RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN AGAM 2010-2030 PEMERINTAHAN KABUPATEN AGAM TAHUN 2010
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I PROFIL KABUPATEN AGAM I-1 1.1 Landasan Hukum... I-2 1.2 Profil Tata ruang... I-9 1.2.1 Gambaran umum kabupaten agam... I-9 1.2.1.1 Letak Geografis... I-9 1.2.1.2 Topografi... I-14 1.2.1.3 Klimatologi... I-17 1.2.1.4 Geologi... I-19 1.2.2 Kependudukan... I-21 1.1.2.1 Jumlah penduduk... I-21 1.1.2.2 Kepadatan penduduk... I-22 1.1.2.3 Proyeksi Penduduk... I-25 1.2.3 Potensi Bencana... I-26 1.2.4 Potensi sumber daya alam... I-38 1.2.4.1 Sektor pertanian... I-38 1.2.4.2 Sektor perkebunan... I-39 1.2.4.3 Sektor pertenakan... I-40 1.2.4.4 Sektor kehutanan... I-41 1.2.4.5 Sektor perikanan dan kelautan... I-41 1.2.4.6 Sektor mineral dan pertambangan... I-45 1.2.4.7 Sektor pariwisata... I-49 1.2.5 Potensi ekonomi wilayah... I-51 1.2.5.1 Pertumbuhan ekonomi wilayah... I-51 Daftar Isi ii
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 1.2.5.2 Sektor-sektor berbasis ekonomi... I-54 1.3 Isu isu Strategis... I-57 BAB 2 TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI... II-1 2.1 PERUMUSAN MASALAH... II-1 2.1.1 Dasar-dasar perumusan tujuan penataan ruang... II-2 2.1.2 Rumusan tujuan... II-7 2.2 TUJUAN TATA RUANG RTRW KAB AGAM... II-8 2.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGIS TATA RUANG KABUPATEN AGAM... II-9 BAB 3 RENCANA STRUKTUR RUANG... III-1 3.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah... III-1 3.1.1 Pusat Kegiatan Lokal... III-4 3.1.2 Pusat Kegatan Lokal Promosi... III-4 3.1.3 Pusat Kegiatan Kawasan dan Lingkungan... III-5 3.2 Arahan Pengembangan Sistem Perkotaan... III-8 3.2.1 Arahan Pengembangan Sistem Perkotaan Wil. Kabupaten... III-8 3.3 Rencana Sistem Prsarana Wilayah... III-18 3.3.1 Rencana sistem Transportasi... III-18 3.3.1.1 Sistem transportasi darat... III-18 3.3.1.2 Sistem transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan.. III-24 3.3.1.3 Sistem transportasi laut... III-25 3.3.2 Rencana sistem Prasarana Lainya... III-27 3.3.2.1 Sistem Jaringan Energi... III-27 3.3.2.2 Sistem Jaringan Telekomunikasi... III-28 3.3.2.3 Sistem Jaringan Sumber Daya Air... III-33 3.3.2.4 Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Lainya... III-39 BAB 4 RENCANA POLA RUANG... IV-1 4.1 RENCANA POLA RUANG... VI-1 4.1.1 Rencana kawasan lindung... IV-2 4.1.1.1 Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan Bawahannya... IV-3 4.1.1.2 Kawasan perlindungan setempat... IV-6 Daftar Isi iii
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 4.1.1.3 Kawasan Suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya... VI-12 4.1.1.4 Kawasan rawan bencana alam... VI-13 4.1.1.5 Kawasan lindung geologi... IV-21 4.1.1.5 Kawasan lindung Lainnya... IV-22 4.2 KAWASAN BUDIDAYA... IV-23 4.2.1 Kawasan peruntukan hutan industri... IV-24 4.2.2 Kawasan peruntukan Pertanian... IV-25 4.2.2.1 Kawasan Pertanian Tanaman Pangan... IV-26 4.2.2.2 Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan... IV-27 4.2.2.3 Kawasan Pertanian Holtikultura... IV-28 4.2.2.4 Kawasan Peternakan... IV-29 4.2.3 Kawasan peruntukan perkebunan... IV-30 4.2.4 Kawasan Peruntukan Perikanan... VI-31 4.2.4.1 Kawasan Peruntukan Perikanan Tangkap... VI-31 4.2.4.2 Kawasan Peruntukan Budidaya Perikanan... VI-31 4.2.4. 3 Kawasan Pengolahan Perikanan... VI-34 4.2.5 Kawasan peruntukan Pertambangan... VI-34 4.2.6 Kawasan Peruntukan Industri... IV-37 4.2.7 Kawasan Pariwisata... IV-38 4.2.8 Kawasan permukiman... IV-46 4.2.9 Kawasan peruntukan Lainnya... IV-46 BAB 5 RENCANA KAWASAN STRATEGIS... V-1 5.1 Pengertian kawasan strategis... V-1 5.2 Kriteria kawasan strategis... V-2 5.2.1 Kriteria umum... V-2 5.2.2 Prinsip-prinsip pengembangan kawasan... V-4 5.2.3 Rencana pengembangan dan penetapan kawasan strategis... V-4 5.2.3.1 Kawasan strategis Dari Sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tinggi.... V-5 5.2.3.2 Kawasan strategis Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup... V-7 5.2.3.3 Kawasan strategis provinsi Sudut Kepentingan Daftar Isi iv
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten... V-8 5.2.3.4 Kawasan strategis Sudut Kepentingan Pembangunan Wilayah Kabupaten... V-12 BAB 6 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG... VI-1 6.1 DASAR PENYUSUNAN ARAHAN PEMANFAATAN RUANG... VI-1 6.2 PERWUJUDAN RENCANA STRUKTUR RUANG... VI-3 6.2.1 Perwujudan Sistem Pusat-Pusat Permukiman Indikasi... VI-5 6.2.2 Perwujudan Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah... VI-12 6.3 PERWUJUDAN RENCANA POLA RUANG... VI-20 6.3.1 Rencana Perwujudan Kawasan Lindung... VI-20 6.3.2 Rencana Perwujudan Kawasam Budidaya... VI-32 6.3.3 Rencana Perwujudan Kawasam Strategis... VI-44 6.4 INDIKASI PROGRAM UTAMA... VI-20 BAB 7 ARAHAN PENGENDALIAN RUANG... VII-1 7.1 ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG... VII-1 7.2 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI... VII-3 7.2.1 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Struktur Ruang... VII-3 7.2.1.1 Sistem Pusat Pelayanan... VII-4 7.2.1.2 Sistem Jaringan Prasarana Wilayah... VII-4 7.2.2 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pola Ruang... VII-7 7.3 KETENTUAN UMUM PERIZINAN... VII-28 7.3.1 Izin Lokasi... VII-29 7.3.1 Izin Pemanfaatan Ruang... VII-31 7.4 KETENTUAN UMUM PEMBERIAN INSENTIF DAN DISINSENTIF... VII-35 7.5 ARAHAN SANKSI... VII-40 BAB 8 HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENETAAN RUANG... VIII-1 8.1 HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT... VII-1 8.1.1 Hak Manyarakat... VII-2 7.2.1 Kewajiban Masyarakat... VII-4 8.2 PERAN SERTA MASYARAKAT... VII-5 Daftar Isi v
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Gambar Hal Gambar 1.1 : Citra Landsat Spot 5 Kab. Agam... I-10 Gambar 1.2 : Gunung api Maninjau dengan Danau Kawah dibandingkan dengan besarnya Gunung Merapi dan Singgalang yang Mencapai 12 :1... I-14 Gambar 1.3 : Sesar Sumatera sebagai daerah rawan gempa... I-26 Gambar 1.4 : Hancuran Permukaan Akibat Pergerakan Sesar Aktif ketika terjadi Gempa Bumi 6 Maret 2007 do Sepanjang Sesar Solok Hingga Bukittinggi... I-27 Gambar 1.5 : Hasil Analisis probabilitas... I-28 Gambar 1.6 : Sebaran Hasil Letusan Gunung Merapi dan Gunung Tandikat Berdasarkan Data PVMBG-DESDM... I-29 Gambar 1.7: Gambar Gerakan Tanah Avalance/ Longsor di Aliran Malalak Selatan... I-31 Gambar 1.8 : Banjir di Ampek Nagari dan Di Manggopoh... I-33 Gambar 1.9 : Abrasi dan Akresi dipantai Kabupaten Agam... I-34 vi
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Peta Hal Peta I.1 : Peta Orientasi Kabupaten Agam... I-12 Peta I.2 : Peta Administrasi Kabupaten Agam... I-13 Peta I.3 : Peta Topografi Kabupaten Agam... I-16 Peta I.4 : Peta KlimatologiKabupaten Agam... I-18 Peta 1.4.a : Peta Geologi Kabupaten Agam... I-20 Peta 1.5 : Peta Tingkat Kepadatan Penduduk... I-24 Peta 1.6 : Peta Rawan Bencana Abrase, Akresi dan Gerakan Tanah... I-35 Peta 1.7 : Peta Rawan Bencana Liquifraksi, banjir dan letusan gunung api... I-37 Peta 1.8 : Peta Rawan Bencana Sesar dan Tsunami... I-36 Peta 1.9 : Peta kawasan hutan... I-43 Peta 1.10 : Peta Potensi Perikanan... I-44 Peta 1.11 : Peta Potensi Pertambangan... I-48 Peta 3.1 : Peta Rencana Struktur Ruang... III-10 Peta 3.2 : Peta Rencana Sistem Transportasi Kabupaten Agam... III-26 Peta 3.3 : Peta Rencana Jaringan Energi Kabupaten Agam... III-31 Peta 3.4 : Peta Rencana Sistem Telekomunikasi Kabupaten Agam... III-32 Peta 3.5 : Peta Satuan Wilayah Sungai... III-50 Peta 3.6 : Peta Rencana Sistem Irigasi Kabupaten Agam... III-51 Peta 3.7 : Peta Rencana Sistem Jaringan Air Bersih Kabupaten Agam... III-52 Peta 3.8 : Peta Rencana Sistem Jaringan Drainase dan Persampahan... III-53 Peta 3.9 : Peta Jalur Evakuasi Bencana Kabupaten Agam... III-54 Peta 4.1 : Peta Pola Ruang Kabupaten Agam 2010-2030... IV-57 Peta 4.2 : Peta RencanaPola Ruang Kabupaten Agam 2010-2030 Berdasarkan usulan perubahan hutan... IV-58 Peta 5.1 : Peta Kawasan Strategis... V-14 vii
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Grafik Hal Grafik 1.1 : Luas Kecamatan di Kabupaten Agam Tahun 2008... I-21 Grafik 1.2 : Kepadatan Penduduk Kabupaten Agam berdasarkan kecamatan... I-23 Grafik 1.3 : Penggunaan Lahan di Kabupaten Agam Tahun 2008... I-42 viii
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Tabel Hal Tabel 1.1 : Jumlah Kecamatan, Nagari, Luas Daerah di Kabupaten Agam Tahun 2005-2008... I-11 Tabel 1.2 : Jumlah Penduduk di Kabupaten Agam tahun 2004-2008... I-21 Tabel 1.3 : Kepadatan Penduduk Kabupaten Agam Tahun 2009... I-22 Tabel 1.4 : Analisis Kategori Tingkat Kepadatan Penduduk di Kabupaten Agam tahun 2009... I-23 Tabel 1.5 : Proyeksi Jumlah Penduduk di Kabupaten Agam Tahun 2009 2030... I-25 Tabel 1.6 : Bencana gerakan tanah/longsor di Kabupaten Agam... I-31 Tabel 1.7 : Perkembangan Tanaman Padi Sawah Tahun 2006-2007 I-38 Tabel 1.8 : Produksi Perkebunan di Kabupaten Agam tahun 2007.I-39 Tabel 1.9 : Populasi Ternak di Kabupaten Agam Tahun 2007... I-40 Tabel 1.10 : Luas Hutan di Kabupaten Agam.I-41 Tabel 1.11 : Produksi Perikanan Tangkap dan budidaya di Kabupaten Agam tahun 2007.I-42 Tabel 1.12 : Potensi Sumber Daya Mineral di Kabupaten Agam 2007..I-46 Tabel 1.13 : Jumblah Objek wisata Berdasarkan jenis Menurut Kecamatan tahun 2007.I-50 Tabel 1.14 : PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Agam Pada tahun 2004-2007..I-52 Tabel 1.15 : Kontribusi PDRB Sektoral Kab. Berdasarkan Harga Konstan 1993 Menurut lapangan Kerja tahun 2004-2007..I-52 Tabel 1.16 : Penghitungan Location Quotient Kabupaten Agam 2005-2008 I-56 Tabel 3.1 : Rencana Peningkatan Jalan Arteri Primer (K1)... III-19 ix
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 Tabel 3.2 : Rencana Pembangunan Jalan Arteri Primer (K1)... III-19 Tabel 3.3 : Rencana Peningkatan dan Pengembangan Jalan Kolektor Primer (K2)... III-20 Tabel 3.4 : Rencana Pembangunan Jalan Kolektor Primer (K2)... III-20 Tabel 3.5 : Rencana Peningkatan Jalan Kolektor Primer (K2)... III-20 Tabel 3.6 : Rencana Peningkatan Jalan Kolektor Primer (K3)... III-21 Tabel 3.7 : Rencana Peningkatan Jalan Kabupaten (K4)... III-21 Tabel 3.8 : Rencana Pembangunan Jalan Kabupaten (K4)... III-22 Tabel 3.9 : Terminal Angkutan di Kbupaten Agam... III-24 Tabel 3.10 : Daftar Embung di Kabupaten Agam... III-34 Tabel 3.11 : Daftar Irigasi yang menjadi kewenangan Kabupaten Agam... III-35 Tabel 3.6 : Rencana Peningkatan n Jalan Kolektor Primer (K3)... III-20 1.20 : Rekapitulasi Izin Usaha Pertambangan di Kabupaten Agam Sampai dengan September 2007... I-57 Tabel 1.21 : Panjang Jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten Agam Tahun 2005-2007... I-59 Tabel 1.22 : Kondisi Jalan di Kabupaten Agam Tahun 2007... I-59 Tabel 1.23 : Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan Tahun 2005-2007... I-60 Tabel 1.24 : Terminal Angkutan di Kabupaten Agam... I-60 Tabel 1.25 : Kondisi Angkutan Umum Kabupaten Agam Tahun 2007... I-61 Tabel 1.26 : Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan dan Nilai Menurut Jenis Pelanggan di Kabupaten Agam Tahun 2007. I-62 Tabel 1.27 : Perkembangan Jumlah Jorong Terlistrik di Kabupaten Agam Tahun 2004-2007... I-64 Tabel 1.28 : Jumlah PLTMH dan PIKOHIDRO di Kabupaten Agam Sampai Tahun 2007... I-65 Tabel 1.29 : Potensi Geothemal di Kabupaten Agam... I-66 Tabel 1.30 : Potensi Energi Air Untuk Pembangkit energi Listrik di Kabupaten Agam... I-66 Tabel 1.31 : Jumlah Kapasitas Sentral Telepon dan Jumlah Pelanggan x
Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 di Kabupaten Agam Tahun 2007... I-67 Tabel 1.32 : PDRB Atas harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2007... I-68 Tabel 1.33 : PDRB Atas harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2007s... I-70 Tabel 3.1. : Terminal Angkutan di Kabupaten Agam... III-16 Tabel 4.1 : Lokasi Hutan Lindung di Kabupaten Agam... IV-3 Tabel 4.2. : Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Lindung Kabupaten Agam hingga Tahun 2030... IV-4 Tabel 4.3. : Rencana Sebaran Kawasan Perlindungan Setempat di Kabupaten Agam hingga Tahun 2030... IV-9 Tabel 4.4 : Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Mentri dan Keputusan Gubernur... IV-10 Tabel 4.5. : Lokasi Kawasan terhadap Bahaya Longsor di Kabupaten Agam. IV-13 Tabel 4.6 : Rencana Luas dari Perubahan Luas Hutan Produksi Terbatas Kabupaten Agam Hingga Tahun 2030... IV-23 Tabel 4.7. : Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Produksi Kabupaten Agam Hingga Tahun 2030... IV-23 Tabel 4.8 : Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Produksi yang Dapat di Konversidi Kabupaten Agam hingga Tahun 2030.. IV-24 Tabel 4.9 : Rencana Luas Peruntukan Luas Perkebunan di Kabupaten Agam Hingga Tahun 2030... I-25 xi
BAB I PROFIL KABUPATEN AGAM
BAB. 1 PROFIL KABUPATEN AGAM Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Agam Tahun 2004 2014 belum sepenuhnya menjadi acuan dalam pemanfaatan ruang dan fokus hanya pada perencanaan, sehingga terjadi inkonsistensi pelaksanaan pembangunan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah serta lemahnya pengendalian dan penegakan hukum terhadap pemanfaatan ruang. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 1992, pada tahun 2009 telah dilakukan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Agam sehingga diharapkan dengan tersusunnya RTRW Kabupaten Agam tahun 2010-2030 yang mengacu kepada undangundang penataan ruang yang baru, pemanfaatan ruang 20 tahun kedepan dapat memberikan arahan yang lebih jelas serta mampu dan berdampak luas terhadap mengantisipasi perkembangan wilayah Kabupaten Agam baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 1
1.1 LANDASAN HUKUM Undang Undang 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 25); 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 61 tahun 1958 tentang Penerapan Undang-Undang Republik Indonesia Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi, dan Riau menjadi Undang-Undang Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112) jo. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1979; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043); 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469); 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3470); 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 3647); RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 2
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4412); 10. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247); 11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3477); 12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undang Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2004, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411); 14. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 104, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4421); RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 3
15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 132 Tahun 2004, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444); 17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722); 18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723); 19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Tahun 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739); RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 4
21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4956); 22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959); 23. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966); 24. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5014); 25. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); 26. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 27. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068); RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 5
28. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074); Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, Serta Bentuk Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3660); 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3776); 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Ketelitian Peta untuk RTRW (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3034); 4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452); 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4490); 6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia 2006 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 2006 Nomor 4624); RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 6
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4655); 8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070); 11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5098); 12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5099); 13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1503); 14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 7
Tahun 2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5110); 15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5111); 16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5112); Keputusan Menteri 1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah; 2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah; 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten; 4. Peraturan Menteri PU No.11/PRT/2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi Dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tetang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wialayah Kabupaten/Kota beserta Rencana Rincinya; 5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 630/KPTS/M tahun 2009 tentang Penetapan Ruas Jalan Menurut Fungsi; 6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 631/KPTS/M tahun 2009 tentang Penetapan Ruas Jalan Menurut Status; RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 8
1.2 PROFIL TATA RUANG 1.2.1 Gambaran Umum Kabupaten Agam Kabupaten Agam terletak pada kawasan yang sangat strategis, dimana dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera dan dilalui oleh Fider Road yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera yang berimplikasi pada perlunya mendorong daya saing perekonomian, serta pentingnya memanfaatkan keuntungan geografis yang ada. 1.2.1.1 Letak Geografis Kabupaten Agam mempunyai luas daerah seluas 2.232,30 km² atau (5,29 %) dari luas wilayah Provinsi Sumatera Barat yang memiliki luas 42.229,04 km². Secara geografis, Kabupaten Agam berada pada pada 00 0 01 34 00 0 28 43 LS dan 99 0 46 39 100 0 32 50, dengan batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Berdasarkan data BPS dalam angka Tahun 2009, Kabupaten Agam memiliki 16 kecamatan dan 82 Nagari. Disamping itu Kabupaten Agam juga mempunyai sebuah danau yaitu Danau Maninjau yang mempunyai luas perairan ± 9.950 Ha dengan kedalaman 157 m dari permukaan air rata-rata. Kabupaten Agam juga memiliki wilayah pantai dengan panjang garis pantai ± 43 km dan memiliki 2 (dua) buah pulau yaitu pulau Tangah dan Pulau Ujung dengan luas masing-masing pulau seluas ± 1 Km². Kabupaten Agam juga memiliki dua buah gunung, yaitu Gunung Merapi dengan ketinggian 2.891 m dpl RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 9
dan Gunung Singgalang dengan ketinggian 2.877 m dpl. Selain itu juga terdapat 3 aliran sungai yang cukup besar, yaitu Batang Antokan, Batang Masang dan Batang Agam. Gambar I.1 Citra Landsat Spot 5 Kab. Agam RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 10
Tabel 1.1 Jumlah Kecamatan, Nagari, Luas Daerah di Kabupaten Agam Tahun 2005-2008 No Kecamatan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Jumlah Nagari Luas Daerah (km 2 ) Jumlah Nagari Luas Daerah (km 2 ) Jumlah Nagari Luas Daerah (km 2 ) Jumlah Nagari Luas Daerah (km 2 ) 1. Tanjung Mutiara 3 205,73 3 205,73 3 205,73 3 205,73 2. Lubuk Basung 5 278,40 5 278,40 5 278,40 5 278,40 3. Ampek Nagari 4 268,69 4 268,69 4 268,69 4 268,69 4. Tanjung Raya 9 244,03 9 244,03 9 244,03 9 244,03 5. Matur 6 93,69 6 93,69 6 93,69 6 93,69 6. IV Koto 11 173,21 11 173,21 7 68,80 7 68,80 7. Banuhampu 7 28,45 7 28,45 7 28,45 7 28,45 8. Sungai Pua 5 44,29 5 44,29 5 44,29 5 44,29 9. Ampek Angkek 7 30,66 7 30,66 7 30,66 7 30,66 10. Canduang 3 52,29 3 52,29 3 52,29 3 52,29 11. Baso 5 70,30 5 70,30 6 70,30 6 70,30 12. Tilatang Kamang 3 56,07 3 56,07 3 56,07 3 56,07 13. Kamang Magek 3 99,60 3 99,60 3 99,60 3 99,60 14. Palembayan 6 349,81 6 349,81 6 349,81 6 349,81 15. Palupuah 4 237,08 4 237,08 4 237,08 4 237,08 16 Malalak - - - - 4 104,41 4 104,41 Jumlah 81 2.232,30 81 2.232,30 82 2.232,30 82 2.232,30 Sumber : Badan Statistik Kabupaten Agam tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 11
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 12
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 13
1.2.1.2 Topografi Kabupaten Agam mempunyai kondisi topografi yang cukup bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga dataran yang relatif rendah, dengan ketinggian berkisar antara 0-2.891 meter dari permukaan laut. Menurut kondisi fisiografinya, ketinggian atau elevasi wilayah Kabupaten Agam, bervariasi antara 2 meter sampai 1.031 meter dpl, adapun pengelompokkan yang didasarkan atas ketinggian adalah sebagai berikut: 1. Wilayah dengan ketinggian 0-500 m dpl seluas 44,55% sebagian besar berada di wilayah barat yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Tanjung Raya. DANAU MANINJAU Gn. MERAPI Gn. SINGGALANG Gambar 1.2: Gunung api Maninjau dengan danau kawah dibandingkan besarnya Gunung Merapi Singgalang yang mencapai 12 : 1 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 14
2. Wilayah dengan ketinggian 500-1000 m dpl seluas 43,49% berada pada wilayah Kecamatan Baso 725-1525 m dpl, Kecamatan Ampek Angkek Canduang, Kecamatan Malalak 425-2075 m dpl, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Palembayan 50-1425 m dpl, Kecamatan Palupuh 325-1650 m dpl, Kecamatan Banuhampu 925-2750 m dpl dan Kecamatan Sungai Pua 625-1150 m dpl. 3. Wilayah dengan ketinggian > 1000 m dpl seluas 11,96% meliputi sebagian Kecamatan IV Koto 850-2750 m dpl, Kecamatan Matur 825-1375 m dpl dan Kecamatan Canduang, Sungai Pua 1150-2625 m dpl. Kawasan sebelah barat merupakan daerah yang datar sampai landai (0 8 %) mencapai luas 71.956 ha, sedangkan bagian tengah dan timur merupakan daerah yang berombak dan berbukit sampai dengan lereng yang sangat terjal (> 45%) yang tercatat dengan luas kawasan 129.352 ha. Kawasan dengan kemiringan yang sangat terjal (> 45%) berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang terletak di Selatan dan Tenggara Kabupaten Agam. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 15
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 16
1.2.1.3 Klimatologi Temperatur udara di Kabupaten Agam terdiri dari dua macam, yaitu di daerah dataran rendah dengan temperatur minimum 25 0 C dan maksimum 33 0 C (Lubuk Basung), sedangkan di daerah tinggi yaitu minimum 20 0 C dan maksimum 29 0 C (Tilatang Kamang). Kelembaban udara rata-rata 88%, kecepatan angin antara 4-20 km/jam dan penyinaran matahari rata-rata 58%. Musim hujan di Kabupaten Agam terjadi antara bulan Januari sampai dengan bulan Mei dan bulan September sampai bulan Desember, sedangkan untuk musim kemarau berlangsung antara bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Berdasarkan peta iklim yang dibuat Oldeman (1979) serta data base hidroklimat yang diterbitkan Bakosurtanal (1987), wilayah Kabupaten Agam memiliki 4 kelas curah hujan, yaitu: 1. Daerah dengan curah hujan > 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan iklim Tipe A), berada di sekitar lereng gunung Merapi-Singgalang meliputi sebagian wilayah Kecamatan IV Koto dan Sungai Pua. 2. Daerah dengan curah hujan 3500-4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan tipe A1) mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan Ampek Angkek. 3. Daerah dengan curah hujan 3500-4000 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut meliputi sebagian Kecamatan Palembayan, Palupuh, dan IV Koto. 4. Daerah dengan curah hujan 2500-3500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut- turut, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 17
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 18
1.2.1.4 Geologi Formasi batuan yang dijumpai pada daerah Kabupaten Agam dapat digolongkan kepada Pra Tersier, Tersier, dan Kuarter yang terdiri dari batuan endapan permukaan, sedimen, metamorfik, vulkanik dan intrusi. Batuan induk yang berasal dari zaman Pra Tersier terdiri dari batuan sedimen, vulkanik, dan intrusi. Batuan yang berasal dari zaman Tersier bahwah atau peralihan Tersier ke Kuarter berupa batuan vulkanik yang terdiri dari lahar, aglomerat dan koluvium. Batuan dari zaman Kuarter terdiri dari endapan permukaan dan vulkanik. Batuan vulkanik terdapat di Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Danau Maninjau. Wilayah Kabupaten Agam yang ditutupi oleh jenis batuan beku ekstrusif dengan reaksi intermediet (andesit dari Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek, Danau Maninjau, dan Gunung Talamau) seluas 68.555,10 ha (32,43%), batuan beku ekstrusif dengan reaksi masam (pumis tuff) seluas 55.867,90 ha (26,43%), batuan sedimen dengan jenis batu kapur seluas 80.011,80 ha (3,79%), endapan alluvium mencapai luas 48.189 ha (22,79%). Struktur batuan yang terdapat di Pulau Sumatera Tengah-Barat merupakan perbukitan bergelombang yang tersusun oleh batuan vulkanik berupa batuan breksi, lava, batuan piroklastik bersifat agak padu sampai padu, berumur tersier hingga kuarter. Sementara untuk daerah sekitar Maninjau terjadi lekukan besar kawah Maninjau yang saat ini berisi air danau merupakan hasil dari ledakan maha dahsyat dari erupsi gunung api yang tipenya hampir sama dengan ledakan maha besar dari Gunung api Purba Toba. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 19
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 20
1.2.2 Kependudukan 1.2.2.1 Jumlah Penduduk Jumlah penduduk di Kabupaten Agam selama periode 5 tahun telah terjadi peningkatan sebesar 13.784 jiwa, dimana pada tahun 2004 penduduk Kabupaten Agam berjumlah 431.603 jiwa dan pada tahun 2008 meningkat sebanyak 445.387 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut. Tabel I.2 Jumlah Penduduk di Kabupaten Agam No Tahun Jumlah Penduduk 1. 2004 431.603 2. 2005 435.276 3. 2006 439.611 4. 2007 443.857 5. 2008 445.387 Sumber : Badan Statistik Kabupaten Agam Grafik 1.1 Jumlah Penduduk di Kabupaten Agam Sumber : Badan Statistik Kabupaten Agam RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 21
1.2.2.2 Kepadatan Penduduk Tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Agam, masih relatif kecil. Berdasarkan perhitungan rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Agam sebesar 200 jiwa/km 2., namun untuk beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, tingkat kepadatan penduduk relatif tinggi seperti di Kecamatan Banuhampu dan Kecamatan Ampek Angkek. Tabel I.3 Kepadatan Penduduk di Kabupaten Agam Tahun 2009 No Kecamatan Luas (Km 2 ) Penduduk Kepadatan Penduduk (Km 2 ) 1. Tanjung Mutiara 205,73 26.452 129 2. Lubuk Basung 278,40 62.132 223 3. Ampek Nagari 268,69 22.622 84 4. Tanjuang Raya 244,03 30.607 125 5. Matur 93,69 18.581 198 6. IV Koto 173,21 23.259 134 7. Banuhampu 28,45 33.207 1.167 8. Sungai Pua 44,29 23.033 520 9. Ampek Angkek 30,66 37.515 1.224 10. Canduang 52,29 23.179 443 11. Baso 70,30 33.112 471 12. Tilatang Kamang 56,07 32.718 584 13. Kamang Magek 99,60 20.605 207 14. Palembayan 349,81 33.759 97 15. Palupuah 237,08 13.981 59 16. Malalak - 10.635 - Jumlah 2.232,30 445.387 200 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 22
Grafik 1.2 Kepadatan Penduduk di Kabupaten Agam 8% 8% 10% 4% 2% 1% 22% 0% 2% 4% 1% 2% 3% 2% 21% 9% Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjuang Raya Matur IV Koto Banu Hampu Dari hasil analisa tingkat kepadatan penduduk, katagori tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Agam dikategorikan menjadi 3 yaitu kepadatan rendah, kepadatan sedang dan kepadatan tinggi. Untuk lebih jelasnya berikut tabel hasil analisis kepadatan penduduk di Kabupaten Agam: Tabel I.4 Analisis Katagori Tingkat Kepadatan Penduduk di Kabupaten Agam Tahun 2009 No Tingkat Kepadatan Penduduk Range Kecamatan 1. Kepadatan Rendah 0-447 jiwa/km 2 Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari, Tanjuang Raya, Matur, IV Koto, Canduang, Kamang Magek, Palembayan, Malalak. 2. Kepadatan Sedang 447-835 jiwa/km 2 Sungai Pua, Baso, Tilatang Kamang. 3. Kepadatan Tinggi > 835 jiwa/km 2 Banuhampu, Ampek Angkek Sumber : Hasil Analisis Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 23
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 24
1.2.2.3 Proyeksi Penduduk Proyeksi penduduk dilakukan guna memprediksi tingkat perkembangan penduduk untuk 20 tahun kedepan, sehingga diharapkan dari hasil proyeksi tersebut dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan saran dan prasarana yang diperlukan, termasuk kebutuhan lahan yang harus disediakan. Dari hasil proyeksi yang dilakukan berdasarkan metode eksponensial, dapat diketahui bahwa pada tahun 2030, diperkirakan penduduk Kabupaten Agam berjumlah 659,461 jiwa atau terjadi penambahan penduduk sebesar 214.074 Jiwa. Tabel I.5 Proyeksi Jumlah Penduduk di Kabupaten Agam Tahun 2009-2030 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2009 Proyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa) 453.404 461.565 469.873 478.331 486.941 495.706 504.629 513.712 522.959 532.372 541.955 551.710 561.641 571.751 582.043 592.520 603.185 614.042 625.095 636.347 647.801 659.461 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 25
1.2.3 Potensi Bencana Alam Kabupaten Agam merupakan daerah yang memiliki banyak bencana, baik bencana alam maupun bencana geologi. Berdasarkan profil rawan bencana yang telah disusun pada tahun 2008, jenis-jenis bencana yang ada, dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Bahaya Sesar Aktif Bahaya sesar aktif adalah bagian dari lempeng bumi yang mengalami patahan atau tersesarkan dan masih bergerak hingga saat ini. Sesar aktif ditunjukkan oleh bentuk kelurusan topografi dimana lokasi pusat gempa terjadi disekitarnya. Pada wilayah Kabupaten Agam, sesar aktif memotong 6 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Agam yaitu : 1. Kec. Palupuh 2. Kec. Palembayan 3. Kec. Matur 4. Kec. IV Koto 5. Kec. Banuhampu 6. Kec. Sungai Pua Gambar I.3 : Sesar Sumatera sebagai daerah rawan gempa RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 26
AGAM Gambar I.4: Hancuran permukaan (Ground surface rupture) akibat pergerakan sesar aktif ketika terjadi gempa bumi 6 Maret 2007 disepanjang sesar Solok hingga Bukittinggi. (Danny H. Natawijadja, Adrin Tohari, Eko Soebowo & Mudrik R. Daryono; EERI Special Earthquake Report May 2007) 2. Bahaya Seismisitas Gempa Bahaya seismisitas gempa merupakan bencana yang terjadi disebabkan oleh terlepasnya energi tektonik kerak bumi. Akibat terpaan dari gelombang seismisitas gempa. Di wilayah Kabupaten Agam zonasi kerusakan akibat terpaan gelombang siesmik gempa berdasarkan analisis dapat diperlihatkan pada Gambar I.5. Dari gambar tersebut kemungkinan zona kerusakan paling tinggi, warna merah, tersebar disepanjang Pegunungan Bukit Barisan, kurang lebih daerah yang menghubungkan antara Danau Singkarak, Kota Bukittinggi sampai sekitar Bonjol di sebelah barat laut. Zona kerusakan lebih rendah diapit oleh dua sesar/patahan yang diperlihatkan oleh warna merah muda. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 27
Gambar I.5: Hasil analisis probabilitas hazard 2% (atas) dan 10% (bawah) berdasarkan gempa periode ulang 50 tahunan (Petersen M.D. Dkk, 2004). 3. Bahaya Tsunami Daerah lepas pantai Kabupaten Agam merupakan tempat dimana subduksi tektonik terjadi. Distribusi pusat gempa dilepas pantai menunjukkan potensi gempa yang menyebabkan terjadi tsunami besar. Untuk wilayah Kabupaten Agam yang termasuk dalam daerah yang potensial terhempas hantaman tsunami adalah pada daerah sekitar Jorong Subang-subang, Jorong Labuhan, Jorong Muara Putus, Jorong Masang, dan Nagari Tiku Selatan dan sebagian Nagari Bawan di Kecamatan Ampek Nagari. 4. Letusan Gunung Api Pada wilayah Kabupaten Agam mempunyai 2 gunung aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikat. Sebaran produk letusan dari Gunung Marapi cenderung menuju ke arah tenggara sedangkan letusan dari Gunung Tandikat menuju ke arah selatan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 28
Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunung api di Kabupaten Agam antara lain: 1. Letusan Gunung Marapi: aliran Batang Sarik, Lima Kampung, Tabek, Kepala Koto, Lukok 1, Suraubaru, Padang laweh, Lubuk dan Pulungan. 2. Letusan Gunung Tandikat: letusan ini tidak terlalu membahayakan kecuali di sekitar daerah Toboh. Gunung Marapi Gunung Tandikat Gambar I.6: Sebaran hasil letusan G. Marapi dan G. Tandikat (data PVMBG DESD). 5. Bahaya Gerakan Tanah/Longsoran Gerakan tanah/longsoran adalah proses pemindahan/pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah: jatuhan (falls), gelincir (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 29
Jatuhan (Debris Falls) Jatuhan (Debris Falls) merupakan gerakan bebas dari massa atau material tanah atau batuan yang berasal dari lereng curam. Tipe jatuhan yang terdapat di Kabupaten Agam diwakili oleh Batuan Tufa Kuarter seperti yang terdapat di Ngarai Sianok. Batuan penyusunnya adalah pasir tufa yang sangat mudah hancur dan lepas-lepas akibat rekahan-rekahan yang terdapat didalamnya serta membentuk lereng sangat curam dan hampir tegak. Jatuhan terjadi akibat meresapnya air hujan ke dalam batuan tufa yang porus sehingga menambah berat dari massa batuan dan memperlemah ikatan antar rekahan dan pori di dalam batuan tersebut. Proses lain yang dapat mengakibatkan longsoran antara lain karena kikisan atau erosi maupun pekerjaan galian dibagian dasar ngarai. Gelinciran (Sliding) Gelinciran (Sliding) adalah gerakan massa tanah atau batuan sepanjang lereng perbukitan dan pegunungan yang terlepas dari ikatan tanah atau batuan asalnya. Gelinciran berlangsung secara cepat dan tiba-tiba dengan kecepatan tinggi. Pergerakan umumnya disebabkan oleh pertambahan massa air yang bercampur dengan rombakan tanah atau batuan dan mengakibatkan massa tanah atau batuan berkurang daya ikatnya dan menjadi berat. Tanah atau batuan yang menyusun tipe gelinciran pada umumnya terjadi dari massa pasiran atau bongkah-bongkah batuan lepas dalam beberapa ukuran mulai dari ukuran kerikil sampai bongkahan berukuran besar lebih dari 5 meter. Di Kabupaten Agam tipe gelinciran paling banyak dijumpai diberbagai dinding jalan dan lereng/lembah sungai dalam berbagai ukuran seperti yang terdapat di sekitar nagari Galapung Sungai lintabung sebelah selatan Danau Maninjau. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 30
Nendatan (Slumps) Longsoran ini dikenali oleh adanya retakan dipermukaan. Pergerakan longsoran diperlihatkan dari bentuk permukaan berupa lingkaran atau bentuk tapal kuda. Di Kabupaten Agam, longsoran tipe ini terdapat disekitar lereng luar Gunung Maninjau yaitu di jalan antara Koto Tuo Balingka di jalan masuk ke stasiun transmisi Telkom dan di jalan antara Matur Palembayan. Gambar I.7: Gerakan tanah Avalance/Longsoran Aliran di Nagari Malalak Selatan Tabel I.6 Bencana Gerakan Tanah/Longsor di Kabupaten Agam No Keterangan Kecamatan Nagari 1 2 3 4 1. Jatuhan (Debris Falls) Tanjung Raya Tanjung- Sani Sungai Batang Maninjau Palembayan Lubuk Basung Ampek Nagari Matur IV Koto Malalak Palupuh Baringin- Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Batu Kambiang Matua Hilia Balingka Koto Gadang Malalak Timur Koto Rantang Pasia Laweh Pagadih RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 31
1 2 3 4 2. Gelinciran (Sliding) 3. Nendatan (Slumps) Palembayan Baringin Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Lubuk Basung Ampek Nagari Batu Kambing Matur Matua Hilir Palupuh Koto Rantang Pasia Laweh Matur Tigo Balai Palembayan Baringin Sungai Pua IV Koto Balingka Malalak Malalak Utara 6. Banjir Banjir terjadi apabila ekses atau kelebihan air tidak dapat ditampung pada tempatnya sehingga melimpah keluar. Tempat penyimpanan air secara alamiah diantaranya adalah sungai, rawa, danau atau bendungan. Daerah banjir terjadi sepanjang aliran sungai seperti Batang Tiku dan Batang Sungai Pingai, Batang Kalulutan, Batang Dareh, Batang Bawan, Batang Sitanang, bagian hilir dari Batang Simpang Jernih dan Simpang Keruh dan Batang Layah. Banjir pada sungai sungai tersebut di atas pada umumnya terbatas pada morfologi dataran banjir (flood plain). Selain dari lokasi lokasi tersebut banjir juga terjadi pada daerah rawa yang terdapat di sekitar dataran pantai, yang juga berhubungan dengan aliran sungai di bagian hilir. Lokasi banjir di wilayah Kabupaten Agam antara lain : Kecamatan Palembayan: Nagari Salareh Aia. Kecamatan Lubuk Basung: Nagari Lubuk Basung. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 32
Kecamatan Ampek Nagari: Nagari Bawan, Nagari Batu Kambiang, Nagari Sitalang. Kecamatan Tanjung Mutiara: Nagari Tiku V Jorong. Kecamatan IV Koto: Nagari Balingka. Kecamatan Tilatang Kamang: Nagari Koto Tangah. Kecamatan Palupuh: Nagari Pasia Laweh. Gambar I.8 Banjir di Ampek Nagari dan di Manggopoh 7. Abrasi Abrasi merupakan salah satu bagian dari proses perubahan muka air laut setempat yang dalam istilah ilmiah disebut relative sea level change (RSLC). Abrasi atau erosi garis pantai mengubah garis pantai berpindah ke arah daratan. Lawan dari abrasi adalah akresi atau sedimentasi yang menyebabkan garis pantai maju ke arah laut. Proses yang terlibat dalam perubahan garis pantai diakibatkan oleh banyak hal diantaranya kondisi geologi dan morfologi pantai, kondisi ekologi, klimatologi dan oseanologi. Dari semua faktor tersebut di atas pengaruh gelombang dan arus laut merupakan faktor dominan. Gelombang berfungsi menghancurkan sedimen yang menyusun garis pantai dan arus laut mengangkut hasil rombakan searah dengan arah arus laut. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 33
Pada wilayah Kabupaten Agam, wilayah yang terkena abrasi yaitu : 1. Masang (800 meter). 2. Ujungmasang (1.100 meter). 3. Muaraputus (300 meter). 4. Ujung Labung (500 meter). 5. Pasia Paneh (200 meter). 6. Pelabuhan Tiku (100 meter). Abrasi Akresi Gambar 1.9 Abrasi dan akresi pantai di Kabupaten Agam RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 34
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 35
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 36
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 37
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 38
1.2.4 Potensi Sumberdaya Alam Sumber Daya Alam yang terdapat di Kabupaten Agam terdiri atas sumber daya alam pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan kelautan serta mineral dan pertambangan. 1.2.4.1 Sektor Pertanian Perkembangan tanaman padi sawah untuk periode tahun 2006 hingga tahun 2008 dapat di gambarkan sebagai berikut, luas baku lahan yang tersedia di wilayah Kabupaten Agam untuk periode 2006-2008, tidak terjadi penambahan maupun pengurangan lahan, dimana berdasarkan data yang ada, luas baku lahan yang tersedia seluas 28.819 Ha. Sementara untuk luas tanam dalam periode 2006-2008 terjadi penurunan sekitar 4,41 %. Tabel I.7 Perkembangan Tanaman Padi Sawah Tahun 2006-2007 No. Uraian Tahun Perkembangan 2005 2006 2007 2007-2008 % 1. Luas Baku Lahan (ha) 28.819 28.819 28.819-0,00 2. Luas Tanam (ha) 52.715 53.449 51.192-2.257-4,41 3. Luas Panen (ha) 49.585 51.157 51.462 305 0,59 4. Produksi (Ton) 233.490 233.561 243.119 9.558 3,93 5. Produktivitas (Ton/ha) 4,71 4,57 4,72 0,15 3,18 6. IP (%) 182,92 185,46 182,92-2,54-1,39 Sumber : Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Agam Tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 39
1.2.4.2 Sektor Perkebunan Untuk sektor perkebunan, produksi tertinggi di sektor ini adalah jenis produksi kelapa sawit yang mencapai 182,740 ton, dimana sebaran perkebunan yang ada di Kabupaten Agam tersebar di wilayah Barat Kabupaten Agam. Tabel I.8 Produksi Pekebunan di Kabupaten Agam Tahun 2007 No Jenis Produksi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) 1. Tanaman Perkebunan a. Kelapa Dalam 11.150 32.916 b. Kelapa Sawit 8.764 182.740 c. Karet 814 913 d. Cengkeh 414 54 e. Kulit Manis 7.493 17.542 f. Kopi 3.297 2.078 g. Gardamunggu 106 52 h. Kemiri 297 2.224 i. Pinang 2.520 9.671 j. Pala 1.051 2.350 k. Tebu 3.983 20.627 l. Temulawak 1 1 m. Jahe 4 15 n. Laos 2 8 o. Kunyit 6 18 p. Kejibeling 1 1 q. Kapulaga 1 1 r. Kakao 1.227 1.065 Sumber : Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Agam Tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 40
1.2.4.3 Sektor Peternakan Kondisi geografis yang sangat beraneka ragam, tentunya sangat mempengaruhi keragaman jenis ternak. Untuk jenis ternak sapi yang ada di Agam wilayah timur umumnya jenis sapi Simenthal dan Brahman, sedangkan Agam wilayah Barat lebih dominan dengan jenis peranakan Onggole (PO), dengan tingkat populasi ternak sapi terbesar adalah jenis sapi potong yang mencapai 32.017 ekor. Sementara untuk populasi terbesar sektor peternakan yang ada di Kabupaten Agam adalah jenis ternak ayam buras yang mencapai 432.315 ekor. Untuk lebih memberi gambaran tentang populasi ternak yang ada di Kabupaten Agam, dapat dilihat pada tabel. Tabel I.9 Populasi Ternak di Kabupaten Agam Tahun 2007 No Jenis Ternak Populasi (Ekor) 1. Sapi Potong 32.017 2. Sapi Perah 40 3. Kerbau 17.787 4. Kuda 172 5. Kambing dan Domba 13.187 6. Ayan Buras 432.315 7. Ayam Ras Petelur 161.548 8. Ayam Ras Pedaging 53.673 9. Itik 105.167 10. Puyuh 44.787 11. Anjing 31.778 12. Kelinci 7.320 Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Agam tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 41
1.2.4.4 Sektor Kehutanan Luas hutan berdasarkan fungsi yang ada di Kabupaten Agam berdasarkan peta Padusarasi RTRW-TGHK tahun 1996/1997 adalah 85,883.40 Ha atau sekitar 38,51 % dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Agam. Adapun perincian luas hutan di Kabupaten agam adalah: Hutan PPA seluas, 27,533.40 Ha, Hutan Lindung seluas 31,560.00 Ha, Hutan Produkasi seluas 6,140.00 Ha dan Hutan Produksi Terbatas seluas 20,883.40. Tabel I.10 Luas Hutan di Kabupaten Agam No Jenis Luas (Ha) 1. Hutan PPA 27.533,40 2. Hutan lindung 31,560,00 3. Hutan produksi 6,140,00 4. Hutan produksi terbatas 20,650,00 Jumlah 85.883,40 Sumber : TGHK dan RTRWP Dati II Agam Th 1996/1997 1.2.4.5 Sektor Perikanan dan Kelautan Kabupaten Agam memiliki panjang pantai 43 Km² dengan luas laut mencapai 313,04 Km². Sementara untuk luas perairan umum (air tawar) yang ada di Kabupaten Agam, luasnya mencapai 10.518 Ha. Untuk perikanan laut, terdapat di Kecamatan Tanjung Mutiara, dimana hasil tangkapan ikan laut dominan adalah jenis ikan tembang, ikan teri, tongkol, ikan layang, ikan kembung, ikan layur, cakalang, mayang dan udang. Sementara untuk kegiatan budidaya ikan, terdapat di danau maninjau dengan jumlah keramba jaring apung (KJA) sebanyak 8.930 petak dengan jumlah pengelola 330 orang. Usaha budidaya lainnya adalah pada kolam air deras, kolam air tenang, keramba irigasi dan RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 42
sawah. Untuk penangkapan ikan di perairan umum, dilakukan di Danau Maninjau dan sungai-sungai yang tersebar di Kabupaten Agam seperti di Batang Masang Kiri, Masang Kanan, Batang Antokan dan Batang Tiku. Tabel I.11 Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya di Kabupaten Agam Tahun 2007 No Jenis Produksi Hasil Tangkapan (Ton) 1. Ikan Laut 4.966,8 2. Budidaya 55.670,35 3. Perairan Umum 755,98 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Tahun 2008 Untuk produksi perikanan di Kabupaten Agam terbagi menjadi 3 jenis produksi yaitu jenis ikan laut, budidaya dan perairan umum. Dari ketiga jenis tersebut, untuk jenis budidaya merupakan jenis yang paling banyak terdapat di Kabupaten Agam dengan jumlah tangkapan 55.670,36 ton sedangkan untuk jenis perairan umum memiliki nilai tangkapan yang paling rendah yaitu hanya 755,98 ton. Sektor pengolahan dan pemasaran ikan yang ada di Kabupaten Agam, umumnya masih dalam tahap pengolahan dan pemasaran sederhana. Dari data yang ada, jumlah unit pengolahan ikan terdapat 278 unit, sementara jumlah produksi ikan olahan pada tahun 2009 mencapai 679,27 ton, dengan jumlah tenaga pemasar sebanyak 672 orang. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 43
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 44
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 45
1.2.4.6 Sektor Mineral dan Pertambangan Tingkat pemanfaatan sumber daya mineral dan energi di Kabupaten Agam masih sangat rendah. Sedangkan potensi sumber daya mineral dan energi yang terkandung di wilayah ini sangat potensial. Oleh karena itu prospek pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral dan energi masih sangat terbuka. Potensi bahan galian tambang golongan B yang dimiliki daerah ini seperti biji besi di Kecamatan Matur, pasir besi di Kecamatan Tanjung Mutiara. Sedangkan potensi bahan galian golongan C seperti andesit, granit, dolomit, dan marmer terdapat di Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Palupuh, Kecamatan IV Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Matur, Kecamatan Baso dan Kecamatan Lubuk Basung. Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat, terdapat beberapa izin pertambangan yang ada di Kabupaten Agam sampai akhir tahun 2008. Ijin pertambangan yang diberikan bervariasi, dari mulai izin eksplorasi, pengolahan, penyelidikan umum, pengangkutan dan penjualan sampai pada ijin eksplorasi. Untuk bahan galian yang mendapat ijin terdiri dari bahan galian pasir besi, dolmit dan juga batu kapur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel I.19, I.20 dan I.21. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 46
Tabel I.12 Potensi Sumber daya Mineral di Kabupaten Agam tahun 2007 No Jenis Lokasi Potensi Keterangan 1 2 3 4 5 1. Batu Kapur Palembayan, Palupuh dan Padang Tarok Sumber daya Simarasok 109.375.000 ton - Penyelidikan umum Kecamatan Baso Kamang Mudik, Kecamatan Kamang Magek 2. Marmer Kamang, Kecamatan Kamang Magek 9.375.000 ton (hipotetik) 25.000.000 ton (hipotetik) 500.000.000 ton (sumber daya) - - Penyelidikan umum Matur Sumber daya Penyelidikan umum Kecamatan Palupuh 62.500.000 ton (700 ha) sumber daya 3. Dolimit Mudik Pauh, Kecamatan Palupuh 5.900.000 ton (45 ha) sumber daya - Sebagian sudah diusahakan oleh PT Bukit Ayu Tunas Lestari Unsur MgO = 17,93-20,86 CaO = 30,20 32,0% SiO = ttd 0,6% Fe2O3 = 0,10 0,30% SiO2 = 1,76 2,24% 4. Kalsit Tersebar di Kecamatan Baso Sumber daya Penyelidikan umum 5. Fosphat Ngalau Baja, Biaro, Durian dan Bunian 6. Granit Bukit Cimpago, Malalak Cimpago Kecamatan IV Koto Bukit Antokan, Bukit Masang, Bukit Labuhan, dan Bukit Pandih Dusun Durian Kapeh, Kecamatan Tanjung Mutiara 7. Andesit Batu Kambing, Malabur dan batang Dareh, Kecamatan Lubuk Basung Ladang hutan dan Panambahan Kecamatan Baso Paninggiran Ateh, Paninggiran Bawah dan Bukit Bateh Dagang, Kecamatan Palupuh Sumber daya Sumber daya Sumber daya Sumber daya Sumber daya Sumber daya Penyelidikan umum Penyelidikan umum Penyelidikan umum Granit kemungkinan dalam bentuk stock granodiorit, berwarna abu-bau tua kehitaman, masif, fanerik halus, sedang,subhedral, equigranular, kuarsa, arthoktas hornblende, plagioklas keras. Penyelidikan umum Penyelidikan umum Hutan lindung Penyelidikan umum 8. Trass Tersebar di Kecamatan Matur 5.280.000 M 3 Sebaran dalam satuan batuan tufa berbatu apung Tersebar di Kecamatan Palupuh 61.600.000 M 3 Penyelidikan umum Baso, Palembayan, IV Koto, Batu Kambing, Sipisang dan Tilatang Kamang Sumber daya Penyelidikan umum RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 47
1 2 3 4 5 9. Balerang Koto Baru 100 ton (hipotetik) Penyelidikan umum 10. Tufa Tersebar di Kecamatan Matur 5.280.000 M 3 Sebaran dalam satuan batuan tufa berbatu apung, berupa jarum-jarum gelas (0,1) bersifat lepas, mudah terurai. Tersebar di Kecamatan Palupuh 61.600.000 M 3 Penyelidikan umum Baso, Palembayan, IV Koto, Batu Kabing, Sipisang dan Tilatang Kamang Sumber daya Penyelidikan umum 11. Dunit Harzburgit Sungai Air, Tiga Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan 50 Ha (Sumber daya) Penyelidikan umum Dunit merupakan batuan beku ultra basa yang berwarna abu-abu, masif, holokristalin, fenerik kasar, anhedral equigranular, didominasi oleh mineral olive dan sedikit plagioklas. MgO = 33-47% 12. Toseki Tersebar di Kecamatan palembayan dan Palupuh 13. Pasir dan Batu Tersebar di Sungai Batang Jabur (Baso dan IV Angkat Canduang), Mancung, Padang Tarab (Baso), Batang Masang (Palembayan), dan Batang Bawan (Lubuk Basung) 14. Tanah Liat Tersebar pada lereng perbukitan sisi utara Danau Maninjau mulai dari Malabur-Lubuk Basung sampai Matur. Dan Komplek perbukitan Gunung Sirabungan dari Pagadis Hilir Ampai Nan Limo, Kecamatan Palupuh 15. Pasir Besi Desa Durian Kapeh dan Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara Diluar sempadan (200 m dari garis pantai) 16. Emas Desa Pagadis Sei. Guntung dan Pasir Lawas Kecamatan Palupuh Sumber daya Sumber daya Sumber daya 2.800 M 3 (spekulatif), luas wilayah ± 2.500 ha Pada sempadan pantai ± 80 ha (4 km x 200 m) 60.000 M 3 (spekulatif) 337.500 ton (spekulatif) Penyelidikan umum Luas sebaran toseki di Palembayan mencapai 200 ha. Pasir dan batu (sitru) berupa sitru sungai dan daerah limbah banjir. Penyelidikan umum Sebaran tanah liat umumnya merupakan perbukitan landai bergelombang dan tingkat keseburan tanah yang kurang subur. Sebagian sedang diusahakan oleh PT Andalas Minang Malindo Luas wilayah 24 Ha. Sumber : Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat Tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 48
RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 49
1.2.4.7 Sektor Pariwisata Objek wisata yang dapat ditemukan di daerah Kabupaten Agam, sangat beragam dan berpotensi untuk dikembangkan. Objek wisata tersebut antara lain wisata alam, wisata sejarah atau situs budaya, seni budaya dan wisata minat khusus. Oleh karena beragamnya objek wisata tersebut maka Agam menjadi daerah tujuan wisata yang utama di Sumatera Barat. Adapun bentuk potensi wisata alam adalah berupa keindahan alam yang mempesona karena masih sangat alami, dengan adanya perbukitan/pegunungan, air terjun, pemandian, panorama danau, lembah, lautan dan pantai. Semua objek wisata alam yang terdapat di Kabupaten Agam terdata lebih kurang 56 objek, dan mayoritas terdapat dikawasan barat seperti Kecamatan Tanjung Raya dan Tanjung Mutiara. Sementara itu, potensi wisata sejarah dan budaya dalam wujud benda-benda bukti sejarah yang tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud). Sedangkan potensi wisata minat khusus adalah dalam bentuk arung jeram, buru babi, paralayang dan perahu naga. Ragam Potensi Alam dan Budaya Kabupaten Agam Potensi alam sebagai objek wisata di Kabupaten Agam terdapat sebanyak 56 objek wisata antara lain: Danau Maninjau, Puncak Lawang, Kelok 44, Ambun Pagi, Air Panas, Telaga Anggrek, Air Tiga Raso, Ngarai Sianok, Ngalau Kamang, Aia Janiah, Bunga Raflesia, Bandar Mutiara, Pulau Ujung dan Pulau Tangah dan lain-lain. Disamping itu terdapat 61 objek wisata budaya, 11 objek wisata sejarah, 84 kegiatan wisata minat khusus. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 50
Sebagai penunjang kawasan wisata, aksesibilitas menuju kawasan wisata berupa prasarana jalan sudah cukup baik. Sudah terdapat empat buah hotel berbintang dengan 196 kamar dan 377 buah tempat tidur. Hotel non bintang (hotel melati) berjumlah 32 buah dilengkapi dengan 286 kamar dan 513 tempat tidur. Tenaga kerja pada hotel berbintang 139 orang dan 90 orang pada hotel Melati. Rumah makan yang ada sebanyak 53 buah dengan tenaga kerja sebanyak 238 orang. Kunjungan wisatawan selama tahun 2008 berjumlah 77.743 orang terdiri dari wisatawan nusantara 69.895 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 7.848 orang. Tabel 1.13 Jumlah Objek Wisata Berdasarkan Jenis Menurut Kecamatan Tahun 2007 No Kecamatan Alam Budaya Minat Khusus Jumlah 1 Tanjung Mutiara 3-5 8 2 Lubuk Basung 1-5 6 3 Ampek Nagari - - 6 6 4 Tanjung Raya 11-10 21 5 Matur 6-7 13 6 IV Koto 2-6 8 7 Malalak 3-4 7 8 Banuhampu 2-4 6 9 Sungai Pua 2-4 6 10 IV Angkat Canduang 1-3 4 11 Canduang 3-4 7 12 Baso 5-6 11 13 Tilatang Kamang 2-4 6 14 Kamang Mangek 3-4 7 15 Palembayan 5-6 11 16 Palupuh 7-6 13 Total 56-84 140 Sumber : BPS Tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 51
1.2.5 Potensi Ekonomi Wilayah 1.2.5.1 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat dilihat melalui perkembangan nilai nominal PDRB yang merupakan perkembangan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan perkembangan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Pada tahun 2004 secara nominal terjadi kenaikan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 448.922,81 juta rupiah, dari 2.106.790,66 juta rupiah menjadi 2.555.713,47 juta rupiah. Namun kenaikan ini belum mencerminkan perbaikan perkembangan ekonomi secara riil karena masih mengandung unsur inflasi. Secara riil, pertumbuhan ekonomi wilayah dapat dilihat dari perkembangan nilai PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 2004 yang mencapai 2.066.647,63 juta rupiah, naik menjadi 2.190,815,65 juta rupiah pada tahun 2005. artinya, perekonomian Wilayah Kabupaten Agam pada tahun 2005 mengalami pertumbuhan sebesar 5,71%. Jika dikaitkan dengan jumlah penduduk, nilai PDRB perkapita Kabupaten Agam mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya dalam lima tahun terakhir ini (terhitung sejak tahun 2004). Hal ini disebabkan oleh cukup tingginya peningkatan nominal PDRB dan relatif rendahnya pertumbuhan penduduk Kabupaten Agam. PDRB perkapita dihitung berdasarkan nilai total PDRB dengan jumlah penduduk kabupaten pertengahan tahun pada tahun yang sama. Lebih rincinya mengenai pekembangan nilai PDRB perkapita selama 5 tahun dapat dilihat pada tabel 1.15. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 52
Tabel I.14 PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Agam Pada Tahun 2004-2007 No Tahun Nilai Nominal (Rp) 1 2004 2.555.713,47 2 2005 2.867.878,81 3 2006 3.377.957,22 4 2007 3.924,766,90 Sumber: BPS Kabupaten Agam, 2008 Tabel I.15 Kontribusi PDRB Sektoral Kab. Agam Berdasarkan Harga Konstan 1993 Menurut Lapangan Kerja Tahun 2004-2007 No Lapangan Usaha 2004 % 2005 % 2006 % 2007 % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1. Pertanian 685.611,11 33,18 749.063,79 34,19 813.823,80 35,00 884.512,79 35,83 a. Pertanian Tanaman Pangan 385.715,25 18,66 406.621,01 18,56 439.972,21 18,92 476.124,31 19,28 b. Perkebunan 190.271,46 9,21 225.183,14 10,28 250.760,15 10,78 279.304,07 11,31 c. Peternakan dan hasil-hasilnya 59.602,73 2,88 63.049,10 2,88 65.673,35 2,82 68.433,89 2,77 d. Kehutanan 16.203,69 0,78 17.967,81 0,82 18.433,18 0,79 18.708,39 0,76 e. Perikanan 33.817,98 1,64 36.242,73 1,65 38.984,91 1,68 41.942,13 1,69 2. Pertambangan & Penggalian a. Minyak dan gas bumi b. Pertambangan tanpa migas 80.210,87 3,88 84.654,54 3,86 88.977,89 3,83 93.586,76 3,79 - - - - - - - - - - - - - - - - c. Penggalian 80.210,87 3,88 84.654,54 3,86 88.977,89 3,83 93.586,76 3,79 3. Industri Pengolahan 304.965,84 14,76 314.602,77 14,36 327.923,50 14,10 341.875,08 13,84 a. Industri migas - - - - - - - - b. Industri tanpa migas 304.965,84 14,76 314.602,77 14,36 327.923,50 14,10 341.875,08 13,84 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 53
