PERTEMUAN 12 TOLERANSI LINIER DAN TOLERANSI SUDUT

dokumen-dokumen yang mirip
Toleransi& Implementasinya

SUAIAN Basori. Untuk ketiga macam suaian tersebut, dapat kita lihat pada diagram toleransi (daerah toleransinya), seperti tampak gambar berikut.

TOLERANSI. Istilah dalam Toleransi Pengertian istilah dalam lingkup toleransi dapat dilihat pada gambar dan paparan berikut ini.

TOLERANSI LINIER Basori

MAKALAH KONFIGURASI PERMUKAAN DAN TOLERANSI SEMESTER GENAP 2015

METROLOGI INDUSTRI DAN STATISTIK

dengan toleransi batas suaian* toleransi c. Ukuran d. Ukuran Suaian Suaian Suaian halus sedang Sampai dengann 3 6 kasar ±

BAB VI POROS DAN PASAK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN SILABUS. Pengalaman Belajar. Materi Pokok

PENGARUH PARAMETER POTONG TERHADAP DIAMETER PITS ULIR METRIK

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH MENGGAMBAR TEKNIK (T.INDUSTRI /S1) KODE / SKS KD /2 SKS

TRANSMISI RANTAI ROL

PERTEMUAN 13 TOLERANSI GEOMETRI DAN KONFIGURASI PERMUKAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PEMBERIAN UKURAN DIMENSI

Tujuan Pembelajaran:

TEORI SAMBUNGAN SUSUT

MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT Menentukan Persyaratan Kerja

MENGGAMBAR BAGIAN MESIN SECARA TERPERINCI

3. Mesin Bor. Gambar 3.1 Mesin bor

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Gambar Kerja Mesin Pencacah Rumput

Gambar Teknik Mesin i

Lampiran 1. Gambar Kerja Mesin Modifikasi Camshaft (lanjutan)

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

Gambar 3D dan 2D Mesin Penyuir Daging

MEMBACA GAMBAR TEKNIK

METODE PENDEKATAN EVALUASI PRODUK PRATIKAN MENGOPERASIKAN MESIN GERINDA DAN MESIN BUBUT UNTUK MATA KULIAH PRAKTEK MESIN PERKAKAS

Program Studi Teknik Mesin S1

TRANSMISI RANTAI ROL 12/15/2011

BAB 3 REVERSE ENGINEERING GEARBOX

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

GAMBAR TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN

BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:

PERANCANGAN MESIN PRESS BAGLOG JAMUR KAPASITAS 30 BAGLOG PER JAM. Oleh ARIEF HIDAYAT

Lampiran. Faktor-faktor Koreksi Daya yang Akan Ditransmisikan. Faktor-faktor Koreksi. (Sularso,2004:7)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teknik Gambar Manufaktur 3

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin

MESIN BOR. Gambar Chamfer

TUJUAN PEMBELAJARAN. 3. Setelah melalui penjelasan dan diskusi. mahasiswa dapat mendefinisikan pasak dengan benar

Dalam menentukan ukuran utama mesin skrap ini, hal yang berpengaruh antara lain:

KELAS XI SEMESTER 3 i

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini

BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN. penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah :

IV. PENDEKATAN DESAIN

BAB II LANDASAN TEORI

PEMBUATAN MESIN PENYAPU SAMPAH DAUN KAPASITAS 20 KG/JAM

BAB III TEORI PERHITUNGAN. Data data ini diambil dari eskalator Line ( lampiran ) Adapun data data eskalator tersebut adalah sebagai berikut :

Pengefraisan Roda Gigi Helik/Miring

BAB II MESIN BUBUT. Gambar 2.1 Mesin bubut

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

MODUL 9 ALAT KERJA TANGAN DAN MESI N (MENGEBOR DAN MELUASKAN) TINGKAT X PROGRAM KEAHLI AN TEKNI K PEMANFAATAN TENAGA LI STRI K DISUSUN OLEH :

PERTEMUAN 7 ATURAN DAN CARA MEMBERI UKURAN

BAB IV PERHITUNGAN DIMENSI UTAMA ESKALATOR. Dari gambar 3.1 terlihat bahwa daerah kerja atau working point dalam arah

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI MEKANIK JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN

BAB II LANDASAN TEORI Alat-alat Pembantu Untuk Meningkatkan Produksi Pada Mesin. dan kecepatannya sayatnya setinggi-tingginya.

