KAJIAN EKONOMI REGIONAL

dokumen-dokumen yang mirip
KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Kajian Ekonomi Regional Banten

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

ii Triwulan I 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunianya, sehingga Kajian Ekonomi Keuangan Regional (KEKR)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2011 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Triwulan III 2014

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kondisi Perekonomian Indonesia

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

UMKM & Prospek Ekonomi 2006

Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar. aruhi. Nov. Okt. Grafik 1. Pertumbuhan PDB, Uang Beredar, Dana dan Kredit KOMPONEN UANG BEREDAR

Publikasi ini dapat diakses secara online pada :

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

B O K S. I. Gambaran Umum

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Transkripsi:

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan II - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang

Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya dapat dipublikasikan. Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai perkembangan beberapa indikator perekonomian daerah khususnya bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan keuangan daerah, yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Bank Indonesia juga sebagai bahan informasi bagi pihak eksternal. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan data dan informasi yang diperlukan bagi penyusunan buku ini. Harapan kami, hubungan kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak guna lebih meningkatkan kualitas buku kajian ini sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-nya serta kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya. Palembang, Juli 2008 Ttd Zainal Abidin Hasni Pemimpin i

Daftar Isi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank ii

Daftar Isi DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GRAFIK INDIKATOR EKONOMI i iii vii ix xiii RINGKASAN EKSEKUTIF 1 BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 9 1.1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Tahunan (yoy) 9 SUPLEMEN 1 PERKEMBANGAN USAHA PADA CONTACT LIAISON 11 1.2. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Triwulanan (qtq) 16 1.3. Perkembangan PDRB Dari Sisi Penggunaan 23 1.4. Struktur Ekonomi 24 1.5. Perkembangan Ekspor Impor 26 1.5.1. Perkembangan Ekspor 26 1.5.2. Perkembangan Impor 28 SUPLEMEN 2 OPTIMISME KEYAKINAN KONSUMEN PALEMBANG SEMAKIN MENURUN 30 BAB II PERKEMBANGAN INFLASI PALEMBANG 39 2.1. Inflasi Tahunan (yoy) 39 2.2. Inflasi Bulanan (mtm) 43 2.3. Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia Palembang 46 SUPLEMEN 3 RINGKASAN HASIL PENELITIAN KOMODITAS-KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI PALEMBANG DAN PROSES PEMBENTUKAN HARGANYA 51 iii

Daftar Isi BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 57 3.1. Kondisi Umum 57 3.2. Kelembagaan 58 3.3. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga 59 3.3.1. Penghimpunan DPK 59 3.3.2. Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota 60 3.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan 61 3.4.1. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral 61 3.4.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan 63 3.4.3. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten 64 3.4.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah 65 3.5. Perkembangan Suku Bunga Perbankan di Sumatera Selatan 66 3.5.1. Perkembangan Suku Bunga Simpanan 66 3.5.2. Perkembangan Suku Bunga Pinjaman 66 3.6. Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan 67 3.7. Kelonggaran Tarik 68 3.8. Resiko Likuiditas 68 3.9. Perkembangan Perbankan Syariah 69 Suplemen 4 KREDIT/PEMBIAYAAN PERBANKAN SUMSEL TRIWULAN II 2008 LEBIH EKSPANSIF 71 BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 79 4.1. Realisasi APBD 2007 79 4.2. Dana Bagi Hasil Pajak 81 4.3. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam 82 BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 85 5.1. Perkembangan Kliring 85 5.2. Perkembangan Perkasan 86 5.3. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau 88 iv

Daftar Isi BAB VI PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 91 6.1. Ketenagakerjaan 91 6.2. Pengangguran 93 6.3. Pendapatan per Kapita 95 6.4. Jumlah Penduduk Miskin Sumsel 96 6.5. Nilai Tukar Petani (NTP) 97 6.3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 99 BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH 101 7.1. Pertumbuhan Ekonomi 101 7.2. Inflasi 102 7.3. Perbankan 103 DAFTAR ISTILAH v

Daftar Isi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank vi

Daftar Tabel DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (persen) 10 Tabel 1.2 Kenaikan Biaya Input Sektor Properti 15 Tabel 1.3 Laju Pertumbuhan Triwulan (qtq) PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (persen) 19 Tabel 1.4 Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera Selatan (dalam Ha) 19 Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Menurut Penggunaan Tahun 2007-2008 (persen) 23 Tabel 1.6 Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Menurut Penggunaan Tahun 2007-2008 (persen) 24 Tabel 1.7 Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007-2008 25 Tabel 1.8 Struktur Ekonomi Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007-2008 26 Tabel 1.9 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (USD) 26 Tabel 2.1 Komoditas Penyumbang Inflasi Bulanan (mtm) Tertinggi di Kota Palembang Triwulan II 2008 45 Tabel 3.1 Pertumbuhan DPK Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 60 Tabel 3.2 Pertumbuhan Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Rp Triliun) 61 Tabel 3.3 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 64 Tabel 3.4 Perkembangan Bank Syariah di Sumatera Selatan (Rp Juta) 70 Tabel 4.1 Perbandingan Realisasi APBD Sumsel TA. 2006 dan TA. 2007 (Rp Miliar) 79 Tabel 4.2 Realisasi APBD Propinsi Sumatera Selatan 2007 80 Tabel 5.1 Perputaran Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong Propinsi Sumatera Selatan 86 Tabel 5.2 Kegiatan Perkasan di Sumsel (Rp Miliar) 87 Tabel 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) 88 Tabel 6.1 Banyaknya Pekerja per Sektor Ekonomi Triwulan II 2007 Triwulan II 2008 91 vii

Daftar Tabel Tabel 6.2 Tingkat Pengangguran di Propinsi Sumsel Tahun 2007-2008 (persen) 93 Tabel 6.3 Pendapatan Per Kapita Propinsi Sumsel Tahun 2007-2008 Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan Tahun 2000 (Rupiah) 95 Tabel 6.4 Jumlah Penduduk Miskin Sumsel Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2004-2007 97 Tabel 6.5 Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan Jan-Mei 2008 serta Persentase Perubahannya 98 Tabel 6.6 Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani 99 Tabel 6.7 IPM 2005 Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan 100 Tabel 7.1 Leading Economic Indicator Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Pada Tw III 2008 101 viii

Daftar Grafik DAFTAR GRAFIK Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 Dengan Migas 9 Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel 16 Grafik 1.3 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 Dengan Migas 16 Grafik 1.4 Perkembangan Curah Hujan di Sumsel 17 Grafik 1.5 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional 17 Grafik 1.6 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional 17 Grafik 1.7 Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional 17 Grafik 1.8 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 17 Grafik 1.9 Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Kinerja Sub Sektor Pertanian Triwulan II 2008 (persen) 18 Grafik 1.10 Perkembangan Konsumsi Listrik Propinsi Sumsel (juta KWH) 20 Grafik 1.11 Perkembangan Konsumsi Semen Propinsi Sumsel 21 Grafik 1.12 Perkembangan Penumpang Angkutan Udara Propinsi Sumsel (Jiwa) 22 Grafik 1.13 Kontribusi Sektor Ekonomi ADHK 2000 Propinsi Sumatera Selatan Triwulan II 2008 22 Grafik 1.14 Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan 24 Grafik 1.15 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 27 Grafik 1.16 Perkembangan Volume Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 27 Grafik 1.17 Perkembangan Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan 27 Grafik 1.18 Pangsa Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Tw II 2008 27 Grafik 1.19 Perkembangan Nilai Impor Propinsi Sumatera Selatan 28 Grafik 1.20 Perkembangan Volume Impor Propinsi Sumatera Selatan 28 Grafik 1.21 Perkembangan Impor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal 29 Grafik 1.22 Pangsa Impor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Tw II 2008 29 Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Palembang 39 ix

Daftar Grafik Grafik 2.2 Inflasi Tahunan (yoy) Kota Palembang per Kelompok Pengeluaran Triwulan II 2008 40 Grafik 2.3 Perkembangan Harga Terigu di Pasar Internasional 41 Grafik 2.4 Perkembangan Harga Beras di Pasar Internasional 41 Grafik 2.5 Perkembangan Harga Kedelai di Pasar Internasional 41 Grafik 2.6 Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional 41 Grafik 2.7 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang 42 Grafik 2.8 Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang 43 Grafik 2.9 Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang 44 Grafik 2.10 Event Analysis Inflasi Kota Palembang 2007-2008 45 Grafik 2.11 Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang dan Nasional Tahun 2007-2008 (persen) 46 Grafik 2.12 Perkembangan Harga Minyak Goreng Berdasarkan SPH di Palembang (Rp/Kg) 46 Grafik 2.13 Perkembangan Harga Beras Berdasarkan SPH di Palembang (Rp/Kg) 47 Grafik 2.14 Pergerakan Harga Beras di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) 48 Grafik 2.15 Pergerakan Harga Minyak Goreng di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) 48 Grafik 2.16 Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) 49 Grafik 2.17 Pergerakan Harga Emas di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/gram) 49 Grafik 2.18 Pergerakan Inflasi Bulanan dan Tingkat Harga Sesuai SPH di Kota Palembang (Juni 2007-Juni 2008) 50 Grafik 3.1 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan 57 Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Sumatera Selatan 58 Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Sumatera Selatan 59 Grafik 3.4 Komposisi DPK Perbankan Tw II 2008 di Propinsi Sumatera Selatan 59 Grafik 3.5 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 62 Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan 63 Grafik 3.7 Pangsa Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 63 x

Daftar Grafik Grafik 3.8 Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 Berdasarkan Wilayah 64 Grafik 3.9 Penyaluran Kredit UMKM Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Menurut Penggunaan 65 Grafik 3.10 Penyaluran Kredit UMKM Menurut Plafond Kredit 65 Grafik 3.11 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Sumsel 66 Grafik 3.12 Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perbankan Sumsel 67 Grafik 3.13 Perkembangan NPL Perbankan Propinsi Sumatera Selatan 67 Grafik 3.14 Persentase NPL Perbankan Sumsel Tw II 2008 Berdasarkan Sektor Ekonomi 67 Grafik 3.15 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 68 Grafik 3.16 Perkembangan Resiko Likuiditas Perbankan Sumsel 68 Grafik 3.17 Perkembangan Perbankan Syariah di Sumsel (Rp Miliar) 69 Grafik 4.1 Perbandingan Anggaran & Realisasi APBD Tahun 2007 Propinsi Sumatera Selatan 81 Grafik 4.2 Rasio Realisasi Sumber Pembiayaan APBD Tahun 2007 Propinsi Sumatera Selatan 81 Grafik 4.3 Pangsa DBH Pajak Prop. Sumatera Selatan 82 Grafik 4.4 Pangsa DBH Pajak Berdasarkan Wilayah 82 Grafik 4.5 Pangsa DBH SDA Propinsi Sumatera Selatan 83 Grafik 4.6 Pembagian DBH SDA Berdasarkan Wilayah 83 Grafik 5.1 Perkembangan Perputaran Kliring Sumsel 85 Grafik 5.2 Perkembangan Kegiatan Perkasan Sumsel 2007-2008 87 Grafik 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Secara Bulanan Tahun 2007-2008 89 Grafik 6.1 Persentase Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan di Propinsi Sumsel Triwulan II 2008 92 Grafik 6.2 Persentase Pengangguran Terselubung (Setengah Pengangguran) Menurut Lapangan Pekerjaan di Propinsi Sumsel Triwulan II 2008 94 Grafik 6.3 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini 95 Grafik 6.4 Indeks Penghasilan Saat Ini Dibandingkan 6 Bulan yang Lalu 96 Grafik 6.5 Indeks Harga yang Diterima, Indeks Harga yang Dibayar dan Nilai Tukar Petani 98 Grafik 7.1 Perbandingan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Persentase Responden Yang Memperkirakan Peningkatan Harga 3 Bulan Yang Akan Datang 103 xi

Daftar Grafik Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionallay blank xii

Indikator Ekonomi INDIKATOR EKONOMI A. INFLASI DAN PDRB INDIKATOR MAKRO Indeks Harga Konsumen 2007 2008 TW II TW III TW IV TW I TW II 159.64 164.83 170.24 175.54 112.66* Laju Inflasi - Tahunan (yoy) 6.82 9.24 8.20 10.87 13.96* PDRB - harga konstan (miliar Rp) - Pertanian - Pertambangan & penggalian - Industri pengolahan - Listrik, gas dan air bersih - Bangunan - Perdagangan, hotel dan restoran - Pengangkutan dan komunikasi - Keuangan, persewaan dan jasa - Jasa 13,676 14,474 14,115 14,059 14,356 2,786 3,229 2,697 2,693 2,880 3,363 3,351 3,411 3,368 3,385 2,401 2,499 2,530 2,504 2,514 65 68 69 69 70 1,021 1,062 1,083 1,068 1,083 1,864 1,982 1,958 1,949 1,998 612 650 682 682 690 546 557 562 585 589 1,017 1,078 1,122 1,141 1,147 Pertumbuhan PDRB - Tahunan (yoy) % - Triwulanan (qtq) % 5.67 5.46 7.01 8.17 4.97 5.22 5.83 (2.48) (0.40) 2.12 Nilai ekspor nonmigas (USD Juta) Nilai Impor nonmigas (USD Juta) 632.90 648.58 727.18 772.80 464.65 28.30 72.32 25.61 47.22 36.83 Volume ekspor nonmigas (ribu ton) 1,072.70 943.00 860.03 884.28 437.59 Volume impor nonmigas (ribu ton) 63.01 105.53 82.69 98.62 72.22 *) Tahun dasar 2007 xiii

Indikator Ekonomi B. PERBANKAN INDIKATOR 2007 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II* Total Perbankan Total Aset (Triliun Rp) 27.86 30.04 32.89 31.04 32.48 DPK (Triliun Rp) 20.89 22.03 24.14 23.20 23.29 - Tabungan 7.86 8.64 10.18 10.17 10.43 - Giro 4.98 5.27 4.76 4.49 4.60 - Deposito 8.06 8.13 9.20 8.54 8.27 Kredit (Triliun Rp) - Berdasarkan Penggunaan 15.38 15.75 16.58 17.22 18.87 - Modal Kerja 6.96 7.45 8.05 7.72 8.53 - Investasi 3.65 3.22 3.27 3.64 4.05 - Konsumsi 4.77 5.08 5.26 5.86 6.29 Kredit (Triliun Rp) - Berdasarkan Sektor ekonomi 15.38 15.75 16.58 17.22 18.87 Pertanian 1.89 2.16 2.04 2.13 2.33 Pertambangan 0.32 0.02 0.03 0.04 0.08 Perindustrian 2.52 1.98 2.48 2.36 2.94 Perdagangan 3.20 3.43 3.69 3.77 4.17 Listrik, Gas dan Air 0.37 0.44 0.42 0.39 0.39 Konstruksi 0.98 1.24 1.19 1.18 1.23 Pengangkutan 0.24 0.23 0.25 0.25 0.26 Jasa Dunia Usaha 0.84 0.96 0.99 1.01 0.93 Jasa Sosial Masyarakat 0.26 0.21 0.22 0.23 0.24 Lain-lain 4.77 5.08 5.26 5.86 6.29 Kredit UMKM (Juta Rp) 9.41 10.24 10.61 11.33 12.12 - Modal Kerja 3.60 4.06 4.24 4.31 4.59 - Investasi 1.07 1.14 1.16 1.20 1.29 - Konsumsi 4.73 5.05 5.21 5.82 6.24 LDR 73.59% 71.49% 68.67% 74.23% 81.03% NPL Gross 2.55% 1.84% 1.73% 1.94% 1.97% NPL Nett 0.74% 0.25% 0.42% 0.48% 1.05% NPL Kredit UMKM 2.59% 2.16% 2.14% 2.29% 2.38% % Kelongaran Tarik 12.76% 2.98% 14.59% 14.21% 13.96% *) Data Sekda Mei 2008 xiv

Indikator Ekonomi INDIKATOR 2007 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II* BPR/BPRS Total Aset (Triliun Rp) 0.29 0.32 0.34 0.39 0.37 DPK (Triliun Rp) 0.22 0.24 0.26 0.31 0.29 - Tabungan 0.07 0.08 0.09 0.11 0.10 - Deposito 0.15 0.17 0.17 0.20 0.19 Kredit (Triliun Rp) - Berdasarkan Penggunaan 0.17 0.19 0.21 0.22 0.24 - Modal Kerja 0.10 0.11 0.11 0.12 0.13 - Investasi 0.01 0.01 0.02 0.02 0.02 - Konsumsi 0.06 0.07 0.08 0.08 0.10 LDR 76.82% 79.76% 79.24% 71.66% 83.13% Nominal NPL (Triliun Rp) 0.02 0.02 0.02 0.02 0.02 NPL 12.70% 8.79% 8.06% 7.41% 7.33% Perbankan Syariah Total Aset (Triliun Rp) 0.64 0.72 0.80 0.84 0.87 DPK (Triliun Rp) 0.34 0.40 0.52 0.54 0.54 - Tabungan 0.17 0.19 0.27 0.28 0.31 - Giro 0.03 0.04 0.04 0.05 0.04 - Deposito 0.14 0.17 0.21 0.21 0.18 Pembiayaan (Triliun Rp) 0.48 0.57 0.64 0.74 0.81 FDR 141.66% 142.34% 123.44% 137.42% 150.41% Jaringan Kantor (Unit) 6 6 6 *) Data LBU Mei 2008 C. SISTEM PEMBAYARAN KETERANGAN 2007 2007 2007 2008 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 1. Perputaran Kliring: a. Nominal (Rp juta) 4,753,038 5,344,283 5,674,793 6,043,615 6,820,688 b. Warkat (lembar) 148,396 168,762 178,616 184,740 193,385 2. Perputaran perhari a. Nominal (Rp juta) 237,652 83,504 94,580 100,727 108,265 b. Warkat (lembar) 7,420 2,637 2,977 3,079 3,070 3. Penolakan cek/bg a. Nominal (Rp juta) 18,328 45,072 50,898 49,211 63,882 b. Warkat (lembar) 935 1,225 1,705 1,589 1,731 Jumlah hari 62 64 60 60 63 4. Penolakan cek/bg > Nominal (%) 0.39% 0.84% 0.90% 0.81% 0.94% > Warkat (%) 0.63% 0.73% 0.95% 0.86% 0.90% 5. Mutasi kas (juta rupiah) a. Aliran uang masuk/inflow 332,170 687,220 1,776,091 1,092,299 986,835 b. Aliran uang keluar/outflow 2,283,922 1,194,424 2,848,477 1,414,098 2,693,779 Net Flow: Inflow (Outflow) (1,951,752) (507,204) (1,072,387) (321,799) (1,706,945) xv

Indikator Ekonomi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank xvi

Ringkasan Eksekutif RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN II 2008 Perkembangan Ekonomi Makro Regional Pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) Sumatera Selatan pada triwulan II 2008 diperkirakan sebesar 4,97 persen (dengan migas) atau 6,49 persen tanpa migas. Pertumbuhan ekonomi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 8,17 persen (dengan migas) atau 10,39 persen (tanpa migas). Secara triwulanan (qtq), ekonomi Sumsel diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 2,12 persen (dengan migas) atau sebesar 2,58 persen (tanpa migas). Meskipun perekonomian mengalami pertumbuhan, namun tidak disertai dengan meningkatnya keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian. Pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) masih didominasi oleh konsumsi dan peningkatan ekspor. Pertumbuhan konsumsi tercatat sebesar 7,61 persen (yoy). Secara triwulanan (qtq) semua komponen tercatat mengalami peningkatan. Komponen yang mengalami petumbuhan paling tinggi adalah ekspor yang tercatat meningkat sebesar 4,69 persen. Tingginya angka ekspor ini tidak terlepas dari peningkatan kinerja di sektor pertanian (terutama sub sektor perkebunan sawit dan karet). Pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) Sumatera Selatan pada tw-ii diperkirakan sebesar 4,97 persen (dengan migas) atau 6,49 perse (tanpa migas). Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) pada Tw-II masih didominasi oleh konsumsi dan peningkatan ekspor. Kajian Ekonomi Regional Sumatera Selatan Triwulan II 2008 1

Ringkasan Eksekutif Struktur ekonomi Propinsi Sumsel pada triwulan II 2008 masih tetap didominasi oleh sektor primer dengan pangsa sebesar 43,64 persen. Ekspor Sumsel pada Tw-II (data hingga Mei 2008 ) tercatat sebesar USD 464,65 juta. Realisasi impor pada Tw-II tercatat sebesar USD 36,83 juta. Berdasarkan kelompok sektor, PDRB triwulan II Sumsel masih ditopang oleh sektor primer yakni sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian dengan pangsa sebesar 43,64 persen. Sektor sekunder mengalami penurunan pangsa menjadi 25,54 persen dari sebesar 25,89 persen pada triwulan sebelumnya. Sedangkan pangsa sektor tersier menurun dari sebesar 30,99 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 30,82 persen. Ekspor Sumsel pada Tw-II 2008 (data hingga Mei 2008) tercatat sebesar USD 464,65 juta atau menurun sebesar 26,58 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Sementara dibanding triwulan sebelumnya (qtq), ekspor pada Tw-II menurun sebesar 39,87 persen. Berdasarkan komoditasnya, pangsa nilai ekspor terbesar dicapai oleh karet yakni sebesar 82,73 persen kemudian diikuti oleh komoditas sawit sebesar 13,44 persen. Berdasarkan volume, ekspor pada tercatat sebesar 437.592 ton atau menurun sebesar 59,21 persen dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy) atau menurun sebesar 50,51 persen dibanding triwulan sebelumnya (qtq). Realisasi impor pada Tw-II tercatat sebesar USD36,83 juta, meningkat sebesar 30,15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), namun tercatat menurun sebesar 21,99 persen dibanding triwulan sebelumnya (qtq). Inflasi tahunan kota Palembang mencapai 13,96 persen (yoy) dan secara bulanan mencapai 3,41 persen (mtm). Perkembangan Inflasi Sejak 1 Juli 2008 penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Indonesia menggunakan tahun dasar 2007 (sebelumnya tahun dasar 2002) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2007. Inflasi tahunan kota Palembang pada Triwulan II 2008 mencapai 13,96 persen (yoy), meningkat apabila dibandingkan dengan inflasi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 10,87 persen. Adapun secara bulanan (mtm), pada bulan Juni 2008 Kota Palembang tercatat mengalami inflasi sebesar 3,41 persen. 2

Ringkasan Eksekutif Berdasarkan kelompok barang, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada bahan makanan yakni sebesar 24,76 persen, diikuti oleh kelompok sandang sebesar 17,43 persen, kelompok makanan jadi sebesar 12,73 persen, dan kelompok perumahan sebesar 11,19 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mencatat laju inflasi sebesar 10,37 persen, kelompok kesehatan sebesar 9,49 persen, sedangkan kelompok transportasi tercatat sebesar 6,69 persen. Hasil pemantauan harga yang dilakukan KBI Palembang secara independen melalui Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Palembang menunjukkan perkembangan harga yang tidak jauh berbeda dengan hasil survei inflasi yang dilakukan secara bulanan oleh BPS. Hal ini menunjukkan bahwa hasil SPH Kota Palembang dapat dijadikan salah satu barometer dalam melihat perkembangan inflasi di kota Palembang Inflasi tahunan tertinggi dicapai oleh kelompok bahan makanan yakni sebesar 24,76 persen. Perkembangan Perbankan Daerah Kondisi perbankan di Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2008 (Mei 2008) dilihat dari beberapa variabel menunjukkan perkembangan positif. Jumlah aset perbankan Sumsel meningkat sebesar 16,58 persen dari triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), yaitu dari Rp28,86 triliun menjadi Rp32,48 triliun. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat sebesar 11,49 persen dari Rp20,89 triliun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp23,29 triliun atau meningkat sebesar Rp2,40 triliun. Penyaluran kredit/pembiayaan mengalami peningkatan dari Rp15,38 triliun pada triwulan yang sama pada tahun sebelumnya menjadi Rp18,87 triliun atau meningkat sebesar 22,76 persen. Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di wilayah Sumsel pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 81,03 persen, meningkat relatif tinggi dari LDR pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 74,23 persen. NPL gross (belum memperhitungkan PPAP) pada triwulan II 2008 (Mei 2008) tercatat sebesar 1,97 persen dari total kredit yang disalurkan. Kondisi perbankan di Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2008 (Mei 2008) menunjukkan perkembangan positif. Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 81,03 persen. Kajian Ekonomi Regional Sumatera Selatan Triwulan II 2008 3

Ringkasan Eksekutif Realisasi penerimaan daerah pada tahun 2007 tercatat sebesar Rp2,14 triliun dan realisasi belanja sebesar Rp2,33 triliun. Sumber pembiayaan sebagian besar bersumber dari dana perimbangan yang mencapai 55,02 persen. Perkembangan Keuangan Daerah Realisasi penerimaan pemerintah pada tahun 2007 mencapai 94,46 persen, kondisi tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 586,79 persen. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 94,52 persen atau sebesar Rp2,14 triliun, lebih rendah dibandingkan tahun 2006 yang tercatat sebesar 175,96 persen. Secara nominal, realisasi belanja Pemprop Sumsel tahun 2007 berada diatas rata-rata realisasi penerimaan. Realisasi belanja Pemprop Sumsel tercatat sebesar 91,03 persen atau sebesar Rp2,33 triliun dengan realisasi belanja terbesar pada belanja hibah dan belanja bantuan keuangan yang mencapai 100 persen. Sumber pembiayaan untuk kegiatan operasional Pemerintah Propinsi Sumsel sebagian besar bersumber dari dana perimbangan yang mencapai 55,02 persen dari total belanja yang dikeluarkan. PAD Propinsi Sumsel yang mencapai Rp847,97 miliar tercatat menyumbang 36,42 persen pembiayaan belanja daerah. Perputaran kliring di pada triwulan II 2008 tercatat sebanyak 192,385 lembar dengan nilai nominal Rp6,82 triliun. Pada triwulan ini terjadi net-outflow sebesar Rp1,70 triliun Perkembangan Sistem Pembayaran Perputaran kliring di Sumsel pada Tw-II menunjukkan peningkatan dari segi jumlah warkat maupun nominalnya baik secara tahunan maupun triwulanan. Pada Tw-II jumlah warkat yang dikliringkan tercatat sebanyak 193.385 lembar dengan nominal sebesar Rp6,82 triliun. Kegiatan perkasan di Sumsel pada Tw-II mencatat inflow sebesar Rp0,99 triliun, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan triwulan II 2007 (yoy) yang tercatat sebesar Rp0,33 triliun. Outflow tercatat sebesar Rp2,69 triliun atau meningkat sebesar 17,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar Rp2,28 triliun. Dengan melihat angka inflow dan outflow, netoutflow pada triwulan II 2008 tercatat sebesar Rp1,70 triliun, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat mengalami net-outflow sebesar Rp1,95 triliun. 4

