Muhammad (NRP )

dokumen-dokumen yang mirip
Muhammad

STUDI ANALISIS RESIKO PADA PIPELINE OIL DAN GAS DENGAN METODE RISK ASSESMENT KENT MUHLBAUER DAN RISK BASED INSPECTION API REKOMENDASI 581

KAJIAN RESIKO PIPA GAS TRANSMISI PT PERTAMINA STUDI KASUS SIMPANG KM32-PALEMBANG

Tugas Akhir (MO )

PENDAHULUAN PERUMUSAN MASALAH. Bagaimana pengaruh interaksi antar korosi terhadap tegangan pada pipa?

4.1 INDENTIFIKASI SISTEM

1 BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SIDANG P3 TUGAS AKHIR JURUSAN TEKNIK KELAUTAN 28 JANUARI 2010

SIDANG P3 JULI 2010 ANALISA RESIKO PADA ELBOW PIPE AKIBAT INTERNAL CORROSION DENGAN METODE RBI. Arif Rahman H ( )

Tugas Akhir KL 40Z0 Penilaian Resiko Terhadap Pipa Bawah Laut Dengan Sistem Skoring BAB V PENUTUP

BAB IV PEMBAHASAN 2 1 A B C D E CONSEQUENCE CATEGORY. Keterangan : = HIGH = MEDIUM = MEDIUM HIGH = LOW

ANALISA DESAIN SISTEM SS IMPRESSED CURRENT CATHODIC PROTECTION (ICCP) PADA OFFSHORE PIPELINE MILIK JOB PERTAMINA PETROCHINA EAST JAVA

ANALISIS PENILAIAN RISIKO PADA FLOWLINE JALUR PIPA GAS DARI WELLHEAD MENUJU CENTRAL PROCESSING PLANT. (Studi Kasus : Industri Pengolahan Gas Alam)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UJIAN P3 TUGAS AKHIR 20 JULI 2010

RISK BASED MAINTENANCE (RBM) UNTUK NATURAL GAS PIPELINE PADA PERUSAHAAN X DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI AHP-INDEX MODEL

Penilaian Risiko dan Penjadwalan Inspeksi pada Pressure Vessel Gas Separation Unit dengan Metode Risk Based Inspection pada CPPG

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Analisis Remaining Life dan Penjadwalan Program Inspeksi pada Pressure Vessel dengan Menggunakan Metode Risk Based Inspection (RBI)

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB III DATA DESAIN DAN HASIL INSPEKSI

NAJA HIMAWAN

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

STUDI ANALISIS RESIKO PADA PIPELINE OIL DAN GAS DENGAN METODE RISK ASSESMENT KENT MUHLBAUER DAN RISK BASED INSPECTION API REKOMENDASI 581.

Non Destructive Testing

Perhitungan Teknis LITERATUR MULAI STUDI SELESAI. DATA LAPANGAN : -Data Onshore Pipeline -Data Lingkungan -Mapping Sector HASIL DESAIN

ANALISA PELETAKAN BOOSTER PUMP PADA ONSHORE PIPELINE JOB PPEJ (JOINT OPERATING BODY PERTAMINA PETROCHINA EAST JAVA)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1

PIPELINE STRESS ANALYSIS PADA ONSHORE DESIGN JALUR PIPA BARU DARI CENTRAL PROCESSING AREA(CPA) JOB -PPEJ KE PALANG STATION DENGAN PENDEKATAN CAESAR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Analisa Risiko dan Langkah Mitigasi pada Offshore Pipeline

BAB IV Pengaruh Parameter Desain, Kondisi Operasi dan Pihak Ketiga

Analisa Tegangan pada Pipa yang Memiliki Korosi Sumuran Berbentuk Limas dengan Variasi Kedalaman Korosi

ANALISA PROTEKSI KATODIK DENGAN MENGGUNAKAN ANODA TUMBAL PADA PIPA GAS BAWAH TANAH PT. PUPUK KALIMANTAN TIMUR DARI STASIUN KOMPRESSOR GAS KE KALTIM-2

Gambar 5. 1 Sistem Pipeline milik Vico Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Studi Aplikasi Metode Risk Based Inspection (RBI) Semi-Kuantitatif API 581 pada Production Separator

PENGARUH TEMPERATUR PADA COATING WRAPPING TAPE TERHADAP COATING BREAKDOWN

BAB IV DATA DAN ANALISIS

(Badan Geologi Kementrian ESDM, 2010)

BAB I PENDAHULUAN I. 1 LATAR BELAKANG

SKRIPSI PURBADI PUTRANTO DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 OLEH

ANALISA KEGAGALAN PIPA BAJA TAHAN KARAT 316L DI BANGUNAN LEPAS PANTAI PANGKAH-GRESIK

Tugas Akhir. Studi Corrosion Fatigue Pada Sambungan Las SMAW Baja API 5L Grade X65 Dengan Variasi Waktu Pencelupan Dalam Larutan HCl

BAB IV DATA SISTEM PIPELINE DAERAH PORONG

DESAIN DAN ANALISIS FREE SPAN PIPELINE

Bab 2 Tinjauan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk adalah perusahaan yang bergerak

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) 1

Bab 3 Data Operasi Sistem Perpipaan pada Topside Platform

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Moch. Novian Dermantoro NRP Dosen Pembimbing Ir. Muchtar Karokaro, M.Sc. NIP

RISK ASSESSMENT OF SUBSEA GAS PIPELINE PT. PERUSAHAAN GAS NEGARA Tbk.

