BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Kantor dan Sistem Kearsipan. Menurut Maryati dalam bukunya Manajemen Perkantoran efektif.

Arsip Dinamis Arsip Statis

BAB II LANDASAN TEORI. arsip agar dapat dengan cepat bila arsip bilamana arsip sewaktu-waktu

Karena itu sekarang terdapat 2 (dua) jenis arsip ditinjau dari sudut umum dan perundang-undangan, yaitu (Depkes, 1971: 43)

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 93 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN SISTEM PENGELOLAAN ARSIP DINAMIS PEMERINTAH DAERAH

PENTINGNYA MANAJEMEN SISTEM PENYIMPANAN ARSIP. Oleh; Melizubaidah Mahmud Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENTINGNYA PENATAAN KEARSIPAN DALAM MENUNJANG AKTIVITAS PEGAWAI PADA KANTOR KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI UTARA TUGAS AKHIR

BAB IV PENUTUP. A. Kesimpulan. Dalam Laporan Tugas Akhir yang berjdul Pengelolaan Arsip Dinamis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sutarto Yohannes Manajemen Kearsipan (2006;33);

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Arsip berasal dari bahasa Yunani Archivum yang artinya tempat untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN AGAM NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN KEARSIPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI AGAM,

BAB III LANDASAN TEORI. banyak aktivitas atau kegiatan suatu organisasi, maka kegiatan surat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KATA PENGANTAR. Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden, Garibaldi Sujatmiko

BAB II TINJAUAN TEORITIS


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGELOLAAN ARSIP DI SUB BAGIAN UMUM DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KULON PROGO SKRIPSI

BAB I. Pengertian. A. Pengertian Arsip

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN KEARSIPAN DINAMIS BADAN NARKOTIKA NASIONAL

KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NO 342 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN TATA KEARSIPAN PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. Penyediaan informasi dengan cepat dan tepat mutlak menjadi harapan masyarakat.

BAB IV ANALISIS PRAKTEK KERJA LAPANGAN. Pengurusan dan pengendalian surat adalah kegiatan-kegiatan mencatat

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 51/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN TATA KEARSIPAN KEMENTERIAN KEHUTANAN

BAB II KAJIAN TEORI. memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian

2012, No SISTEMATIKA BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG B. MAKSUD DAN TUJUAN C. RUANG LINGKUP D.

MANAJEMEN PERKANTORAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASAMAN BARAT NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN KEARSIPAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN PASAMAN BARAT

BAB II. Landasan Teori

PENYIMPANAN ARSIP DINAMIS AKTIF DI BAGIAN TATA USAHA SMA PERTIWI 1 KOTA PADANG

TATA TERTIB PENGGUNAAN LABORATORIUM PERKANTORAN/KEARSIPAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2006 TENTANG TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 96 TAHUN 2017 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI. Tata Usaha dan Rumah Tangga PT PELABUHAN INDONESIAIII (PERSERO)

BAB I PENDAHULUAN. Setiap kegiatan administrasi menghasilkan input dan output. Aktivitas

BAB III LANDASAN TEORI. Dalam menyelesaikan tugas tugas pada Divisi Research and. dipertanggungjawabkan adalah sebagai berikut :

BAB II KAJIAN TEORETIS. Saiman (2000:16) pengelolaan adalah bermacam-macam kegiatan

Manajemen Kearsipan untuk Mewujudkan Tata Kelola Administrasi Perkantoran yang Efektif dan Efisien

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 40 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 38 TAHUN 2005 TENTANG TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II LANDASAN TEORI. penerimaan, pengumpulan, pengaturan, pengendalian, pemeliharaan, dan

BAB III LANDASAN TEORI

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN KEARSIPAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI

Filing, Record Retention and Form

MANAJEMEN KEARSIPAN. Anna Riasmiati, S.E. : Manajemen Kearsipan : Drs. Sularso Mulyono, dkk. Cetakan : I, 2011

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tak lepas dengan kegiatan surat-menyurat atau biasa disebut dengan korespondensi

BAB II SISTEM PENGELOLAAN ARSIP DINAMIS INAKTIF

PELAKSANAAN PENYIMPANAN ARSIP OLEH PEGAWAI SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN DI DINAS KOPERASI, USAHA KECIL MENENGAH DAN PERDAGANGAN KABUPATEN CIAMIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini membawa

BAB III PEMBAHASAN Landasan Teori Pengertian dan FungsiSurat A Pengertian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan,

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN NOMOR 106 TAHUN 1980 TENTANG TATA KEARSIPAN PEMERINTAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR

BAB II MANAJEMEN KEARSIPAN. Dari pengertian di atas dapat diambil ciri-ciri arsip yaitu:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI. Kata arsip berasal dari bahasa Belanda yakni archief, yang berarti tempat

BAB III PENGURUSAN ARSIP

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

SISTEM PENYIMPANAN DAN PROSEDUR TEMU KEMBALI ARSIP DINAMIS AKTIF DI KANTOR SEKRETARIAT DPRD PROVINSI SUMATERA BARAT

PEDOMAN SURAT - MENYURAT

BAB I PENDAHULUAN. hal.2. 1 Zulkifli Amsyah, Manajemen Kearsipan, Gramedia Pustaka, Jakarta, 2005,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Shinta Margareta, 2013

BAB I PENDAHULUAN. pimpinan serta membantu mekanisme kerja dari seluruh karyawan instansi yang

PENGELOLAAN ARSIP DI PUSAT TEKNOLOGI BAHAN BAKAR NUKLIR

LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BNN NOMOR 7 TAHUN 2014 TANGGAL 28 MARET 2014 BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BIG. Arsip. Klasifikasi Keamanan. Hak Akses. Sistem.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengelolaan surat masuk pada PT. PLN (Persero) Satuan Kerja Listrik

BUPATI TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG

BUPATI TERNGGALEK PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 97 TAHUN 2011 TENTANG TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK

2017, No Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Ta

BAB I PENDAHULUAN. Berkaitan dengan makin berkembangnya aktivitas administrasi suatu

BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR : TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI MAJALENGKA NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

MANAJEMEN KEARSIPAN. Oleh: Rr. Sarwendah Pancaningsih Arsiparis Pertama Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Soedarto, SH. Tembalang Semarang 50275

PERANAN DAN FUNGSI TATA PERSURATAN DAN KEARSIPAN DALAM MENDUKUNG TUGAS-TUGAS PIMPINAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Permasalahan. Dewasa ini, manajemen kearsipan yang baik menjadi sangat penting

Oleh : Dra. Anna Nunuk Nuryani

LAMPIRAN I : PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 51/Menhut-II/2011 TANGGAL : 30 Juni 2011

BAB II LANDASAN TEORI. danmenggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang

PADANG PANJANG PROVINSI SUMATERA BARAT

Solusi Pengaturan Arsip di Rumah Sakit (Studi Kasus)

PENGELOLAAN ARSIP SECARA MODERN 1

PENATAAN DAN PENYIMPANAN DOKUMEN PERSIDANGAN

BAB II LANDASAN TEORI

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Manajemen diperlukan untuk menunjang keberhasilan dan kelancaran suatu perusahaan. Bagaimanapun sederhana atau kompleksnya suatu perusahaan, tanpa adanya manajemen yang efektif dan efisien akan sulit untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal. Tujuan yang paling penting dari manajemen adalah memperoleh dan menempatkan orang-orang yang berkualitas sesuai dengan keahliannya, sehingga dicapai the right man in the right place yang merupakan salah satu syarat pokok didalam perusahaan untuk mencapai keberhasilan. Jadi jelas manajemen sumber daya manusia menitik beratkan pada soal kepegawaian atau personalia dalam suatu organisasi tertentu, dengan kata lain bahwa sumber daya manusia membahas masalah personalia yang berkaitan dengan perusahaan sehingga dapat dicapai efektifitas dan efisiensi pemanfaatan tenaga kerja sebagai sumber daya yang terbatas. Pengertian manajemen banyak dikemukakan oleh para ahli dengan berbagai definisi yang mempunyai ragam yang berbeda. Hal ini disebabkan karena manajemen merupakan cabang dari ilmu sosial, sehingga batasan yang diberikan sangat tergantung pada sudut pandang pada pembuat definisi tersebut. 2.1.1 Pengertian Manajemen Kata manajemen diambil dari kata bahasa inggris yaitu manage yang berarti mengurus, mengelola, mengendalikan, mengusahakan, memimpin. Menurut Andrew F. Sikula yang dikutip oleh Drs. H. Maluyu S.P. hasibuan (2007:2); Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi, dan pengambilan keputusan 7

8 yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perushaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien. Sedangkan pengertian lain menurut Herman Sofyandi S.E. (2010:7), menyatakan : Manajemen sebagai ilmu dan seni untuk mencapai suatu tujuan dengan melibatkan kagiatan orang-orang, artinya tujuan dapat dicapai bila dilakukan oleh orang-orang yang bekerja sama. Dari definisi di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa manajemen merupakan koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. 2.2 Manajemen Perkantoran Perkantoran pada dasarnya merupakan tempat pengarahan secara menyeluruh terhadap aktivitas-aktivitas pegawai atau aktivitas pimpinan dalam sebuah organisasi, dimana mengingat kantor merupakan tempat penyediaan informasi dan kegiatan dari mulai penerimaan data, pengolahan data, pengumpulan data, dan penyimpanan data informasi. Oleh karena itu kantor diharapkan untuk menyediakan informasi yang benar dan akurat berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi agar pihak pimpinan mampu untuk mengatur atau mengendalikan organisasi tersebut. Menurut Sedarmayanti sebagaimana dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:25), kantor adalah; a) Tempat dilaksanakannya kegiatan mengenai informasi. b) Proses menangani informasi, mulai dari menerima, mengumpulkan, mengolah, menyimpan, sampai menyalurkan atau mendistribusikan informasi. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa kantor mempunyai peran penting untuk terlaksananya proses kerja pegawai. Mengingat dimana

9 kantor merupakan pusat kegiatan kantor yang menyangkut akan tujuan organisasi. Salah satu kegiatan kantor yang paling penting diantaranya adalah sistem kearsipan, yang meliputi arsip. 2.2.1 Pengertian Manajemen Perkantoran Manajemen perkantoran merupakan salah satu bentuk yang harus diterapkan untuk pencapaian tujuan kantor yang bertujuan untuk menunjang peningkatan efesiensi dan produktivitas kerja kantor. Dengan demikian, komunikasi kerja pegawai akan semakin lancar, sehingga pengawasannya pun akan semakin mudah. Berikut ini adalah definisi tentang manajemen perkantoran menurut beberapa para ahli yaitu : Manajemen Perkantoran menurut MC Maryati dalam buku Manajemen Perkantoran Efektif (2008;6); Manajemen Perkantoran adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen pada sarana dan daya kantor untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan, dengan cara memperdayakan pegawai dengan sebaik-baiknya, menggunakan mesin dan perlengkapan dengan tepat, menggunakan metode yang paling baik dan memberikan lingkungan yang kondusif. Menurut Quible sebagaimana dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007;4); Manajemen Perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengawasi, dan mengendalikan hingga menyelenggarakan secara tertib pekerjaan perkantoran untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi. Berdasarkan definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa manajemen perkantoran adalah sebagai peranan fungsi manajemen pada suatu perkantoran, yakni perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan kantor guna untuk tercapainya suatu tujuan perusahaan.

10 2.2.2 Tujuan Manajemen Perkantoran Dengan adanya tujuan manajemen perkantoran, perencanaan suatu tujuan organisasi serta peningkatan efesiensi dan produktivitas kerja pegawai akan lebih mudah untuk diterapkan. Menurut Georgy Terry sebagaimana dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:3); Tujuan Manajemen Perkantoran adalah merencanakan, mengendalikan, dan mengorganisasikan perkerjaan perkantoran, serta penggerakan mereka yang melaksanakannya agar mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan lebih dahulu. Berdasarkan definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan manajemen perkantoran sangatlah penting, guna menunjang tercapainya sutau tujuan yang telah direncanakan oleh organisasi serta menunjang peningkatan efesiensi dan produktivitas kerja pegawai. 2.2.3 Fungsi Manajemen Perkantoran Pada dasarnya fungsi manajemen perkantoran sangat berkaitan dengan tujuannya, dimana fungsi perkantoran adalah penerapan saranan dan daya kantor untuk tujuan dan sasaran yang telah diterapkan. Adapun beberapa fungsi yang menurut para ahli. Menurut WH Evans yang dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoren Modern (2007:3); Manajemen Perkantoran, fungsi yang menyangkut manajemen dan pengarahan semua tahap operasi perusahaan mengenai pengolahan bahan keterangan, komunikasi, dan ingatan organisasi. Sedangkan menurut Arthur Grager yang dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:3); Manajemen Perkantoran, fungsi tata penyelenggaraan terhadap komunikasi dan pelayanan warkat dari suatu organisasi. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen perkantoran merupakan salah satu fungsi manajemen yang memfokuskan pada

11 layanan dan pengarahan semua tahap operasi perusahaan untuk mencatat dan menganalisis sebuah informasi, guna pencapaian suatu tujuan organisasi. 2.3 Manajemen Kearsipan Manajemen Kearsipan meliputi tentang arsip yang pada dasarnya melaksanakan kegiatan kantor yang bersifat mencatat, mengendalikan, mengelola serta menyimpan seluruh arsip baik arsip yang bersifat surat biasa ataupun surat rahasia yang menyangkut akan kerahasiaan suatu organisasi. Menurut Odgers yang dikuti oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:82); Manajemen Kearsipan sebagai proses pengawasan, penyimpanan, dan pengamanan dokumen serta arsip, baik dalam bentuk kertas maupun media elektronik. 2.3.1 Pengertian Manajemen Arsip Manajemen kearsipan merupakan bagian pekerjaan kantor yang sangat penting, informasi tertulis yang tepat mengenai keputusan-keputusan, fikiranfikiran, kontrak-kontrak, saham-saham dan transaksi-transaksi harus tersedia apabila diperlukan, agar kantor dapat memberikan pelayanan yang diperlukan. Pengarsipan adalah penempatan dokumen-dokumen tertulis dalam tempat penyimpanan sesuai dengan aturan yang berlaku sedemikian rupa, sehingga apabila sewaktu-waktu dokumen diperlukan dapat diketemukan kembali dengan mudah dan cepat. Berikut ini gambaran tentang arsip dari beberapa definisi arsip menurut para ahli : Menurut undang-undang No.7 tahun 1971 sebagaimana dikutip oleh Zulkifli Amsyah dalam buku Manajemen Kearsipan (2003:2), arsip adalah; a. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga-lembaga dan badan-badan pemerintah dalam bentuk corak apa pun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintah; b. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta atau perorangan, dalam bentuk corak apa pun, baik

12 dalam keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan. Sedangkan menurut Sutarto sebagaimana dikutip oleh Yohannes dalam buku Manajemen Kearsipan (2006:33): Arsip adalah suatu kumpulan warkat yang memiliki guna tertentu, disimpan secara sistematis, dan dapat diketemukan kembali dengan cepat. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa arsip adalah dokumen yang berisi rekaman kegiatan perusahaan yang dibuat maupun diterima yang kemudian disimpan agar apabila diperlukan sewaktu-waktu dapat diambil dan diketemukan dengan mudah dan cepat. 2.3.2 Tujuan Manajemen Arsip Manajemen kearsipan meliputi tentang sistem arsip yang pada dasarnya untuk menjaga dokumen maupun arsip agar dapat diakses dan digunakan sepanjang ada nilai kegunaannya serta untuk membuat informasi dari dokumen dan arsip. Kata sistem dalam hubungannya dengan sistem kearsipan biasanya menunjukan cara atau metode penyusunan dan penggolongan suatu dokumen. Menurut Kennedy yang dikutip oleh Badri Munir Sukoco pada buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:82); Bahwa pada setiap dokumen atau arsip akan terdiri atas: 1. Isi, yaitu informasi yang terdapat pada arsip berupa ide atau konsep, fakta tentang suatu kejadian, orang, organisasi maupun aktivitas lain yang direkam dalam arsip tersebut. 2. Struktur, merupakan atribut fisik (ukuran dan gaya huruf, spasi, margin, dan lambang organisasi) dan logis (logika dibalik pembuatan dokumen tersebut) dari suatu arsip. Misalnya, struktur surat akan terdiri dari header (nama pengirim, tanggal, judul surat, dan penerima), tubuh surat (isi dari maksud dibuatnya surat) dan otentifikasi (tanda tangan si pembuat surat). 3. Konteks, menjelaskan mengapa dari suatu arsip.

13 2.3.3 Fungsi Manajemen Arsip Kehadiran arsip pada dasarnya karena adanya kegiatan organisasi suatu kelompok atau individu. Tanpa adanya suatu kegiatan atau aktifitas, maka arsip tidak akan tercipta. Oleh karenanya arsip memiliki beberapa fungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi bagi organisasi. Fungsi arsip yaitu: 1. Mendukung proses pengambilan keputusan Dalam proses pengambilan keputusan, pimpinan dalam tingkat manajerial manapun pasti membutuhkan informasi. Informasi yang dibutuhkan merupakan rekaman proses kegiatan yang telah dilakukan. Informasi ini sesungguhnya berasal dari arsip. 2. Menunjang proses perencanaan Untuk menyusun perencanaan dibutuhkan banyak informasi yang mendukung perkiraan yang akan dicapai. Informasi ini dapat diperoleh dari arsip. 3. Mendukung Pengawasan Dalam melakukan pengawasan dibutuhkan informasi terekam tentang rencana yang telah disusun, apa yang telah dilakukan, dan apa yang belum dilaksanakan. Semua ini dapat direkam dalam bentuk arsip. 4. Sebagai alat pembuktian Di dalam institusi pengadilan akan banyak menghasilkan informasi terekam yang nantinya dapat kembali digunakan oleh pengadilan itu sendiri. Seluruh informasi ini merupakan arsip yang dapat digunakan dalam proses pembuktian. 5. Memori organisasi Keseluruhan kegiatan organisasi, baik itu berupa transaksi, aktivitas internal atau keluaran yang dibuat dapat direkam dalam bentuk arsip. Informasi terekam ini nantinya dapat digunakan dalam menjalankan kagiatan di masa yang akan datang. Hal ini dapat didasari akan adanya tanggung jawab organisasi terhadap hukum, profesional, dan etis guna menciptakan dokumen tertentu serta

14 disyaratkan untuk mengelolanya selama masa tertentu. Berdasarkan penggunaannya, dokumen dapat digolongkan sebagai berikut. Menurut Deserno yang dikutip oleh Badri Munir Sukoco dalam buku Manajemen Administrasi Perkantoran Modern (2007:84); Penggolongan dokumen dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Dokumen aktif, yaitu dokumen yang digunakan secara kontinyu minimal 12 kali dalam setahun. Dokumen ini mencakup berkas pegawai yang masih bekerja dan dokumen pembelian bahan baku pada tahun anggaran yang sedang berjalan. 2. Dokumen inaktif, yaitu dokumen jangka panjang dan dokumen semi aktif. Dokumen disebut semi aktif bila hanya digunakan minimal 15 kali dalam setahun. Dokumen jangka panjang memliki nilai bersinambungan bagi pelaksanaan organisasi perusahaan dan disimpan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan jadwal retensi dokumen. Contoh dokumen inaktif adalah berkas karyawan yang sudah pensiun, pembelian bahan baku yang sudah dibayar pada tahun anggaran yang lalu, dan dakumen lain yang telah berlalu. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dokumen maupun arsip tidak hanya terbatas pada satu klasifikasi saja, namun dapat berubah status sesuai dengan perjalanan waktu dan nilai dokumen itu sendiri bagi organisasi pemakainnya. Perubahan status tersebut akan bergerak mundur, tidak dalam arah yang sebaliknya. Misalnya, dokumen aktif akan berubah menjadi dokumen inaktif jika semakin jarang dipakai dalam organisasi operasional perusahaan. Sebaliknya, dokumen jangka panjang tidak akan mungkin berubah menjadi dokumen aktif lagi, kecuali ada pemeriksaan atau hal yang lain. 2.4 Pengertian Sistem Kearsipan Pada dasarnya kegiatan organisasi mempunyai urutan langkah-langkah untuk menyelesaikan pekerjaan bersangkutan sejak permulaan sampai selesai. Langkah-langkah tersebut disebut Prosedur Kearsipan atau dapat disebut juga dengan sistem kearsipan yang terdiri dari prosedur permulaan dan sistem penyimpana. Prosedur permulaan untuk surat masuk meliputi kegiatan-kegiatan pencatatan, pengolahan, pendistribusian, dan penyimpanan sedangkan prosedur

15 permulaan surat keluar meliputi kegiatan-kegiatan pembuatan surat, pencatatan, dan pengiriman. Menurut Yohannes dalam buku Sistem Kearsipan (2006:20); Sistem Kearsipan sebagai suatu kesatuan dari beberapa unsur yang diperlukan untuk melakukan pengurusan warkat/arsip dalam rangka mencapai tujuan kearsipan. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem kearsipan adalah penyusunan dan penyimpanan arsip sehingga dengan cara itu sistem arsip yang tepat mempunyai pengaruh besar terhadap kemudahan pencarian informasi, dengan demikian pembuatan keputusan pun lebih mudah. 2.4.1 Sistem Pengorganisasian Kegiatan pengurusan surat dapat berjalan efektif dan efisien, perlu adanya asas pengurusan surat atau penentuan kebijaksanaan pengorganisasian pengurusan surat secara baku. Dalam pengorganisasian surat ada beberapa asas pengurusan surat yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan pada organisasi yaitu : a) Asas Sentralisasi; b) Asas Desentralisasi; c) Asas Gabungan. Dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Asas Sentralisasi Yaitu apabila kegiatan pengurusan surat, baik surat masuk maupun surat keluar sepenuhnya dilakukan secara terpusat pada suatu unit kerja. Keuntungan dari Asas Sentralisasi : 1. Dimungkinkan adanya keseragaman sistem dan prosedur serta peralatannya. 2. Pengendalian terhadap pelaksanaanya lebih mudah, karena kegiatan pengurusan surat dilaksanakan serta diawali oleh satu unit kerja. Kelebihan dari Asas Sentralisasi : 1. Penerimaan dan pengiriman surat, penggolongan, pengendalian dilaksanakan sepenuhnya oleh Unit Kerasipan. 2. Penggunaan sarana pencatatan surat lebih efisien.

16 b) Asas Desentralisasi Yaitu apabila pengurusan surat, baik surat masuk maupun surat keluar sepenuhnya dilakukan oleh masing-masing unit kerja dalam suatu organisasi. Setiap unit kerja melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan suratnya masing-masing, dari mulai penerimaan, pencatatan dan pengiriman surat. Kekurangan dari Asas Desentralisasi : 1. Kemungkinan terjadinya ketidakseragaman sistem dan prosedur pengendalian surat. 2. Banyak menggunakan peralatan sehingga kurang efisien. Kelebihan dari Asas Desentralisasi : 1. Penyampaian surat ke meja kerja lebih cepat. 2. Surat cepat diproses atau ditindaklanjuti. c) Asas Gabungan Asas gabungan adalah desentralisasi terhadap pengurusan oleh masingmasing unit kerja, tetapi sentralisasi pengurusan terhadap prosedur, sistem, peralatan dan SDM oleh satu unit kerja (Unit Kearsipan). 2.4.2 Prosedur Sistem Kerasipan Setiap organisasi selalu mengikuti suatu prosedur tertentu untuk mengawasi lalu lintas surat-masuk dan surat-keluar. Prosedur ini disebut prosedur pengendalian, penggolongan dan penyimpanan. Ada 3 prosedur yang pada umumnya dipergunakan : 1. Prosedur Pengendalian Dalam kegiatan pengurusan surat ada beberapa saran yang digunakan, antara lain buku agenda, kartu kendali, lembar pengantar, dan lembar desposisi. a. Buku Agenda Buku agenda adalah buku yang berisi daftar yang berfungsi sebagai pencatat keluar masuknya surat berdasarkan urut nomor datangnya surat. Berikut ini Contoh Buku Agenda :

17 Buku Agenda Sumber : Buku Tata Kearsipan Pemerintah Provinsi JABAR 2010/2011 Gambar 2.1 Contoh Buku Agenda. Kelemahan menggunakan Buku Agenda antara lain : 1. Terjadi pencatatan yang berulang-ulang. 2. Sulit untuk ditata berdasarkan klasifikasi surat. 3. Buku agenda tidak dapat dugunakan untuk penelusuran arsip. b. Kartu Kendali Kartu Kendali yang terdiri dari 2 (dua) macam yang digunakan untuk mencatat surat-surat dan jumlahnya rangkap 3 (tiga) dengan warna yang berbeda : 1. Kartu Kendali Masuk adalah lembar pengisian untuk pencatatan, penerimaan, dan penyampaian dokumen atau naskah dinas masuk. 2. Kartu Kendali Keluar adalah lembar pengisian untuk pencatatan dan penyampaian dokumen atau naskah dinas keluar. 3. Kartu Kendali I, disimpan di bagian pencatatan surat dan berfungsi sebagai pengganti Buku Agenda. 4. Kartu Kendali II, disimpan di bagian penataan dan berfungsi sebagai pengganti Buku Ekspedisi. 5. Kartu Kendali III, disimpan di unit pengolah. Berikut ini Contok Kartu Kendali :

18 Kartu Kendali Sumber : Buku Tata Kearsipan Pemerintah Provinsi JABAR 2010/2011 Gambar 2.2 Contoh Kartu Kendali. Kelebihan menggunakan Kartu Kendali antara lain : 1. Kartu kendali mudah ditata karena ukurannya kecil. 2. Susunan kartu tidak berdasarkan nomor agenda, melainkan berdasarkan klasifikasi informasi surat. 3. Dapat digunakan sebagai sarana penelusuran surat. Kelemahan menggunakan Kartu Kendali antara lain : 1. Kartu kendali berupa lembaran, sehingga mudah hilang. 2. Apabila petugas tidak memahami isi informasi surat, maka pemberian klasifikasi surat menjadi tidak tepat. c. Lembar Pengantar Lembar Pengantar merupakan formulir yang digunakan sebagai alat penyampaian untuk surat biasa dan surat rahasia. Berikut contoh Lembar Pengantar yang digunakan sebagai alat penyampaian surat biasa dan surat rahasia :

19 Lembar Pengantar Sumber : Buku Tata Kearsipan Pemerintah Provinsi JABAR 2010/2011 Gambar 2.3 Contoh Lembar Pengantar. d. Lembar Disposisi Digunakan agar tugas dan wewenang yang diberikan pimpinan kepada bawahannya dapat diterima dengan jelas, diperlukan formulir (lembar) disposisi. Tujuan lain dari adanya lembar disposisi adalah untuk menjaga agar surat terhindar dari coretan-coretan. Berikut ini Contoh Lembar Disposisi :

20 Disposisi Sumber : Buku Tata Kearsipan Pemerintah Provinsi JABAR 2010/2011 Gambar 2.4 Contoh Lembar Disposisi. 2. Prosedur Penggolongan Dengan memahami sistem arsip yang tepat manajemen perlu membuat rencana penggolongan arsip-arsip dengan tepat dimana sistem penggolongan disebut sistem klasifikasi, berikut 5 macam sistem penggolongan beserta keuntangan dan kerugiannya : 1. Penggolongan Menurut Abjad Adalah penggolongan dimana dokumen-dokumen disimpan/disusun menurut huruf-huruf yang pertama dari nama orang-orang/organisasi. Keuntungan Penggolongan Menurut Abjad : 1) Memudahkan menggolongkan surat-surat. 2) Sederhana dan mudah dimengerti. Kerugian Penggolongan Menurut Abjad : 1) Sulit mengenal nama-nama yang sama. 2) Surat-surat mungkin lebih baik disimpan menurut pokokpokok yang berlainan. 2. Penggolongan Menurut Nomor Adalah dimana setiap dokumen diberi nomor dan disimpan menurut nomor urut dari yang terkecil. Nomor dalam penyimpanan ini adalah sebagai kode penyimpanan.

21 Keuntungan Penggolongan Menurut Nomor : 1) Ketelitian yang lebih besar dalam penyimpanan. 2) Nomor surat dapat dipergunakan sebagai nomor surat referensi. 3) Perluasan yang tak terbatas adalah serba mungkin. Kerugian Penggolongan Menurut Nomor : 1) Banyak waktu yang dipergunakan untuk mengembalikan pada indeks. 2) Arsip untuk bermacam-macam kertas tidak mudah untuk menyusunnya. 3) Banyak indeks dalam ruangan. 3. Penggolongan Menurut Wilayah Adalah penggolongan dimana surat-surat/arsip-arsip dibagi menurut letak wilayah. Keuntungan Penggolongan Menurut Wilayah : 1) Mudah digunakan bila tempat telah diketahui. 2) Merupakan tindakan penyimpanan secara langsung. Kerugian Penggolongan Menurut Wilayah : 1) Kemungkinan terdapat kesalahan bila tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bagian wilayah. 2) Mungkin diperlukan suatu indeks (daftar). Contoh : penyimpanan surat-surat menurut nama kota dan sebahainnya. 4. Penggolongan Menurut Prihal Adalah suatu cara meletakkan atau menyusun arsip-arsip yang disimpan berdasarkan golongan-golongan (klasifikasi) isi permasalahan yang terkandung di dalam masing-masing arsip. Keuntungan Penggolongan Menurut Prihal : 1) Mudah penggunannya bila hanya prihalnya yang diketahui. 2) Perluasan yang tidak terbatas.

