BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
ARUS LISTRIK. Di dalam konduktor / penghantar terdapat elektron bebas (muatan negatif) yang bergerak dalam arah sembarang (random motion)

Arah elektron. Arah arus listrik berlawanan dengan aliran elektron

Hukum Ohm. Fisika Dasar 2 Materi 4

Tujuan. Untuk memahami: 1. Energi Potensial Listrik 2. Potensial Listrik 3. Permukaan Ekuipotensial 4. Tabung Sinar Katoda

Hukum Ohm, Rangkaian Hambatan Hukum Kirchoff

POTENSIAL LISTRIK MINGGU KE-4

Perkuliahan PLPG Fisika tahun D.E Tarigan Drs MSi Jurusan Fisika FPMIPA UPI 1

BAB 20. KEMAGNETAN Magnet dan Medan Magnet Hubungan Arus Listrik dan Medan Magnet

K13 Revisi Antiremed Kelas 12 Fisika

LATIHAN UAS 2012 LISTRIK STATIS

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

Gaya Lorentz. 1. Menerapkan konsep kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi

LISTRIK ARUS SEARAH (Oleh : Sumarna)

TOPIK 8. Medan Magnetik. Fisika Dasar II TIP, TP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si.

TOPIK 2. Medan Listrik. Fisika Dasar II TIP, TP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si.

MEDAN LISTRIK OLEH DISTRIBUSI MUATAN. Tri Rahajoeningroem, MT T. Elektro - UNIKOM

X. LISTRIK STATIS. X.1 Hukum Coulomb

LATIHAN FISIKA DASAR 2012 LISTRIK STATIS

1. Dalam suatu ruang terdapat dua buah benda bermuatan listrik yang sama besar seperti ditunjukkan pada gambar...

Soal-Jawab Fisika Teori OSN 2013 Bandung, 4 September 2013

Kelas XII Semester 1

PELATIHAN OSN JAKARTA 2016 LISTRIK MAGNET (BAGIAN 1)

BAHAN AJAR 4. Medan Magnet MATERI FISIKA SMA KELAS XII

Massa m Muatan q (±) Menghasilkan: Merasakan: Tinjau juga Dipol p. Menghasilkan: Merasakan:

LISTRIK STATIS. Listrik statis adalah energi yang dikandung oleh benda yang bermuatan listrik.

BAB 16. MEDAN LISTRIK

Fisika Ujian Akhir Nasional Tahun 2003

Perkuliahan Fisika Dasar II FI-331. Oleh Endi Suhendi 1

LAPORAN RESMI PRAKTEK KERJA LABORATORIUM 1

ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2015 KELAS XII. Medan Magnet

Arus Listrik dan Resistansi

Keep running VEKTOR. 3/8/2007 Fisika I 1

BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.

Arus dan Hambatan. Oleh: Ahmad Firdaus Rakhmat Andriyani

RINGKASAN DAN LATIHAN - - LISTRIK STATIS - LISTRIK STATI S

Rangkuman Listrik Statis

SOAL SOAL TERPILIH 1 SOAL SOAL TERPILIH 2

GAYA LORENTZ Gaya Lorentz pada Penghantar Berarus di dalam Medan Magnet

TUGAS XIII LISTRIK DAN MAGNET

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG

ARUS LISTRIK. Tiga hal tentang arus listrik. Potensial tinggi

Arus Listrik & Rangkaian Arus DC

Medan Listrik, Potensial Listik dan Kapasitansi. Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor

Menganalisis rangkaian listrik. Mendeskripsikan konsep rangkaian listrik

PR ONLINE MATA UJIAN: FISIKA (KODE A07)

Arus listrik sebesar 1 amper adalah perpindahan elektron sebanyak 6.24 x yang melewati satu titik pada setiap detiknya.

GAYA GERAK LISTRIK KELOMPOK 5

TOPIK 3. Potensial Listrik. Fisika Dasar II TIP, TP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si.

Xpedia Fisika DP SNMPTN 05

i : kuat arus listrik (A) a : jarak dari kawat berarus (m)

Sumber-Sumber Medan Magnetik

Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-). Sedangkan aliran listrik dalam kawat logam terdiri dari aliran elektron yang

Bab 6 Konduktor dalam Medan Elektrostatik. 1. Pendahuluan

D. I, U, X E. X, I, U. D. 5,59 x J E. 6,21 x J

KUMPULAN SOAL FISIKA KELAS XII

Medan Magnet 1 MEDAN MAGNET

Assalamuaalaikum Wr. Wb

Integral yang berhubungan dengan kepentingan fisika

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. searah menjadi energi mekanis yang berupa putaran. Pada prinsip

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - MEDAN MAGNET - MEDAN MAGNET

Induksi Elektromagnet

RANGKUMAN MATERI LISTRIK DINAMIS

RANGKAIAN ARUS SEARAH

Listrik yang tidak mengalir dan perpindahan arusnya terbatas, fenomena kelistrikan dimana muatan listriknya tidak bergerak.

Muatan dan Gaya Listrik

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

K13 Revisi Antiremed Kelas 12 Fisika

KEMAGNETAN. : Dr. Budi Mulyanti, MSi. Pertemuan ke-8

D. 30 newton E. 70 newton. D. momentum E. percepatan

D. 30 newton E. 70 newton. D. momentum E. percepatan

Fisika UMPTN Tahun 1986

Bab 2 Hukum Coulomb A. Pendahuluan

Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu

PAKET SOAL 1.c LATIHAN SOAL UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Pertanyaan Final (rebutan)

MAGNET. Benda yang dapat menarik besi disebut MAGNET. Macam-macam bentuk magnet, antara lain : magnet batang, magnet ladam, magnet jarum

Fisika Umum (MA 301) Topik hari ini. Kelistrikan

UN SMA IPA 2009 Fisika

LAPORAN PRAKTIKUM LISTRIK MAGNET Praktikum Ke 1 KUMPARAN INDUKSI

IV. Arus Listrik. Sebelum tahun 1800: listrik buatan hanya berasal dari friksi (muatan statis) == tidak ada kegunaan praktis

Bab 5 Potensial Skalar. A. Pendahuluan

Gambar (a) Arah medan magnet, (b) Garis-garis medan magnet

Medan dan Dipol Listrik

BAB II L I S T R I K. Muatan ada 3 : 1. Proton : muatan positif. 2. Neutron : muatan netral 3. Elektron : muatan negative

PERTEMUAN II KONSEP DASAR ELEMEN-ELEMEN RANGKAIAN LISTRIK

Absensi/kehadiran minimal 80% dari jumlah pertemuan. Teloransi Keterlambatan 0 menit.

dengan g adalah percepatan gravitasi bumi, yang nilainya pada permukaan bumi sekitar 9, 8 m/s².

INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

Bab 1. Muatan dan Materi. 1.1 Teori Elektromagnetisme Muatan listrik. (ref: Bab 23)

HAMBATAN & ARUS LISTRIK MINGGU KE-6 2 X PERTEMUAN

Pertanyaan Final SMA (wajib 1)

SANGAT RAHASIA. 30 o. DOKUMEN ASaFN 2. h = R

MUATAN, MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK DEPARTEMEN FISIKA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA

Perkuliahan Fisika Dasar II FI-331. Oleh Endi Suhendi 1

MAGNETISME (2) Medan Magnet Menghasilkan Listrik

PERTEMUAN II KONSEP DASAR ELEMEN-ELEMEN RANGKAIAN LISTRIK

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

BAB 6 INDUKSI ELEKTROMAGNET

BAB II. 1. Motor arus searah penguatan terpisah, bila arus penguat medan rotor. dan medan stator diperoleh dari luar motor.

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Potensial Listrik Interaksi gaya elektrostatik F dan melalui medan listrik E, di mana kedua besaran fisis tersebut merupakan besaran vektor. Potensial listrik besaran vektor. Untuk memahami arti fisis dari potensial listrik, pandanglah sebuah muatan positif di sekitar muatan negatif. Gambar 2.1,Gaya elektrostatik FF yang bekerja pada muatan uji positif di dekat muatan negatif Telah diketahui bahwa muatan positif mempunyai sifat bergerak mendekati muatan negatif tanpa ada gaya luar, ternyata muatan negatif yang membuat muatan positif +q tertarik. Energi inilah yang disebut potensial listrik. Energi potensial didefenisikan sebagai usaha yang dilakukan untuk memindahkan muatan q, dari A ke B. Untuk membahas energi potensial listrik dan potensial listrik, secara fisis, dapat dianalogikan terhadap energi potensial gravitasi, seperti gambar di bawah.

q +q A m A ds ds +q B B -q bumi Gambar 2.2,Untuk berpindah dari A ke B, sebuah muatan listrik dalam medan listrik E, dari muatan q, memerlukan sejumlah usaha yang berasal dari medan listrik muatan negatif. 2.3, Untuk jatuh dari posisi A yang memiliki potensial lebih besar ke posisi B, sebuah benda bermassa m memerlukan usaha yang berasal dari medan gravitasi. Nilai energi potensial di B jelas lebih kecil dari energi potensial di A karena jaraknya pada muatan sumber (-) lebih dekat. Sebuah benda yang jatuh dari ketinggian tertentu (posisi A) ke posisi B menuju bumi pada gambar 2.3 di atas. Energi potensial di B jelas lebih rendah dari A karena ketinggian B lebih rendah dari A. Demikian pula halnya analoginya dalam energi potensial listrik, di mana muatan negatif dianggap sebagai bumi dan muatan positif sebagai benda yang jatuh atau sebaliknya. Muatan positif q jatuh dari energi potensial lebih tinggi di A ke energi potensial lebih rendah di B. Sehingga dengan demikian telah terjadi pengurangan energi potesial akibat usaha yang dilakukan pada muatan positif untuk berpindah. Pada kasus elektrostatik ketika muatan +q jatuh pada muatan negatif q dari posisi A ke posisi B maka terjadi pengurangan energi potensial, karena nilai energi potensial di B lebih kecil (lebih negatif) dari energi potensial di A. Sebagaimana sebuah benda m yang jatuh dari ketinggian A ke posisi B, dengan demikian terjadi pengurangan energi potensial akibat usaha yang dilakukan pada muatan positif untuk berpindah.

Atau bentuk sederhana KarenaFF = qq EE WW = FFFFFF WW = qq EEEEEE qq EEEEEE WW = qq EE rr (2.1) (2.2) WW = qq kk qq rr 2 rr = qq kk qq rr BB kk qq rr AA Dengan mendefenisikan kk qq, sebagai energi potensial, maka rr Tanda negatif menandakan pengurangan energi potensial. dengan W = energi potensial listrik (J/C) atau volt q = muatan listrik (C) V B = potensial listrik di titik B (volt) V A = potensial listrik di titik A (volt) r A = jarak muatan pada titik A (m) r B = jarak muatan pada titik B (m) WW = qq (VV BB VV AA ) (2.3) Jika (VV BB VV AA ) dan qq sama-sama bernilai postitif atau negatif maka usaha yang dilakukan bernilai positif, namun jika (VV BB VV AA ) positif sedangkan q bermuatan negatif (-q) atau bermuatan positif (+q), maka usaha yang dilakukan bernilai negatif. Usaha disebut positif jika mengerahkan gaya untuk menambah energi potensial, seperti gambar di bawah.

+q A beda potensial lebih tinggi m A beda potensial lebih tinggi +q -q B beda potensial lebih rendah gravi tasi B beda potensial lebih rendah Gambar 2.4, Kerja positif dilakukan dengan memindahkan muatan q dan potensial yang rendah di B ke potensial yang lebih tinggi di A. Gambar 2.5, Kerja positif dilakukan dengan mengangkat m dari potensial yang rendah di B ke potensial yang lebih tinggi di A. Hubungan dari potensial listrik V dengan energi potensial W bahwa, 1 volt adalah bahwa dibutuhkan energi 1 joule, untuk memindahkan muatan 1 coulomb dari satu titik ke titik yang lain. Dari defenisi ini bisa ditentukan W, jika sebuah muatan dipindahkan dari potensial tinggi di A ke potensial lebih rendah di B (V B - V A ), maka kerja yang dilakukan ialah negatif. Jika demikian BB qq(vv BB VV AA ) qq EEEEEE) AA BB (VV BB VV AA ) = EEEEEE AA BB VV = kk qqqqqq AA = kk qq rr rr 2 2.1.1 Potensial Dari Suatu Muatan Titik Potensial di suatu titik, misalnya titik A merupakan selisih atau beda potensial antara potensial di titik tersebut dengan sebuah titik yang jauh sehingga

potensialnya nol, sehingga dapatkan sebuah nilai yang paling mendekati nilai sebenarnya: VV AA = kk qq rr AA kk qq rr ~ (2.4) kk qq rr AA Titik acuan jarak sangat jauh sebagai acuan umum karena memiliki potensial mendekati nol, sebagaimana analisisnya ditentukan potensial gravitasi dipilih permukaan bumi sebagai acuan umum karena potensial nol. 2.1.2 Garis Garis Ekipotensial Garis-garis ekipotensial merupakan tempat kedudukan titik - titik pada bidang permukaan yang semuanya mempunyai potensial listrik yang sama pada setiap bidang, seperti gambar di bawah. Gambar 2.6, Garis - garis medan untuk muatan titik positif dan titik muatan negatif di dekatnya yang sama besarnya. Muatan - muatan saling tarik - menarik satu sama lain. Pola garis - garis medan listrik yang menunjukan memiliki simetri rotasi terhadap suatu sumbu yang melewati kedua muatan pada lembar bidang. Arah medan listrik pada satu titik diperlihatkan; vektor bersinggungan dengan garis medan melalui titik. Gambar 2.7, Arahmedan listrik pada berbagai titik di sekitar muatan titik positif.

Lembar Permukaan Ekipotensial Garis Garis Medan Listrik Gambar 2.8, Garis - garis medan listrik pada dua muatan positif yang sama. Muatan saling tolak menolak. Pola tiga - dimensi garis - garis medan listrik, pola yang ditampilkan di sini sekitar satu sumbu yang melewati kedua muatan pada lembar bidang. Pola tiga dimensi medan listrik memiliki simetri rotasi terhadap sumbu itu. Arah medan listrik pada satu titik yang diperlihatkan; bahwa bersinggungan dengan garis medan listrik yang melalui titik. 2.1.3 Bidang atau Garis Ekipotensial Gambar 2.9, Permukaan ekipotensial merupakan potensial yang sama di semua titik. Garis ekipotensial merupakan garis yang menghubungkan titik - titik yang mempunyai potensial sama.dan selalu tegak lurus garis medan listrik, jadi selalu tegak lurus gaya yang dialami muatan dititik itu.

Permukaan ekipotensial: potensial yang sama di semua titik garis ekipotensial: garis yang menghubungkan titik - titik yang mempunyai potensial sama. Garis ekipotensial selalu tegak lurus garis medan listrik, jadi selalu tegak lurus gaya yang dialami muatan dititik itu. Muatan yang bergerak pada garis atau bidang ekipotensial, tidak memerlukan usaha. dddd/dddd = EE (2.5) Nialai maksimum dari dv/dr pada suatu titik yang dinamakan gradien potensial pada suatu titik tersebut. Untuk daerah yang potensialnya sama, maka medan listrik E = 0. 2.2 Kerapatan Arus Arus memiliki sifat pada suatu penghantar yang unik. Yaitu makroskopik seperti massa suatu benda, volum suatu benda, dan panjang suatu tongkat. Sebuah makroskopik yang dihubungkan dalam itu ialah kerapatan arus (current dencity)j. Rapat arus tersebut merupakan vektor dan merupakan ciri sebauh daerah di dalam penghantar dan bukan merupakan ciri penghantar secara keseluruhan. Jika arus tersebut didistribusikan secara merata pada penghantar yang luas penampangnya A, jika arah aliran pergerakan elektron ke kanan +j disetiap titik diorintasikan dalam pergerakan yang membawa muatan positif di titik itu. Sebuah elektron bergerak dalam arah j menunjukan arah elektron ke kiri. Hubungan antara j dan i merupakan suatu permukaan khas (tidak perlu merupakan bidang) di dalam sebuah penghantar, maka i adalah fluks dari arah j pada permukaan tersebut. ii = jjjjjj = jj dddd = jjjj Sehingga jj = ii AA (2.6) Dengan j = kerapatan arus (amper/m 2 ) i = arus yang mengalir pada kawat (amper)

A = luas penampang kawat (meter) Di dalam konduktor dikenal dengan laju penyimpangan dari muatan yang bergerak. Yang menimbulkan adanya arus netto. Dengan meninjau kembali arus searah, A Gambar 2.10, Arah aliran arus listrik yang menunjukkan kerapatan arus dalam aliran muatan melalui konduktor terbatas. Misalkan terdapat n jumlah partikel yang bergerak dalam kawat. Kecepatan v d, selang waktu dt setiap partikel bergerak sejauh v d dt. Partikel yang keluar dari ujung kawat melewati penampang merupakan partikel yang berada di dalam silinder dengan selang waktu dt. Jika volum silinder itu Av d dt, dan banyaknya partikel nav d dt. Dan jika setiap partikel mempunyai muatan q, muatan dq yang mengalir keluar dari ujung silinder dengan selama waktu dt. dengan arus dddd = qq(nnaaaadddddd) = nnnnnnddaaaaaa (2.7) ii = dddd dddd = nnnnvv ddaa (2.8) Jika muatan yang bergerak itu negatif atau positif, kecepatan penyimpang itu berlawanan dengan 2.3 Arus Listrik Arus merupakan gerak muatan yang sembarang dari satu daerah ke daerah lainnya. Suatu bahan dikatakan bersifat konduktif (bahan penghantar) apabila di dalamnya terdapat banyak muatan (elektron) bebas. Elektron bebas ialah elektron yang tidak terikat pada suatu inti, ia merupakan elektron yang letaknya jauh dari

inti sehingga hanya mendapatkan gaya tarik yang kecil. Elektron bebas ini kemudian, akan mengalir dalam bahan (kabel), jika ada perbedaan potensial di antara dua titik pada kawat. Elektron - elektron dalam kawat yang memiliki benda potensial mengalir dari potensial yang lebih rendah (-) ke potensial yang lebih tinggi (+) (namun pada baterai justru sebaliknya). Kuat arus listrik didefenisikan sebagai banyaknya muatan yang mengalir dalam satu detik, sehingga secara matematik : atau Kuat arus = muatan (coulomb ) waktu (detik ) ii = dddd dddd (2.9) 2.4 Hukum Ohm George Simon Ohm (1789-1854) merumuskan hubungan antara kuat arus listrik (I), hambatan (R) dan beda potensial (V) yang kemudian dikenal dengan hukum Ohm yang penurunannya sebagai berikut: Pandanglah sebuah kawat konduktor dengan panjang l dan luas penampang A dv i A dl Gambar 2.11, Kawat konduktor dengan panjang elemen volum dv Arus didefinisikan banyaknya elektron yang melalui sebuah konduktor tiap waktu (satu detik). Dihitung kuat arus yang mengalir pada panampang dengan volum dv seperti pada gambar 2.11. Karena berbentuk silinder volum dari dv adalah: dv = A dl (2.10) karena dl adalah jarak yang ditempuh elektron dengan kecepatan V d dengan waktu 1 detik maka: dddd = dvll = vd (2.11)

sehingga: dv = A vd (2.12) sehingga banyaknya muatan yang mengalir pada dv adalah: dengan I, ii = Avdn qe (2.13) vd = qq eeee mm ee τ (2.14) jika disubstitusikan persamaan (2.14) untuk v d, maka diperoleh : ii = qq ee 2 ττττ mm ee AE (2.15) yang berada dalam kurung pada persamaan (2.15) merupakan sifat bahan dan sering disebut konduktivitas σ, sehingga : karena E=V/l, maka : ii = σae (2.16) ii = σσσσσσ ll (2.17) karena konduktivitas σ merupakan kebalikan dari resistivitas ρ (σ=1/ρ), maka persamaan (2.17) menjadi : atau: ii = AAAA ρρll ii = (2.18) VV ρρll AA (2.19) bagian di dalam kurung dari persamaan diketahui sebagai R (resistansi), sehingga: II = VV RR (2.20) yang merupakan hukum Ohm. Jika persamaan (2.20) dinyatakan dalam: V = RI (2.21) kemudian di sketsa dalam grafik, hasilnya nampak bahwa kurva berupa garis lurus dengan gradien menunjukkan nilai dari R. Sifat material yang menunjukkan kurva V-I berbentuk garis lurus seperti gambar 2.12 disebut materal ohmik. Selain material Ohmik ada juga material non ohmik di mana hambatan R bergantuk juga

pada arus listrik I dan jika diplot dalam gravik V terhadap I tidak lagi linier (Yasmanrianto, 2004). Gambar 2.12, Kurva linier hambatan Ohmik dan non-ohmik 2.5 Hukum Kirchoff I dan II Hukum Kirchoff I jumlah aljabar arus I ke dalam setiap titik pertemuan adalah nol. II = 0 (kaidah titik pertemuan, berlaku di setiap titik pertemuaan). Hukum Kirchoff II menyatakan jumlah aljabar dari perubahan potensial yang ditemukan di dalam sebuah lintasan lengkap dari satu titik ke titik yang sama complete traversal dari rangkaian tersebut haruslah sama dengan nol. Yang menyatakan bahwa hukum kekekalan tenaga untuk rangkaian listrik. 2.6 Medan Listrik Medan listrik merupakan medan vektor, yang terdiri dari distribusi vektor, satu untuk setiap titik di wilayah sekitar objek bermuatan seperti batang yang bermuatan. Pada prinsipnya, definisi medan listrik di beberapa titik dekat objek bermuatan: dengan menempatkan muatan positif q, yang disebut muatan tes, pada titik. Kemudian mengukur gaya FF elektrostatik yang bekerja pada muatan tes. Akhirnya, definisi medan listrik di titik P yang disebabkan oleh muatan beban sebagai berikut, EE = FF (2.22) qq 0

Dengan demikian, besarnya medan listrik di titik P adalah EE = FF, dan arah adalah qq 0 bahwa gaya yang bekerja pada muatan uji positif. memperlihatkan medan listrik pada P dengan vektor di ujung titik P. Untuk menentukan medan listrik dalam beberapa wilayah, harus sama definisi di semua titik di wilayah tersebut. Satuan medan listrik ialah newton per coulomb (N/C), walaupun menggunakan muatan tes positif untuk mendefinisikan medan listrik dari sebuah benda bermuatan, bidang yang ada secara independen dari muatan uji. Medan pada titik P baik sebelum dan sesudah muatan uji. (Dengan asumsi bahwa dalam prosedur didefinisikan, adanya muatan uji tidak mempengaruhi distribusi muatan pada objek muatan, dan dengan demikian tidak mengubah defenisi medan listrik). Untuk menguji peran medan listrik dalam interaksi antara benda yang bermuatan, ada dua prosedur: 1. Menghitung medan listrik yang dihasilkan oleh distribusi muatan dan, 2. Menghitung gaya yang diberikannya bidang tertentu pada muatan yang ditempatkan di dalamnya. Dengan menentukan distribusi muatan dan muatan titik dan sepasang muatan titik dalam medan listrik. Agar dapat memvisualisasikan medan listrik.

2.7.1 Solenoida Solenoida merupakan kawat yang panjang yang dililitkan di dalam sebuah helix (bentuk meliuk seperti sebuah pegas) yang terbungkus rapat dan yang mengankut arusi. Gambar 2.13, Sebuah penampang lintang vertikal melalui titik pusat dari "membentang-keluar". Bagian belakang lima putaran yang ditampilkan, seperti garis-garis medan magnet karena arus melalui solenoida. Setiap gilirannya menghasilkan garis medan magnet melingkar di sekitarnya. Di sekitar sumbu solenoida, garis-garis medan menggabungkan ke dalam medan magnet yang diarahkan sepanjang sumbu. Garis-garis medan yang berdekatan menunjukkan medan magnet yang kuat. Di luar solenoida garis- garis medan luas ruang, bidang ada sangat kecil. Untuk titik P seperti gambar 2.14 maka medan yang ditimbulkan bagian atas lilitan solenoida yang ditandai ( ) menunjukkan ke kiri yang cenderung menghilangkan medan yang ditimbulkan oleh bagian lilitan solenoida teersebut (yang di tandai dengan ( ), yang mengarah ke kanan. Jika solenoida mendekati konfigurasi sebuah lembar arus silinder arus yang panjang tak - hingga, maka medan magnetik B di titik - titik luar mendekati nol. Gambar 3.4, memperlihatkan garis-garis B untuk sebuah solenoida yang riel, yang sangat jauh dari keadaan ideal karena panjangnya tidaklah jauh lebih

besar daripada diameternya. Jarak antara garis - garis B di dalam bidang inti memperlihatkan bahwa medan luar jauh lebih kecil daripada medan dalam. Dengan menerapakan hukum amper, BBddll = uu 0 ii ke lintasan segi - empat siku-siku abcd di dalam solenoida ideal dari gambar di bawah Gambar 2.14, Sebuah penampang solenoida, yang terbuat dari lilitan segi - empat kuadratis yang berdekatan, ekivalen ke pada sebuah lembar arus silinder yang panjangnya tak - hingga. Dengan menuliskan integral BBddll, sebagai jumlah dari empat integral untuk satu segmen: bb BBddll = BBddll aa cc + BBddll bb dd + BBddll cc aa + BBddll dd Integral pertama pada ruas kanan Bh, di mana B adalah besar medan magnet di dalam solenoida dan h merupakan panjang sebarang lintasan dari a ke b. Perhatikan bahwa lintasan ab, walaupun sejajar dengan sumbu solenoida, tidak perlu berimpit dengan sumbu tersebut. Integral kedua dari integral ke empat adalah nol karena untuk setiap elemen lintasan-lintasan B adalah tegak lurus pada lintasan. Hal ini membuat BBddll sama dengan nol dan karena itu integral tersebut adalah nol. Integral ketiga, yang termasuk bagian segi - empat siku - siku yang terletak di luar solenoida, adalah nol karena kita telah mengambil B sebesar nol untuk semua titik luar sebuah solenoida ideal. Jika BBddll untuk seluruh lintasan segi - empat siku - siku tersebut mempunyai nilai Bh. Arus netto i yang melewati luas yang dibatasi oleh lintasan integrasi tidaklah sama seperti arus ii 0 di dalam solenoida karena lintasan integrasi mencakup lebih daripada satu lilitan. Misalkan n adalah banyaknya lilitan per satuan panjang, maka

maka hukum amper menjadi atau i = i 0 (nh) BBh = uu 0 ii 0 nnh BB = uu 0 ii 0 nn (2.23)