BAB I PENDAHULUAN I.1
|
|
|
- Widyawati Wibowo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponen molekular (1). Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) danfase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Kromatografi juga merupakan pemisahan camuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip dasar kromatografi. Pemisahan senyawa biasanya menggunakan beberapa tekhnik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombin asi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda (2). Kromatografi ini dikembangkan menjadi beberapa jenis, yaitu kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas, kromatografi gas dan kromatografi kolom. Namun pada laporan kali ini akan dibahas mengenai kromatografi kolom khususnya kromatografi kolom vakum. baik dari definisi kromatografi kolom vakum, prinsip kerja, pelaksanaan, prosedur kerja, hasil 1
2 fraksi-fraksi senyawa yang terkandung dalam ektrak kunyit (Curcuma domestica L) setelah difraksionasi menggunakan kromatografi kolom vakum, serta identifikasi senyawa yang terkandung dalam kunyit (Curcuma domestica L) dengan menggunakan kromatografi lapis tipis. I.2 I.2.1 Maksud dan Tujuan Percobaan Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini agar mahasiswa dapat memahami cara mendapatkan dan memisahkan kandungan senyawa dalam tanaman dengan menggunakan metode kromatografi kolom vakum (KKV) dan kromatografi lapis tipis (KLT). I.2.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu : 1. Untuk mengetahui prinsip kerja dari kromatografi kolom vakum (KKV). 2. Untuk memisahkan kandungan kimia dalam rimpang kunyit (Curcuma domestica L) dengan menggunakan kromatografi kolom vakum. 3. Untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang telah difraksionasi dengan menggunakan metode KLT. BAB II 2
3 TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum II.1.1 Kromatografi Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan (3). Kromatografi juga merupakan pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip menggunakan dasar kromatografi. beberapa tekhnik Pemisahan kromatografi. senyawa Pemilihan biasanya teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan (4). Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fase gerak cenderung menghanyutka-nnya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fase diam dan perbedaan kelarutannya dalam fase gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. Komponen yang kurang larut dalam fase gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat (5). II.1.2 Kromatografi Kolom Vakum 3
4 II Pengertian Kromatografi Kolom Vakum Kromatografi kolom vakum (KKV) adalah kromatografi yang dilakukan untuk memisahkan senyawa dengan menggunakan silika gel sebagai adsorben dan berbagai perbandingan pelarut (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen (6). Kromatografi kolom vakum sama dengan kromatografi cair vakum. Karena kromatografi cair vakum merupakan salah satu jenis dari kromatografi kolom. Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan campuran larutan dengan perbandingan pelarut dan kerapatan dengan menggunakan bahan kolom. Kromatografi kolom lazim digunakan untuk pemisahan dan pemurnian senyawa (7). Kromatografi kolom vakum/kromatografi cair vakum merupakan kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum, fase gerak digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi. Walaupun KKV/KCV memerlukan jumlah sampel yang lebih banyak dari pada kromatografi lapis tipis (KLT), KKV/KCV tetap ekonomis dalam sisi biaya (8). Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh para ilmuwan dari Australia untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk separasi menggunakan kolom kromatografi klasik. Pada dasarnya metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif yang berbentuk kolom. Aliran fase gerak dalam metode ini diaktifkan dengan bantuan kondisi vakum. Kromatografi cair vakum pada awalnya digunakan untuk separasi senyawaan steroid dan produk-produk natural dari laut. Kromatografi cair vakum terdiri dari suatu corong Buchner yang memiliki kaca masir. Corong Buchner ini diiisi dengan fase diam yang tingkat kehalusannya seperti yang umumnya dipakai dalam kromatografi lapis tipis ( mesh). Corong Buchner yang 4 berisi fase diam ini
5 digunakan dalam kondisi vakum/bertekanan, yang berakibat pada kemampuan yang dihasilkan olehkromatografi cair vakum akan sama dengan kromatografi gravitasi namundiperlukan waktu yang lebih singkat. Cara asli yang diperkenalkan oleh Coll menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek, sedangkan Targett menggunakan kolom yang lebih panjang untukmeningkatkan daya pisah (9). Gambar 1. Kromatografi Kolom Vakum II Prinsip Kromatografi Kolom Vakum Prinsip kerja dari kromatografi kolom vakum adalah adsorpsi atau serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada senyawa-senyawa yang akan dipisahkan terdistribusi di antara fasa diam dan fasa gerak dalam perbandingan yang berbeda-beda. Dimana mekanisme adsorpsinya yaitu mengadsorbsi ion-ion dan molekul-molekul senyawa pada fase diam dan pemisahannnya berdasarkan kelarutan senyawa dengan eluen yang digunakan (10). II Keuntungan dan Kerugian Kromatografi Kolom Vakum Kromatografi kolom vakum mempunyai keuntungan (11): 5
