kuda Putih. Perusahaan telah melakukan diversifikasi dengan memproduksi dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merek Sodaku dan Soda Ice. Hasil produksi Perusahaan dipasarkan di dalam dan di luar negeri. Perusahaan mulai beroperasi sejak tahun Jumlah karyawan

7 50 Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2005 dan 2004 masing-masing 527 orang dan 542 orang. PT Delta Djakarta adalah salah satu tempat pembuatan bir yang terkemuka dan termasuk yang paling tua di Indonesia, didirikan sejak Jakarta masih bernama Batavia di tahun 1932, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Pada bulan Juni 1997, Delta Djakarta memulai tempat pembuatan bir yang terletak di Tambun-Bekasi. Tempat pembuatan bir yang baru mempunyai 900,000 Hl saban kapasitas produksi tahun dan secara penuh terkomputerisasi untuk secara konsisten menghasilkan bir mutu tinggi. Oleh karena komitmen pelanggan dan mutu perusahaan, PT Delta Djakarta dipercayakan di bawah persetujuan lisensi Carlsberg Internasional A/S dan San Miguel Corporation-Philippines untuk menghasilkan, mendistribusikan, dan menjual Carlsberg Bir Dan San Miguel Bir di Indonesia. Sebagai tambahan, produk Delta Djakarta ini sudah memenangkan penghargaan dalam berbagai kompetisi internasional : Anker Bir Larger or Pilsener type with alcohol content of approx. 5% W/W. * Monde Selection 1995 Silver medal * Monde Selection Gold medal Anker Stout Black top fermented stout with alcohol content approx. 5% W/W. * The Brewery Industry International Awards nd Prize in

8 51 class 3 * Australian International Beer Awards 1996 and Silver medal * Monde Selection 1995 to Gold medal Shanta Super Shandy Alcohol content less than 1% W/W - a mix of 80% lime flavored syrup and 20% beer. * Monde Selection Gold medal Delta Djakarta sudah memproduksi beberapa Merek untuk diekspor sejak 1995 seperti Singa Emas, Permata hijau lumut, Bir Jaguar dan Bir hitam untuk Singapura, Malaysia dan Myanmar. Bir Singa Raja dan Bir hitam untuk Kamboja dan merek lainnya. Merek dagang yang disebutkan di atas diekspor dan diproduksi dalam berbagai ukuran dan kemasan berbeda. Bagaimanapun, semuanya berisi bir mutu tinggi seperti produk Anker Bir dan Anker Bir hitam. 4.2 Analisis Laporan Keuangan Data industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) dalam bentuk rasio keuangan untuk periode 2007.

9 52 Liquidity Ratio Tabel 4.1 Analisis Laporan Keuangan PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT Ades Waters Indonesia Tbk Perusahaan PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT Delta Djakarta Tbk Current ratio 709,16 34,38 59,12 417,26 Quick ratio 638,08 27,77 42,38 387,56 Working capital Efficiency Ratio Inventory turnover 21,27 20,69 8,28 27,16 Average collect. period Fixed asset turnover 6,02 0,92 2,69 6,28 Total asset turnover 2,19 0,74 1,57 1,41 Leverage Ratios Debt to total asset 42,35 62,46 68,19 22,21 Debt to equity ratio 74,43 166,39 214,46 28,7 Profitability Ratios Gross profit margin ratio 6,11 0,21 45,32 23,62 Operating profit ratio 4,57 93,53 13,63 7,25 Net profit margin ratio 3,38 117,46 8,62 5,66 Return on assets 7,44 87,1 13,53 7,99 Analisis rasio keuangan industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) untuk periode 2007 di atas akan di analisis satu persatu sebagai berikut :

10 53 Liquidity Ratio 1) Rasio lancar (Current ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio lancar (current ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.2 Rasio lancar (Current ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 709,16 34,38 59,12 417,26 Rasio lancar (current ratio) digunakan sebagai ukuran kemampuan membayar utang jangka pendek. Berdasarkan hasil perhitungan Tabel 4.2 Rasio lancar (Current ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan membayar utang jangka pendek posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 709,16, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta dengan angka 417,26, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 59,12, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 34,38. 2) Rasio cepat (Quick ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang

11 54 Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio cepat (quick ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.3 Rasio cepat (Quick ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 638,08 27,77 42,38 387,56 Rasio cepat (quick ratio) digunakan untuk mengukur seberapa baik perusahaan dalam memenuhi kewajibannya tanpa harus melikuidasi atau terlalu tergantung pada persediaannya. Berdasarkan Tabel 4.3 Rasio cepat (Quick ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan memenuhi kewajibannya posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 638,08, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta dengan angka 387,56, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 42,38, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 27,77. 3) Modal kerja (Working capital) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) modal kerja (working capital) hasil perhitungannya sebagai berikut :