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4. Listrik, Gas dan Air Minum 18.690,13 0,90 19.839,07 0,91 21.232,67 0,91 22.752,34 0,92 a. Listrik 17.623,47 0,85 18.688,94 0,85 20.003,01 0,86 21.434,70 0,87 b. Gas - - - - - - - - c. Air bersih 1.066,66 0,05 1.150,13 0,05 1.229,66 0,05 1.317,64 0,05 5. Bangunan 94.327,17 4,56 98.487,02 4,50 103.554,24 4,45 108.906,29 4,41 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran a. Perdagangan besar dan enceran 364.414,82 17,63 383.676,68 17,52 407.574,24 17,53 432.916,64 17,54 348.427,38 16,86 367.134,25 16,76 390.186,61 16,78 414.817,59 16,80 b. Hotel 7.220,86 0,35 7.409,41 0,34 7.715,76 0,33 8.038,37 0,33 c. Restoran 8.766,58 0,42 9.133,02 0,42 9.671,87 0,42 10.060,68 0,41 7. Pengangkutan & Komunikasi 92.796,55 4,49 98.710,51 4,51 102.693,90 4,42 107.251,63 4,34 a. Pengangkutan 86.135,70 4,17 91.484,18 4,18 95.018,85 4,09 98.830,57 4,00 1. Angkutan rel - - - - - - - - 2. Angkutan jalan raya 85.061,69 4,12 90.352,52 4,12 93.811,55 4,03 97.542,07 3,95 3. Angkutan air 245,57 0,01 249,24 0,01 256,27 0,01 262,59 0,01 4. Angkutan udara 5. Jasa penunjang angkutan - - - - - - - - 831,44 0,04 882,42 0,04 951,03 0,04 1.025,90 0,04 b. Komunikasi 6.660,85 0,31 7.226,33 0,33 7.675,05 0,33 8.421,06 0,34 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 73.690,57 3,57 78.823,03 3,60 82.437,83 3,55 86.427,68 3,50 a. Bank 17.070,85 0,84 18.651,27 0,85 19.583,35 0,84 20.593,92 0,83 b. Lembaga keuangan tanpa bank c. Sewa bangunan d. Jasa perusahaan 9.713,15 0,45 10.771,89 0,49 11.217,46 0,48 11.792,91 0,48 46.637,84 2,27 49.123,64 2,24 51.352,28 2,21 53.746,36 2,18 268,73 0,01 276,23 0,01 284,74 0,01 294,49 0,01 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 54
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 9. Jasa-jasa 351.940,57 17,36 362.958,24 16,57 376.942,98 16,21 390.532,61 15,82 a. Pemerintah umum 307.044,15 15,20 315.224,75 14,39 326.989,47 14,06 338.191,97 13,69 b. Swasta 44.896,42 2,16 47.733,49 2,18 49.953,51 2,15 52.341,03 2,12 1. Sosial kemasyarakat an 2. Hiburan dan rekreasi 3. Perorangan dan rumahtangga 10.048,39 0,49 10.549,81 0,48 11.224,60 0,48 11.971,97 0,48 759,68 0,04 808,00 0,04 836,20 0,04 879,69 0,04 34.088,35 1,63 36.375,68 1,66 37.892,71 1,63 39.489,37 1,60 Jumlah PDRB 2.066.647,63 100,00 2.190.815,65 100,00 2.325.161,05 100,00 2.468.761,82 100,00 Sumber: PDRB 2005-2008, BPS Kab. Agam, dan Kab. Agam Dalam Angka 2008 Secara umum, semua sektor sampai tahun 2007 mengalami pertumbuhan yang positif, kecuali sektor pengangkutan dan komunikasi dan jasa- jasa yang mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2007 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa sektor yang tingkat pertumbuhannya tetap positif selama kurun waktu 2004-2007 adalah sektor listrik dan air bersih. Sedangkan sektor yang paling besar mengalami kemunduran (penurunan negatif) adalah sektor perdagangan besar dan eceran dan hotel, pengangkutan dan komunikasi serta jasa-jasa. Dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sektor listrik dan air bersih merupakan sektor yang paling kuat bertahan (stabil) di Kabupaten Agam, sedangkan sektor perdagangan besar dan eceran dan hotel, pengangkutan dan komunikasi serta jasa-jasa merupakan sektor yang paling rapuh atau mudah berfluktuasi. 1.2.5.2 Sektor-Sektor Basis Kabupaten Jika dilihat dari kegiatan ekonomi yang paling produktif, maka wilayah ini merupakan wilayah yang masih bergantung terhadap kegiatan primer, tepatnya kegiatan pertanian yang merupakan RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 55
penyumbang terbesar terhadap PDRB Kab. Agam, yang disusul oleh kegiatan perdagangan, industri dan jasa. Dengan kondisi perekonomian seperti itu, maka kegiatan perdagangan, industri dan jasa sebaiknya lebih diarahkan kepada kegiatan perdagangan, industri dan jasa yang mendukung kegiatan pertanian, ataupun kegiatan yang mendukung pariwisata mengingat besarnya sektor pariwisata untuk terus dikembangkan. Kondisi lain yang juga perlu untuk dicermati berkaitan dengan struktur ekonomi Kabupaten Agam adalah penelaahan sektor sektor yang menjadi sektor basis dan non-basis. Dari data hasil olahan dengan menggunakan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 1993 nampak beberapa sektor yang menjadi sektor basisi dimana sektor tersebut memiliki angka LQ lebih besar dari 1. Dari sektor primer terdapat beberapa sektor yang menjadi sektor basis yaitu sektor tanaman bahan makanan, sektor tanaman perkebunan serta sektor peternakan. Ketiga sektor tersebut dapat dikatakan telah dapat memenuhi kebutuhan didalam perekonomian Kabupaten Agam bahkan telah dapat pula di ekspor ke luar kabupaten tersebut. Hal ini menjadikan ketiga sektor tersebut adalah sektor basis. Sementara itu untuk sektor sekunder yang dalam hal ini adalah sektor industri pengolahan yang dimiliki oleh Kabupaten Agam memiliki kondisi yang juga menjadikan sektor tersebut adalah sektor basis. Output yang dihasilkan oleh sektor industri pengolahan kabupaten ini tidak hanya di arahkan pada pemenuhan kebutuhan didalam perekonomian Kabupaten Agam namun juga untuk memenuhi kebutuhan yang terdapat diluar perekonomian kabupaten tersebut. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 56
Dilihat dari kondisi sebagaimana diuraikan di atas nampak perekonomian Kabupaten Agam memiliki banyak sektor basis dan hal ini merupakan salah satu keunggulan dari perekonomian tersebut. Dilain pihak dengan kenyataan bahwa sektor primer dan sektor sekunder telah dapat menjadi sektor basis maka perekonomian kabupaten ini telah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan untuk perekonomian diluar kabupaten. Tabel I.16 Penghitungan Location Quotient Kabupaten Agam 2005 2008 No Sektor 2005 2006 2007 2008 1 Tanaman Bahan Makanan 1.76 1.93 1.95 1.98 2 Tanaman Perkebunan 1.45 1.37 1.39 1.39 3 Peternakan 1.16 1.15 1.17 1.25 4 Kehutanan 0.40 0.37 0.38 0.35 5 Perikanan 0.42 0.44 0.46 0.51 6 Pertambangan & Penggalian 0.81 0.82 0.86 0.87 7 Industri Pengolahan 1.16 1.14 1.15 1.21 8 Listrik 0.78 0.78 0.75 0.83 9 Air Bersih 0.39 0.38 0.38 0.45 10 Bangunan 1.10 1.08 1.08 1.14 11 Perdagangan besar & Eceran 1.13 1.12 1.12 1.16 12 Hotel 2.00 1.83 1.90 2.32 13 Restoran 0.78 0.80 0.81 0.80 14 Pengangkutan 0.34 0.37 0.36 0.39 15 Komunikasi 0.25 0.27 0.26 0.26 16 Bank 0.42 0.43 0.42 0.46 17 Lembaga Keuangan tanpa Bank & Jasa Penunjang Keuangan 0.36 0.33 0.32 0.35 18 Sewa Bangunan 0.95 0.95 1.02 1.13 19 Jasa Perusahaan 0.15 0.15 0.16 0.17 20 Jasa-jasa 0.92 0.91 0.96 0.98 Sumber : Hasil Analisis, 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 57
1.3 ISU ISU STRATEGIS Perkembangan suatu wilayah tidak terlepas dari isu-isu strategis, terkait dengan hal tersebut dapat disampaikan beberapa isu-isu strategis, antara lain: 1. Secara geografis terletak pada daerah rawan bencana (tsunami, gempa, gerakan tanah/lonsor, banjir, abrasi serta letusan gunung api); 2. Posisi Kabupaten Agam yang terletak pada kawasan yang sangat strategis yang dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera dan dilalui oleh Fider Road yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera yang berimplikasi pada perlunya mendorong daya saing perekonomian, pentingnya memanfaatkan keuntungan geografis; 3. Masih adanya kesenjangan antar wilayah dalam Kabupaten Agam, ketimpangan pembangunan antara Agam wilayah Timur dan Agam wilayah Barat, dimana Agam wilayah Timur (Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Baso, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Canduang dan Kecamatan IV Koto) yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi lebih berkembang dibanding dengan Agam wilayah Barat (Kecamatan Malalak, Kecamatan Matur, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Palembayan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Palupuh). 4. Disamping itu Kabupaten Agam terletak pada Pantai Barat Sumatera (± 43 Km) yang dapat memanfaatkan sumber daya laut seperti perikanan tangkap; 5. Penurunan luas kawasan hutan dan kawasan resapan air, serta meningkatnya luas DAS kritis yang disebabkan alih fungsi lahan untuk perkebunan serta adanya penebangan liar; 6. Basis perekonomian Kabupaten Agam masih berada pada sektor primer yang berpotensi untuk dikembangkan; RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 58
7. Pemanfaatan sumber daya alam yang belum terkelola dengan baik seperti Kawasan Danau Maninjau, sumber-sumber energi terbarukan, potensi wisata sehingga belum berjalan secara sinergis yang berdampak kepada tingkat kesejahteraan masyarakat (tingginya angka kemiskinan (KK) dan masih rendah angka IPM) 8. Masih terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana dalam mendukung pengembangan wilayah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 I - 59
BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI
BAB 2 TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI 2.1 PERUMUSAN TUJUAN Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten memiliki fungsi : sebagai dasar untuk menformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten; memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten; dan; sebagai dasar dalam penetapan arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten. Tujuan penataan ruang Wilayah Kabupaten dirumuskan berdasarkan : visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten; karakteristik wilayah kabupaten; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 1
isu strategis; dan kondisi objektif yang diinginkan. Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria: tidak bertentangan dengan tujuan penataan ruang wilayah provinsi dan nasional; jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 2.1.1 Dasar Perumusan Tujuan Penataan Ruang Dalam perumusan tujuan penataan ruang Kabupaten Agam ada beberapa pertimbangan yang diajadikan dasar sebelum perumusan tujuan diformulasikan diantaranya adalah: 1. Tujuan Umum Penataan Ruang; sesuai dengan amanah Undang Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007. 2. Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Agam. 3. Karakteristik Wilayah Kabupaten Agam (fisik, ekonomi, dan sosial). 4. Isu-isu strategis Kabupaten Agam. Tujuan Umum Penataan Ruang; sesuai dengan amanah Undang Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007, tujuan penataan ruang. adalah : Aman; masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan terlindungi dari berbagai ancaman Nyaman; memberi kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia dalam suasana yang tenang dan damai Produktif; proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 2
Berkelanjutan; kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini, namun juga generasi yang akan datang. Visi dan Misi Pembangunan; berdasarkan RPJP Kabupaten Agam tahun 2006-2025 bahwa visi Kabupaten Agam adalah Agam Mandiri dan Berprestasi yang Madani sedangkan misi yang tertuang pada RPJP Kabupaten Agam yang dapat dijadikan dasar penataan ruang adalah : a) Mewujudkan kehidupan beragama dan norma adat berlandaskan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai. b) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good govermance) yang bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. c) Mewujudkan sumber daya manusia berkualitas melalui pendidikan formal dan informal, peningkatan pelayanan dalam bidang kesehatan, serta pembinaan generasi muda dan olah raga. d) Mewujudkan masyarakat yang sejahtera sesuai potensi dan kondisi daerah berdasarkan filosofi oleh rakyat untuk rakyat. Pemerintah akan berfungsi sebagai regulator dan pemberi dorongan atau insentif sesuai kemampuan yang ada. e) Mewujudkan pemerataan sarana dan prasarana perekonomian untuk mempercepat pencapaian Agam mandiri yang madani. Karakteristik Wilayah Kabupaten Agam; merupakan ciri khas wilayah perencanaan diantaranya adalah: 1. Pola ruang eksisiting wilayah perencanaan dapat dikelompokkan menjadi 3 karakteristik spesifik, yaitu: a. Kawasan pesisir dan dataran rendah yang tersebar di wilayah Agam Barat dengan potensi sumber daya laut dan pesisir, perkebunan sawit dan kelapa yang membentang dari sekitar wilayah Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung hingga berbatasan dengan wilayah Pasaman Barat; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 3
b. Wilayah Tengah Agam dengan penggunan lahan dominan kelapa sawit, kelapa, hutan lindung, hutan suaka alam, dan kebun campuran, yang mencakup kecamatan Ampek Nagari, Palembayan, Tanjung Raya, Matur, IV Koto, Malalak dan Palupuh; c. Wilayah Timur Agam dengan penggunaan lahan dominan pertanian sawah dan permukiman yang masuk dalam kawasan agropolitan yang mencakup kecamatan Baso, Ampek Angkek, Canduang, Tilatang Kamang, Kamang Magek, Banuhampu dan Sungai Pua. 2. Struktur ruang Kabupaten Agam terdiri dari; a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Lubuk Basung dan Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) di Baso dengan fungsi pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, pendidikan dan kesehatan. b. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) terdiri dari 3 PPK yaitu PPK Ampek Nagari, PPK Tanjung Raya dan PPK Banuhampu. c. Sistem jaringan transportasi utama terdiri dari jalan arteri primer yang menghubungkan simpul-simpul: Kota Padang Kota Bukittinggi Kota Payakumbuh Batas Provinsi Riau; Kota Padang Kota Pariaman Manggopoh Simpang Empat Batas Provinsi Sumatera Utara; Kota Padang Kota Bukittinggi Lubuk Sikaping Batas Provinsi Sumatera Utara; Sicincin Malalak Panta Ngarai Sianok Kota Bukittinggi (dalam pembangunan). 3. Kawasan Rawan Bencana; kawasan pesisir merupakan kawasan rawan bencana tsunami dan sebagian kecil abrasi pantai dan banjir (tidak terlalu luas), kawasan perbukitan dan pergunungan rentan dengan bahaya gempa RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 4
dan longsor. Hampir 80% dari kawasan Kabupaten Agam adalah kawasan rawan bencana alam tsunami, longsor, banjir dan gempa. 4. Perekonomian; sebagian besar penduduk Kabupaten Agam adalah petani (primer). Hal ini bersesuaian dengan struktur ekonomi yang tergambar dari komposisi sektor usaha pada PDRB dimana sektor pertanian adalah penyumbang terbesar (35,83 %). Kegiatan usaha kedua adalah perdagangan, perhotelan dan restoran (17,54 %). Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan pariwisata (tersier) mulai bertumbuh di Agam. 5. Kependudukan; pada tahun 2008 Kabupaten Agam dihuni oleh 445.387 jiwa penduduk atau rata-rata hanya 1 jiwa/ha. Penduduk Kabupaten Agam tersebar di 16 Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Ampek Angkek (1.224/Km2) dan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Palembayan (59/Km2). 6. Pertumbuhan Ekonomi; Secara riil, pertumbuhan ekonomi wilayah Kabupaten Agam dapat dilihat dari perkembangan PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan, dimana pada tahun 2008 mencapai 2.066.647,63 juta rupiah, naik menjadi 2.190.815,65 juta rupiah pada tahun 2009. Yang artinya perekonomian wilayah Kabupaten Agam pada tahun 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 5,71 %. Dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Agam adalah kawasan perbukitan/pegunungan dan pesisir yang didominasi oleh kawasan lindung dengan basis ekonomi pertanian (perkebunan lahan kering dan hotikultura) namun sekaligus adalah kawasan rawan bencana dengan sebaran potensi bahaya tsunami, abrasi, gerakan tanah/longsor dan gempa serta letusan gunung berapi. Demikian juga terhadap pemenuhan berbagai infrastruktur dan masih terbatas. Isu Strategis; seperti yang telah dipaparkan pada bab 1, bahwa isu strategis yang berkembang di Kabupaten Agam adalah: RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 5
1. Secara geografis terletak pada daerah rawan bencana (tsunami, gempa, gerakan tanah/lonsor, banjir, abrasi serta letusan gunung api); 2. Posisi Kabupaten Agam yang terletak pada kawasan yang sangat strategis yang dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera dan dilalui oleh Fider Road yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera yang berimplikasi pada perlunya mendorong daya saing perekonomian, pentingnya memanfaatkan keuntungan geografis; 3. Masih adanya kesenjangan antar wilayah dalam Kabupaten Agam, ketimpangan pembangunan antara Agam wilayah Timur dan Agam wilayah Barat, dimana Agam wilayah Timur (Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Baso, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Canduang dan Kecamatan IV Koto) yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi lebih berkembang dibanding dengan Agam wilayah Barat (Kecamatan Malalak, Kecamatan Matur, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Palembayan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Palupuh). 4. Disamping itu Kabupaten Agam terletak pada Pantai Barat Sumatera (± 43 Km) yang dapat memanfaatkan sumber daya laut seperti perikanan tangkap; 5. Penurunan luas kawasan hutan dan kawasan resapan air, serta meningkatnya luas DAS kritis yang disebabkan alih fungsi lahan untuk perkebunan serta adanya penebangan liar. 6. Basis perekonomian Kabupaten Agam masih berada pada sektor primer yang berpotensi untuk dikembangkan; 7. Pemanfaatan sumber daya alam yang belum terkelola dengan baik seperti Kawasan Danau Maninjau, sumber-sumber energi terbarukan, potensi wisata sehingga belum berjalan secara sinergis yang berdampak kepada tingkat kesejahteraan masyarakat (tingginya angka kemiskinan (KK) dan masih rendah angka IPM); RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 6
8. Masih terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana dalam mendukung pengembangan wilayah. 2.1.2 Rumusan Tujuan Berdasarkan data dan hasil analisa sebagaimana yang diuraikan pada bab terdahulu, maka untuk merumuskan tujuan penataan ruang Kabupaten Agam hal penting yang dijadikan masukan utama dan pertimbangan dasar adalah: Adanya kesadaran kolektif dan kemauan politik yang kuat untuk membangun Kabupaten Agam berbasis konservasi. Kecenderungan penurunan luas pertanian serta penurunan rasio ketersediaan lahan, maka perlu didorong perubahan struktur ekonomi dari kegiatan yang berbasis lahan ke arah yang tidak berbasis lahan dengan tetap meningkatkan produktivitas lahan. Pemikiran ini bersesuaian dengan data yang menginformasikan bahwa sektor usaha yang berkontribusi besar terhadap PDRB adalah kegiatan primer (sektor pertanian/perkebunan) yang diikuti kegiatan tersier yaitu sektor usaha perdangan, hotel, restoran dan jasa. Tersedianya modal dasar yang sangat potensial untuk dijadikan basis ekonomi wilayah (masyarakat) yaitu (intensifikasi) lahan pertanian, perkebunan dan kehutanan yang dapat ditingkatkan produktivitasnya, sumber daya kelautan dan perikanan serta pengembangan kegiatan industri, jasa dan perdagangan berbasis agro (agroindustri, agribisnis, agrowisata, agroforestry). Kondisi Kabupaten Agam yang merupakan daerah rawan bencana, dimana hampir seluruh wilayah Kabupaten Agam memiliki seluruh jenis bencana (alam maupun geologi). Mencermati 4 poin di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa skenario pembangunan masa depan Kabupaten Agam harus memperhatikan berkelanjutan (sustainable development; konservasi) dan berbasis sumber daya lokal (pertanian dan kelautan serta pariwisata) dengan berorientasi penuh pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan pada kondisi alam yang rentan terhadap bencana. RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 7
2.2 TUJUAN TATA RUANG RTRW KAB AGAM Sesuai dengan kondisi objektif di Kabupaten Agam yang ada pada saat ini dan tantangan yang akan dihadapi dalam 20 Tahun mendatang serta memperhatikan potensi yang tersedia, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penataan ruang Wilayah Kabupaten Agam 2010-2030 adalah sebagai berikut: Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN, dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi INDUSTRI, merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya. Dalam arti secara bertahap Kabupaten Agam akan meningkatkan pendapatan masyarakat dari bertani (produksi/primer) menjadi petani yang sekaligus meningkatkan teknologi pengolahan hasil sesudah produksi (teknologi pasca panen). AGRO, adalah kegiatan yang berbasis pertanian dalam pengertian yang luas meliputi pertanian pangan, perkebunan, peternakan, budidaya perikanan, kehutanan dan lain-lain. Adapun bentuk kegiatan mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, budidaya, panen, pengolahan sampai pemasaran, bahkan termasuk agrowisata. KELAUTAN, meliputi kegiatan pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan dan berkualitas, seperti budidaya laut, perikanan tangkap, budidaya perairan payau, industri bioteknologi, pertambangan dan energi, sumber energi alternatif, transportasi, wisata, olahraga (surfing, diving, paralayang, dll.). PARIWISATA, adalah berbagai macam kegiatan wisata, atau bisa juga dikatakan berbagai macam perjalanan wisata. Pariwisata merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan perjalanan untuk menikmati daya tarik wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usahausaha yang terkait dibidang tersebut. RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 8
MITIGASI BENCANA, merupakan upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui membangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kabupaten Agam merupakan wilayah yang memiliki potensi seluruh jenis bencana (bahaya sesar aktif, bahaya seismisitas gempa, bahaya tsunami, letusan gunung api, bahaya gerakan tanah/longsoran, banjir dan abrasi), dengan kondisi tersebut maka dituntut suatu penataan dan pemanfaatan ruang yang berbasiskan mitigasi bencana, dengan harapan dapat meminimalisasikan dampak yang ditimbulkan terhadap bahaya bencana yang ada. KONSERVASI, adalah pemanfaatan sumber daya alam secara arif sehingga terjamin keberlanjutannya (Theodore Roosevelt, 1902). Dalam hal ini terkandung upaya pelestarian, pemeliharaan dan pemulihan fungsi-fungsi alam yang berperan dalam menjaga keseimbangan alam (ekosistem) termasuk didalamnya upaya-upaya mitigasi bencana tsunami, longsor, gempa dan banjir serta letusan gunung api. Kabupaten Konservasi adalah wilayah administratif yang menyelenggarakan pembangunan berlandaskan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, pemanfaatan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu. 2.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI TATA RUANG KABUPATEN AGAM Dengan menetapkan tujuan penataan ruang tersebut maka untuk mencapainya, Kebijakan dan Strategi yang akan ditempuh adalah sebagai berikut: Kebijakan : (1) Pelaksanaan pembangunan yang berbasis mitigasi bencana serta konservasi dalam rangka pengurangan resiko bencana; (2) Pengembangan sektor ekonomi sekunder dan tersier berbasis agro, pariwisata dan kelautan sesuai keunggulan kawasan yang bernilai ekonomi tinggi yang dikelola secara berhasil guna, terpadu dan ramah lingkungan; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 9
(3) Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan serta pembangunan prasarana dan sarana wilayah yang mampu mendukung pengembangan wilayah secara merata; (4) Peningkatan produktivitas wilayah melalui intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian serta pengelolaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan; (5) Peningkatan dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang meliputi, hutan suaka alam, hutan lindung, mempertahankan kawasan lindung > 30% dari luas daerah administrasi serta fungsi lindung lainnya; (6) Pengembangan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang berbasis konservasi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat; (7) Pengembangan kawasan dan objek wisata yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal. Strategi : 1. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Pelaksanaan pembangunan yang berbasis mitigasi bencana serta konservasi dalam rangka pengurangan resiko bencana adalah: a. Membangun pemahaman masyarakat tentang kebencanaan dan konservasi; b. Mewujudkan struktur dan pola ruang yang berbasis mitigasi bencana dan konservasi; c. Meningkatkan kualitas bangunan publik dan hunian yang ramah bencana; d. Mengembangan kegiatan-kegiatan yang mendukung konservasi yang bernilai terhadap pelestarian lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi; e. Menyusun program dan pembangunan berbagai perangkat keras dan lunak dalam upaya mitigasi berbagai bencana alam, seperti tsunami, RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 10
gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan dan ancaman bencana lainnya; f. Memantapkan tata batas kawasan lindung untuk seluruh wilayah Kabupaten Agam. 2. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Pengembangan sektor ekonomi sekunder dan tersier berbasis agro, pariwisata dan kelautan sesuai keunggulan kawasan yang bernilai ekonomi tinggi yang dikelola secara berhasil guna, terpadu dan ramah lingkungan adalah: a. Menetapan komoditas unggulan sesuai dengan potensi lingkungan dan kondisi sosial budaya setempat; b. Mengembangkan industri pengolahan hasil produksi agro dan kelautan sesuai komoditas unggulan kawasan dan kebutuhan pasar (agroindustri dan agribisnis, agro wisata, perikanan tangkap dan perikanan budidaya); c. Meningkatkan produksi pertanian hortikultura dan peternakan melalui pendekatan agropolitan; d. Mengembangkan ekonomi perikanan dan kelautan melalui pendekatan Minapolitan; e. Mengembangkan sistem pertanian organik dalam rangka meningkatkan daya saing produk dan penyelamatan lingkungan; f. Melakukan revitalisasi dan pembangunan prasarana dan sarana produksi agro dan kelautan secara terpadu. 3. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Pengembangan pusatpusat pertumbuhan serta pembangunan prasarana dan sarana wilayah yang mampu mendukung pengembangan wilayah secara merata, berkualitas adalah: a. Mengurangi kesenjangan ekonomi dan infrastruktur antara Agam bagian Timur dan Agam bagian Barat; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 11
b. Mengembangkan kawasan perkotaan dan perdesaan yang berbasiskan mitigasi bencana dan konservasi, sebagai kawasan permukiman yang layak huni; c. Meningkatkan penyediaan infrastruktur sosial ekonomi wilayah secara proporsional dan memadai sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap pusat permukiman (kawasan); d. Mengembangkan dan membangun prasarana dan sarana transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan dan berimbang. 4. Strategi yang diperlukan dalam rangka Peningkatan produktivitas wilayah melalui intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian serta pengelolaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan adalah: a. Meningkatkan produktivitas hasil pertanian, perkebunan dan peternakan melalui penerapan teknologi pertanian, intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian; b. Mendorong pemakaian bibit unggul dalam usaha perkebunan, perikanan, peternakan untuk mendapatkan produksi dengan kualitas yang lebih baik dan bernilai ekonomi tinggi; c. Meningkatkan pemanfaatan lahan non produktif secara lebih bermakna (kegiatan produksi) bagi peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat; d. Meningkatkan sistem pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan. 5. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Memperkuat dan memulihkan fungsi kawasan lindung yang meliputi, hutan suaka alam, hutan lindung, mempertahankan kawasan lindung > 30% dari luas daerah administrasi serta fungsi lindung lainnya adalah: a. Menetapkan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 12
b. Mensinergikan program pelestarian lingkungan dalam rangka mendukung kebijakan Propinsi Sumatera Barat sebagai Provinsi Konservasi; c. Meningkatkan pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan, terutama pemulihan fungsi hutan lindung yang berbasis masyarakat dengan pendekatan hutan lestari masyarakat sejahtera ; d. Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman sumber daya hayati; e. Meningkatkan kerjasama regional, nasional dan internasional dalam rangka pemulihan fungsi kawasan lindung terutama hutan lindung dan hutan cagar alam; 6. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Mengembangkan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang berbasis konservasi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah : a. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam untuk sumber energi terbarukan seperti tenaga air, tenaga surya, gelombang laut, dan lain-lain; b. Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber energi yang terbarukan (renewable energy). c. Mengembangkan kegiatan konservasi yang bernilai lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi, seperti hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat. 7. Strategi yang perlu diterapkan dalam kerangka Pengembangan kawasan dan objek wisata yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal adalah: a. Menyusun skenario pengembangan kepariwisataan secara terpadu yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal; b. Menetapkan kawasan-kawasan wisata di seluruh kabupaten Agam c. Mengembangkan berbagai potensi wisata sesuai dengan potensi kawasan yang dimiliki (alam, budaya, kreasi) secara arif dan ramah lingkungan; RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 13
d. Meningkatkan kegiatan pariwisata melalui pembangunan prasarana dan sarana pendukung, pengelolaan objek wisata yang lebih profesional serta pemasaran yang lebih agresif dan efektif; e. Mengembangkan kapasitas SDM pengelola kepariwisataan; f. Meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 II - 14
BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG
BAB 3 RENCANA STRUKTUR RUANG 3.1 RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN Penyusunan rencana struktur tata ruang Kabupaten Agam dimaksudkan untuk mewujudkan optimalisasi pemanfaatan ruang, keserasian pengembangan ruang, dan keefektifan sistem pelayanan. Kurang berkembangnya pusat-pusat kawasan akan ditangani dengan kebijakan dan program tersendiri. Setelah Kabupaten Agam mengalami pemekaran wilayah kecamatan, struktur tata ruang juga berubah dan perlu penyempurnaan kembali. Beberapa penyempurnaan struktur ruang didasarkan pada kondisi fisik wilayah, potensi pengembangan dan perkembangan terakhir yang dihadapi. Struktur tata ruang Kabupaten Agam terdiri dari unsur-unsur pembagian Pusat Kegiatan Lokal (PKL), Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), sistem permukiman perkotaan dan perdesaan, dan sistem sarana prasarana wilayah. Beberapa prinsip dasar pertimbangan dalam pengembangan sistem perkotaan dan perdesaan di wilayah Kabupaten Agam adalah : RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 1
Mensinergikan perkembangan kawasan perkotaan berbatasan wilayah Kabupaten Agam sebagai hinterland dengan Kota Bukittinggi, dalam upaya penataan kawasan serta penyediaan berbagai infrastruktur. Meningkatkan aksesibilitas antar sub pusat wilayah dengan mengembangkan sistem transportasi dalam rangka mendukung struktur ruang yang direncanakan. Mengurangi kesenjangan wilayah antara Agam bagian Barat dengan Agam bagian Timur. Mengantisipasi peluang dan tantangan pengembangan berbagai kegiatan di masa mendatang. KONSEP STRUKTUR RUANG BAGIAN BARAT BAGIAN TENGAH BAGIAN TIMUR Wilayah perencanaan di Kabupaten Agam dapat dibagi dalam beberapa pusat pelayanan sesuai dengan fungsi pengembangan wilayah tersebut, yang ditetapkan berdasarkan penggunaan lahan eksisiting, fisiografis wilayah, aksesibiltas, dan orientasi pergerakan seperti berikut ini: RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 2
1. Berdasarkan penggunaan lahan eksisting, terdapat tiga pembagian wilayah yang memiliki karakteristik yang mirip, yaitu : a. Wilayah pesisir dengan penggunaan lahan dominan kelapa sawit, kelapa, permukiman, dan sawah yang mencakup Kecamatan Tanjung Mutiara dan sebagian Kecamatan Lubuk Basung. b. Wilayah Tengah Agam dengan penggunan lahan dominan kelapa sawit, hutan lindung, hutan suaka alam, dan kebun campuran, yang mencakup sebagian Kecamatan Lubuk Basung, Ampek Nagari, Palembayan, Tanjung Raya, Matur, IV Koto, Malalak, dan Palupuh. c. Wilayah Timur Agam dengan penggunaan lahan dominan sawah, tanaman hortikultura dan hutan lindung serta permukiman yang mencakup kecamatan Tilatang Kamang, Kamang Magek, Banuhampu, Sungai Pua, Ampek Angkek, Canduang, dan Baso. 2. Perbedaan fisiografi wilayah, yang membagi Kabupaten Agam menjadi tiga wilayah, yaitu: a. Dataran rendah dengan kemiringan relatif datar di daerah pesisir, mulai dari Kecamatan Tanjung Mutiara, Ampek Nagari sampai daerah Lubuk Basung. b. Dataran tinggi yang berbukit-bukit di Kecamatan Palembayan, Matur, Palupuh, IV Koto dan kecamatan Malalak. c. Dataran tinggi yang relatif datar sampai bergelombang di Kecamatan Banuhampu dan kecamatan-kecamatan sebelah Timur Kota Bukittinggi. 3. Berdasarkan aksesibilitas dan orientasi pergerakan wilayah, Kabupaten Agam dapat dibagi menjadi dua wilayah, yaitu: a. Wilayah Agam bagian Barat yang didominasi pergerakan antar kabupaten dan aksesibilitasnya dilalui oleh jaringan jalan nasional di pesisir pantai Barat Sumatera (Lintas Barat Sumatera). Orientasi pergerakan yang melalui jaringan ini didominasi oleh pergerakan dari Padang menuju Kabupaten Agam dan Pasaman Barat serta sebagian kecil menuju Sumatera Utara. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 3
b. Wilayah Agam bagian Timur yang memiliki aksesibilitas yang sangat baik karena ditunjang oleh jaringan jalan nasional (Lintas Tengah Sumatera), jalan propinsi dan jalan kabupaten yang melayani pergerakan untuk semua level pergerakan, mulai dari pergerakan antar kecamatan, antar kabupaten sampai dengan antar propinsi. Sedangkan orientasi pergerakan yang melalui wilayah Timur ini adalah pergerakan yang menghubungkan Padang - Bukittinggi - Medan maupun Padang - Bukittinggi - Riau sehingga potensi pergerakan yang terjadi lebih besar dibandingkan yang melalui wilayah Agam bagian Barat. Dari ketiga pertimbangan tersebut, dan juga berdasarkan pertimbangan kemudahan aksesibilitas, efisiensi arus barang dan jasa, antisipasi perkembangan kegiatan, dan perkiraan struktur fungsi wilayahnya di masa depan, maka ditetapkanlah struktur wilayah pembangunan Kabupaten Agam seperti berikut ini: 3.1.1 Rencana Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Berdasarkan hirarki perencanaan Propinsi dan Nasional yang termuat dalam RTRWN dan RTRWP Sumatera Barat untuk Kabupaten Agam ditetapkan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah Kota Lubuk Basung. 3.1.2 Rencana Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) Untuk mengantisipasi perkembangan di Wilayah Kabupaten Agam bagian Timur, maka dipandang perlu diusulkan rencana Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) di Baso. Hal ini terkait dengan potensi yang dimiliki oleh Baso pada saat ini dan kedepan antara lain: 1. Terletak pada posisi strategis dimana Baso dilewati oleh jaringan jalan nasional dan jalan propinsi yang menghubungan Baso dengan Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota dan Kabupaten Tanah Datar; 2. Sudah berkembang sebagai pusat pemerintahan kecamatan dan pusat fasilitas strategis skala regional; RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 4
3. Secara historis Baso sudah berkembang sebagai pusat koleksi dan distribusi (pasar) hasil pertanian hortikultura; 4. Secara kebijakan nasional Baso termasuk salah satu lokasi pengembangan pusat pendidikan tinggi Departemen Dalam Negeri. 3.1.3 Rencana Pusat Pelayanan Kawasan dan Pusat Pelayanan Lingkungan Rencana penetapan Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) Wilayah Kabupaten Agam, terbagi menjadi beberapa PPK dan PPL, yaitu: 1. Pusat Pelayanan Kawasan Bawan di Kecamatan Ampek Nagari, yang berfungsi sebagai salah satu sentra produksi perkebunan, pusat pelayanan jasa sosial ekonomi untuk wilayah hinterlandnya, pusat kegiatan pemerintahan, pusat kegiatan pendidikan dan wilayah untuk permukiman lokal. Fungsi wilayahnya adalah sebagai kawasan produksi pertanian, dan sentra kawasan budidaya kelapa sawit. Wilayah pelayanan meliputi, sebagian Kecamatan Palembayan, sebagian Kecamatan Tanjung Mutiara. 2. Pusat Pelayanan Kawasan Matur di Kecamatan Matur, yang berfungsi membantu pelayanan administratif pemerintahan Kabupaten, sentra produksi budidaya perkebunan rakyat (tebu), perlindungan hutan, dan pusat pelayanan jasa sosial dan ekonomi serta pariwisata. Wilayah pelayanan meliputi disamping melayani Kecamatan Matur sendiri, juga melayani sebagian Kecamatan Palupuah dan sebagian Kecamatan Palembayan. 3. Pusat Pelayanan Kawasan Padang Lua di Kecamatan Banuhampu, yang juga membantu pelayanan administratif kabupaten, kebutuhan permukiman, dan sebagai sentra pertanian hortikultura. Sedangkan fungsi wilayahnya adalah sebagai kawasan produksi pertanian, perkebunan dan konservasi lingkungan. Wilayah RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 5
pelayanan meliputi Kecamatan Sungai Pua, sebagian Kecamatan IV Koto dan Kecamatan Malalak serta sebagian Kecamatan Canduang Sementara untuk Pusat Pelayanan Lingkungan dimasing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Agam dipusatkan pada: a. Tiku di Kecamatan Tanjung Mutiara; b. Palembayan di Kecamatan Palembayan; c. Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya; d. Koto Tuo di Kecamatan IV Koto; e. Malalak Timur di Kecamatan Malalak; f. Sungai Pua di kecamatan Sungai Pua; g. Lasi di Kecamatan Canduang; h. Biaro di Kecamatan Ampek Angkek; i. Pakan Kamih di Kecamatan Tilatang Kamang; j. Kamang Hilia di Kecamatan Kamang Magek; dan k. Palupuh di Kecamatan Palupuh. Dari penetapan Pusat Kegiatan Lokal (PKL), Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) tersebut diharapkan akan menghasilkan pergerakan yang sinergis dan dapat mengantisipasi perkembangan di masa depan, yaitu: 1. Untuk pergerakan yang berasal dari kecamatan yang berada pada Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Lubuk Basung, yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari dan Tanjung Raya, semua pergerakan diharapkan akan menuju ke Lubuk Basung dengan memperhitungkan waktu perjalanan dan kemudahan akses, untuk mempercepat pertumbuhan kota Lubuk Basung. 2. Untuk pergerakan yang berasal dari Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) Baso, diharapkan arah pergerakan akan menuju ke Baso dari RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 6
Kecamatan Ampek Angkek, Canduang, Kamang Magek serta kecamatan terdekat kabupaten tetangga yaitu Kabupaten 50 Kota dan Kabupaten Tanah Datar mengingat Baso dapat menjadi salah satu pusat kegiatan di masa depan dengan adanya konsep pengembangan agropolitan di wilayah sekitar Baso dan juga pengembangan pusat pendidikan (Kawasan Pusdiklat Departemen Dalam Negeri) serta didukung oleh letak geografi pada daerah persimpangan. 3. Untuk pergerakan yang berasal dari Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Ampek Nagari, yaitu Kecamatan Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Palembayan serta sebagian Kecamatan Tanjung Mutiara, diharapkan arah pergerakan akan menuju ke Bawan. 4. Untuk pergerakan yang berasal dari Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Banuhampu, yaitu Kecamatan Banuhampu, IV Koto, Malalak dan Sungai Pua, arah pergerakan kegiatan diharapkan akan menuju ke Pasar Padang Luar. Oleh karena itu perlu adanya pemusatan kegiatan atau sentra kegiatan berupa penyediaan fasilitas yang lengkap yang dapat menarik pergerakan menuju Banuhampu. Pada saat ini Kecamatan Banuhampu sudah memiliki beberapa daya tarik pergerakan, yaitu Pasar Sayur Padang Luar dan Kecamatan Banuhampu sebagai Bussines Development Centre (BDC) yang mengembangkan bordir dan sulaman. Hal ini juga ditujukan untuk mendukung perkembangan Kota Bukittinggi. Disamping itu juga dengan telah dan sedang dibangunnya Jalan Sicincin-Malalak, diharapkan PPK Banuhampu dapat berkembang cepat dimasa yang akan datang. 3.2 ARAHAN PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN WILAYAH KABUPATEN RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 7
Rencana pengembangan sistem perkotaan diarahkan pada fungsi perkotaan di setiap ibukota kecamatan diseluruh Kabupaten Agam, dan wilayah hinterlandnya. Untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, perlu ditunjang dengan sistem transportasi guna meningkatkan aksesibilitas antar dan inter kota kecamatan. Disamping itu juga memperhatikan kelengkapan sarana prasarana kota. Adapun arahan pengembangan kawasan perkotaan dan pedesaan dapat dilihat seperti gambaran berikut ini. 3.2.1 Arahan Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Kabupaten; 1. Kecamatan Tanjung Mutiara Kebijakan perkotaan di Kecamatan Tanjung Mutiara diarahkan di Tiku yang berfungsi sebagai ibukota kecamatan dan sekaligus berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lingkungan (PPL). Berdasarkan fungsinya, Kota Tiku diarahkan sebagai: 1) Pusat pelayanan pemerintahan kecamatan; 2) Pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa dari wilayah hinterlandnya; 3) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL); 4) Pusat pengembangan produksi perikanan laut kabupaten; 5) Pusat pengembangan kegiatan pariwisata pantai dan pesisir; 6) pendukung pengembangan Kota Lubuk Basung; 7) Simpul transportasi darat yaitu jalur Lintas Barat dan jalur kereta api trans Sumatera; dan 8) Pusat pengembangan moda angkutan laut (pengembangan pelabuhan perikanan dan pengumpan Tiku). 2. Kecamatan Lubuk Basung RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 8
Kebijakan kegiatan perkotaan di Kecamatan Lubuk Basung diarahkan di Kota Lubuk Basung yang merupakan pusat kegiatan skala kabupaten. Sedangkan fungsi dari Kota Lubuk Basung adalah diarahkan sebagai berikut: 1) Dalam kerangka kebijakan Nasional, Kota Lubuk Basung ditunjuk sebagai salah satu Pusat Kegiatan Lokal (PKL), yang artinya hanya melayani wilayahnya sendiri (kabupaten); 2) Sebagai pusat pemerintahan kabupaten; 3) Pusat pelayanan jasa & perdagangan (koleksi dan distribusi wilayah hinterland-nya, yaitu kecamatan Tanjung Mutiara, Ampek Nagari, Tanjung Raya dan sebagian Palembayan bagian Barat); 4) Sebagai pusat pelayanan sosial kabupaten; 5) Sebagai salah satu pusat pengembangan Kawasan pertanian; 6) Sebagai simpul transportasi yang melayani regional dan antar kabupaten. Untuk pengembangan kawasan perkotaan Lubuk Basung ini, prioritas pengembangan kota diarahkan pada peningkatan penyediaan sarana prasarana perkotaan dan peningkatan aksesibilitas dari dan menuju Lubuk Basung untuk mempercepat pertumbuhan wilayah hinterlandnya sekaligus mempercepat pertumbuhan kota Lubuk Basung sebagai Ibukota kabupaten. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 9
3. Kecamatan Ampek Nagari RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 10
Kebijakan Kegiatan Perkotaan di Kecamatan Ampek Nagari dipusatkan di Bawan sebagai ibukota kecamatan, sekaligus berfungsi sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), dengan fungsi sebagai berikut: 1) Pusat pelayanan pemerintahan kecamatan; 2) Pusat pelayanan kegiatan sosial skala kecamatan; 3) Pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa dari wilayah hinterlandnya; 4) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK); 5) Pendukung pengembangan Kota Lubuk Basung. 4. Kecamatan Tanjung Raya. Kebijakan kegiatan perkotaan di Kecamatan Tanjung Raya diarahkan di Maninjau sebagai ibukota kecamatan dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Pusat pelayanan pemerintahan kecamatan; 2) Pusat pelayanan kegiatan sosial skala kecamatan; 3) Pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa dari wilayah hinterland-nya; 4) Sebagai kawasan strategis Propinsi Sumatera Barat dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup 5) Sebagai pusat pengembangan kawasan perikanan darat (sentra minapolitan) di Kawasan Danau Maninjau; 6) Pendukung pengembangan Kota Lubuk Basung; 7) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPl). Prioritas pengembangan kota diarahkan pada peningkatan penyediaan sarana prasarana perkotaan, sarana prasarana pariwisata, dan peningkatan aksesibilitas dari dan menuju Maninjau untuk mempercepat pertumbuhan wilayah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 11
5. Kecamatan Palembayan Kebijakan perkotaan difokuskan pada dua pusat kegiatan di kecamatan ini, yaitu Palembayan sebagai ibukota kecamatan, dan Padang Koto Gadang yang merupakan salah satu pusat kegiatan baru di bagian Barat Kecamatan Palembayan berupa industri pengolahan sawit. Adapun fungsi perkotaan di Palembayan diarahkan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi kawasan hinterland-nya; 4) Sebagai salah satu pusat kegiatan pertanian dan perkebunan (terutama kebun buah-buahan); 5) Pendukung pengembangan Matur; 6) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). 6. Kecamatan Matur Pemusatan kegiatan perkotaan di Matur di arahkan di ibukota kecamatan, yaitu Matur. Adapun fungsinya adalah sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai simpul pelayanan transportasi yang dapat melayani Kecamatan Palembayan dan sebagian Kecamatan Palupuh; 4) Sebagai pusat pelayanan jasa dan perdagangan wilayah (koleksi dan distribusi wilayah hinterland-nya, yaitu Kecamatan Palembayan bagian Timur); 5) Sebagai pendukung pengembangan kawasan pariwisata Kawasan Maninjau; 6) Sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 12
7. Kecamatan IV Koto Kebijakan kegiatan perkotaan di Kecamatan IV Koto diarahkan di Koto Tuo sebagai pusat pelayanan sosial dan ekonomi dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pengembangan industri kerajinan perak dan sulaman; 3) Sebagai kawasan cagar budaya; 4) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi wilayahnya; 5) Sebagai salah satu daerah perlindungan kawasan bawahnya dan perlindungan setempat; 6) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 7) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL); dan 8) Pendukung pengembangan perkotaan Banuhampu. 8. Kecamatan Malalak Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Malalak adalah di Malalak Timur yang merupakan ibukota kecamatan dengan fungsi sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi barang wilayah hinterlandnya; 4) Sebagai salah satu daerah perlindungan kawasan bawahnya dan perlindungan setempat; 5) Pengembangan kota diarahkan memiliki keterkaitan dengan pengembangan Banuhampu; 6) Pengembangan rest area terkait dengan keberadaan Jalan Sicincin Malalak; RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 13
7) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). 9. Kecamatan Banuhampu Kegiatan perkotaan di Banuhampu dipusatkan di Kawasan Pasar Padang Lua yang merupakan pusat perdagangan barang dan jasa. Kawasan Padang Lua lebih diarahkan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 2) Sebagai pusat koleksi dan distribusi barang skala wilayah (mencakup Kecamatan Sungai Pua dan IV Koto, sebagian Kecamatan Canduang); 3) Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian hortikultura skala regional di Pasar Padang Lua; 4) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 5) Sebagai salah satu Pusat Pelayanan Kawasan (PPK). 10. Kecamatan Sungai Pua. Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Sungai Pua adalah di Sungai Pua dengan fungsi perkotaan diarahkan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 2) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi barang wilayah hinterlandnya; 3) Pengembangan kota diarahkan memiliki keterkaitan dengan pengembangan Kecamatan Banuhampu; 4) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 5) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 14
11. Kecamatan Canduang. Kegiatan perkotaan di Canduang dipusatkan di Nagari Lasi yang merupakan ibukota kecamatan, fungsi Lasi adalah sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi barang wilayah hinterlandnya (gula merah tebu); 4) Sebagai salah satu pusat pengembangan industri konveksi; 5) Pengembangan kota diarahkan memiliki keterkaitan dengan pengembangan Baso; 6) Sebagai salah satu pusat pengembangan kegiatan pertanian (agropolitan); 7) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). 12. Kecamatan Ampek Angkek. Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Ampek Angkek adalah di Biaro sebagai ibukota Kecamatan Ampek Angkek, dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi distribusi hasil produksi barang skala regional (beberapa kecamatan); 4) Sebagai salah satu alternatif pengembangan simpul pelayanan transportasi regional; 5) Sebagai pusat pengembangan industri rumah tangga (konveksi, bordir dan sulaman); 6) Sebagai salah satu pusat pengembangan kegiatan pertanian (agropolitan); 7) Pengembangan kota diarahkan memiliki keterkaitan dengan pengembangan Baso; 8) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 15
13. Kecamatan Tilatang Kamang Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Tilatang Kamang adalah di Pakan Kamih sebagai ibukota Kecamatan Tilatang Kamang, dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil produksi barang skala kecamatan; 4) Sebagai salah satu pusat pengembangan industri makanan kecil; 5) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 6) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). 14. Kecamatan Kamang Magek Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Kamang Magek adalah di Kamang Hilir sebagai ibukota Kecamatan Kamang Magek, dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil produksi barang skala kecamatan; 4) Sebagai salah satu pusat pengembangan industri makanan kecil; 5) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 6) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 16
15. Kecamatan Baso Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Baso adalah di Baso sebagai ibukota kecamatan, dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai simpul pelayanan transportasi yang dapat melayani beberapa kecamatan dan nagari di bawahnya; 4) Pusat koleksi dan distribusi hasil produksi komoditi pertanian skala wilayah (terutama Kamang Magek, Ampek Angkek dan Canduang, termasuk kecamatan diluar Kabupaten Agam yang berbatasan langsung dengan Baso seperti Kecamatan Aka Biluru (Kabupaten 50 Kota) dan Kecamatan Tanjung Baru (Kabupaten Tanah Datar); 5) Sebagai salah satu kawasan penyangga kegiatan pertanian (agropolitan); 6) Sebagai pusat pengembangan pendidikan; 7) Sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp). 16. Kecamatan Palupuh Pemusatan kegiatan perkotaan di Kecamatan Palupuh adalah di Palupuh sebagai ibukota kecamatan dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1) Sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan; 2) Sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan; 3) Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil produksi pertanian maupun jasa skala kecamatan; 4) Sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 17
3.3 RENCANA SISTEM PRASARANA WILAYAH 3.3.1 Rencana Sistem Jaringan Transportasi Prasarana transportasi yang terdapat di Kabupaten Agam meliputi prasarana transportasi darat, transportasi sungai, dananu dan penyebrangan dan laut. Prasarana transportasi tersebut merupakan sistem yang menunjang terhadap aktivitas dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat sehingga diperlukan rencana pengembangan yang terpadu dengan sistem rencana tata ruangnya agar aktivitas masyarakat dapat berjalan secara sinergis. Fungsi utama sistem prasarana transportasi adalah menunjang kegiatan pemindahan manusia dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam pengembangan wilayah, sistem transportasi berfungsi untuk menjembatani keterkaitan fungsional antar kegiatan sosial ekonomi di Kabupaten Agam. Sesuai dengan fungsi tersebut, maka pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk menunjang perkembangan tata ruang wilayah di Kabupaten Agam. 3.3.1.1. Sistem Transportasi Darat Arahan rencana transportasi darat di Kabupaten Agam dibagi menjadi tiga pengelompokkan, yaitu: A. Jaringan Jalan: Rencana peningkatan jalan arteri primer (K1): sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Sumatera Barat direncanakan peningkatan jaringan jalan arteri primer yang menghubungkan simpul-simpul sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 18
Tabel 3.1 Rencana Peningkatan Jalan Arteri Primer (K1) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 006 Padang Luar Batas Kota Padang Panjang 2 037 Batas Kota Payakumbuh - Baso 3 038 Baso - Batas Kota Bukittinggi 4 022 Padang Sawah Manggopoh 5 023 Manggopoh Batas Kota Pariaman Sumber : Hasil Rencana Rencana pembangunan jalan arteri primer (K1): rencana pembangunan jalan arteri primer sesuai dengan RTRWN dan RTRWP Sumatera Barat adalah jaringan jalan Nasional atau arteri primer dengan Sistem Penyelenggaraan Tol. Tabel 3.2 Rencana Pembanguan Jalan Arteri Primer (K1) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Tol Jalan Tol Padang Bukittinggi 2 Tol Jalan Tol Bukittinggi - Payakumbuh Batas Provinsi Riau. Sumber : Hasil Rencana Rencana pengembangan jalan Strategis Nasional (K1) yaitu: sesuai dengan RTRW Nasional dan RTRW Provinsi Sumatera Barat bahwa di Kabupaten Agam dilalui oleh jalan Rencana Jalan Strategis Nasional yaitu Ruas Tiku Silaping (Nomor Ruas 048). Rencana peningkatan dan pengembangan jalan Kolektor Primer (K2) yaitu: Rencana peningkatan Jalan Kolektor Primer disesuaikan dengan arahan RTRW Provinsi Sumatera Barat serta rencana pengembangan sesuai dengan RTRW Kabupaten Agam sebagai berikut: RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 19
Tabel 3.3 Rencana Peningkatan dan Pengembangan Jalan Kolektor Primer (K2) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Baso Batusangkar 2 Lubuk Basung (Manggopoh) Kota Bukittinggi (Padang Luar). 3 Lubuk Basung Sungai Limau 4 56, 57, 60, 78, 92, 93 Simpang Padang Luar Baso (promosi) Sumber : Hasil Rencana Rencana pembangunan jalan Kolektor Primer (K2): rencana pembangunan jalan yang disesuaikan dengan RTRWP Sumatera Barat dan kesepakatan pengembangan infrastruktur daerah berbatasan antara Kota Bukittinggi dengan Kabupaten Agam, yaitu; Tabel 3.4 Rencana Pembangunan Jalan Kolektor Primer (K2) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Sicincin Malalak Bukittinggi dan Jembatan Ngarai Sianok 2 Ruas Baru Taluak Cingkariang (Lanjutan Pembangunan Baypass Bukittinggi) Sumber : Hasil Rencana Rencana Peningkatan jalan kolektor primer (K3) yang menghubungkan simpul simpul sebagai berikut: Tabel 3.5 Rencana Peningkatan Jalan Kolektor Primer (K3) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 143 Palupuh Suliki 2 157 Lingkar Danau Maninjau 3 159, 194, 195, 522, 579 4 164, 183, 207, 208, 209 Lingkar Utara Kota Lubuk Basung Lingkar Selatan Kota Lubuk Basung Sumber : Hasil Rencana RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 20
