Oleh : ALI SYUKRON. Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

4. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif, antara lain QS. al- Ma idah [5]: 2:./0*+(,-./ #%/.12,- 34 D

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Sriono ISSN Nomor TELAAH TERHADAP PERJANJIAN SEWA MENYEWA (AL IJARAH) DALAM PERBANKAN SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembiayaan jangka pendek dengan margin yang rendah. Salah. satunya pegadaian syariah yang saat ini semakin berkembang.

Dealin Mahaputri Leonika

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah [2]: 275: &$!%#*#$ 234 +#,-.,(/01 '() )5'(2%6.789:;<= & #AB7CDE3" Orang yang makan (mengambil) riba ti

BAB I PENDAHULUAN. Kendala yang sering dipermasalahkan dan merupakan kendala utama adalah

BAB I PENDAHULUAN. Arthaloka Gf, 2006 ), hlm M. Nadratuzzaman Hosen, Ekonomi Syariah Lembaga Bisnis Syariah,(Jakarta: Gd

Sekretariat : Gedung MUI Lt.3 Jl. Proklamasi No. 51 Menteng - Jakarta Telp. (021) Fax: (021)

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Isa Ansori. DLB STAIN Jurai Siwo Metro Abstract

Konversi Akad Murabahah

AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH

Pengertian. Dasar Hukum. QS. Al-Baqarah [2] : 275 Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

BAB IV. Seperti di perbankan syari ah Internasional, transaksi mura>bah}ah merupakan

SYIRKAH MUTANAQISHAH DAN IMPLEMENTASINYA PADA PEMBIAYAAN KPRS DI BANK SYARIAH

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas generasi mendatang, termasuk perannya sebagai pemantapan jati diri.

$!%#&#$ /0.#'()'*+, *4% :;< 63*?%: #E Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya

BAB I PENDAHULUAN. dana (liabilities), penyaluran dana (asset) berupa pembiayaan, dan jasa-jasa

SESI : 07 ACHMAD ZAKY

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. 3. Firman Allah SWT

MUSYARAKAH MUTANAQISAH SEBAGAI ALTERNATIF PADA PEMBIAYAAN KPRS DI BANK SYARIAH. Kajian LiSEnSi, Selasa, 23 Maret 2010

Materi: 12 AKUNTANSI IJARAH

MUSYARAKAH MUTANAQISHAH

BAB I PENDAHULUAN. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Perbankan Syariah. Akuntansi Ijarah

BAB I PENDAHULUAN. M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hlm.

KODIFIKASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. Pencatatan akuntansi pembiayaan ijarah pada PT. Bank Muamalat

BAB II LANDASAN TEORI. pelanggan perusahaan tidak berarti apa-apa. Bahkan sampai ada istilah yang

Dan Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa at) sampai ia dewasa penuhilah janji; sesungguhnya janji

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ASURANSI JIWA PADA PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG LARANGAN SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan hidup, terutama kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan

Implementasi ijarah dalam lembaga keuangan syariah

MURA>BAH}AH DAN FATWA DSN-MUI

BAB IV ANALISIS HASIL PEMBAHASAN PEMBIAYAAN. A. Analisis Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Pada Produk. Pembiayaan Angsuran di BMT SM NU Cabang Kajen.

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HUTANG-PIUTANG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM MULTIJASA DI PT. BPRS LANTABUR TEBUIRENG KANTOR CABANG MOJOKERTO

BAB 1 PENDAHULUAN. hidupnya. Untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut para pelaku usaha

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang menjalankan kegiatan perekonomian. Salah satu faktor penting

BAB I PENDAHULUAN. hal Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Bandung: Pustaka Setia, 2013,

Pada hakikatnya pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank. pemenuhan kebutuhan akan rumah yang disediakan oleh Bank Muamalat

PRODUK PEMBIAYAAN BERBASIS SEWA

BAB II LANDASAN TEORI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Exploring Islamic Products by Comparing Aqad between Indonesia and Malaysia. Muhamad Nadratuzzaman Hosen dan Amirah Ahmad. Jakarta, 19 Juli 2011

