HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

BAB I PENDAHULUAN. pada 2002, konsumsi kalsium di kalangan masyarakat baru mencapai rata-rata

BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada

HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN LEMAK DENGAN KESEGARAN JASMANI ANAK SEKOLAH DASAR DI SD N KARTASURA I SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA PERTUMBUHAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. asli Indonesia. Daerah asalnya adalah India dan Afrika Tengah. Tanaman ini

Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan.

BAB I PENDAHULUAN. masih memiliki beberapa ketertinggalan dan kekurangan jika dibandingkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Susu kedelai adalah salah satu hasil pengolahan yang merupakan hasil ekstraksi dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Teh sarang semut merupakan salah satu jenis teh herbal alami yang terbuat

Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya

BAB I PENDAHULUAN. dikenal baik oleh masyarakat Indonesia, tetapi belum meluas pembudidayaannya.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan golongan antioksidan. Pigmen betalain sangat jarang digunakan

BAB I PENDAHULUAN. Air sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia agar tetap sehat dan aktif. Minum air

PENDAHULUAN. 2 Keamanan Air Minum Isi Ulang. Suprihatin.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

penyakit kardiovaskuler (Santoso, 2011).

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PENERAPAN KATEGORISASI RISIKO PENILAIAN PANGAN OLAHAN. Direktorat Penilaian Keamanan Pangan 19 Desember 20170

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Suplemen berenergi adalah jenis minuman yang ditujukan untuk. stamina tubuh seseorang yang meminumnya. (

B E R B A G A I M I N U M A N K O M E R S I A L

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. zaman dahulu jus buah dijadikan minuman raja-raja untuk menjaga kesehatan

Gambar 1. Cara penggunaan alat pemeras madu. Gambar 2. Alat Pemeras madu. Gambar 3. Alat Penyaring madu Gambar 4. Ruang pengolahan madu 70 %

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu

BAB I PENDAHULUAN. sama lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Muatan positif merupakan hasil pembentukan dari kation dalam larutan.

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

7 Manfaat Daun Singkong

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masing-masing sebesar ton dan hektar. Selama lima

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. jus sayuran. Sehingga masyarakat lebih banyak mengkonsumsi minuman

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Tanaman yang

BAB 1 PENDAHULUAN. menentukan tingkat kesehatan dan fungsi kognitif. Manusia dapat memenuhi

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB I PENDAHULUAN. masa ini terjadi pertahapan perubahan yang sangat cepat. Status kesehatan

Ulangan 1 Ulangan 2 (%)

I. PENDAHULUAN. dan siap untuk dimakan disebut makanan. Makanan adalah bahan pangan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat semakin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manfaat yang maksimal, maka ASI harus diberikan sesegera mungkin setelah

BAB I PENDAHULUAN. Pada kelompok anak usia sekolah, termasuk remaja usia 16-18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino atau

I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

EFEK PEMBERIAN KOMBUCHA COFFEE TERHADAP KANDUNGAN KOLESTEROL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L) JANTAN YANG DIINDUKSI URIC ACID

BAB I PENDAHULUAN. bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dalam jangka panjang.

PENDAHULUAN. pangan nasional. Komoditas ini memiliki keragaman yang luas dan berperan

BAB 1 PENDAHULUAN. disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga

GIZI SEIMBANG PADA USIA DEWASA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipid merupakan golongan senyawa

PENDAHULUAN. Masalah pangan: ketersediaan pangan; kerawanan konsumsi pangan oleh pengaruh kemiskinan, pendidikan rendah & pantangan terhadap makanan

BAB I PENDAHULUAN. zat seng / zinc. Padahal zinc merupakan co-faktor hampir 100 enzim yang

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

Penting Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui

Milik MPKT B dan hanya untuk dipergunakan di lingkungan akademik Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat.

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Peneltian.

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Beras analog merupakan beras tiruan yang terbuat dari tepung lokal non-beras.

GIZI DAUR HIDUP. Rizqie Auliana, M.Kes

I PENDAHULUAN. protein berkisar antara 20% sampai 30%. Kacang-kacangan selain sumber protein

BAB I PENDAHULUAN. suatu industri minuman yang dikemas dalam kantong plastik. Minuman

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. tergantung orang tua. Pengalaman-pengalaman baru di sekolah. dimasa yang akan datang (Budianto, 2009).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh

BAB I PENDAHULUAN. Permainan sepak bola merupakan salah satu olahraga endurance beregu

BAB I PENDAHULUAN. lodeh, sayur asam, sup, dodol, dan juga manisan. Selain itu juga memiliki tekstur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gemuk untuk diambil dagingnya. Sepasang ceker yang kurus dan tampak rapuh,

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,

BAB I PENDAHULUAN. Ubi jalar atau ketela rambat ( Ipomoea batatas ) adalah sejenis tanaman

I. PENDAHULUAN. Bubur buah (puree) mangga adalah bahan setengah jadi yang digunakan sebagai

Manfaat Minum Air Putih

BAB I PENDAHULUAN. lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Kation ekstraseluler utama adalah natrium (Na + ), sedangkan kation

BAB I PENDAHULUAN. terdapat pada waluh. Secara umum waluh kaya akan kandungan serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan.

