CAPAIAN RPJMD KABUPATEN AGAM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "CAPAIAN RPJMD KABUPATEN AGAM"

Transkripsi

1 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN AGAM CAPAIAN RPJMD KABUPATEN AGAM DATA DAN INFORMASI 2015 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2015

2

3 DAFTAR ISI Daftar Isi.... Daftar Tabel Daftar Grafik. GAMBARAN UMUM DAERAH DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RPJM KABUPATEN AGAM TAHUN Gambaran Umum Daerah Luas dan Batas Wilayah Administrasi Letak dan Kondisi Geografis Topografi Geologi Hidrologi Klimatologi Penggunaan Lahan Potensi Pengembangan Wilayah Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan 5 dan Holtikultura Kawasan Peruntukan Peternakan Kawasan Peruntukan Perkebunan Kawasan Peruntukan Perikanan Kawasan Pertambangan Kawasan Peruntukan Industri Kawasan Pariwisata Kawasan Permukiman Kawasan Rawan Bencana Demografi Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk Struktur Penduduk Proyeksi Penduduk Capaian Kinerja Pembangunan Daerah i i ii iii

4 2.1. Capaian Kinerja Pembangunan Makro Ekonomi Daerah Pertumbuhan Ekonomi Struktur Ekonomi PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Ketimpangan Wilayah Produktivitas Total Daerah Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Makanan dan Non Makanan Nilai Tukar Petani Nilai Investasi Ketenagakerjaan Tingkat Kemiskinan Nilai Investasi Daerah Capaian Kinerja Sektor/Sub Sektor Ekonomi Capaian Kinerja Fokus Kesejahteraan Masyarakat Capaian Bidang Pendidikan Capaian Bidang Kesehatan Capaian Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil Capaian Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Capaian Bidang Keluarga Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Capaian Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Capaian Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Capaian Bidang Sosial Capaian Bidang Infrastruktur Lingkungan Hidup Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah ii

5 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1 Luas Kecamatan dan Jumlah Nagari per Kecamatan 1 2 Luas Hutan di Kabupaten Agam Tahun Sebaran Potensi Bencana Gerakan Tanah/Longsor 12 4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin 13 5 Analisis Kategori Tingkat Kepadatan Penduduk Tahun Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Tahun Struktur Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Tahun Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun a Struktur Penduduk Berdasarkan Usia Tahun b Jumlah Penduduk Usia Kerja Tahun c Banyaknya Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Tahun Nilai PDRB Tahun atas Dasar Harga Konstan Tahun Nilai PDRB per Sektor Tahun atas Dasar Harga Berlaku Laju Pertumbuhan Sektor, Sub Sektor PDRB Tahun Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Tahun Berdasarkan Harga Berlaku Pertumbuhan Ekonomi (%), PDRB Per Kapita (Rp. Juta), Dan Koefisien Gini Kabupaten Agam Di Bandingkan Dengan Kabupaten/Kota Sumatera Barat tahun Indeks Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Agam tahun Produktivitas Sektor dan Produktivitas Total Daerah Tahun Persentase Penduduk Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Non Makanan Tahun Nilai Tukar Petani Tahun Nilai Tukar Petani menurut Sub Sektor Tahun Perkembangan Nilai Investasi Perlapangan Usaha Tahun Persentase Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kegiatan Utama Tahun iii

6 23 Rasio Ketergantungan Tahun 2010 sampai dengan Tenaga Kerja Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun Garis Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin Tahun Jumlah Rumah Tangga Sasaran PPLS 2011 Menurut Klasifikasi Kemiskinan dan Kecamatan di Kabupaten Agam Jumlah Proyek PMDN/PMA Tahun Nilai Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Tahun Koefisien ICOR Tahun Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Tanaman Pangan Tahun Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Hortikultura Tahun Populasi dan Produksi Peternakan Tahun Produksi dan Produktifitas Tanaman Perkebunan Luas Hutan Kayu dan Hutan Non Kayu per Kecamatan Potensi Perikanan dan Kelautan Tahun Produksi Perikanan dan Kelautan Tahun Capaian Indikator Ketahanan Pangan Tahun Produksi, Ketersediaan, Kebutuhan dan Surplus Bahan Pangan Utama Tahun Angka Melek Huruf Tahun Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan tahun Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Sekolah Tahun Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas per Jenjang Pendidikan Tahun Rasio Jumlah Murid terhadap Jumlah Guru per Jenjang Pendidikan Tahun Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun Angka Putus Sekolah Menurut Kecamatan Tahun Angka Kelulusan Menurut Jenjang Pendidikan Tahun iv

7 50 Angka Melanjutkan Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun Perkembangan Kondisi Balita Tahun 2010 s/d Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Menurut Kecamatan Tahun Jumlah Kematian Bayi Dan Balita menurut Kecamatan Tahun Angka Kematian Ibu Melahirkan Tahun Jorong UCI Tahun Jumlah Posyandu dan Balita Tahun Jumlah Puskesmas dan Pustu Tahun Jumlah Dokter PuskesmasTahun Cakupan Penemuan dan pengobatan penderita TBC/BTA Tahun Penemuan dan Penanganan Penderita Demam Berdarah Tahun Cakupan Kunjungan Bayi Tahun Indikator Kinerja Rumah Sakit Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun Rasio Akseptor KB dan Cakupan Peserta KB aktif Tahun Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Tahun Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Perempuan dan Anak Cakupan Nagari Swasembada Indikator Pemberdayaan Masyarakat Penanganan PMKS Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010 dan Jumlah Jembatan Berdasarkan Panjang Jembatan Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan v

8 Grafik DAFTAR GRAFIK Halaman 1 Laju Pertumbuhan Sektor PDRD 25 2 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam dari Tahun Pendapatan Regional Per-Kapita Atas Dasar Harga Berlaku Nilai Investasi Kabupaten Agam Persektor Tahun Tingkat Kemiskinan Kabupaten Agam Tahun Pertumbuhan Investasi ADHK Periode Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Kumulatif Tahun Struktur Investasi Menurut Institusi Kumulatif Tahun Koefisien ICOR Menurut Lapangan Usaha Metode Akumulasi Perbandingan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Tahun Angka Usia Harapan Hidup Jenis Permukaan Jalan di Kabupaten Agam Tahun Kondisi Jalan Kabupaten Agam Tahun Kondisi Jembatan di Kabupaten Agam Tahun vi

9 GAMBARAN UMUM DAERAH DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RPJM KABUPATEN AGAM TAHUN Gambaran Umum Daerah 1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Kabupaten Agam mempunyai luas yaitu 2.232,30 Km² atau 5,29 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Barat. Batas wilayah sebagai berikut : - sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat; - sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota; - sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar; dan - sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Wilayah administrasi pemerintahan meliputi 16 Kecamatan dan 82 Nagari, serta 467 Jorong. Luas masing-masing kecamatan dan jumlah nagari per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Luas Kecamatan dan Jumlah Nagari per Kecamatan. No Kecamatan Luas (Km 2 ) Persentase Jumlah Nagari 1. Tanjung Mutiara 250, Lubuk Basung 252, Ampek Nagari 286, Tanjung Raya 236, Matur 91, IV Koto 80, Malalak 99, Banuhampu 27, Sungai Pua 40, Ampek Angkek 31, Canduang 55, Baso 76, Tilatang Kamang 61, Kamang Magek 76, Palembayan 351, Palupuah 220, Jumlah 2.232, Sumber : Agam dalam Angka Tahun 2012/2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

10 1.2. Letak dan Kondisi Geografis Kabupaten Agam terletak pada posisi Lintang Selatan dan Bujur Timur. Letak daerah sangat strategis karena dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera serta dilalui oleh Fider Road yaitu jalur yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera. Kondisi lahan yang terdapat pada wilayah ini terdiri dari pegunungan dan perbukitan, lembah dan ngarai, daerah lereng, dataran dan pesisir. Dalam wilayah ini terdapat dua buah pulau yaitu Pulau Tangah seluas 1 Km2 dan Pulau Ujung seluas 1 Km2, dua buah gunung yaitu Gunung Marapi dengan ketinggian meter dan Gunung Singgalang dengan ketinggian meter, satu buah danau yaitu Danau Maninjau seluas ha dan tiga sungai yaitu Batang Antokan, Batang Kalulutan dan Batang Agam serta mempunyai pantai sepanjang 43 Km. Berhubungan dengan kondisi tersebut diatas Kabupaten Agam juga merupakan daerah rawan bencana dengan potensi gempa bumi, bahaya abrasi, gerakan tanah/longsor, letusan gunung berapi, banjir dan tsunami Topografi Kondisi topografi cukup bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga dataran yang relatif rendah, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai meter dari permukaan laut. Menurut kondisi fisiografinya, ketinggian atau elevasi wilayah Kabupaten Agam bervariasi antara 2 meter sampai meter diatas permukaan laut. Adapun pengelompokan yang didasarkan atas ketinggian adalah sebagai berikut: 1. Ketinggian meter diatas permukaan laut seluas 44,55 % sebagian besar berada di wilayah barat yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Tanjung Raya. 2. Ketinggian meter diatas permukaan laut seluas 43,49 % berada pada wilayah Kecamatan Baso, Ampek Angkek, Canduang, Malalak, Tilatang Kamang, Palembayan, Palupuh, Banuhampu dan Sungai Pua. 3. Ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut seluas 11,96 % meliputi sebagian Kecamatan IV Koto, Kecamatan Matur, Canduang dan Sungai Pua. Kawasan sebelah barat merupakan daerah yang datar sampai landai ( 0 8 % ) mencapai luas ha, bagian tengah dan timur merupakan daerah yang berombak dan berbukit sampai dengan lereng yang sangat terjal (> 45%) dengan luas kawasan ha. Kawasan dengan kemiringan yang sangat terjal Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

11 (> 45%) berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang terletak di selatan dan tenggara Kabupaten Agam Geologi Formasi batuan yang dijumpai digolongkan kepada Pra Tersier, Tersier, dan Kuarter. Batuan ini terdiri dari endapan permukaan, sedimen, metamorfik, vulkanik dan intrusi. Batuan vulkanik terdapat di Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Danau Maninjau. Wilayah Kabupaten Agam ditutupi oleh tiga jenis batuan beku yaitu: 1. Ekstrusif dengan reaksi intermediet (andesit dari Gunung Marapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek, Danau Maninjau, dan Gunung Talamau) seluas ,10 ha ( 32,43 % ). 2. Batuan beku ekstrusif dengan reaksi masam (pumis tuff) seluas ,90 ha ( 26,43 % ). 3. Batuan sedimen dengan jenis batu kapur seluas ,80 ha (3,79%), endapan alluvium mencapai luas ha ( 22,79 % ). Di Kecamatan Tanjung Raya terdapat lekukan besar Kawah Maninjau yang saat ini berisi air merupakan hasil dari ledakan besar erupsi gunung berapi Hidrologi Kondisi hidrologi Kabupaten Agam termasuk kedalam tiga Sistem Wilayah Sungai (SWS) yaitu : SWS Arau, Kuranji, Anai, Mangau, dan Antokan (AKUAMAN), SWS Masang Pasaman dan SWS Indragiri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS) terdapat delapan Daerah Aliran Sungai yaitu; DAS Batang Tiku, DAS Andaman, DAS Mangau, DAS Antokan, DAS Masang Kiri, DAS Masang Kanan, DAS Batang Nareh dan DAS Kuantan Klimatologi Temperatur udara pada dataran rendah minimum 25 0 C dan maksimum 33 0 C, sedangkan di daratan tinggi temperatur minimum 20 0 C dan maksimum 29 0 C. Kelembaban udara rata-rata 88%, kecepatan angin antara 4-20 km/jam dan penyinaran matahari rata-rata 58%. Musim hujan terjadi antara bulan Januari sampai dengan bulan Mei dan pada bulan September sampai bulan Desember, sedangkan untuk musim kemarau berlangsung antara bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

12 Berdasarkan peta iklim yang dibuat Oldeman (1979) serta data base hidroklimat yang diterbitkan Bakosurtanal (1987), pada wilayah Kabupaten Agam terdapat 4 kelas curah hujan, yaitu : 1. Curah hujan lebih dari 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan iklim Tipe A), berada di sekitar lereng Gunung Marapi dan Singgalang meliputi sebagian wilayah Kecamatan IV Koto dan Sungai Pua. 2. Curah hujan 3500 sampai 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan tipe A1) mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan Ampek Angkek. 3. Curah hujan 3500 sampai 4000 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut meliputi sebagian Kecamatan Palembayan, Palupuh, dan IV Koto. 4. Curah hujan 2500 sampai 3500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut- turut, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kabupaten Agam dibagi atas : 1. Kawasan lindung, terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya (hutan lindung, kawasan resapan air), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan mata air), dan kawasan suaka alam serta kawasan rawan bencana. 2. Kawasan budidaya, terdiri dari kawasan permukiman di perkotaan dan perdesaan, kawasan pertanian (lahan basah, lahan kering dengan tanaman tahunan, dan lahan kering dengan tanaman semusim, serta kawasan hutan produksi (tanaman tahunan) Potensi Pengembangan Wilayah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat maka klasifikasi pemanfaatan ruang Kabupaten Agam adalah kawasan budidaya seluas ± ha atau 53,7 % dari luas wilayah administrasi. Kawasan budidaya meliputi kawasan peruntukan : hutan produksi, perkebunan, pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman dan kawasan peruntukan lainnya. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

13 Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Secara umum kawasan hutan Kabupaten Agam termasuk hutan hujan tropik (tropical rain forest) Sumatera yang berada pada Kawasan Bukit Barisan yang membujur dari utara ke selatan. Secara horizontal terbagi dalam beberapa kelompok yaitu 1) Hutan Pantai, 2) Hutan Manggrove (Payau), 3) Hutan Hujan dengan kondisi banyak species, tajuk tinggi. Sementara secara vertikal terbagi dalam kelompok hutan Hujan Dataran 1000 m dpl dan hutan pergunungan m dpl. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor KP.304/Menhut- II/2011 luas hutan berdasarkan fungsinya di Kabupaten Agam adalah sebagai berikut : Tabel 2. Luas Hutan di Kabupaten Agam Tahun 2013 No Jenis Luas (Ha) Persentase 1. Hutan PPA ,4 2. Hutan Lindung ,8 3. Hutan Produksi ,54 4. Hutan Produksi Terbatas ,15 5. Hutan Konversi ,09 Jumlah Sumber : Dinas Kehutanan & Perkebunan Kabupaten Agam Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pertanian merupakan basis ekonomi masyarakat, memberikan kontribusi terbesar terhadap pembangunan daerah. Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar adalah lahan sawah dengan luas lahan baku sawah yaitu ±.28,537 ha, lahan untuk pengembangan tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai ± ha. Rencana pengembangan peruntukan budidaya pertanian diarahkan untuk pemanfaatan secara intensif lahan yang belum dimanfaatkan dan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Agam Kawasan Peruntukan Peternakan Potensi pengembangan usaha peternakan adalah peternakan sapi potong, kambing, itik dan ayam buras. Potensinya sesuai dengan kondisi topografi pada Wilayah Timur dan Wilayah Barat. Wilayah Timur memiliki suhu udara sejuk, tanah yang subur, curah hujan cukup tinggi, hijauan sebagai pakan utama ternak mudah tumbuh dan berkembang. Banyak tersedia limbah pertanian sebagai pakan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

14 tambahan karena sebagian besar masyarakat berusaha dibidang pertanian terutama tanaman pangan dan hortikultura. Potensi pasar sangat baik karena dekat dengan kota Bukittinggi, ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung, adanya Balai Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV Baso) dan adanya kelompok-kelompok usaha peternakan yang sudah berkembang. Wilayah Barat memiliki suhu udara yang panas dengan curah hujan kurang. Limbah pertanian yang dapat dijadikan pakan ternak kurang tersedia, akan tetapi ketersediaan lahan untuk pengembangan usaha peternakan cukup luas. Kawasan ini berpotensi untuk dijadikan kawasan pengembangan dengan sistem integrasi ternak dengan tanaman perkebunan terutama coklat atau sawit Kawasan Peruntukan Perkebunan Komoditi tanaman yang dominan dan potensial untuk dikembangkan adalah kelapa sawit, kelapa dalam, kulit manis, karet, tebu, cengkeh, pala, kakao dan gambir. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian bagi perkebunan yang berada pada kawasan budidaya, dan menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, serta kawasan permukiman. Sebaran lokasi rencana peruntukan kawasan perkebunan yang ada di Kabupaten Agam meliputi : 1) Karet di Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan; 2) Kelapa di Kecamatan Tanjung Mutiara, Ampek Nagari dan Lubuk Basung; 3) Cengkeh di Kecamatan Tanjung Raya, Matur dan Malalak; 4) Kulit manis di Kecamatan Malalak, Matur dan Tanjung Raya; 5) Pala di Kecamatan Tanjung Raya; 6) Gambir di Kecamatan Palupuh; 7) Kakao tersebar di seluruh Kecamatan dan 8) Kelapa Sawit di Kecamatan Ampek Nagari, Palembayan, Tanjung Mutiara serta Lubuk Basung ; 8) Tebu di Kecamatan Matur, IV Koto, Candung dan Sungai Pua Kawasan Peruntukan Perikanan Potensi areal pengembangan perikanan dan kelautan diantaranya garis pantai sepanjang 43 km, laut seluas 313,04 km2, hutan mangroove 65 ha, terumbu karang 27,5 ha, danau ha, sungai, telaga dan perairan umum lainnya seluas 568 ha. 1. Perikanan Tangkap Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 pasal 3, bahwa wilayah Provinsi/Kabupaten, sebagaimana yang dimaksud pasal 2 ayat 1, terdiri atas Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

15 wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sesuai dengan undangundang tersebut maka batas wilayah laut termasuk kawasan perikanan tangkap yang pengelolaannya menjadi wewenang Kabupaten Agam adalah sejauh 4 mil. Rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap dikembangkan di Kecamatan Tanjung Mutiara tepatnya di kawasan pesisir Tiku yang memiliki panjang pantai 43 Km. Adapun luas laut yang menjadi kewenangan Kabupaten Agam mencapai 313,04 km 2. Perikanan tangkap juga terdapat di kawasan Danau Maninjau. 2. Budi Daya Perikanan Sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, Kabupaten Agam termasuk salah satu pengembangan kawasan Minapolitan di Indonesia. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Agam meliputi : a. Pusat Kawasan Minapolitan terdapat di Kawasan Maninjau b. Sentra pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Majalaya, Nila dan pengembangan budidaya mina padi di Kecamatan Tilatang Kamang dan Kamang Magek. c. Sentra budidaya ikan air tawar: Nila, Patin dan Majalaya serta pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar Kawasan Danau Maninjau. Untuk pengembangan budidaya di sekitar Danau Maninjau, harus mengacu pada Peraturan Bupati No.22 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Danau Maninjau (jarak KJA dari pantai m dan 200 m dari objek wisata), dan adanya zonasi. d. Sentra budidaya ikan patin dan pengolahan lele di Kecamatan Palembayan. e. Sentra pengembangan nila, mas dan lele serta pengembangan UPR di Kecamatan Lubuk Basung. 3. Pengolahan Ikan Dengan potensi tangkapan ikan laut yang mencapai ± 5.722,78 ton dan potensi perikanan budidaya air tawar yang mencapai ± ,35 ton, maka lokasi pengembangan kawasan pengolahan ikan, akan diarahkan di sekitar Kawasan Pesisir Tiku, dimana kedepannya akan dikembangkan Pelabuhan Perikanan Tiku Kawasan Pertambangan Potensi bahan galian tambang golongan B yang dimiliki daerah ini seperti biji besi di Kecamatan Matur, pasir besi di Kecamatan Tanjung Mutiara. Sedangkan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