Analisa Rancangan Pipe Support Sistem Perpipaan dari Pressure Vessel ke Air Condenser Berdasarkan Stress Analysis dengan Pendekatan CAESAR II

BAB I PENDAHULUAN. kini, misalnya industri gas dan pengilangan minyak. Salah satu cara untuk

PANDUAN PERHITUNGAN TEBAL PIPA

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISIS

Penilaian Risiko Dan Perencanaan Inspeksi Pipa Transmisi Gas Alam Cepu-Semarang Menggunakan Metode Risk Based Inspection Semi-Kuantitatif Api 581

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN

PENGARUH FAKTOR DESAIN, OPERASI DAN PIHAK KETIGA TERHADAP KATEGORI RESIKO PIPELINE. Dodi Novianus Kurniawan

Abstrak. Kata kunci: Hydrotest, Faktor Keamanan, Pipa, FEM ( Finite Element Method )

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Ketebalan pipa dapat berbeda-beda sesuai keadaan suatu sistem perpipaan.

DESAIN DAN ANALISIS TEGANGAN PADA SISTEM OFFSHORE PIPELINE

MANAJEMEN KOROSI BERBASIS RISIKO PADA PIPA PENYALUR GAS

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PROSEDUR ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA

QUANTITATIVE RISK ASSESSMENT UNTUK EQUIPMENT DALAM GAS PROCESSING UNIT DI TOPSIDE OFFSHORE PLATFORM

Jumlah Anoda (N) Tahanan Kabel (R2) Tahanan Total (Rt) = Ic / Io = 21,62 / 7 = 3,1. R2 = R1 + α (T2 T1) = 0, ,00393 (30-24) = 0,02426 ohm/m

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print) F-56

PERANCANGAN DAN ANALISA SISTEM PERPIPAAN PROCESS PLANT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

Korosi Retak Tegang (SCC) Baja Karbon AISI 1010 dalam Lingkungan NaCl- H 2 O-H 2 S

Analisa Pemasangan Ekspansi Loop Akibat Terjadinya Upheaval Buckling pada Onshore Pipeline

PENENTUAN WAKTU DAN LINGKUP PEMERIKSAAN BERKALA ANJUNGAN LEPAS PANTAI DI PT XYZ MENGGUNAKAN INTEGRASI METODE AHP DAN RISK BASED INSPECTION

PERENCANAAN FIXED TRIPOD STEEL STRUCTURE JACKET PADA LINGKUNGAN MONSOON EKSTRIM

BAB III METODE DAN HASIL SURVEY

Penilaian Risiko Pipa Onshore Akibat Cacat Korosi : Studi Kasus Jalur Pipa Gas PT. PHE- WMO

ANALISA PERAWATAN BERBASIS RESIKO PADA SISTEM PELUMAS KM. LAMBELU

Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Stasiun Pengolahan Gas (PFD)

Analisa Konsekuensi. Pada kasus ini tergolong dalam C6-H8 (Gasoline, Naphta, Light Straight, Heptane), memiliki sifat :

LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA TEGANGAN SISTEM PIPA PROCESS LIQUID DARI VESSEL FLASH SEPARATOR KE CRUDE OIL PUMP MENGGUNAKAN PROGRAM CAESAR II

DESAIN BASIS DAN ANALISIS STABILITAS PIPA GAS BAWAH LAUT

LAB KOROSI JPTM FPTK UPI

FULL DEVELOPMENT OF PIPELINE NETWORKING AT X FIELD

Gambar 4.1 Penampang luar pipa elbow

ANALISIS KEGAGALAN AKIBAT KOROSI DAN KERETAKAN PADA PIPA ALIRAN GAS ALAM DI NEB#12 PETROCHINA INTERNATIONAL JABUNG LTD

ANALISA RESIKO PADA REDUCER PIPELINE AKIBAT INTERNAL CORROSION DENGAN METODE RBI (RISK BASED INSPECTION)

RANCANG BANGUN AUTOCLAVE MINI UNTUK UJI KOROSI

STUDI IMPLEMENTASI RISK BASED INSPECTION (RBI) UNTUK PERENCANAAN BIAYA REPARASI KAPAL

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

RISK BASED UNDERWATER INSPECTION

DESAIN DAN ANALISIS TEGANGAN PADA SISTEM PERPIPAAN LEPAS PANTAI UNTUK SPM 250,000 DWT

Analisis Risiko pada Pipa 6 Crude Oil SP PDT I SP Tambun di PT Pertamina EP Region Jawa Field Tambun Tahun 2013