PENDAHULUAN. bagi usaha peternakan. Konsumsi susu meningkat dari tahun ke tahun, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Demikian. (The Tree of Life) atau pohon yang amat

GIZI. Pentingnya makanan bagi kesehatan Makanan bergizi Syarat dan Nilai makanan sehat Zat makanan yang mengganggu kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diantaranya pisang ambon, pisang raja, pisang mas, pisang kepok

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Calcium Softgel Cegah Osteoporosis

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia (SDM) ke arah peningkatan kecerdasan dan produktivitas kerja.

TINJAUAN PUSTAKA. Susu segar menurut Dewan Standardisasi Nasional (1998) dalam Standar

BAB I PENDAHULUAN. Tingginya jam aktivitas masyarakat serta meningkatnya kesadaran. terhadap makanan dan minuman yang bermanfaat bagi kesehatan yang

I. PENDAHULUAN. kesehatan, bahkan pada bungkus rokok-pun sudah diberikan peringatan mengenai

BAB I PENDAHULUAN. diterima oleh dokter gigi adalah gigi berlubang atau karies. Hasil survey

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis dan Takaran Saji Minuman Komersial Minuman komersial yang digunakan sebagai sampel pada peneilitian ini merupakan minuman komersial yang pada awalnya merupakan minuman yang sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan oleh Codex (FAO & WHO 2010). Menurut Codex kategori terbesar pada minuman komersial yaitu, susu, minuman non alkohol dan minuman beralkohol. Pada penelitian ini kategori yang diambil adalah minuman non alkohol serta susu. Hal ini di karenakan konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih terlihat pada minuman komersial tersebut (Santoso et al 2011). Minuman komersial dengan dua kategori tersebut kemudian terbagi lagi menjadi beberapa kategori minuman seperti yang terlihat pada Tabel 3. Tabel tersebut menggambarkan beberapa kategori minuman komersial, jumlah sampel berdasarkan kategori minuman tersebut serta takaran saji yang digunakan pada penelitian ini. Komponen utama dalam tubuh manusia adalah air. Sebagai salah satu zat gizi mikro, air mempunyai fungsi dalam berbagai proses penting dalam tubuh manusia, seperti pengangkutan, metabolisme dan sirkulasi zat gizi dan non gizi, kontraksi otot, pengendalian suhu tubuh, transmisi impuls saraf, pengaturan keseimbangan elektrolit, dan proses pembuangan zat tak berguna bagi tubuh. Namun, air sangat sering terlupakan sebagai zat gizi yang penting bagi tubuh. Kebutuhan tubuh akan air tidak dapat dipenuhi oleh tubuh manusia itu sendiri. Oleh karena itu, manusia perlu memenuhi kebutuhan airnya melalui asupan air yang cukup (Santoso et al 2011). Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan yang hasilnya menunjukkan bahwa kurangnya pemenuhan air oleh tubuh berdampak buruk bagi kesehatan atau dapat meningkatkan resiko kejadian berbagai penyakit, seperti sembelit, kram, batu ginjal, infeksi saluran kemih. Konsumsi air yang kurang juga berdampak menurunkan stamina, produktivitas kerja dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja (Santoso et al 2011). Kajian asupan air pada populasi dewasa di Amerika Serikat menunjukkan total asupan air yang berasal dari makanan adalah 28% dan dari minuman adalah 72% dengan sumber minuman tersebut berasal dari air putih (28%) dan minuman lainnya (44%). Penelitian di Amerika Serikat juga menunjukkan asupan air sebesar 1.764 ml/hari, dengan rincian air putih 673 ml, susu 312 ml, teh dan