12 55 Tabel 4.4 Modal kerja (Working capital) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk Modal kerja (working capital) digunakan sebagai bentuk kepastian kepada kreditor jangka pendek bahwa mereka akan dibayar oleh perusahaan. Tetapi, mempertahankan modal kerja dalam jumlah besar tidaklah cuma-cuma. Modal kerja harus didanai dengan utang jangka panjang dan ekuitas dimana kedua-duanya sama mahalnya. Berdasarkan Tabel 4.4 Modal kerja (Working capital) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan modal kerja tebaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka , posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka , posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka , dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indinesia Tbk dengan angka Efficiency Ratio 1) Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut :

13 56 Tabel 4.5 Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta 31,27 20,69 8,28 27,16 Rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) digunakan untuk mengukur berapa kali persediaan telah terjual dan digantikan dalam setahun. Berdasarkan Tabel 4.5 Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) memberikan informasi bahwa tingkat perputaran persediaan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 31,27, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 27,16, posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 20,69, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 8,28. 2) Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) periode penagihan rata-rata (average collect. period) hasil perhitungannya sebagai berikut :

14 57 Tabel 4.6 Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT Ades Waters Indonesia Tbk PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT Delta Djakarta Tbk Periode penagihan rata-rata (average collect. period) digunakan untuk jumlah rata-rata hari yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mengumpulkan pendapatan dari penjualan kreditnya. Berdasarkan Tabel 4.6 Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan penagihan rata-rata terbaik posisi pertama yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 24, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 42, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 85, dan posisi terakhir yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 98. 3) Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) hasil perhitungannya sebagai berikut :

15 58 Tabel 4.7 Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 6,02 0,92 2,69 6,28 Berdasarkan Tabel 4.7 Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) memperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 6,28, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 6,02, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 2,69, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,92. 4) Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) perputaran jumlah aktiva (total asset turnover) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.8 Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 2,19 0,74 1,57 1,41 Berdasarkan Tabel 4.8 Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) memperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan perputaran

16 59 jumlah aktiva (total asset turnover) terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 2,19, posisi kedua yaitu PT Multi bintang Indonesia Tbk dengan angka 1,57, posisi ketiga PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 1,41, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,74. Leverage Ratio 1) Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.9 Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 74,43 166,39 214,46 28,7 Rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) menunjukkan proporsi relatif dari hutang dan ekuitas dalam neraca perusahaan. Berdasarkan Tabel 4.9 Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 28,7, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 74,43, posisi ketiga

17 60 yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 166,39, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 214,46. 2) Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio hutang terhadap jumlah aktiva (debt to total asset ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.10 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 42,35 62,46 68,19 22,21 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (debt to total asset ratio) menunjukkan proporsi relatif dari hutang dan jumlah aktiva dalam neraca perusahaan. Berdasarkan Tabel 4.10 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 22,21, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 42,35, posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 62,46, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 68,19.

18 61 Profitability Ratio 1) Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio pengembalian atas aktiva (return on assets) hasil perhitungannya sebagai berikut : Table 4.11 Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 7,44 87,1 13,53 7,99 Berdasarkan Tabel 4.11 Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan pengembalian atas aktiva terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 13,53, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 7,99, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 7,44, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 87,1. 2) Rasio laba operasi (Operating profit ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio laba operasi (operating profit ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut :

19 62 Tabel 4.12 Rasio laba operasi (Operating profit ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 45,7 93,53 13,63 7,25 Berdasarkan Tabel 4.12 Rasio laba operasi (Operating profit ratio) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan rasio laba operasi (operating profit ratio) terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 45,7, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 13,63, posisi ketiga yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 7,25, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 93,53. 3) Rasio marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio marjin laba kotor (gross profit margin ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.13 Rasio marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 6,11 0,21 45,32 23,62 Rasio marjin laba kotor (gross profit margin ratio) digunakan untuk mengukur marjin laba atas penjualan. Berdasarkan Tabel 4.13 Rasio

20 63 marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan marjin laba kotor terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 45,32, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 23,62, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 6,11, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,21. 4) Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio marjin laba bersih (net profit margin ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.14 Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 3,38 117,46 8,62 5,66 Berdasarkan Tabel 4.14 Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) maka diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan rasio marjin laba bersih (net profit margin ratio) terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka8,62, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 5,66, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 3,38, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 117,46.

21 Analisis Altman Z-Score Tabel 4.15 Altman Z-Score PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Delta PT Multi Bintang Mississippi Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk Indonesia Tbk 4, , , , Berdasarkan Tabel 4.15 Tabel Altman Z-Score maka dapat diperoleh informasi sebagai berikut: 1) PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 4,7 menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kedudukan keuangan yang kuat. 2) PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 6,3 menunjukkan kuat kemungkinan untuk bangkrut. 3) PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 4,9 menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kedudukan keuangan yang kuat. 4) PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 2,6 menunjukkan potensi kebangkrutan dalam 2 tahun mendatang.