DESAIN TEGANGAN PADA JALUR PEMIPAAN GAS DENGAN PENDEKATAN PERANGKAT LUNAK

ANALISIS KEKUATAN COMPRESIVE NATURAL GAS (CNG) CYLINDERS MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna

BAB IV PENILAIAN RESIKO SISTEM SKORING PADA STUDI KASUS

OPTIMASI DESAIN ELBOW PIPE

PENERAPAN METODE AHP INDEX MODEL UNTUK PEMILIHAN PROGRAM PEMELIHARAAN JARINGAN PIPA PRODUKSI DI PT X

PENGARUH POSISI PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TAKIK DAN KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS PIPA

Transkripsi:

IMPLEMENTASI RISK ASSESSMENT PADA PIPELINE GAS JALUR BADAK - BONTANG Muhammad (NRP. 2707100058) Dosen Pembimbing : Ir. Muchtar Karokaro, M.Sc. ; Sutarsis, ST. M.Sc., Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya muhammadah58@yahoo.com ABSTRAK Pipeline merupakan sarana transportasi diam yang berfungsi untuk mendistribusikan fluida baik dalam bentuk liquid maupun gas. Sementara itu, resiko didefinisikan sebagai kombinasi antara kemungkinan terjadinya kegagalan (probability of failure) dan konsekuensi terjadinya kegagalan (consequence of failure). Pada penelitian ini dilakukan implementasi penilaian resiko dengan menggunakan model indeks atau scoring seperti yang dikembangkan oleh W. Kent Muhlbauer. Metode scoring didasarkan pada indeks kerusakan akibat pihak ketiga, indeks korosi, indeks desain, indeks kesalahan operasi, dan faktor dampak kebocoran. Selanjutnya dilakukan pemetaan resiko menggunakan matriks 4x4 yang diklasifikasikan kedalam tiga kategori resiko yaitu low, medium, dan high. Implementasi ini dilakukan terhadap pipeline gas jalur Badak Bontang sepanjang 1,5 km yang dibagi kedalam tiga section berdasarkan kondisi lingkungannya dengan panjang masing-masing 500 m. Dari hasil penilaian resiko pada pilepline gas jalur Badak Bontang didapatkan skor akhir indeks untuk masing-masing section 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) berturut-turut 244,89; 244,99; dan 255,69 poin. Sedangkan skor akhir dampak kebocoran berturut-turut ialah 3,5; 2,33; dan 1,16 poin. Berdasarkan pemetaan resiko (skor indeks dampak kebocoran) pada matriks 4x4 diperoleh hasil untuk seluruh section termasuk ke dalam kategori medium risk, hanya saja pada section 1 dan 2 nilainya telah mendekati high risk. Dari hasil tersebut maka perlu dilakukan mitigasi atau usaha pencegahan pada section yang memiliki nilai skor kecil (resiko tinggi) yaitu section 1 dan 2 agar resiko bisa ditekan menjadi lebih rendah (low risk). Usaha pencegahan yang dapat dilakukan yaitu integirty verification pada pipa serta memperpendek interval inspeksi. Kata kunci: indeks, pipeline, risk assessment, risk matriks. PENDAHULUAN Industri pengolahan minyak dan gas alam adalah salah satu industri yang memerlukan program inspeksi dan perawatan peralatan yang cukup ketat terutama pada pipa penyalur (pipeline). Hal [1]