ANALISIS KOMPARASI SAK 30 SEWA DENGAN SAK SYARIAH 107 IJARAH

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB V PEMBAHASAN. A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat. Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo

MAKALAH LEASING. Diajukan dan dipersentasikan. pada mata kuliah Seminar Manajemen Keuangan. Di bawah bimbingan : Wahyu Indah Mursalini, SE, MM

FATWA MUI TENTANG TRADING FOREX

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II DASAR TEORI. mengandalkan pada bunga. Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang

A. Mekanisme Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah 1. Skema Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah

No. 10/ 14 / DPbS Jakarta, 17 Maret S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK SYARIAH DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. intermediasi yang menghubungkan antara pihak-pihak yang kelebihan (surplus) dana

BAB IV ANALISIS AKUNTANSI PEMBIAYAAN MUSYARAKAH WAL IJARAH MUNTAHIYA BITTAMLIK DI BMI CABANG PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan usahanya agar lebih maju. pembiayaan berbasis Pembiayaan Islami.

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2):278 45)& %*('! Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang b

BAB I PENDAHULUAN. dana dari pihak yang berkelebihan untuk kemudian di salurkan kepada pihak yang

ب س م االله الر ح من الر ح ي م

BAB V PENUTUP. praktik akuntansi pembiayaan murabahah pada Bank BRI Syariah telah

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam

BAB II REGULASI PERBANKAN SYARI AH DAN CARA PENYELESAIANNYA. kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2): dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2):27

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk adanya sebuah lembaga keuangan. Salah satu lembaga

BAB IV. IMPLEMENTASI AKAD IJĀRAH DALAM BNI ib PEMBIAYAAN HAJI DI BNI SYARIAH CABANG PEKALONGAN

BAB IV IMPLEMENTASI AKAD MURABAHAH PADA PEMBIAYAAN EMAS DI BNI SYARIAH CABANG PEKALONGAN (STUDY KASUS)

FATWA DEWAN SYARI AH NASIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian yang dilakukan Wardi dan Putri (2011) tentang Analisis

BAB V PENGAWASAN KEGIATAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 1

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 55/DSN-MUI/V/2007 Tentang PEMBIAYAAN REKENING KORAN SYARIAH MUSYARAKAH

BAB I PENDAHULUAN. prinsip keadilan dan keterbukaan, yaitu Perbankan Syariah. operasional bisnisnya dengan sistem bagi hasil.

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan dana. Bank

BAB II LANDASAN TEORI. yang disepakati. Dalam Murabahah, penjual harus memberi tahu harga pokok

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI PULPULAN DI DESA PALOH KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN. Paloh Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan

BAB II LANDASAN TEORI. transaksi tersebut sehingga menghasilkan laporan keuangan yang dapat digunakan

ANALISA PENERAPAN AKUNTANSI IJARAH PADA BANK DKI CABANG SYARIAH WAHID HASYIM

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana. tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir,

1. Analisis Hukum Islam Terhadap Bentuk Dan Tata Cara Akad Ija>rah Sale. menghadapi resiko-resiko yang disebabkan karena suatu musibah yang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. di dalamnya juga mencakup berbagai aspek kehidupan, bahkan cakupannya

Transkripsi:

IMPLEMENTASI AL-IJĀRAH AL-MUNTAHIYA BI AL-TAMLIK (IMBT) DI PERBANKAN SYARIAH Oleh : ALI SYUKRON Abstrak Al-Ijārah al-muntahiya bit al-tamlik (IMBT) merupakan salah satu alternatif skim pembiayaan syariah untuk memfasilitasi pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang yang sesuai dengan jenis usaha nasabah sekaligus mengamankan kepentingan bank. Artikel ini berusaha menjelaskan operasi akad IMBT di perbankan syariah. Dibandingkan dengan akad mudharabah, akad IMBT ini lebih fleksibel dan kompetitif bagi nasabah dalam penetapan harga sewa, walaupun ada beberapa risiko yang mungkin terjadi yang harus diantisipasi. seperti risiko default yaitu nasabah tidak membayar cicilan dengan sengaja, aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh si pemberi sewa (muajjir), dan nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian kepada nasabah. Kata Kunci: IMBT, murabahah, bank syariah, muajjir, leasing, ijarah A. Pendahuluan Disadari atau tidak perkembangan teknologi informasi telah menciptakan berbagai kesempatan di bidang keuangan salah satunya pada pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang. Perkembangan lembaga pembiayaan barang modal jangka menengah dan panjang yang sudah begitu pesat namun hanya dikuasai oleh lembaga keuangan bukan bank (perusahaan leasing/multifinance) konvensional sehingga perbankan syariah pun harus melakukan inovasi produk yang berbasis syariah untuk menangkap peluang kebutuhan pasar tersebut Leasing atau ijarah merupakan salah satu bentuk pembiayaan barang modal jangka menengah dan panjang yang telah menjangkau berbagai objek seperti apartemen, perkantoran, pertokoan, perumahan, telepon, mobil, komputer dan bahkan bangunan dan peralatan pabrik. 1 Namun pada kenyataannya Bank syariah 1 Agus Sartono mendefinisikan Leasing adalah suatu kontrak antara pemilik aktiva yang disebut dengan lessor dan pihak lain yang memanfaatkan aktiva yang disebut dengan lessee untuk jangka waktu tertentu. Lihat, Agus Sartono, Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: BPFE UGM), 304 74 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

selama ini memfasilitasi kebutuhan pembiayaan jangka menengah dan panjang dengan skim Murabahah (jual beli). Penggunaan skim Murabahah dengan karakteristik harga jual tidak dapat berubah selama masa akad berimplikasi bank syariah harus menanggung rate of return risk yang sangat tinggi. Selain itu, dengan pola perhitungan margin secara proporsional, semakin panjang jangka waktu pembiayaan Murabahah semakin besar pula margin loss opportunity bank syariah. Untuk menjawab hal di atas, maka pembiayaan dengan skim al-ijārah al- Muntahiya bit al-tamlik (IMBT) merupakan salah satu alternatif skim syariah untuk memfasilitasi pembiayaan jangka panjang yang sesuai dengan jenis usaha nasabah sekaligus mengamankan kepentingan bank. Dengan skim IMBT, bank syariah dapat menetapkan harga sewa yang lebih fleksibel dan kompetitif kepada nasabah. Al-Ijārah al-muntahiya bit al-tamlik (IMBT) merupakan pengembangan dari transaksi ijarah, maka ketentuannya juga mengikuti ketentuan ijarah. Di beberapa Negara dan juga dalam bank Syariah IMBT juga dikenal dengan sebutan al-ijārah wal Iqtina yang artinya sama dengan al-ijārah al-muntahiya bit al-tamlik yaitu pengalihan/ perpindahan hak kepemilikan dangan opsi menjual atau menghibahkan pada akhir masa sewa. al-ijārah wal Iqtina merupakan konsep hire purchase, dalam lembaga keuangan Islam disebut dengan financial leasing with purchase option. B. Pembahasan Terdapat 2 (dua) jenis akad sewa guna, yaitu: Al-Ijārah (Operational Lease) dan Al-Al-Ijārah al-muntahiya bit Al-Tamlik (Financial Lease with Purchase Option) 1. Al-Ijārah (Operational Lease) Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak sewa guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. 2 Secara umum akad ini diperbolehkan oleh fuqaha. Hal ini disebabkan meskipun syariat tidak memperbolehkan fixed charge pada 2 Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 116 75 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

