5. Peluang Diskrit. Pengantar

dokumen-dokumen yang mirip
CHAPTER 7 DISCRETE PROBABILITY

Pierre-Simon Laplace. Born 23 March 1749 Beaumont-en-Auge, Normandy, France Died 5 March 1827 (aged 77) Paris, France Mempelajari peluang dalam judi

Teori Peluang Diskrit

STK 511 Analisis statistika. Materi 3 Sebaran Peubah Acak

Harapan Matematik (Teori Ekspektasi)

STK 211 Metode statistika. Materi 4 Peubah Acak dan Sebaran Peluang

STATISTIK PERTEMUAN V

BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 3. HARAPAN MATEMATIK

Harapan Matematik. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

4. Pencacahan. Pengantar. Aturan penjumlahan (sum rule) Aturan penjumlahan Yang Diperumum. Aturan Perkalian (Product Rule)

PERMUTASI, KOMBINASI DAN PELUANG. Kaidah pencacahan membantu dalam memecahkan masalah untuk menghitung

PEUBAH ACAK. Materi 4 - STK211 Metode Statistika. October 2, Okt, Department of Statistics, IPB. Dr. Agus Mohamad Soleh

BAB 3 Teori Probabilitas

BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 3. HARAPAN MATEMATIK

STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling

28/09/2012 SAMPLE SPACE, SAMPLE POINTS, EVENTS. ω Ω

BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 3. HARAPAN MATEMATIK

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

Pengantar Proses Stokastik

1. Konsep Peluang. EL2002-Probabilitas dan Statistik Dosen: Andriyan

matematika DISTRIBUSI VARIABEL ACAK DAN DISTRIBUSI BINOMIAL K e l a s A. Penarikan Sampel dari Suatu Populasi Kurikulum 2013 Tujuan Pembelajaran

Pertemuan 2. Hukum Probabilitas

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 3 Sebaran Peluang Peubah Acak

RENCANA MUTU PEMBELAJARAN. I. Standar Kompetensi : Menyelesaikan masalah probabilitas baik secara teoritik maupun aplikasinya dalam kehidupan.

KONSEP DASAR PROBABILITAS

Bab 9. Peluang Diskrit

PELUANG DAN PEUBAH ACAK

Perumusan Probabilitas Kejadian Majemuk S S A B A B Maka banyak anggota himpunan gabungan A dan B adalah : n(a n(a B) = n(a) + n(b) n(a n(a B) Kejadia

2. Peubah Acak (Random Variable)

DISTRIBUSI BINOMIAL STKIP SILIWANGI BANDUNG LUVY S ZANTHY KAPSEL SMA

PENGANTAR MODEL PROBABILITAS

PELUANG. Hasil Kedua. Hasil Pertama. Titik Sampel GG GA A

THEORY. By: Hanung N. Prasetyo PEUBAH ACAK TELKOM POLYTECHNIC/HANUNGNP

Peubah Acak. 14-Sep-07 TPADF (Kelas Ganjil/ Rahmat) Lecture 2 page 1

Pengantar Proses Stokastik

Peubah Acak (Lanjutan)

PELUANG. Titik Sampel GG

Peluang. Hazmira Yozza Izzati Rahmi HG Jurusan Matematika FMIPA Universitas Andalas LOGO

Hidup penuh dengan ketidakpastian

BAB III KOMBINATORIK

Contoh Solusi PR 2 Statistika & Probabilitas. 1. Semesta dari kejadian adalah: pemilihan 5 soal dari 10 soal. Jumlah kemungkinannya ( 10 = 252.