Ringkasan Eksekutif Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Kondisi ketenagakerjaan di Propinsi Sumsel pada Tw-II 2008 masih tetap belum banyak menunjukkan perubahan yang berarti. Lambannya transformasi tenaga kerja dari sektor primer ke sektor sekunder, produktivitas tenaga kerja yang masih relatif rendah, serta pertumbuhan angkatan kerja yang lebih besar dari pertumbuhan lapangan kerja, menyebabkan pengangguran masih menjadi persoalan yang dilematis di Sumsel. Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 3.205.147 orang atau meningkat sebesar 1,36 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebanyak 3.162.257 orang. Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut diiringi oleh sedikit peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 69,81 persen pada Tw-I 2008 menjadi 69,99 persen pada Tw-II 2008. Dari tahun 2007 hingga saat ini tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami fluktuasi. Tingkat pengangguran terbuka pada Tw-II 2008 tercatat sebesar 8,05 persen, mengalami penurunan dari Tw-I yang sebesar 8,45 persen. Seperti halnya TPT, tingkat setengah pengangguran juga mengalami sedikit penurunan. Tingkat pengangguran pada Tw-I 2008 yang sebesar 37,65 persen menjadi sebesar 37,19 persen pada Tw-II 2008. Pada Tw-II pendapatan regional per kapita Sumsel atas dasar harga berlaku (dengan migas) tercatat sebesar Rp4.050.657 atau meningkat sebesar 10,78 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp3.656.596. Walaupun Propinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu propinsi yang kaya di Indonesia, tetapi jumlah penduduk miskin di Sumatera Selatan termasuk tinggi. Jumlah penduduk miskin tertinggi di Propinsi Sumatera Selatan terdapat di Kabupaten Musi Banyuasin, yaitu sebanyak 165.600 orang, sedangkan jumlah penduduk miskin terendah terdapat di Kota Prabumulih yaitu sebanyak 10.000 orang. Kondisi ketenagakerja an di Propinsi Sumsel pada Tw-II 2008 masih tetap belum banyak menunjukkan perubahan yang berarti. Tingkat pengangguran terbuka pada Tw-II 2008 tercatat sebesar 8,05 persen. Jumlah penduduk miskin tertinggi di Propinsi Sumatera Selatan terdapat di Kabupaten Musi Banyuasin yaitu sebanyak 165.600 orang. Kajian Ekonomi Regional Sumatera Selatan Triwulan II 2008 5

Ringkasan Eksekutif Nilai tukar petani pada Tw-II 2008 (Mei 2008) mengalami penurunan dari Tw-I yaitu dari sebesar 105,17 menjadi sebesar 102,39. Propinsi Sumsel menempati peringkat IPM nomor 13 dengan nilai IPM sebesar 70,2 pada tahun 2005. Perkembangan nilai tukar petani selama Juni 2007 sampai Mei 2008 cukup fluktuatif. Nilai tukar petani pada Tw-II 2008 (Mei 2008) mengalami penurunan dari Tw-I yaitu dari sebesar 105,17 menjadi sebesar 102,39. Penurunan nilai tukar terjadi karena kenaikkan indeks harga yang dibayar petani melebihi kenaikan indeks harga yang diterima petani. Indeks yang diterima petani mengalami penurunan dari 113,32 pada Tw-I menjadi 110,37 pada Tw-II, sedangkan Indeks yang Dibayar Petani mengalami kenaikan dari 105,85 pada Tw-I menjadi 107,80 pada Tw-II. Dari 30 propinsi yang diukur IPM-nya, Propinsi Sumsel menempati peringkat IPM nomor 13 dengan nilai IPM sebesar 70,2 pada tahun 2005. Nilai tersebut sebagai akumulasi dari angka harapan hidup yang mencapai 68,3 tahun dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan sebesar Rp 610.300. Berdasarkan penilaian per wilayah kabupaten/kota, kota Palembang sebagai ibu kota Propinsi tercatat memiliki peringkat IPM paling tinggi di Sumsel atau secara nasional menempati ranking IPM ke-59 dengan indeks sebesar 73,6. Sedangkan wilayah yang memiliki IPM terendah di Sumsel yaitu kabupaten Musi Rawas yang menempatin peringkat ke-367 dengan indeks sebesar 65,00. Pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan III 2008 diperkirakan berada pada kisaran 3,52 ± 0,5 persen atau secara triwulanan (qtq) diperkirakan tumbuh sebesar 4,37 ± 0,5 persen. Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan masih tetap tergantung dari sektor primer terutama sektor pertanian yang sangat dipengaruhi oleh faktor musiman. Pada triwulan III diperkirakan kinerja sektor pertanian akan mengalami peningkatan dibanding dengan Tw-II terkait dengan peningkatan kinerja sub sektor tanaman perkebunan. Berdasarkan proyeksi dan mempertimbangkan kondisi ekonomi terkini, pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan III 2008 diperkirakan berada pada kisaran 3,52 ± 0,5 persen atau secara triwulanan (qtq) diperkirakan tumbuh sebesar 4,37 ± 0,5 persen. 6

Ringkasan Eksekutif Mempertimbangkan kondisi perekonomian terkini dan pergerakan harga barang dan jasa, perkembangan inflasi pada triwulan mendatang diperkirakan akan berada pada level yang moderat dan meningkat dibanding Tw-II terkait dengan masih terasanya dampak kenaikan BBM dan menjelang bulan Ramadhan. Tekanan inflasi diperkirakan akan berasal dari kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, serta kelompok sandang. Kelompok bahan makanan diperkirakan masih tetap menjadi pemicu inflasi terkait dengan kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti beras, kedelai, tepung terigu, serta minyak goreng meskipun kenaikannya lebih rendah dibandingkan kenaikan pada Tw-II. Inflasi tahunan pada triwulan III 2008 diperkirakan masih berada pada level double digit. Hal yang masih perlu diwaspadai hingga saat ini adalah ketersediaan pasokan barang dan jasa, faktor distribusi, dan lonjakan permintaan terhadap komoditas tertentu. Berdasarkan hasil proyeksi dan dengan mempertimbangkan perkembangan harga serta determinan utama inflasi di Sumatera Selatan, maka tekanan inflasi triwulanan (qtq) pada triwulan III 2008 diperkirakan mencapai 4,90 ± 0,5 persen. Tekanan inflasi triwulanan (qtq) pada Tw III 2008 diperkirakan mencapai 4,90 ± 0,5 persen. Kajian Ekonomi Regional Sumatera Selatan Triwulan II 2008 7

Ringkasan Eksekutif Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 8

Perkembangan Ekonomi Makro Regional 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 1.1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Tahunan (yoy) Pada triwulan II 2008 (Tw-II) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumatera Selatan atas dasar harga konstan (ADHK) 2000 diperkirakan sebesar Rp14,36 triliun (dengan migas) atau Rp11,04 triliun (tanpa migas). Sementara itu PDRB atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp33,92 triliun (dengan migas) atau Rp21,91 triliun (tanpa migas). Pertumbuhan ekonomi Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 Dengan Migas tahunan (yoy) Sumatera Selatan diperkirakan sebesar 4,97 persen 14.60 14.40 14.47 8.17 14.36 9.00 8.00 (dengan migas) atau 6,49 persen (tanpa migas). Pertumbuhan Rp Triliun 14.20 14.00 13.80 13.60 5.67 13.68 5.46 7.01 14.12 14.06 4.97 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 Persen ekonomi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,17 persen (dengan migas) 13.40 13.20 2.00 1.00 - atau 10,39 persen (tanpa migas). Secara tahunan, semua sektor Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II ekonomi mencatat pertumbuhan 2007 2008 Nominal PDRB Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) dengan pertumbuhan terendah Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,64 persen. Tumbuhnya perekonomian Sumsel di triwulan II 2008 dikonfirmasi oleh hasil liaison ke beberapa pelaku usaha yang menyatakan bahwa kendati telah terjadi kenaikan harga BBM, perekonomian Sumsel masih mampu tumbuh karena ditopang oleh sektor primer dan sektor lainnya yang tidak terpengaruh dampak langsung dari kenaikan BBM. Hal tersebut 9

Perkembangan Ekonomi Makro Regional ditunjukkan oleh beberapa variabel seperti permintaan pasar domestik dan ekspor yang menunjukkan perbaikan terutama di sektor industri pertambangan dan industri pengolahan yang berbasis sumber daya alam (SDA). Sektor-sektor ekonomi lainnya (perbankan, perhotelan, transportasi, dan bangunan) juga menunjukkan kinerja usaha yang cukup baik. Cukup baiknya kondisi usaha contact liaison lebih banyak tertolong oleh terus membaiknya harga komoditas-komoditas primer di pasar internasional, misalnya crude palm oil (CPO), crumb rubber, dan batu bara. Di sisi lain, pada umumnya conctact liaison menilai kondisi internal dalam negeri belum sepenuhnya kondusif bagi perkembangan usaha. Permasalahan-permasalahan yang dianggap tidak kondusif oleh kalangan dunia usaha, antara lain: (i) kendala perizinan, khususnya yang terkait dengan ekspansi usaha, (ii) kenaikan biaya energi, khususnya solar, (iii) naiknya harga pupuk jenis majemuk (NPK dan phospat), (iv) pengenaan peraturan daerah yang tidak kondusif bagi dunia usaha. Pada Tw-II 2008 sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan ekonomi tahunan tertinggi adalah sektor pengangkutan dan telekomunikasi yang tumbuh sebesar 12,80 persen, diikuti oleh sektor jasa-jasa 12,76 persen, serta sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 7,90 persen. Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (persen) Lapangan Usaha 2007 2008 Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw.II Pertanian 7.17 3.33 10.26 12.18 3.37 Pertambangan dan Penggalian 0.11 0.01 1.55 2.49 0.64 Industri Pengolahan 6.03 6.26 2.95 5.55 4.68 Listrik, Gas & Air Bersih 6.66 8.08 7.95 7.22 6.83 Bangunan 8.33 7.27 8.16 7.59 6.10 Perdagangan, Hotel & 8.48 10.08 10.50 10.52 7.21 Restoran Pengangkutan & Komunikasi 13.50 16.43 14.77 15.55 12.80 Keu., Persewaan & Jasa 8.45 10.02 10.05 9.94 7.90 Perusahaan Jasa-jasa 6.68 9.84 13.96 14.64 12.76 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Pertumbuhan pada sektor pengangkutan dan komunikasi terutama disumbang oleh pertumbuhan sub sektor komunikasi yang tumbuh sebesar 26,58 persen. Pertumbuhan sektor ini ditandai dengan semakin beragamnya produk dan jasa telekomunikasi yang sekarang ini memasuki pasar Sumsel. Saat ini di Sumsel tercatat sedikitnya 3 operator layanan telepon berbasis GSM (Global System for Mobile) dan 4 operator layanan telepon berbasis CDMA (Code Division Multiple Access). 10

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Suplemen 1 PERKEMBANGAN USAHA PADA CONTACT LIAISON* Perkembangan usaha pada contact liaison di triwulan II-2008 menunjukkan arah yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa variabel seperti permintaan pasar domestik dan ekspor yang menunjukkan perbaikan terutama di sektor industri pertambangan dan industri pengolahan yang berbasis sumber daya alam (SDA). Sektor-sektor ekonomi lainnya (perbankan, perhotelan, transportasi, dan bangunan) juga menunjukkan kinerja usaha yang cukup baik. Di sisi lain, pada umumnya conctact liaison menilai kondisi internal dalam negeri belum sepenuhnya kondusif bagi perkembangan usaha. Kondisi tersebut, salah satunya, yang menyebabkan beroperasinya usaha di bawah kapasitas terpasang (tidak lebih dari 80 persen). Permasalahan-permasalahan yang dianggap tidak kondusif oleh kalangan dunia usaha, antara lain: (i) kendala perizinan, khususnya yang terkait dengan ekspansi usaha, (ii) kenaikan biaya energi, khususnya solar, (iii) naiknya harga pupuk jenis majemuk (NPK dan phospat), (iv) pengenaan peraturan daerah yang tidak kondusif bagi dunia usaha. Permintaan pasar terhadap produk contact liaison saat ini cukup besar. Hal ini terbukti dari permintaan pasar domestik beberapa produk di sektor bangunan dan industri otomotif selama Tw-II 2008 menunjukkan peningkatan. Produk-produk yang mengalami peningkatan antara lain minyak goreng, batu bara, juga pada beberapa contact liaison di industri perbankan, perhotelan, bangunan, dan transportasi. Meningkatnya pertumbuhan permintaan sektor perumahan antara lain didukung oleh tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah yang masih menarik. Namun, dengan kecenderungan meningkatnya laju inflasi, benchmark BI rate juga mengalami koreksi naik yang sampai akhir Juni mencapai 8,50% atau naik 50 basis point dan dikhawatirkan berimbas pada kenaikan suku bunga kredit secara umum. Grafik 1 Suku Bunga Kredit;BI rate; Inflasi [BI rate dan Kredit Konsusmsi rate %] [Inflation rate %] 24 21 18 15 12 9 6 3 - BI rate [LHS] Rate Kredit Konsumsi [RHS] Inflas Ratei [RHS] 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 18.00 16.00 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 - Tabel 1 Kenaikan BBM Bersubsidi Premium M. Tanah Solar Rata-Rata Kenaikan % 1 Feb 2005 1810 1800 1650 1 Mar 2005 2400 2200 2100 27.38 1 Oct 2005 4500 2000 4300 61.19 24 Mei 2008 6000 2300 5500 27.78 Contact Liaison di industri perhotelan mengatakan bahwa occupancy rate ditunjang oleh tamu-tamu yang datang untuk kegiatan bisnis, bukan karena program Visit Musi 2008. Pada sektor industri transportasi kota, yakni jasa taksi, kendati telah terjadi kenaikan harga BBM (Tabel 1) namun permintaan jasa angkutan taksi tetap besar dikarenakan masih banyak pangsa pasar yang belum tergarap. Sektor perbankan juga cenderung baik, terbukti dari pertumbuhan penyaluran kredit yang berkisar sekitar 30%. *) Liaison adalah kegiatan pemantauan kondisi usaha dengan mewawancarai langsung pelaku usaha 11

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Permintaan pasar luar negeri masih didominasi sektor ekonomi yang berbasis SDA seperti sub sektor perkebunan, industri pengolahan, dan pertambangan. Penjualan batu bara untuk pasar ekspor sebesar 34,7% dan selebihnya untuk penjualan domestik. Namun, usaha untuk meningkatkan volume penjualan terkendala oleh terbatasnya daya angkut kereta api dari Tanjung Enim menuju Pelabuhan Laut Tarahan di Lampung. Keterbatasan tersebut dapat ditanggulangi dengan penambahan kereta dengan gerbong yang cukup. Menurut contact liaison di industri pengolahan CPO, pengenaan pajak ekspor CPO secara progresif mengakibatkan pengusaha tidak dapat memaksimalkan keuntungan yang dikarenakan tingginya harga CPO di pasar internasional. Grafik 2 Harga Dunia Beberapa Komoditas Pilihan USD/bbl; UScents/pound 125 115 105 95 85 75 65 55 45 35 Malaysia Palm Oil, USD/Mton (LHS) Rubber Smoked Sheed, US censt/pound [RHS] Crude Oil, USD/bbl [RHS] USD/Mton 1400 1200 1000 800 600 400 25 15 5 Coal, USD/MTon [RHS] 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 200 0 Rata-rata kondisi kapasitas utilisasi contact liaison selama Tw-II 2008 tidak lebih dari 80%. Penggunaan kapasitas produksi terpasang, khususnya di sektor industri pengolahan terhambat oleh sulitnya mendapatkan bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) untuk diolah menjadi sawit, kesulitan perluasan lahan perkebunan, dan adanya pabrik tanpa kebun (petani plasma menjual CPO kepada inti secara ilegal) karena rendahnya law enforcement. Kekurangan bahan baku serta tingginya biaya produksi dikarenakan mahalnya biaya listrik juga mempengaruhi industri crumb rubber. Investasi juga masih diminati oleh para contact liaison. Ini terbukti sekitar 70% contact liaison di Tw-II berencana untuk melakukan investasi di tahun 2008 dan 2009 dalam bentuk: (i) perluasan jaringan kantor, (ii) pengadaan sarana transportasi, (iii) investasi pemanfaatan limbah sebagai alternatif bahan bakar dalam rangka efisiensi, (iv) pembelian mesin untuk meningkatkan pelayanan kepada customer. Sebagian besar pembiayaan di Tw- II ini menggunakan dana non-perbankan dan hanya 40% yang menggunakan dana perbankan untuk keperluan investasi dan modal kerja mereka. Suku bunga kredit rupiah dan valas dinilai oleh contact liaison masih relatif tinggi. Jumlah tenaga kerja yang digunakan relatif stabil. Rekrutmen tenaga kerja dilakukan antara lain dikarenakan: tenaga kerja yang pensiun, mengundurkan diri, dan habis masa kontrak kerjanya. 12

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Di sektor industri pengolahan, umumnya perputaran bahan baku sangat cepat. Misalnya untuk industri crumb rubber hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk memproses bokar menjadi crumb rubber yang siap diekspor. Demikian pula dengan industri CPO, TBS yang baru dipetik petani harus segera diproses untuk menghindari terjadinya kerusakan yang akan mengurangi mutu CPO. Harga jual produk dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perkembangan harga jual komoditas di pasar internasional, meningkatnya harga BBM dan kenaikan harga-harga input. Walaupun harga jual di pasar internasional terus membaik, margin keuntungan diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan. Hal itu antara lain disebabkan oleh: (i) kenaikan harga-harga bahan baku, kenaikan harga bahan penolong atau input lainnya, (ii) contact liaison yang tidak ingin serta merta menaikkan harga jual karena tidak ingin kehilangan pembeli atau pelanggan yang daya belinya belum mengalami peningkatan, (iii) terdapat kontrak jual untuk jangka waktu tertentu. 13

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Namun demikian, dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahunan pada triwulan sebelumnya, sub sektor telekomunikasi mengalami perlambatan pertumbuhan. Demikian pula dengan sub sektor pengangkutan yang tumbuh sebesar 4,76 persen, juga mengalami perlambatan pertumbuhan apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,86 persen. Dari hasil liaison yang dilakukan KBI Palembang diperoleh informasi bahwa kondisi usaha di sub sektor pengangkutan (khususnya angkutan darat) cukup baik dengan peningkatan margin keuntungan rata-rata sebesar 10 persen. Pertumbuhan ekonomi di sektor jasa-jasa secara umum sangat dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas jasa pemerintahan yang didorong oleh peningkatan belanja pegawai. Salah satu faktor penyebab percepatan pertumbuhan sektor ini adalah pencairan rapel kenaikan gaji PNS pada triwulan ini. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) masing-masing tercatat tumbuh sebesar 7,90 persen dan 7,21 persen. Namun demikian, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya pertumbuhan tahunan sektor keuangan tercatat mengalami perlambatan. Melambatnya pertumbuhan ekonomi tahunan di sektor keuangan, persewaan, dan jasa dibandingkan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya tidak terlepas dari menurunnya kinerja sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan dengan sektor keuangan, persewaan, dan jasa. Sub sektor hotel tercatat mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 17,21 persen. Sektor lain yang mengalami pertumbuhan cukup baik adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, dan sektor industri pengolahan yang masing-masing tumbuh sebesar 6,83 persen, 6,10 persen, dan 4,68 persen. Pertumbuhan ekonomi di sektor industri pengolahan sangat erat kaitannya dengan sektor pertanian yang merupakan bahan baku bagi mayoritas industri pengolahan di Sumsel. Seiring dengan kondisi pada sub sektor tanaman perkebunan, sektor industri pengolahan Sumsel yang mayoritas menggunakan bahan baku dari tanaman perkebunan mengalami kondisi yang cukup baik. Dari hasil liaison diperoleh informasi bahwa tingginya permintaan CPO dari pasar domestik maupun internasional menjadi pendorong pertumbuhan di sektor ini. Namun demikian terdapat beberapa kendala berupa : kenaikan harga BBM, kenaikan harga pupuk (NPK dan Phospat), perda yang tidak kondusif serta kesulitan perizinan. 14

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor bangunan yang pada triwulan I tumbuh sebesar 7,59 persen masih terkendala dengan peningkatan harga bahan bangunan maupun biaya lain terkait dengan kenaikan harga BBM pada akhir bulan Mei 2008. Hal tersebut terkonfirmasi oleh kegiatan liaison program yang menunjukkan bahwa selain peningkatan harga bahan bangunan Tabel 1.2 Kenaikan Biaya Input Sektor Properti yang rata-rata di atas 10 persen, juga terjadi Komponen Kenaikan No kenaikan antara lain, upah pekerja, biaya Input Harga 1 Semen 30 s.d 50 persen perijinan, birokrasi serta keterbatasan lahan 2 Besi Beton 50 s.d 75 persen 3 Kayu Balokan 10 s.d 20 persen dan akses listrik PLN yang masih sulit. 4 Batu 10 s.d 15 persen Berdasarkan hasil Survei Harga Properti 5 Batu Bata/Batu 10 s.d 15 persen Tela Residensial (SHPR) yang dilakukan oleh Bank 6 Daun Pintu 10 s.d 15 persen Indonesia diperoleh informasi mengenai 7 Genteng 10 s.d 15 persen 8 Seng 10 s.d 15 persen terjadinya kenaikan harga jual rumah rata-rata 9 Tukang Bukan 20 s.d 30 persen Mandor sebesar 4-5 persen sebagai imbas dari Sumber : Survei Harga Properti Residensial KBI Palembang, diolah kenaikan harga bahan bangunan. Sektor pertanian pada Tw-II 2008 tumbuh sebesar 3,37 persen. Pertumbuhan tahunan pada triwulan ini mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan triwulan sebelumnya yang disebabkan karena kontraksi pertumbuhan pada sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor kehutanan. Sub sektor tanaman bahan makanan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar 1,95 persen yang disebabkan karena kondisi pasca panen yang terjadi di wilayah sentra beras Sumsel, sedangkan kontraksi yang dialami sub sektor kehutanan lebih disebabkan karena semakin terbatasnya hutan areal produksi sehingga menyulitkan dalam mendapatkan bahan baku. Sektor pertambangan dan penggalian tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang paling rendah yakni sebesar 0,64 persen. Rendahnya pertumbuhan tahunan di sektor ini disebabkan karena ketidakoptimalan kapasitas produksi yang terjadi di sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang tumbuh sebesar 0,12 persen maupun di sub sektor pertambangan tanpa migas yang tercatat mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 2,30 persen. Rendahnya produksi di sub sektor pertambangan migas lebih disebabkan karena faktor usia sumur yang sudah tua dan tidak adanya penemuan sumur baru, sedangkan rendahya pertumbuhan di sub sektor pertambangan non migas (terutama 15

Perkembangan Ekonomi Makro Regional liter Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel 200000 180000 160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 189,675 156,836 170,468 161,780 167,051 134,743 117,054 128,477 130,181 140,318 60,461 61,716 62,972 57,368 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 54,269 batu bara) seperti yang terkonfirmasi pada kegiatan liaison adalah adanya kendala pada pengiriman hasil produksi sehingga produksi batu bara cenderung stagnan. Saat ini pengiriman batu bara terkendala dengan keterbatasan daya tampung kereta api yang mengangkut batu bara tersebut ke pelabuhan. Premium Solar M. Tanah Sumber: Pertamina UPMS II Palembang 1.2. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Triwulanan (qtq) Secara triwulanan (qtq), pertumbuhan ekonomi Sumsel pada Tw-II diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 2,12 persen (dengan migas) atau sebesar 2,58 persen (tanpa migas). Meskipun perekonomian mengalami pertumbuhan, namun tidak disertai dengan meningkatnya keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian (lihat Suplemen 2. Optimisme Keyakinan Konsumen Palembang Semakin Menurun). Sektor pertanian diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonomi triwulanan tertinggi yakni sebesar 6,95 persen yang disebabkan peningkatan pertumbuhan triwulanan yang cukup tinggi pada sub sektor tanaman perkebunan yang tumbuh sebesar 37,04 persen. Grafik 1.3 Tingginya pertumbuhan PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 Dengan Migas ekonomi triwulanan pada sub sektor 14.60 7.00 tanaman perkebunan tidak terlepas 14.47 14.40 5.22 5.83 6.00 14.36 5.00 dari faktor cuaca yang kondusif 14.20 14.12 14.06 4.00 terutama untuk penyadapan karet 3.00 14.00 2.12 2.00 maupun sawit. Selain itu, harga CPO 13.80 13.68 1.00 (crude palm oil) dan harga karet 13.60 (0.40) - (1.00) mentah yang tinggi di pasar 13.40 (2.48) (2.00) internasional tetap menjadi insentif 13.20 (3.00) Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II 2007 2008 Nominal PDRB Laju Pertumbuhan Triwulanan (qtq) bagi sub sektor perkebunan. Dari hasil liaison yang dilakukan KBI Palembang diperoleh informasi bahwa Rp Triliun Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Persen 16