ini dikarenakan pipa penyalur memiliki potensi resiko cukup tinggi terhadap lingkungan seperti kebakaran, peledakan, serta pencemaran lingkungan. Faktor penyebab terjadinya resiko tersebut dapat diakibatkan oleh faktor internal seperti korosi maupun faktor eksternal seperti lingkungan ataupun masyarakat sekitar. Kegagalan operasi pipa penyalur yang diakibatkan kebocoran akan membawa dampak yang akan membahayakan manusia mengingat jalur pipa yang ada saat ini sebagian besar terletak pada daerah pemukiman penduduk, daerah lalu lintas, industri maupun tanah pertanian. Untuk menjaga sistem perpipaan tersebut agar beroperasi dengan tingkat resiko seminimum mungkin maka perlu dilakukan evaluasi secara kontinyu terhadap tingkat resiko sistem pipa penyalur sehingga dapat diketahui tingkat resiko pada jalur pipa tersebut. Kemudian dibuat suatu perencanaan pemeliharaan yang baik, serta menentukan skala prioritas dalam penentuan perencanaan inspeksi dan strategi pemeliharaannya terutama pada bagian yang memiliki tingkat resiko tinggi. Pada aplikasinya penilaian resiko dilakukan dengan menggunakan software dengan memasukkan data-data yang dibutuhkan seperti software Linaview Pro. Studi ini merupakan implementasi penilaian resiko pada pipeline dengan metode pemberian skor secara manual. Penilaian resiko ini dilakukan pada pipa penyalur tipe API 5L-B dengan produk berupa gas.model penilaian resiko (risk assesment) yang dipakai dalam penelitian ini adalah model penilaian resiko yang dikembangkan oleh W. Kent Muhlbauer. Tujuan dari penelitian ini adalah meng-implementasikan risk assesment pada pipeline gas dengan metode pemberian skor (index model) serta memprediksi tingkat resiko pada pipeline. METODOLOGI Dalam penelitian ini dilakukan implementasi penilaian resiko dengan metode scoring yang dikembangkan oleh W. Kent Muhlbauer serta pengujian material API 5L B sesuai dengan diagram alir pada gambar 1. Untuk melakukan risk assessment ada beberapa tahap yang harus dilakukan yaitu: 1. Penentuan formula / model Pada implementasi ini model penilaian resiko yang digunakan ialah model indeks (pemberian skor). Pada formula tersebut terdapat indeks dan leak impact factor. Selain itu juga dibuat formula penilaian (rangkuman) dengan format sederhana dari excel. 2. Penelaahan data dan dokumen Data yang digunakan dalam implementasi risk assessment ini ialah hasil proyek pipa gas 36 dari PT. XYZ. Data yang dibutuhkan ialah desain dan konstruksi, operasi, maintenance dan inspeksi, survey lapangan, serta interview inspektor pelaksana proyek. Setelah dilakukan pengumpulan atau penelaahan data dibuatlah sectioning atau pembidangan jalur pipa. Pada implementasi ini menggunakan metode [2]

fixed length approach dengan panjang 500 m sepanjang 1,5 km. tingkat resiko hasil penilaian dengan metode skor. 3. Pemberian skor indeks dan LIF Setelah data terkumpul maka ditelaah satu persatu dan dilakukan penilaian pada masing-masing indeks disetiap segmennya. Dari mulai indeks kerusakan akibat pihak ketiga, indeks korosi, indeks desain, indeks kesalahan operasi, dan dampak kebocoran. Masing-masing poin diberikan skor/ nilai sesuai panduan pada formula yang telah dibuat diawal. 4. Penjumlahan nilai / Indeks sum Nilai dari seluruh indeks dijumlahkan dengan batas skor maksimum 100. Sehingga setiap section akan memiliki nilai akhir indeks maksimal 400 poin. Kemudian nilai leak impact factor dihitung. Skor leak impact factor maksimum 10 poin untuk produk gas metana. Maka didapat nilai total indeks dan leak impact factor pada setiap segmen. 5. Risk Matrix Pembacaan tingkat resiko dilakukan dengan bantuan model matriks. Sumbu x berupa probability of failure atau jumlah total index dan sumbu y berupa consequence of failure atau leak impact factor. Setelah itu dibuat peta matriks 4x4 (empat kolom penuh pada sumbu x dan sumbu y). Kemudian dibagi tiga kategori resiko yaitu kategori low, medium, dan high. Sehingga masing-masing section akan didapat Gambar 1. Diagram Alir Implementasi HASIL DAN PEMBAHASAN Data Umum Pipa dan Sectioning Produk : Natural gas Kode desain : ASME B31.8 Tipe pipa : Seamless pipe Material : API 5L grade B Ukuran (OD) : 36 inchi Pressure desain : 1.200 psi MAOP : 910 psi Pressure operasi : 670 psi Temperatur operasi : 19 38 C Tahun dibangun : 1976 [3]