Rencana Pembangunan jalan kolektor primer (K3) yang menghubungkan simpul simpul sebagai berikut : Tabel 3.6 Rencana Peningkatan Jalan Kolektor Primer (K3) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 124, 148, 396, 506 (Jl. Retribusi) Ambun Pagi Puncak Lawang Smp. Kandih Muko Muko (jalan retribusi alternatif kelok 44) Sumber : Hasil Rencana Ruas Jalan Kabupaten (K4): Untuk menciptakan pergerakan yang efektif dan terintegrasi dalam kabupaten, maka diusulkan beberapa rencana peningkatan dan pengembangan jalan kabupaten sebagai berikut: Tabel 3.7 Rencana Peningkatan Jalan Kabupaten (K4) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 2 3 1 133 Simpang Patai - Palembayan 2 246 Matur - Sitingkai 3 222 Durian Kapeh Muaro Putuih 4 367 Muaro Putuih Subang Subang 5 137 Padang Koto Gadang Koto Alam 6 167 Lubuk Basung Simpang Ampu 7 142 SP. Ampu SP. Puduang 8 141 SP. Puduang Sp Batu Kambiang 9 138 SP. Koto Alam Sp. Batu Kambiang 10 135 Palembayan SP. Koto Alam 11 130 Sp. Sei Pua - Palembayan 12 128 Sp. Pudiang Sp. Sei Pua 13 120 Pasar Lawang Sp. Pudiang 14 116 Surau Jua - Pasar Lawang 15 112 Sp. Matur Surau Jua 16 002 Sp. Gadut Pasa Dama 17 003 Pasa Dama S. Pincuran 18 004 Sp. Pincuran Air Tabik 19 005 Sp. Air Tabik Sei Dareh 20 366 Sei Dareh Sungai Guntung 21 569 Subang subang Tompek Harapan 22 455 Lapau Andung Masang (Tompek Harapan) 23 210 Batu Hampa - Kubu Anau RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 21
S 1 2 3 u 24 236 Malalak Hulu Banda m 25 45, 50 Sp. Tj. Alam Sp. Bukik Batabuah b 26 e 27 r 28 29 77, 1022, 84,85, 86, 87 131 139 201 Sp. Bukik Batabuah Koto Baru Palembayan Data Munti Pasa Bawan Batu Kambing Anak Aie Dadok Padang Kajai 30 : 31 216 408 Durian Kapeh Bukik Sariak Durian Kapeh SP. Mangkua; 32 H 33 a 34 s 35 i 36 l 215 473 217 492 219 Sp. Cacang Cacang Tinggi Kampung Darek Simpang IV Cacang, Pasar Tiku Simpang IV Cacang, Banda Gadang Padang Tui, Jalan Gasan Kaciak Padang Tui, Sumber : Hasil Rencana Tabel 3.8 Rencana Pembangunan Jalan Kabupaten (K4) No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Belum ada Pasar Durian Mutiara Agam 2 105 Malalak Sungai Batang 3 400 Kubu Labuah Nagari Padang Galanggang. Sumber : Hasil Rencana Disamping peningkatan dan pembangunan ruas ruas jalan yang mempunyai fungsi strategis diatas, juga perlu perbaikan dan peningkatan kualitas perkerasan ruas-ruas jalan kabupaten yang dalam kondisi rusak. Peningkatan dan Pembangunan Jembatan: Peningkatan dan pembangunan juga perlu dilakukan seiring dengan peningkatan dan pembangunan jalan karena jalan dan jembatan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Peningkatan dan pembangunan jembatan dilakukan terhadap jembatan di sepanjang jalan arteri Primer, sepanjang jalan strategis nasional, sepanjang jalan kolektor primer dan sepanjang jalan kabupaten serta jembatan pedesaan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 22
B. Jaringan Jalan Kereta Api Rencana Pengembangan jaringan jalur kereta api berikut prasarananya mengacu kepada RTRWN dan RTRWP Sumatera Barat yaitu pengembangan jaringan pada lintas Barat Sumatera di Provinsi Sumatera Barat yang merupakan bagian dari rencana peningkatan dan pembangunan jaringan kereta api Trans Sumatera (Connecting Trans Sumatera Railway) meliputi jalur : 1. Jaringan jalan kereta api jalur Lubuk Alung Naras - Sungai Limau Simpang Empat; 2. Jaringan jalan kereta api jalur Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh. C. Pengalokasian Terminal Pengalokasian terminal di Kabupaten Agam didasari kriteria kemudahan pencapaian, dekat dengan pusat kegiatan dan efektifitas pergerakan. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat, terdapat rencana pembangunan terminal penumpang Type B serta terminal barang di Kabupaten Agam. Selanjutnya dengan memperhatikan SK Direktur Jenderal Perhubungan Darat No 1361/AJ.106/DRJD/2003 tentang Penetapan Simpul Jaringan Transportasi Jalan Untuk Terminal Penumpang Tipe A seluruh indonesia, serta RTRW Provinsi Sumatera Barat yang merencanakan akan merelokasi Terminal Kota Bukittinggi, maka Kabupaten Agam sangat berpeluang untuk mengalokasikan ruang untuk pengembangan Terminal Tipe A yang lokasinya pada daerah perbatasan Bukittinggi Kabupaten Agam yang diarahkan pada Kecamatan Ampek Angkek atau Kecamatan Banuhampu. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 23
Untuk rencana pengembangan terminal di wilayah Kabupaten Agam sampai akhir tahun perencanaan 2030 adalah sebagai berikut : Tabel 3.9 Terminal Angkutan di Kabupaten Agam No Nama Luas Tipe Terminal (Ha) Rencana 1. Agam A ± 5 Ha Kecamatan Ampek Angkek atau Banuhampu. 2 Antokan B ± 1,0 Peningkatan Sarana & Prasarana 3. Manggopoh C ± 1,5 Pembangunan Terminal 4. Amur C ± 1,0 Memfungsikan Terminal Sumber : Hasil Rencana Disamping itu juga, direncanakan pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) perkotaan dan perdesaan. Untuk daerah terpencil di pedesaan dapat diadakan angkutan umum masal dengan subsidi Bus Perintis. 3.3.1.2 Jaringan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Untuk jaringan transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan di Kabupaten Agam hanya jaringan transportasi danau yang masih terlihat keberadaannya. Transportasi danau lebih berkembang untuk keperluan penunjang wisata serta penunjang usaha perikanan. Sedangkan transportasi Sungai dan Penyeberangan tidak berkembang karena kondisi fisik sungai tidak mendukung untuk dikembangkan transportasi sungai. Sejalan dengan arahan pengembangan jaringan transportasi danau RTRW Provinsi Sumatera Barat, pengembangan transportasi danau di Kabupaten Agam sampai tahun 2030 ditujukan untuk mendukung pengembangan pariwisata Danau Maninjau dan perikanan air tawar. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 24
Rencana pengembangan prasarana transportasi danau akan dialokasikan dalam bentuk pembangunan dermaga untuk pendukung pariwisata (Muko-Muko, Linggai dan Sungai Batang) dan dermaga untuk pengumpul produksi perikanan yang lokasinya disesuaikan dengan Master Plan Minapolitan. 3.3.1.3 Sistem Transportasi Laut Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) yang tertuang dalam Peta Sarana Transportasi Provinsi Sumatera Barat, di Kabupaten Agam akan dikembangkan pelabuhan Tiku. Sesuai dengan potensi yang ada Kabupaten Agam, pengembangan pelabuhan Tiku diarahkan sebagai pelabuhan perikanan serta pelabuhan barang dan jasa terutama sebagai pelabuhan pengumpan. Pengembangan pelabuhan Tiku ini direncanakan sebagai salah satu simpul moda transportasi laut dipesisir Sumatera Barat. Hal ini juga merupakan pilar utama untuk mewujudkan pembangunan bidang kelautan di Kabupaten Agam sesuai dengan tujuan RTRW Kabupaten Agam tahun 2030. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 25
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 26
3.3.2 Sistem Prasarana lainnya 3.3.2.1 Rencana Sistem Jaringan Energi Kabupaten Agam saat ini merupakan salah satu wilayah penghasil energi listrik bagi wilayah jaringan distribusi Sumatera Barat, dan masuk kedalam sistem ketenagalistrikan Sumatera bagian Selatan dan Tengah (Sumbagselteng) yang melayani tidak hanya Kabupaten Agam, namun juga wilayah-wilayah lain diluar Kabupaten Agam. Kondisi existing sistem jaringan kelistrikan di Kabupaten Agam terdiri dari 2 (dua) sumber pembangkit utama yaitu PLTA Batang Agam dan PLTA Maninjau. Disamping itu sistem jaringan energi kelistrikan didukung oleh 2 (dua) gardu induk yang terletak di Maninjau dan Padang Luar dan beberapa jaringan Saluran Utara Tegangan Tinggi (SUTT) yaitu: 1) Jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV dari Gardu Induk Maninjau ke Gardu Induk Padang Luar. 2) Jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV dari Gardu Induk Padang Luar ke Gardu Induk Payakumbuh. 3) Jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)150 KV dan Gardu Induk Maninjau ke Gardu Induk Simpang IV Pasaman. 4) Jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)150 KV dai Gardu Induk Maninjau ke Gardu Induk Lbk. Alung Padang Pariaman. Berdasarkan perhitungan kebutuhan energi, pada tahun 2030 diperkirakan kebutuhan listrik di Kabupaten Agam mencapai 113,334,008 kwh, dengan rincian 80,952,862 kwh kebutuhan rumah tangga, 20,238,214 kwh kebutuhan fasilitas umum dan sosial, serta 12,142,928 kwh kebutuhan penerangan jalan. Dengan permasalahan yang sedang dihadapi Kabupaten Agam RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 27
dalam masalah energi listrik ini, dimana debit air yang digunakan untuk penggerak turbin semakin lama semakin menurun dan kadang-kadang hampir sampai ke level tidak dapat dioperasikan. Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya daerah resapan dikarenakan semakin luasnya lahan kritis pada Cathment Area disamping kondisi iklim yang sulit untuk diprediksi. Apabila kondisi ini tidak cepat diatasi dikhawatirkan kebutuhan debit air yang diperlukan tersebut akan semakin sulit dipenuhi. Oleh karena itu, penyediaan prasarana listrik di Kabupaten Agam direncanakan sebagai berikut: 1) Mengoptimalkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Danau Maninjau dengan kapasitas terpasang sebesar 4 x 17 MW, dengan upaya pelestarian kawasan resapan air pada Catchment Area. 2) Rencana Pengembangan dan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Kecamatan Palupuh, Palembayan, Malalak dan Lubuk Basung, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di seluruh kecamatan di Kabupaten Agam, 3) Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) di Kecamatan Tanjung Mutiara. 4) Disamping itu juga, direncanakan pengembangan energi geothermal (panas bumi) di Kecamatan Tanjung Raya. 3.3.2.2 Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi Pemenuhan kebutuhan jaringan telepon di Kabupaten Agam ditujukan untuk meningkatkan aktivitas masyarakatnya menjadi lebih efektif dan efisien, baik dalam aktivitas rumah tangga, sosial ekonomi, maupun pemerintahan. Oleh karena itu akan terus ditingkatkan pengelolaannya agar tersedia jaringan telepon dalam jumlah yang cukup dengan mutu pelayanan yang lebih baik serta biaya yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Penyediaan RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 28
kebutuhan telepon di Kabupaten Agam pada tahun 2030 ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan prasarana ini dengan perencanaan sebagai berikut: 1) Pemenuhan kebutuhan pelanggan telepon, terutama pelanggan rumah tangga. Kebutuhan sambungan telepon sampai tahun 2030 adalah sebagai berikut: a) Kebutuhan sambungan telepon untuk rumah tangga tahun 2030 adalah: ± 35.637 sambungan b) Kebutuhan sambungan telepon untuk fasilitas sosial dan umum tahun 2030 adalah: ±1.073 sambungan c) Kebutuhan sambungan telepon umum tahun 2030 adalah: ± 360 sambungan 2) Optimalisasi Sentral Telepon Otomatis (STO) yang telah dibangun di Lubuk Basung, Maninjau dan Baso dengan memanfaatkan tekonologi kabel optis. 3) Meningkatkan pelayanan dengan mempermudah dalam pemasangan sambungan baru untuk jaringan telepon. 4) Untuk jangka pendek, penyediaan jaringan-jaringan telepon baru yang dapat memanfaatkan pengembangan jaringan jalan sebagai akses penunjang. 5) Di Kabupaten Agam terdapat 121 buah BTS (Based Transceiver Station) yang tersebar di beberapa kecamatan. Sedangkan untuk jangka menengah, seiring dengan kemajuan teknologi telekomunikasi Kabupaten Agam akan mendorong penggunaan layanan telekomunikasi teknologi wireless seperti penggunaan telepon genggam, serta internet, Voice Over Internet Protocol (VOIP)/multimedia. Oleh karena itu arahan pengembangan telekomunikasi di tahun perencanaan 2030 diupayakan selalu mengikuti perkembangan teknologi telekomunikasi diantaranya teknologi wireless seperti Code Division Multiple Acses (CDMA) dan Global System for Mobile RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 29
(GSM) yang ada sekarang ini sehingga di masa mendatang jaringan telekomunikasi wireless (CDMA dan GSM) ataupun sejenisnya diharapkan dapat menjangkau keseluruh wilayah di Kabupaten Agam dengan biaya yang terjangkau. Arahan penggunaan teknologi tersebut, diupayakan dapat melayani wilayah-wilayah yang masih belum terjangkau, diantaranya: Kecamatan Malalak, Palembayan, Palupuh dan sebagian Kecamatan Matur. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 30
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 31
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 32
3.3.2.3 Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air A. Sistem Wilayah Sungai, Daerah Aliran Sungai, Danau dan Embung. Sesuai dengan satuan wilayah sungai (SWS) Kabupaten Agam termasuk kedalam 3 (tiga) Sistem Wilayah Sungai yaitu pertama SWS Arau, Kuranji, Anai, Mangau, Antokan dan (AKUAMAN), SWS Masang Pasaman dan SWS Indragiri. Sedangkan berdasarkan pembagian wilayah berdasarkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kabupaten Agam terdiri dari 8 (delapan) Daerah Aliran Sungai yaitu; DAS Batang Tiku, DAS Andaman, DAS Mangau, DAS Antokan, DAS Masang Kiri, DAS Masang Kanan dan DAS Batang Naras serta DAS Kuantan. Untuk rencana penataan DAS perlu diupayakan pelestarian kawasan lindung sesuai dengan permasalahan dan karakteristik dari masing-masing DAS. Adapun hal yang paling penting adalah upaya melestarikan kawasan konservasi untuk menjaga tata air sehingga sumber daya air dapat terjaga terutama untuk kepentingan produksi (irigasi, air baku dan sebagai sumber energi). Satu-satunya danau alam di Kabupaten Agam adalah Danau Maninjau yang terdapat di Kecamatan Tanjung Raya dengan luas sekitar 94.5 km2. Sumber air lainnya adalah embung. Embung yang besar di Kabupaten Agam berfungsi sebagai daerah tampungan air dan irigasi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 33
No Nama Embung Tabel 3.10 Daftar Embung di Kabupaten Agam Luas (ha) Nagari Kecamatan 1 2 3 4 5 1 Waduk Lapangan ± 0.5 Ampang Gadang Ampek Angkek 2 Tabek Tarok ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 3 Siliuk ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 4 Pincuran VII ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 5 Sirangkak Gadang ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 6 Pincuran Balai ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 7 Lurah Kabun ± 0.5 Bukik Batabuah Canduang 8 Ampuh III Ruyung ± 0.5 Canduang Canduang 9 Korong Panjang ± 0.5 Lasi Canduang 10 Sungai Janiah ± 0.5 Tabek Panjang Canduang 11 Terusan Kamang ± 0.5 Kamang Mudiak Kamang Magek 12 Tabek Tarok ± 0.5 Kamang Mudiak Kamang Magek 13 Tirta Sari ± 0.5 Koto Tangah Tilatang Kamang Sedangkan untuk bagian kawasan-kawasan tertentu yang sudah bermasalah seperti banjir dan tanah longsor perlu dilakukan penanganan khusus seperti pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dan pelaksanaan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pemulihan lahan kritis dan penanaman hutan kembali (reboisasi). B. Rencana Sistem Jaringan Irigasi Irigasi berperan penting dalam menunjang kegiatan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Agam, sehingga penyediaannya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan guna penunjang produksi dan produktivitas sektor tersebut. Sesuai dengan surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 390 tahun 2007 tentang Penetapan Daerah Irigasi sesuai dengan Kewenangan, di Kabupaten Agam ada 1 (satu) daerah irigasi (DI) yang merupakan kewenangan pemerintah pusat yaitu DI Antokan (4.200 Ha) dan 4 (empat) daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi yaitu DI Batang Dareh (1.128 Ha), DI Sangkir Garagahan (1.031 Ha), DI Baramban III Lurah (1.164 Ha) dan DI Sianok (1.285 Ha). RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 34
Sedangkan daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Agam adalah sejumlah 155 daerah irigasi yang terdiri dari irigasi teknis dan irigasi semi teknis. Disamping irigasi yang sudah teregistrasi pada Departemen Pekerjaan Umum, masih ada sekitar 625 daerah irigasi yang merupakan irigasi sederhana. Tabel 3.10 Daerah Irigasi yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Agam No Nama Daerah Luas Irigasi (ha) Nagari Kecamatan 1 2 3 4 5 1 DI. Waduk Lapangan 195.00 Ampang Gadang Ampek Angkek 2 DI. Bt Katiak 150.00 Sp. Gadang Ampek Angkek 3 DI. Sidangkong 150.00 Balai Gurah Ampek Angkek 4 DI. Tambuo 100.00 Ampang Gadang Ampek Angkek 5 DI. Bebeh 75.00 Batu Taba Ampek Angkek 6 DI. Bt Kasiak 75.00 Batu Taba Ampek Angkek 7 DI. Ujung Guguk 124.00 Padang Tarok Baso 8 DI. Mancung 115.00 Padang Tarok Baso 9 DI. Baruah Salo 60.00 Bungo Koto Tuo Baso 10 DI. Dt. Kodoh 50.00 Simarasok Baso 11 DI. Jabur 40.00 Simarasok Baso 12 DI. Tabek Tarok 150.00 Bk. Batabuah Canduang 13 DI. Pincuran VII 75.00 Bk. Batabuah Canduang 14 DI. Siliuk 59.00 Bk. Batabuah Canduang 15 DI. Batang Asahan 90.00 C. Koto Laweh Canduang 16 DI. Bdr. Subarang 58.00 C. Koto Laweh Canduang 17 DI. Subarang 58.00 C. Koto Laweh Canduang 18 DI. Cingkano 35.00 C. Koto Laweh Canduang 19 DI. Tabing 47.00 C. Koto Laweh Canduang 20 DI. Kr. Panjang 67.00 Lasi Canduang 21 DI. Niur 50.00 Lasi Canduang 22 DI. Jbt. Ujung Guguk 124.00 Tabek Panjang Canduang 23 DI. Hilalang 153.00 Kamang Mudiak Kamang Magek 24 DI. Batu Biaro 33.00 Kamang Mudiak Kamang Magek 25 DI. Ambacang 284.00 Magek Kamang Magek 26 DI. III April 200.00 Magek Kamang Magek 27 DI. Joho 100.00 Magek Kamang Magek 28 DI. Bkt Monggok 90.00 Magek Kamang Magek 29 DI. Pdn Banyak 133.00 Kapau Kamang Magek 30 DI. Hulu Air Gadang 91.00 Magek Kamang Magek 31 DI. Air Biso 100.00 Nan VII Palupuh 32 DI. Air Dareh 100.00 Nan VII Palupuh 33 DI. Air Kijang 50.00 Nan VII Palupuh 34 DI. Patapian 38.00 Nan VII Palupuh 35 DI. Sei. Belukar 42.00 Nan VII Palupuh 36 DI. Batang Palupuh 50.00 Pasia Laweh Palupuh RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 35
1 2 3 4 5 37 DI. Bdr. Angge 40.00 Pasia Laweh Palupuh 38 DI. Jambak Balau 25.00 Pasia Laweh Palupuh 39 DI. Tampunik 64.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 40 DI. Surau Usang 60.00 Gadut Tilatang Kamang 41 DI. Kambing VII 58.00 Gadut Tilatang Kamang 42 DI. Parak Laweh 231.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 43 DI. III Lurah 200.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 44 DI. Brb Bawah 179.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 45 DI. Namuang 160.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 46 DI. Batu Kabau 141.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 47 DI. Batu Mandi 134.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 48 DI. Bdr. Batu 134.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 49 DI. Induring 125.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 50 DI. Sei Tuak 124.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 51 DI. Jembatan Besi 122.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 52 DI. Gurun Laweh 53.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 53 DI. Bdr. Aur 113.00 Koto Tangah Tilatang Kamang 54 DI. Brd Tapi 263.00 Gadut Tilatang Kamang 55 DI. Bdr. Garegeh 72.00 Gadut Tilatang Kamang 56 DI. Cingkaring C 140.00 Cingkariang Banuhampu 57 DI. Cingkaring B. 108.00 Cingkariang Banuhampu 58 DI. Cingkaring A 83.50 Cingkariang Banuhampu 59 DI. Kubu Banda 675.00 Kubang Putiah Banuhampu 60 DI. Rakik 150.00 Ladang Laweh Banuhampu 61 DI. Batu Hampa 100.00 Taluak IV Suku Banuhampu 62 DI. Batang Sianok 694.00 Koto Tuo IV Koto 63 DI. Pincuran VII 140.00 Balingka IV Koto 64 DI. Bapensi 82.00 Balingka IV Koto 65 DI. Gadang 50.00 Balingka IV Koto 66 DI. Ranah 42.00 Sungai Landia IV Koto 67 DI. Gadang Sini Air 54.00 Malalak Malalak 68 DI. Manguih 120.00 Malalak Malalak 69 DI. Sigiran 265.00 Malalak Utara Malalak 70 DI. Batang Janiah 65.00 Malalak Malalak 71 DI. Batang Kandang 62.00 Malalak Malalak 72 DI. Ruso 186.00 Lawang III Balai Matur 73 DI. Baapung 65.00 Lawang III Balai Matur 74 DI. Kamp Tingga A 28.00 Lawang III Balai Matur 75 DI. Kampung Tingga B 25.00 Lawang III Balai Matur 76 DI. Lawang 41.00 Lawang III Balai Matur 77 DI. Sari Bulan 40.00 Lawang III Balai Matur 78 DI. Gadang Ketek 62.00 Matur Hilia Matur 79 DI. Sungai Jaring 31.00 Matur Hilir Matur 80 DI. Badarun 124.00 Matur Mudiak Matur 81 DI. Tabek Sariak 193.00 Sariak Sungai Pua 82 DI. Tiagan 100.00 Sungai Pua Sungai Pua 83 DI. Jarungan 75.00 Sungai Pua Sungai Pua 84 DI. Curing-curing 50.00 Batagak Sungai Pua 85 DI. Bdr. Sikabu 490.00 Kp.tangah Lbk. Basung 86 DI. Bdr. Baru 700.00 Lbk. Basung Lbk. Basung RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 36
1 2 3 4 5 87 DI. Bdr. Usang 600.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 88 DI. Bdr. Sibaraguang 600.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 89 DI. Bdr. Skr Lbk. Basung 350.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 90 DI. Bdr. Lb Siarang 161.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 91 DI. Bdr. Jawi jawi 80.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 92 DI. Bdr. Siguhung 70.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 93 DI. Bdr. Bt Gajah 62.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 94 DI. Bdr. Bt Silayang 52.50 Lbk. Basung Lbk. Basung 95 DI. Batang Antokan 630.00 Lbk. Basung Lbk. Basung 96 DI. Bdr. Kalulutan 200.00 Manggopoh Lbk. Basung 97 DI. Bdr. Kubu Anau 150.00 Manggopoh Lbk. Basung 98 DI. Bdr. Sei. Pingai 130.00 Manggopoh Lbk. Basung 99 DI. Bdr. Sawah Parik 83.00 Manggopoh Lbk. Basung 100 DI. Bdr. Padang Tongga 300.00 Manggopoh Lbk. Basung 101 DI. Bdr. Kundus Lbs 106.00 Manggopoh Lbk. Basung 102 DI. Bdr. Dtk. Labiah 127.00 Kp.pinang Lbk. Basung 103 DI. Bdr. Cacang Tinggi 600.00 Tiku utara Tanjung Mutiara 104 DI. Bdr. Gadih Anggik 200.00 Tiku V jorong Tanjung Mutiara 105 DI. Bdr. Durian Kapeh 100.00 Tiku V jorong Tanjung Mutiara 106 DI. Bdr. Gasan Kacil 80.00 Tiku Selatan Tanjung Mutiara 107 DI. Bdr. Gadang 60.00 Tiku Selatan Tanjung Mutiara 108 DI. Bdr. Sawah Kabun 60.00 Tiku Selatan Tanjung Mutiara 109 DI. Bdr. Limau Hantu 82.00 Bayur Tanjung Raya 110 DI. Bdr. Saleko 80.00 Bayur Tanjung Raya 111 DI. Bdr. Sei Rangeh 70.00 Bayur Tanjung Raya 112 DI. Bdr. Kayu Kundu 50.00 Bayur Tanjung Raya 113 DI. Bdr. Pulai 90.00 II Koto Tanjung Raya 114 DI. Bdr. Hulu Bambu 90.00 III Koto Tanjung Raya 115 DI. Bdr. Air Gadang 60.00 III Koto Tanjung Raya 116 DI. Bdr. Sarasah Baringin 53.36 III Koto Tanjung Raya 117 DI. Bdr. Rambai 148.00 koto kaciak Tanjung Raya 118 DI. Bdr. Sei Asam 87.00 Koto kaciak Tanjung Raya 119 DI. Bdr. Kularian 48.00 Koto kaciak Tanjung Raya 120 DI. Bdr. Tangah 108.00 Maninjau Tanjung Raya 121 DI. Bdr. Psr Panjang 60.00 Maninjau Tanjung Raya 122 DI. Bdr. Gadang Panji 50.00 Maninjau Tanjung raya 123 DI. Bdr. Panji 50.00 Maninjau Tanjung Raya 124 DI. Bdr. Sarasah Laring 150.00 Sei. Batang Tanjung Raya 125 DI. Bdr. D Gadang 60.00 Tanjung Sani Tanjung Raya 126 DI. Pasar Batu Kambing 200.00 Batu Kambiang Ampek Nagari 127 DI. Alahan Sirih 150.00 Batu Kambiang Ampek Nagari 128 DI. Punago 111.00 Batu Kambiang Ampek Nagari 129 DI. Balai Badak 75.00 Batu Kambiang Ampek Nagari 130 DI. Sarasah 67.00 Batu Kambiang Ampek Nagari 131 DI. Pasar Bawan 437.00 Bawan Ampek Nagari 132 DI. Malabor Bm 167.00 Lb. Alung Ampek Nagari 133 DI. Malabor Bld 156.00 Lb. Alung Ampek Nagari 134 DI. Malabor Bp 156.00 Lb. Alung Ampek Nagari 135 DI. Batu Palano I 348.00 Sitalang Ampek Nagari 136 DI. Batu Palano II 128.00 Sitalang Ampek Nagari RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 37
1 2 3 4 5 137 DI. Bukareh 80.00 Sitalang Ampek Nagari 138 DI. Air Papo 60.00 Sitalang Ampek Nagari 139 DI. Subanak 47.00 Sitalang Ampek Nagari 140 DI. Bada-bada 60.00 Sitalang Ampek Nagari 141 DI. Gumarang Bka 485.00 III Koto Silungkang Palembayan 142 DI. Gumarang Ba 385.00 III Koto Silungkang Palembayan 143 DI. Gumarang Bpl 324.00 III Koto Silungkang Palembayan 144 DI. Kayu Bakicuik Bt 297.00 III Koto Silungkang Palembayan 145 DI. Gumarang BG 211.00 III Koto Silungkang palembayan 146 DI. Gumarang Bkt 200.00 III Koto Silungkang Palembayan 147 DI. Paciputan 154.00 III Koto Silungkang Palembayan 148 DI. Padang Bamban 250.00 IV Koto Palembayan Palembayan 149 DI. Kayu Bakicuik BI 82.00 IV Koto Palembayan Palembayan 150 DI. Baringin 75.00 Baringin Palembayan 151 DI. Tantaman 70.00 IV Koto Palembayan Palembayan 152 DI. Mondak 48.00 IV Koto Palembayan Palembayan 153 DI. Silungkang 29.00 IV koto palembayan Palembayan 154 DI. Tompek 78.00 Salareh Aia Palembayan 155 DI. Padang Lawang 41.00 Salareh aia Palembayan Sumber data : Keputusan Menteri Nomor 390 tahun 2007 dan hasil analisa Penataan dan pemanfaatan prasarana irigasi di Kabupaten Agam dimasa datang direncanakan sebagai berikut: 1) Meningkatkan daya guna dari irigasi dengan upaya pembangunan berbagai fasilitas yang diperlukan (embung, waduk, bendung, bangunan bagi, pintu air, saluran, dsbnya) sehingga keberadaan irigasi dapat menunjang upaya peningkatan produksi pertanian terutama pada kawasan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan. 2) Peningkatan pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana irigasi termasuk saluran-saluran irigasi yang sudah dibangun sampai saat ini guna menambah umur pemanfaatan. 3) Peningkatan peran irigasi sebagai penyedia air bagi lahanlahan pertanian dan perkebunan maupun perikanan. 4) Pemanfaatan air permukaan secara optimal (sungai dan danau yang ada) dalam upaya penyediaan air bagi kebutuhan irigasi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 38
5) Melestarikan wilayah hulu (daerah resapan air) dalam upaya menjaga agar debit mata air, sungai maupun danau tetap stabil sehingga kebutuhan air irigasi dapat terpenuhi. 6) Pembangunan irigasi pada daerah-daerah irigasi yang potensial. 7) Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, pemeliharan maupun pemanfaatan daerah irigasi sebagai basis dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. 3.3.2.4 Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Lainnya A. Rencana Sistem Jaringan Air Bersih Potensi penyediaan air bersih di Kabupaten Agam saat ini cukup bervariasi, mulai dari penggunanan air tanah dalam, air sungai, dan mata air. Penyediaan air bersih yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Agam menggunakan sistem perpipaan dan non perpipaan. Pelayanan air bersih yang dikelola oleh PDAM dilakukan melalui sembilan unit pelayanan yang memiliki cakupan pelayanan sekitar 31 persen penduduk di daerah pelayanan atau 9 persen penduduk Kabupaten Agam. Untuk pelayanan SPAM perdesaan melalui sistem perpipaan dan non perpipaan baru mencapai 4 persen dari daerah perdesaan yang harus dilayani. Penyediaan air di Kabupaten Agam saat ini masih sangat kurang, dilihat dari masih banyaknya warga yang memanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi/cuci/kakus. Pada tahun 2030, penyediaan air bersih ditujukan guna memenuhi kebutuhan akan air bersih yang diperkirakan mencapai 529,65 juta liter/hari. Untuk itu, konsep penanganan sistem air bersih di Kabupaten Agam dimasa datang direncanakan sebagai berikut: RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 39
1) Mengoptimalkan sumber air bersih yang ada saat ini 2) Peningkatkan kapasitas produksi dan distribusi, yaitu dengan meningkatkan diameter pipa, penambahan jaringan pipa transmisi, distribusi, dan tersier 3) Memperbaiki jaringan distribusi yang rusak serta memelihara dengan baik jaringan tersebut guna meminimalisasi kebocoran yang terjadi selama distribusi 4) Menyediakan pompa-pompa cadangan pada tiap-tiap unit PDAM sehingga apabila terjadi kerusakan, produksi dan distribusi air bersih oleh PDAM tidak terganggu 5) Khusus untuk daerah perbukitan, diarahkan untuk tetap menggunakan sumur bor dengan pengelolaannya diserahkan permasing-masing nagari. 6) Penyediaan air bersih diutamakan untuk daerah-daerah padat penduduk, seperti ibukota kecamatan dan pusatpusat permukiman 7) Sejalan dengan pengembangan jaringan jalan, maka penyediaan jaringan air bersih juga dapat memanfaatkannya sebagai akses penunjang dalam penambahan jaringan-jaringan baru. B. Rencana Sistem Drainase Tujuan dari rencana sistem pengembangan saluran drainase di Kabupaten Agam adalah mengalirkan air permukaan ke badan air penerima atau bendungan resapan buatan, dalam mencapai ruang hidup yang sehat dan produktif. Sistem drainase di Kabupaten Agam masih menggunakan sistem drainase gabungan, adalah sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan yang sama baik untuk air permukaan maupun air limbah yang diolah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 40
Penanganan pada sistem drainase di Kabupaten Agam adalah : 1. Saluran primer: melalui program normalisasi sungai dan perawatan lainnya 2. Saluran sekunder, saluran tersier dengan berbagai dimensi yang mengikuti sistem jaringan jalan Selain itu, berdasarkan data kejadian banjir dapat dilihat bahwa pada areal dimana akan dijadikan pengembangan perkotaan seperti daerah Padang Luar sebagai ibukota Kecamatan Banuhampu sering terjadi genangan akibat banjir. Luas genangan ini akan semakin bertambah manakala lahan pertanian berubah menjadi lahan terbangun. Untuk mengatasi terjadinya banjir di daerah ini dan di daerah lainnya perlu disusun sistem drainase yang memadai. Pembangunan sistem drainase seyogyanya dilakukan secara terpadu dengan pembangunan prasarana kota yang lain, yang mendukung rencana pengembangan wilayah sehingga sistem drainase ini dapat berfungsi secara optimal. C. Rencana Sistem Pembuangan Sampah. Secara umum, sampah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: Sampah organik, yaitu jenis sampah yang dapat diproses oleh alam (dapat didaur ulang secara alami), misalnya makanan, daun-daunan dan lainnya Sampah non-organik, yaitu jenis sampah yang tidak bisa didaur-ulang secara alami, misalnya sampah plastik, besi, logam, porselin, dan lainnya. Sedangkan untuk sumber sampah dapat berasal dari: Sampah rumah tangga (domestik) RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 41
Sampah non rumah tangga (non domestik) yang terbagi atas: sampah pasar dan pertokoan sampah jalan, sampah fasilitas umum/sosial (pendidikan, kesehatan, perkantoran, dsb) sampah kawasan industri (pabrik, kerajinan, dsb) Sumber sampah lainnya. Perhitungan volume timbulan sampah didasarkan pada beberapa faktor, yaitu besarnya peningkatan tingkat pelayanan tiap tahun dan peningkatan jumlah penduduk. Dominasi komposisi sumber sampah untuk wilayah Kabupaten Agam diperkirakan tidak akan berubah terutama dalam waktu dekat, karena pola hidup masyarakat dalam mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan belum dapat dirubah dalam jangka pendek. Jadi dengan bertambahnya jumlah penduduk akan terjadi penambahan volume sampah. Jumlah timbulan sampah total (domestik + non domestik) per orang/hari diasumsikan sebesar 1,5 liter (Sumber Acuan: Standar Spesifikasi Timbulan Sampah di Indonesia, Dept. PU, LPMB, Bandung, 1993). Jumlah timbulan sampah perharinya, dapat diketahui dari perkalian antara jumlah timbulan sampah perliter/orang/hari dengan jumlah penduduk. Untuk mengetahui berat timbulan sampah maka volume sampah (m 3 /hari) dikalikan dengan nilai densitas sampah (kg/m 3 ). Berdasarkan perhitungan, jumlah timbunan sampah perhari yang dihasilkan oleh penduduk di Kabupaten Agam mencapai ± 1.009.728 liter/perhari dan prediksi timbulan sampah 20 tahun kedepan adalah 1.116.597 liter/perhari atau sekitar 1.116,60 m³/perhari. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 42
Pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten Agam, masih terbatas pada pelayanan di ibukota Kabupaten Agam (Lubuk Basung) dan juga sebagian di wilayah Timur Kabupaten Agam. Untuk lokasi Tempat Pengelolaan Akhir Sampah yang ada sekarang berlokasi di TPA Kota Lubuk Basung di Manggih dengan status sewa, namun dimasa depan diharapkan lokasi Rencana TPA Dusun Pinggir Nagari Sungai Jariang dapat direalisasikan. Arahan rencana pelayanan kedepan, diharapkan dapat mencakup minimal keseluruh ibukota kecamatan yang ada di Kabupaten Agam Berdasarkan hasil prediksi dan permasalahan yang ada, maka arahan pengembangan prasarana persampahan meliputi : Pembangunan TPA baru di Kota Lubuk Basung sebagai pengganti TPA yang ada sekarang (status sewa). Pemilihan lokasi baru untuk tempat pengelolaan akhir harus sesuai dengan persyaratan teknis dan daya dukung lingkungan. Direncanakan di Nagari Nan Tujuah Kecamatan palupuh. Pengurangan masukan sampah ke TPA dengan konsep reduce-reuse-recycle di sekitar wilayah sumber sampah. Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis. Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan, bergerak dan tidak bergerak. Mengembangkan kemitraan dengan swasta dan kerjasama dengan kabupaten sekitarnya yang berkaitan untuk pengelolaan sampah dan penyediaan TPA. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 43
D. Rencana Jalur Evakuasi Bencana. Sebagaimana diketahui bahwa Kabupaten Agam merupakan daerah rawan bencana seperti; gempa bumi, tsunami, abrasi, banjir, pergerakan tanah, letusan gunung berapi. Untuk mengurangi atau memperkecil resiko bencana perlu merencanakan dan menetapkan jalur evakuasi bagi tiap-tiap jenis bencana. 1. Jalur evakuasi bencana gempa bumi. Sesuai dengan karakter fisik Kabupaten Agam yang rawan terhadap gempa bumi karena dilalui oleh patahan/sesar aktif. Sesar aktif ini menurut sifatnya merupakan jalur atau tempat terjadinya gempa, sehingga untuk mengurangi resiko perlu dibuatkan jalur evakuasi jika terjadi gempa. Adapun jalur atau tempat evakuasi direncanakan adalah sebagai berkut: a. Taman lingkungan, untuk wilayah pemukiman perumahan pemanfaatan lahan fasos dan fasum dapat berupa ruang terbuka sehingga dapat dijadikan sebagai tempat untuk mengevakuasi warga. b. Lapangan olahraga, diarahkan untuk setiap pusat pemukiman untuk menyediakan lapangan olah raga yang fungsinya dapat berfungsi ganda yaitu pada kondisi normal dapat digunakan sebagai tempat olahraga sedangkan pada saat bencana digunakan untuk ruang atau tempat evakuasi. c. Bangunan sosial dan agama (sekolah dan rumah ibadah), disamping untuk keperluan peningkatan SDM, bangunan sekolah dan rumah ibadah yang masih utuh setelah terjadinya bencana juga dapat dijadikan ruang atau tempat evakuasi dalam kondisi darurat. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 44
2. Jalur evakuasi bencana tsunami. Khusus untuk kawasan pesisir, apabila terjadi gempa bumi besar yang pusat atau episentrumnya di laut, bahaya tsunami akan mengancam masyarakat. Untuk mengurangi resiko perlu direncanakan dan ditetapkan jalur evakuasi terhadap bencana tsunami. Prinsip dasar dari jalur evakuasi adalah jalur terpendek yang dibangun untuk mencapai daerah yang tinggi. Bagi daerah yang daerah yang mempunyai ketinggian relatif jauh, maka yang lebih efektif dibangunkan shelter. Untuk penyediaan jalur evakuasi di kawasan pesisir yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara dapat diarahkan sebagai berikut: a. Untuk kawasan permukiman di Nagari Tiku Selatan dan Tiku Utara lebih efektif disediakan jalur evakuasi (escape road) menuju daerah ketinggian yang aman seperti: 1. Jalan Gasan Kaciak Padang Tui, 2. Banda Gadang Padang Tui, 3. Pasar Tiku Simpang IV Cacang, 4. Kampung Darek Simpang IV Cacang, 5. Durian Kapeh SP. Mangkua; 6. Durian Kapeh Bukik Sariak 7. Anak Aie Dadok Padang Kajai b. Untuk kawasan permukiman di Nagari Tiku Limo Jorong, disamping dibangunkan jalur evakuasi juga sangat dibutuhkan lokasi penyelamatan (shelter) dan bangunan penyelamatan (escape building) karena sebagian pemukiman di kawasan pesisir/pantai sangat jauh untuk mencapai daerah ketinggian/aman. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 45
c. Disamping merencanakan jalur dan shelter, juga diperlukan ruang terbuka yang sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai tempat pengungsian yang letaknya pada daerah aman. 3. Jalur evakuasi bencana abrasi. Kawasan pesisir Kabupaten Agam bukan hanya rawan terhadap bahaya tsunami, akan tetapi juga rawan bahaya abrasi. Karena bencana abrasi ini hampir setiap tahun melanda kawasan tersebut, kebijakan paling tepat adalah untuk tidak membangun pemukiman pada kawasan yang rawan abrasi. Sedangkan untuk pemukiman yang telah ada disarankan untuk pindah ke daerah yang lebih aman atau menjauhi pantai. 4. Lokasi evakuasi bencana banjir Sebagian wilayah Agam merupakan daerah rawan banjir, untuk mengantisipasi dampak terjadinya bahaya banjir yang dapat menyebabkan kepanikan warga, maka perlu di rencanakan lokasi-lokasi evakuasi di beberapa lokasi yang memiliki potensi banjir. Untuk mengurangi korban jiwa dan dampak kerusakan dari gejala alam ini diperlukan sebuah kajian mitigasi bencana yang diwujudkan ke dalam pemetaan rawan bencana, rencana jalur penyelamatan/evakuasi (escape road), dan rencana lokasi penyelamatan darurat (shelter). Dengan demikian diharapkan dampak dari bencana tersebut paling tidak dapat diminimalisir sedini mungkin. Terkait dengan rencana lokasi penyelamatan (ruang untuk evakuasi), maka terdapat beberapa keriteria dasar yang diperlukan dalam penentuan lokasi penyelamatan, yaitu : RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 46
Lokasi penyelamatan (ruang untuk evakuasi) adalah lokasi yang dapat menampung penduduk dalam jumlah besar, seperti : ruang terbuka hijau, lapangan olah raga, fasilitas umum, fasilitas pemerintahan. Lokasi penyelamatan harus menjauh dari sumber bencana dan dampak lanjutan dari bencana. Terkait dengan kriteria diatas, maka lokasi-lokasi evakuasi terhadap penduduk yang terkena dampak banjir di wilayah Kabupaten Agam antara lain : Kecamatan Palembayan. Kecamatan Ampek Nagari; Kecamatan Lubuk Basung; Kecamatan Ampek Nagari; Kecamatan Tanjung Mutiara; Kecamatan IV Koto; Kecamatan Tilatang Kamang : Kecamatan Palupuh 5. Lokasi evakuasi bencana gerakan tanah atau longsor. Gerakan tanah/longsoran adalah proses pemindahan/ pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah: jatuhan (falls), gelincir (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/ longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. Secara geografis, seluruh kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Agam, memiliki potensi gerakan tanah/ RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 47
longsoran. Terkait dengan rencana lokasi penyelamatan (ruang untuk evakuasi), maka terdapat beberapa keriteria dasar yang diperlukan dalam penentuan lokasi penyelamatan, yaitu : Lokasi penyelamatan (ruang untuk evakuasi) adalah lokasi yang dapat menampung penduduk dalam jumlah besar, seperti : ruang terbuka hijau, lapangan olah raga, fasilitas umum, fasilitas pemerintahan. Lokasi penyelamatan harus menjauh dari sumber bencana dan dampak lanjutan dari bencana. 6. Lokasi evakuasi bencana letusan gunung berapi. Pada wilayah Kabupaten Agam mempunyai 2 gunung aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikat. Sebaran produk letusan dari Gunung Marapi cenderung menuju ke arah tenggara sedangkan letusan dari Gunung Tandikat menuju ke arah selatan. Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunung api di Kabupaten Agam antara lain: 1. Letusan Gunung Marapi: aliran Batang Sarik, Lima Kampung, Tabek, Kepala Koto, Lukok 1, Surau Baru, Padang laweh, Lbk. dan Pulungan. 2. Letusan Gunung Tandikat : letusan ini tidak terlalu membahayakan kecuali di sekitar daerah Toboh. Untuk mengantisipasi terhadap dampak letusan gunung berapi yang ada di wilayah Kabupaten Agam, maka diperlukan lokasi-lokasi evakuasi. Terkait dengan rencana lokasi penyelamatan (ruang untuk evakuasi), maka terdapat beberapa keriteria dasar yang diperlukan dalam penentuan lokasi penyelamatan, yaitu : RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 48
lokasi pengungsian yang tidak terjangkau oleh jatuhan piroklastik, aliran lava dan lahar dingin. Karena letusan dapat berlangsung lama perlu disiapkan prasarana dan sarana yang dapat membantu kehidupan pengungsi seperti air bersih, tenda dan shelter, bahan makanan yang mencukupi dan fasilitas lain yang diperlukan. Lokasi-lokasi evakuasi terhadap penduduk yang terkena dampak letusan gunung merupakan lokasi lokasi yang dapat menampung penduduk dalam jumlah besar seperti : ruang terbuka hijau, lapangan lah raga, fasilitas umum dan fasilitas pemerintah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 49
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 50
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 51
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 52
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 53
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 54
RTRW Kab. Agam 2010-2030 III - 55
BAB IV RENCANA POLA RUANG
BAB 4 RENCANA POLA RUANG 4.1 RENCANA POLA RUANG Pola pemanfaatan ruang yang akan dikembangkan di Kabupaten Agam dirumuskan berdasarkan pertimbangan : Arahan pola pemanfaatan ruang berdasarkan rencana tata ruang wilayah Nasional dan Provinsi Sumatera Barat. Analisis daya dukung pengembangan wilayah, terutama daya dukung lahan untuk berbagai kegiatan budidaya dan sumberdaya air. Penetapan status hutan berdasarkan SK Menteri Kehutanan. Konsep struktur tata ruang yang akan diterapkan. Pengalokasian peruntukan lahan sesuai kebutuhan luas dan kesesuaiannya. Didasarkan pada pertimbangan di atas, rencana pola pemanfaatan ruang Kabupaten Agam meliputi alokasi pemanfaatan ruang : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 1
1. Kawasan Lindung, yang terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya (hutan lindung, kawasan resapan air), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan mata air), kawasan suaka alam, dan kawasan rawan bencana. 2. Kawasan Budidaya, yang terdiri dari kawasan permukiman/perkotaan dan perdesaan, kawasan pertanian (lahan basah, lahan kering dengan tanaman tahunan, dan lahan kering dengan tanaman semusim), serta kawasan hutan produksi (tanaman tahunan). 4.1.1 Rencana Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Pengelolaan kawasan lindung secara baik dan benar, dapat mengurangi tingkat bahaya bencana alam yang ditimbulkan seperti banjir, longsor, pendangkalan waduk, kekeringan, dan sebagainya. Selain bencana alam kerusakan kawasan lindung juga menimbulkan bencana sosial akibat hilangnya aset hidup yang seharusnya diperoleh masyarakat. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan RTRWP Provinsi Sumbar tahun 2008-2028 maka rencana kawasan lindung di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, meliputi: kawasan hutan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air. b. Kawasan perlindungan setempat, meliputi: sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk dan kawasan mata air. c. Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang meliputi: kawasan suaka alam, suaka alam laut dan perairan RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 2
lainnya, suaka marga satwa dan suaka margasatwa laut, kawasan cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional dan taman nasional laut, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman wisata alam laut dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. d. Kawasan rawan bencana alam yang meliputi: kawasan rawan gerakan tanah/longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir. e. Kawasan lindung geologi yang meliputi: kawasan cagar alam geologi, kawasan rawan bencana alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. f. Kawasan lindung lainnya yang meliputi: cagar biosfer, ramsar, taman buru, kawasan perlindungan plasma nuftah, kawasan pengungsian satwa, terumbu karang dan kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi. 4.1.1.1 Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya a. Kawasan Hutan Lindung Luas kawasan hutan lindung yang direncanakan di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 seluas 28.060 Ha atau sekitar 12,56% luas wilayah Kabupaten Agam. Luas tersebut didasarkan pada hasil penilaian ulang (rescorring) hutan lindung. Berdasarkan rescorring tersebut maka akan terjadi pengurangan luas hutan lindung sekitar 3.500 Ha atau 12,47% dari luas hutan lindung yang ditetapkan Menteri Kehutanan melalui SK Menhutbun No. 422/Kpts-II/1999 tgl 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Sumatera Barat, komposisi fungsi hutan kabupaten Agam adalah sebagai berikut: RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 3
Tabel 4.1 Luas Hutan Lindung di Kab. Agam NO LOKASI LUAS (Ha) 1 Kamang, Baso 10.300 2 Malalak 2.520 3 Bukit Kepanehan (Matur, IV Koto) 520 4 Maninjau (Kec Tanjung Raya) 5.450 5 Palembayan (Kec Palembayan) 2.595 6 Silayang (Kec Lubuk Basung) 750 7 Muaro Putus (Kec Tanjung Mutiara) 1.835 8 Muaro Maur (Kec. Palembayan) 3.160 9 Pd. Gelanggang (Kec Matur) 930 Jumlah 28.060 Sumber : Dinas Kehutanan & Perkebunan Kabupaten Agam Tahun 2009 b. Kawasan Bergambut Wilayah yang termasuk kawasan bergambut di Kabupaten Agam yang memiliki ketebalan 3 meter menyebar di bagian barat daerah Tiku dan Masang Kecamatan Tanjung Mutiara seluas ± 4.335 Ha. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan lindung melalui Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan PP. No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) karena kemampuannya menyimpan/memendam karbondioksida (CO 2 ) dan berkaitan dengan pemanasan global yang terjadi. Hampir semua kawasan bergambut ini sudah menjadi kebun kelapa sawit, hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap keberadaan gambut. Untuk itu maka lahan gambut terutama yang mempunyai ketebalan 3 m perlu dilindungi dan ditetapkan menjadi kawasan lindung. Hal ini sebagaimana ditetapkan dalam Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan PP. No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 4
Kemampuan gambut yang cukup besar dalam pemendaman karbon berarti dapat membatasi emisi gas rumah kaca seperti CO 2 ke atmosfir. Sebagai perbandingan di Kalimantan kemampuan pemendaman karbon untuk gambut rata-rata 0,74 ton/hektar/tahun. Selain emisi CO 2 lahan gambut juga menghasilkan emisi gas metan (CH 4 ). Peningkatan emisi kedua gas tersebut dalam jumlah besar akan mempengaruhi iklim global yang menimbulkan pemanasan secara global. Jika proses ini terus berlanjut maka tahun 2030 kenaikan suhu rata-rata di permukaan bumi menjadi 3º C yang akan mencairkan es dikutub utara, sehingga permukaan air laut naik antara 0,5 m 1 m. Namun demikian sebagian besar kawasan bergambut ini sudah menjadi kebun kelapa sawit masyarakat yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap keberadaan gambut. Lahan gambut yang masih tersisa dan tetap dipertahankan + 1.835 Ha diupayakan untuk tetap dipertahankan sebagai kawasan lindung, terutama yang mempunyai ketebalan 3 m. c. Kawasan Resapan Air Kawasan resapan air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan. Kawasan ini difungsikan untuk meresapkan dan menyimpan air hujan pada waktu musim hujan yang menjadi cadangan pada musim kemarau. Penetapan kawasan resapan air juga ditujukan sebagai upaya konservasi sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besarbesaran. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan, kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 5
Beberapa tempat di Kabupaten Agam yang memiliki kemampuan untuk menyerap air tanah dengan baik, dimana lokasi tersebut sebagai hulu dari sungai-sungai yang mengalir menuju ke pantai. Saat ini, kawasan tersebut sedang dimanfaatkan untuk lahan perkebunan dan pertanian (lahan budidaya). Sebagian besar di lahan ini terjadi kegiatan intensif masyarakat sehingga terjadi pengolahan-pengolahan tanah yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air. Bahkan beberapa jenis tanaman yang ditanam tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan cadangan air tanah, akibatnya adalah berkurangnya debit air yang dialirkan melalui sungai-sungai. Beberapa kawasan resapan air di kabupaten tersebar di beberapa lokasi seperti di lokasi kawasan hutan lindung dan kawasan catchmant area Danau Maninjau yang ada di Kecamatan Tanjung Raya. 4.1.1.2 Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, sempadan mata air, ruang terbuka hijau. a. Kawasan Sempadan Pantai Kawasan sempadan pantai mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Tentunya ketentuan ini semata-mata untuk melindungi sumber daya air yang dimiliki oleh Kabupaten Agam. Kawasan sempadan pantai ditetapkan dengan kriteria : Daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau Daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 6
Kabupaten Agam memiliki kawasan sempadan pantai yang memanjang sejauh ± 43 Km. Saat ini sepanjang kawasan yang seharusnya menjadi kawasan lindung ini telah banyak berubah menjadi kawasan budidaya seperti perkebunan sawit. Secara nyata bahwa telah terjadi pengrusakan zona lindung bagi ekosistem perairan laut di Kabupaten Agam akibat dari usaha dan kegiatan manusia yang terjadi di darat. Hal ini akan memberikan jalan bagi pencemaran lingkungan laut akibat kegiatan alam yang tidak bisa kita duga, misalnya: meningkatnya laju aliran permukaan di daratan (run-off) yang mengakibatkan meningkatnya jumlah sedimen secara cepat dan tidak alami lagi. Sedimentasi ini akan sangat mempengaruhi zona produktif yang menjadi habitat makhluk hidup di perairan pesisir pantai. Rencana penetapan kawasan sempadan pantai di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 adalah sepanjang pantai (± 43 Km) yang ada di Kecamatan Tanjung Mutiara. Jarak sempadan pantai minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat. Penetapan ini bertujuan salah satunya adalah untuk melindungi kawasan pantai dari ancaman abrasi air laut, selain untuk melindungi ekosistem pantai dari kerusakan baik yang diakibatkan oleh alam maupun kegiatan manusia. b. Kawasan Sempadan Sungai Kabupaten Agam memiliki sekitar 42 aliran sungai baik sungai sedang maupun kecil yang tersebar di seluruh kecamatan. Untuk melindungi dan melestarikan fungsi sungai, maka berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung ditetapkan bahwa kawasan sempadan sungai meliputi kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 7
Tabel 4.2 Kawasan Sempadan Sungai di Kabupaten Agam No Nama Sungai Kecamatan Keterangan 1 2 3 4 1 Batang Masang (Masang Kiri) Tanjung Mutiara Lubuk Basung Palembayan 2 Batang Antokan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Tanjung Raya Kriteria sempadan sungai sesuai dengan Permen PU No 63/PRT/1993 adalah : (1) Sungai bertanggul untuk kawasan perkotaan 3 meter. (2) Sungai bertanggul diluar kawasan perkotaan 5 meter. 3 Batang Aia Manggung Malalak, IV Koto 4 Batang Papo Palupuh 5 Batang Sianok IV Koto, Palembayan 6 Batang Nibung Tanjung Mutiara 7 Batang Tiku Tanjung Mutiara 8 Batang Jilatang Tanjung Mutiara 9 Batang Bawan Ampek Nagari 10 Batang Sitanang Ampek Nagari (3) Sungai takbertanggul didalam kawasan perkotaan 10 M bagi sungai yang kedalamannya < 3 M, 15 m bagi sungai yang kedalamannya 3 s/d 20 m, dan 30 M bagi sungai yang kedalamannya > 20 meter. (4) Sungai takbertanggul diluar kawasan perkotaan 100 M bagi luas DAS > 500 Km2 dan 50 M bagi sungai yang luas DAS < 500 Km2. 11 Batang Dareh Lubuk Basung 12 Batang Silayang Lubuk Basung 13 Batang Kalulutan Lubuk Basung 14 Batang Garingging Lubuk Basung 15 Batang Aia Piato Lubuk Basung 16 Batang Aia Pilubang Lubuk Basung 17 Batang Pingai Kecil Lubuk Basung 18 Batang Kurambik Tanjung Raya 19 Batang Amparan Tanjung Raya 20 Batang Kumango Tanjung Raya 21 Batang Lawang Matur 22 Batang Kasik Matur 23 Batang Ruso Matur 24 Batang Lurah Panta IV Koto 25 Batang Jam-Jam Malalak 26 Batang Naras Malalak 27 Batang Durian Banuhampu, Sungai pua RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 8
1 2 3 4 28 Batang Rakik Banuhampu, Sungai Pua 29 Batang Buo Banuhampu, Sungai Pua 30 Batang Aia Katik IV Angkek, Canduang 31 Batang Sarasah IV Angkek, Canduang 32 Batang Agam Tilkam, Magek, Baso 33 Batang Jabur Canduang, Baso 34 Batang Baramban Tilatang Kamang 35 Batang Alahan Anggang Palembayan 36 Batang Muar Palembayan 37 Batang Aia Lubuak Gadang Palembayan 38 Batang Aia Limau Pako Palembayan 39 Batang Baringin Palembayan 40 Batang Palupuh Palupuh 41 Batang Aia Anggan Palupuh 42 Batang Sirambungan Palupuh Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 c. Kawasan Sekitar Danau atau Waduk Penetapan kawasan lindung sekitar danau atau waduk dilakukan untuk melindungi danau atau waduk dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air danau/waduk, kondisi fisik pinggir dan dasar danau/waduk serta pengamanan dari kegiatan budidaya dan permukiman. Wilayah Kabupaten Agam memiliki danau besar yaitu Danau Maninjau. Pemanfaatan air dari Danau Maninjau adalah untuk pembangkit listrik tenaga air dan budidaya perikanan air tawar. Disamping juga ada waduk Batang Agam yang berfungsi sebagai penampung air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA Batang Agam). Untuk itu upaya perlindungan danau dan waduk tersebut menjadi penting untuk menjaga kelestarian air terutama pada kawasan hulu sungai yang memasok air ke danau atau waduk tersebut. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 9
Kriteria penetapan kawasan sempadan sekitar danau/waduk adalah : Daratan dengan jarak 50 100 meter dari titik pasang tertinggi air danau/waduk; atau Daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik tepian danau/waduk. Penetapan kawasan sempadan yang ada di Kabupaten Agam, terletak di Kawasan Danau Maninjau yang ada di Kecamatan Tanjung Mutiara. d. Kawasan Sempadan Mata Air Penetapan kawasan sempadan mata air dilakukan untuk melindungi keberadaan mata air sebagai salah satu sumber air permukaan dari kegiatan manusia yang mengganggu dan/atau merusak sumber air dari kegiatan budidaya dan permukiman. Kriteria penetapan sempadan mata air berupa daratan dengan jarak 50-100 meter mengelilingi mata air, dan secara fisik berupa jalur hijau yang ditanami pohon atau tanaman yang memiliki fungsi konservasi. Sebaran sempadan mata air di Kabupaten Agam disesuaikan dengan sebaran sumber mata air yang menyebar di seluruh wilayah. Tabel 4.3 Kawasan Sempadan Mata Air di Kabupaten Agam No Nama Mata Air Lokasi Keterangan 1 2 3 4 1 Saliuak Bukit Batabuah Canduang Kriteria penetapan sempadan mata air berupa 2 Pincuran Tujuah Bukit Batabuah Canduang daratan dengan jarak 50-3 Tarok Bukit Batabuah Canduang 100 meter mengelilingi mata air, dan secara fisik 4 Cumantiang Bukit Batabuah Canduang berupa jalur hijau yang 5 Karang Panjang 1 Lasi Canduang ditanami pohon atau tanaman laut yang memiliki 6 Pincuran Randah Lasi Canduang fungsi konservasi 7 Mesjid D F Bukit Batabuah Canduang 8 Sarasah Bungau Lasi Canduang 9 Batang Anak Aie Lasi Canduang 10 Anak Aie Lasi Canduang 11 Karang Panjang Lasi Canduang RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 10
1 2 3 4 12 Sarasah Batu Sampik Canduang Koto Laweh Kriteria penetapan sempadan mata air 13 Lurah Pisang Canduang Koto Laweh berupa daratan dengan 14 Batang Aie Pasie Kampung Tangah jarak 50-100 meter mengelilingi mata air, dan 15 Kurai Tabek Panjang Baso secara fisik berupa jalur 16 Mancuang Padang Tarok Baso hijau yang ditanami pohon 17 Lundang Koto Tinggi Baso atau tanaman laut yang memiliki fungsi 18 Luhak Banunang Tabek Panjang Baso konservasi. 19 Batu Putiah Simarasok Baso 20 Ranah-Sei Gadang Koto Tinggi Baso 21 Sei Lumpua Padang Tarok Baso 22 Solok Padang Tarok, Baso 23 Dama Sikuciang I Lubuk Basung 24 Dama Sikuciang Ii Lubuk Basung 25 Hulu Aie Lubuk Basung 26 Silayang Lubuk Basung 27 Sigamuruah Lubuk Basung 28 Ulu Sigaga Lubuk Basung 29 Pincuran B T Tanjung Raya 30 Pincuran Tujuah Tanjung Raya 31 Pincuran Gadang Tanjung Raya 32 Mato Aie Bayua Tanjung Raya 33 Mato Aie Angek Tanjung Raya 34 Batu Nanggal Tanjung Raya 35 Aie Tirih Koto Gadang 36 Aie Barambuih Koto Gadang 37 Badorai Sungai Pua 38 Sariak Sungai Pua 39 Tabek Barawak Sungai Pua 40 Mato Aia Ampuah Malalak 41 Limau Badak Malalak 42 Kapalo Aie Malalak Timur 43 Ampuah Malalak Timur 44 Mato Aia Malalak Timur 45 Aia Pakak Malalak Timur 46 Batu Malalak Timur 47 Surau Pinang Tigo Balai Matur 48 Surau Gadang Tigo Balai Matur 49 Pincuran Gadang Matur Hilir 50 Piciputan Kampong Pili Palembayan Sumber : Master Plan SPAM Tahun 2008 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 11