Perkembangan Ekonomi Makro Regional permintaan terhadap CPO dipastikan akan tetap tinggi terkait dengan kebutuhan CPO dunia yang sangat tinggi baik untuk diolah menjadi minyak goreng, bahan baku biodiesel, dan bahan baku komoditas-komoditas lainnya. Grafik 1.4 Perkembangan Curah Hujan di Sumsel mm 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 2007 2008 Curah Hujan Hari Hujan Grafik 1.5 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional Sumber: Stasiun Klimatologi Kenten Grafik 1.6 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional 400 1,400 USD Cent / Kg 350 300 250 200 150 100 337.15 313.07 286.86 298.16 303.42 270.66 241.52 240.61 256.35 230.67 229.97 226.01 248.93 USD /Metrik Ton 1,200 1,000 800 600 400 768.51 768.51 750.04 730.13 1,148.52 1,100.41 1,085.42 1,103.98 883.12 887.78 984.80 1,098.01 826.06 50 200 0 Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun - Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun 2007 2008 2007 2008 Sumber: DSM Bank Indonesia Sumber: DSM Bank Indonesia USD /Metrik Ton 120 100 80 60 40 20 Grafik 1.7 Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional 47.05 44.66 44.13 42.98 54.07 50.80 46.04 58.87 80.67 78.90 87.18 102.07 114.05 USD/Barel 160 140 120 100 80 60 40 20 Grafik 1.8 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 67.49 74.02 72.38 79.61 85.90 94.90 91.76 93.00 95.39 12.62 105.34 133.93 125.66 - Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun - Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun 2007 2008 2007 2008 Sumber: DSM Bank Indonesia Sumber: DSM Bank Indonesia 17

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Karet dan sawit masih tetap menjadi primadona komoditas hasil perkebunan di Sumsel. Pada Tw-II, curah hujan yang mulai berkurang menyebabkan produksi karet agak meningkat. Sementara itu, untuk sawit, kondisi cuaca cukup mendukung produksi namun berdasarkan informasi dari para pelaku usaha masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi dan membatasi keuntungan yakni berupa peraturan perpajakan, yakni: (1) dasar penetapan pajak penghasilan (PPH) yang sebesar 25 ton/hektar/tahun dirasakan memberatkan. Hal tersebut dikarenakan tingkat produksi lahan pada musim kemarau biasanya hanya mencapai 20 ton/hektar/tahun, (2) dasar penetapan pajak alat berat yang dirasakan tidak fair karena alat yang lama dan yang baru dasar perhitungannya sama. Grafik 1.9 Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Kinerja Sub Sektor Pertanian Triwulan II 2008 (persen) Perikanan 6.18 Kehutanan 13.38 Peternakan -6.57 Perkebunan -25.95 Tabama Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Rata-rata harga CPO dunia pada selama Tw-II tercatat sebesar USD1.103,98/metrik ton, meningkat sebesar 43,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Namun demikian apabila dibandingkan triwulan sebelumnya tercatat mengalami penurunan sebesar 3,88 persen dari sebesar USD1.148,52/metrik ton. Sementara itu, harga karet dunia masih menunjukkan trend peningkatan, dimana pada triwulan ini tercatat sebesar USD337,15 sen/kg atau meningkat sebesar 39,60 persen dibandingkan harga pada triwulan II 2007 (yoy) yang sebesar USD241,52 sen/kg atau meningkat sebesar 13,08 persen dibanding harga pada triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar USD298,16 sen/kg. 18

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sub sektor yang mengalami kontraksi pertumbuhan pada sektor pertanian adalah sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) dan sub sektor peternakan dan hasilhasilnya. Kontraksi sebesar 25,95 persen di sub sektor tabama disebabkan karena telah lewatnya masa panen raya yang terjadi pada bulan Maret 2008. Informasi yang diperoleh Tabel 1.3 dari kegiatan liaison Laju Pertumbuhan Triwulan (qtq) PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (persen) menunjukkan terjadinya Lapangan 2007 2008 kegagalan panen akibat Usaha Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw.II peredaran pupuk dan bibit palsu Pertanian 16.06 15.89 (16.47) (0.16) 6.95 di sejumlah sentra beras seperti Pertambangan dan Penggalian 2.33 (0.38) 1.80 (1.25) 0.48 Pagar Alam dan Banyuasin. Industri Pengolahan 1.24 4.05 1.25 (1.04) 0.40 Tercatat lebih dari 2.588 Ha LGA 1.78 3.97 1.92 (0.60) 1.41 sawah di kedua wilayah tersebut Bangunan 2.83 4.02 1.99 (1.38) 1.41 PHR 5.70 6.31 (1.18) (0.48) 2.54 mengalami puso. Penurunan Pengangkutan 3.72 6.14 5.03 (0.06) 1.25 & Komunikasi produksi tanaman bahan Keu., Persewaan makanan (khususnya padi) terjadi & Jasa Perusahaan 2.64 1.97 0.99 4.01 0.74 di hampir seluruh wilayah Jasa-jasa 2.16 5.98 4.07 1.74 0.49 kabupaten/kota yang berada di Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan wilayah Sumsel. Tabel 1.4 Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera Selatan (dalam Ha) REALISASI SASARAN No Kabupaten/ Kota Tw I Tw II* Juni Tw III Tw IV LT LP LT LP LT LP LT LP LT LP 1 Palembang 45 47 2,583 5 1,868 38 1,371 4,228 86 1,302 2 Musi Banyuasin 4,765 22,004 3,952 17,464 4,912 284 5,646 8,421 35,625 5,364 3 Banyuasin 29,391 101,004 18,398 33,287 18,732 5,950 2,139 35,274 115,236 2,032 4 Ogan Ilir 267 2,120 11,632 799 19,514 78 15,260 29,589 1,702 14,497 5 Ogan Komering Ilir 7,958 44,487 33,052 16,008 16,532 1,279 8,875 47,105 49,783 8,431 6 OKU Timur 24,255 41,916 35,387 18,596 14,438 6,303 18,410 47,334 25,773 17,490 7 Ogan Komering Ulu 1,188 5,086 908 3,064 507 162 171 1,344 8,494 162 8 OKU Selatan 4,050 5,416 5,224 2,513 1,199 1,180 2,987 6,102 6,195 2,838 9 Muara Enim 4,192 16,262 10,562 7,462 11,429 247 4,564 20,891 16,411 4,336 10 Lahat 6,050 13,932 4,527 5,860 1,919 901 7,904 6,124 19,508 7,509 11 Musi Rawas 11,438 20,861 5,609 12,264 3,884 787 14,018 9,018 21,401 13,317 12 Pagar Alam 1,556 1,664 1,278 1,187 468 331 1,748 1,659 1,679 1,661 13 Prabumulih 0 799 100 430 430 0 58 504 1,223 55 14 Lubuk Linggau 948 784 677 669 640 327 1,158 1,251 623 1,100 15 Empat Lawang 5,789 5,763 943 3,473 1,157 1,966 3,193 1,995 4,113 3,033 Jumlah 101,892 282,145 134,832 123,080 97,629 19,830 87,502 220,838 307,852 83,127 Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 19

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Menyikapi turunnya produksi beras pada triwulan II ini, pemerintah daerah c.q Bulog telah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar 9,30 persen dari Rp4.300/kg menjadi Rp.4.700/kg untuk dapat lebih banyak menyerap beras dari petani. Namun demikian, peningkatan HPP tersebut juga disertai dengan peningkatan kualifikasi beras yang diterima Bulog yakni dengan menurunkan kadar maksimal beras broken menjadi sebesar 15 persen, dan bulir kuning rusak menjadi 3 persen sehingga tetap menyulitkan bagi petani untuk memenuhinya. Berdasarkan hasil SKDU di beberapa sentra beras Sumsel seperti Belitang diperoleh informasi bahwa para petani lebih memilih untuk menjual beras/gabah kepada para tengkulak karena faktor administrasi yang tidak rumit dan dapat segera mendapatkan uang tunai untuk keperluan sehari-hari. Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) pada Tw-II mencatat pertumbuhan triwulanan sebesar 2,54 persen. Periode bulan Juni s.d Juli merupakan puncak dari tingkat hunian hotel di Palembang. Mulai dicairkannya APBD untuk kegiatan rutin dan banyaknya event-event bertaraf nasional maupun internasional seperti Festival Sriwijaya telah mendorong tingkat hunian hotel hingga mencapai 80 persen. Namun demikian, kalangan perhotelan mengemukakan bahwa peningkatan tingkat hunian lebih terkait dengan menggeliatnya aktivitas bisnis, bukan karena Program Visit Musi 2008. 600 500 400 300 200 100 0 Grafik 1.10 Perkembangan Konsumsi Listrik Propinsi Sumsel (juta KWH) T w II T w III T w IV T w I T w II* 2007 2008 S o s ia l R u m a h Tangga B is n is Industri P e m e r in ta h Total Sektor listrik, gas, dan air bersih serta sektor bangunan samasama mencatat pertumbuhan triwulanan sebesar 1,41 persen. Pertumbuhan sektor listrik, gas, dan air bersih selain disebabkan karena faktor siklikal juga disebabkan karena kenaikan harga komoditas gas (LPG) terkait dengan kenaikan BBM pada akhir Juni 2008 yang menyebabkan terjadinya kelangkaan komoditas tersebut. Sumber : PLN Sumbagsel *) Prediksi 20

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Kondisi sektor bangunan sampai dengan triwulan II 2008 masih cukup baik dengan tingkat penjualan tahunan berkisar 10-20 persen untuk RSH dan sebesar 10 persen untuk Rumah Sederhana. Namun demikian masalah kenaikan harga bahan bangunan, serta kenaikan harga BBM dan kesulitan pengadaan sambungan listrik dan PAM menjadi kendala bagi pengusaha di sektor bangunan. Selain itu, melonjaknya harga tanah sebagai akibat dari kenaikan NJOP yang signifikan turut memberikan andil dalam peningkatan biaya produksi. Berdasarkan data dari Asosiasi Semen Indonesia, sampai dengan bulan triwulan II 2008 diprediksi terjadinya peningkatan penjualan semen sebesar 1,54 persen (qtq). Meningkatnya konsumsi semen ini tidak terlepas dari kebutuhan perumahan yang tetap tinggi kendati masih terdapat kendalakendala seperti telah disampaikan sebelumnya. Ton 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 - Grafik 1.11 Perkembangan Konsumsi Semen Propinsi Sumsel 226,950 275,729 271,458 263,997 268,073 Sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 1,25 persen dibanding triwulan sebelumnya. Peningkatan di sektor ini terutama didorong oleh peningkatan sub sektor komunikasi yang tumbuh sebesar 4,35 persen. Tingkat permintaan masyarakat yang tetap tinggi terhadap jasa komunikasi serta promosi yang gencar dari operator layanan komunikasi dengan perang tarif antar operator diyakini menjadi penyebab tumbuhnya sub sektor ini. Kenaikan harga BBM yang diikuti dengan kenaikan tarif angkutan rata-rata sebesar 25 persen membuat pertumbuhan di sektor transportasi (khususnya transportasi darat) menurun, begitupun halnya dengan transportasi udara yang terpaksa menaikkan harga tiket penerbangan sehingga menyebabkan pertumbuhan di sub sektor transportasi mengalami penurunan sebesar 0,83 persen. 18.59 21.49 (1.55) (2.75) Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II* 2007 2008 Jumlah (ton) Pertumbuhan (qtq) Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah 1.54 25 20 15 10 5 - (5) Persen 21

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.12 Perkembangan Penumpang Angkutan Udara Propinsi Sumsel (Jiwa) Ribu 440 420 400 380 360 340 320 18.83 428.44 21.40 39.67 424.20 396.98 26.60 375.83 365.27 18.40 Tw II Tw III Tw IV Tw I TW II 2007 2008 Penumpang Domestik Penumpang Internasional Sumber : PT. Angkasa Pura II Palembang, diolah 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Ribu Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, tumbuh sebesar 0,74 persen atau mengalami perlambatan pertumbuhan triwulanan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,01 persen. Sektor jasa-jasa, tumbuh sebesar 0,49 persen atau lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,74 persen. Di sektor pertambangan dan penggalian, tingginya harga minyak bumi di pasar dunia yang berada pada kisaran di atas USD120/barel (bahkan pada bulan Juni 2008 sempat menembus USD133,93/barel) merupakan satu-satunya insentif bagi sektor ini. Dari sisi produksi, tidak adanya penemuan sumur baru dan juga faktor usia sumur yang ada relatif sudah tua menjadi penyebab produksi minyak mentah tidak mengalami peningkatan yang berarti. Pada triwulan ini sektor pertambangan dan penggalian tercatat mengalami pertumbuhan triwulanan (qtq) sebesar 0,48 persen. Grafik 1.13 Kontribusi Sektor Ekonomi ADHK 2000 Propinsi Sumatera Selatan Triwulan II 2008 4.81% 13.92% 7.54% 4.10% 0.49% Pertanian Industri Bangunan Angkutan Jasa-jasa 7.99% 17.51% 20.06% Pertam bangan LGA PHR Keu. Sewa Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 23.58% Sektor industri pengolahan tercatat sebagai sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan terendah pada triwulan II 2008 yakni sebesar 0,40 persen. Tingginya pertumbuhan di sub sektor tanaman perkebunan yang merupakan mayoritas bahan baku industri pengolahan di Sumsel tidak menyebabkan pertumbuhan yang signifikan pada sektor ini karena terdapatnya beberapa kendala berupa : kenaikan harga BBM, kenaikan harga pupuk (NPK dan Phospat), perda yang tidak kondusif serta kesulitan perizinan untuk ekspansi lahan. 22

Perkembangan Ekonomi Makro Regional 1.3 Perkembangan PDRB dari Sisi Penggunaan Pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) pada Tw-II masih didominasi oleh konsumsi dan peningkatan ekspor. Pertumbuhan konsumsi tercatat sebesar 7,61 persen (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi swasta nirlaba, serta konsumsi pemerintah masing-masing sebesar 7,04 persen, 8,38 persen dan 12,08 persen. Menurut pangsanya, konsumsi pemerintah tercatat mengalami pertumbuhan yang paling tinggi yang diperkirakan sebagai akibat dari mulai cairnya anggaran belanja pemerintah pada triwulan berjalan. Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Menurut Penggunaan Tahun 2007 2008 (persen) Penggunaan 2007 2008 II III IV I II 1. Konsumsi Rumah Tangga 7.99 7.74 6.92 7.36 7.04 2. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 4.40 5.58 7.77 8.36 8.38 3. Konsumsi Pemerintah 5.02 7.21 9.15 9.31 12.08 4. Investasi 76.49 45.55 0.16 (0.15) (14.38) 5. Ekspor Barang dan Jasa (8.53) (8.68) 10.60 13.82 11.99 6. Impor Barang dan Jasa 14.86 6.55 8.88 9.67 8.66 TOTAL 5.67 5.46 7.01 8.17 4.97 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Dari kegiatan perdagangan, ekspor tumbuh sebesar 11,99 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13,82 persen. Sementara itu, impor mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 8,66 persen, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,67 persen. Secara triwulanan (qtq) semua komponen tercatat mengalami peningkatan. Komponen yang mengalami pertumbuhan paling tinggi adalah ekspor yang tercatat meningkat sebesar 4,69 persen. Tingginya angka ekspor ini tidak terlepas dari peningkatan kinerja sektor pertanian (terutama sub sektor perkebunan sawit dan karet). 23

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.6 Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Menurut Penggunaan Tahun 2007 2008 (persen) Penggunaan 2007 2008 II III IV I II 1. Konsumsi Rumah Tangga 2.52 2.61 2.67 (0.60) 2.22 2. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 1.76 2.69 3.76 (0.06) 1.78 3. Konsumsi Pemerintah 1.33 5.04 5.16 (2.34) 3.89 4. Investasi 8.94 11.16 (24.67) 9.47 (6.58) 5. Ekspor Barang dan Jasa 6.41 5.93 2.59 (1.57) 4.69 6. Impor Barang dan Jasa 2.56 2.57 2.06 2.15 1.61 TOTAL 5.22 5.83 (2.48) (0.40) 2.12 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 1.4. Struktur Ekonomi Berdasarkan kelompok sektor, PDRB Sumsel masih ditopang oleh sektor primer yakni sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian dengan pangsa sebesar 43,64 persen. Pangsa sektor primer tersebut sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 43,12 persen. Peningkatan pangsa di sektor primer ini terjadi pada sektor pertanian dari sebesar 19,16 persen menjadi 20,06 persen. Sektor sekunder mengalami penurunan pangsa menjadi 25,54 Grafik 1.14 Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan 50 45 persen dari triwulan sebelumnya yang 40 sebesar 25,89 persen. Penurunan 35 30 pangsa sektor sekunder tersebut 25 20 disebabkan penurunan pangsa pada 15 sub sektor industri pengolahan dan 10 5 sektor bangunan. Sektor industri 0 T w. I 2 0 0 7 T w. II 2 0 0 7 T w. III T w. IV Tw. I 2008 2007 2007 pengolahan mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya yang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan tercatat sebesar 17,81 persen menjadi 17,51 persen. Sektor bangunan mengalami penurunan pangsa menjadi sebesar 7,54 persen dari sebesar 7,60 persen pada triwulan sebelumnya. Sedangkan sektor LGA tercatat tidak mengalami perubahan pangsa yakni tetap sebesar 0,49 persen. persen Primer Sekunder Tersier 24

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.7 Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 2008 2007 2008 Sektor II III IV I II 1. Pertanian 20.37% 22.31% 19.11% 19.16% 20.06% 2. Pertambangan 24.59% 23.15% 24.17% 23.96% 23.58% Sektor Primer 44.97% 45.46% 43.28% 43.12% 43.64% 3. Industri 17.56% 17.26% 17.92% 17.81% 17.51% 4. Listrik, Gas, Air 0.48% 0.47% 0.49% 0.49% 0.49% 5. Bangunan 7.46% 7.34% 7.67% 7.60% 7.54% Sektor Sekunder 25.50% 25.07% 26.09% 25.89% 25.54% 6. Perdagangan 13.63% 13.69% 13.87% 13.86% 13.92% 7. Pengangkutan 4.48% 4.49% 4.83% 4.85% 4.81% 8. Keuangan 3.99% 3.85% 3.98% 4.16% 4.10% 9. Jasa-Jasa 7.44% 7.45% 7.95% 8.12% 7.99% Sektor Tersier 29.53% 29.47% 30.64% 30.99% 30.82% T o t a l 100% 100% 100% 100% 100% Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Pangsa sektor tersier menurun dari sebesar 30,99 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 30,82 persen. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya penurunan pangsa dari seluruh sub sektor pada sektor ini, kecuali sub sektor PHR yang tumbuh menjadi 13,92 persen dari triwulan sebelumnya yang sebesar 13,86 persen. Dari sisi penggunaan, secara struktural konsumsi masih memperlihatkan peran yang sangat dominan pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Selatan pada Tw-II 2008. Kontribusi konsumsi pada Tw-II yang mencapai 68,76 persen sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 68,57 persen. Kontribusi konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 59,82 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 59,76 persen terkait dengan peningkatan harga-harga barang konsumsi. Demikian pula dengan konsumsi pemerintah yang meningkat menjadi sebesar 7,81 persen dari sebesar 7,68 persen pada triwulan sebelumnya seiring dengan siklus realisasi anggaran pemerintah sebagai stimulus fiskal. Adapun konsumsi swasta nirlaba tidak mengalami perubahan pangsa dari triwulan sebelumnya. 25

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.8 Struktur Ekonomi Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 2008 Penggunaan 2007 2008 II III IV I II I. Komponen Internal 86.15% 85.23% 84.31% 85.58% 84.32% a. Komponen Konsumsi 67.08% 65.20% 68.84% 68.57% 68.76% 1. Konsumsi Rumah Tangga 58.66% 56.87% 59.88% 59.76% 59.82% 2. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 1.10% 1.07% 1.14% 1.14% 1.14% 3. Konsumsi Pemerintah 7.31% 7.26% 7.83% 7.68% 7.81% b. Investasi 19.07% 20.03% 15.47% 17.01% 15.56% II. Komponen Eksternal 13.85% 14.77% 15.69% 14.42% 15.68% a. Ekspor Barang dan Jasa 42.35% 42.39% 44.59% 44.07% 45.18% b. Impor Barang dan Jasa 28.50% 27.62% 28.91% 29.65% 29.50% Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Pangsa investasi pada triwulan ini tercatat menurun apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun tahun sebelumnya, penurunan pangsa investasi tidak terlepas dari kontraksi pertumbuhan yang terjadi sebagai akibat dari kondisi infrastruktur yang dipandang masih menjadi kendala bagi pengembangan usaha. 1.5. Perkembangan Ekspor Impor 1.5.1. Perkembangan Ekspor Ekspor Sumsel pada Tw-II 2008 (data hingga Mei 2008) tercatat sebesar USD 464,65 juta atau menurun sebesar 26,58 persen dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD632,90 juta. Sementara dibanding triwulan sebelumnya, ekspor pada Tw-II menurun sebesar 39,87 persen (qtq) dari sebesar USD772,80 juta. Berdasarkan komoditasnya, pangsa nilai ekspor terbesar dicapai oleh karet yakni sebesar 82,73 persen kemudian diikuti oleh komoditas sawit sebesar 13,44 persen. Tabel 1.9 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (USD) Tw II 07 Tw III 07 Tw IV 07 Tw I 08 Tw II 08 Total Ekspor 632,898,254 648,583,422 727,180,190 772,802,373 464,650,483 Karet 351,773,134 407,154,547 358,308,018 445,838,259 348,419,834 Batubara 3,677,773 8,163,435 9,233,233 6,952,998 9,350,431 Sawit 101,583,724 56,559,220 148,016,517 247,905,355 62,436,599 Lain-lain 175,863,623 176,706,220 211,622,422 72,105,761 44,443,619 Sumber : DSM Bank Indonesia 26

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Berdasarkan volume, ekspor pada Tw-II tercatat sebesar 437.592 ton atau menurun sebesar 59,21 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 1.072.704 ton atau menurun sebesar 50,51 persen dibanding triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar 884.284 ton. Grafik 1.15 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Grafik 1.16 Perkembangan Volume Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Juta 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 772.80 40 727.18 30 30.01 648.58 26.76 20 632.90 3.81 2.48 10 12.12 464.65 (12.50) - 6.27 (15.02) (10) (26.58) (30) (40) (39.87) (50) Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 (20) Persen Nilai Ekspor (USD) Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Tahunan (yoy) Ribu 1,200 1,072.70 1,000 943.00 884.28 39.55 860.03 15.04 800 (2.16) 1.20 1.85 2.82 600 400 200 0 (12.09) (8.80) 437.59 (50.51) (59.21) Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Volume Ekspor (Kg) Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Tahunan (yoy) 50 40 30 20 10 - (10) (20) Persen (30) (40) (50) (60) (70) Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia Grafik 1.17 Perkembangan Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 1.18 Pangsa Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Tw II 2008 900 800 700 US $ Juta 600 500 400 300 200 100 0 329.22 356.48 369.57 377.62 147.30 229.53 232.17 124.52 119.49 147.23 64.79 25.89 32.40 57.58 43.98 112.91 119.08 103.43 126.58 126.34 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 China 13.94% Lainnya 49.40% Malaysia 9.46% USA 27.19% USA Malaysia China Lainnya Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia 27

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Harga komoditas karet dan sawit di pasar dunia yang masih tetap tinggi diharapkan menjadi pendukung tingginya kinerja komoditas primadona Sumsel pada saat-saat mendatang. Dengan memperhatikan kinerja beberapa komoditas unggulan Sumsel dan trend harga komoditas unggulan Sumsel di pasar dunia diprediksikan kinerja ekspor Sumsel pada triwulan ini sampai dengan Juni 2008 akan meningkat. Jika dilihat berdasarkan negara tujuan ekspor, Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama ekspor Sumatera Selatan dengan pangsa terbesar 27,19 persen, diikuti oleh China sebesar 13,94 persen dan Malaysia sebesar 9,46 persen. 1.5.2. Perkembangan Impor Realisasi impor tercatat sebesar USD36,83 juta, meningkat sebesar 30,15 persen dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar USD28,30 juta, namun tercatat menurun sebesar 21,99 persen dibanding triwulan sebelumnya (qtq) yang tercatat sebesar USD47,22 juta. Penurunan nilai impor secara triwulanan ini terkait dengan penurunan penggunaan komponen impor terutama mesin, perlengkapan transportasi, bahan baku industri dan produk industri. Grafik 1.19 Perkembangan Nilai Impor Propinsi Sumatera Selatan Grafik 1.20 Perkembangan Volume Impor Propinsi Sumatera Selatan Juta 80 70 60 50 40 30 20 10 0 72.32 155.53 47.22 200 150 100 36.83 84.36 50 25.61 28.30 (28.73) 30.15 - (67.67) 20.29 (68.13) (21.99)(50) (27.90) (64.59) (100) Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Persen Ribu 120 100 80 60 40 20 0 63.01 (45.74) (30.60) 105.53 67.49 (5.39) 82.69 (34.55) (21.64) 98.62 72.22 19.27 8.64 14.63 (26.77) Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 80 70 60 50 40 30 20 10 - (10) (20) (30) (40) (50) (60) Persen 2007 2008 2007 2008 Nilai Impor (USD) Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Tahunan (yoy) Volume Impor (Kg) Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Tahunan (yoy) Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia 28

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Berdasarkan negara asal, pangsa impor Sumsel terbesar pada triwulan ini berasal dari negara China yakni sebesar 22,90 persen, diikuti oleh Malaysia sebesar 18,94 persen, Australia sebesar 12,53 persen, dan Amerika Serikat sebesar 9,76 persen. Grafik 1.21 Perkembangan Impor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Grafik 1.22 Pangsa Impor Propinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Tw II 2008 80 70 60 USD Juta 50 40 30 20 10 0 45.65 21.87 13.21 3.60 2.42 14.64 9.06 7.57 4.61 15.04 2.80 2.78 8.44 4.68 9.93 7.16 4.27 4.47 6.98 1.55 2.17 3.76 4.60 5.43 3.60 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Australia 12.53% China 22.90% Malaysia 18.94% Lainnya 35.87% USA 9.76% 2007 2008 USA Malaysia China Australia Lainnya Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia 29