22 Analisis Penggunaan Supply Chain Operations Reference (SCOR) Analisis terhadap Supply Chain Operations Reference (SCOR) dibagi menjadi 2 bagian yaitu : Customer Facing

23 66 1) Perfect Order Fulfillment Analisis terhadap reliability attribut yaitu perfect order fulfillment pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) % orders placed without error, % orders scheduled to customer request date, % orders received damage free, dan % orders with correct shipping documents. 2) Order Fulfillment Cycle Time Analisis terhadap responsiveness attribut yaitu order fulfillment cycle time pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) deliver cycle time, make cycle time, produce & test cycle time, dan pick product cycle time. 3) Upside Supply Chain Flexibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu upside supply chain flexibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan

24 67 karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) source flexibility, make flexibility, dan deliver flexibility. 4) Upside Supply Chain Adaptibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu upside supply chain adaptibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) upside source adaptability, upside make adaptability, dan upside deliver adaptability. 5) Downside Supply Chain Adaptibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu downside supply chain adaptibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) downside source adaptability, downside make adaptability, dan downside deliver adaptability.

25 4.3.2 Internal Facing 68

26 69 1) Supply Chain Management Cost Analisis terhadap cost attribut yaitu supply chain management cost pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost Yang dimaksud dengan supply chain management cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses bisnis supply chain dari pembelian barang sampai barang tersebut dikirim ke pelanggan. Hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan didalam menekan atau mengefisienkan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat kemampuan supply chain management cost terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka Posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka

27 70 3. Posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka Posisi keempat yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover, average collect. period, fixed asset turnover, net profit margin ratio, dan return on assets. Berdasarkan Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost maka dapat diperoleh informasi perbandingan persentase supply chain management cost terhadap revenue keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 1,20%, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 29,76%, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 31,82%, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 115,32%. 2) Cost of Goods Sold Analisis terhadap cost attribut yaitu cost of goods sold pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut :

28 71 Tabel 4.19 Cost of Goods Sold Yang dimaksud dengan cost of goods sold adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang atau harga perolehan dari barang yang dijual. Cost of goods sold dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan harga jual dan untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar dari cost of goods sold maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari cost of goods sold akan diperoleh kerugian. Berdasarkan Tabel 4.19 Cost of Goods Sold maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat cost of goods sold terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka Posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka Posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka Posisi keempat yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka

29 72 Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.19 Cost of Goods Sold maka dapat diperoleh informasi perbandingan persentase cost of goods sold terhadap revenue keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 55,09%, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Tbk dengan angka 54,78%, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 93,89%, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 100,21%. 3) Cash-to-Cash Cycle Time Analisis terhadap assets attribut yaitu cash-to-cash cycle time pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut :

30 73 Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time Cash-to-cash cycle time adalah waktu yang dibutuhkan dari uang yang dikeluarkan (cash out) untuk pembelian barang sampai barang tersebut menjadi uang kembali. Hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan didalam memanage aliran material dengan cepat, sehingga menunjukkan bagaimana kemampuan pendistribusian barang dan system term of payment. Berdasarkan Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat cash-tocash cycle time terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 59 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 49 hari, days sales outstanding selama 40 hari, days payable outstanding selama 30 hari. 2. Posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 74 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 12 hari, days

31 74 sales outstanding selama 83 hari, days payable outstanding selama 21 hari. 3. Posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 83 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 36 hari, days sales outstanding selama 68 hari, days payable outstanding selama 21 hari. 4. Posisi keempat yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 109 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 54 hari, days sales outstanding selama 82 hari, days payable outstanding selama 28 hari. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti current ratio, quick ratio, working capital, inventory turnover, average collect. period, total asset turnover, debt to total asset, debt to equity ratio, gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time maka dapat diperoleh informasi perbandingan inventory turnover keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 32,4 kali, posisi kedua yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 14,7 kali, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 7,6 kali dan posisi terakhir yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 6,8 kali.

32 75 4) Return on Supply Chain Fixed Assets Analisis terhadap assets attribut yaitu return on supply chain fixed assets pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.21 Return on Supply Chain Fixed Assets Return on supply chain fixed assets memiliki arti penting bagi setiap perusahaan tidak hanya dalam hubungannya untuk memelihara atau mempertahankan likuiditasnya. Tetapi unsur penting yang harus diperlihatkan manajemen dan oleh sebab itu juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan itu adalah aspek efisiensi dan profitabilitasnya. Berdasarkan Tabel 4.21 Return on Supply Chain Fixed Assets maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat return on supply chain fixed assets terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 50%. 2. Posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 36,15%.