ATURAN-ATURAN DASAR UNTUK MEMBERI UKURAN

SOAL LATIHAN 1 TEORI KEJURUAN PEMESINAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

FORMAT GAMBAR PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR ATA 2014/2015 LABORATURIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

2. Mesin Frais/Milling

INSTRUMEN TES PADA RANAH KOGNITIF PENELITIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PADA MATA PELAJARAN MEMBACA GAMBAR TEKNIK DASAR

BAB III PROSES PEMBUATAN STEAM JOINT STAND FOR BENDED TR

Program Studi Teknik Mesin S1

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai

BAB III METODOLOGI. Pembongkaran mesin dilakukan untuk melakukan pengukuran dan. Selain itu juga kita dapat menentukan komponen komponen mana yang

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN MESIN PEMBUAT TALI TAMPAR DARI BAHAN LIMBAH PLASTIK. Oleh:

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT KOMPLEKS Ulir, Tirus, Eksentrik dan Benda Panjang

Perancangan ulang alat penekuk pipa untuk mendukung proses produksi pada industri las. Sulistiawan I BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 5 SAMBUNGAN BAUT

MAKALAH ELEMEN MESIN RANTAI. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Elemen Mesin

PERTEMUAN 1 FUNGSI DAN SIFAT GAMBAR SEBAGAI BAHASA TEKNIK

MATERI KULIAH CNC Memasang Cekam dan Benda kerja Pada Mesin Bubut CNC

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. ANALISIS TEKNIK. Pd n. Besarnya tegangan geser yang diijinkan (τ a ) dapat dihitung dengan persamaan :

ANALISIS UMUR PAHAT DAN BIAYA PRODUKSI PADA PROSES DRILLING TERHADAP MATERIAL S 40 C

BAB 4 PROSES GURDI (DRILLING)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proses Manufaktur Komponen Dinamis Pada Mesin Pengiris multi hortikultura. Oleh : BENY SANTOSO

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

MACAM MACAM SAMBUNGAN

SMK PGRI 1 NGAWI TERAKREDITASI: A

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN MESIN PENCACAH GELAS PLASTIK. Oleh : RAHMA GRESYANANTA FABIAN SURYO S Pembimbing

PERHITUNGAN DAYA DAN PENGUJIAN MESIN PENGEPRESS SANDAL

BAB li TEORI DASAR. 2.1 Konsep Dasar Perancangan

Transkripsi:

12.1. Toleransi Standar Internasional PERTEMUAN 12 TOLERANSI LINIER DAN TOLERANSI SUDUT Toleransi adalah suatu penyimpangan ukuran yang diperbolehkan atau diizinkan. Kadangkadang seorang pekerja hanya mengerjakan bagian mesin yang tertentu saja, sedangkan pekerja yang lain mengerjakan bagian lainnya. Tetapi antara satu bagian dengan bagian lain dari bagian yang dikerjakan itu harus bisa dipasang dengan baik (mudah). Oleh karena itu, harus ada standar ketepatan ukuran yang harus dipatuhi dan dipakai sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu benda agar bagian-bagian mesin itu dapat dipasang, bahkan ditukar dengan bagian lain yang sejenis. Untuk menghindari keraguan dan untuk keseragaman nilai toleransi strandar telah ditentukan oleh ISO/R286 (ISO System of Limits and Fits Sistem ISO untuk Limit dan suaian). Toleransi standar ini disebut Toleransi Internasional atau IT. Dalam system standar limit san suaian, sekelompok toleransi yang dianggap mempunyai ketelitian yang setaraf untuk semua ukuran dasar, disebut kwalitas toleransi. Pada prinsipnya pembatasan-pembatasan ukuran dalam toleransi poros dan lubang ditunjukkan seperti pada Gb. 12.1 di bawah ini. 12.2. Nilai-nilai pada Toleransi Gb. 12.1 Definisi istilah mengenai toleransi Angka pada toleransi menunjukkan kualitas toleransi. Telah ditentukan kwalitas toleransi, yang disebut toleransi standar yaitu IT 01, IT 0, IT 1 sampai dengan IT 16. Nilai IT 01 sampai IT 4 diperuntukkan pekerjaan yang sangat teliti, seperti alat ukur, instrument optik dan sebagainya. Tingkat IT 5 sampai dengan IT 11 dipakai pada bidang permesinan umum, untuk 1