ISSN: 2088-6365 modal finansial, namun ia memperbolehkan fixed charge pada modal riil. Hal ini dikarenakan dengan mengubah modal finansial ke dalam aset non finansial penyedia dana sudah melibatkan dirinya dalam suatu risiko. 3 Landasan hukum disyariatkannya akad ini adalah sebagai berikut: a. Firman Allah SWT QS. al-zukhruf [43]: 32 Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. b. Hadits Nabi SAW Hadist riwayat Abd ar-razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa id al- Khudri, Nabi s.a.w. bersabda: Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Nasa i dari Sa`d Ibn Abi Waqqash, dengan teks Abu Daud, ia berkata: Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil tanaman yang tumbuh pada parit dan tempat yang teraliri air; maka Rasulullah melarang 3 M. Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2000), 118 76 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakan tanah itu dengan emas atau perak (uang). Hadits Nabi riwayat Tirmizi dari 'Amr bin 'Auf al-muzani, Nabi s.a.w. bersabda: Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Hadits Nabi riwayat Ahmad dari Ibnu Mas ud: Rasulullah melarang dua bentuk akad sekaligus dalam satu obyek. c. Kaidah fiqh: Pada dasarnya, segala bentuk mu amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah." d. Fatwa Ulama Menurut Fatwa Dewan Syari ah Nasianal No: 09/DSN- MUI/IV/2000, Al-Ijarah adalah Akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Dengan demikian, dalam akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan, 77 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

tetapi hanya pemindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa. 4 Dalam kegiatan ekonomi transaksi seperti ini pada umumnya dikenal dengan nama leasing (sewa guna usaha), dimana pihak pemberi jasa sewa guna (lessor) memberikan kesempatan kepada penyewa (lessee) untuk memperoleh manfaat dari barang untuk jangka waktu tertentu, dengan ketentuan penyewa akan membayar sejumlah uang (sewa) pada waktu yang disepakati secara periodik. Apabila telah habis jangka waktunya, benda atau barang yang dijadikan obyek al-ijarah tersebut tetap menjadi milik lessor. 5 Agus Sartono memberikan ciri-ciri dari bentuk pembiayaan ini: 6 a. Obyek sewa guna digunakan lessee dalam masa kontrak dengan jangka waktu relatif singkat dari masa umur ekonomisnya b. Jumlah seluruh pembiayaan sewa secara berkala yang dilakukan oleh lessee kepada lessor tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal. c. Risiko ekonomis dan biaya pemeliharaan barang modal menjadi ditanggung oleh pihak lessor d. Barang modal yang menjadi obyek sewa harus dikembalikan oleh pihak lessee kepada lessor pada akhir masa kontrak atau dapat dikatakan bahwa pihak lessee tidak memiliki hak/opsi untuk membeli obyek sewa guna. e. Bersifat cancellable atau pihak lessee dapat secara sepihak membatalkan perjanjian kontrak sewa guna sewaktu-waktu Jenis transaksi ini tidak begitu populer di lembaga-lembaga keuangan karena berbagai alasan teknis. Salah satu alasan utama tidak populernya jenis ini adalah karena belum tersedianya dukungan pasar sekunder atas barang bekas sewa guna. 2. Al-Ijārah al-muntahiya bit Al-Tamlik (Financial Lease with Purchase Option) a. Pengertian 4 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa-Fatwa Dewan Syari ah Nasional, (Jakarta: DSN MUI bekerjasama dengan Bank Indonesia, 2006), 55 5 Didik Hijrianto, Pelaksanaan Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik Pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Mataram, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang (2010) 6 Agus Sartono, Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: BPFE UGM), 304 78 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