16 potensi bahan galian golongan C seperti andesit, granit, dolomit, dan marmer terdapat di Kecamatan Tilatang Kamang, Kamang Magek, Kecamatan Palupuh, Kecamatan IV Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Matur, Kecamatan Baso dan Kecamatan Lubuk Basung. Tabel dibawah ini memperlihatkan potensi sumber daya mineral di Kabupaten Agam Kawasan Peruntukan Industri 1) Kawasan Peruntukan Industri Besar Peruntukan kawasan industri besar diarahkan di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan. Industri besar yang berpotensi untuk dikembangkan adalah industri hasil tambang dan pengolahan hasil perkebunan. 2) Kawasan Peruntukan Industri Sedang Peruntukan kawasan industri sedang diarahkan di Kecamatan Baso, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Canduang dan Kamang Magek. Industri sedang yang dikembangkan adalah agro industri, batu kapur dan indutri pengolahan kayu. Dengan adanya pemusatan kawasan industri sedang (agro industri) diharapkan hasil pertanian dapat diolah dulu sebelum dipasarkan ke luar wilayah Agam, sehingga dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. 3) Kawasan Peruntukan Industri Rumah Tangga Peruntukan kawasan industri rumah tangga dipusatkan di wilayah Timur Agam, yang merupakan sentra industri kecil yang mayoritas merupakan penunjang kegiatan pariwisata dan memiliki karakteristik rendah polutan, seperti industri konveksi, bordir, sulaman, perak dan makanan kecil. Peruntukan lahan diarahkan di Kecamatan Ampek Angkek, IV Koto dan Kecamatan Canduang Kawasan Pariwisata. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pengembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata. Upaya pengembangan kepariwisataan juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Provinsi yaitu Kota Bukittinggi dan Kota Padang serta nasional; Jakarta, Yogjakarta, dan Bali sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pengunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

17 Untuk Propinsi Sumatera Barat, Kabupaten Agam masuk pada Destinasi Pengembangan Pariwisata I (DPP I) dimana DPP I ini meliputi koridor Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota Payakumbuh. DPP ini didominasi atraksi Budaya, Belanja, Meeting Incentive Convention Exibition (MICE), kerajinan, kesenian, peninggalan sejarah, danau, pegunungan, serta flora dan fauna dengan pusat layanan di Kota Bukittinggi. Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Agam secara umum dibagi dalam tiga wilayah dengan rincian sebagai berikut : 1) Wilayah Barat a. Kawasan Pesisir Tiku : sentra perikanan laut dan darat salah satu outlet komoditi unggulan perikanan Kabupaten Agam. b. Produk wisata alam dan budaya bahari (rekreasi pantai, pulau, diving/ snorkling, budaya, nelayan dll ) memanfaatkan potensi perikanan, sumber daya alam laut dan budaya bahari serta wisata kuliner sebagai pendukung. 2) Wilayah Tengah a. Kawasan pariwisata Danau Maninjau, memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam sekitarnya. b. Produk wisata alam (rekreasi gunung, danau) dan wisata budaya (sejarah dan event), agrotourism serta wisata kuliner sebagai pendukung. c. Objek wisata Danau Maninjau, Puncak Lawang, Embun Pagi, Rumah Kelahiran Buya Hamka, core event (paralayang) dan supporting events (seperti off road, pacu biduk dll). 3) Wilayah Timur a. Kawasan Agropolitan Ampek Angkek, Canduang dan Baso sebagai sentra pengembangan kegiatan pertanian (agrowisata) b. Produk wisata minat khusus: agrowisata dan wisata perdesaan c. Lahan pertanian padi, palawija, buah-buahan, perkebunan kakao Kawasan Permukiman Kawasan permukiman merupakan kawasan di luar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan. Sebagian besar kawasan terbangun yang berupa permukiman di kelompok sebagai permukiman perkotaan, dan permukiman perdesaan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

18 Permukiman perkotaan meliputi kawasan ibukota kecamatan dan kawasan strategis berbatasan yang meliputi 17 nagari disekitar Kota Bukittinggi yaitu : Gadut, Kapau, Biaro Gadang, Ampang Gadang, Balai Gurah, Pasie, Batu Taba, Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Padang Lua, Sungai Tanang, Guguak Tabek Sarojo, Koto Gadang, Sianok VI Suku dan Koto Panjang. Sedangkan pemukiman non perkotaan adalah seluruh kawasan non perkotaan yang ada di masing-masing wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Agam. Dengan ketentuan kawasan tersebut diluar dari kawasan lindung dan kawasan bencana serta peruntukan perkebunan, pertanian dan budidaya lainnya yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang Wilayah Rawan Bencana Kabupaten Agam merupakan daerah rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana geologi. Sesuai dengan profil rawan bencana yang disusun pada Tahun 2008, jenis-jenis bencana sebagai berikut: 1) Bahaya Sesar Aktif Bahaya sesar aktif adalah bagian dari lempeng bumi yang mengalami patahan atau tersesarkan dan masih bergerak hingga saat ini. Sesar aktif ditunjukkan oleh bentuk kelurusan topografi dimana lokasi pusat gempa terjadi disekitarnya. Pada wilayah Kabupaten Agam, sesar aktif memotong 6 kecamatan yaitu Kecamatan Palupuh, Palembayan, Matur, IV Koto, Banuhampu dan Sungai Pua. 2) Bahaya Seismisitas Gempa Bahaya seismisitas gempa merupakan bencana yang terjadi disebabkan oleh terlepasnya energi tektonik kerak bumi. Di wilayah Kabupaten Agam zonasi kerusakan akibat terpaan gelombang seismik gempa berdasarkan Analisis Probabilitas Hazard 2 Persen (atas) dan 10 Persen (bawah) Berdasarkan Gempa Periode Ulang 50 Tahunan (Petersen M.D. dkk, 2004), kemungkinan zona kerusakan paling tinggi, warna merah, tersebar di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, kurang lebih daerah yang menghubungkan antara Danau Singkarak, Kota Bukittinggi sampai sekitar Bonjol di sebelah Barat Laut. Zona kerusakan lebih rendah diapit oleh dua sesar/patahan yang diperlihatkan oleh warna merah muda. 3) Bahaya Tsunami Daerah lepas pantai merupakan tempat dimana subduksi tektonik terjadi. Distribusi pusat gempa dilepas pantai berpotensi menyebabkan terjadinya Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

19 tsunami. Wilayah yang potensial dihempas hantaman tsunami adalah daerah sekitar Jorong Subang-Subang, Jorong Labuhan, Jorong Muaro Putuih, Jorong Masang, Nagari Tiku Selatan dan sebagian Nagari Bawan di Kecamatan Ampek Nagari. 4) Letusan Gunung Api Kabupaten Agam berada pada dua gunung aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikek. Sebaran produk letusan dari Gunung Marapi cenderung menuju ke arah tenggara sedangkan letusan dari Gunung Tandikek menuju ke arah selatan. Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunung api antara lain: a. Letusan Gunung Marapi : aliran Batang Sarik, Limo Kampuang, Tabek, Kapalo Koto, Lukok Satu, Surau Baru, Padang Laweh, Lubuak dan Pulungan. b. Letusan Gunung Tandikek: letusan ini tidak terlalu membahayakan kecuali di sekitar daerah Toboh. 5) Bahaya Gerakan Tanah/Longsoran Gerakan tanah/longsoran adalah proses pemindahan/pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah jatuhan (Debris falls), gelinciran (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. Tabel 3. memperlihatkan sebaran potensi bencana gerakan tanah / longsor. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

20 Tabel 3. Sebaran Potensi Bencana Gerakan Tanah/Longsor No Keterangan Kecamatan Nagari 1. Jatuhan (Debris Falls) Tanjung Raya Tanjung- Sani Sungai Batang Maninjau Palembayan Baringin Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Lubuk Basung Ampek Nagari Batu Kambiang Matur Matua Hilia IV Koto Balingka Koto Gadang Malalak Malalak Timur 2. Gelinciran (Sliding) 3. Nendatan (Slumps) Palupuh Koto Rantang Pasia Laweh Pagadih Palembayan Baringin Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Lubuk Basung Ampek Nagari Batu Kambing Matur Matua Hilir Palupuh Koto Rantang Pasia Laweh Matur Tigo Balai Palembayan Baringin Sungai Pua IV Koto Balingka Malalak Malalak Utara Sumber : Rancangan RTRW Kabupaten Agam ) Bahaya Banjir Banjir terjadi apabila ekses atau kelebihan air tidak dapat ditampung pada tempatnya sehingga melimpah keluar. Tempat penyimpanan air secara alamiah adalah sungai, rawa, danau atau bendungan. Daerah banjir terjadi sepanjang aliran sungai seperti Batang Tiku, Batang Pingai, Batang Kalulutan, Batang Dareh, Batang Bawan, Batang Sitanang, bagian hilir dari Batang Simpang Janiah dan Simpang Karuah serta Batang Layah. Banjir pada sungai sungai tersebut, pada umumnya terbatas pada morfologi dataran banjir (flood plain). Selain dari lokasi-lokasi tersebut banjir juga terjadi pada daerah rawa di sekitar dataran pantai, yang juga berhubungan dengan aliran sungai di bagian hilir. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

21 Wilayah yang berpotensi banjir adalah 1) Nagari Salareh Aia di Kecamatan Palembayan; 2) Nagari Lubuk Basung di Kecamatan Lubuk Basung; 3) Nagari Bawan, Batu Kambiang dan Sitalang di Kecamatan IV Nagari, 4) Nagari Tiku V Jorong di Kecamatan Tanjung Mutiara; 5) Nagari Balingka di Kecamatan IV Koto dan 6) Nagari Pasia Laweh di Kecamatan Palupuah. 7) Abrasi Abrasi merupakan salah satu bagian dari proses perubahan muka air laut setempat yang dalam istilah ilmiah disebut Relative Sea Level Change (RSLC). Abrasi atau erosi garis pantai mengubah garis pantai berpindah ke arah daratan. Lawan dari abrasi adalah akresi atau sedimentasi yang menyebabkan garis pantai maju ke arah laut. Wilayah yang berpotensi terkena abrasi adalah 1) Masang sepanjang 800 meter; 2) Ujung Masang sepanjang meter; 3) Muaro Putuih sepanjang 300 meter; 4) Ujung Labung sepanjang 500 meter; 5) Pasia Paneh sepanjang 200 meter dan 6) Pelabuhan Tiku sepanjang 100 meter Demografi Jumlah Penduduk Peningkatan jumlah penduduk selama periode 3 tahun adalah sebesar jiwa, yaitu dari jiwa pada Tahun 2010 menjadi jiwa pada Tahun Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin No Tahun Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Sumber : Badan Statistik Kabupaten Agam Kepadatan Penduduk Tingkat kepadatan penduduk masih rendah dengan rata-rata kepadatan 200 jiwa/km 2.. Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, tingkat kepadatan penduduk relatif tinggi yaitu Kecamatan Banuhampu dan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

22 Kecamatan Ampek Angkek. Tingkat kepadatan penduduk dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu kepadatan rendah, kepadatan sedang dan kepadatan tinggi. Hasil analisis kepadatan penduduk di Kabupaten Agam dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Analisis Katagori Tingkat Kepadatan Penduduk Tahun No Tingkat Kepadatan Penduduk Range Kecamatan 1. Kepadatan Rendah jiwa/km 2 Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari, Tanjung Raya, Matur, IV Koto, Canduang, Kamang Magek, Palembayan, Baso, Malalak. 2. Kepadatan Sedang jiwa/km 2 Sungai Pua, Tilatang Kamang. 3. Kepadatan Tinggi > 835 jiwa/km 2 Banuhampu, Ampek Angkek Sumber : Badan Pusat Statistik Tahun 2013 Jumlah dan kepadatan penduduk per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 6. dibawah ini Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

23 Tabel 6. Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Tahun No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan 1. Tanjung Mutiara , ,03 2. Lubuk Basung , ,66 3. Ampek Nagari ,51 4. Tanjung Raya , ,05 5. Matur , ,16 6. IV Koto , ,40 7. Malalak , ,29 8. Banuhampu , ,41 9. Sungai Pua , , Ampek Angkek , , Canduang , , Baso , , Tilatang Kamang , , Kamang Magek , , Palembayan , , Palupuah , ,42 Jumlah , ,69 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

24 Lanjutan No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan 1. Tanjung Mutiara , ,26 2. Lubuk Basung , ,61 3. Ampek Nagari , ,53 4. Tanjung Raya , ,44 5. Matur , ,33 6. IV Koto , ,27 7. Malalak , ,35 8. Banuhampu , ,33 9. Sungai Pua , , Ampek Angkek , , Canduang , , Baso , , Tilatang Kamang , , Kamang Magek , , Palembayan , , Palupuah , ,74 Jumlah , ,19 Sumber : Agam Dalam Angka 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

25 Struktur Penduduk. Selanjutnya komposisi penduduk Kabupaten Agam berdasarkan kelompok umur lak-laki dan perempuan dapat dilihat dilihat pada Tabel. 7 berikut : Tabel 7. Struktur Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis KelaminTahun 2013*) Nomor Struktur Usia Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase Total Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2013 Catatan :*) Angka sementara Dari tabel diatas terlihat bahwa struktur penduduk Kabupaten Agam sebagian besar berada pada kelompok umur dibawah 20 tahun dan terbesar berada pada kelompok umur tahun. Hal ini akan berimplikasi pada arah kebijakan pembangunan ke depan baik dari segi pelayanan fasilitas sosial maupun kebijakan ekonomi Proyeksi Penduduk Proyeksi penduduk dilakukan guna memprediksi tingkat perkembangan penduduk untuk 5 tahun kedepan, sehingga diharapkan dari hasil proyeksi tersebut dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan sarana dan prasarana dasar yang diperlukan, termasuk kebutuhan lahan yang harus disediakan. Hasil proyeksi yang dilakukan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

26 berdasarkan metode eksponensial, dapat diketahui bahwa pada Tahun 2020, diperkirakan penduduk Kabupaten Agam berjumlah jiwa dengan asumsi data dasar yang digunakan adalah data jumlah penduduk yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Tabel 8 Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun No Tahun Proyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa) Sumber : Data diolah menggunakan data dasar jumlah penduduk Dari Catatan Sipil dan Kependudukan. Struktur Penduduk Kabupaten Agam dapat dilihat pada tabel 8.a sebagai berikut: Tabel 8.a Stuktur Penduduk Berdasarkan Usia Tahun 2014 STRUKTUR USIA LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH ,956 22,638 45, ,320 23,477 47, ,137 23,292 47, ,864 23,476 47, ,693 19,472 38, ,425 17,608 34, ,968 17,701 34, ,514 16,955 33, ,698 15,466 30, ,977 13,789 26, ,613 12,670 24, ,163 10,996 21, ,349 7,824 15, ,267 4,934 9, ,993 4,286 7, ,267 5,776 9,043 TOTAL 231, , ,564 Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2014 Catatan : *) Angka sementara Dari data di atas, apabila dihitung jumlah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas adalah orang (umur tahun) atau 70,14 % merupakan Jumlah Penduduk usia kerja. Sedangan bukan usia kerja sebanyak orang ( umur 0-14 tahun ) atau 29,86 %. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

27 TABEL 8.b. Jumlah Penduduk Usia Kerja Tahun 2014*) No. Jenis Kegiatan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan A. Angkatan kerja Bekerja Tidak bekerja/pengangguran B. Bukan Angkatan kerja Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya C. Penduduk Usia Kerja D. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 78,22 57,68 67,58 E. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPAK) 5,72 5,37 5,56 Berdasarkan tabel diatas, terlihat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Agam sebesar 67,58 persen, dimana TPAK laki-laki lebih tinggi yaitu sebesar 78,22 persen sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 57,68. Dari Jumlah penduduk angkatan kerja orang sebanyak orang berkerja atau sebesar 94,44% telah berkerja dan sebanyak orang atau sebesar 5,56 % belum bekerja atau pengangguran terbuka. Persentase tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Agam dari tahun 2007 hingga tahun 2014 cukup berfluktuasi. Penurunan yang cukup tajam terjadi dari tahun 2007 hingga tahun 2009 yaitu dari 7,28 persen menjadi 3,78 persen. Namun dari tahun 2009 hingga tahun 2011 terjadi kembali peningkatan persentase pengangguran terbuka menjadi 6,16 persen di tahun 2011 dan kemudian menurun lagi pada tahun 2012 menjadi 3,71 persen, tahun 2013 naik lagi menjadi 5,46 persen dan tahun 2014 menjadi 5,56%. Sedangkan sebanyak orang atau 32,42 persen merupakan bukan angkatan kerja, yang terdiri dari ibu rumahtangga, pensiunan dan penduduk dengan kebutuhan khusus. Selanjutnya banyaknya penduduk Kabupaten Agam yang bekerja menurut pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 8.c. dibawah ini : jenis Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

28 TABEL 8.c. Banyaknya Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Tahun 2014*) JUMLAH BIDANG PEKERJAAN PERSENTASE JIWA Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan air Minum Konstruksi/Bangunan Perdagangan, Hotel, restoran Pengakutan dan komunikasi Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Total Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2014 Catatan :*) Angka sementara Dari tabel diatas, terlihat bahwa jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan masyarakat adalah dibidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan sebanyak jiwa atau 38,2 persen disusul sektor perdagangan, perhotelan dan restoran sebanyak jiwa atau 23 persen. 2. Capaian Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kinerja Pembangunan Makro Ekonomi Daerah Pertumbuhan Ekonomi. Perekonomian Kabupaten Agam dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Pasca bencana gempa bumi pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan bahkan pada periode akhir tahun 2009 pertumbuhan ekonomi berada pada titik terendah yaitu 4,9 %. Seiring dilaksanakannya rehabilitasi dan rekontsruksi infrastruktur pasca bencana serta program-program inovatif seperti Agam Menyemai, Gerakan Pensejahteraan Petani, Gerakan Pensejahteraan Nelayan, Gerakan Pensejahteraan UMKM, kinerja ekonomi mulai bangkit lagi. Puncaknya pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,79 %. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi sedikit melambat mencapai 6,36 %, hal ini seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dan Indonesia. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

29 Perkembangan ekonomi suatu daerah tidak terlepas dari dinamika perkembangan ekonomi regional, nasional bahkan global. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Agam selama empat tahun terakhir diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Barat dan Nasional yaitu : Kabupaten Agam 6,26 persen, Sumatera Barat 6,19 persen dan Indonesia 6,2 persen. Pertumbuhan ekonomi setiap tahun merupakan agregat dari pertumbuhan sektor-sektor dan sub sektor ekonomi atau lapangan usaha. Untuk melihat kinerja masing-masing sektor atau sub sektor ekonomi dapat dilihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektoral. PDRB merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu). Perkembangan yang terjadi di masing-masing sektor ekonomi dapat lebih pesat atau lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan PDRB secara total. Artinya pertumbuhan nilai tambah masing-masing sektor atau sub sektor yang terjadi selama satu periode tertentu akan menunjang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah secara keseluruhan pada periode tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan perkembangan PDRB Kabupaten Agam Tahun baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan (Tabel II.9 dan Tabel II.10). PDRB atas dasar harga berlaku adalah PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun bersangkutan ( harga yang terjadi setiap tahunnya ). PDRB atas dasar harga konstan adalah PDRB yang menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. Penghitungan PDRB ini menggunakan Tahun 2000 sebagai tahun dasar. Tabel 9. Nilai PDRB Tahun atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Dalam Juta Rupiah). No Sektor Pertanian 2 Pertambangan dan Penggalian , , , , , , , ,68 3 Industri Pengolahan , , , ,69 4 Listrik, Gas dan Air Bersih , , , ,20 5 Bangunan , , , ,48 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran , , , ,29 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

30 7 8 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan , , , , , , , ,38 9 Jasa-Jasa , , , ,43 PDRB , , , ,01 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun Tabel 10. Nilai PDRB per Sektor Tahun atas Dasar Harga Berlaku (Dalam Juta Rupiah). No SEKTOR Pertanian , , , ,13 2 Pertambangan dan Penggalian , , , ,02 3 Industri Pengolahan , , , ,65 4 Listrik, Gas dan Air Bersih , , , ,24 5 Bangunan , , , , Perdagangan, Hotel dan Restoran. Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan , , , , , , , , , , , ,83 9 Jasa-Jasa , , , ,33 PDRB , , ,38 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun Dari kedua tabel diatas terlihat bahwa PDRB Kabupaten Agam terus meningkat. Akan tetapi peningkatan PDRB ini saja belum mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara riil. Harus dilihat variabel-variabel lainnya yang akan dibahas lebih lanjut. Dari perkembangan nilai PDRB tersebut dapat dilihat laju pertumbuhan ekonomi daerah yang sesungguhnya merupakan angregat dari pertumbuhan sektor dan subsektor. Tabel 10 memperlihatkan tingkat pertumbuhan sektor dan sub sektor ekonomi tahun 2010 sampai dengan tahun Pertumbuhan ekonomi daerah sangat di pengaruhi oleh pertumbuhan sektor strategis yaitu sektor pertanian dan sub-sub sektornya, karena sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi daerah. Dapat dilihat bahwa pertumbuhan sektor pertanian yang terus meningkat dari 2010 sampai tahun 2012 mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang juga terus meningkat. Tahun 2012 ke tahun 2013 terjadi perlambatan pertumbuhan sektor pertanian yaitu dari 6,92 % Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