Proteksi katodik : ICCP Tipe coating : Coaltar enamel Kondisi : Jalur pipa tertanam (buried) Tabel 1. Hasil sectioning jalur pipa Sect Jarak Km 1 500 m 00+000 s/d 00+500 2 500 m 01+500 s/d 02+000 3 500 m 02+000 s/d 02+500 Sebagai permulaan proses penilaian resiko pipa gas 36 sepanjang 1,5 km terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data dan hasil survey (survey form). Data-data yang dibutuhkan yaitu desain, operasi, hasil inspeksi, SHE dan maintenance. Sedangkan survey dilakukan untuk mengamati kondisi pipa secara langsung dan khususnya untuk mengetahui kondisi indeks akibat pihak ketiga. Kelengkapan data akan sangat mempengaruhi pemberian skor. Jika dalam pemberian skor tidak didukung dengan data maka dikategorikan sebagai kondisi uncertainty (ketidakpastian kondisi). Artinya, jika data tidak ada maka diberi skor 0 (nol) poin dikarenakan uncertainty berarti increasing risk (meningkatkan nilai resiko) dan skor 0 (nol) menandakan tingkat resiko tertinggi. Pada implementasi ini pipa yang digunakan ialah pipa tanpa sambungan (seamless pipe) API 5L-B dengan diameter luar 36 dan produk yang dialirkan berupa gas alam atau CH 4 (metana). Pipa dibangun pada tahun 1976 dengan kode desain ASME B31.8. Standar tersebut digunakan karena produk yang dialirkan pipa berupa gas. Untuk mengantisipasi korosi digunakan proteksi katodik jenis arus paksa atau (impressed current cathodic protection). Kondisi jalur pipa ialah tertanam dibawah tanah (buried metal) tetapi digunakan coating pada bagian luar pipa dengan tipe coaltar enamel. Setalah dilakukan pengumpulan data, selanjutnya dilakukan sectioning atau pembidangan pipa. Pada implementasi ini, sectioning menggunakan metode fixed length approach sepanjang 500 m. Artinya, pipa sepanjang 1,5 km akan dibagi setiap bidangnya sepanjang 500 m sehingga didapat section berjumlah 3 buah sebagaimana yang dicantumkan pada tabel 1. Setelah itu baru dilakukan penilaian resiko dengan metode pemberian skor terhadap masing-masing section baik komponen indeks maupun komponen faktor dampak kebocoran. Hasil Scoring Pipa 36 1,5 Km. Tabel 2. Hasil skor indeks kerusakan akibat pihak ketiga Komponen nilai Skor tiap section Kedalaman pipa 17 13,1 11,8 Tingkat aktivitas disekitar jalur pipa 0 8 15 Sarana diatas jalur pipa 5 3 6 Sistem panggilan darurat 15 15 15 Pengetahuan masyarakat terhadap jalur pipa 15 15 15 Kondisi jalur pipa 3 3 3 frekuensi patroli 15 15 15 Total skor 70 72,1 80,8 [4]

Tabel 3. Hasil skor indeks korosi Komponen nilai Skor tiap section Korosi atmosfer - Sarana 5 5 5 - Tipe 4 4 4 - coating 4,58 4,58 4,58 Korosi internal - Produk korosi 9 9 9 - Proteksi internal 7 7 7 Korosi logam tertanam - Proteksi katodik 8 8 8 - Kondisi pelapisan 9,16 9,16 9,16 - Korosivitas tanah 4 2 4 - Usia pipa 0 0 0 - Aliran arus 0 0 0 - gangguan arus AC 4 4 4 - mekanisme korosi 3 3 3 -Uji kebocoran 0 0 0 -Survey polarisasi 8 8 8 -Inspeksi internal 7 7 7 Total skor 72,74 70,74 72,74 Tabel 5. Hasil skor indeks desain Komponen nilai Skor tiap section Faktor keamanan desain 11,15 11,15 11,15 Fatigue 0 0 0 Potensi sentakan 10 10 10 Verifikasi terpadu 0 0 0 Perpindahan tanah 10 10 10 Total skor 31,15 31,15 31,15 Tabel 6. Hasil skor dampak kebocoran Komponen nilai Skor tiap section Bahaya produk a.bahaya akut 5 5 5 b. Bahaya kronis 2 2 2 Faktor penyebaran (dispersi) a.liquid/vapor spill 6 6 6 b.tingkat populasi 3 2 1 Tabel 4. Hasil skor indeks kesalahan operasi Komponen nilai Skor tiap section Desain - Identifikasi bahaya 4 4 4 - ptensi MAOP 12 12 12 - sistem keamanan 3 3 3 - pemilihan material 2 2 2 - pengecekan 2 2 2 Konstruksi 4 4 4 Operasi - Prosedur 7 7 7 - komunikasi SCADA 3 3 3 - tes obat-obatan 2 2 2 - program keselamatan 2 2 2 - survey 5 5 5 - pelatihan 10 10 10 - pencegahan kesalahan 0 0 0 mekanik Perawatan 15 15 15 Total skor 71 71 71 Tabel 7. Hasil akhir skor indeks dan dampak kebocoran Total skor tiap Komponen Indeks dan section Dampak Kebocoran Indeks third party damage 70 72,1 80,8 Indeks corrosion 72,74 70,74 72,74 Indeks design 31,15 31,15 31,15 Indeks incorrect operations 71 71 71 Total seluruh indeks 244,9 245 255,7 Leak Impact Factor 3,5 2,33 1,16 Penilaian resiko atau pemberian skor dilakukan berurutan dari mulai indeks kerusakan akibat pihak ketiga, indeks korosi, indeks desain, indeks kesalahan operasi, dan yang terakhir pemberian skor pada komponen dampak kebocoran pipa. Skor akhir pada setiap indeks didapat dari [5]