33 76 3. Posisi ketiga PT Aqua Golden Mississippi Tbk yaitu dengan angka 29,56%. 4. PT Ades Waters Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan karena kondisi PBIT (Profit Before Interest and Taxes) negatif atau rugi. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover, average collect. period, fixed asset turnover, total asset turnover, debt to total asset, gross profit margin ratio, operating profit margin ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. 5) Return on Working Capital Analisis terhadap assets attribut yaitu return on working capital pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.22 Return on Working Capital

34 77 Return on working capital memiliki arti penting bagi setiap perusahaan tidak hanya dalam hubungannya untuk memelihara atau mempertahankan likuiditasnya. Tetapi unsur penting yang harus diperlihatkan manajemen dan oleh sebab itu juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan itu adalah aspek efisiensi dan profitabilitasnya. Berdasarkan Tabel 4.22 Return on Working Capital maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat return on working capital terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 20,26%. 2. Posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 19,75%. 3. PT Multi Bintang Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan kondisi modal kerja (working capital) negatif karena aktiva lancar (current asset) lebih kecil dari pada kewajiban lancar (current liabilities). 4. PT Ades Waters Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan kondisi modal kerja (working capital) negatif karena aktiva lancar (current asset) lebih kecil dari pada kewajiban lancar (current liabilities) dan kondisi PBIT (Profit Before Interest and Taxes) negatif atau rugi. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti current ratio, quick ratio, working capital, inventory turnover, average collect. period, total asset turnover, debt to

35 78 total asset, debt to equity ratio, gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.22 Return on Working Capital maka dapat diperoleh informasi perbandingan working capital keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka , posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka , posisi ketiga PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap Supply Chain dalam industri makanan dan minuman dengan menggunakan Supply Chain Operations Reference (SCOR) berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. 44 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan PT. HM Sampoerna Tbk, didirikan di Indonesia pada tanggal 19 Oktober 1963 berdasarkan Akta Notaris Anwar Mahajudin, S.H., No. 69.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN maka perusahaan akan mengetahui apakah kinerja keuangan perusahaannya lebih baik atau bahkan lebih baik dari perusahaan lain. Dengan adanya analisis rasio laporan keuangan maka akan dapat membantu manajemen

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Ace Hardware Indonesia Tbk adalah sebagai berikut: 1. Rasio likuiditas PT Ace Hardware Indonesia Tbk bila dilihat dari current

BAB V PENUTUP. Ace Hardware Indonesia Tbk adalah sebagai berikut: 1. Rasio likuiditas PT Ace Hardware Indonesia Tbk bila dilihat dari current BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Simpulan rinci yang didapatkan dari perhitungan analisis rasio keuangan yang telah dilakukan sebagai salah satu dasar penilaian kinerja keuangan pada PT Ace Hardware Indonesia

Lebih terperinci

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode tertentu. Dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN 2008-2012 NAMA : DEWI KUSUMASTUTI KELAS : 3EB15 NPM : 21210905 FAKULTAS : EKONOMI JURUSAN : AKUNTANSI Latar Belakang Masalah Analisis laporan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Astra Agro

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Astra Agro BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Astra Agro Lestari Tbk. yang selanjutnya dibandingkan dengan PT. PP London Sumatra Tbk. dengan menggunakan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk melaksanakan. lagi untuk membiayai operasi yang berikutnya.

ABSTRAK. Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk melaksanakan. lagi untuk membiayai operasi yang berikutnya. ABSTRAK Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Modal kerja baik berupa uang maupun dana lainnya yang telah dikeluarkan diharapkan dapat kembali lagi dalam

Lebih terperinci

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan Bab 2: Analisis Laporan Keuangan Pentingnya analisis laporan keuangan dan pihak pihak yang berkepentingan. Macam laporan keuangan. Analisis rasio keuangan. Keterbatasan analisis laporan keuangan. Pentingnya

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Analisis rasio laporan keuangan pada perusahaan industri rokok telah dilaksanakan secara efektif, hal ini terlihat dari perusahaan industri rokok dalam menganalisis

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH.

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH. DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH. i ii iv vi viii x xi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Perumusan Masalah.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Indofarma Tbk., maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil kinerja likuiditas perusahaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Kalbe Farma Tbk., maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil kinerja likuiditas perusahaan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Dalam dunia bisnis, tingginya tingkat persaingan membuat setiap perusahaan akan senantiasa meningkatkan kinerjanya agar dapat bertahan. Oleh karena itu, setiap perusahaan akan selalu berusaha memperoleh

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 1. Pelaksanaan Analisis Laporan Keuangan Pada Perusahaan Industri Kertas 1) PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Analisis laporan keuangan pada PT. Indah Kiat Pulp & Paper

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Disini penulis akan menyimpulkan hasil kinerja PT Telkom Tbk dan PT Indosat Tbk yang keduanya merupakan perusahaan yang terdaftar di BEJ setelah dianalisis dengan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari analisis laporan keuangan yang telah dilakukan, berikut adalah kesimpulan hasil perbandingan kinerja tiga perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek

Lebih terperinci

Analisa Rasio Keuangan

Analisa Rasio Keuangan 1 MODUL 3 Analisa Rasio Keuangan Tujuan Pembelajaran : 1. Bagaimana analisa laporan keuangan dapat membantu menejer untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan 2. Menghitung ratio profitabilitas, likuiditas,

