On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station)

dokumen-dokumen yang mirip
MODUL 3 GEODESI SATELIT

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. bentuk spasial yang diwujudkan dalam simbol-simbol berupa titik, garis, area, dan

BAB I PENDAHULUAN I-1

PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK

Studi Perbandingan GPS CORS Metode RTK NTRIP dan Total Station dalam Pengukuran Volume Cut and Fill

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

STUDI PERBANDINGAN GPS CORS METODE RTK NTRIP DENGAN TOTAL STATION

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (MULTI)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN POSISI GPS CORS RTK-NTRIP DENGAN METODE RAPID STATIK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015

METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

AKURASI PENGUKURAN GPS METODE RTK-NTRIP MENGGUNAKAN INA-CORS BIG Studi Kasus di Sumatera Utara

PPK RTK. Mode Survey PPK (Post Processing Kinematic) selalu lebih akurat dari RTK (Realtime Kinematic)

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

STUDI TENTANG CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION GPS (Studi Kasus CORS GPS ITS) Oleh: Prasetyo Hutomo GEOMATIC ENGINEERING ITS

ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL

Jurnal Geodesi Undip April 2015

ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

URUTAN PENGGUNAAN E-GNSS SECARA UMUM

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Mulkal Razali, M.Sc

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Global Positioning System (GPS) Konsep Penentuan Posisi Dengan GPS

Atika Sari, Khomsin Jurusan Teknik Geomatika, FTSP, ITS-Sukolilo, Surabaya,

BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Sistem Satelit Navigasi Global

PEMANFAATAN JRSP METODE ONLINE POST PROCESSING SPIDERWEB UNTUK PENGUKURAN BIDANG TANAH

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

Kata Kunci : GPS, CORS, NTRIP, RTK, Provider

UJI AKURASI PENENTUAN POSISI METODE GPS-RTK MENGGUNAKAN PERANGKAT CHC X91+

BAB III GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Prinsip Kerja GPS (Sumber :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

sensing, GIS (Geographic Information System) dan olahraga rekreasi

Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech ASH111661

B A B IV HASIL DAN ANALISIS

PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM

BAB 4 ANALISIS. 4.1 Analisis Permasalahan Jaringan CORS IPGSN dan BPN

p o t r e t u d a r a

BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan

BAB III PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH

INSTALL PROGRAM YANG DIPERLUKAN

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

BAB II CORS dan Pendaftaran Tanah di Indonesia

II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf b...

AKUISISI DATA GPS UNTUK PEMANTAUAN JARINGAN GSM

BAB II DASAR TEORI II-1

BAB 2 STUDI REFERENSI

Jurnal Geodesi Undip OKTOBER 2017

E-GNSS Potret. Daftar Periperal : Pole Mounting Rover Receiver. Antena Eksternal dengan Mounting untuk Pole/Jalon Prisma

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

E-GNSS Potret. Daftar Periperal : Pole Mounting Rover Receiver. Antena Eksternal dengan Mounting untuk Pole/Jalon Prisma

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

BAB VII ANALISIS. Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab 10 Global Positioning System (GPS)

PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS UNTUK SURVEI TERUMBU KARANG. Winardi Puslit Oseanografi - LIPI

Panduan Cepat Penggunaan X91 GNSS

BAB III METODE PENGUKURAN

Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

Analisa Perbandingan Volume Cut and Fill menggunakan Total Station dan GPS CORS (Continouosly Operating Reference Station) Metode RTK NTRIP

BAB I PENDAHULUAN. 1 Buku Saku Pelaksanaan Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah dengan CORS/JRSP

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Jurnal Geodesi Undip April 2016

2015, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4,

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

Bab VIII. Penggunaan GPS

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang

BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL. 3.1 Data yang Digunakan

Analisis Perbandingan Ketelitian Hasil Pengukuran GCP... (Safi i, et al.)