Al-Ijārah al-muntahiya bit Al-Tamlik adalah perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa, lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. 7 Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah bit Al-tamlik sebagaimana tertuang dalam fatwanya Nomor: 27/DSN-MUI/III/2002 mendefinisikan akad ini adalah akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa dengan opsi pemindahan kepemilikan barang kepada pihak penyewa. 8 Fatwa ini ditetapkan dengan pertimbangan bahwa dewasa ini dalam masyarakat telah umum dilakukan praktik sewa beli, yaitu perjanjian sewa menyewa yang disertai dengan opsi pemindahan hak milik atas benda yang disewa kepada penyewa setelah selesai masa sewa. Selain itu fatwa ini dimaksudkan untuk memberi pedoman kepada perbankan Syari ah dalam operasionalisasi produknya agar sesuai dengan Syari ah. 9 Dalam al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik, pemindahan hak milik terjadi dengan salah satu dari dua cara yaitu: 1. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa. 2. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang tersebut pada akhir masa sewa. Pilihan untuk menjual barang diakhir masa sewa biasanya diambil apabila kemampuan finansial penyewa untuk membayar sewa relatif kecil. Karena sewa yang dibayar relatif kecil, akumulasi nilai sewa yang sudah dibayarkan sampai akhir periode sewa belum mencukupi harga beli barang tersebut dan margin laba yang ditetapkan oleh bank. Karena itu untuk menutupi kekurangan tersebut apabila pihak penyewa ingin memiliki barang tersebut, maka ia harus membeli barang tersebut diakhir periode. Sedangkan pilihan untuk menghibahkan barang diakhir masa sewa biasanya diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk 7 Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 117 8 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa-Fatwa Dewan Syari ah Nasional, (Jakarta: DSN MUI bekerjasama dengan Bank Indonesia, 2006), 160 9 Rahmani Timorita Yulianti, Pola Ijtihad Fatwa Dewan Syari ah Nasional MUI tentang Produk Perbankan Syari ah, La Riba Jurnal Ekonomi Islam Vol. I, No. 1, (Juli 2007) 79 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

membayar sewa relatif lebih besar. Karena sewa yang dibayarkan relatif besar jumlahnya, edangkan akumulasi sewa diakhir periode sewa sudah mencukupi untuk menutup harga beli barang dan margin laba yang telah ditetapkan oleh bank. Dengan demikian penyewa dapat menghibahkan barang tersebut diakhir masa periode sewa kepada pihak penyewa. 10 Nilai sewa yang berlaku harus berdasarkan harga barang dan besarnya cicilan barang tersebut, sehingga dapat diketahui berapa harga jual di akhir masa menyewakan atau apakah dapat langsung dengan hibah. 11 b. Hak dan Kewajiban Komitmen terhadap pemberi sewa (Muajjir) terfokus pada pemberian kesempatan pihak penyewa untuk memanfaatkan berbagai fasilitas atau manfaat objek sewaan. 12 Dalam Lembaga Keuangan Syariah lebih spesifik hak dan kewajiban pemberi sewa (Muajjir) dan penyewa (musta jir) dalam akad al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik dijelaskan pada Fatwa DSN dan Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga (BAPEPAM- LK) Keuangan tentang akad-akad yang digunakan dalam kegiatan perusahaan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut: 13 1) Hak dan Kewajiban Pemberi Sewa (Muajjir) Dalam pelaksanaan al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik, pemberi sewa (muajjir) wajib membuat wa ad, yaitu janji pemindahan kepemilikan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik pada akhir masa sewa. Wa ad sebagaimana dimaksud bersifat tidak mengikat bagi penyewa (musta jir) dan apabila wa ad dilaksanakan, maka pada akhir masa sewa wajib dibuat akad pemindahan kepemilikan. Hak pemberi sewa (muajjir) antara lain adalah: 10 Didik Hijrianto, Pelaksanaan Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik Pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Mataram, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang 2010. 11 Helmi Haris, Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syari ah) La Riba Jurnal Ekonomi Islam, Vol. I, No. 1, Juli 2007 12 Shalah ash-shawi dan Abdullah Al-Muslih, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, (Jakarta: Darul Haq), 234 13 Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: PER- 04 /BL/2007 80 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