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN

ANALISIS RASIO KEUANGAN ANALISIS RASIO KEUANGAN N U R A E N I, S. S O S., M. A B Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan merupakan teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara membandingkan satu komponen

Lebih terperinci

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN RASIO KEUANGAN Ratio Keuangan: perhitungan matematika yang bergunauntuk: Mengevaluasi performa perusahaan Memonitor performa perusahaan selama periode tertentu (mingguan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Mayora Tbk maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil kinerja Likuiditas dilihat dari rasio

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT KIMIA FARMA (PERSERO) TBK

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT KIMIA FARMA (PERSERO) TBK ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT KIMIA FARMA (PERSERO) TBK Nama : Bella Kandi NPM : 21213695 Jurusan : Akuntansi Dosen Pembimbing : Erna Kustyarini SE., MMSI Pendahuluan

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS PADA LAPORAN KEUANGAN PT. SIANTAR TOP (PERSERO) TBK. : Sovia Yohana Lumban : 1A214419

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS PADA LAPORAN KEUANGAN PT. SIANTAR TOP (PERSERO) TBK. : Sovia Yohana Lumban : 1A214419 ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS PADA LAPORAN KEUANGAN PT. SIANTAR TOP (PERSERO) TBK Nama NPM Kelas Fakultas Jurusan Pembimbing : Sovia Yohana Lumban : 1A214419 : 3EA39 : Ekonomi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk., maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil kinerja likuiditas

Lebih terperinci

Manajemen Keuangan. Memahami Kondisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan. Basharat Ahmad. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Manajemen Keuangan. Memahami Kondisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan. Basharat Ahmad. Modul ke:  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Manajemen Keuangan Modul ke: Memahami Kondisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Basharat Ahmad Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Materi Pembelajaran Analisa Rasio Keuangan

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PERIODE 31 DESEMBER

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PERIODE 31 DESEMBER ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PERIODE 31 DESEMBER 2012 2014 Disusun oleh : Nama : Desyria Pratiwi NPM : 21212913 Jurusan : Akuntansi Dosen Pembimbing : Susanti Usman, SE.,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis terhadap laporan keuangan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. adalah di bawah ini. Berdasarkan analisis rasio likuiditas,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kinerja Keuangan PT. Lippo Karawaci Tbk tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 Dalam Bab ini penulis akan melakukan analisis terhadap laporan keuangan dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan laporan keuangan PT Metrodata Electronics, Tbk., maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari hasil perhitungan

Lebih terperinci

Introduction to. Chapter 16. Financial Management. MultiMedia by Stephen M. Peters South-Western College Publishing

Introduction to. Chapter 16. Financial Management. MultiMedia by Stephen M. Peters South-Western College Publishing Introduction to Chapter 16 Financial Management Sasaran Pembelajaran Menjelaskan bagaimana perusahaan menggunakan akuntansi. Menjelaskan bagimana untuk menginterpretasikan laporan keuangan. Menjelaskan

Lebih terperinci

MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk

MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk Disusun oleh Nama : AdhiPrasetyo NPM : 06320005872 Kelas/Nomer Absen : 2D Adm. Perpajakan / 03 DEPARTEMEN KEUANGAN

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1 Simpulan PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang industri farmasi dimana kegiatan utamanya menyediakan produk dan jasa pelayanan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.1.1. Rasio Keuangan Rasio yang menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa

Lebih terperinci

Analisa Laporan keuangan

Analisa Laporan keuangan Laporan keuangan Analisa Laporan keuangan Minggu ke -2 By : Bambang Wahyudi Wicaksono Laporan keuangan diumumkan secara periodik untuk menyediakan informasi mendasar tentang kinerja keuangan suatu perusahaan,

Lebih terperinci

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan IE-41 Analisis dan Estimasi Biaya Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan Laporan keuangan memberikan informasi mengenai posisi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian 1. Pengertian Property dan Real Estate Menurut buku Realestate Sebuah Konsep Ilmu dan Problem Pengembang di Indonesia ( Budi Santoso,2000) definisi real estate adalah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasio Likuiditas Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENGETAHUI KINERJA KEUANGAN PT.ASTRA INTERNATIONAL, Tbk

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENGETAHUI KINERJA KEUANGAN PT.ASTRA INTERNATIONAL, Tbk ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENGETAHUI KINERJA KEUANGAN PT.ASTRA INTERNATIONAL, Tbk Nama Npm : 22209237 Jurusan : Akuntansi Pembimbing : Jonathan Lingga Saputra : Bertilia Lina Kusrina, SE., MM. LATAR

Lebih terperinci

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain: Analisis Rasio Laporan Keuangan Perusahaan Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah merupakan suatu alat analisa yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Pada hakekatnya laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengukomunikasikan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan analisa yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan analisa yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisa yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan melalui analisa rasio

Lebih terperinci

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun 2007-2010 Tugas Manajemen Keuangan Lanjutan Dosen: Dr. Isfenti Sadalia, SE, ME Oleh: Junita Nelly Panjaitan NIM. 127019020 Kelas A Pararel