6 1. Mempunyai biaya ekonomis 2. Adanya aliran fase gerak lebih cepat 3. Pengerjaannnya sederhana 4. Cuplikan yang dipisahkan lebih banyak Kerugian kromatografi kolom vakum (12): 1. Membutuhkan waktu yang cukup lama 2. Sampel yang digunakan banyak jika dibandingkan dengan KLT dan terbatas jika dibandingkan dengan kromatografi konvensional II Perbedaan Kromatografi Kolom Vakum dengan Kromatografi Kolom Konvensional Adapun perbedaan kromatografi kolom vakum dengan kromatografi kolom konvensional yaitu (13) : 1. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10-µl/menit) 2. Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spectrometer massa 3. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis II.1.3 Pelarut Pelarut yang digunakan dalam kromatografi cair vakum adalah pelarut yang kepolarannya paling rendah sampai pelarut yang kepolarannya tinggi. Dimana Elusi diawali dengan pelarut yang kepolarannya rendah lalu kepolaran ditingkatkan perlahan-lahan (polaritas meningkat) dengan harapan bahwa komponen kimianya terelusi secara berurutan berdasarkan tingkat kepolarannya. Oleh karena itu, Kromatografi Cair Vakum menggunakan tekanan yang rendah untuk meningkatkan lajua aliran fase 6
7 gerak. Kolom dihisap perlahan-lahan ke dalam wadah penampung fraksi sampai kering dengan cara memvakumkannya (8). Urutan pelarut yang digunakan adalah sebagai berikut (8): Fraksi Pelarut Komposisi Volume (ml) 1 Heksana 2 Heksana-etil asetat 50:50 3 Etil asetat 4 Etil asetat-metanol 75:25 5 Etil asetat-metanol 50:50 6 Etil asetat-metanol 25:75 7 Metanol Atau digunakan urutan pelarut sebagai berikut : Fraksi Pelarut Komposisi Volume (ml) 1 Heksana 2 Heksana-etil asetat 80:20 3 Heksana-etil asetat 60:40 4 Heksana-etil asetat 40:60 5 Heksana-etil asetat 20:80 6 Etil asetat 7 Metanol II.1.4 Jenis-jenis Kromatografi Kolom Vakum Jenis-jenis kromatografi kolom vakum yaitu (9) : A. Suction Colomn Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak, berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. 7
8 B. Rapid-Sigel Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponenkimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. C. Press Colomn Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerakdengan cepat karena penggunaan tekanan positif dari tabung nitrogren. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi. II.2 Uraian Bahan II.2.1 Ekstrak Kunyit Nama Resmi : Curcuma domestica extrac % Rendamen : 10 % Pemerian : Ekstrak kering, berwarna kuning, berbau khas kunyit Kelarutan : Larut dalam metanol Penyimpanan : Disimpan dalam botol vial yang tertutup rapat II.2.2 Etil Asetat (14) Nama resmi : Etil Asetat Sinonim : - Berat molekul : 18,02 Rumus molekul : C4H8O2 Rumus struktur : 8
9 Pemerian : Cairan tidak berwarna, mudah menguap, sangat mudah terbakar Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dapat bercampur dengan etanol (95%) P dan dengan eter P Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai eluen II.2.3 Asam Sulfat (15) Nama resmi : Sulfat acid Sinonim : Acidy Sulfate Nomor CAS : Berat molekul : 98,08 Rumus molekul : H2SO4 Rumus struktur : Keasaman (pka) : 3 Viskositas : 26,7 Pemerian : Cairan bening, tak bewarna, tak berbau Kelarutan : praktis tidak larut dalam etanol, larut dalam air dan larut dalam asam mineral lainnya. Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat Kegunaan : Sebagai penampak noda II.2.4 Metanol (14) Nama resmi : Metanolum Sinonim : Metanol, Metil-alkohol Berat molekul : 34 9
10 Rumus molekul : CH3OH Rumus struktur : Pemerian : Jernih, mudah menguap, berbau khas Kelarutan : Sangat larut dalam air, praktis tidak larut dalam eter, heksana Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat Kegunaan : Sebagai pelarut II.2.5 N-heksana (14) Nama resmi : Hexaminum Sinonim : Heksamina Berat molekul : 140,09 Rumus molekul : C6H12O4 Rumus struktur : 10
11 Pemerian : Hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa membakar dan manis kemudian agak pahit. Jika dipanaskan dalam suhu ± 260omenyumblim Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dalam 12,5 ml eranol (95%) P dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform P Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai eluen II.2.6 Silika Gel (16) Nama resmi : Silica Gel Nomor CAS : Rumus molekul : SiO 2.xH2O Rumus struktur : Pemerian : Hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau. Kelarutan : Larut dalam air Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai adsorbent II.3 Prosedur Kerja Prosedur kerja dari kromatografi kolom vakum menggunakan alat bantu yang berupa pompa vakum untuk mempercepat laju alir fasa gerak selama proses pemindahan zat terlarut. Kolom kromatografi dikemas kering (biasanya dengan penjerap mutu KLT µm) dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. Mula-mula kolom diisi dengan silika gel dengan tinggi ½ dari tinggi kolom, kemudian vakum dijalankan dan 11