hasil penjumlahan seluruh poin pada sub-sub indeks penilaian. Hasil skor untuk indeks kerusakan akibat pihak ketiga memiliki nilai berbeda pada setiap section. Untuk section 1 total skornya ialah 70 poin, sedangkan pada section 2 ialah 72,1 poin, dan pada section 3 totalnya ialah 80,8 poin. Nilai yang berbeda-beda ini menandakan bahwa pada setiap section memiliki kondisi pihak ketiga yang berbeda-beda. Gambar 2. Diagram hasil skor indeks kerusakan akibat pihak ketiga Sedangkan hasil skor untuk indeks korosi ialah 72,74 poin untuk section 1 dan 3, serta 70,74 poin untuk section 2. Hasil ini dapat dilihat pada histogram dibawah ini. Gambar 3. Diagram hasil skor indeks korosi Pada indeks korosi skor untuk section 1 dan 3 memiliki nilai yang sama dikarenakan secara umum kondisi korosinya sama. Hal ini bisa dilihat penilaian korosi atmosfer yang memiliki nilai sama pada seluruh section dikarenakan kondisi lingkungan dan pelindung (coating) yang juga sama. Sedangkan pada bagian korosi internal sangat dipengaruhi oleh jenis aliran dan produk yang dialirkan pun seragam. Dan yang paling penting yaitu tidak ditemukannya data history yang menyatakan bahwa ada kasus khusus yang diakibatkan oleh korosi pada ketiga section ini seperti kebocoran akibat korosi sumuran, dsb. Pada indeks ini ada beberapa data yang tidak ada yaitu pada bagian aliran arus ke tempat lain, tes leads, dan survey polarisasi. Semuanya diberikan skor 0 (nol) kecuali pada bagian survey polarisasi. Hal ini dikarenakan survey polarisasi skornya diimprove dengan melakukan simulasi pengujian polarisasi pada material API 5L-B dengan media air tanah. Simulasi dengan air tanah dipilih karena kondisi pipa yang berada terpendam didalam tanah. Sementara itu untuk indeks desain dan indeks kesalahan operasi memiliki total skor yang sama pada setiap section, berturut-turut dengan nilai 31,15 poin dan 71 poin. Pada indeks desain perbedaan skor sangat dipengaruhi oleh safety factor dan penilaian pada bagian ini dilihat dari ketebalan aktual dan ketebalan desain. Dikarenakan nilai ketebalan tersebut tidak didapat maka penilaian dilakukan dengan opsi lain yaitu dengan melihat perbandingan nilai tekanan desain dan MAOP (tekanan [6]

operasi maksimum yang dibolehkan). Berdasarkan data nilai tekanan untuk section satu sampai tiga ialah sama sehingga skornya pun sama. skor rendah maka tingkat kemanannya akan rendah, itu artinya memiliki resiko yang tinggi. Gambar 4. Diagram hasil skor indeks desain (diagram batang 1) dan indeks kesalahan operasi (diagram batang 2) Pada indeks desain memiliki nilai sangat kecil dikarenakan beberapa faktor yaitu usia pipa yang sudah cukup tua yaitu 35 tahun serta ada beberapa data yang tidak tersedia sehingga mempengaruhi nilai akhirnya. Data yang tidak tersedia yaitu bagian fatigue dan integrity verification. Apalagi pada kedua bagian tersebut memiliki bobot yang cukup besar dengan total nilai 40 poin. Sehingga ketidaklengkapan data tersebut akan meningkatkan nilai resiko sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab dua bahwa ketidakpastian (uncertainty) akan meningkatkan nilai resiko bahkan diberi nilai resiko tertinggi yang berarti mendapatkan skor 0 (nol) poin. Karena sistem penilaian pada metode pemberian skor ini ialah semakin besar nilai maka tingkat kemanan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya jika nilai atau Gambar 5. Diagram skor akhir indeks Pada komponen indeks memiliki skor maksimum 400 poin karena masing-masing indeks bernilai maksimum 100 poin. Skor maksimum didapat dari penjumlahan seluruh skor indeks. Pada section 1 memiliki skor total 240,89; sedangkan pada section 2 memiliki skor akhir 240,99; dan pada section 3 memiliki skor akhir 251,69 poin. Gambar diagram diatas menunjukkan hasil skor akhir untuk komponen indeks pada setiap section. Selain dilakukan penilaian pada komponen indeks, penilaian juga diberikan pada faktor akibat kebocoran pipa atau leak impact factor (LIF). Pada penilaian ini terdiri dari dua bagian yaitu penilaian produk bahaya dan faktor dispersi. Pada produk bahaya seluruh section memiliki total skor yang sama dikarenakan penilaian dilakukan pada produk yang dialirkan yaitu natural gas (CH 4 ). Sedangkan pada faktor dispersi nilai akan berbeda tergantung pada [7]

