ALTERNATIF PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR

dokumen-dokumen yang mirip
Alternatif Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Daerah

BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari peforma pembangunan infrastrukturnya. Maka dari itu, perbaikan

PENGAMANAN FISKAL MELALUI POLA PEMBAGIAN RISIKO ANTARA PEMERINTAH DAN SWASTA

Fasilitas Fiskal untuk Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur 1

Perkembangan Infrastruktur Indonesia

KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA DIREKTORAT PENGELOLAAN DUKUNGAN PEMERINTAH DAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS

Mandatory Spending, SAL dan Kelebihan Pembiayaan (overfinancing) APBN

MEMAHAMI PROJECT BASED SUKUK (PBS)

FASILITAS PEMERINTAH UNTUK MENDUKUNG PROYEK KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA (KPBU)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN. Kebijakan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

PINJAMAN LUAR NEGERI DAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH. Oleh : Ikak G. Patriastomo 1

TANTANGAN DAN PELUANG PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA

DAFTAR ISI DISCLAIMER

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

BAB 2. Kecenderungan Lintas Sektoral

SUN SEBAGAI INSTRUMEN PEMBIAYAAN DEFISIT APBN

I. PENDAHULUAN. Kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengarahkan

TANTANGAN KEBIJAKAN FISKAL DALAM PENGEMBANGAN KONEKTIVITAS TRANSPORTASI

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri

Aspek Perpajakan Viability Gap Fund 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Direct Lending Kepada BUMN Sebagai Alternatif Pembiayaan Infrastruktur

BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

ARAH KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG UMKM DAN KOPERASI

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun memberikan dampak pada

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan pasti menginginkan adanya pertumbuhan laba yang diperoleh

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENDORONG KEPEMILIKAN RUMAH UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH

Makalah Penerimaan Negara

PERENCANAAN PROGRAM DAN PEMBIAYAAN PEMERINTAH MENUJU 100% AIR MINUM. Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas Jakarta, Januari 2015

2015, No Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Ta

BAB I PENDAHULUAN. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun

LOGO. Pokok-Pokok Pikiran Kadin Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. adanya ketimpangan dan ketidakmerataan. Salah satu penyebabnya adalah

Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Mengapa KPBU?

PENGELOLAAN KEWAJIBAN KONTINJENSI TAHUN ANGGARAN 2011

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Pembangunan Infrastruktur Untuk Memacu Pertumbuhan Ekonomi dan Mengurangi Kesenjangan

I. PENDAHULUAN. Implementasi desentralisasi fiskal yang efektif dimulai sejak Januari

KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Direktorat Bina Investasi Infrastruktur Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umumdan Perumahan Rakyat 2017

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PROYEK STRATEGIS NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TEORI PENGELUARAN NEGARA. Dwi Mirani, S.IP

SUPPLY DEMAND MATERIAL DAN PERALATAN KONSTRUKSI DALAM RANGKA MENDUKUNG INVESTASI INFRASTRUKTUR NASIONAL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN KILANG MINYAK DI DALAM NEGERI

M E T A D A T A INFORMASI DASAR

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan

National Summit 2009

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan

PENERIMAAN NEGARA. Kelompok 4 Opissen Yudisyus Muhammad Nur Syamsi Desyana Enra Sari LOGO

BAB I PENDAHULUAN. landasan hukum dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang. menjadi UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 33 Tahun 2004.

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dan pelayanan publik, mengoptimalkan potensi pendapatan daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. APBN/APBD. Menurut Erlina dan Rasdianto (2013) Belanja Modal adalah

PROFIL INVESTASI BIDANG PEKERJAAN UMUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA DALAM MENDUKUNG INDONESIA BEBAS SAMPAH MEKANISME DAN LINGKUP PENGADAAN

RINGKASAN APBN TAHUN 2017

DANA PERIMBANGAN DAN PINJAMAN DAERAH

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference. Development. Jakarta, 2 September 2015

FORMULIR 2 : RENCANA PENCAPAIAN HASIL (OUTCOME) UNIT ORGANISASI TAHUN ANGGARAN : 2015

Bendungan Teritip Akan Pasok Tambahan Air Baku 250 liter/detik Bagi Kota Balikpapan

I. Permasalahan yang Dihadapi

Menjaga Kualitas Belanja Melalui Pengendalian Pelaksanaan Anggaran

Pemanfaatan Dukungan Pemerintah terhadap PLN dalam Penyediaan Pasokan Listrik Indonesia

Penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak Sebagai Instrument Fiskal Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2015

TATA CARA KERJASAMA PENYELENGGARAAN SPAM

5.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

UMKM & Prospek Ekonomi 2006

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan otonomi daerah ditandai dengan diberlakukannya UU No.

