MODEL TRACKING DAN TRACING PADA SISTEM TRACEABILITY RANTAI PASOK MINUMAN SARI APEL

dokumen-dokumen yang mirip
PEMETAAN AKTIVITAS RANTAI PASOK DALAM MEMBANGUN SISTEM TRACEABILITY PADA INDUSTRI SARI APEL

DESAIN SISTEM TRACEABILITY BERBASIS PROSES BISNIS PADA RANTAI PASOK DI INDUSTRI SARI APEL

IDENTIFIKASI RISIKO RANTAI PASOK BERBASIS SISTEM TRACEABILITY PADA MINUMAN SARI APEL

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB V ANALISIS Analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference)

RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014)

PENGEMBANGAN MODEL TRACKING DAN TRACING DALAM DISTRIBUSI KOMODITI PERTANIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Perumusan Masalah. Mengidentifikasi Entitas atau Anggota Rantai Pasok

: Yan Ardiansyah NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

ANALISIS BULLWHIP EFFECT DALAM MANAJEMEN RANTAI PASOK

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: ANALISIS KETELUSURAN RANTAI PASOK HORTIKULTURA BERORIENTASI EKSPOR DENGAN METODE SCOR (STUDI KASUS)

KAJIAN SISTEM TRACEABILITY DALAM PENANGANAN DAN PENGOLAHAN KOMODITAS PRODUK PERIKANAN INDONESIA UNTUK EKSPOR

KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

BAB I PENDAHULUAN. diera informasi ini, perilaku konsumen akan semakin diperhatikan. Hal ini

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Rancang Bangun Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Rantai Pasok Distribusi Daging Sapi Nasional

Bab I : Peramalan (Forecasting) Bab III : Manajemen Persediaan. Bab IV : Supply-Chain Management. Bab V : Penetapan Harga (Pricing)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan

Pembahasan Materi #1

PERANCANGAN SISTEM PENELUSURAN MATERIAL PT ALSTOM POWER ESI SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai

Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I. Pengelolaan Rantai Pasokan

IMPLEMENTASI SISTEM KETERTELUSURAN PADA PRODUK PERIKANAN

BAB I PENDAHULUAN. memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi

Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ.

BAB 2 LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. Tahun. Sumber : [18 Februari 2009]

RISIKO RANTAI PASOK MINUMAN SARI APEL DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRACEABILITY

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan inovatif perilaku konsumen menuntut perhatian yang

BAB II KERANGKA TEORETIS. pemasaran (yang sering disebut dengan istilah saluran distribusi). Saluran

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

PENGELOLAAN RANTAI PASOK

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

GS1 System Pada Sektor Kesehatan. GS1 Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain

BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN. Suhada, ST, MBA

II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management

PENENTUAN PENURUNAN HARGA PRODUK MAKANAN PERISHABLE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BIAYA PENYIMPANAN DI FASILITAS BERPENDINGIN

BAB I PENDAHULUAN. PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Medan merupakan salah satu anak. perusahaan dari The Coca-Cola Company yang bergerak dalam bidang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

Disain Jejaring (Network Design)

III BAB I PENDAHULUAN

Deskripsi Mata Kuliah

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai nilai sangat strategis. Dari beberapa jenis daging, hanya konsumsi

BAB I PENDAHULUAN. order picking packing shipping. Gambar I. 1 Aktivitas Outbond Gudang PT.XYZ

BAB I PENDAHULUAN. tersebut, aktivitas mikroorganisme atau proses oksidadi lemak oleh udara

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

MANAJEMEN OPERASIONAL. BAB VI Supply Chain

KONSEP SISTEM INFORMASI

TUGAS SISTEM MANUFAKTUR LEAN SUPPLY CHAIN & VALUE STREAM MAPPING (VSM)

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatkan performa mereka. Salah satu dari banyak manfaat yang bisa

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Grafik Jumlah Penduduk DKI Jakarta Sumber : bappedajakarta.go.id