a) memperoleh pembayaran sewa dari penyewa (musta jir). Dalam syariat Islam upah merupakan hak bagi muajjir dan kewajiban bagi musta jir. 14 b) Menarik obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik apabila penyewa (musta jir) tidak mampu membayar sewa sebagaimana diperjanjikan; dan c) Pada akhir masa sewa, mengalihkan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik kepada penyewa lain yang mampu dalam hal penyewa (musta jir) sama sekali tidak mampu untuk memindahkan kepemilikan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik atau memperpanjang masa sewa atau mencari calon penggantinya. Kewajiban pemberi sewa (Muajjir) antara lain adalah: a) Menyediakan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik yang disewakan; b) Menanggung biaya pemeliharaan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik kecuali diperjanjikan lain; dan c) Menjamin obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik tidak terdapat cacat dan dapat berfungsi dengan baik 2) Hak dan Kewajiban Penyewa (Musta jir) Hak penyewa (musta jir) antara lain adalah: a) menggunakan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang diperjanjikan; b) menerima obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik dalam keadaan baik dan siap dioperasikan; c) pada akhir masa sewa, memindahkan kepemilikan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik, atau memperpanjang masa sewa, atau mencari calon penggantinya dalam hal tidak mampu untuk memindahkan hak kepemilikan atas obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik atau memperpanjang masa sewa; Kewajiban penyewa (musta jir) antara lain adalah: 14 M. B. Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta: Ekonisia, 2003), 222 81 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

a) membayar sewa sesuai dengan yang diperjanjikan; b) menjaga dan menggunakan obyek al-ijārah al-muntahiya bi al- Tamlik sesuai yang diperjanjikan c) tidak menyewakan kembali obyek al-ijārah al-muntahiya bi al- Tamlik kepada pihak lain; dan d) melakukan pemeliharaan kecil (tidak material) terhadap obyek al- Ijārah al-muntahiya bi al-tamlik. c. Obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik Obyek IMBT harus bisa diserahterimakan. Tidak boleh menyewakan sesuatu yang manfaatnya tidak bisa diserahterimakan, baik ketidakmungkinan itu menurut realitas atau menurut ajaran Syariat. 15 Dalam Peraturan Bank Indonesia tentang pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah dijelaskan bahwa obyek ijarah Muntahiah Bit Tamlik adalah berupa barang modal yang memenuhi ketentuan sebagai berikut: 16 1) obyek Ijarah Muntahiah Bit Tamlik merupakan milik Perusahaan Pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir); 2) manfaatnya harus dapat dinilai dengan uang; 3) manfaatnya dapat diserahkan kepada penyewa (musta jir); 4) manfaatnya tidak diharamkan oleh syariah Islam; 5) manfaatnya harus ditentukan dengan jelas; dan 6) spesifikasinya harus dinyatakan dengan jelas, antara lain melalui identifikasi fisik, kelaikan, dan jangka waktu pemanfataannya. Obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik antara lain: 1) alat-alat berat (Heavy Equipment); 2) alat-alat kantor (Office Equipment); 3) alat-alat foto (Photo Equipment); 4) alat-alat medis (Medical Equipment); 5) alat-alat printer (Printing Equipment); 15 Shalah ash-shawi dan Abdullah Al-Muslih, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, (Jakarta: Darul Haq), 227 16 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah 82 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

6) mesin-mesin (Machineries); 7) alat-alat pengangkutan (Vehicle); 8) gedung (Building); 9) komputer; dan 10) peralatan telekomunikasi atau satelit d. Manfaat al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik Banyak manfaat yang diperoleh dari menggunakan akad ini baik bagi Bank maupun nasabah, yaitu: 1) Bagi Bank 17 a) sebagai salah satu bentuk penyaluran dana b) memperoleh pendapatan dalam bentuk imbalan/fee/ujroh. 2) Bagi Nasabah manfaat yang diperoleh yaitu: a) memperoleh hak manfaat atas barang yang dibutuhkan memperoleh peluang untuk mendapatkan hak penguasaan barang dalam hal menggunakan akad Ijarah Muntahiya Bittamlik. b) merupakan sumber pembiayaan dan layanan perbankan syariah untuk memperoleh hak manfaat atas barang dan/atau memperoleh peluang untuk mendapatkan hak penguasaan barang. e. Risiko yang Harus Diantisipasi Risiko yang mungkin terjadi dalam al-ijārah al-muntahiya bi altamlik adalah sebagai berikut: 1) Default; nasabah tidak membayar cicilan dengan sengaja 2) Rusak; aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh si pemberi sewa (muajjir) 3) Berhenti; nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian kepada nasabah. 18 17 Muh. Ghafur Wibowo, Potret Perbankan Syariah Terkini: Kajian Kritis Perkembangan Perbankan Syariah Terkini (Yogyakarta: Biruni Press, 2007), 39 18 Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 119 83 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