31 menjadi 5,77 %. Hal ini berdampak langsung sehingga pertumbuhan ekonomi juga melambat. Terdapat lima sub sektor yang membentuk nilai tambah sektor pertanian yaitu Sub sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sub sektor ini terus mengalami percepatan pertumbuhan dari tahun 2010 sampai tahun 2012 yaitu : tahun 2010 tumbuh 3,16 %, tahun 2011 tumbuh sebesar 5,23 % dan tahun 2012 tumbuh sebesar 7,29 %. Sedangkan pada tahun 2013 melambat sehingga tumbuh hanya mencapai 5,69 %. Melambatnya pertumbuhan sektor ini dipicu oleh melambatnya tingkat produksi padi dan jagung. Produksi padi hanya meningkat 6.978,36 ton dari tahun 2012 ke tahun 2013 sedangkan dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat meningkat sebesar ,61 ton. Demikian juga halnya dengan jagung, dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi hanya meningkat 7.192,54 ton sedangkan dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi meningkat ton. Sub sektor kedua yaitu tanaman perkebunan, sub sektor ini tumbuh berfluktuasi dari tahun 2010 sampai dengan Dari tahun 2010 ke tahun 2011 melambat signifikan yaitu dari 5,61 % menjadi 3,92 %, kemudian tumbuh lagi menjadi 6,51 % pada tahun 2012 dan sedikit melambat menjadi 6,10 pada tahun Melambatnya pertumbuhan sub sektor ini di picu oleh melambatnya pertumbuhan komoditi industri yaitu kelapa sawit dan kakao. Peningkatan produksi kelapa sawit dari tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 593,20 ton dan dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat sebesar 4.130,67 ton. Demikian halnya dengan produksi kakao, dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat sebesar 167,00 ton sedangkan dari tahun 2012 ke tahun 2013 meningkat hanya sebesar 159,70 ton. Tabel 11. Laju Pertumbuhan Sektor, Sub Sektor PDRB Tahun (Persen). No SEKTOR Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tanaman Perkebunan Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Pertambangn tanpa migas Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

32 - Penggalian Industri Pengolahan Industri migas Industri Tanpa Migas Listrik, Gas dan Air Bersih Listrik Gas Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Perdagangan besar dan eceran Hotel Restoran Pengangkutan dan Komunikasi a. Angkutan. - Angkutan kereta api. - Angkutan jalan raya. - Angkutan laut, sungai, danau. - Angkutan udara b. Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan - Bank - Lembaga Keuangan tanpa bank. - Sewa Bangunan - Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Pemerintahan Umum dan Pertanahan. - Swasta PDRB Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

33 Grafik 1. Laju Pertumbuhan Sektor PDRB Sub sektor ketiga yaitu peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor ini juga tumbuh berfluktuasi, tahun 2012 sub sektor ini tumbuh 5,59 % dan tahun 2013 pertumbuhannya melambat mencapai 3,11 %. Melambatnya pertumbuhan sub sektor ini di picu oleh penurunan pertumbuhan beberapa output ternak besar. Yang perlu mendapat perhatian adalah sub sektor perikanan yang tumbuh sangat signifikan. Tahun 2010 sub sektor ini tumbuh hanya 3,09 persen, terus meningkat sampai tahun 2013 tumbuh sebesar 9,04 persen yang didominasi oleh pertumbuhan perikanan budidaya yang didorong oleh adanya pengembangan kawasan minapolitan. Namun kedepan diharapakan dominasi perikanan budidaya akan berkurang karena berdampak pada penurunan kualitas lingkungan Danau Maninjau, sementara itu perikanan tangkap di kecamatan Tanjung Mutiara masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Selanjutnya yang menarik adalah perkembangan pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sektor ini memang diharapkan tumbuh dengan baik terutama industri yang berbasis pengolahan hasil-hasil pertanian ( agroindustri ) karena sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan juga amanat Visi pembangunan dalam Peraturan Daerah Tentang Tata Ruang. Tahun 2010 tumbuh sebesar 4,5 persen meningkat mencapai 6,02 persen di tahun Sektor ini Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

34 diharapkan tumbuh terus karena mempunyai daya ungkit dan daya dorong untuk tumbuh dan berkembangnya sektor-sektor lainnya. Terdapat juga sektor ekonomi yang pertumbuhaannya melambat sangat signifikan yaitu sektor bangunan. Tahun 2010 sektor ini tumbuh 17,64 persen, terus melambat hingga tahun 2013 hanya tumbuh 7,26 persen. Pertumbuhan yang tinggi di tahun 2010 disebabkan oleh program Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana gempa tanggal 30 September tahun Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari segi lapangan usaha pertumbuhan ekonomi di topang oleh sektor pengangkutan, jasa dan telekomunikasi, pertambangan dan perdagangan hotel dan restoran yang merupakan sektor tersier. Sektor bangunan memang mempunyai rata rata pertumbuhan yang tinggi namun dikontribusi oleh program rekonstruksi pasca gempa setelahnya cenderung melambat. Sektor pertanian yang berkontribusi terbesar terhadap pembentukan PBRB hanya tumbuh rata-rata sebesar 5,4 persen. Sementara sektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu lebih dari 40 persen dari angkatan kerja. Disusul sektor perdagangan hotel dan restoran serta industri pengolahan yang didominasi oleh industri rumah tangga yaitu 17,4 persen dan 15,34 persen. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tersebut sulit berkembang pesat cenderung stabil terkecuali adanya hal-hal yang ekstrim seperti bencana perubahan iklim. Pencapaian target pertumbuhan ekonomi dalam RPJM sampai dengan tahun 2013 berfluktuasi, tahun 2010 dan tahun 2012 capaian pertumbuhan ekonomi dapat melebihi target, namun pada tahun 2011 dan 2013 capaian dibawah target yang ditetapkan, dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam dari tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

35 Struktur Ekonomi Struktur perekonomian yang terjadi di suatu wilayah menunjukkan besar kecilnya pengaruh sektor perekonomian tertentu terhadap pembentukan PDRB di daerah tersebut. Sebagai daerah agraris struktur ekonomi Kabupaten Agam masih didominasi sektor pertanian dengan sub sektor terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya serta perikanan. Namun kontribusi sektor ini sejak Tahun 2010 hingga Tahun 2013 memperlihatkan trend menurun. Tahun 2010 kontribusi sektor pertanian dalam membentuk PDRB adalah sebesar 40,71 %, tahun 2011 turun menjadi 40,22 % dan tahun 2012 menjadi 39,72 dan tahun 2013 turun lagi menjadi 38,66 %. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan kontribusi semua sub sektor pembentuknya. Kondisi perlu mendapat perhatian khusus. Dengan struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian, kondisi sumber daya lahan dan air serta iklim yang mendukung, Kabupaten Agam mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Berbagai jenis produk hasil pertanian dan perikanan sebagai bahan baku menjadi pendorong berkembangnya industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk dan menyerap tenaga kerja. Disamping itu meningkatkan produktifitas sektor pertanian juga masih sangat penting untuk menjadi perhatian, karena produktifitas pertanian di Kabupaten Agam masih relatif rendah. Masih banyak lahan-lahan terlantar yang tidak dimanfaatkan. Perlu juga dibentuk regulasi yang jelas untuk menekan alih fungsi lahan pertanian. NO 1 Tabel 12. Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun (Dalam %). SEKTOR ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK Pertanian 40,71 36,88 40,22 36,49 39,72 36,54 38,66 36,33 2 Pertambangan dan 4,07 3,81 4,05 3,84 4,04 3,80 5,63 3,75 Penggalian 3 Industri Pengolahan 10,35 13,10 10,19 12,93 10,20 12,65 10,14 12,61 4 Listrik, Gas dan Air 0,82 0,87 0,80 0,89 0,75 0,87 0,71 0,87 Bersih 5 Bangunan 6,14 4,96 6,25 4,96 6,63 5,02 6,51 5,07 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran. 15,18 17,23 15,33 17,26 15,39 17,25 15,36 17,29 7 Pengangkutan dan Komunikasi 5,28 4,51 5,38 4,59 5,56 4,68 5,38 4,76 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 3,79 3,38 3,75 3,37 3,66 3,31 3,56 3,36 9 Jasa-Jasa 13,64 15,26 14,04 15,66 14,05 15,87 14,03 15,96 PDRB Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

36 Sektor kedua yang memberikan kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kontribusi sektor ini dari tahun 2010 sampai tahun 2012 terus meningkat, namun tahun 2013 sedikit menurun. Sektor ini merupakan sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tantangan berat pengembangan sektor ini adalah bagaimana membenahi objek wisata yang cukup banyak dan beragam menyebar hampir di seluruh wilayah. Sektor ketiga yang memberikan kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor jasa-jasa, sama halnya dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dari tahun 2010 kontribusinya terus meningkat sampai tahun 2012 tetapi di tahun 2013 sedikit menurun. Diantara sub sektor pembentuknya, hanya sub sektor jasa pemerintahan umum dan jasa penunjang yang kontribusinya terus meningkat. Sektor industri pengolahan merupakan sektor keempat yang kontribusinya cukup besar dalam pembentukan nilai tambah PDRB. Tahun 2010 kontibusinya 10,35 %, Tahun 2011 sebesar 10,19 %, Tahun 2012 sebesar 10,20 %, dan Tahun 2013 sebesar 10,14 %. Sektor ini didominasi sub sektor industri non migas. Sektor ini diharapkan dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan kontribusi yang terus meningkat. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa selama empat tahun terdapat empat lapangan usaha yang memberikan rata-rata kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB yaitu pertanian dengan rata-rata kontribusi 39,83 persen, perdagangan hotel dan restoran 15,31 persen, jasa-jasa 13,94 dan industri pengolahan 10,22 persen. Ke-empat lapangan usaha ini memang mempunyai saling keterkaitan PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk digunakan indikator lain yaitu Produk Domestik Regional Bruto Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita. PDRB perkapita merupakan hasil bagi antara nilai nominal PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada masing-masing tahun yang sama. Pendapatan Regional Perkapita diperoleh setelah PDRB dikurangi penyusutan pajak tak langsung netto serta transfer netto kemudian dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun. Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Penyajian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

37 Secara umum PDRB perkapita selalu mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh lebih tingginya peningkatan PDRB dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk. Tabel 13 berikut memperlihatkan PDRB perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Kabupaten Agam Tahun berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Tabel 13. PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Tahun Berdasarkan Harga Berlaku (ribu rupiah) Tahun PDRB Perkapita Perubahan ( % ) Pendapatan regional Perkapita Perubahan ( % ) ,540 12, ,737 12, ,286 11, ,526 11, ,112 11, ,367 11, ,839 15, ,936 15,29 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun Dari Tabel 13 diatas terlihat bahwa PDRB perkapita Tahun 2010 mencapai juta rupiah. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pendapatan Regional Perkapita Tahun 2011 sebesar 15,65 juta rupiah meningkat dari Tahun yang nilainya hanya 14,09 juta rupiah. Grafik 3 Pendapatan Regional Perkapita Aras Harga Berlaku Tahun Namun peningkatan PDRB perkapita saja belumlah cukup untuk menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena peningkatan PDRB Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

38 belum tentu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, maka diperlukan indikator lain seperti Indeks Gini yang mengukur ketimpangan pendapatan yang terjadi di suatu wilayah. Indeks Gini adalah ukuran ketidak seimbangan atau ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Dari Tabel 13 diatas terlihat bahwa peningkatan pendapatan perkapita dari tahun 2011 ke tahun 2012 diikuti oleh meningkatnya Indeks Gini dari 0,277 menjadi 0,3139. Hal ini mengindikasikan bahwa kemerataan pendapatan di Kabupaten Agam semakin berkurang. Kalau dilihat kinerja ekonomi Kabupaten Agam dalam perspektif ekonomi Sumatera Barat tahun 2013 dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Agam termasuk daerah yang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita cukup tinggi dengan ketimpangan pendapatan yang rendah. Dapat dilihat pada Tabel 14 di bawah ini. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

39 Nomor Kabupaten/Kota Tabel 14. Pertumbuhan Ekonomi ( %), PDRB Per Kapita (Rp. Juta), Dan Koefisien Gini Kabupaten Agam Di Bandingkan Dengan Kabupaten/Kota Sumatera Barat tahun Pertumbuhan Ekonomi PDRB Perkapita Koefisien Gini Pertumbuhan Ekonomi PDRB Perkapita Koefisien Gini Pertumbuhan Ekonomi PDRB Perkapita Koefisien Gini Kabupaten 1 Kepulauan Mentawai , , , Pesisir Selatan , , , Solok , , , Sijunjung , , , Tanah Datar , , , Padang Pariaman , , , Agam , , , Lima Puluh Kota , , , Pasaman , , , Solok Selatan , , , Dharmasraya , , , Pasaman Barat , , , Kota 13 Padang , , , Solok , , , Sawah Lunto , , , Padang Panjang , , , Bukittinggi , , , Payakumbuh , , , Pariaman , , , Sumatera Barat , , Sumber : Sumatera Barat Dalam Angka tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

40 Ketimpangan Wilayah Untuk mengetahui ketimpangan pembangunan antar kecamatan yang terjadi pada suatu wilayah dalam hal ini Kabupaten Agam, dapat dianalisis dengan mengunakan indeks ketimpangan regional (regional in equality) yang dinamakan indeks ketimpangan Williamson. Untuk mengetahui besarnya ketimpangan yang terjadi maka diperlukan tingkat ketimpangan antar wilayah dengan kriteria sebagai berikut: Indeks Ketimpangan >1 Sangat Tinggi 0,7-1 Tinggi 0,4-0,69 Menengah 0,39 Rendah Tabel 15. Indeks Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Agam tahun 2013 Nomor Kecamatan Jumlah Penduduk PDRB Perkapita (Rp. Juta ) Indeks Ketimpangan 1 Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Canduang Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh TOTAL Sumber : Kajian Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Kabupaten Agam Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

41 Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat disparitas regional atau tingkat ketimpangan pembangunan yang terjadi antar kecamatan di Kabupaten Agam pada tingkat ketimpangan menengah yaitu 0,169 yang artinya ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan condong merata. Sedangkan kalau dilihat ketimpangan di tingkat kecamatan rata-rata berada pada ketimpangan yang rendah dengan indeks kecil dari 0, Produktivitas Total Daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sector/lapangan usaha per angkatan kerja yang menunjukkan seberapa produktif tiap angkatan kerja itu dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. Produktivitas Total Daerah dapat di ketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor di bagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. Tabel 16I. menunjukkan produktivitas total daerah yang dihitung berdasarkan lapangan usaha PDRB. Tabel 16. Produktivitas Sektor dan Produktivitas Total Daerah Tahun ( Rp. Juta ) No Lapangan usaha Pertanian 26,39 35,25 35,70 46,54 2 Industri Pengolahan 31,37 23,77 24,61 42,88 3 Perdagangan, hotel dan restoran. 26,38 31,83 32,11 35,55 4 Jasa-jasa 42,95 37,93 44,94 61,79 Produktivitas Total Daerah 31,77 32,195 34,34 46,69 Sumber : Data diolah. Dari tabel diatas terlihat bahwa dari Tahun 2010 produktivitas total daerah terus meningkat. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 terdapat peningkatan produktifitas total daerah yang tinggi yang di dorong oleh meningkatnya produktifitas di sektor jasa-jasa. Sektor industri pengolahan juga memperlihatkan peningkatan produktifitas yang signifikan, disusul sektor pertanian Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita adalah rata-rata biaya yang di keluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita merupakan salah satu indikator penting dalam melihat tingkat Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

42 kesejahteraan penduduk, yaitu dengan mengelompokkan suatu daerah berdasarkan besarnya rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita. Apabila dari komposisi penduduk tersebut ternyata jumlah penduduk terbesar berada pada golongan pengeluaran yang tinggi, hal ini mencerminkan tingkat ekonomi penduduk yang baik. Sebalikknya apabila sebagian besar penduduk tersebut berada pada golongan pengeluaran nyang rendah mencerminkan tingkat ekonomi yang rendah pula. Tabel berikut memperlihatkan persentase penduduk Kabupaten Agam menurut golongan pengeluaran per kapita per bulan hasil Susenas Tahun 2007 dan Tabel 17. Persentase Penduduk Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan. Golongan Persentase Penduduk. No Pengeluaran ( Rupiah ) Kurang dari , ,07 0,27 0, ,52 8, ,21 37, dan lebih. 9, ,00 Total Sumber : BPS Provinsi Sumatera Barat. Dari tabel diatas terlihat bahwa komposisi penduduk Kabupaten Agam terbesar berada pada tingkat pengeluaran sedang sampai tinggi. Apabila dibandingkan hasil Susenas Tahun 2007, 2009 dengan tahun 2012 dan 2013 memperlihatkan bahwa terjadi pergeseran komposisi penduduk yang signifikan kearah yang lebih baik. Pada Tahun 2012 persentase penduduk pada golongan pengeluaran rendah jauh berkurang dan persentase penduduk dengan golongan pengeluaran sedang dan tinggi meningkat. Hal ini menunjukkan daya saing perekonomian Kabupaten Agam juga meningkat Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Makanan dan Non Makanan. Pengeluaran rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua yaitu pengeluaran konsumsi makanan dan pengeluaran konsumsi non makanan. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi, minuman, tembakau dan sirih. Non makanan mencakup perumahan, sandang, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan sebagainya. Statistik pengeluaran rumah tangga di Kabupaten Agam menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga dari Tahun memperlihatkan peningkatan namun masih terfokus untuk untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

43 ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk masih kurang. Hanya sebagian kecil dari pengeluaran rumah tangga yang dialokasikan untuk kesehatan, pendidikan dan lain-lain apalagi untuk tabungan. Pada Tabel dibawah ini memperlihatkan perkembangan pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk pangan dan non pangan. Tahun Tabel 18. Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Non Makanan Tahun Total Pengeluaran Rumah Tangga Konsumsi Makanan Konsumsi Non Makanan Rupiah/kapita Persentase Rupiah/kapita Persentase Sumber : Agam Dalam Angka Kabupaten Agam Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase pengeluaran makanan dari tahun 2011 ke tahun 2012 menurun signifikan namun masih didominasi oleh pengeluaran makanan. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 pesentase pengeluaran untuk makanan kembali meningkat. Kondisi ini belum tentu memperlihatkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk semakin berkurang, tetapi dapat disebabkan karena adanya program-program jaminan kesehatan dan pembebasan biaya pendidikan serta dampak inflasi Nilai Tukar Petani. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Petani dapat dihitung dengan membandingkan faktor produksi dengan produk, yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar (Ib) petani. Ada tiga tingkatan NTP, jika lebih besar dari 100 berari petani mengalami surplus, harga produksinya naik lebih besar dari harga konsumsinya, pendapatan petani lebih besar dari pengeluaranya. NTP = 100 bearti petani mengalami impas. Kenaikan atau penurunan harga barang produksinya sama dengan kenaikan atau penurunan barang konsumsinya dan jika NTP kecil dari seratus berarti petani Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

