E_mail: Hp

dokumen-dokumen yang mirip
PENILAIAN HASIL BELAJAR DAN PENGELOLAAN NILAI

KURIKULUM 2013 PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

2 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410); 3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tah

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2014 TENTANG

Panduan e-rapor SMK DAFTAR ISI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

KURIKULUM 2013 PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... ii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. PENILAIAN KURIKULUM B. PRINSIP PENILAIAN... 2 C. LINGKUP PENILAIAN...

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2014 TENTANG

PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN MATERI PELATIHAN: PRAKTIK PENGOLAHAN DAN PELAPORAN HASIL BELAJAR

Bahan Bacaan 2 Analisis dan Tindak Lanjut Penilaian

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Pelaksanaan Penilaian, Pengelolaan Layanan BK dan Persiapan Peminatan, Interaksi dengan Orangtua Siswa, Pengelolaan Peran Guru TIK.

KREATIVITAS GURU IPA KELAS VII DAN VIII DALAM PENYUSUNAN PENILAIAN AUTENTIK DI SMP NEGERI 1 PECANGAAN JEPARA SEMESTER GASAL TAHUN AJARAN 2014/2015

BAB III METODE PENELITIAN. (PTK). Penelitian Tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Classroom Action Research atau Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. paradigma yang lama atau cara-cara berpikir tradisional. Dalam dunia pendidikan,

BAB III METODE PENELITIAN

Penilaian Pembelajaran

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATERI PEDAGOGIK

BAB III METODE PENELITIAN. proses pembelajaran dalam kelas menggunakan model pembelajaran

Kegiatan Belajar 4: Menelaah Tes Hasil Belajar

KEEFEKTIFAN PENILAIAN AUTENTIK PADA PEMBELAJARAN AKUNTANSI DI SMK NEGERI KOTA SURAKARTA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research and

Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION

KriteriaKetuntasan Minimal

BAB I PENDAHULUAN. keaktifan siswa. Bahan uji publik Kurikulum 2013 menjelaskan standar penilaian

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA)

Kriteria Ketuntasan Minimal

BAB III METODE PENELITIAN. atau dalam bahasa Inggris disebut Research and Development (R&D).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil dari masing-masing analisis yang telah dilakukan.

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 4 ISSN X

PENILAIAN PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH ATAS

DESKRIPSI PELAKSANAAN PENILAIAN PORTOFOLIO OLEH GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SMA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan

PELAKSANAAN PENILAIAN AUTENTIK DI SEKOLAH DASAR NEGERI PUJOKUSUMAN I YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. khususnya teknologi sekarang ini telah memberikan dampak positif dalam

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan project based learning. Bahan ajar yang dikembangkan berupa RPP

IMPLEMENTASI PENILAIAN AUTENTIK KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan ABSTRAK

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. melalui proses pembelajaran. Guru sangat berperan penting dalam peningkatan mutu

KISI KISI SOAL UKG 2015 PAKET KEAHLIAN PENYULUHAN PERTANIAN STANDAR KOMPETENSI GURU

III. METODE PENELITIAN. melakukan suatu perbaikan yang bersifat reflektif dan kolaboratif. Dalam

KEMAMPUAN GURU BIOLOGI SMA NEGERI 1 GONDANG SRAGEN DALAM PENYUSUNAN PENILAIAN AUTENTIK (Authentic Assesment) SEBAGAI EVALUASI PEMBELAJARAN

Instructional Design

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

PEDOMAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK

Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus. Ilmiah Relevan Sistematis Konsisten Memadai Aktual dan kontekstual Fleksibel Menyeluruh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

b. KKM tidak dicantumkan dalam buku hasil belajar, melainkan pada buku penilaian guru.

BAB VII BUKU RAPOR SMP BERDASARKAN KURIKULUM 2013

BAB III METODE PENELITIAN. dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) pada

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Classroom Action Research atau yang

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan dalam

SOSIALISASI DAN PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 / 34

BioEdu Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian

Action Research Literate ISSN : Vol. 1, No 1 Desember 2017

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA N I KOTO XI TARUSAN ARTIKEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Satuan Pendidikan : SMAN 1 Banguntapan Mata Pelajaran : SeniBudaya Kelas / Semester : X / Satu

BAB III METODE PENELITIAN. berpendekatan aunthentic inquiry learning ini merupakan desain Research

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PPKn DI SEKOLAH DASAR

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan (research and

PENILAIAN AUTENTIK DALAM TUNTUTAN KURIKULUM 2013

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian tindakan kelas atau PTK (Classroom Action Research), dimana

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada pelaksanaan tindakan kelas ini, peneliti menyajikan materi unit suhu dan kalor

KS-SMA/ME-KUR-2013 INSTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SEKOLAH MENENGAH ATAS (S M A) RESPONDEN KEPALA SEKOLAH

STUDI EKSPLORASI KESULITAN GURU IPS SMP DI KOTA YOGYAKARTA DALAM PENILAIAN PEMBELAJARAN IPS BERDASARKAN KURIKULUM 2013

KONSEP DASAR PERENCANAAN PEMBELAJARAN. M. Nasir Tamalene (Dosen Universitas Khairun Ternate)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Nendi Rohaendi,2013

BAB I PENDAHULUAN. yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3, bahwa:

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan suatu produk baru melalui proses pengembangan dan validasi.