BAB I PENDAHULUAN. Cita-cita bangsa Indonesia dalam konstitusi negara adalah untuk

Tabungan, Investasi dan Sistem Keuangan. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

PENDANAAN PROGRAM PRIORITAS DAN RKP 2017

MEKANISME PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA NEGARA

Menyoal Efektifitas APBN-P 2014 Mengatasi Perlambatan Ekonomi

PENTINGNYA MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ALTERNATIF PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR Oleh: Menteri PPN/Kepala Bappenas Jakarta, Desember 2012

PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MELALUI APBN 2005-2013 250,0 2,30 2,5 200,0 2,05 2 150,0 1,62 1,51 1,59 1,63 1,54 1,73 1,5 100,0 50,0 0,0 0,94 26,1 54,0 59,8 78,7 91,3 99,4 128,7 174,9 203,9 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (APBN-2013 (APBN) P) Total Anggaran Pembiayaan Infrastruktur Infrastruktur Melalui (IDR APBN Trilliun) (IDR Triliun) % terhadap GDP 1 0,5 Sumber : Kementerian Keuangan Slide - 2

INVESTASI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR, 2010-2013 (APBN, APBD, BUMN, dan Swasta) Triliun Rupiah 500 4,10 4,23 4,51 4,72 438,1 (%) 5,00 4,50 400 385,2 60,2 4,00 300 200 263,9 41,8 47,85 74,88 314,1 46,9 56,95 81,51 53,2 68,40 88,72 77,40 96,56 3,50 3,00 2,50 2,00 1,50 100 99,4 128,7 174,9 203,9 1,00 0,50 0 2010 2011 2012 (APBN-P) 2013 (APBN) APBN APBD BUMN Swasta Total % terhadap GDP 0,00 Sumber: DJA, DJPK, Kemen. Keuangan, KPS-Bappenas, BPS(diolah) Slide - 3

PERBANDINGAN INVESTASI INFRASTRUKTUR DI CHINA, INDIA, DAN INDONESIA, 2005-2010 Investasi infrastruktur di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan China dan India. Sejak tahun 2009 investasi infrastruktur di India sudah diatas 7 % PDB dan di China sejak tahun 2005 sudah mencapai 9-11 % PDB. Sementara itu, di Indonesia baru mencapai sekitar 4,5-5 % PDB. Slide - 4

KEBUTUHAN INVESTASI INFRASTRUKTUR 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Pertumbuhan (%)¹ 4,5 6,1 6,5 6,3 6,8 7,0-7,7)² PDB (Triliun Rupiah)¹ 5.606,2 6.436,3 7.427,1 8.179 9.284 10.583 Total Alokasi Infrastruktur¹ 218,6 263,9 314,1 385,2 438,1 N/A Kebutuhan Investasi Infrastruktur 5% PDB (Triliun Rupiah)³ 280,3 321,8 371,4 409,0 464,2 529,2 Kebutuhan Investasi Infrastruktur 7% PDB (Triliun Rupiah)³ 392,4 450,5 519,9 572,5 649,9 740,8 Gap kebutuhan investasi infrastruktur untuk 7 % PDB (Triliun Rupiah)³ 173,8 186,6 205,8 187,3 211,8 N/A )¹ Sumber: Nota Keuangan, Kementerian Keuangan )² Minimal 7 % berdasarkan RPJMN 2010-2014 )³ Sumber : Hasil Analisa Berdasarkan rule of thumb investasi infrastruktur minimal 5 % dari PDB. Saat ini, total investasi infrastruktur (APBN, APBD, BUMN/BUMD, dan Swasta) hampir 5 % dari PDB. Untuk tahun 2012, total investasi infrastruktur Indonesia sebesar Rp. 385,2 Triliun (4,51 % PDB) dan pada tahun 2013 direncanakan sebesar Rp. 438,1 Triliun (4,72 %). Slide - 5

SKEMA PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR Pemerintah Pusat dan Daerah Pembangunan Infrastruktur Dasar (APBN/APBD) Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur BUMN/BUMD KPS dan Penugasan Pemerintah Swasta KPS dan Pembangunan Infrastruktur Khusus di kawasan Industri/khusus/KEK Dalam rangka mengoptimalkan dukungan pembiayaan infrastruktur, diperlukan kerjasama yang sinergi dan terintegrasi antar semua pelaku sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Slide - 6