4) Risiko Pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika modal pengadaan aktiva Ijarah maupun sumber pembiayaan Ijarah adalah dalam valuta asing. 19 C. Al-Ijārah Al-Muntahiya bi Al-Tamlik di Perbankan Syariah Pada prinsipnya, bank syari ah adalah sama dengan perbankan konvensional, yaitu sebagai instrumen intermediasi yang menerima dana dari orang-orang yang surplus dana (dalam bentuk penghimpunan dana) dan menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan (dalam bentuk produk pelemparan dana). Sehingga produk-produk yang disediakan oleh bank-bank konvensional, baik itu produk penghimpunan dana (funding) maupun produk pembiayaan, pada dasarnya dapat pula disediakan oleh bank-bank syari ah. 20 Misalkan pada produk pembiayaan kepemilikan rumah atau KPR di perbankan syariah dengan KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) perbankan konvensional yang memiliki berbagai macam perbedaan di antaranya adalah; pemberlakuan sistem kredit dan sistem mark up, kebolehan dan ketidakbolehan tawar menawar (bargaining position) antara nasabah dengan bank, prosedur pembiayaan dan lain sebagainya. Dalam menjalankan produk KPR, bank syari ah memadukan dan menggali skim-skim transaksi yang dibolehkan dalam Islam dengan operasional KPR perbankan konvensional. Adapun salah satu skim yang digunakan oleh perbankan syari ah di Indonesia dalam menjalankan produk pembiayaan KPR adalah skim ijarah muntahiya bi tamlik (IMBT). Berdasarkan skim ijarah ini, bank syari ah menyewakan rumah, sebagai objek akad, kepada nasabah. Meskipun pada prinsipnya tidak terjadi pemindahan kepemilikan (hanya pemanfaatan rumah), tetapi pada akhir masa sewa bank dapat menjual atau menghibahkan rumah yang disewakannya kepada nasabah. Berikut aplikasi Skema Pembiayaan IMBT: 21 19 Kodifikasi Produk Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia 2008 20 Helmi Haris, Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syari ah) La Riba Jurnal Ekonomi Islam, Vol. I, No. 1, Juli 2007 21 Fathurrahman Djamil, Satuan Acara Pengajaran Mata Kuliah Fiqh Muamalah Dalam Keuangan Dan Perbankan Islam (2011) 84 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