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Suplemen 2 OPTIMISME KEYAKINAN KONSUMEN PALEMBANG SEMAKIN MENURUN I. Perkembangan Umum Tingkat Keyakinan Konsumen Palembang selama triwulan II 2008 secara umum menurun dibandingkan dengan triwulan I - 2008. Rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan II - 2008 tercatat sebesar 86.09 atau menurun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 101.83, sedangkan rata-rata Indeks Keyakinan Ekonomi Saat ini (IKESI) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-masing tercatat sebesar 86.89 dan 85.30, menurun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 96.26 dan 107.41. Dibandingkan dengan indeks triwulan yang sama tahun 2007, IKK, IKESI, dan IEK juga mengalami penurunan. Grafik 1 IKK, IKESI, IEK periode 2007-2008 140 120 100 80 60 40 20 - Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Indeks Mar Optimis Apr Pesimis Mei Juni 2007 2008 IKK IKE IEK Selama triwulan II - 2008, beberapa hal yang menjadi concern bagi konsumen Palembang antara lain; tingkat penghasilan, ketersediaan tenaga kerja, serta perkiraan harga barang dan jasa (lihat grafik 2). Grafik 2 Pembentuk Keyakinan Konsumen periode 2007-2008 Indeks Optimis Pesimis 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei 2007 2008 Juni Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad Ketersediaan lapangan kerja saat ini Ketersediaan lapangan kerja 6 bulan yad Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama Kondisi ekonomi 6 bulan yad 30

Perkembangan Ekonomi Makro Regional II. Keyakinan Konsumen Bulan April 2008 IKK pada bulan April mencapai 87.11, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing 83.67 dan 90.56. Indeks Penghasilan Saat Ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu sebesar 109.33, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 123.33, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini sebesar 53.33, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 73.67, Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 88.33, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 74.67. 2.1 Pendapat Responden terhadap Kondisi Ekonomi Sebanyak 64.67 persen responden berpendapat bahwa kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan kondisi 6 bulan yang lalu, 27.33 persen berpendapat kondisi ekonomi saat ini sama dengan kondisi 6 bulan yang lalu, dan hanya 8.00 persen yang berpendapat kondisi ekonomi saat ini lebih baik. Dengan demikian, menurut sebagian besar responden kondisi ekonomi pada bulan April ini lebih buruk dibandingkan 6 bulan yang lalu (lihat Tabel 1). Tabel 1 Pendapat Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Pengeluaran per Bulan Kondisi Ekonomi Saat Ini dibanding 6 bulan yang lalu Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 19 63 149 231 Rp3-5 juta 3 13 40 56 >Rp 5 juta 2 6 5 13 Jumlah Responden 24 82 194 300 2.2 Pendapat Responden terhadap Ketersediaan Lapangan Kerja Indeks ketersediaan lapangan pekerjaan merupakan indeks yang terendah yakni sebesar 53.33. Sebagian besar responden atau sekitar 60 persen berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini lebih buruk daripada kondisi enam bulan yang lalu. Sementara itu, jumlah responden yang berpendapat ketersediaan lapangan pekerjaan sama seperti 6 bulan silam sebanyak 26.67 persen, sedangkan yang berpendapat lebih baik sebanyak 13.33 persen. Indeks ketersediaan lapangan kerja dalam satu tahun terakhir selalu berada dalam level pesimis. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ketenagakerjaan merupakan bidang yang mendapatkan perhatian serius di mata konsumen (lihat Tabel 2). 31

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 2 Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Jumlah Lebih Baik Sama Lebih Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 32 59 140 231 Rp3-5 juta 6 15 35 56 >Rp 5 juta 2 6 5 13 Jumlah Responden 40 80 180 300 2.3 Pendapat Responden terhadap Penghasilan Sebanyak 57.33 persen responden berpendapat bahwa penghasilan mereka cenderung tetap dibandingkan 6 bulan yang lalu. Sementara 26.00 persen berpendapat lebih baik, sedangkan yang menyatakan lebih buruk sebanyak 16.67 persen. Berdasarkan informasi tersebut, maka sebagian besar penghasilan responden diperkirakan tidak mengalami perubahan dibandingkan penghasilan 6 bulan yang lalu (lihat Tabel 3). Tabel 3 Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Penghasilan Saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Lebih Lebih Jumlah Sama Baik Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 61 132 38 231 Rp3-5 juta 12 33 11 56 >Rp 5 juta 5 7 1 13 Jumlah Responden 78 172 50 300 2.4 Perkiraan Perkembangan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Harga barang/jasa pada 3 bulan yang akan datang diperkirakan akan mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari 86.00 persen responden yang berpendapat bahwa harga barang dan jasa pada tiga bulan mendatang akan mengalami kenaikan, responden yang berpendapat akan stabil sebanyak 13.00 persen, sedangkan hanya 1.00 persen yang berpendapat akan terjadi penurunan (lihat Tabel 4). 32

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 4 Pendapat Konsumen Terhadap Perkiraan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Yang Akan Datang Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Pengeluaran per Bulan Perkiraan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Yang Akan Datang Naik Tetap Turun Jumlah Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 196 33 2 231 Rp3-5 juta 49 6 1 56 >Rp 5 juta 13 0 0 13 Jumlah Responden 258 39 3 300 III. Keyakinan Konsumen Bulan Mei 2008 IKK pada bulan Mei mencapai 91.22, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing 93 dan 89.44. Indeks Penghasilan Saat Ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu sebesar 122.67, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 121, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini sebesar 63.33, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 76.33, Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 93, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 71. 3.1 Pendapat Konsumen terhadap Kondisi Ekonomi Sebanyak 60.67 persen responden berpendapat bahwa kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan kondisi 6 bulan yang lalu, 31 persen berpendapat kondisi ekonomi saat ini sama dengan kondisi 6 bulan yang lalu, dan hanya 8.33 persen yang berpendapat kondisi ekonomi lebih baik. Dengan demikian, menurut sebagian besar responden kondisi ekonomi pada bulan Mei ini lebih buruk dibandingkan 6 bulan yang lalu (lihat Tabel 5). Tabel 5 Pendapat Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Kondisi Ekonomi Saat Ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Lebih Lebih Jumlah Sama Baik Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 13 68 142 223 Rp3-5 juta 7 19 37 63 >Rp 5 juta 5 6 3 14 Jumlah Responden 25 93 182 300 33

Perkembangan Ekonomi Makro Regional 3.2 Pendapat Responden terhadap Ketersediaan Lapangan Kerja Indeks ketersediaan lapangan pekerjaan merupakan indeks yang terendah yakni sebesar 63.33. Sebagian besar atau sekitar 52 persen responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini lebih buruk daripada kondisi enam bulan yang lalu. Sementara itu, jumlah responden yang berpendapat ketersediaan lapangan pekerjaan sama seperti 6 bulan silam sebanyak 32.67 persen, sedangkan yang berpendapat lebih baik hanya 15.33 persen. Indeks ketersediaan lapangan kerja dalam satu tahun terakhir selalu berada dalam level pesimis atau dengan kata lain permasalahan ketenagakerjaan belum mengalami perbaikan(lihat Tabel 6). Tabel 6 Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 28 73 122 223 Rp3-5 juta 12 21 30 63 >Rp 5 juta 6 4 4 14 Jumlah Responden 46 98 156 300 3.3 Pendapat Responden terhadap Penghasilan Sebanyak 56 persen responden berpendapat bahwa penghasilan mereka cenderung tetap dibandingkan 6 bulan yang lalu. Sementara 33.33 persen berpendapat lebih baik, dan yang menyatakan lebih buruk sebanyak 10.67 persen. Dengan demikian, maka sebagian besar responden penghasilannya tidak mengalami perubahan dibandingkan penghasilan 6 bulan yang lalu (lihat Tabel 7). Tabel 7 Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Penghasilan Saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 67 129 27 223 Rp3-5 juta 23 36 4 63 >Rp 5 juta 10 3 1 14 Jumlah Responden 100 168 32 300 34

Perkembangan Ekonomi Makro Regional 3.4 Perkiraan Perkembangan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Harga barang/jasa pada 3 bulan yang akan datang diperkirakan akan mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari 84.33 persen responden berpendapat bahwa harga barang dan jasa pada tiga bulan mendatang akan mengalami kenaikan, sebanyak 14.33 persen responden berpendapat akan stabil, dan hanya 1.33 persen yang berpendapat akan terjadi penurunan (lihat Tabel 8). Tabel 8 Pendapat Konsumen Terhadap Perkiraan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Yang Akan Datang Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Prakiraan Harga Barang/Jasa Secara Umum pada 3 bulan yang akan datang Pengeluaran per Bulan Naik Tetap Turun Jumlah Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 188 31 4 223 Rp3-5 juta 54 9 0 63 >Rp 5 juta 11 3 0 14 Jumlah Responden 253 43 4 300 IV. Keyakinan Konsumen Bulan Juni 2008 IKK pada bulan Juni tercatat sebesar 79.94, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing 84 dan 75.89. Indeks Penghasilan Saat Ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu sebesar 108.67, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 114, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini sebesar 54.67, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 65.33, Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 88.67, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 48.33. 4.1 Pendapat Konsumen terhadap Kondisi Ekonomi Sebanyak 69.33 persen responden berpendapat bahwa kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan kondisi 6 bulan yang lalu, 25.67 persen berpendapat kondisi ekonomi saat ini sama dengan kondisi 6 bulan yang lalu, dan hanya 5 persen yang berpendapat kondisi ekonomi lebih baik. Dengan demikian, pendapat konsumen tentang buruknya kondisi perkonomian belum mengalami perubahan selama triwulan II - 2008 bahkan terus mengalami penurunan (lihat Tabel 9). 35

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 9 Pendapat Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Kondisi Ekonomi Saat Ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Jumlah Lebih Baik Sama Lebih Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 7 58 148 213 Rp3-5 juta 6 14 47 67 >Rp 5 juta 2 5 13 20 Jumlah Responden 15 77 208 300 4.2 Pendapat Responden terhadap Ketersediaan Lapangan Kerja Sebagian besar atau sekitar 58.67 persen responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini lebih buruk daripada kondisi enam bulan yang lalu. Sementara itu, jumlah responden yang berpendapat ketersediaan lapangan pekerjaan sama seperti 6 bulan silam sebanyak 28 persen, sedangkan yang berpendapat lebih baik hanya 13.33 persen. Indeks ketersediaan lapangan kerja dalam satu tahun terakhir selalu berada dalam level pesimis. Tidak berbeda dengan pendapat konsumen terhadap kondisi perekonomian, kondisi ketenagakerjaan pun dinilai tidak mengalami perbaikan menurut sebagian besar konsumen sepanjang triwulan II 2008 (lihat Tabel 10). Tabel 10 Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Jumlah Lebih Baik Sama Lebih Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 31 58 124 213 Rp3-5 juta 8 23 36 67 >Rp 5 juta 1 3 16 20 Jumlah Responden 40 84 176 300 4.3 Pendapat Responden terhadap Penghasilan Sebanyak 63.33 persen responden berpendapat bahwa penghasilan mereka cenderung tetap dibandingkan 6 bulan yang lalu. Sementara 22.67 persen berpendapat lebih baik, dan yang menyatakan lebih buruk sebanyak 14 persen. Berdasarkan informasi tersebut, maka sebagian besar responden penghasilannya tidak mengalami perubahan atau dengan kata lain konstan (lihat Tabel 11). 36

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 11 Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan Saat Ini Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Penghasilan Saat ini dibanding 6 bulan yang lalu Pengeluaran per Bulan Jumlah Lebih Baik Sama Lebih Buruk Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 42 144 27 213 Rp3-5 juta 22 34 11 67 >Rp 5 juta 4 12 4 20 Jumlah Responden 68 190 42 300 4.4 Prakiraan Perkembangan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Harga barang/jasa pada 3 bulan mendatang diperkirakan akan mengalami peningkatan oleh sebagian besar konsumen. Hal tersebut tercermin dari 87.67 persen responden berpendapat bahwa harga barang dan jasa pada tiga bulan mendatang akan mengalami kenaikan dan sebanyak 12.33 persen responden berpendapat akan stabil (lihat Tabel 12). Tabel 12 Pendapat Konsumen Terhadap Perkiraan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Responden per Bulan Prakiraan Harga Barang/Jasa Secara Umum pada 3 bulan yang akan datang Pengeluaran per Bulan Jumlah Naik Tetap Turun Responden Rp 1juta-Rp3 Juta 185 28 0 213 Rp3-5 juta 60 7 0 67 >Rp 5 juta 18 2 0 20 Jumlah Responden 263 37 0 300 Tabel 13 Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Palembang 2007 2008 Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni IKK 98.06 109.72 113.78 108.67 108.72 115.39 112.06 106.89 99.72 98.89 87.11 91.22 79.94 IKESI 90.00 99.89 102.11 97.89 103.44 110.67 109.56 101.67 94.67 92.44 83.67 93.00 84.00 IEK 106.11 119.56 125.44 119.44 114.00 120.11 114.56 112.11 104.78 105.33 90.56 89.44 75.89 37

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 38

Perkembangan inflasi Palembang 2 PERKEMBANGAN INFLASI PALEMBANG Sejak 1 Juli 2008 penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Indonesia menggunakan tahun dasar 2007 (sebelumnya tahun dasar 2002) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2007. Cakupan kota bertambah dari 45 kota menjadi 66 kota. Paket komoditas secara nasional naik dari 744 pada tahun 2002 menjadi 774 di tahun 2007, sementara paket komoditas untuk kota Palembang juga bertambah dari 314 komoditas menjadi 360 komoditas. 2.1. Inflasi Tahunan (yoy) Inflasi tahunan kota Palembang pada Triwulan II 2008 (Tw-II) mencapai 13,96 persen (yoy), meningkat apabila dibandingkan dengan inflasi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 10,87 persen. Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Berdasarkan kelompok barang, Palembang pada Tw-II ini inflasi tahunan tertinggi terjadi pada bahan makanan yakni sebesar 24,76 persen, diikuti oleh 16 14 13.96 kelompok sandang sebesar 17,43 12 10.87 persen, kelompok makanan jadi sebesar 10 9.24 12,73 persen, dan kelompok 8 8.20 6.82 perumahan sebesar 11,19 persen. 6 Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mencatat laju inflasi sebesar 4 2-10,37 persen, kelompok kesehatan Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II* sebesar 9,49 persen, sedangkan 2007 2008 kelompok transportasi tercatat sebesar Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 6,69 persen. Persen 39

Perkembangan Inflasi Palembang Persen 30 25 20 15 10 5 0 13.96 Grafik 2.2 Inflasi Tahunan (yoy) Kota Palembang per Kelompok Pengeluaran Triwulan II 2008 24.76 12.73 11.19 17.43 9.49 10.37 6.69 UMUM BAHAN MAKANAN MAKANAN JADI PERUMAHAN SANDANG KESEHATAN PENDIDIKAN TRANSPORTASI Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Penyebab inflasi di kelompok bahan makanan diyakini sangat dipengaruhi antara lain karena tingginya inflasi pada sub kelompok kacang-kacangan, sub kelompok minyak dan sub kelompok padi-padian, umbi-umbian & hasilnya. Penyebab tingginya inflasi pada sub kelompok kacang-kacangan tidak terlepas dari peningkatan harga kacang kedelai yang signifikan di pasar dunia. Pada triwulan ini rata-rata harga kacang kedelai di pasar internasional mencapai USD13,59/bushel atau naik sebesar 82,90 persen dari rata-rata harga kedelai pada periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Seperti halnya perkembangan harga kacang kedelai, perkembangan harga bahan makanan lainnya yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga internasional seperti beras dan terigu pun tercatat mengalami perkembangan yang sama. Rata-rata harga beras tercatat mengalami peningkatan sebesar 81,69 persen dibandingkan tahun lalu dari sebesar USD314,68/MT (metric ton) menjadi USD571,74/MT. Begitupun peningkatan harga terigu di pasar internasional yang naik lebih dari 70 persen dari sebesar USD4,83/bushel menjadi USD8,29/bushel. Namun demikian apabila dibandingkan dengan peningkatan harga tahunan pada triwulan sebelumnya, laju peningkatan harga terigu pada triwulan II mengalami penurunan. Selain dipengaruhi oleh perkembangan harga beberapa sub kelompok di atas, persistennya kenaikan harga CPO dunia merupakan salah satu penyumbang tingginya inflasi tahunan pada triwulan II 2008. 40

Perkembangan inflasi Palembang Grafik 2.3 Perkembangan Harga Terigu di Pasar Internasional Grafik 2.4 Perkembangan Harga Beras di Pasar Internasional US$ / Bushel 12 10 8 6 4 2-4.83 10.33 5.43 21.22 8.17 10.17 70.41 124.12 8.29 71.80 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 140 120 100 80 60 40 20 - Persen US$ / MT 700 600 500 400 300 200 100-314.68 330.41 325.25 363.99 571.74 9.18 12.18 12.18 21.89 81.69 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 90 80 70 60 50 40 30 20 10 - Persen 2007 2008 Harga Terigu (axis kiri) (yoy) 2007 2008 Harga Beras (axis kiri) (yoy) Sumber : Bloomberg, diolah Sumber : Bloomberg, diolah Grafik 2.5 Perkembangan Harga Kedelai di Pasar Internasional Grafik 2.6 Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional US$ / Bushel 16 14 12 10 8 6 4 2-7.43 31.15 50.98 8.27 66.06 10.23 81.21 12.77 82.90 13.59 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 90 80 70 60 50 40 30 20 10 - Persen US$ / Oz 1,000 900 800 700 600 500 400 300 200 100-667.58 6.46 681.70 9.78 790.07 28.56 42.23 924.95 897.30 34.41 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Persen 2007 2008 Harga Kedelai (axis kiri) (yoy) 2007 2008 Harga Emas (axis kiri) (yoy) Sumber : Bloomberg, diolah Sumber : Bloomberg, diolah 41

Perkembangan Inflasi Palembang Tidak berbeda dengan kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi tahunan sebesar 24,76 persen, inflasi tahunan kelompok sandang sebesar 17,43 persen lebih banyak dipengaruhi oleh peningkatan harga emas di pasar internasional yang mencapai 34,41 persen sehingga menyebabkan sub sektor barang pribadi dan sandang lainnya mengalami inflasi yang cukup tinggi. Seiring dengan inflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau pun mengalami inflasi yang cukup tinggi yakni sebesar 12,73 persen. Sub sektor makanan jadi yang banyak dipengaruhi oleh pergerakan harga terigu sebagai bahan dasarnya diperkirakan menyumbang inflasi yang cukup tinggi di sektor ini. Selain itu, peningkatan harga BBM pada bulan Mei 2008 secara tidak langsung meningkatkan pula inflasi pada sub sektor minuman yang tidak beralkohol terutama karena meningkatnya ongkos transportasi yang digunakan untuk pengiriman barang sampai ke tempat tujuan. Grafik 2.7 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang 30 25 20 Persen 15 10 5 0 Tw III 07 Tw IV 07 Tw I 08 Tw II 08* Bahan makanan Makanan jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 42

Perkembangan inflasi Palembang Kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah pada akhir bulan Mei 2008 lalu secara langsung telah meningkatkan inflasi terutama pada sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air pada kelompok perumahan, air, listrik & bahan bakar. Laju inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik & bahan bakar tercatat sebesar 11,19 persen. Inflasi yang terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga sebesar 10,37 persen diperkirakan masih disebabkan oleh sub kelompok jasa pendidikan dan kursuskursus pelatihan yang mengalami peningkatan jumlah konsumsi yang cukup tinggi. Adapun sub sektor olahraga diperkirakan tidak mengalami peningkatan inflasi yang begitu tinggi. Kelompok kesehatan dan kelompok transportasi & komunikasi tercatat mengalami inflasi tahunan paling rendah pada triwulan ini, yakni masing-masing hanya mencatat inflasi sebesar 9,49 persen dan 6,69 persen. Inflasi pada kelompok kesehatan diperkirakan terutama didorong oleh sub sektor jasa kesehatan dan sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika. Sedangkan penyumbang utama di sektor transportasi dan komunikasi adalah karena meningkatnya harga BBM yang menyebabkan meningkatnya tarif angkutan/transportasi dengan rata-rata sebesar 25 persen. 2.2. Inflasi Bulanan (mtm) Inflasi Kota Palembang secara bulanan (mtm) pada bulan Juni 2008 tercatat sebesar 3,41 persen. Inflasi bulanan yang terjadi terutama disumbangkan oleh inflasi yang terjadi pada kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami inflasi sebesar 8,99 persen. Tingginya inflasi pada kelompok ini terkait dengan kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah pada akhir bulan Mei 2008 yang diikuti dengan kenaikan tarif angkutan sebesar 25 persen. Persen 4.00 3.50 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 - Grafik 2.8 Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang Jun 0.76 Jul Aug Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr 2007 2008 Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 May 3.41 1.56 Jun* 43

Perkembangan Inflasi Palembang Kelompok bahan makanan tercatat menyumbang inflasi terbesar kedua dengan inflasi sebesar 3,09 persen. Inflasi yang terjadi pada kelompok ini terutama disumbangkan oleh komoditas beras dan kacang panjang yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,33 persen dan 0,08 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar tercatat mengalami inflasi sebesar 3,08 persen terkait dengan kenaikan harga BBM. Komoditas bensin dan komoditas bahan bakar rumah tangga tercatat memberikan sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,59 persen dan 0,09 persen. Selain itu, kelompok kesehatan mencatat laju inflasi bulanan sebesar 3,07 persen. Grafik 2.9 Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang Persen 18 16 14 12 10 8 6 4 2 - (2) (4) Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr May Jun* 2007 2008 Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transportasi Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 Selain dari keempat kelompok tersebut, kelompok lainnya hanya mengalami inflasi bulanan dibawah satu persen. Kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga tercatat mengalami inflasi bulanan sebesar 0,99 persen, sedangkan kelompok sandang mencatat inflasi bulanan sebesar 0,73 persen. Sementara itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau tercatat mengalami inflasi bulanan yang paling rendah yakni hanya sebesar 0,46 persen dengan komoditas nasi sebagai penyumbang tertinggi dengan andil sebesar 0,05 persen. 44

Perkembangan inflasi Palembang Tabel 2.1. Komoditas Penyumbang Inflasi Bulanan (mtm) Tertinggi di Kota Palembang Triwulan II 2008 No. Komoditas Sumbangan Inflasi (%) 1 Angkutan dalam kota 0,84 2 Bensin 0,59 3 Beras 0,33 4 Bahan Bakar Rumah Tangga 0,09 5 Kacang Panjang 0,08 6 Batu Bata 0,07 7 Besi Beton 0,06 8 Angkutan Antar Kota 0,06 9 Semen 0,06 10 Surat Kabar Harian 0,05 Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Secara garis besar inflasi yang terjadi pada bulan Juni 2008 (triwulan II 2008) lebih disebabkan karena kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah pada akhir bulan Mei 2008. Grafik 2.10 Event Analysis Inflasi Kota Palembang 2007-2008 Persen 4 3 2 1 kenaikan biaya tempat tinggal, semen, dan tukang bukan mandor 6.82 7.38 0.76 kenaikan harga bahan makanan, susu, dan tahun ajaran baru 8.49 1.08 1.10 9.24 1.01 kenaikan harga menjelang Idul Fitri 8.18 7.92 8.20 8.99 1.41 kenaikan harga bahan makanan secara umum 1.61 kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tempe/tahu 0.91 8.67 kenaikan harga rokok & kacangkacangan 10.87 1.83 14.24 2.38 kenaikan harga BBM 15.18 1.56 13.96 3.41 16 14 12 10 8 6 4 Persen 0.24 0.35 2 - Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun* 2007 2008 - mtm (axis kiri) yoy (axis kanan) Keterangan: Data dan Informasi diolah dari BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 45

Perkembangan Inflasi Palembang Dibandingkan dengan pola inflasi nasional secara bulanan, pola inflasi bulanan kota Palembang memiliki tendensi pergerakan yang hampir sama dengan tingkat inflasi kota Palembang yang selalu lebih tinggi kecuali pada bulan Januari dan Februari. Kenaikan harga kedelai yang terjadi sekitar bulan Januari-Februari sangat berpengaruh dalam menyumbang inflasi secara nasional sehingga menyebabkan inflasi nasional lebih tinggi dari inflasi kota Palembang. Grafik 2.11 Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang dan Nasional Tahun 2007-2008 ( persen) 4 3 2 1 0 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun* 2007 2008 Palem bang Nasional Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan *) Tahun Dasar 2007 = 100 2.3. Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia Palembang Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Bank Indonesia Palembang secara mingguan pada beberapa pasar di Kota Palembang terdapat tendensi kenaikan harga yang secara rata-rata meningkat sebesar 20,85 persen. Harga minyak goreng yang pada triwulan I 2008 sempat menunjukkan gejala penurunan, ternyata pada akhir triwulan II 2008 ini (bulan Juni 2008) kembali menunjukkan peningkatan dan mencapai kisaran harga Rp13.000/kg. Rp/Kg Grafik 2.12 Perkembangan Harga Minyak Goreng Berdasarkan SPH di Palembang (Rp/Kg) 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang 46

Perkembangan inflasi Palembang Meningkatnya kembali harga minyak goreng tersebut terkait dengan kenaikan harga CPO di pasar internasional. Berdasarkan data dari Bloomberg, pada bulan Juni 2008 rata-rata harga CPO dunia mencapai USD1.103,98/metrik ton atau meningkat 43,65 persen dibandingkan bulan Juni 2007 yang tercatat sebesar USD768,51/metrik ton. Grafik 2.13 Perkembangan Harga Beras Berdasarkan SPH di Palembang (Rp/Kg) 10,000 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 - Jun Jul Agust Sept Okt Rp/Kg Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 Rata-rata IR 64 I IR 64 II Rojolele Cianjur Kepala Sumber : SPH KBI Palembang Secara umum, pergerakan rata-rata harga beras di Palembang menunjukkan trend sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut terkait dengan masa panen yang terjadi pada beberapa sentra beras pada Tw-I, meskipun selama Tw-II sendiri terjadi panen gadu (panen ke-2) di beberapa wilayah sentra beras Sumsel namun hal tersebut tidak sebanyak ketika panen raya. Rata-rata harga beras pada bulan Juni 2008 meningkat sebesar 7,79 persen dibandingkan bulan Maret 2008. Berdasarkan jenis beras, beras Rojolele mengalami peningkatan harga paling tinggi yakni sebesar 9,03 persen dibandingkan rata-rata harga pada bulan Maret 2008. Sementara itu, harga beras IR 64 II meningkat sebesar 4,09 persen, beras Cianjur Kepala meningkat sebesar 3,80 persen, dan harga beras IR 64 I meningkat sebesar 1,55 persen. 47

Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.14 Pergerakan Harga Beras di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang 7,000 8,000 6,000 7,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Harga beberapa komoditas lainnya, seperti harga daging sapi dan emas memperlihatkan tendensi penurunan. Hal tersebut cenderung dipengaruhi oleh kondisi pasokan yang dinilai mencukupi. Selain itu melemahnya permintaan dari konsumen memaksa beberapa pedagang emas untuk sedikit menurunkan harga jualnya. Hal yang bertolak belakang terjadi pada harga minyak goreng yang cenderung meningkat. Permintaan yang tinggi terhadap minyak goreng disinyalir dimanfaatkan oleh beberapa pedagang untuk mengambil untung dengan cara menaikkan harga jualnya. Grafik 2.15 Pergerakan Harga Minyak Goreng di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang 14,000 16,000 12,000 14,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 - - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang 48

Perkembangan inflasi Palembang Grafik 2.16 Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang 51,000 60,000 50,000 49,000 48,000 50,000 40,000 47,000 46,000 45,000 44,000 30,000 20,000 10,000 43,000 Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Grafik 2.17 Pergerakan Harga Emas di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/gram) 250,000 Pasar Cinde 250,000 Pasar Lemabang 200,000 200,000 150,000 150,000 100,000 100,000 50,000 50,000 - - Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 2007 2008 Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Hasil pemantauan harga yang dilakukan oleh KBI Palembang secara independen melalui Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Palembang menunjukkan perkembangan harga yang tidak jauh berbeda dengan hasil survei inflasi yang dilakukan secara bulanan oleh BPS. Hal ini menunjukkan bahwa hasil SPH Kota Palembang dapat dijadikan salah satu barometer dalam melihat perkembangan inflasi di kota Palembang. 49

Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.18 Pergerakan Inflasi Bulanan dan Tingkat Harga Sesuai SPH di Kota Palembang (Juni 2007 Juni 2008) Persen 4 3 2 1 0 Inflasi BPS, Bulanan (Axis Kiri) Inflasi SPH, Bulanan (Axis Kanan) 20 15 10 5 - (5) (10) (15) (20) (25) Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Persen Mei Jun* 2007 2008 Keterangan : Data dan informasi diolah dari BPS Propinsi Sumsel dan SPH Bank Indonesia Palembang *) Tahun Dasar 2007 = 100 50

Perkembangan inflasi Palembang Suplemen 3 RINGKASAN HASIL PENELITIAN KOMODITAS-KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI PALEMBANG DAN PROSES PEMBENTUKAN HARGANYA Bank Indonesia Palembang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera Selatan melakukan penelitian dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi Kota Palembang. Penelitian tersebut bertujuan untuk : (i) mengetahui komoditas-komoditas penyumbang inflasi kota Palembang, dan (ii) mengetahui pola pembentukan harga-harga komoditas penyumbang inflasi. Penelitian melibatkan 57 responden yang meliputi produsen, pedagang besar, dan pedagang eceran di Kota Palembang dan daerah sentra produksi beras. Berdasarkan hasil penelitian Tabel 1 Komoditas Penyumbang Inflasi Palembang tersebut diketahui bahwa terdapat 20 Periode 2007 besar komoditas yang memberikan Perubahan Bobot Sumbangan No. Komoditi Harga Komoditas Inflasi sumbangan terbesar terhadap (%) (%) (%) 1 Minyak Goreng 51.10 2.37 1.21 pembentukan inflasi kota Palembang 2 Daging Ayam Ras 46.44 1.98 0.92 3 Mie 30.36 1.78 0.54 sebagaimana pada Tabel 1. 4 Emas Perhiasan 39.39 1.27 0.50 5 Roti Manis 60.71 0.69 0.42 Perhitungan sumbangan masingmasing komoditas terhadap inflasi 6 Empek-Empek 24.44 1.62 0.40 7 Tarif SLTA 55.03 0.64 0.35 8 Telur Ayam Ras 31.67 0.98 0.31 9 Bawang Merah 44.06 0.68 0.30 10 Beras 5.19 5.53 0.29 didasarkan pada nilai konsumsi per 11 Rokok Kretek Filter 11.29 2.45 0.28 12 Tahu Mentah 28.57 0.95 0.27 bulan masing-masing komoditas, 13 Bayam 97.03 0.27 0.26 14 Semen 34.04 0.73 0.25 kemudian dari tabel tersebut 15 Ikan Gabus 34.87 0.63 0.22 16 Tarip Air Minum 21.08 1.04 0.22 dilakukan judgement untuk 17 Tepung Terigu 44.81 0.38 0.17 18 Tempe 15.63 0.95 0.15 menentukan tiga komoditas yang 19 Jeruk 38.62 0.37 0.14 20 Rokok Kretek 9.17 1.46 0.13 perlu didalami proses pembentukan harganya. Penentuan tiga komoditas tersebut juga mempertimbangkan karakteristik komoditas bagi Palembang. Hasil judgement menghasilkan tiga barang yakni beras, minyak goreng, dan tepung terigu. Kenapa beras atau minyak goreng dan tepung terigu? Selain berdasarkan bobot sumbangannya, dimasukkannya beras sebagai komoditas yang akan didalami proses pembentukan harganya adalah didasarkan pada sifat beras sebagai bahan makanan pokok yang tidak mempunyai substitusi. Pemilihan minyak goreng didasarkan pada pertimbangan bahwa komoditas tersebut juga merupakan kebutuhan pokok dan tidak ada barang 51

Perkembangan Inflasi Palembang substitusi yang lebih murah. Pertimbangan serupa juga dilakukan pada tepung terigu. Selain tentunya sebagai barang kebutuhan pokok dan tidak ada barang substitusi, tepung terigu juga merupakan bahan baku dari berbagai makanan khas Palembang, antara lain, empek-empek, tekwan, model, serta bahan baku panganan lain, misalnya roti, mie instan, dan mie basah. Rp. Rp. Grafik 2 Perkembangan Harga Tepung Terigu Tahun 2007 6.000 5.800 5.600 5.400 5.200 5.000 4.800 4.600 4.400 4.200 4.000 4.525 4.5004.500 4.500 4.500 4.500 4.500 4.775 5.206 5.500 5.438 5.910 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Grafik 3 Perkembangan Harga Beras Tahun 2007 Rp. 10.000 9.500 9.000 8.500 8.000 7.500 6.000 5.800 5.629 5.600 5.400 5.200 5.332 5.000 4.800 4.600 4.400 4.200 4.000 Grafik 1 Perkembangan Harga Minyak Goreng Curah, 2007 7.000 6.490 6.500 6.350 6.000 7.324 6.400 5.356 7.883 8.598 8.107 4.9094.915 4.918 4.896 4.953 5.219 5.169 5.185 5.471 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan 8.808 8.592 8.500 8.565 8.650 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Secara empiris, setidaknya dalam setahun terakhir, khususnya harga minyak goreng dan tepung terigu, mengalami peningkatan yang persisten dari waktu ke waktu. Sebagaimana dideskripsikan pada Grafik 1 terlihat bahwa pada awal tahun 2007, harga minyak goreng curah sebesar Rp6.490 per kg, kemudian terus mengalami peningkatan dan pada akhir tahun telah mencapai Rp8.650 per kg. Hal yang sama juga terjadi pada harga tepung terigu merk Segitiga Biru (lihat Grafik 2). Pemilihan tepung terigu Segitiga Biru dengan pertimbangan bahwa merk tersebut merupakan merk tepung terigu yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat kota Palembang. Pada awal tahun 2007 harga tepung terigu sebesar Rp4.500 per Kg, sedangkan di akhir tahun sudah mencapai Rp5.910 per Kg. Kenaikan harga tepung terigu juga tidak lepas dari perkembangan harga tepung terigu di pasar internasional yang sempat mengalami eskalasi pada tahun lalu. Sementara itu, fluktuasi dari harga beras di Palembang sangat dipengaruhi oleh faktor musiman atau siklus produksi beras. 52

Perkembangan inflasi Palembang Pada penelitian ini, pembentukan harga beras dibagi menjadi tiga kerangka waktu yakni pada saat: (i) panen, (ii) normal, dan (iii) paceklik. Pada grafik 3 terlihat bahwa harga beras mengikuti tiga kerangka waktu dimaksud. Harga beras yang dihitung merupakan harga beras rata-rata dari berbagai merk yakni: (i) selancar, (ii) sepat siam, (iii) patin), (iv) dewi, (v) topi koki, (vi) arjuna, dan (vii) arjuna. Secara empiris, harga beras tertinggi terjadi berkisar pada triwulan I, kemudian menurun pada triwulan II dan III. Setelah itu, harga beras kembali meningkat pada triwulan IV sehubungan peningkatan permintaan sehubungan dengan bulan puasa dan hari besar keagamaan di samping terjadi musim kemarau. Pembentukan Harga Beras, Minyak Goreng, dan Tepung Terigu Penelitian menemukan bahwa terdapat 6 komponen pembentuk harga di komoditas beras masing-masing sebagai berikut: (i) modal untuk pembelian beras, (ii) transpor, (iii) tenaga kerja, (iv) kemasan, (v) biaya lain-lain, dan (vi) keuntungan. Selain dibedakan berdasarkan kerangka waktu, pembentukan harga juga dikelompokkan dalam tiga golongan yakni : (i) produsen, (ii) pedagang besar, dan (iii) pedagang eceran. Pada tingkat produsen, sebagian besar harga dibentuk oleh pengeluaran untuk bahan baku, yakni bibit, pupuk, dan saprodi lainnya yang secara persentase jumlahnya mencapai 86.78 persen untuk setiap kilogramnya. Angka tersebut merupakan angka rata-rata persentase di tiga periode (panen, normal, dan paceklik). Rata-rata margin keuntungan di tingkat produsen sebesar 9,03 persen. Sementara itu, komponen pembentuk harga lainnya (transpor, tenaga kerja, kemasan, biaya lain-lain) relatif rendah yakni berkisar 0,65 persen sd. 1,74 persen (lihat Tabel 2). Di tingkat produsen, besaran persentase komponen harga tidak jauh berbeda, dimana rata-rata komposisi modal untuk pembelian komoditi juga merupakan yang terbesar (90,87 persen). Besarnya margin keuntungan rata-rata 5,33 persen. Di tingkat pedagang eceran pun tidak jauh berbeda, hanya komponen pembelian komoditi yang terbesar, sedangkan keuntungan hanya 6,39 persen. Komponen pembentukan harga pada waktu paceklik, bahan baku dan modal pembelian komoditas merupakan komponen terbesar, baik di sisi produsen, 53

Perkembangan Inflasi Palembang pedagang besar, serta pedagang eceran. Selain itu, margin keuntungan pun terendah di saat musim paceklik bagi pedagang eceran dan pedagang besar. Tabel 2 Pola Pembentukan Harga Beras Pada Tingkat Produsen di Propinsi Sumatera Selatan (dalam % per Kg) Variabel Pembentuk Periode Musim Rata- Harga Panen Normal Paceklik Rata (1) (2) (3) (4) (5) Bahan Baku 84,81 88,14 87,39 86,78 Transport 0,88 0,80 0,69 0,79 Tenaga Kerja 1,47 1,82 1,92 1,74 Kemasan 0,68 0,66 0,62 0,65 Biaya lain-lain 1,13 1,08 0,81 1,01 Keuntungan 11,03 7,50 8,57 9,03 JUMLAH 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Penelitian BI Palembang dan BPS Prop. Sumsel, 2008 Tabel 3 Pola Pembentukan Harga Minyak Goreng Curah di Kota Palembang (dalam % per Kg) Kategori Variabel Pembentuk Harga Modal Pembelian Komoditi* Pedagang Eceran Pedagang Besar Produsen (1) (2) (3) (4) 92,17 93,65 91,25 Transport 0,03 1,98 2,24 Tenaga Kerja 0,69 0,20 0,49 Kemasan 0,56 0,04 ** Biaya lain-lain 0,25 1,41 5,52 Pembentukan harga minyak goreng curah dikelompokkan pada tiga golongan yakni: (i) pedagang eceran, (ii) pedagang besar, dan (iii) produsen (lihat Tabel 3). Modal pembelian komoditas dan bahan baku di masing-masing kategori pelaku usaha merupakan komponen terbesar dalam pembentukan harga. Alokasi untuk keuntungan secara rata-rata di bawah 10 persen, 0,51 persen untuk produsen, 2,74 persen untuk pedagang besar, dan 6,32 persen untuk pedagang eceran. Sementara itu, untuk komponen-komponen lainnya relatif rendah. Pola pembentukan Keuntungan 6,32 2,74 0,51 harga untuk komoditas tepung JUMLAH 100,00 100,00 100,00 terigu di Kota Palembang juga Sumber : Penelitian BI Palembang dan BPS Prop. Sumsel, 2008 * Modal Pembelian Komoditi = Bahan Baku (untuk tingkat tidak berbeda dengan dua Produsen) ** termasuk dalam biaya lain-lain komoditas lainnya. Namun pelaku usaha yang terkait hanya meliputi dua yakni: (i) pedagang eceran dan (ii) pedagang besar. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya produsen tepung terigu di Sumatera Selatan. Modal pembelian komoditas merupakan komponen terbesar dalam pembentukan harga terigu atau berada dalam kisaran 91,02 sd. 93,42 persen, sedangkan untuk keuntungan masing-masing mencapai 3,86 persen untuk pedagang besar dan 6,61 54

Perkembangan inflasi Palembang Tabel 4 Pola Pembentukan Harga Tepung Segitiga Biru di Kota Palembang (dalam %) Kategori Variabel Pembentuk Harga Pedagang Eceran Pedagang Besar (1) (2) (3) Modal Pembelian Komoditi 91,02 93,42 Transport 0,04 0,95 Tenaga Kerja 0,24 1,55 Kemasan 1,45 0,00 Biaya lain-lain 0,66 0,23 Keuntungan 6,61 3,86 JUMLAH 100,00 100,00 Sumber : Penelitian BI Palembang dan BPS Prop. Sumsel, 2008 persen pedagang eceran. Komponen-komponen pembentuk harga lainnya berada di bawah 2 persen. Untuk ketiga komoditas, biaya-biaya lain antara lain meliputi sewa gudang, jasa keamanan, retribusi, dan termasuk pungutanpengutan tidak resmi lainnya. Implikasi dan Rekomendasi Kebijakan Hasil penelitian tersebut setidaknya telah menjadi langkah untuk kita membedah proses pembentukan harga komoditas yang mempunyai sumbangan strategis terhadap inflasi kota Palembang. Stabilisasi harga beras pada level yang wajar, sebagai contoh, perlu dilakukan melalui upaya peningkatan produksi dan mekanisme tata niaga yang efektif. Saat ini biaya produksi petani masih cukup tinggi, hal tersebut dapat menjadi obyek kajian bagaimana petani-petani di Sumsel mendapatkan bibit, pupuk, BBM, dan saprodi lainnya. Berdasarkan survei-survei terpisah, para petani padi di Sumsel saat ini tengah menghadapi masalah kenaikan harga pupuk, BBM untuk traktor, kenaikan biaya tenaga kerja, kenaikan harga saprodi. Selain itu, di beberapa sentra produksi terdapat pula permasalahan serangan hama (tikus dan tungro), demikian pula kasus pupuk oplosan dan bibit palsu. Saat ini mekanisme tata niaga belum sepenuhnya berjalan optimal, berdasarkan informasi dari para petani di sentra produksi, sebagian besar petani sudah terjerat oleh ijon dan hasil panen petani sebagian besar di jual kepada pedagang beras dari luar Sumsel. Hal tersebut menyebabkan pasokan beras untuk Sumsel berkurang. Kekurangan pasokan tentunya berpotensi meningkatkan harga. Dalam hal ini kebijakan stok pangan di Sumsel dalam memenuhi kebutuhan perlu ditinjau kembali. Untuk komoditas tepung terigu dan minyak goreng, kebijakan yang dapat diambil adalah pengkajian kembali kebijakan operasi pasar. Hal lain yang perlu dilakukan adalah pemberantasan pungutan liar di sepanjang titik distribusi. Selanjutnya, sebagai tahapan pendalaman, tentunya diperlukan penelitian lanjutan ke depan yang bertujuan untuk mengetahui interregional inflation untuk melihat lebih detail sumber tekanan inflasi. 55

Perkembangan Inflasi Palembang Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 56

Perkembangan Perbankan Daerah 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 3.1. Kondisi Umum Kondisi perbankan di Propinsi Sumsel secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2008 (Mei 2008) dilihat dari beberapa variabel menunjukkan perkembangan positif. Jumlah aset perbankan Sumsel meningkat sebesar 16,58 persen dari triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), yaitu dari Rp27,86 triliun menjadi Rp32,48 triliun. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat sebesar 11,49 persen dari Rp20,89 triliun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp23,29 triliun atau meningkat sebesar Rp2,40 triliun. Penyaluran kredit/pembiayaan mengalami peningkatan dari Rp15,38 triliun pada triwulan yang sama pada tahun sebelumnya menjadi Rp18,87 triliun atau meningkat sebesar 22,76 persen. Secara triwulanan (qtq), Grafik 3.1 kinerja perbankan di Propinsi Sumsel Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan juga menunjukkan trend peningkatan dalam berbagai komponen. Jumlah Palembang 61% aset meningkat sebesar Rp1,44 triliun Ogan Komering Ilir atau 4,61 persen dibandingkan 6% triwulan I 2008 yang tercatat sebesar Baturaja 2% Ogan Komering Ulu Rp31,04 triliun. Jumlah simpanan/dpk 5% meningkat sebesar Rp0,09 triliun atau Lubuklinggau Musi banyuasin Prabumulih Lematang Ilir 3% 7% 4% Ogan Tengah sebesar 0,42 persen dari posisi 5% Musi Rawas Pagar Alam 3% triwulan sebelumnya. Jumlah 1% Lainnya Lahat 0% 3% penyaluran kredit/pembiayaan meningkat sebesar Rp1,65 triliun atau sebesar 9,61 persen dari posisi triwulan I 2008. Meningkatnya penyaluran kredit/pembiayaan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penyaluran kredit/pembiayaan pada sektor perindustrian yang memberikan andil sebesar 3,87 persen. 57

Perkembangan Perbankan Daerah Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di wilayah Sumsel pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 81,03 persen, meningkat relatif tinggi dari LDR pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 74,23 persen. Penyaluran Kredit Mikro Kecil Menengah (MKM) secara tahunan (yoy) tercatat mengalami peningkatan sebesar Rp2,72 triliun atau sebesar 28,87 persen menjadi sebesar Rp12,12 triliun. Sementara itu secara triwulanan (qtq) meningkat sebesar Rp0,70 triliun atau sebesar 7,02 persen dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp11,33 triliun. Tingkat rasio Non-Performing Loan (NPL) triwulan II 2008 (Mei 2008) menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yaitu dari sebesar 1,94 persen menjadi 1,97 persen. Namun demikian, rasio NPL tersebut masih berada di bawah toleransi 5 persen sebagaimana yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 3.2. Kelembagaan 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Sumatera Selatan 48 JUMLAH BANK 21 83 229 59 392 307 KP/KWL KC KCP KK JML ATM Jumlah bank yang beroperasi di Propinsi Sumatera Selatan sampai dengan triwulan II 2008 adalah 48 Bank dengan memiliki 392 kantor bank sebagai jaringannya yang terdiri dari 4 Kantor Wilayah Bank Umum Konvensional, 1 Kantor Pusat Bank Pemerintah Daerah, 59 Kantor Cabang Bank Umum Konvensional, 19 Kantor Cabang Bank Umum Syariah dan 21 Kantor BPR/S, 229 Kantor Cabang Pembantu dan 59 Kantor Kas. Jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tercatat sebanyak 307 unit. 58

Perkembangan Perbankan Daerah 3.3. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga 3.3.1 Penghimpunan DPK DPK secara tahunan (yoy) mengalami peningkatan kecuali untuk simpanan giro. Simpanan giro tercatat menurun dari Rp4,98 triliun menjadi Rp4,60 triliun atau menurun sebesar 7,64 persen. Simpanan deposito meningkat dari Rp8,06 triliun menjadi Rp8,27 triliun atau meningkat sebesar 2,61 persen. Simpanan tabungan meningkat dari Rp7,86 triliun menjadi Rp10,43 triliun atau meningkat sebesar 32,71 persen. Sementara itu, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq), penghimpunan DPK perbankan pada triwulan II 2008 ini mengalami peningkatan sebesar Rp96,91 miliar atau sebesar 0,42 persen. Simpanan giro meningkat sebesar 2,43 persen dari Rp4,49 triliun menjadi Rp4,60 triliun. Simpanan tabungan mengalami peningkatan sebesar 2,57 persen dari Rp10,17 triliun menjadi Rp10,43 triliun. Sedangkan simpanan deposito mengalami sedikit penurunan sebesar 3,20 persen dari Rp8,54 triliun menjadi RP8,27 triliun. Berdasarkan pangsa masingmasing terhadap DPK, simpanan tabungan tetap memiliki pangsa terbesar yakni sebesar 44,78 persen diikuti oleh simpanan deposito sebesar 35,49 persen dan simpanan giro sebesar 19,74 persen. Rp. Triliun 12 10 8 6 4 2 0 Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Sumatera Selatan 8.06 7.86 4.98 8.64 8.13 5.27 10.18 10.17 9.20 8.54 4.76 4.49 4.60 10.43 8.27 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Giro Tabungan Deposito Grafik 3.4 Komposisi DPK Perbankan Tw II 2008 di Propinsi Sumatera Selatan 35.49% 19.74% 44.78% Giro Tabungan Deposito 59

Perkembangan Perbankan Daerah 3.3.2. Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota Saat ini sistem pelaporan bank yang dikelola Bank Indonesia masih mengelompokkan daerah berdasarkan 11 kabupaten/kota. Berdasarkan laju pertumbuhan secara tahunan (yoy), laju pertumbuhan penghimpunan DPK Musi Rawas tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 172,33 persen dari sebesar Rp3,18 miliar menjadi Rp8,67 miliar. Penghimpunan DPK di Kota Palembang sebagai pusat perekonomian Sumsel tercatat tumbuh sebesar 10,96 persen dari sebesar Rp14,72 triliun menjadi sebesar Rp16,33 triliun. Kabupaten yang tercatat mengalami penurunan DPK secara tahunan adalah Lematang Ilir Ogan Tengah dengan penurunan sebesar 14,98 persen dari Rp1,08 triliun menjadi Rp0,92 triliun. Tabel 3.1 Pertumbuhan DPK Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) Kabupaten 2007 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Prabumulih 851,728 907,312 959,248 906,349 913,243 Pagar Alam 251,472 330,850 329,253 305,480 334,488 Lubuklinggau 1,176,911 1,253,786 1,143,114 1,241,037 1,346,746 Baturaja 637,584 513,421 602,944 673,660 675,977 Palembang 14,716,885 15,691,036 17,108,535 16,485,719 16,329,967 Ogan Komering Ulu 440,205 560,177 471,945 488,806 479,225 Ogan Komering Ilir 640,242 735,158 633,587 777,485 883,233 Musi banyuasin 628,360 581,442 846,279 751,344 794,700 Musi Rawas 3,184 3,340 3,606 4,181 8,670 Lematang Ilir Ogan Tengah 1,079,602 888,751 1,469,022 981,977 917,854 Lahat 467,447 568,524 574,938 581,692 610,537 Penghimpunan DPK secara triwulanan (qtq) berdasarkan kabupaten di Propinsi Sumsel menunjukkan kabupaten Musi Rawas mengalami peningkatan paling tinggi dari Rp4,18 miliar menjadi Rp8,67 miliar atau meningkat sebesar 107,37 persen. DPK Kota Palembang mengalami penurunan dari Rp16,49 triliun menjadi Rp16,33 triliun atau menurun sebesar 0,94 persen. Wilayah yang mencatat penurunan DPK paling tinggi adalah wilayah Lematang Ilir Ogan Tengah yang tercatat mengalami penurunan dari Rp0,98 triliun menjadi Rp0,92 triliun atau menurun sebesar 6,53 persen. Berdasarkan pangsa, DPK Kota Palembang tercatat sebagai daerah dengan pangsa DPK terbesar yakni sebesar 70,10 persen dari total DPK Sumsel, kemudian daerah yang mempunyai pangsa paling kecil adalah kabupaten Musi Rawas dengan pangsa sebesar 0,04 persen. 60