kopi 360 ml, dan minuman ringan 420 ml per hari. Asupan air dalam penelitian tersebut tidak termasuk air dari makanan. Hasil penelitian di Singapura menunjukkan bahwa sumber air tubuh yang utama adalah air putih (74%), kemudian diikuti dengan teh dan kopi (32%), serta minuman ringan (17%). Penelitian THIRST di Indonesia menunjukkan bahwa orang dewasa (71,3%) lebih menyukai air putih sebagai minuman utama setiap hari. Pilihan kesukaan lainnya adalah teh, kopi, jus dan susu bagi orang dewasa. Air putih yang dikonsumsi berasal dari air putih tanpa kemasan (36%) dan air putih kemasan (36%) (Santoso et al 2011). Tabel 3 Jumlah sampel berdasarkan kategori dan volume takaran saji Minuman Komersial yang di Analisis No Kategori Minuman Jumlah Takaran Saji ( Sampel Minimum Maksimum 1 Susu Cair 52 90 250 2 Susu Bubuk 18 150 200 3 Air Mineral Dalam Kemasan 13 240 600 4 Jus Buah dan Sayur Cair 50 110 350 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 8 200 250 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 28 200 535 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 3 330 350 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 11 250 500 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 7 150 150 10 Minuman Lain Teh Cair 29 150 500 11 Minuman Lain Teh Bubuk 11 200 300 12 Minuman Lain Kopi Bubuk 18 150 250 Jumlah 248 Jenis minuman komersial yang dianalisis memiliki jumlah sampel berdasarkan kategori yang cukup beragam dan didominasi oleh jenis minuman kategori susu cair dan jus buah dan sayur cair, hal ini disebabkan oleh sampel pada kategori minuman tersebut memiliki jumlah sampel yang cukup banyak beredar. Takaran saji pada tiap jenis minuman juga bervariasi. Kategori air mineral memiliki takaran saji yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis minuman lainnya. Volume minimal takaran saji pada minuman komersial yaitu pada kategori susu cair. Sampel minuman komersial yang digunakan berasal dari pembelian yang dilakukan di beberapa swalayan terbesar di kota Bogor. Pada Tabel 3 selain takaran saji juga ada takaran saji dengan volume yang lebih besar pada minuman komersial yang terdapat di kota Bogor yang tidak di jadikan sampel dalam penelitian ini, salah satunya yaitu 1,5 L pada air mineral.

Pemeriksaan pada sampel dengan volume lebih dari 600 ml tidak dilakukan adalah dengan asumsi ph minuman komersial dengan volume tersebut memiliki ph yang sama dengan sampel yang memiliki volume yang lebih rendah dari 600 ml. Quality appearence menurut Patterand dan Hotchkiss 1995 adalah faktorfaktor yang mencakup ukuran, bentuk, keutuhan, bentuk lain dari kerusakan, kondisi permukaan yang masih baik, kelemahan, warna, dan konsistensi. Untuk produk minuman komersial, quality appearance ini akan dapat dilihat pada awalnya dari kondisi fisik kemasan minuman komersial yang dijual di pasaran. Kondisi fisik dari sampel minuman komersial yang digunakan sebagai sampel, telah dilakukan seleksi pada saat pembelian dilakukan berdasarkan quality appearance, hal ini dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan pada sampel minuman komersial yang dianalisis. Kandungan Energi, Karbohidrat, Protein dan Lemak Minuman Komersial Zat gizi merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam makanan maupun minuman yang diperlukan oleh tubuh untuk berbagai keperluan seperti menghasilkan energi, mengganti jaringan yang aus serta rusak, memproduksi substansi tertentu misalnya enzim, hormon dan anti bodi. Zat gizi dapat dibagi menjadi kelompok makronutrien, yang terdiri atas protein, lemak serta karbohidrat. Kelompok mikronutrien yang terdiri atas vitamin dan mineral (Hartono 2006). Energi dalam tubuh manusia dapat dihasilkan, karna adanya pembakaran karbohidrat, protein dan lemak, sehingga agar manusia selalu tercukupi energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup ke dalam tubuh manusia tersebut (Kartasapoetra 2002). Keseimbangan energi dicapai bila energi yang masuk kedalam tubuh melalui makanan sama dengan energi yang dikeluarkan. Keadaan ini akan menghasilkan berat badan ideal atau normal. Apabila konsumsi energi melalui makanan telah terpenuhi dan kemudian di tambah dengan adanya kalori dari minuman akan mengakibatkan kelebihan energi pada seseorang. Jika hal ini maka kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak tubuh sehingga terjadi berat badan lebih atau kegemukan (Almatsier 2004). WHO menganjurkan kepada konsumen untuk membatasi konsumsi minuman berkalori agar energi dari penambahan gula (added sugar) tidak lebih dari 10% konsumsi energi total. Seorang remaja atau dewasa dengan kebutuhan

energi 2000 kkal akan memperoleh 20% energi dari penambahan gula bila mengkonsumsi dua gelas (kemasan) minuman komersial berkalori (Krebss-Smith 2001; Duffey & Pumpkin 2006; Barquera et al 2008) Kandungan Energi tertinggi pada sampel minuman komersial per 100 ml nya yang dianalisis terlihat pada minuman kategori susu bubuk dengan rata-rata 71 kkal/100 ml dengan nilai yang tidak jauh berbeda dengan kategori minuman berasa berbasis air energy drink yang memiliki nilai rata-rata 71 kkal/100 ml (Tabel 4). Tabel 4 Kandungan Energi Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD* (kkal/100 Median (kkal/ 100 Minimum (kkal/100 Maksimum (kkal/100 1 Susu Cair 69 ± 12 67 44 95 2 Susu Bubuk 71 ± 10 69 65 109 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 49 ± 10 50 0 68 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 21 ± 4 23 15 24 6 Minuman Berasa berbasis 24 ± 24 31 0 58 Air Soda Berkalori 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 0 ± 0 0 0 0 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 24 ± 8 26 16 36 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 71 ± 3 72 67 75 10 Minuman Lain Teh Cair 39 ± 10 44 20 56 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi Kategori minuman yang memiliki kandungan kalori terendah terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air soda non-kalori dengan rata-rata 0 kkal/100 ml. Konsumsi pada kategori minuman berasa berbasis air energy drink menurut penelitian Kurniawan (2000) juga menjadi sampel yang cukup banyak di konsumsi oleh konsumen yang berusia 14-18 tahun. Konsumsi yang cukup tinggi dan juga kandungan energi pada kategori minuman berasa berbasis air energy drink diduga memiliki kontribusi energi yang cukup tinggi terhadap konsumen yang mengkonsumsi jenis minuman tersebut. Kandungan kalori yang terdapat pada kategori minuman susu bubuk juga dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti pada sampel. Data yang berasal dari penelitian Rachma (2009) juga menunjukkan tingginya frekuensi konsumsi sampel pada penelitian tersebut terhadap kategori susu bubuk. Hal ini diduga dapat menjadi salah satu hal yang menjadi kontribusi yang cukup berpengaruh terhadap konsumsen yang mengkonsumsi minuman komersial tersebut, hal ini sejalan dengan data yang terdapat pada sumber Santoso et al