4.1.1.3 Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam Untuk mencegah kerusakan kawasan suaka alam yang ada di Kabupaten Agam, maka perlu dilakukan pengendalian agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun bagi kelestarian alam. Mengingat pentingnya kelestarian alam bagi makhluk hidup, maka diambil langkah-langkah perlindungan hutan dan pelestarian alam, diantaranya dengan menetapkan kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Sesuai dengan karakteristik fisiografi yang dijumpai di wilayah Kabupaten Agam serta berdasarkan hasil skoring maka kawasan yang termasuk suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang ditetapkan meliputi : a. Kawasan suaka alam yang dimaksud adalah cagar alam yang mempunyai fungsi sesuai dengan PP 10 tahun 2010. Penetapan kawasan ini meliputi cagar alam Merapi (Kecamatan Banuhampu, Baso, Ampek Angkek dan Canduang seluas ± 3.270 Ha ). b. Cagar Alam Bukit Sirabungan di Kecamatan Palupuh seluas ± 1.930 Ha, c. Cagar Alam Batang Palupuh yang ada di Kecamatan Palupuh seluas ± 3.40 Ha, d. Cagar Alam Maninjau Utara dan Selatan yang berada di Kecamatan Matur, Tanjung Raya, IV Koto, Palembayan seluas ±17.910 Ha, e. Cagar Alam Singgalang Tandikat yang berada di Kecamatan Banuhampu, IV Koto dan Malalak seluas ± 4.420 Ha. Total luas cagar alam yang ada di Kabupaten Agam seluas ± 27.533,40 Ha. Lebih jelas mengenai kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya di Kabupaten Agam yang didasarkan atas keputusan Menteri dan keputusan Gubernur Sumatera Barat dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 12
Tabel 4. 4 Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam Berdasarkan Keputusan Menteri dan Keputusan Gubernur No Kawasan Luas (Ha) Lokasi Ket 1 Cagar Alam Merapi 3.270 Kec. Banuhampu, Ampek Angkek, Canduang dan Baso 2 Maninjau Utara Selatan 17.910 Kec. Matur, Palembayan, Tj Raya, IV Koto dan Lubuk Basung 3 Singgalang Tandikat 4.420 Kec. Banuhampu, Sungai Pua dan IV Koto 4 Bukit Sirabungan 1.930 Kec. Palupuh 5 Batang Palupuh 3.40 Kec. Palupuh Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Agam tahun 2009 4.1.1.4 Kawasan Rawan Bencana Alam Menurut Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan bahwa rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Salah satu faktor terjadinya bencana dikarenakan lingkungan. Oleh karena itu, kondisi daerah rawan bencana harus dikenali dan dibuat rencana tata ruang daerah rawan bencana. Selanjutnya sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), disebutkan bahwa kawasan bencana alam dibedakan menjadi kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir. Untuk wilayah Kabupaten Agam, potensi kerawanan bencana alam tersebut, meliputi : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 13
a. Kawasan Rawan Gerakan Tanah/Longsor Gerakan tanah/longsor adalah proses pemindahan/pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah: jatuhan (falls), gelincir (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. Jatuhan (Debris Falls) Jatuhan (Debris Falls) merupakan gerakan bebas dari massa atau material tanah atau batuan yang berasal dari lereng curam. Tipe jatuhan yang terdapat di Kabupaten Agam diwakili oleh Batuan Tufa Kuarter seperti yang terdapat di Ngarai Sianok. Batuan penyusunnya adalah pasir tufa yang sangat mudah hancur dan lepas-lepas akibat rekahan-rekahan yang terdapat didalamnya serta membentuk lereng sangat curam dan hampir tegak. Jatuhan terjadi akibat meresapnya air hujan ke dalam batuan tufa yang porus sehingga menambah berat dari massa batuan dan memperlemah ikatan antar rekahan dan pori di dalam batuan tersebut. Proses lain yang dapat mengakibat-kan longsoran antara lain karena kikisan atau erosi maupun pekerjaan galian dibagian dasar ngarai. Gelinciran (Sliding) Gelinciran (Sliding) adalah gerakan massa tanah atau batuan sepanjang lereng perbukitan dan pegunungan yang terlepas dari ikatan tanah atau batuan asalnya. Pergerakan umumnya disebabkan oleh pertambahan massa air yang bercampur dengan rombakan tanah atau batuan dan mengakibatkan massa tanah atau batuan berkurang daya ikatnya dan menjadi RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 14
berat. Tanah atau batuan yang menyusun tipe gelinciran pada umumnya terjadi dari massa pasiran atau bongkah-bongkah batuan lepas dalam beberapa ukuran mulai dari ukuran kerikil sampai bongkahan berukuran besar lebih dari 5 meter. Di Kabupaten Agam tipe gelinciran paling banyak dijumpai diberbagai dinding jalan dan lereng/lembah sungai dalam berbagai ukuran seperti yang terdapat di sekitar nagari Galapung Sungai Lintabung sebelah selatan Danau Maninjau. Nendatan (Slumps) Longsoran ini dikenali oleh adanya retakan dipermukaan. Pergerakan longsoran diperlihatkan dari bentuk permukaan berupa lingkaran atau bentuk tapal kuda. Di Kabupaten Agam, longsoran tipe ini terdapat disekitar lereng luar Gunung Maninjau yaitu di jalan antara Koto Tuo Balingka di jalan masuk ke stasiun transmisi Telkom dan di jalan antara Matur Palembayan. Tabel 4.5 Lokasi Rawan Bahaya Longsor di Kabupaten Agam Titik Lokasi Koordinat UTM 47S x y Nagari Kecamatan Ket 1 2 3 4 5 6 1 624129 9965474 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 2 636427 9965140 Maninjau Tanjung Raya debris fall 3 635667 9959030 Sungai Batang Tanjung Raya debris fall 4 635865 9958416 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 5 634906 9955600 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 6 630673 9956016 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 7 629582 9957718 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 8 635663 9958970 Sungai Batang Tanjung Raya debris fall 9 635870 9958420 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 10 630690 9956010 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 11 629572 9957712 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall 12 623773 9963804 Tanjung Sani Tanjung Raya debris fall RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 15
1 2 3 4 5 6 13 640563 9971524 Tigo Balai Matur Slump 14 640561 9971528 Tigo Balai Matur Slump 15 640599 9972348 Tigo Balai Matur Slump 16 640601 9972348 Tigo Balai Matur Slump 17 640602 9972348 Tigo Balai Matur Slump 18 639822 9974964 Baringin Palembayan Slump 19 639466 9974652 Baringin Palembayan debris fall, tufa maninjau 20 638548 9978280 Sungai Pua Palembayan Slump 21 635274 9981500 Ampek Koto Palembayan 22 631955 9982454 Tigo Koto Silungkang 23 631192 9982576 Tigo Koto Silungkang Palembayan Palembayan Palembayan debris fall, tufa maninjau debris fall, tufa maninjau debris fall, tufa maninjau 34 616330 9967234 Lubuk Basung Lubuk Basung debris fall, tufa maninjau, aktivitas galian 41 617072 9977472 Batu Kambiang Ampek Nagari debris fall, tufa maninjau 48 643080 9969010 Matua Hilia Matur debris fall, tufa maninjau 49 643201 9968650 Matua Hilia Matur debris fall, tufa maninjau 55 644296 9960458 Balingka IV Koto Slump 56 643577 9959948 Balingka IV Koto debris fall, fractured rocks 57 643161 9959742 Balingka IV Koto debris fall, fractured rocks 58 643058 9959252 Balingka IV Koto debris fall, fractured rocks 59 643343 9958826 Malalak Timur Malalak debris fall, fractured rocks 60 642987 9958560 Malalak Timur Malalak debris fall, fractured rocks 61 642743 9958558 Malalak Timur Malalak debris fall, fractured rocks 63 641240 9957778 Malalak Utara Malalak Slump RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 16
1 2 3 4 5 6 65 651283 9966056 Koto Gadang IV Koto debris fall 70 649420 9973018 Koto Rantang Palupuh debris fall, tufa maninjau 75 645867 9984170 Pasia Laweh Palupuh debris fall, tufa maninjau, gerusan sungai 76 646085 9984456 Pasia Laweh Palupuh circular sliding plane, slump 77 646171 9984580 Pasia Laweh Palupuh debris fall, tufa maninjau 82 649260 9987894 Pasia Laweh Palupuh Longsor 84 647710 9989854 Pagadih Palupuh debris fall Sumber : Analisa Rawan Bencana Kabupaten Agam Tahun 2009 b. Kawasan Rawan Gelombang Pasang. Kawasan rawan gelombang pasang ditetapkan pada kawasan sekitar pantai yang memiliki kecepatan gelombang 10-100 km yang diakibatkan oleh angin, dan grafitasi bulan atau matahari. Wilayah di Kabupaten Agam yang rawan terhadap gelombang pasang adalah kawasan sepanjang pantai di Kecamatan Tanjung Mutiara. c. Kawasan Rawan Banjir Banjir terjadi apabila volume atau kelebihan air tidak dapat ditampung pada tempatnya sehingga melimpah keluar. Tempat penyimpanan air secara alamiah diantaranya adalah sungai, rawa, danau atau bendungan. Daerah banjir terjadi sepanjang aliran sungai seperti Batang Tiku, Batang Sungai Pingai, Batang Kalulutan, Batang Dareh, Batang Bawan, Batang Sitanang, bagian hilir dari Batang Simpang Jernih, Simpang Keruh dan Batang Layah. Banjir pada sungai sungai tersebut di atas pada umumnya terbatas pada morfologi dataran banjir (flood plain). Selain dari lokasi lokasi tersebut banjir juga terjadi pada daerah rawa yang terdapat di sekitar dataran pantai yang juga berhubungan dengan aliran sungai di bagian hilir. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 17
Lokasi banjir di wilayah Kabupaten Agam antara lain : 1. Kecamatan Palembayan Nagari Salareh Aia. 2. Kecamatan Tanjung Raya: Nagari Koto Kaciak, Nagari Koto Gadang 3. Kecamatan Lubuk Basung: Nagari Garagahan, Nagari Manggopoh. 4. Kecamatan Ampek Nagari: Nagari Bawan, Nagari Batu Kambiang, Nagari Sitalang. 5. Kecamatan Tanjung Mutiara: Nagari Tiku V Jorong, Tiku Utara dan Tiku Selatan. 6. Kecamatan Tilatang Kamang: Nagari Koto Tangah. 7. Kecamatan Palupuh: Nagari Pasia Laweh. d. Kawasan Rawan Letusan Gunung Api Di daerah administrasi Kabupaten Agam mempunyai dua gunung api aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikat. Kegiatan vulkanisme masa lampau yang ditunjukan Gunung Marapi adalah keterdapatan produk hasil erupsi disekitarnya yang umumnya bersifat eksplosif, walaupun ada singkapan lava di sekitar puncak. Berdasarkan keadaan morfologinya, setengah lingkaran bagian timur akan lebih kecil terhadap bahaya aliran yang berasal dari puncak, namun demikian masih akan terancam oleh bahaya timpahan besar bom gunungapi atau bahaya eflata lainnya yang terhempas dari udara (airborne). Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunungapi di Kabupaten Agam antara lain: Letusan Gunung Marapi: Aliran Batang Sariak, Limo Kampung, Tabek, Kepalakoto, Lukok 1, Surau baru, Padanglaweh, Lubuk dan Pulungan. Letusan Gunung Tandikat: tidak terlalu membahayakan kecuali sekitar Toboh. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 18
Nama : Marapi Tabel 4.6 Deskripsi Gunung Merapi Nama Lain : Merapi, Berapi (Neumann van Padang, 1951, p.22) Nama Kawah : Kaldera Bancah (A), Kapundan Tuo (B), Kabun Bungo (C), Kapundan Bongso (D), Kawah Verbeek atau Kapundan Tenga (D4). Nama Lapangan solfatara : Sibangor Julu Lokasi a. Geografi b. Administrasi Ketinggian : 2891,3 m dml Tipe Gunungapi : Strato : : 0 o 22 47,72 L.S 100 o 28 16,71 B.J Sumatera Barat, Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar. e. Kawasan Rawan Gempa Bumi Bahaya seismisitas gempa merupakan bencana yang terjadi disebabkan oleh terlepasnya energi tektonik kerak bumi. Akibat terpaan dari gelombang seismisitas gempa. Di wilayah Kabupaten Agam zonasi kerusakan akibat terpaan gelombang seismik gempa berdasarkan analisis dapat diperlihatkan pada Gambar 4.1 Gambar 4.1 Hasil analisis probabilitas hazard 2% (atas) dan 10% (bawah) berdasarkan gempa periode ulang 50 tahunan (Petersen M.D. Dkk, 2004). RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 19
Dari gambar tersebut kemungkinan zona kerusakan paling tinggi, warna merah, tersebar disepanjang Pegunungan Bukit Barisan, kurang lebih daerah yang menghubungkan antara Danau Singkarak, Kota Bukittinggi sampai sekitar Bonjol di sebelah Barat Laut. Zona kerusakan lebih rendah diapit oleh dua sesar/patahan yang diperlihatkan oleh warna merah muda. f. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif Bahaya sesar aktif adalah bagian dari lempeng bumi yang mengalami patahan atau tersesarkan dan masih bergerak hingga saat ini. Sesar aktif ditunjukkan oleh bentuk kelurusan topografi dimana lokasi pusat gempa terjadi disekitarnya. Pada wilayah Kabupaten Agam, sesar aktif memotong 6 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Agam yaitu : 1. Kec. Palupuh 4. Kec. IV Koto 2. Kec. Palembayan 5. Kec. Banuhampu 3. Kec. Matur 6. Kec. Sungai Pua g. Kawasan rawan tsunami Daerah lepas pantai Kabupaten Agam merupakan tempat dimana subduksi tektonik terjadi. Distribusi pusat gempa dilepas pantai menunjukkan potensi gempa yang menyebabkan terjadi tsunami besar. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Agam saat ini adalah tidak adanya permodelan gelombang tsunami di pesisir pantainya. Dengan kondisi keterbatasan ini, maka dilakukan penarikan garis tsunami berdasarkan garis kontur elevasi 10 meter dimana kejadian gelombang tsunami terburuk mencapai elevasi ini. Untuk wilayah Kabupaten Agam yang termasuk dalam daerah yang potensial terhempas hantaman tsunami adalah disekitar Subangsubang, Labuhan, Muaraputus, Masang, Ampek Nagari dan Tiku. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 20
h. Kawasan rawan abrasi Abrasi merupakan salah satu bagian dari proses perubahan muka air laut setempat yang dalam istilah ilmiah disebut relative sea level change (RSLC). Abrasi atau erosi garis pantai mengubah garis pantai berpindah ke arah daratan. Lawan dari abrasi adalah akresi atau sedimentasi yang menyebabkan garis pantai maju ke arah laut. Proses yang terlibat dalam perubahan garis pantai diakibatkan oleh banyak hal diantaranya kondisi geologi dan morfologi pantai, kondisi ekologi, klimatologi dan oseanologi. Dari semua faktor tersebut di atas pengaruh gelombang dan arus laut merupakan faktor dominan. Gelombang berfungsi menghancurkan sedimen yang menyusun garis pantai dan arus laut mengangkut hasil rombakan searah dengan arah arus laut. Pada wilayah Kabupaten Agam, wilayah yang terkena abrasi yaitu : 1. Masang (800 meter). 2. Ujungmasang (1.100 meter). 3. Muaraputus (300 meter). 4. Ujung Labung (500 meter). 5. Pasir Panas (200 meter). 6. Pelabuhan Tiku (100 meter). Dari lokasi-lakosi tersebut diketahui bahwa lokasi di Kabupaten Agam yang terkena abrasi secara keseluruhan terdapat di Kecamatan Tanjung Mutiara. 4.1.1.5 Kawasan Lindung Geologi Kawasan lindung geologi merupakan kawasan yang memiliki keunikan baik dari jenis bebatuan, bentang alam, proses geologi maupun kawasan imbuhan air tanah. Kabupaten Agam memiliki kawasan lindung geologi keunikan bentang alam berupa kaldera dan juga ngarai/lembah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 21
a. Kaldera Maninjau Kawasan lindung geologi yang ada di Kabupaten Agam berupa keunikan bentang alam kaldera yang terbentuk akibat letusan Gunungapi Maninjau. Kaldera ini disamping keunikan kejadiannya juga memilki daerah yang sangat rawan terhadap bencana yaitu Nagari Tanjung Sani, tepatnya Jorong Batu Nanggai, Galapuang dan Muko Jalan. b. Ngarai/Lembah Sianok Kawasan lindung geologi lainnya yang ada di Kabupaten Agam, berupa kawasan Ngarai yaitu Ngarai Sianok. Letak lokasi Ngarai Sianok berada di Kecamatan IV Koto, tepatnya berada di perbatasan antara Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. 4.1.1.6 Kawasan Lindung Lainnya Kawasan lindung lainnya yang ada dikabupaten Agam meliputi; kawasan perlindungan plasma-nutfah, ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang), dan hutan manggrove. a. Kawasan perlindungan plasma nutfah. Kawasan perlindungan plasma nutfah di Kabupaten Agam berada di Kecamatan Palupuh Nagari Koto Rantang. Plasma Nutfah yang dilindungi adalah bunga raflesia (Raflesia Arnoldy). Lokasi ini disamping dilindungi untuk menjaga plasma nutfah juga sekaligus dijadikan salah satu objek wisata di Kabupaten Agam dengan daya tarik utamanya adalah bunga raflesia yang sulit dijumpai didaerah lain. b. Kawasan perlindungan ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang). Salah satu kawasan laut yang perlu dilindungi adalah memelihara ekosistem laut terutama ekosistem pulau-pulau kecil. Salah satu RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 22
ekosistem laut yang ada di Kabupaten Agam adalah Pulau Tangah dan Pulau Ujung. Disekitar pulau tersebut terdapat ekosistem terumbu karang yang berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan ikan dan satwa laut lainnya. Untuk itu, guna menjaga kelestariannya serta meminimalisasi kerusakan yang disebabkan ulah manusia maka dipandang perlu untuk menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan lindung. c. Kawasan lindung hutan mangrove & nipah. Kawasan lindung hutan magrove & nipah juga menjadi perhatian untuk dilestarikan. Hutan Mangrove yang ada di Kabupaten Agam berlokasi di pesisir Kecamatan Tanjung Mutiara. Fungsi hutan mangrove selain sebagai tempat pemijahan ikan-ikan laut dan ikan air tawar juga sekaligus sebagai perlindungan pertama dari hempasan ombak maupun tsunami. Adapun lokasi hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Mutiara terletak pada Nagari Tiku Selatan dan Muaro Putus, Masang Nagari Tiku V Jorong. 4.2 KAWASAN BUDIDAYA Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Penetapan kawasan budidaya dimaksudkan untuk memudahkan pengelolaan, dan pemantauan kegiatan termasuk penyediaan prasarana dan sarana maupun penanganan dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya. Penetapan kawasan budidaya di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 selain didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRWN dan RTRWP Provinsi Sumatera Barat, juga hasil kesepakatan antar wilayah pada Ditjen Penataan Ruang yang menyangkut klasifikasi pemanfaatan ruang kabupaten dan provinsi. Luas keseluruhan kawasan budidaya di Kabupaten Agam mencapai ± 161.667,5 Ha atau 72,42 % dari luas wilayah administrasi, yang meliputi : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 23
a) Kawasan Peruntukan Hutan Produksi b) Kawasan Pertanian; c) Kawasan perkebunan; d) Kawasan Perkebunan; e) Kawasan Perikanan; f) Kawasan pertambangan; g) Kawasan industri; h) Kawasan pariwisata; i) Kawasan permukiman; j) Kawasan peruntukan lainnya. 4.2.1 Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Kawasan budidaya hutan produksi, dibedakan menjadi hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan produksi yang dapat di konversi. Dari penjelasan kriteria yang telah dijelaskan sebelumnya, Kabupaten Agam memiliki potensi hutan produksi yang cukup luas dan tersebar di beberapa kecamatan. Untuk rencana pengembangan kawasan peruntukan hutan produksi sampai dengan tahun 2030 adalah seluas ± 21.390 Ha yang terdiri dari kawasan hutan produksi terbatas (HPT) seluas ± 15.250 Ha, hutan produksi tetap (HP) seluas ± 1.430 Ha, dan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas ± 7.210 Ha. Penetapan kawasan hutan produksi ditujukan untuk mewujudkan kawasan hutan produksi yang dapat memberikan manfaat : a. Mendorong peningkatan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; b. Mampu meningkatkan fungsi lindung, menjaga keseimbangan tata air dan lingkungan, dan pelestarian kemampuan sumberdaya hutan; c. Mampu menjaga kawasan lindung terhadap pengembangan kawasan budidaya; RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 24
d. Mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan, meningkatkan pendapatan daerah, dan meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar hutan; e. Meningkatkan nilai tambah produksi hasil hutan dan industri pengolahannya, dan meningkatkan ekspor; atau f. Mendorong perkembangan usaha dan peran masyarakat sekitar hutan. Tabel 4.7 Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Produksi Kabupaten Agam Hingga Tahun 2030 No Jenis Perubahan Luas Wilayah (Ha) Luas Hutan Produksi Terbatas Sk. 422 th 1999 Rencana th 2030 Rencana Perubahan Luas Ha % 1 Hutan Produksi Terbatas 223.230 20.650 15.250-5.400 26,2 2 Hutan Produksi 6.140 1.430 4.710 76,7 3 Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi 6.100 6100 100 Sumber : Hasil rencana, 2009 Sebaran hutan produksi terbatas meliputi Sipinang seluas ± 7.490 Ha, dan Pagadih seluas ± 7.760 Ha. Sementara untuk hutan produksi terdapat di lokasi Bukit Lohong Baso. 4.2.2 Kawasan Peruntukan Pertanian Pembangunan pertanian telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembangunan Kabupaten Agam, baik terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) maupun penyerapan tenaga kerja. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 25
Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar yang ada di Kabupaten Agam adalah lahan sawah seluas ± 28,682 Ha. Disamping itu juga terdapat potensi tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai ± 7.047 Ha. Rencana pengembangan budidaya peruntukan pertanian diarahkan untuk pemanfaatan secara intensif lahan-lahan yang belum dimanfaatkan dan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Agam. Selain itu juga akan ditetapkan lahan-lahan pertanian tanaman pangan abadi untuk mendukung ketahanan pangan. 4.2.2.1 Pertanian Tanaman Pangan (Lahan Basah) Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan diperuntukan bagi tanaman pangan lahan basah dimana pengairannya dapat diperoleh secara alamiah maupun teknis. Kawasan yang sesuai untuk tanaman pangan lahan basah adalah yang mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan yang memiliki kriteria : 1) Ketinggian < 1.000 meter. 2) Kelerengan < 40 %; 3) Kedalaman efektif lapisan tanah atas ± 30 cm. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan air untuk kebutuhan pengairan pertanian maka perlu dilakukan pengaturan sebagai berikut : 1) Pengaturan debit air irigasi sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan air. 2) Pemeliharaan sumber air untuk menjaga kelangsungan irigasi. 3) Mengendalikan pemukiman dan budidaya lainnya. Rencana alokasi pertanian lahan basah di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 tersebar di berbagai kecamatan, yaitu : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 26
1. Kecamatan Lubuk Basung 2. Kecamatan IV Nagari 3. Kecamatan Palembayan 4. Kecamatan Tanjung Raya 5. Kecamatan IV Koto 6. Kecamatan Banuhampu 7. Kecamatan Sei Puar 8. Kecamatan Tilatang Kamang 9. Kecamatan Kamang Magek 10. Kecamatan Baso 11. Kecamatan IV Angkat 12. Kecamatan Canduang 4.2.2.2 Rencana Lahan Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan Dari hasil analisis terkait kebutuhan lahan pertanian di Kabupaten Agam, dapat dijelaskan bahwa berdasarkan asumsi laju alih fungsi lahan sawah 0,40 % per tahun dan dengan IP 0,80 % /th dan dengan peningkatan produktifitas 0,1 KU/th serta peningkatan luas panen 15,44 Ha/Th dan peningkatan luas tanam 16,99 ha/th maka pada tahun 2030 dapat diprediksi proyeksi alih fungsi lahan terhadap produksi tahun 2010 2030 sebagai berikut : Tabel 4.8 Proyeksi Perubahan Fungsi Lahan Pertanian terhadap Produksi Sawah Tahun 2010-2030 Tahun Luas Baku Sawah (Ha) Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) IP Produktivitas (KU/Ha) Produksi (Ton) 2008 28,682 51,471 51,462 179,42 47,22 243,004 2009 28,652 54,005 52,787 184,23 51,03 269,372 2010 28,537 58,084 52,803 185,03 51,13 269,984 2030 26,332 58,229 52,936 201,03 53,13 Sumber : Hasil analisa data Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura 281,247 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 27
Tabel 4.9 Kawasan Lahan Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Agam No Kecamatan Luas (Ha) 1 Tanjung Mutiara 1.190 2 Lubuk Basung 4.651 3 Ampek Nagari 1.790 4 Tanjung Raya 2.510 5 Matur 1.430 6 IV Koto 1.149 7 Malalak 968 8 Banuhampu 1.212 9 Sungai Pua 897 10 IV Angke Canduang 1.695 11 Canduang 1.483 12 Baso 1.510 13 Tilatang Kamang 2.036 14 Kamang Mangek 1.805 15 Palembayan 3.280 16 Palupuh 1.046 Total 28,652 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 Keterangan Lahan pertanian tanaman pangan abadi yang di tetapkan di Kabupaten Agam tidak termasuk dalam wilayah perkotaan dan kawasan perbatasan dengan Kota Bukittinggi. Adapun lokasi-lokasi tersebut adalah sebagai berikut : Ibukota Kecamatan yang meliputi : Tiku, Lubuk Basung, Bawan, Maninjau, Koto Gadang, Balingka, Malalak Timur, Sei Buluh, Sariak, Lasi, Biaro, Pakan Kamis, Kamang Hilir, Baso, Palupuh, Matur. Kawasan Strategis Berbatasan yang meliputi : Kawasan Gadut, Kapau, Biaro Gadang, Ampang Gadang, Pasie, Batu Taba, Sekitar Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Ladang Laweh, Padang Luar, sebagian Guguak Tabek Sarojo, sebagian Koto Gadang, Sianok VI Suku, sebagian Koto Panjang, serta sebagian Panta Pauh. 4.2.2.3 Pertanian Hortikultura Peruntukan pertanian lahan kering adalah kawasan yang diperuntukan bagi tanaman pangan lahan kering berupa tanaman palawija, sayursayuran dan buah-buahan dengan kriteria kawasan berada pada : Ketinggian <1.000 meter Kelerengan <40 % Kedalaman efektif lapisan tanah > 30 cm Rencana alokasi pertanian hortikultura di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 diarahkan di Kecamatan Ampek Angkek, Baso, Canduang, RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 28
Sungai Pua, Banuhampu, IV Koto dan Matur yang dianggap memiliki kondisi lahan paling potensial untuk dikembangkan sebagai daerah pengembangan holtikultura.. 4.2.2.4 Peternakan Peternakan merupakan usaha sampingan bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Agam. Hal ini disebabkan waktu yang dipergunakan untuk usaha ini tidak banyak. Sehingga usaha ini lebih banyak dikerjakan sebagai sampingan dan hasilnya dijadikan sebagai tabungan keluarga. Hanya budidaya ayam ras petelur yang memerlukan waktu lebih banyak karena sifat usahanya lebih intensif. Kawasan peruntukan peternakan dapat dibagi menurut jenis ternak sebagi berikut : a. Ternak besar (sapi, kerbau dan kuda) Ternak sapi berkembang diseluruh Kabupaten Agam terutama di Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung dan IV Nagari merupakan kawasan pengembangan Sapi Bali. Kecamatan IV Angkek, Tilatang Kamang dan Baso, lebih banyak dikembangkan sapi hasil persilangan yaitu Simental, Brahman, PO (Peranakan Ongole), Limousine, sedangkan di Kecamatan Tanjung Raya dan Malalak dikembangkan Sapi PO dan Brahman. Ternak kerbau banyak terdapat di Kecamatan Tanjung Mutiara, Matur, Palembayan, Lubuk Basung dan IV Koto. Kuda banyak terdapat di Palupuh, Palembayan (digunakan untuk kuda beban) Tilatang Kamang, dan IV Angkek banyak digunakan untuk transportasi/bendi dan sebagai kuda pacu. b. Ternak kambing berkembang di Kamang Magek, IV Nagari dan Lubuk Basung. c. Ternak Unggas: Ayam buras banyak terdapat di Kecamatan Tilatang Kamang, Baso, Lubuk Basung dan Tanjung Mutiara; RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 29
Ayam ras petelur dikembangkan di Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan IV Angkek; Ayam ras pedaging dikembangkan di Kecamatan Tilatang Kamang, Baso, Kamang Magek dan Lubuk Basung; Itik dikembangkan di Kecamatan Tilatang Kamang dan Kamang Magek dengan sistem mina padi. 4.2.3 Kawasan Peruntukan Perkebunan Kawasan perkebunan di Kabupaten Agam dikembangkan berdasarkan fungsi kawasan dan potensi yang ada pada daerah masing-masing memiliki prospek ekonomi cepat tumbuh. Menurut jenis komoditasnya, pengembangan perkebunan meliputi kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kelapa dalam, kasiavera dan gambir. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan dengan pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian untuk perkebunan, berada pada kawasan budidaya, dan menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, dan kawasan permukiman. Tabel 4.10 Rencana Luas Peruntukan Perkebunan di Kabupaten Agam Hingga Tahun 2030 Komoditi Luas (Ha) Perkebunan Rakyat PBSN 1 2 3 4 Karet 973 973 0 Kelapa Dalam 11.363 11.363 0 Kelapa Sawit 31.571 16.738 14.833 Cengkeh 418 418 0 Casiavera 7.585 7.585 0 Kopi 3.394 3.394 0 Pala 1.046 1.046 0 Gambir 348 348 0 Kakao 4.682 3.003 1.629 Vanillie 200 0 0 Sumber : Hasil rencana, 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 30
Sebaran lokasi rencana peruntukan kawasan perkebunan yang ada di Kabupaten Agam meliputi : Karet ( Kec. Ampek Nagari, Kec. Palembayan) Kelapa Dalam (Kec Tanjung Mutiara, Ampek Nagari, Lubuk Basung) Cengkeh ( Kec. Tanjung Mutiara, Matur, Malalak) Casiavera (Kec. Malalak, Matur, Tanjung Raya) Pala ( Kec. Tanjung Mutiara) Gambir ( Kec. Palupuh) Kacao (tersebar di seluruh Kecamatan Agam) 4.2.4 Kawasan Peruntukan Perikanan 4.2.4.1 Peruntukan Perikanan Tangkap Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 pasal 3, bahwa wilayah Provinsi/Kabupaten, sebagaimana yang dimaksud pasal 2 ayat 1, terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sesuai dengan undang-undang tersebut maka batas wilayah laut termasuk kawasan perikanan tangkap yang pengelolaannya menjadi wewenang Kabupaten Agam adalah sejauh 4 mil. Produksi perikanan laut pada tahun 2008 mencapai 5.722,78 Ton dengan jumlah nelayan sebanyak 2.312 orang. Dari kondisi tersebut perlu lebih dikembangkan lagi khususnya dalam sektor perikanan tangkap kedepan, untuk itu RTRW Kabupaten Agam periode 2010-2030 akan mengembangkan kawasan perikanan tangkap berbasis agro. Rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap di Kabupaten Agam dikembangkan di Kecamatan Tanjung Mutiara tepatnya di kawasan pesisir Tiku yang memiliki panjang pantai 43 Km. Adapun RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 31
luas laut di wilayah Kabupaten Agam mencapai 313,04 Km2 (Daerah Kewenangan Kabupaten Agam). 4.2.4.2 Budi Daya Perikanan Perikanan budidaya dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu budidaya laut, budidaya tambak dan budidaya air tawar. Kriteria untuk kawasan pengembangan budidaya sebagai berikut : Kelerengan lahan < 8 % Persediaan air cukup Jauh dari sumber pencemaran, baik pencemaran domestik maupun industri. Kualitas air baik (memenuhi kriteria kualitas air untuk budidaya perikanan). Kriteria untuk kawasan pengembangan budidaya laut adalah 1) Terlindung dari gelombang dan angin untuk menghindari terjadinya kerusakan pada kegiatan atau usaha budidaya yang berasal dari gelombang dan arus yang besar. 2) Jauh dari permukiman dan industri. Limbah atau pencemaran yang berasal dari rumah tangga dan industri dapat mengakibatkan kerusakan perairan dan kegagalan usaha budidaya. 3) Jauh dari muara sungai. Muara sungai juga sangat mempengaruhi budidaya laut dengan adanya proses sedimentasi akibat aktifitas di daerah atas (Up-land) seperti penebangan hutan, pertanian, permukiman dan industri yang dekat bantaran sungai. Kondisi ini menjadi kompleksi karena daerah muara sungai secara oseanografi sangat dipengaruhi oleh air laut. Akibatnya, kondisi perairan, biota dan ekosistemnya memiliki karakteristik yang khas. Dengan demikian kegiatan budidaya laut tidak mungkin dilakukan di daerah ini. 4) Jauh dari kawasan ekosistem penting laut, seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 32
5) Kualitas air baik. Kualitas ini mengidikasikan kelayakan kondisi perairan yang dapat dijadikan lokasi budidaya laut. Kelayakan kondisi perairan ini dapat diukur dari parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter Fisika; Kecerahan; parameter kimia: Disolved Oxygen (DO), Chemical Oxygen Demand (COD), kandungan organik (organic matter), Biolocal Oxygen Demand (BOD), kandungan klorofil dan parameter biologi: plankton. Berdasarkan Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, disebutkan bahwa untuk Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Agam termasuk dalam pengembangan kawasan Minapolitan. Sebagai pusat kawasan Minapolitan ditetapkan di kawasan maninjau. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Agam meliputi: 1) Pusat Kawasan Minapolitan terdapat di kawasan maninjau 2) Sentra pengembangan unit pembenihan rakyat (UPR) Majalaya, Nilem dan pengembangan budidaya minapadi di Kecamatan Ampek Angkek. 3) Sentra Budidaya Ikan Air tawar: nila, patin dan majalaya serta pengembangan keramba jaring apung (KJA) ramah lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar kawasan Danau Maninjau. Untuk pengembangan budidaya di sekitar Danau maninjau, harus mengacu pada Peraturan Bupati No.22 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Danau Maninjau (jarak KJA dari pantai 50-100 m dan 200 m dari objek wisata), dan adanya zonasi. 4) Sentra budidaya ikan patin dan pengolahan lele di Kecamatan Tanjung Raya. 5) Sentra pengembangan nila, mas dan lele serta pengembangan UPR di Kecamatan Lubuk Basung RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 33
4.2.4.3 Pengolahan Ikan Dengan produksi tangkapan ikan laut yang mencapai ± 5.722,78 ton dan produksi perikanan budidaya air tawar yang mencapai ± 55.670,35 ton pada tahun 2008, perlu dilakukan pengembangan lebih jauh lagi yaitu dengan menyediakan kawasan pengolahan ikan. Dari kondisi eksisting yang ada, pengolahan ikan masih sebatas industri rumah tangga, sementara untuk 20 tahun kedepan perlu dikembangkan kawasan pengolahan ikan yang lebih besar, sehingga dari sektor perikanan ini bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membantu pendapatan asli daerah. Untuk lokasi pengembangan kawasan pengolahan ikan, akan dialokasikan disekitar Kawasan Pesisir Tiku, dimana kedepannya akan dikembangkan pelabuhan Perikanan Tiku. 4.2.5 Kawasan Pertambangan Kabupaten Agam merupakan wilayah yang kaya akan potensi pertambangan. Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat, terdapat beberapa izin pertambangan yang ada di Kabupaten Agam sampai akhir tahun 2008. Ijin pertambangan yang diberikan bervariasi, mulai dari izin eksplorasi, pengolahan, penyelidikan umum, pengangkutan dan penjualan sampai pada ijin eksplorasi. Untuk bahan galian yang mendapat ijin ekplorasi terdiri dari bahan galian pasir besi, dolomit dan juga batu kapur. Dalam mengelola usaha pertambangan, pemerintah menetapkan wilayah pertambangan (WP), yang terdiri dari wilayah usaha pertambangan (WUP), wilayah pertambangan rakyat (WPR) dan wilayah pencadangan negara (WPN). Wilayah usaha pertambangan (WUP), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi. WUP ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 34
Wilayah yang telah mendapat izin usaha pertambangan (IUP), yang selanjutnya disebut WIUP di Provinsi Sumatera Barat terdapat di Kabupaten Agam, yaitu Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 544-211-2008 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi Bahan Galian Pasir Besi. Dalam keputusan Gubernur Sumatera Barat disebutkan bahwa, memberikan Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun kepada PT. Minang Mining Makao (PT.MMM) dengan bahan galian pasir besi dengan luas kuasa pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Agam seluas ± 16.540 Ha. Wilayah pertambangan rakyat (WPR), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) tempat dilakukannya usaha pertambangan rakyat. Kriteria untuk menetapkan wilayah pertambangan rakyat (WPR) adalah : 1) Mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di antara tepi dan tepi sungai; 2) Mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter; 3) Endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba; 4) Luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima) hektar; 5) Menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau 6) Merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun. WPR ditetapkan oleh bupati/walikota, sesuai pasal 21, UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan. Kegiatan pertambagan tanpa izin yang dilakukan rakyat di Kabupaten Agam tersebar di beberapa Lokasi dan ini belum ditetapkan sebagai wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), namun terdapat juga WPR yang telah mendapat ijin dari Bupati Agam diantaranya: RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 35
1. Keputusan Bupati Agam Nomor 548 Tahun 2009 tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Sunur Sumber Rezeki. 2. Keputusan Bupati Agam Nomor 476 Tahun 2008 tentang Kuasa Pertambangan Eksplorasi Bahan Galian Pasir Besi PT. Galian Endapan Buana. 3. Keputusan Bupati Agam Nomor 825 Tahun 2008 tentang Kuasa Pertambangan Eksploitasi Bahan Galian Pasir Besi PT. Galian Endapan Buana. 4. Keputusan Bupati Agam Nomor 294 Tahun 2008 tentang Perpanjangan Izin Pertambangan Daerah Eksploitasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur (lime stone) PT. Bakapindo. 5. Keputusan Bupati Agam nomor 118 tahun 2007 tentang Perpanjangan izin pertambangan daerah eksploitasi Bahan galian Golongan C (Dolomit) PT. Bukit Ayu Tunas Lestari. 6. Keputusan Bupati Agam Nomor 519 Tahun 2007 tentang Kuasa Pertambangan Eksploitasi bahan Galian Pasir Besi PT. Andalas Minang Malindo 7. Wilayah pencadangan negara (WPN), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. Penetapan wilayah pencadangan negara (WPN) dilakukan oleh pemerintah pusat dengan tetap memperhatikan aspirasi daerah sebagai daerah yang dicadangkan untuk komoditas tertentu dan daerah konservasi dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan. WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu dapat diusahakan sebagian luasnya, sedangkan WPN yang ditetapkan untuk konservasi ditentukan batasan waktunya. WPN yang diusahakan sebagaian luasnya statusnya berubah menjadi wilayah usaha pertambangan khusus (WUPK). Perubahan status WPN menjadi WPUK dapat dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 36
a. Pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri; b. Sumber devisa negara; c. Kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana; d. Berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi; e. Daya dukung lingkungan; dan/atau f. Penggunaan teknologi tinggi dan modal investasi yang besar. Di Kabupaten Agam belum ada Wilayah Pencadangan Negara maupun Wilayah Pertambangan yang dicadangkan untuk kepentingan strategis Nasional. 4.2.6 Kawasan Peruntukan Industri 4.2.6.1 Kawasan peruntukan Industri Besar Peruntukan kawasan industri besar di Kabupaten Agam di arahkan di Kecamatan Tanjung Mutiara dan Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan. Industri besar yang akan dikembangkan adalah industri pengolahan ikan dan hasil tambang serta pengolahan hasil perkebunan. Dengan adanya pemusatan kawasan industri besar ini, diharapkan hasil tangkap ikan dan tambang serta perkebunan di wilayah Agam dapat diolah dulu sebelum di pasarkan ke luar wilayah Agam, sehingga memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. Pembangunan kawasan industri ini perlu ditunjang dengan sistem transportasi yang baik dari daerah-daerah penghasil bahan baku maupun ke daerah pemasaran. 4.2.6.2 Kawasan peruntukan Industri Sedang Peruntukan kawasan industri sedang di Kabupaten Agam di arahkan di Kecamatan Baso, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Canduang. Industri sedang yang akan dikembangkan adalah agro RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 37
industri. Dengan adanya pemusatan kawasan industri sedang (agro industri) diharapkan hasil pertanian di wilayah Agam dapat diolah dulu sebelum di pasarkan ke luar wilayah Agam, sehingga dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. Pembangunan kawasan industri ini perlu ditunjang dengan sistim transportasi yang baik dari daerahdaerah penghasil bahan baku maupun ke daerah pemasaran. 4.2.6.3 Kawasan peruntukan Industri rumahtangga Peruntukan kawasan industri rumahtangga di Kabupaten Agam, dipusatkan di wilayah Agam Timur, yang merupakan sentra industri kecil yang mayoritas merupakan penunjang kegiatan pariwisata dan memiliki karakteristik rendah polutan, seperti industri konveksi, bordir, sulaman, kerajinan perak dan makanan kecil (kerupuk ubi). Peruntukan lahan diarahkan di Kecamatan Ampek Angkek, Canduang, Tilatang Kamang dan Kecamatan Kamang Magek serta IV Koto. 4.2.7 Kawasan Pariwisata. Menurut UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pengembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata. Upaya pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Agam ini juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Provinsi yakni Kota Bukittinggi dan Kota Padang serta nasional yakni: Jakarta, Jogja, dan Bali sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pengunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Pengembangan RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 38
kepariwisataan untuk masa yang akan datang Kabupaten Agam Masuk kedalam Destinasi Pengembangan Pariwisata I (DPP I) dimana DPP I ini meliputi karidor Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota Payakumbuh. DPP ini dominasi atraksi adalah Budaya, Belanja, Meeting Incentive Convention Exibition (MICE), kerajinan, kesenian, peninggalan sejarah, danau, pegunungan, serta flora dan fauna dengan pusat layanan di Kota Bukittinggi. Berdasarkan pada kebijakan makro dan mikro yang telah diuraikan sebelumnya, maka strategi pengembangan pariwisata di Kab Agam ke depan adalah : 1. Memanfaatkan potensi dan keunikan sdm wisata yang dimilikinya, yg berbeda dgn daerah lain komplementaritas 2. Pengemasan produk wisata yang unik dan bernilai quality tourism, edukatif 3. Memunculkan kawasan wisata unggulan untuk memicu perkembangan kawasan di sekitarnya Dengan dasar pertimbangan : 1. Memperhatikan karakteristik geomorfologis wilayah, mitigasi bencana 2. Terintegrasi secara sektoral dan spasial, mengacu pada rencana dan kebijakan di atasnya, dan sektor terkait lainnya 3. Terkait dengan sektor ekonomi lain yg ada di Kabupaten Agam Rencana Pengembangan sektor Kepariwisataan di Kabupaten Agam adalah sebagai berikut : 1. Menjadikan salah satu sektor unggulan kabupaten, diintegrasikan dgn sektor ekonomi lain 2. Ditujukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, perekonomian masyarakat melalui peningkatan jumlah kunjungan dan gerai/kios wisatawan kesejahteraan masyarakat Agam secara berkelanjutan RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 39
Dengan prospek kedepan tentunya perlu mempertimbangkan : 1. Dukungan nyata yang konsisten dari seluruh stakeholders kepariwisataan Kabupaten Agam 2. Dukungan pengembangan industri pariwisata, peningkatan kualitas produk pariwisata, peningkatan SDM. 3. Pengembangan pemasaran pariwisata : promosi, pelaksanaan event pariwisata 4. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendukung Adapun pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Agam secara umum dibagi kedalam tiga bagian wilayah dengan perincian sebagai berikut : I. Wilayah Barat 1. Wilayah pesisir: pendayagunaan sumber daya pesisir dan laut untuk pelestarian lingkungan hidup sekaligus untuk meningkatkan perekonomian kawasan pesisir Agam. 2. Kawasan Pesisir Tiku: sentra perikanan laut dan darat salah satu outlet komoditi unggulan perikanan Kabupaten Agam. 3. Produk wisata alam dan budaya bahari (rekreasi pantai, pulau, diving/ snorkling, budaya nelayan dll) memanfaatkan potensi perikanan dan sumber daya alam bahari, dan budaya bahari; pendukung: wisata kuliner. II. Wilayah Tengah 1. Kawasan pariwisata Danau Maninjau, memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam sekitarnya. 2. Produk wisata alam (rekreasi gunung, danau) dan wisata budaya (sejarah dan event), pendukung : kuliner, agrotourism. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 40
3. Objek wisata Danau Maninjau, Puncak Lawang, Embun Pagi, rumah kelahiran Buya Hamka, core event (paralayang) dan supporting events (seperti off road, pacu biduk dll). III. Wilayah Timur 1. Kawasan agropolitan Ampek Angkek Canduang-Baso: sentra pengembangan kegiatan pertanian (agrowisata) 2. Produk wisata minat khusus: agrowisata dan wisata perdesaan, panjat tebing. 3. Lahan pertanian, kebun padi, palawija, buah-buahan RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 41
Tabel 4.11 Rencana Pengembangan Objek Wisata Berdasarkan Jenis No Kecamatan Wisata Alam Wisata Budaya Wisata Buatan dan Minat Khusus 1 2 3 4 5 1 Tanjung Mutiara Pantai Bandar Mutiara Pantai Tiku Pantai Ujung Karang Topah Gobah Benteng Jepang Tiku Arum Jeram (S. Antokan) 2 Lubuk Basung Surau Batu Bidai Mesjid Pahlawan Mesjid Al Huda Jawi Jawi Rumah Tuanku Lareh St. Harun Makam Tuanku Lareh St Harum Rumah Adat Nagari Lb Basung Rumah Tempat Tinggal Belanda Komplek Makam Mandeh Siti Manggopoh Loebas Wisata Arum Jeram (S. Antokan) 3 Ampek Nagari Telaga Aggrek / Danau Mini (Talago Aia Bus). 4 Tanjung Raya Sarasah Gasang Pantai Gasang Agrowisata Kelok 44 Aia Badarun Mata Air Panas Asai Mandi Mambasuah Inai / Mandi Bainai Situs Budaya : Wisata Dakwah dan Qoryah Thoyyibah Mesjid Raya Paninjauan Surau Gadang Usang Mesjid Syekh Amarullah Makam Syekh Amarullah Paralayang Arum Jeram (S. Antokan) RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 42
Muko muko Air Terjun Simp. Dingin Potensi Wisata Perikanan Linggai Pemandian Putri Potensi Wisata Agro Durian Wisata Burung Tanjung Ujung Air Terjun Gadih Air Tigo Raso Rizal Beach Bukit Pelatungan Area Take Off Peralayang Potnsi Bentang Alam Persawahan Mesjid Bayur Makam Syekh Dr. H. Abdul Karim Amarullah (Inyiak Rasul) Perpustakaan H. Abdulkarim Amarullah (Inyiak Rasul) Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA Surau Buya HAMKA Makam Haji Oedin Rahmani Benteng Jepang Muko muko Rumah Tuanku Lareh Koto Kaciak Rumah Orang Tua Tuanku Lareh Kaciak Rumah R. Rasuna Said 5 Matur Ambun Pagi Benteng Andaleh Mesjid Utama Pincuran Gadang 6 IV Koto Taman Raya Balingka Makam Inyiak Syekh Taunku Aluma Mesjid Nurul Iman Koto Gadang Mesjid Koto Tuo Tugu Syekh Daud Rasyid Museum Kerajinan Amai Setia Kawasan Pusako Koto Gadang. 7 Malalak 8 Banuhampu Pemandian Alam Sungai Tanang Mesjid Raya Jamiak Padang Luar RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 43
Mercusuar Sungai Tanang Mesjid Jamik Parabek Surau Batu Lamo Pondok Pesantren Sumatera Tawalib Parabek Candia Taluak Mesjid Raya Taluak Makam Syekh Ibrahim Musa, Benteng Jepang Taluak Pertanahan Paderi Padang Laweh 9 Sungai Pua Air Terjun Badorai Mesjid Jami Ladang Laweh 10 Ampek Angkek Makam Inyiak Lundang Surau Inyiak Lundang Makam Syekh Ibrahim 11 Canduang Bukit Layang layang Makam Syekh Sulaiman Ar Rasuly Tarbiyah Islamiyah Canduang Mesjid Kuno Bingkudu Surau Inyiak Canduang MakamTuanku Lareh Canduang. 12 Baso Ikan Sakiti Sei Janih Ngalau Simarasok Ngalau Baso Arca Binatang (Batu`Sanggua) Makan Inyiak Layia layia Benteng Jepang Sungai Sari Panjat Tebing 13 Tilatang Kamang Mesjid Muhammad Yusuf Makam Muhammad Yusuf Medan Nan Bapaneh RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 44
Monumen Pesawat Avro Anson 14 Kamang Mangek Ngalau Kamang Tirta Sari Ngalau Tarang 15 Palembayan Bukik Sakura Gua Maur Gua Gumarang Surau Tuanku Nan Ranceh Makam Tuanku Nan Ranceh Benteng Bansa Kamang Magek Komplek Makam Pahlawan Perang Kamang H. Amdul Manan Makam Pahlawan Perang Kamang Makam H. Rizal Al Haviz Tugu Pahlawan Perang Kamang Legenda Tupai Janjang Tari Lasuang Budaya Mancaliak Anak. 16 Palupuh Air Terjun Tiga Tingkat Bunga Raflesia Sumber : Rencana RTRW Agam Kuburan Nan Panjang RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 45
4.2.8 Kawasan Permukiman Kawasan permukiman merupakan kawasan di luar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Agam, dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan diupayakan tidak melakukan peralihan fungsi terhadap lahan pertanian teknis. Secara keseluruhan luas lahan terbangun di Kabupaten Agam sampai dengan tahun 2030 direncanakan seluas ± 5.935 Ha, sebagian besar kawasan terbangun berupa permukiman, yang dapat dibedakan dalam dua kelompok yakni permukiman perkotaan, dan permukiman perdesaan, Adapun kriteria pengembangan kawasan permukiman adalah : 1. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam. 2. Sehat dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha serta dapat memberikan manfaat bagi peningkatan ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas yang ada disekitarnya dan meningkatkan perkembangan kegiatan sektor ekonomi yang ada. 3. Perlu adanya pengaturan terhadap luas lahan terbangun dengan tak terbangun pada kawasan pengembangan permukiman. 4. Perlu adanya penetapan tinggi bangunan pada kawasan pengembangan permukiman. Secara umum kawasan permukiman di Kabupaten Agam berdasarkan penyediaan wilayah permukimannya dapat dibedakan menjadi a. Permukiman perdesaan, meliputi: Permukiman perkotaan kecil b. Permukiman perkotaan kecil, merupakan permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi sebagai: Pusat pelayanan kabupaten. Pusat pertumbuhan skala kabupaten. Pusat pelayanan perkotaan kecamatan. Permukiman pusat pertumbuhan desa (nagari/kelurahan) RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 46
Permukiman desa (jorong) Permukiman pada perdusunan/jorong Tabel 4.12 Kawasan Permukiman Perkotaan di Kabupaten Agam No Lokasi Kecamatan Karakteristik Keterangan PERKOTAAN 1 Tiku Tanjung Mutiara Pantai 2 Lubuk Basung Lubuk Basung Dataran 3 Bawan Ampek Nagari Dataran 4 Maninjau Tanjung Raya Dataran Tinggi 5 Koto Gadang Palembayan Dataran Tinggi 6 Balingka IV Koto Dataran 7 Malalak Timur Malalak Pegunungan 8 Sei Buluh Banuhampu Dataran 9 Sariak Sungai Pua Dataran 10 Lasi Canduang Dataran 11 Biaro Ampek Angkek Dataran 12 Pakan kamis Tilatang kamang Dataran 13 Kamang Hilir Kamang Mangek Dataran 14 Baso Baso Dataran 15 Palupuh Palupuh Dataran Tinggi 16 Matur Matur Dataran Tinggi 17 Kawasan Strategis Berbatasan Kawasan Gadut, Kapau, biaro gadang,ampang Gadang,, Balai Gurah, Pasie, Batu Taba, Sekitar Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Padang Luar dan Sungai Tanang, Guguak Tabek Sarojo, Koto Gadang, Sianok VI suku, Koto Panjang, Panta Pauh. Secara keseluruhan luas lahan terbangun di Kabupaten Agam sampai dengan tahun 2030 direncanakan seluas ± 5.935 ha, sebagian besar kawasan terbangun berupa permukiman, yang dapat dibedakan dalam dua kelompok yakni permukiman perkotaan, dan permukiman perdesaan. NON PERKOTAAN 1 Seluruh kawasan non perkotaan yang ada di masing-masing wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Agam. Dengan ketentuan kawasan tersebut di luar dari kawasan lindung dan kawasan bencana serta peruntukan perkebunan, pertanian dan budidaya lainnya yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang. Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 47
4.2.9. Kawasan Peruntukan Lainnya A. Kawasan Pendidikan Fasilitas pendidikan yang terdapat di Kabupaten Agam ini seperti taman kanak-kanak, SD, SMP dan SMA. Rencana penyediaan fasilitas dan kebutuhan lahan Sarana Pendidikan di Kabupaten Agam disesuaikan pada standar perencanaan fasilitas. Adapun kebutuhan fasilitas pendidikan di Kabupaten Agam sampai dengan tahun 2030 berdasarkan proyeksi jumlah penduduk dan standar kebutuhan maksimal adalah sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 48
Tabel 4.13 Kebutuhan Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Agam Sampai Tahun 2030 Kecamatan Kebutuhan (1.000 jiwa/unit) Fasilitas TK SD SMP SMA Akademi Luas Lahan Kebutuhan Luas Lahan Kebutuhan Luas Kebutuhan Luas Kebutuhan (0,24 ha) (1.600 (0,5 ha) (5.000 Lahan (0,5 (10.000 Lahan (>100.000 jiwa/unit) jiwa/unit) ha) jiwa/unit) (0,5 ha) jiwa/unit) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) Tanjung Mutiara 33 8 21 10 7 3 3 2 Lubuk Basung 77 19 48 24 15 8 8 4 4 Ampek Nagari 28 7 18 9 6 3 3 1 Tanjung Raya 38 9 24 12 8 4 4 2 Matur 23 6 14 7 5 2 2 1 IV Koto 29 7 18 9 6 3 3 1 Banuhampu 41 10 26 13 8 4 4 2 Sungai Pua 29 7 18 9 6 3 3 1 IV Angkek Canduang 47 11 29 15 9 5 5 2 Canduang 29 7 18 9 6 3 3 1 Baso 41 10 26 13 8 4 4 2 2 Tilatang Kamang 41 10 25 13 8 4 4 2 Kamang Magek 26 6 16 8 5 3 3 1 Palembayan 42 10 26 13 8 4 4 2 Palupuah 17 4 11 5 3 2 2 1 Malalak 13 3 8 4 3 1 1 1 Jumlah 554 133 346 173 111 55 55 28 6 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 49
B. Fasilitas Kesehatan Rencana penyediaan fasilitas dan kebutuhan lahan sarana peribadatan di Kabupaten Agam disesuaikan pada standar perencanaan fasilitas, Dengan demikian, kebutuhan fasilitas kesehatan di Kabupaten Agam berdasarkan proyeksi jumlah penduduk dan dan standar kebutuhan maksimal sampai tahun rencna 2030 adalah sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 50
Tabel 4.14 Perkiraan Kebutuhan Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Agam Sampai Tahun 2030 Kecamatan Fasilitas Balai Pengobatan Apotik Rumah Bersalin Laboratotium Puskesmas Kebutuhan (1.000 jiwa/unit) Luas Lahan (0,05 ha) Kebutuhan (20.000 jiwa/unit) Luas Lahan (0,05 ha) Kebutuhan (10.000 jiwa/unit) Luas Lahan (0,15 ha) Kebutuhan (30.000 jiwa/unit) Luas Lahan (0,10 ha) Kebutuhan (30.000 jiwa/unit) Luas Lahan (0,20 ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) Tanjung Mutiara 33 2 2 0,08 3 0,49 1 0,11 1 0,22 Lubuk Basung 77 4 4 0,19 8 1,16 3 0,26 3 0,52 Ampek Nagari 28 1 1 0,07 3 0,42 1 0,09 1 0,19 Tanjung Raya 38 2 2 0,10 4 0,57 1 0,13 1 0,25 Matur 23 1 1 0,06 2 0,35 1 0,08 1 0,15 IV Koto 29 1 1 0,07 3 0,43 1 0,10 1 0,19 Banuhampu 41 2 2 0,10 4 0,62 1 0,14 1 0,28 Sungai Pua 29 1 1 0,07 3 0,43 1 0,10 1 0,19 IV Angkek Canduang 47 2 2 0,12 5 0,70 2 0,16 2 0,31 Canduang 29 1 1 0,07 3 0,43 1 0,10 1 0,19 Baso 41 2 2 0,10 4 0,62 1 0,14 1 0,27 Tilantang Kamang 41 2 2 0,10 4 0,61 1 0,14 1 0,27 Kamang Magek 26 1 1 0,06 3 0,38 1 0,09 1 0,17 Palembayan 42 2 2 0,11 4 0,63 1 0,14 1 0,28 Palupuah 17 1 1 0,04 2 0,26 1 0,06 1 0,12 Malalak 13 1 1 0,03 1 0,20 0 0,04 0 0,09 Jumlah 554 28 28 1,39 55 8,32 18 1,85 18 3,70 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 51
C. Fasilitas Peribadatan Rencana penyediaan fasilitas dan kebutuhan lahan sarana peribadatan di Kabupaten Agam disesuaikan pada standar perencanaan fasilitas Dengan demikian, kebutuhan fasilitas peribadatan di Kabupaten Agam berdasarkan proyeksi jumlah penduduk dan dan standar kebutuhan maksimal sampai tahun rencana 2030 adalah sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 52
Tabel 4.15 Perkiraan Kebutuhan Fasilitas Peribadatan di Kabupaten Agam Sampai Tahun 2030 Kecamatan Kebutuhan (1.200jiwa/unit) Fasilitas Surau Mushalla Mesjid Luas Lahan (0,1 ha) Kebutuhan (2.500jiwa/unit) Luas Lahan (0,05 ha) Kebutuhan (2.500jiwa/unit) Luas Lahan (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) (Unit) (Ha) Tanjung Mutiara 27 3 13 1 13 3 Lubuk Basung 64 6 31 2 31 6 Ampek Nagari 23 2 11 1 11 2 Tanjung Raya 32 3 15 1 15 3 Matur 19 2 9 0 9 2 IV Koto 24 2 12 1 12 2 Banuhampu 34 3 17 1 17 3 Sungai Pua 24 2 11 1 11 2 IV Angkek Canduang 39 4 19 1 19 4 Canduang 24 2 12 1 12 2 Baso 34 3 16 1 16 3 Tilantang Kamang 34 3 16 1 16 3 Kamang Magek 21 2 10 1 10 2 Palembayan 35 4 17 1 17 3 Palupuah 15 1 7 0 7 1 Malalak 11 1 5 0 5 1 Jumlah 462 46 222 11 222 44 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 53
D. Fasilitas Perekonomian kebutuhan Pasar di Kabupaten Agam Pada Tahun 2010-2030 (20 Tahun) dengan menggunakan data proyeksi penduduk. Berdasarkan pengklasifikasian menurut Philip Khotler dimana pasar di Kabupaten Agam termasuk kepada jenis Pasar Kelas 1 (Pasar Kota) dengan standar jumlah Penduduk Pendukung 250.000 500.000. dan Pasar Utama (Pasar Regional) dengan Jumlah Penduduk Pendukung > 500.000 jiwa. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 54