44 mengalami defisit, kenaikan harga barang yang diproduksinya lebih kecil dari kenaikan harga barang konsumsinya. Dari hasil perhitungan oleh BPS Propinsi Sumatera Barat yang melakukan survey di sebelas kabupaten setiap tahun memperlihatkan bahwa nilai tukar petani berfluktuasi, sangat dipengaruhi inflasi. Dapat dilihat pada Tabel 19 berikut : Tahun Tabel 19. Nilai Tukar Petani Tahun (Persen) Indeks yang diterima Indeks yang dibayar Indeks konsumsi rumah tangga Indeks BPPBM NTP ,98 126,07 127,70 121,18 105, ,05 132,75 135,42 124,55 106, ,54 137,63 141,01 127,24 105, ,29 144,23 148,68 130,42 104,21 Sumber : Nilai Tukar Petani, Publikasi BPS Sumatera Barat Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa NTP dari tahun 2011 ke tahun 2013 cenderung menurun. Hal ini sangat dipengaruhi oleh relatif stabilnya rata-rata harga produk pertanian (dalam waktu yang sama ada produk yang harganya naik, tetapi ada pula produk yang harganya turun ) sementara harga faktor produksi cenderung menaik. Hal ini perlu mendapat perhatian oleh Pemerintah Daerah karena menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani tidak meningkat. NTP juga dihitung menurut sub sektor pertanian, dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Nilai Tukar Petani menurut Sub Sektor Tahun (Persen) Nomor Sub Sektor Padi, palawija 98,11 97,82 95,29 93,07 2 Hortikultura 103,07 105,84 104,87 102,47 3 Perkebunan 125,68 129,02 130,06 132,63 4 Peternakan 99,58 100,39 100,29 97,94 5 Perikanan 112,34 110,75 110,38 113,32 Sumber : Nilai Tukar Petani, Publikasi BPS Sumatera Barat Dari tabel diatas terlihat bahwa NTP sub sektor padi/palawija ( tanaman Pangan ) masih berada di bawah 100 persen yang artinya petani tanaman pangan cenderung merugi bahkan NTP-nya cenderung turun. Hal ini sangat penting menjadi perhatian, karena akan mempengaruhi animo masyarakat petani untuk menanam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

45 tanaman pangan dan juga berdampak terhadap laju pertumbuhan produksi tanaman pangan dan laju pertumbuhan ekonomi karena sub sektor tanaman pangan mempunyai kontribusi yang besar terhadap PDRB Nilai Investasi 1) Perkembangan Nilai Investasi. No Tabel 21. Perkembangan Nilai Investasi Perlapangan Usaha Tahun Lapangan Usaha Nilai Investasi ( Rp. Juta) Pertanian , , , ,75 2 Pertambangan dan Penggalian , , , ,80 3 Industri Pengolahan , , , ,32 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9.748, , , ,76 5 Bangunan , , , ,79 6 Perdagangan, Hotel dan , , , ,54 Restoran. 7 Pengangkutan dan Komunikasi , , , ,58 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan , , , ,92 9 Jasa-Jasa , , , ,17 Total nilai investasi , , ,62 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

46 Grafik 4. Nilai Investasi Kabupaten Agam persektor Tahun Ketenagakerjaan. 1). Tingkat Pengangguran Terbuka Seiring dengan perkembanngan jumlah penduduk maka jumlah penduduk usia kerja juga bertambah. Penduduk usia kerja dibedakan antara penduduk angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun lebih) yang berkerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara pencari kerja dengan angkatan kerja. Tabel 22 memperlihatkan persentase angkatan kerja dan bukan angkatan kerja menurut kegiatan utamanya. Dari tabel tersebut dapat dilihat persentase tingkat pengangguran terbuka berfluktuasi. Dari tahun 2010 ke tahun 2011 terjadi peningkatan persentase pengangguran terbuka menjadi 6,16 persen, tahun 2012 munurun cukup signifikan menjadi 3,71 persen, namun pada tahun 2013 meningkat lagi menjadi 5,46 persen. Tingkat pengangguran ini lebih kecil dibandingkan tingkat Provinsi Sumatera Barat yaitu 6,33% dan tingkat nasional pengangguran sebesar 5,92%. Dalam RPJM target tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2015 adalah 3,1 persen, maka hal ini menjadi tantangan serius bagi Pemerintah Daerah untuk mencapainya Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

47 karena dari tren perkembangan tingkat pengangguran terbuka selama empat tahun berfluktuasi. Tabel 22. Persentase Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kegiatan Utama Tahun No. Jenis Kegiatan *) Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % A. Angkatan kerja , , , ,35 1. Bekerja , , , ,54 2. B. Tidak bekerja /pengangguran Bukan Angkatan Kerja , , , , , , , ,65 1. Sekolah , , , ,83 2. Mengurus Rumah Tangga , , , ,82 3. Lainnya , , , ,35 Total Penduduk usia 15 tahun lebih Sumber Agam Dalam Angka *) Angka sementara. 2) Angka Ketergantungan. Angka ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk usia tidak produktif ( dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun ) dengan jumlah penduduk usia produktif ( usia 15 sampai 64 tahun ) dikalikan seratus. Angka ini menunjukkan setiap penduduk usia produktif/kerja akan menanggung sejumlah penduduk usia tidak produktif. Tabel 23 memperlihatkan bahwa angka ketergantungan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 semakin menurun, maka hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk meningkat jika diringi dengan peningkatan kesempatan kerja. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

48 Tabel 23. Rasio Ketergantungan Tahun 2010 sampai dengan No Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) & (2) Jumlah Penduduk Usia tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) 0,67 0,66 0,66 0,56 3) Kualitas Tenaga Kerja. Kualitas tenaga kerja dapat ditunjukkan oleh tingkat pendidikan yang ditamatkan. Semakin baik tingkat pendidikan yang ditamatkan maka kualitas tenaga akan semakin baik pula, dan semakin spesifik pendidikan yang NO 1. Tabel 24. Tenaga Kerja Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun Uraian Jumlah Belum Pernah sekolah/tidak tamat SD Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Jiwa % Jiwa % Jiwa % ,04 2. Jumlah lulusan SD 49, , ,53 3. Julah lulusan SLTP 39, , ,19 4. Jumlah lulusan SLTA 34, , , Jumlah lulusan SLTA Kejuruan Jumlah lulusan Diploma I/II/III 17, , ,72 6, , ,88 7. Jumlah lulusan Universitas 9, , ,24 Jumlah Angakatan Kerja Yang Berkerja 207, , , c) Persentase Penduduk Menurut Lapangan Usaha. Persentase penduduk menurut jenis pekerjaan dilihat jumlah angkatan kerja yang bekerja menurut lapangan usaha dikalikan seratus. Lapangan usaha dikelompokkan menjadi empat lapangan usaha utama yang berkontribusi besar terhadap PDRB. Kelompok Lainnya terdiri dari lapangan usaha pertambangan, listrik, gas, air minum, bangunan, angkutan, pergudangan, tanah dan jasa perusahaan. Perkembangan persentase penduduk menurut lapangan usaha dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

49 Tabel 25. Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun *) Nomor Lapangan Usaha Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 48,43 41, Industri Pengolahan 10,29 15, Perdagangan, Hotel, restoran 18,07 17, Jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan. 13,24 13, Lainnya 9,97 13, Total Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2013 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar penduduk hidup dengan mata pencaharian bertani Tingkat Kemiskinan. Untuk mengukur kemiskinan, digunakan konsep kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidak mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah menetapkan Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan Makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan kalori per kapita per hari. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Garis Kemiskinana ditetapkan oleh Pemerintah setiap tahun, dapat dilihat pada Tabel 26. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

50 Tabel 26. Garis Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin Tahun Tahun Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bulan) Jumlah penduduk miskin (ribu) Persentase Sumber BPS Kabupaten Agam. RPJM menetapkan target penurunan tingkat kemiskinan 2,5 persen pertahun dari jumlah rumah tangga miskin yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati tahun 2010 sebanyak rumah tangga. Grafik 5 di bawah ini menggambarkan perbandingan persentase tingkat kemiskinan Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat dan Indonesia. Selanjutnya berdasarkan hasil pendataan Program Perlindungan Sosial ( PPLS ) tahun 2011 yang mendata 30 % penduduk dengan pendapatan terendah, terdapat rumah tangga dengan jumlah berpendapatan terendah yaitu rumah tangga. Sebanyak rumah tangga diantaranya termasuk klasifikasi sangat miskin dan miskin, sisanya rentan miskin. Tabel II-23 di bawah ini memperlihatkan jumlah rumah tangga sasaran hasil pendataan PPLS Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

51 Grafik 5. Tingkat Kemiskinan Kabupaten Agam Tahun Tabel 27. Jumlah Rumah Tangga Sasaran PPLS 2011 Menurut Klasifikasi Kemiskinan dan Kecamatan di Kabupaten Agam. Nama Kecamatan Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin Rentan Miskin lainnya Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Total % Tanjung Mutiara , Lubuk Basung , , , IV Nagari , Tanjung Raya , , Matur , , IV Koto , , Malalak , Banuhampu , Sungai Pua , IV Angkek , , Canduang , Baso , , Tilatang Kamang , , Kamang Magek , , Palembayan , , , Palupuah , Total 3, , , , , Sumber : TKPK Kabupaten Agam. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

52 Nilai Investasi Daerah. 1). Jumlah Kegiatan Penanaman ModaI (PMDN / PMA) Investasi merupakan selisih antara stok capital pada tahun ke t dengan tahun sebelumnya ( t 1 ) sebelum dikurangi dengan penyusutan. Investasi dapat dirinci menurut institusi yang menanamkan modal yaitu : investasi pemerintah, investasi swasta dan investasi rumah tangga. Investasi Pemerintah merupakan investasi yang dilakukan oleh Pemerintah, BUMN dan BUMD. Investasi swasta dapat dibedakan atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Sedangkan investasi rumah tangga meliputi investasi fisik, bangunan tempat tinggal, alat-alat produksi dan investasi finansial. Di Kabupaten Agam kegiatan investasi lebih didominasi oleh investasi rumah tangga dan investasi swasta berskala lokal yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. PMDN yang berskala nasional tidak terjadi penambahan selama Tahun Realisasi jumlah kegiatan PMDN/PMA Tahun 2010 sampai dengan 2013 adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 28. Jumlah Proyek PMDN/PMA Tahun Tahun Jumlah Kegiatan PMDN Jumlah Kegiatan PMA Total Sumber : KPT Kabupaten Agam Tahun Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah kegiatan penanaman modal dalam negeri dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat sangat signifikan, baik yang mendapat fasilitas maupun yang non fasilitas. Namun dari tahun 2012 ke tahun 2013 jumlah kegiatan penanaman modal justru menurun. 2) Perkembangan Nilai Investasi. Keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari terjadinya perkembangan investasi dari tahun ke tahun. Karena investasi dapat mendorong kenaikan output secara signifikan dan secara langsung juga meningkatkan permintaan terhadap input, meningkatkan serapan tenaga kerja dan ada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat. Nilai investasi yang terbentuk di Kabupaten Agam dari tahun 2003 hingga 2013 terus mengalami perkembangan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

53 baik dilihat menurut harga berlaku maupun menurut harga konstan Jika dilihat menurut harga berlaku nilai investasi yang terbentuk pada tahun 2003 adalah sebesar 417,65 milliar rupiah. Pada tahun 2004 meningkat menjadi 454,88 milliar rupiah. Nilai ini terus mengalami peningkatan menjadi 2.008,22 milliar rupiah di tahun Tabel 29. Nilai Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Tahun Tahun Atas DasarHarga Berlaku (Rp. Milyar) Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Rp. Milyar) * * * * ** *** Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara *** Angka sangat sementara Pertumbuhan investasi di Kabupaten Agam menurut harga konstan terus mengalami fluktuasi dari tahun 2004 hingga Puncak pertumbuhan investasi terjadi di tahun 2010, dimana pada tahun tersebut terdapat banyak aliran dana untuk rekonstruksi pasca gempa yang yang terjadi di tahun Kabupaten Agam merupakan wilayah yang cukup parah terkena dampak gempa, sehingga bantuan dari pemerintah, LSM, maupun dari masyarakat banyak yang mengalir untuk rekonstruksi bangunan. Kemudian di tahun 2011 pertumbuhan kembali melambat, dan ditahun 2012 hingga 2013 kembali meningkat tajam. Pada tahun 2013 pertumbuhan investasi di Kabupaten Agam mencapai 14,74 persen Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

54 Grafik 6. Pertumbuhan Investasi ADHK Periode (Persen) 3) Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Dilihat dari struktur investasi secara lengkap menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku dari tahun Secara total sektor jasa-jasa merupakan sektor yang menyerap investasi terbesar di Kabupaten Agam selama periode Secara total selama periode sektor tersebut menyerap sekitar 20,69 persen dari total investasi yang ada di Kabupaten Agam. Jika dilihat menurut tahun, distribusi penyerapan investasi pada sektor jasa-jasa cukup berfluktuasi. Distribusi tertinggi terjadi di tahun 2011 dengan persentase mencapai 30,84 persen. Pada tahun 2013 distribusi penyerapan investasi pada sektor jasa-jasa hanya sekitar 14,01 persen. Di urutan kedua adalah investasi di sektor industri. Secara total dari periode sektor ini menyerap 20,21 persen dari total investasi yang terjadi di Kabupaten Agam. Jika dilihat menurut tahun, penyerapan investasi mencapai puncaknya terjadi di tahun 2009 dimana sektor ini mampu menyerap hingga 23,28 persen dari total investasi yang ada di tahun tersebut. Pada tahun 2013 distribusi investasi yang terserap pada sektor tersebut mencapai 19,18 persen. Yang ketiga adalah sektor pertanian. Secara total sektor pertanian selama periode mampu menyerap investasi sebesar 17,05 persen dari total investasi yang terjadi selama periode tersebut. Dilihat menurut tahun, distribusi penyerapan investasi di sektor pertanian terus berfluktuasi, hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013 dengan penyerapan investasi di sektor pertanian mencapai 29,34 persen. Sektor yang mampu menyerap investasi dengan distribusi yang juga cukup besar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor ini secara total selama periode telah menyerap sekitar 16,66 persen investasi, dari total investasi Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

55 yang tercipta di Kabupaten Agam selama periode Penyerapan investasi pada sektor ini juga berfluktuasi setiap tahunnya. Puncak penyerapan investasi terjadi di tahun 2003 dan 2005 dengan penyerapan investasi mencapai 18,24 persen. Selain empat sektor diatas, distribusi penyerapan investasi pada lima sektor lainnya berada dibawah lima persen. Berikut adalah distribusi penyerapan investasi secara total bagi sektor-sektor tersebut selama periode Distribusi investasi pada sektor pertambangan dan penggalian mencapai 3,04 persen, pada sektor listrik, gas, dan air bersih mencapai 1,90 persen. Grafik 7 Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Kumulatif Tahun (Persen) Keterangan : 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan & Komunikasi Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Minum 5. Bangunan 9. Jasa-Jasa 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Distribusi penyerapan investasi pada sektor bangunan adalah sebesar 8,33 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi selama periode mampu menyerap investasi sebesar 8,66 persen. Terakhir, distribusi persentase penyerapan investasi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang mencapai 3,46 persen selama periode Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

56 4) Struktur Investasi Menurut Institusi Struktur investasi yang dirinci menurut institusi dikelompokkan menjadi 3 institusi yaitu Pemerintah Umum, BUMN/D dan Swasta, dan rumahtangga. Secara total pada periode Institusi rumahtangga merupakan institusi yang paling dominan dalam pembentukan modal di Kabupaten Agam. Selama periode tersebut persentase investasi yang berasal dari rumah tangga adalah sebesar 46,90 persen. Institusi yang menyumbangkan investasi terbesar kedua adalah BUMN/D dan swasta. Secara akumulasi, nilainya sebesar 34,42 persen dari total investasi yang ditanamkan selama periode Institusi pemerintahan umum dari tahun ke tahun menduduki urutan paling bawah dalam penyerapan investasi, dimana pada periode nilai investasi yang berasal dari pemerintah hanya mencapai 18,67 persen. Grafik 8. Struktur Investasi Menurut Institusi Kumulatif Tahun (Persen) Keterangan : 1. Pemerintahan Umum 3. Rumahtangga 2. BUMN/D dan Swasta 5) Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Untuk menghitung besaran ICOR, nilai investasi dan PDRB dibuat dalam harga konstan agar pengaruh fluktuasi harga dalam ukuran ICOR dapat dihilangkan (dalam hal ini akan digunakan harga konstan 2000). ICOR Kabupaten Agam selama sebesar 3,04 yang berarti bahwa secara rata-rata untuk meningkatkan output (dalam hal ini PDRB) sebesar 1 unit moneter dibutuhkan investasi sekitar 3,04 unit moneter. Hal ini tentu saja dengan asumsi bahwa kapasitas modal yang ada saat ini sudah digunakan secara optimum. Jika dilihat menurut sektor ekonomi terjadi perbedaaan yang cukup mencolok, karena masing-masing sektor ekonomi memiliki Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

57 perilaku tersendiri dalam hal pengaruh investasi terhadap peningkatan output sektor bersangkutan. Tambahan output/nilai tambah suatu kegiatan tidak hanya disebabkan oleh investasi tahun sebelumnya yang belum mencapai kapasitas penuh.perilaku investasi juga tidak selamanya langsung menghasilkan pada tahun ketika investasi ditanamkan. Sebagai contoh tanaman kelapa sawit dan karet yang hanya bisa menghasilkan setelah umur tanaman sudah dewasa. Dengan kata lain, ada selang waktu (time lag) antara waktu penanaman investasi dengan output/nilai tambah yang dihasilkan. Penentuan alternatif mana yang dianggap tepat untuk suatu sector dapat diterapkan prinsip mayoritas (modus) dalam sektor tersebut. Misalnya sektor Industri pengolahan yang dianggap paling beragam jenis dan klasifikasi usahanya, begitu juga faktor lagnya. Dengan mengacu beberapa referensi di daerah Sumatera Barat, kita dapat saja menyepakati rumus ICOR dengan lag 1 tahun dianggap mewakili rata-rata. Artinya, secara rata-rata diasumsikan bahwa investasi baru akan menghasilkan output setelah satu tahun investasi ditanamkan. Atau untuk sektor pertanian dimana untuk Kabupaten Agam masih didominasi oleh pertanian tanaman pangan maka investasi dengan lag 0 tahun dianggap cukup mewakili, kecuali jika analisisnya dikususkan untuk sub sektor perkebunan yang bisa memberikan hasil setelah selang waktu lebih dari 5 tahun. Seperti terlihat pada Tabel 30 sektor Industri Pengolahan mencatat koefisien ICOR yang paling tinggi selama periode , yaitu sebesar 5,39. Sektor listrik, gas dan air bersih menempati urutan ke dua dengan koefisien ICOR sebesar 5,15. Sedangkan sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan mencatat koefisien ICOR yang terkecil, yaitu sebesar 1,67. Tabel 30 tersebut dapat disepakati sebagai koefisien ICOR sektoral untuk memperkirakan investasi di masa mendatang. Dengan asumsi pertama bahwa mayoritas investasi di setiap sektor selama periode tersebut mempunyai lag 0, artinya investasi yang ditanamkan pada tahun ke t akan memberikan tambahan output pada tahun ke-t itu juga. Asumsi kedua, koefisien ICOR di masa mendatang sama dengan koefisien ICOR selama periode Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

58 Tabel 30. Koefisien ICOR Tahun Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi *) Nomor 1 Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan Koefisien ICOR 1,67 2 Pertambangan & Penggalian 2,31 3 Industri pengolahan 5,39 4 Listrik, gas dan air minum 5,15 5 Bangunan 4,12 6 Perdagangan, hotel & Restoran 2,85 7 Pengangkutan & Komunikasi 4,00 8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 3,61 9 Jasa-jasa 3,67 Kabupaten Agam 3,04 Pada dasarnya asumsi-asumsi di atas belum pernah diuji keberartiannya, karena perhitungan tersebut memerlukan waktu dan ketelitian yang tinggi. Untuk itu, hasil perhitungan koefisien ICOR ini masih bisa dikembangkan, tergantung kebutuhan perencanaan. Untuk dapat menganalisa koefisien ICOR pada masingmasing sektor ekonomi perlu diteliti lebih lanjut kapan investasi pada sektor tersebut mampu memberikan peningkatan nilai tambah. Jika investasi yang ditanamkan langsung berpengaruh terhadap peningkatan output pada suatu sektor maka koefisien ICOR yang tepat digunakan adalah koefisien ICOR dengan lag 0, sedangkan jika investasi tersebut berpengaruh pada satu tahun kemudian, maka koefisien ICOR yang lebih tepat digunakan adalah koefisien pada lag 1,dengan mengetahui karakteristik setiap sektor dengan baik maka analisis yang akan diambil juga akan semakin baik. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