(2011) konsumsi minuman pada kategori susu bubuk juga merupakan minuman komersial ketiga terbanyak yang di konsumsi oleh masyarakat Indonesia. Sumber energi yang memiliki konsentrasi tinggi salah satunya adalah bahan makanan sumber karbohidrat, seperti gula. Semua bahan makanan yang dibuat dengan bahan tersebut merupakan sumber energi. (Almatsier 2004). Minuman dengan penambahan kandungan energi yang cukup tinggi juga dapat menjadi penyumbang energi pada konsumen yang mengkonsumsi minuman tersebut. Beberapa penelitian telah membuktikan konsumsi yang cukup tinggi pada minuman tertentu dapat menjadi salah satu penyumbang energi yang cukup berarti terhadap penambahan energi konsumen yang mengkonsumsi minuman tersebut. Salah satu minuman yang dapat menjadi penyumbang energi tersebut adalah minuman komersial yang banyak beredar di masyarakat (Krebss- Smith 2001, Duffey & Pumpkin 2006, Barquera et al 2008). Komposisi kandungan karbohidrat tertinggi pada sampel minuman komersial per 100 ml nya terlihat pada minuman dengan kategori susu bubuk dengan rata-rata 13.8 g/ 100 ml. Kandungan karbohidrat terendah pada sampel minuman komersial terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air soda non kalori dengan rata-rata 0 g/100 ml. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi yang juga akan memberikan kontribusi kandungan kalori yang berarti terhadap konsumsi. Konsumsi yang cukup berarti dan didukung dengan kandungan energi yang cukup tinggi pada minuman kategori susu bubuk dapat memberikan kontribusi kalori yang berarti pada sampel yang mengkonsumsi minuman komersial kategori tersebut (Rachma 2009 dan Santoso et al 2011). Tabel 5 Kandungan Karbohidrat Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD Median Minimum Maksimum (g/100 (g/ 100 (g/100 (g/100 1 Susu Cair 10.4 ± 3.3 10.4 4.5 16.3 2 Susu Bubuk 13.8 ± 2.2 14.3 5.9 15.8 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 12.1 ± 2.4 12.4 0.0 17.2 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 5.3 ± 0.8 5.5 4.0 6.0 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 6.1 ± 6.0 8.7 0.0 14.8 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 0.0 0.0 0.0 0.0 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 6.2 ± 1.6 6.8 4.0 8.0 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 10.0 ± 9.4 16.7 0.0 18.7 10 Minuman Lain Teh Cair 9.7 ± 2.3 11.2 4.8 12.4 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi

Protein merupakan salah satu bahan penyusun tubuh yang mengandung nitrogen dengan unit dasarnya yaitu asam amino. Protein merupakan zat pembentuk tubuh yang penting di samping air, lemak, mineral, karbohidrat, dan berbagai vitamin yang terdapat di seluruh tubuh pada otot, kulit, rambut, jantung, dan organ tubuh lainnya (Kartasapoetra 2002). Asam amino penting dari kelompok non-esensial salah satunya adalah taurin. Taurin dapat disebut sebagai asam amino detoksifikasi yang bekerja mengikat dan menetralkan ksenobiotik (istilah umum untuk semua jenis toksin. Taurin (taurine) adalah asam amino detoksifikasi yang memberikan efek seperti glisin dalam menetralkan semua jenis toksin (xenobiotik) berbahaya. Manfaat lain taurin adalah sebagai pengendali neurotransmitter yang dapat mencegah kejang. Taurin yang terkandung di dalam produk minuman pembangkit tenaga (energy drink) digunakan sebagai unsur utama. Penggunaan taurin adalah sebagai pemulih stamina dosis 1000 mg sehari (Herwana 2005). Protein dengan kandungan komposisi tertinggi pada sampel minuman komersial per 100 ml nya terlihat pada kategori minuman susu cair dengan ratarata 2.5 g/ 100 ml (Tabel 6). Nilai komposisi kandungan terendah untuk zat gizi protein pada sampel minuman komersial terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air soda non kalori dengan rata-rata 0 g/100 ml. Kandungan protein pada minuman komersial juga merupakan salah satu penyumbang kalori pada minuman tersebut, dan kandungan protein tertinggi yang terdapat pada sampel minuman dengan kategori susu cair dan juga susu bubuk merupakan sampel yang juga dapat dikategorikan sebagai konsumsi yang cukup banyak diminati oleh masyarakat, hal ini terdapat pada penelitian Rachma (2009) dan Santoso et al (2011), yang menunjukkan frekuensi konsumsi minuman kategori susu bubuk dan cair yang cukup banyak dikonsumsi.