12 ditekan dengan batang pengaduk yang bersalut hingga menjadi padat dan rapat. Setelah itu dimasukkan pelarut organik yang cocok untuk mencoba apakah kolom telah sempurna. Jika kolom sempurna, pelarut tersebut akan turun secara horizontal. Disamping itu ekstrak ditimbang sebanyak 2 gram dan ditambahkan silika gel dengan berat yang sama dengan ekstrak. Kemudian silika gel yang tersalut ekstrak tersebut digerus hingga homogen dan halus kemudian diangin-anginkan beberapa saat agar campuran silika gel dan ekstrak yang akan dimasukkan kedalam kolom dalam keadaan kering. Setelah itu campuran ekstrak dan silika gel dimasukkan dalam kolom dan diratakan kemudian dilapisi dengan kertas saring. Pelarut dimasukkan dan vakum dijalankan hinggga pelarut mengelusi komponen kimia dan kering didalam kolom, setelah kering vakum dimatikan. Selanjutnya dimasukkan pelarut lain yang tingkat kepolarannya lebih tinggi dari pelarut pertama dan vakum dijalankan kembali. Begitu seterusnya hingga pelarut yang digunakan itu memiliki tingkat kepolaran yang tinggi yang dapat mengelusi semua komponen kimia dalam ekstrak. Dimana hasil fraksi iu ditampung dalam cawan porselin dan diuapkan dalam rotavapor. 12
13 BAB III METODE KERJA III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat 1. Alu 2. Batang Pengaduk 3. Batang Penotol 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Gelas kaca 7. Gelas kimia 8. Gunting 9. Kolom (Corong dan kolom Buchner) 10. Lap Kasar 11. Lampu UV 254 nm dan 366 nm 12. Lumpang 13. Lempeng Silika Gel 14. Mistar 13
14 15. Oven 16. Pipet Tetes 17. Pompa Vakum III.1.2 Bahan 1. Almunium Voil 2. Ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica) 3. Etil Asetat 4. H2SO4 10 % 5. Kapas 6. Lempeng KLT 7. Kertas saring 8. Metanol 9. N-Heksana 10. Tissue III.2 Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Dikombinasikan pelarut n-hexan, etil asetat, dan metanol diantaranya: a. N-hexan % b. N-hexan-etil asetat 80:20 c. N-hexan-etil asetat 60:40 d. N-hexan-etil asetat 40:60 3. e. N-hexan-etil asetat 20:80 f. Etil asetat % g. Metanol % Ditimbang 2 gram ekstrak kering kunyit (Curcuma domestica) 4. Ditimbang 2 gram silika gel 5. Digerus ekstrak dengan silika gel hingga halus dan homogen 6. Ditimbang 40 gram silika gel, kemudian dimasukkan dalam kolom sambil menjalankan pompa vakum 7. Dimasukkan metanol untuk mencoba kolom yang akan digunakan 14
15 8. Dimasukkan campuran ekstrak kunyit dan silika gel ke dalam kolom, ratakan sedikit lalu ditutup dengan kertas saring 9. Masukkan satu-persatu kombinasi pelarut kedalam kolom sambil menjalankan pompa vakum 10. Hasil fraksi ditampung dalam cawan proselin kemudian diuapkan 11. Dikeluarkan ekstrak yang telah kering dan dimasukkan kedalam botol vial dan 12. Diencerkan estrak dengan metanol 13. Ditotolkan larutan ekstrak pada lempengan 10x10 cm 14. Dimasukkan lempengan tersebut dalam chamber yang telah jenuh dengan kombinasi pelarut 15. Dikeluarkan lempengan kemudian diamati noda yang terlihat dengan cahaya tampak, sinar UV , dan pentemprotan asam sulfat 10% 15
16 BAB IV HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil percobaan diatas diperoleh 7 ekstrak kental yang mengandung komponen kimia berdasarkan kelarutannya dengan eluen yaitu ekstrak kental heksana %, ektrak kental heksana-etil asetat 80:20, ektrak kental heksana-etil asetat 60:40, ektrak kental heksana-etil asetat 40:60, ektrak kental heksana-etil asetat 20:80, ekstrak kental etil asetat dan ektrak kental metanol. Gambar 2. Ekstrak kental n-heksana sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana 16
17 Gambar 3. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 80:20 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 80:20 Gambar 4. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 60:40 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 60:40 Gambar 5. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 40:60 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 40:60 17
18 Gambar 6. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 20:80 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 20:80 Gambar 7. Ekstrak kental etil asetat sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi etil asetat Gambar 8. Ekstrak kental metanol sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi metanol 18
19 Dengan percobaan diatas juga dapat dilihat penampakan noda hasil identifikasi senyawa dengan menggunakan KLT. Gambar 9. Penampakan noda secara tampak pada KLT Gambar diatas menunjukan noda yang tampak secara kasat mata pada lempeng KLT Gambar 10. Penampakan noda KLT pada lampu UV 254 nm Gambar diatas menunjukan noda yang tampak pada lampu UV 254 nm Gambar 11. Penampakan noda KLT pada lampu UV 366 nm Gambar diatas menunjukan noda yang tampak pada lampu UV 366 nm 19