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan yang mantap sesuai dengan tujuan dan harapan harapan awal dengan

BAB I PENDAHULUAN. mutu lebih baik, dan lebih cepat untuk memperolehnya (cheaper, better and

RANGKUMAN SIM Ch. 9 MENCAPAI KEUNGGULAN OPERASIONAL DAN KEINTIMAN PELANGGAN MELALUI APLIKASI PERUSAHAAN

UPAYA PENGURANGAN PEMBOROSAN DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka kebutuhan atau

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah Produksi Beras Indonesia

MAKALAH E BISNIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan

Mode Distribusi & Transportasi. Tita Talitha, MT

1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Internet telah mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai penjuru

DESIGN FRAMEWORK QUALITY RISK MANAGEMENT FOR SUPPLY CHAIN AT PT COCA-COLA AMATIL INDONESIA, SURABAYA PLANT

Information Systems. Sistem Informasi untuk Keuntungan Kompetitif 16/10/2012 8:56

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Implementasi Permainan sebagai Sarana Peningkatan Pemahaman Mahasiswa dalam Pembelajaran Matakuliah di Jurusan Teknik Industri

PENERAPAN RANTAI PASOK HALAL PADA KOMODITAS DAGING AYAM DI KABUPATEN PONOROGO

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR DALAM KERANGKA KERJA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

SI403 Riset Operasi Suryo Widiantoro, MMSI, M.Com(IS)

Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom. Edi Sugiarto, M.Kom - Supply Chain Management dan Keunggulan Kompetitif

KONSEP SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) PADA PROSES PRODUKSI DALAM PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang

SI403 Riset Operasi Suryo Widiantoro, MMSI, M.Com(IS)

TINJAUAN PUSTAKA. barang dan jasa akan terdistribusi dengan jumlah, waktu, serta lokasi yang

PENGEMBANGAN MODEL TRACKING AND TRACING DALAM PROSES DISTRIBUSI UNTUK MENDUKUNG KUALITAS PRODUK PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Filet kakap beku Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER E-BUSINESS. Dosen : M.SUYANTO,Prof,Dr,M.M. Disusun oleh : Rangga Eri Kurniawan S1 TI-6E

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. investasi lebih dalam teknologi informasi terutama dalam Supply Chain mereka.

Good Agricultural Practices

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor

2 pemakaian. Istilah 'warehouse' digunakan jika fungsi utamanya adalah sebagai buffer dan penyimpanan. Jika tambahan distribusi adalah fungsi utmanya,

Transkripsi:

MODEL TRACKING DAN TRACING PADA SISTEM TRACEABILITY RANTAI PASOK MINUMAN SARI APEL Dwi Iryaning Handayani Jurusan Teknik Industri Universitas Panca Marga Probolinggo Jalan Yos Sudarso 107 Pabean Dringu Probolinggo 67271 dwiiryaninghandayani@yahoo.co.id ABSTRAK Produsen produk makan dan minuman perlu memiliki catatan dan dokumentasi informasi mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pemasaran hingga konsumen. Hal ini agar dapat ditelusuri riwayat asal maupun rantai distribusinya dengan mudah. Di dalam melakukan penelusuran (traceability) tidak terlepas dari tracking dan tracing untuk mengetahui riwayat dari suatu produk sehingga apabila terjadi suatu permasalahan selama produk pangan tersebut didistribusikan dapat segera ditelusuri kembali asal-usul bahan yang digunakan dan dapat dengan mudah diketahui sumber yang menyebabkan permasalahan terjadi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk membuat model tracking dan tracing pada sistem traceability. Dalam menyusun model tracking dan tracing seluruh faktor yang terlibat dalam proses bisnis minuman sari apel digunakan sebagai acuan. Yang mana tahapan yang dilakukan dalam menyusun model tracking dan tracing yaitu: 1) identifikasi aktivitas yang terkait dengan traceability, 2) mengidentifikasi dan memberikan variabel produk pada setiap lokasi, 3) mengambil dan merekam data traceability, 4) model tracking dan tracing. Teknologi yang dibutuhkan dalam melakukan tracking dan tracing terdapat pada penerimaan bahan baku, proses, distribusi, packing dan labeling, pengemasan dan labeling. Model tracking dan tracing merupakan sistem yang dilengkapi dengan komponen pendukung proses distribusi dengan data yang akurat, terpercaya, berguna, dan cepat dengan memberikan informasi posisi barang atau sarana moda transportasinya. Kata kunci: Traceability, Tracking dan Tracing PENDAHULUAN Struktur rantai pasok makanan merupakan sebuah rantai di mana perusahaan merencanakan, mengatur dan mengontrol proses yang diperlukan untuk mengubah bahan baku awal menjadi produk jadi (Min Yu dan Nagurney, 2012). Pada setiap struktur rantai pasok pada sebuah produk akan berbeda struktur rantai pasoknya, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan jenis produk maka aliran rantai pasoknya juga berbeda (Rabade dan Alfaro, 2006), perbedaan rantai pasok makanan tergantung dari produk akhir yang dihasilkan. Rantai pasok pada industri makanan menjadi perhatian penting oleh pemerintah akhir-akhir ini. Hal ini di picu oleh kepedulian masyarakat terhadap makanan yang aman seiring meningkatnya kejadian kontaminasi makanan serta pemalsuan produk yang terjadi (Bourlakis dan Weightman, 2004) sehingga masyarakat semakin memperhatikan kandungan apa yang hendak dikonsumsi. Oleh karena itu dalam menagani krisis kemanan pangan dibutuhkan suatu sistem dalam memberikan informasi pergerakan pangan mulai dari hulu ke hilir. Salah satu sistem yang dapat digunakan adalah sistem traceability, dimana sistem ini mampu menelusuri pergerakan produk dan memproses informasi melalui link dalam rantai pasok untuk tracking, A-26-1

tracing (T&T) dalam lingkungan dan distribusi (Verdenius, 2006). Begitu juga dengan Kelepouris et al. (2007) membedakan tipe dari traceability menjadi 2 yaitu: backward traceability dan forward traceability. Backward traceability adalah kemampuan untuk mengidentifikasi asal unit tertentu dalam rantai pasokan dengan mengacu pada informasi mulai dari hulu. Sedangkan forward traceability adalah kemampuan untuk menemukan lokasi dari produk dengan satu atau beberapa kriteria dari setiap titik poin pada rantai pasok. Begitu juga dengan Dwiyatno (2009) menyatakan bahwa pada dasarnya implementasi sistem Traceability mencakup 2 kegiatan pokok, yaitu tracking dan tracing. Tracking merupakan metode penelusuran suatu produk pada tahap pasca ( downstream information). Sedangkan tracing merupakan cara menelusuri riwayat asal suatu produk sehingga juga dikenal dengan upstream information. Pada prinsipnya tracking dan tracing dalam menjamin kemanan pangan berpedoman pada empat prinsip utama yaitu: (1) product identification, (2) data to trace; (3) product routing; dan (4) traceability tools. ( Regattieri et al, 2007). Dengan adanya tracking dan tracing dapat menelusuri produk dari tahap, distribusi dan instalasi serta dapat diketahui informasi yang berkaitan dengan produk misalnya bagian produk, spesifikasi produk, status produk. Selain itu Fungsi tracking and tracing dapat membantu konsumen maupun produsen untuk mengetahui asal usul pemasok mereka serta bagaimana cara para pemasok dalam menangani produk. Apabila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan selama produk beredar dipasar seperti keracunan yang disebabkan oleh produk tersebut dapat diketahui lebih awal dan dengan mudah, cepat ditemukan sumber keracunan tersebut serta asal asul permasalahan yang terjadi. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk membuat model tracking dan tracing pada sistem traceability untuk megatasi masalah kemanan pangan. METODE Tahapan yang dilakukan dalam menyusun model tracking dan tracing yaitu: 1) identifikasi aktivitas yang terkait dengan traceability, 2) mengidentifikasi dan memberikan variabel produk pada setiap lokasi, 3) mengambil dan merekam data traceability, 4) model tracking dan tracing. Tahap I. Identifikasi aktivitas yang terkait dengan traceability Identifikasi aktivitas pada tahap ini dilakukan pada struktur rantai pasok minuman sari apel yang terdiri dari supplier, manufactur, distributor dan konsumen. dengan cara mengidentifikasi aktivitas rantai pasok yang terkait dengan traceability yaitu suatu aktivitas yang dapat di identifikasi dalam memberikan informasi dari aktivitas tersebut. Tahap II.Mengidentifikasi dan memberikan variabel produk pada setiap lokasi. Identifikasi merupakan tahap awal dalam mendapatkan akses data histori dengan memberikan ID pada setiap komponen bahan baku, mesin proses, sumberdaya manusia. Identifikasi dibedakan menjadi identifkasi lokasi, identifikasi serial, identifikasi produk, identifikasi lot, identifikasi across product hierarchies. Tahap III. Mengambil dan merekam data traceability Tahap ini dilakukan pengambilan data yang terkait dengan traceability pada minuman sari apel mulai dari pemasok apel pabrik sampai dengan konsumen. Pemasok adalah awal dari mata rantai yang terjadi atau disebut juga hulu rantai pasok. Pabrik merupakan tempat dimana aktivitas proses berlangsung dalam menghasilkan produk minuman sari apel. A-26-2