Tabel 6 Kandungan Protein Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD Median Minimum Maksimum (g/100 (g/ 100 (g/100 (g/100 1 Susu Cair 2.5 ± 1.0 2.6 0.0 4.5 2 Susu Bubuk 1.0 ± 0.9 0.7 0.4 3.8 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 0.0 ± 0.2 0.0 0.0 1.00 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 0.0 ± 0.0 0.0 0.0 0.2 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 0.5 ± 0.5 0.67 0.0 1.1 10 Minuman Lain Teh Cair 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi Menurut Almatsier (2004) Lemak merupakan sumber energi berkonsentrasi tinggi. Analisis komposisi kandungan lemak tertinggi untuk sampel minuman komersial per 100 ml nya terlihat pada minuman kategori susu cair dengan rata-rata 10.14 g/ 100 ml (Tabel 7). Zat gizi lemak dengan komposisi kandungan terendah pada sampel minuman komersial terlihat pada kategori minuman jus buah dan sayur cair dengan rata-rata dan standar deviasi 0.01 ± 0.05 g/100 ml. Komposisi kandungan lemak yang cukup beragam pada kategori ini menyebabkan nilai standar deviasi yang lebih tinggi dari nilai rata-rata pada sampel. Tabel 7 Kandungan Lemak Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD Median Minimum Maksimum (g/100 (g/ 100 (g/100 (g/100 1 Susu Cair 10.14 ± 4.21 2.63 3.44 18.30 2 Susu Bubuk 4.31 ± 6.69 0.67 0.13 23.71 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 0.01 ± 0.05 0.00 0.00 0.40 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 10 Minuman Lain Teh Cair 0.02 ± 0.11 0.00 0.00 0.61 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi

Komposisi kandungan zat gizi lemak yang terdapat pada minuman komersial juga merupakan salah satu penyumbang kalori pada minuman komersial tersebut, dan dengan kandungan lemak yang cukup tinggi pada minuman susu cair dan susu bubuk yang konsumsinya juga cukup banyak pada penelitan Rachma (2009) dan Santoso et al (2011). Hal ini dapat diduga sebagai salah satu penyumbang kalori tambahan pada konsumen yang mengkonsumsi minuman komersial kategori susu cair dan susu bubuk. Kandungan Vitamin pada Minuman Komersial Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh karna itu pemenuhannya harus di dapatkan dari sumber pangan, baik makanan maupun minuman. Tiap vitamin memiliki tugas yang sangat spesifik dalam tubuh. Vitamin merupakan zat organik yang dapat rusak karna penyimpanan dan pengolahan (Almatsier 2004). Pada minuman komersial vitamin dapat berasal dari kandungan alami minuman tersebut serta termasuk kedalam zat gizi, maupun tergolong ke dalam zat lain yang ditambahkan ke dalam minuman komersial yang dapat termasuk ke dalam golongan zat fungsional sebagai anti oksidan (Suriawiria 2002). Vitamin A dan B1 yang dianalisis berdasarkan komposisi nutrition fact pada sampel produk minuman komersial yang digunakan memiliki kandungan tertinggi per 100 ml nya terlihat pada minuman kategori susu cair dengan ratarata dan standar deviasi 102.63 ± 117.9 IU/100 ml untuk vitamin A, 0.12 mg/100 ml nilai rata-rata untuk vitamin B1. Jenis sampel minuman komersial yang memiliki kandungan vitamin A dan B1 terendah terlihat pada minuman kategori susu bubuk dengan rata-rata dan standar deviasi vitamin A sampel 46.92 ± 117.80 IU/100 ml dan vitamin B1 terdapat pada sampel kategori minuman berasa berbasis air energy drink 0.01 mg/100 ml (Tabel 8). Vitamin A dan B1 dengan kandungan yang cukup tinggi terlihat pada minuman komersial kategori susu cair. Sebagai penyumbang yang cukup berarti dalam pemenuhan vitamin A dan B1 pada kebutuhan konsumen yang mengkonsumsi minuman komersial, konsumsi minuman komersial kategori susu cair termasuk ke dalam konsumsi yang cukup banyak di konsumsi oleh konsumen, hal ini sesuai dengan penelitian Rachma (2009) dan Santoso et al (2011) yang menyatakan banyaknya konsumen yang mengkonsumsi minuman komersial kategori susu cair.