59 Grafik 9. Koefisien ICOR Menurut Lapangan Usaha Metode Akumulasi (Lag 0) Lapangan Usaha Keterangan : 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & 6. Perdagangan, Hotel & Rest. Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan & Komunikasi 3. Industri Pengolahan 8. Keuangan, Persewaan dan 4. Listrik, Gas & Air Minum Jasa Perusahaan 5. Bangunan 9. Jasa-Jasa 2.2. Capaian kinerja sektor/sub sektor ekonomi. 1) Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pembangunan disektor pertanian memegang peranan yang strategis dalam menentukan tingkat kesejahteraan dan kemajuan perekonomian masyarakat. Sektor ini memegang perananan penting karena merupakan penyedia kebutuhan pokok dan sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat. Perkembangan produksi dan produktifitas tanaman pangan dan hortikultura dari tahun 2010 sampai tahun 2013 terus meningkat seiring dengan peningkatan pembangunan infrastruktur pendukungnya. Namun laju pertumbuhan produksi sub sektor ini cenderung menurun. Dalam RPJM ditargetkan sub sektor tanaman pangan akan tumbuh sebesar 6,5 persen pada tahun Tahun 2012 capaian kinerja sub sektor ini sudah melebihi target tersebut yaitu 7,29 persen, namun pada tahun 2013 melambat signifikan mencapai 5,69 persen. Tabel 31. dibawah ini memperlihatkan perkembangan produksi tanaman pangan dan hortikultura dari tahun Dari tersebut, dapat dilihat sub sektor pertanian tanaman pangan didominasi oleh usaha tanaman padi dan palawija. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

60 Dari tahun 2010 sampai tahun 2013 luas panen dan produksi terus meningkat. Produktifitas cenderung stabil pada kisaran 5,3 5,4 ton/ha. Kalau dihubungkan dengan penurunan luas lahan baku sawah yang terus terjadi, peningkatan produksi dicapai dengan mengoptimalkan lahan sawah yang ada, mengurangi sawah-sawah yang dibiarkan terlantar dan menyegerakan musim tanam. Kondisi ini dicapai dengan adanya peningkatan infrastuktur terutama irigasi sehingga mendukung kebutuhan air sepanjang tahun. Kalau dilihat dari sisi nilai tukar petani tanaman pangan dari tahun selalu berada dibawah 100 dan cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan petani tanaman pangan sulit meningkat, dapat menyebabkan semakin berkurangnya animo masyarakat untuk menanam tanaman pangan. Sementara untuk tanaman hortikultra NTP nya lebih dari 100 dan berfluktuasi. Dan dilihat dari sisi laju pertumbuhan produksi tanaman pangan dan hortikultura dari tahun 2010 sampai tahun 2012 laju pertumbuhan produksi meningkat tetapi pada tahun 2013 kembali melambat. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga yang berusaha pada sub sektor tanaman pangan didominasi pada usaha tanaman padi yaitu 40,95 ribu rumah tangga atau 92,12 persen dari keseluruhan rumah tangga yang berusaha di sub sektor tanaman pangan ( 44,45 ribu ). Tersebar di seluruh wilayah Kabupten Agam dan terbanyak berturut-turut yaitu di Kecamatan Lubuk Basung, Tanjung Raya, Palembayan, Baso dan Ampek Angkek. Termasuk dalam kelompok tanaman pangan yaitu palawija. Tanaman palawija terdiri dari kelompok biji-bijian, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Dari 11 komoditi palawija yang diusahakan jagung merupakan komoditi terbanyak yang diusahakan dengan luas areal tanam 65,91 persen dari seluruh luas tanam tanaman palawija, diikuti oleh ubi jalar dan ubi kayu. Jagung terbanyak diusahakan pada sentra pengembangan yaitu Kecamatan Lubuk Basung, Tilatang Kamang dan IV Nagari. Produktifitas jagung terus meningkat dari tahun 2010 sampai tahun 2013, yaitu dari 4,37 menjadi 7,85. Yang perlu diantisipasi adalah alih fungsi lahan sawah produktif menjadi areal pertanaman jagung. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

61 Tabel 31. Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Tanaman Pangan Tahun NO Komoditi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produkifitas (Ton/Ha) Padi Sawah , , ,36 5,41 5,39 5,44 5,45 2 Padi Ladang ,62 352,20 5,32 4,26 4,27 4,26 3 Jagung , , ,37 7,03 7,04 7,85 4 Ubi Kayu , ,83 17,92 17,96 17,99 5 Ubi Jalar , , ,16 16,06 16,22 16,25 16,62 6 Kacang Tanah , , ,99 2,15 2,21 2,2 7 Kacang Hijau ,00 115,01 130, ,72 1,80 1,81 1,85 8 Kacang Kedele ,00 190,80 810, ,76 1,80 1,81 1,77 Sumber : Agam Dalam Angka Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

62 Tabel 32. Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Hortikultura Tahun NO Komoditi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produkifitas (Ton/Ha) Kentang ,82 14,56 14,74 14,78 2 Kubis ,42 12,78 14,40 14,85 3 Buncis ,67 6,22 6,53 6,54 4 Sawi ,78 11,35 13,05 13,06 5 Ketimun ,98 16,83 16,85 16,89 6 Terung ,91 5,40 5,42 7,07 7 Kacang Panjang ,45 5,89 5,96 5,99 8 Cabe , , ,47 3,88 3,93 4,16 9 Bawang Merah ,47 5,70 5,82 5,84 10 Bawang Putih ,62 5,93 5, Tomat ,93 13,05 13,78 16,15 12 Temulawak 0,67 3,50 0,69 0,63 0,95 8,18 1,18 1,59 1,42 2,34 1,71 2,52 13 Jahe 4,19 7,89 8,26 8,41 14,79 29,33 32,49 33,24 3,53 3,73 3,93 3,95 14 Laos 2,08 3,24 3,38 3,50 8,03 10,01 10,87 11,27 3,86 3,09 3,22 3,22 15 Kunyit 5,69 5,97 6,08 6,23 17,63 19,35 20,34 20,96 3,10 3,24 3,35 3,37 16 Kejibeling 0,51 0,57 0,71 0,73 0,82 1,05 1,57 1,66 1,61 1,84 2,21 2,27 17 Kapulaga 1,60 5,22 6,35 6,43 2,18 5,88 8,93 9,39 1,36 1,13 1,41 1,46 18 Pisang ,05 0,05 0,06 0,06 19 Jeruk ,13 0,13 0,14 0,15 20 Pepaya ,26 0,26 0,26 0,27 21 Rambutan , , , ,32 0,03 0,04 0,04 0,05 22 Nenas , ,03 0,02 0,03 0,03 23 Alpokat ,03 0,04 0,04 0,04 24 Mangga ,06 0,06 0,06 0,06 25 Duku ,04 0,06 0,07 0,07 26 Durian ,02 0,02 0,02 0,02 Sumber : Agam Dalam Angka Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

63 Selanjutnya tanaman hortikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman rempah/obat dan tanaman hias) yang diusahakan sangat beragam, hampir lima puluh jenis. Buah-buahan yang terbanyak diusahakan adalah pisang, alpukat, jeruk, durian dan rambutan. Sayur-sayuran yang terbanyak diusahakan adalah cabe besar, cabe rawit, buncis, kubis, kembang kol, sawi, bawang daun dan wortel. Tanaman rempah/obat yang terbanyak diusahakan adalah jahe, kunyit, lengkuas dan kapulaga. Tanaman hortikultura diusahakan hampir diseluruh wilayah Kabupaten Agam dan hampir sepanjang tahun. Perkembangan luas tanam dan produksi relatif stabil. Jeruk termasuk tanaman yang peningkatan luas tanam dan produksinya meningkat cukup besar. Komoditi hortikultura umunya dijual dalam bentuk segar, sifat komoditi yang mudah rusak dan tidak tahan lama sehingga menghendaki pemasaran yang cepat dan penanganan pasca panen yang baik. Pemasaran terbuka luas sampai ke propinsi tetangga. 8) Peternakan dan hasil-hasilnya. Pembangunan peternakan ditujukan untuk mendukung program swasembada daging baik nasional maupun regional, meningkatkan ketersedian bahan pangan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Perkembangan produksi peternakan dari tahun dapat dilihat pada Tabel 33. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa populasi sapi dan kerbau dari tahun 2010 ke tahun 2011 menurun kemudian tahun 2012 dan 2013 meningkat kembali. Sedangkan populasi kambing dari tahun 2010 ke tahun 2013 terus menurun. Populasi unggas (ayam pedaging, ayam kampung dan itik ) dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat tetapi tahun 2013 menurun. Perkembangan jumlah usaha peternakan hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa terdapat 26,05 ribu rumah tangga yang mengusahakan peternakan. Ternak yang diusahakan dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu ternak besar, ternak kecil, unggas dan ternak lainnya. Ternak besar dan kecil serta unggas diusahakan hampir di seluruh wilayah Kabupaten Agam. Ternak besar diusahakan terbanyak berturut-turut di Kecamatan Lubuk Basung, Palembayan, Tanjung Mutiara dan Tilatang Kamang. Dilihat dari nilai tukar petani peternakan dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat dari 99,58 menjadi 10,29 tetapi pada tahun 2013 kembali turun menjadi 97,94. Dalam RPJM tahun ditargetkan peternakan dan hasil-hasilnya akan mencapai pertumbuhan 6,2 persen, sampai tahun 2013 pertumbuhan sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya hanya mencapai 3,11 persen, sedangkan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,59 persen. Produksi hasil peternakan terdiri dari daging, susu dan telur serta hasil olahan seperti dendeng. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

64 Tabel 33. Populasi dan Produksi Peternakan Tahun No Komoditi Populasi (Ekor) Produksi Daging (kg) Produksi Telur (kg) Pemotongan (Ekor) Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kuda Kambing Domba Unggas Ayam Pedaging Ayam Petelur Ayam Kampung Itik Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

65 9) Perkebunan. Tanaman perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten Agam cukup beragam, yang dominan adalah kelapa, kelapa sawit, kakao, karet, tebu, pinang dan beberapa jenis lainnya. Menyebar hampir di seluruh wilayah. Perkembangan produksi tanaman perkebunan dapat dilihat pada Tabel 34. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa untuk tanaman kelapa sawit dari tahun 2010 sampai 2013 luas tanam dan produksi meningkat. Kelapa luas tanam juga meningkat dari tahun dengan adanya peremajaan yang dilaksanakan setiap tahun, namun produksi dari tahun 2010 ke tahun 2011 menurun sangat signifikan setelahnya baru meningkat lagi sampai tahun Sementara karet luas tanam terus meningkat, namun produksi dari tahun 2011 ke tahun 2012 produksi menurun drastis setelahnya ke tahun 2013 baru meningkat lagi. Hal ini dapat disebabkan karena banyakknya tanaman yang rusak dan sudah tua serta bibit yang digunakan merupakan bibit yang tidak bersertifiasi sehingga peningkatan produksi tidak optimal. Selanjutnya kakao dimana baik luas tanam maupun produksi dari tahun 2010 ke tahun 2013 terus meningkat. Kakao di Kabupaten Agam merupakan kebun rakyat sehingga untuk mencapai kualitas hasil yang baik memerlukan upaya yang konsisten. Untuk pengolahan komoditi perkebunan masih tradisional dimana belum banyak petani yang mengolah hasil kebun mereka dengan baik, dan mereka menjual hasil kebun dalam bentuk buah segar sehingga harga dipasaran relatif rendah. Dalam pemasaran hasil perkebunan dipasarkan ke Pulau Jawa, Sumatera Utara, Propinsi Riau dan Kabupaten/Kota se Sumatera Barat. Kalau dilihat dari segi nilai tukar petani perkebunan, sub sektor perkebunan mempunyai NTP diatas 100 dan dari tahun 2010 sampai tahun 2013 terjadi peningkatan. Tahun 2010 NTP sub sektor ini sebesar 125,68 sampai tahun 2013 sudah mencapai 132,63, hal ini menunjukkan bahwa usaha perkebunan lebih menguntungkan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

66 NO Komoditi Tabel 34. Produksi dan Produktifitas Tanaman Perkebunan Luas Tanam (Ha) Produksi (Ton) Produktifitas ( Ton / Ha) Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) Kelapa , ,49 0,995 1,223 1,287 1,000 0,54 2 Kelapa sawit , ,87 7,258 7,509 8,227 8,280 14,09 3 Karet , ,59 0,708 0,722 0,820 1,055 49,11 4 Cengkeh , ,84 0,509 0,517 0,609 1, ,68 5 Kulit Manis (11,71) ,96 1,087 1,223 1,484 1,055 (2,97) 6 Kopi , (5,10) 1,103 0,887 1,104 1,190 7,92 7 Gardamunggu , (3,85) 0,474 0,436 0,538 0,945 99,54 8 Pinang , ,76 0,303 0,308 0,323 0,334 10,17 9 Kakao , ,31 1,281 1,330 1,355 0,517 (59,62) 10 Pala , ,32 0,220 0,222 0, ,60 11 Tebu , (7,48) 6,899 6,888 7,462 1,600 (76,81) 12 Tembakau , ,154 1,470 1,830 1,870 62,07 13 Gambir (1,6) (3,85) 0,551 0,551 0,551 1, ,49 14 Enau , ,945 - Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2013 Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

67 10) Kehutanan. Hutan merupakan sumber daya alam yang berfungsi sebagai daya dukung lingkungan hidup juga memiliki banyak nilai ekonomi. Potensi ekonomi hasil sumber daya hutan dikelompokkan menjadi kayu dan non kayu. Beberapa jenis hasil hutan berupa kayu yang terdapat di Kabupaten Agam adalah mahoni, surian, bayua, medang, sengon dan jabon yang menyebar di 15 kecamatan. Hasil hutan non kayu diantaranya adalah jamur, sarang walet, rotan, manau, gaharu, lebah madu, aren, kemenyan dan kemiri. Pengelolaan sumber daya hutan oleh masyarakat dilihat pada Tabel 35 sebagai berikut : Nomor 1 Tabel 35. Luas Hutan Kayu dan Hutan Non Kayu per Kecamatan Kecamatan Tanjung Mutiara Luas hutan kayu rakyat 165 Hasil hutan non kayu Sarang walet, Gaharu (516 batang), Lebah madu (30 STUP) 2 Lubuk Basung 168 Jamur, lebah madu 3 IV Nagari 291 Sarang walet, Gaharu 4 Tanjung Raya 266 Rotan, Manau, gaharu 5 Matur IV Koto Malalak 126 Rotan, Manau 8 Banuhampu Sungai Pua IV Angkek Canduang Baso 222 Sarang walet Tilatang Kamang Kamang Magek 15 Palembayan Aren, Kemenyan 246 Jamur, Rotan, Manau 16 Palupuah 159 Aren. Suber : Renstra Teknokratik Dinas HUTBUN. Sarang Walet, Rotan, Manau, Keterangan Terdapat 21 rumah walet Terdapat 3 kelompok budidaya jamur dapat Produk dalam bentuk gula aren, ijuk, kolang kaling, kemenyan belum di olah. Produk dalam bentuk gula aren, ijuk, kolang kaling Untuk pengamanan hutan dilaksanakan oleh Personil Polisi Hutan yang berjumlah 75 orang. Dibanding luas hutan yang ada jumlah ini dirasakan masih sangat kurang. Oleh karena itu pengawasan dibantu oleh masyarakat melalui program pengamanan hutan berbasis nagari. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

68 Sampai tahun 2013 telah dilaksanakan seluas Ha atau 79,3 persen dari target RPJM tahun 2015, berlokasi di Kecamatan Ampek Nagari, IV Koto, Kamang Magek, Tilatang Kamang, Palembayan, Tanjung Raya, Matur dan Palupuah. Reboisasi sudah mencapai ha, pemeliharaan hutan rakyat dan penanaman hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Mutiara. Pembuatan bangunan konservasi, pengamanan hutan dan penatausahaan hasil hutan. 11) Perikanan dan Kelautan. Usaha perikanan di Kabupaten Agam terdiri dari perikanan budidaya dan tangkap, mempunyai potensi yang sangat besar yaitu laut, danau dan perairan umum lainnya, menebar hamir di seluruh wilayah. Tabel 36 di bawah ini menggambarkan potensi perikanan di Kabupaten Agam kondisi tahun Tabel 36. Potensi Perikanan dan Kelautan Tahun 2013 No Uraian Potensi Perairan Umum - Danau Maninjau - Sungai Kolam - Kolam air tenang - Kolam air deras - Keramba irigasi Keramba Jaring Apung produksi : ton Mina Padi Mina Kebun Rakyat ha. 217,2 ha ha 479 unit 1000 unit Potensi yang sudah dimanfaatkan 621 ha, 307 unit 52 unit petak petak ha 180 ha 5. Usaha Pembenihan Ikan Rakyat (UPR) : 150,56 Ha 6. Jumlah pembudidaya KK 460 ha 2,8 ha 95, 61 Ha 177 unit 7. Kelautan : - Pantai - Laut 43 km 313,04 km 8. Jumlah Nelayan orang Sumber Dinas Kelautan dan Perikanan Perkembangan produksi perikanan dan kelautan tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat dari Tabel 37 dibawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

69 No 1. Tabel 37 Produksi Perikanan dan Kelautan Tahun Uraian Perikanan tangkap ( ikan laut ) Jumlah Produksi ( ton ) , , , ,90 2. Perikanan budidaya , , , ,24 3. Perairan umum 182,50 185,25 226,60 239,60 Sumber Agam Dalam Angka, Dari tabel diatas terlihat bahwa produksi perikanan di dominasi oleh perikanan budidaya yang dikembangkan fokus di danau Maninjau sebagai pusat Kawasan Minapolitan. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi perikanan budidaya menurun signifikan karena eksploitasi pengembangan KJA di Danau Maninjau yang tidak mempedomani daya dukung danau sudah mendatangkan dampak penurunan kualitas air danau yang berakibat pada kematian ikan. Karena itu pengembangan budidaya di danau sudah harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun Di lain pihak potensi sumber daya perairan umum yang sangat luas belum dimanfaatkan secara optimal seperti kolam, sungai, mina padi dan mina kebun rakyat. Potensi ini terbesar terdapat di Kecamatan Lubuk Basung, Tilatang Kamang dan Kamang Magek. Untuk itu telah dilakukan revitalisasi kolam-kolam rakyat terlantar dan pencetakan kolam-kolam baru yang diiringi dengan penyediaan benih unggul baik yang didatangkan ataupun yang diproduksi sendiri melalui BBI dan UPR, yang didukung dengan pembangunan infrastruktur seperti irigasi, jalan produksi, fasilitas bongkar muat ikan di kawasan Minapolitan, peningkatan sarana prasarana BBI dan UPR. Demikian juga dengan potensi perikanan tangkap yang difokuskan di Kecamatan Tanjung Mutiara, meskipun produksinya dari tahun 2011 sampai tahun 2013 meningkat, namun masih jauh dibandingkan dengan potensi yang ada. Untuk itu telah dilakukan revitalisasi alat-alat tangkap yang lebih modern, bantuan motor untuk nelayan dayung, peningkatan pelayanan PPI dan pabrik es di Tiku serta bantuan sarana prasarana pemasaran. Sementara untuk meningkatkan kesejahteraan petani ikan dan nelayan melalui kepastian usaha telah dilakukan sertifikasi lahan milik nelayan sebanyak 150 unit. Disamping pembangunan dan bantuan sarana prasarana dilakukan juga pendampingan dan pembinaan budidaya dan pengolahan ikan yang baik dengan program PUMP budidaya, PUMP tangkap dan PUMP pengolahan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