20 Gambar 12. Penampakan noda KLT setelah disemprot H2SO4 Gambar diatas menunjukan noda yang tampak setelah disemprot H2SO4 Dari beberapa gambar diatas dapat dilihat bahwa semua pelarut memberikan penampakan noda dengan jarak yang sama sehingga jika diukur akan memberikan Rf yang sama yaitu yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. IV.2 Pembahasan IV.2.1 Kromatografi Kolom Vakum Pada percobaan ini dilakukan fraksionasi terhadap ekstrak kental yang diperoleh dari ekstraksi tanaman kunyit (Curcuma domestica) dengan menggunakan kromatografi kolom vakum. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa dapat melakukan dan mengamati langsung proses pemisahan senyawa yang ada dalam ekstrak kental menjadi senyawa yang lebih spesifik dengan menggunakan kromatografi yang dilengkapi pompa vakum untuk mempercepat laju alir dari eluen untuk mengelusi komponen kimia yang ada dalam ekstrak. Dimana ekstrak yang diperoleh akan berperan dalam identifikasi senyawa pada masing-masing sampel untuk uji kromatogafi. Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. Selanjutnya ekstrak kental kunyit (Curcuma domestica) ditimbang sebanyak 2 g, lalu dicampurkan dengan silika gel yang bobotnya 2 gram pula. Dalam hal ini bobot silika gel dan bobot ekstrak berjumlah sama dengan tujuan agar ekstrak tersalutkan 20
21 silika gel. Setelah itu campuran ekstrak dan silika gel digerus hingga menjadi homogen dan halus. Langkah selanjutnya silika gel dengan berat 40 gram dimasukkan ke dalam kolom dengan tinggi ½ dari tinggi kolom sambil menyalakan pompa vakum dan menekannya dengan botol vial. Penggunaan botol vial ini dilakukan untuk mengganti tidak tersedianya batang pengaduk bersalut. Adanya penekanan dari botol vial dan penarikan dari pompa vakum terhadap silika gel agar silika gel tersebut menjadi padat dan diperoleh kerapatan yang maksimum. Setelah silika gel menjadi padat dimasukkan pelarut organik yang cocok yaitu metanol untuk mencoba apakah kolom telah sempurna untuk digunakan. Jika pelarut tersebut turun secara horizontal berarti kolom telah sempurna. Dalam hal ini ketika metanol dimasukkan dalam silika gel metanol turun secara horizontal dan hal ini menandakan bahwa kolom telah sempurna. Setelah itu, campuran ekstrak dan silika gel yang telah homogen dimasukkan ke dalam kolom sambil menyalakan pompa vakum agar campuran ekstrak dan silika gel terletak padat dan rapat dengan silika gel kemudian dilapisi dengan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menghindari percikan pada saat penambahan eluen. Selanjutnya dibuat eluen yang tingkat kepolarannya dimulai dari yang rendah sampai yang tinggi hal ini berarti akan dibuat eluen yang bersifat non polar hingga eluen bersifat polar. Eluen ini dibuat dengan pelarut dan perbandingan yang berbeda yaitu n-heksana %; n-heksana-etil asetat 80:20, n-heksana-etil asetat 60:40, n-heksana-etil asetat 40:60, n-heksanaetil asetat 20:80, etil asetat % dan metanol %. Eluen ini kemudian dimasukkan ke dalam kolom. Penambahan eluen dimulai dari paling non polar kemudian ke eluen polar. Hal ini bertujuan agar semua senyawa yang bersifar non polar keluar terlebih dahulu, jika digunakan eluen yang bersifat polar, bukan saja senyawa yang bersifat polar yang ditarik senyawa non polar juga akan 21
22 ditarik. Eluen ditambahkan melalui dinding kolom dan pompa vakum dinyalakan sehingga eluen turun mengelusi komponen kimia dan eluen yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi pada wadah yang berbeda. Fraksi-fraksi tersebut kemudian diuapkan diatas water batah untuk mendapatkan ekstrak kental yang akan diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis. IV.2.2 Kromatografi Lapis Tipis Pada percobaan ini dilakukan identifikasi senyawa dalam 7 ekstrak berbeda, hasil fraksionasi sebelumnya. Dalam uji KLT ini, digunakan lempeng alumina sebagai adsorben (fase diam) dan eluennya (fase gerak), yaitu pelarut n-heksana dan etil asetat dengah perbandingan 21:14. Langkah pertama yang dilakukan adalah melarutkan ekstrak kental rimpang kunyit dengan metanol. Untuk pelarutan tersebut, ekstrak tidak boleh terlalu kental dan tidak boleh terlalu cair. Jika terlalu kental, ekstrak akan menyumbat pipa kapiler dan akan susah keluar dari pipa tersebut.dan jika terlalu encer maka totolan sebagian besar hanya berupa pelarut, sedangkan sampel yang akan di uji hanya dalam jumlah yang kecil. Selanjutnya eluen di masukkan ke dalam chamber, dan ke dalam chamber tersebut dimasukkan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menjenuhkan eluen, yang mana jenuhnya eluen tersebut ditandai dengan basahnya kertas saring tersebut secara keseluruhan. Jika eluen telah jenuh, kertas saring dikeluarkan dan digantikan dengan lempeng alumina yang sebelumnya telah ditotolkan ekstrak. chamber yang ditempati lempeng dan eluen harus tertutup rapat agar tidak terjadi penguapan dari eluen. Lempeng tersebut dibiarkan dalam eluen selama beberapa menit hingga eluen bergerak ke atas mencapai batas akhir yang telah ditentukan. 22
23 Selanjutnya lempeng diamati secara visual. Dimana pada saat pengamatan, ditunjukkan bahwa lempeng tersebut menghasilkan bercak noda berwarna kuning. Namun untuk ekstrak heksana tidak menampakkan bercak noda secara jelas. Hal ini mungkin diakibatkan karena ekstrak yang digunakan bening dan bersifat non polar sehingga ikatannya dengan fase diam tidak terlalu kuat dan mudah dibawa oleh eluen sampai ke atas lempeng. Untuk lebih menegaskan hasil uji yang didapatkan, maka dilakukan deteksi bercak noda secara fisika maupun kimia terhadap lempeng. Secara fisika, lempeng di amati dibawah sinar UV gelombang pendek (λ 254 nm) dan UV gelombang panjang (λ 366 nm). Dimana pada UV λ254 nm, lempeng berfluoresensi terang dan bercak berwarna gelap. Sebaliknya, pada UV λ 366 nm lempeng berwarna gelap dan bercak berfluoresensi terang. Dari hasil deteksi ini, didapatkan bahwa lempeng bercak hijau pada sinar UV 254 nm, sedangkan pada sinar UV 366 nm lempeng tersebut hanya menunjukkan warna coklat. Selanjutnya secara fisika, lempeng disemprot dengan pereaksi H2SO4 dan kemudian dipanaskan dalam oven dengan suhu 30 oc selama 3 menit, lalu lempeng diamati secara visual. Dari hasil pengamatan menunjukkan bercak noda yang ditampakkan oleh lempeng berubah. Dimana bercak noda yang berwarna kuning menjadi berwarna coklat. Dan dengan adanya penyemprotan H2SO4 ini noda yang tidak tampak menggunakan sinar UV baik 254 nm dan 366 nm menjadi tampak hal ini terbukti pada lempeng ini dimana timbul bercak noda berwarna hijau dan ungu dengan jarak yang berbeda. Dari bercak yang dihasilkan kemudian dilakukan perhitungan Rf. Perhitungan Rf pada lempeng ini menunjukkan Rf yang sama yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. Hal ini 23
24 menunjukkan bahwa senyawa yang di fraksionasi dari ekstrak kunyit bersifat polar karena semakin kecil nilai Rf yang dihasilkan, semakin polar senyawa tersebut. BAB V KESIMPULAN V.1 Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Prinsip kerja kromatografi kolom vakum yaitu adsorpsi atau serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada senyawa-senyawa yang akan dipisahkan terdistribusi di antara fasa diam dan fasa gerak dalam perbandingan yang berbeda-beda. Dimana mekanisme adsorpsinya yaitu 24
25 mengadsorbsi ion-ion dan molekul-molekul senyawa pada fase diam dan pemisahannnya berdasarkan kelarutan senyawa dengan eluen yang digunakandiperoleh ekstra kental n-heksana yang mengandung senyawa non polar dan ekstrak kental metanol dan air yang mengandung senyawa polar. 2. Diperoleh 7 ekstrak kental yang mengandung komponen kimia berdasarkan kelarutannya dengan eluen eluen yaitu ekstrak kental heksana %, ektrak kental heksana-etil asetat 80:20, ektrak kental heksana-etil asetat 60:40, ektrak kental heksana-etil asetat 40:60, ektrak kental heksana-etil asetat 20:80, ekstrak kental etil asetat dan ektrak kental metanol. 3. Diperoleh senyawa dengan Rf yang sama yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa yang di fraksionasi dari ekstrak kunyit bersifat polar karena semakin kecil nilai Rf yang dihasilkan, semakin polar senyawa tersebut. V.2 Saran Diharapkan agar alat-alat yang digunakan dalam praktikum, ditambah jumlahnya, terutama rotavapor. 25
BAB I PENDAHULUAN. kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya
BAB I PENDAHULUAN Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya yang leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di
30 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 - Januari 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Uji Flavonoid Dari 100 g serbuk lamtoro diperoleh ekstrak metanol sebanyak 8,76 g. Untuk uji pendahuluan masih menggunakan serbuk lamtoro kering,
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan
III. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan preparasi sampel, bahan, alat dan prosedur kerja yang dilakukan, yaitu : A. Sampel Uji Penelitian Tanaman Ara
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat-alat 1. Alat Destilasi 2. Batang Pengaduk 3. Beaker Glass Pyrex 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Corong Kaca 7. Corong Pisah 500 ml Pyrex 8. Ekstraktor 5000 ml Schoot/ Duran
III. BAHAN DAN METODA
III. BAHAN DAN METODA 3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat yang digunakan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :peralatan distilasi, neraca analitik, rotary evaporator (Rotavapor
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia L.) yang diperoleh dari Kampung Pipisan, Indramayu. Dan untuk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Sampel Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar Bringharjo Yogyakarta, dibersihkan dan dikeringkan untuk menghilangkan kandungan air yang
PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051)
PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051) Tanggal Praktikum : 02 Oktober 2014 Tanggal Pengumpulan: 9 Oktober
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014,
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas Matematika
BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. November Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk.
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November 2015. Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk. dilakukan di daerah
Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :
Kompetensi Dasar: Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan metode pemisahan dengan KLT dan dapat mengaplikasikannya untuk analisis suatu sampel Gambaran Umum KLT Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan
LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN
LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS I Oleh : Kelompok III 1. Bella Anggraini (061330400291) 2. Deka Pitaloka (061330400293) 3. Eka Anggraini (061330400298) 4. Elvania Novianti
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus April 2013, bertempat di
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus 2012 -April 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyiapan Sampel Sampel daging buah sirsak (Anonna Muricata Linn) yang diambil didesa Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, terlebih
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis
22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis Roem) yang diperoleh dari daerah Tegalpanjang, Garut dan digunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek atau bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah tanaman AGF yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa Roxb.) menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran
BAB III METODE PENELITIAN
13 BAB III METODE PENELITIAN A. Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah tanaman dengan kode AGF yang diperoleh dari daerah Cihideng-Bandung. Penelitian berlangsung
HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi
2 dikeringkan pada suhu 105 C. Setelah 6 jam, sampel diambil dan didinginkan dalam eksikator, lalu ditimbang. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai diperoleh bobot yang konstan (b). Kadar air sampel ditentukan
BAB III METODE PENELITIAN
24 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratorium. Metode yang digunakan untuk mengekstraksi kandungan kimia dalam daun ciplukan (Physalis
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan karakteristik dilakukan untuk mengetahui kebenaran identitas zat yang digunakan. Dari hasil pengujian, diperoleh karakteristik zat seperti yang tercantum
BABm METODOLOGI PENELITIAN
BABm METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat yang digunakan Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat destilasi sederhana (Elektromantel MX), neraca analitik, ultrasonik Kery Puisatron,
LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)
LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) Disusun oleh: Nama : Eky Sulistyawati FA/08708 Putri Kharisma FA/08715 Gol./Kel.
IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA ANTRAQUINON PADA FRAKSI KLOROFORM AKAR KAYU MENGKUDU ( Morinda Citrifolia, L) ABSTRAK
IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA ANTRAQUINON PADA FRAKSI KLOROFORM AKAR KAYU MENGKUDU ( Morinda Citrifolia, L) Gloria Sindora 1*, Andi Hairil Allimudin 1, Harlia 1 1 Progam Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas
BAB IV PROSEDUR PENELITIAN
BAB IV PROSEDUR PENELITIAN 4.1. Pengumpulan Bahan Tumbuhan yang digunakan sebagai bahan penelitian ini adalah daun steril Stenochlaena palustris. Bahan penelitian dalam bentuk simplisia, diperoleh dari
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan selama lima bulan dari bulan Mei hingga September 2011, bertempat di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Bengkel Teknologi Peningkatan
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada awal penelitian dilakukan determinasi tanaman yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tanaman yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan
Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L)
Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) I. Tujuan 1. Melakukan dan menjelaskan teknik-teknik dasar kromatografi kolom dan kromatografi lapis
BABV Kromatografi Kolom (Column Chromatography)
BABV Kromatografi Kolom (Column Chromatography) Kromatografi kolom termasuk kromatografi cairan, adalah metoda pemisahan yang cukup baik untuk sampel lebih dari 1 gram. Pada kromatografi ini sampel sebagai
KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.
KROMATOGRAFI Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc. Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa memahami pengertian dari kromatografi dan prinsip kerjanya 2. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis kromatografi dan pemanfaatannya
HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak
15 HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Penentuan kadar air berguna untuk mengidentifikasi kandungan air pada sampel sebagai persen bahan keringnya. Selain itu penentuan kadar air berfungsi untuk mengetahui
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur Penelitian
9 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan mulai bulan November 2010 sampai dengan bulan Juni 2011 di Laboratorium Kimia Analitik Departemen Kimia FMIPA dan Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka
3 Percobaan. Garis Besar Pengerjaan
3 Percobaan Garis Besar Pengerjaan Rangkaian proses isolasi pertama-tama dimulai dengan proses pengumpulan sampel. Karena area sampling adalah area yang hanya ditemukan pada musim hujan, sampel alga baru
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Serbuk Simplisia Pengumpulan Bahan Determinasi Tanaman
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan Rambut jagung (Zea mays L.), n-heksana, etil asetat, etanol, metanol, gliserin, larutan kloral hidrat 70%, air, aqua destilata, asam hidroklorida, toluena, kloroform, amonia,
OLIMPIADE SAINS NASIONAL Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA. Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK. Waktu 150 menit. Kementerian Pendidikan Nasional
OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2010 Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK Waktu 150 menit Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya
Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: Jenny Virganita NIM. M 0405033 BAB III METODE
BAB III METODOLOGI. Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan dan pengolahan sampel, uji
19 BAB III METODOLOGI Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan dan pengolahan sampel, uji pendahuluan golongan senyawa kimia, pembuatan ekstrak, dan analisis kandungan golongan senyawa kimia secara
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia
BAB 3 PERCOBAAN Pada bab ini dibahas tentang langkah-langkah percobaan yang dilakukan dalam penelitian meliputi bahan, alat, pengumpulan dan determinasi simplisia, karakterisasi simplisia, penapisan fitokimia,
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Fraksinasi Sampel buah mahkota dewa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari kebun percobaan Pusat Studi Biofarmaka, Institut Pertanian Bogor dalam bentuk
BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung Lawu. Sedangkan pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Biologi dan Kimia
Kelompok 2: Kromatografi Kolom
Kelompok 2: Kromatografi Kolom Arti Kata Kromatografi PENDAHULUAN chroma berarti warna dan graphien berarti menulis Sejarah Kromatografi Sejarah kromatografi dimulai sejak pertengahan abad ke 19 ketika
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian
19 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bagian Kimia Hasil Hutan Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia Fakultas MIPA
BAB III METODE PENELITIAN Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian Lokasi pengambilan sampel PBAG di lingkungan sekitar kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan daerah Cipaku.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L etanol, diperoleh ekstrak
3 Percobaan dan Hasil
3 Percobaan dan Hasil 3.1 Pengumpulan dan Persiapan sampel Sampel daun Desmodium triquetrum diperoleh dari Solo, Jawa Tengah pada bulan Oktober 2008 (sampel D. triquetrum (I)) dan Januari 2009 (sampel
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2015 di
21 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2015 di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung.
HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air
Pemilihan Eluen Terbaik Pelat Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang digunakan adalah pelat aluminium jenis silika gel G 60 F 4. Ekstrak pekat ditotolkan pada pelat KLT. Setelah kering, langsung dielusi dalam
BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 1 TIJAUA PUSTAKA 1.1 Glibenklamid Glibenklamid adalah 1-[4-[2-(5-kloro-2-metoksobenzamido)etil]benzensulfonil]-3- sikloheksilurea. Glibenklamid juga dikenal sebagai 5-kloro--[2-[4{{{(sikloheksilamino)
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan Januari 2010. Daun gamal diperoleh dari Kebun Percobaan Natar, Lampung Selatan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang ditunjang studi pustaka. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium kimia Analis Kesehatan
BAHAN DAN METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian
15 HN DN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengendalian Serangga Hama dan iodegradasi UPT. alai Penelitian dan Pengembangan iomaterial LIPI dan Laboratorium Parasitologi
Bab III Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian III.1 Pengumpulan dan Persiapan Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus champeden Spreng yang diperoleh dari Kp.Sawah, Depok, Jawa Barat,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengkarakterisasi simplisia herba sambiloto. Tahap-tahap yang dilakukan yaitu karakterisasi simplisia dengan menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium kimia program studi
BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN Glibenklamid merupakan sulfonylurea generasi kedua yang digunakan sebagai obat antidiabetik oral yang berperan menurunkan konsentrasi glukosa darah. Glibenklamid merupakan salah satu senyawa
Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.)
Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.) Gambar 1. Tumbuhan gambas (Luffa acutangula L. Roxb.) Gambar 2. Biji Tumbuhan Gambas (Luffa acutangula L. Roxb.) Lampiran 2. Gambar Mikroskopik
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Juli 2012. Pengambilan sampel dilakukan di Perairan Lampung Selatan, analisis aktivitas antioksidan dilakukan di
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Jawa Barat. Identifikasi dari sampel
3 Metodologi Penelitian
3 Metodologi Penelitian 3.1 Persiapan sampel Sampel kulit kayu Intsia bijuga Kuntze diperoleh dari desa Maribu, Irian Jaya. Sampel kulit kayu tersedia dalam bentuk potongan-potongan kasar. Selanjutnya,
Kromatografi tambahan. Imam S
Kromatografi tambahan Imam S Kromatografi serapan Bentuk alat : mirip buret, didalamnya berisi, glass wool/kapas untuk penyangga, penyaring dari gelas yang dilapisi kertas saring, bahan isian kolom yang
BAB II METODE PENELITIAN
BAB II METODE PENELITIAN A. Kategori Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni untuk mengetahui aktivitas penangkap radikal dari isolat fraksi etil asetat ekstrak etanol herba
III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.
16 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2012 sampai dengan bulan Maret 2013 di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung. 3.2 Alat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Uji fitokimia kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) Pada uji fitokimia terhadap kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) memberikan hasil positif terhadap alkaloid,
LAPORAN KIMIA ORGANIK
LAPORAN KIMIA ORGANIK KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma Longa L) Oleh : Dias Mandala Nurhutama 10609056 Asisten: Nila Tania Berghuis 20509041 Tanggal Percobaan:
BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai
40 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali menunjukkan bahwa sampel tumbuhan yang diambil di
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan
21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dimulai pada bulan Maret sampai Juni 2012 di Laboratorium Riset Kimia dan Material Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan
BAB III. eksperimental komputasi. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian yang termasuk gabungan dari penelitian jenis eksperimental laboratorik dan eksperimental
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah bagian daun tumbuhan suren (Toona sinensis
29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek penelitian ini adalah bagian daun tumbuhan suren (Toona sinensis Roem.). Determinasi tumbuhan ini dilakukan di Laboratorium Struktur
III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret Juli 2014, bertempat di
19 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret 2014 - Juli 2014, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2010 sampai dengan Mei 2011 di Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB),
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kosmetik Kosmetik merupakan bahan atau komponen kimia yang digunakan untuk mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari berbagai macam senyawa kimia
Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan
Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan 67 Lampiran 2. Bagan kerja penelitian Pucuk labu siam Dicuci Ditiriskan lalu ditimbang Dikeringkan hingga kering Simplisia Diserbuk Serbuk simplisia pucuk labu siam Ditimbang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Garut, Jawa Barat serta
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel buah Keben (Barringtonia asiatica) dalam penelitian ini diperoleh dari pantai Batu Karas, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Proses
DESTILASI SECARA UMUM
DESTILASI SECARA UMUM Disusun oleh : NANDA RISKI JANESTIA (1011101020034) FARHAN RAMADHANI (1011101010035) PADLI SYAH PUTRA (1111101010020) JAMNUR SAHPUTRA FAHMI SUHANDA (1211101010050) IBRAHIM (1111101010017)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental di laboratorium untuk memperoleh data.data yang dikumpulkan adalah data primer. Pengumpulan data dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus hingga bulan Desember 2013 di Laboratorium Bioteknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BASAH DAN SIMPLISIA KERING DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) Tiara Mega Kusuma, Nurul Uswatun
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BASAH DAN SIMPLISIA KERING DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) Tiara Mega Kusuma, Nurul Uswatun Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.L Hasil 4.L1. Ujifitokimiadaun Quercus gemelilflorg Bi Pada uji fitokimia terhadap daun Quercus gemelilflora Bi memberikan hasil yang positif terhadap steroid, fenolik dan
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di
22 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sirup 2.1.1 Defenisi Sirup Sirup adalah larutan pekat dari gula yang ditambah obat dan merupakan larutan jernih berasa manis. Dapat ditambah gliserol, sorbitol atau polialkohol
BABffl METODOLOGIPENELITIAN
BABffl METODOLOGIPENELITIAN 3.1. Baban dan Alat 3.1.1. Bahan-bahan yang digunakan Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah CPO {Crude Palm Oil), Iso Propil Alkohol (IPA), indikator phenolpthalein,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari sampai Juni 2014. Lokasi penelitian dilakukan di berbagai tempat, antara lain: a. Determinasi sampel
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi, tabung maserasi, rotary vaccum evaporator Sibata Olibath B-485, termometer,
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA dan Laboratorium Biomasa Terpadu Universitas Lampung.
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di Laboratorium Biomasa Terpadu Universitas Lampung. 3.2. Alat dan
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.
ANALISIS PEWARNA RHODAMIN B DALAM ARUM MANIS SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis DI DAERAH SUKOHARJO DAN SURAKARTA
ANALISIS PEWARNA RHODAMIN B DALAM ARUM MANIS SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis DI DAERAH SUKOHARJO DAN SURAKARTA Retno Putri Pamungkas, Vivin Nopiyanti INTISARI Analisis Rhodamin
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Preparasi Sampel Sampel telur ayam yang digunakan berasal dari swalayan di daerah Surakarta diambil sebanyak 6 jenis sampel. Metode pengambilan sampel yaitu dengan metode
SNI Standar Nasional Indonesia. Kecap kedelai. Badan Standardisasi Nasional ICS
Standar Nasional Indonesia Kecap kedelai ICS 67.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Pendahuluan...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan... 1 3 Definisi... 1 4 Klasifikasi... 1 5 Syarat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan rhodamin
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan rhodamin B pada pemerah pipi (blush on) yang beredar di Surakarta dan untuk mengetahui berapa
SOAL UJIAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang SOAL UJIAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) 2015 Mataram, Lombok 1-7 September 2014 Kimia Praktikum B Waktu: 120 menit
HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K
7 Persentase inhibisi = K ( S1 S ) 1 K K : absorban kontrol negatif S 1 : absorban sampel dengan penambahan enzim S : absorban sampel tanpa penambahan enzim Isolasi Golongan Flavonoid (Sutradhar et al
Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.
Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Prinsip Kerja Kromatografi Kolom Didasarkan pada absorbsi komponen2 campuran
Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan
Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan Lampiran 2.Bagan pembuatan serbuk simplisia Daun gaharu Dicuci Ditiriskan lalu ditimbang Dikeringkan Ditimbang Simplisia Diserbuk Pemeriksaan makroskopik Serbuk simplisia
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Preparasi sampel Daging bebek yang direbus dengan parasetamol dihaluskan menggunakan blender dan ditimbang sebanyak 10 g kemudian dipreparasi dengan menambahkan asam trikloroasetat