kondisi tingkat populasi. Nilai akhir didapat dari hasil pembagian antara produk bahaya dengan faktor dispersi, semakin besar nilai LIF menunjukkan bahwa tingkat resiko akan semakin besar berbeda dengan sistem penilaian komponen indeks. Pada section satu nilai akhirnya didapat 3,5 poin, sedangkan pada section dua memiliki skor akhir 2,33 poin, dan pada section yang terakhir 1,16 poin. Kurva dibawah ialah hasil dari skor akhir untuk komponen faktor akibat kebocoran (leak impact factor). untuk menentukan apakah laju korosi pipa tersebut termasuk kategori rendah, medium, atau high berdasarkan standar dari NACE. Dari hasil uji tarik didapat nilai tegangan saat yield sebesar 446 Mpa dan tegangan saat beban maksimum sebesar 518 Mpa. Jika hasil tersebut dibandingkan dengan data persyaratan yang dibuat oleh API (pada tabel 8) maka material yang di uji ini benar-benar API 5L- B karena range nilainya termasuk dalam kategori syarat API 5L-B. Tabel 8. Hasil uji tarik dan syarat API 5L-B Keterangan Standar Hasil Uji API (MPa) (MPa) Yield Strength Min 241 Yield Strength Max 448 446 UTS Min 414 UTS Max 758 518 Gambar 6. Diagram hasil LIF Pada implementasi ini dilakukan pengujian tarik dan uji polarisasi. Tujuan utama dari pengujian ini ialah untuk meningkatkan skor pada komponen indeks korosi dan indeks kesalahan operasi dikarenakan data yang dibutuhkan tidak ada. Pada pengujian tarik dilakukan untuk mengecek material pipa API 5L-B apakah secara mekanik termasuk kategori yang dikeluarkan oleh standar API untuk spesifikasi material pipa API. Pengujian tarik digunakan untuk memberikan skor pada bagian pengecekan (indeks kesalahan operasi). Sedangkan pada uji polarisasi dilakukan simulasi dengan media air tanah Sedangkan dari hasil pengujian polarisasi dengan media air tanah, laju korosi yang didapat ialah 0,3065 mpy. Berdasarkan data standar dari NACE yang mengkategorikan laju korosi kedalam empat macam yaitu low, moderate, high, dan severe, maka laju korosi material API 5L-B dalam air tanah ini tergolong rendah. Tabel 9. Klasifikasi laju korosi berdasarkan NACE Kategori mpy Hasil Uji Low < 1,0 Moderate 1,0-4,9 0,4005 High 5,0-10 mpy Severe > 10 [8]

Pemetaan Tingkat Resiko Setelah didapatkan nilai akhir dari setiap komponen penilaian resiko pipa 36 ini, maka dilakukan pemetaan tingkat resiko dengan model sederhana matriks 4x4 untuk setiap section. Kemudian matriks ini dipetakan berdasarkan kategori low, medium, dan high risk. Pada matriks ini sumbu y adalah leak impact factor atau bisa disebut dengan consequence of failure (CoF) sedangkan pada sumbu x merupakan komponen indeks atau bisa disebut probability of failure (PoF). Sesuai dengan teori bahwa resiko adalah hasil kali kemungkinan terjadinya kegagalan dengan konsekuensi jika terjadi kegagalan. Setelah matriks dibuat maka total skor masing-masing komponen diletakkan sesuai dengan nilain CoF dan PoF nya. Maka hasil akhirnya kita dapat memetakan apakah section satu termasuk kategori low, medium, atau high risk? dan seterusnya untuk section dua dan tiga. Gambar dibawah ini ialah hasil dari pemetaan tingkat resiko dengan model matriks 4x4. 1 2 3 Gambar 7. Hasil risk matrix pipa gas 36 Pada gambar diatas, tanda min (kurang) pada LIF tidak menandakan nilai akhir tetapi menunjukkan arah untuk menyesuaikan dengan risk matrix agar sesuai dengan urutan tingkat resiko yang dimulai dari low, medium, dan high risk seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini. Gambar 8. Pemetaan resiko pipa gas 36 berdasarkan matriks 4x4 Hasil pemetaan tingkat resiko pipa gas 36 dengan model matrix 4x4 menerangkan bahwa pada section satu (titik 1) dengan nilai indeks 244,89 dan LIF 3,5 termasuk kedalam kategori medium risk, begitu pula dengan section 2 dan 3 (ditunjukkan dengan titik 2 dan 3) dengan skor indeks berturut-turut 244,99 dan 255,69 serta nilai LIF berturut-turut sebesar 2,33 dan 1,16, keduanya termasuk kedalam kategori medium risk. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaannya pada kotak yang memiliki warna coklat. Walaupun ketiganya termasuk kedalam kategori meidum tetapi section 1 (satu) dan 2 (dua) lebih mendekati kategori high risk sehingga perlu dilakukan [9]