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kinerja keuangan PT.XYZ

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kinerja keuangan PT.XYZ 123 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kinerja keuangan PT.XYZ selama periode 2003 2005, penulis berkesimpulan sebagai berikut : 1. Kinerja keuangan PT.XYZ dari

Lebih terperinci

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

Bab 9 Teori Rasio Keuangan D a s a r M a n a j e m e n K e u a n g a n 123 Bab 9 Teori Rasio Keuangan Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai jenis dan pembagian laporan keuangan serta mengerti tentang perhitungan tentang rasio

Lebih terperinci

KONDISI EKONOMI DAN INDUSTRI BIR

KONDISI EKONOMI DAN INDUSTRI BIR KONDISI EKONOMI DAN INDUSTRI BIR Perekonomian Indonesia membukukan pertumbuhan yang tinggi di tahun 2010. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) bertumbuh sebesar 6,1%, terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN 4.1 Analisis Laporan Keuangan Perusahaan Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak yang berkepentingan untuk menilai kerja dan posisi keuangan

Lebih terperinci

ANALISIS EKONOMI, KEUANGAN PERUSAHAAN & INVESTASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

ANALISIS EKONOMI, KEUANGAN PERUSAHAAN & INVESTASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN ANALISIS EKONOMI, KEUANGAN PERUSAHAAN & INVESTASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN Didukung Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53, Jakarta Selatan 12190 Telp

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. saran yang sesuai dengan penelitian analisis data yang telah dilakukan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. saran yang sesuai dengan penelitian analisis data yang telah dilakukan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Sebagai akhir dari penelitian ini, disampaikan beberapa kesimpulan dan saran yang sesuai dengan penelitian analisis data yang telah dilakukan. 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. MANDOM INDONESIA TBK.

ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. MANDOM INDONESIA TBK. ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. MANDOM INDONESIA TBK. Nama : Annisa Damayanti Puspitasari NPM : 21213127 Kelas : 3EB03 Jurusan : Akuntansi Pembimbing : Dini

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Laporan keuangan merupakan media yang penting untuk menilai prestasi serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat mengambil suatu keputusan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berikut merupakan sejarah singkat PT MLBI yang menjadi sampel penelitian :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berikut merupakan sejarah singkat PT MLBI yang menjadi sampel penelitian : BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Penelitian ini didasarkan pada Laporan keuangan PT Multi Bintang Indonesia dan catatan yang berkaitan dengan PT MLBI. Penulis juga melakukan browsing

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk PERIODE

ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk PERIODE ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk PERIODE 2011-2015 Disusun oleh : Nama : Dilla Marta Yulia NPM : 22213462 Jurusan : Akuntansi Dosen Pembimbing : Bani Zamzami,

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan jangka

BAB IV PEMBAHASAN. kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan jangka BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Liquidity Ratios IV.1.1 Current Ratio Rasio lancar (current ratio), dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penyedia telekomunikasi, yaitu PT BAKRIE TELECOM

BAB III METODE PENELITIAN. penyedia telekomunikasi, yaitu PT BAKRIE TELECOM BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Obyek dari penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa penyedia telekomunikasi, yaitu PT BAKRIE TELECOM Tbk beserta Anak Perusahaan. PT

Lebih terperinci

ANALISA LAPORAN KEUANGAN ERDIKHA ELIT

ANALISA LAPORAN KEUANGAN ERDIKHA ELIT ANALISA LAPORAN KEUANGAN www.mercubuana.ac.id LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston, 18 II. LANDASAN TEORI 2.1 Rasio Likuiditas Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, RASIO LEVERAGE DAN AKTIVITAS PADA PT TIMAH TBK

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, RASIO LEVERAGE DAN AKTIVITAS PADA PT TIMAH TBK ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, RASIO LEVERAGE DAN AKTIVITAS PADA PT TIMAH TBK Nama : Nila Wulandari NPM : 24210989 Jurusan : Akuntansi Pembimbing : Erny Pratiwi,SE., MM Latar Belakang PENDAHULUAN Di Indonesia

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab 4 yaitu penilaian kinerja keuangan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk yang akan dibandingkan dengan rata-rata

Lebih terperinci

BAB IV. Analisis dan Pembahasan. dan 2012 terdapat analisis keuangan sebagai berikut :

BAB IV. Analisis dan Pembahasan. dan 2012 terdapat analisis keuangan sebagai berikut : BAB IV Analisis dan Pembahasan Berdasarkan laporan keuangan PT. Astra Internasional pada tahun 2011 dan 2012 terdapat analisis keuangan sebagai berikut : 1. Rasio Likuiditas Rasio ini menunjukkan kemampuan

Lebih terperinci

PROGRAM MAGISTER STUDI EKONOMI MANAJEMEN

PROGRAM MAGISTER STUDI EKONOMI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER STUDI EKONOMI MANAJEMEN MODUL ANALISA LAPORAN KEUANGAN (THE ANALYSIS OF FINANCIAL STATEMENT ) TUJUAN 1. BAGI KREDITOR : untuk melihat kemampuan borrower pada saat ini atau prospeksnya