70 Dalam RPJM Kabupaten Agam tahun ditargetkan pertumbuhan sub sektor perikanan mencapai 6,7 persen di tahun Dari tahun 2011 pertumbuhan sub sektor ini meningkat terus sampai tahun 2013 yaitu 7,43 persen tahun 2011, 8,94 persen di tahun 2012 dan 9,40 persen pada tahun ) Produk Unggulan. Untuk lebih memfokuskan pengembangan komoditi yang sangat beragam dan untuk lebih meningkatkan daya saing produk telah ditetapkan produk unggulan daerah dengan Surat Keputusan Bupati Agam Nomor.. tahun Penetapan produk unggulan daerah memenuhi beberaa kriteria yaitu : a) Dimiliki dan dikuasai daerah, artinya bahwa produk yang dihasilkan sulit sekali untuk ditiru oleh competitor karena memiliki kekhasan dalam sumberdaya, baik berupa bahan baku yang digunakan dan dihasilkan sendiri, dan atau dimilikinya sumberdaya manusia terampil yang memproses produksi dengan kekhususan keterampilan yang mengakar turun temurun atau telah menjadi bagian dari budaya kehidupan masyarakat setempat. b) Memiliki nilai ekonomis, dalam hal ini produk yang dihasilkan merupakan hasil karya masyarakat setempat, sehingga apabila komunitas yang memiliki keahlian sejenis tersebut berkolaborasi dan bekerjasama dalam membangun entitas bisnisnya, maka akan dicapai suatu sekala ekonomis yang tinggi (volume produksi yang besar secara agregat equivalent cost leadership). c) Berdaya saing tinggi, produk hendaknya memiliki keunikan yang dapat membedakan dari produk sejenis atau produk subsitusinya atau memang benar benar berbeda dari produk yang ditawarkan kepada konsumen, antara lain dapat berupa; baik mutu, jenis, bentuk, rasa, biaya, atau lainnya, maka nilai keunikan tersebut memberikan makna differentiated, artinya produk yang dihasilkan masyarakat setempat atau local daerah memiliki perbedaan yang unik dibandingkan pesaing sejenisnya atau produk subsitusinya. d) Serapan Tenaga Kerja tinggi, keberadaan porduk unggulan daerah mampu memberi dan membuka lapangan pekerjaan, karena memiliki keunikan dan sesuai dengan need and wants pasar, maka keberlanjutan dan tumbuh kembang produk sangat dimungkinkan. e) Diproduksi dengan kelayakan tehnis (bahan baku dan pasar), jika sebuah produk ingin tetap eksis dipasar dunia, maka suka tidak suka, dan mau tidak mau harus mencari tahu dan mendapatkan masukkan penggunaan teknologi Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

71 yang lebih baik dan lebih efisien dari sebelumnya. Disinilah peran pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memainkan peran yang sangat strategis. f) Talenta dan kelembagaan masyarakat setempat (sumberdaya manusia, teknologi, dukungan infrastruktur, kondisi sosial budaya lokal), artinya manusia yang memproduksi produk berkembang kapasitas dan kapabilitasnya dengan memanfaatkan dan dikembangkan dengan bantuan teknologi. 13) Ketahanan Pangan Secara nasional target sasaran pembangunan ketahanan pangan adalah mencapai surplus beras 10 juta ton, mengurangi konsumsi beras 1,5 kg/kapita, produktifitas jagung 5,4 ton/hektar, produktifitas kedelai 1,5 ton/hektar dan konsumsi daging 7,6 kg/kapita/tahun pada tahun Untuk Kabupaten Agam sendiri dalam rangka mendukung pencapaian target nasional tersebut sesuai dengan RPJM ditargetkan produksi padi mencapai ton pada tahun 2015, jagung ton (produktifitas jagung sudah mencapai 7,6 ton/hektar). Terkait ketersediaan dan keragaman bahan pangan untuk kebutuhan daerah sendiri cukup tersedia, bahkan dari segi jumlah produksi terdapat surplus. Tetapi dalam konteks ketahanan pangan nasional dan regional daerah tetap dituntut untuk meningkatkan produksi bahan pangan. Dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan dilaksanakan dengan sebelas agenda yaitu : 1) Agam Menyemai, 2) Sempurnakan pola konsumsi masyarakat, 3) Pemberdayaan rumah tangga petani melalui panca daya, 4) Diversifikasi dan sosialisasi, 5) Perkuat kelembagaan pembina petani, 6) Rasionalisasi target produksi, 7) Revitalisasi penyuluh, 8) Perkuat aksesibilitas dan stabilisasi harga, 9) Amankan dan jaga mutu pangan masyarakat, 10) Tingkatkan nilai tambah produk pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan dan 11) Perkaya program kegiatan Nasional dan Regional. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur ketahanan pangan adalah : konsumsi beras perkapita per tahun, konsumsi daging perkapita pertahun, konsumsi ikan perkapita pertahun, skor PPH, kasus-kasus kekurangan gizi, dan kasus-kasus keracunan makanan. Tabel 47 berikut ini menunjukkan capaiam pembangunan bidang ketahanan pangan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

72 Tabel 38. Capaian Indikator Ketahanan Pangan Tahun No Indikator Target Konsumsi beras perkapita pertahun. Konsumsi daging perkapita pertahun. Konsumsi ikan perkapita pertahun Skor Pola Pangan Haraan Kasus gizi kurang/gizi buruk Kasus keracunan makanan ,2 4,4 3,75 19,75 22,25 25, , , Dari tabel diatas terlihat bahwa program pengurangan konsumsi beras 1,5 kg/kapita/tahun yang dicanangkan secara nasional belum berhasil. Hal ini sangat terkait dengan kebiasaan orang Minang khususnya orang Agam yaitu belum kenyang kalau belum makan nasi. Disamping itu beras juga digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis makanan olahan. Terhadap konsumsi daging justru menurun namun diimbangi dengan peningkatan konsumsi ikan. Tabel 39 menggambarkan perkembangan produksi, ketersediaan dan kebutuhan bahan pangan tahun Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk ketersediaan bahan pangan utama untuk konsumsi cukup tersedia bahkan surplus, kecuali kacang hijau dan kedelai yang masih perlu diimpor. Daging ada tahun 2011 kita kekurangan, tetapi tahun 2012 dan 2013 terdapat surplus. Terhadap kasus-kasus keracunan makanan tidak tercatat adanya laporan, hal ini mengindikasikan bahwa pangan yang tersedia cukup aman walaupun masih ditemukan bahan pangan yang menggunakan bahan kimia yang dilarang tetapi belum sampai menyebabkan keracunan, namun perlu diwaspadai dampaknya dalam jangka panjang yang dapat menjadi pemicu bermacam penyakit. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

73 Tabel 39. Produiksi, Ketersediaan, Kebutuhan dan Surplus Bahan Pangan Utama Tahun (Ton ) No Bahan Pangan Produksi Ketersedi aan Kebutuhan Surplus Produksi Keterse diaan Kebutuhan Surplus Produksi Ketersedi aan Kebutuhan Surplus 1 Padi 2 Jagung , Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang hijau (125) (112) (115) 7 Kedelai (70) (25) 8 Sayur-sayuran Buah-buahan Daging (338) Telur Susu Sumber : Sumatera Barat Dalam Angka tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

74 2.3. Capaian Kinerja Fokus Kesejahteraan Masyarakat. Analisis capaian kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat berhubungan dengan capaian Indek Pembangunan Manusia (IPM). Indikator penentuan IPM meliputi indikator bidang pendidikan yaitu angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni dan bidang kesehatan yaitu angka kelangsungan hidup bayi serta angka usia harapan hidup. IPM Kabupaten Agam dari tahun 2007 sampai tahun 2013 terus meningkat berada diatas rata-rata Nasional, dibandingkan dengan kabupaten/kota di tingkat Provinsi Sumatera Barat berada pada posisi ke 9, sedangkan pada tingkat kabupaten se Sumatera Barat Kabupaten Agam berada pada posisi ke 2. Hal ini dapat terlihat pada Grafik II. 8 berikut : Grafik 10. Perbandingan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Capaian Bidang Pendidikan 1) Angka Melek Huruf Angka Melek huruf selama 4 tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan. Pada Tahun 2010 sebesar 99.35% sampai Tahun 2013 telah mencapai 99,79%. Dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Nasional angka melek huruf Kabupaten Agam cukup baik dimana tingkat Provinsi Sumatera Barat mencapai 96,67 dan angka nasional sebesar 93,25 pada tahun Perkembangan angka melek huruf Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 disajikan pada tabel, sebagai berikut Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

75 Tabel 40. Angka Melek Huruf Tahun No Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis 298, Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas 300, Angka Melek Huruf Dari tabel diatas terlihat pada tahun 2013 masih terdapat 423 orang atau 0,15 persen penduduk berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis, dibanding Tahun 2012 terjadi penurunan dimana penduduk yang belum bisa membaca dan menulis sebanyak 672 orang atau 0,21 persen penduduk berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis. No. Tabel 41. Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan tahun Kecamatan Penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa baca dan tulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf 1 Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Kabupaten Agam Sumber : Profil Pendidikan Tahun 2013 Berdasarkan data perkecamatan, angka melek huruf yang sudah mencapai 100% yaitu Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Tilatang Kamang. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

76 Sedangkan kecamatan masih tinggi penduduk yang berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis adalah : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak dan Kecamatan Palupuh. 2) Angka Rata-Rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan formal yang dicapai oleh masyarakat suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki. Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Agam Tahun 2010 s/d 2013 terlihat pada grafik berikut : Grafik 11. Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Tahun Berdasarkan grafik diatas terlihat angka rata-rata lama sekolah pada Tahun 2010 adalah sebesar 8,3 tahun. Pada tahun 2011, menunjukkan peningkatan menjadi 8,50 dan pada tahun 2012 telah mencapai 8.60 tahun dari target sebesar 8,58 tahun. Sedangkan pada tahun 2013 rata rata lama sekolah Kabupaten Agam mencapai 8,72 tahun dan ditargetkan pada tahun 2015 telah tercapai rata rata lama sekolah 9 tahun sebagaimana program yang dicanangkan yakni wajib belajar pendidian dasar 9 tahun atau hingga kelas 3 SLTP. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

77 Dari 16 kecamatan yang ada, belum satupun kecamatan yang sudah mencapai Angka rata-rata lama sekolah 9 Tahun. Beberapa kecamatan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan dan Kecamatan Palupuah. 3) Angka Partisipasi Kasar ( APK ) dan Angka Partisipasi Murni (APM) APK didefinisikan sebagai proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu dalam kelompok usia yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut terhadap penduduk pada kelompok usia tertentu. Digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya. Jika nilai APK mendekati atau lebih dari 100 persen menunjukkan bahwa menunjukkan ada penduduk yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih daripada target yang sesungguhnya. Angka Partisipasi Murni didefinisikan sebagai proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya terhadap seluruh anak pada kelompok usia tersebut. Sejak tahun 2009, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B dan Paket C) turut diperhitungkan. Manfaat pengukuran APM adalah untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat pada waktunya. Tabel Tabel 43 memperlihatkan perkembangan APK dan APM Kabupaten Agam tahun Tabel 42. Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni NO Tahun Tingkat SD/MI Tingkat SLTP/MTs Tingkat SMA/MA APK APM APK APM APK APM ,87 91, ,14 83,07 64, ,92 91, ,52 84,20 71, ,07 91,47 97,03 80,78 85,60 72, ,87 92,71 98,04 81,05 87,43 73,03 Sumber : Data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

78 4) Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS menunjukkan besaran penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah. APS merupakan ukuran daya serap, pemerataan dan akses terhadap pendidikan khususnya penduduk usia sekolah. APS terdiri dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan, sedangkan APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi Angka Partisipasi Sekolah semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Angka partisipasi sekolah Kabupaten Agam dari Tahun 2010 s.d 2013 menunjukan kecenderungan peningkatan, ini berarti semakin kecil prosentase penduduk yang tidak bersekolah. Selengkapnya data APS dapat disajikan sbb : Tabel 43. Angka Partisipasi Sekolah Tahun Angka APS Usia Usia Usia Berdasarkan tabel diatas, pada Tahun 2013 masih ada 1.98 persen penduduk Kabupaten Agam berusia 7-12 yang tidak bersekolah, sedangkan penduduk usia yang tidak bersekolah sebesar 0.8 persen dan penduduk usia yang tidak bersekolah sebesar persen. 5) Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah dan Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas Pembangunan pendidikan ditinjau dari ketersedian sekolah terlihat bahwa pada tingkat Sekolah Dasar/MI dari jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun pada Tahun 2013 sebanyak 58,004 orang dengan jumlah sekolah 454 unit, hal ini menunjukan bahwa ratarata satu SD menampung 128 murid. Rasio murid per kelas diketahui perbanding jumlah kelas dengan jumlah murid yaitu jumlah kelas sebanyak 3,132 sedang jumlah murid sebanyak 62,418 orang berarti satu kelas menampung rata-rata 20 murid, merupakan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

79 kondisi yang ideal, menunjukkan bahwa untuk tingkat SD tidak diperlukan lagi penambahan sarana pendidikan. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama pada Tahun 2013 dari jumlah penduduk kelompok usia tahun sebanyak 27,224 orang dengan jumlah sekolah 120 unit, hal ini menunjukan satu sekolah menampung 227 siswa dengan rasio murid per kelas mencapai 24 orang. Selanjutnya untuk tingkat pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas tidak jauh beda dengan kondisi Sekolah Menengah Pertama, dimana Rasio murid per kelas merupakan indikator yang menunjukkan banyaknya murid yang mengikuti pendidikan untuk setiap kelas mencapai 25 orang. Lebih jelasnya perkembangan rasio ketersedian sekolah dengan penduduk usia sekolah dan rasio murid dengan ketersedian jumlah kelas per jenjang pendidikan tahun tergambar pada tabel berikut: Tabel 44. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. Jumlah gedung sekolah Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 60,767 59,174 59,400 58, Rasio SMP/MTs 2.1. Jumlah gedung sekolah Jumlah penduduk kelompok usia tahun 27,052 26,220 26,631 27, Rasio SLTA 3.1 Jumlah gedung sekolah Jumlah penduduk kelompok usia tahun 18,979 19,356 19,832 20, Rasio Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

80 Tabel 45. Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas per Jenjang Pendidikan Tahun No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. Kelas/Rombel 3,052 3,085 3,180 3, Jumlah Murid 62,932 62,176 62,418 61, Rasio SMP/MTs 2.1. Kelas/Rombel 881 1, , Jumlah Murid 25,132 25,100 25,805 26, Rasio SLTA 3.1 Kelas/Rombel Jumlah Murid 15,535 16,345 17,035 17, Rasio Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2013 Dari Tabel 45 dan 46. diatas secara rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah dan rasio murid terhadap kelas telah terpenuhi, namun dari segi pemerataan dan keterjangkauan akses sarana pendidikan masih belum memadai, hal tersebut tercermin dari belum terpenuhinya standar SPM terkait jarak yakni 10 persen sarana pendidikan masih memiliki jarak lebih dari 3 Km untuk SD dan lebih dari 6 km untuk sekolah SLTP dari pemukiman permanen. Untuk itu perlu dipertimbangkan untuk penambahan sarana sekolah khususnya untuk daerah terpencil. 6) Rasio Guru/Murid Disamping faktor ketersediaan sarana gedung sekolah, faktor lain yang sangat menentukan dalam pembangunan bidang pendidikan adalah ketersediaan guru untuk masing-masing jenjang pendidikan. Rasio guru dengan murid untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami perkembangan yang berfluktuasi, pada Tahun 2013 rasionya 14,72. Sementara itu rasio guru terhadap murid untuk jenjang pendidikan SMP/MTs tahun 2013 rasionya mencapai 8.89, dan untuk jenjang pendidikan SLTA/MA rasionya 7,82. Secara keseluruhan kebutuhan guru dibandingkan dengan jumlah murid masih ideal namun demikian kebutuhan guru untuk bidang tertentu dirasakan masih kurang seperti guru bidang IPA, Bahasa Ingris, dan matematika. Untuk lebih mengetahui rasio guru dan murid untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

81 Tabel 46. Rasio Jumlah Murid terhadap Jumlah Guru per Jenjang Pendidikan Tahun No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. Jumlah Guru 4,320 4,238 4,690 4, Jumlah Murid 62,932 62,176 62,418 61, Rasio SMP/MTs 2.1. Jumlah Guru 2,973 2,933 3,084 2, Jumlah Murid 25,132 25,100 25,805 26, Rasio SLTA/MA 3.1 Jumlah Guru 2,021 2,181 2,283 2, Jumlah Murid 15,535 16,345 17,035 17, Rasio Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun ) Angka Putus Sekolah ( APS ) Angka putus sekolah merupakan proporsi anak menurut kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. APS dapat digunakan untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada masing-masing kelompok umur (7-12, dan tahun). Perkembangan angka putus sekolah Kab. Agam pada masing masing jenjang pendidikan dalam kurun waktu dapat disajikan sbb : Tabel 47. Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun Jenjang Nomor Pendidikan 1 SD/MI 0,17 0,12 0,10 0,11 2 SMP/MTs 1,21 0,11 0,11 0,09 3 SMA/SMK 1,04 0,63 0,63 0,24 Dari jumlah siswa SD/MI Tahun 2013 sebanyak orang diantaranya 64 orang putus sekolah atau 0,11%. Angka ini dibandingkan Angka putus sekolah SD/MI pada Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

82 2012 terdapat kenaikan sebesar 0,01%. Berdasarkan angka putus sekolah SD/MI perkecamatan angka putus sekolah terbanyak di Keamatan Malalak, Palembayan dan Ampek Nagari. Selengkapnya data putus sekolah perkecamatan pada tahun ajaran dan sebagimana disajikan pada Tabael di bawah ini : Tabel 48. Angka Putus Sekolah Menurut Kecamatan Tahun No. Kecamatan Jumlah anak putus sekolah tahun 2011/2012 Jumlah anak putus sekolah tahun 2012/ Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh 4 12 Kabupaten Agam Sumber : Profil Pendidikan Tahun 2013 Pada tingkat SLTP jumlah siswa tahun 2013 sebesar orang dan sebanyak 22 orang putus sekolah atau sebesar 0,09%. Dibandingkan Tahun 2012 terdapat penurunan dimana jumlah siswa sebesar orang, sebanyak orang mengalami putus sekolah atau sekitar 0.11%. Angka Putus Sekolah tingkat SLTA pada Tahun 2013 juga mengalami penurunan dibandingkan tahun Dimana Jumlah siswa SMA/SMK/MA pada Tahun 2013 sebanyak orang yang putus sekolah sebanyak 43 orang atau 0,24%, sedangkan pada tahun 2012 dari siswa sebesar orang sebanyak 103 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 0,63%. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

83 8) Angka Kelulusan Angka kelulusan untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMA/SMK pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2012, tapi untuk jenjang pendidikan SMP/MTsN justru mengalami penurunan. Persentase siswa SD/MI yang lulus sebesar 99,97% meningkat dibandingkan dengan persentase kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99,89%. Persentase siswa SMP/MTsN yang lulus pada tahun 2013 sebesar 99.06% mengalami penurunan dibanding capaian kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99.55%. Sedangkan persentase siswa SMA/SMK yang lulus sebesar 99.82% meningkat dibanding kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99.13%. Tabel 49. Angka Kelulusan Menurut Jenjang Pendidikan Tahun Nomor Jenjang Pendidian SD/MI 99,07 99,90 99,89 99,97 2 SMP/MTs 92,07 99,59 99,55 99,06 3 SMA/SMK 86,05 95,30 99,13 99,82 Sumber Profil Pendidikan tahun ) Angka Melanjutkan Sekolah. Dari sebanyak orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SD/MI, maka sebanyak orang atau sekitar persen melanjutkan ke jenjang pendidikan setingkat SMP/MTs. Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs melebihi 100 persen karena banyaknya anak lulusan SD/MI pada tahun sebelumnya yang baru melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP/MTs pada tahun berikutnya dan banyaknya lulusan SD/MI di luar daerah yang melanjutkan sekolah di SMP/MTs di Kabupaten Agam sehingga terjadi peningkatan angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs. Selanjutnya dari sebanyak orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SMP/MTs, maka sebanyak orang atau 87,60 persen melanjutkan ke jenjeng pendidikan setingkat SMA/SMK/MA Tabel 50. Angka Melanjutkan Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun Indikator Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs 99,97 102,57 102,83 102,96 Angka melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/MA 80,03 86,20 87,60 87,74 Sumber: Dinas Kesehatan 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