Tabel 4.16 Perkiraan Kebutuhan Pasar Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 Fasilitas Kecamatan Pasar Darurat (250 jiwa/unit) Pasar Lingkungan (10.000 jiwa/unit) Pasar Wilayah (50.000 jiwa/unit) Pasar Kota (250.000 jiwa/unit) Pasar Regional (>500000/unit) Tanjung Mutiara 132 3 1 Lubuk Basung 309 8 1 Ampek Nagari 113 3 1 Tanjung Raya 152 4 1 Matur 93 2 1 IV Koto 116 3 Banuhampu 165 4 1 Sungai Pua 115 3 1 IV Angkek Canduang 187 5 1 Canduang 115 3 Baso 165 4 1 Tilantang Kamang 163 4 1 Kamang Magek 103 3 1 Palembayan 168 4 1 Palupuah 70 2 1 Malalak 53 1 1 Jumlah 2.218 55 11 2 1 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 55
E. Fasilitas Pemerintahan dan Pelayanan Umum Mengingat Kabupaten Agam merupakan Kabupaten yang mulai berkembang, dan memerlukan ketersediaan sarana pemerintahan umum yang dikembangkan memiliki skala pelayanan yang lebih besar. Adapun kebutuhan dan Luas Lahan Untuk Masing Masing Kantor Berdasarkan Standar Luas Lantai Per Pegawai Tahun 2009: Tabel 4.17 Analisis Kebutuhan dan Luas Lahan Untuk Masing Masing Kantor Berdasarkan Standar Luas Lantai Per Pegawai Tahun 2009 No Dinas/Kantor Jumlah Pegawai (Jiwa) Luas Lantai (m²) Sirkulasi (m²)* Luas Bangunan (m²)** Luas Kapling (m²) 1 Kantor Bupati 99 1.485 222,75 1,707,75 3.415,50 2 Sekretariat DPRD 22 330 49,50 379,50 759,00 3 Kantor Inforkom 33 495 74,25 569,25 1.138,50 4 Kantor Trantib 37 555 83,25 638,25 1.267,50 5 Dinas PU 197 2.955 443,25 3.398,25 6.796,50 6 Dinas Pertanian 172 2.580 387,00 2.967,00 5.934,00 7 Dinas Kesehatan 464 6.960 1.044,00 8.004,00 16.008,00 8 Dinas Pariwisata 15 225 33,75 258,75 517,50 9 Dinas Kehutanan 112 1.680 252,00 1.932,00 3.864,00 10 Dinas Koperindag 39 585 87,75 672,75 1.345,50 11 Dinas Perhubungan 36 540 81,00 621,00 1.242,00 12 Dinas Pertanahan 36 540 81,00 621,00 1.242,00 13 Dinas P & K 53 795 119,25 914,25 1.828,50 14 Dinas Kppdkn, T. Kerja 52 780 117,00 897,00 1.794,00 15 Dinas Pertambangan dan KLH 30 450 67,50 517,50 1.035,00 16 Badan Kepagawaian Daerah 40 600 90,00 690,00 1.380,00 17 Inspektorat 29 435 65,25 500,25 1.000,50 18 BPKD 58 870 130,50 1.000,50 2.001,00 Total 1.524 22.860 4.659,75 27.519,75 55.039,50 Sumber : Hasil Rencana Tahun 2009 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 56
4.3 RENCANA POLA TATA RUANG WILAYAH AGAM Berdasarkan peruntukan lahan, baik untuk kawasan lindung maupun untuk budidaya sampai dengan akhir tahun perencanaan yaitu 2030, dapat dilihat pada tabel berikut ini (tabel 4.18); Tabel 4.18 Rencana Pola Ruang Kabupaten Agam Tahun 2030 NO JENIS PENGGUNAAN LAHAN KEPMEN 442 LUAS (Ha) PERUBAHAN I KAWASAN LINDUNG 65.262,40 61.762 1 Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya 31.560,00 28.060,00 2 Kawasan Perlindungan Setempat 3.999,80 3.999,80 3 Kawasan Suaka Alam dan pelestarian alam 27.533,40 27.533,40 4 Kawasan Rawan Bencana 700,00 700,00 5 Kawsasan Lindung Geologi 969,20 969,20 6 Kawasan Lindung Lainnya 500,00 500,00 II KAWASAN BUDIDAYA 157.967,60 161.667,50 1 Kawasan Hutan Produksi 26.690,00 21.390,00 2 Kawasan perkebunan 78.170,50 87.780,50 3 Kawasan Pertanian a Pertanian Tanaman Pangan 26.332,00 26.332,00 b Pertanian Holtikultura 7.737,00 7.737,00 c Peternakan 200,00 200,00 4 Kawasan Perikanan 450,00 450,00 5 Kawasan Pertambangan 200,00 200,00 6 Kawasan Industri 80,00 80,00 7 Kawasan Pariwisata 200,00 200,00 8 Kawasan Permukiman 5.935,00 5.935,00 9 Kawasan Peruntukan Lainnya 11.973,10 11.363,00 JUMLAH 223.230,00 223.429,90 Sumber : Hasil Rencana tahun 2009. RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 57
Gambar 4.1 Peta Rencana Pola Ruang Tahun 2030 berdasarkan SK Menhutbun 422 tahn 1999 RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 58
Gambar 4.2 Peta Rencana Pola Ruang Tahun 2030 berdasarkan Usulan Perubahan Kawasan Hutan RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 59
RTRW Kab. Agam 2010-2030 IV - 60
BAB V RENCANA KAWASAN STRATEGIS
BAB 5 RENCANA KAWASAN STRATEGIS 5.1 PENGERTIAN KAWASAN STRATEGIS Sesuai dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa setiap tingkatan rencana, mempunyai kewenangan untuk menyusun kawasan strategisnya masing-masing. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial budaya, pendayagunaan sumber daya alam/teknologi tinggi dan atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara provinsi terhadap ekonomi, sosial budaya, pendayagunaan sumber daya alam/teknologi tinggi dan /atau lingkungan. Sedangkan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial budaya, pendayagunaan sumber daya alam/teknologi tinggi dan /atau lingkungan. Pengembangan kawasan strategis dimaksudkan sebagai alat guna mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi suatu kawasan, sehingga Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 1
sekitarnya dapat ikut berkembang. Karena itu pengembangan kawasan strategis bertujuan untuk ; a. Mengembangkan penataan ruang kawasan dalam rangka penataan ruang wilayah nasional atau wilayah provinsi atau wilayah kabupaten/kota. b. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya pada kawasan dalam rangka pembangunan ekonomi nasional dan daerah. c. Mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. 5.2 KRITERIA KAWASAN STRATEGIS 5.2.1 Kriteria Umum Setiap kabupaten perlu menetapkan kawasan strategis yang berperan sebagai pendorong dan atau pengendali pengembangan wilayahnya, karena sifat kawasan strategis ini berpengaruh terhadap pengembangan wilayah kabupaten yang bersangkutan. Kriteria untuk menetapkan kawasan strategis ini menurut Undang-undnag Penataan Ruang Nomor 26 tahun 2007 adalah sebagai berikut : Kawasan strategis adalah kawasan dengan kegiatan yang dilihat dari sudut pandang : 1. Strategi ekonomi mempunyai potensi ekonomi/sumber daya alam, atau sektor-sektor unggulan, aglomerasi pusat-pusat permukiman perkotaan/perdesaan dan kegiatan produksi sehingga mampu mendorong perkembangan daerah sekitar, 2. Strategis secara sosial budaya, 3. Strategi pendayagunaan sumberdaya alam dan atau teknologi tinggi, dan 4. Strategi fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, dan mempunyai pengaruh besar terhadap : Tata ruang wilayah sekitarnya; Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 2
Kegiatan lain di bidang yang sejenis; Kegiatan di bidang lainnya, dan Kegiatan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kriteria pengembangan kawasan strategis adalah sebagai berikut : 1. Memiliki aksesibilitas untuk berkembang antara lain : a. Mempunyai prasarana dan sarana yang mendukung kegiatan pembangunan ekonomi antara lain : Pelabuhan laut/sungai dan atau pelabuhan udara, Sistem jaringan jalan dari pusat kegiatan ekonomi menuju pelabuhan/outlet, Prasarana dan sarana energi dan telekomunikasi, Prasarana dan sarana penyediaan air baku, Prasarana dan sarana / lembaga keuangan (perbankan). b. Mempunyai sumber daya manusia yang potensial, antara lain : Tingkat pertambahan penduduk yang tinggi (aglomerasi kegiatan ekonomi), Heterogenitas penduduk yang tinggi (makin beragam semakin terlihat daya serap wilayah yang stabil). c. Memiliki Potensi Ekonomi/Sumber Daya Alam, antara lain : Tingkat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata, Sumbangan sektor perekonomian terhadap perekonomian wilayah yang cukup tinggi, Komoditas unggulan yang mempunyai multiplier effect yang tinggi, Mempunyai komoditas dengan kandungan deposit yang melimpah, Mempunyai demand pasar bagi komoditas/sektor tersebut. Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 3
d. Memiliki jaringan prasarana dan sarana perhubungan dengan kawasan/wilayah sekitarnya (internal) dan pusat-pusat pengembangan lainnya (eksternal). 5.2.2 Prinsip-Prinsip Pengembangan Kawasan Adapun prinsip prinsip dalam pengembangan kawasan strategis meluputi ; a. Selain meningkatkan pembangunan ekonomi di dalam kawasan strategis itu sendiri, juga harus dapat meningkatkan pembangunan ekonomi bagi wilayah/kawasan sekitarnya, b. Memerlukan upaya kerjasama pengembangan antar daerah otonom, c. Merupakan integrasi dari daerah-daerah yang tercakup dalam kesetaraan, d. Kawasan strategis melalui pendekatan kesetaraan dan berorientasi kepada mekanisme pasar. 5.2.3 Rencana Pengembangan dan Penetapan Kawasan Strategis Kawasan strategis dapat berada dalam satu kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan, dan juga dapat meliputi suatu wilayah kabupaten dan kota atau lebih, sehingga pengembangan kawasan diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah provinsi atau penataan ruang wilayah kabupaten atau kota. Pengembangan kawasan harus terpadu dengan penataan ruang wilayah. Dengan demikian pengembangan kawasan strategis merupakan perwujudan struktur pemanfaatan ruang nasional (RTRWN), sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi wilayah (RTRWP) dalam mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota (RTRWK). Pengembangan Kawasan Strategis merupakan rencana bersama antar daerah yang terkait untuk mengembangkan kawasan strategis tersebut secara sinergi, yang selanjutnya dituangkan dalam RTRW Provinsi, Kabupaten/Kota masing-masing untuk dijadikan Peraturan Daerah yang mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi masyarakat dan untuk dilaksanakan. Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 4
Berdasarkan hasil analisis fisik, sosial budaya dan ekonomi wilayah serta kriteria-kriteria tersebut diatas, maka Kawasan Strategis di Kabupaten Agam dapat diklasifikasikan menjadi 4 sudut pandang/kepentingan, yaitu: a. Satu (1) kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut pandang pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi; b. Satu (1) kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup; c. Empat (4) kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten; d. Serta satu (1) kawasan merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan pembangunan wilayah kabupaten. 5.2.3.1 Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tinggi. Kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi yang ada di Kabupaten Agam adalah kawasan Koto Tabang. Berdasarkan kepada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional, kawasan strategis nasional tersebut penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan strategis nasional yang berada di Kabupaten Agam ditetapkan dengan kriteria: a. Diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional, pengembangan antariksa, serta tenaga atom dan nuklir; Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 5
b. Memiliki sumber daya alam strategis nasional; c. Berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa; d. Berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir; atau e. Berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. Berdasarkan kriteria tersebut diatas kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi menetapkan Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Kototabang Kecamatan Palupuh di Kabupaten Agam. Stasiun Pengamat Dirgantara ini merupakan salah satu stasiun pengamat yang terkoneksi untuk keperluan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Daerah ini dipilih karena terletak di dekat equator atau garis khatulistiwa. Daerahnya berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Berada di atas bukit Kototabang yang mana bukit Kototabang merupakan daerah penyimpan bahang (panas). Baik panas sensible maupun panas laten terbesar bagi pembentukan awan. Disamping Stasiun Pegamat Dirgantara, dilokasi tersebut terdapat juga Stasiun Pemantau Atmosfer Global. Gambar 5.1 Stasiun Pengamat Dirgantara & Stasiun Pemantau Atmosfer Global Koto Tabang Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 6
5.2.3.2 Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup. Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup ditetapkan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria, diantaranya: Merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem; Memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air; Memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro; Menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup Berdasarkan kriteria tersebut diatas Provinsi Sumatera Barat dalam RTRWP tahun 2008-20028 menetapkan salah satu kawasan di Kabupaten Agam menjadi Kawasan Strategis Provinsi yaitu kawasan Strategis Danau Maninjau yang merupakan salah satu kawasan pariwisata potensial cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan manca negara maupun oleh wisatawan nusantara. Disamping itu kawasan tersebut juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam tata air untuk daerah bawahannya. Pada saat ini air Danau Maninjau sudah dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangkit energi listrik, disamping itu juga dimanfaatkan untuk sentra budidaya ikan air tawar. Gambar 5.2 Lokasi Kawasan Danau Maninjau Kabupaten Agam Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 7
5.2.3.3 Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten. Penetapan kawasan strategis Kabupaten didasarkan atas sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, dimana penetapan kawasan tersebut didasarkan kepada beberapa pertimbangan, diantaranya: Memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh; Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional; Memiliki potensi ekspor; Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi; Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi; Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional; Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional; atau Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal. 1. Kawasan Strategis Poros Barat Timur Kawasan strategis Poros Barat-Timur merupakan Kawasan Strategis Provinsi sesuai dengan RTRW Provinsi tahun 2008 2028 dilihat dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, adapun kawasan strategis yang dimaksud adalah: Kawasan Strategis Jalur Padang Batas Provinsi Riau), dimana kawasan poros yang dimaksud akan melintasi wilayah Kabupaten Agam (Kecamatan Sungai Pua, Banuhampu, Ampek Angkek dan Baso). Salah satu Jalur Kawasan Strategis Poros Barat Timur (Kecamatan Baso) Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 8
2. Kawasan Strategis Pesisir Tiku Penetapan Kawasan Strategis Pesisir Tiku, yang direncanakan sebagai sentra perikanan laut, dan juga sebagai salah satu outlet komoditi-komoditi unggulan perikanan kabupaten dengan ditunjang oleh adanya rencana pengembangan pelabuhan di Tiku. Penetapan kawasan strategis di pesisir Tiku ini berdasarkan pertimbangan potensialnya komoditi perikanan di pesisir Agam (produksi ± 4.966,8 Ton/tahun pada tahun 2008) yang saat ini masih terdapat kecenderungan meningkat serta masih jauh dari pendekatan pendayagunaan potensi pesisir dan laut secara berkelanjutan. Di lain pihak, potensi sumberdaya pesisir dan laut masih dikembangkan secara tradisional dan belum memberikan kontribusi yang berarti dalam rangka pemantapan struktur ekonomi wilayah. Oleh karena itu, perlu adanya usaha peningkatan segenap potensi sumberdaya pesisir yang ada, terutama SDM, IPTEK, sarana dan prasarana, kelembagaan dan organisasi, data dan informasi, sehingga pendayagunaan sumberdaya pesisir dan laut dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung alam serta pelestarian lingkungan hidup sekaligus untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir agam. Gambar 5.3 Lokasi Kawasan Strategis Pesisir Tiku di Kecamatan Tanjung Mutiara Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 9
3. Kawasan Strategis Agropolitan. Penetapan Kawasan Strategis Agropolitan, Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan yang dianggap memiliki nilai strategis untuk dikembangkan sebagai salah satu wilayah percepatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Agam karena didukung aksesibilitas yang baik (dilalui jalur nasional) dan menghasilkan komoditi potensial yang dihasilkan di bagian Timur Agam. Kawasan ini direncanakan sebagai sentra pengembangan kegiatan pertanian (agro), dan merupakan outlet bagi penjualan produk pertanian ke kabupaten sekitarnya ataupun Kabupaten lain di Sumatera Barat. Kawasan Agropolitan Agam ini diarahkan di kecamatan-kecamatan sebagai berikut: Kec. Ampek Angkek (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Canduang (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Banuhampu (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Baso (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. IV Koto (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Sungai Pua (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Tilatang Kamang (peternakan sapi dan holtikultura) Kec. Kamang Magek (peternakan sapi dan holtikultura) Sedangkan arahan rencana untuk kawasan Agropolitan Agam ini adalah berupa: pemberdayaan masyarakat Kabupaten Agam untuk mampu mengembangkan usaha komoditi unggulan yaitu peternakan sapi dan pertanian holtikultura. pembangunan pasar-pasar sayur untuk mendukung kawasan agropolitan atau pengaktifan pasar-pasar yang merupakan pusat distribusi hasil pertanian kawasan agropolitan peningkatan akses dari dan menuju sentra- sentra produksi Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 10
pembangunan kelembagaan agribisnis pembangunan sarana prasarana publik yang memperlancar pengangkutan hasil pertanian ke pasar dengan efisien dengan risiko minimal. Gambar 5.4 Lokasi Kawasan Strategis Agropolitan IV Angkat Candung Baso 4. Kawasan Strategis Nagari Tertinggal Penetapan kawasan tertinggal dalam suatu kawasan strategis Kabupaten, didasarkan atas pertimbangan sudut pandang pertumbuhan ekonomi dan juga untuk mempercepat pertumbuhan di kawasan tertinggal. Dengan ditetapkannya kawasan tertinggal ini menjadi kawasan strategis kabupaten, diharapkan dimasa datang kawasan tertinggal ini akan menjadi prioritas pembangunan baik dari sudut peningkatan Sumber Daya Manusia, infrastruktur maupun kegiatan ekonominya. Lokasi kawasan tertinggal yang masuk dalam Kawasan Strategis kabupaten terdisi dari 15 (lima belas) Nagari dan masuk dalam 7 (tujuh) wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Agam. Adapun lokasi-lokasi yang masuk dalam Kawasan Strategis Kabupaten untuk kawasan tertinggal adalah sebagai berikut : Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 11
Tabel 5.1 Daftar Nagari Kawasan Strategis Nagari Tertinggal No Nagari Kecamatan 1 Salareh Aia Palembayan 2 Baringin Palembayan 3 Sungai Pua Palembayan 4 Sipinang Palembayan 5 Bawan Ampek Nagari 6 Sitalang Ampek Nagari 7 Tiku Lima Jorong Tanjung Mutiara 8 Malalak Utara Malalak 9 Malalak Selatan Malalak 10 Malalak Timur Malalak 11 Malalak Barat Malalak 12 Nan Tujuah Palupuh 13 Pagadih Palupuh 14 Tanjung Sani Tanjung Raya 15 Garagahan Lubuk Basung Sumber : Keputusan Bupati Agam No. 69 Tahun 2010 5.2.3.4 Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Pembangunan Wilayah Kabupaten. Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Pembangunan Wilayah Kabupaten adalah Kawasan Strategis Berbatasan, dimana sebagian Kawasan Agam wilayah Timur yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, merupakan kawasan-kawasan yang memiliki potensi terhadap perubahan gunalahan dan juga pertumbuhan ekonomi dimasa yang akan datang. Hal ini terkait dengan terbatasnya lahan pengembangan permukiman yang ada di Kota Bukittinggi, dan berdampak pada pengembangan lahan permukiman yang mengarah pada kawasan berbatasan dengan Kabupaten Agam. Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 12
Untuk mengantisipasi terhadap perkembangan kawasan terbangun perkotaan yang terjadi di Kota Bukittinggi, maka perlu disusun program prioritas pada kawasan-kawasan strategis berbatasan. Tujuannya adalah agar kawasan tersebut dapat berkembang secara baik melalui pengembangan ekonomi, pembangunan infrastruktur secara terarah, serasi dan selaras dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Bukittinggi. Hal ini didasarkan kepada perkembangan selama ini bahwa masyarakat kota Bukittinggi cenderung berinvestasi untuk kebutuhan tempat tinggal berlokasi pada nagari-nagari yang berada disekitar Kota Baukittinggi. Adapun kawasan-kawasan yang masuk dalam Kawasan Strategis Berbatasan adalah sebagai berikut: Kawasan Gadut, Kapau, Biaro Gadang, Ampang Gadang, Pasie, Batu Taba, Sekitar Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Ladang Laweh, Padang Lua, sebagian Guguak Tabek Sarojo, sebagian Koto Gadang, Sianok VI Suku, sebagian Koto Panjang, serta sebagian Panta Pauh. Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 13
Revisi RTRW Kab. Agam 2010-2030 V - 14
BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
BAB 6 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG 6.1 DASAR PENYUSUNAN ARAHAN PEMANFAATAN RUANG Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten merupakan perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama kabupaten dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun). Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten berfungsi: 1. Sebagai acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam pemrograman pemanfaatan ruang; 2. Sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan program utama (besaran, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan); 3. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pertama; dan 4. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun berdasarkan: RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 1
1. Rencana struktur ruang dan pola ruang; 2. Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan; 3. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan 4. Prioritas pengembangan wilayah kabupaten dan pentahapan rencana pelaksanaan program sesuai dengan RPJPD. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun dengan kriteria: 1. Mendukung perwujudan struktur ruang, pola ruang, dan kawasan strategis kabupaten; 2. Mendukung program utama penataan ruang nasional dan provinsi; 3. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan; 4. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan 5. Sinkronisasi antar program harus terjaga. Indikasi program utama dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten meliputi : 1. Usulan Program Utama Usulan program utama adalah program-program pemanfaatan ruang yang diindikasikan memiliki bobot kepentingan utama atau diprioritaskan untuk mewujudkan struktur dan pola ruang wilayah kabupaten sesuai tujuan. 2. Lokasi Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan dilaksanakan. 3. Besaran Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing usulan program utama yang akan dilaksanakan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 2
4. Sumber Pendanaan Sumber pendanaan dapat berasal dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten, dan/atau masyarakat. 5. Instansi Pelaksana Instansi pelaksana adalah pelaksana program utama yang disesuaikan dengan kewenangan masing-masing pemerintahan, dan pihak swasta serta masyarakat. 6. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan Usulan program utama direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 20 (dua puluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima) tahunan, sedangkan masing-masing program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi sesuai kebutuhan. Program utama 5 tahun pertama dapat dirinci ke dalam program utama tahunan. Penyusunan indikasi program utama disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu 5 tahunan RPJP Daerah Kabupaten. 6.2 PERWUJUDAN RENCANA STRUKTUR RUANG 6.2.1 Perwujudan Rencana Sistem Pusat-Pusat Permukiman Dari hirarki dan fungsi utama kawasan dapat diturunkan kebutuhan pembangunan prasarana dan sarana utama yang seharusnya dibangun dalam kerangka mewujudkan rencana struktur ruang yang telah dirumuskan. Adapun program utama yang sebaiknya dilakukan/disediakan untuk masing-masing pusat adalah sebagaimana jabaran di bawah ini. 1) Perwujudan PKL Lubuk Basung dilakukan melalui : a. penyusunan Revisi RDTR Kawasan Perkotaan Lubuk Basung; b. penyusunan RTR Kawasan prioritas yaitu kawasan cepat tumbuh; c. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Teknik Ruang; d. pengembangan perumahan formal, swadaya dan PNS; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 3
e. pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009; f. peningkatan dan rehabilitasi pusat perdagangan di Pasar Padang Baru dan Pasar Lama Lubuk Basung; g. perbaikan Terminal Antokan; h. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; i. pengembangan Balai Benih Ikan (BBI); j. penyusunan Rencana Induk Penanganan Kebakaran; k. penyusunan Rencana Induk Pertamanan; l. pengembangan RSUD Lubuk Basung; m. penyelesaian pembangunan jalan utama dua (2) jalur Kota Lubuk Basung; n. pembangunan jalan lingkar utara dan lingkar selatan Lubuk Basung; o. pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Lubuk Basung; p. peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum baik secara kuantitas maupun kualitas; q. pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. r. pengendalian Banjir di Batang Antokan di Garagahan dan Manggopoh. s. pembangunan PLTMH di Lubuak Sao. t. pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. 2) Perwujudan PKLp Baso dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Baso; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. pengembangan perumahan rakyat; d. peningkatan dan rehabilitasi pusat perdagangan dan jasa pada Pasar Baso; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 4
e. pengembangan Puskemas rawat inap di Baso; f. pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum; g. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; h. pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk; i. peningkatan Ruas Jalan Provinsi Baso-Batusangkar; j. pengembangan Pusat Pendidikan Departemen Dalam Negeri; dan k. pembangunan sub terminal Agribisnis. 3) Perwujudan PPK Banuhampu, dilakukan melalui : a. Penyusunan RDTR kawasan perkotaan; b. Penyusunan RTR kawasan; c. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; d. Pengembangan dan atau relokasi pusat perdagangan Pasar Padang Luar; e. Peningkatan ruas Jalan Padang Lua Kubang Putiah Simpang Bukik Batabuah Lasi Baso (Promosi menjadi Kolektor Primer); f. Pembangunan jalan baru Taluak - Cingkariang (lanjutan Pembangunan Jalan Bypass Bukittinggi); g. Pembangunan jalan lokal atau lingkungan, sebagai akses bagi masyarakat yang berada pada kavling bagian belakang sepanjang jalan utama; h. pengembangan sistem penyediaan air minum; i. Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; j. Pembangunan dan perbaikan drainase; k. Peningkatan pengelolan persampahan; l. Penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi); dan m. Pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 5
4) Perwujudan PPK Maninjau (Tanjung Raya), dilakukan melalui : a. Penyusunan RDTR kawasan perkotaan dan kawasan perairan danau; b. Penyusunan peraturan zonasi pemanfaatan ruang perairan; c. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Ruang ; d. Peningkatan pelayanan Air Minum; e. Peningkatan ruas jalan lingkar Danau Maninjau; f. Pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009; g. Pembangunan jalan Ambun Pagi Puncak Lawang Simpang Kandih Muko-muko sebagai alternatif kelok 44; h. Optimalisasi PLTA Maninjau; i. Pembangunan dan perbaikan daerah dan bangunan irigasi; j. Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk; k. Pembangunan tempat bongkar muat ikan pada sentra-sentra perikanan jala apung; l. Pengembangan pusat pembenihan ikan; m. Pengembangan objek-objek wisata (alam, religius, buatan dan minat khusus); n. Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis; dan o. Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. 5) Perwujudan PPK Bawan (Kecamatan Ampek Nagari), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan RTR kawasan; c. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 6
d. pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009; e. pembangunan jalan produksi perkebunan; f. peningkatan dan perbaikan Pasar Bawan; g. peningkatan pelayanan Air Minum; h. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; i. pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk; j. pengembangan Puskemas rawat inap di Bawan; k. penyedian shelter sebagai tempat penampungan sementara untuk menyelamat diri pada saat terjadinya bencana terutama gempa bumi; l. peningkatan dan pemeliharaan jaringan jalan; dan m. pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. 6) Perwujudan PPL Tiku, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. penyusunan Zonasi wilayah pesisir sampai dengan 4 Mill Laut; d. pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009; e. pembangunan gedung (escape building) dan jalan penyelamat/evakuasi serta penyediaan peralatan peringatan dini terhadap bahaya gempa dan tsunami; f. peningkatan pelayanan air minum; g. pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk; h. pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan; i. pembangunan pusat pengolahan ikan laut; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 7
j. pembangunan jalan produksi perkebunan; k. penanaman mangrove sebagai untuk sebagai tanaman pelindung pantai dari abrasi dan tsunami; dan l. pengembangan sektor pariwisata yang memanfaatkan SDA dan budaya pesisir. 7) Perwujudan PPL Palembayan, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan dan pemeliharaan jaringan jalan serta pembangunan jalan produksi perkebunan; d. peningkatan pelayanan Air Minum; e. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; f. pengembangan indutri perkebunan; g. Peningkatan jalan strategis yang menghubungkan Palembayan Simpang Patai; h. Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis; dan i. Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. 8) Perwujudan PPL Matur, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pembangunan dan peningkatan jalan lokal dan lingkungan; f. peningkatan jalan strategis yang menghubungan Matur Sitingkai; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 8
g. pengembangan industri dan pemasaran hasil panen perkebunan; h. pengembangan objek wisata pendukung; i. pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis dan j. pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. 9) Perwujudan PPL Balingka, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. penyelesaian pembangunan jalan Sicincin Malalak Bukittinggi yang melewati Kecamatan IV Koto; f. pengembangan dan penataan objek wisata budaya dan sejarah di Nagari Koto Gadang; g. pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan; dan h. pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura. 10) Perwujudan PPL Malalak Timur, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; a. peningkatan dan pemeliharan daerah irigasi; b. peningkatan pelayanan air minum; c. pembangunan Rest Area pada ruas jalan Sicincin Malalak; d. pembangunan infrastruktur yang hancur dan rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009; e. pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 9
rusak atau yang fungsinya mulai kritis; dan f. Pengelolaan kawasan huta Ren yang berkelanjutan. 11) Perwujudan PPL Sungai Sariak, dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis; f. pemungsian terminal Pasar Amur; dan g. pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura. 12) Perwujudan PPL Lasi (Kec. Canduang), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pembangunan dan peningkatan jalan produksi; f. pembangunan dan penataan fasilitas penunjang kegiatan wisiata; g. peningkatan sarana dan prasarana Pasar Lasi; h. pengembangan puskemas rawat inap; dan i. Pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 10
13) Perwujudan PPL Biaro (Kecamatan Ampek Angkek), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pembangunan Fasilitas penunjang Sentra Peternakan Ternak Besar (sapi); f. pembangunan fasilitas penunjang Ampek Angkek sebagai pusat agropolitan; g. pengembangan industri rumah tangga (konveksi); h. sebagai Pusat Busisnis Development Centre dengan komodiiti bodir dan sulaman; i. penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi); dan j. penataan koridor jalan nasional Batas Kota Bukittingg Baso. 14) Perwujudan PPL Pakan Kamih (Kec. Tilatang Kamang), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk; f. pembangunan sarana pengendalian banjir g. penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi); dan h. Pengembangan industri rumah tangga yaitu indutri pengolahan makanan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 11
15) Perwujudan PPL Kamang Hilir (Kec. Kamang Magek), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; e. pembangunan sarana pengendalian banjir (Batang Agam); dan f. pengembangan industri rumah tangga yaitu indutri pengolahan makanan. 16) Perwujudan PPL Palupuah (Kecamatan Palupuah), dilakukan melalui : a. penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan; b. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang; c. peningkatan pelayanan air minum; d. pembangunan dan perbaikan daerah irigasi; dan e. peningkatan ruas jalan Palupuh Suliki. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.1 6.2.2 Perwujudan Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Sistem Jaringan Transportasi Transportasi Darat; untuk melayani pergerakan barang dan orang secara efektif dan efisien diperlukan pembangunan, peningkatan dan perbaikan jalan yang menghubungkan antar pusat permukiman, peningkatan dan cakupan pelayanan kendaraan angkutan penumpang dan barang serta pembangunan dan peningkatan terminal penumpang. Adapun progam utama yang diperlukan untuk mewujudkan sistem jaringan prasarana angkutan darat adalah: RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 12
1. Pembangunan/peningkatan/rehabilitasi/pemeliharaan jalan arteri primer, kolektor primer, lokal primer dan lingkungan primer, seperti ruas jalan: Rencana peningkatan jalan arteri primer (K1): No Nomor Ruas Nama Ruas 1 006 Padang Luar Batas Kota Padang Panjang 4 022 Padang Sawah Manggopoh 5 023 Manggopoh Batas Kota Pariaman 2 037 Batas Kota Payakumbuh - Baso 3 038 Baso - Batas Kota Bukittinggi Rencana pembangunan jalan arteri primer (K1): No Nomor Ruas Nama Ruas 1 TOL Jalan Tol Padang Bukittinggi 2 TOL Jalan Tol Bukittinggi - Payakumbuh Batas Provinsi Riau. Rencana pengembangan jalan Strategis Nasional (K1) yaitu : sesuai dengan RTRW Nasional dan RTRW Provinsi Sumatera Barat bahwa di Kabupaten Agam dilalui oleh jalan Rencana Jalan Strategis Nasional yaitu Ruas Tiku Silaping (Nomor Ruas 048) Rencana peningkatan jalan Kolektor Primer (K2): No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Baso Batusangkar 2 Lubuk Basung (Manggopoh) Kota Bukittinggi (Padang Luar). 3 Lubuk Basung Sungai Limau 4 56, 57, 60, 78, 92, 93 Simpang Padang Luar Baso (promosi) Rencana pembangunan jalan Kolektor Primer (K2): No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Sicincin Malalak Bukittinggi dan Jembatan Ngarai Sianok 2 Ruas Baru Taluak Cingkariang (Lanjutan Pemb. Baypass Bukittinggi) RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 13
Rencana Peningkatan jalan kolektor primer (K3) yang menghubungkan simpul simpul sebagai berikut : No Nomor Ruas Nama Ruas 1 143 Palupuh Suliki 2 157 Lingkar Danau Maninjau 3 159, 194, 195, 522, 579 4 164, 183, 207, 208, 209 Lingkar Utara Kota Lubuk Basung Lingkar Selatan Kota Lubuk Basung Rencana Pembangunan jalan kolektor primer (K3) yang menghubungkan simpul simpul sebagai berikut : No Nomor Ruas Nama Ruas 1 124, 148, 396, 506 (Jl. Retribusi) Ambun Pagi Puncak Lawang Smp. Kandih Muko Muko (jalan retribusi alternatif kelok 44) Ruas Jalan Kabupaten (K4): Peningkatan : No Nomor Ruas Nama Ruas 1 133 Simpang Patai - Palembayan 2 246 Matur - Sitingkai 3 222 Durian Kapeh Muaro Putuih 4 367 Muaro Putuih Subang Sbang 5 137 Padang Koto Gadang Koto Alam 6 167 Lubuk Basung Simpang Ampu 7 142 SP. Ampu SP. Puduang 8 141 SP. Puduang Sp Batu Kambiang 9 138 SP. Koto Alam Sp. Batu Kambiang 10 135 Palembayan SP. Koto Alam 11 130 Sp. Sei Pua - Palembayan 12 128 Sp. Pudiang Sp. Sei Pua 13 120 Pasar Lawang Sp. Pudiang 14 116 Surau Jua - Pasar Lawang 15 112 Sp. Matur Surau Jua 16 002 Sp. Gadut Pasa Dama 17 003 Pasa Dama S. Pincuran 18 004 Sp. Pincuran Air Tabik RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 14
19 005 Sp. Air Tabik Sei Dareh 20 366 Sei Dareh Sngai Guntung 21 569 Subang subang Tompek Harapan 22 455 Lapau Andung Masang (Tompek Harapan) 23 210 Batu Hampa - Kubu Anau 24 236 Malalak Hulu Banda 25 45, 50 Sp. Tj. Alam Sp. Bukik Batabuah 26 77, 85, 86, 87 Sp. Bukik Batabuah Koto Baru 27 131 Palembayan Data Munti 28 139 Pasa Bawan Batu Kambing 29 201 Anak Aie Dadok Padang Kajai 30 216 Durian Kapeh Bukik Sariak 31 408 Durian Kapeh SP. Mangkua; 32 215 Sp. Cacang Cacang Tinggi 33 473 Kampung Darek Simpang IV Cacang, 34 217 Pasar Tiku Simpang IV Cacang, 35 492 Banda Gadang Padang Tui, 36 219 Jalan Gasan Kaciak Padang Tui, Pembangunan : No Nomor Ruas Nama Ruas 1 Belum ada Pasar Durian Mutiara Agam 2 105 Malalak Sungai Batang 3 400 Kubu Labuah Nagari Padang Galanggang. 2. Jaringan jalan kereta api jalur Lubuk Alung Naras -Sungai Limau Simpang Empat; 3. Jaringan jalan kereta api jalur Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh. 4. Peninggkatan sarana dan prasarana terminal Antokan 5. Peningkatan dan pemungsian terminal Pasar Amur. 6. Pembangunan terminal Manggopoh. 7. Pembangunan terminal type A di Kecamatan Ampek Angkek atau Kecamatan Banuhampu sebagai alternatif relokasi terminal type A kota Bukittinggi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 15
Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan; Rencana pengembangan prasarana transportasi Danau akan dialokasikan dalam bentuk pembangungan dermaga untuk pendukung pariwisata (Muko-Muko, Linggai, Sungai Batang) dan dermaga untuk pengumpul produksi perikanan yang lokasinya disesuaikan dengan Master Plan Minapolitan. Transportasi Laut; Program peningkatan dan pembangunan transportasi laut adalah: Pengembangan pelabuhan Tiku diarahkan sebagai pelabuhan perikanan serta pelabuhan barang dan jasa terutama sebagai pelabuhan pengumpan. Sistem Jaringan Prasarana Energi Program pembangunan yang perlu dilakukan adalah : 1. Mengoptimalkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Danau Maninjau dengan kapasitas terpasang sebesar 68 MW, dengan upaya pelestarian kawasan resapan air pada Catchmant Area. 2. Rencana Pengembangan dan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Kecamatan Palupuh, Palembayan, Malalak dan Lubuk Basung, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di seluruh Kecamatan di Kabupaten Agam, 3. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) di Kecamatan Tanjung Mutiara. 4. Disamping itu juga, direncanakan pengembangan energy geothermal (Panas Bumi) di Kecamatan Tanjung Raya. Sistem Jaringan Prasarana Telekomunikasi Program pengembangan prasarana telekomunikasi adalah : 1. Pemenuhan kebutuhan pelanggan telepon, terutama pelanggan rumah tangga. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 16
2. Optimalisasi Sentral Telepon Otomatis (STO) yang telah dibangun di Lubuk Basung, Maninjau dan Baso dengan memanfaatkan tekonologi kabel optic. 3. Meningkatkan pelayanan dengan mempermudah dalam pemasangan sambungan baru untuk jaringan telepon. 4. Untuk jangka pendek, penyediaan jaringan-jaringan telepon baru yang dapat memanfaatkan pengembangan jaringan jalan sebagai akses penunjang. 5. Sedangkan untuk jangka menengah, mendorong penggunaan layanan telekomunikasi teknologi wireless seperti penggunaan telepon genggam, serta internet/ Voice Over Internet Protocol (VOIP) /multimedia yang menjangkau keseluruh wilayah di Kabupaten Agam dengan biaya yang terjangkau. Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Daerah Aliran Sungai; Untuk rencana penataan Daerah Aliran Sungai perlu diupayakan pelestarian kawasan lindung sesuai dengan permasalahan dan karakteristik dari masing-masing DAS. Adapun hal yang paling penting adalah upaya melestarikan kawasan konservasi untuk menjaga tata air sehingga sumber daya air dapat terjaga terutama untuk kepentingan produksi (irigasi, air baku dan sebagai sumber energi). Sedangkan untuk bagian kawasan-kawasan tertentu yang sudah bermasalah seperti banjir dan tanah longsor perlu dilakukan penanganan khusus seperti pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dan pelaksanaan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pemulihan lahan kritis dan penanaman hutan kembali (reboisasi). Irigasi; arahan pemanfaatan ruang serta program pengembangan sarana irigasi adalah: Meningkatkan daya guna dari irigasi dengan upaya pembangunan berbagai fasilitas yang diperlukan (embung, waduk, bendung, bangunan bagi, pintu air, saluran, dsb-nya) sehingga keberadaan irigasi RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 17
dapat menunjang upaya peningkatan produksi pertanian terutama pada kawasan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan. Peningkatan pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana irigasi termasuk saluran-saluran irigasi yang sudah dibangun sampai saat ini guna menambah umur pemanfaatan. Peningkatan peran irigasi sebagai penyedia air bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan maupun perikanan. Pemanfaatan air permukaan secara optimal (sungai dan danau yang ada) dalam upaya penyediaan air bagi kebutuhan irigasi. Melestarikan wilayah hulu (daerah resapan air) dalam upaya menjaga agar debit mata air, sungai maupun danau agar tetap stabil sehingga kebutuhan air irigasi dapat terpenuhi. Pembangunan irigasi pada daerah-daerah irigasi yang potensial. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, pemeliharan maupun pemanfaatan daerah irigasi sebagai basis dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Pengendalian Banjir; salah satu bencana alam yang mengancam Kabupaten Agam adalah banjir. Hal ini sangat berkaitan dengan menurunnya fungsi hutan dan kawasan lindung yang menyebabkan limpasan air hujan menjadi sangat tinggi dan menimbulkan genangan pada beberapa tempat. Kawasan yang paling rentan terhadap bahaya banjir adalah pada Batang Tiku, Batang Antokan, Batang Masang Kiri, Batang Agam. Untuk mengantisipasi banjir tersebut, selain dilakukan melalui pendekatan rehabilitasi area tangkapan hujan (hulu) juga ada baiknya membangun bangunan pengendalian banjir sebagai bangunan pengendali debit air sungai serta perkuatan tebing sungai dan normalisasi alur sungai. Penanganan Abrasi Pantai; pada kawasan pesisir (Kecamatan Tanjung Mutiara) terjadi intensitas abrasi yang cukup tinggi, sehingga dapat RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 18
membawa dampak terhadap kerusakan prasarana dan sarana wilayah, baik bangunan maupun sistem jaringan prasarana. Untuk itu diperlukan adanya penanganan abrasi pantai secara terarah dan terprogram, mulai dari identifikasi titik-titik abrasi, rencana penanggulangannya sampai pada peningkatan penyadaran masyarakat terhadap bahaya abrasi serta relokasi pemukiman penduduk. Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Program pembangunan jaringan prasarana lainnya adalah : Air Bersih; Arahan penanganan sistem air bersih di Kabupaten Agam dimasa datang direncanakan sebagai berikut: 1. Mengoptimalkan sumber air bersih yang ada saat ini; 2. Peningkatkan kapasitas produksi dan distribusi, yaitu dengan meningkatkan diameter pipa, penambahan jaringan pipa transmisi, distribusi, dan tersier ; 3. Memperbaiki jaringan distribusi yang rusak serta memelihara dengan baik jaringan tersebut guna meminimalisasi kebocoran yang terjadi selama distribusi; 4. Menyediakan pompa-pompa cadangan pada tiap-tiap unit PDAM sehingga apabila terjadi kerusakan, produksi dan distribusi air bersih oleh PDAM tidak terganggu; 5. Khusus untuk daerah perbukitan, diarahkan untuk tetap menggunakan sumur bor dengan pengelolaannya diserahkan permasing-masing nagari; 6. Penyediaan air bersih diutamakan untuk daerah-daerah padat penduduk, seperti ibukota kecamatan dan pusat-pusat permukiman; 7. Sejalan dengan pengembangan jaringan jalan, maka penyediaan jaringan air bersih juga dapat memanfaatkannya sebagai akses penunjang dalam penambahan jaringan-jaringan baru. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 19
Drainase ; penanganan sistem drainase di Kabupaten Agam adalah: 1. Saluran primer: pada umum memanfaatkan sungai dan anak-anak sungai lainnya; 2. Saluran sekunder, disamping memanfaatkan anak sungai (saluran) juga membangun saluran permanen baik saluran terbuka maupun tertutup terutama dikiri kanan jalan utama. 3. Saluran tersier; berupa saluran yang sebagian mengikuti sistem jaringan jalan yang bentuk fisiknya berupa saluran tanah maupun saluran permanen. Persampahan; berdasarkan hasil prediksi dan permasalahan yang ada, maka arahan pengembangan prasarana persampahan meliputi : 1. Pembangungan TPA baru di Lubuk Basung, dan serta optimalisasi TPA di Kota Lubuk Basung (sementara). 2. Pemilihan lokasi baru untuk tempat pengelolaan akhir harus sesuai dengan persyaratan teknis dan daya dukung lingkungan. Direncanakan di Nagari Nan Tujuah Kecamatan palupuh. 3. Pengurangan masukan sampah ke TPA dengan konsep reduce-reuserecycle di sekitar wilayah sumber sampah. 4. Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis. 5. Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan, bergerak dan tidak bergerak. 6. Mengembangkan kemitraan dengan swasta dan kerjasama dengan kabupaten sekitarnya yang berkaitan untuk pengelolaan sampah dan penyediaan TPA. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 20
6.3 PERWUJUDAN RENCANA POLA RUANG 6.3.1 Rencana Perwujudan Kawasan Lindung Rencana kawasan lindung di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, meliputi: kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air. b. Kawasan perlindungan setempat, meliputi: sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan mata air. c. Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang meliputi kawasan suaka alam seperti Hutan Suaka Alam. d. Kawasan rawan bencana alam yang meliputi: kawasan rawan gerakan tanah/longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir, kawasan rawan letusan gunung api, kawasan rawan gempa bumi, kawasan yang terletak di zona patahan aktif dan kawasan rawan tsunami serta kawasan rawan abrasi e. Kawasan lindung geologi yang meliputi kawasan yang memiliki keunikan baik dari jenis bebatuan, bentang alam, proses geologi maupun kawasan imbuhan air tanah f. Kawasan lindung lainnya yang meliputi kawasan perlindungan plasmanutfah, ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang), dan hutan manggrove. Perwujudan Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya Kawasan yang dimaksud disini adalah kawasan dengan kemiringan di atas 40% yang secara fungsi merupakan hutan lindung yang sekaligus sebagai daerah tanggkapan air. Kondisi pada saat ini sebagian sudah mengalami deforestasi dan potensial menyebabkan atau rawan longsor, bahkan secara faktual sebagian hutan lindung ini sudah banyak yang berubah fungsi RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 21
berupa semak belukar atau perkebunan rakyat. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah untuk memulihkan fungsinya dengan cara : 1. Pemantapan tata batas hutan lindung 2. Identifikasi dan klasifikasi permasalahan hutan lindung tersebut menjadi ; sangat kritis, kritis dan tidak kritis. 3. Hutan lindung dengan tingkatan sangat kritis segera direhabilitasi dengan program yang masif dan partisipatif. 4. Apabila hutan lindung tersebut ditanami tanaman produktif yang menjadi sumber kehidupan ekonomi masyarakat, maka secara bertahap dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung. 5. Penegakan hukum. Perwujudan Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan yang dimaksud dengan perlindungan setempat adalah kawasan yang secara fungsional merupakan daerah penyangga (buffer zone) sehingga fungsi dari yang disangganya dapat berfungsi secara optimal. Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Agam ditetapkan berupa kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, sempadan mata air. Kondisi aktual kawasan perlindungan setempat ini belum menjadi perhatian bagi pemerintah maupun masyarakat sehingga pada beberapa kawan ditemui pemanfaatan kawasan perlindungan setempat ini menjadi kawasan permukiman maupun, pertanian maupun perkebunan. Akibatnya tentunya terganggunya ekosistem baik berupa pencemaran, maupun penurunan fungsi lindungnya. Agar kawasan perlindungan setempat ini dapat memberikan nilai manfaat kepada lingkungannya maka diperlukan beberapa langkah-langkah pemulihan fungsinya antara lain: 1. Menetapkan tata batas dari masing-masing daerah perlindungan setempat; 2. Identifikasi permasalahan dari masing-masing kawasan perlindungan setempat; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 22
3. Rumuskan kebijakan dan program dalam rangka pemecahan permasalahan; 4. Tingkatkan pemahaman dan kesadaran akan artinya kawasan perlindungan setempat; 5. Rehabikitasi terhadap kawasan perlindungan setempat yang sudah sangat kritis; 6. Penegakan hukum; dan 7. Evaluasi dan monitoring Perwujudan Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam Kawasan suaka alam yang ada dan tetap dipertahankan sampai akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2030 adalah; Cagar Alam Merapi, Cagar Alam Singgalang dan Tandikek, Cagar Alam Maninjau Utara dan Selatan dan Cagar Alam Bikik Sirabungan serta Cagar Alam Batang Palupuh. Untuk mencegah kerusakan kawasan suaka alam yang ada di Kabupaten Agam, maka perlu dilakukan pengendalian agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun bagi kelestarian alam. Mengingat pentingnya kelestarian alam bagi makhluk hidup, maka diambil langkahlangkah perlindungan hutan dan pelestarian alam, diantaranya: 1. Pemantapan tata batas Cagar Alam. 2. Identifikasi dan klasifikasi kondisi kawasan (tidak kritis, kritis dan sangat kritis). 3. Perumusan program rehabilitasi multi pendekatan dan multi pelaku serta lintas wilayah. 4. Penggalangan kerjasama pemulihan fungsi dan peran Cagar Alam. 5. Pelaksanaan program rehabilitasi 6. Pelaksanaan program pemeliharaan dan pelestarian 7. Penegakan hukum; dan 8. Pemantauan dan evaluasi RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 23
Rencana Perwujudan Mitigasi Kawasan Rawan Bencana A. Mitigasi Rawan Bencana Longsor / Gerakan Tanah Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. Program utama yang perlu dilakukan untuk mitigasi rawan bencana longsor adalah : 1. Penguatan lereng pada daerah rawan longsor di sepanjang sisi jalan raya; 2. Rehabilitasi dan reboisasi daerah-daerah penyangga dan resapan air terutama di wilayah yang sudah teridentifikasi sebagai kawasan rawan longsor atau gerakan tanah; 3. Pengendalian penebangan dan pemanfaatan lahan di daerah penyangga dan resapan air; 4. Pengendalian penambangan pada daerah-daerah penyangga dan resapan air; 5. Pengendalian pembangunan pemukiman di daerah penyangga, resapan air dan daerah rawan longsor/gerakan tanah; 6. Inventarisasi dan pengawasan ketat daerah-daerah rawan longsor; 7. Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan longsor di setiap wilayah kecamatan; 8. Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan bencana; 9. Peraturan daerah yang mengatur sanksi hukum bagi pelanggaran tata ruang di daerah rawan longsor; 10. Sosialisasi daerah rawan longsor. Secara teknis mitigasi longsor/gerakan tanah dilakukan dengan cara : 1. Menghindar (avoidance); yaitu dengan cara tidak membangun dan menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena longsor atau gerakan tanah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 24
2. Stabilisasi (stabilization); dengan cara membuat kemiringan lereng menjadi landai dan stabil sehingga kemungkinan longsor menjadi kecil, atau bangunan yang akan didirikan menggunakan pondasi tiang pancang sampai ke bagian lapisan tanah yang stabil. 3. Pembatasan penggunaan lahan dan penempatan jumlah jiwa (Limitation of land-use and occupancy); Jenis peruntukan lahan, seperti lahan pertanian atau lahan pemukiman dapat dilakukan dengan cara membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan potensi bencana yang mungkin timbul. Penempatan jumlah jiwa per hektar dapat disesuaikan untuk mengurangi tingkat bencana. B. Mitigasi Rawan Gelombang Pasang Program utama yang perlu dilakukan untuk mitigasi rawan bencana longsor adalah : 1. Identifikasi kawasan pemukiman yang rawan terkena gelombang pasang; 2. Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan gelombang pasang di setiap kantong-kantong pemukiman; 3. Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan gelombang pasang, 4. Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman. 5. Sosialisasi daerah rawan gelombang pasang. C. Mitigasi Rawan Bencana Banjir; Pada kawasan dengan genangan yang cukup lama perlu ditetapkan sebagai kawasan lindung (inclave). Karena bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang dapat diduga maka rekayasa teknik pengendalian kerusakan air dapat dilakukan disamping dibangunnya sistem peringatan dini. Namun untuk mencegah banjir limpasan yang diakibatkan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 25
oleh deforestasi tentu hanya dapat dilakukan dengan rehabilitasi kawasan hulu. Kawasan hulu yang perlu direhabilitasi adalah hulu-hulu sungai seperti; Batang Tiku, Batang Antokan, Batang Bawan, Batang Sitanang, Batang Masang Kiri serta Batang Agam. Program utama yang perlu dilakukan adalah : 1. Delineasi kawasan banjir eksisting dan potensi meluasnya kawasan rawan banjir 2. Identifikasi faktor penyebab bahaya banjir, seperti kerusakan kawasan tangkapan air pada hulu sungai, kerusakan DAS, kawasan rawa, cekungan dan faktor-faktor lainnya 3. Penyusunan program mitigasi bencana banjir, baik mitigasi struktural maupun non struktural 4. Pelaksanaan program mitigasi yang telah dirumuskan seperti : a. Rehabilitasi dan Reboisasi kawasan hulu dan DAS b. Pembangunan bangunan pengendali daya rusak air (banjir) seperti normalisasi sungai dan perkuatan tebing sungai. c. Sosialisasi teknis mitigasi banjir kepada masyarakat terdampak (potensial terdampak) d. Menetapkan sebagian dari kawasan banjir sebagai kawasan lindung karena merupakan bagian dari eksostim rawa/tanah basah (wet land). D. Mitigasi Rawan Letusan Gunung Api; Di daerah administrasi Kabupaten Agam mempunyai dua gunung api aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikat. Berdasarkan kajian dari tim geologi dari kegiatan Penyusunan Profil Daerah Rawan Bencana ditetapkan daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunungapi di Kabupaten Agam antara lain: Letusan Gunung Marapi: Aliran Batang Sariak, Limo Kampung, Tabek, Kepalakoto, Lukok 1, Surau baru, Padanglaweh, Lubuk dan Pulungan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 26