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 1. Analisis laporan keuangan pada perusahaan PT. Kimia Farma Tbk, PT. Kalbe Farma Tbk, dan PT. Schering-Plough Indonesia Tbk, telah dilaksanakan secara efektif. Hal

Lebih terperinci

ABSTRAK. vii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. vii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui kinerja keuangan PT.XYZ yang bergerak di bidang industri teksil dari tahun 2007 sampai tahun 2010. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 48 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Perhitungan Komponen Z-Score Uraian pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa model Altman (Z-Score) yang telah dikemukakan oleh Altman untuk negara-negara

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN IV.1. Analisis Rasio Keuangan Sebelum Merger Pada tahun 2006 PT. Energi Mega Persada, Tbk memberitahukan kepada publik tentang rencana perusahaan untuk melakukan merger dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 PT Aqua Golden Mississippi, Tbk 4.1.1.1 Sejarah Perusahaan PT. Aqua Golden Mississippi Tbk ( perusahaan ) didirikan berdasarkan akta notaries

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS. Octavianus Hendratmo (2004) meneliti dengan judul Analisis Pengaruh

BAB II URAIAN TEORITIS. Octavianus Hendratmo (2004) meneliti dengan judul Analisis Pengaruh BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Octavianus Hendratmo (2004) meneliti dengan judul Analisis Pengaruh Tingkat Aktivitas, Likuiditas, dan Leverage Keuangan terhadap Earnings Per Share (EPS)

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Penggabungan Usaha Penggabungan usaha merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan menegmbangkan perusahaan. Berdasarkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, dan Kinerja Perusahaan. xiii

ABSTRAK. Kata kunci: Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, dan Kinerja Perusahaan. xiii ABSTRAK Laporan keuangan merupakan cerminan dari kinerja perusahaan pada satu perioda tertentu. Namun hanya dengan melihat laporan keuangan, informasi lain yang lebih mendalam tentang kinerja perusahaan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Sejarah Singkat Perusahaan. Industrial Estate, Jl Jababeka Raya Blok F 29-33, Cikarang, Bekasi 17530,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Sejarah Singkat Perusahaan. Industrial Estate, Jl Jababeka Raya Blok F 29-33, Cikarang, Bekasi 17530, 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Singkat Perusahaan PT Samsung Electronics Indonesia didirikan pada tanggal 14 agustus 1991 dengan membentuk 2 divisi yaitu:

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. Nurochman, SST,.Akt,.MT

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. Nurochman, SST,.Akt,.MT ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Nurochman, SST,.Akt,.MT Laporan Keuangan Dalam PSAK No. 1 paragraf 07 dinyatakan ada lima komponen lengkap dari laporan keuangan: a. Neraca b. Laporan laba rugi c. Laporan perubahan

Lebih terperinci

Analisis Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas, dan Aktivitas pada PT. Kimia Farma (Persero), Tbk

Analisis Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas, dan Aktivitas pada PT. Kimia Farma (Persero), Tbk Analisis Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas, dan Aktivitas pada PT. Kimia Farma (Persero), Tbk Latar Belakang Masalah 1. Keuangan merupakan sarana yang penting bagi suatu perusahaan untuk tetap bertahan

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN PT GARUDA INDONESIA TBK SEBELUM DAN SESUDAH MELEPAS SBU CITILINK MENJADI PT CITILINK INDONESIA

ANALISIS RASIO KEUANGAN PT GARUDA INDONESIA TBK SEBELUM DAN SESUDAH MELEPAS SBU CITILINK MENJADI PT CITILINK INDONESIA Nama: Anisa N Anggraeni NPM: 10212933 Jenjang / Jurusan: S1 / Manajemen Pembimbing: Christiana Wulandari, SE., M.I.Kom ANALISIS RASIO KEUANGAN PT GARUDA INDONESIA TBK SEBELUM DAN SESUDAH MELEPAS SBU CITILINK

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu cara untuk mengetahui kondisi keuangan suatu perusahaan adalah dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut. Analisis yang dilakukan

Lebih terperinci

Analisis kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk periode

Analisis kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk periode Analisis kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk periode 1999-2001 Danika Sakti Megawati F.3300168 ABSTRAK Masalah yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kinerja perusahaan dalam suatu periode produksi perlu dilakukan evaluasi untuk melihat dan mengetahui pencapaian yang telah dilakukan perusahaan baik dari

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan yang dapat

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan yang dapat BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Sebagai akhir dari penulisan dalam bab ini, disampaikan beberapa kesimpulan dan saran yang sesuai dengan penelitian analisis data yang telah dilakukan. 6.1. Kesimpulan Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Laba a. Pengertian Laba Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Laba merupakan indikator prestasi atau kinerja perusahaan yang besarnya tampak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia khususnya dalam bidang investasi saham. Pasar modal merupakan sarana