Tabel 8 Kandungan Vitamin A dan B1 pada Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD Vit A (IU/100 Min Maks Vit A (IU/100 ± SD Vit B1 Min Maks Vit B1 1 Susu Cair 102.63 ± 0.00 117.9 790.00 0.12 ± 0.07 0.00 0.35 2 Susu Bubuk 46.92 ± 0.00 117.80 424.24 0.01 ± 0.03 0.00 0.10 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 59.66 ± 0.00 86.05 480.00 0.02 ± 0.03 0.00-0.11 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 47.50 ± 0.00 51.20 100.00 0.03 ± 0.04 0.00 0.09 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik - - 0.01 ± 0.01 0.00 0.02 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink - - 0.13 ± 0.26 0.00 0.67 10 Minuman Lain Teh Cair 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi, min; minimum, maks; maksimum Vitamin B2 dan B6 yang komposisinya paling tertinggi pada sampel minuman komersial per 100 ml terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air energy drink dengan rata-rata dan standar deviasi 0.25 ± 0.44 mg/100 ml dan 2.40 mg/100 ml. Kandungan terendah Vitamin B2 terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air soda berkalori dengan rata-rata 0.01 ± 0.05 mg/100 ml, sedangkan untuk vitamin B6 terdapat pada sampel minuman dengan kategori susu bubuk dengan rata-rata dan standar deviasi 0.01 ± 0.03 mg/100 ml (Tabel 9). Konsumsi minuman komersial kategori minuman berasa berbasis air energy drink merupakan salah satu jenis minuman komersial yang cukup banyak di konsumsi oleh sampel pada penelitian Rachma (2009). Sehingga konsumsi pada kategori minuman berasa berbasis air energy drink dapat menjadi salah satu penyumbang vitamin B2 dan B6 pada konsumen yang mengkonsumsi minuman komersial tersebut.

Tabel 9 Kandungan Vitamin B2 dan B6 pada Minuman Komersial No Kategori Minuman ± SD Vit B2 Min Maks Vit B2 ± SD Vit B6 Min Maks Vit B6 1 Susu Cair 0.10 ± 0.07 0.00 0.30 0.19 ± 0.09 0.00 0.35 2 Susu Bubuk 0.02 ± 0.07 0.00 0.24 0.01 ± 0.03 0.00 0.12 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 0.03 ± 0.06 0.00 0.27 0.05 ± 0.07 0.00-0.21 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk - - 0.10 ± 0.10 0.00 0.20 6 Minuman Berasa berbasis Air 0.01 ± 0.05 0.00 0.29 - - Soda Berkalori 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik - - 0.14 ± 0.16 0.00 0.40 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 0.25 ± 0.44 0.00 1.07 2.40 ± 1.19 0.67 3.33 10 Minuman Lain Teh Cair 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi, min; minimum, maks; maksimum Sampel minuman komersial dengan kategori minuman berasa berbasis air soda berkalori yang memiliki kandungan vitamin B2 terendah dengan rata-rata dan standar deviasi 0.01 ± 0.05 mg/100 ml dan vitamin B6 terdapat pada sampel minuman kategori susu bubuk 0.01 ± 0.03 mg/100 ml. Nilai minimum dan maksimum terendah pada sampel minuman komersial yang dianalisis yaitu pada sampel minuman kategori susu bubuk dengan nilai 0.00 dan 0.24 mg/100 ml untuk kandungan vitamin B2, sedangkan kandungan terendah vitamin B6 yaitu 0.00 dan 0.12 mg/100 ml. Analisis untuk kadar Vitamin B9 dan C tertinggi per 100 ml pada sampel yang digunakan terlihat pada kategori minuman berasa berbasis air isotonik dengan rata-rata dan standar deviasi 27.27 ± 57.50 mg/ 100 ml untuk vitamin B9 dan vitamin C 33.82 ± 71.29 mg/100 ml. Komposisi kandungan vitamin B9 dan C terendah pada sampel minuman komersial terlihat pada kategori minuman jus buah dan sayur bubuk dengan rata-rata dan standar deviasi 2.50 ± 7.07 mg/100 ml untuk vitamin B9, sedangkan vitamin C pada sampel kategori susu bubuk 1.06 ± 3.00 mg/100 ml. Pada Tabel 10 nilai ini juga diikuti dengan nilai minimum dan maksimum yang juga merupakan komposisi dengan sampel jenis minuman komersial yang sama.