bagian-bagian yang mampu tukar, yang dapat digolongkan pula dalam pekerjaan sangat teliti dan pekerjaan biasa. Tingkat IT 12 s/d IT 16 dipakai untuk pekerjaan kasar. Untuk tingkat toleransi IT 5 s/d IT 16, nilai toleransinya ditentukan oleh satuan toleransi I, sebagai berikut: i = 0,45 D 3 + 0,001D Dalam satuan micron dan D adalah harga rata-rata geometric dari kelompok ukuran nominal, dalam mm. Nilai toleransi standar kwalitas 5 s/d 16 12.3. Huruf pada Toleransi Huruf toleransi menunjukkan kedudukan daerah-daerah toleransi terhadap garis dasar. Untuk toleransi lubang digunakan huruf besar, sedangkan untuk poros digunakan huruf kecil. Untuk menghindari kekeliruan dalam membaca antara huruf dan angka maka ada beberapa huruf yang dihilangkan, yaitu huruf I, L, O, Q, dan W. Contoh penulisan toleransi adalah sebagai berikut: 12.4. Suaian-suaian (Fits) Dengan adanya toleransi akan terjadi perbedaan-perbedaan ukuran dari bagian yang selesai dikerjakan dan akan dipasang. Tetapi perbedaan-perbedaan ini masing-masing dijamin untuk bisa dipasang dengan bagian yang menjadi pasangannya. Bila bagian itu dipasang atau digabungkan maka akan menjadi satu keadaan tertentu yang merupakan hasil dari gabungan atau pasangan itu. Keadaan hasil pasangan tersebut dinamakan suaian (fits). a. Jenis jenis Suaian Suaian yang terjadi ada beberapa macam, tergantung daerah toleransi dari poros, maupun lubang yang dipakai sebagai basis pemberian toleransi. Kemungkinan-kemungkinan jenis toleransi adalah sebagai berikut. 1) Suaian longgar (Clearance fits), yaitu bila bagian yang berpasangan pada waktu dipasang mempunyai kelonggaran yang pasti. 2) Suaian transisi (Transition fits) ini akan terjadi dua kemungkinan, yaitu bisa terjadi kesesakan kecil maupun kelonggaran kecil. 2

3) Suaian sesak (Interfereance fits) pada pemasangan ini selalu dalam keadaan sesak. b. Cara Menentukan Besarnya Toleransi Ada dua cara dalam menentukan besarnya toleransi yang dikehendaki, yaitu dengan sistem basis lubang dan sistem basis poros. Kedua cara ini bisa dipakai dalam menentukan toleransi ukuran. Pada sistem basis lubang, semua lubang diseragamkan pembuatannya dengan toleransi H sebagai dasar, sedangkan ukuran poros berubah-ubah menurut macam suaian. Pada sistem basis poros, ukuran poros sebagai dasar dengan toleransi "h" dan ukuran lubang berubah-ubah. 1) Sistem Basis Lubang Suaian dengan sistem basis lubang ini banyak dipakai. Suaian yang dikehendaki dapat dibuat dengan jalan mengubah-ubah ukuran poros, dalam hal ini ukuran batas terkecil dari lubang tetap sama dengan ukuran nominal. Dalam basis lubang ini akan didapatkan keadaan suaian-suaian sebagai berikut. a. Suaian longgar: dengan pasangan daerah toleransi untuk lubang adalah H dan daerah toleransi poros dari a sampai h. b. Suaian transisi dengan pasangan daerah toleransi lubang H dan daerah-daerah toleransi poros dari j sampai n. c. Suaian sesak: dengan pasangan daerah toleransi lubang H dan daerah toleransi poros dari p sampai z. Sistem basis lubang ini biasanya dipakai dalam pembuatan bagian-bagian dari suatu mesin perkakas, motor, kereta api, pesawat terbang, dan sebagainya. 2) Sistem Basis Poros Dalam suaian dengan basis poros maka poros selalu dinyatakan dengan "h". Ukuran batas terbesar dari poros selalu sama dengan ukuran nominal. Pemilihan suaian yang dikehendaki dapat dilakukan dengan mengubah ukuran lubang. Sistem basis poros kurang disukai orang karena merubah ukuran lubang lebih sulit daripada merubah ukuran poros. Dalam sistem basis poros juga akan didapatkan keadaan suaian yang sama dengan suaian dalam system basis lubang dengan demikian dikenal juga: a. suaian longgar: dengan pasangan daerah toleransi h dan daerah toleransi lubang A sampai H, b. suaian transisi: dengan pasangan daerah toleransi h untuk poros dan daerah toleransi lubang J sampai H, c. suaian sesak: dengan pasangan daerah toleransi h untuk poros dan daerah untuk lubang P sampai Z. Sistem basis poros banyak digunakan dalam pembuatan bagian alat-alat pemindah, motor-motor listrik, pesawat angkat, dan sebagainya. 3