Perkembangan Perbankan Daerah 3.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan 3.4.1. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral Laju pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan pada triwulan II 2008 tercatat mengalami peningkatan sebesar 22,76 persen dari tahun sebelumnya (yoy). Meningkatnya penyaluran kredit/pembiayaan dari Rp15,38 triliun menjadi Rp18,87 triliun ini terkait dengan peningkatan kredit di sektor Tabel 3.2 Perdagangan, Hotel, dan Pertumbuhan Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Rp Triliun) Restoran (PHR) serta sektor Sektor Konstruksi yang masingmasing meningkat sebesar 30,35 persen dan 24,89 persen. Meningkatnya kredit di sektor PHR sangat erat kaitannya dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan perdagangan dibanding periode yang sama Pengangkutan & Komunikasi pada tahun sebelumnya. Program Visit Musi 2008 dan banyaknya kegiatan berskala nasional maupun internasional di kota Palembang merupakan beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kinerja sektor PHR. 2007 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Pertanian 1.89 2.16 2.04 2.13 2.33 Pertambangan 0.32 0.02 0.03 0.04 0.08 Perindustrian 2.52 1.98 2.48 2.36 2.94 LGA 3.20 3.43 3.69 3.77 4.17 Konstruksi 0.37 0.44 0.42 0.39 0.39 Perdagangan 0.98 1.24 1.19 1.18 1.23 0.24 0.23 0.25 0.25 0.26 Jasa Dunia Usaha 0.84 0.96 0.99 1.01 0.93 Jasa-jasa Sosial 0.26 0.21 0.22 0.23 0.24 Lain-lain 4.77 5.08 5.26 5.86 6.29 Total kredit 15.38 15.75 16.58 17.22 18.87 Penyaluran kredit di Sektor Pertanian meningkat sebesar 23,47 persen yang mayoritas digunakan untuk membiayai kegiatan investasi pada sub sektor perkebunan karet dan sawit. Harga sawit dan karet yang tinggi menjadi pendorong para pelaku usaha di sektor ini untuk terus mengembangkan usahanya. Sektor lainnya yang mengalami peningkatan adalah sektor Perindustrian, sektor Pengangkutan, sektor Jasa Dunia Usaha dan sektor LGA masing-masing sebesar 16,95 persen, 11,96 persen, 11,80, dan 4,78 persen. 61

Perkembangan Perbankan Daerah Sektor Pertambangan dan sektor Jasa Sosial tercatat mengalami penurunan kredit masing-masing sebesar 74,92 persen dan 6,03 persen. Tingginya penurunan penyaluran kredit di sektor pertambangan seiring dengan rendahnya pertumbuhan tahunan di sektor tersebut yang disebabkan karena terkendalanya upaya peningkatan produksi di sub sektor pertambangan migas dan penggalian batu bara dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara triwulanan (qtq), hampir seluruh sektor mengalami peningkatan penyaluran kredit/pembiayaan kecuali sektor jasa dunia usaha yang mengalami penurunan sebesar 7,55 persen. Peningkatan kredit tercermin pula dari hasil Survei Kredit Perbankan di wilayah Sumsel yang dilakukan oleh Bank Indonesia Palembang (lihat Suplemen 4. Kredit/Pembiayaan Perbankan Sumsel Triwulan II 2008 Lebih Ekspansif). Pada triwulan ini sektor pertambangan justru tercatat mengalami peningkatan penyaluran kredit yang paling tinggi yakni sebesar 108,07 persen. Meningkatnya penyaluran kredit di sektor tersebut diperkirakan terkait erat dengan upaya pengembangan di sub sektor pertambangan non migas (batu bara) dalam bentuk kredit investasi. Dari sisi kontribusi, selain Grafik 3.5 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral sektor lain-lain, sektor perdagangan Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 tercatat masih mendominasi Pertanian penyaluran kredit pada triwulan II 12.33% Pertambanga Lain-lain n 2008 ini dengan pangsa sebesar 33.34% 0.43% 22,11 persen. Kemudian berturutturut diikuti oleh penyaluran kredit Jasa Sosial Masyarakat Perindustrian 1.29% 15.59% Jasa Dunia pada sektor perindustrian, sektor Perdagangan Usaha 22.11% pertanian, sektor konstruksi, dan 4.95% sektor jasa dunia usaha masingmasing sebesar 15,59 persen, 12,33 Pengangkuta n Konstruksi Listrik, Gas 1.40% 6.51% dan Air 2.05% persen, 6,51 persen, dan 4,95 persen. Adapun penyaluran kredit/ pembiayaan pada sektor LGA, sektor pengangkutan, sektor jasa sosial, dan sektor pertambangan tercatat hanya memiliki pangsa kurang dari 3 persen. 62

Perkembangan Perbankan Daerah 3.4.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Seluruh penyaluran kredit/pembiayaan menurut penggunaannya mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Kredit konsumsi tercatat mengalami peningkatan paling tinggi yakni sebesar 32,00 persen menjadi sebesar Rp6,29 triliun. Kredit modal kerja mencatat Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan pertumbuhan sebesar 22,53 persen, Propinsi Sumatera Selatan sedangkan kredit investasi tercatat hanya 10 tumbuh sebesar 11,14 persen. 8.05 8.53 7.72 6.96 7.45 Rendahnya pertumbuhan penyaluran 5.86 6.29 kredit investasi secara tahunan tidak terlepas 4.77 5.08 5.26 5 dari situasi bisnis dan tingkat suku bunga 4.05 3.65 investasi yang menurut sebagian pelaku 3.22 3.27 3.64 usaha masih cukup tinggi sehingga hal - tersebut berdampak negatif terhadap Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II keputusan untuk berinvestasi. Selain itu, 2007 2008 kenaikan harga BBM yang ditetapkan Modal Kerja Investasi Konsumsi pemerintah pada akhir Mei 2008 memaksa para pelaku usaha untuk menghitung ulang rencana investasinya. Secara triwulanan (qtq), penyaluran kredit/pembiayaan investasi tercatat mengalami peningkatan tertinggi yakni sebesar 11,47 persen, sedangkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi tercatat mengalami peningkatan masing-masing sebesar 10,48 persen dan 7,30 persen. Rp Triliun Dari segi komposisi, penyaluran kredit berdasarkan penggunaan pada triwulan II 2008 ini masih didominasi oleh kredit modal kerja, yakni sebesar 45,18 persen, kemudian diikuti kredit konsumsi yakni sebesar 33,33 persen, dan kredit investasi dengan pangsa sebesar 21,48 persen. Grafik 3.7 Pangsa Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 Konsumsi 33.33% Investasi 21.48% Modal Kerja 45.18% 63

Perkembangan Perbankan Daerah 3.4.3. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten Menurut daerah penyaluran kredit, pada periode triwulan II 2008 ini kota Pagar Alam dan Lematang Ilir Ogan Tengah tercatat mengalami peningkatan penyaluran kredit/pembiayaan secara tahunan (yoy) yang signifikan yakni masing-masing sebesar 42,91 persen dan 41,16 persen. Kabupaten Musi Rawas tercatat mengalami penurunan penyaluran kredit/pembiayaan sebesar 22,77 persen. Tabel 3.3 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 2007 2008 Kabupaten/Kota Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Prabumulih 595,760 676,835 677,125 661,416 682,034 Pagar Alam 143,621 147,257 148,918 160,856 205,251 Lubuklinggau 428,582 530,294 466,554 474,199 526,495 Baturaja 272,510 192,291 223,067 209,347 296,080 Palembang 9,545,361 9,740,643 10,397,330 10,601,396 11,651,805 Ogan Komering Ulu 688,753 806,755 860,923 883,257 960,506 Ogan Komering Ilir 863,379 831,082 843,993 899,331 1,053,820 Musi banyuasin 1,071,715 1,278,754 1,429,902 1,504,852 1,478,369 Musi Rawas 613,335 361,257 383,468 400,277 473,696 Lematang Ilir Ogan Tengah 696,446 742,452 707,656 928,589 983,076 Lahat 369,053 368,715 357,603 433,798 498,905 Lainnya 86,518 75,099 82,793 62,809 64,698 Grafik 3.8 Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Tw II 2008 Berdasarkan Wilayah Baturaja 2% Lubuklinggau 3% Palembang 61% Pagar Alam 1% Prabumulih 4% Lainnya 0% Lematang Ilir Ogan Tengah 5% Lahat 3% Ogan Komering Ilir 6% Ogan Komering Ulu 5% Musi banyuasin 7% Musi Rawas 3% Secara triwulanan (qtq), penyaluran kredit/pembiayaan di wilayah Baturaja tercatat mengalami peningkatan tertinggi yakni sebesar 41,43 persen, sedangkan wilayah Musi Banyuasin tercatat mengalami penurunan penyaluran kredit sebesar 1,76 persen. Penyebaran kredit/pembiayaan berdasarkan wilayah di Propinsi Sumsel didominasi oleh kota Palembang dengan pangsa kredit sebesar 61,73 persen. 64

Perkembangan Perbankan Daerah 3.4.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Realisasi kredit Mikro, Kecil, dan Menengah (MKM) secara tahunan (yoy) tercatat mengalami peningkatan sebesar Rp2,72 triliun atau sebesar 28,87 persen dari Rp9,41 triliun menjadi sebesar Rp12,12 triliun. Grafik 3.9 Sementara itu, secara triwulanan (qtq) mengalami peningkatan sebesar Rp0,28 Penyaluran Kredit UMKM Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Menurut Penggunaan triliun atau sebesar 7,02 persen 7 dibanding triwulan sebelumnya. 6 5.82 6.24 Menurut penggunaan, kredit yang 5 4.73 5.05 5.21 4.31 4.59 4 4.06 4.24 diberikan banyak digunakan untuk 3.60 konsumsi dan modal kerja. Kredit 3 konsumsi tercatat sebesar Rp6,24 triliun 2 1 1.07 1.14 1.16 1.20 1.29 atau dengan pangsa sebesar 51,49 0 persen. Kredit Modal Kerja tercatat Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II sebesar Rp4,59 triliun atau dengan 2007 2008 pangsa sebesar 37,86 persen. KMK Investasi Konsumsi Berdasarkan plafon kredit, Grafik 3.10 realisasi penyaluran kredit mikro (plafon Penyaluran Kredit UMKM Menurut Plafond Kredit sd. Rp50 juta) tercatat sebesar Rp4,64 triliun atau berpangsa sebesar 38,29 5 4.47 4.64 4.13 4.17 4.00 persen, kredit kecil (plafon Rp51 juta 4.01 4 3.60 3.48 3.04 3.27 s.d. Rp500 juta) tercatat sebesar Rp4,00 3.26 3.04 2.78 3.21 triliun atau berpangsa sebesar 33,01 3 2.62 persen, dan kredit menengah (Rp501 2 juta s.d. Rp5 miliar) tercatat sebesar Rp3,48 triliun atau dengan pangsa 1 sebesar 28,70 persen. Rp Triliun Rp Triliun 0 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Mikro Kecil Menengah 65

Perkembangan Perbankan Daerah 3.5. Perkembangan Suku Bunga Perbankan di Sumatera Selatan Suku bunga perbankan yang terdiri dari suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman pada triwulan II 2008 tercatat mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 3.5.1. Perkembangan Suku Bunga Simpanan Suku bunga simpanan yang terdiri dari suku bunga simpanan 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan, secara rata-rata mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) maupun dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq). Persen - Grafik 3.11 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Sumsel 14 12 10 8 6 4 2 9.25 8.22 8.18 7.83 7.64 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 1 bln 3 bln 6 bln 12 bln 24 bln Rata2 Rata-rata tingkat suku bunga simpanan pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 7,64 persen, menurun dibandingkan tingkat suku bunga simpanan pada triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar 7,83 persen maupun apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 9,25 persen. Berdasarkan lamanya simpanan, suku bunga simpanan 24 bulan mencatat suku bunga paling tinggi yakni sebesar 9,31 persen. 3.5.2. Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Seperti halnya dengan perkembangan suku bunga simpanan, suku bunga pinjaman yang terdiri dari suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi, maupun konsumsi, secara ratarata mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) maupun dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq). Rata-rata tingkat suku bunga pinjaman pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 15,03 persen, menurun apabila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman pada triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar 15,40 persen maupun apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 16,35 persen. 66

Perkembangan Perbankan Daerah Grafik 3.12 Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perbankan Sumsel Persen 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2-16.35 15.84 15.81 15.40 15.03 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Modal Kerja Investasi Konsumsi Rata2 3.6. Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan Berdasarkan data LBU KBI Palembang, NPL gross (belum memperhitungkan PPAP) pada triwulan II 2008 (Mei 2008) tercatat sebesar 1,97 persen dari total kredit yang disalurkan, sementara pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar 1,94 persen. Sementara itu, NPL net (sudah memperhitungkan PPAP) pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 1,05 persen dari total kredit, sedangkan NPL Net (sudah memperhitungkan PPAP) pada triwulan yang lalu tercatat sebesar 0,48 persen dari total kredit. Grafik 3.13 Perkembangan NPL Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Grafik 3.14 Persentase NPL Perbankan Sumsel Tw II 2008 Berdasarkan Sektor Ekonomi 3.0% 16.04% 2.5% 2.0% 1.5% 1.0% 0.5% 0.0% 2.55% 1.84% 1.94% 1.97% 1.73% 1.05% 0.74% 0.42% 0.48% 0.25% Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 NPL Gross NPL Nett 24.37% 1.18% 8.23% 4.50% Pertanian Perindustrian Konstruksi Angkutan Jasa Sosial 0.12% 7.06% 0.00% 9.18% 29.31% Pertambangan LGA PHR Jasa. Usaha Lain-lain 67

Perkembangan Perbankan Daerah Dilihat dari sektor ekonominya, persentase NPL gross terbesar di triwulan II 2008 masih berasal dari sektor perdagangan yakni sebesar 29,31 persen. NPL sektor lain-lain tercatat menyumbang sebesar 24,37 persen, sedangkan sektor pertanian yang juga merupakan salah satu sektor unggulan Sumsel tercatat menyumbang NPL sebesar 16,04 persen. 3.7. Kelonggaran Tarik Dari LBU KBI Palembang diperoleh informasi bahwa undisbursement loan (kredit yang belum direalisasikan oleh debitur) pada triwulan II 2008 tercatat sebesar 13,96 persen dari plafon kredit yang disetujui oleh perbankan, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 12,76 persen. Namun apabila dibandingkan triwulan sebelumnya tercatat mengalami penurunan yakni dari sebesar 14,21 persen. Rp Triliun - Grafik 3.15 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 3 2 1 14.59% 2.04 1.71 1.55 12.76% 12.98% 2.20 2.07 14% 14.21% 13.96% 13% Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Nominal Kelonggaran Tarik Persentase Kelonggaran Tarik 15% 12% 11% 3.8. Resiko Likuiditas Resiko likuiditas bank umum di Propinsi Sumsel pada triwulan II 2008 tergolong sangat likuid dengan besaran angka rasio likuiditas sebesar 178,66 persen. Namun demikian, rasio Grafik 3.16 tersebut tercatat menurun baik Perkembangan Resiko Likuiditas Perbankan Sumsel dibandingkan dengan rasio likuiditas tahun sebelumnya maupun triwulan sebelumnya 45 196.76% 40.32 41.61 40.34 38.90 200% yang masing-masing tercatat sebesar 40 36.94 195% 196,76 persen dan 189,27 persen. 35 193.48% 189.27% 190% 30 Jumlah aktiva likuid < 1 bulan 23.13 25 21.31 21.77 185% tercatat sebesar Rp38,90 triliun atau 20 20.84 180% 15 18.78 179.90% 178.66% meningkat sebesar 5,31 persen dari tahun 175% 10 sebelumnya yang tercatat sebesar Rp36,94 5 170% triliun. Jumlah pasiva likuid < 1 bulan Rp Triliun 0 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Aktiva Likuid < 1 bulan Pasiva Likuid < 1 bulan Rasio Likuiditas 165% 68

Perkembangan Perbankan Daerah tercatat sebesar Rp21,77 triliun atau naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp18,78 triliun. 3.9. Perkembangan Perbankan Syariah Perkembangan perbankan umum Syariah menunjukkan kinerja yang menggembirakan dilihat dari indikator aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun penyaluran pembiayaan. Pada Tw-II (data Mei 2008) total aset tercatat sebesar Rp873,06 miliar, meningkat sebesar 35,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar Rp642,71 miliar atau secara triwulanan meningkat sebesar 3,64 persen dibandingkan posisi triwulan sebelumnya (qtq) yang tercatat sebesar Rp842,40 miliar. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp535,89 miliar, meningkat 57,76 persen dibanding triwulan II 2007 (yoy) yang sebesar Rp339,69 miliar atau menurun sebesar 0,14 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq) yang tercatat sebesar Rp536,64 miliar. Dana investasi tidak terikat mendominasi pangsa penghimpunan DPK yakni sebesar 89,87 persen atau sebesar Rp481,62 miliar yang terdiri dari komponen tabungan mudarabah sebesar Rp299,17 miliar dengan pangsa sebesar 55,83 persen dari total DPK dan deposito mudarabah sebesar Rp182,45 miliar atau dengan pangsa sebesar 34,05 persen. Rp Miliar 1,000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 - Grafik 3.17 Perkembangan Perbankan Syariah di Sumsel (Rp Miliar) 642.71 339.69 481.19 717.51 401.90 572.07 804.34 641.13 842.40 737.44 873.06 806.03 519.39 536.64 535.89 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II 2007 2008 Asset DPK Pembiayaan 69

Perkembangan Perbankan Daerah Sejalan dengan peningkatan aset dan penghimpunan DPK, penyaluran pembiayaan secara tahunan (yoy) juga mengalami peningkatan yang cukup tinggi yakni sebesar 67,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau meningkat sebesar 9,30 persen dibandingkan posisi triwulan sebelumnya (qtq). Dari total penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp806,03 miliar, pangsa terbesar dicapai oleh piutang murabahah sebesar 56,90 persen atau sebesar Rp458,66 miliar, diikuti oleh pembiayaan mudharabah sebesar Rp264,86 miliar dengan pangsa 32,86 persen dan pembiayaan musyarakah sebesar Rp51,30 miliar dengan pangsa 6,36 persen. Sementara itu, piutang qardh dan piutang istishna pangsanya masih relatif kecil yakni masing-masing sebesar 3,08 persen dan 0,79 persen. Pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang lebih besar dibanding pertumbuhan penghimpunan DPK menyebabkan angka Finance to Deposit Ratio (FDR) meningkat dari sebesar 137,42 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 150,41 persen. Tingkat FDR yang lebih dari 100 persen tersebut mencerminkan bahwa masih banyak peluang penyaluran pembiayaan yang terbuka bagi kalangan perbankan syariah untuk lebih meningkatkan fungsi intermediasi. Tabel 3.4 PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI SUMATERA SELATAN (Rp Juta) INDIKATOR 2007 2008 Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II* Total Aset 642,713 717,505 804,344 842,396 873,061 Dana Pihak Ketiga 339,689 401,899 519,390 536,641 535,886 1. Simpanan Wadiah 29,943 41,759 48,678 54,798 54,264 - Giro Wadiah 28,758 38,606 44,131 49,697 40,988 - Tabungan Wadiah 1,185 3,153 4,547 5,101 13,276 2. Dana Investasi tidak terikat 309,746 360,140 470,712 481,843 481,622 - Tabungan Mudharabah 165,900 185,383 260,706 271,919 299,172 - Deposito Mudharabah 143,846 174,757 210,006 209,924 182,450 Komposisi Pembiayaan 481,188 572,071 641,126 737,437 806,032 - Piutang Murabahah 315,896 345,604 367,477 411,351 458,661 - Piutang Istishna 65 2,530 6,563 6,544 6,371 - Piutang Qardh 9,506 10,115 17,618 28,717 24,839 - Pembiayaan Mudharabah 147,618 196,017 219,873 253,071 264,860 - Pembiayaan Musyarakah 8,103 17,805 29,595 37,754 51,301 *) Data s.d Mei 2008 70

Perkembangan Perbankan Daerah Suplemen 4 KREDIT/PEMBIAYAAN PERBANKAN SUMSEL TRIWULAN II 2008 LEBIH EKSPANSIF Hasil Survei Kredit Perbankan (SKP) di wilayah Palembang pada triwulan II 2008 menunjukkan proyeksi perkembangan kredit/pembiayaan yang menggembirakan. Survei Kredit/pembiayaan Perbankan wilayah Palembang pada triwulan II 2008 menyertakan 86 bank yang terdiri dari bank umum dan syariah (bank pelapor Laporan Bank Umum atau Syariah LBU/S) serta bank perkreditan rakyat (BPR/S) sebagai responden. Dari 86 bank responden, tercatat sebanyak 53 bank yang mengembalikan kuesioner tersebut. Secara garis besar, permintaan kredit perbankan diproyeksi mengalami peningkatan seiring dengan mulai dikucurkannya dana APBD pemerintah di triwulan ini. Perkiraaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Triwulan II-2008 Permintaan kredit perbankan selama triwulan II rata-rata meningkat pada kisaran 1 persen sd. 10 persen (lihat tabel 1). Sebanyak 31 kantor bank menyatakan kreditnya tumbuh dalam kisaran 1 persen sd. 10 persen, 13 kantor bank meningkat tajam di atas 10 persen (terdiri 7 bank pemerintah, 5 BUSN, dan BPR/S), sedangkan 3 kantor bank kreditnya relatif konstan. Sebaliknya terdapat 5 kantor bank mengalami penurunan kredit pada kisaran 1 persen sd. 10 persen, sedangkan 1 kantor bank mengalami penurunan tajam dengan kisaran lebih dari 10 persen (1 BUSN). Tabel 1 Permintaan Kredit di Triwulan II-2008 dibanding Triwulan Sebelumnya Permintaan kredit dibanding Tw sebelumnya Status Bank Meningkat tajam (>10%) Meningkat (>1% sd. 10%) Sama (- 1% sd 1%) Menurun (- 1% sd. - 10%) Menurun tajam (>- 10%) Bank Pemerintah 7 17 0 1 0 BUSN 5 7 1 2 1 Bank Campuran 0 1 0 0 0 BPR/S 1 6 2 2 0 Total 13 31 3 5 1 Sebagian besar kantor bank menyatakan bahwa penyaluran kredit pada triwulan II berupa modal kerja (lihat Tabel 2) yaitu sebanyak 31 kantor bank, disusul untuk konsumsi 17 kantor bank, dan investasi 5 kantor bank. Pola penyaluran kredit kepada kredit modal kerja ini merupakan ciri dari perbankan Sumsel yang sudah berlangsung cukup lama. 71

Perkembangan Perbankan Daerah Tabel 2 Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan Triwulan II-2008 Status Bank Prioritas jenis penggunaan kredit Modal Kerja Investasi Konsumsi Bank Pemerintah 12 1 12 BUSN 10 3 3 Bank Campuran 1 0 0 BPR/S 8 1 2 Total 31 5 17 Peningkatan kredit perbankan menurut para responden terutama disebabkan oleh peningkatan prospek usaha debitur sebesar 48.78 persen, karena rendahnya tingkat suku bunga sebesar 34.15 persen, karena alasan persyaratan kredit yang ringan sebesar 12.19 persen, dan faktor lainnya (4.88 persen). Status Bank Tabel 3 Alasan Utama Peningkatan Permintaan Kredit pada Triwulan II-2008 Alasan utama peningkatan permintaan kredit (jika naik) Persyaratan kredit ringan Tingkat suku bunga kredit rendah Prospek Usaha Nasabah yang meningkat Lainlain Kondisi perekonomian membaik Bank Pemerintah 4 9 9 0 0 BUSN 0 3 6 2 0 Bank Campuran 0 0 1 0 0 BPR/S 1 2 4 0 0 Total 5 14 20 2 0 III. Perkiraan Penyaluran Kredit Triwulan III-2008 Tidak berbeda dengan triwulan II, permintaan kredit pada triwulan III nanti diperkirakan meningkat pada kisaran 1 persen sd. 10 persen atau sebanyak 75.47 persen dari perbankan (lihat tabel 4). Terdapat 8 kantor bank atau 15.09 persen memprediksi peningkatan kredit di atas 10 persen, sedangkan yang memprediksi relatif konstan sebanyak 4 kantor bank atau 7.55 persen dan 1 kantor bank yang memprediksi terjadi penurunan pada kisaran 1 persen sd. 10 persen. 72

Perkembangan Perbankan Daerah Status Bank Tabel 4 Perkiraan Permintaan Kredit Triwulan Mendatang Perkiraan permintaan kredit di Tw mendatang Meningkat tajam (>10%) Meningkat (>1% sd. 10%) Sama (- 1% sd 1%) Menurun (- 1% sd. - 10%) Menurun tajam (>- 10%) Bank Pemerintah 5 20 0 0 0 BUSN 2 13 1 0 0 Bank Campuran 0 1 0 0 0 BPR/S 1 6 3 1 0 Total 8 40 4 1 0 Untuk triwulan yang sama, diprediksikan juga penyaluran kredit berdasarkan penggunaan masih pada kredit modal kerja, kemudian kredit konsumsi dan kredit investasi (lihat tabel 5). Didominasinya penyaluran kredit pada modal kerja dan bukannya pada konsumsi merupakan salah satu cerminan bahwa kegiatan investasi baru belum banyak tumbuh di Sumsel. Selain itu, dapat juga merupakan indikasi bahwa kegiatan ekonomi masih dijalankan oleh pelaku-pelaku usaha lama atau belum adanya pelaku usaha baru yang memanfaatkan pembiayaan perbankan dari Sumsel. Tabel 5 Prioritas Jenis Penggunaan Kredit Triwulan Mendatang Prioritas jenis penggunaan kredit pada Status Bank Tw mendatang Modal Kerja Investasi Konsumsi Bank Pemerintah 14 0 11 BUSN 10 3 3 Bank Campuran 0 1 0 BPR/S 7 1 2 Total 31 5 16 Faktor utama yang dikemukakan oleh kalangan perbankan yang diperkirakan menopang pertumbuhan kredit pada triwulan III-2008 adalah meningkatnya prospek usaha nasabah. Jumlah kantor bank yang mengatakan demikian adalah sebanyak 25 atau secara prosentase sebesar 55.55 persen. Rendahnya tingkat suku bunga juga merupakan faktor yang diperkirakan mendorong peningkatan kredit di triwulan mendatang. Hal tersebut dikemukakan oleh 11 kantor bank atau sebanyak 24.44 persen, kemudian karena alasan persyaratan kredit ringan oleh 5 kantor bank dan disusul oleh faktor lainnya sebanyak 4 kantor bank (lihat tabel 6). 73