Tabel 10 Kandungan Vitamin B9 dan C pada Minuman Komersial No 1 Susu Cair 2 Susu Bubuk Kategori Minuman ± SD Vit B9 3.87 ± 14.36 3.22 ± 9.71 Min Maks Vit B9 0.00 100.00 0.00 103.04 ± SD Vit C Min Maks Vit C 3.24 ± 5.55 0.00 20.36 1.06 ± 3.00 0.00 10.91 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 23.36 ± 2.64 ± 6.70 0.00 24.00 19.57 0.00 72.00 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 17.16 ± 2.50 ± 7.07 0.00 20.00 20.90 0.00 45.00 6 Minuman Berasa Berbasis Air Soda Berkalori 7 Minuman Berasa Berbasis Air Soda Non-kalori 8 Minuman Berasa Berbasis Air 27.27 ± 33.82 ± 0.00-136.36 Isotonik 57.50 71.29 0.00 169.09 9 Minuman Berasa Berbasis Air Energy Drink 10 Minuman Lain Teh Cair - - 3.17 ± 9.48 0.00 45.20 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi, min; minimum, maks; maksimum Minuman komersial dengan kategori minuman berasa berbasis air isotonik yang pada penelitian ini merupakan penyumbang terbesar terhadap asupan vitamin B9 dan vitamin C pada konsumen yang mengkonsumsi minuman berasa berbasis air isotonik, namun berdasarkan penelitian Santoso et al (2011) konsumsi pada kategori minuman berasa berbasis air isotonik sangat jarang di konsumsi oleh sampel pada penelitian tersebut. Kandungan Mineral pada Minuman Komersial Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Kalsium, fosfor, dan magnesium adalah bagian dari tulang dan gigi (Almatsier 2004). Penambahan mineral mineral tertentu seperti kalsium dan fosfor menjadi salah satu faktor penghambat pelepasan mineral kalsium pada gigi ketika terjadi paparan dengan minuman yang memiliki ph rendah, hal ini sesuai dengan penelitian Magalhaes et al (2009). Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh diperlukan salah satunya untuk pemeliharaan keseimbangan asam-basa (Almatsier 2004). Mineral pada sampel minuman komersial yang dianalisis berdasarkan nutrition fact produk memiliki komposisi kandungan tertinggi per 100 ml terlihat pada jenis minuman kategori susu cair dengan rata-rata 39.57 mg/100 ml untuk kadar

natrium, sedangkan rata-rata dan standar deviasi kalium yaitu 77.79 ± 82.84 mg/100 ml (Tabel 11). Kandungan mineral terendah natrium dan kalium pada sampel minuman komersial terlihat pada minuman kategori susu bubuk dengan rata-rata dan standar deviasi 3.00 ± 12.08 g/100 ml untuk natrium dan 0.00 g/100 ml pada kandungan kalium terendah. Minuman dengan kategori susu cair dan minuman berasa berbasis air isotonik merupakan minuman dengan kandungan natrium dan kalium yang cukup tinggi pada minuman komersial. Menurut penelitian Santoso et al (2011) konsumsi minuman komersial dengan kategori susu cair termasuk dalam kategori minuman yang cukup banyak di konsumsi, sedangkan minuman dengan kategori minuman berasa berbasis air isotonik termasuk dalam kategori yang jarang di konsumsi pada sampel penelitian tersebut, sehingga konsumsi minuman kategori susu cair akan memberikan pengaruh yang cukup berarti terhadap asupan mineral natrium dan kalium konsumen yang mengkonsumsi minuman tersebut. Konsumsi minuman dengan kategori minuman berasa berbasis air isotonik di duga tidak akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap konsumen yang mengkonsumsi minuman komersial tersebut, karena konsumsi yang cukup rendah oleh sampel terhadap minuman komersial tersebut. Tabel 11 Kandungan Natrium dan Kalium Minuman Komersial ± SD Min Maks ± SD Natrium No Kategori Minuman Natrium Kalium 1 Susu Cair 39.57 ± 0.00 120.00 77.79 ± 82.84 Min Maks Kalium 0.00 200.00 27.40 2 Susu Bubuk 3.00 ± 12.08 0.00 51.35 0.00 ± 0.00 0.00 0.00 3 AirMineralDalamKemasan 4 Jus Buah dan Sayur Cair 7.56 ± 6.68 0.00 15.00 0.00 ± 0.00 0.00 0.00 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 16.55 ± 0.00 0.00 46.00 8.33 ± 21.01 11.02 112.00 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 5.71 ± 8.20 0.00 37.88 0.00 ± 0.00 0.00 0.00 7 Minuman Berasa berbasis 17.19 ± Air Soda Non-kalori 16.29 7.58 36.00 0.00 ± 0.00 0.00 0.00 8 Minuman Berasa berbasis 35.84 ± 0.00 22.00 54.55 35.37 ± 37.85 Air Isotonik 13.35 108.00 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 10 Minuman Lain Teh Cair 17.56 ±13.15 0.40 63.89 0.68 ± 2.25 0.00 10.53 11 Minuman Lain Teh Bubuk 12 Minuman Lain Kopi Bubuk *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi, min; minimum, maks; maksimum