12.5. Tingkatan Suaian Dalam penggunaannya, suaian-suaian longgar, transisi, maupun sesak masih harus dibagi dalam tingkatan-tingkatan yang lebih terperinci. Dengan demikian dapat ditentukan jenis suaian yang tepat untuk suatu komponen menurut penggunaan dari komponen yang akan dibuat. Tingkatan suaian dari masing-masing keadaan suaian untuk basis lubang dapat dilihat pada tabel 12.1. 4

1. Suaian Longgar a. Suaian sangat luas Suaian yang sangat longgar merupakan hasil pasangan dari H11-c11; H9d10; dan H9-e9. Tingkatan suaian ini digunakan untuk bagian-bagian yang mudah berputar, mudah dipasang dan dibongkar tanpa paksa, misalnya dipakai pada poros roda gigi, poros hubungan, dan bantalan dengan kelonggaran yang pasti. b. Suaian luas Suaian H8-f7 dan H7-g6. Suaian ini biasanya dipakai pada peralatan yang berputar terus-menerus, misalnya dipakai pada bantalan yang mempunyai kelonggaran biasa, yaitu bantalan jurnal. c. Suaian geser Suaian H7h6. Suaian ini banyak dipakai pada peralatan yang tidak berputar, misalnya senter kepala lepas, sarung senter, dan poros spindel. 2. Suaian Transisi Suaian ini merupakan hasil gabungan antara lubang dan poros yang akan menghasilkan suatu keadaan kemungkinan longgar dan sesak, hal ini tergantung dari daerah toleransi yang dipakai yang termasuk dalam suaian transisi adalah sebagai berikut. a. Suaian puntir Suaian H7-k6. Suaian ini digunakan apabila pasangannya memerlukan kesesakan dan dengan jalan dipuntir waktu melepas maupun memasang, misalnya sebuah metal dengan tempat duduknya. b. Suaian paksa Suaian H7-n6. Pada suaian ini akan terjadi kesesakan permukaan yang dipasang agak panjang. Contoh pemakaiannya pada plat pembawa dalam mesin bubut, kopling, dan sebagainya. 3. Suaian sesak a. Suaian kempa ringan Suaian H7-p6. Pasangan dalam suaian ini harus ditekan atau dipukui dengan menggunakan palu plastik atau palu kulit. Pengunaan suaian ini misalnya pada bus-bus bantalan dan pelak roda gigi. b. Suaian kempa berat Suaian H7-p6. Pemasangan suaian ini harus ditekan dengan gaya yang agak berat dan suatu ketika harus menggunakan mesin penekan. Suaian ini digunakan pada kopling atau pada gelang tekan. Untuk basis poros: 1. Suaian Longgar a. Suaian sangat luas Suaian h11-c11; h9-d10; dan h9-e9. Penggunaannya adalah pada bantalan-bantalan yang mudah dipasang dan dilepas dengan poros. b. Suaian luas 5