Perkembangan Perbankan Daerah Status Bank Tabel 6 Alasan Utama Peningkatan Kredit Triwulan Mendatang Alasan utama peningkatan kredit di Tw mendatang (jika naik) Persyaratan kredit ringan Tingkat suku bunga kredit rendah Prospek Usaha Nasabah yang meningkat Lainlain Perekonomian membaik Bank Pemerintah 3 9 9 1 0 BUSN 0 1 11 3 0 Bank Campuran 0 0 1 0 0 BPR/S 2 1 4 0 0 Total 5 11 25 4 0 Semua bank yang disurvei mengatakan bahwa pada triwulan II telah terjadi pemberian kredit baru yang besarnya bervariasi namun dalam kisaran 1 persen sd. 10 persen (lihat tabel 7 dan 8). Pemberian kredit baru merupakan salah satu indikasi peningkatan intermediasi kredit. Namun dari sisi magnitude, laju pertumbuhan kredit masih dirasakan tidak terlalu tinggi. Tabel 7 Pemberian Kredit Baru Triwulan II-2008 Apakah ada pemberian kredit Status Bank baru dalam triwulan laporan Ya Tidak ada Bank Pemerintah 25 0 BUSN 15 1 Bank Campuran 1 0 BPR/S 11 0 Total 52 1 Dalam triwulan laporan, terdapat 9 kantor bank yang mengalami peningkatan penyaluran kredit baru di atas 10 persen. Sebagian besar kredit baru tumbuh pada kisaran 1 persen sd. 10 persen atau secara prosentase sebanyak 68.63 persen. Terdapat pula kantor bank yang mengalami penurunan jumlah kredit baru yang disalurkan pada triwulan II-2008, penurunan tersebut terjadi di 1 kantor bank (BPR/S). 74

Perkembangan Perbankan Daerah Status Bank Tabel 8 Jumlah Realisasi Penyaluran Kredit Baru pada Triwulan II-2008 Jumlah realisasi penyaluran kredit baru Meningkat tajam (>10%) Meningkat (>1% sd. 10%) Sama (- 1% sd 1%) Menurun (- 1% sd. - 10%) Menurun tajam (>- 10%) Bank Pemerintah 4 20 1 0 0 BUSN 4 9 2 0 0 Bank Campuran 0 1 0 0 0 BPR/S 1 5 3 1 0 Total 9 35 6 1 0 Peningkatan kredit baru menurut perbankan paling dominan dikarenakan sisi permodalan bank cukup menunjang terjadi ekspansi kredit. Jumlah kantor bank yang mengatakan demikian sebanyak 17 kantor bank atau sebanyak 40.48 persen. Faktor pendukung kedua adalah membaiknya kualitas portfolio kredit yakni sebanyak 14 kantor bank yang menjawab atau secara prosentase sebanyak 33.33 persen. Faktor selebihnya disebabkan oleh likuiditas bank yang berlebih serta faktor-faktor lain-lainnya (lihat tabel 9). Status Bank Tabel 9 Alasan Internal Peningkatan Realisasi Penyaluran Kredit Baru Alasan Internal peningkatan realisasi penyaluran kredit baru Permodalan bank cukup Kualitas portfolio kredit meningkat Likuiditas berlebih Lainnya Bank Pemerintah 12 7 1 3 BUSN 3 7 1 1 Bank Campuran 0 0 1 0 BPR/S 2 0 4 0 Total 17 14 7 4 Secara lebih diperinci, peningkatan kredit baru pada triwulan II didukung oleh membaiknya prospek usaha debitur (69.05 persen). Hal tersebut diungkapkan oleh 29 kantor bank. Sementara faktor membaiknya kondisi perekonomian (14.29 persen) diungkapkan oleh 6 kantor bank. Selebihnya adalah faktor rendahnya risiko usaha, kondisi keamanan dan faktor-faktor lainnya (lihat tabel 10). 75

Perkembangan Perbankan Daerah Status Bank Tabel 10 Alasan Eksternal Peningkatan Realisasi Penyaluran Kredit Baru Alasan eksternal peningkatan realisasi penyaluran kredit baru Prospek usaha nasabah membaik Rendahnya risiko usaha Kondisi ekonomi membaik Kondisi keamanan membaik Bank Pemerintah 16 2 2 0 3 BUSN 7 0 4 0 1 Bank Campuran 1 0 0 0 0 BPR/S 5 0 0 1 0 Total 29 2 6 1 4 Lainlain Prioritas penyaluran kredit baru pada triwulan II, juga tidak berbeda dengan posisi kredit secara keseluruhan yakni didominasi oleh kredit modal kerja, konsumsi dan investasi (lihat tabel 11). Hal tersebut terjadi secara umum hampir di semua kelompok bank; bank pemerintah, bank swasta umum nasional, bank campuran, dan BPR/S. Tabel 11 Penyaluran Kredit Baru Berdasarkan Penggunaan Prioritas penggunaan dalam Status Bank penyaluran kredit baru Modal Kerja Investasi Konsumsi Bank Pemerintah 9 1 15 BUSN 8 3 4 Bank Campuran 0 1 0 BPR/S 8 1 2 Total 25 6 21 Grafik 1. Sektor Ekonomi Yang Paling Banyak Mendapatkan Kredit Baru pada Triwulan II 2008 26% 18% 10% 4% 42% Pertanian Konstruksi PHR Jasa Dunia Usaha Lainnya 76

Perkembangan Perbankan Daerah Sektor ekonomi paling banyak mendapat kucuran kredit baru dari perbankan adalah sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR), disusul oleh sektor lain-lain (konsumsi) dan sektor pertanian. Prosentase bank yang mengalokasikan kredit ke sektor PHR mencapai 42 persen. Sedangkan untuk sektor lain-lain sebesar 26 persen dan sektor pertanian sebesar 18 persen. Sektor konstruksi juga merupakan salah satu sektor ekonomi yang mendapat kucuran kredit baru pada triwulan II, yakni diberikan oleh 5 kantor bank (lihat grafik 1). 77

Perkembangan Perbankan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 78

Perkembangan Keuangan Daerah 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 4.1. Realisasi APBD 2007 Berdasarkan data yang diperoleh dari Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan, realisasi penerimaan Propinsi Sumatera Selatan tahun 2007 telah mencapai lebih dari 50 persen. Sedangkan realisasi belanja pemerintah cukup tinggi yakni sebesar 91,03 persen. Realisasi penerimaan pemerintah Tabel 4.1 Perbandingan Ralisasi APBD Sumsel pada tahun 2007 mencapai 94,46 persen, TA.2006 dan TA.2007 (Rp Miliar) kondisi tersebut lebih rendah jika TA. 2006 TA. 2007 Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % dibandingkan dengan realisasi Penerimaan 1,602.86 9,405.39 586.79 2,241.04 2,135.83 95.31 PAD 619.28 1,089.68 175.959 897.16 847.97 94.52 penerimaan pada tahun sebelumnya yang Dana 983.58 8,257.61 839.544 1,335.85 1,280.90 95.89 Perimbangan tercatat sebesar 586,79 persen. Realisasi Lain-lain - 58.10-8.04 6.96 86.62 Belanja 1,580.36 8,664.77 548.278 2,557.66 2,328.23 91.03 Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Pembiayaan 22.50 0 296.60 192.40 64.87 94,52 persen, lebih rendah jika Surplus/Defisit 0 740.62 - - - - Sumber : Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan, diolah dibandingkan dengan tahun 2006 yang tercatat sebesar 175,96 persen. Realisasi Dana Perimbangan tercatat sebesar 95,89 persen, juga lebih rendah bila dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 839,54 persen. Satu hal yang menarik adalah, bahwa pencapaian retribusi daerah mencapai 111,18 persen dari rencana anggaran di awal tahun, tetapi jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya. Realisasi lain-lain PAD yang sah mencapai 63,70 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya yang mencapai 565,99 persen. Besarnya realisasi PAD maupun PAD lainnya yang sah menunjukkan kinerja yang baik dari pemerintah daerah dalam mengatur sumber PAD nya. Realisasi Dana Perimbangan telah mencapai 95,89 persen dengan realisasi Dana Alokasi umum (DAU) yang telah mencapai 100 persen. Adapun realisasi dana bagi hasil pajak/bukan pajak yang mencapai 93,34 persen. 79

Perkembangan Keuangan Daerah No Tabel 4.2 Realisasi APBD Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 Uraian Anggaran (Juta Rp) Realisasi Thn 2007 (Juta Rp) 1 Pendapatan 2,261,060 2,135,832 94.46 1.1 PAD 897,156 847,971 94.52 - Pajak Daerah 769,431 748,373 97.26 - Retribusi Daerah 10,211 11,353 111.19 - Lain-lain PAD Yang Sah 86,755 55,267 63.70 - Hasil Pengelolaan Yang Dipisahkan 30,759 32,977 107.21 1.2 Pendapatan Transfer 1,355,864 1,280,898 94.47 1.2.1. Dana Perimbangan 1,335,864 1,280,898 95.89 - Bagi Hasil Pjk/ Non Pajak 825,667 770,701 93.34 - DAU 510,197 510,197 100.00 1.2.2. Transfer Pemerintah Pusat 20,000 0 0.00 1.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 8,040 6,964 86.62 - Pendapatan Hibah 8,040 6,964 86.62 2 Belanja 2,557,656 2,328,232 91.03 Belanja Operasi 1,136,975 967,655 85.11 Belanja Modal 1,038,506 984,280 94.78 Belanja Tidak Terduga 6,250 3,686 58.98 Transfer 375,926 372,612 99.12 Surplus/Defisit -296,596-192,400 64.87 3 Pembiayaan 296,596 293,862 99.08 - Penerimaan Daerah 337,896 337,302 99.82 - Pengeluaran Daerah 41,300 43,440 105.18 Sumber : Diolah dari data Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan (%) Realisasi belanja Pemprop Sumsel tahun 2007 berada diatas rata-rata realisasi penerimaan. Realisasi belanja Pemprop Sumsel tercatat sebesar 91,03 persen dengan realisasi belanja terbesar pada belanja hibah dan belanja bantuan keuangan yang mencapai 100 persen. Realisasi belanja pemerintah Sumsel pada tahun 2007 ini tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi belanja pada semester yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 548,28 persen. 80

Perkembangan Keuangan Daerah Grafik 4.1 Perbandingan Anggaran & Realisasi APBD Tahun 2007 Propinsi Sumatera Selatan Grafik 4.2 Rasio Realisasi Sumber Pembiayaan APBD Tahun 2007 Propinsi Sumatera Selatan 2800 2400 36.42% Rp Miliar 2000 1600 1200 800 400 8.26% 0.30% 0 Pendapatan PAD Dana Perimbangan Realisasi 2007 APBD 2007 Belanja PAD Lain-lain 55.02% Dana Perimbangan Pembiayaan Sumber : Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan Sumber : Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan Sumber pembiayaan untuk kegiatan operasional Pemerintah Propinsi Sumsel sebagian besar bersumber dari dana perimbangan yang mencapai 55,02 persen dari total belanja yang diperlukan. PAD Propinsi Sumsel yang mencapai Rp847,97 miliar tercatat menyumbang 36,42 persen sumber pembiayaan belanja daerah. Dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya, pangsa PAD sebagai sumber pembiayaan tercatat mengalami peningkatan. Pada realisasi APBD tahun lalu, PAD tercatat hanya menyumbang 11,59 persen dari pembiayaan APBD Sumsel, sedangkan dana perimbangan tercatat memiliki pangsa sebesar 87,80 persen dalam menyumbang pembiayaan APBD Sumsel. 4.2. Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Pajak (DBH Pajak) adalah bagian dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara Pusat dan Daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara Pemerintah Pusat dan Daerah penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan (nasional). 81

Perkembangan Keuangan Daerah Grafik 4.3 Pangsa DBH Pajak Prop. Sumatera Selatan 81.80% 10.26% PBB BPHTB PPH OP 7.95% Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan DBH Pajak total yang diterima oleh Propinsi Sumsel pada tahun 2007 adalah sebesar Rp1,27 triliun yang terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar Rp1,04 triliun, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar Rp0,10 triliun, dan Pajak Penghasilan atas Orang Pribadi (PPHOP) sebesar 0,13 triliun. Berdasarkan wilayah kabupaten/kota penerimanya, Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebagai wilayah yang menerima Dana Bagi Hasil Pajak terbesar yakni sebesar Rp190,07 miliar atau dengan pangsa sebesar 15%, disusul kemudian oleh Kabupaten Muara Enim dengan pangsa sebesar 8,32 persen. Kota Palembang sendiri tercatat menerima DBH sebesar Rp95,23 miliar atau dengan pangsa sebesar 7,52 persen. Grafik 4.4 Pembagian DBH Pajak Berdasarkan Wilayah Rp Miliar 300 250 200 150 100 50 0 Propinsi Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kota Prabumulih Kab. Banyuasin Kab. Ogan Ilir Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan 25% 20% 15% 10% 5% 0% Nominal DBH Persentase DBH Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 4.3. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) bagian dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara Pusat dan Daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara Pemerintah Pusat dan Daerah penghasil, dari sebagian penerimaan sumber daya alam. 82

Perkembangan Keuangan Daerah DBH SDA total yang diterima oleh Propinsi Sumsel pada tahun 2007 adalah sebesar Rp2,23 triliun Grafik 4.5 Pangsa DBH SDA Propinsi Sumatera Selatan 93.24% yang terdiri dari DBH Migas sebesar Rp2,08 triliun, DBH Kehutanan sebesar Rp51,74 miliar, DBH Pertambangan Umum sebesar Rp92,56 miliar, dan DBH Perikanan sebesar 6,36 miliar. 0.29% 2.32% 4.15% Migas Kehutanan Pertambangan Umum Perikanan Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Berdasarkan wilayah kabupaten/kota penerima, Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebagai wilayah yang menerima Dana Bagi Hasil SDA terbesar yakni sebesar Rp747,36 miliar atau dengan pangsa sebesar 33,52 persen, disusul kemudian oleh Kabupaten Musi Rawas dengan pangsa sebesar 4,91 persen. Kota Palembang sendiri tercatat menerima DBH SDA sebesar Rp68,79 miliar atau dengan pangsa sebesar 3,09 persen. Grafik 4.6 Pembagian DBH SDA Berdasarkan Wilayah Rp Miliar 800 700 600 500 400 300 200 100 - Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kota Prabumulih Kab. Banyuasin Kab. Ogan Ilir Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Bagian Provinsi 40% 35% 30% 25% 20% 15% 10% 5% 0% Nominal DBH SDA Persentase DBH SDA Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 83

Perkembangan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 84

Perkembangan Sistem Pembayaran 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 5.1. Perkembangan Kliring Perputaran kliring di Sumsel pada Tw-II menunjukkan peningkatan dari segi jumlah warkat maupun nominalnya baik secara tahunan maupun triwulanan. Jumlah warkat yang dikliringkan tercatat sebanyak 193.385 lembar dengan nominal sebesar Rp6,82 triliun. Secara tahunan, volume warkat meningkat 30,31 persen dibanding triwulan II 2007 yang tercatat sebanyak 148.396 lembar dan secara nominal meningkat 43,50 persen dari sebesar Rp4,8 triliun (yoy). Grafik 5.1 Perkembangan Perputaran Kliring Sumsel Ribu Lembar 250 200 150 100 50 0 4.75 148.40 Tw II 5.34 5.67 178.62 168.76 Tw III Lembar (axis kiri) Tw IV 6.82 6.04 193.39 184.74 Tw I 2007 2008 Tw II Nilai (axis kanan) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Rp Triliun Secara triwulanan (qtq) terjadi peningkatan volume warkat sebesar 4,68 persen dari sebanyak 184.740 lembar dan berdasarkan nilai nominalnya meningkat 12,86 persen dari sebesar Rp6,04 triliun. Sementara cek/bilyet giro (BG) kosong tercatat sebanyak 1.731 lembar yang dikliringkan dengan nilai nominal sebesar Rp63,88 miliar. Angka tersebut dilihat dari jumlah warkat dan nilai nominalnya mengalami peningkatan baik secara tahunan maupun triwulanan. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) jumlah warkat cek/bg kosong naik sebesar 85,13 persen dari sebanyak 935 lembar, sedangkan dari sisi nominal tercatat meningkat sebesar 248,54 persen dari sebesar Rp18,33 miliar. Secara triwulanan, jumlah cek/bg kosong yang dikliringkan meningkat sebesar 8,94 persen dari sebanyak 1.589 dan dari sisi nominal meningkat sebesar 29,81 persen dari sebesar Rp49,21 miliar pada Tw-II 2008. 85

Perkembangan Sistem Pembayaran Tabel 5.1 Perputaran Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong Propinsi Sumatera Selatan Ketarangan 2007 2008 II III IV I II Perputaran Kliring 1. Lembar Warkat 148.396 168.762 178.62 184.74 193.385 2. Nominal (Triliun Rp) 4,75 5,34 5,67 6,04 6,82 Cek/Bilyet Giro Kosong 1. Lembar Warkat 935 1.225 1.705 1.589 1.731 2. Nominal (Miliar Rp) 18,33 45,07 50,90 49,21 63,88 Secara bulanan, aktivitas kliring tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan jumlah warkat sebanyak 65.850 lembar dan nilai nominal sebesar Rp2,36 triliun. Pada bulan April tercatat sebanyak 63.871 lembar senilai Rp2,21 triliun dan bulan Mei sebanyak 63.664 lembar senilai Rp2,3 triliun. Sementara dari jumlah cek/bilyet giro kosong, aktivitas perputaran warkat maupun nominal tertinggi terjadi pada bulan Juni yakni sebanyak 644 lembar senilai Rp25,18 miliar. Pada bulan April tercatat sebanyak 528 lembar senilai Rp19,50 miliar dan bulan Mei sebanyak 559 lembar senilai Rp19,20 miliar. 5.2. Perkembangan Perkasan Kegiatan perkasan di Sumsel pada Tw-II mencatat inflow sebesar Rp0,99 triliun, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan triwulan II 2007 (yoy) yang tercatat sebesar Rp0,33 triliun. Namun apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) menunjukkan penurunan sebesar 9,66 persen dari sebesar Rp1,09 triliun. Pada periode yang sama, outflow tercatat sebesar Rp2,69 triliun atau meningkat sebesar 17,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar Rp2,28 triliun. Demikian pula apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) tercatat mengalami peningkatan sebesar 90,49 persen dari sebesar Rp1,41 triliun pada triwulan I 2008. Dengan melihat angka inflow dan outflow, net-outflow selama triwulan II 2008 tercatat sebesar Rp1,70 triliun, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat mengalami netoutflow sebesar Rp1,95 triliun. Namun demikian net-outflow triwulan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 330,03 miliar. 86

Perkembangan Sistem Pembayaran Tabel 5.2 Kegiatan Perkasan di Sumsel (Rp Miliar) Keterangan 2007 2008 II III IV I II Inflow 332,17 687,22 1.176,09 1.092,3 986,83 Outflow 2.283,92 1.194,42 2.848,48 1.414,1 2.693,78 Net Outflow 1.951,75 507,20 1.072,39 321,80 1.706,94 Sama halnya dengan dinamika sistem pembayaran non tunai, peningkatan kegiatan perkasan merupakan salah satu indikator peningkatan kegiatan ekonomi. Tingginya aktivitas perkasan maupun kliring pada triwulan ini selain terkait dengan kenaikan harga barang juga bersamaan dengan saat libur sekolah dan persiapan Grafik 5.2 Perkembangan Kegiatan Perkasan Sumsel 2007-2008 Rp Triliun 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 - (0.50) Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2007 2008 Outflow Inflow Net Outflow menjelang tahun ajaran baru. Terkait dengan uang palsu, berdasarkan laporan dari perbankan dan masyarakat terdapat beberapa temuan uang palsu namun secara kuantitas masih tergolong rendah. Besarnya rasio uang palsu dengan uang yang masuk ke Bank Indonesia sebesar 0,0003 persen. Secara komposisi, seluruh uang palsu yang ditemukan dilaporkan oleh masyarakat. Berdasarkan komparasi rasio, rasio temuan uang palsu pada Tw-II meningkat bila dibandingkan dengan triwulan II 2007 maupun triwulan I 2008 yang masing-masing tercatat sebesar 0,00022 persen dan 0,00013 persen. Rendahnya rasio angka temuan uang palsu tersebut merupakan salah satu indikator yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah lebih mengenal ciri-ciri keaslian rupiah. Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian rupiah, Bank Indonesia Palembang secara rutin melakukan sosialisasi baik kepada kalangan perbankan, akademisi dari tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, maupun ibu rumah tangga dengan harapan agar masyarakat dapat lebih waspada terhadap peredaran uang palsu. 87

Perkembangan Sistem Pembayaran Kegiatan sosialisasi meliputi bagaimana mengetahui ciri-ciri keaslian uang yang secara populer dapat dilakukan masyarakat melalui 3D (dilihat, diraba, diterawang). Kegiatan sosialisasi dilakukan baik di Kota Palembang maupun di kabupaten/kota lainnya. Selain itu untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan para kasir, Bank Indonesia secara rutin mengirimkan para kasir untuk memperdalam pengetahuan dalam penanganan tindak pidana pemalsuan uang. Bank Indonesia juga secara kooperatif membantu aparat hukum dalam penyelesaian proses perkara yang terkait dengan tindak pidana pemalsuan uang. 5.3. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Selain kegiatan perkasan yang dilaksanakan di Kota Palembang, di Sumsel juga terdapat kegiatan kas titipan yang dilaksanakan di Kota Lubuk Linggau. Kas titipan tersebut dilaksanakan mulai tahun 2005 yang ditandai dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bank Indonesia Palembang dengan PT. BRI Cabang Lubuk Linggau yang ditunjuk sebagai bank penyelenggara kas titipan. Pertimbangan penyelenggaraan kas titipan di Lubuk Linggau dilatarbelakangi oleh relatif tingginya kebutuhan terhadap uang kas serta jarak yang cukup jauh dari Kota Palembang sehingga menyulitkan distribusi uang kartal. Tabel 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) Keterangan 2007 2008 II III IV I II Inflow 266,54 296,13 442,28 438,66 546,64 Outflow 306 289,52 449,92 357,42 1.258,24 Net Outflow 39,46 (6,61) 7,64 (81,24) 711,60 Aktivitas kas titipan pada triwulan ini semakin meningkat. Hal ini terbukti pada tercatatnya inflow sebesar Rp546,64 miliar atau meningkat sebesar 105 persen persen dibandingkan triwulan II 2007 (yoy) yang tercatat sebesar Rp266,54 miliar, demikian pula apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) tercatat mengalami peningkatan sebesar 24,62 persen. Outflow tercatat sebesar Rp1.258,24 miliar atau meningkat sebesar 88

Perkembangan Sistem Pembayaran 311,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar Rp305,99 miliar. Sedangkan secara triwulanan (qtq) tercatat mengalami peningkatan sebesar 252,03 persen dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp357,42 miliar. Secara keseluruhan, pada Tw-II tercatat net-outflow sebesar Rp711,60 miliar, meningkat sebesar 1.703 persen dibanding triwulan II 2007 (yoy) yang tercatat sebesar Rp39,46 miliar. Grafik 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Secara Bulanan Tahun 2007-2008 750 Rp Miliar 250 (250) Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun (750) outflow inflow net inflow 89

Perkembangan Sistem Pembayaran Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 90

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 6 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 6.1. Ketenagakerjaan Kondisi ketenagakerjaan di Propinsi Sumsel masih tetap belum banyak menunjukkan perubahan yang berarti. Lambannya transformasi tenaga kerja dari sektor primer ke sektor sekunder, produktivitas tenaga kerja yang masih relatif rendah, serta pertumbuhan angkatan kerja yang lebih besar dari pertumbuhan lapangan kerja, menyebabkan pengangguran masih menjadi persoalan yang dilematis di Sumsel. Tabel 6.1 Banyaknya Pekerja per Sektor Ekonomi Triwulan II 2007 Triwulan II 2008 Tw-II 2007 SEKTOR Tw-III 2007 Tw-IV 2007 Tw-I 2008 Tw-II 2008 Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen 1. Pertanian 1.957.467 63,31 1.896.167 63,15 1.933.405 63,05 1.978.361 62,56 1.990.392 62.1 2. Pertambangan 24.353 0,76 23.473 0,74 22.453 0,73 25.639 0,81 26.589 0.83 3. Industri 136.006 3,74 154.879 3,72 113.422 3,70 132.342 4,19 143.634 4.48 4. Listrik, Gas dan Air 9.732 0,63 6.333 0,64 19.801 0,65 9.467 0,30 4.461 0.14 5. Kontruksi 99.619 2,68 97.571 2,66 81.094 2,64 108.761 3,44 118.024 3.68 6. Perdagangan 367.594 15,76 380.319 15,73 482.544 15,74 471.520 14,91 466.289 14.55 7. Transportasi 137.155 3,79 145.229 3,83 117.880 3,84 149.554 4,73 159.191 4.97 8. Lembaga Keuangan 17.615 0,59 24.502 0,61 18.780 0,61 19.910 0,63 19.327 0.6 9. Jasa 298.161 8,72 329.045 8,92 277.032 9,03 266.703 8,43 277.267 8,65 Jumlah 3.047.702 100,00 3.057.518 100,00 3.066.413 100,00 3.162.257 100,00 3.205.174 100,00 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Pada Tw-II jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 3.205.147 orang atau meningkat sebesar 1,36 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebanyak 3.162.257 orang. Peningkatan angkatan kerja tersebut selain terkait dengan peningkatan jumlah penduduk usia kerja, juga disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah penduduk yang menyelesaikan jenjang pendidikan yang ditempuh dan siap memasuki dunia kerja. Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut diiringi oleh sedikit peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 69,81 persen pada Tw-I 2008 menjadi 69,99 persen pada Tw-II 2008. 91