Pengantar Proses Stokastik

Metode Statistika. Konsep Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable Concept and Probability Distribution)

STATISTIKA. Muhamad Nursalman Pendilkom/Ilkom UPI

PENCACAHAN RUANG SAMPEL

Unit 5 PELUANG. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan

Pengantar Proses Stokastik

Peubah Acak. Bab 4. Definisi 4.1 Peubah acak adalah suatu fungsi dari ruang contoh ke bilangan nyata, f : S R

Distribusi Probabilitas Diskrit: Binomial, Multinomial, & Binomial Negatif

Pertemuan V Konsep Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable Concept and Probability Distribution)

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Suplemen Kuliah STATISTIKA. Prodi Sistem Informasi (SI 3) STIKOM AMBON Pokok Bahasan Sub Pok Bahasan Referensi Waktu

TEKNIK MEMBILANG. b T U V W

LAB MANAJEMEN DASAR MODUL STATISTIKA 1

25/09/2013. Konsep Peubah Acak. Metode Statistika (STK211) Peubah Acak Diskret. Kuis. Tipe Peubah Acak

KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT.

BAB IV. DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT

Distribusi Peluang Teoritis. Titik-titik contoh di dalam Ruang Sampel (S) dapat disajikan dalam bentuk numerik/bilangan.

Statistika & Probabilitas. Sumber: Materi Kuliah Statistika Dr. Ir. Rinaldi Munir, M.T

BAB 2 LANDASAN TEORI

DISTRIBUSI PROBABILITAS

Peubah acak adalah suatu fungsi dari ruang contoh ke bilangan nyata, f : S R

Aksioma Peluang. Bab Ruang Contoh

Distribusi Peluang Teoritis

KONSEP DASAR PROBABILITAS

Learning Outcomes Ruang Contoh Kejadian Aksioma Peluang Latihan. Aksioma Peluang. Julio Adisantoso. 16 Pebruari 2014

Situasi 1: a. Buatlah pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan situasi di atas!

MA2082 BIOSTATISTIKA Bab 3 Peubah Acak dan Distribusi

BAB 2 LANDASAN TEORI

DISTRIBUSI PELUANG TEORITIS

Statistika Farmasi

MATERI BAB I RUANG SAMPEL DAN KEJADIAN. A. Pendahuluan Dari jaman dulu sampai sekarang orang sering berhadapan dengan peluang.

Variansi dan Kovariansi. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Probabilitas dan Statistika Variabel Acak dan Fungsi Distribusi Peluang Diskrit. Adam Hendra Brata

Metode Statistika (STK 211) Pertemuan ke-5

6. PELUANG A. Kaidah Pencacahan 1. Aturan perkalian

Contoh: Aturan Penjumlahan. Independen. P(A dan B) = P(A) x P(B)

Bab 3 Pengantar teori Peluang

8/29/2014. Kode MK/ Nama MK. Matematika Diskrit 2 8/29/2014

DISTRIBUSI TEORITIS. Variabel Acak Distribusi Teoritis Binomial Normal

Distribusi Probabilitas Diskrit: Binomial & Multinomial

KONSISTENSI ESTIMATOR

Tipe Peubah Acak. Diskret. Kontinu

Bab 2 DISTRIBUSI PELUANG

Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.

Metode Statistika (STK211)

STK 203 TEORI STATISTIKA I

LOGO STATISTIKA MATEMATIKA I TEORI PELUANG HAZMIRA YOZZA IZZATI RAHMI HG JURUSAN MATEMATIKA UNAND

Perluasan permutasi dan kombinasi

KOMBINATORIKA. (Latihan Soal) Kus Prihantoso Krisnawan. August 30, 2012 PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA SMA 1 KALASAN

Misalkan terdapat eksperimen. S disebut ruang sampel, adalah himpunan semua kemungkinan hasil dari eksperimen.

POKOK BAHASAN YANG DIAJARKAN: 1. DISTRIBUSI PEUBAH ACAK a. Distribusi Peubah Acak Tunggal b. Distribusi Peubah Acak Ganda c. Distribusi Bersyarat d.

PELUANG. LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) MATEMATIKA PAKET C TINGKAT VI DERAJAT MAHIR 2 SETARA KELAS XI. Oleh: Hj. ITA YULIANA, S.Pd, M.

BAB 8 DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT

Beberapa Distribusi Peluang Diskrit

DISTRIBUSI TEORITIS. P(M) = p = probabilitas untuk mendapat bola merah (sukses) 30

Pendahuluan Teori Peluang

Lab. Statistik - Kasus 1. Lab. Statistik Kasus 2. Lab. Statistik Kasus 3

BeberapaDistribusiPeluang. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Transkripsi:

5. Peluang Diskrit Pengantar Semua yang telah dipelajari di dalam teori pencacahan (counting) akan menjadi dasar dalam perhitungan peluang terjadinya suatu peristiwa. Dalam pembahasan berikut, istilah percobaan dipakai untuk menyatakan prosedur yang menghasilkan satu dari sekumpulan kejadian yang mungkin. Himpunan kejadian yang mungkin ini disebut sebagai ruang sampel (sample space) dari percobaan. Suatu peristiwa adalah himpunan bagian dari ruang sampel ini. Jika semua peristiwa di ruang sampel memiliki kemungkinan yang sama untuk terjadi, maka berlakulah definisi berikut. Definisi. Besarnya peluang suatu peristiwa E terjadi, yang merupakan himpunan bagian dari ruang sampel S dimana setiap peristiwa didalamnya memiliki peluang yang sama untuk terjadi diberikan oleh p(e) = E / S. Dalam definsisi ini, baik E maupun S adalah himpunan, dengan demikian tanda melambangkan kardinalitas atau banyaknya anggota dari himpunan. Nilai peluang mempunyai rentang dari 0 (berkaitan dengan peristiwa yang tidak pernah terjadi) sampai dengan 1 (untuk peristiwa yang selalu terjadi). Contoh 4.1: Sebuah kotak berisi empat bola biru dan lima bola merah. Berapakah peluang sebuah bola berwarna biru terpilih jika diambil sebarang bola dari kotak tersebut? Jawaban: Ada sembilan kemungkinan hasil yang muncul, dan empat diantaranya adalah peristiwa bola biru terpilih. Maka, peluang peristiwa ini adalah 4/9 atau sekitar 44.44%. Contoh 4.2: Berapakah peluang seseorang memenangkan undian 6/49, yaitu pengambilan 6 bilangan (tanpa menghiraukan urutannya) dari kumpulan 49 bilangan secara benar. Jawaban: Sesuai pelajaran mengenai kombinasi pada bab terdahulu, maka akan terdapat C(49,6) kemungkinan hasil yang muncul. Hanya satu dari hasil ini yang dapat memenangkan undian. Dengan demikian, besarnya peluang adalah 5. Peluang Diskrit - 1

p(e) = 1/C(49, 6) = 1/13.983.816 Peristiwa Komplementer Misalkan E peristiwa dalam ruang sampel S. Peluang dari peristiwa E, atau peristiwa komplementer, diberikan oleh ( ) = 1 p( E) p E Hal ini dapat ditunjukkan dengan cara: S E E ( ) = = 1 = 1 p( E ) p E S S Kaidah ini berguna jika penentuan peluang peristiwa komplementer lebih mudah dari peristiwa itu sendiri. Contoh 4.3: Deretan 10 bit dibangkitkan secara acak. Berapakah peluang satu diantaranya adalah bit nol? Jawaban: Terdapat 2 10 = 1024 kemungkinan membangkitkan deretan 10 bit. Peristiwa komplementer E menyatakan tidak ada satupun bit nol, hanya terjadi sekali yaitu pada deretan 1111111111. Maka: p( E ) = 1/1024. Sekarang p(e) dapat dihitung dengan mudah, yaitu p(e) = 1 p( E ) = 1 1/1024 = 1023/1024. Contoh 4.4: Berapakah nilai peluang bahwa sedikitnya dua dari 36 orang memiliki hari ulang tahun (yakni, dilahirkan pada tanggal dan bulan) yang sama? 5. Peluang Diskrit - 2

Jawaban: Ruang sampel S berisikan semua kemungkinan hari ulang tahun ke 36 orang tersebut, jadi S = 365 36. Tinjau peristiwa komplementer E ( tidak ada dua dari 36 orang itu yang memiliki hari ulang tahun yang sama ). Maka, E akan mengandung sejumlah C(365,36) kejadian: p( E ) = C(365, 36)/36536 = 0.168 Sehingga p(e) = 0.832 or 83.2% Misalkan E 1 dan E 2 dua peristiwa yang terjadil didalam ruang sampel S. Maka: p(e 1 E 2 ) = p(e 1 ) + p(e 2 ) - p(e 1 E 2 ) Ini mengingatkan kita pada topik yang sudah kita pelajari terdahulu, yakni prinsip inklusieksklusi. Teori Peluang Diskrit Contoh 4.5: Berapakah peluang suatu bilangan positif terpilih secara acak dari sekumpulan bilangan bulat positif yang tidak lebih dari 100 dan dapat dibagi 2 atau 5 tetapi tidak sekaligus keduanya? Jawaban: E 2 : bilangan bulat yang dapat dibagi 2, dan E 5 : bilangan bulat yang dapat dibagi 5. Dengan demikian E 2 = {2, 4, 6,, 100} E 2 = 50, dan didapatkan p(e 2 ) = 0.5. E 5 = {5, 10, 15,, 100} E 5 = 20 dan diperoleh p(e 5 ) = 0.2 E 2 E 5 = {10, 20, 30,, 100} E 2 E 5 = 10, dan p(e 2 E 5 ) = 0.1. Maka p(e 2 E 5 ) = p(e 2 ) + p(e 5 ) p(e 2 E 5 ) p(e 2 E 5 ) = 0.5 + 0.2 0.1 = 0.6 5. Peluang Diskrit - 3

Apa yang terjadi seandainya hasil dari percobaan tidak berpeluang sama? Dalam kasus tersebut kita hitung peluang p(s) untuk setiap hasil s S, dimana S ruang sampel. Dua kondisi harus dipenuhi: (1): 0 p(s) 1 untuk setiap s S, dan (2): p( s) = 1 s S Ini berarti, seperti yang telah kita ketahui, bahwa (1) setiap peluang harus bernilai antara 0 dan 1, dan (2) jumlah seluruh probabilitas sama dengan 1, karena satu dari hasil dijamin akan muncul. Peluang p(s) dari hasil s sama dengan limit banyaknya muncul s dibagi dengan banyaknya percobaan dilakukan. Sekali kita tahu peluang p(s), kita dapat menghitung peluang peristiwa E, yakni ( ) = p( s ) p E s E Contoh 4.6: Suatu dadu bersifat bias sehingga angka 3 muncul dua kali lebih sering dibandingkan angka lainnya. Berapakah nilai peluang dari masing-masing mata dadu? Jawaban: Ada 6 kemungkinan hasil s 1,, s 6 p(s 1 ) = p(s 2 ) = p(s 4 ) = p(s 5 ) = p(s 6 ) p(s 3 ) = 2p(s 1 ) Karena jumlah seluruh peluang harus bernilai 1, maka: 5 p(s 1 ) + 2 p(s 1 ) = 1 7 p(s 1 ) = 1 p(s 1 ) = p(s 2 ) = p(s 4 ) = p(s 5 ) = p(s 6 ) = 1/7, dan p(s 3 ) = 2/7 Contoh 4.7: Berapakah peluang munculnya angka ganjil dari pelemparan dadu bias pada Contoh 4.6? 5. Peluang Diskrit - 4

Jawaban: E ganjil = {s 1, s 3, s 5 }. Dengan mengingat rumus p ( E) = p( s) E ganjil = p ( E) p( ) = s = p(s 1 ) + p(s 3 ) + p(s 5 ) s E ganjil p(e ganjil ) = 1/7 + 2/7 + 1/7 = 4/7 = 57.14% s E, maka Peluang Bersyarat Suatu uang logam memiliki dua sisi (muka), sebut sebagai sisi depan (H) dan sisi belakang (T). Jika uang logam tsb dilempar tiga kali, berapakah peluang munculnya T dalam jumlah ganjil (peristiwa E), jika diketahui bahwa lemparan pertama menghasilkan T (peristiwa F)? Jika lemparan pertama menghasilkan T, maka deretan yang mungkin muncul adalah TTT, TTH, THT, and THH. Dua diantara empat kasus memiliki T ganjil. Maka, peluang E, dengan syarat bahwa F muncul adalah is 0.5. Kita menyebut hal yang demikian ini sebagai peluang bersyarat. Untuk menghitung peluang bersyarat E jika diberikan F, kita pakai F sebagai ruang sampel. Peristiwa munculnya E dengan syarat F juga muncul harus berada didalam E F. Definisi. Misalkan E dan F peristiwa dimana p(f) > 0. Peluang bersyarat dari E jika diberikan F, ditulis sebagai p(e F), didefinisikan sebagai p(e F) = p(e F)/p(F) Contoh 4.7: Berapakah peluang bit string acak dengan panjang empat mengandung sedikitnya dua nol berurutan, jika bit pertamanya nol? Jawaban: E: bit string dengan sedikitnya dua nol berurutan, sedangkan F: bit pertama dari string adalah 0 Kita tahu rumus p (E F) = p (E F)/ p (F). Karena E F= {0000, 0001, 0010, 0011, 0100} maka p(e F) = 5/16, sedangkan p(f) = 8/16 = ½. Dengan demikian p(e F) = (5/16)/(1/2) = 10/16 = 5/8 = 0.625 5. Peluang Diskrit - 5

Peristiwa Yang Saling Bebas Tinjau kembali percobaan pelantunan uang logam tiga kali. Apakah peluang peristiwa E (jumlah T ganjil) bergantung pada munculnya peristiwa F (lemparan pertama T)? Dengan kata lain, apakah berlaku p(e F) p(e)? Sesungguhnya kita dapatkan p(e F) = 0.5 dan p(e)=0.5. Dikatakan bahwa E dan F adalah peristiwa yang saling bebas (independent events). Karena definisi peluang bersyarat p(e F) = p(e F)/p(F), maka p(e F) = p(e) jika dan hanya jika p(e F) = p(e)p(f). Hal ini dinyatakan kedalam definisi peristiwa yang saling bebas sebagai berikut. Definisi. Peristiwa E dan F disebut saling bebas jika dan hanya jika p(e F) = p(e)p(f). Jelas bahwa definisi ini bersifat setangkup (symmetrical) untuk peristiwa E dan peristiwa F. Jika p(e F)= p(e)p(f), maka p(f E) = p(f) juga berlaku. Contoh 4.8: Andaikan E adalah peristiwa bahwa bit string yang dibangkitkan dengan panjang 4 akan berawal dengan bit 1, sedangkan F adalah peristiwa bahwa bit string yang dibangkitkan mengandung bit 0 dengan jumlah genap (termasuk nol). Apakah E dan F saling bebas? Jawab: Jelas (seperti pada contoh terdahulu), bahwa p(e) = p(f) = 0.5. E F = {1111, 1001, 1010, 1100} p(e F) = 0.25 p(e F) = p(e)p(f) Kesimpulan: E dan F adalah pristiwa-peristiwa yang saling bebas. Percobaan Bernoulli Andaikan dilakukan suatu percobaan dengan dua kemungkinan hasil, misalnya pelantunan suatu uang logam. Percobaan yang demikian disebut juga dengan percobaan Bernoulli (Bernoulli trial). Keluaran dari percobaan Bernoulli disebut sebagai: 5. Peluang Diskrit - 6

berhasil (success) atau gagal (failure). Jika p adalah peluang berhasil, sedangkan q adalah peluang gagal, maka p + q = 1. Seringkali kita berkepentingan untuk menghitung peluang keberhasilan tepat k kali untuk percobaan yang terdiri dari n buah percobaan Bernoulli yang saling bebas. Contoh 4.9: Suatu uang logam bersifat bias, sehingga bagian muka (H) memiliki peluang 2/3. Jika uang tsb dilempar tujuh kali, berapa peluang munculnya bagian muka tepat empat kali? Jawab: Banyaknya hasil yang mungkin adalah 2 7 = 128. Munculnya H empat kali dari tujuh kali percobaan adalah C(7,4). Ketujuh buah percobaan bersifat saling bebas, sehingga masing-masing keluaran memiliki peluang = (2/3) 4 (1/3) 3. Dengan demikian, peluang tepat empat kali H muncul adalah C(7, 4)(2/3) 4 (1/3) 3 = 560/2187 = 25.61% Teorema. Peluang k kali keberhasilan dalam n kali percobaan Bernoulli yang saling bebas, dengan peluang berhasil p dan peluang gagal q=1-p adalah (, ) k n k C n k p q. Besarnya peluang ini dituliskan sebagai b(k;n,p) Karena b(k;n,p) bisa dianggap sebagai fungsi dari k, kita menyebut b sebagai (fungsi) distribusi binomial. Perhatikan ilustrasi berikut ini. Illustrasi: Misalkan keberhasilan suatu percobaan dilambangkan dengan S dan kegagalan dengan F. Seperti dijelaskan terdahulu, peluang keberhasilan adalah p sedangkan peluang gagal adalah q = 1-p. Berapakah peluang dua keberhasilan dalam lima kali percobaan Bernoulli yang saling bebas? Salah kemungkinan hasil percobaan adalah SSFFF. Berapakah peluang munculnya deretan semacam ini (dng urutan yg berbeda)? Deretan: S S F F F Peluang: p p q q q = p 2 q 3, dan bisa jadi muncul deretan lain Deretan: F S F S F Peluang: q p q p q = p 2 q 3 5. Peluang Diskrit - 7

Setiap deretan dengan dua keberhasilan dalam empat percobaan muncul dengan peluang p 2 q 3. Ada berapa banyak kemungkinan deretan tsb? Dengan kata lain, untuk mengambil dua dari lima buah objek, ada berapa banyak cara? Kita tahu ada C(5,2)=10 cara untuk melakukannya, jadi ada 10 kemungkinan deretan yang masing-masing akan muncul dengan peluang p 2 q 3. Oleh karena itu, peluang munculnya sebarang deretan demikian ketika suatu percobaan Bernoulli dilakukan adalah C(5,2) p 2 q 3. Pada umumnya, peluang untuk k keberhasilan dalam n kali percobaan Bernoulli adalah (, ) k n k C n k p q. Peubah Acak Dalam beberapa jenis percobaan, kita ingin memberikan nilai numerik untuk setiap hasil yang mungkin muncul untuk kepentingan analisa matematika dari percobaan. Untuk inilah diperkenalkan peubah acak. Definisi. Peubah acak adalah suatu fungsi dari ruang sampel suatu percobaan ke himpunan bilangan riil. Jadi, suatu peubah acak memberikan nilai bilangan riil ke setiap hasil yang mungkin. Catatan: peubah acak adalah suatu fungsi, bukan peubah, dan juga tidak acak, melainkan memetakan hasil acak suatu percobaan ke bilangan riil dengan cara yang terdefinisi secara jelas. Contoh 4.10: Misalkan X adalah hasil dari permainan batu-kertas-gunting (rock-paperscissors). Aturan mainnya adalah : batu > gunting, batu < kertas, kertas > batu, kertas<gunting gunting>kertas, gunting<batu Jika pemain A memilih lambang a dan pemain B memilih lambang b, maka X(a,b) = 1, jika pemain A menang, = 0, jika A dan B memilih lambang yg sama, = -1, jika pemain B menang. 5. Peluang Diskrit - 8

Dengan demikian: X(batu, batu) = 0 X(batu, kertas) = -1 X(batu, gunting) = 1 X(kertas,batu) = 1 X(kertas,kertas) = 0 X(kertas,gunting) = -1 X(gunting, batu) = -1 X(gunting,kertas) = 1 X(gunting,gunting) = 0 Nilai Harap Setelah peubah acak didefinisikan, kita bisa menganalisa hasil percobaaan secara statistik. Contohnya, kita dapat mengajukan pertanyaan berikut: Berapakah nilai rata-rata (disebut sebagai nilai harap/ expectation) jika suatu percobaan dilakukan sangat sering? Dapatkah kita menghitung rata-rata aritmetik terhadap semua harga peubah acak yang mungkin? Ini tidak bisa dilakukan karena mungkin ada suatu hasil percobaan yang lebih sering muncul dibandingkan dengan yang lain. Misalnya, anggap bahwa hasil yang mungkin dari suatu percobaan adalah 1 dan 2 dengan peluang masing-masing 0.1 dan 0.9. Apakah nilai rataratanya 1.5? Tentu tidak demikian karena 2 lebih sering muncul dibandingkan 1, peluangnya harus lebih besar daripada 1.5. Melainkan, kita harus menghitung jumlah terboboti dari semua kejadian (hasil) yang mungkin, yaitu, setiap nilai dari peubah acak harus dikalikan dengan peluangnya sebelum dijumlahkan. Dalam contoh tersebut, nilai rata-rata diberikan oleh: 0.1 1 + 0.9 2 = 0.1 + 1.8 = 1.9. Definisi. Nilai harap (nilai ekspektas) dari peubah acak X(s) dalam ruang sampel S sama dengan E( x) p( s) X ( s) =. s S Contoh 4.11: Misalkan X peubah acak yang sama dengan jumlahan dari dua mata dadu yang dilemparkan. Ada 36 kemungkinan hasil (= jumlah pasangan bilangan dari 1 ke 6). Jangkauan dari X adalah {2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12}. Apakah ke 36 hasil ini sama mungkinnya? Ya, jika dadu tidak bias. Apakah ke 11 harga X ini sama mungkinnya? Tidak, peluangnya bervariasi di setiap harga X. 5. Peluang Diskrit - 9

p(x=2) = 1/36, p(x=3) = 2/36 = 1/18 p(x=4 = 3/36=1/12, p(x=5) = 4/36 = 1/9 p(x=6) = 5/36, p(x=7) = 6/36 = 1/6 p(x=8) = 5/36, p(x=9) = 4/36 = 1/9 p(x=10) = 3/36=1/12, p(x=11) = 2/36 = 1/18 p(x=12) = 1/36 + 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 2 3 4 5 6 7 8 3 4 5 6 7 8 9 4 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 11 6 7 8 9 10 11 12 E(X) = 2 (1/36) + 3 (1/18) + 4 (1/12) + 5 (1/9) + 6 (5/36) + 7 (1/6) + 8 (5/36) + 9 (1/9) + E(X) = 7 10 (1/12) + 11 (1/18) + 12 (1/36) Hal ini berarti bahwa, jika kita melempar kedua dadu itu berkali-kali, lalu bilangan yang muncul dijumlahkan dan kemudian hasil keseluruhan dibagi dengan banyaknya percobaan, kita bisa berharap akan memperoleh angka 7. Teorema. Jika X dan Y adalah peubah acak pada ruang sampel S, maka E(X+Y) = E(X) + E(Y). Selanjutnya, jika X i, i = 1, 2,, n dengan n bilangan bulat positif, adalah peubah acak pada S, maka E(X 1 + X 2 + + X n ) = E(X 1 ) + E(X 2 ) + + E(X n ). Lebih lanjut lagi, jika a dan b adalah bilangan riil, maka E(aX + b) = ae(x) + b. Dengan adanya teorema ini kita bisa memecahkan soal terdahulu dengan lebih mudah. Misalkan X 1 dan X 2 angka yang muncul pada dadu pertama dan kedua. Untuk masing-masing dadu, ke enam angka muncul dengan peluang yang sama. Maka E(X 1 ) = E(X 2 ) = (1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6)/6 = 7/2. Kita tahu E(X 1 + X 2 ) = E(X 1 ) + E(X 2 ) = 7. Nilai harap dapat dipakai untuk menghitung kompleksitas kasus-rata-rata (average-case complexity) dari suatu algoritma. Andaikan ruang sampel berupa himpunan semua masukan yang mungkin a 1, a 2,, a n, dan peubah acak X memberikan banyaknya operasi yang dijalankan oleh algoritma itu untuk setiap masukan a j. Kompleksitas kasus-rata-rata dari n algoritma tsb adalah E ( X) p( aj) X ( aj) =. j= 1 5. Peluang Diskrit - 10

Namun demikian, untuk melakukan analisa kasus-rata-rata, perlu diketahui: banyaknya langkah yang dijalankan algoritma tsb untuk setiap (!) masukan yang mungkin, dan peluang munculnya masukan itu. Pekerjaan ini terlalu rumit untuk kebanyakan algoritma, jadi kita hanya akan meninjau analisa kasus-terburuk. Peubah Acak yang Saling Bebas Definisi. Peubah acak X dan Y pada ruang sampel S disebut saling bebas jika p(x(s)= r 1 Y(s)= r 2 ) = p(x(s) = r 1 ) p(y(s)=r 2 ). Dengan kata lain, X dan Y saling bebas jika peluang X(s) = r 1 Y(s)=r 2 sama dengan perkalian antara peluang X(s) = r 1 dan peluang Y(s) = r 2 untuk semua bilangan riil r 1 dan r 2. Contoh 4.12: Apakah peubah acak X 1 dan X 2 dari sepasang dadu pada contoh sebelumnya bersifat saling bebas? Jawab: p(x 1 = i) = 1/6 p(x 2 = j) = 1/6 p(x 1 = i X 2 = j) = 1/36 Karena p(x 1 = i X 2 = j) = p(x 1 = i) p(x 2 = j),maka peubah acak X 1 dan X 2 saling bebas. Teorema. Jika X dan Y peubah acak yang saling bebas pada ruang sampel S, maka E(XY) = E(X)E(Y). Catatan: E(X +Y) = E(X) + E(Y) untuk sebarang X dan Y tetapi E(XY) = E(X)E(Y) hanya berlaku untuk X dan Y yang saling bebas. Mengapa? Contoh berikut menjelaskan hal ini. Contoh: Misalkan X dan Y peubah acak pada ruang sampel dan masing-masing berharga 1 dan 3 dengan peluang yang sama. Maka E(X) = E(Y) = 2 Jika X dan Y saling bebas, maka: E(X +Y) = 1/4 (1 + 1) + 1/4 (1 + 3) +1/4 (3 + 1) + 1/4 (3 + 3) 5. Peluang Diskrit - 11

= 4 = E(X) + E(Y) E(XY)= 1/4 (1 1) + 1/4 (1 3) + 1/4 (3 1) + 1/4 (3 3) = 4 = E(X) E(Y) Sekarang kita asumsikan X dan Y berkorelasi sedemikian hingga Y=1 jika X=1 dan Y=3 jika X=3. E(X + Y) = 1/2 (1 + 1) + 1/2 (3 + 3) = 4 = E(X) + E(Y) E(XY) = 1/2 (1 1) + 1/2 (3 3) = 5 E(X) E(Y) Variansi Nilai harap dari peubah acak adalah parameter penting untuk menggambarkan suatu distribusi acak. Meski demikian, nilai harap tidak menyebutkan lebar disribusi tersebut. Hal ini digambarkan oleh variansi dari distribusi acak. Definisi. Misalkan X peubah acak pada ruang sampel S. Variansi X, dituliskan sebagai V(X) 2 ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) adalah V X = X s E X p s. s S Simpangan baku (standard deviation) dari X, dituliskan sebagai σ(x), adalah akar kuadrat dari V(X). Beberapa aturan yang perlu diingat: o Jika X peubah acak pada ruang sampel S, maka V(X) = E(X 2 ) E(X) 2. o Jika X dan Y dua peubah acak pada ruang sampel S, maka V(X+Y)=V(X)+V(Y). o Terlebih lagi, jika X i, i = 1, 2,, n, dengan n bilagan bulat positif, adalah peubah acak saling bebas pada S, maka V(X 1 + X 2 + + X n ) = V(X 1 ) + V(X 2 ) + + V(X n ) 5. Peluang Diskrit - 12