Suaian h7-f8 dan h6-g7. Contoh penggunaannya pada bantalan jurnal dan peralatan yang tidak berputar. c. Suaian geser Suaian h6-h7. Penggunaan pada peralatan yang tidak berputar. 2. Suaian Transisi a. Suaian puntir Suaian h6-k7. Suaian ini dipakai pada peralatan yang pemasangannya harus mengalami penekanan dan dipuntir. b. Suaian paksa Suaian h6-n7. Pada sistem ini juga terjadi kesesakan yang pasti. 3. Suaian Sesak a. Suaian kempa ringan Suaian h6-p7. Pemasangan komponen dalam suaian ini harus ditekan. b. Suaian kempa berat Suaian h6-s7. Pemasangan komponen ini harus ditekan dengan gaya yang lebih berat. Tabel 12.1 Suaian basis lubang 6

Tabel 12.2 Suaian basis poros 7

Tabel 12.3 Daftar macam tingkatan suaian 12.6. Menentukan Harga toleransi Komponen-komponen yang termasuk dalam golongan lubang adalah dudukan-dudukan dari pasak poros, bantalan-bantalan, lubang poros roda gigi, lubang poros bubungan, dan sebagainya. Komponen-komponen yang termasuk golongan poros adalah poros-poros, pasak-pasak, baut-baut, sekrup-sekrup, senter, ring torak, pena torak, dan sebagainya. Tabel 12.3 adalah tabel harga-harga toleransi dari lubang dan poros yang sudah berpasangan menurut tingkatan dan menurut keadaan suaian. Sebagai contoh kita harus menentukan harga toleransi dari suatu suaian sangat luas untuk ukuran suatu iubang 20 H11. Untuk mengetahui toleransi dari H11, lihat pada lajur ukuran nominal paling kiri. Di baris 8

+0,13 terdapat angka 18-30 mm, cari kolom H11 dari atas sehingga didapat angka 0 (mikronmeter). Untuk selanjutnya agar pembacaan oleh pekerja di bengkel lebih jelas maka ditulis 20H11 +0,13. Dalam menentukan harga toleransi, kita tidak terikat oleh tingkatan 0 suaiannya, misalnya dari contoh di atas tidak harus memberi harga +0,13, tetapi bila 0 menghendaki dalam perencanaan kurang dari harga tersebut, tentu saja diperbolehkan, Misalnya 20H11 +0,10. 0 Dalam hal ini, pemberian dimensi dari toleransi merupakan tanggung jawab moral perencana. Bila akan mencari harga toleransi dari ukuran nominal lubang dengan ukuran 30 mm maka lajur yang dipakai adalah lajur untuk diameter 18-30 mm bukan lajur 30-40 mm. 12.7. Daerah Toleransi Daerah toleransi adalah selisih antara ukuran maksimum dan minimum yang diizinkan dari suatu lubang maupun poros dalam harga mutlak. Gb. 12.2 Penunjukan daerah toleransi positif-negatif Gb. 12.3 Penunjukan daerah minimum-maksimum Gb 12.2 menunjukkan sebuah segi empat yang mempunyai toleransi ± 0,5 pada masingmasing ukuran, yaitu pada ukuran panjang dan ukuran lebar. Pada Gb. 12.3 menunjukkan hasil ukuran yang mungkin terjadi karena adanya toleransi. Oleh karena itu dalam gambar tersebut ditunjukkan juga daerah toleransinya. Harga toleransi ± 0,5 mm, artinya penyimpangannya adalah +0,5 mm dan -0,5 mm. Tanda + berarti letak daerahnya ada di atas garis batas dasar (garis O) dan tanda - (negatif) berarti daerahnya terletak di bawah garis batas dasar. Penyimpangan ukuran +0,5 mm adalah penyimpangan membesar atau disebut penyimpangan atas, pada umumnya ditulis simbol ES yang merupakan singkatan dari kata Ecart Superieur(bahasa Prancis). Penyimpangan -0,5 mm adalah penyimpangan mengecil, disebut juga penyimpangan bawah, biasanya diberi simbol El yang merupakan singkatan dari Ecart Inferieur. Ukuran maksimum sisi panjangnya adalah 25 + (+0,5) = 25,5 mm. Ukuran minimum dari sisi panjangnya adalah 25 + (-0,5) = 24,5 mm. Dengan demikian daerah toleransinya, yaitu ukuran maksimum ukuran minimum = 25,5-24,5 = 1 mm. 9