mitigasi atau usaha pencegahan. Dengan model risk matrix 4x4 maka tingkat resiko dengan penilaian skor dapat dipetakan dengan mudah. Sehingga pemilik pipa dapat menentukan program pemeliharan dan strategi inspeksi yang tepat untuk masing-masing kategori resiko tersebut. Dengan tingkat resiko berbeda maka penanganannya pun berbeda. Karena penanganan yang berbeda maka membutuhkan biaya yang berbeda jika resiko dianggap sama. Dan ini akan memberikan keuntungan bagi pemilik pipa terutama dalam hal pengeluaran biaya inspeksi dan perawatan. Hal inilah yang menjadikan dasar bahwa teori manajemen resiko sangat dibutuhkan di dunia industri saat ini. KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan 1. Skor akhir indeks untuk masing-masing section 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) berturut-turut 244,89; 244,99; dan 255,69 poin. Sedangkan skor akhir dampak kebocoran berturut-turut ialah 3,5; 2,33; dan 1,16 poin. Seluruh section tersebut termasuk ke dalam kategori medium risk, hanya saja pada section 1 dan 2 nilainya mendekati high risk berdasarkan matrix 4x4. 2. Hasil verifikasi material API 5L-B dengan uji tarik yaitu material tersebut dinyatakan termasuk dalam spesifikasi standar API dengan nilai yiled strength 446 Mpa dan ultimate tensile strength 518 Mpa. 3. Hasil uji polarisasi menggunakan media air tanah daerah Serpong maka menurut standar NACE, material API 5L-B termasuk klasifikasi laju korosi rendah dengan nilai 0,3065 mpy. Saran 1. Dilakukan mitigasi atau usaha pencegahan pada section yang memiliki nilai skor kecil (resiko tinggi) yaitu section 1 dan 2 agar resiko bisa ditekan menjadi lebih rendah (low risk). Usaha pencegahan yang dapat dilakukan yaitu integirty verification pada pipa. 2. Pada section 1 dan 2 harus dilakukan program inspeksi dengan interval kurang dari 6 bulan. Sebagai contoh bisa saja 3 bulan. 3. Ada baiknya metode indeks ini diterapkan dalam aplikasi software sederhana seperti visual basic, matlab atau microsoft access. DAFTAR PUSTAKA Butarbutar, Sofia L. 2009. Pengujian Mesin EDAQ untuk Mengukur Laju Korosi. BATAN Fauzan, Ahmad. 2007. Tugas Akhir: Analisa Resiko Offshore Pipeline dengan Menggunakan Metode RBI. Surabaya: Teknik Kelautan ITS. Febrianto. 2010. Analisis Laju Korosi Material Bejana Tekan PWR dalam Berbagai Konsentrasi H2SO4 dan Temperatur. BATAN Goodland, Robert. 2005. Oil and Gas Pipelines: Social and Environmental Impact Assessment. Virginia. Muhlbauer, W. Kent. 2004. Pipeline Risk Mangement Manual: Ideas, Techniques, and Resource. [10]

Burlington USA: Gulf Professional Publishing. Muhlbauer, W. Kent. 2005. An Overview of the Risk Management Process. WKM Consultancy. Muhlbauer, W. Kent. 2006. Enhanced Pipeline Risk Assessment. WKM Consultancy. Solihin, Yudi M. 2009. Kursus Pelatihan Inspektur Welding: ASME B31.3, API 570 Piping System. Jakarta: Research Center for Materials Science. Sudaryanto, Adi. 2007. Tesis: Penggunaan Metode Risk Based Inspection Untuk Perencanaan Kegiatan Inspeksi pada Fasilitas Produksi di Anjungan Lepas Pantai. Surabaya: Teknik Industri ITS. Yuwono, Akhmad H. 2009. Panduan Praktikum Karakterisasi Material. Jakarta: Departemen Metalurgi dan Material UI.. 1991. NACE TM0169: Standar Test Method Laboratory Corrosion Testing of Metals for the Process Industries. Houston: NACE International.. 1999. NACE RP0775-99: Standar Recommended Practice Preparation, Installation, Analysis, and Interpretation of Corrosion Coupons in Oilfield Operations. Houston: NACE International.. 2000. API 581: Risk-Based Inspection Base Resource Document. Washington DC: API Publishing.. 2007. ASME B31.8 (Code for Pressure Piping): Gas Transmission and Distribution Piping Systems. New York: ASME International.. 2009. Instruksi Kerja: Alat Uji Korosi Potensiostat/ Galvanostat. Sistem Manajemen Mutu Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir.. 2009. Risk Assessment for Unburied Korinci Pipeline (Bare Pile) to Korinci Gas Plant RAPP. Jakarta: Pusat Kajian dan Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI.. 2011. Pipeline Risk Assessment Pipa 20 Jalur Bawah Tanah Tanjung-Balikpapan. Jakarta: Titis Sampurna. 2011. Pipeline Risk Assessment 36 AB, 42 CD and 42 H Underground Pipe Badak Bontang. Jakarta: Research Center for Materials Science University of Indonesia. [11]