ph pada Minuman Komersial ph adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa suatu larutan. ph merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan karena derajat keasaman air akan mempengaruhi sistem metabolisme dalam tubuh manusia (Prasetyo 2005). Standar Nasional Indonesia (SNI.01-3553-1996) menetapkan ph AMDK (Air Minum dalam Kemasan) yaitu berkisar antara 6,5 hingga 8,5 untuk Air mineral, sedangkan air demineral 5.0 7.5. Menurut Trisnanto (2008), minuman ringan still drink maupun yang bersoda memiliki ph rendah (ph < 4,5). Kopi dan teh biasanya memiliki tingkat keasaman netral (ph < 5-7). Berdasarkan ph-nya, terdapat dua jenis jus yakni acidic juices (ph < 4,6) dan low acidic juices (ph > 4,6). Susu segar mempunyai sifat ampoter, artinya dapat bersifat asam dan basa sekaligus dengan ph susu segar terletak antara 6,5 hingga 6,7 (Sandrapratama 2009). Standar Nasional Indonesia untuk beberapa kategori minuman komersial memiliki standar ph, seperti minuman berasa berbasis air isotonik diharuskan memiliki standar ph maksimum 4.0. Minuman berasa berbasis air energy drink memiliki batas untuk standar ph, yaitu 2.5 4.0. Air minum dalam kemasan memiliki dua standar berdasarkan proses pembuatannya. Menurut hasil penelitian Prasetyo (2005), demineralisasi dapat terjadi apabila enamel berada dalam suatu lingkungan ph di bawah 7. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, bahwa air minum yang bersifat asam (ph < 7) dapat menyebabkan terjadinya kasus erosi gigi. Proses demineralisasi enamel adalah rusaknya hidroksi apatit gigi yang merupakan komponen utama enamel akibat proses kimia. Saat ini banyak minuman dengan ph di bawah 5,5 yang dikonsumsi oleh masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo dengan melakukan perendaman terhadap premolar gigi rahang atas, hasil menunjukkan bahwa sampel yang direndam dalam minuman cola menyebabkan kekerasan gigi berkurang atau menurun. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ph minuman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya erosi enamel. ph yang rendah pada minuman tersebut dipengaruhi oleh bahan tambahan makanan (BTM), kandungan kalori, suhu, enzim, kemasan, lama penyimpanan, efek fermentasi, serta kandungan mineral dari minuman tersebut (Prasetyo 2005; Magalhes et al 2009).

ph tertinggi pada sampel minuman komersial yang di analisis dengan menggunakan alat ph meter terlihat pada jenis minuman air mineral dengan ratarata 6.69. Sampel minuman komersial dengan kadar ph terendah terlihat pada jenis minuman jus buah sayur 3.26 (Tabel 12). Tabel 12 Nilai ph Minuman Komersial No Jenis Minuman ± SD Mininum Maksimum ph ph ph 1 Susu Cair 6.33 ± 1.08 3.55 7.11 2 Susu Bubuk 6.73 ± 0.51 4.90 7.20 3 AirMineralDalamKemasan 6.69 ± 1.07 4.39 7.72 4 Jus Buah dan Sayur Cair 3.82 ± 0.37 3.00 4.52 5 Jus Buah dan Sayur Bubuk 3.26 ± 0.30 2.92 3.82 6 Minuman Berasa berbasis Air Soda Berkalori 3.27 ± 0.48 2.71 4.43 7 Minuman Berasa berbasis Air Soda Non-kalori 4.22 ± 1.24 3.06 5.53 8 Minuman Berasa berbasis Air Isotonik 3.84 ± 0.28 3.28 4.31 9 Minuman Berasa berbasis Air Energy Drink 3.42 ± 0.26 3.03 3.76 10 Minuman Lain Teh Cair 4.78 ± 1.30 3.41 7.25 11 Minuman Lain Teh Bubuk 5.68 ± 2.00 3.32 7.41 12 Minuman Lain Kopi Bubuk 6.39 ± 0.25 5.86 6.82 *ket : ; rata-rata, SD ; standar deviasi Hasil dari penelitian Alamsyah (2010) diketahui bahwa minuman dengan ph lebih rendah dari 3.00 memiliki kemampuan yang sangat cepat dalam mempengaruhi erosi enamel gigi. Hal ini juga dibuktikan dengan penelitian ini yang menemukan bahwa sampel sebelumnya memang memiliki kadar ph yang rendah (Maghales et all 2008). Sampel minuman lainnya memiliki kadar ph yang cukup bervariasi, namun didominasi oleh kadar ph yang rendah karna adanya penambahan BTP seperti asam askorbat, penambahan flavoring, penambahan pemanis dengan kandungan kalori tertentu, suhu minuman, penambahan enzim pada minuman tertentu, misalnya pada minuman kesehatan. Pengemasan minuman yang dapat menjaga ataupun menurunkan efek perubahan organoleptik pada minuman komersial, lama penyimpanan minuman komersial dan tempat penyimpanan sebelum di konsumsi oleh konsumen, efek fermentasi beberapa minuman yang sengaja di olah dengan efek perubahan komposisi pada minuman tersebut. (Lussi 2004; Prasetyo 2005; Maghlaes et al 2009; Lussi & Jaeggi 2006)