BABV Kromatografi Kolom (Column Chromatography)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BABm METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB III METODE PENELITIAN

LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian menggunakan

III. BAHAN DAN METODA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I.1

Kelompok 2: Kromatografi Kolom

KROMATOGRAFI KERTAS DAN KOLOM. Ika Buana J, M.Sc., Apt. PRODI FARMASI FK UNISSULA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di

3 Percobaan dan Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. November Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan

Kromatografi tambahan. Imam S

Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

4024 Sintesis enantioselektif pada etil (1R,2S)-cishidroksisiklopentana

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :

Modul l Modul 2 Modul 3

3 Percobaan. Garis Besar Pengerjaan

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan menggunakan metode

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

METODE PENGUJIAN KADAR AIR DAN KADAR FRAKSI RINGAN DALAM CAMPURAN PERKERASAN BERASPAL

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA. Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK. Waktu 150 menit. Kementerian Pendidikan Nasional

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus April 2013, bertempat di

BAHAN DAN METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2015 di

IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA ANTRAQUINON PADA FRAKSI KLOROFORM AKAR KAYU MENGKUDU ( Morinda Citrifolia, L) ABSTRAK

SOAL UJIAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014

LAPORAN KIMIA ORGANIK

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komponen Bioaktif, Jurusan

Lampiran 2. Dosis pupuk NPKMg-TE untuk pemupukan bibit kelapa sawit Dura x Pisifera standar kebun

4022 Sintesis etil (S)-(+)-3-hidroksibutirat

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA DALAM FRAKSI NON-POLAR DARI TANAMAN PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk)

DESTILASI SECARA UMUM

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

Bab III Metodologi Penelitian

4005 Sintesis metil 9-(5-oksotetrahidrofuran-2-il)nonanoat

4001 Transesterifikasi minyak jarak menjadi metil risinoleat

4002 Sintesis benzil dari benzoin

Bab III Metodologi Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3. Bahan baku dengan mutu pro analisis yang berasal dari Merck (kloroform,

BAB VII Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi (KCKT) (High Performance Liquid Chromatography)HPLC

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

Metodologi Penelitian. III.1 Bahan dan Alat yang Digunakan dalam Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Proses Pemurnian Etanol dengan Menggunakan Alat Sistem

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

KLASIFIKASI KROMATOGRAFI

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah eksperimen. Penelitian ini dilakukan dilaboratorium Kimia Universitas

BABffl METODOLOGIPENELITIAN

Percobaan 1 PENGGUNAAN ALAT DASAR LABORATORIUM

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography)

Ekstraksi Minyak Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr.) selama 1 menit dan didiamkan selama 30 menit. diuapkan dengan evaporator menjadi 1 L.

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

MENGOPERASIKAN PIPET

BAB II METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai

BAB III METODA PENELITIAN. Secara umum, proses penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI2051) PERCOBAAN 03 PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK: EKSTRAKSI DAN ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH SERTA UJI ALKALOID

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di

BAB III METODE PENELITIAN. Neraca analitik, tabung maserasi, rotary evaporator, water bath,

Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr).

Nama Alat Fungsi Cara Kerja Alat Cara Membersihkan 1. Labu Ukur Untuk mengencerkan suatu larutan.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai September 2016.

Lampiran 1. Hasil identifikasi tanaman jambu bol (Syzygiun malaccense L. Merr & Perry)

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

METODE PENGUJIAN TITIK LEMBEK ASPAL DAN TER

Cara Pengklasifikasian Kromatografi :

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI. III. 1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan sabun pencuci piring ialah :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Metodologi Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi,

Transkripsi:

BABV Kromatografi Kolom (Column Chromatography) Kromatografi kolom termasuk kromatografi cairan, adalah metoda pemisahan yang cukup baik untuk sampel lebih dari 1 gram. Pada kromatografi ini sampel sebagai lapisan terpisah diletakkan diatas fase diam. Biasanya sampel dihomogenkan dengan fase diam sehingga merupakan serbuk kering, diatas lapisan ini dapat diletakkan pasir untuk menjaga tidak terjadinya kerusakan waktu ditambahkan fase gerak diatas lapisan sampel. Fase diam dan sampel ini berada di dalam kolom yang biasanya dibuat dari gelas, logam ataupun plastik. Selama elusi fase gerak dialirkan dari atas, mengalir karena gaya gravitasi atau ditekan dan juga disedot dari arah bawa. Komponen sampel akan terpisah selama bergerak dibawa fase gerak didalam kolom (fase diam). Komponen yang paling tidak tertahan oleh fase diam akan keluar lebih dahulu dan diikuti oleh komponen lain. Semuanya ditampung sebagai fraksi, volume tiap fraksi tergantung besarnya sampel (kolom). Kolom kromatografi Kolom biasanya berbentuk seperti buret untuk titrasi, ukurannya beragam. Perbandingan panjang kolom sekurang-kurangnya 10 kalinya diameternya, perbandingan ini tergantung mudah tidaknya komponen dipisahkan. Perbandingan berat sampel dan fase gerak (1 : 30) biasanya cukup memadai untuk pemisahan yang mudah, perbandingan dapat ditingkatkan hingga (1:50) untuk komponen yang susah dipisahkan. Fase diam Ukuran partikel fase diam bisanya lebih besar dari ukuran partikel fase dian untuk KLT, ukuran yang digunakan antara 63-250 iim. Ukuran partikel lebih kecil 63 jam fase gerak akan mengalir lebih lambat, sehingga perlu ditekan atau dihubungkan dengan pipa hisap. Silika gel (SiOi) adalah fase diam yang serba guna, banyak digunakan. Pada pembuatannya silika gel perlu diaktifkan panaskan pada 150-160 C selama 3-4 jam. Fase diam lain adalah alumina.

Pemilihan Fase gerak (pelarut=solven = eluen) Pemilihan fase gerak sangat menentukan berhasil tidaknya pemisahan. Untuk menentukan fase gerak yang akan digunakan, dilakukan pendekatan: 1. Penelusuran literature/pustaka. 2. Mencoba dengan KLT. Cara ini dikerjakan dengan memilih fase diam KLT sejenis dengan fase diam kolom yang akan digunakan. Biasanya dicoba dikembangfcan dengan fase gerak non polar kemudian diikuti dengan fase gerak yang lebih polar. Membuat kolom (packing) Pengemasan kolom dapat dilakukan dengan cara basah atau cara kering. Cara basah lebih mudah untuk memperoleh packing yang memberikan pemisahan yang baik. Sedangkan cara kering umumnya dilakukan untuk alumina. Cara basah Kedalam ujung kolom kromatografi (tempat keluarnya fase diam) diatas keran diletakkan gelas wool, tidak perlu ditekan kuat. Diatasnya ditaburkan pasir sehingga membentuk lapisan tebal + 1 cm. Selanjutnya dimasukkan petroleum eter sambil mencoba kecepatan menetes fase gerak dengan memutar keran. Di dalam beker gelas dibuat bubur fase diam dengan petroleum eter. Dengan bantuan batang pengaduk bubur dimasukkan kedalam kolom berisi petroleum eter. Sambil diketuk-ketuk butir-butir fase diam akan turun dan tersusun rapi didalam kolom. Bila kolom penuh dengan petroleum eter keran dibuka untuk menurunkan permukaannya dan petroleum eter yang keluar dapat digunakan lagi untuk membuat bubur fase diam. Packing dihentikan sampai panjang kolom yang dikehendaki. Selapis pasir diletakkan pada packing kolom untuk melindungi kolom. Kolom dijaga untuk tidak kering, maka diatas lapisan pasir haras selalu ada selapis fase gerak. Pada proses packing ini dinding luar kolom gelas disemprot dengan aseton. Penyemprotan dimaksudkan untuk mendinginkan kolom sehingga menghambat terbentuknya gelembung udara. Adapun untuk kolom yang diameternya kecil fase diam kering dapat ditaburkan sedikit demi sedikit kedalam kolom yang berisi petroleum eter. Kolom ini