Tahap IV. Model tracking dan tracing. Pada tahap ini berkaitan dengan model tracking dan tracing dalam sistem traceability HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Rantai Pasok Minuman Sari Apel Rantai pasok minuman sari apel terdiri dari, supplier atau pengepul, pabrik, Konsumen. Aktivitas pada rantai pasok minuman sari apel ini mulai dari hulu hingga hilir akan berjalan secara optimal apabila seluruh komponen terlibat (Ketchen dan Hult, 2007). Dalam menyusun model tracking dan tracing seluruh komponen yang terlibat dalam proses bisnis komoditi harus digunakan sebagai acuan (Dwi Yatno, 2009). Dengan kata lain, suatu model tracking dan tracing harus mampu menerjemahkan seluruh proses yang sederhana hingga yang sangat kompleks ke dalam keputusan-keputusan operasi. Gambar 1. Struktur Rantai Pasok Minuman Sari Apel Identifikasi Aktivitas Yang Terkait Dengan Traceability Aktivitas rantai pasok yang terkait dengan traceability mulai dari penerimaan bahan baku, proses pembuatan produk dan distribusi. Aktivitas yang di lakukan petani hanya pengiriman apel ke supplier sesuai dengan hasil panen petani. Sedangkan supplier mengumpulkan buah apel dari para petani untuk dikirim ke pabrik, aktivitas yang di lakukan supplier sebelum mengirim buah apel ke pabrik yaitu; pengemasan, labeling. Return ke supplier apabila apel tidak sesuai dengan standar kualitas yang diinginkan pabrik. Penelitian ini mengidentifikasi aktivitas suplier dan pabrik yang melakukan proses hal ini ditunjukan pada tabel 1. Keterkaitan aktivitas traceability di indikasikan dengan adanya identifikasi ID pada setiap komponen bahan baku, mesin proses, sumberdaya manusia. Sehingga yang dimaksud dengan aktivitas rantai pasok yang terkait dengan traceability yaitu suatu aktivitas yang dapat diidentifikasi dalam memberikan informasi dari aktivitas tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi data produk dan material dari setiap proses apabila terjadi suatu kejadian yang berkaitan dengan produk dan keamanan pangan. A-26-3