12.8. Penyajian Toleransi Penyajian toleransi pada gambar kerja mengikuti aturan yang akan diuraikan pada paparan berikut ini. Penyajian dimulai dari ukuran dasar (20), daerah toleransi (f) dan kualitas toleransi (7). Jika harga penyimpangannya perlu dicantumkan maka dapat dicantumkan dalam tanda kurung. Penyajian toleransi dengan angka dimulai dengan ukuran dasar, diikuti harga penyimpangannya. Penyimpangan atas dicantumkan di atas dan penyimpangan bawah dicantumkan di bawahnya (penentuan penyimpangan atas atau penyimpangan bawah ditentukan dari harga matematisnya), tanpa tanda kurung. Jika salah satu penyimpangannya nol, maka ditulis 0 tanpa tanda tambah (+) atau tanda kurang ( ) (lihat gambar). Penyajian toleransi simetris dengan harga penyimpangan yang sama (dengan tanda yang berbeda), penulisannya sekali saja dengan didahului tanda ± (artinya penyimpangan atas +0,2 dan penyimpangan bawah 0,2). Penyajian toleransi dapat juga dengan cara menuliskan ukuran maksimum izin dan ukuran minimum izin. Ukuran maksimum ditulis di atas ukuran minimum. Penulisan toleransi yang dibatasi oleh satu batas dinyatakan dengan kata min atau maks di belakang ukuran dasarnya. Satuan dari penyimpangan harus ditulis sama dengan satuan ukuran dasar dengan jumlah desimal yang sama, kecuali salah satu penyimpangannya nol. 10

Penempatan toleransi untuk lubang selalu disimpan di atas. Berikut ini disampaikan beberapa contoh cara penulisan toleransi untuk gambar susunan. Toleransi ukuran untuk sudut, prinsip penyajiannya sama dengan toleransi ukuran panjang. Satuannya dinyatakan dalam derajat, menit dan detik (lihat gambar). Tabel 12.4. merupakan sebagian kecil saja dari tabel toleransi standar ISO. Untuk menggunakannya dilihat dari ukuran dasar kemudian bergeser ke kanan dan lihat ke atas 11

sampai pada huruf dan angka toleransi yang diinginkan. Satuan pada tabel adalah mm, jika gambar kerja menggunakan satuan mm maka harga dari tabel harus dibagi 1000. Tabel 12.4. Toleransi ISO Berikut disampaikan contoh pemakaian suaian basis lubang pada mesin, pemilihan suaian disesuaikan dengan fungsinya 12

Gb. 12.4 Pemakaian suaian pada mesin Pada diagram berikut diperlihatkan hubungan antara biaya produksi dengan toleransi, semakin kecil toleransi semakin mahal ongkos produksi. Gb. 12.5 Hubungan biaya produksi dengan toleransi 13

Soal-soal Gambar 1 1. Pada gambar 1 di atas terdapat lambang-lambang toleransi suaian poros dan lubang. Jelaskan maksud dari lambang berikut: a) Ø 10H7 b) Ø 10 g6 Gambar 2 14

2. Bagian 3 pada gambar di atas terdapat tanda toleransi poros 16e9, bila terjadi perubahan toleransi menjadi 16g6, maka pasangan lubang yang akan anda pilih dengan kondisi suaian luas adalah... 3. Dengan bantuan tabel suaian di atas, maka untuk suaian luas ukuran yang diijinkan untuk poros 16e9 adalah... 4. Dengan bantuan tabel suaian di atas, maka untuk suaian punter pasangan lubang dan poros yang berdiameter nominal 14 mm adalah... 5. Pada gambar di atas terdapat lambang-lambang toleransi suaian lubang dan poros. Jelaskan maksud dari lambang berikut ; a) 47,9 +0,2 0 b) Ø45H7 c) Ø 160 g7 15