Letusan Gunung Tandikat: tidak terlalu membahayakan kecuali sekitar Toboh. Berdasarkan kondisi tersebut maka dalam arahan program utama mitigasi terhadap daerah rawan letusan gunung api, diantaranya adalah: 1. Identifikasi kawasan pemukiman yang rawan terkena dampak letusan Gunung Merapi dan Gunung Tandikek; 2. Pengaktifan kelembagaaan pengamat gunung merapi; 3. Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan letusan gunung api di setiap kantong-kantong pemukiman; 4. Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan bahaya letusan gunung api; 5. Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman; 6. Pembangunan jalur-jalur evakuasi; 7. Sosialisasi daerah rawan letusan gunung api. E. Mitigasi Kawasan Rawan Gempa Bumi Kabupaten Agam merukan salah satu kabupaten yang rawan terhadap bahaya seismisitas gempa bumi. Berdasarkan hasil analisis Kabupaten Agam dapat diklasifikasikan kedalam beberapa zona kerusakan, yaitu zona kerusakan paling tinggi tersebar disepanjang Pegunungan Bukit Barisan, kurang lebih daerah yang menghubungkan antara Danau Singkarak, Kota Bukittinggi sampai sekitar Bonjol di sebelah Barat Laut. Zona kerusakan lebih rendah diapit oleh dua sesar/patahan. Diluar dari dua zona diatas ada zona yang relatif lebih aman yang mana jika terjadi gempa bumi relatif lebih aman. Berdasarkan kondisi tersebut maka dalam arahan program utama mitigasi terhadap daerah rawan gempa bumi, diantaranya adalah: 1. Identifikasi pemukiman penduduk yang berada pada zona-zona kerusakan akibat gempa bumi; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 27
2. Peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya gempa bumi; 3. Sosialisasi tanggap darurat dan mekanisme evakuasi korban gempa bumi di seluruh wilayah kabupaten, 4. Peningkatan peran lembaga masyarakat mulai dari mitigasi sampai kepada penanganan bencana gempa bumi; 5. Penguatan kelembagaan dan mekanisme penanganan bencana gempa bumi di Kabupaten Agam, 6. Pembangunan dan penguatan sistem komunikasi ke daerah-daerah terpencil, 7. Penguatan akses informasi dan komunikasi ke dan dari instansiinstansi yang menangani kegempaan dan kebencanaan, 8. Penetapan peraturan daerah dalam menetapkan zonasi kerentanan dan kerusakan akibat gempa bumi; 9. Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman 10. Pembangunan jalur-jalur evakuasi 11. Monitoring dan evaluasi Secara teknis mitigasi daerah rawan gempa bumi dilakukan dengan cara : 1. Menghindar (avoidance); yaitu dengan cara tidak membangun dan menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena dampak kerusakan apabila terjadi gempa yaitu disepanjang jalur sesar aktif. 2. Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in structures); struktur bangunan harus dirancang dengan memperhitungkan keselamatan jiwa manusia, yaitu dengan bangunan yang tahan gempa bumi (2 sloop). RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 28
F. Mitigasi Rawan Bencana Tsunami; Mitigasi Kawasan Rawan Tsunami dilakukan melalui : 1. Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mitigasi tsunami adalah: a. Pemasangan alarm dan komunikasi tanda bahaya (alarm warning systems) di seluruh setiap wilayah pemukiman padat penduduk di Kecamatan Tanjung Mutiara b. Sosialisasi mengenai potensi bahaya tsunami di Kecamatan Tanjung Mutiara, serta melaksanakan gladi posko dan gladi lapangan terhadap bahaya tsunami. c. Pemasangan Buoy (tsunami warning system) di perairan barat Kabupaten Agam, d. Pembangunan bangunan pemecah gelombang di kawasan pesisir wilayah Kabupaten Agam (terutama di kawasan padat penduduk: Tiku, Pasia Paneh, Muaro Putus, Masang dan Subang-Subang), e. Penguatan kelembagaan dan mekanisme penanganan bencana tsunami Kabupaten Agam, 2. Klasifikasi kawasan rawan tsunami berdasarkan ketinggian kawasan diatas permukaan laut. a. Zona Kerawanan tinggi, wilayah sepanjang pantai dengan ketinggian kontur kurang dari 5 m dpl. b. Zona Kerawanan menengah yaitu daerah sepanjang pantai dengan kontur ketinggian 5 10 m dpl, c. Zona kerawanan rendah yaitu wilayah sepanjang pantai dengan ketinggian 10 15m dpl, 3. Peraturan zonasi yang berlaku untuk kawasan dengan tingkat kerawanan tsunami; a. Pada sempadan pantai tidak diperbolehkan mendirikan bangunan hunian; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 29
b. Pada sempadan pantai ditanami tanaman yang dapat mengurangi laju gelombang tsunami seperti cemara laut, mangrove, kelapa dalam dan tanaman sejenis ataupun perlindungan buatan; c. Pada kawasan tersebut disediakan jalur evakuasi (escape road) dan bangunan evakuasi (escape building) yang diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan kepadatan penduduk, sistem jaringan jalan, topografi dan bangunan lain di sekitarnya; d. Bangunan hunian dan bangunan fungsi lain dapat dibangun diluar sempadan pantai yang memenuhi syarat tahan gempa dan berupa rumah panggung dengan konstruksi yang mampu mengurangi gelombang tsunami; e. Setiap pendirian bangunan harus mendapat persetujuan dari lembaga berwenang, sehingga setiap bangunan memenuhi syarat tahan gempa dan ramah tsunami (building code); f. Kawasan rawan tsunami dapat dibudidayakan sebagai kawasan perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan dan kegiatan lain dengan intensitas bangunan (hunian maupun non hunian) secara terbatas (maksimal 30%); g. Pada setiap kawasan berpenghuni (permukiman) ditempatkan papan informasi tentang tsunami, termasuk petunjuk jalur evakuasi (escape road) dan gedung penyelamat (escape building). Escape road dibuat tegak lurus terhadap pantai. Escape building dapat direncanakan mempunyai fungsi ganda seperti balai desa, ruang publik dan sekaligus menjadi pusat informasi tentang bencana alam dan bagian dari bangunan berupa menara pemantauan 4. Untuk Klasfikasi kawasan dengan tingkat kerawanan tsunami tinggi dilakukan mitigasi struktural ataupun non struktural. Pendekatan mitigasi bencana tsunami dilakukan dengan dua pendekatan yaitu : Pendekatan Struktur (Fisik) a. Metode Perlindungan Alami dengan penanaman mangrove dan cemara laut, penguatan sand dune, pelestarian terumbu karang, RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 30
b. Metode Perlindungan Buatan : Breakwater, tembok laut, tanggul, konstruksi pelindung, bangunan pengendali, rumah panggung. Mengembangkan terumbu buatan. Struktur tahan bencana: sisi panjang dari struktur sedapat mungkin diarahkan sejajar dengan antisipasi arah penjalaran gelombang, shear wall dan lateral bracing ditempatkan searah dengan penjalaran gelombang dan lantai terbawah dari bangunan dibuat terbuka. Pendekatan Nonstruktur (Non Fisik), seperti : 1. Pembuatan peta rawan bencana 2. Sistem peringatan dini 3. Penetapan sempadan pantai dan sungai (hulu-hilir) 4. Penegakan hukum 5. Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana, F. Mitigasi Rawan Bencana Abrasi; Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mitigasi tsunami adalah: 1. Identifikasi potensi abrasi di Kecamatan Tanjung Mutiara; 2. Penetapan zonasi daerah rawan abrasi 3. Sosialisasi potensi bahaya abrasi kepada masyarakat 4. Relokasi kawasan pemukiman yang terkena abrasi. 5. Pembangunan bangunan pemecah gelombang di kawasan pesisir wilayah Kabupaten Agam (terutama di kawasan padat penduduk: Tiku, Pasia Paneh, Muaro Putus, Masang dan Subang-Subang), RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 31
Perwujudan Kawasan lindung geologi. Kabupaten Agam memiliki kawasan lindung geologi dengan keunikan bentang alam berupa kaldera yang terbentuk akibat letusan gunung api maninjau dan ngarai/lembah yaitu ngarai Sianok. Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung geologi adalah: 1. Penetapan tata batas kawasan lindung geologi; 2. Menyusun sejarah terbentuknya Kaldera Maninjau dan Ngarai Sanok dari sudut pandang geologi; 3. Mensosialisasikan kawasan lindung geologi. Perwujudan Kawasan lindung lainnya. Yang termasuk kawasan lindung lainnya di Kabupaten Agam berupa kawasan perlindungan plasma-nutfah, ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang), dan hutan manggrove. Kawasan perlindungan plasma nutfah di Kabupaten Agam berada di Kecamatan Palupuh Nagari Koto Rantang adalah bunga raflesia (Raflesia Arnoldy). Kawasan ekosistem laut yang ada di Kabupaten Agam adalah Pulau Tangah dan Pulau Ujung, dimana disekitar pulau tersebut terdapat ekosistem terumbu karang yang berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan ikan dan satwa laut lainnya. Demikian juga dengan hutan Mangrove yang ada di Kabupaten Agam berlokasi di pesisir Kecamatan Tanjung Mutiara. Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung plasma nutfah adalah: 1. Identifikasi penyebaran plasma nutfah yang dilindungi; 2. Penyusunan program pengamanan terhadap plasma nutfah yang dilindungi; 3. Miningkatkan pengawasan kawasan; dan 4. Menyediakan infrastruktur lingkungan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 32
Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang) adalah: 1. Penetapan tata batas kawasan lindung ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang); 2. Identifikasi potensi dan penyebaran terumbu karang; 3. Penyusunan program kegiatan perlindungan kawasan; dan 4. Perumusan strategi pengamanan. Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung hutan Mangrove adalah: 1. Mengidentifikasi penyebaran mangrove; 2. Menyusun perencanaan pengembangan kawasan hutan mangrove; 3. Pelaksanaan pembangunan hutan mangrove (pembibitan, penanaman dan pemeliharaan); dan 4. Pengawasan. 6.3.2 Rencana Perwujudan Kawasan Budidaya Rencana Perwujudan Hutan Produksi Kabupaten Agam memiliki potensi hutan produksi yang cukup luas dan tersebar di beberapa Kecamatan. Untuk rencana pengembangan kawasan peruntukan hutan produksi sampai dengan tahun 2030 adalah seluas ± 21.390 Ha yang terdiri dari kawasan hutan produksi terbatas (HPT) seluas ± 15.250 Ha, hutan produksi tetap (HP) seluas ± 1.430 Ha, dan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas ± 7.210 Ha. Penetapan kawasan hutan produksi ditujukan untuk mewujudkan kawasan hutan produksi yang dapat memberikan manfaat : a. Mendorong peningkatan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; b. Mampu meningkatkan fungsi lindung, menjaga keseimbangan tata air dan lingkungan, dan pelestarian kemampuan sumberdaya hutan; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 33
c. Mampu menjaga kawasan lindung terhadap pengembangan kawasan budidaya; d. Mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan, meningkatkan pendapatan daerah, dan meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar hutan; e. Meningkatkan nilai tambah produksi hasil hutan dan industri pengolahannya, dan meningkatkan ekspor; atau f. Mendorong perkembangan usaha dan peran masyarakat sekitar hutan. Langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk pengelolaan hutan produksi ini adalah : 1. Penetapan tata batas yang jelas. 2. Fasilitasi dalam izin pengelolaan. 3. Pemasangan batas luar kawasan dan blok pemanfaatan dan blok perlindungan. 4. Pembangunan infrastruktur pendukung untuk pemanfaatan sumber daya air (pertanian, mikrohidro, kebutuhan air bersih dan sebagainya). 5. Pembangunan fasilitas wisata alam jika diperlukan. 6. Fasilitasi pemasaran hasil produksi kehutanan dan perkebunan. Recana Perwujudan Kawasan Pertanian Pertanian Lahan Basah (pertanian tanaman pangan berkelanjutan); Program yang dikembangkan untuk pertanian lahan basah atau pertanian tanaman pangan berkelanjutan adalah : 1. Penetapan deliniasi lahan sawah yang cadangkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan. 2. Menyusun program dan kegiatan dalam rangka mewujudkan pertanian tanaman pangan berkelanjutan. 3. Peningkatan pelayanan irigasi teknis/desa dengan jaminan pasokan air yang mencukupi. Perbaikan irigasi dilakukan secara terprogam dan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 34
sesuai prioritas dengan mengacu pada kondisi terakhir dari irigasi teknis/desa yang ada pada laporan kondisi irigasi terakhir, 4. Peningkatan produksi pertanian sawah melalui intensifikasi lahan sehingga hasil panen dapat dicapai lebih dari 4,2 ton/ha, 5. Untuk meningkatkan pendapatan petani perlu dikembangkan padi organik bersertifikat sehingga sebagian hasil panen dapat dijual dengan nilai ekonomi yang tinggi, 6. Diperlukan berbagai insentif (keringanan pajak/retribusi dan subsidi) guna meningkatkan produktivitas lahan dan kinerja petani, 7. Penguatan kelembagaan petani terkait dengan pengelolaan lahan dan air (irigasi), pengadaan sarana produksi, panen dan pengolahan pasca panen termasuk pemasaran. Pertanian Lahan Kering & Hortikultura; untuk mewujudkan rencana pola ruang pertanian lahan kering dan hortikultura diperlukan hal-hal berikut : 1. Penetapan kawasan dan sentra pertanian lahan kering untuk Kabupaten Agam. 2. Penetapan komoditas unggulan sesuai karakteristik sub kawasan. 3. Pengembangan pertanian organik dalam upaya pengelolaan pertanian berkelanjutan serta upaya peningkatan pendapatan pertanian karena hasil panen dapat dijual dengan nilai ekonomi yang tinggi. 4. Peningkatan produksi komoditas melalui intensifikasi lahan, ekstensifikasi dan optimasi lahan. 5. Pembangunan prasarana dan sarana pertanian, seperti jalan produksi, peralatan budidaya dan teknologi pengolahan pasca panen. 6. Penguatan kelembagaan petani terkait dengan pengelolaan lahan, penggunaan pupuk organik, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran serta permodalan. 7. Pembangunan infrastruktur kawasan agropolitan yang terdiri dari sub sistem: RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 35
a. Subsistem Hulu (Up Stream): sarana produksi pertanian (industri pembibitan, agrokimia, agrootomotif) b. Subsistem Usaha tani (On Farm): produksi pertanian primer (budidaya) c. Subsistem Hilir (Down Stream): pengolahan hasil pertanian dan perdagangan. d. Subsistem Kelembagaan (Supporting Institution): perbankan, transportasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, penyuluhan dan konsultan, dll Rencana Perwujudan Kawasan Peternakan Program yang dikembangkan untuk kawasan peternakan adalah : 1. Pengembangan sentra peternakan ternak besar (sapi) di Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, IV Nagari (Sapi Bali), Ampek Angkek, Baso, Canduang dan Tilatang Kamang (Simental, Brahman dan PO) dan Tanjung Raya dan Malalak (Brahman dan PO). Sebagai sentra peternakan ternak besar perlu dilengkapi dengan prasarana dan sarana reproduksi (pembibitan), penggemukan dan pemanfaatan daging (RPH). 2. Pengembangan sentra peternakan ternak kecil (kambing & domba) di Kecamatan Kamang, Lubuk Basung dan IV Nagari. Pada kawasan sentra peternakan ternak kecil ini seyogyanya juga dibangun prasarana dan sarana pendukung agar sentra berfungsi dan terjadi peningkatan populasi dan produksi ternak kambing dan domba. 3. Pengembangan sentra peternakan unggas direncanakan di Kecamatan Tilatang Kamang, Baso, Lubuk Basung dan Tanjung Mutiara (Ayam Buras), Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan IV Angkek(ayam petelur) dan di Kecamatan Tilatang Kamang, Baso, Kamang Magek dan Lubuk Basung (ayam pedagng) serta Kecamatan Tilatang Kamang dan Kamang Magek dengan sistem mina padi Lubuk Basung (itik), RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 36
4. Pengembangan kawasan agribisnis peternakan 5. Pengembangan kawasan integrasi seperti : Kawasan integrasi perternakan tanaman pangan dan hortikultura (organic farm) Kawasan integrasi perternakan - perkebunan (kakao, kelapa sawit) Kawasan integrasi perternakan - perikanan 6. Sesuai dengan UU penyuluhan, dilakukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan para peternak sehingga diperoleh peningkatan populasi dan produksi peternakan yang berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. 7. Pengembangan pakan ternak lokal dengan mengandalkan hasil pertanian dan perikanan lokal. Recana Perwujudan Kawasan Perkebunan Jenis komoditas perkebunan utama yang dikembangkan di Kabupaten Agam adalah kelapa dalam, kelapa sawit, kakao, kopi, casiavera, karet dan gambir. Program untuk pengembangan berbagai jenis komoditas perkebunan ini adalah : 1. Penetapan komoditas unggulan sesuai karakteristik sub kawasan 2. Penetapan (delineasi) kawasan perkebunan yang potensial dan tidak berada pada kawasan konservasi (lindung). 3. Peningkatan produksi komoditas melalui intensifikasi lahan. Peningkatan produksi ini dilakukan melalui bantuan sarana produksi perkebunan, peningkatan keterampilan budidaya dan pengolahan pasca panen. 4. Peningkatan kemampuan petani dalam pengolahan hasil (pasca panen) 5. Pembenahan tata niaga hasil perkebunan 6. Fasilitasi permodalan bagi petani RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 37
Recana Perwujudan Kawasan Perikanan Kawasan perikan terdiri dai dua kawasan yaitu kawasan perikanan air tawar dengan sentra produksinya di Kecamatan Tanjung Raya dan kawasan perikanan laut dengan sentra produksinya di Kecamatan Tanjung Mutiara. Program yang dikembangkan untuk kawasan perikanan air air tawar adalah : 1. Peningkatan usaha perikanan air tawar yang ramah lingkungan di Danau Maninjau 2. Pengendalian dan peningkatan pelayanan perizinan usaha. 3. Peningkatan pemasaran, standar mutu, dan nilai tambah produk perikanan. 4. Pengembangan sistem data, statistik dan informasi perikanan. 5. Perwujudan Minapolitan dengan kegiatan: a. Penetapan kawasan minapolitan b. Penyiapan program minapolitan c. Penyusunan rencana rinci dan rencana aksi agro minapolitan d. Penyiapan masyarakat e. Pembangunan infrastruktur pendukung kawasan Minapolitan yang terdiri dari sub sistem: Subsistem Hulu (Up Stream): sarana produksi perikanan (pembibitan, industri pakan, dll) Subsistem Usaha Perikanan (On Farm): produksi perikanan (budidaya) yang ramah lingkungan sertab tempat bongkar muat ikan. Subsistem Hilir (Down Stream): pengolahan hasil perikanan dan tata niaga perikanan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 38
Subsistem Kelembagaan (Supporting Institution): perbankan, transportasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, penyuluhan dan konsultan, dll f. Pendampingan dan Pelaksanaan kegiatan g. Pemantauan dan pengembangan Program yang dikembangkan untuk kawasan perikanan laut adalah : 1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, yang meliputi nelayan dan pembudidaya ikan. 2. Pengembangan usaha perikanan skala kecil (tambak dan budidaya laut). 3. Melanjutkan pembangunan pelabuhan perikanan Tiku berikut fasilitas penunjangnya. 4. Pemantapan pembiayaan pembangunan pelabuhan melalui dana alokasi khusus (DAK) Departemen Kelautan dan Perikanan. 5. Operasional dan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Tiku 6. Peningkatan usaha industri pengolahan ikan laut Recana Perwujudan Kawasan Pertambangan Upaya perwujudan kawawan pertambangan dilaksanakan melalui peningkatan pengelolaan dan pengembangan, serta pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan dan energi. Arahan kegiatan yang akan dilaksanakan pada program ini meliputi: 1. Inventarisasi sumberdaya mineral, pembinaan, dan pengawasan bidang pertambangan dan galian Golongan A, B, dan C, serta air bawah tanah, yang berpotensi untuk dieksploitasi dalam skala ekonomi. 2. Melakukan kajian daya dukung lingkungan untuk ekploitasi bahan tambang dan galian. 3. Menetapkan satuan Wilayah Pertambangan (WP) yang meliputi Wilayah Usaha Pertambangan (WUP), Wilayah Pertambangan Rakyat RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 39
(WPR) dan Wilayah Pertambangan Negara (WPN) dengan pertimbangan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. 4. Menyusun profil potensi, prosedur dan mekanisme perizinan serta rencana bisnis (bussines plan) untuk masing-masing WUP, WPR dan WPN. 5. Melakukan kajian sumberdaya energi alternatif yang meliputi panas bumi dan tenaga air, listrik pedesaan. 6. Melakukan promosi untuk menarik investasi pengembangan bidang pertambangan dan energi. Recana Perwujudan Kawasan Pariwisata Sesuai dengan potensi wisata (wisata alam, budaya, buatan serta minat khusus) di Kabupaten Agam, upaya perwujudan kawawan pariwisata dilaksanakan melalui peningkatan pengelolaan objek wisata dan pengembangan SDM, serta pembinaan dan pengawasan bidang pariwisata. Program yang dikembangkan untuk perwujudan pengembangan kawasan pariwisata alam adalah : 1. Pendataan objek wiasata alam yang tersebar di seluruh Kabupaten Agam. 2. Pemilihan secara objek-objek wisata alam yang potensial untuk dikembangkan. 3. Penyusunan skenario pengembangan dan pengelolaannya yang terpadu dengan kebijakan kepariwisataan tingkat propvinsi maupun nasional. 4. Membangunan serta melengkapi objek wisata alam yang diunggulkan dengan fasilitas penunjang wisata. 5. Melakukan kerja sama dengan berbagai fihak dalam rangka pengembangan dan pembangunan berbagai fasilitas penunjang objek wisata alam. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 40
6. Melakukan promosi melalui berbagai media, dan mengikuti berbagai event promosi. 7. Melakukan kerjasama dengan berbagai biro perjalanan dalam upaya pemasaran yang progresif. 8. Evaluasi dan pengawasan Program yang dikembangkan untuk perwujudan pengembangan kawasan pariwisata budaya adalah : 1. Pendataan objek wiasata budaya yang tersebar di seluruh Kabupaten Agam. 2. Pemilihan secara objek-objek wisata budaya yang potensial untuk dikembangkan. 3. Penyusunan skenario pengembangan dan pengelolaannya yang terpadu dengan kebijakan kepariwisataan tingkat propvinsi maupun nasional. 4. Melakukan kerja sama dengan berbagai fihak dalam rangka pengembangan dan pembangunan objek wisata budaya. 5. Penggalian dan menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya lokal (peninggalan sejarah, kesenian, kerajinan) yang dapat menunjang objek wisata budaya serta fasilitas penunjang wisata (bangunan tradisional). 6. Melakukan promosi melalui berbagai media, dan mengikuti berbagai event promosi. 7. Melakukan kerjasama dengan berbagai biro perjalanan dalam upaya pemasaran yang progresif. 8. Evaluasi dan pengawasan Program yang dikembangkan untuk perwujudan pengembangan kawasan pariwisata buatan adalah : RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 41
1. Inventarisasi objek-objek wisata buatan potensial yang dapat dikembangkan di kabupaten Agam. 2. Pemberian kemudahan dalam proses perizinan. 3. Melakukan kerja sama dengan berbagai fihak (investor) dalam rangka pengembangan dan pembangunan objek wisata buatan. 4. Melakukan promosi melalui berbagai media, dan mengikuti berbagai event promosi. 5. Melakukan kerjasama dengan berbagai biro perjalanan dalam upaya pemasaran yang progresif. 6. Evaluasi dan pengawasan Program yang dikembangkan untuk perwujudan pengembangan kawasan pariwisata minat khusus adalah : 1. Inventarisasi objek-objek wisata minat khusus potensial yang dapat dikembangkan di Kabupan Agam. 2. Melanjutkan kegiatan minat khusus yang sudah berjalan selama ini. 3. Pemberian kemudahan dalam proses perizinan. 4. Melakukan kerja sama dengan berbagai fihak dalam rangka pengembangan dan pengelolaan objek wisata minat khusus. 5. Melakukan promosi melalui berbagai media, dan mengikuti berbagai event promosi. 6. Melakukan kerjasama dengan berbagai biro perjalanan dalam upaya pemasaran yang progresif. 7. Evaluasi dan pengawasan Recana Perwujudan Kawasan Permukiman Permukiman Perkotaan; pembangunan kawasan permukiman perkotaan akan kita temui di Kota Lubuk Basung, ibukota kecamatan dan Kawasan Perbatasan Agam Kota Bukittinggi (kawasan strategis berbatasan). RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 42
Prinsip dasar yang perlu mendapat perhatian dalam pembangunan permukiman perkotaan adalah adalah: 1. Pengembangan kawasan permukiman perkotaan harus mengacu kepada rencana tata ruang yang berlaku (RTRW, RDTR kawasan perkotaan). 2. Perencanaan dan pelaksanaan konstruksi bangunan harus mengacu kepada standar pembangunan yang lebih aman/tahan gempa. 3. Pemilihan lokasi harus mempertimbangkan minimalisasi resiko bencana (longsor, banjir, sesar aktif, alur lahar gunung berapi). 4. Mempertimbangkan penyediaan bangunan penyelamat (escape building) sebagai rumah perlindungan bersama bila terjadi bencana alam. Pada saat normal (tidak terjadi bencana) bangunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bangunan sosial, baik untuk balai pertemuan, balai adat, kegiatan agama, dll. Bangunan ini tentunya harus tahan gempa dan berada pada kawasan yang aman dan mudah dijangkau. 5. Permukiman seyogyanya harus didukung dengan infrastruktur dasar, seperti sistem transportasi, air bersih, listrik, telekomunikasi yang memadai, sanitasi lingkungan dan adanya pengelolaan sampah yang baik serta dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan dan perdagangan. Pengembangan permukiman dalam hal penyediaan perumahan formal dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yaitu komposisi 1:3:6, artinya bila dibangun sebuah rumah mewah harus sebanding dengan pembangunan 3 rumah sedang dan 6 rumah sederhana. Komposisi tersebut sekaligus menggambarkan keberpihakan pemerintah kepada pemenuhan kebutuhan permahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Adapun program yang perlu dikembangkan untuk permukiman perkotaan adalah sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 43
1. Percepatan penyediaan perumahan melalui kegiatan : Penyediaan KPR Rumah Sederhana Sehat (RSH) bersubsidi, Pengembangan perumahan swadaya dan Pengembangan Kasiba/Lisiba. 2. Penataan dan rehabilitasi lingkungan kawasan perkampungan kumuh. Kegiatan ini ditujukan untuk kawasan yang memiliki lingkungan permukiman yang kurang sehat serta kondisi perumahan yang kurang layak pada kota-kota yang menjadi pusat pengembangan. 3. Revitalisasi kawasan tradisional/etnis/bersejarah yaitu kawasan yang mempunyai bangunan bersejarah yang bernilai atau bermakna penting 4. Peningkatan penyehatan lingkungan permukiman. 5. Pengembangan prasarana dan sarana kawasan cepat tumbuh perkotaan, seperti Kota Lubuk Basung maupun kawasan perkotaan di wilayah berbatasan Agam - Bukittinggi. Permukiman Perdesaan; Ciri permukiman perdesaan adalah tersebar secara mengelompok di sepanjang jalan utama dan sebagian lainnya berada pada kawasan yang mempunyai akses yang rendah. Program perwujudan permukiman perdesaan yang dilakukan adalah : 1. Identifikasi kebutuhan perumahan dan penyediaan perumahan perdesaan melalui bantuan pemerintah dan pembangunan perumahan swadaya. 2. Identifikasi kelompok permukiman perdesaan yang berada pada kawasan lindung dan budidaya. Bila terdapat permukiman (kelompok rumah) yang berada pada kawasan lindung, maka direkomendasikan jalan keluarnya, baik melalui pelepasan hak hutan atau relokasi. 3. Identifikasi bangunan fasilitas umum dan perumahan yang berada pada kawasan rawan bencana dan merekomendasikan mitigasi ataupun relokasi terhadap bangunan tersebut. 4. Identifikasi bangunan fasilitas umum dan perumahan yang tidak memenuhi konstruksi tahan gempa dan merekomendasikan rencana penanganannya secara teknis RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 44
5. Klasifikasi kelompok permukiman yang berada pada kawasan budidaya yang mempunyai akses tinggi, sedang dan rendah (remote area). 6. Identifikasi kelengkapan prasarana dan sarana permukiman pada masing-masing kelompok permukiman pada poin (b) dan rekomendasikan rencana pembangunannya. 6.3.3 Rencana Perwujudan Kawasan Strategis Kawasan strategis di kabupaten Agam terdiri dari kawasan strategis nasional, kawasan strategis propinsi serta kawasan strategis kabupaten. Namun jika dilihat dari klasifikasi terhadap nilai strategisnya dapat dibagi menjadi: a. Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi yaitu Stasiun Pengamat Dirgantara Koto Tabang Kecamatan Palupuh; b. Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yaitu kawasan Danau Maninjau. c. Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten yaitu; 1. Kawasan strategis Jalan Poros Barat Timur (provinsi) 2. Kawasan strategis Agropolitan 3. Kawasan strategis Pesisir 4. Kawasan strategis Desa Tertiggal d. Kawasan merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan pembangunan wilayah kabupaten yaitu Kawasan Strategis Daerah Perbatasan; Perwujudan program masing-masing kawasan strategis di kabupaten Agam adalah : 1. Kawasan Strategis Stasiun Pengamat Dirgantara Koto Tabang; a. Penetapan batas kawasan strategis Stasiun Pengamat Dirgantara Koto Tabang. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 45
b. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. c. Penyusunan program dan kegiatan pendukung yang merupakan upaya menjaga keberadaan instalasi strategis nasional ini. d. Memanfaakan kawasan ini sebagai salah satu objek wisata Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. e. Memanfaatkan hasil Stasiun Pengamat Dirgantara dalam bidang pertanian, perikanan dan bidang lainnya. 2. Kawasan Strategis Danau Maninjau; a. Penetapan tata batas kawasan strategis Danau Maninjau. b. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Danau Maninjau c. Penyusunan Zonasi Pemanfaatan Ruang Perairan Danau Maninjau. d. Inventarisasi permasalahan lingkungan pada Catchman Area Danau Maninjau e. Penyusunan program dan kegiatan dalam upaya pelestarian fungsi Danau Maninjau sebagai Penyedia Energi, pariwisata, sentra perikanan Air Tawar. f. Pengembangan kegiatan wisata Maninjau sebagai Icon pariwisata Kabupaten Agam. g. Pengembangan kegiatan perikanan sesuai dengan daya dukung lingkungan dan pengelolaan jaring apung yang ramah lingkungan h. Penguatan kelembagaan Badan Pengelolaan Danau Maninjau, sebagai salah satu bentuk kepedulian masyarakat selingkar danau dalam melestarikan Danau Maninjau 3. Kawasan Strategis Jalan Poros Barat Timur ; a. Penetapaan tata batas kawasan strategis Jalan Poros Jalan b. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 46
c. Penetapan arahan penggunaan lahan masing-masing sub kawasan fungsional. d. Penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan pada sub kawasan yang diperkirakan cepat tumbuh, e. Pembangunan infrastruktur kawasan f. Pembangunan prasarana dan sarana penunjang 4. Kawasan Strategis Agropolitan ; a. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. b. Penetapan komoditas unggulan masing-masing sub kawasan fungsional. c. Penyusunan rencana teknis bangunan dan infrastruktur agropolitan d. Pembangunan infrastruktur kawasan e. Pembangunan pusat agropolitan (agropolis) f. Pembangunan prasarana dan sarana penunjang 5. Kawasan Strategis Pesisir ; a. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. b. Penetapan komoditas unggulan masing-masing sub kawasan fungsional. c. Pembangunan infrastruktur kawasan seperti penyelesaian dermaga pelabuhan perikanan. d. Pengembangan Tiku sebagai pusat pengolahan hasil tangkapam ikan e. Pembangunan kawasan pesisir sebagai pengembangan wisata bahari yang sejalan dengan pengembangan wisata kuliner khas pesisir f. Pembangunan prasarana dan sarana penunjang 6. Kawasan Strategis Daerah Perbatasan; a. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. b. Peningkatan kerja sama antar daerah dalam rangka penyiapan rencana pembangunan dan penyediaan infrastruktur. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 47
c. Pembangunan dan peningkatan berbagai infrastruktur kawasan perbatasan. d. Pengawasan dan pengendalian pembangunan pada kawasan perbatasan. e. Pengendalian peralihan fungsi guna lahan di kawasan berbatasan 6.4 INDIKASI PROGRAM UTAMA Pentahapan dan urutan prioritas program pembangunan dimaksudkan untuk mendapatkan rincian mengenai sektor kegiatan yang perlu dilaksanakan sesuai dengan tingkat kepentingannya, jangka waktu pelaksanaan serta sumber pembiayaan yang dapat dipergunakan untuk pelaksanaan program pembangunan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan dalam pengembangan pembangunan, maka perlu disusun tahapan pelaksanaan kegiatan sesuai UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa pelaksanaan pembangunan memiliki jangka waktu pelaksanaan selama 20 tahun, pentahapan kegiatan tersebut dituangkan dalam kegiatan per 5 (lima) tahun. Indikasi program utama lima tahun pertama diuraikan per tahun kegiatan. Indikasi program adalah bagian yang memuat rincian tahapan dan program pembangunan yang akan diterapkan di kawasan perencanaan, sesuai dengan tujuan pengembangan tata ruang di masa yang akan datang. Indikasi program pembangunan ditentukan berdasarkan potensi dan masalah kawasan terkait pengembangan wilayah serta kecenderungan perkembangan sektor-sektor tertentu dan sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan atau pembangunan sektor tersebut. Adapun program-program yang direncanakan, dapat dikelompokkan dalam beberapa program kegiatan. Untuk lebih jelasnya mengenai indikasi program dapat di lihat pada Tabel 6.1 sampai dengan 6.3 RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 48
INDIKASI PROGRAM UTAMA PENATAAN RUANG KABUPATEN AGAM 2010-2030 Tabel 6.1 : Rencana Perwujudan Struktur Ruang; Pusat-Pusat Permukiman No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pemantapan Rencana Pusat- Pusat Permukiman 1 Perwujudan PKL Lubuk Basung Penyusunan Revisi RDTR Kawasan Perkotaan Lubuk Basung Dinas PU Kabupaten APBD Kab Pemkab Penyusunan RTR Kawasan prioritas yaitu kawasan cepat tumbuh Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Recana Teknik Ruang. Pengembangan perumahan Formal, Swadaya dan PNS. Pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009 Peningkatan dan rehabilitasi pusat perdagangan di Pasar Padang Baru dan Pasar Lama Lubuk Basung Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten/BPBD Dinas PU Kabupaten/ Dinas Koperindag APBD Kab APBD Kab APBD / Masyarakat Prov/APBDK Kab. Prov/APBD Kab. Perbaikan terminal Antokan Dinas Perhubungan APBD Kab Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab Pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab. Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 49
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Penyusunan Rencana Induk Penanganan Kebakaran. Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab Penyusunan Rencana Induk Pertamanan Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab Pengembangan RSUD Lubuk Basung. RSUD Prov/APBD Kab. Pemkab Penyelesaian pembangunan jalan utama dua (2) jalur Kota Lubuk Basung. Dinas PU Kabupaten/Bagian Pertanahan Prov/APBD Kab. Pemkab Pembangunan Jalan lingkar Utara dan lingkar Selatan Lubuk Basung. Dinas PU Kabupaten/Bagian Pertanahan Prov/APBD Kab. Pemkab Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Lubuk Basung, Dinas PU Kabupaten/Bagian Pertanahan Prov/APBD Kab. Pemkab Peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum baik secara kuantitas maupun kualitas. Dinas PU Kabupaten/PDAM Prov/APBD Kab. Pemkab Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab Pengendalian Banjir di Batang Antokan di Garagahan dan Manggopoh. Dinas PSDA Provinsi Provinsi Pemkab Pembangunan PLTMH di Lubuak Sao. Swasta Swasta Swasta Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Dinas Hutbun Prov/APBD Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 50
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Kab. Sumber Dana Pelaksana 2 Perwujudan PKLp Baso Pengembangan Perguruan Tinggi Dinas Pendidikan Pembangunan dan Pemeliharaan Gedung OR Pengembangan Mesjid Raya Nurul Falah Peningkatan pengelolaan sampah dan penyediaan TPST yang ramah lingkungan Pengembangan Balai Latihan Kerja Modern Pengembangan SMA Negeri Bertaraf Internasional Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Baso Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang. Pengembangan perumahan Swadaya, Formal dan PNS Peningkatan dan rehabilitasi pusat perdagangan dan jasa pada Pasar Baso Pengembangan Puskemas rawat inap di Baso. Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Kab/Swasta Pemkab Agam Dinas PU/Dispora APBD Kab Pemkab Agam Dinas PU Kabupaten Dinas PU/BPLH & KP Kabupaten Dinsosnaker Kabupaten Dinas. Pendidik Kabupaten Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten/ Dinas Koperindag Dinas Kesehatan Dinas PU Kabupaten APBD Kab/Prov APBD Kab/Prov APBD Kab/Prov APBD Kab/Prov APBD Kab APBD Kab. APBD Kab Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Pemkab/Pempr ov Pemkab/Pempr ov Pemkab/Pempr ov Pemkab/Pempr ov Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 51
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan Ruas Jalan Provinsi Baso- Batusangkar Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengembangan Pusat Pendidikan Departemen Dalam Negeri. Depdagri APBN DEPDAGRI Pembangunan sub terminal Agribisnis. Dinas PU Kabupaten/ Dinas Pertahor APBD Kab/Prov Pemkab/Pemp rov \3 Perwujudan Fungsi PPK Banuhampu Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Banuhampu Penyusunan RTR kawasan Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kabupaten APBD Kab/Prov APBD Kab Pemrpov/Pem kab Pemkab Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Kabupaten APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengembangan dan atau relokasi pusat perdagangan Padang Luar. Dinas Koperindag Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan ruas Jalan Padang Lua Kubang Putiah Simpang Bukik Batabuah Lasi Baso (Promosi menjadi Kolektor Primer). Dinas PU Kabupaten/Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan jalan baru Taluak - Cingkariang (Lanjutan Jalan Bypass Bukittinggi) Dinas PU Kabupaten/Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan jalan lokal atau lingkungan, sebagai akses bagi masyarakat yang berada pada kavling Dinas PU Kabupaten APBD Kab. Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 52
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan bagian belakang sepanjang Jalan Utama. Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan drainase. Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan pengelolan persampahan. Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi). Pemda Agam/Pemko Bukittinggi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura. Dinas Pertahor Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov 4 Perwujudan PPK Maninjau Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan dan Kawasan Perairan Danau Dinas PU Kabupaten Kab Pemkab/Pemp rov Penyusunan peraturan Zonasi Pemanfaatan Ruang perairan Dinas PU / Dinas Kelautan Perikanan Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU APBD Kab. Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan ruas jalan lingkar Danau Maninjau. Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 Dinas PU / BPBD Pemkab/Pemp RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 53
No RENCANA PEMANFAATAN RUANG Tahun Pelaksanaan Sumber Penanggung Pelaksana Tahap Tahap Tahap Dana Jawab Tahap I Indikasi Program Kegiatan II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 September 2009. Prov/APBD Kab. rov Pembangunan jalan Ambun Pagi Puncak Lawang Simpang Kandih Muko-muko sebagai alternatif kelok 44. Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Optimalisasi PLTA Maninjau PLN PLN PLN 5 Perwujudan PPK Bawan Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Pembangunan Tempat Bongkar Muat Ikan pada sentra-sentra Perikanan Jala Apung. Pengembangan Pusat Pembenihan Ikan Pengembangan Objek-objek wisata (alam, religius, buatan dan minat khusus) Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis, Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Dinas PU Dinas PU Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Pariwisata Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas PU Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. APBD Kab Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Penyusunan RTR kawasan Dinas PU APBD Kab Pemkab Pemkab Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU APBD Kab Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 54
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009. Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan jalan produksi perkebunan Dinas Hutbun Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan dan perbaikan pasar Bawan Dinas Koperindag Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU / PDAM Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengembangan Puskemas rawat inap di Bawan Dinas Kesehatan Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Penyedian shelter sebagai tempat penampungan sementara untuk menyelamat diri pada saat terjadinya bencana terutama gempa bumi. Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan dan pemeliharaan jaringan jalan. Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Dinas Hutbun Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov 6 Perwujudan PPL Tiku Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Dinas PU Kab Pemprov/Pusa t Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Kab Pemprov/Pusa t Penyusunan Zonasi wilayah pesisir Dinas Kelautan dan Pemprov/Pusa RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 55
No RENCANA PEMANFAATAN RUANG Tahun Pelaksanaan Sumber Penanggung Tahap Tahap Tahap Dana Jawab Tahap I Indikasi Program Kegiatan II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 sampai dengan 4 Mill Laut. Perikanan Kab t Pelaksana Pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009. Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan gedung (escape building) dan jalan penyelamat/ evakuasi serta penyediaan peralatan peringatan dini terhadap bahaya gempa dan tsunami Dinas PU /BPBD Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan pusat pengolahan ikan laut Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan jalan produksi perkebunan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Penanaman mangrove sebagai untuk sebagai tanaman pelindung pantai dari abrasi dan tsunami. Dinas Hutbun / BPLH Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengembangan sektor pariwisata yang memanfaatkan SDA dan budaya pesisir. Dinas Pariwisata Kab Pemkab/Pemp rov 7 Peningkatan Fungsi PPL Palembayan Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU Prov Kab Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 56
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Peningkatan dan pemeliharaan jaringan jalan serta pembangunan jalan produksi perkebunan Dinas Hutbun Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengembangan indutri perkebunan Dinas Hutbun dan Dinas Koperindag Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan jalan strategis yang menghubungkan Palembayan Simpang Patai. Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis, Dinas Hutbun Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Dinas Hutbun Kab Pemkab/Pemp rov 8 Peningkatan Fungsi PPL Matur Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Dinas PU APBD Kab Pemkab Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan peningkatan jalan lokal dan lingkungan Dinas PU Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 57
No Indikasi Program 9 Peningkatan Fungsi PPL Balingka RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Peningkatan jalan strategis yang menghubungan Matur Sitingkai Pengembangan industri dan pemasaran hasil panen perkebunan. Pengembangan objek wisata pendukung Kawasan Maninjau Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis, Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Penanggung Jawab Dinas PU Dinas Hutbun/ Dinas Koperindag Dinas Pariwisata Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas PU Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Penyelesaian pembangunan jalan Sicincin Malalak Bukittinggi yang melewati Kecamatan IV Koto. Pengembangan dan penataan objek wisata budaya dan sejarah di Nagari Koto Gadang. Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab Dinas PU APBD Kab Pemkab Dinas PU Dinas PU Provinsi Dinas Pariwisata Dinas Hutbun Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. Prov/APBD Kab. APBD Kab Prov/APBD Kab. Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab/Pemp rov Pemkab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan peningkatan Dinas Pertahor APBD Kab Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 58
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 10 Peningkatan Fungsi PPL Malalak Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU APBD Kab APBD Kab Pemkab Pemkab Peningkatan dan pemeliharan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan Rest Area pada ruas jalan Sicincin Malalak. Dinas PU/Dinas pariwisata Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan infrastruktur yang hancur dan rusak akibat bencana gempa tanggal 30 September 2009 Dinas PU/BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis, Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan. Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov 11 Peningkatan Fungsi PPL Sungai Sariak Kec. Sungai Pua Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU APBD Kab APBD Kab Pemkab Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 59
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pelaksanaan reboisasi pada kawasan hutan yang kondisinya sudah rusak atau yang fungsinya mulai kritis, Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pemungsian terminal Pasar Amur. Dinas Perhubungan APBD Kab Pemkab Pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura Dinas Pertahor Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov 12 Perwujudan PPL Lasi (Kec. Canduang), Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU APBD Kab APBD Kab Pemkab Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan peningkatan jalan produksi Dinas Pertahor Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembanngunan dan penataan fasilitas penunjang kegiatan wisiata Dinas pariwisata Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Peningkatan sarana dan prsarana pasar Lasi Dinas Koperindag Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengembangan Puskemas rawat inap Binas Kesehatan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan peningkatan prasarana penunjang kegiatan tanaman hortikultura Dinas Pertahor Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov 13 Perwujudan PPL Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaa Dinas PU APBD Kab Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 60
No Indikasi Program Biaro (Kecamatan Ampek Angkek), RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Penanggung Jawab Dinas PU Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana APBD Kab Pelaksana Pemkab Pengemb. Pusat Agropolitan Dinas PU/Pertanian Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan Fasilitas penunjang Sentra Peternakan Ternak Besar (Sapi) Dinas Peternakan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan fasilitas penunjang Ampek Angkek sebagai pusat agropolitan. Dinas PU/Dinas Pertanian Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengembangan industri rumah tangga (konveksi) Dinas Koperindag APBD Kab Pemkab Sebagai Pusat Busisnis Development Centre dengan komodiiti bodir dan sulaman. Dinas Koperindag Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi) Pemda Aga/Pemda Bukittinggi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Penataan koridor jalan nasional Batas Kota Bukittingg Baso. Dinas PU Kab Pemkab/Pemr pov 14 Perwujudan PPL Pakan Kamih (Kec. Tilatang Kamang) Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU APBD Kab APBD Kab Pemkab Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 61
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan drainase kawasan perkotaan dan permukiman penduduk. Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan sarana pengendalian banjir Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Penataan kawasan strategis perbatasan (Agam- Bukittinggi) Pemda Aga/Pemda Bukittinggi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengembangan industri rumah tangga yaitu indutri pengolahan makanan. Dinas Koperindag Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov 15 Perwujudan PPL Kamang Hilir (Kec. Kamang Magek), Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU APBD Kab APBD Kab Pemkab Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pembangunan sarana pengendalian banjir (Batang Agam) Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Pengembangan industri rumah tangga yaitu indutri pengolahan makanan. Dinas Koperindag APBD Kab Pemkab 16 Perwujudan PPL Palapuah (Kecamatan Palupuah), Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Teknik Ruang Dinas PU Dinas PU Kab APBD Kab Pemkab/Pemr pov Pemkab Peningkatan pelayanan Air Minum Dinas PU/PDAM Pemkab/Pemp RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 62
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Pelaksana rov Pembangunan dan perbaikan daerah irigasi Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemp rov Peningkatan ruas jalan Palupuh Suliki. Dinas PU APBD Kab Pemkab RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 63
Tabel 6.2 : Rencana Perwujudan Pola Ruang No Indikasi Program 1 Perwujudan Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya 2 Perwujudan Kawasan Perlindungan Setempat RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Pemantapan tata batas hutan lindung Identifikasi dan klasifikasi permasalahan hutan lindung tersebut menjadi ; sangat kritis, kritis dan tidak kritis. Hutan lindung dengan tingkatan sangat kritis segera direhabilitasi dengan program yang masif dan partisipatif. Apabila hutan lindung tersebut ditanami tanaman produktif yang menjadi sumber kehidupan ekonomi masyarakat, maka secara bertahap dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung. Penegakan hukum dan pemberantasan penebangan liar Menetapkan tata batas dari masingmasing daerah perlindungan setempat; Identifikasi permasalahan dari masing-masing kawasan perlindungan setempat; Rumuskan kebjakan dan program dalam rangka pemecahan permasalahan; Tingkatkan pemahaman dan kesadaran akan artinya kawasan Penanggung Jawab Dinas Hutbun Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Dinas Hutbun APBD Kab Pemkab Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 64
No RENCANA PEMANFAATAN RUANG Indikasi Program Kegiatan perlindungan setempat; Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Pelaksana Rehabikitasi terhadap kawasan perlindungan setempat yang sudah sangat kritis; Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 3 Perwujudan Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam 4 Rencana Perwujudan Penegakan hukum; dan Dinas Hutbun/Polisi Hutan Evaluasi dan monitoring Dinas Hutbun Pemantapan tata batas Cagar Alam. Dinas Hutbun Identifikasi dan klasifikasi kondisi kawasan (tidak kritis, kritis dan sangat kritis). Perumusan program rehabilitasi multi pendekatan dan multi pelaku serta lintas wilayah. Penggalangan kerjasama pemulihan fungsi dan peran Cagar Alam. Dinas Hutbun Dinas Hutbun Dinas Hutbun Pelaksanaan program rehabilitasi Dinas Hutbun Pelaksanaan program pemeliharaan dan pelestarian Dinas Hutbun Penegakan hukum; dan Dinas Hutbun/Polisi Pemantauan dan evaluasi Dinas Hutbun Penguatan lereng pada daerah rawan longsor di sepanjang sisi jalan Dinas PU Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 65
No Indikasi Program Mitigasi Kawasan Rawan Bencana: A. Mitigasi Rawan Bencana Longsor/ Gerakan Tanah B. Mitigasi Rawan RENCANA PEMANFAATAN RUANG raya; Kegiatan Rehabilitasi dan reboisasi daerahdaerah penyangga dan resapan air terutama di wilayah yang sudah teridentifikasi sebagai kawasan rawan longsor atau gerakan tanah; Pengendalian penebangan dan pemanfaatan lahan di daerah penyangga dan resapan air; Pengendalian penambangan pada daerah-daerah penyangga dan resapan air; Pengendalian pembangunan pemukiman di daerah penyangga, resapan air dan daerah rawan longsor/gerakan tanah; Inventarisasi dan pengawasan ketat daerah-daerah rawan longsor; Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan longsor di setiap wilayah kecamatan; Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan bencana; Peraturan daerah yang mengatur sanksi hukum bagi pelanggaran tata ruang di daerah rawan longsor; Sosialisasi daerah rawan longsor. Identifikasi kawasan pemukiman yang rawan terkena Gelombang Penanggung Jawab Dinas Hutbun/BPLH Dinas Hutbun Bagan Setda/BPLH Dinas PU/BPLH Dinas PU/BPBD BPBD BPBD Dinas PU/BPBD Dinas PU / BPBD SDA Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab BPBD Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 66
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Gelombang Pasang Pasang; Kegiatan Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan Gelombang Pasang di setiap kantong-kantong pemukiman; BPBD Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan Gelombang Pasang, BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman. Dinas PU BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Sosialisasi daerah rawan Gelombang Pasang. BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov C. Mitigasi Rawan Bencana Banjir; Delineasi kawasan banjir eksisting dan potensi meluasnya kawasan rawan banjir Identifikasi faktor penyebab bahaya banjir, seperti kerusakan kawasan tangkapan air pada hulu sungai, kerusakan DAS, kawasan rawa, cekungan dan faktor-faktor lainnya Dinas PU Dinas PU/BPLH/Dinas Hutbun Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Penyusunan program mitigasi bencana banjir, baik mitigasi struktural maupun non struktural BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pelaksanaan program mitigasi yang telah dirumuskan seperti : BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov a. Menetapkan sebagian dari kawasan banjir sebagai kawasan lindung karena merupakan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 67
No Indikasi Program D. Mitigas Rawan Letusan Gunung Api; RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan bagian dari eksostim rawa/tanah basah (wet land). b. Rehabilitasi dan Reboisasi kawasan hulu dan DAS c. Sosialisasi teknis mitigasi banjir kepada masyarakat terdampak (potensial terdampak) d. Pembangunan bangunan pengendali daya rusak air (banjir) seperti Normalisasi sungai dan lan sebagainya. Identifikasi kawasan pemukiman yang rawan terkena dampak Letusan Gunung Merapi dan Gunung Tandikek; Pengaktifan kelembagaaan pengamat gunung merapi; Pemasangan rambu-rambu bahaya pada daerah rawan letusan gunung api di setiap kantong-kantong pemukiman; Penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanganan bahaya letusan gunung api; Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman; BPBD Penanggung Jawab BPBD/BMKG BPBD BPBD Dinas PU / BPBD Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pembangunan jalur-jalur evakuasi; Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Sosialisasi daerah rawan letusan BPBD Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 68
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG gunung api. Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Pelaksana Identifikasi kawasan pemukiman yang rawan terkena dampak Letusan Gunung Merapi dan Gunung Tandikek; BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov E. Mitigasi Kawasan Rawan Gempa Bumi Identifikasi pemukiman penduduk yang berada pada zona-zona kerusakan akibat gempa bumi; Peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya gempa bumi; BPBD BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Sosialisasi tanggap darurat dan mekanisme evakuasi korban gempa bumi di seluruh wilayah Kabupaten, BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Peningkatan peran lembaga masyarakat mulai dari mitigasi sampai kepada penanganan bencana gempa bumi; BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Penguatan kelembagaan dan mekanisme penanganan bencana gempa bumi di Kabupaten Agam, BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pembangunan dan penguatan sistem komunikasi ke daerah-daerah terpencil, BPBD/Dinas Kominfo Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Penguatan akses informasi dan komunikasi ke dan dari instansiinstansi yang menangani kegempaan dan kebencanaan, BPBD/Dinas Kominfo Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Penetapan peraturan daerah dalam menetapkan zonasi kerentanan dan kerusakan akibat gempa bumi; BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 69