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Sementara itu, berdasarkan sektor ekonomi, distribusi sektoral menunjukkan bahwa konsentrasi tenaga kerja masih terdapat di sektor pertanian yang menyerap 62,10 persen tenaga kerja, meskipun angka ini sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 62,56 persen, namun tetap membuktikan bahwa sektor pertanian masih tetap menjadi tumpuan utama bagi sebagian besar masyarakat Sumatera Selatan. Selama beberapa periode terakhir, sektor pertanian masih tetap menjadi sektor yang mendominasi penyerapan tenaga kerja di Sumsel. Masih terbatasnya lapangan kerja sektor formal di luar sektor pertanian, menyebabkan masyarakat masih menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan karena tidak terlalu membutuhkan keterampilan dan pendidikan yang tinggi serta lebih fleksibel. Selain itu, masih tingginya harga-harga komoditas pertanian terutama tanaman perkebunan seperti karet, sawit, dan kopi menjadi daya tarik Grafik 6.1 Persentase Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan di Propinsi Sumsel Triwulan II 2008 Jasa-jasa Keuangan Pengangkutan Perdagangan Bangunan Listrik, Gas, dan Air Industri Pengolahan Pertambangan Pertanian Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan masyarakat untuk menggeluti sektor pertanian. Selain itu, kondisi cuaca yang cukup mendukung bagi sub sektor tanaman bahan makanan khususnya padi juga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menanam padi. Dari sektor sekunder, sektor industri pengolahan pada Tw-II ini menyerap tenaga kerja sebesar 4,48 persen, menurun dibanding triwulan sebelumnya 4,19 persen. Sementara sektor llistrik gas dan air mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja yakni dari 0,30 persen pada Tw-I 2008 menjadi 0,14 persen pada Tw-II 2008. Demikian pula dengan sektor bangunan yang pada Tw-II hanya mampu menyerap 3,68 persen tenaga kerja atau meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 3,44 persen. Penurunan penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan diantaranya terkait dengan kinerja sektor sekunder dalam menyerap 0.60 3.68 0.14 4.48 0.83 8.65 4.97 14.55 62.10 92

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan tenaga kerja belum dapat diharapkan karena belum banyaknya realisasi pembangunan proyek infrastruktur yang didanai oleh pemerintah yang bersifat padat karya. Sama halnya dengan penyerapan tenaga kerja pada sektor sekunder, kinerja penyerapan tenaga kerja pada sektor tersier juga mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu besar, terutama pada sektor transportasi dan sektor jasa-jasa. Sektor transportasi dan komunikasi sedikit meningkat dari 4,73 persen pada Tw-I 2007 menjadi 4,97 persen, sedangkan sektor jasa-jasa meningkat menjadi 8,65 persen dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,43 persen. Sektor perdagangan tercatat menyerap 14,55 persen tenaga kerja atau sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 14,91 persen. Melihat perkembangan kinerja lapangan pekerjaan dalam penyerapan tenaga kerja sampai dengan Tw-II ini dapat disimpulkan bahwa daya serap tenaga kerja sektoral masih belum mengalami perubahan dan transformasi tenaga kerja dapat dikatakan masih berjalan di tempat. Ke depan, upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan ini perlu menjadi perhatian agar tidak menimbulkan permasalahan sosial yang lebih besar lagi. 6.2. Pengangguran Masalah pengangguran merupakan masalah yang melekat pada aspek ketenagakerjaan. Penduduk yang menganggur a d a l a h p e n d u d u k y a n g sedang mencari pekerjaan ditambah penduduk yang sedang mempersiapkan usaha (tidak bekerja), yang mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, serta yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Tabel 6.2 Tingkat Pengangguran di Propinsi Sumsel Tahun 2007 2008 (persen) Tingkat 2007 2008 Pengangguran Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II **) Pengangguran Terbuka (%) 9,87 9,34 9,34 8,45 8,05 Setengah Pengangguran (%) 38,84 38,53 38,54 37,65 37,19 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Dari tahun 2007 hingga saat ini tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami fluktuasi. Tingkat pengangguran terbuka pada Tw-I 2008 tercatat sebesar 8,45 persen dan mengalami penurunan pada Tw-II menjadi 8,05 persen. 93

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Seperti halnya TPT, tingkat setengah pengangguran juga mengalami sedikit penurunan. Tingkat pengangguran pada Tw-I 2008 sebesar 37,65 menjadi 37,19 pada Tw-II 2008. Penurunan pada tingkat pengangguran merupakan dampak dari terjadinya kenaikan pada jumlah orang yang bekerja walaupun peningkatan yang terjadi tidak begitu besar. Walaupun demikian, pembukaan lapangan kerja diberbagai sektor ekonomi masih diperlukan, terlebih lagi lapangan kerja yang padat karya. Grafik 6.2 Persentase Pengangguran Terselubung (Setengah Pengangguran) Menurut Lapangan Pekerjaan di Propinsi Sumsel Triwulan II 2008 Listrik, Gas, dan Air Industri Pengolahan S u m Jasa-jasa Keuangan Pengangkutan Perdagangan Bangunan Pertambangan Pertanian 0.08 0.48 0.42 0.13 1.51 0.12 5.68 4.82 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 46.65 Berdasarkan sektor ekonominya, persentase tingkat setengah pengangguran terbesar terjadi pada sektor pertanian yakni sebesar 46,65 persen terkait dengan karakteristik sektor pertanian yang sangat dipengaruhi oleh musim sehingga beban kerjanya juga mengikuti siklus musim. Jumlah jam kerja normal dan di atas normal lebih banyak terdapat pada lapangan pekerjaan yang banyak kegiatan formalnya seperti pertambangan, industri, listrik, gas dan air, keuangan, konstruksi, serta transportasi dan komunikasi. Pada sektor transportasi, meskipun di dalamnya banyak terdapat kegiatan yang informal namun pada umumnya kegiatan di sektor ini membutuhkan jam kerja yang lama. Sebaliknya, terdapat pula sektorsektor yang secara umum mempekerjakan tenaga kerja dengan jam kerja di atas normal, seperti sektor pertambangan, sektor industri, sektor listrik gas dan air bersih, sektor keuangan, sektor transportasi dan komunikasi. 94

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Seperti triwulan sebelumnya, masih terbatasnya lapangan pekerjaan tersebut juga seiring dengan konfirmasi yang diperoleh dari hasil survei konsumen yang diselenggarakan di kota Palembang. Dari hasil survei tersebut, konsumen rumah tangga menengah ke atas yang menjadi responden survei merasa semakin pesimis dengan ketersediaan lapangan kerja walaupun sempat terjadi sedikit kenaikkan pada bulan Mei tetapi kembali mengalami 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Grafik 6.3 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini 72 69 61 58 62 63 64 88 79 73 95 83 80 67 64 63 53 55 Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni 2007 2008 penurunan pada bulan Juni, yaitu dari 63 menjadi 55. 6.3. Pendapatan per Kapita Pendapatan regional per kapita atas dasar harga berlaku (dengan migas) Propinsi Sumatera Selatan tercatat sebesar Rp4.050.657 atau meningkat sebesar 9,71 persen dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar Rp3.692.181. Namun jika tanpa memperhitungkan komponen migas, pendapatan per kapita meningkat sebesar 7,96 persen yaitu dari Rp2.414.467 menjadi Rp2.606.623. Tabel 6.3 Pendapatan Per Kapita Propinsi Sumsel Tahun 2007-2008 Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan Tahun 2000 (Rupiah) PDRB 2007 *) 2008 **) II III IV I II Harga Berlaku Dengan migas 3.173.562 3.461.178 3.656.596 3.692.181 4.050.657 Tanpa migas 2.175.160 2.410.544 2.385.407 2.414.467 2.606.623 Harga Konstan Dengan migas 1.638.793 1.729.570 1.680.196 1.668.895 1.698.719 Tanpa migas 1.239.127 1.335.388 1.278.896 1.274.409 1.303.124 Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan 95

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Dengan mengeliminasi faktor harga, maka akan didapat besaran pendapatan perkapita atas dasar konstan 2000 (dengan migas). Pada Tw-II, pendapatan perkapita atas dasar harga konstan 2000 (dengan migas) mencapai Rp1.698.719. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,79 persen dibanding dengan Tw-I 2008 yang mencapai Rp1.668.895. Sementara itu, pendapatan per kapita regional atas dasar konstan tanpa migas juga mengalami peningkatan sebesar 2,25 persen dari Rp1.274.409 menjadi Rp1.303.124. Indeks Grafik 6.4 Indeks Penghasilan Saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu 160 140 120 100 80 60 40 20 0 135 136141 125 132 134 126125 128 131 121 125124121 121 113 109 114 Jan FebMar Apr Mei Juni Juli Agust SepOkt Nov DesJan Feb MarApr May Jun Berdasarkan hasil survei konsumen yang secara bulanan dilakukan oleh Bank Indonesia Palembang terhadap konsumen rumah tangga, meskipun konsumen masih memandang optimis terhadap pendapatan yang diterimanya baik pada masa sekarang maupun ekspektasi- nya di masa mendatang namun optimisme tersebut mengalami penurunan yang tercermin dari indeks penghasilan saat ini sebesar 121 pada bulan Mei menjadi 114 pada bulan Juni. 6.4. Jumlah Penduduk Miskin Sumsel Walaupun Propinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu propinsi yang kaya di Indonesia, tetapi jumlah penduduk miskin di Sumatera Selatan termasuk tinggi. Jumlah penduduk miskin tertinggi di Propinsi Sumatera Selatan terdapat di Kabupaten Musi Banyuasin, yaitu sebanyak 165.600 orang, sedangkan jumlah penduduk miskin terendah adalah di Kota Prabumulih yaitu sebanyak 10.000 orang (data tahun 2007). Adapun jumlah penduduk miskin di Sumsel pada tahun 2008 (posisi Maret 2008) tercatat sebanyak 1.249.600 jiwa atau sebesar 17,73 persen. 96

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Tabel 6.4 Jumlah Penduduk Miskin Sumsel Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2004-2007 No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Miskin (dalam ribuan) 2004 2005 2006 2007 1. OKU 201,4 45,2 46,1 40,6 2. OKI 218,9 161,6 174,1 152,7 3. Muaraenim 138,3 140,3 140,7 128,5 4. Lahat 160,2 162,6 163,1 94,9 5. Musi Rawas 164 166,4 166,9 160,3 6. Musi Banyuasin 164,4 171,3 171,8 165,6 7. Banyuasin 147,3 149,5 149,9 136,8 8. OKU Selatan - 58,8 67,8 61,2 9. OKU Timur - 102,8 103,1 90,7 10. Ogan Ilir - 85,5 82,7 79,6 11. Empat Lawang - - - 49,7 12. Palembang 124,1 125,9 126,3 124,4 13. Prabumulih 15,8 15,5 12,3 10 14. Pagaralam 16,9 15,2 13,7 11,2 15. Lubuklinggau 28 28,4 28,5 25,6 Sumsel 1.379 1.429 1.446,9 1.331,8 Sumber : Sakernas BPS 6.5. Nilai Tukar Petani (NTP) Nilai tukar petani merupakan indikator untuk menunjukkan kemampuan daya beli petani. Perkembangan nilai tukar petani selama Juni 2007 sampai Mei 2008 cukup fluktuatif. Nilai tukar petani pada Tw-II 2008 (Mei 2008) mengalami penurunan dari Tw-I 2008 yaitu dari sebesar 105,17 menjadi sebesar 102,39. Penurunan nilai tukar terjadi karena kenaikkan indeks harga yang dibayar petani melebihi kenaikan indeks harga yang diterima petani. Indeks yang diterima petani mengalami penurunan dari 113,32 pada triwulan sebelumnya menjadi 110,37, sedangkan Indeks yang Dibayar Petani mengalami kenaikan dari 105,85 menjadi 107,80. Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani mengalami peningkatan dari 106,6 menjadi 108,32. Konsumsi paling besar terjadi pada konsumsi untuk pendidikan, rekreasi dan olah raga yang indeksnya mencapai 118,1. Konsumsi terendah petani ada pada sektor transportasi dan komunikasi yang terlihat dari indeksnya sebesar 99,44. 97

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Grafik 6.5 Indeks Harga yang Diterima, Indeks Harga yang Dibayar dan Nilai Tukar Petani Indeks 114 112 110 108 106 104 102 100 98 96 94 112.1 111.32 108.4 110.37 108.22 107.29 107.8 106.92 105.85 104.17 104.85 103.89 105.17 102.39 101.03 Jan Feb Mar Apr Mei 2008 Indeks Diterima Petani Indeks Dibayar Petani Nilai Tukar Petani Sumber : BPS Propinsi Sumsel Tabel 6.5 Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan Jan-Mei 2008 serta Persentase Perubahannya Sektor, Kelompok dan Sub Kelompok Jan Feb Mar Apr Mei % Feb thd Jan % Mar thd Feb % Apr thd Mar % Mei thd Apr Konsumsi Rumah Tangga 104.14 105.2 106.6 107.64 108.3 1.06 1.29 0.97 0.63 1. Bahan Makanan 102.62 103.9 105.4 106.29 107.5 1.28 1.40 0.85 1.11 2. Makanan Jadi 103.77 104.1 106.1 106.74 106.7 0.27 1.93 0.64 0 3. Perumahan 102.75 105.0 105.3 107.40 108.3 2.15 0.33 1.98 0.80 4. Sandang 111.10 111.4 116.1 117.04 116.0 0.30 4.17 0.83-0.86 5. Kesehatan 107.74 109.1 109.2 112.60 112.9 1.28 0.11 3.08 0.25 6. Pendidikan,Rekreasi dan Olahraga 116.77 119.1 118.1 118.04 118.0 1.97-0.81-0.06 0 7. Transportasi dan Komunikasi 100.29 99.5 99.44 100.37 100.6 0.79-0.07 0.94 0.21 Sumber : BPS Propinsi Sumsel Biaya produksi dan penambahan modal petani mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari indeks biaya produksi dan penambahan modal dari sebesar 103,62 menjadi 106,51. Peningkatan pengeluaran petani dalam proses produksi paling besar terjadi pada pembelian bibit yang naik 20 persen dari 95.22 menjadi 114.24. Petani tidak mengalami penambahan barang modal, hal ini terlihat dari indeks penambahan barang modal yang menurun, yaitu dari sebesar 103,84 menjadi 103,83. 98

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Tabel 6.6 Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani Sektor,Kelompok dan Sub Kelompok Jan Feb Mar Apr Mei % Feb thd Jan % Mar thd Feb % Apr thd Mar % Mei thd Apr Biaya Produksi dan Penambahan Modal 103.22 103.7 103.6 106.25 106.5 0.46-0.07 2.54 0.24 1. Bibit 97.09 98.05 95.22 115.98 114.2 0.98-2.89 21.8-1.5 2. Obat-obatan dan pupuk 100.07 101.1 101.3 101.88 104.1 1.05 0.2 0.56 2.16 3. Sewa lahan, pajak dan lainnya 104.94 104.9 104.9 104.95 105.1-0.02 0 0.02 0.18 4. Transportasi 102.42 102.7 99.11 107.78 107.9 0.24-3.46 8.75 0.13 5. Penambahan barang modal 102.68 102.9 103.8 103.83 103.8 0.22 0.91-0.01 0.01 6. Upah buruh tani 107.92 108.2 109 108.9 109 0.28 0.71-0.09 0.13 6.6. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah wilayah adalah wilayah maju, wilayah berkembang atau wilayah terbelakang, serta untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Pada tahun 2005, dari 30 propinsi yang diukur IPM-nya, Propinsi Sumsel menempati peringkat IPM nomor 13 dengan nilai IPM sebesar 70,2. Nilai tersebut sebagai akumulasi dari angka harapan hidup yang mencapai 68,3 tahun dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan sebesar Rp 610.300. Di bidang pendidikan, rata-rata lama sekolah yang merepresentasikan tingkat pendidikan di Sumsel tergolong moderat, rata-rata lama sekolah penduduk Sumsel pada tahun 2005 tercatat sebesar 7,5 tahun. Namun satu hal yang menggembirakan adalah pendidikan telah cukup dinikmati secara merata oleh penduduk Sumsel yang dibuktikan dengan persentase angka melek huruf yang mencapai 95,90 persen. Berdasarkan penilaian per wilayah kabupaten/kota, kota Palembang sebagai ibu kota Propinsi tercatat memiliki peringkat IPM paling tinggi di Sumsel atau secara nasional menempati ranking IPM ke-59 dengan IPM sebesar 73,6. Sedangkan wilayah yang memiliki IPM terendah di Sumsel yaitu kabupaten Musi Rawas yang menempati peringkat ke-367 dengan IPM sebesar 65,00. 99

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Tabel 6.7 IPM 2005 Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan No Kabupaten/Kota Angka Harapan Hidup (tahun) Angka Melek Huruf (persen) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Pengeluaran per kapita riil disesuaikan (Rp. 000) IPM Peringkat Nasional 1 Kota Palembang 69.90 97.70 9.70 616.80 73.60 59 2 Kota Prabumulih 70.00 97.70 8.30 597.10 71.10 132 3 Ogan Komering Ulu 68.80 95.10 7.00 610.50 69.90 172 4 Kota Pagar Alam 69.20 97.20 8.00 591.50 69.90 173 5 OKU Selatan 68.90 93.70 6.90 599.60 68.80 219 6 Ogan Komering Ilir 66.90 94.70 6.70 613.20 68.80 221 7 Musi Banyuasin 68.70 95.90 6.80 594.90 68.70 223 8 Muara Enim 66.60 98.80 7.30 596.40 68.70 228 9 Lahat 66.80 96.00 7.10 590.60 67.60 271 10 Banyuasin 66.60 93.50 7.00 595.40 67.20 289 11 Kota Lubuk Linggau 64.70 95.00 7.60 587.40 66.30 325 12 Ogan Ilir 64.80 94.20 6.60 595.00 66.00 334 13 OKU Timur 67.80 91.20 6.50 573.90 65.40 357 14 Musi Rawas 63.20 95.50 6.90 587.10 65.00 367 Sumber : BPS Propinsi Sumsel 100

Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah 7 PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH 7.1. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan masih tetap tergantung sektor primer terutama sektor pertanian yang sangat dipengaruhi oleh faktor musiman. Pada triwulan III diperkirakan kinerja sektor pertanian akan mengalami peningkatan dibanding dengan Tw-II terkait dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan. Harga karet di pasar dunia yang masih terus meningkat juga berdampak positif terhadap pendapatan petani. Disamping itu, sawit juga diperkirakan akan meningkat produktivitasnya yang disebabkan selain karena terdorong oleh harga CPO di pasar dunia yang tinggi juga karena peningkatan produksi sebagai akibat dari perluasan lahan dan peremajaan tanaman sawit. Sub sektor perikanan diperkirakan juga akan meningkat kinerjanya terkait dengan kondisi cuaca yang cukup kondusif untuk kegiatan penangkapan ikan. Selain sektor pertanian, sektor lain yang diperkirakan meningkat adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) dimana pada bulan Juli merupakan salah satu puncak bagi tingkat hunian hotel di Palembang. Sektor perdagangan juga diperkirakan akan meningkat terkait dengan bulan Ramadhan yang bertepatan pada awal September 2008. Tabel 7.1 Leading Economic Indicator Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Pada Tw III 2008 Sektor/Sub Sektor Produksi Harga Penjualan/Ekspor Pertanian a. Tanaman bahan makanan - + + b. Perkebunan ++ ++ ++ Industri Pengolahan ++ + + Pertambangan a. Pertambangan migas 0 +++ + b. Pertambangan non migas 0 ++ 0 Bangunan 0 + PHR a. Perdagangan eceran ++ + ++ b. Hotel 0 + + Transportasi a. Transportasi 0 ++ ++ Keterangan +++ Sangat Baik - Cukup Buruk ++ Baik -- Buruk + Cukup Baik --- Sangat Buruk 0 Normal 0 Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha KBI Palembang 101

Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah Namun demikian, kondisi iklim pada masa sekarang yang sulit diprediksi sebagai dampak dari pemanasan global harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Dengan asumsi bahwa kondisi iklim pada triwulan III 2008 tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya serta sesuai dengan karakteristik siklikal pertumbuhan ekonomi Sumsel, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada Tw-III diperkirakan akan tumbuh positif. Berdasarkan proyeksi dan mempertimbangkan kondisi ekonomi terkini, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan III 2008 akan berada pada kisaran 3,52 ± 0,5 persen atau secara triwulanan (qtq) diperkirakan tumbuh sebesar 4,37 ± 0,5 persen. Angka proyeksi pertumbuhan triwulanan didasarkan pada beberapa asumsi yakni realisasi belanja pemerintah daerah yang semakin besar, meningkatnya pendapatan masyarakat terkait rapel gaji PNS di bulan Juli walaupun masih dipengaruhi oleh tingginya harga barang dan jasa domestik menjelang Idul Fitri. 7.2. Inflasi Mempertimbangkan kondisi perekonomian terkini dan pergerakan harga barang dan jasa, perkembangan inflasi pada triwulan mendatang diperkirakan akan berada pada level yang moderat dan meningkat terkait dengan masih terasanya dampak kenaikan BBM dan menjelang bulan Ramadhan. Tekanan inflasi diperkirakan akan berasal dari kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, serta kelompok sandang. Kelompok bahan makanan diperkirakan masih tetap menjadi pemicu inflasi terkait dengan kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti beras, kedelai, tepung terigu, serta minyak goreng meskipun kenaikannya lebih rendah dibandingkan kenaikan pada Tw-II. Inflasi tahunan pada triwulan III 2008 diproyeksikan masih berada pada level double digit. Hal yang masih perlu diwaspadai hingga saat ini adalah ketersediaan pasokan barang dan jasa, faktor distribusi, dan lonjakan permintaan terhadap komoditas tertentu. Berdasarkan proyeksi dan dengan mempertimbangkan perkembangan harga serta determinan utama inflasi di Sumatera Selatan, maka tekanan inflasi triwulanan (qtq) diperkirakan akan mencapai 4,90 ± 0,5 persen. 102

Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah Grafik 7.1 Perbandingan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Persentase Responden Yang Memperkirakan Peningkatan Harga 3 Bulan Yang Akan Datang Indeks 140 120 100 80 60 40 20 0 Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni 2007 2008 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Persen IEK % responden yg memperkirakan peningkatan harga di 3 bulan mendatang 7.3. Perbankan Berdasarkan rencana bisnis perbankan, kinerja perbankan pada Tw-III diperkirakan akan mengalami peningkatan baik dari penghimpunan dana pihak ketiga maupun penyaluran kredit. Hasil Survei Kredit Perbankan yang dilakukan di Sumatera Selatan mengkonfirmasi hal tersebut. Permintaan kredit pada triwulan mendatang diperkirakan akan meningkat meskipun masih dalam kisaran yang tidak terlalu tinggi (1-10 persen). Berdasarkan jenis penggunaannya, mayoritas kredit/pembiayaan terutama masih ditujukan untuk modal kerja, diikuti dengan konsumsi dan investasi. Peluang penyaluran kredit masih terbuka, dan diperkirakan akan terus meningkat terkait dengan peningkatan permintaan masyarakat. Selain penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga melalui giro, deposito dan tabungan juga diperkirakan akan meningkat pada kisaran 1 10 persen. Meningkatnya BI Rate sebagai acuan penetapan suku bunga perbankan diperkirakan sebagai salah satu faktor penyebabnya. Dana pihak ketiga diperkirakan akan didominasi tabungan, diikuti deposito dan giro. Selain pelayanan yang ditawarkan dalam penghimpunan dana dan penyaluran kredit, fasilitas jasa perbankan yang ditawarkan, inovasi produk dan layanan berbasis teknologi diharapkan akan meningkatkan kinerja penghimpunan dana oleh perbankan ditengah persaingan dengan produk sekuritas dan alternatif investasi lain. Selain itu, tingkat suku bunga yang semakin rendah dan promosi dan layanan yang diberikan diharapkan akan meningkatkan penyaluran kredit/pembiayaan oleh perbankan. 103

Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 104

DAFTAR ISTILAH Mtm Qtq Yoy Share Of Growth Investasi Sektor ekonomi dominan Migas Omzet Share effect Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Harga Konsumen (IHK) Indeks Kondisi Ekonomi Indeks Ekspektasi Konsumen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Indeks Pembangunan Manusia APBD Andil inflasi Bobot inflasi Ekspor Impor Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya Quarter to quarter perbandingan antara data satu triwulan dengan triwulan sebelumnya Year on year. Perbandingan antara data satu tahun dengan tahun sebelumnya Kontribusi suatu sektor ekonomi terhadap total pertumbuhan PDRB Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan suatu kegiatan produksi melalui peningkatan modal Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan pada pembentukan PDRB secara keseluruhan Minyak dan Gas. Merupakan kelompok sektor industri yang mencakup industri minyak dan gas Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi Kontribusi pangsa sektor atau subsektor terhadap total PDRB Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Dengan skala 1-100 Sebuah indeks yang merupakan ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan skala 1-100 Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini, dengan skala 1-100 Pendapatan yang diperoleh dari aktifitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah Sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi daerah. Ukuran kualitas pembangunan manusia, yang diukur melalui pencapaian rata-rata 3 hal kualitas hidup, yaitu pendidikan, kesehatan, daya beli Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPR, dan ditetapkan dengan peraturan daerah Sumbangan perkembangan harga suatu komoditas/kelompok barang/kota terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan Besaran yang menunjukan pengaruh suatu komoditas, terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan, yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut Dalah keseluruhan barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil mau Seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil

PDRB atas dasar harga berlaku PDRB atas dasar harga konstan Bank Pemerintah Dana Pihak Ketiga (DPK) Loan to Deposits Ratio (LDR) Cash inflows Cash Outflows Penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian Merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya Bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI Simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito Rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun Jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu Jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu Net Cashflows Aktiva Produktif Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Kualitas Kredit Capital Adequacy Ratio (CAR) Financing to Deposit Ratio (FDR) Inflasi Kliring Kliring Debet Selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya Penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia(SBI), dan surat-surat berharga lainnya. Pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bamk berdasarkan risiko dari masing-masing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Rasio antara modal (modal inti dan modalpelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent) Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu Kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggara kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menagani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional

Non Performing Loans/Financing (NPLs/Ls) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) Rasio Non Performing Loans/Financing (NPLs/Fs) Rasio Non Performing Loans (NPLs) NET Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI) Kredit atau pembiayaan yang termasuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugia yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk, misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15 % dari jumlah Kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kedit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari totsl kredit macet (setelah dikurangi agunan) Rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs, gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ybs. Rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan penyisihan penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit Proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Sistem kliring bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.