Tabel 1 Aktivitas rantai pasok yang terkait dengan traceability Pelaku Pemasok Pabrik Aktivitas Penerimaan dan penyortiran buah apel Mengumpulkan dan mengepak buah apel Memberikan label Pengiriman ke pabrik Penerimaan bahan baku dari pemasok Pembongkaran dan Inspeksi bahan baku Pencucian dan membuang biji Penghancuran dan diperas Pengemasan dan labeling Heating, pendinginan dan penyaringan Pengemasan dan pencucian Labeling produk jadi Dikemas dalam karton Persiapan pengiriman produk jadi Mengidentifikasi dan memberikan variabel produk pada setiap lokasi. Identifikasi merupakan tahap awal dalam mendapatkan akses data histori, lokasi. Identifikasi dibedakan menjadi identifkasi lokasi, identifikasi serial, identifikasi produk, identifikasi lot, identifikasi across product hierarchies. Sebagian besar rantai pasok, menelusuri dan melacak hasil nya. Manajemen identifikasi dalam lingkungan pada suatu aktivitas diperlukan dalam memberikan keterangan untuk sistem traceability. Gambar 1 Menunjukkan identifikasi ID yang dalam membangun traking dan tracing dalam aktivitas. A-26-4

Gambar 1. Identifikasi ID yang dalam membangun traking dan tracing dalam aktivitas. A-26-5

Gambar 2. Tracking Dan Tracing A-26-6

Mengambil dan merekam data traceability Hasil identifikasi informasi traceability pada minuman sari apel merupakan hasil penelitian yang ditunjukkan pada Tabel 2. Informasi traceability dituangkan dengan menggunakan teknik property table, yang mana dalam melakukan analisa terhadap informasi traceability dilakukan secara detail untuk setiap komponen. Hal in agar memudahkan dalam melakukan tracing dan tracking apabila terjadi suatu kejadian yang tidak diinginkan. Terdapat lima komponen pada teknik property table yang terdiri dari komponen aktivitas traceability, informasi, teknologi, unit organisasi dan juga jenis unit alirannya. Tabel 2 Identifikasi Informasi Traceability Aktivitas Informasi Teknologi Organisasi Penelusuran Penerimaan dan Suplier bahan baku Penyortiran Mengumpulkan dan mengepak buah apel Pengiriman ke pabrik pengolahan Pemeriksaan level stok sari buah dan level stok produk minuman sari buah Penerimaan material dari pemasok Pembongkaran dan inspeksi bahan baku Penyimpanan Bahan baku Penyimpanan sari buah Mengeluarkan sari buah dalam gudang untuk memulai aktivitas proses Proses Inspeksi kualitas produk minuman sari buah Labeling Kode Area lahan dan Petani Tanggal Panen Kualitas Buah ukuran (besar dan kecil size, jumlah, jenis apel, identitas pengirim (pemasok) size, jumlah, jenis apel, identitas pengirim (pemasok) jumlah bahan baku yang tersedia jumlah produk yang tersedia nama kode pemasok tanggal terima kondisi bahan baku jenis Apel identitas Pengirim size jenis Apel kondisi bahan baku Tanggal simpan Nama kode pemasok Kondisi bahan baku Jenis Apel Kode suplier Tanggal waktu peras Kelompok kerja Batas waktu pemakaian Tanggal waktu peras Kode supplier Kelompok kerja Tingkat suhu Komposisi gula, pewarna dan pengawet Nama operator Warna Rasa Tanggal dan waktu Komposisi zat Suhu proses dan nama operator - Barcode Barcode Suplier Suplier pengadaan pengadaan logistik - si - barcode bahan baku bahan baku Bahan baku bahan baku Kualitas bakan baku Bahan baku setengah jadi setengah jadi Identitas bahan baku A-26-7