No Indikasi Program F. Mitigasi Rawan Bencana Tsunami; RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Pembangunan shelter sebagai tempat pengungsian sementara untuk setiap kantong-kantong pemukiman Penanggung Jawab Dinas PU / BPBD Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Pembangunan jalur-jalur evakuasi Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab Pemasangan alarm dan komunikasi tanda bahaya (alarm warning systems) di seluruh setiap wilayah pemukiman padat penduduk di Kecamatan Tanjung Mutiara Sosialisasi mengenai potensi bahaya tsunami di Kecamatan Tanjung Mutiara, serta melaksanakan gladi posko dan gladi lapangan terhadap bahaya tsunami. Pemasangan Buoy (tsunami warning system) di perairan barat Kabupaten Agam, Pembangunan bangunan pemecah gelombang di kawasan pesisir wilayah Kabupaten Agam (terutama di kawasan padat penduduk : Tiku, Pasia Paneh, Muaro Putus, Masang dan Subang-Subang), Penguatan kelembagaan dan mekanisme penanganan bencana tsunami Kabupaten Agam, Pembuatan peta Klasifikasi kawasan rawan tsunami berdasarkan ketinggian kawasan diatas BPBD BPBD BPBD Dinas PU / BPBD BPBD BPBD Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 70
No RENCANA PEMANFAATAN RUANG Indikasi Program Kegiatan permukaan laut. Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Penyusunan Peraturan zonasi yang berlaku untuk kawasan dengan tingkat kerawanan tsunami; Pendekatan mitigasi bencana tsunami dilakukan dengan dua pendekatan yaitu : Pendekatan Struktur (Fisik) Metode Perlindungan Alami dengan penanaman mangrove dan cemara laut, penguatan sand dune, pelestarian terumbu karang, Metode Perlindungan Buatan : Breakwater, tembok laut, tanggul, konstruksi pelindung, bangunan pengendali, rumah panggung. Mengembangkan buatan. terumbu Struktur tahan bencana: sisi panjang dari struktur sedapat mungkin diarahkan sejajar dengan antisipasi arah penjalaran gelombang, shear wall dan lateral bracing ditempatkan searah dengan penjalaran gelombang dan lantai terbawah dari bangunan dibuat terbuka. Pendekatan Nonstruktur (Non Fisik), seperti : BPBD BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 71
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan a. Pembuatan peta rawan bencana b. Sistem peringatan dini c. Penetapan sempadan pantai dan sungai (hulu-hilir) d. Penegakan hukum e. Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana, Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana F. Mitigasi Rawan Bencana Abrasi; Identifikasi potensi abrasi di Kecamatan Tanjung Mutiara; Penetapan zonasi daerah rawan abrasi BPBD BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Sosialisasi potensi bahaya abrasi kepada masyarakat BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Relokasi kawasan pemukiman yang terkena abrasi. BPBD/Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pembangunan bangunan pemecah gelombang di kawasan pesisir wilayah Kabupaten Agam (terutama di kawasan padat penduduk : Tiku, Pasia Paneh, Muaro Putus, Masang dan Subang-Subang), Dinas PU / BPBD Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 6 Perwujudan Kawasan lindung geologi. Penetapan tata batas kawasan lindung geologi Menyusun sejarah terbentuknya kaldera maninjau dan Ngarai Sanok dari sudut pandang geologi Bagian SDA Setda Bagian SDA Setda Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Mensosialisasikan kawasan lindung geologi Bagian SDA Setda Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 72
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 7 Perwujudan Kawasan lindung lainnya. Program utama yang sebaiknya dilakukan dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung plasma nutfah adalah: 1. Identifikasi penyebaran plasma nutfah yang dilindungi Dinas Hutbun/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 2. Penyusunan program pengamanan terhadap plasma nutfah yang dilindungi Dinas Hutbun/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 3. Miningkatkan pengawasan kawasan Dinas Hutbun/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 4. Menyediakan infrastruktur lingkungan Dinas Hutbun/Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Program utama dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung ekosistem pulau-pulau kecil (terumbu karang) adalah: 1. Identifikasi potensi dan penyebaran terumbu karang Dinas Kelautan Perikanan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 2. Penyusunan program kegiatan perlindungan kawasan Dinas Kelautan Perikanan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 3. Perumusan strategi pengamanan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Program utama dalam kerangka mewujudkan kawasan lindung hutan Mangrove adalah: 1. Mengidentifikasi penyebaran mangrove Dinas Kelautan dan Perikanan / BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 73
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 2. Menyusun perencanaan pengembangan kawasan hutan mangrove Dinas Kelautan dan Perikanan/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 3. Pelaksanaan pembangunan hutan mangrove (pembibitan, penanaman dan pemeliharaan) Dinas Kelautan dan Perikanan/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 4. Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 74
Tabel 6.3 : Rencana Perwujudan Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 8 Sistem Jaringan Transportasi Rencana peningkatan jalan arteri primer (K1): Kementerian PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov A. Transportasi Darat 1. Padang Luar Batas Kota Padang Panjang 2. Padang Sawah Manggopoh 3. Manggopoh Batas Kota Pariaman 4. Batas Kota Payakumbuh Baso 5. Baso - Batas Kota Bukittinggi Rencana pembangunan jalan arteri primer (K1): Kementerian PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 1. Jalan Tol Padang Bukittinggi 2. Jalan Tol Bukittinggi - Payakumbuh Batas Provinsi Riau. Rencana pengembangan jalan Strategis Nasional (K1) yaitu Rencana Jalan Strategis Nasional yaitu Ruas Tiku Silaping (Nomor Ruas 048) Kementerian PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Rencana peningkatan jalan Kolektor Primer (K2): Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 1. Baso Batusangkar 2. Lubuk Basung (Manggopoh) Kota Bukittinggi (Padang RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 75
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Luar). Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 3. Lubuk Basung Sungai Limau 4. Simpang Padang Luar Baso (promosi) Rencana pembangunan jalan Kolektor Primer (K2): Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 1. Sicincin Malalak Bukittinggi dan Jembatan Ngarai Sianok 2. Taluak Cingkariang (Lanjutan Pemb. Baypass Bukittinggi) Rencana Peningkatan jalan kolektor primer (K3) Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 1. Palupuh Suliki 2. Lingkar Danau Maninjau 3. Lingkar Utara Kota Lubuk Basung 4. Lingkar Selatan Kota Lubuk Basung Rencana Pembangunan jalan kolektor primer (K3) Dinas PU Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Ambun Pagi Puncak Lawang Smp. Kandih Muko Muko (jalan retribusi alternatif kelok 44) Ruas Jalan Kabupaten (K4) Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Peningkatan : 1. Simpang Patai Palembayan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 76
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 2. Matur Sitingkai 3. Durian Kapeh Muaro Putuih 4. Muaro Putuih Subang Subang 5. Padang Koto Gadang Koto Alam 6. Lubuk Basung Simpang Ampu 7. SP. Ampu SP. Puduang 8. SP. Puduang Sp Batu Kambiang 9. SP. Koto Alam Sp. Batu Kambiang 10. Palembayan SP. Koto Alam 11. Sp. Sei Pua Palembayan 12. Sp. Pudiang Sp. Sei Pua 13. Pasar Lawang Sp. Pudiang 14. Surau Jua - Pasar Lawang 15. Sp. Matur Surau Jua 16. Sp. Gadut Pasa Dama 17. Pasa Dama S. Pincuran 18. Sp. Pincuran Air Tabik 19. Sp. Air Tabik Sei Dareh 20. Sei Dareh Sngai Guntung 21. Subang subang Tompek Harapan 22. Lapau Andung Masang (Tompek Harapan) 23. Batu Hampa - Kubu Anau 24. Malalak Hulu Banda RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 77
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana 25. Sp. Tj. Alam Sp. Bukik Batabuah 26. Sp. Bukik Batabuah Koto Baru 27. Palembayan Data Munti 28. Pasa Bawan Batu Kambing 29. Anak Aie Dadok Padang Kajai 30. Durian Kapeh Bukik Sariak 31. Durian Kapeh SP. Mangkua; 32. Sp. Cacang Cacang Tinggi 33. Kampung Darek Simpang IV Cacang, 34. Pasar Tiku Simpang IV Cacang, 35. Banda Gadang Padang Tui, 36. Jalan Gasan Kaciak Padang Tui, Pembangunan 1. Pasar Durian Mutiara Agam 2. Malalak Sungai Batang 3. Kubu Labuah Nagari Padang Galanggang. Jaringan jalan kereta api jalur Lubuk Alung Naras -Sungai Limau Simpang Empat; Jaringan jalan kereta api jalur Padang Panjang Bukittinggi PT. KAI PT. KAI Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 78
No RENCANA PEMANFAATAN RUANG Indikasi Program Kegiatan Payakumbuh. Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Peningkatan sarana dan prasarana terminal Antokan Dinas Perhubungan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Peningkatan dan pemungsian terminal Pasar Amur. Pembangunan terminal Manggopoh. Pembangunan terminal type A di Kecamatan Ampek Angkek atau Kecamatan Banuhampu sebagai alternatif relokasi terminal type A kota Bukittinggi. Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov B. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberang an C. Transportasi Laut pembangungan dermaga untuk pendukung pariwisata (Muko-Muko, Linggai, Sungai Batang) dermaga untuk pengumpul produksi perikanan yang lokasinya disesuaikan dengan Master Plan Minapolitan. pelabuhan Tiku diarahkan sebagai pelabuhan perikanan serta pelabuhan barang dan jasa terutama sebagai pelabuhan pengumpan. Dinas Perhubungan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov 9. Sistem Jaringan Prasarana Energi Mengoptimalkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Danau Maninjau dengan kapasitas terpasang sebesar 68 MW, dengan upaya pelestarian PT. PLN PLN PLN RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 79
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan kawasan resapan air pada Catchmant Area. Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Rencana Pengembangan dan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Kecamatan Palupuh, Palembayan, Malalak dan Lubuk Basung, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di seluruh Kecamatan di Kabupaten Agam, Swasta Swasta Swasta 10 Sistem Jaringan Prasarana Telekomunikasi Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) di Kecamatan Tanjung Mutiara. Disamping itu juga, direncanakan pengembangan energy geothermal (Panas Bumi) di Kecamatan Tanjung Raya. Pemenuhan kebutuhan pelanggan telepon, terutama pelanggan rumah tangga. Optimalisasi Sentral Telepon Otomatis (STO) yang telah dibangun di Lubuk Basung, Maninjau dan Baso dengan memanfaatkan tekonologi kabel optic. Meningkatkan pelayanan dengan mempermudah dalam pemasangan sambungan baru untuk jaringan telepon. Swasta Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta Swasta Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta Swasta Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 80
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Untuk jangka pendek, penyediaan jaringan-jaringan telepon baru yang dapat memanfaatkan pengembangan jaringan jalan sebagai akses penunjang. PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta Sedangkan untuk jangka menengah, mendorong penggunaan layanan telekomunikasi teknologi wireless seperti penggunaan telepon genggam, serta internet/ Voice Over Internet Protocol (VOIP) /multimedia yang menjangkau keseluruh wilayah di Kabupaten Agam dengan biaya yang terjangkau. PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta PT. Telkom dan Swasta 11 Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Meningkatkan daya guna dari irigasi dengan upaya pembangunan berbagai fasilitas yang diperlukan (embung, waduk, bendung, bangunan bagi, pintu air, saluran, dsb-nya) sehingga keberadaan irigasi dapat menunjang upaya peningkatan produksi pertanian terutama pada kawasan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan. Peningkatan pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana irigasi termasuk saluran-saluran irigasi yang sudah dibangun sampai saat ini guna menambah umur pemanfaatan. Dinas PU Dinas PU Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 81
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Peningkatan peran irigasi sebagai penyedia air bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan maupun perikanan. Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemanfaatan air permukaan secara optimal (sungai dan danau yang ada) dalam upaya penyediaan air bagi kebutuhan irigasi. Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Melestarikan wilayah hulu (daerah resapan air) dalam upaya menjaga agar debit mata air, sungai maupun danau agar tetap stabil sehingga kebutuhan air irigasi dapat terpenuhi. Pembangunan irigasi pada daerahdaerah irigasi yang potensial. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, pemeliharan maupun pemanfaatan daerah irigasi sebagai basis dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan Dinas PU/ Dinas Hutbun/BPLH Dinas PU Dinas PU/Dinas Pertahor Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov rehabilitasi area tangkapan hujan (hulu) sungai membangun bangunan pengendalian banjir sebagai bangunan pengendali debit air sungai Dinas Hutbun Dinas PU Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab perkuatan tebing sungai Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 82
12 No Indikasi Program Sistem Jaringan Prasarana Lainnya A. Air Bersih RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana normalisasi alur sungai Dinas PU Prov/APBD Kab identifikasi titik-titik abrasi BPBD Prov/APBD Kab Menyusun rencana penanggulangan abrasi peningkatan penyadaran masyarakat terhadap bahaya abrasi BPBD BPBD Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab relokasi pemukiman penduduk BPBD Prov/APBD Kab Mengoptimalkan sumber air bersih yang ada saat ini; Peningkatkan kapasitas produksi dan distribusi, yaitu dengan meningkatkan diameter pipa, penambahan jaringan pipa transmisi, distribusi, dan tersier ; Memperbaiki jaringan distribusi yang rusak serta memelihara dengan baik jaringan tersebut guna meminimalisasi kebocoran yang terjadi selama distribusi; Menyediakan pompa-pompa cadangan pada tiap-tiap unit PDAM sehingga apabila terjadi kerusakan, produksi dan distribusi air bersih oleh PDAM tidak terganggu; Dinas PU / PDAM Dinas PU / PDAM Dinas PU / PDAM Dinas PU / PDAM Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 83
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Khusus untuk daerah perbukitan, diarahkan untuk tetap menggunakan sumur bor dengan pengelolaannya diserahkan permasing-masing nagari; Penyediaan air bersih diutamakan untuk daerah-daerah padat penduduk, seperti ibukota kecamatan dan pusat-pusat permukiman; Nagari Penanggung Jawab Dinas PU / PDAM Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab B. Drainase Penyusunan Master plan drainase Dinas PU Prov/APBD Kab Penyusunan program prioritas penanganan Penyusunan Detail Engineering Design (DED) Dinas PU Dinas PU Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pembangunan drainase Dinas PU Prov/APBD Kab Evaluasi dan Monitoring Dinas PU Prov/APBD Kab C. Persampahan Pembangungan TPA baru di Lubuk Basung, dan serta optimalisasi TPA di Kota Lubuk Basung (sementara). Pemilihan lokasi baru untuk tempat pengelolaan akhir harus sesuai dengan persyaratan teknis dan daya dukung lingkungan. Direncanakan di Nagari Nan Tujuah Kecamatan palupuh. Dinas PU/BPLH Dinas PU/BPLH Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pelaksana Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 84
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pengurangan masukan sampah ke TPA dengan konsep reduce-reuserecycle di sekitar wilayah sumber sampah. Dinas PU/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis. Dinas PU/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan, bergerak dan tidak bergerak. Dinas PU/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Mengembangkan kemitraan dengan swasta dan kerjasama dengan kabupaten sekitarnya yang berkaitan untuk pengelolaan sampah dan penyediaan TPA. Dinas PU/BPLH Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 85
Tabel 6.4 : Rencana Perwujudan Kawasan Strategis No Indikasi Program 8 Rencana Perwujudan Kawasan Strategis 1. Kawasan Strategis Stasiun Pengamat Dirgantara Koto Tabang 2. Kawasan Strategis Danau Maninjau; RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penetapan batas kawasan strategis Stasiun Pengamat Dirgantara Koto Tabang. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. Penyusunan program dan kegiatan pendukung yang merupakan upaya menjaga keberadaan instalasi strategis nasional ini. Memanfaakan kawasan ini sebagai salah satu objek wisata Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Memanfaatkan hasil Stasiun Pengamat Dirgantara dalam bidang pertanian, perikanan dan bidang lainnya. Penetapan tata batas kawasan strategis Danau Maninjau. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Danau Maninjau Penyusunan Zonasi Pemanfaatan Ruang Perairan Danau Maninjau. Inventarisasi permasalahan lingkungan pada Catchman Area Danau Maninjau Penanggung Jawab LAPAN Kementerian PU Kementerian PU Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana APBN APBN APBN Dinas Pendidikan / Dinas pariwisata APBN Dinas Pertahor/Dinas Kelautan Perikanan BPLH Provinsi/ Dinas Prasjal Tarkim Provinsi Dinas Prasjal Tarkim Provinsi Dinas Kelautan perikanan / Bappeda BPLH/Dinas Hutbun APBN Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab LAPAN Pelaksana Kementerian PU Kementerian PU Dinas Pendidikan / Dinas pariwisata Dinas Pertahor/Dinas Kelautan Perikanan BPLH Provinsi/ Dinas Prasjal Tarkim Provinsi Dinas Prasjal Tarkim Provinsi Dinas Kelautan perikanan / Bappeda BPLH/Dinas Hutbun RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 86
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Penyusunan program dan kegiatan dalam upaya pelestarian fungsi Danau Maninjau sebagai Penyedia Energi, pariwisata, sentra perikanan Air Tawar. Bappeda/BPLH/Din as Hutbun/Dinas Kelautan Perikanan /Dinas Pariwisata Prov/APBD Kab Bappeda/BPLH/Dina s Hutbun/Dinas Kelautan Perikanan /Dinas Pariwisata Pengembangan kegiatan wisata Maninjau sebagai Icon pariwisata Kabupaten Agam. Dunas pariwisata Prov/APBD Kab Dunas pariwisata Pengembangan kegiatan perikanan sesuai dengan daya dukung lingkungan dan pengelolaan jaring apung yang ramah lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab Dinas Kelautan dan Perikanan Penguatan kelembagaan Badan Pengelolaan Danau Maninjau, sebagai salah satu bentuk kepedulian masyarakat selingkar danau dalam melestarikan Danau Maninjau BPLH / Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab BPLH / Dinas Kelautan dan Perikanan 3. Kawasan Strategis Jalan Poros Barat Timur ; Penetapaan tata batas kawasan strategis Jalan Poros Jalan Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. Dinas Prasjaltarkim Provinsi Dinas Prasjaltarkim Provinsi Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Penetapan arahan penggunaan lahan masing-masing sub kawasan fungsional. Dinas Prasjaltarkim Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan pada sub kawasan yang diperkirakan cepat tumbuh, Dinas Prasjaltarkim Provinsi Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 87
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pembangunan infrastruktur kawasan Dinas Prasjaltarkim Provinsi / Dinas PU kabupaten Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pembangunan prasarana dan sarana penunjang Dinas Prasjaltarkim Provinsi / Dinas PU kabupaten Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 4. Kawasan Strategis Agropolitan ; Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. Penetapan komoditas unggulan masing-masing sub kawasan fungsional. Penyusunan rencana teknis bangunan dan infrastruktur agropolitan Pembangunan infrastruktur kawasan Dinas Pertahor /Dinas PU Dinas Pertahor Dinas Pertahor / Dinas PU Dinas Pertahor / Dinas PU Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pembangunan pusat agropolitan (agropolis) Dinas Pertahor / Dinas PU Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 5. Kawasan Strategis Pesisir ; Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. Penetapan komoditas unggulan masing-masing sub kawasan fungsional. Pembangunan infrastruktur kawasan seperti penyelesaian dermaga pelabuhan perikanan. Pengembangan Tiku sebagai pusat pengolahan hasil tangkapan ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 88
No Indikasi Program RENCANA PEMANFAATAN RUANG Kegiatan Penanggung Jawab Tahun Pelaksanaan Tahap Tahap Tahap Tahap I II III IV 2010 2011 2012 2013 2014 15-19 20-24 25-29 Sumber Dana Pelaksana Pembangunan kawasan pesisir sebagai pengembangan wisata bahari yang sejalan dengan pengembangan wisata kuliner khas pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan / Dinas Pariwisata Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pembangunan prasarana dan sarana penunjang Dinas PU Kabupaten Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov 6. Kawasan Strategis Daerah Perbatasan Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan. Peningkatan kerja sama antar daerah dalam rangka penyiapan rencana pembangunan dan penyediaan infrastruktur. Pembangunan dan peningkatan berbagai infrastruktur kawasan perbatasan. Pengawasan dan pengendalian pembangunan pada kawasan perbatasan. Pengendalian peralihan fungsi guna lahan di kawasan berbatasan Dinas PU Pemda Agam dan Pemko Bukitinggi Pemda Agam dan Pemko Bukitinggi Dinas PU dan Satpol PP Dinas PU / Dinas Pertanian Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Prov/APBD Kab Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov Pemkab/Pemprov RTRW Kab. Agam 2010-2030 VI - 89
BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN RUANG
BAB 7 ARAHAN PENGENDALIAN RUANG 7.1. ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Pengendalian pemanfaatan ruang pada prinsipnya dimaksudkan sebagai upaya untuk mengarahkan pembangunan untuk mewujudkan pembangunan yang tertib berdasarkan rencana tata ruang yang telah disusun. Dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 disebutkan bahwa: Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang. Arahan pengendalian disusun berdasarkan rencana rinci tata ruang untuk setiap zona pemanfaatan ruang, yang ditetapkan dengan : 1. Peraturan pemerintah untuk arahan peraturan zonasi sistem nasional; 2. Peraturan daerah provinsi untuk arahan peraturan zonasi sistem provinsi; 3. Peraturan peraturan daerah kabupaten/kota untuk peraturan zonasi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 1
Bagan 7.1 KEDUDUKAN PERATURAN ZONASI DALAM SISTEM PENATAAN RUANG ASPEK PERENCANAAN RUANG ASPEK PEMANFAATAN RUANG ASPEK PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG 1. Struktur pemanfaatan ruang (network) 2. Pola pemanfaatan ruang (function, density, intensity) 1. penatagunaan tanah, air, udara, dan SDA lainnya 2. pola insentif dan disinsentif 3. pelaksanaan program 1. PERIJINAN 2. PENGAWASAN 3. PENERTIBAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG (ZONING REGULATION) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang disusun berdasarkan rencana rinci tata ruang untuk setiap zona pemanfaatan ruang. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang berisi ketentuan yang harus, boleh dan tidak boleh dilaksanakan pada zona pemanfaatan ruang yang dapat terdiri RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 2
atas ketentuan tentang amplop ruang (koefisien dasar ruang hijau, koefisien dasar bangunan. koefisien lantai bangunan dan garis sempadan bangunan), penyediaan sarana dan prasarana, serta ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Ketentuan lain yang dibutuhkan, antara lain ketentuan pemanfaatan ruang yang terkait dengan keselamatan penerbangan, pembangunan pemancar alat komunikasi, dan pembangunan jaringan listrik tegangan tinggi. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan umum perizinan, ketentuan umum pemberian insentif dan disinsentif, dan arahan sanksi. 7.2. KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI Ketentuan umum peraturan zonasi digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dalam menyusun peraturan zonasi. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 36, disebutkan bahwa ketentuan umum peraturan zonasi meliputi ketentuan umum peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang, yang terdiri atas : 1. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang, meliputi : a. Sistem pusat pelayanan. b. Sistem jaringan prasarana wilayah. 2. Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang, meliputi : a. kawasan lindung. b. kawasan budidaya. 7.2.1. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Struktur Ruang. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk mendukung berfungsinya sistem pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana wilayah; RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 3
b. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya sistem pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana wilayah; dan c. pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana wilayah. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang, meliputi : a. Sistem pusat pelayanan. b. Sistem jaringan prasarana wilayah. 7.2.1.1. Sistem Pusat Pelayanan Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang untuk sistem pusat pelayanan meliputi : a. Peraturan zonasi untuk PKL dan PKLp, disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. b. Peraturan zonasi untuk PPK, disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kecamatan atau beberapa desa yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. 7.2.1.2. Sisten Jaringan Prasarana Wilayah. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang untuk sistem jaringan prasarana wilayah meliputi : a. Sistem prasarana utama; dan b. Sistem prasarana lainnya. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 4
7.2.1.2.1. Peraturan Zonasi Untuk Sistem Prasarana Utama. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana utama berupa sistem jaringan transportasi meliputi : 1. Peraturan zonasi untuk jaringan jalan disusun dengan memperhatikan : a. Pemanfaatan ruang disepanjang sisi jalan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. b. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung disepanjang sisi jalan. c. Kawasan budidaya dapat dikembangkan sepanjang memperhatikan ruang milik jalan, ruang manfaat jalan, ruang pengawasan jalan maupun garis sempadan yang telah ditetapkan pemerintah setempat. 2. Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan : a. Pemanfaatan ruang disepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. b. Ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian. c. Pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api disepanjang jalur kereta api. d. Pembatasan jumlah pelintasan sebidang antara jaringan kereta api dan jalan. e. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 5
7.2.1.2.2. Peraturan Zonasi Untuk Sistem Prasarana Lainnya Ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana lainnya meliputi : 1. Peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi/kelistrikan disusun dengan memperhatikan: a. Peraturan zonasi untuk pembangkit listrik disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik dan harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain. b. Peraturan zonasi untuk jaringan pipa gas bumi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa gas bumi dan harus memperhatikan dan memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan disekitarnya. c. Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan menara pemancar telekomunikasi maupun jaringan kabel telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya maupun keamanan penerbangan militer. 3. Peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumberdaya air disusun dengan memperhatikan : a. Peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 6
b. Pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai harus selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sekitarnya. 4. Peraturan zonasi untuk sistem prasarana pengelolaan lingkungan disusun dengan memperhatikan : a. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah kegiatan yang menunjang pengelolaan lingkungan bagi kawasan perkotaan dan perdesaan. b. Pelarangan bagi kegiatan lain diluar kegiatan pengelolaan lingkungan bagi kawasan perkotaan dan perdesaan. 5. Peraturan zonasi untuk sistem prasarana pendukung disusun dengan memperhatikan: a. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari rth harus tetap dilindungi sesuai dengan fungsi rth masing-masing, dan tidak boleh dilakukan alih fungsi b. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah kegiatan yang menunjang pelayanan kepada masyarakat. c. Pelarangan bagi kegiatan lain diluar peruntukan kegiatan pelayanan masyarakat. 7.2.2. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pola Ruang. Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang disusun dengan memperhatikan : a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa merubah bentang alam; b. Ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum; c. Pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam; dan d. Pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi lingkungan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 7
Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang, meliputi : a. Kawasan lindung; dan b. Kawasan budidaya. 7.2.2.1. Kawasan Lindung Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang untuk kawasan lindung meliputi : 1. Peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan : a. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata alam terbatas dengan syarat tidak boleh merubah bentang alam. b. Ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi. c. Kegiatan budidaya tersebut hanya diijinkan untuk penduduk asli dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan dan dibawah pengawasan ketat. 2. Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat disusun dengan memperhatikan: a. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata dan jalur hijau dengan syarat tidak boleh berubah bentang alam, kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu. b. Bangunan yang diperbolehkan adalah papan reklame, ramburambu, pemasangan kabel listrik, telepon, air bersih, pemasangan prasarana air, tiang jembatan dengan persyaratan tidak boleh merubah bentang alam. c. Penetapan kawasan perlindungan setempat mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Peraturan zonasi untuk cagar budaya dan ilmu pengetahuan alam disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 8
a. Tidak diperbolehkan adanya alih fungsi kawasan dan hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian, pendidikan dan pariwisata. b. Dilarang melakukan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan. c. Sarana dan prasarana yang dikembangkan pada kawasan situs-situs yang dijadikan objek wisata harus berada di luar situs. 4. Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam mencakup : a) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : Untuk kawasan lindung tidak layak dibangun dan mutlak harus dilindungi. Untuk kawasan budidaya, pembatasan jenis kegiatan yang diizinkan dengan persyaratan yang ketat, kegiatan pariwisata alam secara terbatas, kegiatan hutan kota termasuk ruang terbuka hijau, kegiatan perkebunan tanaman keras dan jaringan drainase. Perlu dilakukan penyelidikan geoteknik, kestabilan lereng dan daya dukung tanah untuk kegiatan permukiman, penerapan sistem drainase lereng dan sistem perkuatan lereng yang tepat, rencana transportasi yang mengikuti kontur, tidak mengganggu kestabilan lereng. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. b) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan banjir disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : Penetapan batas dataran banjir. Diijinkan untuk kegiatan budidaya (pertanian, perkebunan, permukiman, transportasi, perikanan, perdagangan dan jasa, RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 9
fasilitas umum) dengan tetap memperhatikan sistem drainase yang memadai, pembuatan sumur resapan, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, pembuatan tanggul di sepanjang back water, pemasangan pompa pada pertemuan anak-anak sungai. Pemanfaatan sempadan sungai sebagai kawasan hijau. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. c) Peraturan zonasi untuk kawasan kebakaran disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut: Kegiatan yang diperbolehkan adalah kegiatan wisata seperti out bound dan perkemahan dengan tidak merubah bentang alam. Pelarangan pembakaran hutan dan pelarangan menyulut api secara sembarangan. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. 5. Peraturan zonasi untuk kawasan lindung geologi mencakup : a) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan letusan gunung berapi disusun dengan memperhatikan : Dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya dan berbagai infrastruktur namun tetap perlu memperhatikan karakteristik, jenis dan ancaman bencana. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. b) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan gempa disusun dengan memperhatikan : Dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya dan berbagai infrastruktur namun tetap perlu memperhatikan karakteristik, jenis dan ancaman bencana serta RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 10
memperhatikan ketentuan dan persyaratan konstruksi bangunan tahan gempa. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. c) Peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah disusun dengan memperhatikan : Dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya dan berbagai infrastruktur namun tetap perlu memperhatikan karakteristik, jenis dan ancaman bencana serta memperhatikan ketentuan dan persyaratan konstruksi bangunan tahan gempa. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. 7.2.2.2. Kawasan Budidaya Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang untuk kawasan budidaya meliputi : 1. Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan memperhatikan : a. Pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan. b. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan c. Kegiatan yang diperbolehkan adalah kegiatan wisata seperti outbound dan perkemahan dengan tidak merubah bentang alam maupun penanaman tanaman sela diantara pohon-pohon utama. d. Alih fungsi hutan produksi dapat dilakukan untuk pembangunan jalan dan waduk dengan persetujuan dari pejabat yang berwenang. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 11
2. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan : a. Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah. b. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjai lahan budidaya non pertanian kecuali untuk pembangunan kepentingan umum harus mengacu peraturan perundang-undangan. 3. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkebunan disusun dengan memperhatikan ketentuan bahwa kawasan budidaya lain dapat dikembangkan dengan memperhatikan persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah daerah. 4. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : a. Pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara resiko dan manfaat. b. Pengaturan bangunan lain di sekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah. c. Kegitan permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dilarang berkembang di sekitar areal pertambangan. d. Kegiatan yang diperbolehkan adalah pertanian dan perkebunan. e. Setiap penambang diharuskan untuk melakukan reboisasi pada lahan bekas tambang serta perlu adanya kajian analisis dampak lingkungan untuk penambangan dalam skala besar. 5. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : a. Kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum diperbolehkan berkembang di sekitar kawasan industri dengan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 12
b. Permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum yang dikembangkan adalah permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum untuk memuhi kebutuhan para pekerja dan dibatasi pengembangannya. 6. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : a. Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. Perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau. c. Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata. 7. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : a. Kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan harus dapat menjadikan sebagai tempat hunian yang aman, nyaman, dan produktif, serta didukung oleh sarana dan prasarana permukiman. b. Setiap kawasan permukiman dilengkapi dengan sarana dan prasarana permukiman sesuai hierarki dan tingkat pelayanan masing-masing. c. Setiap pengembangan kawasan permukiman harus memegang kaidah lingkungan hidup dan bersesuaian dengan rencana tata ruang wilayah. 8. Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan lainnya yang difokuskan pada kawasan peruntukan peternakan disusun dengan memperhatikan : a. Tidak boleh dikembangkan di lingkungan permukiman khususnya untuk pengembangan kawasan peternakan dalam skala besar dan diharapkan dikembangkan pada kawasan khusus yang telah ditetapkan. b. Perlu adanya jalur hijau di sekeliling kawasan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 13
c. Perlu adanya pengolahan limbah untuk peternakan skala besar. Untuk lebih jelasnya Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kabupaten Agam dapat dilihat pada Tabel 7.1. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 14
ARAHAN PENATAAN RUANG KABUPATEN AGAM 2010-2030 Tabel 7.1 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN AGAM No Pola Ruang Kabupaten A Kawasan Lindung Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya A.1. Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya A1.1 Hutan Lindung a. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata alam terbatas pendiikan dan lingkungan) dengan syarat tidak boleh merubah bentang allam b. Bangunan/intervensi lain tidak diperbolehkan kecuali telah mendapat persetujuan dari instansi dan pejabat yang berwenang KDB yang diijinkan 5%, KLB : 5%, KDH : 95% Jalan setapak, gazebo Pemanfatan ruang untuk budidaya Perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian sanksi hukum c. Kegiatan budidaya lain selain yang disebutkan di atas dilarang A.2. Kawasan perlindungan Setempat A.2.1 Kawasan Sempadan Sungai Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata dan jalur hijau dengan syarat tidak boleh berubah bentang alam, Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu Bangunan yang diperbolehkan adalah papan reklame, rambu-rambu, pemasangan kabel listrik, telepon, PDAM, pemasangan KDB yang diijinkan 10%, KLB : 10%, KDH : 90% sempadan sungai besar di luar kawasan permukiman : 100 m; sempadan anak-anak sungai Jalan setapak, gazebo Pemanfatan ruang untuk budidaya Perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian sanksi hukum RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 15
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan prasarana air, tiang jembatan dengan persyaratan tidak boleh merubah bentang alam Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan : 50 meter, sempadan sungai dan anak sungai yang melewati permukiman : minimal 15 meter Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Kegiatan budidaya lain selain yang disebutkan di atas dilarang A.2.2. Kawasan Sempadan Waduk Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata dan jalur hijau dengan syarat tidak boleh berubah bentang alam, Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu Sempadan sungai besar di luar kawasan permukiman : 100 m; sempadan anak-anak sungai : 50 meter, sempadan sungai dan anak sungai yang melewati permukiman : minimal 15 meter Jalan setapak, gazebo Pemanfatan ruang untuk budidaya Perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian zanksi hukum Bangunan yang diperbolehkan adalah pemasangan kabel listrik, telepon, PDAM, pemasangan prasarana air, dengan persyaratan tidak boleh merubah bentang alam KDB yang diijinkan 10%, KLB : 10%, KDH : 90% Kegiatan budidaya lain selain yang disebutkan di atas dilarang Sempadan Waduk 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat A.2.2. Kawasan Sempadan Mata Air Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pariwisata dan jalur hijau dengan syarat tidak boleh berubah bentang alam, Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu Bangunan yang diperbolehkan adalah pemasangan kabel listrik, telepon, PDAM, pemasangan prasarana air, dengan persyaratan tidak boleh merubah bentang KDB yang diijinkan 10%, KLB : 10%, KDH : 90% Sempadan Waduk 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat Jalan setapak, gazebo Pemanfatan ruang untuk budidaya Perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian zanksi hukum RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 16
No Pola Ruang Kabupaten alam Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Kegiatan budidaya lain selain yang disebutkan di atas dilarang A.3. Kawasan Pelestarian Alam dan Cagar Budaya A.3.1. Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan Alam Tidak diperbolehkan adanya alih fungsi kawasan KDB yang diijinkan 20%, KLB : 20%, KDH : 80% Jalan, gazebo, kantor pengelola Sarana dan prasarana yang dikembangkan pada kawasan situs-situs yang dijadikan objek wisata harus berada di luar situs Pemanfatan ruang untuk budidaya Perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian zanksi hukum A.3.2. Kawasan Rawan Bencana A.3.2.1. Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi (Kab. Agam) Dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya dan berbagai infrastruktur Diijinkan untuk kegiatan permukiman baik di perdesaan maupun perkotaan dengan persyaratan tertentu KDB 50-70%, KLB 50-70%, KDH 30-50%, dan Kepadatan bangunan tinggi (>60 unit/ha), sedang (30-60 unit/ha) dan rendah (<30 unit/ha) Konstruksi bangunan beton bertulang maupun tidak bertulang dan Pola permukiman dapat mengelompok maupun menyebar RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 17
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian khususnya perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Tanaman yang dipilih sebaiknya tanaman tahunan dengan tegakan tinggi Dijinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio kultural dan wisata agrokultural KDB yang diijinkan 5%, KLB : 5%, KDH : 95% Diijinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat dengan persyaratan tertentu Setiap penambang diharuskan untuk melakukan reboisasi pada lahan bekas tambang, serta Pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi jika tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan A.3.2.2. Kawasan Rawan Gempa Dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya dan berbagai infrastruktur penunjangnya RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 18
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Diijinkan untuk kegiatan perumahan, baik di perdesaan maupun di perkotaan dengan persyaratan tertentu KDB 50-70%, KLB 50-70%, KDH 30-50% Konstruksi bangunan beton bertulang, kepadatan bangunan sedang dan rendah, pola permukiman menyebar Konstruksi bangunan semi permanen, kepadatan bangunan tinggi, sedang dan rendah, pola permukiman mengelompok dan menyebar Konstruksi bangunan tradisional, kepadatan bangunan tinggi, sedang dan rendah, pola permukiman mengelompok dan menyebar] Diijinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan persyaratan tertentu Kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB 60-70%, KLB : 60-210% Konstruksi bangunan tahan gempa Diijinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan ketat serta pengawasan dan pengendalian yang ketat Kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB 40-50%, KLB : 60-210% Konstruksi bangunan tahan gempa, skala industri besar, sedang maupun kecil Diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, perikanan, perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep pelestarian lingkungan Diijinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio kultural dan wisata agrokultural KDB 30-50%, KLB 30-50%, KDH 50-70% Setiap penambang diharuskan untuk melakukan reboisasi pada lahan bekas tambang RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 19
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Diijinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi jika tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan A.3.2.3 Kawasan Rawan Kerentanan Gerakan Tanah Untuk kawasan lindung tidak layak dibangun dan mutlak harus dilindungi T inggi Untuk kawasan budidaya, terbatas jenis kegiatan yang diizinkan dengan persyaratan yang ketat : kegiatan pariwisata alam secara terbatas, kegiatan hutan kota termasuk ruang terbuka hijau, kegiatan perkebunan tanaman keras dan drainase KDB 30-50%, KLB 30-50%, KDH 50-70% Perlu dilakukan rekayasa teknis, jenis wisata yang diinginkan pondokan, camping ground dan pendakian Sedang Fungsi tidak berubah/diubah sebagai kawasan dengan dominasi fungsi lindung Diperlukan kegiatan pengawasan secara efektif Untuk kegiatan budidaya diizinan terbatas ( dapat dibangun/ dikembangkan bersyarat ), diantaranya adalah hutan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata, pertambangan, permukiman, transportasi, drainase, jaringan air bersih Untuk wisata dan permukiman KDB 30-50%, KLB 30-50%, KDH 50-70% Perlu dilakukan penyidikan geoteknik, kestabilan lereng dan daya dukung tanah untuk kegiatan pemukiman, penerapan sistem drainase lereng dan sistem perkuatan lereng yang tepat, rencana transportasi yang mengikuti kontur, tidak mengganggu kestabilan lereng A.3.2.4 Kawasan Rawan Banjir Diizinkan untuk kegiatan budidaya (pertanian, perkebunan, perkebunan, permukiman, transportasi, perikanan, perdagangan dan jasa, fasilitas umum) Untuk kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa maupun fasilitas umum KDB 50-70% Perlu dilengkapi dengan sistem drainase yang memadai, pembuatan sumur resapan, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, pembuatan tanggul disepanjang RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 20
No Pola Ruang Kabupaten A.3.2.5 Kawasan Rawan Kebakaran Hutan Ketentuan Umum Kegiatan Kegiatan/bangunan yang diperbolehkan adalah kegiatan wisata seperti outbond, bumi perkemahan dengan tidak merubah bentang alam Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan KDB yang diizinkan 5%, KLB : 5%, KDH : 95% A.3.3 Ruang Terbuka Hijau Kegiatan lain dilarang untuk dikembangkan KDB yang diizinkan 10%, KLB : 10%, KDH : 90% kegiatan yang dapat dikembangkan adalah kegiatan yang menunjang wisata Ketentuan Umum Prasarana Minimum Jalan setapak, gazebo Jalan setapak, gazebo Ketentuan Khusus Lainnya back water, pemasangan pompa pada pertemuan anak-anak sungai dengan kali madiun, pemanfaatan sempadan sebagai sungai kawasan hijau Dilarang melakukan pembakaran hutan, dilarang menyulut api secara sembarang Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian sanksi hukum B Kawasan Budidaya B.1 Hutan Produksi Kegiatan/bangunan yang diperbolehkan adalah kegiatan wisata seperti outbond, bumi perkemahan, dengan tidak merubah bentang alam KDB yang diizinkan 5%, KLB : 5%, KDH : 95% Jalan setapak gazebo Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian sanksi hukum Kegiatan budidaya lain yang diperbolehkan adalah penanaman tanaman sela diantara pohon-pohon utama Alih fungsi hutan produksi dapat dilakukan untuk pembangunan jalan, waduk dengan persetujuan dari Menteri Kehutanan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 21
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya B.2 Hutan Rakyat Kegiatan /bangunan yang diperbolehkan adalah kegiatan wisata seperti outbond, bumi perkemahan dengan tidak merubah bentang alam KDB yang diizinkan 5%, KLB : 5%, KDH : 95% Jalan setapak gazebo Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten dengan pemberian sanksi hukum Kegiatan budidaya lain yang diperbolehkan adalah penanaman tanaman sela diantara pohon-pohon utama Alih fungsi hutan produksi dapat dilakukan untuk pembangunan jalan, waduk dengan persetujuan dari Menteri Kehutanan B.3 Pertanian Alih fungsi sawah irigasi teknis menjadi lahan budidaya non pertanian dilarang kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama Jaringan jalan, jaringan drainase Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani Alih fungsi ladang/tegal menjadi lahan budidaya non pertanian diizinkan dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Pemerentah Daerah Untuk permukiman : KDB yang diizinkan 50-70%, KLB : 50-210%, KDH : 30-50% Jaringan jalan, jaringan drainase Ketentuan penukaran lahan pada wilayah lain Untuk perdagangan dan jasa : KDB yang diizinkan 60-70%, KLB : 60-210%, KDH : 30-40% Untuk fasilitas umum : KDB yang diizinkan 50-60%, KLB : 50-180%, KDH : 40-50 % Untuk fasilitas umum : KDB yang diizinkan 40-50%, KLB : 40-50%, KDH : 50-60% RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 22
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya B.4 Perkebunan Kawasan budidaya lain dapat dikembangkan dengan memperhatikan persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah daerah KDB yang diizinkan 50-60%, KLB : 50-180%, KDH : 40-50% Jaringan jalan, jaringan drainase B.5 Peternakan Kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dilarang KDB yang diizinkan 50%, KLB : 50%, KDH 50% Jaringan jalan, jaringan drainase, kantor pengelola Tidak boleh dikembangkan dilingkungan permukiman Perlu adanya jalur hijau di sekeliling kawasan. Dikembangkan pada kawasan khusus yang telah ditetapkan untuk peternakan dalam skala besar Perlu adanya pengolahan limbah untuk peternakan skala besar B.6 Pertambangan Kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa, serta fasilitas umum dilarang KDB yang diizinkan 20%, KLB : 20%, KDH : 80% Jaringan jalan, jaringan drainase, kantor pengelola Disertai AMDAL. Setiap Panambang diharuskan untuk melakukan reboisasi pada lahan bekas tambang Pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi jika tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan Kegiatan pertanian dan perkebunan diperbolehkan B.7 Industri Kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum diperbolehkan dengan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Pemanfaatan permukiman, perdagangan dan jasa, serta fasilitas umum maksimum 20% dari luas lahan yang ada KDB yang diizinkan : 50%, KLB : 50 % dan KDH : 50% Jaringan jalan, jaringan drainase Permukiman yang dikembangkan adalah permukiman untuk para pekerja termasuk fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan para pekerja. Disertai AMDAL RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 23
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya B.8 Pariwisata Kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum diperbolehkan dengan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Pemanfaatan permukiman, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum maksimum 20% dari luas lahan yang ada dengan KDB : 30%. KLB : 30%, KDH : 70% Jaringan jalan, jaringan drainase, kantor pengelola, WC umum, gazebo Kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum yang dikembangkan adalah kegiatan yang menunjunjang objek wisata Kegiatan permukiman dilarang B.9 Permukiman Kegiatan perdagangan dan jasa, fasilitas umum yang diperbolehkan Kegiatan diluar kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dilarang untuk dikembangkan Pemanfaatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum diperbolehkan maksimum 20% dari luas lahan yang ada Untuk permukiman perkotaan : KDB yang diizinkan 60-70%, KLB : 60-210%, KDH : 30-40% Untuk permukiman perdesaan : KDB yang diizinkan 50-60%, KLB : 50-180%, KDH : 40-50% Untuk perdagangan dan jasa di lingungan permukiman perkotaan KDB yang diizinkan 70-80%, KLB : 70-240%, KDH : 30-30% Untuk fasiitas umum di permukiman perkotaan KDB yang diizinkan 50-60%, KLB : 50-180%, KDH : 40-50% untuk perdagangan dan jasa di permukiman pedesaan : KDB yang diizinkan 60-70%, KLB : 60-210%, KDH : 30-40% jaringan jalan, jaringan drainase RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 24
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya Untuk fasilitas umum di lingkungan permukiman pedesaan : KDB yang diizinkan 50-60%, KLB : 50-180%, KDH : 40-50% Kegiatan industri rumah tangga diizinkan dengan bersyarat Tidak mengganggu lingkungan dan tidak mencemari lingkungan B.10 Pertahanan dan Keamanan Dilarang untuk kegiatan lain diluar kegiatan pertahanan dan keamanan Perlu adanya jalur hijau yang membatasi kawasan pertahanan dan keamanan dengan kawasan budidaya lainya kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa, fasilitas umum diperbolehkan dalam radius 0,5-1 ( satu) km dari kawasan pertahanan dan keamanan terutama untuk gudang amunisi Ketinggian bangunan/atau kegiatan tower tidak boleh lebih dari 53 meter sebagaimana ketetapan dari pangkalan TNI-AU kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa, fasilitas umum diperbolehkan untuk kawasan disekitar pangkalan TNI-AU namun bersyarat sebagaimana ketentuan yang ditetapkan pangkalan TNI-AU perlu adanya jalur hijau yang membatasi kawasan pertahanan dan keamanan dengan kawasan budidaya lainnya C. Kawasan Sekitar Sistem Prasarana C.1 Prasarana Transportasi Kegiatan budidaya dapat dilkembangkan sepanjang memperhatikan Ruang Milik Jalan, Ruang Manfaat Jalan, Ruang Milik Jalan maupun garis sempadan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat KDB, KLB dan KDH menyesuaikan dengan jenis peruntukan yang akan dilakukan sebagaimana ketetapan sebelumnya Jaringan drainase dan jalur hijau perlu adanya pengendalian terutama IMB yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 25