SKEMA ALTERNATIF PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MELALUI KPS Kelayakan Proyek Skema Swasta/BUMN/BUMD 1 Layak secara ekonomi dan KPS Reguler finansial )¹ Swasta/BUMN/BUMD 2 Layak secara ekonomi dan Swasta/BUMN/BUMD finansial marjinal Pemerintah Swasta/BUMN/BUMD KPS dgn Dukungan Pemerintah )² Swasta/BUMN/BUMD Layak secara ekonomi tetapi 3 Hybrid Financing tidak layak secara finansial Pemerintah Operasi dan Pemeliharaan Konstruksi )¹ Idealnya skema 1 diserahkan penuh kepada pihak swasta, sedangkan BUMN/BUMD mengerjakan skema 2 dan 3 )² Kontribusi Pemerintah = Dukungan Pemerintah, bisa dilakukan melalui: (a) Pendanaan pembebasan lahan; (b) Pembiayaan sebagian konstruksi; (c) Pemberian Viability Gap Fund (VGF) Slide - 7

PERAN DAN FUNGSI PEMERINTAH PUSAT DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR (1/4) No Pelaku Upaya yang dapat dilakukan 1 Pemerintah Pusat a. Fokus pada pembangunan prasarana dasar, b. Meningkatkan alokasi anggaran infrastruktur, dengan: 1) Mengurangi alokasi subsidi energi, 2) Membuat ruang fiskal (fiscal space) yang lebih besar untuk alokasi pembiayaan infrastruktur, c. Mempertajam prioritas infrastruktur, terutama jenis infrastruktur yang memiliki multiplier effect tinggi terhadap peningkatan kegiatan perekonomian, d. Meningkatkan efisiensi dengan melakukan penghematan belanja pegawai dan barang untuk menaikkan porsi belanja modal bagi pembangunan infrastruktur. Slide - 8

PERAN DAN FUNGSI PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR (2/4) No Pelaku Upaya yang dapat dilakukan 2 Pemerintah Daerah a. Meningkatkan efisiensi melalui penghematan belanja pegawai dan barang untuk menaikkan porsi belanja modal bagi pembangunan infrastruktur daerah, b. Agar diperoleh manfaat yang optimal dari pembangunan infrastruktur nasional, maka perlu dilakukan pembangunan infrastruktur provinsi dan kabupaten/kota yang dihubungkan dengan infrastruktur nasional, c. Melakukan pembangunan infrastruktur lokal/perdesaan terutama untuk membuka akses pasar hasil produksi pertanian dan membuka akses wilayahwilayah terpencil/terisolasi. Slide - 9

PERAN DAN FUNGSI BUMN/BUMD DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR (3/4) No Pelaku Upaya yang dapat dilakukan 3 BUMN /BUMD (BUMN eksisting dan BUMN baru) a. Mobilisasi dana melalui perbankan dan market portfolio: 1) Melakukan pinjaman langsung dari multi donor internasional (Bank Dunia, ADB, dll) 2) Memanfaatkan dukungan dana dari PT. IIF/PT. SMI 3) Menambah Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) 4) Penerbitan obligasi/infrastructure bond 5) Melalui IPO di pasar modal 6) Melakukan pinjaman dari Bank Swasta/BUMN/BUMD dan Bank Pembangunan (perlu dikaji kemungkinannya) 7) Memobilisasi penggunaan dana asuransi dan pensiun 8) Kombinasi butir 1-7 b. Property Asset Management-PAM (pengelolaan aset properti di sekitar wilayah infrastruktur yang akan di bangun) PAM dilakukan untuk memperoleh benefit dari kenaikan land price value yang bisa digunakan untuk pengembalian sebagian investasi infrastruktur ) Slide - 10

PERAN DAN FUNGSI SWASTA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR (4/4) No Pelaku Upaya yang dapat dilakukan 4 Swasta a. Pembiayaan infrastruktur melalui Skema KPS/PPP: Percepatan peran Swasta dalam pembiayaan infrastruktur dengan memanfaatkan dukungan Pemerintah antara lain: Guarantee Fund Infrastructure Fund Land Revolving Fund dan Land Capping Viability Gap Fund (VGF) b. Pembiayaan infrastruktur untuk kawasan industri/khusus/kek: Swasta dapat membangun dan membiayai infrastruktur untuk pemakaian sendiri. Untuk itu, Pemerintah akan memberikan insentif fiskal. (PP No 45/2008 Tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah; PP No. 62/2008 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan atau Daerah- Daerah Tertentu). Slide - 11

TERIMAKASIH