SURVEI HIDROGRAFI PENGUKURAN DETAIL SITUASI DAN GARIS PANTAI. Oleh: Andri Oktriansyah

Studi Kinerja Perangkat Lunak Starpoint untuk Pengolahan Baseline GPS Irwan Gumilar, Brian Bramanto, dan Teguh P. Sidiq

Jurnal Geodesi Undip Juli 2014

MENGENAL GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) SEJARAH, CARA KERJA DAN PERKEMBANGANNYA. Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi yang

Modul GNSS Geodetik. Daftar Isi

PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS

KERANGKA DASAR KADASTRAL NASIONAL (KDKN)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RANCANGAN PEMANFAATAN DATA TEC PADA SISTEM PPP NEAR REAL TIME DENGAN GPS FREKUENSI TUNGGAL

BAB II Studi Potensi Gempa Bumi dengan GPS

Indoor Positioning Menggunakan Wireless LAN

Teknologi Automatic Vehicle Location (AVL) pada Sistem Komunikasi Satelit

BAB II SISTEM SATELIT NAVIGASI GPS

Transkripsi:

On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station) Direktorat Pengukuran Dasar Deputi Survei, Pengukuran Dan Pemetaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2011

MODUL PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station) GPS (Global Positioning System) GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penetuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca. Pada saat ini konstelasi satelit yang membawa gelombang-gelombang di atas terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam enam bidang orbit sedemikian rupa sehingga untuk setiap posisi dimuka bumi dapat menerima minimal 4 buah satelit pada saat yang bersamaan sehingga memungkinkan untuk menentukan posisi setiap saat dan dalam kondisi bagaimanapun juga. Metode Penentuan Posisi Dengan GPS Berdasarkan mekanisme pengaplikasiannya, metode penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokkan atas beberapa metode yaitu: 1. Metode Penentuan Posisi Absolut 2. Metode Penentuan Posisi Diferensial Antara kedua metode tersebut metode penentuan posisi absolut memiliki ketelitian yang paling rendah yaitu mencapai tingkat meter. Ketelitian penentuan posisi absolut dapat ditingkatkan dengan menggunakan penentuan posisi secara diferensial, dimana posisi suatu tititk ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya. Penentuan posisi secara diferensial dapat diapliaksikan secara statik maupun kinematik dengan menggunakan data pseudorange dan/ataupun fase. Dalam penentuan posisi secara diferensial, ada beberapa aplikasi yang menuntut informasi posisi realit secara instan (real time). Untuk melayani aplikasi-aplikasi tersebut maka pada aawalnya tersedianya dua sistem yang umumnya dikenal dengan nama DGPS (Differential GPS) dan RTK (Real Time Kinematik).

RTK (Real-Time-Kinematik) Sistem RTK (Real-Time-Kinematik) adalah suatu akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-time secara differensial menggunakan data fase. Untuk merealisasikan tuntutan real time nya, stasiun referensi harus mengirimkan data fase dan psedorange-nya ke pengguna secara real-time menggunakan sistem komunikasi data tertentu. Stasiun referensi dan pengguna harus dilengkapi dengan perangkat pemancar dan penerima data. Ketelitian tipikal posisi yang diberikan oleh sistem RTK adalah sekitar 1-5 cm, dengan asumsi bahwa ambiguitas fase dapat ditentukan secara benar. Untuk mencapai tingkat ketelitian tersebut, sistem RTK harus dapat menentukan ambiguitas fase dengan menggunakan jumlah data yang terbatas dan juga selagi receiver bergerak. Mekanisme penentuan ambiguitas fase yang kerap dinamakan on the fly ambiguity ini bukanlah hal yang mudah dilaksanakan. Dalam hal ini untuk dapat menentukan ambiguitas secara cepat dan benar umumnya diperlukan penggunaan data fase dan pseudorange dua frekuensi, geometri satelit yang relatif baik, algoritma perhitungan yang relatif handal dan mekanisme eliminasi kesalahan dan bias yang relatif baik dan tepat. Sistem RTK dapat digunakan untuk penentuan posisi obyek-obyek yang diam maupun bergerak, sehingga sistem RTK tidak hanya dapat merealisasikan survei GPS real time, tetapi juga navigasi berketelitan tinggi. Aplikasi-aplikasi yang dapat dilayani oleh sistem ini cukup beragam, antara lain staking out, penentuan dan rekonstruksi batas persil tanah, survei pertambangan, survei rekayasa dam utilitas, serta aplikasi-aplkasi lainnya yang memerlukan informasi posisi horisontal secara cepat (real-time) dengan ketelitian yang relatif tinggi dalam orde beberapa cm. Metoda Penentuan Posisi secara Real Time Kinematik dibagi dalam dua bagian yaitu: 1. Single base RTK. Pengamatan yang dilakukan pada metode single base RTK adalah pengamatan secara diferensial dengan menggunakan minimal dua receiver GNSS yang bekerja secara simultan dengan menggunakan data phase. Koreksi data dikirimkan secara satu arah dari base station kepada rover melalui transmisi radio. Keterbatasan dari metode RTK ini adalah semakin panjang base line antara rover dengan stasiun referensi, maka tingkat ketelitiannya akan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan distance dependent (seperti perlambatan sinyal satelit GNSS akibat pengaruh ionosfer) yang semakin tinggi, karena semakin jauh jarak antara rover

dengan stasiun referensi sehingga proses pemecahan resolusi ambiguitas (ambiguity resolution) antara base station dengan rover sukar untuk dilakukan. Gambar Single Base RTK 2. Network RTK Metode Network Real Time Kinematic (NRTK) merupakan sebuah metode penentuan posisi secara relatif dari pengamatan GNSS. NRTK merupakan pengembangan dari metode single base RTK (Martin & Herring, 2009). Gambar Network Real Time Kinematic (NRTK)

Prinsip kerja Network real time kinematic (NRTK) secara umum adalah sebagai berikut. Stasiun referensi stasiun referensi merekam data dari satelit GNSS secara kontinu yang kemudian disimpan dan atau dikirim ke server Network RTK melalui jaringan internet secara serempak. Data yang dikirimkan oleh stasiun referensi stasiun referensi adalah data dalam format Raw data atau data mentah yang kemudian oleh server Network RTK digunakan sebagai bahan untuk melakukan koreksi data yang dapat digunakan oleh pengguna (rover). Data dalam format Raw tersebut dikirimkan secara kontinu dalam interval tertentu kepada server Network RTK melalui jaringan internet. Oleh server, data tersebut diolah dan disimpan dalam bentuk RINEX yang dapat digunakan untuk post processing, maupun dalam bentuk RTCM yang dikirimkan kepada rover yang membutuhkan koreksi data dari stasiun referensi. Rover berkomunikasi dengan server Network RTK menggunakan jaringan GSM/GPRS/CDMA, sehingga dapat memperoleh data koreksi hasil hitungan dengan metode Area Correction Parameter (ACP/FKP) atau Master Auxiliary Concept (MAC) atau Virtual Reference Station (VRS) atau metode metode lainnya, melalui jaringan internet (Euler, 2008). Pada saat ini, NRTK dianggap lebih memberikan banyak keuntungan dalam dunia penent,uan posisi menggunakan GNSS, dibandingkan dengan penggunaan metode single base RTK (Rizos & Han, 2002a). Hal ini dikarenakan pada single base RTK hanya terdapat satu master referensi sehingga kendala jarak antara rover dan stasiun referensi (base station) menjadi masalah utama. Jarak akan mempengaruhi ketelitian posisi yang dihasilkan. Semakin jauh jarak antara rover dan stasiun referensi (base station), maka kualitas posisi pun akan menurun. Faktor jarak yang jauh ini, menjadi kendala dalam pemecahan ambiguity resolution, begitu juga dengan jangkauan radio komunikasi yang jauh sehingga memungkinkan terjadinya data loss dalam penyampaian informasi data dari stasiun referensi (base station) ke rover.

CORS (Continuously Operating Reference Station) CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinyu selama 24 jam perhari, 7 hari per minggu dengan mengumpukan, merekam, mengirim data, dan memungkinkan para pengguna (users) memanfaatkan data dalam penentuan posisi, baik secara post processing maupun secara real time (sumber: Gudelines for New and Existing CORS). Jaringan Referensi Satelit Pertanahan (JRSP) merupakan sebuah sistem jaringan stasiun referensi yang bekerja secara kontinu selama 24 jam nonstop. JRSP merupakan pengembangan teknologi Continuously Operating Reference Station (CORS) atau teknologi untuk menentukan posisi secara global menggunakan system satellite positioning. Global Navigation Satellite System (GNSS) dapat disebut sebagai sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. GNSS didesain untuk memberikan informasi waktu dan posisi secara kontinu di seluruh dunia. GNSS merupakan metode pengukuran ekstra terestris, yaitu penentuan posisi yang dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pengukuran terhadap satelit atau benda angkasa lainnya. JRSP merupakan suatu teknologi berbasis Global Navigation Satellite System (GNSS) yang berwujud sebagai stasiun referensi stasiun referensi yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit satelit GNSS yang beroperasi secara kontinu 24 jam per hari, 7 hari per minggu. Stasiun referensi stasiun referensi tersebut melakukan pengumpulan, perekaman, dan pengiriman data yang memungkinkan para pengguna memanfaatkan data untuk penentuan posisi yang disajikan oleh JRSP, baik secara network realtime kinematics, network differential GNSS, maupun post processing. Stasiun referensi stasiun referensi JRSP dibangun secara permanen pada lokasi yang stabil di beberapa kantor kantor pertanahan yang ada di Indonesia dengan jarak antar stasiun referensi sekitar ± 30 70 km (Millner et al, 2007; Rizos & Han, 2002a; dan Gordini et al, 2006). Stasiun referensi tersebut digunakan oleh pengguna (user) atau rover sebagai referensi dalam penentuan posisi atau koordinat suatu titik atau kumpulan titik pada suatu cakupan atau area secara real time menggunakan receiver GNSS geodetik. Receiver GNSS geodetik yang digunakan adalah rover receiver GNSS yang mempunyai tipe dual frequency, sehingga dalam pengamatannya dapat menerima data pengamatan satelit satelit GNSS berupa data code dan data phase. Selain itu, rover receiver

GNSS yang digunakan tersebut juga harus memiliki teknologi komunikasi, dapat menggunakan teknologi radio/ GSM/ GPRS/ CDMA, sehingga dapat berhubungan dengan stasiun referensi atau pusat kontrol JRSP untuk mengirimkan dan atau menerima koreksi data koordinat posisi. Dengan adanya stasiun referensi stasiun referensi yang bekerja di bawah kendali server JRSP, maka dapat diperoleh koordinat atau posisi suatu titik dengan ketelitian yang sangat tinggi (akurasi 1 5cm) (Millner et al, 2007 dan Gordini et al, 2006). JRSP merupakan titik acuan yang telah diketahui koordinatnya, sedangkan receiver GNSS rover bergerak dari satu titik batas bidang tanah ke titik batas bidang tanah lainnya. Penentuan posisi ditentukan secara diferensial dengan data fase. Pengamatan di titik acuan dilakukan sesuai dengan interval waktu yang diatur oleh server administrator JRSP, sedangkan interval waktu pengamatan pada rover berikut penerimaan data koreksinya, diatur oleh operator alat (surveyor) atau juru ukur. Posisi yang dihasilkan dari pengukuran dengan JRSP memiliki akurasi yang dapat mencapai level cm (Gordini et al, 2006), selama persyaratan teknis pengukuran dipenuhi. Untuk menghasilkan data pengukuran yang akurat, pengukuran yang dilakukan harus memenuhi syarat syarat, yaitu lokasi pengukuran harus memiliki ruang pandang yang terbuka ke langit agar sinyal satelit GNSS yang mencapai receiver dapat diterima secara baik atau tidak ada obstruksi (halangan) ; serta lokasi pengukuran harus jauh dari obyek atau benda yang mudah memantulkan sinyal dari satelit GNSS untuk meminimalkan efek multipath. Dengan dibangunnya JRSP yang menerapkan metode NRTK, berarti bahwa di manapun dan kapanpun pengukuran dengan receiver GNSS rover dilakukan di dalam cakupan JRSP, surveyor dapat menerima koreksi NRTK tanpa harus memasang base station atau stasiun referensi sendiri. Dari hal tersebut diketahui bahwa keuntungan dari NRTK adalah mengurangi jumlah alat receiver GNSS geodetik yang digunakan pada saat pengukuran. Selain itu, dengan JRSP dapat mempercepat kerja pengukuran, menambah jumlah atau volume pekerjaan pengukuran, dan tentu saja dapat mengurangi biaya operasional yang dikeluarkan (Adiyanto & Nugroho, 2008). Untuk dapat mengakses GNSS-CORS, receiver klien harus dilengkapi dengan sambungan internet sebagai komunikasi data dari stasiun GNSS-CORS ke receiver klien. Dalam hal ini data GNSS-CORS tersedia melalui web dalam format RINEX (Receiver Independent Exchange) maupun Streaming NTRIP (Network Transport RTCM via Internet Protocol).

NTRIP adalah sebuah metode untuk mengirim koreksi data GPS/GLONASS (dalam format RTCM) melalui internet. RTCM sendiri adalah kependekan dari Radio Technical Commission for Maritime Services, yang merupakan komite khusus yang menentukan standard radio navigasi dan radio komunikasi maritim internasional. Data format RINEX disediakan untuk pengolahan data secara post-processing, sedangkan data NTRIP untuk pengamatan posisi secara real-time. Metode Pengukuran Dengan CORS GNSS Network Real Time Kinematic (NRTK) CORS terdiri dari 4 (empat) segmen yaitu : Segmen Satelit: yaitu sekitar 40 (empat puluh) satelit GNSS (GPS, GLONASS, GALILEO, dan COMPAS) terletak diatas permukaan bumi dengan ketinggan sekitar 20.200 km. Segmen Stasiun Referensi (Base Station). Segmen ini merupakan stasiun referensi yang di bangun di kantor-kantor pertanahan maupun kantor wilayah Badan Pertanahan Nasional Indonesia. Gambar contoh pemasangan base station di kantor pertanahan. Segmen Stasiun Kontrol. Stasiun Kontrol atau server Network RTK terletak di Kantor Direktorat Pengukuran Dasar, Deputi Bidang Survei, Pengukuran dan Pemetaan, Jalan Kuningan Barat I no 1, Jakarta Selatan.

Segmen Pengguna (User). Segmen pengguna yaitu berupa alat Receiver Rover atau receiver lain seperti Receiver Geodetik untuk static Survey. Gambar contoh beberapa rover GNSS CORS dari berbagai merk. Cara Pengoperasian Rover CORS Seperti yang kita ketahui bahwa cara pengoperasian rover CORS dapat berbeda-beda tergantung dari merk yang digunakan, tetapi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan selama dari penggunaan rover CORS tersebut, yaitu: 1. Yang pertama kali yang harus diperhatikan adalah koneksi antara rover dengan provider GSM/CDMA yang digunakan. Hal ini berpengaruh karena proses pengiriman data menggunakan NTRIP. 2. Koneksi antara rover dengan server JRSP. Pada alat tertentu koneksi ini berlangsung setelah masuk ke dalam job yang digunakan.

3. Solution type yang didapatkan selama pengukuran. Ada tiga solution type yang dihasilkan selama pengamatan yaitu autonomous, float dan fixed. Untuk pengukuran teliti sebaiknya mencapai solution type fixed. 4. Keterbukaan ruang pandang ke atas (mask angle) yang merupakan syarat utama dari pengamatan GNSS. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dapat langsung di download dari rover ke komputer. Hasil tersebut berupa koordinat yang telah dikoreksi. Gambar contoh tabel koordinat hasil pengukuran menggunakan aplikasi Topcon Link.

Koordinat-koordinat tersebut juga dapat langsung dikonversi menjadi file gambar.dwg atau.shp sehingga memudahkan dalam penggambaran selanjutnya. Gambar contoh proses konversi gambar menggunakan aplikasi Topcon Link. Gambar contoh hasil konversi gambar menggunakan aplikasi AutoCad.