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya C.2 Prasarana Sumberdaya Air Kegiatan yang dilakukan diluar kegiatan yang menunjang prakarsa sumber daya air dilarang ketentuan tentang sempadan sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan sempadan sungai waduk jaringan jalan perlu adanya pengendalian terutama IMB yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kegiatan yang diperbolehkan berkembang adalah kawasan pertanian, perkebunan, hutan, ruang terbuka hijau C.3 Prasarana Energi Kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan persyaratan tertentu Permukiman, perdagangan dan jasa, serta fasilitas umum dapat dikembangkan di sekitar prasarana energi dengan radius 20-25 meter dari prasarana energi Jaringan jalan, jaringan drainase, jalur hijau Perlu adanya pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi bagi yang melanggar ketentuan yang telah ditetapkan KDB, KLB dan KDH menyesuaikan dengan jenis peruntukan yang akan dilakukan sebagaimana ketetapan sebelumnya C.3 Prasarana Energi Kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan persyaratan tertentu Permukiman, perdagangan dan jasa, serta fasilitas umum dapat dikembangkan di sekitar prasarana energi dengan radius 20-25 meter dari prasarana energi Jaringan jalan, jaringan drainase, jalur hijau Perlu adanya pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi bagi yang melanggar ketentuan yang telah ditetapkan KDB, KLB dan KDH menyesuaikan dengan jenis peruntukan yang akan dilakukan sebagaimana ketetapan sebelumnya C.4 Prasarana Telekomunikasi Kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan persyaratan tertentu Permukiman, perdagangan dan jasa, serta fasilitas umum dapat dikembangkan di sekitar Jaringan jalan, jaringan drainase, jalur hijau Perlu adanya pengendalian yang ketat dan pemberian sanksi bagi yang melanggar ketentuan yang RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 26
No Pola Ruang Kabupaten Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Ketentuan Umum Intensitas Bangunan prasarana energi dengan radius 20-25 meter dari prasarana energi Ketentuan Umum Prasarana Minimum Ketentuan Khusus Lainnya telah ditetapkan KDB, KLB dan KDH menyesuaikan dengan jenis peruntukan yang akan dilakukan sebagaimana ketetapan sebelumnya Ketinggian tower tidak boleh lebih dari 52 meter berdasarkan ketetapan yang dikeluarkan Pangkalan TNI-AU RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 27
7.3. KETENTUAN UMUM PERIZINAN Ketentuan perizinan adalah ketentuan yang diberikan dalam kegiatan pemananfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-- undangan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 37 disebutkan bahwa : 1. Ketentuan perizinan diatur oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar, batal demi hukum. 4. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. 5. Terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pembatalan izin sebagaimana dapat dimintakan penggantian yang layak kepada instansi pemberi izin. 6. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak. 7. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. 8. Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur perolehan izin dan tata cara penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 37 dijelaskan bahwa, yang dimaksud dengan perizinan adalah perizinan yang terkait dengan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 28
izin pemanfaatan ruang yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang. Izin dimaksud adalah izin lokasi/fungsi ruang, amplop ruang, dan kualitas ruang. Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud adalah: 1. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar, batal demi hukum. 3. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. 4. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak. 5. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Mekanisme perijinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan merupakan bagian dari pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah. Tujuannya adalah pemanfaatan ruang atau pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah yang telah disusun. Dalam hal ini ada beberapa tahapan yang harus dilakukan agar dapat mencapai tujuan tersebut, yakni sebagai berikut: Perijinan terkait pada kegiatan pemantauan terhadap macam kegiatan pelaksanaan pembangunan yang merupakan maksud pemberian ijin. Misalnya jika macam kegiatan pelaksanaan pembangunan yang terkait kepenerbitan ijin lokasi dilingkup kedua adalah melaksanakan kegiatan perolehan tanah maka kegiatan pemantauan yang dilakukan lembaga/instansi penerbit ijin adalah RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 29
mengecek seberapa jauh kegiatan perolehan tanah ini telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang disyaratkan dalam ijin lokasi dimaksud. Penerbitan kemudian dilihat sebagai pengenaan sanksi jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang diisyaratkan. 7.3.1. Izin Lokasi Ijin lokasi, merupakan persetujuan lokasi bagi pengembangan aktifitas/sarana/prasarana yang menyatakan kawasan yang dimohon pihak pelaksana pembangunan atau pemohon sesuai untk dimanfaatkan bagi aktifitas dominan yang telah memperoleh ijin prinsip. Ijin lokasi akan dipakai sebagai dasar dalam melaksanakan perolehan tanah melalui cara pengadaan tertentu dan dasar bagi pengurusan hak atas tanah. Acuan yang sering digunakan dalam penerbitan ijin lokasi ini adalah : a. Kesesuaian lokasi bagi pembukaan/pengembangan aktifitas dilihat dari: 1. Rencana Tata Ruang Wilayah (terutama eksternal) 2. Keadaan pemanfaatan ruang eksisting (yang terlihat saat ini), dikenal sebagai pertimbangan Aspek Tata Guna Tanah. 3. Status tanah dari lokasi tersebut. b. Bagi lokasi dikawasan tertentu, suatu kajian khusus mengenai dampak lingkungan pengembangan aktifitas budidaya dominan terhadap kualitas ruang yang ada hendaknya menjadi pertimbangan dini. Dalam prosedur standart yang umum berlaku, kajian khusus seperti ini (misalnya AMDAL) baru dibutuhkan saat pengurusan ijin tetap atau untuk kawasan perumahan karena tidak berijin tetap baru dibutuhkan saat pengurusan IMB. 7.3.1.1. Tugas Tim Koordinasi Penetapan Izin Lokasi. Surat Ijin Lokasi diterbitkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten sejak lahirnya Pakto 1993, setelah mengadakan rapat koordinasi dengan instansi. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 30
a. Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Agam b. Bappeda kabupaten c. Instansi sektoral terkait pengelola: Kegiatan budidaya dominan yang akan dikembangkan (instansi penerbit ijin prinsip). Kegiatan budidaya/lindung yang ada dilokasi yang dimohon saat ini d. Camat setempat. Ketentuan syarat memperoleh tanah dicantumkan dalam Surat Ijin Lokasi. Kegiatan pemantauan dan penelitian dilakukan sesuai ketentuan persyaratan ini. 7.3.1.2. Tata Cara Pemberian Izin Lokasi. Tahap pemberian ijin lokasi yang berkaitan dengan permasalahan lokasi yaitu: a. Persetujuan prinsip pencadangan tanah. b. Persetujuan penguasaan peruntukan ruang. c. Persetujuan pembebasan peruntukan ruang. d. Persetujuan ruang. e. Persetujuan tetangga sekitar. 7.3.2. Izin Pemanfaatan Ruang. Perizinan pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai upaya penertiban pemanfaatan ruang sehingga setiap pemanfaatan ruang harus dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang. Izin pemanfaatan ruang diatur dan diterbitkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing. Ketentuan perizinan pemanfaatan ruang harus memuat : RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 31
a. Ketentuan perizinan adalah ketentuan yang diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang b. Ketentuan perizinan berfungsi sebagai : alat pengendali dalam penggunaan lahan untuk kegiatan pemanfaatan ruang rujukan dalam membangun c. Ketentuan perizinan disusun berdasarkan : ketentuan umum umum peraturan zonasi yang sudah ditetapkan peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya d. Jenis-jenis perizinan terkait dengan pembangunan pemanfaatan ruang antara lain meliputi : Ijin Pembangunan kawasan dapat dikelompokan: 1. Ijin Kegiatan/sektor, merupakan persetujuan pengembangan aktifitas/ sarana/ prasarana yang menyatakan bahwa aktifitas budidaya yang akan mendominasi a. Ijin Prinsip, merupakan persetujuan pendahuluan yang dipakai sebagai kelengkapan persyaratan teknis permohonan ijin lokasi. Bagi perusahaan PMDN/PNA, Surat Persetujuan Penanaman Modal (SPPM) untuk PMDN dari Maninves/Ketua BKPM atau Surat Pemberitahuan Persetujuan Presiden untuk PMA, digunakan sebagai ijin prinsip. b. Ijin Tetap, merupakan persetujuan akhir setelah ijin lokasi diperoleh. Ijin lokasi menjadi persyaratan, mengingat sebelum memberikan persetujuan final tentang pengembangan kegiatan budidaya, lokasi kawasan yang dimohon bagi pengembangan aktifitas tersebut juga telah sesuai dan malah tingkat perolehan tanahnya telah memperoleh kemajuan berarti (misalnya untuk kawasan industri 60%, sebelum PAKTO 1993). Selain itu kelayakan pengembangan kegiatan dari segi lingkungan hidup harus telah diketahui melalui hasil studi AMDAL. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 32
Perijinan kegiatan/sektor umumnya berlaku untuk setiap bidang usaha berskala besar seperti kawasan industri, kawasan berikat, kawasan perumahan, kawasan pariwisata, kota baru, kawasan pertambangan, kawasan HPH, dan HPH-TI, kawasan perkebunan, kawasan perikanan, kawasan peternakan dan sebagainya. Dengan telah diperoleh ijin tetap bagi kawasan budidaya, selanjutnya tiap jenis usaha rinci yang akan mengisi kawasan secara individual perlu memperoleh Ijin Usaha sesuai karakteristik tiap kegiatan usaha rinci. SIPD (Surat Ijin Penambangan Daerah) dan SIPA (Surat Ijin Pengambilan Air) dapat dikelompokan dalam kategori Ijin Usaha selain yang telah dikenal (SIUP, SIUPP, dll). 2. Ijin Pertanahan, yang diawali dengan ijin lokasi dan dilanjutkan dengan penerbitan Sertifikat Hak Atas Tanah. a. Ijin lokasi akan dipakai sebagai dasar dalam melaksanakan perolehan tanah melalui cara pengadaan tertentu dan dasar bagi pengurusan hak atas tanah. b. Persyaratan tambahan yang dibutuhkan adalah: Surat Persetujuan Prinsip tersedia. Surat Pernyataan Kesanggupan akan memberi ganti rugi atau penyediaan tempat penampungan bagi pemilik yang berhak atas tanah yang dimohon. c. Hak atas tanah, walaupun sebenarnya bukan merupakan perijinan namun dapat dianggap sebagai persetujuan kepada pihak pelaksana pembangunan untuk mengembangkan kegiatan budidaya diatas lahan yang telah diperoleh. Macam hak yang akan diperoleh sesuai dengan sifat pihak pelaksana dan sifat kegiatan budidaya dominan yang akan dikembangkan. Pada tingkat kawasan, hak yang diberikan umumnya bersifat kolektif (misalnya dikenai HGB Induk). Tergantung sifat aktifitas RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 33
budidayanya, hak kepemilikan individual dapat dikembangkan dari hak kolektif. 3. Ijin Perencanaan dan Bangunan a. Ijin Perencanaan, inilah ijin pemanfaatan ruang yang sebenarnya karena setelah ijin lokasi menyatakan kesesuaian lokasi bagi pengembangan aktifitas budidaya dominan, Ijin Perencanaan menyatakan persetujuan terhadap aktifitas budidaya rinci yang akan dikembangkan dalam kawasan. Pengenalan aktifitas budidaya rinci dilakukan melalui penelahan RTR rinci kawasan Internal. Kelengkapan sarana dan prasarana yang akan mendukung aktifitas budidaya rinci dan ketepatan pola alokasi pemanfaatan ruangnya dalam internal kawasan atau sub kawasan menjadi perhatian utama. Ijin Penggunaan Lahan diduga merupakan istilah ijin yang digunakan beberapa Pemda. b. Ijin Mendirikan Bangunan, setiap aktifitas budidaya rinci yang bersifat binaan (bangunan) kemudian perlu memperoleh IMB jika akan dibangun. Perhatian utama diarahkan pada kelayakan struktur bangunan melalui penelahan Rancangan Rekayasa Bangunan, Rencana tapak ditiap blok peruntukan (terutama bangunan berskala besar megastruktur) atau rancangan arsitektur ditiap persil. IMB diterbitkan Dinas Pengawasan Pembangunan. Selain persyaratan Teknis Bangunan sebagaimana diatur Pedoman Teknis Menteri PU, SIMB juga akan memuat ketentuan persyaratan teknis persil dan lingkungan sekitar, misal garis sempadan (jalan dan Bangunan) KDB, KLB, KH. 4. Ijin Lingkungan Ijin lingkungan pada dasarnya merupakan persetujuan yang menyatakan aktifitas budidaya rinci yang terdapat dalam kawasan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 34
yang dimohon layak dari segi lingkungan hidup. Dikenal dua macam ijin Lingkungan: a. Ijin HO/Undang-undang Gangguan, terutama untuk kegiatan usaha yang tidak mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup (bukan obyek Amdal). Ijin ini umumnya diterbitkan Bupati melalui Sekwilda kabupaten. b. Persetujuan UKL dan UPL, untuk kawasan yang sifat kegiatan budidaya rinci yang berada didalamnya secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama berdampak penting terhadap lingkungan hidup. Acuan yang digunakan dengan demikian adalah dokumen Amdal yang pada bagian akhirnya menjelaskan UKL dan UPL pada tingkatan kegiatan budidaya rinci (jika dibutuhkan) dan pada tingkat kawasan. Persetujuan UKL/UPL diterbitkan Menteri LH (kawasan terpadu), dan menteri terkait atau gubernur tergantung karakteristik kawasan yang dimohon setelah melalui komosi Amdal terkait. e. Mekanisme perizinan terkait pemanfaatan ruang yang menjadi wewenang Pemerintah Kabupaten Agam mencakup pengaturan keterlibatan masing-masing instansi perangkat daerah terkait dalam setiap perizinan yang diterbitkan f. Ketentuan teknis prosedur dalam pengajuan izin pemanfaatan ruang maupun forum pengambilan keputusan atas izin yang akan dikeluarkan, yang akan menjadi dasar pegembangan Standar Operasional Prosedur (SOP) perizinan g. Ketentuan pengambilan keputusan apabila dalam dokumen RTRW kabupaten belum memberikan ketentuan yang cukup tentang perizinan yang dimohonkan oleh masyarakat, individu maupun organisasi RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 35
7.4. KETENTUAN UMUM PEMBERIAN INSENTIF DAN DISINSENTIF Pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilakukan juga dengan pemberian insentif dan disinsentif, selain melalui perizinan pemanfaatan ruang serta pengenaan sanksi. Penerapan insentif atau disinsentif secara terpisah dilakukan untuk perizinan skala kecil/individual sesuai dengan peraturan zonasi, sedangkan penerapan insentif dan disinsentif secara bersamaan diberikan untuk perizinan skala besar/kawasan karena dalam skala besar/kawasan dimungkinkan adanya pemanfaatan ruang yang dikendalikan dan didorong pengembangannya secara bersamaan 1. Insentif, merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang. Insentif dapat diberikan antar pemerintah daerah yang saling berhubungan berupa subsidi silang dari daerah yang penyelenggaraan penataan ruangnya memberikan dampak kepada daerah yang dirugikan, atau antara pemerintah dan swasta dalam hal pemerintah memberikan preferensi kepada swasta sebagai imbalan dalam mendukung perwujudan rencana tata ruang 2. Disinsentif, merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang Arahan pemberian insentif dan disinsentif merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Agam dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi, sedangkan disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Agam. Pemberian insentif dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah daerah. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 36
Ketentuan pemberian insentif dan pemberian disinsentif disusun berdasarkan : a. rencana struktur ruang dan rencana pola ruang wilayah kota dan/atau rencana detail tata ruang wilayah kabupaten; b. ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten; dan c. peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya. Ketentuan pemberian insentif adalah ketentuan yang mengatur tentang pemberian imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan kegiatan yang didorong perwujudannya dalam rencana tata ruang. Ketentuan pemberian insentif berfungsi sebagai : a. perangkat untuk mendorong kegiatan dalam pemanfaatan ruang pada promoted area yang sejalan dengan rencana tata ruang. b. katalisator perwujudan pemanfaatan ruang. Ketentuan insentif dari pemerintah kabupaten kepada pemerintah nagari dalam wilayah kabupaten dan kepada pemerintah daerah lainnya, dapat diberikan dalam bentuk : a. pemberian kompensasi b. subsidi silang c. penyediaan sarana dan prasarana d. publisitas atau promosi daerah Ketentuan insentif dari pemerintah kabupaten kepada masyarakat umum (investor, lembaga komersial, perorangan dan lain sebagainya) diberikan dalam bentuk : a. pemberian kompensasi b. pengurangan retribusi c. imbalan d. sewa ruang dan urun saham e. penyediaan prasarana dan sarana f. penghargaan g. kemudahan perizinan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 37
Ketentuan insentif berlaku untuk kawasan yang didorong pertumbuhannya, seperti : 1. Kawasan perkotaan; secara faktual hampir seluruh ibukota kecamatan sudah mempunyai ciri perkotaan. Berkenaan dengan rencana struktur ruang yang telah ditetapkan, diperlukan upaya-upaya perwujudan peran dan fungsi pusat kegiatan/pelayanan sesuai hirarkinya diperlukan insentif, seperti pembangunan prasarana dan sarana perkotaan secara memadai. 2. Kawasan Pertanian; salah satu misi pembangunan pertanian Agam adalah agar terbangunnya swasembada pangan. Namun pada sisi lain terlihat adanya kecenderungan penurunan luas pertanian (padi-sawah). Oleh karena itu penting untuk memberikan insentif bagi petani yang tetap dan bahkan didorong untuk meningkatkan produksi padi-sawah. Insentif dapat berupa pembangunan irigasi teknis/desa yang dibutuhkan, pembangunan jalan produksi, perbaikan perumahan petani, dan lain-lain. Sedangkan pada kawasan sentra pertanian penting untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar sentra tersebut dapat berfungsi optimal. 3. Kawasan Perkebunan; perkebunan sawit yang menjadi primadona hasil perkebunan Agam perlu didorong tingkat produksinya dengan memberikan berbagai insentif bagi pelaku budidaya sawit dan pengolahan. Bentuk insentif dapat berupa pembangunan dan peningkatan jalan produksi, penyediaan lahan, gudang penyimpanan, fasilitas pengeolahan (pabrik), pengemasan dan lain-lain. 4. Kawasan Pesisir; salah satu potensi ekonomi masa depan Agam yang saat ini belum terkelola secara optimal adalah potensi laut, baik dari sisi ikan tangkap, budidaya perikanan, rumput laut, transportasi, wisata bahari, potensi angin laut dan gelombang dan sebagainya. Oleh karena itu pengembangan kawasan pesisir dengan segala potensinya perlu didorong dan ditumubuhkan secara lebih progresif. Insentif yang dapat RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 38
dilakukan untuk itu diantaranya adalah menetapkan rencana detail kawasan pesisir (rencana zonasi), sehingga terdapat arahan dan kepastian hukum dalam berinvestasi, memberikan kemudahan untuk berinvestasi, membangun fasilitas penunjang pelabuhan seperti dermaga, tempat pelelangan ikan, bantuan alat tangkap, industri pengolahan dan lain-lain. 5. Kawasan Wisata; Selain potensi kelautan dan perikanan, terdapat berbagai jenis ODTW yang juga dapat diandalkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Agam. Untuk itu diperlukan berbagai insentif agar sektor ini dapat tumbuh serta berkembang dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi, diantara insentif yang dapat diterapkan adalah pembangunan prasarana dan sarana perhubungan, penataan lingkungan dan bangunan, penyediaan berbagai fasilitas penunjang pariwisata, promosi dan pemasaran. 6. Kawasan Pusat agropolitan; agar tercipta manajemen pertanian yang efisien, efektif dan produktif diperlukan adanya pusat agropolitan dengan berbagai sarananya, sehingga mampu menjadi wahana pendorong pertumbuhan produksi perkebunan dan pertanian termasuk proses pertambahan nilai. Insentif yang dapat diterapkan adalah memberikan kemudahan investasi, perencanaan ruang secara detil sehingga tercipta kepastian pemanfaatan ruang, pembangunan berbagai gedung sebagai kelengkapan fasiltas pusat agropolitan, dan lain-lain. 7. Kawasan Stategis; kawasan strategis kabupaten yang telah ditetapkan adalah kawasan strategis Pesisir Tiku, Agropolitan IV Angkat Candung- Baso,Kawasan Strategis Tertinggal dan Kawasan Strategis Berbatasan. Keempat kawasan ini penting untuk didorong pertumbuhannya dengan berbagai insentif seperti pembangunan prasarana dan sarana pehubungan, kemudahan dalam investasi, sarana produksi hasil panen dan lain-lain. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 39
Kawasan yang perlu dikendalikan dan dibatasi perkembangnnya dan sekaligus disinsentif yang mungkin diterapkan pada kawasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kawasan Rawan Bencana; Kabupaten Agam mempunyai kawasan rawan bencana yang beragam dan tersebar secara luas. Seluruh kawasan rawan bencana, baik rawan tsunami, longsor, gempa, vulkanisme maupun banjir harus diantisipasi sejak dini dengan berbagai pendekatan mitigasi yang dapat menghindari atau mengurangi dampak bencana. Perlu adanya pembatasan dan syarat-syarat tertentu dalam pembangunan permukiman pada kawasan rawan bencana, hal ini dilakukan terkait dengan keamanan permukiman dan masyarakat, disinsentif dapat dikenakan kepada masyarakat yang melakukan pembangunan pada kawasan rawan bencana. 2. Kawasan Pertanian dan Perkebunan; pengendalian pada kawasan ini terkait dengan okupansi kegiatan pertanian dan perkebunan pada kawasan lindung. Hal ini sudah berlangsung lama dan momentum penyusunan RTRW ini adalah awal untuk menetapkan kawasan perkebunan (kelapa dalam, kelapa sawit) yang sesuai dengan peruntukkannya dan tidak berada pada kawasan lindung. Agar hal ini dapat berjalan, diperlukan adanya disinsentif pada pekerja kebun seperti tidak dilakukannya pembinaan pada petani kebun yang mempunyai kegiatan perkebunan pada kawasan lindung. 3. Kawasan Pertambangan; mengingat visi penataan ruang Agam sebagai kabupaten konservasi, dan umumnya kegiatan pertambangan bertentangan dengan konservasi namun pada sisi lain kegiatan pertambangan berkontribusi secara signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah. Oleh karena itu kegiatan pertambangan dapat dikembangkan namun perlu dikendalikan atau dikembangkan secara terbatas, dimana batasan dalam pengembangan kegiatan pertambangan adalah selama kegiatan penambangan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan yang penting dan dalam RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 40
plekasanaan kegiatan pertambangan tersebut harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 7.5. ARAHAN SANKSI Pengenaan sanksi merupakan salah satu upaya pengendalian pemanfaatan ruang, sebagai perangkat tindakan penertiban atas pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi. Pengenaan sanksi tidak hanya diberikan kepada pemanfaat ruang yang tidak sesuai dengan ketentuan perizinan pemanfaatan ruang, tetapi juga terhadap pejabat pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Arahan sanksi merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap : a. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah kabupaten b. Pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi kabupaten c. Pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten d. Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang ditertibkan berdasarkan RTRW Kabupaten e. Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten f. Pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum g. Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar Setelah menentukan jenis pelanggaran yang dibuat, maka perlu tindakan: 1. Lihat ketentuan dalam rencana tata ruang. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 41
2. Lihat ketentuan standar bangunan. 3. Lihat perijinan. 4. Ukuran besaran pelanggaran. 5. Ukur dampak pelanggaran terhadap lingkungan. 6. Cari solusi dari masalah yang muncul. 7. Tetapkan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dibuat. Adapun jenis sanksi yang dapat dikenakan adalah sebagai berikut: 1. Sanksi administratif, dikenakan atas pelanggaran terhadap pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya di kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu yang berakibat terhambatnya program-program pengelolaan kegiatan di kawasan-kawasan tersebut. Terhadap pelanggaran untuk pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten, dikenakan sanksi adminstratif berupa: a) Peringatan tertulis; b) Penghentian sementara kegiatan; c) Penghentian sementara pelayanan umum; d) Penutupan lokasi; e) Pencabutan izin; f) Pembatalan izin; g) Pembongkaran bangunan; h) Pemulihan fungsi ruang; dan/atau i) Denda administratif. 2. Sanksi perdata, dikenakan atas pelanggaran terhadap pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya di kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan perdesaan, RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 42
kawasan perkotaan dan kawasan tertentu yang berakibat terganggunya kepentingan seseorang, kelompok orang atau badan hukum. 3. Sanksi pidana, dikenakan atas pelanggaran terhadap pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya di kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu yang berakibat pada menurunnya kualitas tata ruang dan lingkungan kawasan perkotaan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 38 disebutkan bahwa pengenaan sanksi merupakan tindakan penertiban yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi. Selanjutnya, dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 40 disebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian pemanfaatan ruang diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 Bab XI Pasal 69-75, diuraikan secara jelas tentang ketentuan pidana atau sanksi bagi pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang. Bentuk-bentuk ketentuan pidana tersebut antara lain mengatur bahwa : A. Pasal 69 Pasal 69, berisikan ketentuan bahwa : 1. Setiap orang yang tidak menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 huruf a yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 2. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). 3. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 43
(lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). B. Pasal 70 Pasal 70, berisikan ketentuan bahwa : 1. Setiap orang yang memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 huruf b, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 2. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan perubahan fungsi ruang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 3. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). 4. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). C. Pasal 71 Pasal 71, berisikan ketentuan bahwa setiap orang yang tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 huruf c, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). D. Pasal 72 Pasal 72, berisikan ketentuan bahwa Setiap orang yang tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 44
dinyatakan sebagai milik umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 Huruf d, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). E. Pasal 73 Pasal 73, berisikan ketentuan bahwa : 1. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin tidak sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (7), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 2. Selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya. F. Pasal 74 Pasal 74, berisikan ketentuan bahwa : 1. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72 dilakukan oleh suatu korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72. 2. Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. Pencabutan izin usaha; dan/atau b. Pencabutan status badan hukum. G. Pasal 75 Pasal 75, berisikan ketentuan bahwa : RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 45
1. Setiap orang yang menderita kerugian akibat tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72, dapat menuntut ganti kerugian secara perdata kepada pelaku tindak pidana. Bagan 7.2. STRUKTUR KERJA PENGENDALIAN PEMBANGUNAN DAERAH A. Forum Pengambilan Keputusan Formal BUPATI DPRD TIM TEKNIS (BKPRD) FORUM DAERAH Pendamping LBM Lembaga-Lembaga Berbasis Masyarakat/LBM Fasilitator Komitmen Stakeholders untuk mensinergikan kebutuhan dan pengembangan pembangunan daerah Swasta Pemda Masyarakat Pegendalian Kebijakan Publik 1. Perencanaan 2. Pemanfaatan 3. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan 1. Terkait Kinerja Pemb. Agregatif + Parsial/sektoral 2. Terkait Pengelolaan Pertanahan 3. Terkait Aspek Pembiayaan 4. Terkait Peningkatan Pelayanan Umum RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 46
Tabel 7.2 Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pemanfaatan Ruang Di Kabupaten Agam 2010-2030. KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG INSENTIF KAWASAN LINDUNG DISINSENTIF Kawasan yang memberikan Perlindungan terhadap kawasan Bawahannya Hutan Lindung : Kamang Baso, Malalak, Bukit Kapanehan, Maninjau, Palembayan, Silayang, Muaro Putus, Muaro Maur, Padang Gelanggang. Kawasan Bergambut : Terletak di kawasan Hutan Lindung Muaro Putus Kawasan Resapan Air : Lokasi terletak di Kawasan Hutan Lindung, dan kawasan Cagar Alam serta kawasan Danau Maninjau Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi Hutan lindung Memberikan bantuan kredit kepada masyarakat lokal yang melakukan reboisasi pada kawasan Hutan Lindung Memberikan kompensasi permukiman dan atau imbalan kepada penduduk yang bersedia direlokasi dari kawasan Hutan Lindung Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi maupun pelestarian terhadap Kawasan Bergambut Memberikan bantuan kredit kepada masyarakat lokal yang melakukan reboisasi pada kawasan Bergambut Memberikan penghargaan/imbalan kepada pihak pengelola hutan yang mengusahakan Pelestarian terhadap Kawasan Resapan Air Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan maupun memelihara Kawasan Resapan Air Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB Pembatasan bantuan sosial-ekonomi bagi masyarakat yang masih bermukim pada kawasan Hutan Lindung Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain Kawasan Sempadan Pantai sepanjang 43 Km di Pantai Barat Kab. Agam Kawasan Sempadan Sungai di 42 Aliran Sungan yang ada Kawasan Perlindungan Setempat Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan maupun memelihara Kawasan Sempadan Pantai Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar sempadan pantai Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar sempadan pantai Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar sempadan Sungai RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 47
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG di Kab. Agam INSENTIF maupun memelihara Kawasan Sempadan Sungai DISINSENTIF Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar sempadan Sungai Kawasan Sekitar Danau Maninjau Kawasan Sempadan Mata Air di 49 Lokasi Mata Air yang ada di Kab. Agam Kawasan Ruang Terbuka Hijau di 16 Lokasi Pusat Kota Kecamatan, 1 Lokasi di Kawasan Berbatasan dan seluruh kawasan non perkotaan di masing-masing wilayah Kecamatan. Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan maupun memelihara Kawasan Sempadan Danau Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan maupun memelihara Kawasan Sempadan Mata Air Memberikan bantuan, fasilitasi, dukungan,perlindungan hukum dan subsidi kepada masyarakat yang mengembangkan maupun memelihara Kawasan Terbuka Hijau Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar sempadan Danau Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar sempadan Danau Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar sempadan Mata Air Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar sempadan Mata Air Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar Ruang Terbuka Hijau Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar Ruang Terbuka Hijau Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Kawasan Cagar Alam Merapi, Maninjau Utara Selatan, Singgalang Tandikat, Bukit Sirabungan dan Kawasan Cagar Alam Batang Palupuh Kawasan Suaka Alam Laut di Pulau Ujung dan Pulau Tangah Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi Cagar Alam Memberikan bantuan kredit kepada masyarakat lokal yang melakukan reboisasi pada kawasan Cagar Alam Memberikan kompensasi permukiman dan atau imbalan kepada penduduk yang bersedia direlokasi dari kawasan Cagar Alam Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi Kawasan Suaka Alam laut Memberikan bantuan kredit kepada masyarakat lokal yang melakukan reboisasi pada kawasan Suaka Alam Laut Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 48
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Pantai Barat. INSENTIF Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi Kawasan Pantai Berhutan Bakau Memberikan bantuan kredit kepada masyarakat lokal yang melakukan reboisasi pada kawasan Berhutan Bakau DISINSENTIF Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan Tidak mengeluarkan IMB Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi Kawasan Rawan Tanah Longsor (Jatuhan, Gelinciran, Nendatan) yang tersebar di Kabupaten Agam Kawasan Rawan Gelombang Pasang di sepanjang Pantai Barat kabupaten Agam Kawasan Rawan Banjir yang tersebar di 7 Kecamatan ( Palembayan, IV Nagari, Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, IV Koto, Tilatang Kamang, dan Kecamatan Palupuh) Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Kawasan Rawan Letusan Gunung Api Merapi dan Singgalang Tandikat Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Kawasan Rawan Gempa Bumi Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 49
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG Kawasan yang masuk Zona Patahan Aktif di Kec Palupuh, Palembayan, Matur, IV Koto, Banuhampu, Sungai Pua INSENTIF Pelatihan mitigasi bencana pembangunan escape road & escape building; Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana DISINSENTIF bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Kawasan Rawan Tsunami di sekitar subang-subang, labuhan, muara putus, masang, IV Nagari dan Tiku. Kawasan Rawan Abrasi di sekitar Masang, Ujung Masang, Muara putus, Pasir Panas, Pelabuhan Tiku Penyediaan fasilitas nelayan (dermaga kapal/perahu, TPI, Depot Es, dll.) Bantuan peralatan tangkap Pelatihan keterampilan utk nelayan Pembangunan pabrik pengolahan ikan dan non ikan Penelitian dan pemasaran hasil laut Kemudahan izin usaha perikanan (sesuai aturan berlaku) Pembangunan Escape Road & Building Pemberian subsidi bagi pelaku pembangun bangunan pelindung terhadap bahaya tsunami/abrasi serta Liquifaksi Kemudahan dan bantuan pembangunan cotttage/homestay bagi pengembang lokal Nasehat pembangunan (advice planning) bangunan yang ramah bencana Penyiapan lahan beresiko rendah/aman dari ancaman bahaya Pelatihan mitigasi bencana KAWASAN BUDIDAYA Pembatasan izin bangunan pada kawasan rawan tsunami Retribusi/pajak bangunan lebih tinggi yang berada pada sempadan pantai Tidak menyediakan atau membangun prasarana dan sarana permukiman pada kawasan rawan tsunami bahaya tingkat 1 (satu) pembatasan dukungan infrastruktur jaringan jalan, listrik, telekomunikasi dan air bersih; tidak menerbitkan sertifikat tanah; tidak mengeluarkan IMB; dan / atau Sanski yang berat, tegas dan jelas susuai UU pada pelaku penyebab bencana (perambah kawasan lindung) Pembatasan dukungan infrastruktur bagi bangunan yang berada pada kawasan rawan bencana tinggi Kawasan Hutan Produksi di Bukit Lohong Baso Memberikan kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal Memberikan penghargaan, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi dengan merehabilitasi kawasan lindung setempat Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar kawasan hutan produksi Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar kawasan hutan produksi Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 50
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG Kawasan Hutan Produksi Terbatas di Sipinang dan Pagadih Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Di Konversi yang terletak di Muaroputus dan Tapian Kandis INSENTIF Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Memberikan kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi terbatas dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal Memberikan penghargaan, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi terbatas dengan merehabilitasi kawasan lindung setempat Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Memberikan kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi yg dapat dikonversi dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal Memberikan penghargaan, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola hutan produksi yg dapat dikonversi dengan merehabilitasi kawasan lindung setempat Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. DISINSENTIF atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku Tidak memberikan bantuan penyuluhan, pembangunan infrastruktur, subsidi dan bantuan lainnya kepada pelaku usaha yang berlokasi pada kawasan lindung. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar kawasan hutan produksi terbatas Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar kawasan hutan produksi terbatas Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku Tidak memberikan bantuan penyuluhan, pembangunan infrastruktur, subsidi dan bantuan lainnya kepada pelaku usaha yang berlokasi pada kawasan lindung. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. Pembatasan dukungan infrastruktur Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan di sekitar kawasan hutan produksi yg dapat dikonversi Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain di sekitar kawasan hutan produksi yg dapat di konversi Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku Tidak memberikan bantuan penyuluhan, pembangunan infrastruktur, subsidi dan bantuan lainnya kepada pelaku usaha yang berlokasi pada kawasan lindung. Kawasan Peruntukan Perkebunan yang ada di wilayah Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengusahakan perkebunan sawit yang sesuai peraturan Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 51
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG Agam Barat Kawasan Lahan Pertanian Tanaman Pangan Abadi yang tersebar di seluruh Kecamatan yang ada di Kab. Agam Kawasan Peruntukan Budidaya dan Pengolahan Perikanan INSENTIF perundang-undangan yang berlaku Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola perkebunan dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola perkebunan dengan merehabilitasi kawasan lindung setempat Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan; Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Memberikan imbalan, penghargaan, dukungan infrastruktur dan bantuan (subsidi) bagi petani yang memperluas lahan pertanian padi sawah Memberikan kemudahan berbagai perizinan bagi petani yang memperluas lahan atau tetap mempertahankan luas lahan pertanian padi sawah Memberikan bantuan-bantuan khusus kepada petani padi sawah (beasiswa sekolah anak petani, dll) Menjamin harga gabah tetap tinggi (subsidi) Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengusahakan budidaya periknan yang sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola budidaya perikanan dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; DISINSENTIF atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku Tidak memberikan bantuan penyuluhan, pembangunan infrastruktur, subsidi dan bantuan lainnya kepada pelaku usaha yang berlokasi pada kawasan lindung. Pengenaan pajak progresif pada tanah subur yang tidak berfungsi lindung dan berada pada kawasan pertanian namun tidak diolah (produktif) Pengenaan retribusi dan pajak yang tinggi bagi bangunan yang didirikan pada areal pertanian padi sawah Pengenaan retribusi yang tinggi bagi penduduk yang memanfaatkan air irigasi bukan untuk pertanian, kecuali tidak mengurangi debit dan volume air irigasi Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku Tidak memberikan bantuan penyuluhan, pembangunan infrastruktur, subsidi dan bantuan lainnya kepada pelaku usaha yang berlokasi pada kawasan lindung. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 52
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG Kawasan Pertambangan Kawasan Pariwisata Kawasan Perkotaan (PKL- Lb Basung &PKLp Baso,) INSENTIF Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan; Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Menyiapkan dukungan administratif sehingga terdapat kepastian hukum berusaha Memberikan kemudahan dalam perizinan Dukungan pembangunan infrastruktur Memfasilitasi urusan birokrasi dengan pemerintah provinsi dan pusat Mendukung pelatihan tenaga lokal sesuai kebutuhan perusahaan pertambangan Pemberian izin harus disertai kontrak reklamasi yang terukur Penyiapan lahan untuk kawasan wisata Kemudahan izin pembangunan fasiltias pendukung pariwisata Pembangunan infrastruktur Kemudahan memperoleh sambungan listrik, PDAM, telekomunikasi Fasilitasi Promosi dan pemasaran ODTW Bantuan rehabilitasi rumah penduduk yang digunakan untuk penginapan tamu/wisatawan (home stay) Memberikan imbalan, penghargaan, kompensasi dan kemudahan usaha bagi penduduk (swasta) yang melakukan investasi pada kawasan perkotaan Menyediakan kavling strategis yang murah atau pinjam pakai sampai 25 tahun) bagi pengusaha yang akan berusaha pada kawasan ini Memberikan keringanan pajak kepada pengusaha yang berminat berusaha/ menanamkan modalnya Menyiapkan lahan matang (kasiba/lisiba) untuk perumahan dan bangunan komersial Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan; DISINSENTIF Mengenakan retribusi yang tinggi bagi perusahaan yang mempunyai dampak cukup penting terhadap pelestarian lingkungan Mengenakan retribusi khusus bagi perusahaan pertambangan yang tidak melibatkan tenaga kerja lokal lebih dari 40% Syarat yang berat bagi penggiat wisata yang betentangan dengan norma dan tata krama setempat Retribusi/pajak bangunan lebih tinggi yang berada pada sempadan pantai/danau pembatasan dukungan infrastruktur jaringan jalan, listrik, telekomunikasi dan air bersih; tidak menerbitkan sertifikat tanah; tidak mengeluarkan IMB; Mengenakan retribusi yang tinggi pada bangunan yang dibangun diluar ketentuan penataan ruang yang sudah ditetapkan mengenakan retribusi yang tinggi pada usaha komersial pada skala pelayanan tingkat kecamatan/kabupaten diluar pusat kegiatan/pelayanan yang sudah ditetapkan pembatasan dukungan infrastruktur jaringan jalan, listrik, telekomunikasi dan air bersih; tidak menerbitkan sertifikat tanah; tidak mengeluarkan IMB; dan / atau RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 53
KLASIFIKASI PEMANFAATAN RUANG (PPK dan PPL) Kawasan Permukiman INSENTIF Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Penyiapan lahan pusat perdagangan Pembangunan infrastruktur pusat kota Kemudahan izin pembangunan fasilitas sosial, jasa dan perdagangan Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan; Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin; Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan; Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif. Memberikan kemudahan perizinan pembangunan rumah/ perumahan yang sesuai peruntukan Membangun prasarana permukiman Membangun fasilitas umum dan sosial Memberikan kepastian hukum dan nasehat teknis untuk bangunan tahan gempa yang dibangun pada kawasan bebas bencana Menyiapkan lahan yang aman bagi permukiman (kasiba/lisiba) DISINSENTIF Kenaikan retribusi/pajak (PBB) pada lahan stratgis pusat kota namun tidak diusahakan secara produktif kenaikan retribusi/pajak bumi dan bangunan (PBB) pada lahan strategis pusat kota namun tidak diusahakan secara produktif. mengenakan retribusi yang tinggi pada bangunan yang dibangun diluar ketentuan penataan ruang yang sudah ditetapkan; dan mengenakan retribusi yang tinggi pada usaha komersial pada skala pelayanan tingkat kecamatan/kabupaten diluar pusat kegiatan/pelayanan yang sudah ditetapkan. pembatasan dukungan infrastruktur jaringan jalan, listrik, telekomunikasi dan air bersih; tidak menerbitkan sertifikat tanah; tidak mengeluarkan IMB; dan / atau Tidak membangun prasarana permukiman, fasilitas sosial dan umum bagi rumah (kelompok rumah) yang berada pada kawasan rawan bencana RTRW Kab. Agam 2010-2030 VII - 54
BAB VIII HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG
BAB 8 HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG 8.1 HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT Peran serta adalah berbagai kegiatan masyarakat yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat, untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Di dalam masyarakat ada kesan bahwa tata ruang tidak banyak gunanya. Tata ruang terlihat sekedar sebagai peta-peta dengan berbagai warna yang menunjukkan peruntukkan dan penggunaan lahan disertai penjelasan tertulis mengenai besaran kebutuhan alokasi ruangnya yang sama sekali tidak tercermin di lapangan. Memang tata ruang tidak akan memadai jika hanya mempertimbangkan aspek fisik, kecenderungan perkembangan dan minat investor. Tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat setempat, tata ruang tak akan bermanfaat. Tata ruang yang direncanakan dan ditetapkan tanpa peran serta ataupun diketahui oleh masyarakat juga tidak ada gunanya. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 1
8.1.1. Hak Masyarakat Dalam perencanaan tata ruang mulai dari rencana tata ruang wilayah sampai rencana teknik ruang kota, masyarakat sebagai stake holder harus diikutsertakan dalam proses perencanaan mulai dari penyerapan aspirasi sampai adanya sosialisasi rencana. Berdasarkan Pasal 60 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan bahwa masyarakat berhak untuk : a. Mengetahui rencana tata ruang artinya masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang melalui Lembaran Daerah, pengumuman atau penyebarluasan oleh pemerintah. Pengumuman atau penyebarluasan dapat diketahui masyarakat, antara lain dengan pemasangan peta rencana tata ruang wilayah pada tempat umum, kantor kelurahan dan kantor yang secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut. b. Menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang artinya pertambahan nilai ruang dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi, sosial, budaya dan kualitas lingkungan yang dapat berupa dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, sosial, budaya dan kualitas lingkungan. c. Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang maksudnya dengan penggantian yang layak adalah nilai atau besarnya penggantian tidak menurunkan tingkat kesejahteraan orang yang diberi penggantian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. d. Mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. e. Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 2
f. Mengajukan gugatan ganti rugi kerugian kepada pemerintah atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian. Untuk mengetahui rencana tata ruang, selain dari pemerintah masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengumuman atau penyebarluasan oleh pemerintah kabupaten pada tempat-tempat yang memungkinkan masyarakat mengetahui dengan mudah. Maka pemerintah harus menyediakan sarana/media pengumuman atau penyebarluasan dilakukan melalui penempelan/pemasangan peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan juga pada media masa, serta melalui pembangunan sistem informasi tata ruang. Dengan demikian masyarakat akan dapat mengakses dan dapat mengetahui arah perkembangan wilayah Kabupaten Agam kedepan hingga tahun 2030. Dalam menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang dan perkembangan wilayah, pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau kaidah yang berlaku. Sedangkan dalam upaya menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumberdaya alam yang terkandung didalamnya, yang berupa manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dilaksanakan atas dasar pemilikan, penguasaan, atau pemberian hak tertentu berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat, dengan ketentuan meliputi: a. Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan RTRW Kabupaten diselenggarakan dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 3
b. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8.1.2. Kewajiban Masyarakat. Berdasarkan Pasal 61 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dalam kegiatan penataan ruang wilayah Kabupaten Agam, seluruh stakeholder baik pemerintah ataupun masyarakat kewenangannya wajib untuk : a. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan, dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk memiliki izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang sebelum pelaksanaan permanfaatan ruang. b. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang, dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk melaksanakan pemanfaatan ruang sesuai denghan fungsi ruang yang dicantumkan dalam izin pemanfaatan ruang. c. Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang, dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk memenuhi ketentuan amplop ruang dan kualitas ruang. d. Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-udangan dinyatakan sebagai milik umum dimaksudkan untuk menjamin agar masyarakat dapat mencapai kawasan yang dinyatakan dalam peraturan perundang-undangan sebagai milik umum, antara lain kawasan sumber air dan pesisir pantai. Kewajiban memberikan akses dilakukan apabila memenuhi syarat berikut : Untuk kepentingan masyarakat umum Tidak ada akses lain menuju kawasan sebagai milik umum RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 4
Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria, kaidah, baku mutu, dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8.2 PERAN SERTA MASYARAKAT Pada dasarnya, penataan ruang perlu dilakukan untuk mengelola konflik dalam alokasi dan/atau distribusi pemanfaatan berbagai sumber daya secara efisien, adil dan berkelanjutan. Konflik yang dimaksud baik konflik terpendam maupun yang terbuka karena salah satu pihak telah bertindak untuk melaksanakan tujuannya yang berbenturan dengan tujuan dan kepentingan pihak lainnya. Untuk menghindari ataupun mengatasi konflik demikian diperlukan peran serta semua pihak. Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dipraktekkan masyarakat secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan, estetika lingkungan, lokasi dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi, selaras, dan seimbang. Penyelenggaran penataan ruang pada dasarnya dilakukan oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat, yang merupakan hal yang sangat penting sebab penataan ruang merupakan kepentingan seluruh masyarakat. Pelibatan masyarakat dalam penataan ruang bertujuan agar masyarakat ikut memahami, berpatisipasi aktif dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas ruang. Peran serta masyarakat dilakukan, antara lain melalui : a. Patisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang b. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang c. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang Prinsip dasar pelayanan peran serta masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Agam adalah : 1. Menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 5
2. Mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat aktif dalam seluruh proses penataan ruang, pemanfaatan dan penghendalian pemanfaatan ruang 3. Seluruh masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama 4. Seluruh masyarakat memiliki kesetaraan dalam keikutsertaannya 5. Mengetahui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Agam 6. Masyarakat menerima manfaat ruang dan pertambahan nilai ruang akibat penataan ruang Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan dan pemanfaatan tata ruang wilayah Kabupaten Agam dapat berbentuk: a. Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai b. Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan, termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas ruang di wilayah, dan termasuk pula perencanaan tata ruang kawasan c. Bantuan untuk merumuskan perencanaan tata ruang wilayah provinsi d. Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam penyusunan strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah provinsi e. Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana tata ruang wilayah f. Kerja sama dalam penelitian dan pengembangan; dan atau bantuan tenaga ahli g. Peningkatan efesiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan, agama, adat, atau kebisaan yang berlaku h. Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan i. Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah nasional j. Kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 6
Bentuk lain dari peran serta masyarakat adalah melalui pertukaran informasi. Salah satu cara pertukaran informasi antara pemerintah dan masyarakat adalah melalui forum pertemuan. Forum pertemuan yang sekarang sering pula disebut Mekanisme Konsultasi Publik merupakan cara peran serta masyarakat yang cukup berdampak bila diselenggarakan dengan baik. Penyelenggaraan Konsultasi Publik ini adalah tanggung jawab pemerintah dan dapat berupa diskusi, lokakarya, atau seminar. Agar dapat berlangsung dengan baik dan benar serta bermanfaat maka sebaiknya konsultasi demikian dilakukan dengan bantuan seorang fasilitator atau pendamping. Dalam forum pertemuan atau konsultasi publik, pemerintah dapat menyampaikan rencana kerjanya dan masyarakat dapat menyampaikan masukan, saran, dan pertimbangan ataupun keberatan mereka. Syarat agar komunikasi dua arah ini tercapai adalah sikap terbuka dan kemauan mendengar dari kedua belah pihak. Cara peran serta masyarat yang lain adalah melalui pemetaan partisipatif, cara ini terutama bermanfaat pada langkah kedua dalam proses perencanaan yaitu identifikasi potensi dan masalah. Dengan pemetaan partisipatif, masukan dan aspirasi masyarakat dapat disampaikan dalam bentuk yang jelas dan mudah dimengerti semua pihak. Bukan saja kejelasan mengenai hak masyarakat tetapi juga pandangan masyarakat mengenai tata guna lahan pada umumnya dapat terlihat dari kegiatan ini. Pemetaan partisipatif juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan dan mencapai kesepakatan atas rencana pemanfaatan ruang itu sendiri. Misalnya untuk menentukan batas hutan, lokasi pemukiman dan lahan pertanian dan kebutuhan akan transportasi. Manfaat yang sudah teruji adalah bahwa pemetaan partisipatif merupakan cara efektif untuk mendorong peran serta karena cukup mudah dilakukan; kegiatan ini juga merupakan proses penyadaran dan pemberdayaan masyarakat karena penggalian informasi berlangsung melalui diskusi yang memunculkan keterkaitan antara berbagai hal dan kegiatan dalam kawasan tertentu; dan bagi orang luar pemetaan bermanfaat untuk mengetahui gambaran tentang keadaan wilayah, membantu orang luar tersebut belajar dan mengerti cara pandang masyarakat, prioritas mereka dan alasan-alasan mereka memanfaatkan suatu kawasan untuk tujuan dan dengan cara tertentu. RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 7
Masyarakat juga dapat berperan serta melalui proses pengelolaan konflik mengingat bahwa penataan ruang pada dasarnya dilakukan untuk mengelola konflik kepentingan dalam alokasi atau pembagian pemanfaatan berbagai sumberdaya. Salah satu konflik yang terpenting adalah pertentangan antara kepentingan umum, termasuk kepentingan masyarakat umum di luar kabupaten, dengan kepentingan perorangan. Dalam mengelola konflik, langkah pertama adalah pengakuan bahwa memang ada konflik kepentingan atau beda pendapat mengenai penataan ruang. Setelah itu dirundingkan cara terbaik menyelesaikan konflik tersebut. Salah satu cara penyelesaian konflik atau beda pendapat meliputi konsultasi dan perundingan atau dengan perkataan lain melalui musyawarah. Bila perlu perundingan melibatkan seorang penengah dan/atau tenaga ahli. Diharapkan bahwa cara ini menghasilkan kompromi yang menguntungkan dan memuaskan bagi semua pihak yang kemudian dapat menjadi kesepakatan bersama RTRW Kab. Agam 2010-2030 VIII - 8