1. Bank Syariah dan Developer mengadakan Perjanjian Kerjasama (MOU) pemilikan rumah. Bank Syariah akan menyediakan fasilitas pembiayaan pemilikan rumah bagi calon pembeli rumah Developer. 2. Pembeli atau calon nasabah bermaksud membeli rumah di lokasi milik Developer dan mengajukan Pembiayaan Pemilikan Rumah kepada Bank Syariah. Calon Nasabah melengkapi persyaratan permohonan pembiayaan sesuai kriteria yang dipersyaratkan. Jika persyaratan lengkap, Bank Syariah selanjutnya melakukan analisa kelayakan pembiayaan terhadap calon nasabah. 3. Jika calon nasabah layak dibiayai, maka Bank Syariah akan mengeluarkan Surat Persetujuan kepada calon nasabah (surat penawaran). Calon Nasabah melakukan negosiasi dengan BANK. Jika terjadi kesepakatan, calon nasabah menandatangani surat penawaran dan berjanji (wa ad) untuk melakukan transaksi IMBT dengan Bank Syariah. 4. Bank Syariah melakukan transaksi rumah (berdasarkan Perjanjian Kerjasama) dengan Developer sesuai spesifikasi rumah yang diminta oleh calon nasabah, secara prinsip (fiqih) rumah menjadi milik Bank Syariah (dokumentasi rumah dibuat atas nama Nasabah) 5. Nasabah dan Bank Syariah melakukan Perjanjian Pembiayaan Pemilikan Rumah Berdasarkan Prinsip IMBT dengan janji (wa ad) dari Bank Syariah untuk melepaskan kepentingannya atas rumah (akad fiqih hibah) setelah seluruh kewajiban nasabah lunas. 6. Developer sebagai wakil Bank (berdasarkan Perjanjian Kerjasama) menyerahkan rumah kepada nasabah (Nasabah mendapatkan manfaat rumah selama masa IMBT). 7. Nasabah membayar kewajiban ke Bank Syariah sesuai jadwal yang disepakati. 8. Sesuai kesepakatan di awal akad, Bank Syariah dan Nasabah sepakat untuk melakukan review terhadap jumlah kewajiban Nasabah pada setiap periode yang ditentukan. 9. Di akhir masa IMBT, Bank Syariah merealisasikan janjinya (wa ad) dengan melepaskan kepentingan atas rumah dan menyerahkan rumah kepada nasabah (akad fiqih hibah) setelah seluruh kewajiban Nasabah dilunasi. 85 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

Secara umum, aplikasi perbankan dapat digambarkan skema berikut: 22 B. Milik SUPPLIER OBJEK SEWA NASABAH Sewa Beli Beli Objek Sewa A. Milik Pesan Objek Sewa BANK SYARIAH D. Kesimpulan Al-Ijārah al-muntahiya bit al-tamlik (IMBT) merupakan salah satu alternatif skim syariah untuk memfasilitasi pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang yang sesuai dengan jenis usaha nasabah sekaligus mengamankan kepentingan bank. Dibandingkan dengan akad mudharabah, akad IMBT ini lebih fleksibel dan kompetitif bagi nasabah dalam penetapan harga sewa, walaupun ada beberapa risiko yang mungkin terjadi yang harus diantisipasi seperti risiko default yaitu nasabah tidak membayar cicilan dengan sengaja, aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh si pemberi sewa (muajjir), dan nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian kepada nasabah. 22 Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 119 86 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi

DAFTAR PUSTAKA Anto, M. B. Hendrie, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, Yogyakarta: Ekonisia, 2003 Antonio, Muhammad Syafi I, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, 2001 Chapra, M. Umer, Sistem Moneter Islam, Jakarta: Gema Insani, 2000 Djamil, Fathurrahman, Satuan Acara Pengajaran Mata Kuliah Fiqh Muamalah Dalam Keuangan Dan Perbankan Islam (2011) Haris, Helmi Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syari ah) La Riba Jurnal Ekonomi Islam, Vol. I, No. 1, Juli 2007 Hijrianto, Didik Pelaksanaan Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik Pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Mataram, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang (2010) Kodifikasi Produk Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia 2008 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa-Fatwa Dewan Syari ah Nasional, Jakarta: DSN MUI bekerjasama dengan Bank Indonesia, 2006 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: PER- 04 /BL/2007 Sartono, Agus, Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi, Yogyakarta: BPFE UGM, 2001 ash-shawi, Shalah dan Abdullah Al-Muslih, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta: Darul Haq, 2008 Wibowo, Muh. Ghafur Potret Perbankan Syariah Terkini: Kajian Kritis Perkembangan Perbankan Syariah Terkini, Yogyakarta: Biruni Press, 2007 Yulianti, Rahmani Timorita, Pola Ijtihad Fatwa Dewan Syari ah Nasional MUI tentang Produk Perbankan Syari ah, La Riba Jurnal Ekonomi Islam Vol. I, No. 1, (Juli 2007) 87 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuwangi