BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

dokumen-dokumen yang mirip
Daftar Isi. Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)

I. PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

I. PENDAHULUAN. percepatan terwujudnya peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat (Bappenas,

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS

BAB I PENDAHULUAN. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Investasi

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tabel 1 Peringkat daya saing negara-negara ASEAN tahun

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah (regional development) pada dasarnya adalah

DINAMIKA PERTUMBUHAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kata Pengantar KATA PENGANTAR Nesparnas 2014 (Buku 2)

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dampak investasi dan pengeluaran pemerintah terhadap kinerja perekonomian

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah penduduk adalah salah satu input pembangunan ekonomi. Data

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara yang sudah menjadi agenda setiap tahunnya dan dilakukan oleh

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. sosial. Selain itu pembangunan adalah rangkaian dari upaya dan proses yang

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia. Seiring perkembangan zaman tentu kebutuhan manusia bertambah, oleh

BADAN PUSAT STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 2014

V. MEMBANGUN DATA DASAR

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013 SEBESAR -3,30 PERSEN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat menjadi meningkat (Atmanti, 2010). perekonomian. Secara lebih jelas, pengertian Produk Domestik Regional Bruto

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017

Visi, Misi Dan Strategi KALTIM BANGKIT

BAB I PENDAHULUAN. dihadapi oleh negara-negara berkembang adalah disparitas (ketimpangan)

LAUNCHING RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI (RAN-PG) TAHUN

I. PENDAHULUAN. orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan.

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI DKI JAKARTA 2014

ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. maka membutuhkan pembangunan. Manusia ataupun masyarakat adalah kekayaan

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN IV TAHUN 2013

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. lumpuhnya sektor-sektor perekonomian dunia, sehingga dunia dihadapkan bukan

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sebagai Kota yang telah berusia 379 tahun, Tanjungbalai memiliki struktur

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan merupakan fenomena umum yang terjadi pada banyak

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I TAHUN 2014

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penanaman modal atau investasi merupakan langkah awal kegiatan

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008

Formulir C Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembangunan Triwulan III Berdasarkan PP No.39 Tahun 2006 Tahun Anggaran 2014

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

Sektor * 2010** 3,26 3,45 3,79 2,82 2,72 3,36 3,47 4,83 3,98 2,86 2. Pertambangan dan Penggalian

PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,

CATATAN ATAS PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DALAM RKP Grafik 1. Tingkat Kemiskinan,

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN

BAB I PENDAHULUAN. Oleh karena itu, pembangunan merupakan syarat mutlak bagi suatu negara.

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2015

Antar Kerja Antar Daerah (AKAD)

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka pelaksanaan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tujuan utama pembangunan ekonomi di negara berkembang adalah

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN

IV. DINAMIKA DISPARITAS WILAYAH DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN TRIWULAN I KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan perhatian utama semua negara terutama

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari

DAFTAR ISI BUKU III RPJMN TAHUN PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN : MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT-DAERAH DAN ANTARDAERAH

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TAHUN 2016

I. PENDAHULUAN. utama ekonomi, pengembangan konektivitas nasional, dan peningkatan. dalam menunjang kegiatan ekonomi di setiap koridor ekonomi.

PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA. Saktyanu K. Dermoredjo

DAFTAR ISI BAGIAN PERTAMA PRIORITAS NASIONAL DAN BAB 1 PENDAHULUAN PRIORITAS NASIONAL LAINNYA

Transkripsi:

B A B BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berbagai upaya ditempuh untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan antarwilayah Dalam konteks pembanguan saat ini, model perencanaan lintas sektor dan lintas wilayah sangat diperlukan untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan pembangunan tersebut Tidak ada model perencanaan yang terbaik, tetapi model perencanaan berguna untuk memandu perumusan alternatif kebijakan yang rasional, tepat dan efektif Dengan kata lain, model perencanaan sangat diperlukan bagi keseluruhan proses perencanaan pembangunan Secara garis besar terdapat tiga kelompok model perencanaan, yaitu model konsistensi, model optimasi dan model simulasi Kajian ini menggunakan model ekonometrika untuk menganalisis konsistensi berbagai tujuan pembangunan: pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan penghapusan kemiskinan secara simultan Model simulasi digunakan untuk melakukan serangkaian ujicoba terhadap berbagai pilihan kebijakan yang paling layak, rasional, dan sesuai dengan sistem ekonomi yang diinginkan Dalam kajian ini, model keseimbangan umum (model CGE) digunakan untuk melakukan simulasi berbagai alternatif kebijakan Meskipun sedikit disinggung dalam model ekonometrika, kajian ini belum memanfaatkan model optimasi secara utuh dan lengkap dalam menentukan nilai optimum pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan pengurangan kemiskinan 51 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisi dari model ekonometrika dan model CGE, studi ini merumuskan temuan, kesimpulan dan rekomendasi 511 Temuan dan Kesimpulan Berdasarkan Model Ekonometrika Hasil analisis dengan menggunakan model ekonometrika memberikan temuan sebagai berikut Pertama, kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah dengan meningkatkan belanja modal akan berdampak pada perbaikan kinerja ekonomi makro baik di tingkat nasional maupun regional Perbaikan kinerja ekonomi ditunjukkan oleh kenaikan PDB nasional sebesar 2,32 persen Selain itu, peningkatan belanja modal juga berdampak Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 126

positif terhadap peningkatan PDRB provinsi Peningkatan PDRB yang terbesar terjadi di Provinsi Papua dan Kalimantan Barat Dampak peningkatan belanja modal terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara ternyata tidak terlalu signifikan Kenaikan PDRB berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja yang selanjutnya akan menurunkan jumlah pengangguran baik di perdesaan maupun perkotaan Di samping itu, jumlah kemiskinan juga mengalami penurunan baik di perdesaan maupun di perkotaan Kedua, kenaikan belanja barang dan jasa memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi nasional dan provinsi Peningkatan belanja barang dan jasa juga akan mendorong penyerapan tenaga kerja di masing-masing sektor Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja Dari segi wilayah, dampak dari kenaikan belanja barang dan jasa tersebut bervariasi antarprovinsi Dampak kenaikan belanja barang dan jasa di beberapa provinsi ternyata tidak signifikan khususnya sektor industri di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantar Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua Ketiga, peningkatan belanja pegawai akan menyebabkan kenaikan produksi yang diukur dengan PDB dan PDRB Provinsi yang mengalami peningkatan PDRB sebagai akibat kenaikan belanja pegawai adalah Papua dan DKI Jakarta Kenaikan belanja pegawai tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku Utara Kebijakan peningkatan belanja pegawai juga berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja, pengurangan kemiskinan dan penerimaan daerah di setiap provinsi dengan besaran yang berbeda Kempat, target pertumbuhan sebesar 5,0 persen selama periode 200-2005 dapat dicapai dengan meningkatkan belanja modal sebesar sebesar 5,67 persen, belanja barang dan jasa 5,0 persen dan belanja pegawai 5,0 persen Namun, skenario kebijakan fiskal tersebut mempunyai dampak berbeda terhadap kenaikan PDRB untuk setiap provinsi Skenario pertumbuhan dan kebijakan fiskal tersebut tidak memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara Hal ini mengindikasikan adanya permasalahan struktural dalam pengembangan ekonomi provinsi tersebut Kelima, target pertumbuhan PDRB sebesar 5,0 persen selama periode 2006-2010 dapat ditempuh dengan kombinasi kebijakan peningkatan belanja modal sebesar 5,0 persen, belanja barang dan jasa sebesar 3,5 persen, dan belanja pegawai sebesar 2,0 persen Skenario kebijakan tersebut selain akan meningkatkan PDRB juga akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja hampir seluruh sektor, kecuali sektor industri di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Kalimantan Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 127

Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, Maluku, Maluku Utara dan Papua Hal ini terjadi sebagai akibat pemusatan pengembangan industri di Jawa sehingga pengembangan industri di provinsi tersebut belum optimal Secara nasional, skenario kebijakan tersebut dapat menurunkan pengangguran dan kemiskinan; serta meningkatkan kinerja fiskal daerah Dari hasil analisis dan simulasi kebijakan yang disusun berdasarkan data historis dan peramalan, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengeluaran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah, pengurangan pengangguran dan kemiskinan sangat ditentukan oleh besaran dan jenis belanja pemerintah, prioritas alokasi sektor dan prioritas wilayah 512 Temuan dan Kesimpulan Berdasarkan Model CGE-IR Temuan dari analisis model keseimbangan umum (CGE-IR) dapat dijelaskan sebagai berikut Pertama, investasi pemerintah dan swasta akan meningkatkan kinerja ekonomi makro baik di tingkat nasional maupun provinsi Di tingkat provinsi, respon peningkatan investasi pemerintah dan swasta terhadap pertumbuhan PDRB masing-masing provinsi ternyata berbeda Investasi pemerintah akan mendorong peningkatan PDRB terbesar yang terjadi di Sulawesi Selatan dan terkecil di Kalimantan Timur Sedangkan, dampak peningkatan investasi swasta terhadap peningkatan PDRB terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat dan dampak terkecil terjadi di Provinsi Sulawesi Utara Kedua, meningkatnya produktivitas sebagai akibat kenaikan investasi swasta dan pemerintah akan menurunkan tingkat harga baik harga barang modal maupun harga barang jadi Turunnya harga-harga tersebut ternyata diikuti juga oleh penurunan upah riil Namun, penurunan upah riil lebih kecil dibanding penurunan harga sehingga penurunan upah riil tersebut tidak menyebabkan turunnya pendapatan riil dan daya beli pada semua golongan pendapatan Dengan pola perubahan seperit ini, konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan Peningkatan pendapatan terbesar terjadi pada rumah tangga golongan rendah baik di perkotaan maupun di pedesaan Ketiga, turunnya tingkat harga produk mengakibatkan peningkatan daya saing industri dalam negeri di pasar internasional Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan volume ekspor, penurunan volume impor dan neraca perdagangan yang positif Keempat, peningkatan investasi pemerintah dan investasi swasta akan mendorong peningkatan output di sebagian besar sektor ekonomi Peningkatan output terbesar terjadi pada sektor tanaman perkebunan, angkutan udara, dan perikanan Peningkatan output terbesar sebagai dampak kenaikan investasi swasta saja terjadi pada sektor Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 128

industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, industri pupuk, kimia, barang dari karet dan mineral bukan logam Kelima, kenaikan investasi pemerintah dan swasta selain berdampak pada peningkatan output yang terjadi di sebagian besar sektor ekonomi juga mendorong penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi Peningkatan investasi swasta dan pemerintah secara umum juga mengakibatkan penurunan harga di seluruh sektor dengan besaran yang bervariasi Hal ini akan mempengaruhi peurunan indeks harga konsumen di tingkat nasional Dengan memperhatikan berbagai temuan tersebut, kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut Pertama, kenaikan investasi pemerintah dan investasi swasta berdampak positif terhadap kinerja perekomian nasional dan wilayah Kedua, efektivitas investasi pemerintah dan investasi swasta selain ditentukan oleh pemilihan sektor yang bersifat strategis juga ditentukan oleh pemilihan wilayah Ketiga, dampak invetasi pemerintah dan swasta terhadap pengurangan pengangguran dan kemiskinan di wilayah sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi wilayah dan respon pelaku ekonomi di daerah 52 Rekomendasi Berdasarakan hasil simulasi model ekonometrika dan model CGE, keterkaitan investasi pemerintah dan investasi swasta dalam perekonomian wilayah yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah, kajian ini merumuskan rekomendasi kebijakan sebagai berikut Pertama, perlu adanya peningkatan efektivitas kebijakan fiskal terutama alokasi pengeluaran pemerintah Langkah yang perlu dilakukan antara lain adalah penyempurnaan terhadap penyusunan prioritas kebijakan dan program kementerian/lembaga dengan mendasarkan pada indikator kinerja yang terukur dan lokasi provinsi dan kabupaten/kota dari kebijakan, prorgam dan kegiatan yang tepat Kedua, perlu penajaman pengeluaran pemerintah dalam bentuk belanja modal, dan belanja barang dan jasa terutama menyangkut pemilihan sektor dan wilayah Dengan penajaman pengeluaran pemerintah tersebut diharapkan belanja modal, dan belanja barang dan jasa memberi dampak positif terhadap perekonomian wilayah yang diukur dari peningkatan PDRB, perluasan kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan dan pengangguran, serta pengurangan kesenjangan antarwilayah Ketiga, perlu adanya dukungan iklim yang kondusif untuk meningkatkan investasi di daerah Iklim yang kondusif tersebut dapat dicapai antara lain dengan menguragi berbagai hambatan investasi, menghapuskan pungutan baik resmi maupun dan tidak Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 129

resmi yang tidak berkaitan dengan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan, memperbaiki infrastruktur, serta menciptakan ketertiban dan keamanan Keempat, dampak peningkatan investasi yang berbeda di setiap daerah terpilih di Indonesia disebabkan oleh perbedaan pangsa output, investasi, konsumsi dan ekspor di setiap daerah Dengan demikian, perubahan kebijakan yang mendukung iklim investasi di setiap daerah harus spesifik daerah dan bukan kebijakan yang dipaksakan di tingkat nasional Kelima, perlu pemutakhiran model keterkaitan lintas sektor dan lintas wilayah sebagai instrumen analisis kuantitatif untuk merumuskan investasi pemerintah yang paling optimum untuk masing-masing wilayah (provinsi) dan sektor-sektor utama sehinggga mampu meningkatkan kinerja ekonomi secara keseluruhan Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 130

RPJM Pusat Kebijakan Fiskal Otonomi Daerah Pengeluaran Pemerintah Pusat Departerman 1 n Provinsi Belanja Modal Belanja Pegawai Belanja Barang & Jasa NAD Rp Rp Rp Papua Rp Rp Rp RPJM Daerah Penerimaan Daerah Pengeluaran Daerah Analisis Model Perencanaan Investasi Swasta Pembangunan Ekonomi Daerah Investasi Pemerintah 1 Sektor Pertanian 2 Sektor Pertambangan 3 Sektor Industri Pengolahan 4 Sektor Listrik, Gas, Air 5 Sektor Bangunan 6 Sektor Perdagangan 7 Sektor Transporatasi 8 Sektor Lembaga Keuangan 9 Sektor Jasa 1 PDRB 2 Penyerapan Tenaga Kerja 3 Pengangguran 4 Kemiskinan Gambar 51 Konsep Perencanaan Lintas Wilayah dan Lintas Sektor Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 131

53 Agenda Riset Setiap model perencanaan dan kerangka simulasi yang dipilih, serta tingkat disagregasi informasi yang digunakan harus secara terus menerus disesuaikan dengan perkembangan kondisi faktual Oleh sebab itu, dengan memperhatikan berbagai batasan terutama menyangkut ketersediaan dan kualitas data yang digunakan dalam kajian ini, maka agenda riset di masa depan yang sangat diperlukan adalah sebagai berikut Pertama, dengan pertimbangan bahwa keterkaitan antardaerah merupakan faktor positif bagi wilayah dalam mengoptimalkan berbagai potensi dan integrasi ekonomi nasional, maka perlu adanya riset tentang arus perdagangan barang dan jasa antardaerah, dan arus pendapatan antardaerah secara komprehensif, rinci dan kontinu Kedua, perlu adanya updating dan modifikasi secara terus menerus terhadap model perencanaan lintas sektor dan lintas wilayah yang telah disusun Modifikasi ini diperlukan dengan memperhatikan wilayah pulau-pulau besar sebagai suatu kesatuan sosial, ekonomi dan budaya, serta keterkaitan antarprovinsi dalam wilayah pulau-pulau tersebut Ketiga, perlu riset lanjutan untuk melakukan pemutakhiran model keterkaitan lintas sektor dan lintas daerah dengan memperhitungkan data dan informasi mikro berupa data rumah tangga dan data perusahaan sebagai proxi terhadap perubahan perilaku dari para pelaku ekonomi Direktorat Kewilayahan I, Bappenas 132