Penyimpanan produk minuman sari apel di gudang Persiapan pengiriman produk jadi Pengiriman produk ke distributor Kode katagori Tanggal dan waktu Jenis Jenis produk Tujuan pengiriman Tanggal pengiriman Jenis alat angkut Nama pengiriman Tanggal pengiriman Jumlah yang dikirim Tujuan pengiriman Gudang Gudang Depertemen Gudang Model Tracking dan Tracing Sistem tracking dan tracing GS1 adalah yang paling banyak digunakan sebagai sistem pengkode dalam sistem traceability. Hal ini dikarenakan pada sistem tracking dan tracing GSI memberikan kode, sistem penanda GS1 juga dapat memberikan informasi lain seperti tanggal kadaluarsa, nomer seri, kode lokasi, dan nomer lot/ batch. Sistem penanda GS1 mencakup 3 komponen, yaitu: 1) Nomor identitas yang meliputi Global Trade Item Number (GTIN) untuk menelusuri sebuah produk, Global Location Number (GLN) untuk menelusuri lokasi distribusi, Serial Shipping Container Number (SSCC) berfungsi menelusuri riwayat pengiriman, dan Global Returnable Asset Identifier (GRAI) dapat menelusuri riwayat pelayanan/komplain; 2) Data carriers guna memvisualisasikan nomor-nomor identitas di atas, baik dalam bentuk data fisik (barcode) maupun elektronik (RFID), 3) Jaringan informasi elektronik, yang memudahkan komunikasi antara riwayat distribusi produk dengan informasi secara elektronik, sebagai contoh Electronic Data Interchange/EDI (Schwagele, 2005; GS1, 2012). Gambar 3. Traceability data management (CIES, The Food Business Forum, 2005). A-26-8

KESIMPULAN Terdapat 2 aspek dalam sistem traceability yaitu tracking dan tracing yang berfungsi sebagai alat dalam merekam jejak dari suatu produk. Sistem traceability akan optimal apabila dalam mendokumentasikan perjalanan produk dilakukan dengan baik dan diterapkan mulai dari hulu hingga hilir. Teknologi yang dibutuhkan dalam melakukan tracking dan tracing terdapat pada penerimaan bahan baku, proses, distribusi, packing dan labeling, pengemasan dan labeling. Model tracking dan tracing merupakan sistem yang dilengkapi dengan komponen pendukung proses distribusi dengan data yang akurat, terpercaya, berguna, dan cepat dengan memberikan informasi posisi barang atau sarana moda transportasinya. DAFTAR PUSTAKA Alfaro, J dan Rabade, L., (2009), Traceability as a strategic tool to improve inventory management, A case study in the food industry. International Journal of Production Economic, 118 (1), 104-110. Boulakis, M.A., Weightman (2004), Food Supply Chain,Blackwell Publishing Ltd. CIES,The Food Business Forum, (2005), Implementasi traceability in the food supply chain, available at: www.ciesnet.com. (accessed 25 November 2011). Dwiyitno (2009), Implementasi sistem ketelusuran pada produk perikanan, jurnal squalen vol 4 no 3 Desember GS1. 2007. Specification for the identification and traceability of meat and meat products. GS1 Belgium & Luxembourg. www.gs1belu.org. Accessed on November, 2011. Kelepouris, T., K. Pramatari, Doukidis, G., (20 07), RFID-enabled traceability in the food supply chain. Industrial & Data s 107(2), 183-200. Ketchen, D.J., and Hult, G.T., 2007, Bridging Organization Theory And Supply Chain : The Case Of Best Value Supply Chains, Journal of Operations, 25: pp. 573 580 Regattieri, A., Gamberi, M., & Manzini, R. (2007). Traceability of food products : General framework and experimental evidence. Journal of Food Engineering, 81, 347-356. Schwagele, F. 2005. Ketertelusuran from a European perspective. Meat Science. 71. 164 173. Verdenius,F.(2006), Using Traceability to Optimise Business Performance, Woodhead Publishing Limited and CRC Press LLC. Yu and Anna Nagurney (2012), Competitive Food Supply Chain Networks with Application to Fresh Produce. A-26-9