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Biologi

Kriteria Ketuntasan Minimal

1. Pembukaan 3. PAPARAN BK SMAN 21 JAKARTA. 4. Sambutan kepala sman 21 jakarta 6. Lain-Lain 7. PENUTUP

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kriteria Ketuntasan Minimal

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP 03)

Kriteria Ketuntasan Minimal

Transkripsi:

Kemudahan Penilaian Kurikulum 2013 berbasis Permendikbud 104 tahun 2014 (Refleksi Sekolah Implemtasi Kurikulum 2013) oleh : Miswagiyanto SMP Negeri 3 Gading Kabupaten Probolinggo E_mail: miswagiyanto@ymail.com, Hp. 081334557590 Membaca Peraturan Menteri Pendidikan dan Kurikulum Republik Indonesia nomor 160 tahun 2014 tentang pemberlakuan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 yang terdiri atas 9 pasal di dalamnya ada keputusan sebagai berikut: Pasal 1 menyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 untuk kembali menggunakan kurikulum tahun 2006. Pasal 2 ayat 1 menyebutkan satuan pendidikan dasar dan pendidikan menegah yang telah melaksanakan kurikulum 2013 selama 3 semester tetap menggunakan kurikulum 2013. Pasal 4 mengamanatkan satuan pendidikan dasar dan pendidikan menegah dapat melaksanakan kurikulum 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Dualisme kurikulum ini diakibatkan adanya polemik dan kontrovesi banyak pihak yang mendukung, dan tidak sedikit pula yang menolak kurikulum 2013. Penolakan datang dari pakar pendidikan, guru, siswa, dan masyarakat. Penolakan bukan tidak ada sebab tetapi banyak faktor pemicunya tergantung kepada sudut pandang, yang paling banyak di keluhkan oleh pendidik adalah penilaiannya, Mendengar dan membaca di media masa dan elektronik bahwa kalangan pendidik dan orang tua banyak yang mengeluhkan rumitnya sistem penilaian hasil pencapaian belajar berdasarkan kurikulum 2013. Kerumitan dan keruwetan terjadi karena kurikulum 2013 penailaiannya masih mengacu pada permendikbudnomor 57, 58, 59, dan 60 yang masing-masing mengatur Kurikulum 2013 SD, SMP, SMA dan SMK. Oleh kerena itu, melalui tulisan ini penulis melontarkan pengalaman menjadi sekolah implemetasi kurikulum 2013 dan mudah mengimplementasikan pembelajaran maupun penilaianya. 1

Kerumitan dan keruwetan penilaian kurikulum 2013 terpecahkan dengan terbitnya permendikbud 104 tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah atau Pedoman Penilaian Hasil Belajar sesuai dengan Kurikulum 2013 yang terdiri atas 15 pasal, perubahan dari permendikbud yang sebelum 104 tahun 2014 adalah sebagai berikut: Pertama, perubahan terdapat dalam penentuan skala penilaian dan model rapor Kurikulum 2013. Adapun skala penilaian berdasarkan pasal 7 Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah adalah sebagai berikut: skala penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan rentang angka dan huruf 4,00 (A) - 1,00 (D) seperti tabel sebagai berikut: Tabel konversi skor dan predikat hasil belajar untuk setiap ranah Sikap Pengetahuan Keterampilan Modus Pedikat Skor Rerata Huruf Capaian Optimum Huruf 4,00 3,00 2,00 1,00 SB (Sangat Baik) B (Baik) C (Cukup) K (Kurang) 3,85 4,00 A 3,85 4,00 A 3,51 3,84 A- 3,51 3,84 A- 3,18 3,50 B+ 3,18 3,50 B+ 2,85 3,17 B 2,85 3,17 B 2,51 2,84 B- 2,51 2,84 B- 2,18 2,50 C+ 2,18 2,50 C+ 1,85 2,17 C 1,85 2,17 C 1,51 1,84 C- 1,51 1,84 C- 1,18 1,50 D+ 1,18 1,50 D+ 1,00 1,17 D 1,00 1,17 D Kedua, format rapor pun mengalami perubahan. Apabila dalam format rapor Kurikulum 2013 sebelumnya nilai yang ditampilkan hanya nilai kualitatif seperti A, A-, B,B-. dan sebagainya, pada format rapor baru baik nilai kuantitatif seperti 4,00; 3,50, dan sebagainya maupun nilai kualitatif seperti A, A-, B,B-. kedua-duanya harus dicantumkan. Namun demikian, Peraturan Menteri 2

Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah, dapat memberi penegasan terkait KKM yang pada permendikbud nomor 57, 58, 59, dan 60 tahun 2014 tidak konsisten antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Berdasarkan pasal 9 Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah ditetapkan bahwa KKM atau ketuntasan kompetensi sikap minimal dengan predikat Baik. Sedangkan KKM atau ketuntasan kompetensi pengetahuan ditetapkan paling kecil (minimal) 2,67,dan KKM untuk ketuntasan kompetensi keterampilan ditetapkan paling kecil 2,67. Ketiga, penilaian merupakan masalah yang paling krusial di kurikulum 2013. Salah satu ide penilaian pada kurikulum 2013 adalah penilaian autentik, namun perkembangan selanjutnya ditegaskan di permendikbud 104/2014 penilaian terdiri atas penilaian autentik dan non-autentik (Pasal 2 ayat 1 Permendikbud 104/2014). Pengambilan nilai sikap menggunakan teknik MODUS. nilai pengetahuan dengan teknik RERATA dan nilai keterampilan dengan tehnik RERATA OPTIMUM (Pasal 6) Untuk setiap kegiatan penilaian, yaitu ulangan harian, ulangan tengah semester, penugasan dan lain-lain menggunakan skor 1 4. Tidak lagi menggunakan skor 0 100. (lampiran halaman 22) Ketuntasan untuk nilai pengetahuan dan keterampilan adalah 2,67, sedangkan untuk nilai sikap adalah B.(lampiran halaman 12) Nilai dalam rapor SMP dan SMA untuk pengetahuan dan keterampilan dinyatakan dalam bentuk angka real (bukan kelipatan 0,33) dan dalam bentuk predikat (huruf A D), sedangkan nilai sikap dinyatakan dalam bentuk SB, B, C dan K.(lampiran halaman 25) Selain itu, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami mengenai ketentuanketentuan penilaian menurut permendikbud 104 tahun 2014 sebagai berikut: Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pedoman Penilaian Hasil Belajar Oleh 3

Pendidik, bahwasannya Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki peran antara lainuntuk membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran (learning achievement). Berdasarkan penilaian hasil belajar oleh pendidik, pendidik danpeserta didik dapat memperoleh informasi tentang kelemahan dankekuatan pembelajaran dan belajar. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatannya, pendidik dan peserta didik memiliki arah yang jelas mengenai apa yang harus diperbaiki dan dapat melakukan refleksi mengenai apa yang dilakukannya dalam pembelajaran dan belajar. Selain itu bagi peserta didik memungkinkan melakukan proses transfer cara belajar tadi untuk mengatasi kelemahannya (transfer of learning). Sedangkan bagi guru, hasil penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan alat untuk mewujudkan akuntabilitas profesionalnya, dan dapat juga digunakan sebagai dasar dan arah pengembangan pembelajaran remedial atau program pengayaan bagi peserta didik yang membutuhkan, serta memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Dalam konteks pendidikan berdasarkan standar (standard-based education), kurikulum berdasarkan kompetensi (competency-based curriculum), dan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) penilaianproses dan hasil belajar merupakan parameter tingkat pencapaian kompetensi minimal. Untuk itu, berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran perlu dikembangkan untuk memfasilitasi peserta didik agar mudah dalam belajar dan mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan penilaian autentik (authentic assesment). Secara paradigmatik penilaian autentik memerlukan perwujudan pembelajaran autentik (authentic instruction) dan belajar autentik (authentic learning). Hal ini diyakini bahwa penilaian autentik lebih mampu memberikan informasi kemampuan peserta didik secara holistik dan valid. 4

Rekomendasi Seideal apapun kurikulum tidak akan memiliki dampak signifikan, tapi Kita sadar bahwa hasil pendidikan sebagai dampak kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat, penilaian kurikulum 2013 sangat tepat dengan kondisi bangsa saat ini yaitu lemahnya sikap yang mendukung kemampuan pengetahuan dan ketrampilan. Namun pada penilaian kurikulum 2013 seharusnya diadakan penyederhanan format sehingga nantinya penilaiannya lebih sederhana dan mengakomudasi sikap untuk mendukung pengetahuan dan ketrampilan implementasinya tidak rumit. 5

6

7