22 Kerugian Penggolongan Menurut Prihal : 1) Kesulitan penggolongan. 2) Tidak begitu cocok untuk bermacam-macam surat. 5. Penggolongan Menurut Tanggal Adalah penggolongan dimana dokumen-dokumen disimpan menurut urutan tanggal yang tertera di dalam naskah atau surat. Sistem ini jarang dipergunakan 100%, tetapi merupakan sistem yang sudah lazim untuk menyimpan surat dalam masing-masing map. Keuntunga Penggolongan Menurut Tanggal : 1) Berguna apabila tanggal-tanggal telah diketahui. 2) Baik untuk penggolongan secara keseluruhan, misalnya surat menyurat dalam tahun-tahun yang terpisah. Kerugian Penggolongan Menurut Tanggal : 1) Tidak selalu cocok (tahun selalu tidak diketahui). 2) Surat-surat yang masuk (diterima) dapat menjadi terpisah dari jawaban surat-surat yang terpisah. 3. Prosedur Penyimpanan Prosedur penyimpanan adalah langkah-langkah pekerjaan yang dlakukan sehubungan dengan akan disimpannya suatu dokumen. Ada 2 (dua) macam penyimpanan, yaitu penyimpanan dokumen yang belum selesai diproses (file pending) dan penyimpanan dokumen yang sudah diproses (permanent file). 1. Penyimpanan Sementara (File Pending) File pending atau file tindak-lanjut (follow-up file) adalah file yang digunakan untuk menyimpan sementara sebelum suatu dokumen selesai diproses. File pending biasanya ditempatkan pada salah satu laci dari almari arsip (filing cabinet) yang dipergunakan. Filing Cabinet merupakan tempat sekat ukuran besar yang disusun sebagai kerangka penyimpanan arsip dan tempat penyimpanan arsip setelah dimasukan ke dalam map/folder ukuran besar.

23 2. Penyimpanan Tetap (Permanent File) Untuk volume dokumen yang banyak, satu langkah bahkan dapat dikerjakan oleh beberapa orang, dimana surat yang akan disimpan berjalan dari satu tangan ke tangan yang lain. Apabila dilihat dengan seksama, maka langkah-langkah atau prosedur penyimpanan adalah sebagaimana disajikan berikut ini : Langkah 1 Pemeriksaan Langkah ini adalah langkah persiapan menyimpan dokumen dengan cara memeriksa setiap lembar dokumen untuk memperoleh kepasrian bahwa dokumen-dokumen tersebut memang sudah siap untuk disimpan. Langkah 2 Mengindeks Langkah ini adalah langkah pekerjaan menentukan pada nama apa atau subjek apa, atau kata tangkap lainnya, surat akan disimpan. Penentuan kata tangkap ini tergantung kepada sistem penyimpanan yang dipergunakan. Langkah 3 Memberi tanda Langkah ini lazim digunakan, dimana pengkodean dilakukan secara sederhana yaitu dengan memberi tanda garis atau lingkarang dengan warna mencolok pada kata tangkap yang sudah ditentukan pada langkah pekerjaan mengindeks. Langkah 4 Menyortir Langkah ini adalah mengelompokkan dokumen-dokumen untuk persiapan ke langkah terakhir yaitu penyimpanan. Langkah ini diadakan khusus untuk jumlah volume dokumen yang banyak, sehingga untuk memudahkan penyimpanan perlu dikelompokkan terlebih dahulu sesuai dengan pengelompokkan sistem penyimpanan yang dipergunakan. Langkah 5 Menyimpan Langkah ini merupakan langkah terakhir penyimpanan, dimana penempatan dokumen sesuai dengan sistem penyimpanan dan

24 peralatan yang dipergunkan. Sistem penyimpanan akan menjadi efisien dan efektif bilamana didukung oleh peralatan dan perlengkapan yang memadai dan sesuai.