digunakan setelah disimpan semalam. Cara kering Selapis pasir diletakkan didasar kolom, kemudian fase gerak dimasukkan lapis demi lapis sampil ditekan dengan karet atau alat penekan lain. Selain ditekan dapat juga dibantu dengan dihisap, sehingga dihasilkan packing fase diam yang mampat. Diatas fase diam diletakkan kertas saring dan diatasnya lagi sdapis pasir. Pada posisi keran terbuka fase gerak dituangkan dan dibiarkan mengalir keluar. Packing kolom disimpan dengan mempertahankan selapis fase gerak berada diatas lapisan pasir. Penyiapan Sampel Sampel ditimbang kemudian dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, kemudian dituangkan hati-hati diatas packing kolom. Fase gerak dikeluarkan tetes demi tetes, diatur kecepatan menetesnya (tergantung besar-kecilnya kolom) dan dijaga kolom tetap terendam, untuk itu ditambah fase gerak perlahan-lahan dan dijaga tidak merusak packing kolom. Fase gerak yang keluar ditampung sebagai fraksi. Volume fraksi tergantung berat sampel dan pemisahan yang nampak pada kolom saat proses awal elusi ini. Makin kecil volume fraksi, akan diperoleh pemisahan yang lebih baik, namun akan dikumpulkan banyak fraksi. Untuk 10 gram sampel biasanya dikumpulkan fraksi dengan volume a 150 ml. Cara meletakkan sampel pada kolom yang lebih baik adalah dengan mencampur dengan fase diam. Satu bagian sampel dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, biasanya pelarut yang digunakan adalah pelarut yang digunakan untuk pembuatan ekstrak. Larutan ekstrak ini kemudian dicampur dengan 2,0-3.0 bagian fase diam, dengan hati-hati campuran ini dikeringkan didalam rotary evaporator hingga diperoleh serbuk ekstrak kering. Serbuk ini ditaburkan diatas packing kolom dan ditutup dengan selapis pasir. Selanjutnya sampel siap dielusi. Elusi (pengembangan) Fase gerak (cairan =pelarut pengembang) Fase gerak dimasukkan kedalam kolom dengan cara dituangkan sedikit demi sedikit atau dialirkan dari bejana yang diletakkan diatas kolom sehingga fase gerak mengalir dengan sendirinya. Cara yang praktis adalah dengan

memasukkan kedalam corong pisah, ujung corong pisah dimasukkan kedalam kolom dan ujung lain tertutup, sedangkan keran terbuka. Fase gerak akan keluar dengan sendirinya sesuai dengan keluarnya fase gerak dari kolom. Dibedakan dua jenis cara elusi: Elusi isokratik yaitu selama proses elusi menggunakan fase gerak dengan polaritas tetap. Elusi gradien (bertahap) yaitu selama proses elusi menggunakan fase gerak berubah-ubah polaritasnya. Untuk membuat polaritas berubah-ubah maka komposisi fase gerak berubah. Pada umumnya dimulai fase gerak non polar kemudian berubah kepelarut yang polar. Perubahan ini dapat diprogramkan sesuai dengan pemisahan yang diinginkan. Gambar : 2, Diagram pemisahan dua komponen pada kromatografi kolom Elusi dihentikan jika sudah tidak ada lagi sampel yang dapat dibawa keluar lagi oleh fase gerak, bila digunakan elusi gradien sudah sampai pada fase gerak yang paling polar.

Mendeteksi komponen yang dipisahkan Kromatografi kolom yang konvensional tidak dilengkapi detektor, namun sekarang dapat digunakan dengan mengalirkan eluate (efluen) pada detektor untuk mendeteksi komponen. Yang umum digunakan dan mudah dikerjakan adalah dengan memonitor fraksi dengan KLT. Fraksi yang mempunyai profil bercak KLT yang mirip digabungkan. Selanjutnya gabungan ini dapat dianalisis lebih lanjut.