84 10) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan anak usia 4-6 tahun telah dikembangkan melalui jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak dan tempat penitipan anak. Jumlah penduduk usia 4-6 tahun pada akhir tahun 2013 adalah sebesar orang dan sebanyak orang atau sekitar 24,17% telah mendapatkan dan mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini. Sesuai RPJM ditargetkan 1 jorong 1 PAUD (467 unit). Kondisi sarana sekolah PAUD yang tersedia sampai dengan tahun 2013 masih sangat minim yakni sebanyak 265 buah, terdiri dari 3 unit lembaga PAUD Negeri dan 262 unit Swasta, dengan kriteria akreditasi A sebanyak 3 unit, akreditasi B sebanyak 42 unit dan akreditasi C sebanyak 35 buah, sedangkan sisanya sebanyak 185 unit belum terakreditasi. Dilihat dari sisi jumlah tenaga pendidik PAUD, pada tahun 2013 ini telah memadai bila dibandingkan siswa PAUD yang ada saat ini, sesuai Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 tentang standart PAUD, kondisi ideal pendidik PAUD untuk anak usia 4-6 tahun adalah 1 guru untuk maksimal 12 anak. Pada tahun 2013, guru PAUD di Kab. Agam berjumlah 802 orang terdiri dari PNS sebanyak 197 dan non PNS sebanyak 602 orang, sehingga rasio guru PAUD pada saat ini adalah 1: 10, namun demikian apabila dibanding dengan jumlah anak usia PAUD yang seharusnya mendapatkan pendidikan PAUD maka rasio pendidik PAUD masih sangat belum memadai yakni dengan perbandingan rasio 1 pendidik PAUD berbanding 40 anak usia PAUD. Dilihat dari segi kualifikasi pendidikan pendidik PAUD juga belum sesuai standart. Dari 802 pendidik PAUD yang ada memiliki latar belakang pendidikan bervariasi, yakni Sarjana (dengan berbagai jurusan non PAUD) sebanyak 274 orang, Diploma 159 orang, dan SMA sebanyak 369 orang. 142 orang tenaga pendidik PAUD tersebut telah bersertifikasi, sedangkan sisanya sebanyak 660 orang belum bersertifikasi Capaian Bidang Kesehatan 1) Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Agam dari tahun 2010 ke tahun 2013 cenderung menurun. Prevalensi gizi kurang turun dari 11,3 persen pada 2010 menjadi 7,12 persen pada tahun Dan prevalensi gizi buruk pada tahun 2010 sebesar 2.15 persen turun menjadi 0.70 persen pada tahun Namun perkembangan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk per tahunnya cukup flukfuatif. Hal ini disebabkan diantaranya karena adanya peningkatan status balita gizi buruk menjadi gizi kurang dan perubahan perilaku masyarakat tentang konsumsi gizi sebagai dampak dari penyuluhan tentang gizi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan. Perkembangan prevalensi gizi kurang Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

85 2 dan gizi buruk di Kabupaten Agam selengkapnya dapat disajikan pada Tabel 52. sebagai berikut : Tabel 51. Perkembangan Kondisi Balita Tahun 2010 s/d 2013 No Indikator Prevalensi Balita Gizi 1 Buruk Prevalensi Balita Gizi 2 Kurang Persentase Balita 3 Pendek Sumber: Dinas Kesehatan ,15 1,32 2,21 0,70 11,3 6,31 7,98 7,12 32,2 18,4 25,7 17,2 Apabila dilihat perkembangan kondisi balita perkecamatan dari tahun 2010 sampai tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 53. sebagai berikut : No Tabel 52 Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Menurut Kecamatan Tahun Kecamatan Jumlah balita gizi kurang Jumlah balita gizi buruk Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Jumlah Persentase terhadap jumlah balita Sumber : Profil kesehatan Tahun 2013 Dari tabel diatas terdapat beberapa kecamatan yang perlu diwaspadai terkait dengan tingginya persentase balita dengan gizi kurang dan gizi buruk i yaitu : Kecamatan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

86 Palembayan, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Palupuh, Kecamatan Kamang Magek, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Tanjung Mutiara dan Kecamatan Malalak. 2) Angka Usia Harapan Hidup. Angka usia harapan hidup merupakan indikator makro keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun yang dimulai pada tahun 1970, angka usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Agam cenderung meningkat. Pada sensus tahun 1970 angka harapan hidup sekitar 47,7 tahun, maka pada sensus tahun 1980 meningkat menjadi 52,2 tahun, sensus tahun 1990 meningkat lagi menjadi 59,8 tahun dan sensus tahun 2000 menjadi 65,5 tahun. Pada Tahun 2012 angka harapan hidup sudah mencapai angka 69,99 tahun.namun pada tahun 2013 terjadi penurunan angka harapan hidup menjadi 69,43. Perkembangan angka usia harapan hidup Kabupaten Agam pada tahun 2010 sampai 2012 terlihat pada Grafik berikut. Grafik 12. Angka Usia Harapan Hidup Pada tahun 2013, angka harapan hidup di Kabupaten Agam sebesar 69,99 tahun, sama dengan tahun 2012, sedangkan target tahun 2013 adalah 70,60 tahun, sehingga target RPJMD tahun 2013 tidak tercapai. 3) Angka Kematian Bayi ( AKB ) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kematian bayi perempuan lebih banyak dari bayi laki-laki ( 60 persen ). Tetapi pada balita perbandingan kematian balita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, yaitu 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat Tabel berikut ini: Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

87 No Tabel 53. Jumlah Kematian Bayi Dan Balita menurut Kecamatan Tahun Kecamatan Jumlah Kematian Bayi Jumlah Kematian Balita Baso Ampek Angkek Candung Tilatang Kamang Kamang Magek Palupuah Banuhampu Sungai Pua IV koto Malalak Matur Palembayan Tanjung raya Lubuk basung Ampek Nagari Tanjung mutiara Kab. Agam Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2010 s.d 2013 Angka Kematian Bayi (AKB) menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka programprogram untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

88 4) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka kematian ibu per kelahiran hidup dalam kurun 4 tahun terakhir ( ) cenderung menurun yakni dari 150 pada tahun 2010 menjadi 74,8 pada Hal ini merupakan dampak dari upaya intensif untuk menurunkan angka kematian ibu, antara lain peningkatan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, kunjungan ibu hamil K1 K4 dan pelayanan ibu nifas. Perkembangan Angka kematian ibu dan faktor faktor yang mempengaruhinya dari kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 sebagaimana tersaji pada tabel dibawah ini : Tabel 54. Angka Kematian Ibu Melahirkan Tahun Uraian Angka kematian ibu per kelahiran hidup Cakupan Kelahiran yang ditolong nakes ,4 74,8 72,5 % 78,4 % 81,1 % 82,5 % Kunjungan Ibu Hamil K-4 66,9 % 75,7 % 76,6 % 83,1 % Pelayanan Ibu Nifas 64,7 % 73,5 % 78,6 % 77,5 % Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Agam Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa meskipun dalam kurun waktu tahun 2010 s.d tahun 2013 Angka kematian ibu cenderung menurun namun pada Tahun 2014 angka kematian ibu naik significant yakni mencapai per kelahiran hidup. Hal tersebut berbanding lurus dengan menurunnya cakupan kelahiran yang ditolong nakes dari 82.5 pada tahun 2013 menjadi 74.4 pada tahun 2014, demikian halnya dengan kunjungan ibu hamil K1 K4 menurun dari 83.1 di tahun 2013 menjadi 70.1 pada tahun 2014 dan Pelayanan ibu nifas juga menurun dari 77.5 di tahun 2013 menjadi 75.9 pada tahun ) Cakupan Jorong Universal Child Immunization (UCI) Cakupan jorong dengan Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2013 sangat mengembirakan dimana telah mencapai 72,6 persen, sedangkan pada tahun 2010 baru mencapai 55,6 persen. Selengkapnya perkembangan Cakupan jorong Universal Child Immunization (UCI) sebagaimana tabel dibawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

89 Tabel 55. Jorong UCI Tahun Uraian Jumlah Jorong Jorong UCI Persentase 55.6% 80% 89% 72.6%, Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Agam 6) Cakupan Gizi Buruk Mendapat Perawatan Terkait dengan penanganan dan perawatan balita yang menderita gizi buruk, hingga saat ini dapat ditangani dengan baik. Hal ini terlihat dari cakupan penanganan dan perawatan balita penderita gizi buruk selama 5 tahun dimana semua balita yang menderita gizi buruk telah mendapat perawatan yang intensif (100% Balita Gizi Buruk perawatan setiap tahunnya). 7) Rasio Posyandu per Satuan Balita mendapat Pos pelayanan terpadu (Posyandu) merupakan ujung tombak pelayanan dan pemeriksaan kesehatan khususnya bagi ibu dan bayi yang dikelola oleh kader posyandu yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri. Di Posyandu tersedia layanan pemeriksaan kehamilan, penimbangan bayi, imunisasi, pemberian makanan tambahan dan juga penyuluhan kesehatan. Sesuai standart kondisi ideal rasio posyandu per balita adalah 1 posyandu berbanding 100 balita. Berdasakan hal tersebut rasio posyandu di Kabupaten Agam adalah masih memadai sebagaimana tersaji dalam tabel di bawah ini: Tabel 56. Jumlah Posyandu dan Balita Tahun No. Uraian Jumlah Posyandu Jumlah Balita 47,904 45,650 46,159 46,697 3 Rasio Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun ) Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu per satuan Penduduk Berdasarkan rasio Puskesmas terhadap penduduk, jumlah Puskesmas di Kabupaten Agam sudah mencukupi. Artinya dengan jumlah penduduk sebanyak jiwa dengan jumlah Puskesmas 22 unit, maka 1 Puskesmas akan melayani jiwa penduduk, sedangkan standar nasional 1 Puskesmas idealnya melayani sebanyak jiwa penduduk. Namun demikian masih perlu dipertimbangkan untuk membangun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

90 Puskesmas pada daerah-daerah tertentu seperti daerah terisolir yang sulit diakses dengan transportasi umum, dan daerah perkebunan. Selanjutnya berdasarkan rasio jumlah Puskesmas Pembantu terhadap jumlah penduduk dapat disimpulkan bahwa jumlah Puskesmas Pembantu sudah mencukupi. Dengan jumlah Puskesmas Pembantu sebanyak 120 unit dan jumlah penduduk sebanyak jiwa, maka 1 Puskesmas Pembantu melayani sebanyak jiwa, sedangkan standar nasional 1 unit Puskesmas Pembantu idealnya melayani jiwa. Sama halnya dengan Puskesmas, maka penambahan Puskesmas Pembantu dapat dilakukan untuk daerah yang sulit dan daerah pemukiman baru. Tabel 57. Jumlah Puskesmas dan Pustu Tahun No Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Pustu Jumlah Penduduk 455, , , ,564 4 Rasio Puskesmas per penduduk ,048 0,047 0,047 5 Rasio Pustu per penduduk ,26 0,26 0,256 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun ) Rasio Dokter per Satuan Penduduk. Perkembangan jumlah dokter selama 4 tahun terakhir cenderung menurun, pada Tahun 2010 jumlah dokter hanya sebanyak 66 orang, pada Tahun 2011 menjadi 59 orang, kemudian Tahun 2012 berkurang menjadi 47 orang. Kekurangan tersebut disebabkan 16 orang dokter melanjutkan pendidikan spesialisasi dan mengambil program S2. Pada tahun 2013 jumlah dokter meningkat Lagi menjadi 66 orang. Berdasarkan Standar Pelayanan Kesehatan Terpadu, idealnya 1 (satu) orang dokter melayani jiwa penduduk. Berdasarkan kondisi tersebut maka dengan jumlah penduduk pada Tahun 2013 sebesar jiwa seharusnya memiliki dokter sebanyak 187 orang. Tabel 58 menunjukkan data Jumlah Dokter Tahun di Kabupaten Agam. Tabel 58. Jumlah Dokter PuskesmasTahun No. Uraian Dokter Spesialis Dokter Umum Jumlah Jumlah Penduduk Rasio/ pddk Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

91 10) Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit TBC/BTA Jumlah penemuan kasus TBC/BTA dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 cenderung menurun, namun angka sukses pengobatan pada tahun 2012 sebesar 89.2 persen juga menurun menjadi 87.5 persen pada tahun Angka sukses pengobatan ini masih dibawah target MDG S sebesar 88 persen. Selengkapnya cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC/BTA (+) pada tahun 2011 sampai dengan 2013 sebagaimana tersaji dalam tabel di bawah ini : Tabel 59. Cakupan Penemuan dan pengobatan penderita TBC/BTA Tahun Uraian Proporsi penemuan TBC/BTA Angka sukses pengobatan (succes rate) % 87.2% 89.2% 87.5% Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam 11) Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Jumlah penemuan penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam kurun waktu cenderung meningkat, bahkan pada tahun 2013 mencapai 225 kasus. Namun demikian CFR penanganan kasus demam berdarah di Kab. Agam sudah cukup bagus, hal ini tercermin dari angka CFR pada yang mencapai angka 0 persen, Artinya semua penderita penyakit DBD dapat ditangani 100 persen setiap tahunnya. Sedangkan pada Tahun 2013 CFR naik menjadi 0.8 persen artinya dari 225 kasus yang ditemukan, terdapat 1 orang penderita meninggal dunia. Tabel 60. Penemuan dan Penanganan Penderita Demam Berdarah Tahun Tahun Jumlah Kasus CFR ( % ) ,8 Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

92 12) Cakupan Kunjungan Bayi Jumlah kunjungan bayi minimal 8 kali selama tahun 2013 adalah sebanyak orang atau 82.7% dari jumlah bayi di tahun 2013 sebanyak bayi. Cakupan ini mengalami peningkatan yang signifikan dibanding tahun 2012 yang hanya sebesar 69.1% dan telah berada diatas target capaian SPM sebesar 80% pada Tabel 61. Cakupan Kunjungan Bayi Tahun Tahun Kunjungan Bayi ( % ) Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam 13) Pelayanan Kesehatan Rujukan Pelayanan kesehatan rujukan di Kab. Agam diselenggarakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung. RSUD Lubuk Basung adalah rumah sakit milik pemerintah daerah kab. Agam dengan klasifikasi tipe C. Capaian kinerja RSUD dalam kurun waktu tahun 2010 sampai dengan 2013 dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini : Indikator Kinerja Tabel 62. Indikator Kinerja Rumah Sakit BOR (%) ALOS (hari) TOI (hari) GDR (%) NDR (%) BTO (kali) Sumber : RSUD Lubuk Basung Bed Occupancy Rate (BOR) adalah indikator tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur, sedangkan Turn Over Interval (TOI) adalah rata rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati/diisi lagi oleh pasien baru. Kedua indikator ini menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

93 RSUD. Dari tahun 2010 sampai dengan 2013 nilai BOR semakin meningkat yakni dari persen pada tahun 2010 meningkat menjadi persen pada 2013, hal tersebut selaras dengan semakin rendahnya nilai TOI yang berarti semakin kecilnya waktu tempat tidur kosong/tidak terisi pasien. Namun demikian capaian tersebut belum mencapai angka standart nasional yakni nilai ideal BOR adalah antara persen, sedangkan standart TOI adalah antara kisaran 1-3 hari. Kemudian dari segi kecukupan sarana prasarana dapat digambarkan dari indikator bed turn over (BTO) yang menggambarkan frekwensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (1 tahun), standart nasional BTO adalah kali pemakaian dalam 1 tahun. Pada tahun 2013 BTO RSUD Lubuk basung mencapai 51 (diatas standart maksimal), ini artinya RSUD masih memerlukan penambahan sarana dan prasarana untuk lebih mengoptimalkan pelayanan. Dari segi mutu pelayanan RSUD dapat diukur dari indikator average length of stay (ALOS) yakni rata2 lama pasien dirawat, Net Death rate (NDR) atau angka kematian pasien setelah 48 jam dirawat untuk tiap 1000 pasien keluar dan gross Death rate (GDR) yakni angka kematian umum untuk 1000 pasien keluar dari RSUD. Angka capaian ketiga indikator mutu tersebut cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun sebagaimana tercantum dalam tabel diatas, namun hal tersebut masih dibawah batas maksimal standart nasional yang diperbolehkan atau dengan kata lain mutu pelayanan RSUD sudah cukup baik. Standart nasional ALOS adalah antara 6-9 hari sedangkan standart NDR yang masih dapat ditoleransi maksimal adalah kurang dari 25 pasien meninggal per 1000 pasien keluar dan standart nasional GDR adalah maksimal 45 orang per 1000 pasien keluar Capaian Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Agam merupakan tantangan tersendiri di bidang layanan administrasi kependudukan. Pada kurun waktu 2010 sampai dengan 2013, layanan administrasi kependudukan memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan, perkembangan rasio penduduk ber KTP pada tahun 2010 yang hanya mencapai 46 persen naik tajam menjadi 84 persen pada tahun Hal tersebut mencerminkan kesadaran penduduk akan pentingnya memiliki dokumen kependudukan dan semakin tertibnya layanan administrasi kependudukan. Untuk mendukung tertib layanan kependudukan tersebut telah didukung dengan Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) sehingga diharapkan akan dapat memperkecil kemungkinan kepemilikan KTP dan kartu keluarga ganda. Pada saat ini Kab. Agam telah membangun jaringan SIAK on line antara Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

94 Dinas Dukcapil di Lubuk Basung dengan Kantor Pusyanmas Jirek, serta operasional SIAK off line di 16 kecamatan. Selain itu kebijakan konsolidasi data secara nasional sudah di tindak lanjuti dengan pelaksanaan perekaman data KTP Elektronik (E-KTP) sejak tahun 2011 secara bertahap. Sampai dengan tahun 2012 cakupan penduduk dengan KTP Nasional berbasis NIK (E-KTP) di Kabupaten Agam telah mencapai orang dan pada tahun 2013 secara bertahap telah diselesaikan perekaman data sebanyak orang, sehingga sampai akhir tahun 2013 jumlah penduduk yang memiliki E-KTP telah mencapai orang atau 69.4 persen dari jumlah penduduk wajib KTP. Tabel 63. Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk No Uraian Jumlah Penduduk ber KTP Jumlah Penduduk ber usia >17 Tahun / sudah menikah. Rasio Penduduk ber KTP per-satuan penduduk Wajib KTP Sumber : Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam Sedangkan cakupan penduduk yang memiliki dokumen akta kelahiran di Kabupaten Agam masih rendah yakni hanya 405 per 1000 penduduk pada tahun Untuk meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki akta kelahiran maka Pemerintah Kabupaten Agam telah membebaskan biaya pengurusan akta kelahiran sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang pelayanan akta gratis. Perkembangan penduduk yang memiliki akta kelahiran dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 64. Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun No Uraian Jumlah Penduduk memiliki Akte Kelahiran Jumlah Penduduk Rasio Kepemilikan Akte Kelahiran per Per 1000 penduduk Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

95 Capaian Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera. Berdasarkan periode Sensus Penduduk tahun , Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Agam mencapai 0.91 persen/tahun. LPP ini masih dalam katagori rendah, namun demikian LPP ini lebih besar lima kali lipat dibandingkan periode sensus sebelumnya ( ) yang hanya sebesar 0,18 persen per tahun. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, salah satu caranya adalah melalui program Keluarga Berencana ( KB ). Melalui Program KB dan Keluarga Sejahtera diupayakan untuk memotivasi Pasangan Usia Subur (PUS) sehingga mau menjadi peserta program KB. Besarnya partisipasi PUS untuk menjadi akseptor KB mengindikasikan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk. Pada kurun waktu 2010 sampai dengan 2013, rasio akseptor KB per 1000 PUS justru mengalami penurunan yakni sebesar pada tahun 2010 menjadi pada tahun Perkembangan Rasio Akseptor KB dan cakupan peserta KB aktif selama tahun sebagaimana disajikan dalam tabel di bawah ini: Tabel 65. Rasio Akseptor KB dan Cakupan Peserta KB aktif Tahun No. Uraian Jumlah Akseptor KB 53, ,697 43,376 2 Jumlah PUS 63, ,169 62, Rasio Akseptor KB/1000 PUS Cakupan peserta KB aktif % 67.53% 68.68% 68.86% Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Agam Penurunan rasio Akseptor KB dan Cakupan peserta KB aktif dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 disebabkan banyak faktor internal dan eksternal, diantaranya penambahan jumlah Pasangan Usia Subur yang kurang diimbangi dengan Sumber daya pendukung program KB dan juga faktor eksternal seperti pengaruh budaya lokal serta adanya beberapa kebijakan nasional yang secara tidak langsung memiliki dampak negatif terhadap program KB. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

96 Capaian Bidang Keluarga Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Tabel 66. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Tahun No. Uraian Keluarga Pra Sejahtera dan KS I 24, Jumlah Keluarga (R.Tangga) 109, Cakupan Pra Sejahtera dan KS I Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten. Agam Capaian Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kabupaten Agam mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan pada kurun waktu Hal ini tercermin dari tingkat partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan yang meningkat tajam dari persen pada tahun 2010 menjadi 65 persen pada tahun 2013, hal ini juga mencerminkan semakin baiknya tingkat pendidikan perempuan. Demikian halnya dengan partisipasi angkatan kerja perempuan yang juga makin meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2013 angka partisipasi angkatan kerja perempuan telah mencapai 92.56, meningkat dibanding tahun 2011 sebesar 92.38, hal ini menunjukan semakin banyaknya perempuan yang bekerja/mandiri. Tabel 67. Pemberdayaan Perempuan Nomor Uraian Rasio KDRT Persentase Partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan. Partisipasi angkatan kerja 3 perempuan Sumber : BPPKB Kab. Agam Namun demikian seiring dengan meningkatnya kemandirian perempuan di ikuti dengan semakin naiknya ratio KDRT dan kasus pengaduan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, yakni rasio KDRT pada tahun 2011 sebesar meningkat menjadi 0.02 pada tahun 2013 dan kasus pengaduan tindak kekerasan dari 5 kasus pada Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

97 2010 menjadi 24 kasus pada Meskipun demikian faktor kemandirian perempuan dan naiknya kasus KDRT tersebut tidak dapat diartikan sebagai hubungan sebab akibat, justru kenaikan ratio KDRT serta kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang didasarkan pada data laporan/pengaduan korban kepada P2TP2A tersebut mencerminkan semakin tingginya keberanian perempuan untuk melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya dan hal ini mengindikasikan semakin baiknya kesadaran pengarusutamaan gender di Kabupaten Agam. Meskipun demikian kenaikan kasus KDRT dan laporan tindak kekerasan tersebut tetap harus mendapatkan perhatian bersama untuk dilakukan upaya meminimalisirnya dan peningkatan perlindungan terhadap hak perempuan dan anak. Tabel 68. Perlindungan Perempuan dan Anak Nomor Uraian Persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur 2 Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan 5 kasus 13 kasus 33 kasus 24 kasus [[ [Sumber [ : BPPKB Kab. Agam Capaian Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Sesuai dengan Permendagri Nomor 54 tahun 2010, indikator di bidang pemerintahan nagari adalah persentase nagari berstatus swasembada terhadap total jumlah nagari. Berdasarkan kriteria/status, dea/nagari diklasifikasikan menjadi tiga level perkembangan yakni nagari swadaya (nagari terbelakang), nagari swakarya ( berkembang ) dan nagari swasembada ( maju ). Nagari swasembada merupakan nagari yang memiliki kemandirian lebih tinggi dalam segala bidang terkait aspek sosial dan ekonomi. Nagari swasembada adalah nagari yang berkecukupan dalam hal suber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik nagari secara maksimal. Kehidupan nagari swasembada sudah mirip dengan kota dengan mata encaharian yang beraneka ragam serta sarana prasarana yang cukup lengkap untuk mendukung kehidupan masyarakat pedesaan yang maju. Berdasarkan instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 11 tahun 1972 ciri-ciri nagari swasembada adalah sebagai berikut : Mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor jasa/perdagangan/pertanian maju atau lebih dri 55 persen penduduk bekerja di sektor tersier. Produksi nagari tinggi dengan penghasilan diatas 100 juta/tahun. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

98 Kelembagaan formal dan informal telah berjalan sesuai dengan fungsinya dan telah ada 7 9 lembaga yang aktif. Keterampilan masyarakat dan pendidikannya pada tingkat 60 persen telah lulus SD, sekolah lanjutan dan bebrapa telah lulus perguruan tinggi. Fasilitas dan prasarana mulai lengkap dan baik. Penduduk sudah memiliki inisiatif sendiri melalui swadaya dan gotong royong dalam pembangunan nagari. Dalam upaya peningkatan daya saing daerah salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status nagari menjadi nagari swasembada. Cakupan nagari swasembada di Kabupaten Agam sebagimana tersaji dalam tabel di bawah ini : Tabel 69 Cakupan Nagari Swasembada Nomor Uraian Jumlah Nagari Cakupan Nagari Swasembada Sumber : BPMPN Kab. Agam Berdasarkan data diatas sampai tahun 2013 cakupan nagari swasembada di Kabupaten Agam masih rendah yakni hanya 2 dari 82 nagari atau hanya 2,4 persen. Fakta ini merupakan tantangan berat pada masa mendatang untuk menggiatkan upaya pembinaan guna mendorong percepatan kemandirian nagar menuju level nagari swasembada. Tabel 70. Indikator Pemberdayaan Masyarakat Uraian Rata-rata jumlah keluarga Binaan LPM Rata-rata jumlah keluarga Binaan PKK Jumlah LSM aktif 31,3 33, ,1 Jumlah LPM berprestasi Jumlah PKK Aktif Jumlah Posyandu aktif Sumber : BPMPN Kab. Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

99 Capaian Bidang Sosial Tabel 71. Penangangan PMKS Uraian Jumlah PMKS Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial Persentase penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Jumlah sarana sosial (panti asuhan, jompo dan panti rehabilitasi) % 2.39% 5.25% 25% Sumber : Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kab. Agam Tabel 72. Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio 1. Mesjid, Musholla, langgar , ,73 2. Jumlah , ,73 Sumber : Bagian Kesra Sekretariat Daerah Capaian Bidang Infrastruktur Kabupaten Agam merupakan wilayah rawan bencana sehingga perlu menjadi perhatian serius oleh pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak. Bencana ini membawa dampak yang besar karena mengakibatkan kerusakan berbagai prasarana fisik Jalan, Jembatan dan Sumber Daya Air. Seperti akibat bencana gempa tahun 2007, dan gempa 30 September 2009 yang berdampak terhadap rusaknya infrastruktur jaringan jalan, jaringan irigasi dan infrastruktur lainnya. Berdasarkan updating database dalam Tahun 2014 dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam Jumlah ruas jalan adalah 639 Ruas dengan total panjang keseluruhan adalah 1.668, 48 Km. Dari panjang tersebut 86,92 % sudah pernah ditangani dengan jenis Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

100 permukan berupa hotmix, lapen maupun cor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini. Grafik 13 Jenis Permukaan Jalan di Kabupaten Agam Tahun 2014 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun Dari 86,92 % jalan yang telah ditangani tersebut sebesar 77,53 % mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan, sedang dan berat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik berikut: Grafik 14 Kondisi Jalan Kabupaten Agam Tahun 2014 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun Sesuai dengan Keputusan Bupati Agam Nomor : 473 Tahun 2012 tentang ruas jalan dan jembatan di Kabupaten Agam, Jumlah Jembatan adalah Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

101 319 Jembatan dengan total panjang keseluruhan adalah Meter. Sebagian besar jembatan tersebut adalah jembatan bentang pendek. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 73 Jumlah Jembatan Berdasarkan Panjang Jembatan No Panjang Bentang Jumlah Persentase 1 Bentang 0 10 Meter % 2 Bentang Meter % 3 Bentang Meter % 4 Bentang Meter % 5 Bentang > 40 Meter % Total Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun Berdasarkan kondisi jembatan masih banyak jembatan yang perlu ditangani karena 73,35 % jembatan dalam kondisi rusak mulai rusak ringan, sedang sampai berat. Hal ini disebabkan oleh fakktor umur jembatan dan struktur jembatan yang sudah tua dan banyak dibangun dengan menggunakan lantai kayu dan rusak akibat bencana alam. Dari jumlah tersebut sudah banyak yang perlu dibenahi atau direhabilitasi dan sebagian perlu dibangun baru. Sampai Tahun 2015 ditargetkan pembangunan jembatan baru sebanyak 15 unit. Grafik 15 Kondisi Jembatan di Kabupaten Agam Tahun 2012 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

102 a. Rasio Jaringan Irigasi Untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi dimana pembangunan atau Rehabilitasi Jaringan irigasi sangat berperan sekali. Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan tergambar pada table berikut : Tabel 74 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan NO Kecamatan Panjang Jaringan Irigasi Primer Sekunder Tersier Total Panjang Jaringan Irigasi Km Luas lahan budidaya (Ha) Rasio (1) (2) (3) (4) (5) (6=3+4+5) (7) (8=6/7) 1 Tanjung Mutiara , , Lubuk Basung , Ampek Nagari , Tanjung Raya , Matur , IV.Koto , Malalak , Banuhampu , Sungai Pua , IV.Angkek , Candung , Baso , Tilatang Kamang , Kamang Magek , Palembayan , Palupuh , Jumlah 379, , ,28 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam Tahun 2014 Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer, sekunder, tersier. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

103 Jumlah irigasi di Kabupaten Agam yaitu 885 buah. Luas areal irigasi yang merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Agam adalah 100 Ha sebanyak 154 DI (Daerah Irigasi). Kondisi Irigasi di Kabupaten Agam. dengan kondisi baik (50,60%), kondisi sedang (20,48%) dan kondisi rusak berat 28,92%) Lingkungan Hidup Upaya pelestarian lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh perubahan prilaku masyarakat yang cenderung materialis dan individualis sebagai konsekwensi perkembangan pembangunan suatu wilayah. Hal ini akan memperbesar peluang timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan ditambah lagi dengan issue global warning yang semakin mengancam. Untuk mengantisipasi hal tersebut pada tahun 2014 diterbitkan SPPL (Surat Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan) sebanyak 320 buah, sedangkan tahun 2013 diterbitkan 101 buah SPPL dan 1 buah izin PPLH. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan enam kegiatan diharapkan menghasilkan tingkat pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup turun dari tahun sebelumnya atau terkendali, dengan pencapaian hasil berupa dilakukannya pengawasan terhadap 30 usaha atau kegiatan dari target semula hanya 30 usaha, sejalan dengan itu peningkatan kualitas dan akses informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan dengan kegiatan pengembangan data dan informasi lingkungan hidup dalam bentuk laporan dan buku data status lingkungan hidup Kabupaten Agam Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Perkembangan koperasi usaha kecil dan menengah di Kabupaten Agam dapat menjadi pilar utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Hal ini dapat dilihat dari potensi sumber daya manusia yang dimiliki dan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti civil society, yakni sebuah masyarakat yang mandiri, partisipatif serta menuju pada terciptanya kesadaran untuk mampu menolong dirinya sendiri. Tantangan ke depan adalah mewujudkan profesionalitas dan sikap business like; artinya mampu mengelola Koperasi dengan manajemen yang profesional sehingga koperasi tidak sematamata hanya menjadi alat sosial, namun yang lebih penting adalah agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya (viability) di masa yang akan datang. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

104 Salah satu usaha industri yang menonjool di Kabupaten Agam adalah usaha industri rumah tangga seperti usaha pengolahan makanan ringan, kuliner, cendra mata, dan sulaman. Beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Agam mendapatkan prestasi dalam ajang kompetensi baik secara regional (propinsi) maupun secara nasional. Penghargaan yang diperoleh pada Tahun 2014 berupa UPAKARTI yang diterima oleh Bupati Agam dan penghargaan DEKRANAS AWARD Tahun 2014 yang diterima oleh Dekranasda Kabupaten Agam. Hasil yang dicapai pada tahun 2014 sebagai berikut: 1. Berdirinya 5 buah koperasi baru yang berasal dari kelompok masyarakat (POKMAS). 2. Aktifknya 10 koperasi dari 104 koperasi yang tidak aktif. 3. Pelatihan kewirausahaan bagi 30 orang UMKM. Terlaksananya promosi dan pameran UMKM keluar daerah yang bertujuan untuk meningkatkan permintaan dan pendapatan UMKM. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Adminitrasi Wilayah Kabupaten Agam secara geografis berada antara 00 o 01 34-00 o 28 43 LS dan 99 o 46 39 100 o 32 50 BT dengan luas wilayah 2 212.19 km 2 5.24%

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Kabupaten Agam secara geografis berada antara 00 o 02-00 o 29 LS dan 99 o 52 100 o 23 BT dengan luas wilayah 2 212.19 km 2 atau 5.24%

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Luas Kabupaten Agam adalah 2.232,30 Km² atau 5,29 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 11 TAHUN 2015 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2016

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 11 TAHUN 2015 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2016 PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR TAHUN 205 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 206 TAHUN 205 PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR TAHUN 205 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN AGAM 2010-2030 PEMERINTAHAN KABUPATEN AGAM TAHUN 2010 Revisi RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I PROFIL KABUPATEN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 15 TAHUN 2013 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2014

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 15 TAHUN 2013 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2014 PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 5 TAHUN 203 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 204 PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 5 TAHUN 203 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Otonomi daerah sudah dilaksanakan sejak tahun 2001. Keadaan ini telah memberi kesadaran baru bagi kalangan pemerintah maupun masyarakat, bahwa pelaksanaan otonomi tidak bisa

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RKPD DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN TAHUN 2012

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RKPD DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN TAHUN 2012 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RKPD DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN TAHUN 2012 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografi 2.1.1.1 Letak Geografis Dan Batas Administrasi Wilayah

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat 51 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera dengan ibukota

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.

Lebih terperinci

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam SKPD : DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Kode (1) (2) (3) (4) (5) (6) (8) (9) (1) URUSAN KEHUTANAN 7,143,465, 8,48,49,4 1 3 1 Program Pelayanan Administrasi Terwujudnya pelayanan administrasi Perkantoran

Lebih terperinci

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam SKPD : DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Kode URUSAN KEHUTANAN 7,393,465, 8,48,49,4 3 Program Pelayanan Administrasi Terwujudnya pelayanan administrasi Perkantoran perkantoran. 59,5, 765,, 3 2 Penyediaan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 50 V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Keadaan Umum Sumatera Barat Sumatera Barat yang terletak antara 0 0 54' Lintang Utara dan 3 0 30' Lintang Selatan serta 98 0 36' dan 101 0 53' Bujur Timur, tercatat

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis 3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. alam seperti gempa bumi adalah bencana yang terjadi secara tiba-tiba, sedangkan

BAB 1 : PENDAHULUAN. alam seperti gempa bumi adalah bencana yang terjadi secara tiba-tiba, sedangkan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba dalam kehidupan ini. Bencana alam seperti gempa bumi adalah bencana yang terjadi secara tiba-tiba, sedangkan gunung api,

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Administrasi Kabupaten Bangka Tengah secara administratif terdiri atas Kecamatan Koba, Kecamatan Lubuk Besar, Kecamatan Namang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kecamatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1 1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum...... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD... 5 1.5. Maksud dan Tujuan... Hal BAB II EVALUASI HASIL

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. 1. Letak Geografis Kota Depok Kota Depok secara geografis terletak diantara 106 0 43 00 BT - 106 0 55 30 BT dan 6 0 19 00-6 0 28 00. Kota Depok berbatasan langsung dengan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 LATAR BELAKANG... I-1 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN... I-2 1.2.1 MAKSUD... I-2 1.2.2 TUJUAN... I-2 1.3 LANDASAN PENYUSUNAN...

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi BAB I Pendahuluan... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya...

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

VI. GAMBARAN WILAYAH, KARAKTERISTIK PETERNAKAN SAPI POTONG DAN RESPONDEN PENELITIAN

VI. GAMBARAN WILAYAH, KARAKTERISTIK PETERNAKAN SAPI POTONG DAN RESPONDEN PENELITIAN 93 VI. GAMBARAN WILAYAH, KARAKTERISTIK PETERNAKAN SAPI POTONG DAN RESPONDEN PENELITIAN 6.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Agam merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sumatera

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 34 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 4.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan dengann Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, sebelah Selatan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 0 4 0 Lintang Selatan dan 102 0-106 0 Bujur Timur dengan

Lebih terperinci

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR ISI i

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 24 BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 3.1. Gambaran Umum Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten yang berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU 75 GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu propinsi yang masih memiliki tutupan hutan yang baik dan kaya akan sumberdaya air serta memiliki banyak sungai. Untuk kemudahan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. A. Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Tanggamus B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja C. Realisasi anggaran...

DAFTAR ISI. A. Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Tanggamus B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja C. Realisasi anggaran... DAFTAR ISI HALAMAN BAB 1 A. Latar Belakang... 1 B. Maksud dan Tujuan... 2 C. Sejarah Singkat Kabupaten Tanggamus... 3 D. Gambaran Umum Daerah... 4 E. Sistematika Penyajian... 20 BAB 2 A. Instrumen Pendukung

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105. IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan 4.1.1. Keadaan Geografis Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.14 sampai dengan 105, 45 Bujur Timur dan 5,15

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS KATA PENGANTAR Sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 11 ayat (2), mengamanatkan pemerintah daerah kabupaten berwenang dalam melaksanakan penataan ruang wilayah kabupaten

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah provinsi di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan 1. Keadaan Geografi Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105,14 sampai dengan 105,45 Bujur Timur dan 5,15 sampai

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan.... DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Gambar Daftar Grafik i ii vii viii Bab I Pendahuluan. 1.1. Dasar Hukum..... 1.2. Profil Wilayah Kabupaten Sijunjung... 1.2.1 Kondisi Fisik

Lebih terperinci

4.1. Letak dan Luas Wilayah

4.1. Letak dan Luas Wilayah 4.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Lamandau merupakan salah satu Kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Kotawaringin Barat. Secara geografis Kabupaten Lamandau terletak pada 1 9-3 36 Lintang Selatan dan

Lebih terperinci

MEWUJUDKAN PENGEMBANGAN DESA YANG BERKELANJUTAN MELALAUI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN YANG BERKELANJUTAN (P2KPB)

MEWUJUDKAN PENGEMBANGAN DESA YANG BERKELANJUTAN MELALAUI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN YANG BERKELANJUTAN (P2KPB) MEWUJUDKAN PENGEMBANGAN DESA YANG BERKELANJUTAN MELALAUI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN YANG BERKELANJUTAN (P2KPB) Disampaikan Oleh: Bupati Agam Indra Catri Disampaikan pada acara Dialog Nasional

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 DAFTAR TABEL Taks Halaman Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 Tabel 2.2 Posisi dan Tinggi Wilayah Diatas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Mamasa... 26 Tabel

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No 12 Tahun 1999 sebagai hasil pemekaran Kabupaten

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006 KATA PENGANTAR Untuk mencapai pembangunan yang lebih terarah dan terpadu guna meningkatkan pembangunan melalui pemanfaatan sumberdaya secara maksimal, efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN - 3 PEMERINTAHAN KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN K A T A P E N G A N TA R Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Datar Tahun 3 K a t a P e n g a n

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Kabupaten Kulonprogo Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di propinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Jenis Kebencanaan dan Sebarannya... II-7 Tabel 2.3 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto Tahun 2008-2012...

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kita sampaikan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia-nya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii vii Bab I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen 1-4 1.4 Sistematika Penulisan 1-6 1.5 Maksud dan Tujuan 1-7 Bab

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT. STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi

Lebih terperinci

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016 Daftar Tabel Tabel 2.1 Luas Wialayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Jeneponto berdasarkan BPS... II-5 Tabel 2.3 Daerah Aliran

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Letak Geografis Kabupaten Sleman Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110⁰ 13' 00" sampai dengan 110⁰ 33' 00" Bujur Timur, dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota 66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Bandarlampung 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006 BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006 4.1. Gambaran Umum inerja perekonomian Jawa Barat pada tahun ini nampaknya relatif semakin membaik, hal ini terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi Jawa

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 45 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Lokasi Administrasi Secara geografis, Kabupaten Garut meliputi luasan 306.519 ha yang terletak diantara 6 57 34-7 44 57 Lintang Selatan dan 107 24 3-108 24 34 Bujur Timur.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Banten secara geografis terletak pada batas astronomis 105 o 1 11-106 o 7 12 BT dan 5 o 7 50-7 o 1 1 LS, mempunyai posisi strategis pada lintas

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 Nomor ISSN : Nomor Publikasi : 1706.1416 Katalog BPS : 4102004.1706040

Lebih terperinci

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan NO 2018 A ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1 PDRB per Kapita (juta rupiah) - PDRB

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari V. GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Geografis Kota Bogor mempunyai luas wilayah 118 50 km 2 atau 0.27 persen dari luas propinsi Jawa barat. Secara geografis, Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43 30 BT-106

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang 43 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Sragi a. Letak Geografis Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 69 mengamanatkan Kepala Daerah untuk menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban

Lebih terperinci