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia khususnya dalam bidang investasi saham. Pasar modal merupakan sarana BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan penting dalam meningkatkan perekonomian dunia khususnya dalam bidang investasi saham. Pasar modal merupakan sarana alternative

Lebih terperinci

Bab 1 Analisis Penggunaan Rasio Keuangan

Bab 1 Analisis Penggunaan Rasio Keuangan M a n a j e m e n K e u a n g a n 1 Bab 1 Analisis Penggunaan Rasio Keuangan Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menguasai teori terkait dan menjelaskan jenis dan pengertian rasio keuangan, metode perbandingan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Laporan Keuangan Pengertian laporan keuangan menurut Feriansya (2015:4) : Laporan keuangan merupakan tindakan pembuatan ringkasan dan keuangan perusahaan. Laporan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industry) dan produk yang dihasilkan pun bermacam-macam dengan semakin

BAB I PENDAHULUAN. Industry) dan produk yang dihasilkan pun bermacam-macam dengan semakin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada saat ini begitu banyak perusahaan manufaktur yang berkembang di Indonesia, terutama perusahaan disektor barang konsumsi (Consumer Goods Industry) dan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM.

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM. PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM. TEKNIK ANALISIS RATIO MERUPAKAN TEKNIK ANALISIS YANG MENGGAMBARKAN HUBUNGAN MATEMATIKAL ANTARA SUATU JUMLAH TERTENTU DENGAN JUMLAH YANG LAIN

Lebih terperinci

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Analisa laporan keuangan adalah suatu proses yang dapat digunakan untuk memeriksa data

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN i iii vi vii viii I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Identifikasi Masalah 5 C. Batasan Masalah 6 D. Rumusan Masalah.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang penganalisis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang penganalisis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.2.1. Profitabilitas Ada beberapa pengukuran terhadap profitabilitas perusahaan dimana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Keuangan PT. Ades Water Indonesia Tbk.

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Keuangan PT. Ades Water Indonesia Tbk. 54 BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Laporan Keuangan PT. Ades Water Indonesia Tbk. Sesuai dengan lingkup pembatasan, maka penulis hanya akan membahas permasalahan kuangan yang berupa neraca dan laporan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata-kata kunci: Analisis laporan keuangan, kinerja keuangan perusahaan.

ABSTRAK. Kata-kata kunci: Analisis laporan keuangan, kinerja keuangan perusahaan. ABSTRAK Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.

Lebih terperinci

hendro 6/30/2010 PRESENTASI VIII :

hendro 6/30/2010 PRESENTASI VIII : PRESENTASI VIII : ANALISIS LAPORAN KEUANGAN KOMPONEN UTAMA : RASIO KEUANGAN INFORMASI KEUANGAN SELURUH INFORMASI YANG SECARA SIGNIFIKAN MENGANDUNG DAN MENGEDEPANKAN ASPEK-ASPEK KEUANGAN DENGAN TUJUAN UNTUK

Lebih terperinci

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN A. ANALISIS KEUANGAN (FINANCIAL ANALYSISI) Analisis Keuangan adalah seni untuk mengubah data dari laporan keuangan ke informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan.

Lebih terperinci

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN A. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan untuk mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Objek yang dipilih adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk. PT Mitra Adiperkasa Tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam operasi berbagai merek toko ritel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat, menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat, menimbulkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat, menimbulkan banyaknya perusahaan sejenis bermunculan dan mengakibatkan semakin ketatnya persaingan. Perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN ROKOK (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI Periode )

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN ROKOK (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI Periode ) ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN ROKOK (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI Periode 2010-2013) NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-syarat Guna

Lebih terperinci

BAB IV. ANALISA dan PEMBAHASAN. 4.1 Kinerja dan Posisi Keuangan PT. BAKRIE TELECOM Tbk beserta

BAB IV. ANALISA dan PEMBAHASAN. 4.1 Kinerja dan Posisi Keuangan PT. BAKRIE TELECOM Tbk beserta BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN 4.1 Kinerja dan Posisi Keuangan PT. BAKRIE TELECOM Tbk beserta Anak Perusahaan Periode 2007-2011 berdasarkan Analisa Rasio Keuangan Perhitungan rasio-rasio keuangan PT. BAKRIE

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat penelitian Penelitian ini dilakukan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat di www.idx.co.id. Periode laporan keuangan dan laporan tahunan yang digunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Analisis Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) : Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Agribisnis Semester : IV Pertemuan Ke : 3 Pokok Bahasan : Analisis Laporan Keuangan Dosen :

Lebih terperinci

ANALISA RASIO LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PT ASTRA AGRO LESTARI TBK

ANALISA RASIO LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PT ASTRA AGRO LESTARI TBK ANALISA RASIO LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PT ASTRA AGRO LESTARI TBK Denny Erica Program Studi Manajemen Informatika AMIK BSI Jakarta [email protected] ABSTRACT As one of the largest

Lebih terperinci